Rabu, Juni 26, 2024
More
    BerandaParokiParoki Sidikalang

    Paroki Sidikalang

    Pelindung
    :
    Santa Maria Pertolongan Orang Kristen
    Buku Paroki
    :
    Sejak 26 September 1938. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan
    Alamat
    :
    Jl. Merga Silima 1, P.O. Box 19, Sidikalang – 22211
    Telp.
    :
    -
    Email
    :
    mpoksidikalang245@gmail.com
    Jumlah Umat
    :
    2.217 KK / 9.462 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi
    :
    24
    01. Bakal Julu
    04. Borno
    07. Juma Teguh
    10. Karing
    13. Panji Dabutar
    16. Sidiangkat
    19. Silumboyah
    22. Tambunan
    02. Bangun
    05. Buntu Raja
    08. Jumantuang
    11. KM 11
    14. Rajangampu
    17. Sigalingging
    20. Sitinjo
    23. Tangga Rube
    03. Binjara
    06. Jumatakar
    09. Kaban Julu
    12. Panji Bako
    15. Saluksuk
    18. Sikarahung
    21. Sungai Raya
    24. Temba
    RP. Alfonsus Arpol Manik, O.Carm
    23.03.'83
    Parochus
    RP. Eligius Ipong Suponidi, O.Carm
    02.02.’59
    Vikaris Parokial

    Sejarah Paroki St. Maria Pertolongan Orang Kristen | Sidikalang

    Sejarah Paroki (klik untuk membaca)
    A. Sejarah Paroki
    Paroki Sidikalang adalah bagian yang tak terpisahkan dari Perjalanan Sejarah Gereja di Wilayah Dairi-Pakpak, karena Sidikalang merupakan pusat Pengembangan Misi Katolik awal di Tanah Dairi-Pakpak. Rentang waktu perjalanan sejarah gereja katolik dimulai sejak tahun 1936 sampai saat ini. Perjalanan yang panjang itu sarat dengan pengorbanan, perjuangan sekaligus harapan.
    Menyusul keluarnya izin penyebaran Misi Katolik di daerah batak Simalungun pada tahun 1933, maka misi gereja Katolik mulai mengembangkan sayapnya ke arah barat Pematangsiantar yang ditandai dengan berdirinya stasi Laras dan Tanah Jawa pada tahun 1934-1935. Dan setahun kemudian berdirilah stasi Sawah Dua-Panei. Dan dari tempat ini misi Katolik memasuki wilayah Seribudolok sehingga pada tahun 1938 berdirilah stasi Seribudolok. Selanjutnya, misi Katolik mulai mengembangkan sayap Ke Tanah Dairi.
    Tepatnya pada bulan Januari 1938, Bapak Johanes Sihombing, seorang Katekis dari Pematangsiantar datang ke Sidikalang. Tujuan utama adalah memberikan Pelajaran Agama Katolik kepada umat Katolik yang ada di Dairi. Menyusul kemudian, hadirlah Pastor Nepomucenus Clemens Hamers OFMCap pada tanggal 28 Februari 1938, di Dairi, yang disambut umat di Sitinjo yang juga akan menjadi sebuah Stasi di bawah Pelayanan Paroki Sidikalang. Peristiwa ini, menjadi awal yang yang menentukan sejarah perjalanan Paroki Sidikalang.
    Umat mulai mengadakan pertemuan doa dan mendapatkan pembinaan. Pastor Hamers untuk sementara waktu bertempat tinggal di sebuah rumah kecil yang disebut HOOFD SCHOOLOP. Tidak lama kemudian, Pastor Hammers memperoleh sebuah gedung sekolah yang belum selesai dibangun sebanyak 4 lokal di Jl. Lae Parera (sekarang Jl Pakpak, Sidikalang). Bangunan Sekolah yang belum selesai ini harus dijadikan sebagai bangunan multi fungsi: Gereja dan tempat tinggal Pastor Hamers.
    Penyelenggaraan Allah sungguh dirasakan ketika Pastor Hammers mendapatkan tanah (lokasi Gereja Sidikalang Sekarang) dari Marga Ujung sebagai raja tanah di Sidikalang. Pastor Hammers memandang ini sebagai sebuah awal yang baik dalam merencanakan pembangunan Gereja yang layak. Perlahan tapi pasti, stasi Sidikalang menunjukkan perkembangan pesat yang pada gilirannya akan menjadi Paroki dan Pastor Hammers juga menjadi pastor Paroki pertama di wilayah Dairi. Tercatat Permandian pertama di Dairi terjadi tanggal 26 September 1938. Hal ini sejalan dengan informasi di Website Keuskupan Agung Medan bahwa Buku Paroki Sidikalang dimulai tahun 1938 yang sebelumnya semua catatan paroki berikut administrasi ditangani Gereja Katedral Medan. Dari sini juga, kita mendapat informasi bahwa pendirian Paroki Sidikalang terjadi pada tahun 1938.
    Perkembangan Gereja di Sidikalang berjalan cepat yang ditandai dengan meningkatnya jumlah katekumen. Menurut sumber Kroniek Missie Sumatera O.F.M.Cap. antara tahun 1938-1939, Sidikalang menempati urutan ketiga dalam jumlah Katekumen (2.500) orang setelah Simbolon dan Lintongnihuta. Pertumbuhan ini tergolong cepat mengingat Gereja Katolik di Sidikalang baru saja berdiri. Sejalan dengan Pertambahan Umat, bangunan Gereja yang masih sangat darurat ini kemudian ditingkatkan menjadi sebuah tempat Ibadah yang layak bagi umat Katolik pada saat itu. Sekitar tahun 1940 gereja pertama Paroki Sidikalang dibangun dengan ukuran 6 x 9 m. dan tempat ibadat yang lama dialihfungsikan menjadi Pastoran.
    Pada tahun 1942, di bawah bayang-bayang Perang Dunia II dan ancaman pendudukan Jepang, peran para Katekis menjadi sangat penting, karena hampir semua misionaris berkebangsaan Belanda diinternir oleh tentara Jepang. Pastor Hammers harus mendekam di Camp konsentrasi Jepang di Tarutung. Karya misi Katolik yang baru saja melangkah, sekarang harus ditinggal gembalanya. Untuk melanjutkan karya kegembalaan, Bapak SMA Sihombing diangkat menjadi pemimpin. Tugas utama beliau adalah memelihara dan menjaga segala inventaris gereja dan menggalang persatuan umat. Katekis ini untuk sementara menempati rumah Pastor. Enam bulan kemudian, Jepang mengadakan pemeriksaan atas segala inventaris Gereja. Bapak SMA Sihombing tidak diperkenankan tinggal di rumah Pastor. Beliau lalu pindah ke Botik Horbo walaupun tetap menjalankan tugas sebagai katekis.
    Sebagai pengganti Bapak SMA Sihombing, maka atas mufakat anggota Gereja, ditunjuklah Bapak H. Lumbantobing sebagai pemimpin di Sidikalang kota. Sejak tanggal 1 Januari 1943 rumah ibadat dipindahkan dan kegiatan hari Minggu –untuk sementara waktu- diadakan di rumah H. Lumbantobing.
    Tantangan baru datang lagi, Jepang yang mengadakan pemeriksaan atas inventaris Gereja akhirnya menangkap juga Bapak SMA Sihombing untuk dimintai pertanggung jawaban, kemudian ditahan pada tahun 1943-1944. Konsekuensinya adalah banyak umat yang meninggalkan gereja dan beberapa stasi juga terpaksa tutup. Bapak H. Lumbantobing sebagai pemimpin di Gereja Sidikalang kota, berhasil mencari tenaga Katekis. Antara lain Bapak K. Hutabarat dari Pematang Siantar, Bapak Daniel Kudadiri, Bapak JB Panggabean dari Balige, Bapak H Siburian, Bapak Liberti Sianturi.
    Fajar harapan kembali merekah bersamaan dengan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Para misionaris dibebaskan kendati masih dalam pengawasan. Tetapi Gereja sudah mulai mengalami kebangkitan. Rencana untuk masa depan Gereja pun ditempa lebih serius. Para pastor yang telah meninggalkan kamp konsentrasi masih harus memulihkan kesehatan. Gereja masih tetap mengandalkan tenaga awam yang bertindak sebagai Katekis. Salah satu di antaranya adalah bapak Petrus Datubara (ayah Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara) yang berasal dari Kutacane (Kab. Karo) untuk membantu kegiatan umat Katolik Dairi.
    Menyikapi situasi yang kurang kondusif ini, Mgr. Mathias Brans, O.F.M.Cap meminta bantuan tenaga Pastor dari Mgr Albertus Soegijapranata, S.J (1896-1963) Keuskupan Semarang. Pastor Sutopanito, S.J. diutus untuk memberikan pelayanan gerejani di Sumatera Utara. Pelayanan beliau sampai juga ke Dairi (Sidikalang dan Silalahi). Pastor Hammers setelah mengalami pemulihan kesehatan tahun 1950 kembali ke Sidikalang. Pada Bulan Agustus 1952 Pastor Hammers mengakhiri masa Baktinya di Paroki Sidikalang. Pada bulan Mei 1952 Pastor Septinius Kamphof, OFM Cap. juga hadir di Sidikalang, menyusul Pastor Stefanus J.Krol, OFM Cap. tahun 1953. Mulai tahun ini gereja Dairi dipersiapkan untuk dimekarkan ke Parongil sebagai Paroki baru yang direalisasikan pada tanggal 1 Mei 1954, dengan pastor Paroki pertama adalah Pastor A. Kamphof. Sumber Vikariat Medan tahun 1955-1956 menunjukkan bahwa paroki Sidikalang memiliki jumlah umat 2.812 dan jumlah stasi sebanyak 24 stasi. Sedangkan jumlah umat Parongil sebanyak 2.000, dan jumlah stasi sebanyak 23 stasi. Pertumbuhan umat yang semakin pesat mendorong Pastor dan umat merencanakan Pembangunan gereja baru, maka pada Tagun 1956 mulai dibangun Gereja Paroki Sidikalang dengan ukuran 12 x 24m. Pada Tahun 1959 pembangunan gereja paroki Sidikalang selesai dan langsung diberkati oleh Mgr. Ferrerius van den Hurk.
    Pada tanggal 2 – 12 Februari 1965 Komisaris Jenderal Ordo Karmel Indonesia, Pastor Martinus Sarko Dipojudo bersama Pastor Quirinus Kramer bertemu dengan Mgr. Ferrerius van den Hurk terkait Pengembangan Misi Karmel di Sumatera Utara. Sebuah Tanggung jawab yang berat namun mulia, ketika Bapak Uskup menyerahkan wilayah kabupaten Dairi kepada Ordo Karmel. Ketika itu, Dairi telah memiliki dua Paroki yakni Sidiklang dan Parongil. Maka, pada tahun 1965, terjadi serah terima dari Ordo Kapusin kepada Ordo Karmel. Serah terima dari Pastor Krol, OFM. Cap kepada Pastor Q. Kramer O.Carm (Paroki Sidikalang). Serah terima juga dari dan Pastor R. Ressens OFMCap kepada Pastor van Wanroij O.Carm (Parongil).
    Karena beratnya medan pelayanan maka Ordo Karmel berusaha untuk menambah barisan tenaga imam di Dairi. Segera diutus Pastor Joseph Kachmadi (Mei 1965), Pastor Arnoldus Hutten (1966). Berkat Tuhan melimpah untuk Tanah Dairi melalui Tahbisan imam Baru Karmelit di Pematangsiantar pada tahun 1967. Tenaga muda dan energik ini diutus ke Dairi antara lain : Pastor Ignatius Widodo Kartoutomo (membantu di Parongil sampai 1969), Johanes Tan Kian Bie Indrakusuma dan Pastor Anastasius Soestijarso Subdibjio.
    Pada tahun 1968, hadir juga Frater Otto Flapper di Sdikalang untuk menagani pembangunan Gereja-gereja di Dairi. Perkembangan umat yang tidak dapat dibendung maka Paroki Parongil dimekarkan, maka lahirlah Paroki Tigalingga pada tahun 1967 setelah menjadi kuasi Paroki pada 14 November 1965. Segera sesudah itu, Paroki Sidikalang juga dimekarkan lagi, sehingga lahirlah Paroki Sumbul pada tahun 1968.
    Gaung Konsili Vatikan II membawa pembaharuan di dalam Gereja. Wajah Gereja makin dekat dan menjemaat. Karya pendidikan melengkapi karya misi Katolik di Dairi yang telah dirintis sejak kehadiran Misi Katolik di Dairi. Tahun 1985 dibuka SMA Cahaya yang dikelola Yayasan Seri Amal. SD St.Yosef dan SMP St. Paulus yang dulunya dikelola Yayasan Bhakti Mengabdi dialihkan kepada Yayasan Seri Amal mulai tahun 1970. Taman Kanak-kanak St. Maria yang sebelumnya menempati bangunan SD St. Yosef menempati bangunan sendiri sejak tanggal 4 Agustus 1968.
    Karya pelayanan kepada umat juga meningkat dengan dibukanya karya pertukangan. Karya pertukangan ini dimulai oleh Br. Otto Flapper O.Carm yang membantu penggantian bangunan gereja-gereja darurat menjadi bangunan permanen atau semi-permanen. Karya pertukangan mendorong umat menyadari arti pembangunan Gereja di stasi-stasi, yang tidak mungkin hanya mengandalkan bantuan keuskupan saja. Umat juga harus ikut serta membangun. Peran serta pemuka umat makin tampak seiring gerak Keuskupan Agung Medan: GEREJA MENJEMAAT.
    Karya pertukangan ini membantu juga pembangunan gereja-gereja lain di wilayah Dairi, yang dinilai cukup memadai dengan situasi sosial-ekonomi umat Dairi. Arah pendewasaan iman umat dibina juga melalui kursus-kursus dan pelatihan serta sermon yang dilakukan melalui peran pemuka jemaat baik dingkat Rayon maupun Paroki. Pembinaan ini tidak bisa diabaikan seiring dengan laju derap kemajuan dan perkembangan masyarakat. Gereja mempunyai misi utama yaitu mendewasakan iman umat serta mengamalkannya demi pembangunan manusia seutuhnya.
    Seiring dengan perjalanan waktu, Bangunan Gereja yang di bangun dan diresmikan tahun 1959 tidak dapat menampung jumlah umat yang bertambah banyak. Oleh karena itulah, pastor dan umat sudah sejak tahun 1995 mencoba memikirkan untuk merehap dan memperluas bangunan Gereja agar dapat menampung umat.
    Pada tahun 2002 Pastor Ignatius Joko Purnomo O.Carm bersama Dewan Pastoral Paroki mencoba hendak mewujudkan harapan yang sudah direncanakan selama 5 tahun. Melalui berbagai pertimbangan, Pastor Ignatius Joko O.Carm bersama Para Pengurus Gereja memutuskan bahwa paroki bukan lagi merehap bangunan tetapi membangun Gereja yang lebih besar. Maka pada pertengahan bulan Desember 2002 diadakan peletakan batu pertama pembangunan Gereja.
    Sejak peletakan batu pertama, pembangunan berjalan dengan sistem swakelola. Umat paroki bahu membahu dalam upaya pembangunan. Selama pembangunan berlangsung, umat beribadah di ‘Gereja darurat’ selama 2 tahun dan selama 2 tahun lebih beribadah di bangunan baru yang belum selesai.
    Pada Desember 2004, Pastor Ignatius Joko O.Carm ditarik oleh Ordo Karmel. Pembangunan Gereja dipercayakan kepada Pastor Antonius Manik O.Carm sebagai pastor Paroki yang baru. Berkat rahmat Tuhan, kerja keras paroki dan dukungan para donator, pembangunan Gereja berjalan terus.
    Akhirnya diberkati oleh Uskup Agung Medan Mgr. A.G. Pius Datubara OFM Cap. pada hari Raya Kristus Raja 26 November 2006. Setelah pemberkatan Gereja, pembangunan tetap berlangsung, menyempurnakan bagian-bagian yang belum selesai.
    Peristiwa penuh syukur atas Rahmat Tuhan bagi Paroki Sidikalang pada khususnya, dan Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat pada umumnya bahwa pada tanggal 23 Oktober 2013, Gereja Dairi merayakan 75 Tahun Misi Katolik di Tanah Dairi. Misa Kudus yang dipimpin oleh Bapak Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga itu dihadiri kurang lebih 17 ribu umat.
    Tiga Tahun kemudian yakni tahun 2016, Pastor Matias Simarmata, O.Carm sebagai Pastor Paroki bersama Dewan Pastoral dan panitia bangunan membangun Menara Gereja, pagar Gereja dan Penataan Halaman Gereja. Demikianlah sekilas sejarah gereja Maria Pertolongan Orang Kristen, Paroki Sidikalang.
    Selengkapnya
    B. Wilayah Pelayanan
    Paroki Santa Maria Pertolongan Orang Kristen berada di Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara. Secara gerejawi, Paroki Sidikalang, Gereja Santa Maria Pertolongan Orang Kristen merupakan bagian dari Keuskupan Agung Medan yang mempunyai reksa pastoral meliputi sebagian wilayah di Kabupaten Dairi dengan batas-batas sebagai berikut:
     - Sebelah Timur berbatasan langsung dengan Paroki Sumbul
    - Sebelah Barat berbatasan dengan Paroki Parongil - Sebelah Utara berbatasan dengan Paroki Tigalingga
    - Sebelah Selatan berbatasan dengan Paroki Santa Lusia Salak Kabupaten Pakpak Bharat.
    C. Pemekaran
    Tahun 1953, gereja Dairi dipersiapkan untuk dimekarkan ke DAERAH Parongil sebagai Paroki baru. Akhirnya, paroki Parongil berdiri pada tanggal 1 Mei 1954, dengan pastor Paroki pertama adalah Pastor A. Kamphof.
    Pada tahun 1968, paroki Sidikalang dimekarkan lagi karena jumlah umat yang terus bertambah dan wilayah pelayanan umat yang semakin luas. Sehingga lahirlah Paroki Sumbul secara resmi pada tahun 1968.
    Pada 28 Juli 2003 Kabupaten Dairi dimekarkan, maka lahirlah Kabupaten Pakpak Bharat. Situasi Pemerintahan seperti ini membawa angin segar bagi Paroki Sidikalang. Maka pada 11 Agustus 2011 melalui Keputusan Bapak Uskup Agung Medan Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, Gereja Stasi Lae Terondi-Salak dijadikan sebagai Kuasi Paroki dan Pastor Mandius M. Siringoringo ditugaskan untuk mempersiapkannya menjadi Paroki. Pada 22 Juli 2018 Salak resmi menjadi Paroki dengan Pelindung Santa Lusia, dengan Pastor Mandius M. Siringoringo sebagai Pastor paroki pertama.
    D. Definitif Paroki
    Paroki Sidikalang definitif menjadi paroki pada tahun 1938. Hal ini sejalan dengan informasi di Website Keuskupan Agung Medan bahwa Buku Paroki Sidikalang dimulai tahun 1938 yang sebelumnya semua catatan paroki berikut administrasi ditangani Gereja Katedral Medan. Dari sini juga, kita mendapat informasi bahwa pendirian Paroki Sidikalang terjadi pada tahun 1938.
    E. Momen Penting
    Januari 1938 : Bapak Johanes Sihombing, Katekis dari Pematangsiantar datang ke Sidikalang.
    28 Februari 1938 : Pastor Nepomucenus Clemens Hamers OFM Cap hadir di Dairi
    26 September 1938 : Permandian pertama di Dairi
    1938 : Paroki Sidikalang berdiri
    24 Mei 1963 : Gereja Paroki yang baru dipersembahkan kepada Bunda Maria. Maria Bunda Pertolongan Orang Kristen sebagai pelindung paroki.
    F. Pergantian Penggembalaan
    Pada tanggal 2 – 12 Februari 1965 Komisaris Jenderal Ordo Karmel Indonesia, Pastor Martinus Sarko Dipojudo bersama Pastor Quirinus Kramer bertemu dengan Mgr. Ferrerius van den Hurk terkait Pengembangan Misi Karmel di Sumatera Utara. Sebuah Tanggung jawab yang berat namun mulia, ketika Bapak Uskup menyerahkan wilayah kabupaten Dairi kepada Ordo Karmel. Ketika itu, Dairi telah memiliki dua Paroki yakni Sidiklang dan Parongil.
    Maka, pada tahun 1965, terjadi serah terima dari Ordo Kapusin kepada Ordo Karmel. Serah terima dari Pastor Krol, OFM. Cap kepada Pastor Q. Kramer O.Carm (Paroki Sidikalang). Serah terima juga dari dan Pastor R. Ressens OFMCap kepada Pastor van Wanroij O.Carm (Parongil).
    G. Perkembangan Jumlah Umat dan Stasi
    Paroki Sidikalang sudah mengalami pemekaran dua kali: Sumbul dan Phakphak Barat. Hal ini menunjukkan perkembangan gereja ini sangat dinamis. Paroki ini pernah memiliki 43 stasi sampai tahun 2018. Sesudah pemekaran Paroki Pakpak Barat, Sidikalang kini memiliki 5 rayon, 26 stasi, dan 14 lingkungan di wilayah Gereja Paroki.
    Gereja Paroki Sidikalang
    1. Lingkungan St. Agustinus
    2. Lingkungan St. Antonius
    3. Lingkungan St. Elisabeth
    4. Lingkungan St. Juan de la Cruz
    5. Lingkungan St. Fransiskus
    6. Lingkungan St. Maria Ratu damai
    7. Lingkungan St. Markus
    8. Lingkungan St. Mikhael
    9. Lingkungan St. Paulus
    10. Lingkungan St. Petrus
    11. Lingkungan St. Theresia
    12. Lingkungan St. Thomas
    13. Lingkungan St. Yohanes
    14. Lingkungan St. Yosef

    I. Rayon Sitinjo meliputi:
    1. Stasi St. Louis Martin Panji Bako
    2. Stasi St. Petrus Sitinjo
    3. Stasi St. Yosef Bangun
    4. Stasi St. Maria Sigalingging
    5. Stasi St. Theresia Lisieux Pangiringan
    6. Stasi St. Juan de la Cruz Simallopuk

    II. Rayon Santa Theresia, meliputi:
    7. Stasi St. Edith Stein Juma Takar
    8. Stasi St. Theresia Avilla Tambunan
    9. Stasi St. Tadeus Sidiangkat
    10. Stasi St. Elias Panji Dabutar
    11. Stasi St. Fidelis Karing

    III. Rayon Maria Bunda Karmel meliputi:
    12. Stasi St. Titus Brandsma Kaban Julu
    13. Stasi St. Redemptus Buntu Raja
    14. Stasi St. Hironimus Juman Tuang
    15. Stasi St. Maria Magdalena de Pazzi Juma Teguh

    IV. Rayon Sungai Raya meliputi:
    16. Stasi St. Paulus Sungai Raya
    17. Stasi St. Dionysius Borno
    18. Stasi St. Anselmus Sikarahung
    19. Stasi St. Michael KM 11
    20. Stasi St. Thomas Aquinas Silumboyah
    21. Stasi St. Bartolomeus Fanti Bakal Julu

    V. Rayon St Yohanes Paulus II meliputi:
    22. Stasi St. Andreas Tangga Rube
    23. Stasi St. Yoakim Raja Ngampu
    24. Stasi St. Rafael Kalinowski Binjara
    25. Stasi St. Yohanes Soreth Temba
    26. Stasi St. Thomas Saluksuk
    Jumlah umat paroki Sidikalang (14 lingkungan, 26 stasi) adalah 11.162 jiwa/2570 KK
    H. Model Kerasulan Khas
    Paroki Sidikalang masih bercorak pelayanan sakramental. Model kerasulan yang khas ialah adanya pelayanan kerasulan doa. Adanya kelompok karmelit awam yang sejak lama dirintis oleh romo-romo karmel terdahulu sampai saat ini masih berdiri dan berjalan dengan baik.
    Video Profil :
    Lokasi Paroki :
    Artikel sebelumnya
    Artikel selanjutnya

    JADWAL USKUP & VIKJEN KAM

    KALENDER LITURGI

    Terbaru