Rabu, Juni 26, 2024
More
    BerandaParokiParoki Pangururan

    Paroki Pangururan

    Pelindung
    :
    Santo Mikhael
    Buku Paroki
    :
    Sejak tahun 1941. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Palipi.
    Alamat
    :
    Jl. Uskup Agung Soegiopranoto 1, Pangururan – 22392
    Telp.
    :
    0626 – 20191/ 0813 9716 5855
    Email
    :
    parokipangururan1941@gmail.com
    Jumlah Umat
    :
    5.625 KK / 24.012 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi
    :
    65
    01. Aeklan
    04. Batu Bolon
    07. Bonan Dolok
    10. Dolok Niapul
    13. Huta Ginjang
    16. Janji Martahan
    19. Limbong
    22. Lumban Raja
    25. Pandulangan
    28. Pansur Napitu
    31. Pardugul
    34. Peabang
    37. Pintu Sona
    40. Salaon Dolok
    43. Saitnihuta
    46. Sidabagas
    49. Sigorat
    52. Sihusapi
    55. Siopat Sosor
    58. Sitao-tao
    61. Situngkir
    64. Tulas
    02. Aek Nauli
    05. Boho
    08. Dolok Nauli I
    11. Harapohan
    14. Janji Maria Dolok
    17. Janji Matogu
    20. Lintong Nihuta
    23. Lumban Suhi-suhi
    26. Pandumpasan
    29. Pantil Nauli
    32. Parmonangan
    35. Pinal
    38. Rianiate
    41. Salaon Toba
    44. Siambalo
    47. Sidauruk Sihole
    50. Sigumbang
    53. Sinabulan
    56. Siopat Suhi
    59. Sitaretareon
    62. Sosor Dolok
    65. Upahoda
    03. Binangara
    06. Bona ni Dolok
    09. Dolok Nauli II
    12. Hasinggaan
    15. Janji Maria Toruan
    18. Jungak
    21. Lumban Naganjang
    24. Onan Rihit
    27. Pangilahan
    30. Paraduan
    33. Parsaoran
    36. Pintu Batu
    39. Ronggur Nihuta
    42. Salaon Tonga-tonga
    45. Sianjung-anjung
    48. Sidihoni
    51. Sihotang I
    54. Siogung-ogung
    57. Siriaon
    60. Sitonggi-tonggi
    63. Tanjung Bunga

    RP. Elio Sofianus Sihombing OFMCap
    01.02.’81
    Parochus
    RP. Valent Christian Sihotang, OFMCap
    30.01.’89
    Vikaris Parokial
    RP. Alfred Fernando Karo-karo OFMCap
    19.01.’87
    Vikaris Parokial
    RP. Yoseph Rajagukguk, OFMCap
    19.03.'46
    Pastor Asistensi
     

    Sejarah Paroki St. Mikael - Pangururan

    Awal Mula Berdirinya (klik untuk membaca)
    Kehadiran Gereja Katolik di Samosir dimulai dengan kedatangan Misionaris Belanda pertama bernama P. Diego van den Biggelaar, OFM Cap. pada tahun 1938. Pastor yang akrab disapa Opung Bornok memulai karya misi di daerah Simbolon. Selanjutnya hadir P. Beatus Jenniskens, OFM Cap. yang membuka misi di daerah Onan Runggu dan sekitarnya. (Bdk Samosir Mutiara Cinta dan Kasih Hal 46-47).
    Surat Apostolik Vikariat Padang tanggal 28 Juni 1941, yang dialamatkan kepada P. Benyamin Dijkstra, OFM Cap. mengungkapkan bahwa pada tanggal 1 Agustus 1941 didirikan Paroki Pangururan dan P. Benyamin Dijkstra ditetapkan sebagai Pastor Paroki yang pertama. Pastor ini mulai menetap di Pangururan ketika dia berumur 31 tahun. Dua setengah tahun sebelumnya dia memulai hidup sebagai seorang misionaris di Pematang Siantar. Pengetahuan bahasanya masih agak terbatas, tetapi ia handal sebagai seorang misionaris. Dia bantu oleh seorang katekis yang sangat handal yaitu K.J.C Tampubolon. Misionaris lain umumnya tidak memiliki tenaga katekis yang handal seperti itu. Kedua orang ini bekerja sama sebagai pasangan yang ideal yang sudah barang tentu mengharmoniskan perkembangan misi Katolik di daerah Pangururan. Pastor Dijkstra mempunyai metode kerja yang cepat.
    Sejak awal sudah banyak permohonan untuk mendirikan Huria Stasi di berbagai tempat. Permohonan ini disampaikan oleh kelompok masyarakat setempat secara lisan dan resmi. Tetapi itu sering menjadi kurang mengesankan karena kertas-kertas bermaterai diisi penuh dengan tanda tangan dan sidik jari, seolah-olah seluruh rakyat di daerah itu sangat rindu menjadi Katolik. Jika ada permintaan sedemikian, maka mula-mula akan disuruh seorang katekis yang secara resmi diutus oleh P. Benyamin Dijkstra untuk memeriksa. Jika menurut pandangan dan hasil kunjungan katekis itu cocok, maka P. Benyamin Dijkstra bersama katekisnya akan pergi ke tempat itu. Ketika sudah sampai pada daerah tertentu, yang sering muncul adalah kondisi masyarakat yang menginginkan di daerah mereka didirikan sekolah sebagai tempat anak-anak mereka untuk menempuh Pendidikan. Memang pada saat itu sekolah negeri terutama daerah-derah pelosok belum berdiri. Orang Batak pada umumnya ingin belajar Bahasa Belanda karena mereka mengira bahwa bangsa Belanda adalah bangsa yang kaya.
    P. Benyamin Dijkstra tinggal di tengah-tengah orang Batak yang haus akan kemajuan pada segala bidang, emansipasi dan perbaikan kehidupan. Pada kunjungan pertama P. Benyamin Dijkstra ke desa tertentu, sering setelah perundingan yang lama, disepakati bahwa masyarakat setempat harus membangun gedung sekolah atas biaya mereka sendiri. Biasanya Gedung sekolah itu terdiri dari 4 tiang dengan atap dari rumput dan tidak berdinding. Umumnya dinding akan dipasang jika Stasi sudah semakin berkembang. Sering kali dimuat dalam berita bahwa angin Danau Toba merobohkan gedung-gedung sekolah itu.
    Selain itu umat juga bertanggungjawab atas tempat tinggal seorang guru yang dikirim oleh pastor. Kebanyakan guru misi tidak lebih seperti seorang “bermata satu” yang dirasa sanggup membawa sedikit terang di daerah orang buta. Dengan gaji yang minim mereka mengajar anak-anak di daerah pelosok yang bisanya jauh dari pusat. Guru itu sekaligus diangkat menjadi katekis. Orang-orang yang mendaftarkan diri untuk belajar setiap hari minggu pagi akan berkumpul untuk berdoa dan bernyanyi. Pada malam tertentu, mereka juga akan berkumpul menerima pelajaran agama yang diberikan oleh guru atau katekis tersebut.
    Pada waktu itu setiap hari Rabu yang merupakan hari pekan, setiap katekis atau guru harus berkumpul di pastoran untuk menerima pelajaran dari pastor dan sekaligus memberikan laporan mengenai keadaan Stasi. Sesekali pastor atau kepala katekis akan mengunjungi Stasi tertentu untuk memberikan pengajaran agama dan pendalaman iman, sekaligus mengontrol kerajinan dan kemantapan umat dengan melihat daftar hadir.
    Pada Maret 1942 Jepang masuk ke Sumatera dan menangkap semua orang Belanda, termasuk para misionaris yang berkarya di tanah batak seperti P. Benyamin Dijkstra. Setelah beberapa tahun di penjara Jepang tepatnya pada 1944 P. Benyamin Dijkstra mengalami sakit kanker yang cukup parah yang mengharuskannya dioperasi di Medan. Namun operasi itu tidak berhasil dan mengakibatkan melemahnya tubuhnya hingga akhirnya ia meninggal pada 13 September 1944 di usia 38 Tahun. P. Benyamin Dijkstra meninggal di tengah-tengah saudara saudaranya di Ordo Kapusin. Beliau dikuburkan di Medan.
    Menurut catatan-catatan sebelum perang, di Samosir sudah sudah terdapat 3.600 umat Katolik dan 9.600 Katekumen. Pangururan sendiri sudah memiliki 15 buah Stasi. Pada 01 Agustus 1941 Pangururan secara resmi menjadi Paroki tersendiri, terpisah dari Paroki Palipi. Tetapi pada 12 Juli 1941 P. Benyamin Dijkstra sudah memulai Buku Permandian sendiri. Pada hari itu dia menulis terdapat 215 permandian yang semuanya diterimakan di Sihotang. Stasi Sihotang ini sudah didirikan dari Palipi pada tahun 1936. Lebih dari setengahnya yang dipermandikan itu terdiri dari anak-anak umur 12 tahun, hanya 10 orang di atas 50 tahun. Pada 1 januari 1942, 42 orang dipermandikan di Lumban Lintong (Pangururan sendiri). Hanya di Sihotang dan Lumban Lintong P. Benyamin Dijkstra melaksanakan pesta permandian massal di Parokinya yang muda. Sampai beliau ditangkap tentara Jepang untuk dipenjara, dia telah telah menulis 385 permandian. Pada paskah 1942 Paroki Pangururan telah mempunyai 500 orang yang dipermandikan dan beberapa ribu katekumen.
    Sepeninggal P. Benyamin Dijkstra, sekolah-sekolah dan Stasi yang telah didirikan dibubarkan, sebab guru-guru tidak mendapatkan gaji lagi. Selain itu kebanyakan dari katekis atau guru menukar jabatannya dengan kesibukan lain yang lebih menguntungkan. Stasi-stasi harus mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan dari luar. Mereka ke gereja pada hari minggu dan berdoa rosario, tetapi makin lama makin merosotlah kehidupan Stasi ini. Bahkan ada Stasi yang harus tutup sama sekali.
    Pada tahun 1945 dalam suasana gembira karena menyerahnya tentara Jepang, Bapak Tampubolon mengirim telegram ke Palang Merah Internasional untuk memperoleh informasi mengenai tempat tinggal para misionaris. Setelah mendapat jawaban, dia menebang beberapa pohon di halaman gereja Pangururan, menjualnya dan menggunakan hasil penjualan itu untuk uang jalan. Dia pergi ke kamp internering di Siriongo-ringo untuk melaporkan kepada pastor menegenai keadaan gereja di Samosir, khususnya Pangururan.
    Pada saat itu setiap orang mengharapkan bahwa ketertiban dan kehidupan aman kembali. Tetapi Sukarno memproklamasikan Republik yang memunculkan nasionalisme dalam bentuk pengusiran penjajah terutama Belanda. Hal ini mengakibatkan sikap keras anti Belanda dan kecurigaan mengenai hal-hal kolonial. Kondisi itu mengakibatkan Bapak Tampubolon mengalami kesulitan. Dia mengunjungi misionaris Belanda dan mengundangnya kembali ke pos mereka.
    Perkenalan yang begitu dekat dengan misionaris Belanda membuat Bapak Tampubolon menamai putrinya Wilhemina. Foto para misionaris Belanda yang terpajang di rumahnya mengharuskan dia dipenjara selama 10 hari, meski pada akhirnya ia dibebaskan kembali.
    Pada waktu itu, Paroki Pangururan sudah mempunyai 7 Stasi, yaitu Stasi Sitonggi-tonggi, Rianiate, Paraduan, Lumbang Lintong, Limbong, Sihotang I, dan Sosor Dolok. Sementara saat ini (2020) Paroki Pangururan sudah mempunyai 68 Stasi dengan jumlah umat sekitar 32.000 jiwa. Pertumbuhan gereja dan perkembangan umat yang begitu besar patut kita syukuri dan rahmat Tuhan ini pantas dirayakan.
    Gereja Tanpa Imam dan Awal Baru bagi Paroki
    Kegigihan Pastor Benyamin Dijkstra dalam mendirikan paroki yang baru ini cuma bertahan selama 1 tahun lebih ,Karena Pastor Benyamin Dijkstra ditangkap dan diinternir oleh penjajah Jepang.Paroki yang baru didirikan ini kemudian dikelola oleh seorang Katekis local Bapak Ch.Kalvin Tampubolon selama 8 tahun (1942-1950) Dan selama itu pula paroki yang baru didirikan ini terus hidup tanpa imam. Pada masa-masa sulit inilah Bapak Ch.Kalvin Tampubolon berperan sebagai katekis dan imam (dalam arti terbatas) bagi umat. Ia menjadi penghubung antara umat dan para misionaris dalam penjara untuk pengembangan gereja dalam masa sulit ini.

    Awal yang baru bagi Paroki Pangururan /Tahun Perkembangan yang subur.

    a. Pastor Radboud Watereus:
    Setelah penyerahan Jepang pada sekutu, Gereja Paroki Santo Mikhhael mulai bernafas lega. Para misionaris yang diitenir telah kembali bertugas di posnya masing- masing. Dan pada tanggal 27 Juni 1951 Pastor Radboud Watereus mulai berdomisili di pastoran Pangururan sebagai pastor pertama setelah penyerahan Jepang. Hingga akhir hanyatnya pada tahun 1994 yang lalu. Karya besar yang ia lakukan sebagai misionaris di Pulau Samosir pada umumnya dan paroki Pangururan pada khususnya adalah penyebaran iman Katolik, yang dilakukannya lewat praktek hidup nyata yang menyentuh masyarakat Samosir pada saat itu. Pendidikan bagi masyarakat Samosir yang masih buta huruf pada kala itu, juga menjadi perhatian Pastor Radbout dengan mendirikan SMP Budi Mulia bekerja sama dengan Yayasan Budi Mulia yang pada masa itu sudah berkarya di Paroki Onanrunggu.
    Ternyata pendirian SMP Budi Mulia ini mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat Samosir, dengan menyekolahkan anak-anak mereka di SMP ini. Perlu dicatat bahwa mulai masa inilah Gereja Katolik Paroki Santo Mikhael mengalami perkembangan yang luar biasa.
    b. Pastor Guido De Vet
    Pada tahun 1962/1963 Pastor Guido De Vet ditempatkan di Paroki Pangururan. Selama 22 tahun pastor ini berkarya tanpa kenal lelah di paroki Pangururan. Bila pastor Radboud Watereus dikenal sebagai pengajar iman lewat cara hidupnya dan pencinta orang-orang kecil, maka pastor Guido de Vet dikenal sebagai pengkader penerus gereja masa depan.Untuk tujuan itu maka pastor Guido de vet membangun Pusat Pembinan Umat (PPU) yang kemudia dikenal dengan nama Sentrum dan wisma yang ada di paroki Pangururan, yang masih berdiri kokoh sampai saat ini. Di dalam Sentrum inilah Pastor Guido de vet setiap saat mengkader umatnya, mulai dari Anak Sekolah Minggu, Remaja, Mudika, orangtua, serta para singtua dan Vorhenger. Berbagai macam cara beliau lakukan untuk mengkader umatnya, salah satunya menganimasi umat lewat pemutaran film dan slide yang sangat terkenal pada masa itu.Pastor Guido de vet berprinsip bahwa Gereja Pangururan masa depa harus dipimpin oleh orang-orang pribumi bersama dengan umatnya menjadi gereja yang mandiri dalam hal ketanagaan. Hal ini nampak dari motto hidupnya :” Kami misionaris luar negeri harus segera menyerahkan tugas-tugas pastoral kepada pastor-pastor putra daerah “ ( Lihat Tali pengukur….hal.269 )
    c. Pastor Leo Joosten, OFMCap
    Pastor Leo Joosten OFM Cap, masuk ke paroki Pangururan pada tahun 1983, setelah wafat Pastor Guido de vet. Pastor ini terkenal sebagai pastor pembangun. Yang ia bangu bukan hanya bangunan fisik (Gedung Gereja dan Sekolah) tetapi juga pembangunan ekonomi masyarakat dan pembangunan dalam pelestarian budaya Batak. Karya-karya yang ditinggalkan oleh misionaris yang terakhir ini di paroki Pangururan adalah :
    • Credit Union (CU) yang kini berkembang pesat di wilayah paroki Pangururan. Tujuan dari pendirian CU ini adalah untuk menolong masyarakat ekonomi lemah yang tidak bisa meminjam uang di Bank- bank besar.
    • Gereja Inkulturatif. Pembangunan Gereja dalam nuansa rumah adat Batak Toba yang sangat besar dan mendapat dukungan penuh dari Istana Apostolik Vatikan. Gereja inkulutratif juga mendapat perhatian dari TV Indosiar dengan menyiarkan secara langsung Perayaan Paskah umat dalam Gereja inkulturatif ini
    • Museum Bona pasogit Nauli: Suatu usaha melestarikan peninggalan sejarah nenek moyang zaman dahulu.
    • Kamus Bahasa Batak ( yang diterjemahkannya dari Bahasa Belanda )
    • Buku-buku tentang situs-situs budaya Batak, kemudian diterjemahkannya dalam Bhs. Inggris, Jerman dan Belanda.
    • Karya Pendidikan : TK, SD dan SMA Santo Mikhael
    Catatan : Ketiga misionaris di atas, masing- masing meletakkan landasan yang kokoh bagi perkembangan paroki Santo Mikhael Pangururan.
    Pastor Benyamin Dijkstra sebagai perintis berdirinya paroki ini. Bapak Ch.Kalvin Tampubolon sebagai penjaga benteng iman yang baru dibangun di paroki ini. Pastor Radboud Watereus sebagai pengajar iman dan social karitatif lewat praktek hidup dan pemberantas buta huruf lewat pendidikan.
    Pastor Guido de Vet, sebagai pengkader umat lewat wisma / sentrumnya. Pastor Leo Joosten sebagai pastor pembangun dan pelestari budaya Batak.
    Buah-buah dari perjuangan para misionaris tidak hanya menghasilakan perkembangan umat, tetapi cara hidup mereka sebagai Misionaris Capusin juga menghasilkan simpati umat untuk memberikan putra-putri mereka untuk mengabdikan diri kepada Allah. Mereka-mereka itu : Pastor Paulinus Simbolon OFMCap, Pastor Ignasius Simbolon OFMCap, Pastor Raymon Simanjorang OFMCap, Pastor Thomas Sinabariba OFMCap, Pastor Gonzales Nadeak OFMCap. Pastor Octavianus Situngkir OFMCap dan Pastor Uli Simarmata Pr.
    Video Profil :
    Lokasi Paroki :
    Artikel sebelumnya
    Artikel selanjutnya

    JADWAL USKUP & VIKJEN KAM

    KALENDER LITURGI

    Terbaru