Jumat, Oktober 16, 2026
Lainnya
    BerandaKabar KAMDukaPeringatan 1 Tahun Wafat Mgr Alfred Gonti Pius Datubara OFMCap

    Peringatan 1 Tahun Wafat Mgr Alfred Gonti Pius Datubara OFMCap

    RIWAYAT SINGKAT MGR. ALFRED GONTI PIUS DATUBARA OFMCap

    Alfred Gonti Pardamean Datubara dilahirkan ke dalam keluarga Protestan Petrus Datubara (Op. Flora Doli) dan Louise Br. Hombing (Op. Flora Boru) di Lawe Bekung Aceh Tenggara, 12 Februari 1934 sebagai anak 4 dari 8 bersaudara. Dari Lawe Bekung, keluarga Alfred pindah ke Lau Baleng. Pada masa kecil, Mgr. Pius belajar di sekolah di Gunung Pamah, sekitar 2 Km dari Lau baleng ke arah Kabanjahe. Bersama teman-teman dia erjalan kaki menempuh jarak ini. Setelah tamat kelas 3, Alfred tidak sekolah lagi, karena memang demikianlah adanya sekolah pada waktu itu. Dia tidak ingin sekolah lagi. Tetapi berkat dorongan teman-teman, Alfred meneruskan pendidikan di sekolah HKBP Pulonas, Kuta Cane, untuk kelas 4-5 SD. Dia sudah sempat masuk ke kelas enam ketika orang tuanya pindah ke Saribudolok. Ketika hendak pindah ke Saribudolok, Mgr. Pius merasa berat hati untuk meneruskan sekolahnya. Dia terlebih merasa malu karena mengira dirinya yang paling besar di antara teman sekelasnya. Tetapi karena disemangati oleh orang tua dan juga minatnya terhadap pelajaran berhitung, dia sekolah lagi. Dia berhasil menamatkan SD pada usia 18 tahun di Simpang Haranggaol.

    Setelah menjadi katekis Katolik yang handal, dengan wilayah  yang mencakup Kutacane, Lau Baleng, Tiga Binanga dan Kabanjahe, Petrus Datubara teringat akan doanya dulu, “Tuhan, bila Engkau mau, hendaknya ada dari anak-anakku ini terpilih menjadi rasuMu.” Dia mendapat informasi dari Pastor bahwa di Padang pada 1950 telah didirikan seminari. Penerimaan gelombang kedua tahun 1951 sudah dibuka. Dia mendaftarkan Alfred Gonti Pardamean Datubara menjadi calon. Di seminari ini Alfred belajar sebagai siswa SLTP pada 1951-1955. Kemudian karena Seminari menengah dipindahkan ke Pematangsiantar, Alfred menjalani pendidikan SMA di Seminari Menengah, Pematangsiantar pada 1955-1958. Pada tahun 1958 Alfred masuk nopisiat Kapusin di Parapat dengan nama biara Alfred Gonti Pius Datubara. Dia mengikrarkan kaul perdana pada 2 Agustus 1960. Pendidikan Filasafat dan Teologi dtempuhnya pada tahun 1960-1964. Pada 2 Agustus 1963 dia mengikrarkan kaul kekal dan kemudian ditahbiskan menjadi imam batak pertama di Jl. Sibolga, Pematangsiantar pada 22 Februari 1964. Sebagai imam dia melayani sebagai Pastor Pembantu Paroki di Pematangsiantar (1964), Pastor Paroki Sibuntuon dan Silaen (1965). 1965-1968 Pastor Pius ditugaskan  belajar Missiologi Universitas Kepausan Gregoriana, Roma. Setelah tamat S2 dia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai pastor Pembantu di Katedral (1968 – 1970). 1971 – 1973 menjadi Pastor Paroki Katedral. Pastor yang penuh dengan talenta dan intelektual tinggi ini juga menekuni berbagai pelayanan non parokial. Pada 1964 dia menjadi Guru dan Pengawas Seminari Menengah, Pematangsiantar; Mengajar Pendidikan Agama Katolik di USU dengan status lektor Madya luar biasa pada 1968 – 1971; Moderator Pemuda Katolik, PMKRI dan Muda-Mudi di Medan (1968 – 1973); Moderator WKRI di Medan (1971 – 1973); Moderator ISKA di Medan.

    Pastor yang tidak kenal lelah ini dihunjuk oleh takhta suci menjadi uskup auksilier pada 23 April 1975. Tahbisannya menjadi uskup dirayakan pada 29 Juni 1975. Setelah Mgr. Van den Hurk mengundurkan diri, Mgr. Pius diangkat menjadi Uskup Agung Medan 24 Mei 1976 s/d 12 Februari 2009. Sebagai uskup agung dia mengemban tugas sebagai Anggota Presidium MAWI (1979 – 1982); Wakil Ketua II MAWI (1982 – 1985); Wakil Ketua I MAWI (1985 – 1988); Ketua Komisi Kerawam MAWI (1978 – 1985) dan Ketua YDHT KWI.

    Sebagai uskup, Mgr Pius Datubara sungguh-sungguh hadir sebagai seorang gembala bagi umatnya. Dia sangat dekat dengan umatnya. Sederhana dan rendah hati adalah dua keutamaan kristiani yang sangat nyata dihayati olehnya. Dia berhasil menentukan arah keuskupan Agung Medan dengan menciptakan berbagai unsur dan perangkat pelayanan yang semuanya menunjukkan aspek pastoral yang sangat ditekankan oleh Mgr. Pius yang menguasai bahasa Inggris, Italia, Belanda, Latin (Aktif) dan Jerman, Spanyol dan perancis (Pasif). Bahasa Toba, Simalungun dan Karo dia kuasai dengan sangat baik.

    Motto Pelayanan

    OMNIBUS OMNIA (1Kor 9:22), segalanya bagi semuanya. Motto ini diwujudkan dalam tindakan-tindakan sederhana, seperti mengunjungi orang sakit, membukakan pintu bagi tamu, menyapa orang dan terlibat dalam suka-duka umat. Dia senang mengunjungi,mendoakan dan membagikan komuni kudus kepada orang sakti. Dia sangat peduli terhadap orang miskin.

    Selamat jalan Ompung Pius! Doakanlah kami.

    Pada tanggal 12 Februari 2009 Mgr. Pius menyerahkan tongkat kegembalaan KAM kepada Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga. Sejak saat itu hingga 24 Februari 2022 Mgr Emeritus Pius Datubara berdomisili di Karya Kasih, Jl. Mongonsidi 2 Medan. Setelah sembuh dari serangan Covid 19, Mgr. Pius tinggal di Pastoran Paroki St. Anthonius Padua Hayam Wuruk, 9 Maret 2022 – 2 Oktober 2025. Karena keluhan demam, Mgr. Pius dirawat di Rumah Sakit St. Elisabeth dari 2 Oktober hingga meninggal menghembuskan nafas terakhir pada 17 Oktober 2025 pada pukul 09.13 setelah diberi sakramen minyak suci oleh Mgr. Kornelius Sipayung dan bekal viatikum. Zenajahnya dikebumikan pada Selasa, 21 Oktober 2025 di Lokasi Gereja Katolik Stasi Santo Pio, Purba Hinalang Paroki Saribudolok, sesuai dengan permohonan tertulis yang disampaikan kepada Mgr Kornelius Sipayung OFMCap bertanggal 15 Maret 2021.  

    Permohonan Tempat saya dikebumikan apabila TUHAN memanggil saya kelak

    Bapa Uskup yang baik salam dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus! Kiranya Uskup selalu sehat dan kuat dalam menggembalakan umat Keuskupan Agung Medan.

    Bapa Uskup yang baik, izinkan saya kiranya mengajukan permohonan kepada Bapa Uskup supaya apabila kelak TUHAN memanggila saya agar sudi kiranya Bapa Uskup mengizinkan saya dikebumikan di komplek makam Pastor Elpidius Franciscus Van Duynhoven di Purba Hinalang Saribu Dolok, permintaan saya ini berdasarkan permintaan sponsor makam ompung dolog cs dan banyak umat, supya apabila suatu saat kelak saya meninggal dunia agar saya dapat dikebumikan di komplek makam Pastor E. Franciscus Van Duynhoven, agar pada saat umat berziarah mereka bisa sekaligus berziarah di tempat op. Dolog dan juga op. Pius Datubara.

    Di Tanah Karo juga memang umat disana menginginkan saya agar dapat dimakamkan kelak apabila TUHAN telah memanggil, tapi umat di Purba Hinalang lebih dan sangat menginginkan agar saya dikebumikan kelak di sana, saya sendiri suka akan permintaan itu, sekiranya Bapa Uskup izinkan, hal ini adalah sebagai tanda kecintaan saya yang begitu besar kepada suku Simalungun dan suku Karo, terutama mengenang sejarah sebagai suku Bapak pertama dari semua suku Batak yang menjadi imam.

    Saya terinspirasi dan berani menjadi imam adalahk karena teladan kedua orang tua saya dan juga Pastor E. Franciscus Van Duynhoven, terutama ayah saya yang dulu dari Lau Baleng berjalan kaki ke Tiga Lingga sampai Sidikalang, Balige dan juga sampai ke seluruh Samosir, beliau menempuh perjalanan dengan berjalan kaki untuk mewartakan injil, saya ingat pernah dulu di Lau Baleng ayah saya disiksa selama 17 (tujuh belas) hari siang dan malam, beliau disiksa dengan segala bentuk kekerasan dipukuli, ditendang, direndam semalaman, dan luka-lukanya disiram dengan bensin dan juga kapur, selama kira-kira 14 (empat belas) tahun dulu  ayah saya mengajarkan agama dan injil kepada umat di Purbahinalang Saribudolok, dengan berrosario setiap malam dengan berjalan kaki atau naik sepeda dalam cuaca yang sangat dinign yang sampai menusuk sampai ke tulang dinginnya, ayah saya dulunya berdomisilil di Purbahinalang dan Saribudolok, sedang ibu bekerja bersawah di Kutacane.

    Dengan melihat dan mengalami keteladanann ayah dan ibu juga Pastor E. Franciscus Van Duynhovenl ah makanya saya berani menjadi imam orang Batak yang pertama.

    Besar harapan saya Bapa Uskup yang baik dapat memperhatikan dan mempertimbangkan permohonan saya ini dan juga mengabulkannya dengan memberi izin, dan atas perhatian dan pertimbangan Bapa Uskup saya mengucapkan terima kasih banyak

    Melalui surat Nomor 097.A/P/KA/III/’21 tanggal 20 Maret 2021, Mgr. Kornelius Sipayung mengabulkan permohonan Mgr. A.G. Pius Datubara.

    Yang Mulia bapa Uskup, dengan penuh rasa hormat dan kasih, sebagai penerus karya pelayanan Yang Mulia di Keuskupan Agung Medan, saya telah membaca dengan penuh perhatian surat permohonan tertanggal 15 Maret 2021, mengenai keinginan Yang Mulia agar kelak dimakamkan di kompleks makam Pastor Elpidius Franciscus Van Duynhoven di Purba Hinalang Saribu Dolok. Penuh rasa hormat, saya memandang permohonan tersebut bukan semata-mata sebuah keinginan pribadi, melainkan juga ungkapan iman dan cinta yang mendalam terhadap tanah dan umat yang dahulu telah menjadi ladang pelayanan kasih Yang Mulia. Sebagaimana telah nyata dalam seluruh karya hidup Yang Mulia yang telah menabur kasih, doa dan pelayanan bagi Gereja di Tanah Batak permohonan ini menjadi kesaksian iman akan kesetiaan seorang gembala yang ingin tetap menyatu dengan umat yang pernah digembalakannya.

    Maka dengan ini, saya menyetujui dan mengabulkan permohonan Yang Mulia, agar apabila kelak Tuhan memanggil pulang ke rumah Bapa, jenazah Yang Mulia dapat dimakamkan di kompleks makam Pastor E. Franciscus Van Duynhoven di Purba Hinalang Saribu Dolok, sesuai dengan kerinduan hati Yang Mulia sendiri. Kiranya keputusan ini menjadi tanda kasih dan penghargaan Gereja atas seluruh pengabdian Yang Mulia selama ini.

    Demikian hal ini kami sampaikan untuk menjadi pedoman. Semoga Yang Mulia senantiasa dianugerahi kesehatan, kedamaian dan sukacita untuk mendoakan kami semua.

    Pada hari ini, Sabtu, 17 Oktober 2026, penuh sukacita, kita merayakan Ekaristi memperingati 1 tahun wafat Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara OFMCap sambil memulai pembangunan makamnya dengan peletakan batu Pertama.

    Teriring Salam dan Berkat
    Deus Meus et Omnia
    †Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
    Uskup Keuskupan Agung Medan

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini

    Artikel Terkait

    KARYA PENDIDIKAN

    JADWAL USKUP & VIKJEN

    KALENDER LITURGI