Minggu, Oktober 18, 2026
Lainnya
    Beranda blog Halaman 2

    Warta Kuria (Juli-Agustus 2026)

    1. Menjadi Jembatan Harapan: Pesan Sidang Pleno XII FABC dari Jakarta

    Kunjungan para uskup Asia ke Masjid Istiqlal pada Minggu, 26 Juli 2026, menjadi puncak simbolis dari Sidang Pleno ke-12 Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) yang berlangsung di Jakarta pada 20–25 Juli 2026. Lebih daripada sekadar agenda seremonial, silaturahmi ini menyatakan dengan tegas bahwa perbedaan agama, budaya dan bangsa bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan yang mempersatukan. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, Gereja Asia memilih untuk hadir sebagai tanda persaudaraan dan komitmen nyata bagi perdamaian.

    Dengan mengusung tema "You Will See Greater Things" (bdk. Yoh. 1:50), FABC XII mengajak Gereja Asia memasuki pertobatan sinodal: berdoa, saling mendengarkan, berdialog dan bersama-sama membedakan kehendak Allah. Misi Gereja diperluas menjadi panggilan untuk membangun jembatan dengan masyarakat, antaragama, antarbudaya, kaum miskin, para migran, hingga seluruh ciptaan di tengah krisis ekologis. Penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah pun sarat makna strategis: dari negeri yang hidup dalam keberagaman, Gereja Asia hadir sebagai pembangun masa depan melalui dialog persaudaraan dan kerja sama.

    Rangkaian peristiwa ini menampakkan kembali identitas Gereja Asia yang sinodal dan misioner. Gereja dipanggil menghadirkan wajah Kristus yang membawa harapan serta kedamaian. Semangat perjumpaan yang dihidupi di Jakarta—dari ruang sidang hingga serambi Istiqlal—menjadi warisan berharga bagi Gereja dan dunia. Kiranya Gereja terus menjadi jembatan harapan yang menyatukan, sehingga terang kasih Allah semakin nyata di Asia dan seluruh dunia.

    2. Merawat Ciptaan, Membangun Kesejahteraan: Arah Baru Gereja Indonesia dalam Sidang Tahunan KWI 2026

    Sidang Tahunan KWI 2026, 27-31 Juli, dibuka dengan hari studi yang mendalami kembali hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAKGI) 2025. Kegiatan diawali dengan pengantar oleh Mgr. Kornelius Sipayung, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan berbagai persoalan penting menyangkut ekologi, ekonomi dan kehidupan sosial.

    Sesi pertama membahas Teologi Ekologi Integral dan Pertobatan Ekologis, dengan menghadirkan R.P. Mateus Mali, CSsR dan R.P. Martin Harun, OFM. Para peserta diajak menyadari tanggung jawab manusia untuk menjaga harmoni dan keberlangsungan seluruh ciptaan sebagai bagian dari rumah bersama. Sesi kedua membahas Pertobatan Ekonomi dan Alternatif Model Ekonomi yang dipaparkan oleh Alisio Senyoman dan R.D. Fredi Rante Taruk. Sesi ini menekankan bahwa ekonomi bukan sekadar pengelolaan sumber daya, melainkan upaya membangun kesejahteraan manusia dan keluarga secara adil dan berkelanjutan.

    Inti rangkaian studi ini menegaskan bahwa pertobatan ekologis dan pertobatan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus berjalan bersama agar pembangunan tidak hanya mengejar kesejahteraan manusia, tetapi juga menjaga kelestarian ciptaan. Melalui Sidang Tahunan KWI 2026, Gereja di Indonesia diteguhkan untuk membangun rumah bersama yang berkelanjutan, berkeadilan dan berlandaskan tanggung jawab terhadap sesama serta seluruh ciptaan.

    3. Inaugurasi Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar: Gereja yang Berjalan Bersama dan Membawa Harapan

    Ribuan umat paroki Tigabinanga menyatakan rasa syukur pada perayaan Ekaristi Inaugurasi Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar pada Minggu, 2 Agustus 2026. Uskup Keuskupan Agung Medan secara resmi mendirikan kuasi paroki St. Paulus Juhar pada 2 Mei 2026 sebagai pemekaran dari Paroki Tigabinanga dan Paroki Santo Petrus dan Paulus Kabanjahe. Peristiwa iman ini sudah lama dinanti-nantikan oleh umat dari kedua paroki induk ini. Reksa pastoral wilayah kegembalaan baru yang terdiri dari 11 stasi ini dipercayakan kepada Ordo Kapusin Provinsi Medan. Minister Provinsial Kapusin Medan menugaskan RP. Alfred Karo-Karo sebagai administrator kuasi paroki St. Paulus Juhar.

    Selebrasi inaugurasi diawali dengan penyambutan rombongan Bapa Uskup dari kantor Camat Juhar diiringi drumband menuju lokasi perayaan di Gereja St. Paulus Juhar. Tiba di lokasi pesta ibu-ibu yang mengenakan pakaian adat karo menyambut Bapa Uskup dengan tarian penyambutan yang turut menyemarakkan persiapan perayaan ekaristi. Dalam perayaan yang dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, Dewan Pastoral Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar untuk masa jabatan 1 tahun juga dilantik untuk mengambil bagian dalam pelayanan umat dalam semangat persaudaraan dan sinodalitas. Dengan bimbingan Roh Kudus, para pelayan pastoral diharapkan mampu bekerja bersama, mendengarkan umat dan menghadirkan Gereja yang merangkul serta menaburkan harapan.

    Dalam homilinya, Bapa Uskup mengajak umat merefleksikan alasan pentingnya pemekaran dan kehadiran sebuah kuasi paroki, yakni agar gembala semakin dekat dengan umat. Kedekatan tersebut memungkinkan Gereja untuk mendengarkan kehidupan umat, membawa sukacita kepada mereka yang bersedih, menghadirkan penghiburan bagi keluarga yang mengalami kesulitan, serta mendampingi anak-anak agar bertumbuh sebagai murid Kristus. Diinspirasi oleh Injil yang berkisah tentang mujizat pergandaan roti, Bapa Uskup juga menandaskan pemberian makanan kehidupan kekal melalui Ekaristi yang lebih sering dirayakan sebagai alasan pemekaran wilayah kegembalaan ini. Tuhan mampu mengubah sesuatu yang kecil dan sederhana menjadi berkat yang besar bagi banyak orang. Gereja dipanggil untuk hadir di tengah mereka yang miskin dan tersingkir, membawa persoalan dan konflik kepada jalan rekonsiliasi, serta menyertai setiap cita-cita umat dalam terang iman. Dengan demikian, kasih Allah semakin dekat dan nyata dalam kehidupan umat. Semoga Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar terus bertumbuh menjadi komunitas iman yang hidup, membawa sukacita, memperkuat persaudaraan dan menjadi berkat bagi umat serta masyarakat di sekitarnya.

    4. KAM Hadir dalam Pelantikan Pengurus BPK 45 Sumatera Utara

    Medan, 4 Agustus 2026 – Keuskupan Agung Medan (KAM) yang diwakili Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (Komisi HAK KAM), yaitu RD. Benno Ola Tage, Erni Kristiani dan Anna Aritonang, menghadiri pelantikan Pengurus Dewan Harian Badan Pembudayaan Kejuangan (BPK) 45 Sumatera Utara periode 2026–2031 di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara. BPK 45 merupakan organisasi kemasyarakatan yang memperjuangkan penghayatan nilai Pancasila dalam mengisi kemerdekaan, dengan semangat juang 45 sebagai dasar gerakannya untuk memelihara keutuhan NKRI. Para pengurusnya umumnya adalah mereka yang telah purna tugas dari pemerintahan maupun lembaga legislatif.

    Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dalam sambutannya mengapresiasi semangat karya para pengurus BPK 45, yang dinilainya sebagai generasi yang telah berkontribusi nyata bagi bangsa Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Kehadiran KAM dalam acara ini menjadi wujud partisipasi Gereja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sejalan dengan semangat kebangsaan yang terus dijaga. Dengan rasa bangga Keuskupan Agung Medan mendukung umatnya, Bapak Tuahman Purba, menjadi salah satu anggota Badan Pengurus BPK 45 Sumatera Utara. Melalui beliau, Gereja Katolik turut ambil bagian dalam pembangunan dan perjuangan kebangsaan. Semoga keterlibatan ini semakin mempererat kerja sama antara Gereja dan negara dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila demi kesejahteraan bersama. Nilai-nilai ini hendak dihidupi lebih dalam melalui Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan: “Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan dan Mewartakan.”

    5. Sukacita Bersama Gembala: Malam Keakraban OMK St. Damian Lau Baleng

    Lau Baleng, 7 Agustus 2026 — Sukacita mewarnai Malam Keakraban Orang Muda Katolik (OMK) St. Damian Lau Baleng bersama Bapa Uskup Agung Medan. Kegiatan pada Jumat malam itu merupakan momen istimewa bagi OMK dan anak-anak SEKAMI untuk berkumpul, berbagi kegembiraan serta menampilkan berbagai kreativitas melalui nyanyian, tarian dan penampilan lainnya. Perjumpaan ini menjadi bukti nyata bahwa Gereja tidak hanya berbicara tentang kaum muda, tetapi hadir bersama mereka, sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus dalam Christus Vivit: "Gereja membutuhkan mereka [kaum muda] untuk menjadi dirinya sendiri, dan mereka membutuhkan Gereja untuk menjadi diri mereka sendiri" (CV, No. 166). Kreativitas yang ditampilkan juga merupakan wujud nyata panggilan kaum muda sebagai "rasul-rasul pertama dan segera bagi kaum muda sendiri" (Dekrit Apostolicam Actuositatem, No. 12).

    Keceriaan memuncak ketika Bapa Uskup melontarkan kuis interaktif kepada para peserta. Gelak tawa dan antusiasme anak-anak serta orang muda pecah seketika, menciptakan suasana yang hidup dan akrab. Di balik keceriaan itu, tersirat makna yang lebih dalam: terjalinnya perjumpaan yang hangat antara gembala dan umatnya, di mana terjadi saling mendengarkan dan saling meneguhkan. Hal ini sejalan dengan semangat Gembala Baik yang mengenal dan dikenal oleh domba-dombanya (lih. Yoh 10:14).

    Kehadiran Bapa Uskup di tengah-tengah OMK merupakan tanda nyata bahwa Gereja senantiasa hadir dan berjalan bersama kaum muda. Orang muda merupakan bagian penting dari Gereja saat ini, sebab "kaum muda bukan hanya menjadi sasaran pewartaan, tetapi juga menjadi subjek dan pelaku pewartaan itu sendiri" (CV, No. 174). Kebersamaan ini semakin mengakarkan OMK St. Damian Lau Baleng dalam iman, berani mengambil peran dalam pelayanan serta menjadi pembawa sukacita dan harapan bagi perutusan Gereja di tengah masyarakat.

    6. Berjalan Bersama sebagai Satu Tubuh: Perjumpaan Gembala dan Komunitas SSCC

    Pertemuan Bapa Uskup Agung Medan bersama Vikep Pro Religius dan komunitas SSCC (Congregatio Sacrorum Cordium atau Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria) Keuskupan Agung Medan berlangsung pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Pertemuan yang dipandu oleh RP. Paulus Halek Bere, SSCC, Ketua Regio SSCC Sumatera ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal, mendengarkan dan memperteguh kebersamaan dalam pelayanan Gereja.

    Acara diisi dengan sharing mengenai makna kehadiran SSCC di Keuskupan Agung Medan. Mewakili Provinsi SSCC Indonesia, Pastor Tarsisius, SSCC., menyampaikan bahwa kehadiran SSCC membawa spiritualitas Hati Kudus Yesus dan Maria sebagai kekayaan rohani untuk menjawab kebutuhan Gereja lokal. Sementara itu, Sr. Romeka, SSCC., menyatakan kesiapsediaan para suster untuk terlibat dalam berbagai karya pastoral Keuskupan. Vikep Pro Religius pun mengapresiasi kehadiran komunitas SSCC sebagai bagian dari kekayaan hidup bakti di Keuskupan Agung Medan.

    Menanggapi hal tersebut, Bapa Uskup mengajak komunitas SSCC untuk terus menghidupi semangat sinodalitas sambil menghindari ego sektoral dan berjalan bersama sebagai satu tubuh Kristus. Perbedaan karisma hendaknya menjadi kekayaan yang dipersatukan dalam satu perutusan untuk membangun Gereja yang semakin sinodal, misioner dan hadir bagi umat. Kehadiran dan keterlibatan SSCC semakin memperkaya dan memperkuat Keuskupan Agung Medan dalam pelayanan pastoral yang berakar pada kasih Kristus.

    7. “Saat Gembala dan Umat Saling Mendengarkan” : Wawan Hati di Lau Baleng

    Semangat sinodalitas yang mengajak seluruh umat Allah untuk saling mendengarkan, saling meneguhkan, dan bersama-sama mencari kehendak Tuhan berkobar dalam kegiatan Wawan Hati bersama pengurus gereja dan komunitas kategorial di Paroki Santo Damian Lau Baleng, Sabtu, 8 Agustus 2026. Perjumpaan ini menjadi wujud nyata dari panggilan Gereja untuk keluar dari keterbatasannya dan berjalan bersama umat, sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium: "Gereja 'keluar' merupakan Gereja yang berinisiatif keluar dari kenyamanannya dan berani pergi ke pinggiran untuk mencari mereka yang jauh" (EG, No. 24).

    Dalam suasana penuh persaudaraan, umat berdialog secara terbuka bersama Bapa Uskup Agung Medan, Vikep Pro Religius, Ketua Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Agung Medan, dan Pastor Paroki. Berbagai pertanyaan mengenai kehidupan iman, pelayanan, dan dinamika Gereja dibagikan dan didiskusikan bersama. Perjumpaan ini merupakan kesempatan istimewa untuk saling mendengarkan pengalaman, harapan, sukacita, maupun tantangan yang dihadapi umat dalam pelayanan. Paus Fransiskus mengingatkan dalam Dilexit Nos, "Gereja tidak bertumbuh dengan perpindahan orang, melainkan dengan daya tarik kesaksian kasih" — dan kasih itu lahir dari hati yang mau mendengarkan dan hadir bagi sesama.

    Wawan Hati ini semakin meyakinkan umat bahwa Gereja bertumbuh ketika seluruh anggotanya mau duduk bersama, mendengarkan dengan hati terbuka dan berjalan dalam persaudaraan. Dari Lau Baleng, semangat untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan sukacita Injil terus dihidupi sebagai tanda Gereja yang hidup dan misioner, yang berakar pada kasih Kristus yang telah lebih dahulu mengasihi kita (lih. Dilexit Nos, No. 1).

    8. "Tetap Teduh di Tengah Perubahan Jadwal: KAM Hadiri AKRS HUT ke-81 RI

    Menanggapi undangan Gubernur Sumatera Utara, Keuskupan Agung Medan (KAM) mengutus RD. Sesarius Petrus Mau, Pastor Paroki Katedral Medan, untuk menghadiri Upacara Apel Kehormatan dan Renungan Suci (AKRS) dalam rangka Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026. Acara semula dijadwalkan pada Minggu, 16 Agustus 2026, pukul 24.00 WIB, di Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan, Jl. Sisingamangaraja, Medan.

    Pada Jumat, 14 Agustus 2026, Sekretariat Daerah Pemprov Sumatera Utara menerbitkan surat resmi berisi ralat jadwal, yang mengubah pelaksanaan upacara menjadi Sabtu, 15 Agustus 2026. RD. Sesarius Mau, dengan pengabdian tulus kepada Gereja dan Negara, tetap hadir pada tanggal dan jam yang telah ditentukan. Namun saat tiba di lokasi, ternyata pelaksanaan upacara kembali diubah menjadi 16 Agustus 2026 tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada Keuskupan Agung Medan, sehingga upacara tidak jadi dilaksanakan pada 15 Agustus 2026 padahal sejumlah tokoh agama telah hadir.

    Meskipun mengecewakan, pastor yang akrab dipanggil Sesar, tetap menunjukkan sikap teduh dan wajah ramah sebagai wujud kesatuan Keuskupan Agung Medan. Peristiwa ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama agar koordinasi dan komunikasi penyelenggaraan kegiatan serupa dapat berjalan lebih baik di masa mendatang. Merdeka!

    9. Kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas Memulai Babak Baru dalam Iman dan Pelayanan

    Spes non confundit! Penantian lama umat rayon Talun Kenas dan Negara paroki santo Yosep Delitua tidak mengecewakan. Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung secara resmi mendirikan Kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas pada 22 Juni 2026 sebagai pemekaran dari Paroki Santo Yosep, Delitua. Kuasi Paroki baru ini memusatkan karya pastoralnya untuk memajukan pertanian, Pendidikan dan pembinaan iman berbasis lingkungan dan stasi dengan peningkatan katekese bagi BIA, BIR, OMK, Keluarga dan kategorial. Wilayahnya tersebar di sekitar Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Kuasi paroki ini beralamat di Dusun III, Desa Talun Kenas, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Ordo Saudara Dina Konventual Provinsi Maria Tak Bernoda Indonesia dipercayakan untuk menanggungjawabi reksa pastoralnya. Umat yang berjumlah 4.212 jiwa yang tersebar di 14 stasi digembalakan oleh RP. Yohanes K. Sensianus Jebarus OFMConv sebagai pastor kuasi paroki.

    Inaugurasi Kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas dirayakan dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap pada Minggu, 16 Agustus 2026, bertepatan dengan hari raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Ribuan umat paroki Delitua dan undangan lain ikut menyatakan syukur kepada Allah atas perkembangan wilayah kegembalaan ini. ‘Gembala dekat dengan umatnya’ adalah tujuan utama penetapan wilayah baru ini. Diharapkan umat akan semakin bertumbuh dalam persaudaraan dan menjadi terang Kristus bagi sesama. Sesuai dengan inti perayaan hari raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga, Kuasi Paroki memikul tanggung jawab mulia untuk menghidupkan pengharapan sejati umat manusia akan kehidupan kekal. Maria yang diangkat tubuh dan jiwanya ke surga menjadi jaminan bahwa hidup manusia tidak berakhir di dunia ini, tetapi berlanjut dalam kehidupan kekal bersama para kudus di surga. Bunda Maria yang sudah berada di surga memiliki hak istimewa untuk mendoakan umat Allah yang masih berjuang di dunia.

    Didoakan oleh Santa Klara sebagai pelindungnya, Kuasi Paroki ini berjuang menjadi cahaya yang menerangi umat Allah. “Santa Klara….Bercahaya, Menerangi, Menjadi Berkat,” diusulkan Bapa Uskup sebagai yel-yel yang menjadi spirit kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas. Semoga Kuasi Paroki ini yang dipimpin dalam semangat persaudaraan convento dalam diri para saudara dina Konventual menjadi pembawa cahaya, menerangi dan menjadi berkat bagi umat Allah dan Masyarakat di sekitarnya.

    10. Jalan Harapan di Tengah Dinamika Bangsa: Nota Pastoral KWI 2026 (Jakarta, 17 Agustus 2026)

    Untuk menindaklanjuti Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ke-5 (SAGKI V, Jakarta, 3–7 November 2025) yang bertema "Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian," Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menerbitkan Nota Pastoral. Bangsa dan Gereja layak bersyukur atas perjalanan sejarah yang meliputi Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Pancasila, Proklamasi, Reformasi 1998, dan sebagainya. Namun syukur sejati menuntut kejujuran. Gereja menghadapi lemahnya katekese dan keterbatasan SDM, sementara bangsa masih diliputi kemiskinan, korupsi, krisis ekologi dan kemunduran demokrasi.

      Indonesia kini dilanda krisis multidimensi yang saling terkait. Di bidang sosial, ada krisis kesehatan mental remaja (34,9%), ketidakadilan gender, kekerasan perempuan-anak (35.025 kasus), krisis Papua dan tutupnya banyak sekolah/klinik Katolik. Dari sudut pandang teknologi terjadi disrupsi digital dan AI menjadi pedang bermata dua: membuka akses informasi namun melahirkan kejahatan siber, alienasi, dan menurunnya empati. Secara ekonomis, ada paradoks wajah ganda: PDB ~5% di balik Gini 0,363–0,375, kemiskinan BPS 8,25% vs Bank Dunia 60,3%, pekerja informal 59,40%, dan korupsi sistemik. Di bidang ekologi, deforestasi melonjak dari 261.575 menjadi 433.751 hektare, perubahan iklim melampaui 1,5°C, dan hak masyarakat adat terampas; krisis moral-spiritual yang menuntut habitus ekologis. Secara politik, terjadi kemunduran demokrasi (EIU 6,44 flawed; V-Dem electoral autocracy) ditandai sentralisasi, represi hukum dan remiliterisasi. Arus sekularisme, dehumanisasi, keletihan moral dan eksklusivisme agama menggerus martabat manusia.

      Gereja dipanggil menjadi mitra kritis negara dalam berbagai bidang. Dalam kehidupan sosial, gereja bertugas menciptakan perjumpaan lintas iman, bantuan hukum, safeguarding, memulihkan sekolah-klinik sebagai "rumah bagi semua" dan membuka Sekretariat Papua. Untuk mengarahkan penggunaan teknologi, Gereja mewajibkan diri untuk merumuskan etika digital kritis, anti-hoaks, pemerataan akses ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) dan memastikan AI tak menggantikan kecerdasan manusia. Ajaran Sosial Gereja, Credit Union dan semangat "Gereja miskin dan bagi kaum miskin diarahkan untuk perbaikan dan pemerataan ekonomi. Perduli akan ekologi, Gereja mempromosikan eko-teologi, perlindungan hutan dan hak masyarakat adat, serta menolak investasi perusak ciptaan. Kaderisasi kaum muda dan Katekese Kebangsaan digalakkan untuk Pendidikan politik. Untuk menanamkan nilai sejati kemanusiaan, keluarga dijadikan sebagai sekolah pertama, sekolah Katolik sebagai ruang perjumpaan interreligius dan perayaan Ekaristi diharuskan memiliki dampak sosial.

      RP. Adrianus Sembiring OFMCAp
      Kanselarius / Sekretaris Keuskupan Agung Medan

      Komisi Peziarahan Rohani (Ziroh)

      0
      Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20153, Sumatera Utara – Indonesia
      Alamat Kantor Kom Ziroh KAM
      0853-8100-2329
      Kontak Kom Ziroh KAM
      Email Kom Ziroh KAM
      RD. Fransiskus Ginting
      Ketua Kom Ziroh KAM
      Lili Estrelita Silalahi
      Pegawai Kom Ziroh KAM

      Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan penyertaan-Nya sehingga kami dapat menyusun rencana dan struktur organisasi Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan ini. Komisi ini dibentuk untuk melestarikan, mempromosikan, dan mengembangkan destinasi wisata rohani yang kaya akan nilai sejarah, budaya, dan spiritual di wilayah Keuskupan Agung Medan (KAM).

      Latar belakang pembentukan komisi ini adalah kebutuhan untuk mengelola berbagai destinasi wisata rohani secara efektif, seperti Graha Maria Annai Velangkanni, Gereja Inkulturatif Karo di Berastagi, Gereja Inkulturatif Toba di Pangururan, Gereja Inkulturatif Pakpak di Sumbul, Bukit Kerahiman Ilahi di Siosar, dan Patung Yesus tertinggi di dunia di Sibea-bea. Selain itu, potensi wisata umum seperti Danau Toba, Bukit Lawang-Bahorok, Sabang-Aceh, dan Berastagi juga menjadi fokus pengembangan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat lokal.

      Inspirasi pembentukan komisi ini datang dari seorang imam Keuskupan Agung Jakarta, Yustinus Ardianto Pr, yang juga direktur pusat pastoral Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Setelah mengalami pesona alam di Sumatera Utara dan reksa pastoral Keuskupan Agung Medan, beliau memicu gagasan untuk hadirnya Komisi Peziarahan Rohani di KAM. Peziarahan rohani pernah hadir dalam satu divisi Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) – Karitas KAM ketika Danau Toba sedang digalakkan menjadi destinasi wisata prioritas. Kini divisi tersebut ditingkatkan menjadi komisi yang berdiri sendiri.

      Pembentukan komisi ini berlatar belakang kekayaan destinasi wisata yang mempunyai nilai-nilai spiritual dan estetika yang mengagumkan di berbagai wilayah KAM, serta minat umat Katolik di Indonesia, khususnya di KAM, untuk mengadakan perjalanan Wisata Rohani. Melalui komisi ini, Gereja Partikular KAM hadir menunjukkan wajah Allah yang Mahabesar dan Berbelaskasih kepada banyak orang yang mengadakan perjalanan ziarah. Semoga dengan kehadiran Komisi Peziarahan Roahani ini, misteri kebesaran Allah semakin dinyatakan dan pujian kepada Allah semakin ditinggikan.

      Komisi Peziarahan Rohani ini bertujuan melestarikan dan mempromosikan keindahan alam, ragam budaya, dan situs-situs religius di KAM. Selain itu, memberikan informasi resmi terkait spot wisata rohani kepada peziarah, memfasilitasi kelompok-kelompok peziarah, mengorganisir peziarahan rohani, meningkatkan fasilitas di spot wisata rohani, menyediakan katekese audio-visual, serta meningkatkan kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri.

      Berbagai strategi telah dirumuskan untuk mencapai tujuan tersebut, termasuk pengembangan infrastruktur, promosi dan informasi, kolaborasi dengan berbagai pihak, pelayanan dan fasilitasi peziarah, pemberdayaan masyarakat lokal, pengembangan program wisata dan acara khusus, monitoring dan evaluasi, inovasi teknologi, dan peningkatan kesadaran lingkungan.

      Kami berharap dengan adanya komisi ini, wisata rohani di Keuskupan Agung Medan dapat berkembang lebih baik, memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan umat Katolik, serta mendukung Visi Keuskupan untuk menjadi "Oase Ilahi di Tengah Dunia."

      Komisi Peziarahan Rohani ini memiliki visi dan misi, yakni:

      1. Visinya adalah  Oase Ilahi di Tengah Dunia
      • Misinya adalah:
      1. Memperkenalkan Wajah Allah:
        • Memperkenalkan wajah Allah dalam keindahan alam, ragam budaya, situs-situs religius, geopark, dan tempat-tempat religius di wilayah KAM.
      2. Melestarikan Pariwisata Religius dan Budaya:
        • Melestarikan pariwisata religius dan budaya yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai, dan tepat sasaran. Pariwisata ini berwawasan lingkungan dan kebudayaan, serta berfungsi sebagai Oase Ilahi di Tengah dunia.
      3. Menggali dan Menyebarkan Nilai Spiritual:
        • Menggali, mendokumentasikan, dan menyebarkan nilai spiritual serta semangat kekatolikan yang terkandung dalam budaya, situs-situs religius, geopark, dan tempat-tempat religius di wilayah KAM.
      4. Menghargai dan Mempromosikan Budaya Setempat:
        • Menghargai, menggali, dan mempromosikan budaya setempat dalam konteks penghayatan iman Katolik.
      5. Memberdayakan Umat dalam Sektor Pariwisata:
        • Menganimasi dan memberdayakan umat dalam meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terangkat.

      Dengan misi ini, Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan diharapkan dapat berperan aktif dalam memperkenalkan, melestarikan, dan mengembangkan pariwisata rohani dan budaya di wilayah KAM, mendukung misi keuskupan untuk menjadi "Oase Ilahi di Tengah Dunia", serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan umat Katolik.

      • Sejarah dan Perkembangan Pariwisata

      Pariwisata telah menjadi bagian dari peradaban manusia sejak zaman dahulu, yang ditandai dengan perjalanan menuju tempat-tempat yang memberikan kesegaran jiwa dan raga. Sebagai kegiatan ekonomi, pariwisata mulai berkembang pada awal abad ke-19 dan menjadi industri internasional sejak tahun 1869. Saat ini, pariwisata telah menjadi salah satu industri utama penghasil devisa di berbagai negara, bahkan ketika sektor perdagangan barang mengalami kelesuan, pariwisata tetap menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

      • Wisata Rohani sebagai Bagian dari Pariwisata Minat Khusus

      Wisata rohani adalah salah satu bentuk pariwisata minat khusus yang berkaitan dengan kepercayaan, adat istiadat masyarakat, dan aktivitas keagamaan. Wisata ini bisa dilakukan secara perorangan maupun berkelompok, ke tempat-tempat yang dianggap suci dan penting bagi perkembangan iman seseorang atau komunitas, termasuk makam para pemimpin yang diagungkan. Dalam tradisi Katolik, ziarah ke tanah suci yang berkaitan dengan kehidupan Yesus telah dilakukan sejak abad ke-4, mencakup tempat-tempat seperti Roma, makam para rasul, martir, dan situs penampakan Perawan Maria.

      • Tempat-Tempat Ziarah yang Populer

      Temuan Forbes menunjukkan bahwa umat Katolik di seluruh dunia gemar berziarah tidak hanya ke Gua Bunda Maria tetapi juga ke Gereja-gereja bersejarah, makam orang Kudus, dan Biara. Tempat-tempat ziarah ini menarik ribuan hingga ratusan ribu peziarah setiap tahunnya.

      • Kekayaan Destinasi Wisata Rohani di Keuskupan Agung Medan

      Keuskupan Agung Medan (KAM) memiliki banyak obyek pariwisata dan wisata rohani yang kaya akan nilai sejarah, budaya, dan spiritual, antara lain:

      1. Graha Maria Annai Velangkanni di Medan, yang terkenal dengan arsitektur India-Mogul.
      2. Gereja Inkulturatif Berastagi, yang mengadopsi arsitektur tradisional Karo.
      3. Gereja Inkulturatif Pangururan di Samosir, yang memadukan elemen budaya Batak Toba.
      4. Gereja Katolik Inkulturatif Pakpak di Sumbul dan Gereja Padre Pio di Purba Hinalang, yang kaya akan ornamen dan simbol budaya Simalungun.
      5. Gua Bunda Maria Tritunggal Maha Kudus. Gua Bunda Maria Tritunggal Maha Kudus lokasinya berada di Namo Suro Baru, Kec. Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
      6. Gua Maria Namo Pecawir. Gua Maria Namo Pocawir lokasinya berada di Jl. Namo Pencawir, Desa Tuntungan II, Kec. Pancur Batu, Kab. Deli Serdang. Tempat ini merupakan Gua Maria yang menjadi sisa peninggalan/warisan sejarah Paus Yohanes Paulus II di Medan pada bulan Oktober 1989.
      7. Gua Maria Bunda Karmel. Gua Maria Bunda Karmel berada di Paroki Cinta Damai kebupaten Batu Bara.
      8. Bukit Kerahiman Ilahi di Siosar, Tanah Karo, yang menjadi salah satu destinasi ziarah utama dengan taman doa dan patung Yesus Kristus.
      9. Patung Yesus Tertinggi di Dunia di Sibea-bea, Kabupaten Samosir, yang menjadi ikon baru pariwisata rohani dan menarik banyak peziarah dari berbagai daerah.
      10. Taman Iman di Kabupaten Dairi, yang menawarkan pengalaman spiritual melalui replika tempat-tempat suci dari berbagai agama dan keyakinan.
      11. Kekayaan Destinasi Wisata Umum di Wilayah Keuskupan Agung Medan

      Selain destinasi wisata rohani, wilayah KAM juga memiliki kekayaan destinasi wisata umum yang menarik, seperti:

      • Danau Toba dengan keindahan alamnya yang memukau, pulau Samosir yang berada di tengahnya, serta berbagai kegiatan wisata seperti berperahu, berenang, dan menikmati keindahan alam sekitarnya.
      • Bukit Lawang-Bahorok yang terkenal dengan konservasi orangutan, menawarkan pengalaman unik trekking di hutan hujan tropis.
      • Sabang, Aceh yang merupakan titik nol kilometer Indonesia dengan keindahan pantai, terumbu karang, dan spot snorkeling serta diving yang mempesona.
      • Berastagi yang dikenal dengan udara sejuk, kebun stroberi, dan pemandangan Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak, menjadi tempat favorit untuk bersantai dan menikmati alam pegunungan.
      • Tingginya Jumlah Peziarah dan Wisatawan

      Wilayah KAM sering dikunjungi oleh banyak peziarah dari dalam dan luar negeri, termasuk negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Tempat-tempat ini menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam, serta pengenalan terhadap simbol-simbol budaya dan keagamaan.

      • Kebutuhan Akan Informasi dan Penerangan

      Banyak peziarah memerlukan penjelasan lebih mendalam mengenai makna simbol-simbol keagamaan dan budaya di setiap situs ziarah. Informasi yang kurang memadai mengenai spot wisata rohani seringkali menjadi hambatan, meskipun internet telah menjadi alat utama dalam mencari informasi wisata.

      • Dukungan Pemerintah dan Infrastruktur

      Pemerintah telah menetapkan Danau Toba, yang berada di wilayah KAM, sebagai salah satu destinasi wisata unggulan. Namun, masyarakat dan umat di wilayah KAM masih perlu meningkatkan kesiapan mereka dalam menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan, mengembangkan karakter hospitality, ramah lingkungan, dan memanfaatkan peluang ekonomi yang ada.

      • Pembentukan Komisi Pariwisata dan Peziarahan Rohani

      Sebagai tanda kepedulian terhadap perkembangan pariwisata rohani, Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap, telah membentuk satu Komisi yang menangani seluruh spot wisata rohani di wilayah pastoral KAM. Pembentukan Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan merupakan langkah strategis untuk mengembangkan dan mengelola kekayaan obyek wisata rohani yang ada. Melalui komisi ini, diharapkan dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan umat Katolik, serta mendukung misi keuskupan untuk menjadi oase spiritual di tengah dunia.

      Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan dibentuk dengan tujuan untuk:

      1. Melestarikan dan Mempromosikan Keindahan Alam dan Ragam Budaya
        • Menghargai dan melestarikan kekayaan alam, budaya, situs-situs religius, geopark, dan tempat-tempat religius yang dimiliki oleh Keuskupan Agung Medan.
        • Mengedukasi dan memotivasi umat Allah serta peziarah untuk mengalami kehadiran Allah melalui keindahan alam dan budaya di wilayah KAM.
      2. Memberikan Informasi Resmi
        • Menyediakan informasi resmi mengenai spot wisata rohani di wilayah pastoral Keuskupan Agung Medan, baik yang dimiliki oleh pribadi, pemerintah, Gereja Kristen, maupun terutama yang dimiliki oleh Gereja Katolik.
        • Mengembangkan platform digital dan cetak seperti brosur, buku, situs web, dan aplikasi mobile untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat luas.
      3. Memfasilitasi Kelompok-Kelompok Peziarah
        • Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai bagi kelompok-kelompok peziarah.
        • Memberikan informasi, katekese, dan perayaan sakramen yang mendukung pengalaman ziarah yang mendalam dan bermakna.
      4. Mengorganisir Wisata dan Peziarahan Rohani
        • Mengorganisir dan mengkoordinasikan kegiatan wisata dan peziarahan rohani ke tempat-tempat utama seperti Graha Maria Annai Velangkanni, Gereja Katolik Santo Fransiskus Inkulturatif Berastagi, Gereja Santo Dionisius Sumbul, Gereja Santo Mikael Pangururan, dan Gereja Santo Pio Purbahinalang.
        • Menyediakan panduan dan bimbingan yang membantu peziarah memahami makna dan nilai spiritual dari setiap tempat ziarah.
      5. Meningkatkan Fasilitas di Spot Wisata Rohani
        • Komisi ikut meningkatkan fasilitas termasuk spot wisata Rohani yang bukan milik Keuskupan Agung Medan
        • Menyediakan katekese audio-visual yang menjelaskan lambang-lambang dan simbol-simbol rohani yang ditemukan pada gereja-gereja inkulturatif dan tempat-tempat ziarah milik KAM.
      6. Meningkatkan Kunjungan Wisatawan
        • Meningkatkan kunjungan wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri, ke spot wisata rohani di wilayah pastoral Keuskupan Agung Medan.
        • Melakukan promosi melalui berbagai saluran komunikasi dan kerjasama dengan agen-agen perjalanan, pemerintah daerah, dan pihak-pihak terkait lainnya.
      7. Mengembangkan Ekonomi Lokal
        • Meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pengembangan Wisata rohani.
        • Membantu masyarakat memanfaatkan peluang ekonomi dari kegiatan Wista Rohani dengan menyediakan produk-produk lokal, suvenir, dan jasa terkait.

      Dengan tujuan-tujuan ini, Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung  diharapkan dapat mendukung visi keuskupan untuk menjadi "Oase Ilahi di Tengah Dunia" serta memperkuat identitas budaya dan keagamaan dalam konteks keimanan Katolik.

      Berdasarkan latar belakang dan tujuan yang telah dipaparkan, sasaran utama dari Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan meliputi:

      1. Umat Katolik di Indonesia khususnya di Keuskupan Agung Medan
        • Umat Katolik yang ingin memperdalam iman melalui ziarah dan mengunjungi tempat-tempat religius yang memiliki nilai spiritual tinggi.
        • Kelompok gerejani yang ingin mengorganisir perjalanan ziarah untuk anggotanya, sehingga mereka bisa mengalami dan berkomunikasi dengan Allah melalui tempat-tempat ziarah.
      2. Peziarah Wisata Rohani dari Dalam dan Luar Negeri
        • Peziarah dari berbagai daerah di Indonesia non Katolik yang mencari pengalaman spiritual dan ingin mengetahui lebih dalam tentang budaya dan tradisi Katolik di wilayah KAM.
        • Peziarah dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan negara lainnya yang tertarik dengan kekayaan spiritual dan budaya di wilayah KAM.
      3. Wisatawan Umum dalam dan Luar Negeri
        • Wisatawan yang tertarik dengan keindahan alam dan kekayaan budaya di wilayah KAM, seperti Danau Toba, Bukit Lawang-Bahorok, Sabang-Aceh, dan Berastagi.
        • Wisatawan yang ingin mengeksplorasi situs-situs wisata umum dan rohani, serta belajar tentang sejarah, budaya, dan tradisi lokal.
      4. Kelompok-Kelompok Peziarah
        • Kelompok-kelompok rohani dari berbagai denominasi Kristen yang tertarik dengan destinasi wisata rohani dan ingin mengadakan kegiatan spiritual bersama.
      5. Masyarakat Lokal di Wilayah Keuskupan Agung Medan
        • Masyarakat lokal yang akan mendapatkan manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan Peziarah melalui penjualan suvenir, makanan, dan layanan akomodasi.
        • Masyarakat yang diharapkan dapat mengembangkan karakter hospitality, ramah lingkungan, dan melihat peluang peningkatan kesejahteraan melalui sektor pariwisata.
      6. Pemerintah Daerah dan Pihak Terkait
        • Pemerintah daerah yang ingin mempromosikan pariwisata di wilayah mereka dan mendukung pengembangan fasilitas serta infrastruktur wisata.
        • Agen-agen perjalanan, hotel, restoran, dan penyedia jasa wisata yang bekerja sama dengan komisi untuk menawarkan paket wisata rohani yang menarik dan informatif.

      Dengan fokus pada berbagai kelompok sasaran ini, Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan diharapkan dapat mencapai tujuannya dalam melestarikan, mempromosikan, dan mengembangkan pariwisata rohani serta mendukung visi keuskupan untuk menjadi "Oase Ilahi di Tengah Dunia".

      Bahan Pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026

      Unduh Pendalaman BKSN 2026 untuk Paroki
      Unduh Pendalaman BKSN 2026 untuk Sekolah
      Unduh Pendalaman BKSN 2026 untuk THB
      Lihat Bahan BKSN 2026 Selengkapnya

      Tahun 2026 merupakan tahun berahmat bagi umat Keuskupan Agung Medan karena kita melaksanakan Sinode Diosesan VII
      Keuskupan Agung Medan dengan tema: “Gereja KAM Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan dan Mewartakan”. Sejalan dengan itu, Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM menyusun pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 ini dengan memperhatikan tema sinode dan tema BKSN yang disusun oleh LBI, yakni “Yesus Guru Yang Penuh Kuasa. Wajah Yesus dalam Injil Matius”.

      Pendalaman BKSN 2026 ini berlandaskan pada Injil Matius. Dalam Injil Matius kita dapat menemukan lima kumpulan pengajaran Yesus. Empat di antaranya kita pilih untuk dibahas dan didalami dalam empat sub tema, yakni:

      1. Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Sejati (Matius 5:1-12)
      2. Pengajaran Yesus tentang Tugas Perutusan Para Murid (Matius 10:1-15),
      3. Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman (Matius 18:15-20),
      4. Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Kekal (Matius 25:31-46).

      Melalui pendalaman ini, umat KAM diundang untuk mendengarkan suara Yesus sebagai Guru dan teladan iman, meneguhkan satu sama lain dalam persaudaraan, serta mewartakan sukacita Injil melalui tindakan kasih yang nyata-seturut semangat Sinode Diosesan VII yang menjadikan Gereja KAM sebagai Oase Ilahi di Tengah Dunia.

      Semoga Allah memberikan kepada kita karunia untuk mengerti dan menghayati, sehingga apa yang diajarkan oleh Kristus meresap dalam hati kita dan mengubah hidup kita. “Inilah Anak-Ku yang terkasih. Dengarkanlah Dia” (bdk. Matius 17:5).

      Salam kami,
      Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM

      Petunjuk Teknis Pendalaman Kitab Suci dalam BKSN

      1. Sebelum kegiatan dilaksanakan
        a. Kegiatan dilaksanakan dalam ibadat lingkungan selama bulan September 2026. Setiap pertemuan hendaknya mendalami satu
        subtema, sehingga perlu empat kali pertemuan. Perlu diinformasikan agar setiap umat membawa Kitab Suci dengan bahasa yang sama dengan bahan yang didalami.
        b. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemandu, lektor, dan pembawa lagu.
        - Pemandu: hendaknya mempelajari bahan panduan pendalaman ini dengan baik. Perhatikan setiap keterangan dalam buku panduan, pahami tujuan setiap kegiatan, dan ikuti setiap langkah yang disediakan. Pemandu wajib menyampaikan rangkuman yang telah disediakan dalam buku ini. Terbuka kemungkinan bagi pemandu untuk berkreasi, namun jangan sampai membuat tujuan tidak tercapai.
        - Pembaca (lektor): hendaknya telah membaca teks Kitab Suci yang akan dibacakan dalam pertemuan. Bacaan dibacakan dari Kitab Suci, bukan dari buku panduan ini.
        - Pembawa Nyanyian: hendaknya mempelajari dan menggunakan lagu yang sudah ditentukan dalam buku panduan. Petugas pembawa Nyanyian perlu memastikan bahwa Nyanyian bisa dinyanyikan oleh umat. Apabila sangat kesulitan, silakan dipilih Nyanyian yang sesuai dengan tema pendalaman.
      2. Sebelum kegiatan dimulai di lingkungan
        a. Pemandu memastikan Kitab Suci, salib dan lilin yang bernyala kiranya sudah ada sebelum lagu pembuka.
        b. Pemandu menjelaskan hal-hal yang perlu kepada umat.
        Penjelasan ini khususnya disampaikan pada saat pertemuan
        pertama. Hal-hal dimaksud adalah:
        - Pemandu atau petugas pembawa lagu hendaknya memastikan umat sudah memahami lagu.
        - Pemandu memberitahukan kutipan yang akan didalami dan meminta umat untuk membuka kutipan atau menandainya sehingga ketika pendalaman, umat bisa langsung mengikuti.
        c. Pemandu bertanya kepada umat, termasuk kepada tuan rumah, ujud doa lain selain ujud doa yang disediakan dalam buku panduan. Pemandu menentukan petugas yang akan membawakan ujud-ujud doa serta urutannya.
      3. Saat kegiatan berlangsung (khusus untuk pemandu)
        a. Saat pembacaan ulang kutipan. Pemandu jangan meniadakan bagian ini agar umat semakin terbiasa membuka dan membaca Kitab Suci.
        b. Saat pendalaman kutipan. Pemandu mengupayakan agar banyak umat terlibat aktif dengan meminta umat menjawab setiap pertanyaan.
        c. Saat Sharing. Diupayakan agar lebih banyak umat yang bersharing. Sharing terarah dengan pertanyaan panduan dan tidak bertele-tele. Bila tidak sesuai dengan pertanyaan, pemandu dapat mengarahkannya.
        d. Saat merencanakan aksi nyata. Tentukanlah aksi nyata yang bisa dilaksanakan oleh sebanyak mungkin umat di lingkungan.
        e. Perhatikan durasi pertemuan, yakni antara 60-90 menit. Pemandu mengatur waktu dengan baik sehingga kegiatan tidak terkesan asal terlaksana supaya cepat selesai, tetapi juga tidak bertele-tele.

      Selamat Ulang Tahun ke-56 Mgr Kornelius Sipayung OFMCap

      0

      Selamat Ulang Tahun yang ke-56, Yang Mulia Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap.

      Semoga Bapa Uskup semakin menembus selubung fenomena menuju hakikat yang tak terlihat dan bersentuhan dengan Sang Ipsum Esse.
      “Deus Meus et Omnia” semakin menggema.

      Pembentukan dan Pengangkatan Divisi Ongoing Formation Keuskupan Agung Medan (Divisi OGF KAM)

      0
      SURAT KEPUTUSAN USKUP KEUSKUPAN AGUNG MEDAN
      Nomor: 743/SK/KAM/D.OGF/VIII/2026

      Bertujuan untuk memastikan pelaksanaan secara terarah Program Ongoing Formation (OGF) bagi para imam di Keuskupan Agung Medan (KAM) sebagai sebuah program pembinaan praktis dan bertahap yang disesuaikan dengan pengalaman pelayanan imam di Keuskupan Agung Medan, perlu dibentuk dan diangkat divisi OGF KAM;

      DIVISI ONGOING FORMATION KEUSKUPAN AGUNG MEDAN untuk masa bakti 2026-2031
      dengan susunan sebagai berikut:

      Ketua : RP. Angelo P.K Purba OFMCap
      Sekretaris : RP. Joseph Lesta Pandia OFMConv
      Anggota :
      1) RP. Richard Sinaga OFMCap
      2) RD. Hamjani Simbolon
      3) RP. Kartolo Malau, O.Carm
      4) RD. Sesarius Petrus Mau

      Divisi OGF KAM bertugas:
      1. Melaksanakan dan mengoordinasikan program Ongoing Formation (OGF) sesuai dengan pedoman dan kurikulum OGF KAM;
      2. Menyelenggarakan pembinaan bagi para imam berdasarkan tahap usia tahbisan secara berkelanjutan;
      3. Memastikan program OGF tetap relevan dengan situasi pastoral serta selaras dengan arah dan visi pastoral Keuskupan Agung Medan;
      4. Memfasilitasi refleksi dan pengembangan para imam dalam dimensi manusiawi, rohani, intelektual, dan pastoral;
      5. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan OGF serta menyampaikan laporan dan rekomendasi kepada Uskup.
      Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, Divisi OGF KAM menjalankan fungsi:
      1. Koordinasi - mengoordinasikan seluruh kegiatan pembinaan OGF di tingkat keuskupan dan vikariat;
      2. Perencanaan - menyusun program pembinaan yang bertahap, terarah, dan kontekstual sesuai kebutuhan nyata pada setiap tahap pelayanan imam;
      3. Fasilitasi - memfasilitasi refleksi iman, pembaruan spiritualitas, ser-ta pengembangan kompetensi pastoral para imam;
      4. Kolaborasi - bekerja sama dengan berbagai komisi, lembaga pen-didikan, dan narasumber berkompeten dalam bidang teologi, pasto-ral, kepemimpinan, psikologi pastoral, serta bidang relevan lainnya;
      5. Evaluasi dan Pelaporan - melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan serta melaporkan hasil dan rekomendasi kepada Uskup.

      Dalam menjalankan tugasnya, Divisi OGF KAM dapat bekerja sama dengan berbagai komisi, lembaga pendidikan, maupun narasumber yang memiliki kompetensi dalam bidang teologi, pastoral, kepemimpinan, psikologi pastoral, serta bidang lain yang relevan.

      Pembinaan OGF berlaku bagi seluruh calon imam dan imam yang berkarya dalam Gereja partikular KAM, baik imam diosesan maupun imam religius yang melayani di wilayah keuskupan, dengan memperhatikan tahapan sebagai berikut:

      1. Pra-Diakon, Diakonat sampai 1 Tahun Tahbisan, serta imam non-native (imam yang masa formasinya di luar KAM atau baru bertugas di KAM);
      2. Usia tahbisan 2–5 tahun;
      3. Usia tahbisan 6–10 tahun;
      4. Usia tahbisan 11–20 tahun;
      5. Usia tahbisan 21 tahun ke atas (imam senior).

      Surat Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan pada 24 Agustus 2026 sampai dengan 23 Agustus 3031 dan/atau berlaku terus sampai ada keputusan lain dari Uskup Keuskupan Agung Medan yang dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan pastoral.

      Tim Kaderisasi Awam Keuskupan Agung Medan masa bakti 2026 – 2031

      0

      SURAT KEPUTUSAN USKUP KEUSKUPAN AGUNG MEDAN
      Nomor: 738/SK/KAM/KDA-KAM/VIII/2026

      Tim Kaderisasi Awam bertujuan untuk mempersiapkan kader-kader Katolik yang kelak berkarya di dalam dan di luar Gereja Katolik sesuai dengan harapan Gereja dan tuntutan zaman, perlu membentuk Tim untuk mempersiapkan dan mendampingi serta melakukan pembinaan terhadap orang-orang Katolik agar menjadi kader-kader yang unggul dan militan baik dalam Gereja, instansi Pemerintah maupun lembaga-lembaga lainnya.

      KetuaRD. Sesarius Petrus Mau
      Wakil Ketua IRP. Joseph Lesta S. Pandia OFMConv (Ketua Kerawam KAM)
      Wakil Ketua IIRP. Theodorus Goli Ruing OCD (Ketua Komkep KAM)
      SekretarisProf. Dr. Zakarias Situmorang
      Wakil SekretarisInter Of Fitelis Zalukhu, SH
      BendaharaSamuel Surbakti, SE., MM.
      Wakil BendaharaSr. M. Felicitas Karo-karo FSE
      Anggota1.Dr. Aloysius Dewanto Handoko, SH., MH
      2. Fr. Paskalis Wangga CMM (Komdik KAM)
      3. Sr. Gaudensia Haloho KSSY
      4. Argandhi Siloam Y. Manalu, SKM
      5. Juler Manalu, S.Pd (YPK Santo Yoseph)
      6. Ir. Martinus Tj, M.Psi
      7. Sr. Francis Dakhi SCMM
      8. Dr. Yakobus Ndona, SS., M.Hum
      Surat Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan pada 20 Agustus 2026 untuk masa bakti 5 (lima) tahun sampai dengan 19 Agustus 2031 dan/atau berlaku terus sampai ada keputusan lain dari Uskup Keuskupan Agung Medan yang dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan pastoral.

      Dirgahayu Republik Indonesia

      Bacaan I : Sir. 10:1-8
      Bacaan II :  1Ptr. 2:13-17
      Bacaan Injil : Mat. 22:15-21

      Merdeka untuk Mengasihi dan Melayani

      Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

      Hari ini kita datang ke altar dengan dua rasa syukur yang menyatu: syukur sebagai orang beriman dan syukur sebagai warga bangsa Indonesia. Kita mengenang kemerdekaan yang diperjuangkan dengan pengorbanan, darah, air mata, dan keberanian para pendahulu kita. Tetapi sesudah puluhan tahun merdeka, Sabda Tuhan mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: untuk apa kita merdeka? Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan adalah kesempatan dan tanggung jawab untuk membangun kehidupan yang semakin manusiawi, adil, bersaudara, dan bermartabat. Kemerdekaan adalah anugerah, tetapi sekaligus perutusan.

      Bacaan pertama dari Kitab Sirakh berbicara sangat jelas tentang tanggung jawab pemimpin. “Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban rakyat.” Sebaliknya, kekuasaan dapat menghancurkan sebuah bangsa ketika dikuasai kesombongan. Pesannya sangat aktual: bangsa tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mempunyai kekuasaan; bangsa membutuhkan pemimpin yang mempunyai kebijaksanaan dan hati nurani. Jabatan bukan kesempatan memperbesar diri, memperkaya diri, keluarga atau kelompok. Kekuasaan adalah amanah untuk melayani. Semakin tinggi seseorang diberi tanggung jawab, semakin besar pula kewajibannya untuk menjaga kehidupan orang kecil, memperjuangkan keadilan, dan memastikan bahwa kekayaan bangsa sungguh dipakai bagi kesejahteraan bersama.

      Dalam bacaan kedua, Santo Petrus mengatakan sesuatu yang sangat menarik: “Hiduplah sebagai orang merdeka, tetapi jangan menggunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan.” (1Ptr. 2:16). Inilah peringatan penting bagi kita. Merdeka tidak berarti boleh melakukan apa saja. Orang yang mengikuti semua keinginannya belum tentu merdeka. Seseorang dapat hidup di negara merdeka tetapi tetap diperbudak oleh uang, korupsi, kekuasaan, narkoba, kebencian, perjudian, keserakahan, hoaks, atau kepentingan kelompok. Kemerdekaan yang sejati adalah kemampuan memilih dan melakukan yang baik, yang benar, dan yang berguna bagi sesama. Karena itu bangsa yang sungguh merdeka bukan hanya bangsa yang mempunyai bendera dan pemerintahan sendiri, melainkan bangsa yang warganya semakin bebas dari ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, korupsi, kekerasan, dan segala bentuk perendahan martabat manusia.

      Kemudian dalam Injil, Yesus memberikan prinsip yang sangat terkenal: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat. 22:21). Yesus tidak mengajarkan kita untuk memisahkan iman dari kehidupan berbangsa. Sebaliknya, Ia menempatkan keduanya secara benar. Kita mempunyai tanggung jawab kepada negara, tetapi negara bukan Allah. Kekuasaan politik tidak boleh menjadi kekuasaan mutlak. Kepada negara kita memberikan tanggung jawab sebagai warga: menaati hukum yang adil, membayar kewajiban, menjaga ketertiban, bekerja bagi kesejahteraan bersama, dan mencintai tanah air. Tetapi hati nurani, martabat manusia, kebenaran, dan penyembahan kita yang tertinggi adalah milik Allah.

      Ada sesuatu yang lebih dalam lagi dalam jawaban Yesus. Uang dinar mempunyai gambar Kaisar, maka dikembalikan kepada Kaisar. Tetapi manusia mempunyai gambar siapa? Kitab Kejadian menjawab: manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Maka kalau uang bergambar Kaisar diberikan kepada Kaisar, manusia yang bergambar Allah harus dikembalikan kepada Allah. Artinya, tidak seorang pun boleh memperlakukan manusia hanya sebagai angka, alat politik, tenaga kerja, komoditas, atau objek untuk memperoleh keuntungan. Setiap manusia—kaya atau miskin, kuat atau lemah, apa pun suku, agama dan latar belakangnya—mempunyai martabat yang harus dihormati. Mencintai Indonesia berarti menjaga manusia Indonesia.

      Karena itu patriotisme Kristiani bukan sekadar mengibarkan Merah Putih, menyanyikan lagu kebangsaan, atau mengikuti upacara. Semua itu penting sebagai tanda cinta tanah air. Tetapi cinta tanah air harus menjadi cara hidup. Seorang guru mencintai Indonesia ketika mendidik dengan sungguh-sungguh. Petani mencintai Indonesia ketika mengolah tanah dengan tekun. Aparatur negara mencintai Indonesia ketika menolak korupsi. Pengusaha mencintai Indonesia ketika memperlakukan pekerjanya secara adil. Orang muda mencintai Indonesia ketika menggunakan kemampuan dan teknologi untuk membangun, bukan menyebarkan kebencian. Kita semua mencintai Indonesia ketika menjaga persaudaraan dan tidak membiarkan perbedaan suku, agama, budaya, maupun pilihan hidup menghancurkan persatuan kita. Indonesia tidak dibangun hanya di istana dan gedung pemerintahan; Indonesia dibangun setiap hari dari rumah, sekolah, tempat kerja, gereja, pasar, sawah, kantor, dan lingkungan kita.

      Sebagai orang Katolik, kita tidak boleh menjadi penonton dalam perjalanan bangsa. Iman justru mengutus kita masuk ke tengah masyarakat sebagai garam dan terang. Kita mencintai Gereja sekaligus mencintai Indonesia. Kita berdoa bagi bangsa, tetapi doa itu harus mempunyai tangan dan kaki: tangan yang bekerja jujur, kaki yang mendatangi mereka yang membutuhkan, suara yang berani mengatakan kebenaran, dan hati yang membangun persaudaraan. Ketika ada ketidakadilan, kita tidak boleh diam. Ketika lingkungan hidup dirusak, kita harus peduli. Ketika masyarakat terpecah karena kebencian, kita menjadi pembawa damai. Ketika orang miskin kehilangan suara, kita berdiri bersama mereka. Iman yang sungguh mencintai Allah harus menghasilkan warga negara yang semakin bertanggung jawab.

      Saudara-saudari, kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu kepada kita jangan hanya dirayakan; kemerdekaan harus dilanjutkan. Generasi dahulu berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan. Generasi kita mempunyai perjuangannya sendiri: membebaskan bangsa dari korupsi, kemiskinan, ketidakadilan, intoleransi, kerusakan lingkungan, kekerasan, kebohongan, dan keserakahan. Perjuangan belum selesai. Musuhnya mungkin berubah, tetapi panggilan untuk berkorban bagi kebaikan bersama tetap sama.

      Maka dalam Ekaristi ini marilah kita bersyukur kepada Allah atas Indonesia. Kita berdoa bagi para pemimpin bangsa agar memiliki kebijaksanaan dan hati yang melayani. Kita mengenang dengan syukur mereka yang telah berkorban bagi kemerdekaan. Dan terutama kita memohon agar Tuhan menjadikan kita sendiri bagian dari jawaban atas doa bagi bangsa ini. Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah diberikan Indonesia kepada saya?” Marilah bertanya, “Apa yang dapat saya berikan agar Indonesia semakin adil, damai, bersaudara, dan bermartabat?” Sebab kemerdekaan bukan hanya hak untuk menikmati negeri ini; kemerdekaan adalah tanggung jawab untuk ikut merawat dan membangunnya.

      Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga kita sungguh menjadi bangsa yang merdeka: merdeka untuk memilih kebenaran, merdeka untuk melakukan kebaikan, merdeka untuk membangun persaudaraan, dan merdeka untuk mengasihi serta melayani. Tuhan memberkati Indonesia. Amin.

      Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
      Uskup Keuskupan Agung Medan

      Ruhe in Frieden Sr Johanna Timmer OSCCap

      Keuskupan Agung Medan menyampaikan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Sr. Johanna Timmer, OSCCap, pada 12 Agustus 2026 dalam usia 96 tahun. Kepergian Suster Johanna meninggalkan duka bagi keluarga, komunitas para Suster Klaris Kapusines (OSCCap), serta Gereja yang telah menerima dan mengalami buah pengabdian hidupnya.

      Sr. Johanna Timmer merupakan seorang suster misionaris dari Biara Santa Klara Senden, Jerman, yang diutus ke Indonesia. Dengan hati yang terbuka dan semangat pelayanan, ia membawa kekayaan panggilan kontemplatif serta spiritualitas hidup doa ke tanah misi, khususnya ke Gunungsitoli, Kepulauan Nias, Sumatera Utara.

      Kehadiran Sr. Johanna dan para suster Klaris OSCCap di Gunungsitoli menjadi bagian penting dalam perjalanan berkembangnya kehidupan kontemplatif di wilayah Keuskupan Agung Medan. Melalui doa, keheningan, persaudaraan, dan kesetiaan dalam hidup bakti, para suster memberikan kesaksian bahwa karya misi Gereja tidak hanya diwujudkan melalui pelayanan aktif, tetapi juga melalui hidup yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah dalam doa dan kontemplasi.

      Perjalanan tersebut kemudian berkembang. Pada tahun 1991, para Suster Klaris anggota komunitas Gunungsitoli membuka cabang baru di Sikeben, Keuskupan Agung Medan. Kehadiran komunitas ini menjadi awal dari sebuah perjalanan rohani yang kelak memiliki tempat istimewa dalam kehidupan Gereja di Keuskupan Agung Medan.

      Tiga tahun kemudian, pada 1994, Tahta Suci merestui dan mengeluarkan Surat Deklarasi Kemandirian Biara Santa Klara Sikeben sebagai biara otonom. Peristiwa ini menjadi tonggak penting bagi perkembangan kehidupan kontemplatif para Suster Klaris Kapusines di Indonesia. Di balik perjalanan tersebut terdapat kesetiaan para suster yang dengan tekun menghidupi panggilan mereka dalam doa, keheningan, pengorbanan, dan persaudaraan.

      Dalam perjalanan panjangnya, Sr. Johanna Timmer, OSCCap, telah menjadi bagian dari sejarah dan pertumbuhan kehidupan kontemplatif di Gereja lokal. Kesaksiannya mengingatkan kita bahwa doa yang tersembunyi dalam keheningan pun merupakan pelayanan yang sangat berharga bagi Gereja dan dunia. Hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan dalam kesetiaan menjadi benih yang terus bertumbuh dan menghasilkan buah bagi banyak orang.

      Kini, setelah 96 tahun menjalani perjalanan hidup dan panggilan, Sr. Johanna Timmer telah menyelesaikan peziarahannya di dunia. Kita percaya bahwa Tuhan yang telah memanggil dan menuntunnya dalam perjalanan hidup bakti, kini menyambutnya dalam rumah-Nya yang kekal.

      Sabda Tuhan dalam Wahyu 14:13 menjadi sumber penghiburan bagi kita:

      “Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

      Keuskupan Agung Medan menyampaikan doa dan penghiburan kepada keluarga besar para Suster Klaris Kapusines (OSCCap), komunitas Biara Santa Klara Sikeben, para suster di Gunungsitoli, keluarga, sahabat, serta semua umat yang mengenal dan mengalami kesaksian hidup Sr. Johanna Timmer.

      Semoga teladan hidup, kesetiaan dalam panggilan, semangat misioner, serta kehidupan doa dan kontemplasi yang telah diwariskannya terus menjadi inspirasi bagi Gereja. Semoga pula Biara Santa Klara Sikeben senantiasa menjadi tempat di mana doa, keheningan, dan persembahan diri kepada Tuhan terus menjadi kekuatan bagi kehidupan dan perutusan Gereja.

      Selamat jalan, Sr. Johanna Timmer, OSCCap.
      Terima kasih atas kesetiaan dalam panggilan, atas doa dan pengabdian, serta atas bagian yang telah Suster berikan dalam perjalanan Gereja di Keuskupan Agung Medan.

      Kiranya Kristus, yang telah Suster cintai dan layani sepanjang hidup, menerima Suster dalam pelukan kasih-Nya dan menganugerahkan kehidupan kekal.

      Berikanlah istirahat kekal kepadanya, ya Tuhan, dan semoga terang abadi menyinarinya. Semoga ia beristirahat dalam damai. Amin.

      Selamat Jalan Sr Adelina Gultom SFD

      Uskup Keuskupan Agung Medan, bersama seluruh klerus, biarawan-biarawati, dan umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Medan, menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke Rumah Bapa:

      Sr. Adelina Gultom SFD

      Lahir: 06 Juni 1970
      Wafat: 12 Agustus 2026 (Dalam usia 56 Tahun)

      Kami mengenang pengabdian dan teladan iman Sr. Adelina yang luar biasa bagi Gereja. Kiranya Tuhan memberikan tempat yang terindah di surga baginya dan memberikan penghiburan serta kekuatan bagi keluarga dan komunitas religius yang ditinggalkan.

      Filipi 1:21“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

      Rest in Peace (R.I.P.)

      Duka sebelumnya Kongregasi Suster SFD Keuskupan Agung Medan:

      • Sr. Yohana Sinaga SFD (4 Ags 2026) 59 Tahun
      • Sr. Vinsensia Tarigan SFD (10 Jan 2025) 62 Tahun

      Tata Ibadat Hari Ekologis KAM 2026 Pekan Laudato Si (Dari Harapan Menuju Aksi Nyata)

      Unduh Tata Ibadat Pekan Laudato Si dan Hari Ekologis KAM (Minggu ke-3, ke-4 & 29 Agustus 2026) - Bahasa Indonesia
      Unduh Tata Ibadat Pekan Laudato Si dan Hari Ekologis KAM (Sekolah & Universitas)
      Unduh Tata Ibadat Pekan Laudato Si dan Hari Ekologis KAM (Bahasa Daerah)

      Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

      Selamat berjumpa dalam Perayaan Pekan Laudato Si’. Dalam terang ensiklik Laudato Si' dari Paus Fransiskus, kita dihimpun dalam satu panggilan yang mendesak dan profetis: mendengarkan jeritan bumi dan jeritan kaum miskin, serta mengubah harapan menjadi tindakan nyata. Inilah jalan iman yang harus kita tempuh sebagai murid-murid Kristus di tengah dunia yang terluka.

      Perjalanan rohani kita diawali dengan sikap dasar yang amat penting sesuai dengan semangat Sinode VII KAM yakni mendengarkan. Bumi sedang mengerang karena eksploitasi dan kerusakan; pada saat yang sama, kaum miskin menanggung beban paling berat dari krisis ekologis yang bukan mereka sebabkan. Seperti ditegaskan dalam Laudato Si’, krisis ekologis selalu berkaitan erat dengan krisis sosial. Tidak ada dua krisis yang terpisah, melainkan satu krisis kompleks yang menyentuh lingkungan dan kemanusiaan sekaligus. Karena itu, mendengarkan jeritan bumi berarti juga membuka hati terhadap penderitaan mereka yang kecil, lemah, dan tersingkir.

      Mendengarkan menuntut keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya. Ia menggerakkan hati nurani kita, mengguncang kenyamanan, dan mengajak kita keluar dari sikap acuh tak acuh. Kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap sesama dan terhadap ciptaan. Iman yang sejati selalu memiliki dimensi sosial dan ekologis. Disanalah kita hadir untuk meneguhkan dan mewartakan.

      Namun kita tidak berjalan dalam ketakutan atau keputusasaan. Kita berjalan dalam harapan yang berakar pada Allah Sang Pencipta yang tidak pernah meninggalkan karya tangan-Nya. Harapan Kristiani bukanlah optimisme kosong, melainkan keyakinan bahwa rahmat Allah bekerja melalui komitmen kecil namun setia dari umat-Nya. Setiap langkah pertobatan, setiap pilihan hidup yang lebih sederhana, setiap tindakan solidaritas adalah benih Kerajaan Allah. Karena itu, Pekan Laudato Si’ dan sekaligus sebagai peringatan akan St.Fransiskus dari Asisi ini mengajak kita melangkah lebih jauh: mengubah harapan menjadi tindakan nyata. Harapan tidak boleh berhenti pada doa dan refleksi. Ia harus menjelma dalam gaya hidup yang lebih bertanggung jawab, dalam keberpihakan kepada kaum miskin, dalam pengelolaan sumber daya yang bijaksana, dan dalam karya pastoral yang menyentuh kehidupan konkret umat. Pertobatan ekologis berarti perubahan hati yang tampak dalam perubahan tindakan.

      Dalam semangat berjalan bersama, kita dipanggil menjadi Gereja yang mendengarkan, berdialog, dan bertindak. Setiap komunitas Kristiani dipanggil menjadi tanda kasih Allah yang merawat, melindungi, dan memulihkan rumah bersama. Di sinilah kesaksian kita menjadi nyata: ketika iman melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan aksi.

      Semoga Roh Kudus membimbing kita dalam perjalanan ini: dari mendengarkan menuju bertindak, dari belas kasih menuju komitmen, dari harapan menuju aksi nyata.
      Kiranya Gereja sungguh menjadi penjaga setia rumah bersama dan pembawa harapan bagi bumi dan kaum miskin.

      Salam,
      RP.Stefanus Sitohang OFMCap
      Ketua Komisi PSE KAM