Rabu, Juni 26, 2024
More
    BerandaParokiParoki P. Siantar Jalan Asahan

    Paroki P. Siantar Jalan Asahan

    Pelindung
    :
    Santo Petrus dan Paulus
    Buku Paroki
    :
    Sejak tahun 1968. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Jl. Sibolga Pematang Siantar
    Alamat
    :
    Jl. Asahan Km. 5 No. 238, Nagori Pantoan Maju, Kec. Siantar, Kab. Simalungun, Pematang Siantar – 21151
    Telp.
    :
    0852 7097 9007
    Email
    :
    parokibatulima@gmail.com
    Jumlah Umat
    :
    1.467 KK / 5.732 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi
    :
    18
    01. Bah Jambi
    04. Laras
    07. Naga Raja
    10. Perumnas
    13. Serbelawan
    16. Sosor Samosir
    02. Bah Gunung
    05. Laras Dua
    08. Nagur Usang
    11. Rambung Merah
    14. Silau Malela
    17. Sordang Raya
    03. Bintang Mariah
    06. Naga Jaya
    09. Pardamean
    12. Semangat Baris
    15. Sinaksak
    18. Timuran
    RP. Theodorus Sitinjak OFMCap
    25.06.'63
    Parochus
    RP. Leopold Purba OFMCap
    06.04.'68
    Vikaris Parokial
     

    Sejarah Paroki St. Petrus & Paulus - Jl. Asahan, Pematang Siantar

    Perjalanan Paroki SPP Siantar (klik untuk membaca)
    1. Letak Geografis
    Paroki St. Petrus dan Paulus memiliki tiga wilayah pelayanan yakni Kota Pematangsiantar, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Serdang Bedagai. Di Kabupaten Simalungun ada 18 stasi, Serdang Bedagai satu stasi dan di kota Pematangsiantar satu stasi.
    2. Keadaan Umat
    Umat paroki St. Petrus dan Paulus pada umumnya terdiri dari beragam suku, adat dan bahasa, yaitu Simalungun, Toba, Karo, Pakpak, Nias, Flores, Toraja, Jawa, Tionghoa dan suku lainnya. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan paroki ini. Pada saat beribadat ada delapan stasi memakai bahasa Indonesia dan 12 stasi memakai bahasa Batak Toba.
    Seiring dengan perjalanan waktu, umat Paroki St. Petrus dan Paulus mengalami perkembangan dan pertambahan yang amat pesat. Paroki ini berjumlah 20 Stasi, yang dibagi dalam lima rayon, yakni; Rayon I (Stasi St. Petrus dan Paulus, Termin), Rayon II ada lima stasi (St. Markus, Sinaksak; St. Elisabeth, Nagur Usang; St. Maria, Bintang Mariah; St. Fransiskus Asisi, Sordang Raya; St. Maria, Nagaraja), Rayon III ada empat stasi (St. Yosep, Serbelawan; St. Yosep, Naga Jaya; St. Thomas, Bah Gunung; St. Maria, Laras), Rayon IV ada enam stasi (St. Perawan Maria, Perumnas; St. Yosep Laras II; St. Maria, Silau Malela; St. Benediktus, Bah Jambi; St. Paulus, Timuran; St. Maria, Sosor Samosir) dan Rayon V, empat Stasi (St. Yosep, Batu Lima; St. Elisabeth, Pardamean; St. Ambrosius, Semangat Baris; St. Yosep, Rambung Merah).
    3. Perjalanan Paroki St. Petrus dan Paulus
    Paroki yang pertama hadir di kota Pematangsiantar, adalah Paroki St. Laurentius Brindisi Jl. Sibolga. Paroki St.Petrus dan Paulus mekar dari Paroki St. Laurentius Jl. Sibolga.
    Tahun 1967, Seminari Tinggi di Jalan Medan didirikan. Pada tahun 1968, didirikan juga satu gereja baru di Jalan Medan Pematangsiantar. Para pastor dari Seminari ini melayani beberapa stasi di sekitarnya seperti Stasi Bah Gunung, Stasi Nagajaya, Stasi Serbelawan, Stasi Nagaraja, Stasi Bintang Mariah, Stasi Martoba, Stasi Rambung Merah dan Stasi Batulima. Gereja baru ini, walaupun secara administratif tidak menjadi paroki, tetapi de facto dalam pelayanan sudah berbentuk paroki, yang dinamai Paroki Pastor Bonus. Dan ini menjadi titik awal berdirinya Paroki St. Petrus dan Paulus. Paroki ini langsung dipimpin oleh Rektor Seminari Tinggi, RP. Gonzalvus Snijders, OFMCap. Awalnya paroki ini terdiri dari sembilan stasi dengan jumlah umat kurang lebih 535 keluarga yang terdiri dari berbagai jenis profesi seperti pegawai negeri, ABRI, buruh dan petani. Kurang lebih 20 tahun, paroki ini selalu dipimpin oleh rektor Seminari Tinggi Jl. Medan, antara lain RP. Gonzalvus Snijders, OFMCap, RP. Ferdinand Knoops, OFMCap, RP. Martinus Situmorang, OFMCap. RP. Elias Sembiring, OFMCap.
    Jumlah umat dari tahun ke tahun semakin bertambah. Stasi juga semakin bertambah, khususnya di pinggiran kota Pematangsiantar. Maka, pada tahun 1987 diadakanlah restrukturisasi paroki di Pematangsiantar. Hasil dari restrukturisasi itu ialah 12 stasi yang sebelumnya masuk ke paroki St. Laurentius Brindisi Jl. Sibolga menjadi wilayah pelayanan paroki ini. Dan pada waktu itu pula, nama Paroki Pastor Bonus Jl. Medan menjadi Paroki St. Petrus dan Paulus Jl. Medan. Dengan adanya restrukturisasi tersebut, jumlah stasi paroki ini menjadi 21 stasi: Termin (Pusat Paroki), Jl. Medan, Sinaksak-Baringin, Bintang Mariah, Sordang Raya (sebelumnya Mariah Nagur), Nagur Usang, Naga Raja, Serbelawan, Laras, Bah Gunung, Naga Jaya (sebelumnya Bandar Betsy), Rambung Merah, Batulima, Pardamean, Perumnas, Laras II, Silau Malela, Bah Jambi, Sosor Samosir, Timuran dan Semangat Baris.
    Walaupun Termin sebagai pusat paroki, namun keberadaan kantor paroki masih tetap di Jl. Medan, karena di Termin belum ada pastoran dan belum ada pastor yang tinggal secara menetap di sana. Akan tetapi, pada waktu RP. Isidorus Lambertus Woestenberg, OFMCap sebagai pastor paroki, pernah tinggal menetap di Termin dengan menyewa rumah J. Manurung demi mempermudah pelayanan, namun hal ini tidak bertahan lama.
    Pada tahun 1997, RP. Hubertus Tamba, OFMCap menjadi pastor paroki. Ia bersama dewan pastoral paroki mewacanakan pembagian wilayah pelayanan yakni: wilayah Sinaksak (Sinaksak, Bintang Mariah, Sordang Raya, Naga Raja, Nagur Usang, Serbelawan, Laras, Bah Gunung, dan Naga Jaya), wilayah Jl. Medan (tersendiri) dan wilayah Batu Lima (Termin, Batulima, Rambung Merah, Pardamean, Laras II, Perumnas, Silau Malela, Timuran, Semangat Baris, dan Sosor Samosir).
    Pada tahun 2000, RP. Joseph Rajagukguk, OFMCap memindahkan Kantor Paroki dari Jl. Medan ke Termin. Namun pastor paroki masih tetap tinggal di Biara Kapusin Jl. Medan. Tahun 2003, segala arsip dan dokumen paroki resmi dipindahkan ke Termin. Pernah dijajaki untuk membeli tanah di belakang gereja untuk mendirikan pastoran, namun tidak jadi, karena terlalu banyak kesulitan.
    Pada tahun 2005, paroki ini dimekarkan menjadi dua paroki yakni Paroki St. Petrus dan Paulus dan Paroki St. Fransiskus Asisi, Jl. Medan. Maka, jumlah stasi di paroki St. Petrus dan Paulus menjadi 20 stasi. Pastor Paroki pada saat itu adalah RP. Markus Manurung, OFMCap. Dalam masa kepemimpinannya, sebagai pastor paroki, dibuatlah master plan paroki, yakni meneruskan salah satu rencana yang pernah diputuskan tahun 1997 tentang pusat paroki di Jalan Asahan-Batulima.
    Dengan segala kerja dan usaha keras, maka 16 September 2007 dilaksanakan peletakan batu pertama gereja paroki/ gereja induk oleh Uskup Koajutor Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap. Pembangunan gereja paroki ini berlangsung dua tahun. Pada 05 Juli 2009, Gereja Paroki diberkati oleh Mgr. A.G. Pius Datubara, OFMCap.
    Rabu, 8 Agustus 2012 Eks gereja lama dialihfungsikan menjadi rumah pastoran Batulima. Komunitas pastoran baru ini ditempati oleh 3 orang pastor, yaitu RP. Raymond Simanjorang, OFMCap (Pastor Paroki), RP. Yovinus Sibagariang, OFMCap (pastor rekan) dan RP. Elio Sihombing, OFMCap (anggota komunitas yang bertugas di Komisi Liturgi KAM).
    Tahun 2009 – 2013 Pastor Paroki dijabat oleh RP.Raymond Simanjorang, OFMCap. Pastor Raymond mengalami sakit secara tiba-tiba sehingga pelayanan pastoral ditanggung-jawabi oleh RP. Emmanuel Sembiring, OFMCap. (Desember 2012-Februari 2013) selaku administrator. Kemudian dilanjutkan oleh RP. Michael Manurung, OFMCap. (Februari 2013-Agustus 2013) yang adalah Vikep.St. Paulus Rasul, menjadi Administrator Paroki.
    Pada tanggal 1 September 2013 diadakan serah terima Pastor Paroki dari RP.Michael Manurung, OFMCap. kepada RP.Fridolinus Simanjorang, OFMCap sebagai Pastor Paroki definitif. Pada masa ini mulai dipikirkan secara matang dan intensif pembangunan pastoran dan kantor paroki. Peletakan batu pertama Pastoran dan Kantor Paroki dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2014 dan diberkati tanggal 5 Desember 2015 oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap.
    Tokoh Pelindung Paroki : St. Petrus dan Paulus
    RASUL PETRUS
    Simon, yang disebut Petrus, dan saudaranya Andreas yang berasal dari kampung Betsaida (Yoh 1: 44) dipanggil Yesus untuk menjadi murid-murid-Nya (Mrk 1: 16-20). Simon dan Andreas, bersama dengan Yohanes dan Yakobus dipanggil di pantai danau Galilea. Mereka dipanggil dari penjala ikan dan dibimbing untuk menjadi penjala manusia.
    Bagaimana bisa terjadi? Yesus memanggil dan meminta mereka untuk “ada bersama dengan Dia” (Mrk 3: 13). Proses pembentukan menjadi murid terlaksana dengan “ada tinggal bersama dengan Sang Guru”. Mereka pelan-pelan mendengarkan pengajaran demi pengajaran Yesus, melihat tanda heran demi tanda heran. Mereka juga meyaksikan bahwa makin banyak orang berbondong-bondong mengikuti Yesus. Untuk apa mereka semua datang kepada Yesus? Karena Yesus mengajar dengan baik, Yesus melakukan mukzijat penyembuhan berbagai macam penyakit, pengusiran setan, menenangkan danau/angin, memberi makan dan perbanyakan roti dan ikan. Yesus juga mampu berhadapan dengan para pemimpin Yahudi, ahli taurat, kaum Farisi, Zelot, Saduki, dll. Maka siapakah Yesus ini?
    Pertanyaan siapakah Dia disampaikan-Nya kepada para murid-Nya dengan melemparkan dua pertanyaan, pertama “kata orang siapakah Aku ini?” Yesus tidak puas kalau murid-murid mengenal-Nya sejauh dikatakan orang. Karena itu disampaikan pertanyaan kedua, “apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mrk 8: 27-30). Jawaban yang disampaikan Simon Petrus: bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (Mat. 16: 13-20). Tapi segera dinyatakan bahwa Simon belum mengenal dengan kata: “...bukan manusia yang mengatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 16: 17). Simon Petrus diingatkan bahwa manusia tidak dapat mengandalkan ilmu manusiawi untuk mengenal Yesus, harus mengandalkan “ilmu ilahi” yaitu kekuatan Roh Allah. Yesus berkata kepada Petrus: “enyahlah iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk. 8: 33).
    Dalam perjalannya menjadi murid Yesus, Simon Petrus beberapa kali bersandar pada tanggapan manusiawi dan pikiran manusiawi. Pada peristiwa di taman Getsemani Petrus gagal (tidak sanggup berjaga...(Mrk. 14: 37). Petrus gagal mengikuti Gurunya pada hal dia telah bersumpah bahwa sampai mati tidak akan menyangkal-Nya. Pada kenyataannya Petrus meniadakan panggilan, pengenalan, dan kebersamaannya dengan Yesus dengan menjawab pertanyaan seorang wanita dengan berkata: “aku tidak kenal dengan orang yang kamu sebut-sebut ini” (Mrk. 14: 71).
    Dengan semua kejadian atau kenyataan itu apakah kita bisa mengatakan bahwa Yesus gagal memilih Petrus? Petrus gagal menjadi murid Yesus? Dalam Mrk 16: 8 dituliskan: “dengan singkat mereka sampaikan pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu”.
    Kisah Rasul menunjukkan bahwa tahap demi tahap, dengan dibantu oleh bimbingan Roh Kudus, Petrus bersama rasul lain mewartakan Injil dari Yerusalem sampai ke ujung dunia.
    RASUL PAULUS
    Saulus, yang kemudian bernama Paulus, lahir dalam keluarga Yahudi di Tarsus (Kis 9: 11; 21:39; 22:3). Pada umumnya, setiap keluarga Yahudi sungguh berharap agar anak-anaknya menempuh pendidikan dan menjalankan pelatihan sesuai dengan minat dan bakatnya. Orang tua Saulus mengirimkannya ke Yerusalem demi mengecap pendidikan. Ia masuk sekolah yang didirikan oleh Gamaliel untuk mengecap pendidikan tentang taurat (Kis. 22: 3-4).
    Dengan latar belakang pendidikan ilmu taurat, Saulus menjadi seorang Farisi (Flp. 3: 5-6) dan menganiaya orang-orang yang mengikuti jalan Tuhan (Gal. 7: 13-14; Flp. 3: 6). Dalam perjalanan menuju Damaskus, Tuhan memanggil Saulus (1 Kor 9: 1). Melalui panggilan dan sentuhan Tuhan, seluruh hidup Saulus berubah dan ia harus membangun kembali kehidupannya di dalam Kristus. Saulus yang akhirnya disebut sebagai Paulus menjadi alat Tuhan untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia.
    Dalam pewartaannya, Paulus mengalami berbagai penderitaan (2Kor 12: 5.9-10). Ia menjadi tawanan karena mewartakan Injil dan akhirnya dibawa ke Roma. Akan tetapi, walaupun sebagai tawanan, Paulus tetap mewartakan Injil Tuhan di Roma (1 Kor 9: 16). Bagi Paulus, penderitaan tidak menjadi penghalang dalam pewartaannya. Pewartaan Paulus tetap berbuah dan buah dari pewartaannya itu adalah jemaat-jemaat yang didirikannya. Kepada mereka Paulus menulis surat-suratnya, yang memuat ajaran iman, nasihat-nasihat pastoral dan moral.
    Menurut tradisi, kedua rasul ini, Petrus dan Paulus dimartirkan di kota Roma.
    PASTOR PAROKI DARI MASA KE MASA
    RP. Sybrandus van Rossum, OFMCap
    P. Gonzalvus Snijders,OFMCap,
    RP. Ferdinand Knoops, OFMCap
    RP Martinus Situmorang, OFMCap
    RP. Martinus Situmorang, OFMCap (1976 – 1984) 
    RP. Elias Sembiring,OFMCap (1984 – 1987)
    RP. Isidorus Lambertus Woestenberg,OFMCap (1987 – 1994)
    RP. Albert Pandiangan,OFMCap (1994 –1995)
    RP. Hubertus Tamba, OFMCap (1995 – 1998) 
    P. Josep Rajagukguk, OFMCap (1998 – 2002)
    RP. Thomas Sinabariba,OFMCap (2002 – 2004) 
    RP. Markus Manurung, OFMCap (2004 - 2009)
    RP. Emmanuel Sembiring, OFMCap
    RP. Mikhael Manurung, OFMCap
    RP. Raymond Simanjorang,OFMCap
    RP. Fridolinus Simanjorang, OFMCap
    RP. Gokmenteo Sitinjak,OFMCap
    D. Masro Situmorang, OFMCap (Pastor Rekan)
    Pastor yang Pernah Berkomunitas di Pastoran Paroki St. Petrus & Paulus
    RP. Elio Sihombing, OFMCap (Komisi Liturgi KAM)
    RP. Kristinus C. Mahulae, OFMCap (Dosen Kitab Suci STFT-St. Yohanes Pematangsiantar)
    RP. Oktavianus Situngkir, OFMCap (Komisi Kateketik KAM)
    PARA PASTOR, BIARAWAN-BIARAWATI, ASAL PAROKI ST. PETRUS DAN PAULUS
    Para Pastor/ Biarawan
    RP. Hugolinus Malau, OFMCap
    RD. Joddy Morison Turnip
    RP. Derikson Alverius Turnip, CICM
    RP. Riston Situmorang, OSC
    RP Bonifasius Saragih, OFMCap
    Para Biarawati
    - Kongregasi FCJM
    Sr. Klementina Sinaga, FCJM
    Sr. Ludovika Sidauruk, FCJM
    Sr. Klemensia Sitanggang, FCJM
    Sr. Alfonsine Purba, FCJM
    Sr. Fabiola Pandiangan, FCJM
    Sr. Meriam Siagian, FCJM
    Sr. Ferdinanda Sitanggang FCJM
    Sr. Damiana Turnip, FCJM

    - Konggregasi KSSY
    Sr. Antonia Simarmata KSSY
    Sr. Theresia Sinaga KSSY

    - Konggregasi KYM
    Sr. M. Eleonora Silalahi, KYM
    Sr. M. Sebastiana Sinambela, KYM

    - Konggregasi Alma
    Sr. Franceline Silalahi, KYM
    Sr. Mastinora Marlina Silalahi, ALMA

    - Konggregasi FCh
    Sr. Dominica, FCh
    Sr. M. Maristella Tarigan, FCh.

    - Konggregasi FMM
    Sr. Meyly Jens Sibarani, FMM

    - Konggregasi OSCCap
    Sr. M. Veronika Ambarita, OSCCap

    - Konggregasi DLMC
    Sr. Maria Julita Sihaloho, DLMC

    - Konggregasi KSFL
    Sr. Rufina Simamora, KSFL
    Sr. Regina Sidabutar, KSFL
    Sr. Francine Hutabarat, KSFL
    Sr. Amandin Manurung, KSFL (RIP)
    Lokasi Paroki :
    Artikel sebelumnya
    Artikel selanjutnya

    JADWAL USKUP & VIKJEN KAM

    KALENDER LITURGI

    Terbaru