Rabu, Juni 26, 2024
More
    BerandaParokiParoki Lubuk Pakam

    Paroki Lubuk Pakam

    Pelindung
    :
    Gembala Yang Baik
    Buku Paroki
    :
    Sejak tahun 1966. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan
    Alamat
    :
    Jl. Siantar No. 111, Lubuk Pakam – 20517
    Telp.
    :
    -
    Email
    :
    parokigyblubukpakam@gmail.com
    Jumlah Umat
    :
    1.775 KK / 6.566 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi
    :
    19
    01. Ara Payung
    04. Bah Sidua-dua
    07. Galang
    10. Kotarih
    13. Pamah Pematang
    16. Petapahan
    19. Sibaganding
    02. Bah Balua
    05. Bangun Purba
    08. Gema Kasih
    11. Kuala Lama
    14. Parlobaran
    17. Pulokali

    03. Bah Perak
    06. Cinta Air
    09. Juhar Baru
    12. Pagar Jati
    15. Perbaungan
    18. Ramunia

    RD. Hermanus Sahar
    15.10.’75
    Parochus
    RD. Jameslim Damanik
    RD. Parlindungan Sinaga 
    04.03.'89
    23.03.'83
    Vikaris Parokial
    Vikaris Parokial 

    Sejarah Paroki Gembala yang Baik Lubuk Pakam

    Masuknya Misionaris ke Sumatera (Utara) (klik untuk membuka)
    Pengantar
    Tonggak sejarah Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Keuskupan Agung Medan. Kesatuan antara Paroki dan Keuskupan merupakan suatu simbol yang tidak bisa dilupakan, sebab yang mendirikan Paroki ialah Uskup. Oleh karena itu, kehadiran pelayanan Uskup sebagai gembala utama ditampakkan dalam diri para gembala disetiap paroki melalui karya pelayanan: panca tugas Gereja.
    Dengan alasan tersebut, kami tim penyusun Buku Kenangan ini akan mengisahkan sekilas torehan kisah perjalanan para misionaris pendahulu di Sumatera-Keuskupan Agung Medan ini. Kemudian, kita akan melihat kisah perjalanan Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam bersama dengan kisah perkembangan stasi-stasi yang tergabung dalam batas-batas wilayah reksa pastoral Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam.
    Agama katolik diyakini sudah masuk ke indonesia sekitar abad ke-7. Keyakinan itu berasal dari para ahli sejarah tertulis dari daerah arab yang memastikan bahwa tahun 645 Masehi sudah ada gereja katolik di dekat barus, Tapanuli Tengah dengan nama Gereja Perawan Suci. Namun sayang riwayat Agama Katolik yang terdapat di tempat itu tidak berlanjut dan hilang tak berbekas. Jejaknya pun tidak dapat ditelusuri selain dari naskah kuno tulisan orang Arab seperti disebut diatas. Oleh karena itu disepakati secara historis bahwa awal masuknya agama katolik ke Indonesia ketika Fransiskus Xaverius singgah di Maluku dalam perjalanan ke Tiongkok. Sejak itulah sejarah agama katolik di indonesia berlanjut dan berkembang sampai kini.
    Penyebaran ajaran iman Katolik di tanah Sumatera sangat terbantu oleh kebijakan pemerintah Hindia dan Belanda. Pada permulaan abad ke-19, Pemerintah Belanda yang menguasai Kepulauan Nusantara memberi izin kepada para misionaris Katolik memasuki wilayah Nusantara. Akan tetapi, misionaris yang boleh masuk adalah mereka yang berkebangsaan Belanda. Persyaratan lain yang diatur ialah bahwa misi Katolik tidak boleh dilaksanakan di daerah-daerah yang sudah dimasuki oleh zending Protestan.
    Dengan semakin terbukanya peluang bagi para misionaris itu, para imam Eropa tiba pertama kali di daerah Sumatera pada tahun 1830. Bertolak dari Padang, mereka mewartakan Injil ke Nias. Beberapa misionaris awal yang tercatat ialah Pastor Bernard (meninggal tahun 1832) dan Pastor Vallon (meninggal tahun 1832). Keduanya berkebangsaan Perancis dan makamnya masih ada sampai sekarang di Gunung Sitoli Nias. Perkembangan itu semakin subur dengan adanya pengembangan usaha perkebunan tembakau di daerah Pantai Timur Sumatera di daerah Deli Serdang.
    Perkembangan Gereja Katolik di Medan
    Seiring dengan pengembangan usaha perkebunan tembakau di Pantai Timur Sumatera, peluang pewartaan Kabar Gembira pun semakin terbuka. Di daerah Deli Serdang (Kesultanan Serdang yang meliputi Batang Kuis, Kuala Namu, dan Pagar Merbau), perkebunan tembakau dibuka sangat luas; sementara perkembangan perkebunan kopi difokuskan di daerah Tanah Abang, Ramunia dan Serdang. Kemudian, perkebunan karet dan kelapa sawit menyusul. Para pengusaha perkebunan tersebut semua berkebangsaan Eropa dan diantaranya ada yang beragama Katolik. Pada tahun 1865, Pator De Vries didatangkan guna menjamin pelayanan pastoral bagi umat Katolik yang terpencar di wilayah perkebunan, instansi sipil dan militer Pemerintah Belanda. Patut dicatat bahwa ternyata pada tahun 1878, seorang imam Jesuit, yakni Pastor C. Wenneker SJ, telah menguasai kultur Batak dan melayani orang Katolik yang tinggal di daerah Batak, namun pada tahun 1884 beliau di tarik kembali ke Batavia. Pada tahun 1878, sebuah paroki telah berdiri di Medan.
    Para tenaga ahli pengelola perkebunan yang dibangun di daerah Deli Serdang adalah warga Eropa, yang sebagian dari mereka sudah memeluk agama katolik sebelum dikirimkan ke Sumatera. Demi terjamin kehidupan rohani mereka, sebuah kapel sebagai tempat ibadah didirikan di perkebunan yang dikelola oleh Keluarga De Guigne. Pada waktu itu, jumlah umat Katolik berjumlah 30-an KK. Untuk melayani orang Katolik di wilayah kesultanan Serdang ini, secara periodik masih mengundang dari Bangka.
    Sampai akhir abad ke-19, Gereja Katolik di Nusantara masih ditangani oleh satu-satunya Vikariat Apostolik yang terdapat di Batavia. Baru pada awal abad ke-20 beberapa Prefektur Apostolik dibentuk, salah satunya di Sumatera pada tahun 1912. Prefek Apostolik Sumatera yang pertama ialah Mgr.Liberatus Cluts,OFM Cap yang berkedudukan di Padang. Beliau kemudian digantikan oleh Mgr.Mathias Brans,OFM Cap. Program pertama Mgr. Mathias Brans adalah pewartaan Kabar Gembira bagi penduduk pribumi, tidak terfokus bagi warga Eropa lagi. Seiring dengan perkembangan umat yang cukup pesat di Sumatera bagian Utara, maka pada tahun 1941 Vikariat Apostolik Padang dipindahkan ke Sumatera Utara dengan nama Vikariat Apostolik Medan.
    Pada masa penjajahan Jepang, para misionaris ke kamp-kamp konsentrasi. Meskipun demikian, iman kekatolikan tidak mati terpenjara bersama dengan para misionaris itu, karena memang para misionaris telah mempersiapkan para katekis awam yang tanggung. Pada masa-masa sulit itu, para katekis dan pemimpin awam sangat berperan menjaga dan melanjutkan perkembangan kekatolikan bahkan hingga masa kemerdekaan, dimana pemberontakan-pemberontakan berkecamuk hingga tahun 1950. Dengan demikian, iman dan Agama Katolik tetap bertumbuh. Berkecambah dan berbuah. Paroki-paroki pun akhirnya berdiri sejak tahun 1950-an hingga sekarang.
    Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam Berdiri
    Pada tahun 1952, sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah Lubuk Pakam telah didatangi oleh orang-orang Batak yang sudah beriman dan beragama Katolik dengan bekal iman yang sudah mereka terima dan hidupi dari tempat asal mereka (Samosir). Mereka umumnya berprofesi sebagai pedagang (penggalas) atau pembuka lahan pertanian (panombak) di daerah pinggiran Lubuk Pakam. Sebagai orang beriman Katolik, mereka saling merindukan untuk mengadakan ibadat bersama secara teratur. Untuk itulah, beberapa keluarga patut disebut sebagai pemrakarsa persekutuan tersebut yakni: keluarga Japaet Sinaga, Bapak Josep Sitanggang, Bapak Daud Hutabalian, Bapak Gidion Barimbing, Bapak S.W Simbolon serta Bapak J.D Saragih. Mereka membentuk komunitas umat beriman. Mereka (sekitar 15 KK) sering memanggil Pastor Van Duynhoven OFM Cap dari Paroki Saribudolok. Mereka beribadat secara teratur di rumah Bapak S.W. Simbolon di Jl Medan (sekarang di depan showroom sepeda motor honda “Rotella”).
    Melihat antusiasme umat yang berhimpun, para gembala pun semakin bersemangat untuk mengunjungi dan melayani mereka. Sampai tahun 1955, Opung dolok (sebutan akrab bagi Pastor Elpidius Van Duynhoven) tidak hanya melayani di Lubuk Pakam tetapi juga sampai ke daerah Ramunia. Beliau mengadakan perjalanannya pastoralnya ke sekitar Lubuk Pakam melalui jalan-jalan hutan/perkebunan via Gunung Meriah sungguh perjuangan pelayanan yang penuh tantangan untuk menjumpai dan melayani komunitas-komunitas umat katolik yang tersebar di sekitar Lubuk Pakam.
    Sejak tahun 1955, karena alasan geografis lebih dekat ke Medan, pelayanan umat di sekitar Lubuk Pakam bukan lagi dari Saribudolok melainkan dari Medan. Pastor Diego van Biggelar, OFMCap (yang akrab disebut opung Bornok) melanjutkan karya pelayanan itu. Pastor opung Bornok ditugaskan ke Lubuk Pakam dari Medan (Jl Pemuda-Katedral Medan). Ia sangat terkenal dengan kesederhanaan dan keramahannya untuk menyapa umat. Beliau sangat prihatin melihat kondisi rumah ibadat di Lubuk Pakam. Karena itu, beliau bermusyawarah dengan umat dan mohon restu dari Uskup Medan Mgr. Dr. Ferrius van den Hurk untuk mengusahakan dan mendirikan gedung gereja yang baru. Mendapat restu dari Uskup, pastor bersama umat Lubuk Pakam mencari lokasi yang memadai untuk gereja. Mereka menemukan lokasi strategis di Jl. Pematang Siantar (lokasi sekarang) pada tahun 1957.
    Proses pembangunan gereja pun dimulai, pertama-tama dikordinir oleh Bapak C.H Lumbansiantar, dilanjutkan Bapak Daniel Tadjuddin Turnip (Oppung Dorris). Menurut beberapa narasumber yang diwawancarai oleh tim penyusun buku kenangan ini, ibu-ibu dan anak-anak turut serta dalam proses pengadaan bahan bangunan: ada yang mencari kayu, bambu, dan ada juga yang mengambil pasir dari sungai ular (sekitar 5km dari lokasi). Dengan semangat gotong royong itu, proses pembangunan gereja terlaksana terus-menerus secara bertahap.
    Pastor Oppung Bornok juga memperhatikan peningkatan taraf pengetahuan umat dan masyarakat di sekitar Lubuk Pakam. Dengan berbagai upaya, beliau pun berhasil menghimpun tenaga dan dukungan untuk mendirikan bangunan Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1958. Setelah berdiri sekolah, pengelolaannya pun diserahkan kepada Bapak K.E. Sinaga (sekaligus kepala sekolah pertama), Bapak Japaet Sinaga dan Bapak Monang Parhusip. Proses pengajaran dan pendidikan berlangsung dengan menggunakan gedung sekolah darurat dan gereja, pastor pun ikut terlibat langsung dalam proses pengajaran di sekolah itu.
    Pengembangan pelayanan Pastor Oppung Bornok dilanjutkan oleh Pastor Harie Pennock, OFMCap (tahun 1965). Pastor Pennock sudah menginap sesekali di gereja serentak sudah mulai membangun pastoran dan menyelesaikan pembangunan gereja stasi Lubuk Pakam. Beliau pula telah menggagas nama pelindung gereja baru ini: Gembala Yang Baik. Dengan terselesaikannya bangunan gereja Stasi Lubuk Pakam dan rumah pastor, maka Mgr. Dr. Ferrius van den Hurk meresmikan pastoran dan gereja tersebut pada tahun 1965. Berdasarkan Liber Baptozorum (Buku Baptis), sudah ada pembaptisan di Lubuk Pakam sebanyak 13 orang oleh Pastor Pennock, tepatnya pada 10 Oktober 1965. Oleh karena itu, seluruh pencatatan administratif sudah dimulai sejak Oktober 1965 secara tersendiri di Lubuk Pakam. Dengan alasan ini, sebenarnya Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam telah berdiri pada tahun 1965. Akan tetapi, berdasarkan Surat Ketetapan/Surat Keterangan Uskup Agung Medan, Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam didirikan pada tahun 1966.
    Kilas Balik Stasi-stasi Separoki
    Pada tahun 1966, saat didirikan sebagai paroki, Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam terdiri dari 7 stasi yang sudah ada pada saat itu, yakni Lubuk Pakam sendiri sebagai stasi induk (1952), Stasi Ramunia (1953), Stasi Serdang (1953), Stasi Pagar Jati (1958), Stasi Petapahan (1961), Stasi Galang (1961) dan Stasi Bangun Purba (1965). Pada tahun itu juga bertambah 2 stasi baru, yakni Stasi Juhar Baru (1966), dan Stasi Kotarih (1966), sehingga pada Bulan Desember 1966 jumlah stasi Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam menjadi 9 stasi.
    Empat tahun kemudian yakni pada awal tahun 70-an, bertambah dua stasi lagi yakni Stasi Bah Perak (1967) yang dimekarkan dari Bangun Purba dan Stasi Pulokali (1969) yang dimekarkan dari Galang sehingga jumlahnya menjadi 11 stasi.
    Antara tahun 1970-1980 jumlah stasi berkurang 2 tetapi bertambah. Berkurang dua yakni pada tahun 1971 reksa pastoral Stasi Bangun Purba dan Stasi Bah Perak diserahkan ke paroki Delitua, bertambah 2 yakni dibukanya Stasi Kuala Lama (1975) dan Stasi Perbaungan (1977). Maka, pada awal tahun 1980-an jumlah stasi Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam tetap berjumlah 11 stasi.
    Pada kurun waktu antara tahun 1980-1990 bertambah lagi 7 stasi. Pada tahun 1981 Stasi Bangun Purba dan Stasi Bah Perak, yang sebelumnya pelayanannya diserahkan ke Paroki Delitua, dikembalikan kepada reksa pastoral Paroki Lubuk Pakam. Pada tahun itu juga, Stasi Bah Balua yang sebelumnya dibuka oleh P. Antonio Murru pada tahun 1975 tetapi sempat vakum selama 5 tahun dari tahun 1977-1981 dibuka kembali oleh Pastor Yan van Maurik, OFM Cap dan menjadi salah satu stasi dari Lubuk Pakam. Juga pada tahun 1981, Pastor Yan van Maurik OFM Cap meresmikan berdirinya Stasi ST. Yohannes Pembaptis Arapayung, pemekaran dari Stasi Kuala Lama. Setahun kemudian pada tahun 1982, Stasi Pamah Pematang, yang berdiri pada tahun 1974 sebagai bagian dari Paroki Delitua, diserahkan pengembalaannya ke Paroki Lubuk Pakam. Pada tahun 1982 juga dibuka stasi baru di Batang Kuis. Dan pada tahun 1986, dibuka Stasi Cinta Air yang dimekarkan dari Arapayung. Maka pada awal tahun 1990-an, jumlah stasi di Paroki Lubuk Pakam menjadi 18 stasi.
    Limabelas tahun kemudian dibuka 3 stasi lagi, yakni Stasi Saur Matio (1992), Stasi Parlobaran (2000) dan Stasi Gema Kasih (2003). Tetapi sebelumnya Stasi St. Paulus Bah Siduadua yang sebelumnya merupakan stasi dari paroki St. Yoseph Tebing Tinggi, masuk ke paroki Lubuk Pakam karena alasan letak geografis. Maka, sampai tahun 2005, jumlah stasi Paroki Lubuk Pakam menjadi 22.
    Pada tahun 2012, ketika Keuskupan Agung Medan membuka paroki baru di dekat Bandara Kuala Namu dengan pusatnya di Batangkuis, maka Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam menyerahkan reksa pastoral 3 stasi ke paroki baru itu, yakni Stasi Batangkuis sendiri, Stasi Serdang, dan Stasi Saur Matio. Maka, pada tahun 2016 ini, ketika Paroki Gembala Yang Baik Lubuk Pakam merayakan pesta emasnya, jumlah stasinya adalah sebanyak 19 stasi.
    Pelayanan Pastoral Paroki
    Pelayanan pastoral di paroki ini akan dipaparkan dengan mengikuti panca tugas Gereja: Liturgy, Kerygma, koinonia, Diakonia dan Martirnya.
    A. Bidang Liturgya
    Pelayanan sakramen dan sakramentali di usahakan terlaksana secara intens. Pelayanan ekaristi pada hari minggu selalu diusahakan dua stasi oleh imam, bahkan pernah tiga stasi. Usaha ini tempuh dengan maksud supaya umat bisa merayakan ekaristi sesering mungkin. Selain itu, pelayanan ekaristi pun sedapat mungkin di usahakan dirayakan di lingkungan-lingkungan. Permintaan pelayanan sakramen pengurapan orang sakit sudah semakin meningkat dan pastor selalu siap sedia untuk pelayanan ini baik kerumah sakit maupun ke rumah umat. Pelayanan sakramen babtis dilaksanakan tergantung permintaan umat stasi melalui dewan pastoral stasi. Pelayanan sakramen pengakuan dosa secara tetap telah di sediakan pada masa prapaska bersamaan dengan pemercikan rumah umat, meskipun dari segi kuantitas peniten masih jauh dari yang di harapkan. Sedangkan perayaan sakramentalia untuk pemberkatan kendaraan, rumah (termasuk peletakan batu pertama, dll.) dilaksanakan sesuai dengan permintaan umat. Akan tetapi, upacara pemberkatan benih tanaman (padi,dll.) terkesan mulai berkurang. Secara khusus, upacara pemercikan/pemberkatan umat dan rumah telah di laksanakan secara rutin setiap masa pra-paska; di sini terkadang dijumpai bahwa umat menyisipkan permintaannya kepada imam untuk mendoakan/memberkati benih padi.
    Konsili vatikan II mengamanatkan supaya dalam pembaharuan dan pengembangan liturgi suci diperhatikan keikut-sertaan segenap umat secara penuh dan aktif. Paroki Gembala Yang Baik pun telah memperhatikan supaya umat sungguh berperan aktif, partisipatif, sadar dan penuh dalam segala aktivitas liturgi gereja.
    Untuk mencapai hal itu, paroki telah menempuh cara pembekalan dan pelatihan liturgis dengan bantuan komisi liturgi KAM. Melalui seleksi liturgi paroki, paroki pun telah turut menyebar luaskan pemahaman dan pelatihan tersebut ke setiap stasi se-paroki GYB – Lubukpakam. Berdasarkan hal itu, perayaan liturgi di setiap stasi dan lingkungan telah di usahakan sesuai dengan petunjuk-petunjuk liturgis gereja. Petugas ibadat dan perayaan liturgis gereja pun telah melibatkan peran aktif umat; bertugas dalam perayaan ekaristi dan para dewan pastoral stasi/lingkungan telah bertugas sebagai pemimpin ibadat sabda hari minggu dan doa lingkungaan serta ibadat-ibadat lainnya.
    B. Bidang Kerygma
    Pelayanan gereja di bidang kerygma ditempuh oleh paroki ini dengan menata berbagai bidang katekese: persiapan babtis (katekumen), komuni pertama, krisma dan perkawinan. Katekese persiapan penerimaan sakramen baptis, komuni pertama dan krisma dilaksanakan oleh para pengurus gereja (seksi katekese paroki dan stasi) bekerja sama dengan para gembala dan dilaksanakan di stasi masing-masing. Dalam persiapan perkawinan, paroki telah membentuk tim pembina dengan beranggotakan berbagi unsur profesi bersama dengan pastor/frater yang bertugas di paroki ini. Pelaksanaan kursus persiapan perkawinan ini dilaksanakan pada hari saptu minggu ke-2 setiap bulan.
    C. Bidang Koinonia
    Persekutuan gerejani di paroki ini secara konkret, dapat dialami dalam bentuk kebersamaan dalam perayaan ekaristi dan ibadat sabda hari minggu serta doa-doa lingkungan. Selain itu, kegiatan sermon-sermon sekali sebulan, rekoleksi lingkungan/stasi dan rekoleksi pengurus pun menjadi sarana perwujudan persekutuan umat di paroki ini.
    D. Bidang Diakonia
    (Todo Agustinus Pasaribu, Ketua Yayasan Caritas PSE dan Seksi PSE Paroki)
    KARYA-KARYA PELAYANAN SOSIAL EKONOMI DI PAROKI GEMBALA YANG BAIK LUBUKPAKAM
    Dalam perayaan Yubileum 50 tahun paroki dan pendedikasian gereja paroki sekilas hendak kita melihat kebelakang karya-karya sosial ekonomi yang berlangsung dari masa ke masa yang dialami dan dirasakan oleh umat. Pesta syukur dan rahmat ini hendaknya membawa kita juga melihat tugas diakonia gereja khususnya di Paroki Lubuk Pakam.
    Sejak tahun 1975, umat paroki gembala yang baik lubukpakam telah menikmati karya-karya baik pelayanan sosial ekonomi. Karya pelayanan tersebut di gagasi oleh pastor Fidelis Sihotang OFMCap. Yang pada saat itu menjadi pastor paroki dan pada tahun 1976 diangkat oleh bapa Uskup Agung Medan Mgr. Pius Datubara sebagai Delegasus Sosial (Delsos) untuk karya gereja di bidang sosial ekonomi sekaligus ketua Yayasan Karya Bhakti (Yayasan yang dalam anggaran dasarnya ditujukan untuk bekerja pada bidang kemanusiaan).
    Karya-karya pelayanan sosial ekonomi saat itu amat di rasakan dan berguna bagi perkembangan hidup umat antara lain pendistribusian dan pengembangan bibit padi jenis IR, jenis baru hasil penelitian yang menghasilkan produksi tinggi. Dalam rangka kebutuhan pembangunan dikembangkan pula kilang batu yang banyak menerima pekerja khususnya orang muda perantau sekaligus pelatihan untuk membuat batu bata yang baik. Dibuat pula usaha perbengkelan untuk menyelengarakan pelatihan keterampilan bagi anak yang putus sekolah dan perantau. Untuk keterampilan wanita kursus-kursus menjahit, menyulam, tata boga dan bordir serta pusdiklat bagi pelatihan komputer. Pengembangan bidang pertanian dan perternakan juga diselenggarakan. Banyak tanah dibeli yang ditunjukkan untuk demonstrasi plot sebagai tempat belajar pertanian di lubuk pakam. Di samping umat paroki lubukpakam, umat dari paroki-paroki lain juga dapat menikmati karya-karya sosial ekonomi. Hingga saat ini di paroki lubukpakam masih terdapat aula yang disebut aula pengembangan sosial ekonomi (PSE). Masih terdapat juga beberapa persil tanah yang merupakan peninggalan proyek sosial ekonomi di sekitar paroki. Paroki lubukpakam juga pernah mendapatkan dana panitia krisis dari keuskupan untuk pengembangan sosial ekonomi umat saat indonesia dilanda krisis ekonomi.
    Karya pelayanan sosial ekonomi yang tidak kalah pentingnya adalah keuangan mikro yang di Paroki Gembala Yang Baik bernama Bina Mitra Sejahtera (BMS). BMS merupakan lembaga simpan pinjam bertujuan untuk memperkuat permodalan usaha ekonomi umat. Cukup lama bertahan namun akhirnya juga ditutup.
    Sejak tahun 2001 fokus kegiatan pelayanan sosial ekonomi berpusat pada pelayanan karitatif. Membantu umat yang sakit dan menderita serta terdampak bencana alam maupun akibat perbuatan manusia, termasuk musibah kebakaran. Kegairahan pelayanan sosial ekonomi umat paroki kembali muncul sejak 2013. Dimulai lagi dengan membentuk komunitas-komunitas basis yang bertujuan untuk peningkatan ekonomi rumah tangga. Gerakan awal muncul di stasi arahpayung dan kuala lama, dengan perternakan bebek, babi dan kambing. Kini kegiatan tersebut semakin meluas dengan cara penerusan manfaat. Dikembangkan pula perternakan babi dengan sistem ramah lingkungan di beberapa stasi. Ada juga pengembangan budidaya ikan lele. Pelatihan untuk usaha jamur pernah diselenggarakan meskipun kurang di minati umat demikian pelatihan pembuatan pupuk alternatif dan obat-obatan alami yang dipergunakan untuk pertanian pengganti bahan kimia. Dalam melaksanakan kegiatan tersebut paroki mengandalkan dana aksi puasa pembangunan (APP) keuskupan, caritas PSE keuskupan ditambah dana APP yang tinggal di paroki. Kegiatan tersebut masih menyentuh beberapa stasi belum meluas menjadi gerakan seluruh paroki akibat keterbatasan yang dimiliki.
    Sermon bolon paroki pada awal tahun 2016 semakin meneguhkan semangat ber-PSE di paroki gembala yang baik. Karya PSE diharapkan melibatkan kaum muda dan juga memberi hati terhadap lingkungan hidup. Pengalokasian dana APP juga semakin di perluas untuk guru agama honorer di paroki dan gerakan kaum muda serta tidak lupa mendorong upaya agar anak-anak paroki masuk seminari.
    E. Bidang Martirya
    Gereja, umat allah, dipanggil untuk memberikan kesaksian hidup di tengah masyarakat dan dunia. Sebagai gereja, umat paroki GBY – Lubukpakam secara induvidu tentulah sudah berupaya memperlihatkan kualitas imannya di tempat kerja maupun di sekitar rumah masing-masing. Namun, dalam bentuk komunal paguyuban tertentu (seperti FMKI, Pemuda katolik, WKRI,dll) paroki ini masih harus berjuang lebih giat lagi untuk menjadi promotor kerasulan awam sebagai bentuk kesaksian gereja di tengah masyarakat luas.
    Karya Non-Parokial
    1.Karya-Karya Milik Keuskupan Agung Medan
    a. Sekolah Milik Keuskupan: SD, SMP, dan SMA Serdang Murni Lubuk Pakam dan SD St. Paulus – Ramunia
    Sebelum lubukpakam dinyatakan sebagai paroki GYB, sekolah katolik sudah berdiri tahun 1957. Saat itu, RP. Diego van de biggelar OFM.Cap bersama bapak Djapogu Sinaga dan bapak K.E. Sinaga mendirikan sekolah rakyat (sekarang SD) katolik; awalnya (3) lokal (di lokasi gereja petapahan) dengan jumlah murid 60 orang dan dipindahkan ke Jl. Siantar tahun 1960 (lokasi gereja sekarang). Kepala sekolah SR. RK pertama diemban oleh bapak C.M. Lumban Raja, bapak J.D. Saragih dan bapak Cyrus Hutabarat. Kita juga patut berterimakasih kepada bapak Djudin Saragih, bapak Djapaet Sinaga, bapak H.M. Parhusip, bapak W. Simbolon dan bapak DJ. Simbolon yang turut berjasa mengembangkan gereja dan pendidikan di paroki GYB Lubuk Pakam. Di sini kita patut mengingat nama-nama tenaga pengajar pertama SD; Djapogu Sinaga, Kasiman Edward Sinaga, H. Monang Parhusip, Goliat Sinaga dan Pingkel Sinaga. Nama-nama kepala sekolah SD; Djapogu sinaga, Kasiman Edward Sinaga, C,M. Lumban raja, T.R. Peranginangin, T. Manurung, F.X. Suharsono, R.C. Ginting , A. Hutasoit, BA, dan Sarmauli Siallagan, S.Pd.
    Tahun 1962 RP. Diego van de Biggelar OFMCap bersama umat katolik di paroki GYB serta Bpk. J. D. Saragih dan S.W. Simbolon memprakarsai berdirinya sekolah menengah pertama (SMP) RK Serdang Murni berdampingan dengan SD RK. Para kepala sekolah SMP : Djamura Saragih, Sr. ZTP. Sihombing, B.A., Drs. Masner Simarmata, Drs. Bangun Silalahi dan Drs. Peri Nainggolan, M.Pd.
    SMA RK Serdang Murni berdiri tahun 1977 dikelola oleh paroki Gembala Yang Baik. Pendirian sekolah ini awalnya pengalihan sekolah swasta SMA karya yang menumpang di gedung SMA Negri 1 Lubuk Pakam. Karna tidak memungkinkan lagi menggunakan fasilitas sekolah Negeri, maka Bpk. Djamurah Saragih yang saat itu guru di SMA Negeri 1 dan pengurus sekolah Serdang Murni memindahkan siswa/i SMA Karya menjadi siswa/i SMA RK Serdang Murni Lubuk Pakam, dengan menggunakan gedung SD dan SMP RK Serdang Murni. Mereka belajar pada siang hari setelah SMP dan SD selesai belajar. Tahun 1985 SMA RK memiliki gedung sendiri di komplek yang sekarang. Para kepala sekolah SMA: Ir. Peranginangin, Drs. Djmurah Saragih, Drs. Selamat Meliala, Drs. Jaya Sijabat, Sr. Reynalda Sinaga KYM, Drs. TR. Peranginangin, Drs. Masner Simarmata.
    Pada tahun 1997, SD, SMP, SMA RK Serdang Murni dikelola oleh Yayasan St.Yosep-Medan, kemudian tahun 2014 sampai saat ini dikelola oleh Yayasan Don Bosco – KAM. Gedung SD, SMP, SMA Serdang Murni yang baru (sekarang) diresmikan oleh Uskup Agung Medan MGR. Anicetus B. Sinaga pada 21 Nopember 2014 bersamaan dengan asrama putra.
    Selain pendirian sekolah di Lubuk Pakam, sekolah katolik pun telah berdiri di Ramunia, Kecamatan Beringin. Sekolah ini didirikan pada tahun 1969 di atas tanah yang dijual oleh bapak Ama Sonta Naibaho dengan ukuran 55 x 45 m (2475 m2) seharga 1.700 kg padi kering. Untuk pembayaran biaya tersebut, umat dikenai sumbangan/gugutan 2 kaleng padi per KK. Sekolah ini didirikan atas kesepakatan umat bersama dengan para pengurus gereja mengingat pentingnya pendidikan anak.
    b. Asrama Putra
    Asrama putra telah hadir baru-baru ini tepat berada komplek SD, SMP dan SMA RK Serdang Murni. Asrama ini merupakan milik Keuskupan Agung Medan. Keuskupan Agung Medan melalui Yayasan Don Bosco menyerahkan pengelolaan asrama putra kepada Suster-Suster Kongregasi KYM. Asrama ini didirikan pada 1 juli 2014 dan diresmikan langsung oleh Uskup Agung Medan, MGR. Anicetus B. Sinaga Pada 21 Nopember 2014. Sekarang, anak-anak asrama putra sudah berjumlah 28 orang (5 orang beragama katolik).
    2.Karya Yang Dimiliki oleh Tarekat
    a. Klinik
    Kehadiran gereja di tengah masyarakat Lubuk Pakam pun dirasakan melalui pelayanan di bidang kesehatan. Hal ini sangat di dukung oleh kehadiran klinik katolik (sekarang namanya klinik Pratama Maristella). Dahulu, klinik ini sangat terkenal dengan pelayanan yang cukup memuaskan bagi para pengunjung dan pasien. Sekarang, klinik Pratama Maristella sudah melayani peserta BPJS kesehatan.
    b. Sekolah TK RK Bintang Timur pun sudah hadir di Lubuk Pakam
    c. Asrama Putri
    Asrama putri ini merupakan salah satu karya gerejani yang dimiliki oleh Suster Kongregasi KYM, berada di belakang sekolah TK RK Bintang Timur, satu komplek dengan susteran dan klinik. Sekarang, anak-anak asrama putri berjumlah 10 orang setelah dibuka, meskipun belum didirikan secara resmi oleh Kongregasi. Walaupun demikian, gedung asrama putri sudah digunakan/ditempati sejak akhir tahun 2015.
    Video Profil :
    Lokasi Paroki :
    Artikel sebelumnya
    Artikel selanjutnya

    JADWAL USKUP & VIKJEN KAM

    KALENDER LITURGI

    Terbaru