Jumat, April 19, 2024
More
    BerandaParokiParoki Aek Nabara

    Paroki Aek Nabara

    Pelindung

    :

    Santo Fransiskus Asisi

    Buku Paroki

    :

    Sejak November 1978. Sebelumnya bergabung dengan Paroki AekKanopan/Kisaran

    Alamat

    :

    Pastoran Katolik, Jl. Ampera No. 1, Labuhan Batu, Aek Nabara – 21462

    Telp.

    :

    0624 – 29149

    Email

    :

    parokiaeknabara1978@gmail.com

    Jumlah Umat

    :

    1.139 KK / 4.820 jiwa 
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi

    :

    27

         
    1. Alur Naga
    2. Bunut
    3. Kampung Beringin
    4. Kpg. Jawa Pasar
    5. Kpg. Jawa Seberang
    6. Kampung Kristen
    7. Kampung Padang
    8. Kampung Pelita
    9. Negeri Lama
    10. Pangkatan
    11. Parsaoran Sennah
    12. Sei Abal
    13. Sei Bunga
    14. Sei Daun
    15. Sei Keluang
    16. Sei Parapat
    17. Sei Keramat Hulu
    18. Sei Pelancang
    19. Sei Tarolat
    20. Sei Tampang
    21. Selat Cina
    22. Sijambu Kanan
    23. Simpang 45
    24. Sipege
    25. Tanjung Harapan
    26. Tanjung Marulak
    27. Tgk. Pasir Seberang
         

    RP. Yonas Sandra Mallisa, SX

    22.01.‘83

    Parochus

    RP. Guillermo Arias, SX

    22.03.‘66

    Vikaris Parokial

    Sejarah Paroki St. Fransiskus Asisi | Aek Nabara

    Perjalanan Sejarah Paroki Aek Nabara (klik untuk membaca)

    Sekitar tahun 1932, umat Katolik sudah ada di wilayah Wingfoot. Hal itu nyata dengan keberadaan Bapak Petrus Nainggolan bersama beberapa keluarga yang sudah mengadakan Ibadat di rumah-rumah keluarga. Kemudian, Pastor Misionaris dari Tanjung Balai datang untuk mencari umat dan mewartakan Injil kepada mereka. Namun, karena jarak yang sangat jauh dan kondisi jalan yang sangat parah membuat pelayanan dari misionaris menjadi kurang maksimal. Ketika itu pelayanan sakramen-sakramen sangat jarang. Untuk menjamin kebaktian di Wingfoot, maka Pastor menetapkan beberapa umat untuk memimpin Ibadat. Situasi bangsa Indonesia pun masih berada dalam tekanan penjajah. Baru kemudian sekitar tahun 1950-an umat Katolik dapat merayakan ibadat Sabda Hari Minggu dan perayaan Ekaristi di Wisma Perkebunan Good Year PTP III (Perusahaan Terbatas Perseorangan) Wingfoot. Pada waktu itu umat Katolik belum juga memiliki gedung gereja. Jumlah keluarga-keluarga yang berhimpun diperkirakan ±32 keluarga. Di antara umat yang sudah ada pada waktu itu, termasuk Dr. Robinson dan Dr. Seto, keduanya berkebangsaan Amerika yang menjadi anggota Gereja Katolik PTP III.

    Selain dari Tanjung Balai, imam yang melayani sakramen-sakramen pada waktu itu datang dari Parapat; di antaranya ialah Pastor Pius Datubara, OFMCap yang kemudian menjadi Mgr. Pius Datubara, OfmCap. Pastor Pius bersama para Frater Kapusin datang untuk melayani umat di PTP III Wingfoot. Pada saat jadwal kunjungannya, mereka menginap di rumah umat. Dari situ mereka pergi ke stasi-stasi untuk merayakan Ekaristi dan pembinaan umat. Para pastor dari Tanjung Balai yang pernah melakukan pelayanan sakramen dan kunjungan pastoral ialah Pastor Arie Van Diemen, OFMCap, Pastor Meinrad Manser, OFMCap, P. Scheven, OfmCap; dan P. Beatus Jenniskens, OFMCap yang lama berkarya di Aek Kanopan.

    Upaya untuk memandirikan umat sangat tampak melalui pencarian tanah untuk pendirian gedung gereja. Sekitar tahun 1960-an diperoleh sebidang tanah di Jl. Rantau. Di lokasi ini didirikanlah gereja yang sangat sederhana/darurat. Vorhangernya ialah bapak Emanuel Pangaribuan yang akhirnya pindah ke gereja Protestan dengan alasan tertentu. Ketika gereja berada di tempat ini, umat digembalakan oleh pastor dari Paroki St. Mikael Tanjung Balai-Asahan, Kisaran, dan kemudian Aek Kanopan. Di antaranya pastor yang pernah berkarya adalah P. Remigius Pennoch, OFMCap, P. Schepens, OfmCap, P. Luigi Magnasco, SX, P. Francesco Marini, SX dan P. Arie Van Diemen, OFMCap. Setelah gereja berdomisili di Jl. Rantau tidak dapat diketahui dengan pasti berapa jumlah umat atau keluarga Katolik yang bertambah; yang pasti umat bukanlah bertambah tetapi semakin berkurang dan berjumlah hanya ±12 keluarga.

    Ketidakamanan negara pada waktu itu sangat mempengaruhi keberadaan gereja. Penyebab utama berkurangnya jumlah umat adalah Gerakan 30S-PKI dan Zending Protestan yang sudah datang lebih dahulu sebelum Katolik. Para Pendeta dari Parapat sedang gencar ke kampung-kampung termasuk ke Wingfoot untuk mengajak orang masuk ke agama Protestan. Sedangkan pada waktu itu, kunjungan para pastor sangat jarang sekali. Sehingga dalam situasi seperti ini, antara tuntutan masyarakat, hidup beragama dan kunjungan pastor yang jarang, membuat beberapa umat Katolik akhirnya pindah ke gereja Protestan sebab anaknya harus dibaptis atau karena pernikahan.

    Sekitar tahun 1970-an, umat memohon kepada pihak Perkebunan agar membantu Gereja Katolik untuk memiliki sebidang tanah agar dapat mendirikan bangunan gereja yang permanen. Namun permohonan mereka pada waktu itu tidak dikabulkan. Baru dua tahun kemudian, setelah Pak Sudrajat yang adalah Inspektorat di Aek Kanopan pindah ke Aek Nabara menjadi ADM perkebunan, memberikan izin pendirian Gereja Katolik di tanah Jl. Ampera-Aek Nabara. Di sini dibangunlah gereja permanen. Ketika gereja berada di Jl. Ampera sekitar tahun 1973, reksa pastoral gereja ini ditanggungjawabi oleh Pastor dari Paroki St. Pius X Aek Kanopan.

    Pada tanggal 1 Mei 1975, Paroki Aek Kanopan dibuka secara resmi dengan dengan bangunan Pastoran yang sangat sederhana di kota itu, dan pelayanan pastoral meliputi daerah Aek Kanopan dan Aek Nabara dengan semua stasi-stasinya yang sudah dibuka. Penting diperhatikan bahwa, sejak waktu itu sudah ditentukan, batas-batas wilayah pelayanan Paroki Aek Nabara, dan meskipun pelayanan pastoral masih berasal dari Paroki Aek Kanopan, namun sudah mulai diisi 2 Buku Permandian dan 2 Buku Perkawinan, satu untuk Paroki Aek Kanopan dan satu lagi untuk Paroki Aek Nabara. Hal ini dibuat karena sudah ada rencana yang jelas dari Uskup untuk membuka Paroki Aek Nabara sesegera mungkin, dan tinggal menunggu Pastor-Pastor dari Serikat Xaverian (SX) yang sudah berjanji akan datang berkarya di Keuskupan Agung Medan.

    Pastor yang pertama yang ditugaskan di Keuskupan Agung Medan adalah P. Luigi Magnasco, SX yang mulai belajar Bahasa Batak Toba di Palipi pada tahun 1976. Dan pada tahun itu, P. Germano Framarin, SX juga telah dipindahkan dari Keuskupan Padang ke Keuskupan Agung Medan dan akan berkarya disitu sesudah kembali dari cuti di Italia. Maka sebelum berangkat cuti ke Italia, P. Germano bersama dengan seorang Pastor SX lain berkunjung ke Palipi pada bulan Agustus 1976. Mereka berjumpa dengan P. Luigi Magnasco yang sedang belajar bahasa Batak; kemudian mereka pergi bersama melihat Daerah Labuhan Batu yang kemudian akan menjadi tempat karya mereka di tahun berikut. Pada waktu itu yang bertugas di Aek Kanopan hanya P. Beatus Jenniskens, OFMCap dan P. Arie Van Diemen, OFMCap. Karya pastoral pada waktu itu sangat berat karena harus menjalani seluruh Labuhan Batu dengan Stasi yang sangat jauh, sampai 160 km dari Aek Kanopan. Setelah belajar bahasa Batak Toba di Palipi (1977) selama sekitar 6 bulan di Palipi, P. Germano mulai bertugas sejak Maret 1978 bersama Pastor-Pastor Kapusin di Paroki Aek Kanopan. Sementara itu, Pastor Francesco Marini SX yang juga telah ditugaskan dan telah belajar Bahasa Toba di Onan Runggu akan mendampingi P. Luigi Magnasco dalam pelayanan pastoral di Paroki Aek Nabara. Dan pada waktu itu, telah dibangun gedung pastoran disamping gereja untuk menyambut kedatangan kedua misionaris yang akan bertugas di Paroki Aek Nabara.

    Ketika itu, Keuskupan sedang memikirkan bahwa di daerah Labuhan Batu mesti ada satu Paroki administratif untuk melayani beberapa stasi yang ada di sekitarnya. Ada tiga stasi yang dipertimbangkan bisa menjadi Paroki, yakni: stasi Bomban Bidang (sekarang menjadi Kampung Beringin), Ranto Prapat dan Aek Nabara. Dari ketiga stasi itu, akhirnya Aek Nabara ditentukan dan diresmikan menjadi Paroki pada tanggal 4 Oktober 1978 oleh Mgr. AG. Pius Datubara, dengan nama Pelindung St. Fransiskus Assisi karena letak Aek Nabara lebih strategis bila ditinjau dari berbagai bidang. Pada saat itu yang menjadi Vorhanger adalah Bapak Situmorang. Gedung gereja tersebut dibangun bertahap hingga selesai. Sejak awal, pelayanan pastoral bisa dikatakan “unik” juga karena dilayani oleh 2 pastor SX dan 3 suster Kongregasi Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM) yang membentuk satu komunitas demi memaksimalkan pelayanan pastoral yang efektif. Kehadiran para suster KYM di Paroki ini terjadi atas permintaan P. Germano yang pada tanggal 3 Mei 1978 datang ke rumah induk KYM di Jalan Sibolga Siantar untuk meminta kepada Kongregasi KYM agar mengutus suster untuk berkarya di bidang pastoral. Dan pada waktu itu, atas persetujuan Kongregasi akhirnya diutus 3 suster pertama yakni Sr. Regina Nainggolan, KYM, Sr. Flora Situmorang, KYM (alm) , dan Sr. Angela Sinaga, KYM (alm).

    Pada awalnya para Pastor tinggal di pastoran dan para Suster tinggal di sebuah rumah yang disewakan dekat pastoran sambil menunggu didirikan Susteran di tanah Gereja. Seiring perjalanan waktu, Paroki muda ini mulai berkembang dalam pertambahan jumlah umat. Karena itu para Pastor dan Suster mulai merencanakan kegiatan-kegiatan untuk anak-anak, muda-mudi Katolik dan ibu-ibu serta menjalankan bersama pelayanan pastoral dengan kunjungan ke Stasi-Stasi, pembinaan Pengurus melalui kursus-kursus dan Sermon, serta mengusahakan perkembangan sosial ekonomi umat melalui CU Paroki Aek Nabara. Selain itu melihat situasi umat yang merindukan system pendidikan Katolik untuk anak-anaknya, maka pada tahun 1978 bertempat di Mombang Bidang (Kampung Beringin) dibangun juga sekolah menengah tingkat pertama yang dikenal dengan SMP Bintang Kejora. Dan hingga saat ini sekolah tersebut tetap berdiri. Paroki ini juga dilayani oleh para frater Xaverian dan juga Diosesan yang menjalani masa orientasi pastoral, masa persiapan tahbisan Diakon dan Imamat atau masa live-in seperti Frater Martinus Situmorang, OFMCap. yang kelak menjadi Uskup Padang pernah menjalani live-in di stasi Alur Naga.

    Komunitas seperti ini masih berlanjut sampai sekarang dan umat pun tetap senang dilayani oleh komunitas pastoral seperti ini. Dan lewat pelayanan dan kesaksian hidup para pastor dan suster maka munculah benih-benih panggilan baik sebagai Pastor maupun Suster, sehingga pada tahun 2016 Pastor Xaverian pertama putra Paroki Aek Nabara, yaitu P. Hotman Sitanggang, SX menerima tahbisan Imamatnya pada tanggal 30 Agustus 2016 di Aek Nabara. Sebelumnya telah ada lebih dahulu yang ditahbiskan menjadi imam, seperti P. Monang Sijabat, O.Carm, dari stasi Tanjung Harapan dan P. Oscar Sinaga, OFMCap. yang berasal dari stasi Kampung Jawa Pasar.

    Pada saat pendiriannya, Paroki St. Fransiskus Assisi-Aek Nabara mempunyai 35 stasi. Sejak resmi menjadi Paroki sampai sekarang, reksa pastoral Paroki Aek Nabara dipercayakan kepada para Imam Misionaris Xaverian dan dibantu oleh suster-suster dari Kongregasi KYM. Pastor yang pernah menggembalakan umat di Paroki St. Fransiskus Assisi-Aek Nabara adalah: Tahun 1978-1984: P. Luigi Magnasco, SX (Pastor Paroki), P. Giovanni Ferrari, SX, P. Francesco Marini, SX; dan Br. Mario Passuello, SX; tahun 1984-1996: P. Germano Framarin, SX (Pastor Paroki), P. Giuseppe Pierantoni, SX, P. Giuliano Varalta, SX, P. Sandro Peccati, SX; tahun 1996-2004: P. Salvador Perusquia Feregrino, SX (Pastor Paroki); tahun 2004-2007: P. Yulius Tangke Bandaso, SX; tahun 2007-2013: P. Enrique Sanchez Vazquez, SX (Pastor Paroki), P. Andreas Sutiyo, SX, P. Robledo Sanchez, SX; tahun 2013-2018: P. Nasarius Rumairi Marilalan, SX (Pastor Paroki), P. La Nike Joanes, SX, P. Yohanes Leonardus Suharno, SX, P. Valentin Shukuru Bihaira, SX (Pastor Paroki: 2018-Maret 2020); dan P. Hebry Vicidius Walian, SX (2016-...).

    Sejak tanggal 29 Maret 2020 sampai dengan penulisan sejarah ini, Paroki Aek Nabara dilayani oleh P. Hebry Vicidius Walian, SX sebagai Pastor Paroki. Selain itu, sejak tahun 2014, ada juga Imam Diosesan KAM yang turut membantu Paroki ini dalam pelayanan sakramen-sakramen yakni RD. Merdin Sitanggang, sekaligus penanggungjawab Kebun Kelapa Sawit milik Keuskupan Agung Medan di Riau. Kemudian, dalam Surat Keputusan Uskup KAM 01 Juli 2021 telah ditugaskan P. Yonas Sandra Malissa, SX sebagai tenaga pastoral untuk Paroki Aek Nabara.

    Sejak menjadi paroki, jumlah stasi beberapa kali mengalami pertambahan. Dari 35, 42 dan 50 Stasi. Demi peningkatan pelayanan, tanggal 15 Agustus 2015 Keuskupan Agung Medan memekarkan Paroki Aek Nabara dan mendirikan Paroki Santo Petrus Rasul Rantau Prapat yang mengambil 9 Stasi dari Aek Nabara. Sejak saat itu, Paroki Aek Nabara memiliki 41 Stasi dan 8 Lingkungan, yakni 1.524 keluarga atau ± 6.811 jiwa. Hingga sekarang di tahun 2021, jumlah Kepala Keluarga (KK) adalah 1541 dengan jumlah jiwa 6747 orang. Tanggal 09 Oktober 2022 Paroki St. Fransisikus Assisi Aek nabara kembali memekarkan wilayah kabupaten Labuhan Batu selatan sebagai kuasi paroki St. Yosef Kota Pinang sebanyak 491 KK.

    Di Paroki Aek Nabara ada Kapel biara Betania dan Goa Maria sebagai tempat umat untuk berdevosi.

    Pada tahun 2018, ada permohonan dari orang-orang Katolik pekerja kebun di perkebunan Torganda kepada DPPH agar mereka juga mendapatkan pelayanan secara Gereja Katolik. Maka, Pastor paroki bersama dengan DPPH membahas dan menanggapi permohonan mereka dengan mengadakan kunjungan beberapa kali ke Torganda di mana umat tersebut melakukan ibadat pada salah satu kelas di kompleks sekolah milik perkebunan. Kemudian pada tahun 2019, mereka dijadikan salah satu lingkungan dari Stasi Cikampak yang jarak di antara keduanya cukup jauh lebih kurang 28 km melalui jalan perkebunan. Mereka tetap memperoleh bimbingan hingga pada bulan Juni 2021 mereka mulai dipersiapkan untuk menjadi calon Stasi.

    Di Paroki St. Fransiskus Assisi-Aek Nabara, kegiatan dan pelayanan pastoral cukup beraneka ragam. Kegiatan di bidang rohani antara lain: Paskah Rayon, Festival (Punguan Inang Katolik (PIK) se-Paroki, Festival (Punguan Amang Katolik (PAK) se-Paroki, Natal Anak Sekolah Minggu Katolik (ASMIKA) se-Paroki, Natal Orang Muda Katolik (OMK) se-Rayon, Pesta Pelindung Paroki, Kursus/Seminar dan Rekoleksi/Retret Pembinaan umat dan Pengurus Gereja, Sermon Rayon, Rapat Presidium, Rapat Dewan Pastoral Paroki (DPP); dan Sermon Bolon. Di bidang sosial ekonomi antara lain: Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Credit Union (CU) Paroki. Di bidang pendidikan yaitu Sekolah SMP Bintang Kejora. Bidang-bidang kegiatan tersebut diupayakan dan dimaksudkan untuk membina, menghidupkan, mengungkapkan; dan mengekspresikan iman dan kesaksian umat di dalam keluarga, gereja serta dalam masyarakat.

    Kunjungan Uskup ke paroki Aek Nabara pertama kali pada tanggal 4 Oktober 1978 oleh Mgr. A.G. Pius Datubara untuk Peresmian Gereja Paroki. Tangal 21 Agustus 2016 adalah kunjungan terakhir untuk meresmikan gedung gereja stasi Aek Batu sekaligus Penerimaan Sakramen Penguatan oleh Bapa Uskup Mgr. A.G. Pius Datubara, OFMCap. Tanggal 29 Agustus Mgr. A.G. Pius Datubara dan Mgr. Anicetus B. Sinaga hadir untuk tahbisan 3 imam Serikat Xaverian.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :
    Artikel sebelumnya
    Artikel selanjutnya

    JADWAL USKUP & VIKJEN KAM

    KALENDER LITURGI

    Terbaru