| Pelindung | Santo Paulus | |
| Buku Paroki | 02 Mei 2026, yang sebelumnya bergabung dengan Paroki St Fransiskus Asisi, Tiga Binanga dan Paroki St Petrus dan Paulus, Kabanjahe | |
| Meliputi Wilayah | Sekitar Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara | |
| Alamat | Desa Juhar, Kec. Juhar, Kab. Karo, Provinsi Sumatera Utara | |
| HP / WA | - | |
| - | ||
| Jumlah Umat | ||
| Jumlah Stasi | 11 (sebelas) | |
| Administrator Kuasi Paroki | RP. Alfred F. Karo-karo OFMCap | 19 Januari 1987 |
| Gereja Stasi | ||
| 1) St. Paulus, Juhar | 7) St. Hironimus, Pinem | |
| 2) St. Clara, Juma Baru | 8) St. Monika, Rambah Telko | |
| 3) St. Lusia, Lau Lingga | 9) St. Dionisius, Sugihen | |
| 4) St. Hieronimus, Naga | 10) St. Felix Kantalasia, Sigedang | |
| 5) St. Ludovikus, Nageri | 11) St. Yoseph, Suka Babo | |
| 6) St. Yohanes Rasul, Pernantin | ||
Kuasi Paroki Juhar
Kabar Duka dari Kongregasi KSFL
Keuskupan Agung Medan menyampaikan turut berdukacita yang mendalam atas berpulangnya Sr. Lidwina Situmorang KSFL, dalam usia 46 tahun.
Dalam iman akan Kristus yang bangkit, kita berpegang teguh pada sabda Tuhan: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes 11:25).
Semoga Suster Alm. yang telah mempersembahkan hidup dalam panggilan bakti, kini beristirahat dalam damai kasih Tuhan dan memperoleh kepenuhan hidup kekal di rumah Bapa.
Kami mendoakan agar Kongregasi KSFL, keluarga yang ditinggalkan, serta seluruh umat yang mengenal Suster ini diteguhkan dalam pengharapan Kristiani, bahwa kematian bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan abadi.
Selamat jalan Sr. Lidwina Situmorang KSFL. Requiescat in pace.Ikuti Perlombaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 60
LOMBA HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE 60
1. LOMBA KOREOGRAFI THEMESONG HARI KOMSOS 2026
2. LOMBA VIDEO KREATIF
3. LOMBA MENULIS OPINI
Tur Ziarah & Rekreasi di Sumatera Utara 5D4N
28 Januari – 1 Februari 2026
Perjalanan ini bukan sekadar wisata. Ia adalah langkah iman, perjalanan hati, dan momen kebersamaan yang menguatkan.
Selama lima hari empat malam, rombongan peziarah menyusuri wilayah Keuskupan Agung Medan dengan semangat doa dan persaudaraan. Setibanya di Bandara Internasional Kualanamu, perjalanan langsung diarahkan menuju Pematangsiantar. Di sana, suasana hening dan penuh rahmat terasa saat mengikuti Misa di Gereja Kerahiman Ilahi St. Laurentius. Perjalanan iman itu semakin bermakna ketika rombongan berbagi kasih bersama anak-anak di Panti Asuhan Bhakti Luhur.
Langkah ziarah berlanjut menyusuri keindahan Danau Toba—dari Parapat, Doloksanggul, hingga Pulau Samosir. Di Gereja Paroki Santo Fidelis Doloksanggul dan Gereja St. Mikael Pangururan, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk. Puncak pengalaman rohani juga dirasakan saat berdoa di Gereja Katedral Medan dan mengunjungi Graha Maria Annai Velangkanni—tempat yang menghadirkan nuansa devosi yang mendalam.
Keindahan ciptaan Tuhan terpampang nyata di Bukit Sibea-bea dengan Patung Yesus Penebus yang megah, di Bukit Holbung yang memanjakan mata, serta di Huta Siallagan yang memperkenalkan kekayaan budaya Batak. Perjalanan juga diperkaya dengan kunjungan sejarah ke Rumah Tjong A Fie serta aksi nyata belas kasih di Panti Asuhan St. Lucy Filipini Tanjung Selamat.
Namun lebih dari semua destinasi itu, yang paling berkesan adalah kebersamaan. Tawa di perjalanan, doa yang dipanjatkan bersama, refleksi rohani, serta pendampingan iman yang diberikan oleh pendamping rohani menjadikan ziarah ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga pembaruan batin.
Komisi Peziarahan Keuskupan Agung Medan menghadirkan ziarah rohani ini sebagai kesempatan bagi umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menyegarkan jiwa, dan semakin dekat dengan Tuhan. Dengan pendamping rohani yang siap membimbing, setiap perjalanan dirancang bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dihayati.
Mari ambil bagian dalam ziarah rohani berikutnya. Biarkan langkah kaki membawa kita ke tempat-tempat penuh rahmat, dan biarkan hati kita dipulihkan dalam perjalanan iman bersama.
Karena terkadang, kita tidak hanya perlu berlibur—kita perlu berziarah.
Warta Kuria (Februari – Maret 2026)
Karya pendidikan Katolik dipanggil terutama untuk membentuk manusia seutuhnya. Dengan visi itu, Rapat Tri Organ Yayasan Pendidikan Katolik Don Bosco diselenggarakan pada 20 – 21 Februari 2026, di ruang Kolegium Konsultor lantai 2 gedung Catholic Center Christosophia, Keuskupan Agung Medan. Pertemuan ini hendak menyatukan visi, mengevaluasi pelayanan dan merumuskan langkah strategis bagi keberlanjutan pendidikan Katolik.
Evaluasi karya dan mutu pelayanan diadakan pada hari pertama. Para pembina, pengawas, dan pengurus yayasan secara penuh menyimak laporan program serta karya pendidikan yang telah dijalankan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mencakup tata kelola sekretariat, sarana dan prasarana, serta mutu pendidikan, termasuk pembinaan iman dan karakter. Evaluasi ini kembali meneguhkan dan menyemangati peserta akan panggilan untuk menghadirkan sekolah Katolik yang bermutu dan berakar pada nilai-nilai Injili.
Hari kedua berfokus pada penetapan arah dan prioritas strategis. Dalam dialog yang terbuka, Tri Organ bersama-sama merumuskan program yang selaras dengan visi dan misi yayasan, mengoptimalkan sumber daya manusia dan sarana, serta memperkuat koordinasi dan sinergi pelayanan. Dengan bimbingan Bapa Uskup dan dukungan doa umat, rapat ini diharapkan menghasilkan keputusan yang konkret bagi pertumbuhan peserta didik serta keberlanjutan karya pendidikan Katolik di Keuskupan Agung Medan. Bagi setiap yayasan di bawah payung Keuskupan Agung Medan, rapat Tri Organ merupakan momen pembaruan komitmen untuk melayani dengan setia, profesional, dan penuh tanggung jawab dalam bingkai sinodalitas.
Peluncuran Program RISE HOME (Resilient, Inclusive, Sustainable Economic & Housing for Empowerment) pada tanggal 27 Februari 2026 di Catholic Center Keuskupan Agung Medan meneguhkan harapan baru bagi keluarga-keluarga yang terdampak bencana alam pada November 2025. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup secara resmi membuka program pemulihan, menyusul tahap tanggap darurat bencana yang telah terlaksana dengan baik. Program yang digagas oleh Caritas Keuskupan Agung Medan bekerja sama dengan Caritas Indonesia ini berfokus pada usaha pemulihan holistik, yakni pemulihan ekonomi keluarga melalui dukungan mata pencaharian, bantuan pendidikan bagi anak-anak agar mereka dapat kembali belajar dengan tenang, serta penyediaan hunian yang aman dan layak sebagai dukungan dasariah bagi kehidupan yang bermartabat.
Melalui program ini, Gereja, seraya menanggapi kebutuhan mendesak akibat bencana, terlibat aktif dalam membangun kembali martabat dan ketahanan masyarakat. Pada saat yang sama, Caritas Keuskupan Agung Medan dan Caritas Indonesia menyampaikan apresiasi yang tulus kepada seluruh umat Allah yang telah menunjukkan solidaritas kasih melalui dukungan dan donasi bagi para korban bencana. Semoga upaya kasih ini sungguh membantu keluarga-keluarga terdampak untuk perlahan bangkit, memulihkan penghidupan, dan menata kembali masa depan dengan penuh harapan.
Sidang Dewan Presbiteral Keuskupan Agung Medan berlangsung di ruang DEPKAM, lantai 3 Catholic Center Christosophia, pada tanggal 2 – 4 Maret 2026. Pertemuan selama tiga hari ini diawali dengan Ibadat Sore bersama yang dipimpin oleh para petugas yang sudah ditentukan oleh Sekretariat DEPKAM. Sidang yang sangat penting ini menegaskan bahwa seluruh dinamika pastoral Gereja harus berakar pada doa dan penyerahan diri pada bimbingan Roh Kudus. Sidang ini adalah saat berahmat untuk pertama-tama mendengarkan yang dikehendaki Tuhan dalam pelayanan Gereja lokal. Salah satu pokok penting yang dibahas dalam sidang ini ialah rencana pemekaran paroki yang diajukan oleh umat bersama Pastor Paroki dan Vikaris Teritorial. Melalui dialog yang jujur dan terbuka, para imam memberikan pertimbangan pastoral kepada Uskup mengenai kebutuhan perluasan wilayah pelayanan agar Gereja semakin hadir dekat dengan umat dan pelayanan sakramen dapat menjangkau lebih banyak orang. Setelah lama didiskusikan dalam sidang-sidang DEPKAM sebelumnya, pada kesempatan ini dipaparkan kembali apa hakikat DEPKAM dan apa fungsinya.
Dewan Presbiteral adalah organ representatif para imam yang bertugas membantu Uskup dalam pelayanan pastoral keuskupan dengan memberikan nasihat dan pertimbangan demi kebaikan umat. Secara teologis, keberadaan dewan ini berakar pada eklesiologi persekutuan yang ditekankan oleh Konsili Vatikan II, yakni kolegialitas antara Uskup dan para imam dalam satu persekutuan pelayanan. Dalam kerangka ini, Dewan Presbiteral ikut membangun kerja sama dalam pelayanan, mencerminkan struktur hirarkis Gereja, dan mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan pastoral. Motu Proprio Ecclesiae Sanctae yang dikeluarkan Paus Paulus VI menggariskan tugas Dewan Presbiteral untuk mengkaji dan memberikan nasihat mengenai kegiatan pastoral dengan tujuan membangun kesatuan dalam pelayanan. Kitab Hukum Kanonik menegaskan dewan ini sebagai “senat Uskup” yang membantu pemerintahan keuskupan secara pastoral. Dengan demikian, Dewan Presbiteral secara esensial merupakan realitas teologis yang menampakkan persekutuan pelayanan apostolik dalam Gereja.
DEPKAM wajib terlibat aktif dalam pendampingan para imam yang berkarya di Keuskupan Agung Medan. Tugas ini sudah dijalankan oleh Tim OGF (ongoing formation), yang sejak Desember 2024 dipisahkan dari DEPKAM menjadi tim tersendiri yang langsung berada di bawah arahan Bapa Uskup. Diinspirasi oleh studi imam yang usia tahbisannya di atas 21 tahun yang dikoordinir oleh OGF Regio Sumatera, Bapa Uskup menyatakan keprihatinannya akan para imam yang sungguh membutuhkan pendampingan dan pendidikan berlanjut. Oleh karena itu, pada hari terakhir Sidang DEPKAM, semua peserta menyatakan persetujuannya agar Bapa Uskup membentuk satgas untuk menyusun kurikulum pembinaan imam berlanjut sesuai dengan kelompok usia tahbisannya, yakni 0 – 1 tahun, 2 – 5 tahun, 6 – 10 tahun, 10 – 20 tahun, dan 21 tahun ke atas. Program pendampingan ini diharapkan semakin membantu para imam menyadari tugasnya untuk menguduskan, mengajar, dan memimpin umat. Agar mampu menghayati imamatnya dengan baik, imam perlu membina intimitas yang semakin mendalam dengan Yesus Kristus, sehingga mampu menjawab tantangan zaman dan hidup semakin sesuai dengan Injil.
Sidang DEPKAM menghadirkan secara nyata Gereja Keuskupan Agung Medan sebagai komunitas yang hidup dari doa, berjalan dalam semangat sinodal, dan memelihara para gembalanya agar semakin mampu menggembalakan umat dengan hati yang menyerupai hati Kristus. Semoga para imam semakin mengalami persaudaraan satu sama lain dan sekaligus bersatu dengan Bapa Uskup dalam penggembalaan umat Keuskupan Agung Medan.
DPPH, Panitia Revitalisasi Gereja, dan Pembangunan Aula Hayam Wuruk berdiskusi dengan Bapa Uskup pada tanggal 5 Maret 2026 di Catholic Center. Dalam sambutan pembukaan, Bapa Uskup mengajak para peserta audiensi untuk melanjutkan pembangunan aula yang terhubung dengan Catholic Center serta revitalisasi Gereja St. Antonius Padua demi tata ruang yang lebih layak dan fungsional. Panitia melaporkan kegiatan revitalisasi gereja yang sudah mencakup perbaikan pagar, plafon, tata hijau, ruang sakramen tobat, pembangunan sanctuarium, façade, dan menara yang ditargetkan selesai menjelang HUT ke-111 paroki. Dalam hal keuangan, dicatat adanya potensi double counting antara laporan panitia dan paroki sehingga dibutuhkan pelaporan yang lebih terintegrasi dan transparan. Uskup memberi catatan mengenai desain: paroki harus tetap menjadi ruang pertemuan umat, sanctuarium dan menara perlu dirancang agar menonjolkan keindahan dan daya Tarik, sementara façade gereja perlu diperhalus agar lebih serasi.
Terkait pembangunan aula baru, dilaporkan bahwa sertifikat tanah sudah terbit, PKR dan IMB/PBG sedang diproses, dan pembongkaran aula lama menunggu izin resmi serta proses tender. Panitia mengajukan dukungan dana dari KSSY dan dana internal paroki, serta mulai menjalin komunikasi dengan calon donatur. Dr. Hendrik Sitompul menekankan perlunya struktur panitia yang kuat, adanya pengawas khusus, SOP pembangunan yang jelas, serta pola komunikasi yang tertata agar seluruh tim bergerak serentak. Bapa Uskup menambahkan bahwa struktur dan tupoksi harus dirumuskan dengan baik, rapat rutin dengan notulen yang ditindaklanjuti sangat penting, dan pembongkaran gedung lama sebaiknya dilakukan setelah sekitar 60% pendanaan terjamin. Aula baru diproyeksikan bukan hanya untuk umat Hayam Wuruk, tetapi untuk seluruh Kevikepan Medan dan kerja sama dengan berbagai lembaga Gereja. Lantai bawah difungsikan sebagai ruang berkumpul umat, bukan sekadar area parkir. Panitia, melalui R.P. Moses Situmorang, menyatakan siap menata kembali struktur dan SOP sesuai arahan.
Mengenai Kuasi Stasi Polonia, dilaporkan bahwa tanah seluas 14 x 80meter milik keluarga Hermes dihibahkan kepada Gereja dengan tujuan dipakai sebagai tempat untuk membangun gedung gereja tanpa kemungkinan untuk perubahan peruntukan. Draft perjanjian sedang disusun oleh notaris dan akan dikonsultasikan kepada Uskup, dengan perhatian khusus pada aspek hukum agar hak pakai Gereja terlindungi dalam jangka panjang meski sertifikat tetap atas nama pemilik. Desain gereja dua lantai berkapasitas sekitar 400 orang sudah tersedia, proses perizinan IMB/PBG sedang berjalan, dan persetujuan warga sekitar telah dipenuhi. Jika izin terbit tepat waktu, peletakan batu pertama direncanakan pada April 2026 dan diharapkan dipimpin langsung oleh Bapa Uskup. Bapa Uskup memberkati peserta audiensi sebagai peneguhan komitmen bersama untuk melanjutkan karya pembangunan dan revitalisasi secara tertib, akuntabel, dan selaras dengan visi keuskupan.
LP3KD Sumatera Utara beraudiensi kepada Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, pada tanggal 5 Maret 2026 untuk memaparkan identitas, kiprah 2023 – 2025, serta rencana Pesparani Sumut III tahun 2026 yang diposisikan sebagai sarana pembinaan iman melalui liturgi dan seni gerejani, bukan sekadar lomba. Disampaikan juga rencana Pesparani berjenjang hingga nasional, laporan singkat keuangan hibah dari Pemprovsu dan Kemenag, serta kebutuhan fasilitas pembinaan dan ruang pertemuan di gedung Catholic Center.
Mgr. Kornelius menyetujui secara prinsip penunjukan moderator imam yang menjembatani LP3KD dengan struktur Gereja, menekankan pentingnya koordinasi dengan wilayah pemerintahan (kecamatan/kabupaten) demi sinergi dengan pemerintah, serta perlunya penentuan lokasi Pesparani yang mempertimbangkan kapasitas panitia dan fasilitas. Bapa Uskup menegaskan kembali bahwa fokus utama Pesparani adalah pembinaan liturgi dan iman, dengan penilaian yang objektif dan bebas dari “suka-tidak suka”. Uskup juga mendorong pengenalan LP3KD di lingkungan para imam dan pengembangan pelatihan musik liturgi yang berkelanjutan. Pertemuan ditutup dengan doa dan berkat Uskup, menandai komitmen bersama menguatkan Pesparani sebagai karya pastoral Gereja di Sumatera Utara.
Pada tanggal 16 Maret 2026, Tim Centenario Fransiskan mengadakan audiensi dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, untuk meminta arahan berkaitan dengan Tahun Santo Fransiskus di Keuskupan Agung Medan. Menindaklanjuti dekret Paus Leo XIV tentang Yubileum 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus (10 Januari 2026–10 Januari 2027), Gereja lokal KAM memilih untuk menghayatinya bukan sekadar sebagai rangkaian ziarah, melainkan sebagai masa rahmat untuk pembaruan hidup injili. Inti yang ditekankan adalah spiritualitas Fransiskan, yaitu hidup sederhana dan miskin menurut Injil, persaudaraan yang inklusif, damai (Pax et Bonum), rekonsiliasi dengan Allah dan sesama, serta kepekaan terhadap orang kecil dan kelestarian ciptaan.
Dengan tema “Fransiskus Pembawa Damai dan Saudara bagi Semua”, program tahun Yubileum di KAM dirancang sederhana namun terarah demi menjamin partisipasi umat yang maksimal. Umat diajak berziarah ke salah satu dari 37 tempat yang telah ditetapkan (paroki yang digembalakan oleh para imam Fransiskan, biara induk Fransiskan, dan gereja yang menjadikan St. Fransiskus sebagai pelindungnya), dengan kesempatan memperoleh indulgensi penuh bagi yang memenuhi syarat-syarat lazim, yakni pengakuan dosa, komuni, doa bagi intensi Paus, dan ziarah ke salah satu tempat yang telah ditetapkan. Ziarah dianjurkan dijalani dalam semangat tobat dan solidaritas, misalnya dengan berjalan kaki tanpa unsur komersial.
Di samping ziarah, Tim Centenario akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan formasi: katekese tentang spiritualitas Fransiskan dan indulgensi, dialog perdamaian lintas agama, seminar kaum muda tentang menjadi Katolik di era media sosial, serta rekonsiliasi Fransiskan dengan penekanan khusus pada Sakramen Tobat di wilayah pelayanan keluarga Fransiskan sepanjang tahun. Aksi profetis sosial dan ekologis juga akan dirumuskan secara lebih konkret sebagai wujud nyata hidup injili di tengah kemiskinan dan krisis lingkungan. Tahun ini diintegrasikan dengan dinamika Sinode Diosesan VII KAM sehingga semangat Fransiskan sungguh mewarnai pembaruan hidup menggereja.
Mgr. Kornelius menegaskan bahwa undangan Paus bersifat ajakan, bukan kewajiban, namun KAM menanggapinya secara positif dan aktif. Uskup akan mengeluarkan surat resmi yang mengundang seluruh umat KAM untuk mengambil bagian dalam Tahun Santo Fransiskus, dengan Keluarga Fransiskan sebagai motor penggerak yang bekerja sama dengan berbagai komisi keuskupan. Melalui perencanaan yang terkoordinasi dan penekanan kuat pada penularan spiritualitas, diharapkan Tahun Yubileum ini menjadi kesempatan bagi umat KAM untuk kembali menghidupi Injil secara lebih murni, sehingga damai dan kebaikan Pax et Bonum semakin nyata dalam hidup pribadi, komunitas, dan masyarakat luas. Melalui perayaan Yubileum ini, Santo Fransiskus semakin nyata dijadikan sebagai model yang relevan dan mendesak bagi kehidupan iman di zaman sekarang.
Pada hari Senin, 16 Maret 2026, DPPH dan Panitia Pembangunan Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolog beraudiensi dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, untuk memohon arahan atas rencana pembangunan gedung gereja baru. Pembangunan ini tidak hanya menjawab kebutuhan fisik, tetapi juga merupakan upaya menata ruang liturgi yang lebih sesuai kaidah Gereja dan mampu menampung umat yang bertambah secara signifikan.
Panitia menjelaskan bahwa gereja lama mengalami keretakan, menara miring, dan secara visual “tenggelam” di antara bangunan baru (pastoran dan sekolah), sementara tata ruang liturgi, yakni panti imam, tabernakel, ruang tobat, dan sakristi, belum memadai. Peletakan batu pertama telah dilakukan pada 26 Oktober 2025, gereja lama dibongkar pada awal 2026, dan lahan kini siap memasuki tahap pondasi setelah desain final disetujui.
Mgr. Kornelius menilai ukuran dasar bangunan sudah cukup, tetapi konsep ruang dianjurkan lebih “mendekatkan” umat dengan altar (bukan hanya memanjang), dengan kemungkinan mempendekkan bangunan dan sedikit melebarkannya. Beliau mengusulkan agar gereja baru didekatkan ke pastoran lama sehingga tercipta komposisi yang lebih serasi dan fungsional, serta ruang bawah yang lapang dengan kolom yang lebih besar dan artistik. Area luar, seperti taman baca, diharapkan menjadi ruang ekspresi yang hidup bagi umat dan sekolah.
Arsitek dan panitia menyambut usulan ini, sepakat meninjau kembali posisi bangunan di lapangan dan menyesuaikan desain tanpa menunda terlalu lama demi menjaga kepercayaan umat yang sudah menantikan kelanjutan pembangunan. Berkat Bapa Uskup pada akhir pertemuan meneguhkan langkah bersama untuk mewujudkan sebuah gereja baru yang kokoh, indah, liturgis, dan sungguh menjadi rumah doa bagi umat Paroki Saribudolok.
Pada tanggal 17 – 20 Maret 2026, Bapa Uskup bersama semua vikaris episkopal teritorial, vikaris episkopal kategorial, kanselarius, dan ekonom mengadakan rapat Kuria di Penang. Sebelum berangkat ke Penang, rapat dibuka di ruang Kolegium Konsultor dengan membahas notulen rapat Kuria bulan Februari 2026. Setelah memaparkan pengembangan notulen, ekonom diminta memaparkan budget yang telah disusun yang akan dipakai selama tahun 2026. Pada pukul 10.30 WIB, peserta rapat berangkat ke Penang. Rapat diteruskan pada 18 Maret 2026 di ruang pertemuan Sentral Seaview Hotel. Sedianya tempat pertemuan adalah di rumah retret Kapusin di Penang, tetapi karena tempat ini sudah penuh, peserta rapat harus pindah ke tempat lain. Kesempatan berada di Penang dipakai oleh dua peserta rapat untuk mengadakan medical check-up. Sejumlah pokok penting dibahas dalam rapat ini, antara lain konkritisasi rekomendasi temu pastoral Uskup dan Tarekat Hidup Bakti pada 19 – 22 Januari 2026 di CC PPU Pematangsiantar. Enam pokok utama yang dibahas dalam rapat ini adalah Lingkungan Hidup (Tindakan Pasca Bencana dan Ekologi Praktis), Kaderisasi Awam, Pewarta Digital dan Media Sosial, Pastoral Migran dan Perantau, Menjadi Komunitas yang Berjalan Bersama, dan Wajah Baru THB KAM. Aplikasi konkret keenam tema ini harus digariskan agar dokumen yang sangat baik ini tidak tinggal sebagai rumusan indah belaka.
Rapat kuria juga membahas sejumlah poin penting, yakni Keputusan Sidang DEPKAM ke-18 pada 2 – 4 Maret 2026, rencana pemekaran Keuskupan Agung Medan, dan pemekaran paroki. Poin terakhir yang mendapat pembahasan serius ialah penyusunan ratio formationis bagi ongoing formation imam yang berkarya di KAM berdasarkan usia tahbisan. Pada tanggal 20 Maret 2026, peserta rapat kembali ke Keuskupan Agung Medan dengan selamat. Semoga hal-hal yang mendapat pembahasan serius dalam rapat ini dapat menghasilkan buah manis di wilayah Keuskupan Agung Medan.
Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.
RP. Adrianus Sembiring OFMCap
Kanselarius Keuskupan Agung Medan
Paroki Simalingkar B
| Pelindung | SANTO FRANSISKUS XAVERIUS |
| Nama | PAROKI SIMALINGKAR B, MEDAN |
| Sejak | 12 April 2026, yang sebelumnya bergabung dengan Padang Bulan dan Namo Pecawir-Tuntungan. |
| Kuasi Paroki | Sejak 25 Januari 2016. Sebelumnya bergabung dengan Paroki St. Fransiskus Asisi Padang Bulan dan Paroki St. Yohanes Paulus II, Namo Pecawir Tuntungan |
| Wilayah | Sekitar Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, terdiri atas stasi-stasi sebagaimana tersebut di bawah. |
| Alamat | Jalan Bunga Bangsa No. 17, Kelurahan Simalingkar B, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara 20135 |
| Telepon | 0813 7723 5432 |
| [email protected] | |
| Jumlah Umat | 770 KK / 2.858 jiwa (data Biduk per 05/02/2024) |
| Jumlah Gereja | 3 (Tiga) |
- Paroki Santo Fransiskus Xaverius, Simalingkar B
- Stasi Santo Stefanus Martir, Keloni
- Stasi Santo Fransiskus Assisi, Durin Pitu
Gereja St. Fransiskus Xaverius, Simalingkar B berdiri sejak tahun 1973. Awalnya umat Katolik yang berdomisili di Simalingkar B, beribadat di Gereja St. Stefanus Martir, Keloni. Kemudian missionaris dari Italia, Pastor Carmello Comina, OFM Conv dari Paroki Deli Tua bersama dengan Bp. Imanuel Sempat Ginting dari Stasi Keloni menemui Bp. Tetap Tarigan untuk membicarakan pendirian Gereja Stasi di Simalingkar B. Diperoleh kesepakatan bahwa Bp. Tetap Tarigan dan beberapa tokoh masyarakat diantaranya Bp. Ngalo Tarigan, Bp. Cara Sembiring, dan Bp. Manis Tarigan akan mengumpulkan umat untuk melakukan ibadat di rumah umat setiap hari Minggu-nya secara bergiliran, dengan jumlah umat sekitar 15 KK. Hal ini berjalan beberapa bulan. Dan selanjutnya umat mengusulkan supaya Bp. Tetap Tarigan memohonkan kepada Kepala Sekolah SD Negeri Simalingkar B pada saat itu untuk meminjamkan Gedung SD Negeri Simalingkar B sebagai tempat beribadat umat Katolik Simalingkar B karena Bp Tetap Tarigan adalah salah seorang guru di SD tersebut. Usulan tersebut ternyata dikabulkan sehingga umat bisa beribadat di SD Negeri Simalingkar B.
Pada tanggal 24 Februari 1974 dilaksanakan pertama sekali pembaptisan di Stasi Simalingkar B oleh Pastor Carmello Comina, OFM Conv dengan peserta baptis lebih kurang 25 orang. Bapa Serani pada pembaptisan tersebut masih dijabat oleh Pengurus Gereja dari Stasi Keloni yaitu Bp. Imanuel Sempat Ginting sedangkan Ibu Serani adalah Suster Adriana Fau, FSE. Pada tanggal tersebut juga ditetapkan kepengurusan Gereja Stasi Simalingkar B oleh Pastor Carmello Comina, OFM Conv dengan susunan pengurus sebagai berikut:
Ketua I : Bp. Tetap Tarigan,
Ketua II : Bp. Ngalo Tarigan,
Sekretaris : dipegang langsung oleh Ketua I,
Bendahara : Bp. Cara Sembiring.
Untuk selanjutnya, terjadi perkembangan umat sehingga diperlukan tempat misa yang lebih luas. Maka umat mengusulkan supaya didirikan bangunan gereja. Pada bulan Mei 1974, dengan semangat dan swadaya umat, didirikanlah bangunan darurat dari bambu di pertapakan gereja lama yang tanahnya disumbangkan oleh Bp. Nanggeh Sembiring.
Sampai tahun 1976, Stasi Simalingkar B masih digembalakan oleh Imam dari Paroki Deli Tua dengan jadwal misa sekali sebulan, sedangkan ibadat dipimpin oleh pengurus Gereja Stasi Simalingkar B secara bergantian. Untuk penyegaran, ibadat sabda sekali-sekali dipimpin oleh pengurus Gereja dari Stasi Keloni atau Stasi Pancur Batu.
Pada awal tahun 1977, Stasi Simalingkar B diserahkan dari Paroki St. Yosep Deli Tua kepada Paroki Padang Bulan Medan. Bangunan gereja darurat hanya bertahan 3 tahun saja dan akhirnya tumbang karena hujan deras disertai angin kencang. Maka pada tahun 1977 didirikanlah bangunan gereja yang permanen yaitu gereja lama sekarang. Pada tahun 1982, Stasi Simalingkar B diberikan nama “Gereja Katolik Kebangkitan Simalingkar B” oleh Pastor Antonio Murru, OFM Conv.
Pada tahun 1994, berdasarkan keputusan rapat Pengurus Stasi dengan Pengurus Lingkungan maka dipilihlah pelindung stasi yaitu St. Fransiskus Xaverius sehingga nama stasi berubah menjadi Stasi St. Fransiskus Xaverius Simalingkar B. Seiring perkembangan jumlah umat, maka gereja lama tidak mampu lagi menampung umat untuk perayaan misa. Dengan demikian, diperlukan bangunan gereja yang lebih besar. Maka pada tahun 1996 didirikanlah gereja yang lebih besar oleh Pastor Antonio Razolli, OFM Conv dan selesai pada tahun 1997 yang peresmiannya dipimpin oleh Uskup Agung Medan Mgr AG Pius Datubara, OFM Cap.
Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius terus berkembang. Pada tahun 2016, Uskup Agung Medan Mgr Dr. Anicetus B. Sinaga mengeluarkan Surat Keputusan Uskup Agung Medan Nomor 024/PAR/SBM/KA/ 2016 tentang “Pendirian Kuasi Paroki Sto. Fransiskus Xaverius, Simalingkar B” pada tanggal 25 Januari 2016. Serentak dengan dikeluarkannnya surat tersebut, Bapa Uskup Agung Medan juga mengeluarkan Surat Keputusan Penetapan Uskup Agung Medan Nomor 025/PAR/SBM/KA/I/2016 tentang “Pemindahan Stasi-stasi untuk Membentuk Kuasi Paroki Sto. Fransiskus Xaverius Simalingkar B, Medan”. Adapun stasi-stasi yang ditetapkan untuk bergabung menjadi kuasi paroki ini adalah:
1. Stasi St. Fransiskus Xaverius, Simalingkar B, Jln. Bunga Bangsa, Medan Tuntungan, 20135, dengan jumlah umat 487 kk/ 2.223 jiwa dalam 18 lingkungan;
2. Stasi St. Stefanus Martir, Keloni, Kec. Pancur Batu, Kab. Deli Serdang, dengan 99 kk/ 410 jiwa, dengan 4 lingkungan;
3. Stasi St. Fransiskus Asisi, Durin Pitu, Kec. Pancur Batu, Kab. Deli Serdang, dengan 48 kk/ 185 jiwa dengan 2 lingkungan.
Keputusan dan ketetapan di atas diambil oleh Uskup Agung Medan setelah RD. Fernandus Saragi selaku dan atas nama tim selia yang ditunjuk sebelumnya telah menyampaikan data-data kepada Uskup Agung Medan. Data itu adalah sebagaimana tercantum pada daftar di atas dengan rincian: tertulis dengan nomor 1 (satu) berasal dari Paroki St. Fransiskus Asisi, Padang Bulan, sedangkan yang tertulis nomor 2 (dua) dan 3 (tiga) berasal dari Paroki St. Yohanes Paulus II, Namo Pecawir, Medan Tuntungan. Ketiga gereja stasi ini sebelumnya merupakan gereja yang digembalakan oleh para Pastor Ordo Saudara Dina Conventual.
Segera setelah terjadi penetapan tersebut, mulailah dilaksanakan penyalinan buku-buku yang perlu, yakni Buku Catatan Baptis dan Perkawinan di bawah panduan para Pastor Paroki asal stasi-stasi yang akan bergabung menjadi kesatuan dalam Kuasi Paroki St. Fransiskus Xaverius, Simalingkar B, Medan. Nama dan pelindung (kuasi) paroki ini tetap menggunakan nama Santo Fransiskus Xaverius, Simalingkar B, sebagaimana selama ini telah disandang sebagai nama dan pelindung saat masih berstatus stasi yang merupakan bagian dari Paroki Santo Fransiskus Asisi, Padang Bulan, Medan.
Proses berikutnya adalah penunjukan dan pengangkatan/ penetapan Uskup tentang siapa yang akan menjadi Pastor Paroki untuk kuasi paroki yang baru ini. Tidak lama kemudian Uskup Agung Medan mengangkat RD Sebastianus Eka Bhakti Sutapa untuk menjadi Parokus dengan Surat Keputusan Uskup Agung Medan Nomor: 235/IM/PR/KA/V/’16 yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2016. Guna menguatkan karya penggembalaan di wilayah kuasi paroki yang baru ini, Uskup Agung Medan kemudian juga mengangkat RD Desman M. Marbun menjadi vikaris parokial.
Dengan ditunjuk dan diangkatnya Pastor Paroki di Kuasi Paroki St. Fransiskus Xaverius, Simalingkar B, maka pada hari Minggu tanggal 17 Juli 2016 dilaksanakan acara serah terima karya penggembalaan dari Pastor Ordo Saudara Dina Conventual kepada Pastor Diosesan. Acara serah terima ini dipimpin oleh Vikep, RP Harold Harianja, OFM Cap. Sejak Juli 2016 hingga saat ini jumlah umat di kuasi Paroki St. Fransiskus Xaverius Simalingkar B semakin bertambah sehingga beberapa lingkungan di wilayah Simalingkar B mengalami pemekaran dari 18 lingkungan menjadi 21 lingkungan sekarang (tahun 2022), sementara jumlah lingkungan di 2 stasi lain yakni Keloni dan Durin Pitu masih tetap masing-masing 4 lingkungan dan 2 lingkungan. Maka jumlah keseluruhan lingkungan yang ada di Kuasi Paroki St. Fransiskus Xaverius Simalingkar B adalah 27 lingkungan dengan jumlah jiwa 2622 (708 KK).
BIARA SFMA
Di sekitar wilayah Gereja Kuasi Paroki St. Fransiskus Simalingkar B berdiri juga sebuah biara Konggregasi Suster Fransiskanes Misionaris dari Assisi (SFMA). Biara ini dibangun pada tanggal 4 Mei 2008 dengan ditandai peletakan batu pertama oleh Uskup Agung Medan Mgr Dr. Anicetus B. Sinaga. Para Suster SFMA mulai berkomunitas dan berkarya di Stasi Simalingkar B pada tanggal 30 Januari 2009. Biara SFMA Simalingkar B kemudian diberkati pada tanggal 13 September 2009 oleh Uskup Agung Medan Mgr Dr. Anicetus B. Sinaga.
Suster misionaris pertama yang berkomunitas dan berkarya di Stasi Simalingkar B berasal dari Provinsial Korea Selatan, diantaranya adalah Sr. Susana Park (Pimpinan Delegasi Indonesia Pertama dan sudah kembali ke Korea Selatan), Sr. Paola Kim (masih berada di Indonesia), Sr. Regina (sudah kembali ke Korea Selatan), Sr. Christina Hur (Pimpinan Delegasi Indonesia sekarang). Saudara Indonesia yang bersama pindah ke Simalingkar B adalah Sdr Teresa Nadeak (tahun Novisiat), Sdr Alexia Sitepu (tahun Novisiat), Sdr Maria Tarigan (tahun Postulan), Sdr Monika (tahun Postulan), Sdr Loren Sembiring (tahun Postulan), Sdr Anna (tahun Postulan). Hingga saat ini pun sudah mulai tampak perkembangan biara ini dengan hadirnya bibit-bibit panggilan yang bergabung Bersama konggregasi SFMA.
Selamat Paskah – Mgr Kornelius Sipayung OFMCap
Selamat Hari Raya Paskah, Hari Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus.
Paskah mengajak kita untuk bangkit bersama Kristus:
keluar dari kegelapan menuju terang, dengan mendengarkan Sabda, meneguhkan sesama, dan mewartakan kasih melalui hidup yang jujur, berani,
serta penuh harapan.
Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
Uskup Keuskupan Agung Medan
Penutupan Salib sesudah Misa Perjamuan Tuhan
HAL MENYELUBUNGI SALIB
Para Saudara terkasih, seputar Masa Prapaskah ini, cukup hangat diskusi di antara kita (imam dan umat) tentang penyelubungan salib. Akibatnya, ada dari antara kita sudah menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa dan ada yang belum menyelubunginya.
Oleh karena itu, beberapa poin berikut pantas kita simak bersama demi kesatuan paham dan kesamaan gerak dan perayaan iman di Keuskupan Agung Medan.
1. Tradisi menyelubungi salib, patung-patung kudus dan melepaskan kain altar sudah terlaksana dalam gereja kita sejak 4 abad pertama. Tradisi kuno ini masih tetap berjalan sampai sekarang dalam konteks gereja universal. Tindakan menyelubungi ini boleh juga diganti dengan tindakan memindahkan salib dan patung-patung kudus dari dalam gereja ke tempat lain yang layak. Tradisi ini dikaitkan dengan peristiwa Yesus yang berdoa di taman Getsemani dan seterusnya menjalani peristiwa derita dan salib. Maka salib akan tertutupi dengan kain ungu (atau merah) sampai peristiwa ritus penghormatan salib dilaksanakan pada hari Jumat Agung. Tradisi ini dikaitkan pula dengan tidak adanya perayaan Ekaristi pada hari Jumat Agung.
2. Tradisi menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa merupakan tradisi yang dilaksanakan sejak abad IX di gereja Jerman. Jadi, bukan berlaku universal untuk gereja Katolik Ritus Roma. Praktik ini dikaitkan dengan kisah Injil pada hari Minggu V Puasa yang berbicara tentang penderitaan yang akan dialami oleh Yesus (Minggu Sengsara Tuhan) dan saat-saat mana Ia mengasingkan diri hingga tampil lagi memasuki kota Yerusalem menjelang saat-saat peristiwa salib, wafat, dan bangkit. Sementara itu, Ritus Ambrosiana melaksanakan penutupan salib sejak Minggu I Puasa (praktisnya selama Masa Prapaska). Praktik ini dikaitkan dengan masa tobat, masa refleksi, retret selama Masa Prapaskah dan menjauhkan diri dari kemeriahan termasuk dari kemeriahan simbol-simbol kudus.
3. Dokumen Perayaan Paska dan Persiapannya (terbit tahun 1988 oleh Kongregasi Ibadat Suci) tetap berusaha memelihara tradisi-tradisi khusus gereja yang ada di seluruh dunia. Itulah termasuk alasannya mengapa dalam dokumen tersebut dituliskan “kebiasaan menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa dapat dipertahankan, bila demikian ditetapkan oleh Konferensi Waligereja…” (PPdP, 26).
4. Konteks Indonesia, tidak ada kebiasaan menyelubungi salib sebelum tahun 1988 (terbitnya dokumen tersebut), maka pelaksanaan penyelubungan salib sejak Minggu V Puasa akhir-akhir ini merupakan tradisi yang baru di beberapa daerah di Indonesia. Selain itu, dasar iuridis tindakan itu belum ditetapkan, karena hingga sekarang Konferensi Waligereja belum pernah membuat keputusan untuk menutup salib sejak Minggu V Puasa, sebagaimana ditekankan oleh dokumen Pedoman Perayaan Paskah dan Persiapannya (1988). Penanggalan Liturgi KWI pun hanya mengutip Pedoman 1988; dan tidak memuat keputusan atasnya. Tampaknya tindakan menyelubungi salib itu lebih sebagai inisiatif para pencinta liturgi yang membaca dokumen secara sederhana dan langsung menerapkannya melebihi kewenangan Konferensi Waligereja dan kewenangan Uskup diosesan.
5. Sampai sekarang, Uskup Keuskupan Agung Medan belum pernah menganjurkan tindakan penyelubungan salib sejak Minggu V Puasa. Dengan demikian KAM tetap mengikuti tradisi Gereja yakni menyelubungi salib sesudah Misa In Cena Domini (adalah nama Latin untuk Misa Perjamuan Tuhan, yaitu perayaan Ekaristi pada Kamis Putih malam-bagian pertama dari Trihari Suci). Maka praktik menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa tidak dilaksanakan di wilayah Keuskupan Agung Medan. Ini dilaksanakan dengan berdasar pada tradisi antik gereja dan belum adanya keputusan Konferensi Waligereja Indonesia atasnya.
6. Selain itu, kita di KAM masih merayakan perayaanperayaan istimewa seputar Minggu Palma, Misa Krisma, Misa In Cena Domini yang mengharapkan simbol-simbol liturgis, termasuk salib, tetap tampil dengan cemerlang, yang dengannya Yesus Kristus sungguh hadir dan tampil dengan jaya.
7. Bila salib ditutup, itu berarti simbol salib ditiadakan atau tidak dihadirkan dalam perayaan-perayaan iman. Maka salib perarakan tidak dibawa lagi dalam Ibadat Jalan Salib pada hari Jumat Agung, apalagi membawanya dengan posisi tertutup, sangatlah tidak tepat.
Medan, 05 April 2025
Komisi Liturgi KAM
Kantor Komlit KAM Lt 3
Gedung Catholic Center Christosophia Medan
Jl. Mataram 21 Petisah Hulu, Medan Baru, Medan.
Jadwal Pekan Suci 2026 Paroki se-KAM
*Geser ke samping jika isi tabel tidak terlihat seluruhnya
| No | Gereja Paroki | Kamis Putih, 2 April | Jumat Agung, 3 April | Vigili Paskah, 4 April | Hari Raya Paskah, 5 April | Minggu Palma, 29 Maret |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Aek Kanopan | 19.00 | 09.00 | 19.00 | 09.00 | |
| 2 | Aek Nabara | paroki 18.00 stasi 18.00 | paroki jam 14.00 stasi jam 14.00 | paroki jam 18.00 stasi jam 19.00 | paroki jam 08.00, stasi jam 11.00 stasi jam 10.00 | |
| 3 | Balige | Paroki: 19.00 WIB ; Stasi: 18.00 WIB | Paroki: 15.00 WIB ; Stasi: jam 15.00 | Paroki: 19.00 WIB ; Stasi: 18.00 WIB | Paroki: 08.00 WIB ; Stasi: 09.00 WIB ; Stasi: 10.30 WIB | Paroki: 08.00; 10.00 WIB |
| 4 | Banda Aceh | 19.00 WIB | Jalan Salib 09.00 WIB; Penghormatan Salib 15.00 WIB | 19.00 WIB | 09.00 WIB | 08.00 WIB |
| 5 | Bandar Baru | |||||
| 6 | Batang Kuis | Paroki : 19.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 19.00 WIB; Stasi Janji Matogu : 19.00 WIB | Paroki : 15.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 15.00 WIB; Stasi Janji Matogu : 15.00 WIB | Paroki : 19.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 19.00 WIB; Stasi Pardomuan Nauli : 19.00 WIB | Paroki : 07.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 07.30 WIB; Stasi Pasir Putih : 09.00 WIB; Stasi Serdang : 10.00 WIB; Stasi Saur Matio : 11.00 WIB; Stasi Tanjung Rejo : 11.00 WIB | Paroki : 07.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 07.30 WIB; Stasi Janji Matogu : 10.00 WIB; Stasi Tanjung Rejo : 11.00 WIB |
| 7 | Berastagi | 18.30 WIB | Tablo Jalan Salib: 09.00 WIB Penghormatan Salib 15.00 WIB | 18.30 WIB | 07.00 WIB dan 09.00 WIB | 08.30 WIB: Perarakan dimulai dari Bukit Kubu pukul 08.00 WIB |
| 8 | Binjai | Pkl. 19.00 wib | Tablo Jalan Salib: 09.00 WIB; Penghormatan Salib 15.00 WIB | Pkl 19.00 WIB | Pkl. 08.00 WIB | 08.00 WIB. Perarakan dimulai dari taman doa |
| 9 | Cinta Damai | 19.00 WIB | JALAN SALIB DIMULAI PUKUL 09.00 WIB; MISA JUMAT AGUNG 15.00 WIB | 19.00 WIB | 09.00 WIB | 09.00 WIB, PERARAKAN DIMULAI DARI GUA MARIA BUNDA KARMEL |
| 10 | Delitua | |||||
| 11 | Diski (KP) | Paroki (19.00), Stasi Medan Krio (19.00), Stasi Sei Mencirim (19.00) | Jalan Salib (08.00), Paroki (15.00); Stasi Paluhmanan (11.00); Stasi Medan Krio (15.00); Stasi Sei Mencirim (15.00); Stasi Bulu Cina (15.00) | Paroki (19.00); Stasi Medan Krio (19.00); Stasi Sei Mencirim (19.00) | Paroki (08.00); Stasi Medan Krio (08.00); Stasi Sei Mencirim (10.30); Stasi Paluhmanan (08.00); Stasi Paluhmanan (11.00) | Paroki (08.00), Stasi Medan Krio (08.00), Stasi Sei Mencirim (10.30), Stasi Bulu CIna (08.00), Stasi Paluhmanan (11.00) |
| 12 | Dolok Sanggul | 18.30 WIB (Buku Puji Syukur) | 14.00 WIB (Buku Puji Syukur) | 18.30 WIB (Buku Puji Syukur) | 18.30 WIB (Buku Puji Syukur) | 07.30 WIB (Buku BETK) |
| 13 | Kabanjahe SPM | Paroki (19.00), Stasi Seberaya (19.00), Stasi Suka (19.00), Stasi Tigapanah (19.00), Stasi Sinaman (19.00) | Gereja Paroki: Ibadah jalan salib Keliling (09.00), Ibadah Jumat Agung (15.00), Stasi Suka Nalu (15.00), Stasi Sukadame (15.00), Stasi Bunuraya (15.00), Stasi Dokan (15.00) | Gereja Paroki: Perayaan Malam Paskah (19.00) , Stasi Suka (19.00), Stasi Cingkes (19.00), Stasi Ketaren (19.00), Stasi Rumamis (19.00) | Gereja Paroki: Hari Raya Paskah (08.00), Stasi Suka (08.00), Stasi Kutakepar (10.00), Stasi Bulanjahe (08.00), Stasi Bulanjulu (10.30), Stasi Tigapanah (08.00), Stasi Sukadame (10.30) Stasi Bunuraya (08.00), Stasi Kubusimbelang (10.30) | Gereja Paroki: Perarakan dari jambur Adil Makmur ke Gereja SPM Kabanjahe dimulai (07.30) | Stasi Sukanalu (08.00) | Stasi Suka (08.00) | Stasi Sukadame (08.00) |
| 14 | Kabanjahe SPP | |||||
| 15 | Kisaran | Paroki (19.00) | Stasi Kp. Saragih (18.00) | Stasi Pardomuan (18.30) | Jalan Salib 08.30 (Paroki), Paroki (15.00) | Stasi Hessa (15.00) | Sei Lama (15.00) | Paroki (19.00) | SilauLaut (08.30) | Stasi Serdang 2 (18.30) | Paroki (08.00) | Stasi Kp. Baru (08.30) | Stasi Desa Gajah (10.30) | Rawang 7 (11.00) | Stasi Sudi Makmur (08.30) | Stasi Panggualan (11.00) | Paroki (08.00 Wib) dimulai dengan perarakan | Stasi Hessa (08.00 WIB) | Stasi Sei Lama (10.30 WIB) | Stasi Tinjowan (11.00 WIB) |
| 16 | Kotapinang (KP) | Kotapinang : 19.00 | Pardomuan : 16.00 | Gereja Paroki (Jalan Salib : 09.00; Kisah Sengsara : 15.00) | Aek Batu : 15.00 Kisah Sengsara | Kotapinang : 18.30 | Cikampak 17.00 | Kotapinang : 08.00 | Cikampak : 09.00 | Langgapayung : 11.00 | Kampung Baru III : 11.30 | Kotapinang : 08.00 WIB | Sisumut : 08.00 | Cikampak : 11.00 | Pardomuan : 11.00 |
| 17 | Lau Baleng | Lau Baleng : 19.30 | Durin Rugun : 19.30 | Jalan Salib (OMK) : 08.00 | Lau Baleng : 15.00 | Mardingding : 15.00 | Lau Baleng : 19.30 | Limas : 19.30 Wib | Lau Baleng : 08.00; Pasir Tengah : 08.00; Buluh Pancur : 11.00; Pasir Mbelang : 11.00; | Lau Baleng : 08.00 WIB | Pasir Tengah : 08.00 | Buluh Pancur : 11.00 | Mangan Molih : 11.00 |
| 18 | Lawe Desky | 19.30 | 15.00 | 19.30 | 07.30 | |
| 19 | Lintongnihuta | 18.00 WIB | Jalan Salib : 08.00 WIB ; Penghormatan Salib: 18.00 WIB | 18.00 WIB | 08.00 WIB | Paroki: 08.00 WIB ; Stasi : 10.30 WIB |
| 20 | Lubuk Pakam | 19.00 | Jalan salib : 08.00 Penghormatan Salib: 15.00 | Paroki: 18.00 | 08.00 | Paroki: 08.00 |
| 21 | Med. Hayam Wuruk | 18.00 | 15.00 | Misa I : 16.30; Misa II : 19.30 | Minggu Misa I : 07.30; Misa II : 10.00; Misa III : 17.00 | Sabtu Sore : 18.00; Minggu Misa I : 07.30; Misa II : 10.00; Misa III : 17.00 |
| 22 | Med. Helvetia | 19.00 | 15.00 | 19.00 | 08.00 | |
| 23 | Med. Katedral | Misa I: 17.00 WIB, Misa II: 19.30 WIB | Jalan Salib Pukul 08.00 WIB; Penghormatan Salib: Pukul 12.00 WIB, 15.00 WIB | Sabtu Suci Pukul 08.00 WIB (Ibadat); Misa I pukul 17.00 WIB. Misa II pukul 20.00 WIB | Misa I pukul 08.00 WIB, Misa II pukul 10.00 WIB, Misa III pukul 15.00 WIB, misa IV pukul 17.00 WIB | Sabtu Sore : Pukul 17.30 WIB; Minggu Misa I : 06.30 WIB, Misa II: 09.00 WIB, Misa III: 15.00 WIB, Misa IV: 17.00 WIB |
| 24 | Med. Kota | 19:00 | Jalan Salib: 08:00; Penghormatan Salib I: 15:00; Penghormatan Salib II: 18:00 | 19:00 | Minggu 07:00; 10:00; dan 18:00 | Sabtu Sore (M1): 18:00; Minggu (M2): 07:00; Minggu (M3): 10:00; Minggu Sore (M4): 18:00 |
| 25 | Med. Mandala | STYPM: 18.30 WIB, TS: 19.00 WIB | 15.00 WIB | STYPM: 18.30 WIB, TS: 18.30 WIB | STYPM: 09.00 WIB, TS: 09.00 WIB | STYPM: 08.30 WIB, TS: 09.00 WIB |
| 26 | Med. Martubung | Misa Malam Jam 19:30 | Misa Sore Jam 15:00 | Misa Malam Jam 19:00 | Misa Pagi Jam 09:00 | Misa Pagi Jam 09.00 Wib |
| 27 | Med. Padang Bulan | 16.30 WIB dan 19.30 WIB | 14.00 WIB dan 18.00 WIB | 16.30 dan 19.30 WIB | 07.30 WIB dan 10.00 WIB | 07.30 dan 10.00 WIB |
| 28 | Med. Pasar Merah | 19.00 WIB | Jalan Salib: 08.00 | Jumat Agung: 15.00 WIB | 19.00 WIB | 09.00 WIB | SPPM : 08.00 WIB 10.00 WIB; SBM : 10.00 WIB; MBK : 08.00 WIB; SELAMBO : 08.00 WIB |
| 29 | Med. Tamora | Martoba: 18.30 WIB | Martoba: Jalan Salib 09.00 WIB ; Jumat Agung 15.00 WIB | Martoba: 19.00 WIB | Martoba: 09.00 WIB | Martoba : 08.30 WIB |
| 30 | Med. Tanjung Selamat | Pkl. 19.00 WIB | Pkl. 15.00 WIB | Pkl. 18.00 WIB | Pkl 07.00 WIB; Pkl 09.30 WIB dan Pkl 17.00 WIB | Pkl. 07.00 WIB; Pkl 10.00 WIB & Pkl 17.00 WIB |
| 31 | Med. Timur | Pukul 19.00 WIB | Pukul 15.00 WIB | Pukul 19.00 WIB | Pukul 07.00 WIB dan Pukul 09.00 WIB | 09.00 WIB |
| 32 | Namo Pecawir - Tuntungan | 19.00 WIB | 15.00 WIB | 19.00 WIB | 08.00 WIB | 08.00 WIB |
| 33 | Onan Runggu | 19.00 WIB | 15.00 WIB | 19.00 WIB | 08.00 WIB | 08.00 WIB |
| 34 | Pakkat | 19.00 WIB | 15.00 WIB | 19.00 | 10.00 WIB | Pukul 08.00 WIB |
| 35 | Palipi | 19.00 | 15.00 | 19.00 | 09.00 | |
| 36 | Pamatang Raya | 19.00 | 15.00 | 19.00 | 08.00 | 08.00 |
| 37 | Pangaribuan (KP) | Stasi Lumban Sormin: 18.00 Wib ; Stasi Lobutolong : 18.00 Wib | Stasi Lumban Sormin: 15.00 | Stasi Sipahutar: 15.00 | Stasi Lumban Sormin: 18.00 | Stasi Rahut Bosi : 18.00 | Stasi Parsorminan : 09.00 | Stasi Lumban Sormin : 11.00 | Stasi Parsibarungan : 09.00 | Stasi Rahut Bosi : 11.00 | Stasi Lumban Sormin : 09.00 | Stasi Parsorminan : 11.00 | Stasi Sidagal : 09.00 | Stasi Gonting Pege : 11.00 |
| 38 | Pangkalan Brandan | Pukul. 19.00Wib | Pukul. 15.00Wib | Pukul. 19.00Wib | Pukul. 08.00Wib | Gereja Paroki: 08.00 WIB |
| 39 | Pangururan | Jam 19:00 | Jam 15:00 wib | Jam 19:00 | Jam 09:00 | |
| 40 | Parapat | 19.00 | 14.00 | 19.00 Wib | 09.00 ; Stasi 10.00 | 09.00: Gereja Paroki |
| 41 | Parlilitan | 19.00 WIB | 15.00 WIB | 19.00 WIB | 08.30 WIB | 08.30 WIB |
| 42 | Parongil | Gereja Paroki dan Stasi : 19.00 | Gereja Paroki dan Stasi : 15.00 | Gereja Paroki dan Stasi : 19.00 | Gereja Paroki : 08.00 Stasi : 11.00 | Gereja Paroki : 08.00 Stasi : 11.00 |
| 43 | Parsoburan | 18.30 | 15.00 | 18.30 | 08.00 | 08.00 WIB |
| 44 | Pematangsiantar - Jl. Asahan | 19.00 | 15.00 | 19.00 | 08.00 | 08.00 WIB |
| 45 | Pematangsiantar - Jl. Bali | 18.00 | 15.00 | 18.00 | 09.00 | 09.00 |
| 46 | Pematangsiantar - Jl. Medan | 19:00 | 15:00 | 19:00 | 07:00; 09.00 | 09.00 |
| 47 | Pematangsiantar - Jl. Sibolga | Gereja Paroki: 17.00; 20.00 | Stasi: 18.00 | Jalan Salib: Gereja Paroki dan Stasi : 08.00 | Penghormatan Salib: Gereja Paroki dan Stasi: 15.00 | Ibadat Sabtu Suci: Gereja Paroki dan Stasi: 08.00 | Gereja Paroki: 17.00; 20.00( Vigili Paska) | Stasi: 18.00 (Vigili Paska) | Gereja Paroki: 07.00; 09.00 | Stasi: 08.00; 10.00 | Ibadat Sore Gereja Paroki: 18.00 | Gereja Paroki: 18.00 (Sabtu Sore); 07.00; 09.00; 11.00 | Stasi: 07.30; 10.00 |
| 48 | Perdagangan | Pukul 19.00 | Pukul 15.00 | Pukul 19.00 | Pukul 08.00 | Pukul 08.00 |
| 49 | Pulo Brayan Bengkel | 19.30 | 15.00 | 19.30 | 10.00 | 10.00 |
| 50 | Rantauprapat | Paroki: 18.00 WIB Stasi : 18.00 WIB | Paroki: 15.00 WIB Stasi : 15.00 WIB | Paroki: 18.30 WIB Stasi : 18.30 WIB | Paroki : 08.00 WIB Stasi : 11.00 WIBStasi : 11.00 WIB | Paroki: 08.00 WIB Stasi : 09.00 WIB |
| 51 | Salak | Paroki: 19.00 WIB | Stasi : 19.00 WIB | Tablo Jalan Salib di Paroki: 08.00 WIB | Ibadat di Paroki: 15.00 WIB | Ibadat di Stasi : 15.00 WIB | Paroki: 19.00 WIB | Stasi : 19.00 WIB | Paroki : 08.00 WIB | Stasi : 08.00 WIB | Stasi : 11.00 WIB | Paroki : 08.00 WIB | Stasi : 11.00 WIB | Stasi : 11.00 WIB |
| 52 | Saran Padang (KP) | Saran Padang & Stasi Paribuan: 20.00 WIB | Stasi Panribuan Jahean & Perasmian : 18.00 WIB | Gereja Paroki & Stasi: 15.00 | Saran Padang & Panribua: 20.00 WIB | Stasi Panribuan Jahean & Perasmian: 18.00 WIB | Saran Padang & Stasi Dolok Mariah: 11.00 WIB | Stasi Panribuan & Marjandi Pamatang: 09.00 WIB | Saran Padang & Stasi Gunung Meriah: 11.00 WIB | Panribuan & Gunung Panribuan : 09.00 WIB |
| 53 | Saribudolok | Gereja Paroki : 19.00 | Gereja paroki : 14.00 | Gereja Paroki: 18.00 | Gereja Paroki : 07.00 & 09.00 | Gereja Paroki : 09.00 WIB |
| 54 | Sei Rampah (KP) | 19.00 | 15.00 | 19.00 | 09.00 | |
| 55 | Siborongborong & Lintongnihuta (satu Pastor Paroki) | Siborong-borong, Lintong, Pealinta, Sitabotabo: 18.00 WIB | Siborong-borong, Lintong, Pealinta, Sitabotabo: 15.00 WIB | Siborong-borong, Lintong, Pealinta, Sitabotabo: 18.00 WIB | Pesta Paskah se-Paroki di Stasi Pealinta: 09.00 WIB | Lintong : 08.00 WIB | |
| 56 | Sidikalang | 19.00 | Pukul 09.00 WIB , Pukul 15.00 WIB | 19.00 | Misa I: pukul 08.00 WIB | Misa II: pukul 10.00 WIB | Pukul 09.00 WIB |
| 57 | Silalahi (KP) | 19:30 | 14:00 | 19:30 | 08:15 | 08:15 |
| 58 | Simalingkar B (KP) | Misa pukul 18.00 WIB | Jalan salib pukul: 08.00 WIB; Ibadat pukul 15.00 WIB | Pukul 18.00 WIB | 09.00 WIB | Misa I: pukul 08.00 Misa II: pukul 11.00 |
| 59 | Simallopuk (KP) | 19.30 WIB | 15.00 WIB | 19.30 WIB | 08.00 WIB | 08.00 WIB |
| 60 | Sipintuangin (KP) | |||||
| 61 | Sumbul | Gereja Paroki & Stasi : 18.00 | Gereja Paroki & Stasi : 15.00 | Gereja Paroki & Stasi : 18.00 | Gereja Paroki : 08.00 | Paskahan Se Rayon : 10.00 | Gereja Paroki : 08.00 | Stasi : 09.00 |
| 62 | Tanah Jawa | 19.30 WIB | 14.00 WIB | 19.30 WIB | 10.00 WIB | |
| 63 | Tanjung Balai | 18.00 WIB | 15.00 WIB | 19.00 WIB | 08.30 WIB | 08.00 WIB |
| 64 | Tarutung | Gereja Paroki : 18.00 | Stasi Aekraja : 18.00 | Gereja Paroki (Devosi Jalan Salib : 09.00 WIB; Ibadat Jumat Agung : 15.00 WIB) | Stasi Peasipon : 15.00 WIB | Gereja Paroki : 18.00 WIB | Stasi Aekraja : 18.00 WIB | Gereja Paroki : 08.00 WIB | Stasi Lobusingkam : 11.00 | Stasi Silangkitang : 09.00 | Stasi Hutaraja : 11.00 WIB | Gereja Paroki : 08.00 WIB | Stasi Sipoholon : 11.00 | Stasi Peasipon : 09.00 | Stasi Aekraja : 11.00 |
| 65 | Tebing Tinggi | |||||
| 66 | Termin | 19.00 WIB | 15.00 WIB | 19.00 WIB | 09.00 WIB | Misa I: 07.30 WIB ; Misa II: 10.00 WIB |
| 67 | Tiga Binanga | 19.00 | 15.00 | 19.00 | 07.00 dan Stasi jam 09.00, 11.00 | 07.00 dan Stasi jam 09.00, 11.00 |
| 68 | Tiga Dolok | PKl. 19.00 WIB | Pukul 05.00 WIB Jalan Salib; Pukul 15.00 WIB | Pukul 19.00 WIB | Pukul 08.00 WIB | Pukul 08.00 WIB |
| 69 | Tiga Juhar | 19.00 WIB dan stasi | 15.00 WIB dan stasi | 19.00 dan stasi | 08.00 WIB stasi jam 10.00 WIB | 08.00 stasi jam 10.00 WIB |
| 70 | Tiga Lingga | Masuk Misa Kamis Putih Jam 09.00 Wib Pagi | Masuk Misa Jumat Agung Jam 15.00 Wib Sore | Masuk Misa Sabtu Suci Jam 09.00 Wib Pagi | Masuk Misa Minggu Paskah Jam 09.00 Wib Pagi | 08.00 dan stasi jam 09.00 WIB |
| 71 | Tiganderket (KP) | Pkl. 20.00 WIB | Jalan Salib : 09.00 WIB ; Penghormatan Salib: 15.00 WIB | 20.00 | Pkl. 09.00 WIB | Pkl 09.00 WIB |
| 72 | Tomok – Simanindo | 19.00 WIB | 15.00 WIB | 19.00 WIB | 08.00 WIB | 08.00 WIB |


