Rabu, Juni 26, 2024
More
    BerandaParokiParoki Rantauprapat

    Paroki Rantauprapat

    Pelindung
    :
    Santo Petrus Rasul
    Buku Paroki
    :
    Sejak 15 Agustus 2015. Sebelumnya bergabung dengan Aek Nabara
    Alamat Pastoran
    :
    Pastoran Katolik, Jl. Pelita III, Kab. Labuhan Batu, Rantauprapat– 21413
    Telp/HP
    :
    0822 7488 9542
    Email
    :
    parokistpetrusrsl.rantauprapat@gmail.com
    Jumlah Umat
    :
    555 KK / 2.328 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    8
     
    01. Aek Putat Nias
    04. Pondok Papan
    07. Sumber Mulyo
    02. Meilil Julu
    05. Sigambal
    08. Tapian Nauli
    03. Nahula Julu
    06. Suka Makmur
     
    RP. Nasarius Rumairi Marilalan, SX
    01.12.‘69
    Parochus
    RP. Adventus Ignatius Zalukhu, SX
    20.12.'74
    Vikaris Parokial

    Sejarah Paroki St. Petrus Rasul - Rantauprapat

    Perjalanan Singkat Paroki (klik untuk membaca)
    Rantauprapat mengalami perkembangan pesat dengan adanya jalur transportasi darat yaitu jalan darat Lintas Timur dan jalur Kereta antara Medan dan Rantauprapat sangat lancar. Jalur Kereta api sudah ada sejak zaman Belanda, karena adanya perkebunan di sekitar Rantauprapat. Sedangkan jalur kereta api Rantauprapat - Dumai sedang dalam pekerjaan. Bahkan pemerintah juga sudah merencanakan pembangunan Bandar Udara di Aek Nabara.
    Karena perkembangan begitu pesat, Labuhan Batu dimekarkan menjadi 3 Kabupaten, dan Rantauprapat tetap menjadi ibukota Kabupaten Labuhanbatu Induk, dengan jumlah penduduk sekitar 494.178, (sensus penduduk tahun 2019). Dan penduduk kecamatan Rantauprapat Utara dan Selatan Sebanyak 167.874 jiwa.
    Adapun teritorial paroki St. Petrus Rasul, Rantauprapat, terletak di tiga Kabupaten berbeda, (2 Stasi terletak di Kabupaten Padang Lawas Utara, 1 stasi di Kabupaten Labuhanbatu Utara), merupakan pemekaran dari Paroki St. Fransiskus Asisi, Aek Nabara. Paroki Rantauprapat bagian Selatan berbatasan dengan Paroki Aek Nabara, bagian Barat berbatasan dengan Paroki Padang Sidempuan, Keuskupan Sibolga, dan bagian Utara berbatasan dengan Paroki Aek Kanopan, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Labura.
    Pada tahun 2013, Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap mengeluarkan surat keputusan untuk menjadikan Stasi Rantauprapat, Paroki Aek Nabara menjadi Paroki baru. Maka, menanggapi SK Uskup Agung Medan itu, Pastor Paroki Aek Nabara, RP. Nasarius Rumairi M. SX, langsung membentuk panitia, untuk mengambil langkah-langkah konkret menuju pendirian Paroki Rantauprapat, di Keuskupan Agung Medan.
    Maka, diputuskan untuk membangun segera, kantor Paroki atau Pastoran, atau disebut dengan istilah Catholic Center, Rantauprapat, dengan persetujuan Uskup Agung Medan. Pada tanggal 2 Desember 2014, peletakan batu pertama yang dihadiri oleh Bupati Labuhan Batu, Bapak Tigor Panusunan Siregar dan Mgr. Emeritus Alfred G. Pius Datubara OFMCap, dan umat dari stasi-stasi terdekat serta dewan Pastoral Paroki Aek Nabara. Pada tanggal 15 Agustus 2015, SK pendirian Paroki Rantauprapat secara resmi dikeluarkan oleh Uskup Agung Medan. Dan, pada tanggal 8 Mei 2016 dilaksanakan pemberkatan Gedung Catholic Center, Rantauprapat oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga OFMCap. Pemakaian istilah Catholic Center hanya untuk alasan teknis, supaya dikenal oleh masyarakat dan pemerintah setempat, dengan perbandingan dan kenyataan bahwa di setiap kabupaten di Sumatera Utara secara khusus dan Indonesia secara umum terdapat Islamic Center.
    Adapun Dewan Pastoral Paroki Rantauprapat dibentuk berdasarkan konsultasi dengan Vikjen KAM, pastor Paroki Aek Nabara, dan Dewan Paroki Aek Nabara. Maka, disepakati bahwa yang menjadi anggota Dewan Pastoral Paroki St. Petrus Rantauprapat adalah semua anggota dewan pastoral Paroki Aek Nabara yang berdomisili di Rantauprapat, dengan persetujuan dari masing-masing anggota DPP dan sekitarnya, ditambah dengan beberapa anggota baru, dari stasi-stasi dan lingkungan. Wilayah Paroki Rantauprapat adalah Rayon Rantauprapat yang masuk dalam Paroki Aek Nabara. Rayon Rantauprapat, yang kemudian menjadi Paroki Rantaurapat terdiri dari 8 stasi dan 11 lingkungan. 4 stasi yang umatnya adalah mayoritas dari etnis Nias, sedangkan stasi-stasi dan lingkungan lainnya berasal dari berbagai etnis.
    Setelah Paroki Rantauprapat diresmikan, maka Pastor Paroki Aek Nabara, P. Nasarius Rumairi menjabat sebagai administrator Paroki Rantauprapat, yang kemudian menjadi parokus pertama, sambil melanjutkan pembangunan Gua Maria dan rencana renovasi bangunan Gereja. Pada peresmian dan pemberkatan Gedung Catholic Center, Uskup Agung Medan, meminta kepada pastor paroki untuk membangun Gua Maria, demi meningkatkan devosi umat, serta memperbesar atau merenovasi gedung Gereja Paroki yang sudah ada tetapi belum bisa menampung semua umat Paroki. Pada bulan April 2018, Paroki Rantauprapat mempunyai pastor Paroki sendiri, dan dibantu oleh para pastor dari Aek Nabara.
    Sebelum paroki Aek Nabara berdiri pada tahun 1978, di Rantauprapat sudah ada kelompok umat yang menjadi cikal bakal Stasi Rantauprapat yang dilayani dari Aek Kanopan dan Tanjung Balai. Kelompok umat dari Etnis Jawa, Tionghoa, dan Batak, terbentuk pada tahun 1954. Pada tahun 1955, umat di Rantauprapat membeli sebidang tanah di Padang Matinggi, dan membangun Gereja pertama di Rantauprapat. Setahun kemudian, Gereja rampung dibangun dan diberkati oleh Vikaris Apostolik Medan (pada masa itu), Mgr. Mathias Leonardus Trudon Brans OFMCap, dengan jumlah umat 16 KK.
    Pada tahun 1965, jumlah umat sudah 20 KK, atau 80 jiwa dan pada tanggal 4 April 1965, diadakan perayaan/penerimaan Sakramen Krisma pertama. Pada tanggal 3 Februari 1980, gereja yang didirikan di Padang Matinggi terbakar. Adapun penyebab kebakaran tersebut tidak jelas diketahui, tetapi umat menduga bahwa kebakaran itu adalah ulah orang yang tidak beranggung jawab. Sejak saat itu, umat melakukan ibadat dari rumah ke rumah. Situasi ini, semakin menguatkan umat dan berkembang dalam jumlah serta kualitas iman. Umat kemudian mencari pertapakan tanah untuk membangun Gereja baru. Pembangunan gereja baru selesai pada tahun 1982, dan diberkati oleh Uskup Agung Medan, Mgr. A.G.Pius Datubara OFMCap pada 15 Mei 1982. Adapun daya tampung gereja itu adalah sekitar 200 orang.
    Sejak saat itu, jumlah umat Katolik makin berkembang. Bangunan Gereja yang baru diberkati tahun 1982, dirasa tidak memadai lagi. Para Suster KYM mulai membangun sekolah di Rantauprapat. Umat stasi Rantauprapat bersama dengan para pastor Misionaris Xaverian dari Paroki Aek Nabara memutuskan membangun gereja baru yang bisa menampung umat lebih banyak. Peletakan batu pertama dilaksanakan 1994, yang dipimpin Mgr. A.G. Pius Datubara OFMCap bersama dengan pastor paroki Aek Nabara. Pembangunan Gereja berjalan dengan lancar. Umat begitu antusias memberi sumbangan. Pembangunan gereja akhirnya rampung dan diberkati oleh Mgr. Pius Datubara OFMCap pada 18 Juni 1995.
    Pada tahun 2006, ketika perayaan 50 tahun berdirinya Stasi Rantauprapat, jumlah umat sudah 210 KK, atau sekitar 1000an jiwa. Dengan kehadiran Sekolah Bintang Timur dan Asrama Putri di Rantauprapat, sangat membantu dalam pewartaan iman. Para guru dan para suster KYM juga sangat aktif dalam perwartaan di lingkungan dan stasi-stasi.
    Pada tahun 2014, secara resmi berdiri lagi dua stasi, yaitu stasi Nahula Julu (Kabupaten Paluta, Padang Lawas Utara) dan Meilil Julu. Umat kedua stasi ini berasal dari Etnis Nias. Kunjungan dan pelayanan dilakukan oleh para pastor dari Aek Nabara. Pertambahan umat di kota Rantauprapat semakin meningkat dengan kehadiran para pegawai pemerintah atau perusahan-perusahaan perkebunan. Selain itu, adanya pemekaran kabupaten, Labuhan Batu menjadi tiga kabupaten, juga ikut mempengaruhi pertambahan jumlah umat di rantauprapat. Mereka (umat) yang tinggal di Medan, ada juga yang mulai menetap di Rantauprapat. Hal tersebut menjadi tanda-tanda positif mengenai perkembangan umat di Rantauprapat.
    Akhirnya, pada tahun 2014, Bapak Uskup, Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap, memutuskan dan mempersiapkan pendirian Paroki Rantauprapat. Dan, secara resmi, Paroki Rantaurapat berdiri pada tahun 2015. Paroki Santo Petrus Rasul Rantauprapat dilayani oleh Para pastor dari Serikat Misionaris Xaverian. Tanggal 13 Juli 1988 kongregasi KYM membuka komunitas Antonius van Erp di Rantau Parapat untuk mengelola TK, SD, SMP dan SMA Bintang Timur.
    DAFTAR STASI-STASI PAROKI RANTAUPRAPAT
    1. Stasi Santo Yosef Pekerja, Sigambal, berdiri tahun 1979. Bermula dari 18 keluarga dari HKBP datang dan meminta kepada Pastor untuk bergabung dengan Gereja Katolik. Pastor Marini SX saat itu pergi menemui pendeta dan menyampaikan masalah itu. Pendeta, menanggapi dengan mengatakan bahwa itu adalah kehendak mereka.
    2. Stasi Santa Maria diangkat ke Surga, Tapian Nauli Suka Ramai. Stasi ini merupakan pemekaran dari Stasi Santa Monika, Tanjung Harapan, Paroki Aek Nabara, yang berdiri tahun 974.
    3. Stasi Santo Antonius Padua, Sumber Mulyo. Umat Katolik sudah hadir di sana pada tahun 1977, dan beribadat dari rumah ke rumah. Dan secara resmi, Gereja berdiri pada tahun 1981. Dan Gereja permanen diresmikan dan diberkati pada tahun 2000 oleh Vikjen KAM, Paulinus Simbolon. Stasi ini terletak di Kabupaten Labura.
    4. Stasi Santo Bonaventura, Pondok Papan, berdiri pada tahun 1995.
    5. Stasi Yohanes Pembaptis, Suka Makmur, berdiri pada tahun 1983.
    6. Stasi Santo FIlipus Neri, Melil Julu, berdiri 2014.
    7. Stasi Santo Tarsisius, Aek Putat Nias, berdiri pada tahun 1991.
    8. Santo Dionisius, Nahula Julu, berdiri tahun 2014.
    Stasi nomor 5-8, mayoritas umatnya dari etnis Nias.
    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Artikel sebelumnya
    Artikel selanjutnya

    JADWAL USKUP & VIKJEN KAM

    KALENDER LITURGI

    Terbaru