Selasa, September 22, 2026
Lainnya
    BerandaTahun Yubileum800 Tahun Wafat St. FransiskusPemakluman Perayaan Puncak Yubileum 800 tahun Wafat Santo Fransiskus

    Pemakluman Perayaan Puncak Yubileum 800 tahun Wafat Santo Fransiskus

    SK Uskup KAM Nomor : 800/SE/KAM/PAR-THB-UA/IX/2026 Lihat

    Tahun 2026 merupakan tahun penuh rahmat bagi Gereja, khususnya bagi Keluarga Fransiskan dan semua orang yang diinspirasi oleh spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi. Delapan ratus tahun yang lalu, pada malam 3 Oktober 1226, Fransiskus menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia dan beralih menuju rumah Bapa. Kematian itu dikenang dalam tradisi Fransiskan sebagai Transitus, yakni perjalanan atau peralihan dari kehidupan duniawi menuju kepenuhan hidup dalam Allah.

    Dalam rangka memperingati 800 tahun wafat Santo Fransiskus dari Assisi, atas kehendak Bapa Suci Paus Leo XIV, Penitensiaria Apostolik menetapkan Tahun Santo Fransiskus, berlangsung dari tanggal 10 Januari 2026 sampai 10 Januari 2027. Tahun khusus ini merupakan kesempatan bagi seluruh umat beriman untuk mengikuti teladan Santo Fransiskus, bertumbuh dalam kekudusan hidup serta menjadi saksi perdamaian, rekonsiliasi dan kasih yang aktif di tengah dunia.

    Dekret tersebut mengingatkan bahwa peringatan 800 tahun Transitus Santo Fransiskus merupakan puncak rangkaian centenario Fransiskan yang dalam beberapa tahun terakhir mengenangkan Greccio, Stigmata dan Kidung Saudara Matahari. Gereja mengundang kita bukan hanya mengenang Fransiskus, tetapi terutama membiarkan kesaksian Injilnya kembali berbicara kepada zaman kita.

    1. Fransiskus: Warisan bagi Seluruh Gereja

    Santo Fransiskus bukan hanya milik Ordo Fransiskan. Kesaksiannya merupakan anugerah bagi seluruh Gereja. Ia menunjukkan bahwa Injil dapat dihidupi dengan sederhana dan radikal; bahwa persaudaraan dapat mengalahkan permusuhan; bahwa orang miskin dan tersingkir harus ditempatkan kembali di tengah kehidupan manusia; bahwa seluruh ciptaan dapat dipandang sebagai saudara dan saudari; dan bahwa perdamaian dimulai dari hati yang telah berdamai dengan Allah, sesama, diri sendiri dan seluruh ciptaan.

    Karena itu, peringatan delapan abad Transitus Santo Fransiskus hendaknya tidak berhenti pada nostalgia sejarah atau penghormatan terhadap seorang kudus. Perayaan ini harus menjadi undangan kepada pertobatan Injili. Pertanyaan terpenting bukan hanya: “Siapakah Fransiskus delapan ratus tahun yang lalu?” melainkan: “Apa yang hendak Tuhan katakan kepada Gereja kita hari ini melalui Fransiskus?”

    Di tengah dunia yang terluka oleh konflik, ketidakadilan, kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, individualisme, budaya konsumtif dan semakin renggangnya persaudaraan manusia, kesaksian Fransiskus kembali mengajak kita menjadi saudara dan saudari bagi semua.

    2. Transitus: Kematian sebagai Saudari

    Pada penghujung hidupnya, Fransiskus menyambut kematian dalam iman. Dalam Kidung Saudara Matahari, ia bahkan menyebut kematian sebagai “Saudari Maut Badani.” Ini bukan romantisasi kematian. Fransiskus dapat menyebut kematian sebagai saudari karena seluruh hidupnya telah diserahkan kepada Kristus.

    Transitus yang artinya adalah peralihan bukan terutama kenangan akan kematian Fransiskus. Transitus adalah perayaan Paskah seorang murid Kristus: seseorang yang sepanjang hidupnya berusaha mengikuti jejak Kristus yang miskin dan tersalib, kini beralih dalam menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah.

    Di Portiuncula, menjelang kematiannya, Fransiskus meminta agar Injil tentang Yesus yang membasuh kaki para murid dibacakan. Hidup yang dimulainya dengan mendengar Injil, diselesaikannya dengan kembali mendengarkan Injil. Di sanalah letak pesan Transitus: Hidup Kristiani berasal dari Injil, dibentuk oleh Injil dan pada akhirnya diserahkan kembali kepada Allah dalam terang Injil.

    3. Ketetapan Pastoral Keuskupan Agung Medan

    Setelah mempertimbangkan permohonan Panitia Centenario VIII Fransiskan KAM, mendengar pendapat dari beberapa anggota DEPKAM, dan mengingat nilai rohani peringatan ini bagi kehidupan Gereja lokal, saya mengajak seluruh paroki, komunitas religius, lembaga pendidikan, rumah formasi, serta lembaga-lembaga Katolik di Keuskupan Agung Medan untuk mengambil bagian dalam Puncak Peringatan 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus dari Assisi pada tanggal 3–4 Oktober 2026.

    Untuk membangun kesatuan perayaan di Keuskupan Agung Medan, saya menetapkan arahan pastoral berikut:

    Pertama, pada Sabtu, 3 Oktober 2026, paroki, komunitas religius, rumah formasi, dan lembaga Katolik di KAM dianjurkan menyelenggarakan Perayaan Transitus Santo Fransiskus, dengan menggunakan Tata Perayaan Transitus. Panitia Centenario VIII menyusun Tata Perayaan Transitus tersebut.

    Perayaan Transitus merupakan ibadat devosional/peringatan rohani, bukan pengganti Perayaan Ekaristi dan bukan bentuk liturgi baru. Karena itu hendaknya dilaksanakan dengan sederhana, khidmat dan berpusat pada Sabda Allah, doa, pertobatan serta pembaruan komitmen hidup Injili. Pelaksanaan Perayaan Transitus dapat diadakan sambil memperhatikan dan tanpa menghilangkan kebiasaan bahwa di beberapa paroki pada hari Sabtu sore sudah ada ekaristi Hari Minggu. Keluarga Fransiskan di paroki bersangkutan atau panitia bisa menjadi animator perayaan ini.

    Kedua, kebetulan pada tahun ini Hari Raya St. Fransiskus Assisi jatuh pada Minggu, 4 Oktober 2026. Jika jatuh pada hari biasa dengan mudah kita bisa mengajak semua umat Allah untuk seluruh rangkaian perayaan ini. Dengan ini, seluruh umat diajak secara khusus mengenangkan dan mensyukuri kesaksian Santo Fransiskus dari Assisi dalam konteks peringatan 800 tahun wafatnya, dengan tetap memperhatikan dan menaati norma, kalender serta tata perayaan liturgi Gereja yang berlaku. Perayaan Ekaristi tetap memakai penanggalan liturgi hari Minggu Biasa XXVII tahun A. Di paroki-paroki yang ditunjuk sebagai tempat memperoleh indulgensi diberi kelonggaran menggunakan Liturgi Hari Raya Santo Fransiskus. Semangat Santo Fransiskus dapat diangkat dalam homili, katekese, pertemuan umat, kegiatan orang muda, aksi ekologis, pelayanan sosial kepada kaum miskin dan sakit serta bentuk-bentuk pastoral lainnya.

    Ketiga, komunitas-komunitas Fransiskan dan gereja/tempat ibadat yang termasuk dalam ketentuan Dekret Penitensiaria Apostolik hendaknya membantu umat memahami dan memperoleh rahmat Indulgensi Penuh Tahun Santo Fransiskus sesuai ketentuan Gereja. Indulgensi penuh diberikan dengan syarat-syarat biasa - pengakuan sakramental, Komuni Kudus, doa bagi intensi Bapa Suci, serta disposisi batin yang semestinya - kepada umat yang melakukan ziarah ke gereja konventual Fransiskan atau tempat ibadat yang didedikasikan kepada atau terkait dengan Santo Fransiskus, dan di sana mengikuti ritus Yubileum atau menyediakan waktu yang layak untuk doa dan meditasi, diakhiri dengan Bapa Kami, Aku Percaya serta doa kepada Santa Perawan Maria, Santo Fransiskus, Santa Klara dan para kudus Keluarga Fransiskan. Para imam hendaknya membantu umat memperoleh rahmat Tahun Santo ini, terutama dengan menyediakan kesempatan yang memadai untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi.

    4. Buah yang Kita Harapkan

    Saya mengharapkan agar perayaan ini tidak berhenti pada tanggal 3 dan 4 Oktober. Biarlah 800 tahun Transitus Santo Fransiskus meninggalkan buah konkret dalam kehidupan Gereja kita. Saya mengajak seluruh umat untuk memperbarui lima komitmen:

    a. Hidup semakin sederhana,
    b. Membangun persaudaraan,
    c. Menjadi pembawa damai,
    d. Berpihak kepada yang miskin dan terluka, dan
    e. Merawat bumi sebagai rumah bersama.

    Paroki, komunitas religius, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit dan lembaga Katolik hendaknya menerjemahkan semangat ini dalam tindakan konkret sesuai konteks masing-masing: rekonsiliasi, pelayanan orang miskin, pengurangan sampah dan plastik sekali pakai, penghijauan, perawatan air dan tanah, kesederhanaan dalam perayaan serta pembentukan budaya hidup yang lebih ramah terhadap seluruh ciptaan.

      Dengan demikian, peringatan Santo Fransiskus tidak hanya menghasilkan perayaan, tetapi melahirkan pertobatan; tidak hanya menghasilkan kenangan, tetapi menghasilkan cara hidup baru. Semoga dari Gereja kita lahir semakin banyak pembawa damai, penjaga ciptaan, sahabat kaum miskin serta murid-murid Kristus yang berani menghidupi Injil dengan sederhana dan gembira.

      Bersama Santo Fransiskus marilah kita berdoa:
      Deus Meus et Omnia. Allahku dan Segalaku!
      Tuhan, jadikanlah kami pembawa damai,
      saudara bagi setiap manusia,
      dan penjaga seluruh ciptaan-Mu.

      Semoga Tuhan memberkati seluruh perjalanan Tahun Santo Fransiskus di Keuskupan Agung Medan. Pace e Bene!

      Teriring Salam dan Berkat Deus Meus et Omnia,
      Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
      Uskup Keuskupan Agung Medan
      Artikel Terkait

      KARYA PENDIDIKAN

      JADWAL USKUP & VIKJEN

      KALENDER LITURGI