Rabu, Juli 24, 2024
More
    BerandaParokiParoki P. Siantar Jalan Sibolga

    Paroki P. Siantar Jalan Sibolga

     
    Pelindung
    :
    Santo Laurentius Brindisi
    Buku Paroki
    :
    Sejak 1 Juli 1931. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan.
    Alamat
    :
    Jl. Sibolga 21, Pematangsiantar - 21121
    Telp./HP.
    :
    0622 - 21400
    Email
    :
    st.laurentius.psiantar@gmail.com
    Jumlah Umat
    :
    1.447 KK / 5.495 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    2
     
    01. St. Maria Lourdes, Marihat
    02. St. Klara Asisi, Pematang Siantar
    RP. Markus Manurung OFMCap
    05.01.'68
    Parochus
    RP. Hugolinus Malau OFMCap
    22.06.’69
    Vikaris Parokial 
    RP. Kosmas Tumanggor OMCap
    10.04.'48
    Pastor Asistensi 
         
         

       

    Sejarah Paroki St. Laurentius Brindisi - Jl. Sibolga , Pematang Siantar

    Sejarah Singkat (klik untuk membaca)
    1. Gereja Katolik di Pematangsiantar
    Gereja Katolik di Pematangsiantar didirikan pada 3 Juli 1931 oleh seorang misionaris asal Belanda, Pastor Aurelius Kerkers OFMCap. Tanggal pendirian ini ditetapkan karena sejak itulah Pastor Aurelius menetap di Pematangsiantar, awal misi Gereja Katolik seluruh Pematangsiantar dan sekitarnya. Sebuah rumah di Jl. Sekolah 18, Simpang Empat sekarang, disewa oleh Pastor Aurelius menjadi tempat tinggal dan sekaligus sebagai gereja. Pada tahun 1931 itu pula Pastor Aurelius mengangkat seorang katekis pertama yakni Kenan Hutabarat (yang terkenal dengan sebutan PENDETA). Bahkan atas kerjasama Pastor dan Kenan Hutabarat untuk membuat suatu buku pegangan bagi umat Katolik, disusunlah suatu Booklet Agama dengan judul Hoeria ni Jesus Christus ima Hoeria Katholiek. Buku ini bahasanya diperhalus oleh Katekis Bonifasius Panggabean.
    Berhubung pekerjaan Pastor Aurelius Kerkers semakin hari semakin banyak, maka pada tahun 1932 datanglah Pastor Sybrandus van Rossum di Pematangsiantar.
    Pada tahun 1932 Pastor Aurelius Kerkers mendirikan Sekolah HIS (Hollands Indlandse School) yang berbahasa Belanda untuk mendidik para umat, pada saat itu tempat belajar masih bersama-sama dengan rumah Pastor yang berada di Simpang Empat. Pastor Aurelius melihat masa depan sekolah dan gereja di Pematangsiantar cukup cerah. Karena itu ia membeli sebidang tanah seluas 1,5 ha di Jl. Sibolga. Di atas tanah ini dibangun pastoran, sekolah, gereja, dan susteran. Tempat ini kemudian menjadi pusat Katolik di Pematangsiantar. Dari sini, di mana Pastor Aurelius sebagai pastor kepala, misi mulai bergerak ke daerah Simalungun, Karo, dan Toba setelah pemerintah kolonial memberi izin pada 17 Desember 1933.
    2. Pengembangan Misi
    Pengembangan misi digencarkan setelah izin itu ada. Stasi-stasi baru didirikan. Stasi pertama adalah Laras, menyusul stasi-stasi lain di daerah Simalungun, Tapanuli, Karo, dan Sidikalang. Pangkalan misi ketika itu adalah Pematangsiantar.
    Pastor Elpidius van Duijnhoven OFMCap., yang ditempatkan di Pematangsiantar pada 16 Februari 1934, mendirikan stasi-stasi di sekitar Pematangsiantar antara lain Sawahdua. Tetapi sayang, perkembangan umat sangat terganggu karena meletus Perang Dunia II pada tahun 1940.
    3. Pembangunan Gereja Induk
    Awalnya gereja di Jl. Sibolga dibangun di samping susteran. Kebutuhan gedung lebih besar makin nyata, maka Pastor Aurelius membangun sebuah gereja besar yang sekarang dikenal dengan gereja Santo Laurentius Brindisi. Pemakaian gereja baru ini diresmikan pada 11 November 1934. Gedung inilah kemudian menjadi gereja induk di Pematangsiantar. Saat peresmiannya telah ada 12 stasi, 3 orang pastor, 4 orang suster, dan 528 orang umat yang terdiri dari 260 Eropa, 268 Tionghoa dan pribumi.
    4. Masa Sulit – Karya Misi Terus Berkembang
    Tahun 1942 Jepang berkuasa di Indonesia. Semua misionaris termasuk kemudian Pastor Aurelius Kerkers ditangkap dan dibawa ke penjara. Misi diteruskan oleh para katekis awam yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
    Pastor Aurelius setelah dibebaskan dari penjara pada 20 Oktober 1945 tinggal di Medan. Pada bulan Oktober 1947 ia bersama beberapa suster van Schjindel memberanikan diri kembali ke Pematangsiantar. Situasi mulai aman dan normal.
    Pada tahun 1949 Pastor Aurelius Kerkers diganti oleh Pastor Werenfridus Joosen OFMCap. Ia bekerja melayani umat dengan segala hati dan kemampuannya. Pastor Werenfridus meninggal karena serangan jantung pada 12 September 1954 dan dikebumikan pada 13 September 1954 di pemakaman Jl. Sibolga.
    Pastor Werenfridus Joosen OFMCap. digantikan oleh Pastor Walterus Derksen OFMCap. dari tahun 1955 sampai dengan Februari 1960. Pastor Walterus kembali ke Negeri Belanda dan meninggal di sana 20 September 1961.
    Pastor Walterus Derksen OFMCap. digantikan oleh Pastor Godhard Liebreks OFMCap. dan memimpin Paroki Santo Laurensius Brindisi dari tahun 1961-1986.
    Luas wilayah paroki hampir sama dengan Kabupaten Simalungun, mulai dari Laras sampai Tigaras, mulai dari Dolog Simbolon sampai Girsang Sipanganbolon.
    5. Paroki Pematangsiantar Menjadi Paroki St. Laurentius Brindisi
    Pemekaran Paroki Pematangsiantar dimungkinkan karena sejak tahun 1967, hampir setiap tahun ada penahbisan imam pribumi. Sementara itu, misionaris Kapusin Belanda masih diizinkan masuk ke Indonesia hingga tahun 1971.
    Paroki Pematangsiantar sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1986, telah mekar menjadi 4 Paroki: Jl. Sibolga, Jl. Medan, Jl. Bali, Tanah jawa. Paroki St. Laurentius Brindisi, induk dari paroki-paroki itu, sejak Desember 1986 menjadi Paroki kota tanpa stasi.
    6. Rencana Pembangunan Gereja di Tomuan
    Setiap tahun jumlah umat bertambah pesat. Karena itu, dipikirkan pembangunan gereja baru di Tomuan, di atas tanah seluas 4000 M2 yang dibeli Pastor Liebreks tahun 1986. Gereja di Tomuan belum dibangun sampai sekarang ini.
    7. Pembangunan Sekretariat Paroki
    Kantor Paroki atau Sekretariat Paroki awalnya berada di bangunan pastoran bagian depan. Pada tahun 1987 tanah pertapakan di samping kiri Pastoran dibeli pada masa Pastor Marcelinus Manalu OFMCap. sebagai Parochus. Di atas tanah inilah akhirnya Sekretariat Paroki dibangun pada masa Pastor Thomas Saragi OFMCap. sebagai Parochus.
    Peletakan batu pertama dilaksanakan pada 2 Juli 2006 bersama perayaan pembukaan Jubileum 75 tahun Paroki Santo Laurentius Brindisi, dan peresmiannya pada tahun 2007. Bangunan ini merupakan “kado” bagi Paroki Santo Laurentius Brindisi dalam usianya yang ke-75 tahun.
    8. Gereja Santa Klara Jl. Farel Pasaribu
    Gereja Santa Klara merupakan perkembangan dari gereja St. Laurentius Brindisi Jl. Sibolga pada masa Pastor Thomas Saragi OFMCap. sebagai Parochus. Atas permintaannya, Mgr. Pius Datubara OFMCap. mengizinkan bangunan eks SD Budi Mulia 2, Jl. Farel Pasaribu (lebih dikenal Jl. Lapangan Bola Atas) dipoles menjadi kapel. Peresmiannya terjadi Minggu 23 April 2006. Ketika itu juga Wilayah Santa Klara serta pengurusnya diresmikan.
    Status kapel menjadi gereja Santa Klara dinyatakan dengan Surat Keputusan Uskup Agung Medan No. 362/PAR/PS.JS/KA/ VIII/’18 tertanggal 3 Agustus 2018.
    9. Pembangunan Gereja Santa Maria Lourdes Marihat
    Sekalipun gereja Santa Klara sudah dibangun, gereja Jl. Sibolga belum sanggup menampung kehadiran umat. Karena itu, Pastor Paroki Pastor Raymundus Sianipar OFMCap. memohon kepada Pengurus Yayasan Budi Mulia pada 18 Juli 2012, untuk menggunakan aula SMP Budi Mulia, Marihat sebagai tempat perayaan liturgi. Misa perdana dirayakan di tempat ini pada 12 Agustus 2012 serentak dengan peresmian Wilayah Marihat serta pengurusnya. Sementara itu dilaksanakan sosialisasi rencana pembangunan gereja baru di atas tanah seluas kurang lebih 5000 m2 yang telah dibeli oleh Bruder Anianus tahun 1994. Rencana ini ditanggapi umat dengan antusias.
    Ketika Pastor Monald Banjarnahor OFMCap. sebagai Parochus dilaksanakan peletakan batu pertama pada 10 Februari 2013 dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Pius Datubara OFMCap. Gereja ini didedikasikan pada perayaan 27 November 2016 yang dipimpin Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap.
    10. Para Gembala Dari Awal Pendirian Sampai Sekarang
    Berikut para Pastor, sebagai Parochus atau Pastor Rekan (Vikaris Parokial) yang pernah menggembalakan Paroki Santo Laurentius Brindisi.
    Selain para Pastor yang disebut di atas, masih banyak Pastor yang pernah berkomunitas di Pastoran Jalan Sibolga 21 Pematangsiantar, dalam penggembalaan di Stasi/Paroki lain atau tugas khusus lainnya.
    1) Pastor Aurelius Kerkers OFMCap.
    Parochus: Tahun 1931-1949

    2) Pastor Werenfridus Joosen OFMCap.
    Parochus: Tahun 1949-1954.

    3) Pastor Walterus Derksen OFMCap.
    Parochus: Tahun 1955-1960

    4) Pastor Godehardus Liebreks OFMCap.
    Parochus: Tahun 1961-1986

    5) Pastor Marcelinus Manalu OFMCap.
    Parochus: Tahun 1986 s/d Agustus 1991

    6) Pastor Bonifasius Manullang OFMCap.
    Parochus: September 1991 s/d April 1992

    7) Pastor Johannes Simamora OFMCap.
    Parochus: Mei 1992 s/d September 2005

    8) Pastor Thomas S. Saragi OFMCap.
    Parochus: Tahun 2005 s/d Oktober 2010

    9) Pastor Yustinus Turnip OFMCap.
    Diakonat dan Imam Baru: Tahun 1-8-2007 s/d 2008

    10) Pastor Raymundus Sianipar OFMCap.
    Pastor Rekan (Vikaris Parokial): Agustus 2009
    Parochus: Nopember 2010 s/d Agustus 2012
    11) Pastor Kosmas Tumanggor OFMCap.
    Pastor Rekan (Vikaris Parokial): Tahun 2000 s/d 1-9-2018

    12) Pastor Jumperdunan Manik OFMCap.
    Diakonat: 15-8-2017 s/d 26-1-2018
    Sebagai Imam baru: 26-1-2018 s/d 14-3-2018

    13) Pastor Monald Banjarnahor OFMCap.
    Parochus: 15-8-2012 s/d 30-8-2018
    Vikaris Parokial: 1-9-2018 s/d Mei 2019

    14) Pastor Leopold Purba OFMCap.
    Parochus: 1 September 2018 s/d 30 Juni 2020.
    Sejak 1 Juli 2020 non aktif sebagai Parochus karena sakit.

    15) Pastor Ivan Adelbert Siallagan OFMCap.
    Vikaris Parokial: 1 Agustus 2019 s/d sekarang

    16) Pastor Emmanuel J. Sembiring OFMCap.
    Administrator Paroki: 1 Juli 2020–31 Maret 2021
    Selanjutnya
    KEADAAN UMAT
    Umat Paroki ini terdiri dari berbagai etnis, antara lain: Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Tionghoa, Nias, Jawa, Flores.
    Umat per 5 Maret 2021 berjumlah 1.366 Kepala Keluarga dan 5.183 jiwa, yang tersebar di 58 lingkungan.
    KEGIATAN/KARYA PELAYANAN
    Kegiatan/karya pelayanan Paroki ini didasarkan pada 5 (lima) pilar hidup menggereja. Semua Seksi di Paroki ini berupaya mengembangkan setiap pilar sesuai dengan bidangnya dalam kebijakan DPPH. Pada setiap Seksi ada utusan DPPH sebagai penyambung antara Seksi dan DPPH.
    Dengan kata lain, setiap Seksi adalah perpanjangan tangan Pastor Paroki/DPPH.
    1. Kerygma (Pewartaan)
    Bidang Kerygma (Pewartaan) diemban oleh Seksi Paroki sebagai berikut:
    • Seksi Katekese
    • Seksi Komsos
    • Seksi KKS
    • Seksi Evangelisasi
    • Seksi Panggilan Suci
    2. Leitourgia (Liturgi)
    Bidang Leitourgia (Liturgi) dikembangkan oleh Seksi Paroki sebagai berikut:
    • Seksi Liturgi
    - Musik Liturgi
    - Liturgi Anak
    - Pembagi Komuni Tak Lazim (PKTL)

    • Tata Perayaan Sakramen
    - Perayaan Pembaptisan
    - Perayaan Penguatan/Krisma
    - Perayaan Ekaristi dan Komuni Pertama
    - Tobat dan Pendamaian
    - Pengurapan Orang Sakit
    - Imamat
    - Perkawinan

    • Tata Perayaan Sakramentali
    - Aneka Pemberkatan
    - Pelantikan (Lektor, Akolit, Katekis)
    - Eksorsisme
    - Perayaan Pemakaman
    - Perayaan Penerimaan Resmi
    • Devosi/Ulah Kesalehan
    • Paraliturgi (Ibadat Sabda/Doa Lingkungan/Rapat)
    • Perayaan Pelindung
    3. Diakonia (Pelayanan)
    Bidang Diakonia (Pelayanan) dikembangkan oleh Seksi Paroki sebagai berikut:
    • Seksi PSE
    • Seksi Aksi Puasa Pembangunan
    • Credit Union
    • Seksi Kesehatan
    • BPPG
    • Seksi Pembangunan
    4. Koinonia (Persekutuan)
    Bidang Koinonia (Persekutuan) dikembangkan oleh Seksi Paroki sebagai berikut:
    • Seksi Keluarga
    • Santa Monika
    • Kumpulan Ibu/PIK
    • Seksi Kepemudaan/OMK
    • ASMIKA/SEKAMI
    • Kerahiman Ilahi
    • Legio Maria
    • Persekutuan Karismatik Katolik
    5. Martyria (Kesaksian)
    Bidang Martyria (Kesaksian) dikembangkan oleh Seksi Paroki sebagai berikut:
    • Seksi HAK
    • Seksi Kerawam: WKRI-PMKRI-FMKI-Pemuda Katolik
    • Seksi Pendidikan
    HARAPAN/CITA-CITA KE MASA DEPAN
    Rasul Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakakan: Bersuka-citalah” (Filipi 4:4). Seruan ini merupakan ciri umat beriman yang penuh sukacita dan pengharapan, pantang menyerah bila mengalami tantangan dan kesulitan, tidak mundur atau berhenti walaupun mengalami hambatan dan penderitaan dalam perjalanan hidup. Tidak ada paska kemenangan tanpa salib, sebagaimana terjadi dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.
    Dalam mewujudkan pelayanan umat, seluruh umat beriman harus berupaya membuat yang terbaik sesuai dengan kharisma dan talenta masing-masing. Pada masa sulit pun, kita harus tetap bersemangat dalam iman, harap, dan kasih.
    Di masa depan kita tetap mengharapkan perkembangan umat, baik dari kualitas dan kuantitas yang antara lain tampak melalui pemekaran lingkungan. Untuk pengembangan ini dibutuhkan fasilitas pastoral yang memadai dan menjawab tuntutan zaman. Kita juga membutuhkan tenaga-tenaga pastoral yang mumpuni baik tertahbis maupun tak tertahbis.
    Untuk menggerakkan seluruh pelayanan ini kita dipanggil semakin membenahi Sekretariat Paroki sebagai dapur pastoral dan pusat pelayanan. Sekretariat Paroki mestilah memiliki data akurat, sistem pengelolaan pastoral yang baik, efektif, dan efisien yang berbasis data.
    Dalam semangat kesatuan Gereja Keuskupan Agung Medan, kita wajib mewujudkan setiap pelayanan seturut kebijakan Keuskupan Agung Medan seperti implementasi Sinode VI 2016, keputusan-keputusan Vikariat, arahan-arahan Uskup Agung Medan.
    Pantaslah diingat bahwa Paroki ini merupakan paroki tertua di Pematangsiantar dan sekitarnya, dan telah memekarkan sejumlah paroki. Fakta ini seharusnya menjadi pemicu semangat untuk semakin memajukan dan mengembangkan setiap pelayanan. Fakta lain, Paroki ini sangat kaya akan suku dan budaya, dikitari oleh banyak sekolah Katolik, lembaga kesehatan, dan sejumlah tarekat religius, yang sangat potensial bagi pengembangan karya pastoral Paroki ini. Semuanya ini harus dirawat dalam terang cahaya Injil.
    Untuk mewujudkan harapan dan cita-cita ini, umat beriman haruslah memiliki 3 (tiga) habitus yakni: kedisiplinan, kerja keras, dan peduli keuangan Paroki. Ketiga habitus ini hendaknya menjadi bingkai atau dasar kehidupan seluruh kegiatan Paroki, yang menjadi poros kegiatan bersama.
    Lokasi Paroki :
    Artikel sebelumnya
    Artikel selanjutnya

    JADWAL USKUP & VIKJEN KAM

    KALENDER LITURGI

    Terbaru