Rabu, Juli 24, 2024
More
    BerandaParokiParoki Parongil

    Paroki Parongil

    Pelindung
    :
    Santo Petrus dan Paulus
    Buku Paroki
    :
    Sejak 1 Mei 1954. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Sidikalang.
    Alamat
    :
    Jl. Sisingamangaraja Atas 62, Kec. Silima Pungga-pungga, Dairi - 22262
    Telp.
    :
    0627 - 340408
    Email
    :
    parokiparongil@gmail.com
    Jumlah Umat
    :
    1.109 KK / 4.444 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi
    :
    28
    01. Aek Nauli
    02. Batu Dongkol
    03. Bongkaras
    04. Bukit Baringin
    05. Bulu Duri
    06. Desa Pahlawan
    07. Hutakarangan
    08. Lae Enggan-enggan
    09. Lae Itam
    10. Lae Logan
    11. Lae Luhung
    12. Lae Markelang
    13. Lae Maromas
    14. Lae Pora
    15. Lae Rambong
    16. Lae Sering
    17. Lubuk Raya
    18. Palipi
    19. Pandiangan
    20. Pardamean
    21. Pardomuan II
    22. Paritok-itokan
    23. Sidumpe
    24. Sihorbo
    25. Sinar Pagi
    26. Sopo Butar
    27. Tangga Batu
    28. Tapian Nauli


    RD. Anggiat Sihotang
    05.05.'66
    Parochus
    RD. Joddy Morison Turnip
    26.03.'79
    Vikaris Parokial 
    RD. Boni Pandapotan Purba
    29.02.'96
    Vikaris Parokial 

    Sejarah Paroki St. Petrus dan Paulus - Parongil

    Sejarah Paroki (klik untuk membaca)
    Awal Misi Katolik di Kabupaten Dairi (1938)
    Paroki St. Petrus dan Paulus Parongil (selanjutnya disebut Paroki Parongil) adalah salah satu dari sekian paroki di Keuskupan Agung Medan yang wilayah pelayanannya terletak di Kabupaten Dairi Propinsi Sumatera Utara. Di kabupaten ini terdapat lima paroki, yakni Paroki Sidikalang, Paroki Tiga Lingga, Paroki Sumbul, Paroki Salak, dan Paroki Parongil sendiri. Wilayah pelayanan paroki ini berada di bagian Barat dari Kabupaten Dairi yang meliputi seluruh Kecamatan Silima Pungga-pungga, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, dan beberapa desa dari Kecamatan Siempat Nempu dan Kecamatan Lae Parira, serta satu desa dari Kecamatan Tanah Pinem, yakni Desa Sinar Pagi
    Kekristenan khususnya Agama Protestan pertama sekali masuk ke Kabupaten Dairi tanggal 07 September 1905, yakni pada waktu Zending HKBP mengutus Pdt. Samuel Panggabean ke daerah Sumbul. Dari situlah keristenan mulai masuk ke daerah lain di Kabupaten Dairi. Katolik datang kemudian yakni pada tahun 1938 yang diperkenalkan oleh seorang katekis dari Pematangsiantar, yang bernama Johanes Sihombing. Seperti Yohanes Pembaptis mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus, demikianlah Katekis Yohanes Sihombing, mempersiapkan kedatangan seorang imam Katolik ke Dairi. Tak lama setelah itu datanglah Pastor Cl. Hamers OFMCap ke daerah Dairi tanggal 28 Februari 1938. Kedatangannya mendapat sambutan meriah di Sitinjo Dairi. Kemudian Kota Sidikalang dijadikan sebagai pusat pelayanan pastoralnya untuk seluruh daerah Dairi.
    Misi Katolik di Wilayah Parongil (1939)
    Pada awal Juni tahun 1939, Pastor CL. Hamers mengunjungi daerah Parongil, dan berhenti di Desa Tungtungbatu (1 km dari Parongil) untuk memulai misi kekatolikan ke daerah Barat Kabupaten Dairi. Perjalanan misinya kurang mendapat respon positip dari masyarakat hingga mendapat penolakan oleh masyarakat Tungtungbatu. Dalam perjalanan kembali dari Tungtungbatu menuju ke Sidikalang, tepatnya di Parongil dia berjumpa dengan beberapa keluarga yang adalah pendatang dari Toba. Rupanya sebagian dari mereka sudah mengetahui atau mengenal apa itu Katolik. Mereka menyambut pastor itu di rumah mereka dengan ramah. Karena perjumpaan yang berkesan itu, Pastor Cl. Hamers OFMCap memutuskan untuk tinggal sementara di Parongil dan mendirikan rumah (pastoran) darurat, tepatnya tanggal 10 Juni 1939. Selama tinggal dan beberapa kali kunjungan ke Parongil, pastor ini berhasil membentuk komunitas Katolik (stasi) yang berjumlah 30 kepala keluarga hingga tahun 1942. Sebagian dari keluarga itu adalah pendatang dari Toba yang sudah mengenal dan bahkan sudah dibaptis Katolik. Suatu misi yang mulai berbuah banyak. Namun sayang, karena pastor itu ditangkap pejajah Jepang dan dibawa serta ditahan (internir) di Tarutung pada tahun 1942, komunitas Katolik yang baru terbentuk itu akhirnya hidup tanpa gembala.
    Setelah dibebaskan dari tahanan Jepang pada tahun 1945 dan karena situasi politik tanah air belum menentu, Pastor Cl. Hamers OFMCap masih belum bisa langsung kembali ke Sidikalang. Pada tahun 1950 akhirnya dia kembali ke Sidikalang untuk melanjutkan misi yang telah dirintisnya dulu. Ketika mengunjungi Parongil, dia sungguh senang bahwa komunitas Katolik yang didirikannya itu masih bertahan. Namun rumah atau pastoran darurat yang juga dipakai sebagai gereja untuk beribadat dalam keadaan roboh karena diterpa angin. Tahun 1951 Pastor CL. Hamers OFMCap bersama dengan komunitas Katolik yang ada membangun kembali rumah (pastoran) dan juga gereja yang terpisah dari rumah tersebut. Kedua bangunan itu dibangun secara sederhana atau darurat namun layak untuk tinggal dan beribadat.
    Pendirian Paroki Parongil (1954)
    Untuk semakin mengembangkan misi Katolik di Dairi, tahun 1951 Ordo Saudara Dina Kapusin menambahkan seorang pastor Belanda menemani Pastor Cl. Hamers OFMCap, yakni Pastor A.Kamphof OFMCap. Tahun 1951 misi Katolik mulai berkembang di Kecamatan Siempat Nempu Hilir yang khusus melayani keluarga Katolik pendatang dari Toba dan di tahun itu didirikanlah Stasi Lae Markelang. Inilah stasi kedua yang didirikan di wilayah Barat Dairi setelah Parongil.
    Tahun 1952 Pastor Stephanus Krol OFMCap didatangkan untuk membantu misi Katolik di Dairi. Tak lama kemudian di tahun yang sama berdirilah Stasi Lae Mbereng, Lae Garut (saat ini menjadi Stasi Pardamean), Bulu Duri dan Napabelang. Setahun kemudian yakni 1953 berdirilah Stasi Batu Dongkol dan Stasi Sopo Butar. Karena perkembangan misi kekatolikan di wilayah barat Dairi berkembang dengan cepat, Mgr. A.H.F van Den Hurk (Vikariat Apostolik Medan), yang baru saja menggantikan Mgr. M. Brans, memutuskan untuk mendirikan Paroki Parongil sebagai pemakaran dari Paroki Sidikalang tanggal 01 Mei 1954. Pastor A. Kamphof OFMCap ditunjuk sebagai Pastor Paroki pertama di Parongil, yang wilayah penggembalaannya meliputi beberapa stasi yang kemudian menjadi bagian dari Paroki Tiga Lingga seperti Stasi Tiga Lingga, Stasi Buntu Raja, Stasi Napabelang, Stasi Tumpakraja, Stasi Sukandebi dan Stasi Sibungkurung. Di tahun itu juga berdirilah Stasi Lae Ambat (saat ini menjadi Stasi Lae Rambong) dan Stasi Lae Logan.
    Pada tanggal 06 Desember 1961, Pastor A. Kamphof OFMCap digantikan oleh Pastor R. Pennock OFMCap. Setelah dua tahun menjadi Pastor Paroki, beliau digantikan Pastor A.M Rassens OFMCap yang mulai bertugas di Parongil pada akhir tahun 1963. Para pastor kapusin ini sungguh bersemangat melakukan karya misi dengan cara meninggalkan pastoran dan mengunjungi umat dari stasi ke stasi serta bermalam di rumah umat, yang dikenal dengan istilah turne. Mereka lebih senang tinggal di stasi daripada di pastoran. Begitulah kenangan yang masih diingat umat Paroki Parongil dengan para pastor kapusin yang pernah melayani mereka.
    Peralihan Kegembalaan Paroki dari Ordo Kapusin ke Ordo Carmel (1965)
    Karena keterbatasan tenaga imam untuk melaksanakan misi, awal tahun 1965, sebelum meletusnya G30S-PKI, Mgr. A.H. van Den Hurk OFMCap, yang sudah ditetapkan menjadi Uskup Agung Medan pada tahun 1961, mengadakan perjanjian kerjasama dengan pimpinan Ordo Carmel di Malang, Jawa Timur. Hasil dari perjanjian tersebut salah satunya adalah menyerahkan misi di Dairi kepada pelayanan Ordo Carmel. Pada tanggal 05 September 1965 terjadilah moment bersejarah yakni pergantian kegembalaan dari para imam Ordo Kapusin kepada para imam Ordo Carmel. Pada tanggal tersebut Pastor A.M Rassens OFMCap menyerahkan jabatan Pastor Paroki kepada Pastor H. van Wanrooy OCarm.
    Perubahan Masa
    Masa Menuai (1965-1970)
    Di awal pelayanan Ordo Carmel di Paroki Parongil, terjadi pertambahan umat Katolik secara signifikan karena dampak dari G30S-PKI yang mengharuskan masyarakat untuk menjadi anggota dari salah satu agama yang diakui oleh pemerintah. Seperti ketika masih dilayani oleh Ordo Kapusin, para imam dari Ordo Carmel yang menjadi Pastor Paroki di Parongil adalah para misionaris dari Belanda, yakni antara lain Pastor E. Janssens, OCarm dan Pastor A. Hutten OCarm. Para pastor missionaris dari Belanda ini sangat dikenang oleh umat karena kedermawan mereka, yang sering memberi bantuan-bantuan. Misi Katolik pada masa misionaris Belanda biasanya dilakukan bersamaan dengan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara umum. Para suster KSSY dari Sidikalang sering diikutsertakan dalam misi Katolik khususnya di bidang pelayanan kesehatan. Mereka sering ikut dengan pastor ke stasi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada umat Katolik dan juga masyarakat sekitar. Dengan cara itulah, jumlah umat Katolik di Paroki Parongil berkembang dengan cepat. Pada tahun 1970 diperkirakan umat Katolik sudah mencapai 4000 jiwa.
    Dari Gereja Misi menuju Gereja Mandiri (1970 – 1980)
    Tenaga misionaris dari Belanda telah diperkirakan akan semakin dibatasi oleh pemerintah Indonesia di kemudian hari. Maka mulailah dipikirkan untuk mulai melibatkan para tenaga imam pribumi. Sejak tahun 1970, para pastor yang melayani di Parongil adalah para imam pribumi yang datang dari Jawa, mulai dari Pastor A.J Soedibyo OCarm dan kemudian dilanjutkan dengan Pastor S.C. Pujadarma OCarm. Sejak saat itu, umat Katolik di Parongil memanggil para pastor itu dengan panggilan “Romo” yang dalam bahasa Jawa berarti Bapak.
    Untuk membantu para pastor dalam memberikan pelayanan pastoral bagi umat Katolik yang bertumbuh dengan cepat, semakin disadari perlunya tenaga awam. Tahun 1973 Bp. S.K Sitanggang yang baru saja tiba di Parongil sebagai pendatang ditugaskan oleh Pastor S.C Pujadarma OCarm untuk mengurus administrasi Paroki sekaligus menjaga pastoran. Dia juga sering dilibatkan dalam memberikan katekse kepada umat. Pelibatan awam dalam pelayanan pastoral ini sangat membantu para pastor khususnya ketika memberikan pengajaran iman kepada umat Katolik yang mayoritas bersuku Toba. Pada waktu itu beberapa kegiatan kursus pastoral kepada pengurus Gereja juga mulai diadakan. Pembangunan gedung gereja untuk dapat menampung umat beribadat juga mulai diperhatikan. Namun karena kondisi ekonomi umat dan masyarakat di Parongil sungguh memprihatinkan maka perubahan dari Gereja Misi ke Gereja Mandiri terkesan sangat lambat dan tidak berhasil. Kebanyakan umat masih merindukan kehadiran para misionaris Belanda.
    Masa Pergolakan (1980 – 1990)
    Gerakan Gereja Mandiri yang berkembang di hampir seluruh wilayah Indonesia mendorong arah pelayanan pastoral berubah dari fokus penambahan jumlah umat kepada peningkatan kualitas iman umat. Gerakan ini sungguh menjiwai pelayanan pastoral dari Pastor J. Fulgentius. Dia menjadi Pastor Paroki dari 1 Januari 1981 sampai 1 november 1988. Untuk meningkatkan kualitas iman umat, pastor ini mendirikan kantor paroki pembantu di lokasi gereja Lae Luhung, sehingga tersedia tempat untuk pertemuan dan pembinaan umat. Selama penggembalaannya, dia dikenal sebagai pastor yang sangat tegas dalam menjalankan aturan-aturan Gereja. Baginya kualitas iman umat hanya bisa dicapai bila umat mengikuti segala aturan secara disiplin. Siapa pun yang bersalah harus menerima hukuman. Bila umat terlambat maka tidak diijinkan masuk ke gereja. Bila ribut selama acara maka diusir keluar dari gereja. Bila tidak lengkap berkas administrasi dan tidak dipersiapkan dengan baik, maka tidak diberikan pelayanan sakramen.
    Sikap tegas dari Pastor J. Fulgentius ini menciptakan pergolakan dan perlawanan di kalangan umat. Mereka tidak setuju dengan sikap tegas tersebut karena tidak sesuai dengan situasi dan kondisi yang mereka alami saat itu. Dengan latar belakang pendidikan yang rendah, infrasturktur yang buruk, dan lokasi rumah-rumah umat yang terpencar dan jauh dari gereja, serta harus melewati hutan membuat sangat sulit bagi mereka untuk mengikuti aturan-aturan yang diberlakukan oleh pastor itu. Sering umat mengalami sakit hati. Mereka datang dari jauh hendak ke gereja, namun tidak diijinkan masuk karena terlambat. Bahkan sering terjadi, penerimaan sakramen permandian dan perkawinan dibatalkan karena umat terlambat dan karena alasan lain. Pastor J. Fulgentius tidak mau mundur sedikitpun dari aturan tersebut. Oleh karena itu, sebagai perlawan umat atas kebijakan pastor itu, lebih dari setengah umat Katolik pada masa penggembalaannya murtad atau pindah ke Protestan. Prinsip pastor itu yang masih diingat umat sampai sekarang, “Lebih baik sedikit umat Katolik, yang penting berkualitas”.
    Masa Penyembuhan (1990 – 2010)
    Setelah terjadi gelombang murtad yang menyebabkan jumlah umat Katolik menyusut secara drastis, Uskup Agung Medan, Mgr. A.G. Pius Datubara OFMCap, dengan keras mengingatkan para pastor yang berkarya di Paroki Parongil agar menjadi gembala yang baik, yang mengumpulkan domba-dombanya bukan menceraiberaikan, yang mencari domba yang sesat, bukan menyingkirkan. Para pastor yang bertugas di Parongil ditugaskan untuk mengajak kembali umat yang telah meninggalkan Gereja Katolik untuk kembali dan yang masih sakit hati untuk disembuhkan. Harapan uskup ini berupaya diwujudkan dalam penggembalaan Pastor A. Girin OCarm, Pastor Eligius Ipong OCarm, Pastor Theodorus S. Ocarm, Pastor Agustinus Maryanto OCarm, Pastor Martinus Gunawan OCarm, Pastor P.N. Harsantyoko OCarm, Pastor Siriakus Ndolu OCarm, Pastor Vitalis Tribeno Yowono OCarm, dan Pastor Damian OCarm yang bergantian pernah menjadi Pastor Paroki di masa itu. Pada masa itu juga ditempatkan beberapa pastor pribumi yang bersuku Toba dengan harapan agar lebih bisa mengenal karakter umat Katolik yang mayoritas bersuku Toba, seperti Pastor Godlif J. Sianipar OCarm, Pastor Mandius M. Siringo-ringo OCarm, dan Pastor M. Mangapul Simarmata OCarm. Namun nasi telah menjadi bubur. Kendati para pastor ini dikenal sebagai pastor yang baik, umat Katolik yang murtad itu hampir tidak ada yang kembali. Bahkan pada masa ini tidak ada stasi yang bertambah atau didirikan.
    Dengan pertumbuhan jumlah umat yang sangat lambat dan kehidupan menggereja yang masih dingin atau belum bergairah, para pastor yang bertugas di Parongil sepertinya mulai putus asa. Berbagai upaya pastoral dilakukan tetapi kurang membuahkan hasil. Di samping itu, kehidupan ekonomi mayarakat di Parongil sangat sulit. Banyak warga meninggalkan kota Parongil dan sekitarnya pergi ke tempat lain (merantau) dengan alasan bersekolah dan bekerja. Pembangunan infrastruktur juga kurang mendapat perhatian pemerintah. Situasi ini juga berpengaruh terhadap menurunnya semangat menggereja umat Katolik. Sehingga muncul istilah berkonotasi negatif untuk menggambarkan situasi dan kondisi umat Katolik di Parongil yakni “Parongil adalah Paroki na Ngilngil”, artinya paroki yang kering atau tandus atau tidak punya apa-apa untuk dibanggakan.
    Masa Pengharapan (2010 - 2020)
    Harapan akan perubahan ke arah yang lebih baik mulai muncul di tengah masyarakat Parongil dan sekitarnya, ketika Perusahaan Pertambangan mulai beroperasi dan jalan dari Sedikalang ke Parongil sudah beraspal hotmix. Ekonomi masyarakat mulai mengeliat kembali. Parongil yang sebelumnya telah dianggap “wanita tua” kini menjadi “gadis muda” yang mulai dilirik. Hal ini juga berpengaruh kepada umat Katolik di Paroki Parongil. Semangat menggereja mulai bangkit kembali seiring mulai bangkitnya ekonomi mereka.
    Semangat perubahan juga dihadirkan dalam pelayanan pastoral dari Pastor Monang Sijabat OCarm yang menjadi Pastor Paroki mulai tahun 2014 hingga Juli tahun 2020. Dengan pelayanan pastoralnya melalui pendekatan budaya, dia mulai membangun semangat menggereja di antara umat Katolik. Dia mulai mengadakan pesta gotilon di setiap stasi, sehingga umat yang mayoritas adalah petani sungguh tersentuh dan disapa oleh Gereja. Berbagai kursus pembinaan iman juga mulai diadakan. Para pengurus gereja mulai aktif dalam mengikuti rapat atau sermon. Yang paling membawa sukacita dan menjadi kerinduan dari umat Katolik di Paroki Parongil adalah pesta pelindung paroki yang diadakan secara rutin yakni sekali dalam setahun. Dalam pesta itu diadakan perlombaan dan sekaligus diundang Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap serta orang-orang tertentu untuk memberikan seminar atau masukan. Cara berpastoral Pastor Monang Sijabat OCarm bersama pastor rekannya yakni Pastor Kardiaman Simbolon OCarm (November 2015 - April 2018) dan Pastor Nampak Wijaya OCarm (Maret 2018 – Juli 2020) telah membangun harapan besar kepada umat Katolik Parongil untuk menjadi jauh lebih baik di masa depan. Kendati jumlah umat Katolik tergolong minoritas di tengah masyarakat, namun bukan berarti tidak dapat dampak positif apa pun kepada Gereja dan masyarakat. Suatu slogan yang sering digaungkan untuk mendorong umat untuk semakin bersemangat dalam menggereja adalah “Mari berbuat banyak dari yang sedikit”.
    Pada masa pengharapan ini didirikanlah CU (Credit Union) milik paroki yang bertujuan untuk membantu umat dalam pengembangan ekonomi mereka. Juga pada masa ini telah dimulai pembangunan gedung aula paroki dengan harapan kelak tersedia tempat nyaman untuk mengadakan kegiatan-kegiatan separoki. Dan beberapa rencana lain bermunculan karena optimisme yang ada di kalangan umat Katolik. Namun muncullah pandemi covid-19 pada Maret 2020, yang mengistirahatkan berbagai rencana-rencana baik bagi Paroki Parongil.
    Quo Vadis Paroki Parongil? (2020 - ……)
    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap karena melanjutkan harapan dari pendahulunya agar Gereja Katolik di Kabupaten Dairi lebih berwarna (bukan hanya dilayani atau digembalakan oleh para imam dari Ordo Carmel) memutuskan bahwa pada tanggal 05 Juli 2020 dilaksanakan serah terima penggembalaan dari para imam Ordo Carmel kepada para imam Diosesan. Keputusan ini memunculkan keraguan di tengah umat Katolik Paroki Parongil apakah pergantian kegembalaan ini akan meredupkan api pengharapan mereka. Pastor Paroki yang baru RD. Moses Tampubolon bersama dengan rekannya RD. Parlindungan Sinaga akan melanjutkan sejarah Paroki Parongil ini untuk semakin menemukan jati diri mereka.
    Lokasi Paroki :
    Artikel sebelumnya
    Artikel selanjutnya

    JADWAL USKUP & VIKJEN KAM

    KALENDER LITURGI

    Terbaru