Jumat, Oktober 9, 2026
Lainnya
    BerandaWarta Kuria KAMWarta Kuria (Agustus - September 2026)

    Warta Kuria (Agustus – September 2026)

    1. Keluarga Katolik Regio Sumatera Bangun Kader Berkarakter, Peduli Ekologi, Anti Perdagangan Orang, dan Cakap Bermedia

    Pertemuan Pengurus Komisi Keluarga Regio Sumatera berlangsung pada 21–24 Agustus 2026 di Rumah Retret Giri Nugraha, Palembang, Keuskupan Agung Palembang. Keuskupan Agung Medan mengutus empat perwakilan: RP. Andreas Budianto OFMConv. (Ketua Komisi Keluarga), Sr. Xaveria Purba KSFL (staf Komisi), Bapak Esman Barita Dabuke (Wakil Ketua Pengurus) dan Ibu Diana Br. Barus (anggota Pengurus). Mengusung tema "Keluarga Membangun Kader Berkarakter, Peduli Ekologi, Anti Perdagangan Orang, dan Cakap Bermedia", pertemuan ini memperkaya pastoral keluarga melalui berbagi pengalaman khas masing-masing keuskupan sekaligus menjadi ajang Monitoring dan Evaluasi (MonEv) gerak pastoral pendampingan keluarga sepanjang Juli 2025 – Juli 2026.

    Pertemuan ini menghasilkan satu keputusan dan sejumlah rekomendasi penting. Komisi Keluarga Regio Sumatera memutuskan pergantian kepengurusan periode selanjutnya: RP. Andreas Nugroho, SCJ (Ketua), RP. Fransiskus Asisi Eko Hadi Nugroho, MSF (Wakil Ketua), RP. Manuju Yulius Simatupang, OFMCap. (Sekretaris), dan RP. Andreas Budianto, OFMConv. (Bendahara). Sedangkan  rekomendasi meliputi: pertemuan online bertema pastoral keluarga terkini dengan tanggung jawab sarana zoom oleh Keuskupan Padang; pemanfaatan media dan kecerdasan artifisial (AI) untuk kampanye digital persoalan sosial dalam pastoral keluarga; dan penambahan jumlah iuran.

    Semoga semangat kebersamaan dan sinergi antar-keuskupan ini semakin memperkuat pastoral keluarga di Regio Sumatera, khususnya dalam membangun keluarga Katolik yang berkarakter, peduli ekologi, anti perdagangan orang dan cakap bermedia.

    2. Audiensi Suster SCMM bersama Bapa Uskup Agung Medan

    Para suster Kongregasi Suster-suster Cintakasih dari Maria Bunda Berbelaskasihan (SCMM) beraudiensi dengan Bapa Uskup Agung Medan di Gedung Catholic Center Medan pada 24 Agustus 2026. Audiensi ini menjadi kesempatan bagi Dewan Provinsi SCMM periode 2026–2030 yang baru terpilih untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan perkembangan karya dan perutusan SCMM di Indonesia.

    Dalam pertemuan tersebut, dibahas sejumlah hal pastoral dan karya pelayanan, antara lain perkembangan pengurusan izin pembangunan panti lansia di Tanjung Morawa serta pengembangan asrama putri dan rencana asrama putra di Tarutung sebagai tanggapan atas kebutuhan pendidikan dan permintaan masyarakat. Bapa Uskup mengapresiasi kepemimpinan baru SCMM serta mendorong adanya pendekatan dan kerja sama yang baik dengan masyarakat setempat dalam setiap rencana pelayanan.

    Pertemuan ini meneguhkan pentingnya semangat sinodalitas dan kolaborasi antara SCMM, sekolah, masyarakat, dan Gereja lokal. Dengan kepemimpinan yang baru, karya dan perutusan SCMM diharapkan semakin berkembang serta menghadirkan kasih Allah secara nyata melalui pelayanan pendidikan, pendampingan, dan kepedulian kepada masyarakat. Di akhir audiensi, Bapa Uskup mengucapkan terima kasih dan mendoakan para suster agar kuat melayani serta menjadi jembatan persaudaraan. Vikep Pro Religius mengingatkan agar seluruh karya dan formasi kongregasi diinformasikan kepada dan dijalankan dalam kerja sama dengan pastor paroki, demi kelancaran pelayanan Gereja di Keuskupan Agung Medan.

    3. Silaturahmi Hangat SOSFS Bersama Uskup Agung Medan

    Medan, KAM — Para Suster Oblat Santo Fransiskus Saverius (SOSFS) melakukan audiensi silaturahmi pastoral kepada Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap, pada Senin, 24 Agustus 2026 lalu. Pertemuan ini menjadi momen berbagi kisah perjalanan tarekat yang telah melayani di Medan sejak tahun 2000. Dari tarekat asal Italia yang berdiri sejak 1731, para suster kini berkarya di bidang pendidikan, katekese dan pelayanan pastoral demi membawa semangat Santo Fransiskus Saverius bagi umat.

    Dalam kesempatan itu, kongregasi menyampaikan rencana pendirian Delegasi Misioner SOSFS di Indonesia. Lima suster berkaul kekal asal Indonesia telah disiapkan dengan target pendirian lima komunitas baru pada tahun 2050. Bapa Uskup menyambut baik niat besar tersebut, namun menyarankan agar para suster menempuh langkah bertahap. Mengingat jumlah suster yang masih terbatas, beliau justru menawarkan berbagai karya nyata di paroki baru, Unika, Yayasan Don Bosco, dan unit-unit keuskupan untuk memperkenalkan spiritualitas kongregasi kepada umat.

    Sebagai tindak lanjut, para suster menyatakan kesiapannya berkarya di keuskupan dan akan segera menyerahkan daftar nama para suster SOSFS di Indonesa beserta spesialisasinya. Berbagai persoalan mengenai pelayanan di Graha Maria Annai Velangkanni pun turut dibahas untuk mendapatkan perbaikan dan solusi terbaik. Pertemuan yang akrab dan penuh kehangatan ini menandai babak baru kerja sama SOSFS dengan Keuskupan Agung Medan dalam membangun komunitas iman yang misioner.

    4. Gembala yang Menjadi Jembatan: Perayaan Syukur Ulang Tahun ke-56 Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap genap berusia 56 tahun pada 26 Agustus 2026. Oleh karena pada tanggal tersebut Bapa Uskup berada di Jakarta untuk menghadiri Rapat Presidium KWI, perayaan ulang tahunnya diadakan secara sederhana di kantor KWI. Mendengarkan kerinduan umat akan perayaan di hari istimewa ini, dalam semangat Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan, Bapa Uskup menyetujui perayaan syukur atas ulang tahunnya dirayakan di lantai 8 Gedung Catholic Center Christosophia Medan pada 30 Agustus 2026. Rangkaian acara syukur ini diawali dengan Ibadat Sore, lalu diteruskan dengan kata-kata sambutan, pemotongan kue dan tumpeng, makan malam bersama dan hiburan. 

    Perayaan syukur ini menjadi kesempatan penuh makna untuk merenungkan hakikat panggilan seorang gembala. Tema perayaan, "Gembala yang menjadi jembatan" menggema sebagai undangan untuk memahami kepemimpinan pastoral bukan sebagai posisi kekuasaan, melainkan sebagai karya penghubung. Seorang gembala dipanggil hadir di tengah umat bukan untuk menonjolkan diri, tetapi untuk merangkai kembali simpul-simpul yang terputus antara manusia dengan Tuhan, antargenerasi, antarbudaya dan bahkan antara iman dengan kehidupan sehari-hari. Jembatan tidak menarik perhatian pada dirinya sendiri; ia hanya bermakna jika orang melintasinya. Demikian pula pelayanan seorang uskup menemukan kepenuhannya ketika umat berhasil bertemu Tuhan dan sesama melalui kehadirannya yang menyampaikan sapaan kasih penyemangatan.

    Filosofi jembatan ini menemukan keindahannya justru dalam kerendahan hati untuk terus dibangun dan dipelihara. Mgr. Kornelius sendiri mengungkapkan kerinduannya secara mendalam: "Semakin bertambah usia, saya semakin menyadari bahwa menjadi berkat berarti menjadi jembatan dan membangun jembatan — mendekatkan yang berjauhan, mempertemukan yang berbeda, menyambungkan yang terputus, dan membuka jalan menuju Tuhan dan sesama." Kesadaran ini bukan retorika, melainkan pergulatan batin seorang pemimpin yang memahami bahwa jarak terbesar yang harus dijembatani justru ada di dalam dirinya sendiri — jarak antara iman dan perbuatan, antara perkataan dan tindakan, antara kasih yang diwartakan dan kasih yang sungguh diberikan. Di sinilah kepemimpinan pastoral menjadi autentik: bukan karena tanpa cela, tetapi karena jujur mengakui ketegangan itu dan berjuang menjembataninya setiap hari.

    Perayaan di Gedung CC lantai 8 ini pun dirancang sebagai perwujudan semangat tersebut — menghadirkan imam, tokoh umat, keluarga, pegawai, dan para sahabat dalam satu meja persaudaraan yang hangat, lengkap dengan kekayaan kuliner khas seperti dayok nabinatur dan saksang sebagai lambang keberagaman yang dipersatukan. Lebih dari itu, kebiasaan rekreasi imam wilayah Medan yang lama terhenti diupayakan untuk dihidupkan kembali. Praktek baik ini merupakan sebuah kegiatan bermakna untuk merawat persaudaraan para gembala sendiri, sebab seorang gembala hanya dapat menjadi jembatan bagi umat jika ia lebih dahulu terhubung dengan sesama rekan pelayan. Dengan demikian, ulang tahun ini menjadi kesempatan untuk mengajak seluruh umat menjadi jembatan bagi keluarga, bagi komunitas dan bagi dunia yang merindukan perjumpaan. “Selamat ulang tahun Bapa Uskup”.

    5. Gereja dan TNI Bersinergi Demi Kesejahteraan Warga: Lepas Sambut Dandim 0201/Medan

    Medan – Bertempat di Ballroom Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention, Jl. Kapten Maulana Lubis No. 7, Medan, pada Senin, 14 September 2026, pukul 19.30 WIB, Kodim 0201/Medan menggelar acara Lepas Sambut dan Serah Terima Jabatan Komandan Kodim (Dandim) 0201/Medan. Acara ini dihadiri oleh berbagai unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, sejumlah pengusaha di Kota Medan, serta tamu undangan lainnya. Keuskupan Agung Medan turut hadir dalam acara tersebut diwakili oleh RP. Hilarius Kemit OFMCap.

    Acara diawali dengan pembukaan dan doa kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah. Acara inti meliputi penayangan kilas balik Letkol Arm Delli Yudha Adi Nurcahyo, SE, MM, penyampaian kesan dan pesan dari pejabat lama, penayangan profil Komandan Kodim 0201/Medan, serta perkenalan pejabat baru, Letkol Inf Fernando Batubara, S.SOS, M.HAN. Momen istimewa ditandai dengan pemberian dan pemasangan Songket Melayu dari Walikota Medan kepada Dandim 0201/Medan, yang dilanjutkan dengan sambutan Walikota Medan, penyerahan cinderamata dan foto bersama seluruh hadirin. Acara yang berlangsung khidmat dan hangat ini ditutup dengan ramah tamah sebagai wujud sinergi yang terus terjaga antara TNI dan seluruh komponen masyarakat.

    Kehadiran Keuskupan Agung Medan bersama sejumlah pengusaha Kota Medan dalam acara ini mencerminkan hubungan baik antara institusi gereja, dunia usaha dan jajaran Kodim 0201/Medan dalam semangat sinodalitas dan kerukunan antar elemen masyarakat di Kota Medan. Relasi seperti  ini dijalin berdasarkan kesadaran iman bahwa gereja dan pemerintah sipil, meskipun berbeda dalam bidang dan tugasnya, sama-sama dipanggil untuk mengusahakan kesejahteraan umat manusia. Yesus dalam Injil Matius 22:21 berkata, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah". Tanggung jawab kepada Allah tidak menghapus kewajiban warga negara terhadap otoritas sipil yang sah; keduanya justru saling melengkapi. Semangat ini ditegaskan oleh Konsili Vatikan II dalam Gaudium et Spes art. 76: "Di bidang masing-masing negara dan Gereja bersifat otonom, tidak saling tergantung. Tetapi keduanya, kendati atas dasar yang berbeda, melayani panggilan pribadi dan sosial orang-orang yang sama."  Dengan demikian, kehadiran Keuskupan Agung Medan merupakan wujud nyata partisipasi gereja dalam membangun kesejahteraan bersama di Kota Medan.

    6. Imam Diosesan Rasul Spiritualitas Kristiani di Era Digital: Munas Unio Indonesia XV di Pematangsiantar

    Musyawarah Nasional (Munas) Unio Indonesia XV yang berlangsung pada 14–18 September 2026 di Pematangsiantar menjadi ruang persaudaraan bagi ratusan Imam Diosesan dari seluruh keuskupan di Indonesia. Mengusung tema "Imam Diosesan: Rasul Spiritualitas Kristiani di Era Digital," pertemuan ini merupakan wujud communio presbyterorum—persekutuan para imam yang diikat oleh sakramen Imamat dan diutus untuk satu misi yang sama. Kehadiran Duta Besar Vatikan, Mgr. Walter Erbi, bersama para Bapa Uskup pembina menunjukkan dimensi eklesial pertemuan ini, yakni persaudaraan imam diosesan Indonesia berada dalam persekutuan dengan Gereja universal.

    Pesan utama Munas Unindo ke-XV menyoroti satu bahaya halus di era digital, yakni godaan popularitas, ketika jumlah followers dan viralnya konten dapat menggantikan ukuran keberhasilan pastoral yang sejatinya adalah kesetiaan dan kedalaman. Karena itu, para imam dan seluruh umat beriman diundang untuk merawat kedalaman hidup rohani melalui keheningan doa dan Ekaristi. Kerasulan digital tidak boleh berakar pada pencarian pengakuan, melainkan pada kontemplasi: aktivitas yang tampak di layar harus lahir dari keheningan yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Media digital pun hendaknya dimanfaatkan secara bijaksana untuk membangun persekutuan (communio), menyebarkan belas kasih (caritas) dan memperkokoh persaudaraan di tengah Gereja dan masyarakat. Kedalaman spiritualitaslah yang membuat seorang imam sungguh relevan. Di era digital yang bising, suara yang paling menarik justru datang dari keheningan hati yang berdoa.

    Perayaan Ekaristi Penutupan pada 16 September 2026 di Gereja Paroki Santo Josep, Pematangsiantar menegaskan Ekaristi sebagai sumber dan puncak seluruh karya pastoral (Sacrosancum Concilium 10). Pada kesempatan berahmat ini, dilantik secara resmi Pengurus Unio Indonesia Periode 2026–2029 yang diketuai RD Florens Maksi Un Bria. Kepadanya dipercayakan tanggung jawab untuk menganimasi persaudaraan para imam diosesan se-Indonesia. Dalam wejangannya, Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, menegaskan agar para imam hadir secara tulus sebagai pembantu uskup dalam menggembalakan umat Allah serta menjadi "influencer sejati" yang tidak menarik perhatian pada diri sendiri, melainkan meneladani Yohanes Pembaptis—sang perintis jalan yang berkata, "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil" (Yoh 3:30). Sebagaimana Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi Sang Mesias, para imam pun dipanggil menjadi jembatan yang membawa umat kepada Kristus, bukan kepada diri sendiri.

    Artikel Terkait

    KARYA PENDIDIKAN

    JADWAL USKUP & VIKJEN

    KALENDER LITURGI