Senin, September 14, 2026
Lainnya
    BerandaWarta Kuria KAMWarta Kuria (Juli-Agustus 2026)

    Warta Kuria (Juli-Agustus 2026)

    1. Menjadi Jembatan Harapan: Pesan Sidang Pleno XII FABC dari Jakarta

    Kunjungan para uskup Asia ke Masjid Istiqlal pada Minggu, 26 Juli 2026, menjadi puncak simbolis dari Sidang Pleno ke-12 Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) yang berlangsung di Jakarta pada 20–25 Juli 2026. Lebih daripada sekadar agenda seremonial, silaturahmi ini menyatakan dengan tegas bahwa perbedaan agama, budaya dan bangsa bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan yang mempersatukan. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, Gereja Asia memilih untuk hadir sebagai tanda persaudaraan dan komitmen nyata bagi perdamaian.

    Dengan mengusung tema "You Will See Greater Things" (bdk. Yoh. 1:50), FABC XII mengajak Gereja Asia memasuki pertobatan sinodal: berdoa, saling mendengarkan, berdialog dan bersama-sama membedakan kehendak Allah. Misi Gereja diperluas menjadi panggilan untuk membangun jembatan dengan masyarakat, antaragama, antarbudaya, kaum miskin, para migran, hingga seluruh ciptaan di tengah krisis ekologis. Penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah pun sarat makna strategis: dari negeri yang hidup dalam keberagaman, Gereja Asia hadir sebagai pembangun masa depan melalui dialog persaudaraan dan kerja sama.

    Rangkaian peristiwa ini menampakkan kembali identitas Gereja Asia yang sinodal dan misioner. Gereja dipanggil menghadirkan wajah Kristus yang membawa harapan serta kedamaian. Semangat perjumpaan yang dihidupi di Jakarta—dari ruang sidang hingga serambi Istiqlal—menjadi warisan berharga bagi Gereja dan dunia. Kiranya Gereja terus menjadi jembatan harapan yang menyatukan, sehingga terang kasih Allah semakin nyata di Asia dan seluruh dunia.

    2. Merawat Ciptaan, Membangun Kesejahteraan: Arah Baru Gereja Indonesia dalam Sidang Tahunan KWI 2026

    Sidang Tahunan KWI 2026, 27-31 Juli, dibuka dengan hari studi yang mendalami kembali hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAKGI) 2025. Kegiatan diawali dengan pengantar oleh Mgr. Kornelius Sipayung, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan berbagai persoalan penting menyangkut ekologi, ekonomi dan kehidupan sosial.

    Sesi pertama membahas Teologi Ekologi Integral dan Pertobatan Ekologis, dengan menghadirkan R.P. Mateus Mali, CSsR dan R.P. Martin Harun, OFM. Para peserta diajak menyadari tanggung jawab manusia untuk menjaga harmoni dan keberlangsungan seluruh ciptaan sebagai bagian dari rumah bersama. Sesi kedua membahas Pertobatan Ekonomi dan Alternatif Model Ekonomi yang dipaparkan oleh Alisio Senyoman dan R.D. Fredi Rante Taruk. Sesi ini menekankan bahwa ekonomi bukan sekadar pengelolaan sumber daya, melainkan upaya membangun kesejahteraan manusia dan keluarga secara adil dan berkelanjutan.

    Inti rangkaian studi ini menegaskan bahwa pertobatan ekologis dan pertobatan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus berjalan bersama agar pembangunan tidak hanya mengejar kesejahteraan manusia, tetapi juga menjaga kelestarian ciptaan. Melalui Sidang Tahunan KWI 2026, Gereja di Indonesia diteguhkan untuk membangun rumah bersama yang berkelanjutan, berkeadilan dan berlandaskan tanggung jawab terhadap sesama serta seluruh ciptaan.

    3. Inaugurasi Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar: Gereja yang Berjalan Bersama dan Membawa Harapan

    Ribuan umat paroki Tigabinanga menyatakan rasa syukur pada perayaan Ekaristi Inaugurasi Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar pada Minggu, 2 Agustus 2026. Uskup Keuskupan Agung Medan secara resmi mendirikan kuasi paroki St. Paulus Juhar pada 2 Mei 2026 sebagai pemekaran dari Paroki Tigabinanga dan Paroki Santo Petrus dan Paulus Kabanjahe. Peristiwa iman ini sudah lama dinanti-nantikan oleh umat dari kedua paroki induk ini. Reksa pastoral wilayah kegembalaan baru yang terdiri dari 11 stasi ini dipercayakan kepada Ordo Kapusin Provinsi Medan. Minister Provinsial Kapusin Medan menugaskan RP. Alfred Karo-Karo sebagai administrator kuasi paroki St. Paulus Juhar.

    Selebrasi inaugurasi diawali dengan penyambutan rombongan Bapa Uskup dari kantor Camat Juhar diiringi drumband menuju lokasi perayaan di Gereja St. Paulus Juhar. Tiba di lokasi pesta ibu-ibu yang mengenakan pakaian adat karo menyambut Bapa Uskup dengan tarian penyambutan yang turut menyemarakkan persiapan perayaan ekaristi. Dalam perayaan yang dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, Dewan Pastoral Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar untuk masa jabatan 1 tahun juga dilantik untuk mengambil bagian dalam pelayanan umat dalam semangat persaudaraan dan sinodalitas. Dengan bimbingan Roh Kudus, para pelayan pastoral diharapkan mampu bekerja bersama, mendengarkan umat dan menghadirkan Gereja yang merangkul serta menaburkan harapan.

    Dalam homilinya, Bapa Uskup mengajak umat merefleksikan alasan pentingnya pemekaran dan kehadiran sebuah kuasi paroki, yakni agar gembala semakin dekat dengan umat. Kedekatan tersebut memungkinkan Gereja untuk mendengarkan kehidupan umat, membawa sukacita kepada mereka yang bersedih, menghadirkan penghiburan bagi keluarga yang mengalami kesulitan, serta mendampingi anak-anak agar bertumbuh sebagai murid Kristus. Diinspirasi oleh Injil yang berkisah tentang mujizat pergandaan roti, Bapa Uskup juga menandaskan pemberian makanan kehidupan kekal melalui Ekaristi yang lebih sering dirayakan sebagai alasan pemekaran wilayah kegembalaan ini. Tuhan mampu mengubah sesuatu yang kecil dan sederhana menjadi berkat yang besar bagi banyak orang. Gereja dipanggil untuk hadir di tengah mereka yang miskin dan tersingkir, membawa persoalan dan konflik kepada jalan rekonsiliasi, serta menyertai setiap cita-cita umat dalam terang iman. Dengan demikian, kasih Allah semakin dekat dan nyata dalam kehidupan umat. Semoga Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar terus bertumbuh menjadi komunitas iman yang hidup, membawa sukacita, memperkuat persaudaraan dan menjadi berkat bagi umat serta masyarakat di sekitarnya.

    4. KAM Hadir dalam Pelantikan Pengurus BPK 45 Sumatera Utara

    Medan, 4 Agustus 2026 – Keuskupan Agung Medan (KAM) yang diwakili Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (Komisi HAK KAM), yaitu RD. Benno Ola Tage, Erni Kristiani dan Anna Aritonang, menghadiri pelantikan Pengurus Dewan Harian Badan Pembudayaan Kejuangan (BPK) 45 Sumatera Utara periode 2026–2031 di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara. BPK 45 merupakan organisasi kemasyarakatan yang memperjuangkan penghayatan nilai Pancasila dalam mengisi kemerdekaan, dengan semangat juang 45 sebagai dasar gerakannya untuk memelihara keutuhan NKRI. Para pengurusnya umumnya adalah mereka yang telah purna tugas dari pemerintahan maupun lembaga legislatif.

    Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dalam sambutannya mengapresiasi semangat karya para pengurus BPK 45, yang dinilainya sebagai generasi yang telah berkontribusi nyata bagi bangsa Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Kehadiran KAM dalam acara ini menjadi wujud partisipasi Gereja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sejalan dengan semangat kebangsaan yang terus dijaga. Dengan rasa bangga Keuskupan Agung Medan mendukung umatnya, Bapak Tuahman Purba, menjadi salah satu anggota Badan Pengurus BPK 45 Sumatera Utara. Melalui beliau, Gereja Katolik turut ambil bagian dalam pembangunan dan perjuangan kebangsaan. Semoga keterlibatan ini semakin mempererat kerja sama antara Gereja dan negara dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila demi kesejahteraan bersama. Nilai-nilai ini hendak dihidupi lebih dalam melalui Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan: “Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan dan Mewartakan.”

    5. Sukacita Bersama Gembala: Malam Keakraban OMK St. Damian Lau Baleng

    Lau Baleng, 7 Agustus 2026 — Sukacita mewarnai Malam Keakraban Orang Muda Katolik (OMK) St. Damian Lau Baleng bersama Bapa Uskup Agung Medan. Kegiatan pada Jumat malam itu merupakan momen istimewa bagi OMK dan anak-anak SEKAMI untuk berkumpul, berbagi kegembiraan serta menampilkan berbagai kreativitas melalui nyanyian, tarian dan penampilan lainnya. Perjumpaan ini menjadi bukti nyata bahwa Gereja tidak hanya berbicara tentang kaum muda, tetapi hadir bersama mereka, sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus dalam Christus Vivit: "Gereja membutuhkan mereka [kaum muda] untuk menjadi dirinya sendiri, dan mereka membutuhkan Gereja untuk menjadi diri mereka sendiri" (CV, No. 166). Kreativitas yang ditampilkan juga merupakan wujud nyata panggilan kaum muda sebagai "rasul-rasul pertama dan segera bagi kaum muda sendiri" (Dekrit Apostolicam Actuositatem, No. 12).

    Keceriaan memuncak ketika Bapa Uskup melontarkan kuis interaktif kepada para peserta. Gelak tawa dan antusiasme anak-anak serta orang muda pecah seketika, menciptakan suasana yang hidup dan akrab. Di balik keceriaan itu, tersirat makna yang lebih dalam: terjalinnya perjumpaan yang hangat antara gembala dan umatnya, di mana terjadi saling mendengarkan dan saling meneguhkan. Hal ini sejalan dengan semangat Gembala Baik yang mengenal dan dikenal oleh domba-dombanya (lih. Yoh 10:14).

    Kehadiran Bapa Uskup di tengah-tengah OMK merupakan tanda nyata bahwa Gereja senantiasa hadir dan berjalan bersama kaum muda. Orang muda merupakan bagian penting dari Gereja saat ini, sebab "kaum muda bukan hanya menjadi sasaran pewartaan, tetapi juga menjadi subjek dan pelaku pewartaan itu sendiri" (CV, No. 174). Kebersamaan ini semakin mengakarkan OMK St. Damian Lau Baleng dalam iman, berani mengambil peran dalam pelayanan serta menjadi pembawa sukacita dan harapan bagi perutusan Gereja di tengah masyarakat.

    6. Berjalan Bersama sebagai Satu Tubuh: Perjumpaan Gembala dan Komunitas SSCC

    Pertemuan Bapa Uskup Agung Medan bersama Vikep Pro Religius dan komunitas SSCC (Congregatio Sacrorum Cordium atau Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria) Keuskupan Agung Medan berlangsung pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Pertemuan yang dipandu oleh RP. Paulus Halek Bere, SSCC, Ketua Regio SSCC Sumatera ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal, mendengarkan dan memperteguh kebersamaan dalam pelayanan Gereja.

    Acara diisi dengan sharing mengenai makna kehadiran SSCC di Keuskupan Agung Medan. Mewakili Provinsi SSCC Indonesia, Pastor Tarsisius, SSCC., menyampaikan bahwa kehadiran SSCC membawa spiritualitas Hati Kudus Yesus dan Maria sebagai kekayaan rohani untuk menjawab kebutuhan Gereja lokal. Sementara itu, Sr. Romeka, SSCC., menyatakan kesiapsediaan para suster untuk terlibat dalam berbagai karya pastoral Keuskupan. Vikep Pro Religius pun mengapresiasi kehadiran komunitas SSCC sebagai bagian dari kekayaan hidup bakti di Keuskupan Agung Medan.

    Menanggapi hal tersebut, Bapa Uskup mengajak komunitas SSCC untuk terus menghidupi semangat sinodalitas sambil menghindari ego sektoral dan berjalan bersama sebagai satu tubuh Kristus. Perbedaan karisma hendaknya menjadi kekayaan yang dipersatukan dalam satu perutusan untuk membangun Gereja yang semakin sinodal, misioner dan hadir bagi umat. Kehadiran dan keterlibatan SSCC semakin memperkaya dan memperkuat Keuskupan Agung Medan dalam pelayanan pastoral yang berakar pada kasih Kristus.

    7. “Saat Gembala dan Umat Saling Mendengarkan” : Wawan Hati di Lau Baleng

    Semangat sinodalitas yang mengajak seluruh umat Allah untuk saling mendengarkan, saling meneguhkan, dan bersama-sama mencari kehendak Tuhan berkobar dalam kegiatan Wawan Hati bersama pengurus gereja dan komunitas kategorial di Paroki Santo Damian Lau Baleng, Sabtu, 8 Agustus 2026. Perjumpaan ini menjadi wujud nyata dari panggilan Gereja untuk keluar dari keterbatasannya dan berjalan bersama umat, sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium: "Gereja 'keluar' merupakan Gereja yang berinisiatif keluar dari kenyamanannya dan berani pergi ke pinggiran untuk mencari mereka yang jauh" (EG, No. 24).

    Dalam suasana penuh persaudaraan, umat berdialog secara terbuka bersama Bapa Uskup Agung Medan, Vikep Pro Religius, Ketua Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Agung Medan, dan Pastor Paroki. Berbagai pertanyaan mengenai kehidupan iman, pelayanan, dan dinamika Gereja dibagikan dan didiskusikan bersama. Perjumpaan ini merupakan kesempatan istimewa untuk saling mendengarkan pengalaman, harapan, sukacita, maupun tantangan yang dihadapi umat dalam pelayanan. Paus Fransiskus mengingatkan dalam Dilexit Nos, "Gereja tidak bertumbuh dengan perpindahan orang, melainkan dengan daya tarik kesaksian kasih" — dan kasih itu lahir dari hati yang mau mendengarkan dan hadir bagi sesama.

    Wawan Hati ini semakin meyakinkan umat bahwa Gereja bertumbuh ketika seluruh anggotanya mau duduk bersama, mendengarkan dengan hati terbuka dan berjalan dalam persaudaraan. Dari Lau Baleng, semangat untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan sukacita Injil terus dihidupi sebagai tanda Gereja yang hidup dan misioner, yang berakar pada kasih Kristus yang telah lebih dahulu mengasihi kita (lih. Dilexit Nos, No. 1).

    8. “Tetap Teduh di Tengah Perubahan Jadwal: KAM Hadiri AKRS HUT ke-81 RI

    Menanggapi undangan Gubernur Sumatera Utara, Keuskupan Agung Medan (KAM) mengutus RD. Sesarius Petrus Mau, Pastor Paroki Katedral Medan, untuk menghadiri Upacara Apel Kehormatan dan Renungan Suci (AKRS) dalam rangka Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026. Acara semula dijadwalkan pada Minggu, 16 Agustus 2026, pukul 24.00 WIB, di Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan, Jl. Sisingamangaraja, Medan.

    Pada Jumat, 14 Agustus 2026, Sekretariat Daerah Pemprov Sumatera Utara menerbitkan surat resmi berisi ralat jadwal, yang mengubah pelaksanaan upacara menjadi Sabtu, 15 Agustus 2026. RD. Sesarius Mau, dengan pengabdian tulus kepada Gereja dan Negara, tetap hadir pada tanggal dan jam yang telah ditentukan. Namun saat tiba di lokasi, ternyata pelaksanaan upacara kembali diubah menjadi 16 Agustus 2026 tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada Keuskupan Agung Medan, sehingga upacara tidak jadi dilaksanakan pada 15 Agustus 2026 padahal sejumlah tokoh agama telah hadir.

    Meskipun mengecewakan, pastor yang akrab dipanggil Sesar, tetap menunjukkan sikap teduh dan wajah ramah sebagai wujud kesatuan Keuskupan Agung Medan. Peristiwa ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama agar koordinasi dan komunikasi penyelenggaraan kegiatan serupa dapat berjalan lebih baik di masa mendatang. Merdeka!

    9. Kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas Memulai Babak Baru dalam Iman dan Pelayanan

    Spes non confundit! Penantian lama umat rayon Talun Kenas dan Negara paroki santo Yosep Delitua tidak mengecewakan. Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung secara resmi mendirikan Kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas pada 22 Juni 2026 sebagai pemekaran dari Paroki Santo Yosep, Delitua. Kuasi Paroki baru ini memusatkan karya pastoralnya untuk memajukan pertanian, Pendidikan dan pembinaan iman berbasis lingkungan dan stasi dengan peningkatan katekese bagi BIA, BIR, OMK, Keluarga dan kategorial. Wilayahnya tersebar di sekitar Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Kuasi paroki ini beralamat di Dusun III, Desa Talun Kenas, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Ordo Saudara Dina Konventual Provinsi Maria Tak Bernoda Indonesia dipercayakan untuk menanggungjawabi reksa pastoralnya. Umat yang berjumlah 4.212 jiwa yang tersebar di 14 stasi digembalakan oleh RP. Yohanes K. Sensianus Jebarus OFMConv sebagai pastor kuasi paroki.

    Inaugurasi Kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas dirayakan dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap pada Minggu, 16 Agustus 2026, bertepatan dengan hari raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Ribuan umat paroki Delitua dan undangan lain ikut menyatakan syukur kepada Allah atas perkembangan wilayah kegembalaan ini. ‘Gembala dekat dengan umatnya’ adalah tujuan utama penetapan wilayah baru ini. Diharapkan umat akan semakin bertumbuh dalam persaudaraan dan menjadi terang Kristus bagi sesama. Sesuai dengan inti perayaan hari raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga, Kuasi Paroki memikul tanggung jawab mulia untuk menghidupkan pengharapan sejati umat manusia akan kehidupan kekal. Maria yang diangkat tubuh dan jiwanya ke surga menjadi jaminan bahwa hidup manusia tidak berakhir di dunia ini, tetapi berlanjut dalam kehidupan kekal bersama para kudus di surga. Bunda Maria yang sudah berada di surga memiliki hak istimewa untuk mendoakan umat Allah yang masih berjuang di dunia.

    Didoakan oleh Santa Klara sebagai pelindungnya, Kuasi Paroki ini berjuang menjadi cahaya yang menerangi umat Allah. “Santa Klara….Bercahaya, Menerangi, Menjadi Berkat,” diusulkan Bapa Uskup sebagai yel-yel yang menjadi spirit kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas. Semoga Kuasi Paroki ini yang dipimpin dalam semangat persaudaraan convento dalam diri para saudara dina Konventual menjadi pembawa cahaya, menerangi dan menjadi berkat bagi umat Allah dan Masyarakat di sekitarnya.

    10. Jalan Harapan di Tengah Dinamika Bangsa: Nota Pastoral KWI 2026 (Jakarta, 17 Agustus 2026)

    Untuk menindaklanjuti Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ke-5 (SAGKI V, Jakarta, 3–7 November 2025) yang bertema "Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian," Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menerbitkan Nota Pastoral. Bangsa dan Gereja layak bersyukur atas perjalanan sejarah yang meliputi Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Pancasila, Proklamasi, Reformasi 1998, dan sebagainya. Namun syukur sejati menuntut kejujuran. Gereja menghadapi lemahnya katekese dan keterbatasan SDM, sementara bangsa masih diliputi kemiskinan, korupsi, krisis ekologi dan kemunduran demokrasi.

      Indonesia kini dilanda krisis multidimensi yang saling terkait. Di bidang sosial, ada krisis kesehatan mental remaja (34,9%), ketidakadilan gender, kekerasan perempuan-anak (35.025 kasus), krisis Papua dan tutupnya banyak sekolah/klinik Katolik. Dari sudut pandang teknologi terjadi disrupsi digital dan AI menjadi pedang bermata dua: membuka akses informasi namun melahirkan kejahatan siber, alienasi, dan menurunnya empati. Secara ekonomis, ada paradoks wajah ganda: PDB ~5% di balik Gini 0,363–0,375, kemiskinan BPS 8,25% vs Bank Dunia 60,3%, pekerja informal 59,40%, dan korupsi sistemik. Di bidang ekologi, deforestasi melonjak dari 261.575 menjadi 433.751 hektare, perubahan iklim melampaui 1,5°C, dan hak masyarakat adat terampas; krisis moral-spiritual yang menuntut habitus ekologis. Secara politik, terjadi kemunduran demokrasi (EIU 6,44 flawed; V-Dem electoral autocracy) ditandai sentralisasi, represi hukum dan remiliterisasi. Arus sekularisme, dehumanisasi, keletihan moral dan eksklusivisme agama menggerus martabat manusia.

      Gereja dipanggil menjadi mitra kritis negara dalam berbagai bidang. Dalam kehidupan sosial, gereja bertugas menciptakan perjumpaan lintas iman, bantuan hukum, safeguarding, memulihkan sekolah-klinik sebagai "rumah bagi semua" dan membuka Sekretariat Papua. Untuk mengarahkan penggunaan teknologi, Gereja mewajibkan diri untuk merumuskan etika digital kritis, anti-hoaks, pemerataan akses ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) dan memastikan AI tak menggantikan kecerdasan manusia. Ajaran Sosial Gereja, Credit Union dan semangat "Gereja miskin dan bagi kaum miskin diarahkan untuk perbaikan dan pemerataan ekonomi. Perduli akan ekologi, Gereja mempromosikan eko-teologi, perlindungan hutan dan hak masyarakat adat, serta menolak investasi perusak ciptaan. Kaderisasi kaum muda dan Katekese Kebangsaan digalakkan untuk Pendidikan politik. Untuk menanamkan nilai sejati kemanusiaan, keluarga dijadikan sebagai sekolah pertama, sekolah Katolik sebagai ruang perjumpaan interreligius dan perayaan Ekaristi diharuskan memiliki dampak sosial.

      RP. Adrianus Sembiring OFMCAp
      Kanselarius / Sekretaris Keuskupan Agung Medan

      Artikel Terkait

      KARYA PENDIDIKAN

      JADWAL USKUP & VIKJEN

      KALENDER LITURGI