Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Hari Pangan Sedunia (HPS) Keuskupan Agung Medan tahun 2026 mengangkat tema “Berjalan Bersama Mewujudkan Ketahanan Pangan Berkelanjutan dalam Semangat Mendengarkan, Meneguhkan, dan Mewartakan.” Tema ini mengajak kita melihat pangan bukan sekadar persoalan makanan, melainkan bagian penting dari kehidupan manusia, kelestarian bumi, keadilan sosial, dan tanggung jawab kita sebagai umat beriman.
Dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan, keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Keluarga adalah tempat pertama anak-anak belajar mengenal makanan sebagai anugerah Tuhan, bersyukur atas berkat yang diterima, menghargai makanan, tidak menyia-nyiakannya, dan berbagi dengan sesama. Dari keluarga pula tumbuh kebiasaan dan nilai yang menentukan bagaimana kita memperlakukan makanan, sesama, dan bumi sebagai rumah bersama.
Pendalaman ini mengajak keluarga untuk mendalami dua tema dalam dua pertemuan. Pertemuan pertama, “Keluarga Mendengarkan Jeritan Bumi dan Membangun Kesadaran Pangan,” mengajak kita membuka mata dan hati terhadap kerusakan lingkungan akibat pencemaran, eksploitasi, pemborosan, dan berbagai tindakan yang mengancam keseimbangan alam. Kita disadarkan bahwa kerusakan bumi juga berdampak pada pangan dan kehidupan manusia, terutama keluarga miskin serta kelompok yang rentan.
Mendengarkan jeritan bumi berarti menyadari bahwa cara kita memperoleh, mengolah, mengonsumsi, dan membuang makanan memiliki dampak terhadap lingkungan dan sesama. Karena itu, kesadaran pangan perlu dimulai dari hal-hal sederhana dalam keluarga: menghargai makanan, mengurangi pemborosan, memilih pangan yang sehat dan berkelanjutan, mencintai pangan lokal, serta menjaga lingkungan sebagai sumber kehidupan.
Pertemuan kedua, “Keluarga Menjadi Pejuang Keadilan Pangan dan Harapan bagi Sesama,” mengajak keluarga melangkah dari kesadaran menuju tindakan nyata. Kita diajak melihat bahwa masih ada saudara-saudari yang mengalami kelaparan, kemiskinan, keterbatasan akses terhadap pangan, dan ketidakadilan dalam memperoleh sumber daya kehidupan. Keprihatinan tersebut hendaknya mendorong kita untuk hadir dan berbagi.
Menjadi pejuang keadilan pangan tidak selalu berarti melakukan hal-hal besar. Keluarga dapat memulainya dari kehidupan sehari-hari: berbagi makanan dengan yang membutuhkan, tidak membuang makanan, mendukung petani dan pangan lokal, menanam pangan di lingkungan keluarga, mengajarkan anak untuk berbagi, serta terlibat dalam gerakan yang mendukung ketahanan pangan. Dengan demikian, keluarga bukan hanya menerima berkat, tetapi juga menjadi saluran berkat dan pembawa harapan bagi sesama.
Kedua pertemuan ini hendaknya menjadi perjalanan iman keluarga untuk mendengarkan jeritan bumi, membangun kesadaran pangan, menumbuhkan kepedulian, memperjuangkan keadilan, dan mewartakan harapan melalui tindakan nyata. Inilah wujud semangat berjalan bersama sebagai keluarga dan sebagai Gereja: saling mendengarkan, meneguhkan, dan bergerak bersama demi kehidupan yang lebih baik.
Semoga melalui pendalaman ini, setiap keluarga semakin menyadari bahwa makanan di meja makan adalah anugerah Tuhan yang melibatkan kemurahan bumi dan kerja banyak orang. Karena itu, makanan hendaknya diterima dengan syukur, dihargai dengan tanggung jawab, dan dibagikan dengan kasih. Mari kita berjalan bersama: mendengarkan bumi, meneguhkan sesama, dan mewartakan kehidupan melalui tindakan nyata, mulai dari keluarga kita sendiri.
Salam,
RP.Stefanus Sitohang OFMCap
Ketua Komisi PSE KAM


