Rabu, Juni 26, 2024
More
    BerandaParokiParoki Pamatang Raya

    Paroki Pamatang Raya

    Pelindung
    :
    Santo Stefanus Martir
    Buku Paroki
    :
    Sejak 11 Agustus 2011. Sebelumnya bergabung dengan Paroki St. Fransiskus dari Assisi Saribudolok.
    Alamat
    :
    Jl. Santo Stefanus Martir No. 1, Kel. Sondi Raya, Kec. Raya, Simalungun - 21162
    Telp.
    :
    0822 7706 1088
    Email
    :
    stefanusmartirpamatangraya2011@gmail.com
    Jumlah Umat
    :
    938 KK / 3.436 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    19
    01. Bandar Hanopan
    04. Bintang Mariah
    07. Dolog Manahan
    10. Kampung Baru
    13. Mappu
    16. Sirpang Sigodang
    19. Tumbukan Dalig
    02. Bangun Mariah
    05. Bongguran
    08. Dolog Marimbun
    11. KampungTempel
    14. Pulian Baru
    17. Sorba Dolok

    03. Bangun Raya
    06. Dolog Huluan
    09. Gunung Mariah Panei
    12. Kariahan Usang
    15. Silou Hatomuan
    18. Tanjung Mariah
     
    RP. Roy Stefanus Nababan OFMCap
    06.09.'82
    Parochus

    Sejarah Paroki St. Stefanus Martir - Pamatang Raya

    Sejarah Singkat (klik untuk membaca)
    Paroki St. Stefanus Martir - Pamatang Raya, Keuskupan Agung Medan, terletak di Jl. St. Stefanus Martir No. 01 Kelurahan Sondi Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Paroki ini berdiri pada tanggal 11 Agustus 2011 sebagai pemekaran dari Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolog. Paroki ini adalah wujud dari Jubileum 75 Tahun Paroki Saribudolog di tahun 2010. Pada saat pesta Jubileum pada bulan November 2010 tersebut Bapa Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap mengumumkan pendirian baru yaitu Paroki Pamatang Raya.
    Latar belakang pendirian Paroki Pamatang Raya tidak lepas dari pertumbuhan umat yang begitu cepat di wilayah Pamatang Raya yang tentu juga membutuhkan pelayanan pastoral yang lebih memadai atau lebih intens. Juga perubahan status Pamatang Raya dari ibu kota Kecamatan menjadi ibukota Kabupaten diharapkan akan ikut menjadi pemicu perkembangan Paroki Pamatang Raya di berbagai bidang. Hal lain yang juga penting adalah mewujudkan gereja yang berinkulturasi adat istiadat, bahasa dan kultur budaya yang harus terjaga oleh dan lewat gereja lewat pendirian paroki ini.
    Paroki yang dirintis oleh Pastor Elpidius Van Duijnhoven (Oppung Dolog) kini sudah berbuah yakni Paroki St. Stefanus Martir - Pamatang Raya. Dengan demikian iman Katolik di Tanoh Habonaron Do Bona, yang berada di Keuskupan Agung Medan semakin berkembang seturut budaya Simalungun.
    Paroki ini di gembalakan oleh pastor dari Ordo Saudara Dina Kapusin (OFMCap). Awal berdiri jumlah gereja stasi hanya 16 gereja termasuk stasi induk yang penyebarannya di tiga (3) Kecamatan: Kec. Raya, Kec. Panei, Kec. Dolog Masagal. Di Kecamatan Raya terdapat 8 stasi yakni: Kampung Baru, Mappu, Tumbukan Dalig, Bongguron, Dolog Manahan, Kariahan Usang dan Pamatang Raya. Di Kecamatan Panei ada 5 stasi yakni: Sirpang Sigodang, Gunung Mariah Panei, Tanjung Mariah, Dolog Marimbun dan Kampung Tempel. Sementara di Kecamatan Dolog Masagal terdapat 3 stasi yakni: Pulian Baru, Bangun Mariah, Dolog Huluan. Pada tanggal 05 Juli 2015 berdiri 1 stasi lagi yaitu Stasi Silou Hatomuan yang dimekarkan dari Stasi Bongguron. Kemudian pada tahun 2018 ada 3 stasi dari Paroki St. Yoseph – Tebing Tinggi yakni Bandar Hanopan, Bangun Raya dan Sorba Dolog diserahkan ke Paroki Pamatang Raya. Ketiga stasi ini berada di dua Kecamatan yaitu: Kec. Silau Kahean dan Kec. Raya Kahean. Alasan penyerahan itu adalah karena jarak yang lebih dekat ke Pamatang Raya dan adanya kedekatan budaya khususnya bahasa yang dipakai masyarakat di sana sama dengan Pamatang Raya yaitu bahasa Simalungun.
    Umat Paroki Pamatang Raya menggunakan umumnya memakai Bahasa Simalungun baik dalam percakapan sehari-hari dan juga dalam perayaan Liturgi. Hal ini sejalan dengan semangat Konsili Vatikan II yang mendukung inkulturasi dalam Gereja Katolik. Maka pemakaian bahasa Simalungun dalam setiap perayaan Liturgi termasuk Ibadat Sabda dan Ekaristi tetap dipertahankan.
    Di sisi lain dengan berdirinya Pamatang Raya menjadi ibukota Kabupaten Simalungun sangat besar kemungkin Gereja Katolik juga akan ikut berkembang di Pamatang Raya sejalan dengan perkembangan dan kemajuan sosial ekonomi politik dan budaya. Dengan hadirnya Gereja Katolik Paroki di Pamatang Raya, kita semakin mendapat informasi tentang berbagai dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Fakta sosial itu juga didambakan oleh umat Katolik sebagai bagian utuh dari masyarakat Indonesia dapat ambil bagian sebagai “medan” panggilan dan perutusan berdasarkan prinsip-prinsip kekatolikan atau kristianitas dan nilai-nilai Pancasila.
    Kondisi kehidupan ekonomi umat di Pamatang Raya adalah menengah ke bawah. Sebagian besar (90%) umat memiliki mata pencaharian dengan bertani, sebagian kecil pegawai negeri, pegawai swasta, pedagang, guru dan wiraswasta.
    Secara statistik jumlah umat Paroki Pamatang Raya tampak terus bertambah, hingga saat ini per Oktober 2022, jumlah umat Paroki Pamatang Raya ada sebanyak 3.340 jiwa yang terdiri dari 898 Kepala Keluarga (KK) yang sebelumnya ditahun 2011 hanya sebanyak 2.294 jiwa dari 511 Kepala Keluarga (KK).
    Paroki Paroki Pamatang Raya sejak awal berdiri selalu digembalakan oleh para pastor dari Ordo Kapusin (OFMCap). Pastor yang menggagas pendirian Paroki ini adalah RP. Ambrosius Nainggolan, OFMCap (11 Agustus 2011–23 Agustus 2012). Kemudian setelah Paroki didirikan RP. Angelo Pk. Purba, OFMCap menjadi Parokus dan berkarya hingga tahun 2016 (23 Agustus 2012 - 12 September 2016). Kemudian RP. Angelo Purba digantikan oleh RP. Giovanno Sinaga, OFMCap yang berkarya sebagai Parokus sejak 12 September 2016 - 03 Maret 2019. Kemudian RP. Giovanno, OFMCap digantikan oleh RP. Togu Nestor Sinaga, OFMCap (03 Maret 2019 - 07 Agustus 2022). Kemudian RP. Togu Nestor Sinaga, OFMCap diganti oleh RP. Roy Stepanus Nababan, OFMCap sejak 07 Agustus 2022 sebagai Pastor Paroki Pamatang Raya hingga sekarang.
    Sejak berdirinya Paroki Pamatang Raya, pastor yang melayani dan tinggal di Paroki hanya satu orang pastor saja. Hal ini tentu dapat dianggap kurang ideal di mana biasanya Pastoran dihuni paling tidak 2 atau 3 pastor dan frater. Namun situasi kurangnya tenaga pastor atau imamlah yang kemungkinan besar menyebabkan Paroki Raya baru dilayani oleh satu imam saja.
    Di Paroki Pamatang Raya ada 5 orang suster dari kongregasi Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM), yang berkarya di Bidang Pendidikan dan pastoral. Di bidang Pendidikan para suster ini menjadi tenaga pendidik dan Kepala Sekolah di TK-SD Bintang Timur yang berdiri tahun 2013. Sejak berdiri sekolah ini semakin banyak diminati masyarakat. Hingga saat ini jumlah murid TK-SD sudah ada ± 500 orang. Umumnya murid-murid itu berasal dari keluarga-keluarga yang secara ekonomi menengah ke atas. Umumnya para murid berasal dari keluarga beragama GKPS, sementara yang berasal dari keluarga Katolik tidak banyak, mungkin sekitar 8 % saja. Di bidang pastoral hingga saat ini masih dijajaki agar kongregasi menyediakan tenaga suster untuk bisa membantu paroki dalam berpastoral di paroki maupun di stasi-stasi nantinya. Para suster KYM yang berkarya di Pamatang Raya sudah memiliki rumah dan komunitas yakni Komunitas Sta. Agata – Pamatang Raya. Susteran ini diberkati dan diresmikan oleh bapak Uskup Agung Medan, Mgr Anicetus Sinaga OFMCap pada tanggal 5 Februari 2016.
    Paroki yang baru bertumbuh membutuhkan tenaga-tenaga pastoral yang siap berkerja dengan serius dan disiplin demi tercapainya visi misi KAM dan terlaksananya Program Paroki dengan baik. Maka untuk itu Paroki selalu mendorong agar umat mau memberi diri untuk mau belajar dan mau memabantu pelayanan pastoral baik sebagai DPP, Seksi-Seksi, Pengurus Stasi dan Lingkungan dan Guru Bina Iman Anak Sekolah Minggu.
    Pembekalan pengurus gereja paroki merupakan langkah awal yang sudah dilakukan sejak berdirinya Paroki Pamatang Raya. Pembekalan itu diadakan lewat kerjasama dengan komisi- komisi terkait di KAM termasuk Komisi Liturgi, Komisi Kateketik dan Komisi Kitab Suci. Hingga saat ini sudah ada 8 kali kursus yang diadakan untuk pembekalan pengurus gereja. Secara khusus bagi kaum muda agar dari kalangan milenium juga berani tampil menjadi tenaga pastoral, maka di Paroki juga dihadirkan seorang Katekis Gereasi Muda (KGM) yang bekerjasama dengan Komisi Kepemudaan Keuskupan, sehingga pendampingan bagi orangmuda lebih fokus dan terarah. Maka, pada tahun 23 Februari 2020 diadakan peletakan batu pertama Pembangunan Gedung Pembinaan Umat Paroki St. Stefanus Martir - Pamatang Raya, dan diresmikan pada tanggal 17 Juli 2022 oleh RP. Fridolinus Simanjorang, OFMCap Vikaris Episkopal St. Paulus Rasul Pematang Siantar, Pimpinan Ordo Kapusin Medan RP. Selestinus Manalu dan seribuan umat dan para undangan. Sekretariat Paroki Pamatang Raya buka setiap hari Senin – Sabtu 08.00 - 15.00. Sekretariat Paroki berada di gedung yang sama dengan gedung Pastoran. Gedung Pastoran sudah permanen dan sudah diberkati Uskup pada tanggal 22 November 2015 yang lalu.
    Sekretariat Paroki dilayani seorang pegawai, Pak Jepri Simarmata. Tahun demi tahun paroki mengupayakan agar administrasi dikelola dengan lebih baik dan lengkap. Untuk itu pembinaan dan pengadaan sarana administrasi Sekretariat Paroki sangat perlu diperhatikan. Saat ini Paroki Pamatang telah memiliki database umat yang disinkronkan dengan database keuskupan atau yang disebut Basis Integrasi Data Umat Keuskupan (BIDUK). Melalui program digital ini para pastor dan para sekretaris dapat mengupdate dan mengakses data umat kapan saja dan di mana saja.
    Melalui program BIDUK ini data umat di Paroki semakin lebih akurat sehingga hal ini dapat membantu para pastor dan DPP mengenal umat lebih jauh dan lebih mudah mengambil sikap dan langkah-langkah pelayanan yang cocok dan dibutuhkan umat.
    Panggilan hidup menjadi imam atau biarawan/biarawati dari paroki ini termasuk cukup banyak. Hingga saat ini sudah 5 orang imam yang terpanggil dari Paroki Pamatang Raya yakni: RP. Gindo Saragih OFMConv, RD. Gundo Saragih Pr, RP. Fransiskus Radiaman Purba OFMConv, RP. Pio Amran Purba OFMConv, RP. Rinardo Saragih OFMCap. Ada 3 frater yang masih menjalani pendidikan di STFT Sinaksak. Kemudian ada 20 suster yang sudah berkaul kekal, lalu ada 5 suster yang masih pada masa pendidikan serta 2 orang di Seminari.
    Demikian sejarah Paroki St. Stefanus Martir – Pamatang Raya, Keuskupan Agung Medan, dengan motto “Sariah Sauhur Patalarhon Harajonni Naibata” (Sehati Sejiwa Mewujudkan Kerajaan Allah). Berikut akan dipaparkan Sejarah Stasi-stasi di Paroki Pamatang Raya.
    Sejarah Stasi St. Fidelis Sigmaringen - Sirpang Sigodang (1963)
    Gereja Katolik Stasi Santo Fidelis Sigmaringen-Sirpang Sigodang pada awalnya bermula di Hutailing. Hutailing adalah nama kampung sekaligus nama jembatan yang menghubungkan Pamatang Raya menuju Kota Pamatang Siantar. Di Hutailing berdiri gereja kecil tahun 1936 yang dihadiri oleh keluarga Marenus Siboro dan Sunding Naidara Inta Br. Sinaga, yang memiliki 4 orang anak. Keluarga ini pindah dari Sibaganding, Sawah Dua. Keempat anaknya dibaptis oleh Pastor Elpidius Van Duijnhoven pada tanggal 23 April 1936 yakni Petrus Jatikar Siboro, Dariana Br. Siboro, Inna Br. Siboro, dan Eli Siboro. Melalui penerimaan Sakramen baptis inilah dimulai adanya Gereja Katolik St. Fidelis Sigmaringen di Stasi Sirpang Sigodang, yang sebelumnya disebut Gereja Katolik Hutailing sekaligus stasi tertua di Paroki St. Stefanus Martir Pamatang Raya.
    Pada tahun 1942 dua orang guru bernama Molan Saragih dan Mengkan Saragih datang dari Pamatang Siantar menuju kampung Pangundalian untuk mengajak orang untuk sekolah keguruan di Balige. Lalu mereka bertemu dengan seorang Bapak yang bersedia memberikan anaknya sekolah kesana yang bernama Tormeja Purba (Orangtua RP. Benyamin A.C Purba, OFMCap). Semua keperluan sekolah diurus Oppung Dolog. Setelah mereka lulus dari sana mereka pun diterima bekerja sebagai tenaga pengajar di Pematang Siantar.
    Perkembangan stasi ini tidak lepas dari peran dan kehadiran Oppung Dolog yang dengan tekun mengajak orang mengenal Yesus Kristus. Oppung Dolog dikenal sebagai orang yang murah hati dan suka membantu siapa saja yang dia lihat mengalami kesulitan tanpa memandang agama atau suku tutur bapak B F. Sumbayak selaku saksi hidup sejarah Gereja ini. Oppung Dolog giat menyebarkan ajaran agama Katolik dengan berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor besar dan kehadirannya selalu membawa damai. Walaupun banyak penolakan yang diterima karena Oppung Dolog adalah seorang berkebangsaan Belanda namun ia tetap rutin datang ke Pangundalian, Hutailing dan Parsinalihan yang merupakan nama kampung ini sebelum disebut Sirpang Sigodang.
    Atas usaha dan semangat pelayanan yang dilakukan oleh Oppung Dolog maka untuk pertama kalinya ada 14 orang umat dari Pangundalian, Parsinalihan dan Hutailing memberikan dirinya dibaptis untuk diterima menjadi Katolik. Kegiatan ibadat mingguan di kampung itu dibuat secara bergilir mulai dari rumah Marenus Siboro selanjutnya di rumah Nongat Saragih. Pada masa ini belum ada lampu listrik di jalan dan di rumah, maka mereka berjalan dengan menggunakan obor. Demikian juga di dalam rumah mereka memakai obor selama peribadatan. Lalu dalam perjalanan waktu mereka memakai sebuah rumah kosong tepatnya gudang koperasi di Pangundalian yang disepakati umat menjadi tempat beribadah.
    Pada tahun 1945 umat berhasil mendapatkan tanah gereja di Sirpang Sigodang tepatnya di Kampung Tinggi, namun jaraknya cukup jauh dari jalan besar. Namun selama lima tahun umat masih beribadat di rumah. Pada saat itu stasi masih bergabung ke Paroki Santo Laurentius Jln. Sibolga Pamatang Siantar. Kemudian Oppung Dolog meminta bantuan kepada Bapak Riang Saragih (alm) untuk mendapatkan tanah gereja sekarang ini. Umat pun bergotong-royong membangun gereja. Tahun 1950 dibangunlah gereja dengan ukuran 8m x 10m yang tebuat dari tiang kayu, berdinding tepas bambu, serta beratap ilalang.
    Pada tahun 1952 dua orang umat menerima Sakramen Baptis dan pada saat itulah stasi ini bergabung dengan Paroki St. Fransiskus Asisi Saribu Dolog. Pada tahun 1954 jumlah umat menjadi 18 kepala keluarga (KK). Perkembangan gereja tergolong lambat dan menurut penuturan, hal ini karena beberapa alasan yaitu Pastor Oppung Dolog orang Belanda, dan tata bahasa ibadat masih menggunakan bahasa Batak toba.
    Pada tahun 1957 jumlah umat bertambah menjadi 48 KK. Melihat perkembangan itu Oppung Dolog berniat untuk mendirikan sebuah Sekolah Rakyat (SR) namun lokasi belajar dilalukan di halaman Gereja. SR ini dibimbing oleh Bapak H. Bonifasius Saragih Sumbayak serta memiliki sekitar 30 orang siswa. Kegiatan hanya berjalan selama 6 bulan, karena pada zaman itu pemerintah mengeluarkan aturan bahwa sebuah sekolah harus memiliki minimal 42 siswa agar sekolah dapat berdiri. Dengan berat hati Oppung Dolog membuat surat permohonan agar para siswa tadi dipindahkan dan diterima di SD Merek Raya.
    Tahun 1958 terjadi pemberontakan PPRI/PERMESTA. Peristiwa itu ikut mempengaruhi keadaan masyarakat baik di pusat dan daerah. Namun demikian umat tetap bertambah sampai tahun 1960 jumlah umat sudah 62 KK. Pada tahun 1966 nama kuria Pangundalian Hutailing berubah menjadi Gereja Katolik St. Fidelis Sigmaringen Sirpang Sigodang sekaligus pada hari yang sama empat orang umat dibaptis disana.
    Tahun 1968 umat sudah semakin banyak dan keadaan gereja tidak memungkinkan lagi untuk menampung 60 KK. Umat berunding dan berencana membangun gereja dengan mengumpulkan dana melalui hasil panen 10-15 kaleng padi/rumah tangga selama 3 tahun. Panitia pembangunan pada saat itu diketuai oleh Mangkat Purba (alm), Sekretaris Elkana Purba (alm), dan bendahara Nasim Saragih (alm). Pada 1971 mereka berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang diperlukan. Pada tahun 1972 dibangunlah gereja semi permanen dengan ukuran 8 m x 14 m. Pada tahun yang sama Oppung Dolog membawa 6 lonceng dari Belanda salah satu lonceng bahkan ada beratnya sampai 500 kg. Nama stasi yang mendapatkan lonceng tersebut adalah Sirpang Sigodang, Purba Saribu, Halaotan, Naga Panei, Huta Tinggir dan Gunung Mariah Panei.
    Desember 1973 lonceng gerejapun dipasang beberapa umat datang dan menyaksikan lonceng tersebut didoakan oleh Oppung Dolog, wujud doa “sai tinggil ma pinggolni jolma na manangar sora ni giring-giring on” artinya “semoga melalui suara nyaring lonceng ini didengar oleh orang yang mendengarkan” setelah itu lonceng ditarik 3 x (6 kali bersuara).
    Pada saat itu dipilih kepengurusan stasi dimana Ketua Dewan Stasi (Voorhanger) diemban oleh Bapak H. Bonifasius Saragih Sumbayak (1954-1987), Wakil KDS Bapak Pijor Sinaga (+) dan diteruskan oleh Lukkas Saragih, Bendahara oleh Bapak Magel Sinaga (+), dilanjutkan oleh Gaduan Damanik. Salah seorang pengurus gereja diangkat menjadi katekis paroki yaitu Saudin Purba dan menjabat selama tiga tahun. Dan mulai saat itu banyak kegiatan dilakukan oleh umat seperti penerimaan Sakramen Baptis, Pernikahan, Perayaan Natal.
    Tahun 1998 tanah pertapakan gereja diturunkan 2,5 meter agar umat mudah beribadah. Dulu banyak umat berumur 60 tahun sudah tidak ke gereja karena tidak sanggup naik tangga mendaki agar sampai ke gereja. Alasan lain agar kendaraan bisa sampai ke halaman gereja. Dua bulan setelah itu umat mendapat sejumlah bantuan dari Paroki, Keuskupan, dan Donatur. Tahun 1999 dibuat pesta pembangunan untuk menggalang dana. Dana yang terkumpul sekitar 16 juta.
    Secara geografis Desa Sirpang Sigodang berlokasi di Jalan Besar Saribudolok, Nagori Simpang Sigodang, Kecamatan Panei Tongah. Sirpang Sigodang adalah sebuah desa yang unik. Sebagian besar masyarakatnya memiliki keterampilan membuat kerajinan menganyam bambu yang dijadikan sebagai keranjang tempat buah jeruk, mangga, dann tomat. Keranjang ini biasa disebut dengan sebutan keranjang kating. Kerajinan ini sudah menjadi warisan dari nenek moyang dan diajarkan dari generasi ke generasi. Tidak heran hampir setiap rumah di kampung ini memproduksi barang yang sama.
    Di Sirpang Sigodang juga terdapat dua Gereja yang saling berdampingan yaitu Gereja Katolik St. Fidelis Sigmaringen Sirpang Sigodang dan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Sirpang Sigodang. Kedua gereja ini hidup damai dan tentram.
    Dari tahun 2000-2001 pembangunan gereja dilakukan kembali dan diubah menjadi bangunan permanen seperti sekarang ini termasuk pembangunan kamar mandi. Keadaan gereja pada tahun 2001 masih polos belum ada bangku umat, asbes gereja juga belum terpasang, lantai masih semen. Menurut penuturan Bapak Janahot Sinaga, para pastor yang berasal dari stasi ini juga ikut berkontribusi membantu seperti, RP. Fransiskus Radiaman Purba, OFMConv. menyumbangkan Keyboard dan speaker gereja, RP. Pio Amran Purba, OFMConv dari Roma (Italia) memberi lukisan St. Fidelis Sigmaringen.
    Pada tahun 2011 Paroki St. Stefanus Martir Pematang Raya dimekarkan dari Paroki St. Fransiskus Assisi Saribu Dolog, keaktifan stasi ini tetap dapat dibanggakan. Kegiatan Ibadat mingguan rutin dilaksanakan dan dimulai dari ibadat pagi oleh anak sekolah minggu Katolik (ASMIKA) pukul 08.00 wib, dan dilanjutkan ibadat sabda biasa pukul 10.00 wib. Selain itu perkembangan iman muda-mudi Katolik yang sekarang lebih dikenal Orang Muda Katolik (OMK) cukup membanggakan ibadat rutin seperti Doa dan Ngopi dilaksanakan setiap sabtu malam pukul 20.00 wib. Begitu juga Parsadaan Bapa Katolik (PARBAKAT) yang rutin melaksanakan ibadat setiap senin malam, dan Partuppuan Inang Katolik (PIK) sekali sebulan selalu melaksanakan kegiatan perkumpulan.
    Berikut ini nama-nama Ketua Dewan Stasi (KDS) yang pernah menjabat dari tahun 1954- sekarang di Stasi Sirpang Sigodang yaitu H. Bonifasius Saragih (masa jabatan 32 tahun), Abdun Saragih (kurang lebih 5 tahun), lalu selama 2 tahun lamanya sempat dibuat pengganti sementara (Kraketer) oleh Kalam Saragih, Jerman Saragih (3 tahun), Martua Simarmata (6 tahun), Janahot Sinaga (8 tahun), Johan Saragih (5 tahun), dan Agustinus Purba (sekarang). Hingga saat ini jumlah umat di stasi Sirpang Sigodang sudah mencapai 89 keluarga, dengan jumlah jiwa sebanyak 340 orang. Akan tetap melihat usia stasi ini yang sudah berumur 85 tahun pada tahun 2021 ini rasanya perkembangan dan pertumbuhan umat Katolik di kampung ini relatif rendah.
    Iman Katolik semakin bertumbuh dan berkembang di stasi ini. Bibit iman yang ditanamkan oleh Oppung Dolog di Sirpang Sigodang kini sudah berbuah manis. Tanda kemanisan buah-buah itu adalah lahirnya panggilan hidup membiara dan menjadi imam dari stasi ini. Ada empat orang imam dan 3 orang biarawati yang terpanggil dari stasi Sirpang Sigodang yaitu
    RP. Gindo Gervatius Saragih, OFMConv,
    RD. Gundo Franci Saragih, Pr.;
    RP. Fransiskus Radiaman Purba, OFMConv.;
    RP. Pio Amran Purba, OFM Conv.;
    Sr. Luis Malau, KYM
    Sr, Iren Purba, HK.
    Fr. Fridolinus Sinaga, Pr. dan
    Sr. Maria Cristina Situmorang, KYM.
    Sejarah Stasi St. Vinsensius de Paul Mappu (1938)
    Gereja Katolik St.Vinsensius De Paul Mappu, terletak di dusun Siporkas, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun. Jalan menuju ke stasi ini cukup bagus dapat diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Jarak tempuh 8 km dari Pamatang Raya. Mayoritas penduduknya hidup dari pertanian seperti menanam jahe, cabai, jagung dan jeruk.
    Berdirinya Gereja Katolik di stasi Mappu ini tidak terlepas dari semangat misi Pastor Elpidius Van Duijnhoven, OFMCap atau lebih dikenal dengan nama Oppung Dolog. Oppung Dolog pertama sekali menginjakkan kaki di stasi ini pada tahun 1938. Bermula dari pertemuan Oppung Dolog dengan Bapak Maraja Elias Purba. Sebelumnya mereka sudah beberapa kali berpapasan saat Maraja Elias Purba hendak pergi bekerja, sedangkan Oppung Dolog hendak ke Saribu Dolog atau saat pulang ke Sawah Dua, tetapi mereka tidak pernah bertegur sapa. Maraja Elias Purba pada saat itu bekerja di Dinas Kehutanan (saat zaman penjajahan Belanda) yang menggunakan topi baja yang persis sama dipakai Oppung Dolog. Pada saat Istri dari Maraja masuk rumah sakit, tanpa sengaja mereka saling bertegur sapa, maka Oppung Dolog diperkenalkan kepada istrinya, itulah awal mereka saling mengenal.
    Setelah makin akrab, Maraja mau bercerita tentang keadaan masyarakat di Mappu yang pada saat itu masih menganut sistem kerajaan di Simalungun yang ketat. Maraja memiliki kekerabatan dekat dengan Tuan Mappu. Hal ini menjadi kesempatan yang baik bagi Oppung Dolog untuk mengembangkan misi Katolik di daerah Siporkas atas dukungan dari Maraja dan Tuan Mappu. Perlahan Oppung Dolog membina umat dengan mengadakan ibadat dari rumah ke rumah dengan umat pertama 6 keluarga. Pada tahun 1958 dengan semangat gotong- royong, gereja didirikan di atas tanah salah satu umat yang menghibahkannya, yaitu tanah milik Daurung Saragih dengan ukuran 5 x 7 meter, yang terbuat dari kayu balok, dinding anyaman bambu dan beratap ilalang. Tahun-tahun berikutnya umat dengan antusias dan semangat bergotong royong untuk memperbaiki gereja dengan cara membentuk kelompok tani menanam jahe, dan hasilnya dipergunakan umat untuk merenovasi gereja dengan berdinding papan dan lantai semen.
    Namun demikian perkembangan umat Katolik di kampung ini tergolong lambat. Hal itu bisa disebabkan beberapa faktor antara lain: anak yang sudah menikah cenderung pindah dari kampung Mappu atau pergi merantau; juga stasi ini tergolong terpisah dari gereja Katolik yang lain dalam hal jarak yang membuat umat merasa asing ditengah GKPS; alsan lainnya pastor sangat jarang berkunjung ke stasi ini ketika masih bergabung dengan Paroki Saribudolog. Akan tetapi setelah Paroki St. Stefanus Martir Pamatang Raya dimekarkan dari Saribu Dolog, maka kunjungan Pastorpun semakin meningkat yang membuat umat Katolik di Mappu semakin semangat juga.
    Hal ini diungkapkan Pastor Paroki RP. Angelo Pk Purba, OFM.Cap, yang pada awal 2013 pertama kali mengunjungi dan mengadakan perayaan Ekaristi di stasi Mappu: ”Stasi Mappu sangat menarik, berpotensi, umat bersemangat, kompak dan jika diperhatikan serta diberi sentuhan maka Foto Gereja lama hidup menggereja makin berkembang.” Hal ini terlihat dari semangat menggereja dari beberapa keluarga yang masih bertahan hingga saat ini. Semangat kekatolikan dan rasa kekeluargaan membuat mereka bertahan di stasi kendati selalu ada tawaran dari gereja tetangga untuk pindah ke GKPS.
    Lokasi gereja pada awal berdirinya stasi Mappu berlokasi di belakang perkampungan dan akses ke gereja harus melalui jalan kecil dari samping rumah penduduk. Namun kira-kira tahun 2015, satu keluarga yang murah hati menghibahkan tanahnya untuk relokasi gereja Katolik. Keluarga tersebut adalah keluarga Bapak Tuah Paulinus Sitopu. Beliau dengan senang hati merelakan tanahnya menjadi lokasi gereja Katolik yang baru dengan ukuran 22 x 40m.
    Lokasi pertapakan yang baru ini mudah ditempuh umat karena persis berada di samping jalan perkampungan menuju Siporkas. Umat Katolik Mappu bergembira menyambut pemberian tanah tersebut dan berusaha melanjutkan kelompok tani dengan menanam jahe untuk membangun gereja yang baru. Uang hasil panen jahe mereka simpan dan tetap bergotong-royong menanam dilahan umat yang memberikan lahan secara gratis. Jahe yang mereka kerjakan berhasil dengan baik, mereka berjanji akan tetap menanam jahe hingga gereja mereka yang baru didirikan dan rampung. Pada tanggal 7 Agustus 2016 peletakan batu pertama untuk pembangunan Gereja barupun dimulai. Biaya ini diperoleh bukan hanya cuma-cuma, umat terus bergotong royong menanam jahe untuk mengumpulkan dana. Dana untuk pembangunan gereja ini menelan biaya ±500 juta rupiah. Berkat dari Tuhan lewat orang-orang yang berbelas kasih dari beberapa donatur, juga donatur PPGK (Program Peduli Gereja Katolik) oleh Gregorius Tan, yang hadir dalam pesta pemberkatan gereja ini. Akhirnya Minggu, 5 Februari 2017 Gereja Stasi Santo Vinsensius De Paul Mappu diberkati oleh Uskup Emeritus Mgr. A.G. Pius Datubara OFMcap.
    Beberapa nama yang pernah menjadi Ketua Dewan Stasi di Mappu pantas. KDS pertama adalah Jameter Sinaga, kemudian Jesman Damanik, Jale Purba, Tupang Purba, Jonra Purba, Ludin Purba, dan Jarisman Purba (sekarang).
    Sejarah Stasi St. Petrus Dolog Manahan (1948)
    Sekitar tahun 1948 Pastor Elpidius Van Duijnhoven OFMCap pertama kali datang ke Dolog Manahan untuk memberitakan Injil dan mengajarkan ajaran agama Katolik. Namun sebelum Opung Dolog datang agama Protestan sudah ada sebelumnya yaitu HKBPS (Huria Kristen Batak Protestan Simalungun) yang merupakan cikal bakal GKPS (Gerjea Kristen Protestan Simalungun), juga sudah ada sebagian masyarakat yang menganut agama si sombah begu – begu atau sering disebut agama yang menyembah pohon besar.
    Pastor yang juga digelari Oppung Dolog itu datang ke Dolog Manahan dari Mappu melewati sungai Bah Bala karena jalan dari Raya ke Dolog Manahan masih melewati sungai itu. Dahulu transportasi belum mencukupi dan warga pergi pekan Tiga Raya masih menggunakan tenaga kerbau dengan gojos . Setiap Oppung Dolog ingin datang ke Dolog Manahan, selalu ada warga Dolog Manahan yang menunggu pastor di seberang sungai Bah Bala untuk menolong Oppung Dolog menyeberang sungai tersebut. Oppung Dolog pernah terjatuh di sungai Bah Bala karena penyakit rematik sehingga beliau juga takut kalau melewati sungai itu.
    Bersama dua rekan Horaji Lingga yaitu Mata Damanik dan Kodim Sigumonrong, perkumpulan yang diadakan masih seputar pengenalan agama Katolik kepada warga setempat dan kemudian banyak warga yang datang ke rumah Horaji Lingga untuk mendengarkan ajaran agama Katolik yang di ajarkan oleh Oppung Dolog. Karena semakin banyak warga yang datang dan tidak muat lagi di rumah bapak Horaji Lingga, di bangunlah gereja petama Dolog Manahan tetapi masih seperti gubuk yang menggunakan dinding topas (bambu), dan beratap rumbia dan berdiri di tanah Horaji Lingga tepat disamping rumahnya.
    Pembangunan gereja pada saat itu didirikan dengan gotong royong oleh warga yang ikut perkumpulan/pengarahan yang di ajarkan Oppung Dolog. Setelah didirikan banyak juga orang yang beragama Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) masuk ke dalam perkumpulan itu tetapi banyak juga yang keluar dikarenakan tidak tahu berbahasa Batak Toba karena disaat itu ibadat liturgi menggunakan bahasa Batak Toba. Namun meskipun menggunakan bahasa Batak Toba banyak warga yang ikut akan ajaran tersebut bahkan bukan dari Dolog Manahan saja. Dahulu gereja Katolik Dolog Manahan umatnya mulai dari Bongguron, Silou Hatomuan, dan Kariahan Usang.
    Perlahan-lahan umat semakin bertambah banyak sehingga warga Dolog Manahan bermusyawarah untuk memindahkan gereja yang kecil di samping rumah Horaji ke lahan yang lebih luas. Kakek dari Sardin Sumbayak dan Rabitang Sumbayak dengan senang hati memberikan sebagian tanah mereka untuk menjadi lahan pendirian Gereja Katolik. Gereja kecil itupun di geser ke lahan baru dan diberi nama Stasi Santo Petrus Dolog Manahan.
    Setelah sekian lama Horaji Lingga dan kedua rekannya menjabat sebagai Voorhanger/KDS, Horaji dan Oppung Dolog mengangkat Mata Damanik sebagai Ketua Dewan Stasi (KDS) di karenakan Horaji sudah tua. Kedua rekannya sudah terlebih dahulu meninggalkannya, Kodim Sigumonrong meninggal dunia, dan di kebumikan dengan status belum ada agamanya. Pada saat itu Oppung Dolog masih menggunakan bahasa Batak Toba dalam pengajarannya dan selama itu pun umat beribadat menggunakan bahasa Batak Toba.
    Pada tahun 1974 Mata Damanik sudah merasa dirinya tidak sanggup lagi dan dia mengajukan sebuah permintaan mengundurkan diri kepada Oppung Dolog supaya Opung Dolog menunjuk umat sebagai penggantinya. Kemudian Opung Dolog mengadakan rapat kuria, untuk pemilihan KDS yang baru. Oppung Dolog menunjuk Sariaman Purba Sigumonrong sebagai KDS yang baru. Seiring dengan berjalannya waktu Sariaman dan rekan – rekannya bermusyawarah supaya membangun gereja lebih besar lagi. Namun uang pembangunan belum mencukupi sehingga pengurus – pengurus gereja bermusyawarah. Hasil dari musyawarah, mereka akan bergotong royong di lokasi tanah wakaf, karena tanah wakaf luas dan belum banyak penghuninya seningga masih bisa di gunakan sebagai lahan pertanian. Umat Katolik Dolog Manahan pada waktu itu menanam padi di tanah wakaf tersebut, dan hasilnya di lelang di gereja atau dijual ke Tiga Raya kemudian hasil dari penjualannya di simpan yang kemudian di gunakan sebagai dana pembangunan.
    Tibalah pembangunan gereja yang baru, gereja yang baru ini posisinya tidak sama seperti semula namun di pindahkan ke sebelah barat sekitar 20 meter. Gereja di bangun menggunakan dinding setengah beton dan setengah papan, berlantaikan semen, dan atap seng. KDS pada masa ini adalah Sariaman Purba. Namun pada tahun 1998 Sariaman Meninggal dunia dalam keadaan masih menjabat sebagai KDS Dolog Managan.
    Pada tahun 1999 terpilihlah Saralem Lingga sebagai KDS yang baru, dengan masa satu periode pada saat itu hanya 3 tahun saja. Pada sekitar tahun 1999 ke 2001 Saralem Lingga dan rekan – rekannya pengurus melakukan pemekaran stasi yang baru lagi yakni stasi Kariahan Usang. Pada saat pembangunan gereja itu semua kayu yang di gunakan di ambil dari kayu yang berada di sepanjang jalan nagori Bongguron-Kariahan.
    Setelah 3 tahun Saralem Lingga menjabat sebagai KDS, di tahun 2002 kepeminpinan dilanjutkan oleh Rasamen Saragih. Sekitar tahun 2007 Gereja Katolik Santo Petrus Dolog Manahan di perbaharui. Saat itu Gereja Katolik Dolog Manahan masih menjadi bagian dari Paroki Saribu Dolog. Dalam masa pembangunannya para umat dan pengurus tentu akan menyiapkan peralatan untuk membangun gereja yang baru, seperti batu padas, pasir, dan kayu.
    Namun dalam pembangunannya terjadi beberapa konflik seperti kekurangan dana, mengalami penipuan, bahkan kesalah pahaman yang menyangkut hukum. Dalam hal kesalah pahaman ini ketua pembangunan yaitu Jon Paris Lingga, mendapat surat panggilan dari Polres Simalungun, beliau dan rekan – rekannya mendapat surat panggilan bukan hanya sekali tetapi sampai empat kali, karena tuduhan pencurian atau penjualan kayu. Ada pihak ke tiga yang melaporkan kepada Polres Simalungun bahwa beliau melakukan penjualan kayu untuk keperluan pribadi. Padahal yang sebenarnya tujuan dari pengambilan kayu tersebut adalah untuk pembangunan Gereja Katolik Dolog Manahan, lagi pula kayu tersebut bukan di curi tetapi sudah di minta kepada pihak yang bersangkutan yaitu Juliaman Purba (pemilik tanah) yang berlokasi di Kariahan Usang.
    Dalam surat panggilan, Polres Simalungun meminta penjelasan kepada tersangka dan para saksi. Yang menjadi saksi pada saat itu adalah Belsius Purba (Sekretaris Pembangunan), Rasamen Saragih (KDS), dan Jhon Teker (Penebang kayu). Lalu dengan tegas tersangka dan saksi-saksi mengatakan bahwa pengambilan kayu tersebut bukan untuk pribadi melainkan untuk pembangunan gereja. Selain itu banyak juga saksi dari luar pihak yang menyatakan bahwa Jon Paris Lingga (tersangka) tidak melakukan penjualan kayu. Di antaranya adalah Parlindungan Purba (anggota DPD Sumatera Utara), Jhon Hugo (mantan Bupati Simalungun), Albert Sinaga (Dewan Paroki Saribu Dolog), dan Pastor Pandiangan selaku Pastor Paroki. Mereka menelepon ke Polres Siantar- Simalungun, bahkan Pastor Pandiangan berbicara langsung kepada salah satu Polres Simalungun bahwa masalah ini hanya kesalah pahaman. Sampai-sampai Polres Simalungun kewalahan karena banyaknya pihak pendukung.
    Satu hal yang perlu di ketahui bahwa pengambilan kayu ini bukan hanya kesepakatan sepihak atau kesepakatan pengurus saja, tetapi ini sudah menjadi keputusan dan kesepakatan atas hasil rapat bersama umat Stasi Dolog Manahan. Namun yang paling misterius adalah siapa orang yang melaporkan tersangka kepada Polres Simalungun tidak di ketahui sampai sekarang, dan polisi juga tidak mempersoalkan hal itu. Sebelumnya para saksi dan tersangka sudah menanyakan kepada Polres Simalungun, siapa sebenarnya yang melaporkan mereka, namun sayangnya Polisi tersebut tidak mau memberi tahu siapa yang melaporkan mereka.
    Dalam hal ini umat sampai berhenti ke gereja sekitar satu bulan, setelah itu umat di anjurkan melakukan ibadat di rumah salah satu umat (Op. Luis Purba). Seiring berjalannya waktu umat Katolik yang ada di Stasi Dolog Manahan merasa bosan atau jenuh karena tidak dapat mengadakan ibadat di gereja seperti yang seharusnya. Sehingga para umat membuat tindakan masing-masing dan kegiatan menggereja sempat terhenti dengan jangkauan waktu yang cukup lama. Umat juga pernah beribadat menggunakan tenda biru. Untuk mengatasi ini, para umat melakukan pencarian dana dengan cara ber vokal group ke Stasi Saribu Dolog dan Stasi Harang Gaol. Pencarian dana ini di lakukan kurang lebih sekitar tiga kali. Sesudah dana mulai terkumpul pembangunan dapat di lanjutkan. Tayub tenda pun di bangun sehingga gereja tidak perlu memakai tenda biru untuk menjadi atap gereja tersebut.
    Pada tanggal 18 Oktober 2009 Gereja Katolik Santo Petrus Dolog Manahan di resmikan. Gereja ini di resmikan langsung oleh Mgr. Anicetus Bongsu Antonius Sinaga, OFMCap. Satu tahun setelah peresmian yang menjadi Ketua Dewan Stasi masih Rasamen Saragih, lalu masuk pergantian KDS, Rasamen di gantikan oleh Belisius Purba yang menjabat jadi KDS mulai dari Tahun 2011- 2016. Lalu setelah itu di gantikan lagi oleh Juni Faif Saragih mulai dari Tahun 2016-2020. Namun karena KDS yang sekarang meninggal dunia pada November 2020, sehingga mulai saat itu tugasnya sebagai KDS di ambil alih oleh Wakil KDS yaitu Jon Paris Lingga. Untuk KDS 2021 dipimpin oleh Bona Ventura Purba.
    Sejarah Stasi St. Mikael - Bintang Mariah (1948)
    Gereja Katolik mulai berdiri di Stasi Santo Mikael Bintang Mariah pada tahun 1948 dengan umat pertama berjumlah 5 keluarga. Pada awalnuya dilayani oleh Pastor Elpidius Van Duijnhoven atau lebih dikenal dengan nama Oppung Dolog, kelahiran Belanda. Kemudian dilanjutkan oleh seorang umat bermarga Simarmata, namun memiliki semangat luar biasa dalam penyebaran iman Katolik. Gereja Katolik Santo Mikael Bintang Mariah sudah berdiri sendiri tanpa adanya pemimpin (KDS) selama 10 tahun (1948-1958). Untuk perayaan Ekaristi sendiri, para umat akan diundang ke Paroki Saribu Dolog. Kemudian pada tahun 1959 Bapak L. Josep Sipayung diangkat sebagai Ketua Dewan Stasi. Bapak L. Josep Sipayung menjabat sebagai Ketua Dewan Stasi dengan masa jabatan paling lama sepanjang sejarah berdirinya Gereja sampai saat ini. Beliau menjabat sebagai KDS selama 26 tahun (1959-1985).
    Pada tahun 1985 umat mulai membangun sebuah Gereja dengan pilar-pilar yang terbuat dari kayu potong bulat tanpa sentuhan tukang yang handal dengan atap dan dinding terbuat dari pohon bambu. Umat Katolik pun saat itu bertambah dengan jumlah sebanyak 19 kepala keluarga.
    Pastor Samuel Aritonang saat menjadi Pastor paroki di Saribu Dolog, menjadi Pastor pertama yang melayani, mencurahkan injil Kristus di Stasi Bintang Mariah setelah Oppung Dolog, tentunya. Kemudian disusul oleh Pastor Albert Pandiangan yang juga melayani cukup lama. Setelah itu umat Stasi Bintang Mariah menerima berkat kembali dengan kedatangan Pastor Ambrosius Nainggolan. Pada tahun 1990, Stasi Bintang Mariah membangun Gereja kedua dengan jumlah umat yang semakin bertambah menjadi 26 kepala keluarga. Pada saat itu, semua umat Bintang Mariah yang masih sangat minim ekonomi.
    Walaupun minim secara ekonomi, umat turut membantu dan bekerja keras dalam menyukseskan pembangunan Gereja kedua tersebut. Umat dengan cara patungan, mengumpulkan beras sebanyak sepuluh kilogram per kepala keluarga setiap bulannya selama pembangunan gereja. Lalu, umat Bintang Mariah juga ikut bergotong-royong mengumpulkan batu dan pasir dari sungai besar yang mengalir di tengah hutan desa Bintang Mariah. Tentu saja upaya semacam ini dilakukan karena kondisi ekonomi yang tidak memadai. Puji Tuhan pembangunan dilancarkan oleh karena kerja keras semua umat stasi maupun Paroki Saribu Dolog.
    Perkembangan Gereja Katolik Santo Mikael Bintang Mariah memang terbilang sangat lama dan lambat. Pada Tahun 2000, umat Katolik Bintang Mariah kembali merencanakan pembangunan Gereja, dalam menyiasati biaya pembangunan ini, umat Katolik Bintang Mariah bahkan menyicil dana hampir Rp. 4.000.000 per kepala keluarga setiap tahunnya. Di tahun ini Bapak Jaidan Turnip sebagai Ketua Dewan Stasi.
    Pada tahun 2006 seiring datangnya Pastor Ambrosius dalam mewartakan karyanya ke Paroki Saribu Dolog, disitu juga proposal permintaan persetujuan untuk pembangunan Gereja Katolik Bintang Mariah yang ketiga diluncurkan. Kabar gembira datang dengan adanya persetujuan dari Pastor Ambrosius membuat para umat semakin antusias. Pada tahun 2012 pembangunan telah selesai tanpa menara gereja dan memakai bangku gereja lama. Gereja diresmikan oleh Vikep RP. Michael Manurung OFMCap.
    Setelah pemekaran Paroki Pamatang Raya, saat RP. Giovanno OFMCap menjadi Parokus, beliau menyemangati umat agar melanjutkan pembangunan menara Gereja. Pembangunan dilakukan pada tahun 2017. Pada tahun 2019 setelah Parokus Pamatang Raya RP. Togu Nestor Sinaga OFMCap, pengurus gereja dan umat bermusyawarah untuk membeli bangku yang didatangkan dari Palipi beserta lonceng Gereja yang baru.
    Perkembangan umat di stasi Bintang Mariah hingga saat ini terhitung sebanyak 55 kepala keluarga. Saat ini, stasi Bintang Mariah terbagi atas dua lingkungan, yakni Lingkungan Santa Maria dan Lingkungan Santo Yosep. Dengan adanya "partonggoan" di setiap Lingkungan atau acara pendalaman iman bersama, Gereja Katolik Santo Mikael Bintang Mariah diharapkan mampu menjadi sumber mata air yang baru bagi kelangsungan iman umat Katolik di Bintang Mariah. Nama-nama yang pernah menjadi Ketua Dewan Stasi Stasi Bintang Mariah adalah
    1. L. Josep Sipayung (1959-1985)
    2. Hitler Sinaga (1985-1990)
    3. Jaidan Turnip (1990-1995)
    4. Jaidan Turnip (1995-2000)
    5. Hitler Sinaga (2000-2005)
    6. Jasalmen Sumbayak (2005-2010)
    7. Jaidan Turnip (2010-2015)
    8. Hitler Sinaga (2015-2020)
    9. Oloan Sipakkar (2021-sekarang).
    Sejarah Stasi St. Benediktus Abbas - Bangun Raya
    Gereja Katolik Bangun Raya terletak di Kecamatan Raya Kahean Kabupaten Simalungun. Awal mula gereja RK beranggotakan 10 keluarga saja, yang terdiri dari : 1. Keluarga Op. Saperaja Purba Pak-pak, 2. Keluarga Op. Pesta Saragih Garingging, 3. Keluarga Op. Morga Saragih Garingging, 4. Keluarga Op. Kamar Purba Siboro, 5. Keluarga Op. Tamalam Saragih Jawak, 6. Keluarga Op. Jaurung Simarmata, 7. Keluarga Op. Darea Sipayung, 8. Keluarga Op. Jamali Damanik, 9. Keluarga Op. Jahira Purba Pak-pak, 10. Keluarga Op. Gaga Sinaga.
    Pada saat itu umat beribadah dengan menggunakan bahasa Batak Toba. Hal ini disebabkan karena lingkungan sekitar gereja mayoritas Batak Toba. Begitu juga dengan buku-buku liturgi seperti, Bibel dan Buku Ende dohot Tangiang Katolik dan doa-doa yang digunakan dalam bahasa Batak Toba seperti: Ama Nami, Sattabi Maria, dohot Tangiang haporseaon dan doa Hasesaon dosa (doa tobat).
    Pada tahun 1950-an yang mendirikan dan mengembangkan sekaligus pengurus Gereja katolik Bangun Raya yaitu; Voorhanger bapak Jaminta Purba Pak-pak, sekretaris Op. Darea Sipayung, bendahara Op. Kamar Purba Siboro, Sintua Op. Jahusor Purba Tambun Saribu. Lokasi di Bangun Raya tepatnya di Bangun Raya Buntu.
    Pada saat dulu kondisi Gereja masih kecil dan keadaan Gereja masih lebih jauh dari kata sederhana. Gereja beratapkan “bagod puli”, berlantai tanah, kursi terbuat dari pakkuh (batang pinang) dan dinding gereja terbuat dari bambu (tepas). Pastor yang pertama kali berkunjung ke Gereja Katolik Bangun Raya merupakan Pastor misionaris dari Negeri Belanda yang bernama Pastor Elpidius Van Duynhoven OFM Cap atau lebih dikenal dengan sebutan Oppung Dolog, dan Pastor Jannis OFM Cap. Mereka berdua datang dari Pematang Siantar dengan mengendarai Sepeda.
    Pada tahun 1960-an umat mulai berkembang lalu Gereja dipindahkan ke lokasi sekarang, tepatnya di samping Gereja. Sebagai Voorhanger pada masa itu adalah Bapak Antonius Nadeak, Sekretaris Op. Kamar Purba, bendahara Op. Pesta Saragih Garingging. Ruang pengakuan dosa sudah ada dan mempunyai ruangan yang ditutup. Tahun 1970-an Gereja kembali dipindahkan ke lokasi yang sekarang. Para Bruder dan umat bergotongroyong umat dan membangun Gereja dengan bangunan semi permanen.
    Panitia pembangunan Gereja saat itu diketuai oleh Op. Saperaja Purba Pak-pak. Bapak Antonius A. Nadeak menjabat menjadi Ketua Dewan Stasi (KDS) selama 3 periode. Pada saat bapak Antonius A. Nadeak menjabat, beliau mengumpul kan orang orang untuk mau bergereja di RK . Pastor juga pada saat itu ikut membantu untuk menarik perhatian para anggota lainnya dengan cara memberikan obat-obatan secara gratis dan para pastor setiap kali berkunjung ke Stasi Bangun Raya akan selalu membawa roti untuk para anak sekolah Minggu, agar mereka lebih giat lagi untuk mendengarkan Firman Tuhan. Pada saat itu pastor yang memimpin pearyaan liturgi masih menggunakan bahasa latin.
    Pada tahun 1980-an Voorhanger digantikan oleh Bapak Dahamat Saragih Simarmata, sekretaris Op. Saperaja Purba Pak-pak, bendahara Bapak Apen Saragih Garingging. Di tahun inilah Pastor Arie Van Diaman OFMCap, dan bergabung lah dengan Paroki St. Yoseph Tebing Tinggi. Peralihan bahasa liturgis sudah ke bahasa Simalungun, para Frater dan Pastor mengajari umat berdoa dan bernyanyi. Pastor tersebut adalah Pastor Benyamin Purba. Selama Pastor Arie Van Diaman menjadi Pastor Paroki, pelayanan tetap berjalan dengan baik. Seperti Pastor Yoseph Rajagukguk OFMCap, Pastor Ignasius Simbolon OFMCap, Pastor Samuel Aritonang OFMCap, dll. Mereka pernah melayani Gereja Katolik stasi Bangun Raya dan saat itu masih ke paroki St. Yoseph Tebing Tinggi. Mereka sering bermalam di kampung Bangun Raya, tepatnya dirumah para pengurus dan umat Bangun Raya, dan umat bergantian memberikan makanan dan minuman.
    Pada tahun 1990-an Paroki Tebing Tinggi memasukkan Stasi Bangun Raya kedalam Rayon Bah Tonang. Periodesasi pertama pun dilakukan dengan dipilih oleh umat (secara demokrasi) yang mana hasil periodesasi tersebut mengangkat : Voorhanger Dahamat Saragih Simarmata, sekretaris Juliater Damanik, bendahara Sariaman Saragih Jawak. Setiap sekali dalam 5 tahun dilaksanakan lah periodesasi pengurus dan seksi-seksi. Di tahun ini juga lahirnya MUDIKA (Muda-Mudi Katolik) dan ASMIKA (Anak Sekolah Minggu Katolik). Perkembangan iman pun sudah semakin baik dan ada beberapa anak umat terpanggil menjadi biarawati.
    Pada tahun 1995 dilakukan periodesasi kedua untuk pemilihan pengurus, sintua dan seksi-seksi, pada masa pemilihan itu terpilih lah : Voorhanger Juliater Damanik, sekretaris Redwin Purba, bendahara M boru Saragih. Pada tahun 2000 dilakukan periodesasi ketiga untuk pemilihan pengurus, sintua dan seksi-seksi, pada masa pemilihan itu terpilih lah : Voorhanger Bisara Damanik, sekretaris J. Malau , bendahara Jahormat Saragih Jawak. Pada masa jabatan mereka ini lah dimulai tahap pembangunan Gereja.
    Pada tahun 2011-2015 Bapak Juliater Damanik. Pada saat beliau menjadi KDS di gereja keadaan berubah menjadi cukup cepat, karena mulai banyak yang mau bergabung di gereja perkembangan terus terjadi pada saat itu, baik itu pada umat yang semakin lama semakin mulai bertambah. Gedung Gereja yang mulai di renovasi dari setengah beton menjadi beton seutuhnya. Semenjak beliau menjadi KDS bahasa yang digunakan sudah berubah yang dulunya menggunakan bahasa Batak Toba sekarang Sudah menggunakan bahasa Simalungun.
    Pada tahun 2016 yang menjadi KDS yaitu Bapak Mentriaman Saragih. Setelah pembangunan gedung Gereja menjadi beton, selang beberapa tahun gereja melakukan pembangunan aula Asmika disamping kanan gedung gereja, sehingga sekarang Asmika dapat melakukan aktivitas dengan nyaman. Ya walaupun hanya berlantai semen dan jauh dari kata sempurna tetapi aula tersebut mempunyai manfaat yang banyak bagi Asmika. Pada periode beliau adanya pembangunan pagar depan, dan kamar mandi dua ruangan.
    Pada bulan April 2016 diadakan pertemuan Se Rayon Bah Tonang untuk merayakan paskah bersama. Pada saat itu pastor dari paroki St Yoseph Tebing Tinggi mengadakan perayaan ekaristi bersama bersama se-Rayon Bah Tonang. Orang muda Katolik Stasi Bangun Raya juga aktif dengan mengikuti perayaan Natal OMK separoki St Yoseph Tebing Tinggi tahun 2017. Ada banyak pertandingn yang dilaksanakan pada hari itu. Dengan adanya pertemuan tersebut untuk menambah sosialisasi antara OMK separoki Tebing Tinggi. Gereja katolik Stasi Bangun Raya pindah dari Paroki St. Yoseph Tebing Tinggi dan bergabung ke Paroki St. Stefanus Martir Pamatang Raya tanggal 31 Januari 2018 pada saat RP. Giovanno Sinaga, OFMCap.sebagai Pastor Paroki.
    Pada tahun 2019-April 2021 yang menjadi KDS yaitu bapak Fransiskus Damanik. Sebelum pengesahan gereja adanya perbaikan gerbang depan, dan perubahan pada lantai, yang dulunya berlantai semen sekarang diganti dengan keramik. Pada tahun 2019 April 2021 yang menjadi KDS yaitu Fransiskus Damanik. Sebelum peresmian gereja adanya perbaikan gerbang depan, dan perubahan pada lantai, yang dulunya berlantai semen sekarang diganti dengan keramik. Pada tanggal 14 Juli 2019 diadakanlah pemberkatan dan peresmian Gereja Katolik Santo Benediktus Abbas oleh Vikep Siantar RP. Fridolinus Simanjorang, OFMCap. dan didampingi Parokus RP. Togu Nestor Sinaga, OFMCap.
    Setelah Bapak Fransikus Damanik selesai menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik, maka umat gereja Katolik Santo Benediktus Abbas melakukan musyawarah. Hasil musyawarah tersebut menghasilkan bahwasanya yang menjadi KDS yaitu Bapak Nelson Purba. Umat stasi St Benediktus Abbas Bangun Raya sekarang berjumlah 65 KK.
    Video Profil :
    Lokasi Paroki :
    Artikel sebelumnya
    Artikel selanjutnya

    JADWAL USKUP & VIKJEN KAM

    KALENDER LITURGI

    Terbaru