Kamis, Juni 25, 2026
Lainnya
    Beranda blog Halaman 2

    Surat Ensiklik Magnifica Humanitas

    Dari Bapa Suci Pope Leo XIV Tentang Menjaga Martabat Pribadi Manusia di Masa Kecerdasan Buatan

    Ensiklik Magnifica Humanitas dari Pope Leo XIV secara resmi ditandatangani pada 15 Mei 2026, dan dipublikasikan kepada umum pada 25 Mei 2026. Tanggal 15 Mei 2026 dipilih secara simbolis karena bertepatan dengan 135 tahun promulgasi ensiklik Pope Leo XIII, yaitu Rerum Novarum (15 Mei 1891), yang menjadi tonggak awal Ajaran Sosial Gereja modern. Jadi, dalam tradisi dokumen Gereja Tanggal resmi ensiklik adalah 15 Mei 2026 dan Tanggal tahun promulgasi  Vatikan adah 25 Mei 2026, terdiri atas 245 nomor.

    Surat ensiklik adalah surat edaran resmi yang dikeluarkan oleh Paus (Gereja Katolik Roma). Surat ini ditujukan kepada para uskup, imam, atau seluruh umat Katolik di dunia, dan terkadang untuk semua "orang yang berkehendak baik," untuk memberikan pengajaran, bimbingan, atau pandangan mengenai masalah iman, moral, dan isu sosial.

    I. Pengantar: Zaman Baru Umat Manusia

    Dalam ensiklik Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV melihat perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai salah satu titik balik terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Teknologi digital, algoritma, dan mesin pembelajar telah mengubah cara manusia bekerja, berpikir, berkomunikasi, bahkan memahami dirinya sendiri. Dunia memasuki suatu “zaman baru,” di mana kemampuan teknologi berkembang jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan sebelumnya.

    Paus mengakui bahwa AI membawa manfaat besar bagi kehidupan manusia. Dalam bidang kesehatan, AI membantu diagnosis penyakit dan penelitian medis. Dalam pendidikan, teknologi membuka akses pengetahuan yang luas. Dalam ekonomi dan komunikasi, AI mempercepat pekerjaan dan mempertemukan manusia dari berbagai bangsa. Semua ini menunjukkan bahwa akal budi manusia adalah anugerah Allah yang dapat dipakai untuk membangun dunia yang lebih baik.

    Namun, Paus juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis berarti kemajuan moral. Dunia modern sering kali terpesona oleh efisiensi, kecepatan, dan kemampuan mesin, tetapi melupakan pertanyaan mendasar: Apakah manusia sungguh menjadi lebih manusiawi? Karena itu, Gereja merasa perlu memberikan terang moral dan spiritual agar perkembangan AI tetap menghormati martabat manusia.

    II. Martabat Manusia sebagai Dasar Utama

    Pusat ensiklik ini adalah keyakinan Kristiani bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei). Karena itu, setiap pribadi memiliki martabat yang tidak dapat diukur hanya dengan produktivitas, data, atau kemampuan intelektual.

    AI dapat memproses informasi dengan sangat cepat, tetapi tidak memiliki jiwa, hati nurani, kasih, ataupun kebebasan moral. Mesin dapat “meniru” bahasa manusia, tetapi tidak dapat sungguh mengasihi. Teknologi dapat membantu mengambil keputusan, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab etis manusia.

    Paus Leo XIV menegaskan bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi sekadar “data digital” atau objek algoritma. Bahaya terbesar zaman teknologi adalah ketika manusia mulai dinilai berdasarkan efisiensi ekonomi, statistik perilaku, atau kemampuan konsumsi. Dalam situasi seperti itu, pribadi manusia kehilangan kedalaman spiritual dan nilai sakralnya.

    Karena itu, Gereja mengingatkan bahwa manusia selalu lebih besar daripada teknologi; yakni hati nurani tidak dapat digantikan mesin; relasi kasih tidak dapat diprogram; dan kebebasan manusia tetap merupakan anugerah ilahi yang harus dihormati.

    III. Peluang Positif Kecerdasan Buatan

    Ensiklik ini tidak menolak teknologi. Sebaliknya, Paus mengajak Gereja dan dunia untuk melihat AI sebagai sarana yang dapat dipakai demi kesejahteraan bersama (bonum commune).

    AI dapat membantu pengembangan ilmu pengetahuan; pelayanan kesehatan; pendidikan bagi daerah miskin; perlindungan lingkungan hidup; pengurangan pekerjaan berat dan berbahaya; serta peningkatan solidaritas global.

    Paus mengapresiasi para ilmuwan, peneliti, dan pengembang teknologi yang bekerja demi kemajuan umat manusia. Gereja memandang penelitian ilmiah sebagai bagian dari panggilan manusia untuk ikut mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah.

    Namun, Paus mengingatkan bahwa teknologi harus selalu diarahkan pada pelayanan kepada manusia, terutama mereka yang miskin, lemah, sakit, dan tersingkir. Jika AI hanya memperkaya segelintir orang dan memperlebar ketimpangan sosial, maka teknologi kehilangan orientasi moralnya.

    IV. Bahaya dan Tantangan Moral

    Ensiklik Magnifica Humanitas juga memberi perhatian besar pada bahaya yang dapat muncul dari penggunaan AI tanpa etika.

    1. Manipulasi dan Penyalahgunaan Informasi

    AI dapat dipakai untuk menyebarkan kebohongan, propaganda, manipulasi politik, dan
    deepfake yang merusak kepercayaan publik. Dalam dunia digital, manusia dapat dengan mudah kehilangan kemampuan membedakan kebenaran dan kepalsuan.

    Paus menegaskan bahwa kebenaran tetap merupakan dasar kehidupan bersama. Teknologi
    yang memanipulasi kesadaran manusia bertentangan dengan martabat pribadi.

    2. Pengawasan dan Hilangnya Privasi

    Perkembangan AI memungkinkan pengumpulan data pribadi dalam skala besar. Jika tidak
    dikendalikan secara etis, manusia dapat hidup dalam budaya pengawasan yang menghilangkan kebebasan dan ruang batin pribadi.

    Gereja menekankan bahwa privasi bukan hanya masalah teknis, tetapi bagian dari
    penghormatan terhadap martabat manusia.

    3. Krisis Relasi Manusia

    Budaya digital dapat membuat manusia semakin terhubung secara virtual tetapi semakin
    kesepian secara nyata. Paus mengingatkan bahwa relasi sejati membutuhkan kehadiran personal, dialog, empati, dan kasih yang nyata.

    Teknologi tidak boleh menggantikan keluarga, persahabatan, komunitas, dan kehidupan
    rohani.

    4. Ketimpangan Sosial dan Ekonomi

    Otomatisasi dapat menyebabkan hilangnya banyak pekerjaan dan memperbesar jurang antara kaya dan miskin. Karena itu, negara dan masyarakat internasional harus memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak mengorbankan martabat pekerja.

    V. Pendidikan dan Formasi Moral

    Paus Leo XIV menekankan pentingnya pendidikan integral di era AI. Manusia modern tidak
    cukup hanya menguasai teknologi; mereka juga harus dibentuk dalam kebijaksanaan moral dan spiritual.

    Pendidikan Kristiani harus membantu generasi muda yakni menggunakan teknologi secara
    bijaksana; membangun kemampuan berpikir kritis; menghormati kebenaran; mengembangkan empati dan solidaritas; serta menjaga kehidupan doa dan keheningan batin.

    Paus mengingatkan bahwa dunia digital sering dipenuhi kebisingan informasi yang membuat manusia kehilangan kemampuan merenung. Karena itu, keheningan, doa, dan kontemplasi menjadi semakin penting agar manusia tidak kehilangan arah hidupnya.


    VI. Gereja dan Tanggung Jawab Bersama

    Ensiklik ini menyerukan dialog global antara Gereja, ilmuwan, pemerintah, dunia pendidikan, perusahaan teknologi, dan masyarakat sipil.

    AI tidak boleh hanya diatur oleh kepentingan ekonomi atau politik semata. Dunia
    membutuhkan prinsip-prinsip etis universal yang menjaga kehidupan manusia, perdamaian, dan keadilan sosial.

    Gereja dipanggil hadir bukan sebagai musuh kemajuan, tetapi sebagai suara moral yang
    mengingatkan bahwa teknologi harus melayani cinta kasih dan kesejahteraan bersama.

    VII. Harapan Kristiani di Tengah Revolusi Teknologi

    Pada bagian penutup, Paus Leo XIV menegaskan bahwa harapan terbesar manusia tidak
    terletak pada mesin, algoritma, ataupun kecerdasan buatan, melainkan pada Allah sendiri.

    Teknologi dapat membantu kehidupan manusia, tetapi tidak dapat menyelamatkan jiwa
    manusia. Hanya kasih Allah yang mampu memenuhi kerinduan terdalam manusia akan makna, kebenaran, dan kebahagiaan. Karena itu, Gereja mengajak seluruh umat beriman yakni menggunakan teknologi dengan bijaksana, menjaga martabat setiap pribadi, memperkuat solidaritas kemanusiaan, dan tetap menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan.

    Ensiklik Magnifica Humanitas menjadi seruan profetis agar dunia modern tidak kehilangan
    kemanusiaannya di tengah kemajuan teknologi yang sangat cepat.

    Kutipan Penutup

    “Kecerdasan buatan adalah buah kecerdasan manusia; tetapi martabat manusia berasal dari Allah. Karena itu, teknologi harus tetap berada dalam pelayanan kepada pribadi manusia dan tidak pernah menggantikan nilai sakral hidup manusia.” — Magnifica Humanitas

    “245. With the same faith as Mary, let us become “weavers of hope” in our world, sharing
    who we are and what we have, so that the presence of Jesus may grow among us and his
    Kingdom take shape. In the humble fidelity of daily life, even the era of AI can become a time in which the Holy Spirit brings about the civilization of love in our lives. Indeed, the Lord continues to make all things new and offers every era the possibility of becoming part of salvation history in the light of the Incarnation. I entrust our desire to the Mother of Christ, to the Woman of the Magnificat, that she may guide our steps through this time of change and preserve in each of us true faith in the Gospel, so that we may bear witness to the grandeur of humanity, in which God has made his dwelling.”

    Ringkasan (tidak resmi) SURAT ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS
    Jakarta, 25 Mei 2026
    Jacobus Tarigan, Pr

        Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Katolik St. Thomas 2026/2027

        “Omnibus Omnia”
        COMPETENCE, COMPASSION, AND CONSCIENCE

        INFORMASI PENDAFTARAN & BEASISWA

        PENDAFTARAN ONLINE

        pmb.ust.ac.id

        JENIS-JENIS BEASISWA:

        • Beasiswa KIP (Reguler, Aspirasi)
        • Beasiswa Afirmasi Papua
        • Beasiswa Keuskupan (PSE)

        FAKULTAS & PROGRAM STUDI

        PROGRAM SARJANA (S1) & PROFESI

        EKONOMI DAN BISNIS
        • MANAJEMEN
        • AKUNTANSI

        ILMU BUDAYA
        • SASTRA INGGRIS
        • PARIWISATA
        • PSIKOLOGI

        TEKNIK
        • TEKNIK SIPIL
        • ARSITEKTUR

        PERTANIAN
        • AGRIBISNIS
        • TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
        • AGROTEKNOLOGI

        HUKUM
        • ILMU HUKUM

        ILMU KOMPUTER
        • SISTEM INFORMASI
        • TEKNIK INFORMATIKA
        • SAINS DATA

        KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
        • PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
        • PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DAN SASTRA INDONESIA
        • PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
        • PENDIDIKAN MATEMATIKA
        • PENDIDIKAN PROFESI GURU

        FILSAFAT
        • ILMU FILSAFAT

        PROGRAM MAGISTER (S2)

        MAGISTER
        • MAGISTER MANAJEMEN
        • MAGISTER HUKUM
        • MAGISTER FILSAFAT

        HUBUNGI KAMI (WHATSAPP)

        0822-7777-8506 — ADMIN 1
        0822-7777-8504 — ADMIN 2
        0822-6617-6663 — ADMIN 3
        0822-6778-9300 — ADMIN 4

        ALAMAT KAMPUS

        KAMPUS I
        Gedung Unika Santo Thomas
        Jalan Setia Budi No. 479 F,
        Tj. Sari, Medan.

        KAMPUS II
        Gedung Catholic Center
        Jalan Mataram No. 21,
        Medan.

        Rekomendasi & Komitmen Temu Pastoral Uskup Agung Medan dengan Pimpinan Tarekat Hidup Bakti 2026

        CC - PPU PEMATANGSIANTAR, 19 - 22 JANUARI 2026

        Pengantar

        Temu Pastoral Uskup, Kuria, dan Pimpinan Tarekat Hidup Bakti Keuskupan Agung Medan (TEPAS) dilaksanakan pada 19–22 Januari 2026 di CC–PPU Pematangsiantar. Pertemuan ini dihadiri oleh Bapa Uskup, Kuria KAM, serta para pimpinan/perwakilan tarekat religius dan sekular yang berkarya di wilayah Keuskupan Agung Medan yang hadir 77 orang. Pertemuan dibuka oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap yang menegaskan bahwa Tarekat Hidup Bakti adalah bagian integral dari Gereja dan dipanggil untuk berjalan bersama dalam semangat sinodalitas, memperbarui relasi dengan Gereja lokal, serta menghidupi kembali karisma pendiri dalam pelayanan pastoral yang kolaboratif dan transformatif.

        TEPAS 2026 mengangkat tema: “Gereja KAM Berjalan Bersama dalam Iman dan Aksi, Berkomitmen pada Kaderisasi, Lingkungan Hidup, dan Martabat Manusia.” Melalui proses mendengarkan, meneguhkan, dan mewartakan, pertemuan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat kerja sama antara keuskupan dan tarekat hidup bakti, serta merumuskan rekomendasi dan komitmen pastoral bersama bagi pelayanan Gereja di KAM.

        Tujuan TEPAS

        1. Mengapresiasi kerja tarekat hidup bakti di tempat karya masing-masing, yang membantu Gereja lokal dengan karisma masing-masing,
        2. Memupuk semangat “berjalan bersama” dengan mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan sesuai visi dan misi keuskupan tanpa mengabaikan visi dan misi tarekat masing-masing
        3. Mengupayakan kerjasama lintas tarekat dalam karya pastoral parokial, pendidikan, kesehatan, asrama, dll
        4. Menerjemahkan rekomendasi atau anjuran pastoral KAM, KWI atau Gereja Universal, misalnya kaderisasi, lingkungan hidup, TPPO, pastoral kaum muda, penyalahgunaan narkoba dan sebagainya, dll. dan mengusulkan karya-karya pastoral tertentu ke KAM untuk dijadikan karya pastoral bersama.

        Topik-topik TEPAS 2026

        1. Merawat Ciptaan, Menghidupi Iman: Ephorus Dr. Viktor Tinambunan. Menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan bagian dari iman dan tanggung jawab bersama umat beriman dalam merawat ciptaan Tuhan.
        2. Tarekat Hidup Bakti dalam Gereja dan Identitasnya: Sr. Alfonsine, KSFL. Menjelaskan identitas dan peran tarekat hidup bakti sebagai bentuk panggilan khusus dalam Gereja yang hidup dari karisma pendiri dan pelayanan bagi umat.
        3. THB dalam Kesatuan dengan Gereja: RD Sampang Tumanggor. Menekankan pentingnya kesatuan dan kerja sama antara tarekat hidup bakti dengan Gereja lokal dalam menjalankan misi pastoral.
        4. Laporan dan Sharing Pertemuan SAGKI 2025: RD Joseph Gultom. Menyampaikan hasil dan refleksi dari Pertemuan SAGKI 2025 sebagai bahan inspirasi dan arah pastoral bagi Gereja di KAM.
        5. Sinode Diosesan VII KAM dan Fokus Pastoral KAM: RP Serafin, OSC. Memaparkan arah dan fokus pastoral Keuskupan Agung Medan berdasarkan hasil Sinode Diosesan VII.
        6. Gambaran Wajah Gereja KAM: RP Michael Manurung, OFMCap. Menggambarkan situasi, dinamika, dan tantangan kehidupan Gereja di wilayah Keuskupan Agung Medan saat ini.
        7. Laporan dan Sharing Kongres Misi Penang 2025: Sr. Caroline Naibaho, KYM Menyampaikan pengalaman dan refleksi dari Kongres Misi Penang sebagai inspirasi bagi semangat misioner Gereja.
        8. Gerakan Peduli Lingkungan: Learn, Connect & Action: RP Stephanus Sitohang, OFMCap. Mengajak Gereja untuk belajar, membangun jejaring, dan melakukan aksi nyata dalam gerakan kepedulian terhadap lingkungan.
        9. Perhatian dan Aksi KAM terkait Lingkungan Hidup: RP Hilarius Kemit, OFMCap. Menjelaskan berbagai inisiatif dan langkah konkret Keuskupan Agung Medan dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.
        10. Kaderisasi dalam Gereja KAM: Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Menekankan pentingnya kaderisasi untuk menyiapkan generasi penerus Gereja yang beriman, kompeten, dan siap melayani.
        11. Peran Media Sosial dalam Pewartaan Nilai-nilai Kristiani: RD Benno Ola. Menunjukkan bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan secara bijak sebagai sarana evangelisasi dan pewartaan iman.
        12. Pastoral Migran dan Perantau dalam Upaya Penanggulangan TPPO: RD Sesarius. Menyoroti pentingnya perhatian pastoral bagi para migran dan perantau serta upaya Gereja dalam mencegah perdagangan orang.
        13. Conventio Scripta: RP Joseph Lesta S. Pandia, OFMConv: Membahas pentingnya kesepakatan tertulis antara keuskupan dan tarekat dalam kerja sama karya pastoral.
        14. Perancangan Kurikulum Kursus Keagamaan THB Non-Imam KAM: RP Kartolo Malau,O.Carm. Menyampaikan poin-poin dan langkah-langkah penyusunan kurikulum pembinaan iman bagi anggota tarekat hidup bakti non-imam di wilayah KAM.
        15. Jaring Opini Kegiatan Pembinaan Formator THB dan UNIO di PPU: RD Irfantinus Tarigan. Menghimpun masukan dan refleksi terkait pembinaan para formator tarekat hidup bakti dan anggota UNIO di PPU.

        Rekomendasi dan Komitmen

        Berangkat dari topik yang dibicarakan dalam Temu Pastoral 2026 ini, yang merupakan buah refleksi, dialog, dan disermen bersama antara Keuskupan Agung Medan dan Tarekat Hidup Bakti yang berkarya di wilayah keuskupan. Dalam semangat sinodalitas, persekutuan, partisipasi, dan perutusan, serta merumuskan arah pastoral bersama demi menghadirkan Gereja yang semakin misioner, profetis, dan transformatif di tengah masyarakat. Maka beberapa komitmen dan rekomendasi sebagai berikut:

        1. Lingkungan Hidup (Tindakan Pasca Bencana dan Ekologi Praktis)

        • Realitas Pastoral Krisis ekologi merupakan tantangan serius bagi dunia dan wilayah pastoral KAM karena meningkatnya bencana banjir dan tanah longsor akhir-akhir ini. Bencana ini tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi oleh perilaku manusia karena pengelolaan sampah yang buruk, perusakan hutan, eksploitasi lahan, pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Maka dampaknya tidak hanya merusak secara fisik dan ekonomi, tetapi menimbulkan luka sosial, psikologis, dan spiritual yang membutuhkan pendampingan pastoral berkelanjutan. Dalam terang iman, Gereja memandang perawatan bumi sebagai tanggung jawab kepada Sang Pencipta dan bagi THB kepedulian ekologis ini menjadi wujud spiritualitas profetis yang berpihak pada kehidupan, kaum kecil, dan masa depan generasi mendatang.
        • Rekomendasi Pastoral Setiap tarekat atau kongregasi diharapkan terlibat aktif dalam tanggap darurat bencana alam secara terkoordinasi dengan Keuskupan melalui bantuan logistik, medis, dan kebutuhan dasar korban, sekaligus melakukan survey dan pendataan kebutuhan, khususnya terkait tempat tinggal (rumah) yang layak, serta menggalang dukungan (jejaring donator) untuk pembangunan rumah korban. Kerasulan pastoral THB dapat diwujudkan melalui program live-in, pelayanan kesehatan, dukungan psikososial dan bimbingan rohani. THB perlu meningkatkan kesiapsiagaan melalui pelatihan tanggap bencana dan penunjukan contact person. Mengembangkan advokasi ekologis, katekese lingkungan, dan jejaring kerjasama lintas kongregasi/ lembaga yang peduli pada kelestarian ciptaan.
        • Komitmen Bersama
          1. THB dan KAM berjalan bersama menanggapi krisis ekologis secara sinodal dan berkelanjutan, dengan menjadikan kepedulian terhadap lingkungan hidup sebagai bagian integral dari spiritualitas, formasi dan karya kerasulan.
          2. Komitmen ini diwujudkan melalui pembentukan Tim Koordinator Penanggulangan Pasca Bencana THB yang bergerak di bawah dan atas nama Keuskupan Agung Medan, melaksanakan tindakan belarasa melalui assessment kolaboratif dengan mencari, mengumpulkan, dan menguji data hingga tercapai kesepahaman mengenai motivasi dan tujuan bersama sebagai dasar aksi pastoral yang profetis.
          3. Tim ini merumuskan tugas dan tanggung jawab secara jelas, antara lain melalui edukasi preventif bagi masyarakat, dukungan pembangunan rumah bagi korban bencana, serta kaderisasi anak-anak korban bencana melalui pemberian beasiswa pendidikan dan pendampingan psikologis yang berkelanjutan.
          4. Penguatan gerakan ekologis Gereja, seperti pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pengolahan sampah berbasis komunitas, peningkatan keterlibatan dalam Komisi JPIC Keuskupan, penggalangan dana bersama, serta pengembangan edukasi lingkungan di paroki, sekolah, dan komunitas umat.

        2. Kaderisasi Awam (Membangun kader Katolik menjadi garam dan terang dunia)

        • Realitas Pastoral
          KAM menghadapi tantangan pastoral berupa masih terbatasnya kader awam Katolik yang siap terlibat secara aktif dan bertanggung jawab dalam bidang sosial, politik, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. Situasi ini antara karena sistem kaderisasi yang terarah, berjenjang, dan berkelanjutan belum maksimal, sehingga proses regenerasi pemimpin Katolik di berbagai bidang kehidupan belum berkembang secara optimal. Dalam terang iman, Gereja menegaskan kembali panggilan setiap umat beriman sebagaimana sabda Yesus, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia,” mengingatkan bahwa kaum awam dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat. Karena itu, sebagaimana ditegaskan dalam ajaran Sosial Gereja, kaum awam mengambil bagian dalam tugas penginjilan serta pembangunan masyarakat demi terwujudnya kebaikan bersama (bonum commune).
        • Rekomendasi Pastoral
          Memperkuat kaderisasi awam melalui program kaderisasi dan penguatan Sekretariat Komisi Kerawam Keuskupan dengan melibatkan Tarekat Hidup Bakti secara aktif serta mengembangkan database kader Katolik dari berbagai bidang pelayanan dan profesi. Proses kaderisasi dilaksanakan secara berkelanjutan melalui siklus 6P: profiling (identifikasi bibit kader), pembinaan (formasi rohani dan kepemimpinan), penguatan (dukungan pendidikan dan pelatihan), partisipasi aksi (keterlibatan sosial dan pastoral), pendampingan (mentoring berkelanjutan), dan regenerasi (kader menjadi pembina kader baru). Diselenggarakan pelatihan kader awam berjenjang bagi OMK, mahasiswa, profesional muda, dan tokoh masyarakat dengan modul yang mencakup spiritualitas awam, kepemimpinan transformatif, pendidikan politik Katolik, etika digital, dan advokasi kebaikan bersama, melalui kerjasama sinergis antara THB, paroki, sekolah Katolik, dan organisasi awam.
        • Komitmen Bersama
          1. THB dan KAM menjadi mitra aktif Tim Kaderisasi Awam KAM dalam mengembangkan sistem kaderisasi awam yang berkelanjutan dan terstruktur, guna membentuk kader Katolik yang mampu menjadi perpanjangan tangan misi Kristus di tengah dunia.
          2. Keterlibatan aktif dalam mengidentifikasi dan memperbarui database kader Katolik yang berasal dari sekolah-sekolah di bawah yayasan ordo atau kongregasi, yakni data profesi, alamat, kontak, serta proses kaderisasi meliputi identifikasi (testimoni), formasi, penguatan melalui dukungan dana, aksi pelayanan, pendampingan, dan regenerasi.
          3. Bersinergi dalam menyelenggarakan pembekalan dan pelatihan kader (diklat) agar para kader tetap memiliki semangat kekatolikan sebagai garam dan terang dunia, serta mampu berkontribusi bagi kebaikan bersama (bonum commune).
          4. Turut membina generasi muda Katolik agar menjadi pemimpin yang beriman dan berintegritas. Menyediakan sumber daya manusia, fasilitas, jejaring pendukung kaderisasi, mendampingi pertumbuhan rohani dan kepemimpinan kader.
          5. Mendorong keterlibatan awam dalam kehidupan sosial dan pelayanan Gereja, serta menghadirkan awam Katolik sebagai saksi iman yang membawa terang Injil bagi masyarakat.

        3. Pewarta Digital dan Media Sosial (THB sebagai pewarta injil di era digital)

        • Realitas Pastoral
          Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan membangun relasi, sekaligus membuka peluang besar bagi pewartaan Injil. Namun, dunia digital juga, menghadirkan risiko serius seperti disinformasi, penyalahgunaan media sosial, dan krisis etika digital semakin menantang komunitas religius yang belum sepenuhnya siap menghadapi dinamika budaya digital. Kurangnya pedoman penggunaan media digital menimbulkan kerentanan bagi individu maupun institusi Gereja. Dalam konteks ini, Gereja memandang dunia digital sebagai medan baru evangelisasi yang harus dihadiri dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab, di mana pewartaan digital dipanggil untuk membangun relasi otentik, menyebarkan kebenaran, dan menghadirkan kasih Kristus bagi masyarakat.
        • Rekomendasi Pastoral
          Memperkuat pewartaan digital dengan membentuk tim komunikasi digital di setiap THB, menjalin kolaborasi aktif dengan Komisi Komsos KAM, menyelenggarakan pelatihan etika digital dan penggunaan teknologi AI secara bijaksana, menyusun pedoman penggunaan media sosial bagi anggota THB, serta mengembangkan jaringan komunikasi digital antar tarekat untuk memperluas jangkauan evangelisasi dan membangun relasi yang edukatif dan inspiratif.
        • Komitmen Bersama
          1. THB dan KAM berkomitmen untuk menghadirkan pewartaan Injil yang kreatif, edukatif, dan bertanggung jawab di ruang digital, sambil menjaga etika dan integritas dalam penggunaan media sosial.
          2. Setiap tarekat membentuk dan memberdayakan tim media sosial yang kompeten, menyusun protokol penggunaan UU ITE, serta terhubung dengan Komsos KAM untuk memperlancar konten pewartaan iman.
          3. THB siap mendukung kegiatan digital Keuskupan, termasuk mengisi acara Opera Kobar KAM.
          4. Kolaborasi digital THB, paroki, dan Komsos KAM dikembangkan menjadikan ruang evangelisasi yang membangun harapan, sarana pelayanan dan menampilkan kesaksian THB yang autentik melalui budaya digital.

        4. Pastoral Migran dan Perantau

        • Realitas Pastoral
          Mobilitas manusia yang semakin tinggi menyebabkan peningkatan jumlah migran dan perantau, namun banyak dari mereka menghadapi risiko eksploitasi, perdagangan orang, dan pelanggaran martabat manusia. Korban perdagangan orang sering mengalami penderitaan fisik, psikologis, dan sosial yang mendalam, sementara kurangnya informasi dan perlindungan hukum membuat mereka semakin rentan terhadap penipuan dan eksploitasi. Dalam konteks pastoral, Gereja terpanggil untuk membela martabat manusia, melindungi yang lemah dan tertindas, serta menghadirkan belas kasih dan keadilan melalui pelayanan pastoral migran, sebagai wujud nyata misi Gereja dalam menegakkan martabat setiap orang.
        • Rekomendasi Pastoral
          Pengembangan katekese tentang migrasi aman dan bahaya perdagangan orang, pembentukan tim pastoral migran serta tim anti-TPPO di jaringan THB dan Keuskupan, serta penguatan Forum Pastoral Migran Perantau sebagai wadah koordinasi pelayanan. Penyediaan shelter yang aman bagi korban, pengembangan kerjasama dengan pemerintah, kepolisian, dan lembaga bantuan hukum, serta penggalangan dukungan dana dan jejaring solidaritas untuk pendampingan korban menjadi langkah strategis untuk melindungi martabat migran dan perantau.
        • Komitmen Bersama
          1. THB dan KAM berkomitmen untuk membela martabat manusia, khususnya para migran dan korban perdagangan orang, melalui pastoral migran yang profetis dan humanis.
          2. Komitmen ini diwujudkan dengan mengembangkan jaringan pastoral yang kuat dan responsif, menyediakan pendampingan pastoral, sosial, dan hukum bagi korban, serta memperkuat jejaring Gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam pencegahan TPPO.
          3. Mengedukasi umat tentang migrasi yang aman dan bermartabat, mengembangkan solidaritas Gereja bagi perantau dan keluarga mereka, serta menjadi suara profetis yang memperjuangkan keadilan bagi mereka yang tertindas.

        5. Menjadi Komunitas Yang Berjalan Bersama (Spiritualitas sinodalitas)

        • Realitas Pastoral Gereja dipanggil untuk hidup dalam semangat sinodalitas sebagai cara hidup bersama, yang menekankan persekutuan, partisipasi, dan misi bersama. Di tengah dunia modern yang terfragmentasi, Gereja diharapkan menghadirkan kesaksian persaudaraan, membangun budaya mendengar, meneguhkan dan mewartakan. Berdialog secara terbuka, melibatkan semua umat dalam kehidupan dan misi Gereja. Roh Kudus diyakini bekerja melalui dialog, disermen, dan kebersamaan, sehingga berjalan bersama menjadi panggilan mendasar Gereja di zaman ini.
        • Rekomendasi Pastoral THB di Keuskupan diharapkan berpartisipasi aktif dalam proses sinodal dengan mengembangkan budaya mendengarkan dan dialog dalam komunitas Gereja, mempromosikan nilai-nilai sinodal dalam pendidikan iman, pastoral, dan media sosial, serta menyediakan pelayanan konseling iman bagi umat. Berkolaborasi dengan para imam, religius, dan awam, mengembangkan forum dialog dan refleksi pastoral bersama untuk memperkuat semangat kebersamaan dan misi sinodal.
        • Komitmen Bersama
          1. Membangun Gereja yang hidup dalam semangat sinodalitas dengan meneguhkan budaya dialog, kebersamaan, dan kolaborasi dalam karya pastoral.
          2. Menjadi saksi persaudaraan sejati di tengah masyarakat, mendengarkan suara umat dengan hati terbuka, dan berjalan bersama sebagai umat Allah dalam perutusan, sehingga setiap langkah pastoral tercermin dari partisipasi aktif, kesatuan, dan pelayanan yang nyata.

        6. Wajah Baru THB KAM (Menuju kolaborasi sinodal)

        • Realitas Pastoral
          Integrasi karisma religius dalam pastoral Gereja lokal saat ini masih belum optimal dan sering berkembang secara pragmatis serta sporadis. Karya pastoral THB sering berjalan sendiri-sendiri dengan koordinasi yang terbatas, sehingga potensi kolaborasi belum tercapai sepenuhnya. Gereja mendorong model relasi yang sinodal dan kolaboratif, memanggil THB untuk mengaktualisasikan karisma mereka secara kontekstual dalam dinamika pastoral Gereja lokal. Kolaborasi sinodal menjadi strategi utama untuk memperkuat misi Gereja dan menghadirkan karya pastoral yang terpadu, efektif, dan berdampak nyata bagi umat serta masyarakat.
        • Rekomendasi Pastoral
          Mengintegrasikan karisma THB ke dalam arah pastoral Keuskupan Agung Medan, meningkatkan keterlibatan THB dalam Dewan Pastoral Paroki, dan mengembangkan karya pastoral kolaboratif lintas kongregasi. Menyelenggarakan forum dialog dan disermen pastoral antara THB dan Keuskupan, membangun program pastoral bersama di bidang pendidikan, sosial, dan evangelisasi, serta memperkuat koordinasi antara THB dan struktur pastoral Keuskupan agar kolaborasi berjalan efektif, terpadu, dan berdampak nyata bagi umat dan masyarakat.
        • Komitmen Bersama
          1. Menghidupi karisma religius dalam konteks pastoral Keuskupan, mengembangkan kolaborasi lintas tarekat dan lembaga Gereja. Terlibat aktif dalam perutusan Gereja lokal. 2. Semangat sinodal diwujudkan melalui Conventio Scripta, penyediaan tenaga pastoral yang dibutuhkan KAM,
          3. Membangun komunikasi efektif dengan THB, sehingga tercipta hubungan pastoral yang sinodal, komunikatif, dan kolaboratif.
          4. Mengembangkan semangat sinodal dalam kehidupan dan karya, menghindari sikap eksklusif, serta bersama-sama membentuk wajah Gereja lokal yang misioner, sinodal, dan profetis.

        Demikian rekomendasi dan komitmen ini dibuat agar mendapat perhatian kita dalam karya-karya pastoral di wilayah pastoral Keuskupan Agung Medan, demi kemuliaan Allah dan keselamatan umat manusia.

        CC-PPU Pematang Siantar, Panitia TEPAS KAM 2026

        Paroki Diski

        PelindungSanto Paskalis
        Buku ParokiSejak 17 Mei 2026. Kuasi Paroki sejak 4 Desember 2018. Sebelumnya bergabung Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai.
        Meliputi wilayahSekitar Kecamatan Sunggal, Hamparan Perak dan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.
        AlamatJalan Medan – Binjai KM 14,5, Desa Sumber Melati, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara 20351
        HP / WA0852 6107 9865
        Email[email protected]
        Jumlah Umat803 KK, 2.985 Jiwa (BIDUK Mei 2026)
        Jumlah Gereja5 (lima)

        Harian : 05.30 WIB (Senin-Jumat)
        Jumat Pertama : 16.00 WIB
        Minggu : 07.00 & 09.00 WIB

        1. Santo Paskalis, Diski (1970)
        2. Santa Perawan Maria diangkat ke Surga, Medan Krio (1977)
          Jl. Pelita Dusun X, Desa Medan Krio, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang
        3. Santo Yohanes Pembaptis, Sei Mencirim
          Desa Sei Mencirim, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang
        4. Santo Yohanes Rasul, Paluhmanan
          Desa Paluhmanan, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang
        5. Santo Ignatius dari Antiokhia, Bulu Cina
          Jl. Ampera, Desa Kota Datar Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang
        Pastor ParokiVikaris Parokial
        Gereja Katolik St Paskalis, Jl. Medan-B. Aceh km14. 6 no. 15, Medan Krio, Sunggal, Deli Serdang Regency, North Sumatra 20351

        1.1 Sejarah Berdirinya Gereja
        Berdirinya Gereja Katolik di Diski Desa Sumber Melati, Kec Sunggal, Kabupaten Deli Serdang berawal dari kesepakatan 25 kepala keluarga Katolik yang ada saat itu. Sebenarnya masih banyak umat katolik yang bermukim di sekitar Diski, khususnya yang datang dari daerah Tapanuli, Tanah Karo, Dairi dan Langkat. Namun karena di Diski pada waktu itu belum ada bangunan Gereja Katolik, maka banyak diantara mereka yang beribadah di gereja lain (Protestan).

        Umat Katolik yang masih setia, pada awalnya mereka berkumpul dan sepakat untuk mengadakan kebaktian di rumah bapak Luther Sitanggang/br Panggabean di Jl. Binjai Km 13 Gg Pribadi. Dan yang menjadi pemimpin umat adalah Bapak W. Sibarani. Seiring dengan perjalanan waktu, umat Katolik yang sempat beribadah di gereja lain (Protestan) kembali bersatu dan beribadah bersama.

        Untuk memperlancar tugas-tugas pelayanan dan pembinaan bagi umat, maka diutuslah Bapak A.J. Simarmata dan Bapak W. Sibarani untuk menghubungi Pastor Diego Biggelar, OFM.Cap (Pastor Opung Bornok Simbolon) yang bertempat tinggal di Jl. Pemuda Medan. Dengan adanya pelayanan Op. Bornok ini, jumlah umat Katolik di sekitar Diski semakin berkembang. Sehingga tempat untuk beribadat pada hari minggu tidak memadai lagi. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka para tokoh umat pada waktu itu (tahun 1963) mencoba mencari lahan yang cocok untuk mendirikan bangunan gereja. Namun hal itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Atas jasa Bpk Tumbuk Sembiring dan Letnan Biasa Sembiring (Sembiring Tentara) diperoleh pertapakan tanah di sekitar Jl Medan Binjai Km 14,5 Diski. Kemudian di atas tanah yang diperoleh ini dibangun gereja yang masih darurat yaitu berdinding tepas dan beratap rumbia. Proses pembangunan dilakukan secara gotong royong termasuk para muda-mudi dengan dana swadaya umat dan dibantu oleh Op. Bornok. Mereka mengadakan kebaktian di sana selama dua tahun. Dengan berdirinya Gereja tersebut, kendati darurat, umat merasa senang karena sudah memiliki tempat ibadah. Sejak itu, jumlah umat pun mulai bertambah. Setelah Gereja Katolik berdiri di Diski, terjadi pula pergantian pemimpin umat yaitu dari Bapak W. Sibarani kepada Bapak JD. Sitanggang (yang menjabat dari tahun 1963-1974).

        Hal ini sesuai dengan keterangan surat penghargaan yang diberikan kepada Bapak JD. Sitanggang tertanggal 02 September 1974 yang ditandatangani oleh Vikjen Pastor AGP Datubara,OFM.Cap. Pada kurun waktu itu Diski merupakan Stasi luar kota dari Paroki Katedral, Jalan Pemuda Medan.
        Dua tahun kemudian yaitu pada Tahun 1965 dilakukan renovasi gereja menjadi gereja yang permanen. Pembangunan ini juga dilakukan atas swadaya umat dan bantuan dari Bapak Tumbuk Sembiring dan Letnan Biasa Sembiring (keduanya dari Diski) juga Bapak Bernardus Bagio seorang Staf di PTP IX (beliau mengerahkan truk-truk perusahaan untuk mengangkat bahan-bahan bangunan). Begitu juga para muda-mudi sangat berperan dalam membantu pembangunan gereja ini secara bergotong royong antara lain Ngampeken Ginting, Dameria Kembaren, Judiman Sitanggang, dan Cinta Sembiring.

        Kendati gereja sudah permanen namun belum ada plafon/eternit. Pernah terjadi sesuatu yang sangat lucu; pada saat Pastor Pennox mempersembahkan Perayaan Ekaristi. Pada saat Pastor mengangkat piala (elevasi piala) tiba-tiba terbang kelelawar serta mengeluarkan kotoran dan masuk kedalam piala yang berisi air anggur. Kejadian tersebut membuat Pastor Penox menjadi kesal dan marah, lalu mengatakan kepada umat agar dalam tempo seminggu gereja ini sudah harus dipasang plafon/eternit. Setelah kejadian tersebut, maka umat yang diprakarsai Bapak Kuasa Ginting mengerjakan pemasangan plafon/eternit gereja dimana bahan-bahannya diperoleh dari saudara Bapak Kuasa Ginting yang memiliki usaha panglong.

        1.2 Pelayanan Sakramen Perdana
        Setelah gereja katolik Diski selesai direnovasi secara permanen pada tahun 1965 diadakanlah pembaptisan umat. Salah seorang penerima baptisan pertama adalah Ny. E. Manihuruk br Sagala dengan Buku Liber Babtis IV/Pag 68/No 536 (reg. Katedral) yang dipermandikan pada tanggal 30 Mei 1965, dengan nama baptis Anna Dormaliana Br Sagala.

        Sedangkan penerimaan Krisma pertama dilaksanakan pada tanggal 09 Mei 1971 di Diski. Salah seorang peserta penerima Krisma tersebut adalah Bapak Ngampeken Rogerius Ginting, dengan Buku Liber Confirmatorum VI PAG 70 No 559 tanggal 09 Mei 1971 di Diski atas nama Ngampeken Rogerius Ginting. Dan pada tahun ini juga (1971) untuk pertama kali diadakan pemberkatan pernikahan, yaitu pasangan Menet Marianus Depari dengan Dameana Dameria Br Kembaren.
        Sementara penerimaan Sakramen Krisma yang ke II diadakan di Gedung Olah Raga Binjai pada tahun 1978 yang bergabung dengan stasi Binjai. Pembelajaran bagi peserta calon Krisma diberikan oleh Sr. Ferdinanda Br Tamba FSE.


        1.3 Stasi Diski menjadi salah satu Stasi Paroki Binjai
        Sebelum masuk ke Paroki Binjai, Stasi Diski merupakan bagian dari stasi luar kota Paroki Katedral Medan dan segala administrasi juga ke Paroki Katedral Medan. Setelah Pastor PME bertugas di KAM, stasi Diski dibayah pelayanan/naungan Pastor PME dari Paroki Sei Sikambing. Namun setelah diresmikannya Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai pada tanggal 01 Januari 1980, stasi Diski menjadi bagian dari paroki baru ini. Pastor yang memberikan pelayanan adalah Pastor Magella. Sejak saat itu stasi Diski tidak ditangani oleh Paroki Katedral Medan lagi tetapi sudah dilayani oleh Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai.

        1.4 Pengukuhan Nama Pelindung
        Setelah berdiri hampir selama dua puluh tahun, gereja Katolik Stasi Diski belum juga memiliki nama pelindung. Maka pada tahun 1983 di bawah penggembalaan Pastor Esdras Tarigan mulai digagas nama pelindung untuk stasi Diski. Akhirnya dipilihlah Santo Paskalis sebagai nama pelindung. Mengenai alasan pemilihan nama Paskalis ini, masih simpang siur cerita atau sumber yang bisa dipercaya. Kendati demikian dicoba dihidupi spiritualitas Santo Paskalis dalam berbagai kehidupan menggereja di Diski, diantaranya adalah devosi kepada sakramen mahakudus. Juga spiritualitas yang berpihak kepada mereka yang kecil, lemah, miskin dan terpinggirkan.

        1.5 Perkembangan Gereja St. Paskalis Diski
        Pada awalnya stasi Diski mempunyai 2 lingkungan besar yaitu Lingkungan Diski I dan Lingkungan Diski II. Ide membentuk lingkungan di Gereja Katolik St. Paskalis Diski diawali dari adanya perkumpulan Doa Bapak-Bapak pada awal tahun 1978 yang diprakarsai oleh Kapten AR. Pinem yang anggotanya berasal dari Diski dan Serbajadi. Kelompok Bapak-bapak ini di ketuai oleh Biasa Sembiring (Sembiring Letnan), sekretaris GA. Saragih, sedangkan bendahara Lawan Ginting (bapak Ngampeken Ginting). Menurut Bapak Letkol (Purn) A.R. Pinem kelompok bapak-bapak ini dalam perkembangannya berubah menjadi doa Rosari Lingkungan Diski yang diketuai oleh Sohot Munthe, sekretaris Ngampeken Ginting dan bendahara Laura Lamria Br Harahap.

        Dalam perjalanan perkembangan umat selain doa lingkungan dibentuk lagi seksi Sosial atas usul Kapten AR. Pinem. Seksi Sosial ini diberi nama KEKAL (Keluarga Katolik Lingkungan) Diski. Dalam perkembangannya KEKAL menjadi suatu wadah pelayanan sosial untuk keluarga Katolik di lingkungan. Selanjutnya diwilayah Serasi muncul satu Lingkungan dan berkembang lagi menjadi lingkungan Santo Yosef. Sementara wilayah Serbajadi menjadi wilayah pelayanan stasi Diski.

        Pada tahun 2001 Gereja Katolik St. Paskalis Diski kembali direnovasi sekaligus diperbesar dan selesai pertengan tahun 2003 dan sekaligus diberkati oleh Uskup Agung Medan Mgr. AGP. Datubara, OFM.Cap pada tanggal 03 Agustus 2003. Walaupun sudah berdiri megah namun gereja ini belum mempunyai menara. Pengurus Dewan Stasi membentuk Panitia pembangunan menara gereja dan pada tahun 2008 menara gereja selesai dan diberkati oleh Uskup Emeritus AGP. Datubara,OFM.Cap. Selain itu Gereja ini telah memiliki taman dan Gua Maria yang pemberkatannya dilakukan oleh Vikep Pastor Carolus Sembiring,OFM.Cap pada tahun 2012.

        Seiring dengan pesatnya perkembangan jumlah umat dan teritorial kependudukan yang semakin padat, maka stasi Diski dibagi menjadi 13 lingkungan, dengan jumlah Kepala Keluarga 503 Kepala Keluarga dan jumlah umat 2037 orang.

        1.6 Pembentukan Panca Stasi
        Dalam perkembangannya Stasi St. Paskalis Diski Tergabung dalam Panca Stasi yaitu Stasi St. Paskalis Diski, Stasi Sei Semayang, Stasi Sei Mencirim, Stasi Sukamaju, Stasi Sei Beras Sekata dan sebagai Kordinator Pelayanan dan sumber pendanaan adalah Stasi St. Paskalis Diski. Pengelolaan seperti ini berlangsung sampai kurang lebih tahun 2001. Perubahan terjadi saat stasi Sukamaju dan Sei Beras Sekata dialihkan ke paroki baru yaitu Paroki Tanjung Selamat. Maka tidak lagi menjadi Panca Stasi lagi melainkan berubah menjadi Rayon VI dari wilayah MBPA Binjai.

        1.7 Rayon VI
        Stasi St. Paskalis Diski masuk anggota Rayon VI Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai, terdiri dari tiga stasi yaitu Stasi Santa Maria Sei Semayang dan Stasi St. Paulus Sei Mencirim. Ketiga Stasi ini berada di wilayah hukum administrasi pemerintahan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang. Selain 3 stasi tersebut masih ada 2 lagi Stasi yang berada di wilayah Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang dan menjadi bagian dari Paroki MBPA Binjai yaitu Stasi Paluhmanan dan Stasi Bulucina. Hanya saja dalam pengelompokan Rayon pelayanan Bulucina dan Paluhmanan bergabung dengan Rayon Stabat.

        1.8 Wilayah Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai
        Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai mempunyai teritorial yang sangat luas yaitu terdiri dari 2 Kabupaten dan 2 kabopaten Kota yakni Kabupaten Langkat, Kabupaten Deli Serdang dan Kota Binjai. Sampai sekarang Paroki MBPA Binjai mempunyai 34 Stasi dan 40 lingkungan.

        Dalam membuat kebijakan penggembalaan dan pengelompokan umat, maka dibuatlah pengelompokkan berdasarkan Rayon. Paroki MBPA Binjai dibagi ke dalam 6 Rayon. Masing-masing rayon terdiri dari 3-10 stasi atau juga kelompok lingkungan. Di Pusat paroki ada 15 lingkungan dan 1 stasi yaitu Janjimatogu. Rayon II yang berada di sekitar Kecamatan Sei Binge ada 10 stasi. Rayon III yang meliputi beberapa kecamatan (Bahorok, Selesai, Batangserangan) terdapat 10 stasi. Rayon IV yang berada di sekitar Stabat ada 3 lingkungan dan 3 stasi. Rayon V ada 5 stasi yang sebagian besar meruapakan areal perkebunan PTP IV. Dan Rayon VI adalah Rayon yang berada di sekitar Diski dengan 13 lingkungan ditambah dengan 2 stasi.

        Keluasan wilayah MBPA Binjai membuat beberapa hal perlu dipertimbangkan lagi terutama perjumpaan para gembala/pastor dengan umat di stasi. Jarak stasi-stasi pada umumnya berada di jarak tempuh 1 - 2,5 jam perjalanan dengan menggunakan kendaran roda 2 atau pun roda 4. Stasi-stasi ini mendapat pelayanan Misa Minggu 2 bulan sekali. Perjumpaan yang minim ini membuat perawatan jiwa-jiwa di stasi-stasi yang jauh tidak maksimal, dengan demikian juga ada semacam situasi yang kurang berkembang bahkan cenderung menurun.

        Paskalis Diski merupakan stasi yang berbeda dengan stasi-stasi yang lain. Jikalau stasi-stasi yang lain itu berjarak cukup jauh dengan paroki, tidak demikian dengan stasi Paskalis Diski. Wilayah Diski membentang di sekitar kanan-kiri Jalan Medan-Aceh/Binjai, antara km 12 sampai km 17. Wilayah itu bukan termasuk Kota Binjai melainkan berada di Kabupaten Deli Serdang. Jarak tempuh gereja stasi Paskalis Diski dengan paroki cukup dekat, kurang lebih hanya 3 km, dan bisa ditempuh 10 menit dengan kendaraan motor atau mobil.

        2.1 Pelayanan Ekaristi Mingguan
        Paskalis Diski berbeda dengan stasi yang lain karena jumlah Kepala Kelurga pun cukup besar sebagaimana telah di tuliskan di atas. Kerena jumlah Kepala Keluarga dan jumlah jiwa yang signifikan maka pelayanan Ekaristi juga diberi pelayanan yang istimewa yaitu bahwa setiap minggu dirayakan 1 kali perayaan ekaristi. Dimulai pukul 08.00 dengan menggunakan bahasa Indonesia.

        2.2 Jumlah Lingkungan, KK dan Jiwa
        Diski sebagai stasi mempunyai 13 lingkungan. Lingkungan-lingkungan ini membentang di satu wilayah kecamatan Sunggal. Sudah beberapa tahun ini jumlah 13 lingkungan belum berubah, padahal menurut jumlah KK dalam lingkungan, masih sangat potensial untuk diperkembangkan atau dimekarkan. Secara umum suasana lingkungan adalah menunjukkan kehangatan dan kompak. Mekanisme pertemuan dalam lingkugnan pun berjalan dengan baik dan sudah rutin dalam minggunya. Berikut adalah gambaran lingkungan, jumlah KK dan jiwa di masing-masing lingkungan yang berada di stasi Paskalis Diski.

        NoNama LingkunganJlh KKPria
        1Santo Yosef4585
        2Santo Yohanes4395
        3Santa Elisabet4447
        4Santa Lidwina56127
        5Santo Paulus3671
        6Santo Agustinus54105
        7Santo Petrus5791
        8Santo Gabriel2456
        9Santo Rafael3071
        10Santo Mikael2852
        11Santa Maria1942
        12Santa Clara4397
        13Santo Martinus2453
        503992

        2.3 Pelayanan Kunjungan Lingkungan
        Kepada lingkungan-lingkungan yang berada di bagian Paskalis Diski ini juga telah mendapatkan pelayanan misa lingkungan. Umumnya setiap lingkungan mendapat pelayanan 2 bulan sekali, atau paling tidak mereka terlayani 5-6 kali misa lingkungan dalam satu tahun. Kehadiran umat dalam misa lingkungan sangat variatif. Ada lingkungan dimana yang hadir dalam misa lingkungan mulai dari anak-anak sampai orangtua. Namun juga ada lingkungan yang ikur misa hanya para orangtuanya. Namun secara umum kehadiran umat dalam misa lingkungan proporsional dengan jumlah umat di lingkugan.

        2.4 Pelayanan Ekaristi Harian
        Dalam beberapa bulan terakhir, gereja Stasi Paskalis Diski juga mendapat pelayanan ekaristi harian. Kebijakan ini diambil sebagai buah dari Novena Roh Kudus tahun ini yang selama 9 hari berturut-turut dirayakan ekaristi harian pada jam 05.30. Setelah Novena selesai, ditawarkan kepada umat apakah mereka bersedia merayakan ekaristi harian? Jawabannya sangat positif: “bersedia”. Sejak saat itulah dibuat ekaristi harian setiap Selasa dan Jumat, mulai pukul 05.30. Kehadiran umat dalam misa harian ini antara 50-70 orang. Bahkan ada komunitas susteran DSA yang berada di daerah Purwadadi ikut hadir dalam misa harian ini.

        2.5 Struktur kepengurusan DPS dan DPL
        Dalam struktur kepengurusan DPS sudah jauh lebih komplit dibanding dengan stasi yang lain. Hampir mirip dengan sebuah paroki mandiri. Sudah dipertimbangkan pelayanan dengan menempatkan “Soko Guru” kehidupan Gereja. Telah dibuat Bidang Pelayanan Liturgi (aspek Liturgia) dengan jumlah anggota personil yang mencukupi untuk mengurusi hal-hal liturgi seperti kor, musik gereja, dirigen, pemazmur, among tamu, dekorasi gereja, dsb. Dibentuk juga Bidang Palayanan Pewartaan (aspek Kerygma) yang juga mengurusi macam-macam hal seperti Inisiasi (baptis, komuni I dan Krisma), Kitab Suci, Terima resmi, Pendampingan Keluarga. Selanjutnya juga ada Bidang Pelayanan Kemasyarakatan (aspek Diakonia) yang memperhatikan mengenai PSE, kerasulan kematian, pendidikan, HAK dan kesehatan.

        Aspek Koinonia diwujudkan dengan Bidang Pelayanan Persekutan yang mengurusi Asmika, Areka, OMK, Pendampingan Usia Lanjut, Ibu-ibu Paroki, paguyuban bapak-bapak, dan mengkoordinir kelompok kategorial Karismatik dan Kerahiman Ilahi. Bidang-bidang pelayanan dalam pilar-pilar kehidupan gereja ini ditopang dengan adanya Bidang saran-prasarana yang menyiapkan dan mengkondisikan tempat dan keamanan segala aktifitas gereja. Oleh karena itu Bidang pelayanan yang terakhir ini mengurusi mengenai perawatan gedung gereja, mengurusi Listrik dan Soundsystem, Keamanan, Parkir dan Inventaris. Semua bergerak dalam kesatuan dengan Pengurus Harian Dewan Pastoral Stasi yang selalu membuat mekanisme rapat 1 kali dalam sebulan yaitu setiap Minggu I dalam dalam bulan. Mekanisme rapat yang lain yang dikemabangkan adalah rapat para ketua lingkugnan sebulan sekali.

        Juga ada mekanisme rapat Bidang Pelayanan yang dibuat oleh masing-masing bidang bersama dengan “TIM KERJA”. Mereka paling tidak membuat rapat bersama 2 atau 3 bulan sekali. Mekanisme Rapat Dewan Pastoral Stasi yang paling kuat adalah saat Rapat Paripurna yang dibuat sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. (lihat lampiran struktur DPS Paskalis Diski).

        2.6 Sarana Pendukung (bangunan gereja dan kelengkapannya)
        Gedung gereja Diski berdiri dalam lahan gereja yang bersatu dengan tanah sekolah. Dalam usaha mengurus legalitas tanah gereja dan sekolah ini, telah disepakati oleh pihak Harta Benda Keuskupan (Pastor Ferdy) bahwa status tanah diatasnamakan KeuskupanAgung Medan. Luas lahan seluruhnya adalah 6.878 meter persegi. Nomor Peta Bidang Tanah: 503/2018 tanggal 04 April 2018. NIB. 02.04.23.17.02518. Tanah yang dikhususkan untuk areal gereja adalah lebih kurang 1.000 meter. Dalam perjanjian dengan pihak yayasan maka ada dukungan bahwa gedung sekolah SMA Deli Murni yang berada di samping gereja, sewaktu-waktu dapat dialihkan untuk mendukung gereja stasi. Dalam hal ini MOU disimpan dan diurus oleh pihak yayasan, dan semoga didukung pengarsipannya. Bila dibutuhkan oleh pihak gereja, maka pihak sekolah yang dalam hal ini adalah Yayasan Don Bosko akan mengalihkan gedung sekolah di lahan yang lebih representatif dan menarik untuk diperkembangkan secara lebih baik.

        Gedung gereja stasi Paskalis Diski menampung kurang lebih 800-1000 umat, sudah termasuk ruang balkon dan kanopi depan gereja. Gedung Gereja ini sungguh cantik dan tampak anggun, jauh lebih bagus dibanding dengan gedung gereja paroki MBPA Binjai. Bangku umat dan fasilitas yang lain pun jauh lebih rapi dan mendukung untuk sakralitas ruang gereja.

        Untuk lahan parkir tidak menjadi permasalahan. Lahan parkir sangat luas karena bisa menggunakan halaman dan lokal yang kosong di sekitar gedung-gedung sekolah. Karena di lahan ini ada sekolah SD, SMP, SMA Rk Deli Murni Diski YPK Don Bosco yang sudah tertata dengan bagus dan prospektif. Oleh karena itu sampai sekarang ini tidak mengalami kesulitan dengan parkir bagi umat yang datang ke gereja setiap minggunya. Sekalipun bila sekolah ada kegiatan yang bersamaan dengan kegiatan gereja, maka tidak mengalami kesulitan penataan lahan parkir.

        2.7 Kekuatan Finansial
        Kekuatan finansial diukur dari beberapa kegiatan yang bersangkut dengan realitas ‘pengumpulan uang’ dalam bentuk Kolekte I, Kolekte II dan Kolekte III. Begitu juga dengan pengumpulan Damang, Amplop APP, Kegiatan Aksi Solidaritas Adven, serta kerelaan-kerelaan yang dipersembahkan oleh umat dalam kegiatan proposal tertentu. Kolekte I dalam misa minggu akan berkisar Rp 2.000.000-Rp 3.000.000. Kolekte II akan terkumpul Rp 1.000.000-Rp 1.500.000,-. Sedangkan Kolekte III untuk pembangunan akan mencapai sekitar Rp 1.000.000,-.

        Pengumpulan Damang (Dana Mandiri Gereja) di Paskalis Diski akan berkisar Rp 50.000.000,- dalam satu tahun. Begitu juga dengan kegiatan pengumpulan APP bisa tergambarkan Rp 35.000.000,-. Sedangkan untuk Aksi Solidaritas Adven di Diski akan berkisar Rp 12.561.000,- Dengan demikian kekuatan finansial di gereja ini lebih dari cukup untuk running cost hariannya, sekiranya disertai dengan prinsip-prinsip penggunaan yang baik: efisien, akuntable, dan transparan.

        2.8 Sumber Daya Manusia
        Sumber daya manusia dimaksudkan sebatas keterlibatan umat berdasar kemampuan dan kemauan. Pembatasan ini agar lebih mudah mengukur apa yang dimaksud dengan sumber daya manusia. Diukur dasi sudut kemampuan maka banyak umat yang mampu untuk menjadi aktifis dan fungsionaris dalam kegiatan dan kepengurusan gereja. Umumnya mereka telah mengalami pendidikan yang cukup. Paling rendah adalah pendidikan SMA, bahkan sebagian besar adalah lulusan D3 atau S1 dalam disiplin ilmu yang beragam. Permasalahan dari sumber manusia lebih sering berada dalam ukuran kemauan, atau kerelaan seseorang untuk memberikan waktu, tenaga dan pikiran dalam reksa pastoral gereja. Tak terkecuali di stasi Diski. Memang secara umum sudah banyak umat yang terlibat. Bisa dilihat dalam struktur Kepengurusan DPS dan DPL di stasi Diski. Dalam sermon yang baru saja dibuat di Rumah Retret Cinta Alam bisa mengumpulkan 90 orang pengurus DPS dan DPL.

        Selain Sumber daya yang berada dalam struktur kepengurusan DPS dan DPL juga bisa diukur dari keterlibatan umat dalam tugas-tugas di gereja dan di lingkungan. Saat lingkungan bertugas dalam ibadat di gereja maka bisa dilihat keterlibatan umat di lingkungan. Sumber daya manusia yang ambil bagian dalam melaksanakan tugas-tugas ibadat di gereja dan lingkungan menjadi sebuah ukuran bagaimana sesungguhnya sumber daya manusianya. Secara umum di Diski peribadatan berjalan dengan amat tertata dan dipersiapkan dengan baik. Bahwa ada hal-hal yang kurang lancar dari lingkungan tertentu atau kelompok tertentu, atau bagian tertentu dalam diri para petugas, adalah hal yang wajar.Masih bisa diperkembangkan dengan pelatihan-pelatihan yang teratur dan berkesinambungan.

        3.1 Membentuk Tim Penjajakan Persiapan Menuju Paroki Stasi St. Paskalis Diski
        Tim ini telah bergerak sejak sebelum tahun 2013 dan mencoba mendengar masukan-masukan baik dari para umat yang berada di wilayah Diski ataupun menangkap kesan-kesan yang kadang muncul dari para imam yang memimpin ekaristi di Diski. Tim ini juga berupaya untuk menggali dana persiapan paroki sehingga pada saat diputuskan menjadi suatu paroki telah ada dana finansial yang dipersiapkan.

        3.2 Melakukan Rapat Koordinasi dengan Pastor Paroki
        Rapat koordinasi dengan pastor paroki harus diakui mengalami situasi yang tidak bagus beberapa saat, sehingga terkesan stasi bergerak sendiri dan kurang terarah. Situasi ini tidak menguntungkan dalam proses persiapan. Komunikasi yang kurang bagus membuat beberapa hal berjalan seolah-olah tidak terkontrol. Syukurlah bahwa kemudian ada perubahan-perubahan yang beriringan dengan gerakan Roh Kudus yang bertiup dan membimbing ke arah yang lebih baik.

        3.3 Audiensi dengan Yang Mulia Uskup Agung Medan Anicetus B. Sinaga, OFMCap
        Audiensi dilakukan di Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai pada tanggal 24 November 2014. Audiensi ini bersifat konsultatif dan tetap dengan rendah hati menyerahkan kepada kebijakan uskup sebagai gembala utama di Keuskupan Agung Medan.

        3.4 Audiensi dengan Vikep Santo Yohanes Rasul KAM, Pastor Carolus Sembiring, OFMCap
        Audiensi dilakukan pada tanggal 29 Januari 2014. Dalam kesempatan audiensi ini juga mendapat masukan-masukan yang berarti untuk proses-proses selanjutnya.

        3.5 Sosialisasi ke Stasi-stasi sekitar Diski
        Dalam hal ini yang mau dicapai adalah upaya koordinatif sekiranya pada suatu waktu legalitas keparokian memang sungguh diterima dari otoritas yang dalam hal ini adalah keuskupan Agung Medan. Sosialisasi ini bukan sebagai kegiatan yang istimewa kerena sudah ada mekanisme pertemuan Maka yang dimaksud stasi-stasi sekitar adalah stasi-stasi yang berada di wilayah MBPA Binjai tetapi berada dalam lingkup pemerintahan Deli Serdang. Mereka itu adalah Stasi Sei Mencirim, Stasi Sei Semayang, Stasi Paluhmanan, dan Stasi Bulucina.

        3.6 Penyiapan Mental dan Spiritual Umat
        Inilah proses yang paling penting dalam rangka terbentuknya paroki. Paroki dibentuk agar perawatan jiwa-jiwa (Cura Animarum) bisa menjadi semakin maksimal. Cura Animarum ini harus melibatkan semua pihak, dalam hal ini adalah para pengurus gereja, pengurus lingkungan, keluarga-keluarga, kelompok kategorial, dan bahkan masing-masing individu umat. Harus ada arah yang kuat, kesadaran yang mendalam dan keyakinan yang teguh bahwa dengan dibentuknya suatu paroki akan semakin maksimal jiwa-jiwa yang telah bersatu dalam Kristus melalui pembaptisan menemukan perawatan dan pendampingan. Dengan begitu jiwa-jiwa tersebut semakin merasakan aman, disuburkan dengan pelayanan-pelayanan sakramen, mendapatkan siraman rohani dalam doa dan ibadat yang maksimal, serta menemukan teman peziarahan yang sejati menuju titik hidup yang bahagia dan damai.

        4. Perkembangan Data Statistik Umat St. Paskalis Diski

        NoTahunJumlah KKJumlah Umat
        1196025135
        2196543215
        3197160256
        4198090358
        520062871020
        620113561423
        720154201720
        820185032037

        5. Para Pastor yang Pernah dan Masih Berkarya di St. Paskalis Diski
        P. Diego Biggelar,OFM.Cap.(Op. Bornok) [1950 - an]
        P. Pennox 1956 P. Pock [1957] 
        P. AGP. Datubara, OFM.Cap [1959 – 1967] 
        P. Martin, PME [1968 – 1970] 
        P. Gregory PME, P.Magella PME, P.Josue,OFM.Cap [1970 – 1984]
        P. Esdras Tarigan 1983 P. Julius Sukardi, Pr [1984 – 1990] 
        P. Gito Wiratno, Pr [1984 – 1984] 
        P. Y. Winarto, Pr [1984 – 1990] 
        P. Suyadi, Pr [1990 – 1994] 
        P. Supriyanto, Pr [1990 – 1994] 
        P. Jimmy Barus, Pr [1995] 
        P. Th. Surasto, Pr [1994 – 1996] 
        P.M. Sarjan, Pr [1994] 
        P. FX. Murdisusanto, Pr [1996 – 1999] 
        P. S. Eka Bhakti Sutapa, Pr [1996 – 1999] 
        P. Ig. Suharyono, Pr [1997 – 2001] 
        P. Ag. Giono D, Pr [1999 – 2005] 
        P. A.Tri Sujarwadi, Pr [2001 – 2003] 
        P. Al. Martoyoto, Pr [2002 – 2004] 
        P. Beni Sura Purba, Pr [2004 – 2005] 
        P. Yohanes Yunuar Ismadi, Pr [2004 – 2007] 
        P. Adrianus Maradiyo [2005 – 2008] 
        P. Asrot Purba [2006 – 2008] 
        P. Hubertus Subiyanto [2007 – 2010] 
        P. Alpinus Selman Sipayung, [2008 - 2010]
        RD. Bonifasius Benny Bambang Sumintarto [2008 - 2012] 
        RD. Pernandus Perdi Saragi [2009 - 2013]
        RD. Yulius Purnomo [2009 - 2011]
        RD. Yohannes Sunyata [2012 - 2017] 
        RD. Fransiskus Xaverius Cahyo Handoko [2012 – 2014] 
        RD Dedi Sembiring [2014 - 2017] 
        RD Henry Simbolon [2014 - 2017] 
        RD Andika Tarigan [2017 - 2018] 
        RD Sautma Manullang [2017 – 2020] 
        RD Ignasius Sukawalyana [2017 –2020] 
        RP Yoseph Markus Arkian, CMF [2019 – 2021] 
        RP Dominikus Kabosu Tae, CMF [2019 – sekarang] 
        RP Marselinus Bedin, CMF [2021 - sekarang]

        6. Nama-nama Vorhanger/Ketua Dewan Stasi
        Bpk. W. Sibarani (1963)
        Bpk. J.D. Sitanggang (1963 – 1974)
        Bpk. SE. Saragih (1974 – 1986)
        Bpk. Letkol (Purn) AR. Pinem (1986 – 1989)
        Bpk. SE. Saragih (1989 – 1995)
        Bpk. B. Sijabat (1995 – 1998)
        Bpk. S. Munthe (1998 – 2005)
        Bpk. Sebastianus. P. Lumban Gaol, SH (2005 – 2013)
        Bpk. Drs. Ngulihi Sembiring (2013 – 2017)
        Bpk Masa Ginting (2018 – sekarang)

        7. Penutup
        Kami sampaikan presentasi ini dalam segala keterbatasan, ada banyak hal yang belum bisa diungkap dengan baik, entah itu sesuatu yang yang positif ataupun sebaliknya sesuatu yang negatif dan perlu diperkembangkan lagi. Bukan juga karena sudah memilik dana dan kemampuan yang cukup, tetapi justru dalam keterbatasan dan kelemahan. Namun semua demi kemuliaan dan kemuliaan Tuhan yang semoga dialami dan dirasakan dalam “Cura Animarum” – Perawatan Jiwa-jiwa yang telah bersatu dengan Kristus dalam pembaptisan, dan telah hidup bersama dalam Gereja KudusNya. Oleh karena itu, dalam segala kelemahan, kami dikuatkan, disemangati dan berharap akan kemurahan Tuhan yang mengalir melalui Yang Mulia Bapak Uskup Agung Medan dan anggota Dewan Imam yang terkasih.
        Terima kasih. Berkah Dalem.

        Warta Kuria (Maret-April 2026)

        1. Berjalan Bersama Menjadi Garam dan Terang Dunia 27 Mar 2026

        Audiensi KSFL dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap pada 27 Maret 2026 menjadi momen syukur dan evaluasi atas hidup dan karya para suster KSFL di Indonesia. Bapa Uskup menegaskan pentingnya audiensi tahunan, buah doa yang nyata dalam hidup harian, serta pendalaman iman untuk meneguhkan pelayanan kongregasi.

        KSFL, dengan jumlah anggota 295 suster yang terlibat dalam karya pendidikan, kesehatan, pastoral, dan sosial, hadir di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua. Perayaan Yubileum 100 tahun KSFL melahirkan komitmen lima tahunan, yakni pendalaman hidup rohani, penguatan persaudaraan, rencana pemekaran regio, pembukaan formatio di Papua, revitalisasi karya sosial, penguatan JPIC dan media serta persiapan misi ke Timor Leste. Sepanjang tahun 2026 karya dan refleksi KSFL difokuskan pada tema: “Berjalan Bersama Menjadi Garam dan Terang Dunia seturut Kharisma dan Spiritualitas KSFL.

        Bapa Uskup meminta agar laporan yang disampaikan kongregasi dalam audiensi selama 1 jam 10 menit ini diisi dengan refleksi persaudaraan dan peristiwa penting dalam terang kehendak Allah. Komitmen KSFL di bidang ekologi, media, keluarga dan human trafficking diarahkan pada seruan Paus Fransiskus pada Tahun Hidup Bakti (2014) “awaken the world,” agar hidup bakti menjadi tanda profetis. Beliau juga menyampaikan kebutuhan tenaga KSFL untuk sekretariat, komisi keluarga, ahli hukum Gereja dan katekis, serta mengingatkan dukungan dana bagi dua seminaris dan masa berlaku Conventio Scripta sampai 2027.

        Uskup dan moderator mengapresiasi stabilitas dan semangat KSFL, khususnya di tempat miskin. Sr. Oktaviana, sambil mengucapkan terima kasih, menegaskan kembali komitmen mereka untuk menghidupi spiritualitas “membangunkan dunia”, bermedia sosial secara bijak, menata kunjungan keluarga, menindaklanjuti permintaan tenaga dan biaya seminaris, serta mendukung studi S3 Sr. Gerarda. Bapa Uskup memberikan berkat untuk meneguhkan hidup dan karya para suster KSFL.

        2. Menggali Warisan Leluhur, Menguatkan Persaudaraan bersama Parsadaan Purba Pakpak
        27 Mar 2026

        Panitia Harungguon Bolon, Patappei Sihilap, dan Marsombuh Sihol Parsadaan Purba Pakpak Boru Panagolan wilayah Kota Medan dan sekitarnya mengadakan audiensi kepada Uskup Agung Medan pada 27 Maret 2026. Dalam pertemuan ini, panitia menyerahkan proposal kegiatan sekaligus memohon arahan pastoral dan peneguhan atas rencana pelaksanaan Harungguon Bolon dan Patappei Sihilap. Audiensi ini menunjukkan kecintaan Gereja kepada budaya lokal sebagai wadah pewartaan iman.

        Harungguon Bolon merupakan musyawarah besar adat Simalungun untuk mengambil keputusan-keputusan penting, sedangkan Patappei Sihilap adalah upacara pengukuhan atau pelantikan pengurus adat. Kedua kegiatan ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan, melestarikan budaya serta meneguhkan kepemimpinan dalam komunitas Parsadaan Purba Pakpak Boru Panagolan, sehingga nilai-nilai adat dan iman berjalan seiring di tengah dinamika zaman.

        Dalam arahannya, Uskup Agung menekankan pentingnya menggali dan menghidupi kembali nilai-nilai luhur warisan leluhur, khususnya semangat Opung Parultop-ultop Purba Pakpak Panagolan. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi kekuatan untuk membangun persatuan, memupuk kebersamaan yang perlu diwariskan lintas generasi, bahkan dirumuskan secara konkret dalam anggaran dasar dan rumah tangga komunitas. Atas bimbingan dan sambutan hangat ini, panitia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih, sekaligus termotivasi untuk terus menghidupi semangat persaudaraan dan kearifan leluhur dalam kehidupan sehari-hari.

        3. Menata Arah Pelayanan dan Pemulihan Pascabencana 2026
        28 Mar 2026

        Yayasan Caritas PSE KAM menggelar Rapat Tri Organ pada 28 Maret 2026 untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja tahun 2025 sekaligus merumuskan arah pelayanan tahun 2026. Rapat yang mempertemukan Dewan Pembina, Dewan Pengawas dan Dewan Pengurus ini membahas berbagai program strategis yang tetap mengacu pada divisi-divisi pelayanan yang telah berjalan, dengan penekanan khusus pada upaya pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera Utara dan Aceh Tamiang.

        Fokus utama program tahun 2026 meliputi pemulihan ekonomi, pendidikan serta pembangunan hunian tetap dan rekonstruksi rumah bagi masyarakat terdampak banjir. Sebanyak 639 kepala keluarga (KK) rentan menjadi sasaran program pemulihan ekonomi, disertai perhatian khusus bagi 166 mahasiswa di wilayah terdampak. Selain itu, direncanakan pembangunan dan rekonstruksi sekitar 50 unit rumah di beberapa daerah, antara lain Pakkat, Dolok Sanggul, Tarutung, Pangkalan Brandan dan Aceh Tamiang. Duduk bersama ini juga menegaskan pentingnya advokasi di bidang lingkungan hidup dan ekologi, sejalan dengan semangat ensiklik Laudato Si’ serta penguatan upaya pencegahan tindak pidana perdagangan manusia.

        Masukan yang konstruktif dari Dewan Pembina dan Dewan Pengawas menjadi landasan penting bagi Dewan Pengurus dalam menyempurnakan program kerja dan penyusunan anggaran 2026. Setiap langkah pelayanan Caritas PSE KAM diharapkan semakin terarah, berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terdampak bencana sekaligus menjaga martabat dan keutuhan kehidupan bersama.

        4. Panggilan berjalan bersama untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan 30-31 Mar 2026

        Hari Pengudusan Imam Keuskupan Agung Medan tahun 2026 dirayakan di CC PPU Pematangsiantar, 30–31 Maret 2026. Sebanyak 203 imam dan para diakon hadir dalam persekutuan ini. Melalui tema Yubileum St. Fransiskus Assisi, Bapa Uskup Kornelius Sipayung, OFMCap menegaskan kembali bahwa imam bukan untuk dirinya sendiri, melainkan dipanggil untuk masuk ke dalam misi Yesus. Imam pertama-tama dipanggil untuk tinggal bersama Yesus dan mengalami keintiman dengan-Nya. Kedalaman relasi ini melahirkan kekuatan untuk bermisi dan mewartakan Kerajaan Allah.

        Rekoleksi pengudusan imam dibawakan oleh RP. Fictorium Natanael Ginting OFMConv, yang memperkenalkan kembali figur St. Fransiskus, sejarah pertobatannya dan makna Tahun Yubileum Fransiskan yang dipromulgasikan oleh Paus Leo XIV. Dalam semangat “Il Signore vi dia la pace” – “Tuhan memberi kalian damai” – para imam diajak menghidupi kembali spiritualitas Fransiskus, yakni damai, belarasa (misericordia), kesederhanaan dan kedekatan dengan Injil. Paus Fransiskus melalui ensiklik Fratelli Tutti, Christus Vivit dan Laudato Si’ menekankan kembali penghayatan semangat ini dan menuntun Gereja untuk keluar dari mentalitas institusionalisasi dan kembali kepada Injil sebagai Kabar Gembira dan persona Kristus sendiri. St. Fransiskus dihadirkan sebagai teladan yang “menghidupi Injil” lebih daripada sekadar mewartakannya. Tugas utama Gereja dan para imam, demikian ditekankan, adalah menghidupi Injil secara konkret di tengah dunia yang terluka, dalam pangkuan Gereja dan bersama umat.

        Puncak perayaan berlangsung pada 31 Maret 2026 pukul 17.00 dengan Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Krisma di Gereja Jl. Sibolga, Pematangsiantar, dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Sekitar 300-an imam ikut berkonselebrasi. Dalam homilinya, Bapa Uskup kembali menegaskan inti imamat sebagai pengabdian total kepada Allah melalui Ekaristi. Sumber dan puncak kehidupan Gereja ini menguduskan imam dan umat Allah. Oleh karena itu, imam dipanggil untuk terus memupuk keintiman dengan Kristus dalam doa dan meditasi. Perayaan Misa Krisma ini menampakkan kesatuan para imam dengan Uskup sebagai gembala utama keuskupan. Acara ditutup dengan ramah tamah dan santap bersama sebagai ungkapan syukur atas rahmat pelayanan imamat dan persaudaraan yang terus diperbarui dalam terang Injil dan spiritualitas St. Fransiskus.

        5. Menata Arah Pelayanan Pastoral: Wawan Hati Imam dengan Uskup Agung Medan 1 April 2026

        Suasana hangat dan penuh keterbukaan mewarnai Pertemuan Wawan Hati antara Uskup Agung Medan dan para imam moderator paroki serta ketua-ketua komisi pada 1 April 2026 di CC-PPU Pematangsiantar. Sebanyak 89 imam hadir menanggapi undangan yang sesungguhnya lahir dari “bawah”, yakni kerinduan para parokus untuk dapat berbicara dari hati ke hati dengan Bapa Uskup mengenai arah dan wajah pelayanan pastoral Keuskupan Agung Medan ke depan.

        Dalam hantarannya, Bapa Uskup mengekspresikan apresiasi atas dedikasi para imam dan karya beragam komisi di tengah umat. Ia menegaskan bahwa Gereja Keuskupan tengah memasuki fase penting penataan struktur dan tata kelola pastoral, yakni memperjelas peran Kuria, Dewan Presbiteral, Dewan Pastoral Keuskupan, komisi-komisi serta meneguhkan fungsi Dewan Keuangan Paroki yang hingga kini masih belum aktif di banyak paroki. Di saat yang sama, keuskupan terus bergerak memperluas jangkauan pelayanan melalui pendirian dan pemekaran kuasi paroki baru seperti Santo Bonaventura Saran Padang dan Santo Petrus dan Paulus Pangaribuan, pemetaan ulang wilayah stasi, penguatan bina iman anak dan remaja, sinergi dengan Bimas Katolik untuk pengadaan guru agama di sekolah negeri serta penerapan aplikasi BIDUK Sakramen dan SOP sekretariat paroki demi administrasi yang lebih tertib dan profesional.

        Sesi wawan hati menjadi ruang dialog yang hidup. Para imam mengangkat beragam realitas lapangan, antara lain, administrasi sakramen dan perbedaan data, status pegawai sekretariat, pembentukan dan SK dewan-dewan paroki, pemanfaatan dana APP untuk beasiswa, pemekaran dan pemindahan stasi, hingga usulan penataan ulang jadwal Hari Pengudusan Imam dan format Wawan Hati agar lebih bercorak sharing dan correctio fraterna. Uskup menyambut masukan tersebut sambil menegaskan pentingnya koordinasi pastoral tahunan setelah tersusunnya program keuskupan serta membuka kembali ruang wawan hati personal bagi para imam yang membutuhkan pendampingan langsung. Pertemuan ini menandai langkah konkret Gereja Keuskupan Agung Medan untuk terus bertumbuh sebagai Gereja yang sinodal: berjalan bersama untuk saling mendengarkan dan bersama-sama menata pelayanan yang bertanggung jawab dan semakin kontekstual.

        6. Kunjungan ke Taman Sains Herbal dan Hortikultura Humbang Hasundutan

        1 April 2026

        Keuskupan Agung Medan, diwakili oleh RD. Sabat Nababan, menyaksikan kunjungan kerja Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan Menteri Koordinator Bidang Pangan ke Taman Sains Herebal dan Hortikultura (TSTH 2) Desa Aek Nauli I Kecamatan Pollung pada 1 April 2026. Kawasan seluas sekitar 500 ha ini sedang dikembangkan menjadi pusat riset strategis.

        Dalam pemaparannya, Direktur Del dan Prof. Sri Fatmawati menjelaskan bahwa TSTH2 ditargetkan menjadi pusat riset herbal dan hortikultura bertaraf internasional yang mendukung kemandirian benih dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Langkah-langkah yang ditempuh ialah pengembangan benih unggul, teknologi pascapanen, produk fitofarmaka dan pupuk hayati, didukung oleh pembangunan gedung riset, smart greenhouse dan inkubator. Hasil riset diarahkan hingga tahap komersialisasi, antara lain kemenyan, kopi, empon-empon, bawang putih dan kentang berkolaborasi BRIN, perguruan tinggi, pemerintah dan mitra internasional.

        Pada kesempatan ini dipresentasikan juga aplikasi JUMA AI untuk membantu dinas pertanian se-Tapanuli Raya mengumpulkan data riil komoditas, mencegah over produksi serta mendeteksi hama dan penyakit. Kunjungan diakhiri dengan peninjauan smart greenhouse pembibitan dan koleksi tanaman herbal yang disiapkan untuk mendukung peningkatan kesehatan dan ekonomi masyarakat.

        7. Syukur Atas Imamat dan Anugerah Ekaristi: Jamuan Menyongsong Triduum Paska

        2 April 2026

        Pada 2 April 2026, Bapa Uskup dan para imam Kevikepan Medan berkumpul di gedung Catholic Center untuk merayakan pesta Imamat dan pendirian Ekaristi. Dalam suasana syukur dan persaudaraan, Gereja kembali mengenangkan anugerah agung yang diberikan Kristus kepada Gereja pada malam sebelum sengsara-Nya. Kegiatan ini merayakan dua pokok, yakni Ekaristi sebagai perjamuan keselamatan dan imamat sebagai pelayanan yang menjaga agar misteri keselamatan tetap hidup di tengah umat. Dimensi ini diperdalam dengan pengenangan akan jamuan Paskah Yahudi yang melatari Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid.

        Melalui ritus sederhana, diberkatilah anak domba, sayuran, roti tak beragi dan anggur sebagai simbol pembebasan Israel dari perbudakan Mesir dan tanda karya keselamatan Allah dalam sejarah. Umat diajak melihat tanda-tanda ini sebagai jalan untuk memahami Ekaristi sebagai penggenapan karya keselamatan dalam diri Kristus.

        Perjamuan bersama yang sebagai akhir dari perayaan ini dihayati sebagai wujud persaudaraan dan persiapan rohani menyongsong Tri Hari Paskah untuk memasuki misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan. Kegiatan ini mengingatkan kita bahwa Paskah bukan peristiwa masa lampau semata, melainkan misteri iman yang terus hidup dalam Gereja melalui Ekaristi dan pelayanan para imam.

        8. Gereja Bertumbuh, Umat Berjalan Bersama

        7 April 2026

        Pada 7 April 2026, pukul 20.00 WIB, senja yang beranjak malam menyelimuti Pastoran Paroki Santo Mikhael Pangururan. Dalam kehangatan yang bersahaja, Bapa Uskup Agung Medan hadir dan duduk satu meja bersama Pastor Paroki, Dewan Pastoral Paroki Harian (DPPH), Dewan Pastoral Stasi serta panitia pembangunan gereja. Tanpa seremoni berlebihan, pertemuan berlangsung dalam suasana dialog sederhana yang menyatukan hati dalam iman dan pelayanan.

        Dalam nuansa penuh syukur, panitia pembangunan Gereja Stasi Santo Paulus Saitnihuta memaparkan perkembangan pembangunan yang telah diupayakan dengan doa, kerja keras dan pengorbanan umat. Bata demi bata yang tersusun menjadi tanda kasih dan kepedulian banyak pihak, sekaligus mengungkapkan bahwa perjalanan ini belum selesai. Dukungan dana masih sangat dibutuhkan agar karya pembangunan dapat diteruskan hingga tahap penyelesaian, sebagai undangan bagi seluruh umat untuk terus berjalan bersama.

        Pertemuan ini menjadi ruang perjumpaan yang hening namun berdaya: gembala dan umat saling mendengarkan, berbagi harapan dan mencari jalan bersama demi terwujudnya rumah doa di tengah umat. Di balik rangka dan dinding gereja yang sedang dibangun, tumbuh pula persekutuan yang hidup dalam harapan, persaudaraan dan kesetiaan kepada Kristus. Di sanalah Gereja sejati bertumbuh, bukan hanya dalam megahnya bangunan, melainkan dalam hati umat yang saling meneguhkan dalam iman dan kasih. Mari berjalan bersama untuk saling mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan.

        9. Tata Kelola Dana Pensiun KWI: Tanggung Jawab Ekonomis dan Gerejani

        10 April 2026

        Pada 10 April 2026, pertemuan Mitra Pendiri Dana Pensiun KWI wilayah Keuskupan Agung Medan berlangsung di Gedung Catholic Center Medan dalam suasana penuh tanggung jawab dan semangat kebersamaan. Momen penting ini hendak menegaskan arah pengelolaan dana pensiun, khususnya dalam proses perubahan dari Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) menuju Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP).

        Suasana yang serius dan konstruktif mewarnai pemaparan mengenai dinamika perubahan tersebut serta berbagai konsekuensi yang perlu ditimbang secara matang. Pembahasan juga menyentuh aspek-aspek teknis yang krusial, seperti ketentuan perhitungan aktuaria dan opsi-opsi penyelesaian terkait piutang iuran tambahan. Semua ini menunjukkan perhatian Gereja terhadap fondasi yang kokoh, yakni pengelolaan yang transparan, akuntabel dan berorientasi pada keberlanjutan.

        Langkah-langkah administratif yang dirumuskan dalam pertemuan ini memperlihatkan dimensi ekonomis yang dijalankan dalam kerangka perwujudan nilai gerejani, yakni merawat kesejahteraan para pelayan Gereja kini dan kelak. Dalam semangat sinodalitas untuk mendengarkan, berdiskusi dan mengambil keputusan bersama Gereja berkomitmen menghadirkan tata kelola yang bijaksana, agar pengharapan tetap terjaga dan kebaikan bersama terus dirawat secara nyata.

        10. Pemberkatan Pastoran Paroki Simalingkar B - Gereja yang Hidup dan Melayani

        12 April 2026

        Pada 12 April 2026, Bapa Uskup Agung Medan memimpin pemberkatan Pastoran Paroki Santo Fransiskus Xaverius Simalingkar B. Kegiatan ini menandai selesainya pembangunan sekaligus menjadi tanda nyata kehadiran Gereja yang hidup dan melayani di tengah umat. Pada kesempatan tersebut, Bapa Uskup menerima dan meneguhkan laporan pertanggungjawaban panitia pembangunan sebagai wujud karya bersama yang lahir dari iman, pengorbanan dan semangat gotong royong. Penyerahan dokumen dan kunci kepada Pastor Paroki menjadi penanda dimulainya babak baru, yakni pastoran sebagai rumah pelayanan tempat gembala tinggal dan mendampingi umat. Perayaan ini menjadi saat sukacita karena Bapa Uskup secara resmi mempromulgasikan kenaikan status Kuasi Paroki menjadi Paroki Santo Fransiskus Xaverius Simalingkar B.

        Pembukaan pintu pastoran diharapkan menjadi awal harapan pelayanan yang semakin dekat, hangat dan penuh kasih; tempat doa, kekuatan rohani serta pelayanan yang tulus bagi umat Allah. Setelah doa sesudah komuni, perayaan dilanjutkan dengan perarakan menuju Taman Doa Maria Ratu. Dalam doa pemberkatan, Bapa Uskup memohon agar taman doa tersebut menjadi tempat umat dikuatkan dalam iman, diteguhkan dalam harapan dan dipenuhi kasih serta kerendahan hati.

        Melalui kehadiran Taman Doa Maria Ratu, umat diharapkan semakin mampu menghadapi suka dan duka serta dipanggil menjadi pembawa damai dan pelaku keadilan, sehingga perjalanan hidup berujung pada kepenuhan dalam Kerajaan Allah melalui pengantaraan Kristus, Tuhan kita.

        11. Tim Kolaboratif Kanselarius KAM: Langkah Baru Pelayanan Administrasi yang Sinodal

        14 April 2026

        Pada 14 April 2026, di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung CC Medan diselenggarakan Pertemuan Perdana Tim Kolaboratif Kanselarius Keuskupan Agung Medan. Pertemuan ini dipimpin oleh Kanselarius KAM, RP. Adrianus Sembiring, OFMCap, sebagai Ketua Tim. Tim ini beranggotakan para profesional dari beragam latar belakang, yakni Samuel Surbakti, Sr. Melania Siringoringo FSE, Dr. Aryanto Tinambunan, Dr. Relita Buaton, ST., M.Kom, Florensia Tobing, Evanson Sihotang, Prof. Dr. Kimberly Febrina Kodrat, M.S., M.Kes., MT dan Fictroy Modestus Rumahorbo, S.S.I. Komposisi lintas bidang tersebut mencerminkan semangat kolaborasi yang kuat untuk mendukung pelayanan keuskupan.

        Pembentukan Tim Kolaboratif Kanselarius KAM merupakan perwujudan konkret Gereja yang bersinodal: berjalan bersama untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan. Pertemuan perdana ini menjadi langkah awal membangun sinergi demi pelayanan sekretariat yang lebih tertata, efektif dan responsif terhadap perkembangan zaman. Pokok utama yang dibahas mencakup rencana pengembangan sistem e-office dan penataan arsip berbasis Dewey Decimal Classification (DDC). Keduanya menjadi bagian dari upaya transformasi pelayanan administrasi di lingkungan Keuskupan Agung Medan. Seluruh anggota tim menyatakan komitmen dan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Mereka siap berkontribusi sesuai dengan kompetensi masing-masing demi pelayanan Gereja yang semakin profesional untuk hadir sebagai garam dan terang dunia.

        12. Mengenang Jasa, Meneruskan Pengabdian: Ziarah ke Makam Pahlawan

        15 April 2026

        Pada 15 April 2026, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengadakan ziarah ke Makam Pahlawan di Jalan Sisingamangaraja, Medan dalam rangka memperingati HUT Provinsi Sumatera Utara yang ke-78. Seluruh unsur Pemerintah Provinsi Sumatera Utara baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif serta TNI–Polri dan berbagai lembaga lainnya berpartisipasi dalam ziarah ini. Keuskupan Agung Medan turut ambil bagian dalam perayaan ini melalui kehadiran RD Gundo Saragih, bersama wakil dari gereja-gereja Protestan yang tergabung dalam PGI Wilayah Medan. Kehadiran tokoh-tokoh Gereja di tengah acara resmi pemerintah ini menegaskan komitmen bersama untuk membangun Sumatera Utara dalam semangat persatuan dan kebersamaan lintas lembaga dan agama.

        Ziarah dipimpin oleh Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. Rangkaian acara meliputi penghormatan kepada para pahlawan, mengheningkan cipta, peletakan karangan bunga, doa serta penaburan bunga di beberapa makam pahlawan. Dalam suasana hening dan khidmat para peserta diajak merenungkan kembali nilai-nilai perjuangan, pengorbanan dan cinta tanah air yang telah diwariskan para pendahulu. Melalui ziarah ini diharapkan jasa dan pengabdian para pahlawan yang telah berkontribusi bagi Provinsi Sumatera Utara tidak hanya dikenang, tetapi juga diwujudkan kembali dalam karya nyata. Semoga semangat para pahlawan menginspirasi seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun Sumatera Utara yang lebih adil, sejahtera dan bermartabat.

        13. Standarisasi Tata Kelola Pelayanan: Pentingnya SOP Unit dan Komisi

        15 April 2026

        Pada 15 April 2026 unit dan Komisi-Komisi Keuskupan Agung Medan mengadakan rapat penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP). Rapat dipimpin oleh RP. Adrianus Sembiring OFMCap selaku Kanselarius KAM. Rapat menekankan bahwa SOP diperlukan agar cara kerja antar komisi dan unit menjadi lebih seragam, tertib dan jelas. SOP juga dipandang penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan, memudahkan koordinasi serta membuat setiap kegiatan memiliki catatan dan dasar kerja yang rapi. SOP adalah kebutuhan yang mendesak agar pelayanan berjalan lebih baik dan berkelanjutan.

        Rapat menyepakati bahwa penyusunan SOP akan mengacu pada peraturan yang berlaku, sekaligus menyesuaikan dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing unit dan komisi. Peserta juga membahas perlunya pengaturan mekanisme kerja antar komisi agar alur koordinasi tidak berjalan sendiri-sendiri. Selain isi SOP, rapat turut menentukan format dokumen dan bagian-bagian yang harus ada di setiap SOP, misalnya tujuan, ruang lingkup, pihak terkait, prosedur kerja, hingga ketentuan pengesahan. Sebagai contoh, dipaparkan praktik SOP pengelolaan surat masuk.

        Terkait pelaksanaan, rapat mengacu pada timeline penyusunan hingga finalisasi. Meski sempat ada usulan penyesuaian jadwal, timeline tetap dipertahankan untuk menjaga konsistensi. Jika ada kendala, unit/komisi diminta berkoordinasi dengan penanggung jawab SOP, Sr. Melania Siringoringo FSE.

        Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.

        RP. Adrianus Sembiring OFMCap
        Kanselarius Keuskupan Agung Medan

        HBD RD Benno Ola Tage – Ketua Komisi Komunikasi Sosial & Hubungan Antar-Agama dan Kepercayaan KAM

        Selamat ulang tahun RD Benno Ola Tage.
        Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, sukacita, dan damai dalam setiap karya pelayanan pastor, terlebih dalam tugas di Komisi Komunikasi Sosial serta Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Medan.

        Kiranya Roh Kudus terus menuntun Pastor menjadi pewarta kasih Kristus, pembawa persaudaraan, dan jembatan dialog yang menghadirkan harapan serta persatuan bagi banyak orang.

        Ad multos annos dan Tuhan memberkati pelayanan Pastor selalu.

        Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI)

        0

        Ketua : RD. Josep P. Gultom ex officio Dirdios
        Wakil Ketua 1 : RD. Silvester Asan Marlin
        Wakil Ketua 2 : Sr. Felisita Sitanggang KSSY
        Anggota:
        1. RP. Fiorentius Sipayung OFMCap
        2. Paulinus Tibo
        3. Nova Florentina
        4. Marulam Nainggolan
        5. Maria Linda
        6. Ruth Saktini Devio Yolanda Harahap
        7. Idola Pagella Magdalena Simamora
        8. Sr. Egidia Br. Sitanggang SFD
        9. RP. Martinus Nule SVD

        Berlaku sejak 12 Mei 2026 untuk masa bakti 5 (lima) tahun sampai dengan 11 Mei 2031

          1. Merencanakan dan menyelenggarakan program-program untuk menumbuhkan kesadaran akan panggilan menjadi imam dan hidup bakti.
          2. Menyediakan dan memberikan informasi, promosi dan edukasi tentang panggilan menjadi imam dan hidup bakti.
          3. Memberikan penyadaran umat akan tanggung jawabnya dalam memajukan panggilan menjadi imam dan hidup bakti.
          4. Menyusun dan memastikan penggunaan bahan-bahan Hari Minggu Panggilan di kevikepan, paroki, sekolah dan kelompok-kelompok gerejawi.
          5. Meningkatkan derma/kolekte untuk mendukung pendidikan calon imam dan hidup bakti.
          6. Menjalin kerja sama dengan kongregasi, tarekat, komisi atau lembaga lain dalam usaha penumbuhan panggilan di Keuskupan Agung Medan.

          Kuasi Paroki Juhar

          PelindungSanto Paulus
          Buku Paroki02 Mei 2026, yang sebelumnya bergabung dengan Paroki St Fransiskus Asisi, Tiga Binanga dan Paroki St Petrus dan Paulus, Kabanjahe
          Meliputi WilayahSekitar Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara
          AlamatDesa Juhar, Kec. Juhar, Kab. Karo, Provinsi Sumatera Utara
          HP / WA082372023306
          Email[email protected]
          Jumlah Umat1.141 KK/ 3.546 jiwa (data BIDUK per Mei 2026)
          Jumlah Stasi11 (Sebelas)

          Administrator Kuasi Paroki
          1. St. Paulus, Juhar
          2. St. Hironimus, Pinem
          3. St. Clara, Juma Baru
          4. St. Monika, Rambah Telko
          5. St. Lusia, Lau Lingga
          6. St. Dionisius, Sugihen
          7. St. Hieronimus, Naga
          8. St. Felix Kantalasia, Sigedang
          9. St. Ludovikus, Nageri
          10. St. Yoseph, Suka Babo
          11. St. Yohanes Rasul, Pernantin

          Tim Optimasi Bina Iman Anak dan Remaja

          KetuaRD. Josep Parasian Gultom
          SekretarisRP. Serafin Dany Sanusi OSC
          BendaharaMegaria Tampubolon
          Anggota1. Sr. Felisita Sitanggang KSSY
          2. Lundu Sitohang S.Pd
          3. Nova Florentina
          4. Tri Sujarwadi, S.S., M.Th
          5. Marulam Nainggolan
          6. Paulinus Tibo
          NotulisLili Estrelita Silalahi
          Masa Tugas27 April 2026 - 30 September 2029

          1. Mengkaji aspek-aspek dalam kegiatan "Bina Iman Anak dan Remaja" yang membutuhkan peningkatan, termasuk metode pembinaan, materi yang digunakan, dan keterlibatan peserta.
          2. Melakukan evaluasi terhadap efektivitas kegiatan yang telah berlangsung untuk menemukan titik lemah dan potensi perbaikan.
          3. Merancang strategi dan tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas program, berdasarkan hasil evaluasi.
          4. Menyusun panduan langkah-langkah pengembangan program yang dapat diterapkan untuk mencapai hasil yang lebih optimal.
          5. Memperbarui materi pembinaan agar sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan anak dan remaja dalam hal pembinaan iman.
          6. Meningkatkan metode pembelajaran dengan menerapkan teknik yang lebih interaktif dan relevan dengan generasi muda.
          7. Melakukan pemantauan dan evaluasi berkelanjutan terhadap hasil dari optimasi program, untuk menjamin keberhasilan implementasi dan mencapai tujuan yang diinginkan.