Jumat, Mei 22, 2026
Lainnya
    Beranda blog Halaman 2

    Warta Kuria (Februari – Maret 2026)

    1. Rapat Tri Organ YPK Don Bosco 20 - 21 Feb 2026

    Karya pendidikan Katolik dipanggil terutama untuk membentuk manusia seutuhnya. Dengan visi itu, Rapat Tri Organ Yayasan Pendidikan Katolik Don Bosco diselenggarakan pada 20 – 21 Februari 2026, di ruang Kolegium Konsultor lantai 2 gedung Catholic Center Christosophia, Keuskupan Agung Medan. Pertemuan ini hendak menyatukan visi, mengevaluasi pelayanan dan merumuskan langkah strategis bagi keberlanjutan pendidikan Katolik.

    Evaluasi karya dan mutu pelayanan diadakan pada hari pertama. Para pembina, pengawas, dan pengurus yayasan secara penuh menyimak laporan program serta karya pendidikan yang telah dijalankan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mencakup tata kelola sekretariat, sarana dan prasarana, serta mutu pendidikan, termasuk pembinaan iman dan karakter. Evaluasi ini kembali meneguhkan dan menyemangati peserta akan panggilan untuk menghadirkan sekolah Katolik yang bermutu dan berakar pada nilai-nilai Injili.

    Hari kedua berfokus pada penetapan arah dan prioritas strategis. Dalam dialog yang terbuka, Tri Organ bersama-sama merumuskan program yang selaras dengan visi dan misi yayasan, mengoptimalkan sumber daya manusia dan sarana, serta memperkuat koordinasi dan sinergi pelayanan. Dengan bimbingan Bapa Uskup dan dukungan doa umat, rapat ini diharapkan menghasilkan keputusan yang konkret bagi pertumbuhan peserta didik serta keberlanjutan karya pendidikan Katolik di Keuskupan Agung Medan. Bagi setiap yayasan di bawah payung Keuskupan Agung Medan, rapat Tri Organ merupakan momen pembaruan komitmen untuk melayani dengan setia, profesional, dan penuh tanggung jawab dalam bingkai sinodalitas.

    2. Rise Home 27 Feb 2026

    Peluncuran Program RISE HOME (Resilient, Inclusive, Sustainable Economic & Housing for Empowerment) pada tanggal 27 Februari 2026 di Catholic Center Keuskupan Agung Medan meneguhkan harapan baru bagi keluarga-keluarga yang terdampak bencana alam pada November 2025. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup secara resmi membuka program pemulihan, menyusul tahap tanggap darurat bencana yang telah terlaksana dengan baik. Program yang digagas oleh Caritas Keuskupan Agung Medan bekerja sama dengan Caritas Indonesia ini berfokus pada usaha pemulihan holistik, yakni pemulihan ekonomi keluarga melalui dukungan mata pencaharian, bantuan pendidikan bagi anak-anak agar mereka dapat kembali belajar dengan tenang, serta penyediaan hunian yang aman dan layak sebagai dukungan dasariah bagi kehidupan yang bermartabat.

    Melalui program ini, Gereja, seraya menanggapi kebutuhan mendesak akibat bencana, terlibat aktif dalam membangun kembali martabat dan ketahanan masyarakat. Pada saat yang sama, Caritas Keuskupan Agung Medan dan Caritas Indonesia menyampaikan apresiasi yang tulus kepada seluruh umat Allah yang telah menunjukkan solidaritas kasih melalui dukungan dan donasi bagi para korban bencana. Semoga upaya kasih ini sungguh membantu keluarga-keluarga terdampak untuk perlahan bangkit, memulihkan penghidupan, dan menata kembali masa depan dengan penuh harapan.

    3. Sidang Dewan Prebiteral KAM (KAM) 2 Mar 2026

    Sidang Dewan Presbiteral Keuskupan Agung Medan berlangsung di ruang DEPKAM, lantai 3 Catholic Center Christosophia, pada tanggal 2 – 4 Maret 2026. Pertemuan selama tiga hari ini diawali dengan Ibadat Sore bersama yang dipimpin oleh para petugas yang sudah ditentukan oleh Sekretariat DEPKAM. Sidang yang sangat penting ini menegaskan bahwa seluruh dinamika pastoral Gereja harus berakar pada doa dan penyerahan diri pada bimbingan Roh Kudus. Sidang ini adalah saat berahmat untuk pertama-tama mendengarkan yang dikehendaki Tuhan dalam pelayanan Gereja lokal. Salah satu pokok penting yang dibahas dalam sidang ini ialah rencana pemekaran paroki yang diajukan oleh umat bersama Pastor Paroki dan Vikaris Teritorial. Melalui dialog yang jujur dan terbuka, para imam memberikan pertimbangan pastoral kepada Uskup mengenai kebutuhan perluasan wilayah pelayanan agar Gereja semakin hadir dekat dengan umat dan pelayanan sakramen dapat menjangkau lebih banyak orang. Setelah lama didiskusikan dalam sidang-sidang DEPKAM sebelumnya, pada kesempatan ini dipaparkan kembali apa hakikat DEPKAM dan apa fungsinya.

    Dewan Presbiteral adalah organ representatif para imam yang bertugas membantu Uskup dalam pelayanan pastoral keuskupan dengan memberikan nasihat dan pertimbangan demi kebaikan umat. Secara teologis, keberadaan dewan ini berakar pada eklesiologi persekutuan yang ditekankan oleh Konsili Vatikan II, yakni kolegialitas antara Uskup dan para imam dalam satu persekutuan pelayanan. Dalam kerangka ini, Dewan Presbiteral ikut membangun kerja sama dalam pelayanan, mencerminkan struktur hirarkis Gereja, dan mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan pastoral. Motu Proprio Ecclesiae Sanctae yang dikeluarkan Paus Paulus VI menggariskan tugas Dewan Presbiteral untuk mengkaji dan memberikan nasihat mengenai kegiatan pastoral dengan tujuan membangun kesatuan dalam pelayanan. Kitab Hukum Kanonik menegaskan dewan ini sebagai “senat Uskup” yang membantu pemerintahan keuskupan secara pastoral. Dengan demikian, Dewan Presbiteral secara esensial merupakan realitas teologis yang menampakkan persekutuan pelayanan apostolik dalam Gereja.

    DEPKAM wajib terlibat aktif dalam pendampingan para imam yang berkarya di Keuskupan Agung Medan. Tugas ini sudah dijalankan oleh Tim OGF (ongoing formation), yang sejak Desember 2024 dipisahkan dari DEPKAM menjadi tim tersendiri yang langsung berada di bawah arahan Bapa Uskup. Diinspirasi oleh studi imam yang usia tahbisannya di atas 21 tahun yang dikoordinir oleh OGF Regio Sumatera, Bapa Uskup menyatakan keprihatinannya akan para imam yang sungguh membutuhkan pendampingan dan pendidikan berlanjut. Oleh karena itu, pada hari terakhir Sidang DEPKAM, semua peserta menyatakan persetujuannya agar Bapa Uskup membentuk satgas untuk menyusun kurikulum pembinaan imam berlanjut sesuai dengan kelompok usia tahbisannya, yakni 0 – 1 tahun, 2 – 5 tahun, 6 – 10 tahun, 10 – 20 tahun, dan 21 tahun ke atas. Program pendampingan ini diharapkan semakin membantu para imam menyadari tugasnya untuk menguduskan, mengajar, dan memimpin umat. Agar mampu menghayati imamatnya dengan baik, imam perlu membina intimitas yang semakin mendalam dengan Yesus Kristus, sehingga mampu menjawab tantangan zaman dan hidup semakin sesuai dengan Injil.

    Sidang DEPKAM menghadirkan secara nyata Gereja Keuskupan Agung Medan sebagai komunitas yang hidup dari doa, berjalan dalam semangat sinodal, dan memelihara para gembalanya agar semakin mampu menggembalakan umat dengan hati yang menyerupai hati Kristus. Semoga para imam semakin mengalami persaudaraan satu sama lain dan sekaligus bersatu dengan Bapa Uskup dalam penggembalaan umat Keuskupan Agung Medan.

    4. Audiensi DPPH, Panitia Revitalisasi Gereja dan Pembangunan Aula Hayam Wuruk 5 Mar 2026

    DPPH, Panitia Revitalisasi Gereja, dan Pembangunan Aula Hayam Wuruk berdiskusi dengan Bapa Uskup pada tanggal 5 Maret 2026 di Catholic Center. Dalam sambutan pembukaan, Bapa Uskup mengajak para peserta audiensi untuk melanjutkan pembangunan aula yang terhubung dengan Catholic Center serta revitalisasi Gereja St. Antonius Padua demi tata ruang yang lebih layak dan fungsional. Panitia melaporkan kegiatan revitalisasi gereja yang sudah mencakup perbaikan pagar, plafon, tata hijau, ruang sakramen tobat, pembangunan sanctuarium, façade, dan menara yang ditargetkan selesai menjelang HUT ke-111 paroki. Dalam hal keuangan, dicatat adanya potensi double counting antara laporan panitia dan paroki sehingga dibutuhkan pelaporan yang lebih terintegrasi dan transparan. Uskup memberi catatan mengenai desain: paroki harus tetap menjadi ruang pertemuan umat, sanctuarium dan menara perlu dirancang agar menonjolkan keindahan dan daya Tarik, sementara façade gereja perlu diperhalus agar lebih serasi.

    Terkait pembangunan aula baru, dilaporkan bahwa sertifikat tanah sudah terbit, PKR dan IMB/PBG sedang diproses, dan pembongkaran aula lama menunggu izin resmi serta proses tender. Panitia mengajukan dukungan dana dari KSSY dan dana internal paroki, serta mulai menjalin komunikasi dengan calon donatur. Dr. Hendrik Sitompul menekankan perlunya struktur panitia yang kuat, adanya pengawas khusus, SOP pembangunan yang jelas, serta pola komunikasi yang tertata agar seluruh tim bergerak serentak. Bapa Uskup menambahkan bahwa struktur dan tupoksi harus dirumuskan dengan baik, rapat rutin dengan notulen yang ditindaklanjuti sangat penting, dan pembongkaran gedung lama sebaiknya dilakukan setelah sekitar 60% pendanaan terjamin. Aula baru diproyeksikan bukan hanya untuk umat Hayam Wuruk, tetapi untuk seluruh Kevikepan Medan dan kerja sama dengan berbagai lembaga Gereja. Lantai bawah difungsikan sebagai ruang berkumpul umat, bukan sekadar area parkir. Panitia, melalui R.P. Moses Situmorang, menyatakan siap menata kembali struktur dan SOP sesuai arahan.

    Mengenai Kuasi Stasi Polonia, dilaporkan bahwa tanah seluas 14 x 80meter milik keluarga Hermes dihibahkan kepada Gereja dengan tujuan dipakai sebagai tempat untuk membangun gedung gereja tanpa kemungkinan untuk perubahan peruntukan. Draft perjanjian sedang disusun oleh notaris dan akan dikonsultasikan kepada Uskup, dengan perhatian khusus pada aspek hukum agar hak pakai Gereja terlindungi dalam jangka panjang meski sertifikat tetap atas nama pemilik. Desain gereja dua lantai berkapasitas sekitar 400 orang sudah tersedia, proses perizinan IMB/PBG sedang berjalan, dan persetujuan warga sekitar telah dipenuhi. Jika izin terbit tepat waktu, peletakan batu pertama direncanakan pada April 2026 dan diharapkan dipimpin langsung oleh Bapa Uskup. Bapa Uskup memberkati peserta audiensi sebagai peneguhan komitmen bersama untuk melanjutkan karya pembangunan dan revitalisasi secara tertib, akuntabel, dan selaras dengan visi keuskupan.

    5. Audiensi LP3KD 5 Mar 2026

    LP3KD Sumatera Utara beraudiensi kepada Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, pada tanggal 5 Maret 2026 untuk memaparkan identitas, kiprah 2023 – 2025, serta rencana Pesparani Sumut III tahun 2026 yang diposisikan sebagai sarana pembinaan iman melalui liturgi dan seni gerejani, bukan sekadar lomba. Disampaikan juga rencana Pesparani berjenjang hingga nasional, laporan singkat keuangan hibah dari Pemprovsu dan Kemenag, serta kebutuhan fasilitas pembinaan dan ruang pertemuan di gedung Catholic Center.

    Mgr. Kornelius menyetujui secara prinsip penunjukan moderator imam yang menjembatani LP3KD dengan struktur Gereja, menekankan pentingnya koordinasi dengan wilayah pemerintahan (kecamatan/kabupaten) demi sinergi dengan pemerintah, serta perlunya penentuan lokasi Pesparani yang mempertimbangkan kapasitas panitia dan fasilitas. Bapa Uskup menegaskan kembali bahwa fokus utama Pesparani adalah pembinaan liturgi dan iman, dengan penilaian yang objektif dan bebas dari “suka-tidak suka”. Uskup juga mendorong pengenalan LP3KD di lingkungan para imam dan pengembangan pelatihan musik liturgi yang berkelanjutan. Pertemuan ditutup dengan doa dan berkat Uskup, menandai komitmen bersama menguatkan Pesparani sebagai karya pastoral Gereja di Sumatera Utara.

    6. Tim Centenario Fransiskan 16 Mar 2026

    Pada tanggal 16 Maret 2026, Tim Centenario Fransiskan mengadakan audiensi dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, untuk meminta arahan berkaitan dengan Tahun Santo Fransiskus di Keuskupan Agung Medan. Menindaklanjuti dekret Paus Leo XIV tentang Yubileum 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus (10 Januari 2026–10 Januari 2027), Gereja lokal KAM memilih untuk menghayatinya bukan sekadar sebagai rangkaian ziarah, melainkan sebagai masa rahmat untuk pembaruan hidup injili. Inti yang ditekankan adalah spiritualitas Fransiskan, yaitu hidup sederhana dan miskin menurut Injil, persaudaraan yang inklusif, damai (Pax et Bonum), rekonsiliasi dengan Allah dan sesama, serta kepekaan terhadap orang kecil dan kelestarian ciptaan.

    Dengan tema “Fransiskus Pembawa Damai dan Saudara bagi Semua”, program tahun Yubileum di KAM dirancang sederhana namun terarah demi menjamin partisipasi umat yang maksimal. Umat diajak berziarah ke salah satu dari 37 tempat yang telah ditetapkan (paroki yang digembalakan oleh para imam Fransiskan, biara induk Fransiskan, dan gereja yang menjadikan St. Fransiskus sebagai pelindungnya), dengan kesempatan memperoleh indulgensi penuh bagi yang memenuhi syarat-syarat lazim, yakni pengakuan dosa, komuni, doa bagi intensi Paus, dan ziarah ke salah satu tempat yang telah ditetapkan. Ziarah dianjurkan dijalani dalam semangat tobat dan solidaritas, misalnya dengan berjalan kaki tanpa unsur komersial.

    Di samping ziarah, Tim Centenario akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan formasi: katekese tentang spiritualitas Fransiskan dan indulgensi, dialog perdamaian lintas agama, seminar kaum muda tentang menjadi Katolik di era media sosial, serta rekonsiliasi Fransiskan dengan penekanan khusus pada Sakramen Tobat di wilayah pelayanan keluarga Fransiskan sepanjang tahun. Aksi profetis sosial dan ekologis juga akan dirumuskan secara lebih konkret sebagai wujud nyata hidup injili di tengah kemiskinan dan krisis lingkungan. Tahun ini diintegrasikan dengan dinamika Sinode Diosesan VII KAM sehingga semangat Fransiskan sungguh mewarnai pembaruan hidup menggereja.

    Mgr. Kornelius menegaskan bahwa undangan Paus bersifat ajakan, bukan kewajiban, namun KAM menanggapinya secara positif dan aktif. Uskup akan mengeluarkan surat resmi yang mengundang seluruh umat KAM untuk mengambil bagian dalam Tahun Santo Fransiskus, dengan Keluarga Fransiskan sebagai motor penggerak yang bekerja sama dengan berbagai komisi keuskupan. Melalui perencanaan yang terkoordinasi dan penekanan kuat pada penularan spiritualitas, diharapkan Tahun Yubileum ini menjadi kesempatan bagi umat KAM untuk kembali menghidupi Injil secara lebih murni, sehingga damai dan kebaikan Pax et Bonum semakin nyata dalam hidup pribadi, komunitas, dan masyarakat luas. Melalui perayaan Yubileum ini, Santo Fransiskus semakin nyata dijadikan sebagai model yang relevan dan mendesak bagi kehidupan iman di zaman sekarang.

    7. Menuju Gereja Baru Saribudolok 16 Mar 2026

    Pada hari Senin, 16 Maret 2026, DPPH dan Panitia Pembangunan Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolog beraudiensi dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, untuk memohon arahan atas rencana pembangunan gedung gereja baru. Pembangunan ini tidak hanya menjawab kebutuhan fisik, tetapi juga merupakan upaya menata ruang liturgi yang lebih sesuai kaidah Gereja dan mampu menampung umat yang bertambah secara signifikan.

    Panitia menjelaskan bahwa gereja lama mengalami keretakan, menara miring, dan secara visual “tenggelam” di antara bangunan baru (pastoran dan sekolah), sementara tata ruang liturgi, yakni panti imam, tabernakel, ruang tobat, dan sakristi, belum memadai. Peletakan batu pertama telah dilakukan pada 26 Oktober 2025, gereja lama dibongkar pada awal 2026, dan lahan kini siap memasuki tahap pondasi setelah desain final disetujui.

    Mgr. Kornelius menilai ukuran dasar bangunan sudah cukup, tetapi konsep ruang dianjurkan lebih “mendekatkan” umat dengan altar (bukan hanya memanjang), dengan kemungkinan mempendekkan bangunan dan sedikit melebarkannya. Beliau mengusulkan agar gereja baru didekatkan ke pastoran lama sehingga tercipta komposisi yang lebih serasi dan fungsional, serta ruang bawah yang lapang dengan kolom yang lebih besar dan artistik. Area luar, seperti taman baca, diharapkan menjadi ruang ekspresi yang hidup bagi umat dan sekolah.

    Arsitek dan panitia menyambut usulan ini, sepakat meninjau kembali posisi bangunan di lapangan dan menyesuaikan desain tanpa menunda terlalu lama demi menjaga kepercayaan umat yang sudah menantikan kelanjutan pembangunan. Berkat Bapa Uskup pada akhir pertemuan meneguhkan langkah bersama untuk mewujudkan sebuah gereja baru yang kokoh, indah, liturgis, dan sungguh menjadi rumah doa bagi umat Paroki Saribudolok.

    8. Rapat Kuria KAM 17-20 Mar 2026

    Pada tanggal 17 – 20 Maret 2026, Bapa Uskup bersama semua vikaris episkopal teritorial, vikaris episkopal kategorial, kanselarius, dan ekonom mengadakan rapat Kuria di Penang. Sebelum berangkat ke Penang, rapat dibuka di ruang Kolegium Konsultor dengan membahas notulen rapat Kuria bulan Februari 2026. Setelah memaparkan pengembangan notulen, ekonom diminta memaparkan budget yang telah disusun yang akan dipakai selama tahun 2026. Pada pukul 10.30 WIB, peserta rapat berangkat ke Penang. Rapat diteruskan pada 18 Maret 2026 di ruang pertemuan Sentral Seaview Hotel. Sedianya tempat pertemuan adalah di rumah retret Kapusin di Penang, tetapi karena tempat ini sudah penuh, peserta rapat harus pindah ke tempat lain. Kesempatan berada di Penang dipakai oleh dua peserta rapat untuk mengadakan medical check-up. Sejumlah pokok penting dibahas dalam rapat ini, antara lain konkritisasi rekomendasi temu pastoral Uskup dan Tarekat Hidup Bakti pada 19 – 22 Januari 2026 di CC PPU Pematangsiantar. Enam pokok utama yang dibahas dalam rapat ini adalah Lingkungan Hidup (Tindakan Pasca Bencana dan Ekologi Praktis), Kaderisasi Awam, Pewarta Digital dan Media Sosial, Pastoral Migran dan Perantau, Menjadi Komunitas yang Berjalan Bersama, dan Wajah Baru THB KAM. Aplikasi konkret keenam tema ini harus digariskan agar dokumen yang sangat baik ini tidak tinggal sebagai rumusan indah belaka.

    Rapat kuria juga membahas sejumlah poin penting, yakni Keputusan Sidang DEPKAM ke-18 pada 2 – 4 Maret 2026, rencana pemekaran Keuskupan Agung Medan, dan pemekaran paroki. Poin terakhir yang mendapat pembahasan serius ialah penyusunan ratio formationis bagi ongoing formation imam yang berkarya di KAM berdasarkan usia tahbisan. Pada tanggal 20 Maret 2026, peserta rapat kembali ke Keuskupan Agung Medan dengan selamat. Semoga hal-hal yang mendapat pembahasan serius dalam rapat ini dapat menghasilkan buah manis di wilayah Keuskupan Agung Medan.

    Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.

    RP. Adrianus Sembiring OFMCap
    Kanselarius Keuskupan Agung Medan

    Paroki Simalingkar B

    0
    Pelindung
    :
    Santo Fransiskus Xaverius
    Buku Paroki
    :
    Sejak 25 Januari 2016. Sebelumnya bergabung dengan Paroki St. Fransiskus Asisi Padang Bulan dan Paroki St. Yohanes Paulus II, Namo Pecawir Tuntungan
    Alamat
    :
    Jl. Bunga Bangsa, Simalingkar B, Medan – 20135
    Telp.
    :
    0813 7723 5432
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    770 KK / 2.858 jiwa 
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    2
     
    01. Durin Pitu
    02. Keloni
     
    RD. Shan Efran Sinaga
    02.01.’86
    Parochus
    RD. Blasius Ola Doren 
    05.06.’89
    Vikaris Parokial
         

    Sejarah Paroki St. Fransiskus Xaverius | Simalingkar B - Medan

    Gereja St. Fransiskus Xaverius, Simalingkar B berdiri sejak tahun 1973. Awalnya umat Katolik yang berdomisili di Simalingkar B, beribadat di Gereja St. Stefanus Martir, Keloni. Kemudian missionaris dari Italia, Pastor Carmello Comina, OFM Conv dari Paroki Deli Tua bersama dengan Bp. Imanuel Sempat Ginting dari Stasi Keloni menemui Bp. Tetap Tarigan untuk membicarakan pendirian Gereja Stasi di Simalingkar B. Diperoleh kesepakatan bahwa Bp. Tetap Tarigan dan beberapa tokoh masyarakat diantaranya Bp. Ngalo Tarigan, Bp. Cara Sembiring, dan Bp. Manis Tarigan akan mengumpulkan umat untuk melakukan ibadat di rumah umat setiap hari Minggu-nya secara bergiliran, dengan jumlah umat sekitar 15 KK. Hal ini berjalan beberapa bulan. Dan selanjutnya umat mengusulkan supaya Bp. Tetap Tarigan memohonkan kepada Kepala Sekolah SD Negeri Simalingkar B pada saat itu untuk meminjamkan Gedung SD Negeri Simalingkar B sebagai tempat beribadat umat Katolik Simalingkar B karena Bp Tetap Tarigan adalah salah seorang guru di SD tersebut. Usulan tersebut ternyata dikabulkan sehingga umat bisa beribadat di SD Negeri Simalingkar B.

    Pada tanggal 24 Februari 1974 dilaksanakan pertama sekali pembaptisan di Stasi Simalingkar B oleh Pastor Carmello Comina, OFM Conv dengan peserta baptis lebih kurang 25 orang. Bapa Serani pada pembaptisan tersebut masih dijabat oleh Pengurus Gereja dari Stasi Keloni yaitu Bp. Imanuel Sempat Ginting sedangkan Ibu Serani adalah Suster Adriana Fau, FSE. Pada tanggal tersebut juga ditetapkan kepengurusan Gereja Stasi Simalingkar B oleh Pastor Carmello Comina, OFM Conv dengan susunan pengurus sebagai berikut:
    Ketua I : Bp. Tetap Tarigan,
    Ketua II : Bp. Ngalo Tarigan,
    Sekretaris : dipegang langsung oleh Ketua I,
    Bendahara : Bp. Cara Sembiring.

    Untuk selanjutnya, terjadi perkembangan umat sehingga diperlukan tempat misa yang lebih luas. Maka umat mengusulkan supaya didirikan bangunan gereja. Pada bulan Mei 1974, dengan semangat dan swadaya umat, didirikanlah bangunan darurat dari bambu di pertapakan gereja lama yang tanahnya disumbangkan oleh Bp. Nanggeh Sembiring.

    Sampai tahun 1976, Stasi Simalingkar B masih digembalakan oleh Imam dari Paroki Deli Tua dengan jadwal misa sekali sebulan, sedangkan ibadat dipimpin oleh pengurus Gereja Stasi Simalingkar B secara bergantian. Untuk penyegaran, ibadat sabda sekali-sekali dipimpin oleh pengurus Gereja dari Stasi Keloni atau Stasi Pancur Batu.

    Pada awal tahun 1977, Stasi Simalingkar B diserahkan dari Paroki St. Yosep Deli Tua kepada Paroki Padang Bulan Medan. Bangunan gereja darurat hanya bertahan 3 tahun saja dan akhirnya tumbang karena hujan deras disertai angin kencang. Maka pada tahun 1977 didirikanlah bangunan gereja yang permanen yaitu gereja lama sekarang. Pada tahun 1982, Stasi Simalingkar B diberikan nama “Gereja Katolik Kebangkitan Simalingkar B” oleh Pastor Antonio Murru, OFM Conv.

    Pada tahun 1994, berdasarkan keputusan rapat Pengurus Stasi dengan Pengurus Lingkungan maka dipilihlah pelindung stasi yaitu St. Fransiskus Xaverius sehingga nama stasi berubah menjadi Stasi St. Fransiskus Xaverius Simalingkar B. Seiring perkembangan jumlah umat, maka gereja lama tidak mampu lagi menampung umat untuk perayaan misa. Dengan demikian, diperlukan bangunan gereja yang lebih besar. Maka pada tahun 1996 didirikanlah gereja yang lebih besar oleh Pastor Antonio Razolli, OFM Conv dan selesai pada tahun 1997 yang peresmiannya dipimpin oleh Uskup Agung Medan Mgr AG Pius Datubara, OFM Cap.

    Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius terus berkembang. Pada tahun 2016, Uskup Agung Medan Mgr Dr. Anicetus B. Sinaga mengeluarkan Surat Keputusan Uskup Agung Medan Nomor 024/PAR/SBM/KA/ 2016 tentang “Pendirian Kuasi Paroki Sto. Fransiskus Xaverius, Simalingkar B” pada tanggal 25 Januari 2016. Serentak dengan dikeluarkannnya surat tersebut, Bapa Uskup Agung Medan juga mengeluarkan Surat Keputusan Penetapan Uskup Agung Medan Nomor 025/PAR/SBM/KA/I/2016 tentang “Pemindahan Stasi-stasi untuk Membentuk Kuasi Paroki Sto. Fransiskus Xaverius Simalingkar B, Medan”. Adapun stasi-stasi yang ditetapkan untuk bergabung menjadi kuasi paroki ini adalah:
    1. Stasi St. Fransiskus Xaverius, Simalingkar B, Jln. Bunga Bangsa, Medan Tuntungan, 20135, dengan jumlah umat 487 kk/ 2.223 jiwa dalam 18 lingkungan;
    2. Stasi St. Stefanus Martir, Keloni, Kec. Pancur Batu, Kab. Deli Serdang, dengan 99 kk/ 410 jiwa, dengan 4 lingkungan;
    3. Stasi St. Fransiskus Asisi, Durin Pitu, Kec. Pancur Batu, Kab. Deli Serdang, dengan 48 kk/ 185 jiwa dengan 2 lingkungan.

    Keputusan dan ketetapan di atas diambil oleh Uskup Agung Medan setelah RD. Fernandus Saragi selaku dan atas nama tim selia yang ditunjuk sebelumnya telah menyampaikan data-data kepada Uskup Agung Medan. Data itu adalah sebagaimana tercantum pada daftar di atas dengan rincian: tertulis dengan nomor 1 (satu) berasal dari Paroki St. Fransiskus Asisi, Padang Bulan, sedangkan yang tertulis nomor 2 (dua) dan 3 (tiga) berasal dari Paroki St. Yohanes Paulus II, Namo Pecawir, Medan Tuntungan. Ketiga gereja stasi ini sebelumnya merupakan gereja yang digembalakan oleh para Pastor Ordo Saudara Dina Conventual.

    Segera setelah terjadi penetapan tersebut, mulailah dilaksanakan penyalinan buku-buku yang perlu, yakni Buku Catatan Baptis dan Perkawinan di bawah panduan para Pastor Paroki asal stasi-stasi yang akan bergabung menjadi kesatuan dalam Kuasi Paroki St. Fransiskus Xaverius, Simalingkar B, Medan. Nama dan pelindung (kuasi) paroki ini tetap menggunakan nama Santo Fransiskus Xaverius, Simalingkar B, sebagaimana selama ini telah disandang sebagai nama dan pelindung saat masih berstatus stasi yang merupakan bagian dari Paroki Santo Fransiskus Asisi, Padang Bulan, Medan.

    Proses berikutnya adalah penunjukan dan pengangkatan/ penetapan Uskup tentang siapa yang akan menjadi Pastor Paroki untuk kuasi paroki yang baru ini. Tidak lama kemudian Uskup Agung Medan mengangkat RD Sebastianus Eka Bhakti Sutapa untuk menjadi Parokus dengan Surat Keputusan Uskup Agung Medan Nomor: 235/IM/PR/KA/V/’16 yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2016. Guna menguatkan karya penggembalaan di wilayah kuasi paroki yang baru ini, Uskup Agung Medan kemudian juga mengangkat RD Desman M. Marbun menjadi vikaris parokial.

    Dengan ditunjuk dan diangkatnya Pastor Paroki di Kuasi Paroki St. Fransiskus Xaverius, Simalingkar B, maka pada hari Minggu tanggal 17 Juli 2016 dilaksanakan acara serah terima karya penggembalaan dari Pastor Ordo Saudara Dina Conventual kepada Pastor Diosesan. Acara serah terima ini dipimpin oleh Vikep, RP Harold Harianja, OFM Cap. Sejak Juli 2016 hingga saat ini jumlah umat di kuasi Paroki St. Fransiskus Xaverius Simalingkar B semakin bertambah sehingga beberapa lingkungan di wilayah Simalingkar B mengalami pemekaran dari 18 lingkungan menjadi 21 lingkungan sekarang (tahun 2022), sementara jumlah lingkungan di 2 stasi lain yakni Keloni dan Durin Pitu masih tetap masing-masing 4 lingkungan dan 2 lingkungan. Maka jumlah keseluruhan lingkungan yang ada di Kuasi Paroki St. Fransiskus Xaverius Simalingkar B adalah 27 lingkungan dengan jumlah jiwa 2622 (708 KK).

    BIARA SFMA

    Di sekitar wilayah Gereja Kuasi Paroki St. Fransiskus Simalingkar B berdiri juga sebuah biara Konggregasi Suster Fransiskanes Misionaris dari Assisi (SFMA). Biara ini dibangun pada tanggal 4 Mei 2008 dengan ditandai peletakan batu pertama oleh Uskup Agung Medan Mgr Dr. Anicetus B. Sinaga. Para Suster SFMA mulai berkomunitas dan berkarya di Stasi Simalingkar B pada tanggal 30 Januari 2009. Biara SFMA Simalingkar B kemudian diberkati pada tanggal 13 September 2009 oleh Uskup Agung Medan Mgr Dr. Anicetus B. Sinaga.

    Suster misionaris pertama yang berkomunitas dan berkarya di Stasi Simalingkar B berasal dari Provinsial Korea Selatan, diantaranya adalah Sr. Susana Park (Pimpinan Delegasi Indonesia Pertama dan sudah kembali ke Korea Selatan), Sr. Paola Kim (masih berada di Indonesia), Sr. Regina (sudah kembali ke Korea Selatan), Sr. Christina Hur (Pimpinan Delegasi Indonesia sekarang). Saudara Indonesia yang bersama pindah ke Simalingkar B adalah Sdr Teresa Nadeak (tahun Novisiat), Sdr Alexia Sitepu (tahun Novisiat), Sdr Maria Tarigan (tahun Postulan), Sdr Monika (tahun Postulan), Sdr Loren Sembiring (tahun Postulan), Sdr Anna (tahun Postulan). Hingga saat ini pun sudah mulai tampak perkembangan biara ini dengan hadirnya bibit-bibit panggilan yang bergabung Bersama konggregasi SFMA.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Divisi Serikat Kepausan St Petrus untuk Pengembangan Panggilan

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20152, Sumatera Utara – Indonesia
    RD. Silvester Asan Marlin
    0878-6777-7050

    Selamat Paskah – Mgr Kornelius Sipayung OFMCap

    Selamat Hari Raya Paskah, Hari Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. 

    Paskah mengajak kita untuk bangkit bersama Kristus: keluar dari kegelapan menuju terang, dengan mendengarkan Sabda, meneguhkan sesama, dan mewartakan kasih melalui hidup yang jujur, berani, serta penuh harapan.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
    Uskup Keuskupan Agung Medan

    Penutupan Salib sesudah Misa Perjamuan Tuhan

    HAL MENYELUBUNGI SALIB

    Para Saudara terkasih, seputar Masa Prapaskah ini, cukup hangat diskusi di antara kita (imam dan umat) tentang penyelubungan salib. Akibatnya, ada dari antara kita sudah menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa dan ada yang belum menyelubunginya.

    Oleh karena itu, beberapa poin berikut pantas kita simak bersama demi kesatuan paham dan kesamaan gerak dan perayaan iman di Keuskupan Agung Medan.

    1. Tradisi menyelubungi salib, patung-patung kudus dan melepaskan kain altar sudah terlaksana dalam gereja kita sejak 4 abad pertama. Tradisi kuno ini masih tetap berjalan sampai sekarang dalam konteks gereja universal. Tindakan menyelubungi ini boleh juga diganti dengan tindakan memindahkan salib dan patung-patung kudus dari dalam gereja ke tempat lain yang layak. Tradisi ini dikaitkan dengan peristiwa Yesus yang berdoa di taman Getsemani dan seterusnya menjalani peristiwa derita dan salib. Maka salib akan tertutupi dengan kain ungu (atau merah) sampai peristiwa ritus penghormatan salib dilaksanakan pada hari Jumat Agung. Tradisi ini dikaitkan pula dengan tidak adanya perayaan Ekaristi pada hari Jumat Agung.

    2. Tradisi menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa merupakan tradisi yang dilaksanakan sejak abad IX di gereja Jerman. Jadi, bukan berlaku universal untuk gereja Katolik Ritus Roma. Praktik ini dikaitkan dengan kisah Injil pada hari Minggu V Puasa yang berbicara tentang penderitaan yang akan dialami oleh Yesus (Minggu Sengsara Tuhan) dan saat-saat mana Ia mengasingkan diri hingga tampil lagi memasuki kota Yerusalem menjelang saat-saat peristiwa salib, wafat, dan bangkit. Sementara itu, Ritus Ambrosiana melaksanakan penutupan salib sejak Minggu I Puasa (praktisnya selama Masa Prapaska). Praktik ini dikaitkan dengan masa tobat, masa refleksi, retret selama Masa Prapaskah dan menjauhkan diri dari kemeriahan termasuk dari kemeriahan simbol-simbol kudus.

    3. Dokumen Perayaan Paska dan Persiapannya (terbit tahun 1988 oleh Kongregasi Ibadat Suci) tetap berusaha memelihara tradisi-tradisi khusus gereja yang ada di seluruh dunia. Itulah termasuk alasannya mengapa dalam dokumen tersebut dituliskan “kebiasaan menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa dapat dipertahankan, bila demikian ditetapkan oleh Konferensi Waligereja…” (PPdP, 26).

    4. Konteks Indonesia, tidak ada kebiasaan menyelubungi salib sebelum tahun 1988 (terbitnya dokumen tersebut), maka pelaksanaan penyelubungan salib sejak Minggu V Puasa akhir-akhir ini merupakan tradisi yang baru di beberapa daerah di Indonesia. Selain itu, dasar iuridis tindakan itu belum ditetapkan, karena hingga sekarang Konferensi Waligereja belum pernah membuat keputusan untuk menutup salib sejak Minggu V Puasa, sebagaimana ditekankan oleh dokumen Pedoman Perayaan Paskah dan Persiapannya (1988). Penanggalan Liturgi KWI pun hanya mengutip Pedoman 1988; dan tidak memuat keputusan atasnya. Tampaknya tindakan menyelubungi salib itu lebih sebagai inisiatif para pencinta liturgi yang membaca dokumen secara sederhana dan langsung menerapkannya melebihi kewenangan Konferensi Waligereja dan kewenangan Uskup diosesan.

    5. Sampai sekarang, Uskup Keuskupan Agung Medan belum pernah menganjurkan tindakan penyelubungan salib sejak Minggu V Puasa. Dengan demikian KAM tetap mengikuti tradisi Gereja yakni menyelubungi salib sesudah Misa In Cena Domini (adalah nama Latin untuk Misa Perjamuan Tuhan, yaitu perayaan Ekaristi pada Kamis Putih malam-bagian pertama dari Trihari Suci). Maka praktik menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa tidak dilaksanakan di wilayah Keuskupan Agung Medan. Ini dilaksanakan dengan berdasar pada tradisi antik gereja dan belum adanya keputusan Konferensi Waligereja Indonesia atasnya.

    6. Selain itu, kita di KAM masih merayakan perayaanperayaan istimewa seputar Minggu Palma, Misa Krisma, Misa In Cena Domini yang mengharapkan simbol-simbol liturgis, termasuk salib, tetap tampil dengan cemerlang, yang dengannya Yesus Kristus sungguh hadir dan tampil dengan jaya.

    7. Bila salib ditutup, itu berarti simbol salib ditiadakan atau tidak dihadirkan dalam perayaan-perayaan iman. Maka salib perarakan tidak dibawa lagi dalam Ibadat Jalan Salib pada hari Jumat Agung, apalagi membawanya dengan posisi tertutup, sangatlah tidak tepat.

    Medan, 05 April 2025
    Komisi Liturgi KAM

     

    Kantor Komlit KAM Lt 3
    Gedung Catholic Center Christosophia Medan
    Jl. Mataram 21 Petisah Hulu, Medan Baru, Medan.

    Jadwal Pekan Suci 2026 Paroki se-KAM

    *Geser ke samping jika isi tabel tidak terlihat seluruhnya

    No Gereja Paroki Kamis Putih, 2 April Jumat Agung, 3 April Vigili Paskah, 4 April Hari Raya Paskah, 5 April Minggu Palma, 29 Maret
    1 Aek Kanopan 19.00 09.00 19.00 09.00
    2 Aek Nabara paroki 18.00 stasi 18.00 paroki jam 14.00 stasi jam 14.00 paroki jam 18.00 stasi jam 19.00 paroki jam 08.00, stasi jam 11.00 stasi jam 10.00
    3 Balige Paroki: 19.00 WIB ; Stasi: 18.00 WIB Paroki: 15.00 WIB ; Stasi: jam 15.00 Paroki: 19.00 WIB ; Stasi: 18.00 WIB Paroki: 08.00 WIB ; Stasi: 09.00 WIB ; Stasi: 10.30 WIB Paroki: 08.00; 10.00 WIB
    4 Banda Aceh 19.00 WIB Jalan Salib 09.00 WIB; Penghormatan Salib 15.00 WIB 19.00 WIB 09.00 WIB 08.00 WIB
    5 Bandar Baru
    6 Batang Kuis Paroki : 19.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 19.00 WIB; Stasi Janji Matogu : 19.00 WIB Paroki : 15.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 15.00 WIB; Stasi Janji Matogu : 15.00 WIB Paroki : 19.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 19.00 WIB; Stasi Pardomuan Nauli : 19.00 WIB Paroki : 07.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 07.30 WIB; Stasi Pasir Putih : 09.00 WIB; Stasi Serdang : 10.00 WIB; Stasi Saur Matio : 11.00 WIB; Stasi Tanjung Rejo : 11.00 WIB Paroki : 07.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 07.30 WIB; Stasi Janji Matogu : 10.00 WIB; Stasi Tanjung Rejo : 11.00 WIB
    7 Berastagi 18.30 WIB Tablo Jalan Salib: 09.00 WIB Penghormatan Salib 15.00 WIB 18.30 WIB 07.00 WIB dan 09.00 WIB 08.30 WIB: Perarakan dimulai dari Bukit Kubu pukul 08.00 WIB
    8 Binjai Pkl. 19.00 wib Tablo Jalan Salib: 09.00 WIB; Penghormatan Salib 15.00 WIB Pkl 19.00 WIB Pkl. 08.00 WIB 08.00 WIB. Perarakan dimulai dari taman doa
    9 Cinta Damai 19.00 WIB JALAN SALIB DIMULAI PUKUL 09.00 WIB; MISA JUMAT AGUNG 15.00 WIB 19.00 WIB 09.00 WIB 09.00 WIB, PERARAKAN DIMULAI DARI GUA MARIA BUNDA KARMEL
    10 Delitua
    11 Diski (KP) Paroki (19.00), Stasi Medan Krio (19.00), Stasi Sei Mencirim (19.00) Jalan Salib (08.00), Paroki (15.00); Stasi Paluhmanan (11.00); Stasi Medan Krio (15.00); Stasi Sei Mencirim (15.00); Stasi Bulu Cina (15.00) Paroki (19.00); Stasi Medan Krio (19.00); Stasi Sei Mencirim (19.00) Paroki (08.00); Stasi Medan Krio (08.00); Stasi Sei Mencirim (10.30); Stasi Paluhmanan (08.00); Stasi Paluhmanan (11.00) Paroki (08.00), Stasi Medan Krio (08.00), Stasi Sei Mencirim (10.30), Stasi Bulu CIna (08.00), Stasi Paluhmanan (11.00)
    12 Dolok Sanggul 18.30 WIB (Buku Puji Syukur) 14.00 WIB (Buku Puji Syukur) 18.30 WIB (Buku Puji Syukur) 18.30 WIB (Buku Puji Syukur) 07.30 WIB (Buku BETK)
    13 Kabanjahe SPM Paroki (19.00), Stasi Seberaya (19.00), Stasi Suka (19.00), Stasi Tigapanah (19.00), Stasi Sinaman (19.00) Gereja Paroki: Ibadah jalan salib Keliling (09.00), Ibadah Jumat Agung (15.00), Stasi Suka Nalu (15.00), Stasi Sukadame (15.00), Stasi Bunuraya (15.00), Stasi Dokan (15.00) Gereja Paroki: Perayaan Malam Paskah (19.00) , Stasi Suka (19.00), Stasi Cingkes (19.00), Stasi Ketaren (19.00), Stasi Rumamis (19.00) Gereja Paroki: Hari Raya Paskah (08.00), Stasi Suka (08.00), Stasi Kutakepar (10.00), Stasi Bulanjahe (08.00), Stasi Bulanjulu (10.30), Stasi Tigapanah (08.00), Stasi Sukadame (10.30) Stasi Bunuraya (08.00), Stasi Kubusimbelang (10.30) Gereja Paroki: Perarakan dari jambur Adil Makmur ke Gereja SPM Kabanjahe dimulai (07.30) | Stasi Sukanalu (08.00) | Stasi Suka (08.00) | Stasi Sukadame (08.00)
    14 Kabanjahe SPP
    15 Kisaran Paroki (19.00) | Stasi Kp. Saragih (18.00) | Stasi Pardomuan (18.30) Jalan Salib 08.30 (Paroki), Paroki (15.00) | Stasi Hessa (15.00) | Sei Lama (15.00) Paroki (19.00) | SilauLaut (08.30) | Stasi Serdang 2 (18.30) Paroki (08.00) | Stasi Kp. Baru (08.30) | Stasi Desa Gajah (10.30) | Rawang 7 (11.00) | Stasi Sudi Makmur (08.30) | Stasi Panggualan (11.00) Paroki (08.00 Wib) dimulai dengan perarakan | Stasi Hessa (08.00 WIB) | Stasi Sei Lama (10.30 WIB) | Stasi Tinjowan (11.00 WIB)
    16 Kotapinang (KP) Kotapinang : 19.00 | Pardomuan : 16.00 Gereja Paroki (Jalan Salib : 09.00; Kisah Sengsara : 15.00) | Aek Batu : 15.00 Kisah Sengsara Kotapinang : 18.30 | Cikampak 17.00 Kotapinang : 08.00 | Cikampak : 09.00 | Langgapayung : 11.00 | Kampung Baru III : 11.30 Kotapinang : 08.00 WIB | Sisumut : 08.00 | Cikampak : 11.00 | Pardomuan : 11.00
    17 Lau Baleng Lau Baleng : 19.30 | Durin Rugun : 19.30 Jalan Salib (OMK) : 08.00 | Lau Baleng : 15.00 | Mardingding : 15.00 Lau Baleng : 19.30 | Limas : 19.30 Wib Lau Baleng : 08.00; Pasir Tengah : 08.00; Buluh Pancur : 11.00; Pasir Mbelang : 11.00; Lau Baleng : 08.00 WIB | Pasir Tengah : 08.00 | Buluh Pancur : 11.00 | Mangan Molih : 11.00
    18 Lawe Desky 19.30 15.00 19.30 07.30
    19 Lintongnihuta 18.00 WIB Jalan Salib : 08.00 WIB ; Penghormatan Salib: 18.00 WIB 18.00 WIB 08.00 WIB Paroki: 08.00 WIB ; Stasi : 10.30 WIB
    20 Lubuk Pakam 19.00 Jalan salib : 08.00 Penghormatan Salib: 15.00 Paroki: 18.00 08.00 Paroki: 08.00
    21 Med. Hayam Wuruk 18.00 15.00 Misa I : 16.30; Misa II : 19.30 Minggu Misa I : 07.30; Misa II : 10.00; Misa III : 17.00 Sabtu Sore : 18.00; Minggu Misa I : 07.30; Misa II : 10.00; Misa III : 17.00
    22 Med. Helvetia 19.00 15.00 19.00 08.00
    23 Med. Katedral Misa I: 17.00 WIB, Misa II: 19.30 WIB Jalan Salib Pukul 08.00 WIB; Penghormatan Salib: Pukul 12.00 WIB, 15.00 WIB Sabtu Suci Pukul 08.00 WIB (Ibadat); Misa I pukul 17.00 WIB. Misa II pukul 20.00 WIB Misa I pukul 08.00 WIB, Misa II pukul 10.00 WIB, Misa III pukul 15.00 WIB, misa IV pukul 17.00 WIB Sabtu Sore : Pukul 17.30 WIB; Minggu Misa I : 06.30 WIB, Misa II: 09.00 WIB, Misa III: 15.00 WIB, Misa IV: 17.00 WIB
    24 Med. Kota 19:00 Jalan Salib: 08:00; Penghormatan Salib I: 15:00; Penghormatan Salib II: 18:00 19:00 Minggu 07:00; 10:00; dan 18:00 Sabtu Sore (M1): 18:00; Minggu (M2): 07:00; Minggu (M3): 10:00; Minggu Sore (M4): 18:00
    25 Med. Mandala STYPM: 18.30 WIB, TS: 19.00 WIB 15.00 WIB STYPM: 18.30 WIB, TS: 18.30 WIB STYPM: 09.00 WIB, TS: 09.00 WIB STYPM: 08.30 WIB, TS: 09.00 WIB
    26 Med. Martubung Misa Malam Jam 19:30 Misa Sore Jam 15:00 Misa Malam Jam 19:00 Misa Pagi Jam 09:00 Misa Pagi Jam 09.00 Wib
    27 Med. Padang Bulan 16.30 WIB dan 19.30 WIB 14.00 WIB dan 18.00 WIB 16.30 dan 19.30 WIB 07.30 WIB dan 10.00 WIB 07.30 dan 10.00 WIB
    28 Med. Pasar Merah 19.00 WIB Jalan Salib: 08.00 | Jumat Agung: 15.00 WIB 19.00 WIB 09.00 WIB SPPM : 08.00 WIB 10.00 WIB; SBM : 10.00 WIB; MBK : 08.00 WIB; SELAMBO : 08.00 WIB
    29 Med. Tamora Martoba: 18.30 WIB Martoba: Jalan Salib 09.00 WIB ; Jumat Agung 15.00 WIB Martoba: 19.00 WIB Martoba: 09.00 WIB Martoba : 08.30 WIB
    30 Med. Tanjung Selamat Pkl. 19.00 WIB Pkl. 15.00 WIB Pkl. 18.00 WIB Pkl 07.00 WIB; Pkl 09.30 WIB dan Pkl 17.00 WIB Pkl. 07.00 WIB; Pkl 10.00 WIB & Pkl 17.00 WIB
    31 Med. Timur Pukul 19.00 WIB Pukul 15.00 WIB Pukul 19.00 WIB Pukul 07.00 WIB dan Pukul 09.00 WIB 09.00 WIB
    32 Namo Pecawir - Tuntungan 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 08.00 WIB 08.00 WIB
    33 Onan Runggu 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 08.00 WIB 08.00 WIB
    34 Pakkat 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 10.00 WIB Pukul 08.00 WIB
    35 Palipi 19.00 15.00 19.00 09.00
    36 Pamatang Raya 19.00 15.00 19.00 08.00 08.00
    37 Pangaribuan (KP) Stasi Lumban Sormin: 18.00 Wib ; Stasi Lobutolong : 18.00 Wib Stasi Lumban Sormin: 15.00 | Stasi Sipahutar: 15.00 Stasi Lumban Sormin: 18.00 | Stasi Rahut Bosi : 18.00 Stasi Parsorminan : 09.00 | Stasi Lumban Sormin : 11.00 | Stasi Parsibarungan : 09.00 | Stasi Rahut Bosi : 11.00 Stasi Lumban Sormin : 09.00 | Stasi Parsorminan : 11.00 | Stasi Sidagal : 09.00 | Stasi Gonting Pege : 11.00
    38 Pangkalan Brandan Pukul. 19.00Wib Pukul. 15.00Wib Pukul. 19.00Wib Pukul. 08.00Wib Gereja Paroki: 08.00 WIB
    39 Pangururan Jam 19:00 Jam 15:00 wib Jam 19:00 Jam 09:00
    40 Parapat 19.00 14.00 19.00 Wib 09.00 ; Stasi 10.00 09.00: Gereja Paroki
    41 Parlilitan 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 08.30 WIB 08.30 WIB
    42 Parongil Gereja Paroki dan Stasi : 19.00 Gereja Paroki dan Stasi : 15.00 Gereja Paroki dan Stasi : 19.00 Gereja Paroki : 08.00 Stasi : 11.00 Gereja Paroki : 08.00 Stasi : 11.00
    43 Parsoburan 18.30 15.00 18.30 08.00 08.00 WIB
    44 Pematangsiantar - Jl. Asahan 19.00 15.00 19.00 08.00 08.00 WIB
    45 Pematangsiantar - Jl. Bali 18.00 15.00 18.00 09.00 09.00
    46 Pematangsiantar - Jl. Medan 19:00 15:00 19:00 07:00; 09.00 09.00
    47 Pematangsiantar - Jl. Sibolga Gereja Paroki: 17.00; 20.00 | Stasi: 18.00 Jalan Salib: Gereja Paroki dan Stasi : 08.00 | Penghormatan Salib: Gereja Paroki dan Stasi: 15.00 Ibadat Sabtu Suci: Gereja Paroki dan Stasi: 08.00 | Gereja Paroki: 17.00; 20.00( Vigili Paska) | Stasi: 18.00 (Vigili Paska) Gereja Paroki: 07.00; 09.00 | Stasi: 08.00; 10.00 | Ibadat Sore Gereja Paroki: 18.00 Gereja Paroki: 18.00 (Sabtu Sore); 07.00; 09.00; 11.00 | Stasi: 07.30; 10.00
    48 Perdagangan Pukul 19.00 Pukul 15.00 Pukul 19.00 Pukul 08.00 Pukul 08.00
    49 Pulo Brayan Bengkel 19.30 15.00 19.30 10.00 10.00
    50 Rantauprapat Paroki: 18.00 WIB Stasi : 18.00 WIB Paroki: 15.00 WIB Stasi : 15.00 WIB Paroki: 18.30 WIB Stasi : 18.30 WIB Paroki : 08.00 WIB Stasi : 11.00 WIBStasi : 11.00 WIB Paroki: 08.00 WIB Stasi : 09.00 WIB
    51 Salak Paroki: 19.00 WIB | Stasi : 19.00 WIB Tablo Jalan Salib di Paroki: 08.00 WIB | Ibadat di Paroki: 15.00 WIB | Ibadat di Stasi : 15.00 WIB Paroki: 19.00 WIB | Stasi : 19.00 WIB Paroki : 08.00 WIB | Stasi : 08.00 WIB | Stasi : 11.00 WIB Paroki : 08.00 WIB | Stasi : 11.00 WIB | Stasi : 11.00 WIB
    52 Saran Padang (KP) Saran Padang & Stasi Paribuan: 20.00 WIB | Stasi Panribuan Jahean & Perasmian : 18.00 WIB Gereja Paroki & Stasi: 15.00 Saran Padang & Panribua: 20.00 WIB | Stasi Panribuan Jahean & Perasmian: 18.00 WIB Saran Padang & Stasi Dolok Mariah: 11.00 WIB | Stasi Panribuan & Marjandi Pamatang: 09.00 WIB Saran Padang & Stasi Gunung Meriah: 11.00 WIB | Panribuan & Gunung Panribuan : 09.00 WIB
    53 Saribudolok Gereja Paroki : 19.00 Gereja paroki : 14.00 Gereja Paroki: 18.00 Gereja Paroki : 07.00 & 09.00 Gereja Paroki : 09.00 WIB
    54 Sei Rampah (KP) 19.00 15.00 19.00 09.00
    55 Siborongborong & Lintongnihuta (satu Pastor Paroki) Siborong-borong, Lintong, Pealinta, Sitabotabo: 18.00 WIB Siborong-borong, Lintong, Pealinta, Sitabotabo: 15.00 WIB Siborong-borong, Lintong, Pealinta, Sitabotabo: 18.00 WIB Pesta Paskah se-Paroki di Stasi Pealinta: 09.00 WIB | Lintong : 08.00 WIB
    56 Sidikalang 19.00 Pukul 09.00 WIB , Pukul 15.00 WIB 19.00 Misa I: pukul 08.00 WIB | Misa II: pukul 10.00 WIB Pukul 09.00 WIB
    57 Silalahi (KP) 19:30 14:00 19:30 08:15 08:15
    58 Simalingkar B (KP) Misa pukul 18.00 WIB Jalan salib pukul: 08.00 WIB; Ibadat pukul 15.00 WIB Pukul 18.00 WIB 09.00 WIB Misa I: pukul 08.00 Misa II: pukul 11.00
    59 Simallopuk (KP) 19.30 WIB 15.00 WIB 19.30 WIB 08.00 WIB 08.00 WIB
    60 Sipintuangin (KP)
    61 Sumbul Gereja Paroki & Stasi : 18.00 Gereja Paroki & Stasi : 15.00 Gereja Paroki & Stasi : 18.00 Gereja Paroki : 08.00 | Paskahan Se Rayon : 10.00 Gereja Paroki : 08.00 | Stasi : 09.00
    62 Tanah Jawa 19.30 WIB 14.00 WIB 19.30 WIB 10.00 WIB
    63 Tanjung Balai 18.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 08.30 WIB 08.00 WIB
    64 Tarutung Gereja Paroki : 18.00 | Stasi Aekraja : 18.00 Gereja Paroki (Devosi Jalan Salib : 09.00 WIB; Ibadat Jumat Agung : 15.00 WIB) | Stasi Peasipon : 15.00 WIB Gereja Paroki : 18.00 WIB | Stasi Aekraja : 18.00 WIB Gereja Paroki : 08.00 WIB | Stasi Lobusingkam : 11.00 | Stasi Silangkitang : 09.00 | Stasi Hutaraja : 11.00 WIB Gereja Paroki : 08.00 WIB | Stasi Sipoholon : 11.00 | Stasi Peasipon : 09.00 | Stasi Aekraja : 11.00
    65 Tebing Tinggi
    66 Termin 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 09.00 WIB Misa I: 07.30 WIB ; Misa II: 10.00 WIB
    67 Tiga Binanga 19.00 15.00 19.00 07.00 dan Stasi jam 09.00, 11.00 07.00 dan Stasi jam 09.00, 11.00
    68 Tiga Dolok PKl. 19.00 WIB Pukul 05.00 WIB Jalan Salib; Pukul 15.00 WIB Pukul 19.00 WIB Pukul 08.00 WIB Pukul 08.00 WIB
    69 Tiga Juhar 19.00 WIB dan stasi 15.00 WIB dan stasi 19.00 dan stasi 08.00 WIB stasi jam 10.00 WIB 08.00 stasi jam 10.00 WIB
    70 Tiga Lingga Masuk Misa Kamis Putih Jam 09.00 Wib Pagi Masuk Misa Jumat Agung Jam 15.00 Wib Sore Masuk Misa Sabtu Suci Jam 09.00 Wib Pagi Masuk Misa Minggu Paskah Jam 09.00 Wib Pagi 08.00 dan stasi jam 09.00 WIB
    71 Tiganderket (KP) Pkl. 20.00 WIB Jalan Salib : 09.00 WIB ; Penghormatan Salib: 15.00 WIB 20.00 Pkl. 09.00 WIB Pkl 09.00 WIB
    72 Tomok – Simanindo 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 08.00 WIB 08.00 WIB

     

    Warta Kuria (Januari – Februari 2026)

    1. Temu Pastoral Uskup dan Tarekat Hidup Bakti KAM

    Tanggal 19-22 Januari 2026 diadakan Temu pastoral Uskup dan Tarekat Hidup Bakti Keuskupan Agung Medan di CC PPU Pematangsiantar. Pertemuan itu bertujuan untuk mempererat sinodalitas semua Tarekat Hidup Bakti (THB) yang hadir dan berkarya di Keuskupan Agung Medan dalam mengemban tugas pastoral Gereja lokal di bawah pimpinan Uskup Keuskupan Agung Medan. Pertemuan dihadiri oleh 77 peserta dari 32 Tarekat Hidup Bakti. Suasana pertemuan terasa akrab dan hangat, bagaikan anak-anak bertemu dan berwawan hati dengan Bapa Uskup sebagai gembala di Keuskupan Agung Medan. Panitia yang dikoordinir oleh RP. Joseph Lesta Pandia OFMConv, sebagai Vikep Pro Religius KAM mengatur seluruh rangkaian acara dengan sangat baik. Sinodalitas yang dialami selama 4 hari ini berhasil merumuskan Fokus dan Komitmen Pastoral Tarekat Hidup Bakti di Keuskupan Agung Medan.

    THB berkomitmen terlibat aktif dalam kehidupan Gereja Keuskupan Agung Medan melalui beberapa bidang pelayanan. Dalam penanggulangan pasca bencana, THB membentuk tim koordinator di bawah nama Keuskupan untuk melakukan asesmen kolaboratif, aksi belarasa, edukasi preventif, membantu pembangunan rumah serta kaderisasi anak korban bencana melalui beasiswa dan pendampingan psikologis berkelanjutan. Dalam bidang kaderisasi, THB menjadi mitra Tim Kaderisasi Awam KAM untuk membina awam Katolik sebagai perpanjangan tangan misi Kristus, antara lain dengan pemutakhiran data kader, formasi, penguatan, aksi, pendampingan dan regenerasi supaya awam tetap hadir sebagai garam dan terang dunia. Di bidang pewartaan digital, setiap tarekat membentuk dan memberdayakan tim media sosial, menyusun protokol sesuai UU ITE, menyiapkan anggota yang cakap di bidang IT, bekerja sama dengan Komsos KAM dan berpartisipasi dalam program pewartaan iman, termasuk acara opera Kobar KAM.


    THB memperkuat Forum Pastoral Migran Perantau melalui pendirian shelter, penyediaan tenaga personalia serta kerja sama dengan pemerintah, pihak keamanan, lembaga bantuan hukum dan pihak terkait dalam penanganan TPPO. Keterlibatan THB dalam Sinode VII KAM diwujudkan melalui penunjukan satu contact person di tiap komunitas yang akan berkomunikasi dengan Sekretariat Sinode untuk melaporkan kegiatan sinodal di komunitas. Seluruh komitmen ini diarahkan pada pembentukan wajah Gereja KAM yang sinodal yang dirumuskan dalam Conventio Scripta. THB menyediakan tenaga pastoral yang dibutuhkan keuskupan dan Uskup mengutus parokus yang mampu membangun komunikasi yang baik, sinodal dan komunikatif dengan THB.

    2. Rapat Kolegium Konsultor KAM

    Pada 22 Januari 2026 Kolegium Konsultor KAM mengadakan rapat bulanan di CC PPU Pematangsiantar. Kolegium Konsultor merupakan lembaga yang dibentuk dalam setiap keuskupan sebagaimana diatur dalam Kitab Hukum Kanonik 1983, khususnya Kan. 502, sebagai turunan dari Dewan Presbiteral. Lembaga ini terdiri dari imam-imam yang dipilih oleh Uskup dari antara anggota Dewan Presbiteral, dengan jumlah antara enam sampai dua belas orang. Mereka dipanggil untuk mendampingi Uskup dalam menjalankan tugas penggembalaan, terutama dalam bidang administrasi, pengelolaan harta benda Gereja, serta hal-hal yang menuntut pertimbangan dan persetujuan hukum tertentu.

    Kolegium Konsultor memiliki peranan istimewa karena, selain menjadi mitra konsultatif Uskup, juga diberi mandat khusus oleh Gereja universal untuk menjaga kesinambungan hidup Gereja lokal apabila Tahta Keuskupan lowong. Bagi Keuskupan Agung Medan, keberadaan Kolegium Konsultor adalah bagian integral dari semangat communio presbyterorum yang menegaskan ikatan persaudaraan sakramental antara Uskup dan para imamnya. Kolegium ini menjadi tanda nyata bahwa kepemimpinan Gereja dijalankan bukan secara individualistis, melainkan dalam kebersamaan, keterbukaan, dan akuntabilitas demi kebaikan umat Allah.

    Rapat kerja Tim Regulasi KAM pada 9-11 September 2025 telah menetapkan secara resmi perubahan nama KONSULKAM menjadi Kolegium Konsultor sesuai dengan pasal 1 Statuta Kolegium Konsultor yang direvisi berdasarkan Kitab Hukum Kanonik.

    3. Rapat Uskup dengan Pengurus Yay. Harapan Penuh Berkat dan DPPH Paroki Jl. Sibolga

    Pada tanggal 23 Januari 2026 di aula St. Clara Pematangsiantar, Bapa Uskup memberikan klarifikasi kepada Pengurus Yayasan Harapan Penuh Berkat dan DPPH Jl. Sibolga. Klarifikasi tersebut tentang tindak lanjut rencana pembangunan Gereja St. Klara sebagai paroki khusus yang terintegrasi dengan Rumah Sakit Harapan (RSH), berfokus pada pelayanan kesehatan dan umat sekitar. Panitia dibentuk melalui SK Uskup, melibatkan Paroki St. Laurentius dan Yayasan Harapan Penuh Rahmat untuk menyusun master plan, gambar bangunan dan proposal ke Bimas Katolik Pusat. Desain perlu disederhanakan (gereja, aula, kapel, ruang persemayaman, kantor dan fasilitas pendukung). Permohonan bantuan ke Kementerian Agama dapat diajukan jika desain dan RAB telah disederhanakan serta kepanitiaan lengkap.

    Dalam tanggapan, muncul keprihatinan terkait rekomendasi Tim Bangunan Suci, khususnya poin tentang potensi “dua kepala” dalam paroki khusus ini. Uskup menegaskan bahwa penentu utama adalah keputusan Uskup, bukan rekomendasi tim dan bahwa paroki St. Klara harus jelas sebagai satu paroki mandiri dengan satu “tuan”, yakni Uskup, bukan dua pemilik. Bapa Uskup mengingatkan Tim Bangunan Suci agar paroki tersebut selaras dengan visi uskup, yakni fokus pada pelayanan orang sakit, dengan satu gereja dan satu aula yang dapat dipakai bersama RSH dan umat. Bukan bangunan yang “menjulang” melainkan pelayanan yang “menjulang” yang dibutuhkan. Uskup kembali meminta agar disusun konsep bersama yang jelas, inventaris kebutuhan yang rinci dan kerja kolaboratif antara paroki, yayasan, tim bangunan suci, vikep dan panitia. Uskup dilibatkan secara langsung dalam perencanaan ini. Pendampingan dan sosialisasi berkelanjutan kepada umat perlu dijamin.

    4. Tahbisan Imam dari Ordo Kapusin Medan di Berastagi

    Mgr. Kornelius Kornelius Sipayung, OFMCap menahbiskan delapan diakon Kapusin Provinsi Medan menjadi imam pada 24 Januari 2026 di Gereja St. Fransiskus Assisi, Berastagi. Mereka yang ditahbiskan ialah RP. Stefan Eunaldus Sianturi OFMCap, RP. Ta Trong Tri OFMCap, RP. Firdaus Depari OFMCap, RP. Moel Sinaga OFMCap, RP. Evander Purba OFMCap, RP. Nofrendi Sihaloho OFMCap, RP. Angelo Bonardo Purba OFMCap, RP. Sofyan Sinurat OFMCap. Tahbisan ini didahului pengumuman resmi dari Minister Provinsial Kapusin Medan, RP. Yosafat Ivo Sinaga OFMCap, yang mengundang siapa pun untuk melaporkan bila ada halangan kanonik dalam hidup ke delapan calon tertahbis. Perayaan ini juga dihadiri Bupati Karo, aparat kepolisian dan TNI. Perayaan ini menjadi tanda berkat Allah dan sukacita Gereja karena menerima anugerah gembala-gembala baru yang dengan bebas mempersembahkan hidupnya bagi pelayanan umat Allah demi Kerajaan Allah. Bertindak sebagai ketua panitia ialah Brigadir Jenderal TNI, Dr. Agustatius Sitepu, Komandan Resor Militer (Korem) 031/Wirabima di Pekanbaru, Riau.

    Mengawali homilinya, Bapa Uskup mengulangi nasehat Paulus kepada para penatua di Efesus “jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan Darah Anak-Nya sendiri.” Betapa pentingnya seorang imam menjaga kekudusan dirinya dengan membina keintiman dengan Yesus Kristus. Imamat bukanlah status atau jabatan, melainkan panggilan untuk melayani dengan rendah hati, meneladan St. Fransiskus dari Assisi dalam kesederhanaan, kedekatan dengan kaum kecil dan miskin serta kesetiaan pada Injil. Oleh karena itu, para imam perlu memelihara hidup rohani, sebab kelalaian dalam hal yang paling inti ini akan melukai kawanan. Para imam baru diawaskan dari bahaya klerikalisme, yakni cara berpikir yang melihat tahbisan sebagai kenaikan pangkat, yang mudah dipupuk oleh kenyamanan, kekuasaan dan popularitas—terutama di era media sosial—hingga menjadikan umat sekadar objek. Seorang gembala sejati tetap tinggal bersama umat karena mencintai mereka, terutama ketika pelayanan menjadi berat dan salib sungguh terasa. Selamat melayani para pastor!

    5. Audiensi Kongregasi H.Carm

    Kongregasi Para Saudari Perawan Maria dari Gunung Karmel (Hermanas de la Virgen Maria del Monte Carmelo), yang juga dikenal dengan nama Suster Carmelitas atau Hermanas Carmelitas – H. Carm, datang beraudiensi kepada Bapa Uskup pada 26 Januari 2026. Kongregasi hadir di Indonesia sejak 40 tahun lalu dan berpusat di Malang, dengan jumlah 83 suster yang tersebar dalam 16 komunitas di 7 keuskupan. Karisma H. Carm adalah hidup doa, persaudaraan dan pelayanan kenabian dalam dimensi kontemplatif. Kongregasi ini bercita-cita mencapai persatuan dengan Allah di “puncak Gunung Karmel” dan membantu umat menemukan Allah yang hidup dalam berbagai karya demi kebutuhan Gereja lokal. Di Keuskupan Agung Medan, H. Carm memiliki dua komunitas: St. Theresia Avila di Sumbul dan Nabi Elia di Silalahi.

    Komunitas St. Theresia Avila – Sumbul (berdiri 23 November 2000, 6 suster) mengambil bagian intensif dalam pelayanan paroki, pendidikan, kesehatan, pendampingan remaja putri serta pembinaan internal komunitas. Karya konkritnya mencakup pastoral parokial (katekese, liturgi, kunjungan umat, pendampingan kelompok kategorial), pastoral kesehatan melalui Klinik St. Yosef dan stasi-stasi, pastoral pendidikan (TK, SD, asrama putri “Kusuma Karmel”) serta pastoral kaum muda dan panggilan. Dalam rencana pengembangan, kongregasi hendak membuka SMPK sebagai kelanjutan TK–SDK dan menempatkan seorang suster sebagai katekis full-time di Paroki Beato Dionysius Sumbul mulai Juli 2026.

    Komunitas Nabi Elia – Silalahi (berdiri 1 November 2024, 3 suster) hadir di daerah wisata Danau Toba untuk memperkuat iman umat dan menyediakan wisata rohani bernuansa Karmel. Mereka terlibat dalam struktur dan kegiatan kuasi paroki (KKS, keuangan, katekese, liturgi, kunjungan keluarga, ibadat sabda, pastoral kaum muda). Selain itu, mereka sedang mempersiapkan pembangunan rumah doa dan taman doa di atas lahan 1 ha yang baru dibeli, meskipun terkendala air. Uskup menyambut positif rencana wisata rohani (penginapan rohani, rumah makan sederhana, guest house bernuansa kontemplatif), menyetujui prinsip pembukaan SMPK dan penempatan katekis full-time. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup meminta bantuan kongregasi untuk menugaskan suster ke STSP Pematangsiantar sebagai formator dan ke Bingkawan untuk mengelola rumah retret.

    6. Audiensi DPU Kongregasi Suster FSE

    Pada 27 Januari 2026, DPU Kongregasi Suster FSE beraudiensi kepada Uskup Agung Medan. Audiensi ini sebagai ungkapan ketaatan kasih dan menegaskan kesiapan untuk terus melayani Gereja lokal. FSE sedang menjalankan road map 2025–2028 serta menetapkan tiga prioritas 2026: penguatan hidup rohani (kembali ke sumber karisma), penguatan formasi dan pendampingan, dan pemurnian komunitas. DPU FSE menyampaikan kebutuhan yang mendesak kepada Bapa Uskup, yakni penataan ulang ruang doa di Cinta Damai, pengangkatan tulang-belulang para suster pada Juli 2026 dan renovasi kamar suster di Imam Bonjol yang sudah tidak layak huni.

    Dalam bidang karya, FSE memohon izin kepada Bapa Uskup bagi pembangunan komunitas lansia di lahan baru 6.000 m² di depan Velangkanni, pengadaan tabernakel di komunitas St. Damian, Galang, serta izin bermisi di Keuskupan Weetebula (Sumba) terutama di bidang kesehatan untuk menangani masalah stunting. Kongregasi juga menekankan pentingnya penanaman spiritualitas FSE kepada para pegawai.

    Uskup menegaskan bahwa FSE diutus Gereja dan mengapresiasi daya juang khas para suster, terutama yang berasal dari KAM. Uskup mengabulkan izin pembangunan rumah lansia, pemasangan tabernakel di Galang dan misi di Weetebula. Bapa Uskup juga mendorong percepatan pembangunan gedung sekolah di Cinta Damai; meminta SMAK Negeri agar segera membangun rumah suster; serta memberi arahan mengenai status hukum kapel rumah sakit dan tata pengangkatan tulang-belulang dengan merujuk pengalaman kongregasi lain.

    7. Audiensi MPDP Kapusin Medan

    Pada 28 Januari 2026, Minister Provinsial dan Dewan Penasehatnya (MPDP) beraudiensi kepada Bapa Uskup. Audiensi tersebut menyatakan ketaatan kasih Persaudaraan Kapusin Provinsi Medan kepada ordinaris wilayah. Dalam audiensi singkat ini, Ordo Kapusin Provinsi Medan (OKPM) menegaskan sinodalitas dengan KAM melalui program MPDP, Conventio Scripta, dan Panduan Pengembangan Pelayanan Pastoral Parokial Berwarna Karisma Kapusin (P5BK2): hidup persaudaraan, kedinaan yang transparan (terutama keuangan), liturgi dan doa yang tertib, perhatian pada orang miskin, pengembangan OFS serta pelayanan sakramen tobat dan pemberkatan keluarga. Semua aset paroki diakui sebagai milik paroki/keuskupan, sementara Kapusin adalah pengguna yang melayani di bawah Uskup. Kerja sama konkret mencakup kelanjutan pelayanan paroki dan kategorial, evaluasi reksa pastoral, keterbukaan terhadap permintaan paroki baru, penataan ulang “kebun endowment” berdasarkan Anggaran Dasar dan penataan baru kontrak pengelolaan kebun KAM oleh tim OKPM.

    Bapa Uskup menekankan perlunya perbaikan manajemen dalam reksa pastoral parokial terutama laporan keuangan, pelaksanaan keputusan rapat dan formasi manajerial imam, khususnya di paroki-paroki pilot project Kapusin.

    Pada kesempatan ini, Bapa Uskup menerangkan rencananya untuk menjadikan Paroki St. Fransiskus Berastagi sebagai Paroki Wisata Rohani inkulturatif dan ekologis. Kapusin diminta kontribusinya bagi perwujudan rencana ini. Kepada MPDP ditegaskan kembali prinsip karya: ordo boleh memiliki harta, tetapi karya pastoral selalu membutuhkan izin keuskupan dan dijalankan dengan spirit “tidak memiliki”. Sebelum menutup acara audiensi, disepakati bahwa OKPM dan KAM bekerja sama mempersiapkan perayaan 500 tahun Kapusin (mulai 1 Februari 2026) dan Tahun Yubileum Fransiskus (10 Januari 2026–10 Januari 2027) dengan liturgi dan katekese khusus. Para Pemimpin Tinggi Fransiskan diminta merancang kegiatan selama tahun Yubileum Fransiskan.

    8. Rapat Kuria KAM

    Pada 6 Februari 2026, diadakan Rapat Kuria kedua di ruang Kolegium Konsultor lt. 2 gedung Catholic Center Christosophia. Rapat ini merupakan lanjutan dari dari rapat perdana pada 12-13 Januari 2026. Rapat ini bermula dari rapat tahunan para vikaris dengan Bapa Uskup yang sudah berjalan sekian lama. Pada rapat para vikaris ini, Bapa Uskup menetapkan tiga jenis rapat yang berbeda, sebagai berikut:

    a. Rapat Komisi. Dikoordinir oleh Vikaris Jenderal dan Vikaris Pastoral, komisi-komisi Keuskupan Agung Medan mengadakan rapat bulanan untuk membahas hal-hal yang perlu dipedomani oleh komisi. Rapat ini berfungsi sebagai sebagai forum koordinasi, perencanaan dan evaluasi pekerjaan komisi;


    b. Rapat Kuria. Rapat yang dilaksanakan satu kali dalam dua bulan ini dihadiri oleh Uskup, Vikaris Jenderal, para Vikaris Teritorial dan kategorial, Ekonom dan Kanselarius. Vikjen, RP. Michael Manurung OFMCap ditunjuk sebagai penanggung jawab dan RP. Joseph Lesta Pandia OFMConv sebagai sekretaris. Rapat ini berfungsi sebagai eksekutor keputusan-keputusan yang diambil dalam Sidang DEPKAM, DEPASKAM dan Dewan Keuangan.

    c. Rapat Paripurna. Diadakan sekali setahun pada bulan Desember, rapat ini dihadiri oleh Kuria, Komisi dan para Vikaris dalam semangat sinodal untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan.

    Semoga ketiga forum ini mampu mengeksekusi semua keputusan yang ditetapkan oleh organ-organ terkait demi pengembangan Kerajaan Allah di Keuskupan Agung Medan.

    9. Pembekalan Tim Penulis Sejarah Paroki se-KAM

    Pada 12-13 Februari 2026, Sekretariat Keuskupan Agung Medan mengadakan kegiatan Pembekalan Tim Penulis Sejarah Paroki se KAM di lt. 8 Catholic Center Medan. Pembekalan ini menjadi langkah strategis dalam penataan dan pengelolaan arsip sejarah Gereja. Materi yang disajikan bertujuan untuk menyatukan konsep dan menerangkan metode penulisan sejarah yang sistematis, akurat dan ilmiah. Para peserta dibekali dengan pemahaman tentang pentingnya data historis, teknik pengumpulan sumber sejarah serta penyusunan narasi sejarah yang standar. Penulisan sejarah bukan sekadar pencatatan peristiwa manusiawi masa lampau, tetapi terutama menyusun narasi ilmiah dan sistematis atas peristiwa-peristiwa manusiawi masa lampau untuk mengkomunikasikan sebuah makna. Untuk itu, para peserta dituntun untuk menulis sejarah paroki dengan menempuh lima tahap penulisan sejarah: heuristik, penentuan topik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Kepada mereka disediakan juga formulir wawancara sebagai panduan.

    Pada 12-13 Februari 2026, Sekretariat Keuskupan Agung Medan mengadakan kegiatan Pembekalan Tim Penulis Sejarah Paroki se KAM di lt. 8 Catholic Center Medan

    Pembekalan yang diikuti para pastor, frater, suster umat yang telah disatukan dalam Tim Penulis Sejarah Paroki ini menegaskan bahwa penulisan sejarah paroki adalah tanggung jawab bersama. Diharapkan sajian materi, mulai dari tugas Kanselarius menurut KHK, pengelolaan arsip, metode dan tahapan penelitian sejarah, teknik pengumpulan data, hingga penyusunan narasi yang komunikatif menumbuhkan rasa cinta dan minat besar akan penulisan sejarah. Ke depan, sejarah paroki akan diterbitkan dalam bentuk buku sebagai arsip resmi dan bahan edukasi bagi umat, sekolah Katolik dan generasi muda. Umat diundang berpartisipasi dengan menyumbangkan dokumen, foto atau kesaksian untuk memperkaya sumber penulisan sejarah. Melalui timeline yang telah disusun dan pendampingan berkelanjutan dari Kanselarius, RP. Adrianus Sembiring OFMCap, sebagai narasumber utama, diharapkan Tim Penulis Sejarah Paroki sungguh menghasilkan karya yang berkualitas demi menyelamatkan data berharga, memperkuat identitas, menumbuhkan rasa memiliki serta meneguhkan penghayatan iman yang sudah mengakar dan teruji.

    10. Hadir Pengukuhan Guru Besar UMSU

    Fr. Paskalis Wangga, CMM, wakil ketua Komisi Pendidikan KAM, menghadiri acara Pengukuhan Guru Besar UMSU, Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A, pada 16 Februari 2026 mewakili Keuskupan Agung Medan. Upacara akademik ini diselenggarakan di Auditorium Kampus UMSU di Jalan Kapten Mukhtar Basri, Medan. Dalam pidato ilmiahnya, “Agama, Etika Profetik dan Keadaban Publik,” Prof. Muhammad Qorib memaparkan kompleksitas tantangan agama di era modern, terutama kemajuan teknologi yang telah menarik perhatian masyarakat secara besar-besaran, sehingga dalam beberapa kasus sebagian orang memandang agama sebagai hal yang kurang penting atau bahkan ditinggalkan. Guru besar ini menegaskan bahwa agama pada hakikatnya menyatukan entitas-entitas kepercayaan dan etika untuk tujuan kesejahteraan umat. Namun kegagalan dalam hal ini menunjukkan adanya jurang antara keyakinan formal dan praktik kesejahteraan sosial. Menutup pidato ilmiahnya, Prof. Dr. Muhammad Qorib menyoroti rendahnya keadaban digital di masyarakat Indonesia meskipun dikenal sebagai bangsa yang religius; perilaku di platform digital seringkali tidak mencerminkan karakter santun yang ideal. Ia mengkritik pula kecenderungan komodifikasi agama untuk kepentingan dagang atau tujuan pragmatis lain di luar makna keagamaan yang sejati. Semoga Guru Besar ini tetap menjadi rekan seperjalanan Gereja dalam membina dialog yang sehat.

    11. Audiensi Pengurus Militia Immaculatae

    Pengurus Militia Immaculatae (MI) beraudiensi kepada Bapa Uskup pada 16 Februari 2026, didampingi oleh RP. Maximilanus Sembiring OFMConv, Minister Provinsial Konventual, dan Delegatus MI RP. Fictorium Ginting OFMConv. Asosiasi publik internasional kaum beriman ini didirikan oleh St. Maksimilianus Kolbe pada 1917 untuk menghidupi spiritualitas Maria Tak Bernoda demi pertobatan, evangelisasi dan pengudusan umat. Spiritualitas MI berpusat pada penyerahan total kepada Maria Immakulata sebagai jalan tercepat memasuki Hati Yesus, dengan sarana utama doa (Penyerahan Harian, Brevir, Rosario, Ekaristi), karya kasih, serta penyebaran medali wasiat. Keanggotaan kelompok ini mewajibkan pendaftaran resmi, pembinaan minimal enam bulan, konsekrasi kepada Maria dan mengenakan Medali Wasiat.

    Ke Indonesia, semangat MI dibawa para misionaris OFMConv sejak 1968, dan berkembang menjadi lima pusat lokal di Delitua, Sigara-gara, Bangun Mulia, Mbaruai dan Padang Bulan. Sekarang anggota MI Indonesia berjumlah 396 anggota. Kegiatan MI meliputi doa bersama, misa bulanan, pertemuan triwulanan, rekoleksi, kunjungan sosial, animasi liturgi dan bulan Rosario, serta konsekrasi anggota baru setiap tanggal 8 Desember atau pada pesta lain Santa Perawan Maria. Para anggota memberi kesaksian bahwa spiritualitas MI menumbuhkan keibuan, kesabaran, kedamaian batin dan keberanian.

    Meskipun sudah lama hadir di Indonesia, MI secara kanonik belum disahkan oleh ordinaris wilayah. Karena itu mereka memohon arahan dan pengesahan dari Bapa Uskup di wilayah KAM setelah disahkan pada tingkat nasional. Bapa Uskup menyambut baik MI sebagai bentuk kerasulan Fransiskan yang bersemangat Maria Tak Bernoda, dan menegaskan bahwa otoritas kerasulan berada di tangan uskup. MI dipandang khas karena menekankan penyerahan diri total kepada Maria untuk memenangkan dunia bagi Kristus. Gerakan ini akan didukung sepanjang memberi kontribusi positif bagi kerasulan Gereja, menumbuhkan penyerahan diri dan pengorbanan, serta membantu anggota sebagai garam dan terang bagi dunia. 

    Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.

    RP. Adrianus Sembiring OFMCap
    Kanselarius Keuskupan Agung Medan

     

    Happy Birthday RP. Joseph Lesta S. Pandia OFMConv – Vikaris Pro Religius

    Dengan penuh syukur kepada Allah yang Maharahim, kami mengucapkan selamat ulang tahun ke-60 kepada RP. Joseph Lesta S. Pandia OFMConv, yang saat ini melayani sebagai Vikaris Pro Religius & Ketua Komisi Kerawam KAM.

    Enam puluh tahun kehidupan merupakan anugerah kasih Tuhan yang nyata, yang telah dijalani dengan semangat panggilan sebagai seorang imam dan religius Fransiskan Konventual. Dalam kesederhanaan, ketaatan, dan kasih, Pastor telah menjadi saksi Injil yang hidup, menggembalakan umat serta membina kaum religius dan awam dalam semangat persaudaraan sejati.

    Kami bersyukur atas dedikasi, ketulusan, dan pengabdian Pastor dalam membangun Gereja, memperkuat persekutuan, serta menghidupi spiritualitas pelayanan yang rendah hati dan penuh sukacita.

    Kami mendoakan semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, dan sukacita dalam setiap langkah pelayanan. Kiranya Roh Kudus terus menuntun dan meneguhkan Pastor dalam karya perutusan, sehingga semakin banyak umat dikuatkan dalam iman, harapan, dan kasih.

    “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Mzm 23:1)
    Selamat ulang tahun ke-60. 

    Yubileum 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus Assisi di KAM

    I. LATAR BELAKANG

    Penitensiaria Apostolik, atas kehendak Paus Leo XIV, menerbitkan dekret yang menetapkan 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027 sebagai Tahun Yubileum Khusus. Penetapan ini dilakukan dalam rangka memperingati delapan ratus tahun wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi. Kurun waktu ini dirayakan sebagai Tahun Santo Fransiskus, yakni masa rahmat bagi seluruh Gereja untuk memperbarui pandangan dan hati dalam terang teladan cemerlang Si Miskin dari Assisi.Melalui dekret tersebut, Penitensiaria Apostolik juga menganugerahkan indulgensi penuh bagi Keluarga Fransiskan dan seluruh umat beriman dengan syarat-syarat yang lazim.

    Dalam surat tertanggal 7 Januari 2026 kepada para Minister General Konferensi Keluarga Fransiskan, Paus Leo XIV menegaskan nilai universal dari kesaksian Santo Fransiskus: seorang pria damai, murid Injil yang radikal, dan pemberita perdamaian Kristus yang tak kenal lelah. Di tengah masa yang ditandai konflik dan perpecahan, Paus menghadirkan Santo Fransiskus sebagai panduan untuk menemukan kembali sumber perdamaian sejati melalui rekonsiliasi dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan.

    Tahun Yubileum Khusus ini merupakan kelanjutan integral dari Yubileum Biasa 2025 sekaligus puncak peringatan depalan abad berbagai peristiwa penting hidup Santo Fransiskus. Momentum ini menjadi kesempatan tepat untuk pertobatan, pembaruan rohani, kesaksian Injili, serta persaudaraan tanpa kuasa. Tujuannya agar setiap umat beriman dapat menjadi tanda harapan dan kasih yang aktif di dunia.

    Seluruh umat beriman diundang untuk ambil bagian secara aktif dalam Yubileum Khusus ini. Oleh karena itu, Gereja Keuskupan Agung Medan (KAM) yang sedang berfokus pada Sinode Diosesan VII, hendak mengintegrasikannya dengan mengutamakan keterlibatan Keluarga Fransiskan di seluruh wilayah KAM sebagai cara untuk menguduskan umat melalui indulgensi, ziarah, dan karya belas kasih. Dengan mengikuti jejak Si Miskin dari Assisi, semoga Tahun Santo Fransiskus ini menjadi kesempatan berahmat bagi setiap pribadi demi pengudusan diri dan kesaksian Injil, untuk kemuliaan Allah serta kebaikan seluruh Gereja di KAM. Berdasarkan evaluasi Yubileum 2025 yang menunjukkan partisipasi umat masih rendah (sekitar 1%), Tahun Santo Fransiskus di KAM dirancang dengan program yang lebih sederhana dan fokus. Hal ini bertujuan agar partisipasi umat meningkat signifikan dengan target 10%–20% berdasarkan data buku tamu dan survei digital.

    II. MAKSUD, TUJUAN, DAN TEMA

    2.1. Maksud
    Sebagai bentuk kesatuan pastoral Keuskupan Agung Medan dengan Gereja Katolik Sedunia, serta sarana untuk menguduskan umat melalui spiritualitas Fransiskan dan perolehan Indulgensi Penuh, (pengampunan penuh hukuman temporal akibat dosa yang sudah diampuni), yang mendorong umat melakukan karya doa, pertobatan, dan belas kasih.

    2.2. Tujuan Pastoral
    1. Mengajak umat berziarah sebagai wujud pertobatan menurut Injil (kembali kepada Yesus dan ajaran-Nya).
    2. Meningkatkan penerimaan Sakramen Tobat (Rekonsiliasi).
    3. Menumbuhkan spiritualitas persaudaraan dan perdamaian (Pax et Bonum).
    4. Mendorong pelaksanaan karya belas kasih jasmani-rohani serta hidup ramah lingkungan menurut ajaran Laudato Si’.

    2.3. Tema Yubileum “Fransiskus Pembawa Damai dan Saudara bagi Semua.”

    2.4. Sasaran Keluarga Fransiskan (Ordo I, II, III), umat beriman di Paroki-paroki, kaum muda, keluarga, lansia, dan orang sakit.

    III. KETENTUAN INDULGENSI PENUH
    Indulgensi Penuh adalah pengampunan penuh dari hukuman temporal (sisa hukuman dosa setelah dosa diampuni) yang diberikan oleh Gereja sebagai pelayan Penebusan Kristus, dari perbendaharaan jasa Kristus dan para kudus.

    3.1. Syarat-Syarat Lazim:
    Indulgensi Penuh diperoleh dengan memenuhi syarat:
    • Pengakuan dosa sakramental (cukup satu pengakuan untuk beberapa indulgensi penuh dalam periode yang sama).
    • Penerimaan Komuni Ekaristi.
    • Doa menurut intensi Bapa Suci (misalnya, satu Bapa Kami dan Salam Maria).
    • Hati yang sepenuhnya terlepas dari dosa, bahkan dosa kecil (disposisi rohani yang diperlukan).

    Indulgensi ini dapat diterapkan bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian.

    Indulgensi ini dapat diterapkan bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian (ex suffragio), karena umat yang telah disucikan juga bagian dari komuni kudus.

    Catatan penting:
    • Indulgensi plenari dapat diperoleh hanya sekali sehari (kecuali bagi yang berada di ambang maut).
    • Bagi yang tidak bisa memenuhi syarat secara fisik (seperti orang sakit), confessor yang sah bisa mengganti syarat tersebut.

    3.2. Penerima dan Tata Cara:
    • Umat Umum: Mengunjungi 1 (satu) situs ziarah, mengikuti ritus Yubileum atau berdoa/bermenung secara saleh, serta mendaraskan Bapa Kami, Kredo, dan doa kepada para Kudus Fransiskan (misalnya, doa kepada Santo Fransiskus).
    • Lansia, Orang Sakit, dan Terhalang: Dapat memperolehnya dengan menyatukan diri secara rohani, mempersembahkan doa/penderitaan penyakit, serta berniat memenuhi syarat lazim bila memungkinkan.

    IV. PELAKSANAAN ZIARAH DAN PERSIAPAN TEMPAT ZIARAH
    4.1. Penentuan Tempat Ziarah (Cukup Mengunjungi 1 tempat)
    Ditetapkan sebanyak 37 tempat ziarah di wilayah KAM (daftar terlampir), yang telah mendapat persetujuan Uskup Agung sesuai norma Gereja. Umat cukup mengunjungi salah satu tempat saja untuk mendapatkan indulgensi penuh, guna meningkatkan partisipasi dan menghindari proliferasi yang berlebihan.

    4.2. Penandaan dan Inventaris Situs:
    • Penanda: Pintu masuk dipasang tulisan “Tempat Ziarah Tahun Yubileum Santo Fransiskus” beserta Logo Resmi (tanpa istilah Porta Sancta).
    • Persiapan: Patung St. Fransiskus, Salib San Damiano, Lilin persembahan, dan Buku Tamu (untuk pendataan peziarah dengan menjaga privasi data). Tidak disediakan kotak sumbangan untuk menghindari kesalahpahaman.
    • Cinderamata/Suvenir: Kalung Tao (simbol fransiskan sederhana) atau rosario sebagai pengingat ziarah, bukan sertifikat formal.

    4.3. Spirit Ziarah
    Ziarah adalah gerakan rohani-jasmani. Umat dianjurkan berjalan kaki (± 1-3 km dari situs yang akan dituju) secara kolektif dari lingkungan/stasi dalam semangat pertobatan, persaudaraan, dan solidaritas, sambil meneladani Santo Fransiskus.

    V. KEGIATAN PASTORAL DAN PUBLIKASI
    1. Formasi: Dialog Perdamaian Lintas Agama (melibatkan Keluarga Fransiskan sebagai fasilitator) dan Seminar Kaum Muda “Menjadi Katolik Sejati di Zaman Media Sosial”.
    2. Seminar Online: Seri spiritualitas melalui Zoom (Spirit of Assisi, Indulgensi Assisi, dll), dipimpin oleh para Fransiskan.
    3. Media: Leaflet resmi (materi oleh Sdr. Fictor, Sdr. Andreas Win, Sdr. Ivo S.) diproduksi oleh Bina Media dan didistribusikan ke seluruh KAM.
    4. Evaluasi: Mid-term review pada Juli 2026 untuk mengukur partisipasi dan menyesuaikan strategi.
    VI. JADWAL PERAYAAN PENTING (TIMELINE)
    • 22 Maret 2026: Pembukaan Resmi serentak di seluruh Paroki KAM.
    • 2 Agustus 2026: Indulgensi Portiuncula.
    • 17 September 2026: Peringatan Stigmata Santo Fransiskus.
    • 3–4 Oktober 2026: Perayaan Puncak (Transitus dan Pesta Santo Fransiskus).
    • 29 November 2026: Hari Raya semua orang kudus Fransiskan (dan hari Pengesahan Anggaran Dasar tanpa Bulla)
    • 13 Desember 2026: Pemberkatan kandang Natal – (dalam kaitan dengan Hari Raya Maria Dikandung tanpa Noda (08 Desember) di Gereja Paroki dan di kapel-kapel keluarga fransiskan.
    • 25 Desember 2026 : Hari Raya Natal dengan penekanan khusus kandang (gua) Natal Grecio
    • 10 Januari 2027: Misa Penutupan Tahun Yubileum.
    VII. PENUTUP
    Tahun Yubileum Santo Fransiskus 2026–2027 diharapkan menjadi momentum pembaruan hidup injili di Keuskupan Agung Medan. Dengan perencanaan yang sederhana, jelas, dan terkoordinasi, dan setia pada norma indulgensi Gereja, partisipasi umat diproyeksikan meningkat signifikan. Semangat Pax et Bonum akan menghidupkan komuni ecclesial, membawa umat lebih dekat kepada Tuhan melalui pertobatan dan karya kasih.
    I. Gereja Paroki Dilayani OFMCap (20 Lokasi):

    1). Santo Pius X Aek Kanopan, 2). Santo Yosef Balige, 3). Santo Fransiskus Assisi Berastagi, 4). Santo Antonius Padua Hayam Wuruk, 5). Santo Padre Pio Helvetia, 6). Santo Petrus Medan Timur, 7). Santo Petrus dan Paulus Jl. Asahan Pematangsiantar, 8). Santo Fransiskus Assisi Jl. Medan Pematangsiantar, 9). Santo Laurentius Brindisi Jl. Sibolga Pematangsiantar, 10). Santo Yohanes Pembaptis Pakkat, 11). Santa Lusia Parlilitan, 12). Santo Fransiskus Assisi Palipi, 13). Santo Mikhael Pangururan, 14). Santo Fidelis Sigmaringen Parapat, 15). Santo Fransiskus Assisi Saribudolog, 16). Santo Fransiskus Assisi Tigabinanga, 17). Santo Stefanus Martir Pematang Raya, 18). Santa Monika Tiganderket, 19). Santo Yosef Kotapinang, 20). Santo Yohanes dari Salib Simalopuk.

    II. Gereja Paroki/Kuasi Dilayani OFMConv (8 Lokasi):

    1). Santo Yosep Delitua, 2). Santo Fransiskus Assisi Padang Bulan, 3). Santo Yohanes Paulus II Namo Pecawir-Tuntungan, 4). Sang Penebus Bandar Baru, 5). Santo Antonius Padua Tiga Dolok, 6). Santo Maximilianus Kolbe Sipintuangin, 7). Santo Bonaventura Saran Padang, 8). Santa Katarina Tiga Juhar.

    III. Gereja Dedikasi St. Fransiskus (1 Lokasi): Santo Fransiskus Assisi Aek Nabara.

    IV. Kapel Biara Induk Kongregasi Fransiskan (8 Lokasi):

    1. OFMCap – Biara Kamerino Nagahuta
    2. OFMConv – Biara Santo Yosef Delitua
    3. FCJM – Monteluco, Jl. Viyata Yudha - Pematangsiantar
    4. FSE – Medan, Jl. Imam Bonjol
    5. KSFL – Desa Bane - Pematangsiantar
    6. OSCCap – Biara Santa Klara Sikeben
    7. SFMA – Simalingkar B, Jl. Bunga Rampai II - Medan
     8. SFD – Pasar VIII

    TAHUN SANTO FRANSISKUS: YUBILEUM 800 TAHUN TRANSITUS KEUSKUPAN AGUNG MEDAN
    (22 MARET 2026 – 10 JANUARI 2027)

    Pax et Bonum!
    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

    Dalam penyelenggaraan ilahi yang penuh rahmat, Gereja Universal pada tahun ini memasuki suatu peristiwa rohani yang sangat bermakna, yakni Yubileum 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus dari Assisi (1226–2026). Mengikuti kehendak Bapa Suci Paus Leo XIV serta Dekret Penitensiaria Apostolik, seluruh Gereja diajak untuk mengenangkan dan merayakan saat wafatnya Santo Fransiskus sebagai momen rahmat yang mengundang pembaruan iman bagi umat Allah.

    Delapan abad yang lalu, seorang pemuda dari Assisi yang memilih hidup dalam kemiskinan Injili - yang oleh dunia disebut Il Poverello (Si Miskin dari Assisi) menutup perjalanan hidupnya dengan memuji Tuhan dan menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam tangan Bapa. Hidupnya menjadi saksi bahwa Injil bukan sekadar ajaran, melainkan cara hidup yang radikal yang mampu memperbarui Gereja dan dunia. Dia mengundang manusia untuk kembali kepada pertobatan hati, membangun persaudaraan universal, mengasihi orang miskin, merawat ciptaan Tuhan dan menjadi pembawa damai di tengah dunia yang terluka.

    Dalam dunia kita saat ini yang diwarnai oleh konflik, kemiskinan, ketidakadilan sosial dan krisis ekologis, spiritualitas Fransiskan menjadi semakin relevan dalam usaha membarui dunia yang harus dimulai dari pertobatan hati. Karena itu, dengan penuh sukacita pastoral saya memaklumkan bahwa Keuskupan Agung Medan turut merayakan Tahun Yubileum 800 Tahun Transitus Santo Fransiskus sebagai momentum rahmat bagi seluruh umat untuk memperbarui iman, memperdalam kehidupan rohani serta menghidupi Injil secara lebih nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    Sebagai tanda kasih Allah melalui Gereja, selama Tahun Yubileum ini diberikan Indulgensi Penuh (Plenaria Indulgentia) bagi umat yang dengan hati bertobat dan memenuhi syarat-syarat berikut:
    1. Menerima Sakramen Rekonsiliasi
    2. Mengikuti Perayaan Ekaristi dan Komuni Kudus
    3. Mendoakan intensi Bapa Suci
    4. Melakukan ziarah devosional ke salah satu tempat ziarah yang ditetapkan di wilayah Keuskupan Agung Medan.

    Demi memudahkan keterlibatan umat yang lebih luas telah ditetapkan 37 tempat ziarah di seluruh wilayah Keuskupan Agung Medan (daftar lengkap terlampir dalam TOR). Berdasarkan spirit Santo Fransiskus yang sangat menekankan kesederhanaan umat cukup mengunjungi satu tempat ziarah terdekat untuk memperoleh rahmat indulgensi. Tidak berhenti pada ziarah atau devosi semata tahun Yubileum ini memanggil kita untuk menghidupi spiritualitas Santo Fransiskus secara nyata melalui berbagai gerakan pastoral yang menyentuh kehidupan umat dan masyarakat.

    Oleh karena itu, saya mengundang seluruh umat Allah di Keuskupan Agung Medan, dengan Keluarga Fransiskan sebagai motor penggerak, untuk menghidupi Tahun Yubileum ini melalui tiga gerakan pastoral utama.

    1. Gerakan Pewartaan Spiritualitas Fransiskan
    Sepanjang Tahun Yubileum ini akan diselenggarakan berbagai seminar, rekoleksi, katekese dan pendalaman iman mengenai spiritualitas Santo Fransiskus, baik secara online maupun offline. Kegiatan ini mengajak umat untuk mengenal kembali kekayaan spiritualitas Fransiskan, yaitu kesederhanaan hidup, persaudaraan universal, cinta kepada orang miskin dan penghormatan kepada seluruh ciptaan. Spiritualitas Santo Fransiskus tidak hanya merupakan kenangan sejarah, tetapi menjadi inspirasi hidup bagi umat masa kini.

    2. Gerakan Aksi Profetis bagi Perdamaian dan Keadilan
    Semangat Fransiskan selalu diwujudkan dalam tindakan nyata. Umat didorong untuk melakukan aksi-aksi profetis konkret, antara lain:
    • Membangun perdamaian dan rekonsiliasi di tengah masyarakat,
    • Memperkuat solidaritas terhadap kaum miskin dan mereka yang tersisih,
    • Mengembangkan dialog antaragama sebagai jalan persaudaraan, serta
    • Mempromosikan gerakan pemeliharaan lingkungan hidup, sejalan dengan semangat Santo Fransiskus dan ajaran Gereja tentang pertobatan ekologis.

    3. Gerakan Rekonsiliasi dan Pembaruan Hidup
    Yubileum adalah saat berahmat untuk mengalami belas kasih Allah. Oleh karena itu paroki- paroki dan komunitas religius didorong untuk mengadakan perayaan rekonsiliasi bersama, pelayanan Sakramen Tobat serta berbagai inisiatif yang mendorong rekonsiliasi dalam keluarga, komunitas dan masyarakat. Setelah mengalami pengampunan Tuhan, umat dipanggil untuk menjadi pembawa rekonsiliasi bagi sesama. Sebagai tanda kesatuan Gereja lokal dalam perayaan ini, ditetapkan beberapa ketentuan pastoral berikut:
    1. Pembukaan resmi Tahun Yubileum dilaksanakan pada Minggu, 22 Maret 2026 di seluruh paroki dalam Perayaan Ekaristi.
    2. Tempat ziarah ditetapkan sebanyak 37 lokasi di wilayah Keuskupan Agung Medan.
    3. Pelayanan Sakramen Rekonsiliasi dimohon agar para imam menyediakan waktu khusus sepanjang Tahun Yubileum ini.
    4. Atribut dan publikasi Yubileum menggunakan leaflet resmi serta tanda peziarah berupa kalung Tau atau Rosario.
    5. Panitia Centenario Fransiskan menjadi animator utama kegiatan ini dalam kerja sama dengan komisi-komisi pastoral dan paroki-paroki.

    Semoga perayaan ini meneguhkan panggilan Gereja sebagai promotor persaudaraan, misi dan pemelihara ciptaan. Panggilan ini semakin diperteguh dalam perjalanan Sinode Diosesan VII. Kiranya Santo Fransiskus dari Assisi menjadi teladan dan pendoa bagi kita semua, agar Gereja Keuskupan Agung Medan sungguh menjadi tanda damai dan harapan bagi dunia.

    Demikian pemakluman ini disampaikan untuk dipedomani dan dilaksanakan dengan sukacita Injili.

    Diberikan di Medan
    Tanggal 16 Maret 2026
    Pada Tahun ke-8 Takhta Metropolitan kami
    Deus Meus et Omnia, †Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap Uskup Keuskupan Agung Medan

    Selamat Jalan Sr. M. Dionisia Marbun, SCMM

    Keuskupan dengan duka cita yang mendalam menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Sr. M. Dionisia Marbun SCMM pada tanggal 10 Maret 2026. Beliau telah mempersembahkan hidupnya secara total dalam pengabdian kepada Tuhan melalui panggilan hidup bakti, dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan semangat pelayanan yang tulus bagi Gereja dan sesama. Keuskupan bersyukur atas teladan iman, doa, dan karya pelayanannya yang telah memperkaya kehidupan umat.

    Semoga Allah Bapa yang Maharahim menerima Sr. M. Dionisia Marbun SCMM dalam damai dan kebahagiaan abadi di rumah-Nya, serta menghibur keluarga, kongregasi, dan semua yang berduka dengan pengharapan akan kebangkitan.

    Dukacita dari Kongregasi SCMM Sebelumnya:
    • Sr. M. Renata Barasa, SCMM (13 Jan 2026) 61 Tahun
    • Sr. M. Nirmala Arulay, SCMM (18 Des 2025) 74 Tahun
    • Sr. M. Fransisca Sinaga SCMM (27 Nov 2024) 70 Tahun
    • Sr. M. Alberta Telaumbanua, SCMM (07 Nov 2024) 92 Tahun
    • Sr. M. Lambertin Manalu, SCMM (11 Okt 2024) 60 Tahun