Rabu, Juni 3, 2026
Lainnya
    Beranda blog

    Kotbah Uskup – Hari Raya Tritunggal Mahakudus

    Hari Raya Tritunggal Mahakudus 31 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Keluaran 34:4b-6.8-9
    Bacaan II : 2 Korintus 13:11-13
    Bacaan Injil : Yohanes 3:16-18

    Allah adalah Kasih yang Hadir, Menyelamatkan, dan Mempersatukan

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
    Hari Raya Tritunggal Mahakudus sering kali dianggap sebagai salah satu misteri iman yang paling sulit dipahami. Bagaimana mungkin Allah satu tetapi tiga pribadi? Bagaimana mungkin Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah satu Allah? Sepanjang sejarah, para teolog telah berusaha menjelaskan misteri ini, tetapi pada akhirnya Tritunggal bukan pertama-tama sebuah rumus matematika yang harus dipecahkan, melainkan sebuah pengalaman iman yang harus dihayati. Hari ini Gereja tidak mengajak kita menghitung pribadi-pribadi Allah, melainkan mengenal siapa Allah yang menyatakan diri kepada manusia. Dan menariknya, ketiga bacaan hari ini memperlihatkan satu benang merah yang sangat jelas: Allah Tritunggal adalah Allah yang kasih-Nya selalu mengalir kepada manusia.

    Dalam bacaan pertama, Musa mengalami Allah bukan sebagai penguasa yang menakutkan, melainkan sebagai Allah yang penuh belas kasih. Ketika bangsa Israel baru saja jatuh ke dalam dosa penyembahan anak lembu emas, Musa naik kembali ke gunung Sinai. Di sana Tuhan memperkenalkan diri-Nya:
    “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia.” (Kel. 34:6)

    Inilah salah satu pernyataan terindah tentang Allah dalam seluruh Perjanjian Lama. Allah yang dikenal Musa bukan Allah yang mudah marah dan menghukum, melainkan Allah yang tetap setia bahkan ketika umat-Nya tidak setia. Allah yang pertama-tama bukan menunjukkan kekuasaan-Nya, tetapi menunjukkan belas kasih-Nya. Dengan kata lain, inti terdalam identitas Allah adalah kasih. Musa menemukan bahwa di balik hukum-hukum, perintah-perintah, dan kuasa ilahi, terdapat hati Allah yang penuh belas kasih terhadap manusia.

    Pemahaman ini semakin diperdalam oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Menjelang akhir suratnya kepada jemaat Korintus yang penuh konflik dan perpecahan, Paulus tidak menekankan aturan atau hukuman. Sebaliknya ia berkata:
    “Hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu.” (2Kor. 13:11)

    Perhatikan ungkapan Paulus: Allah sumber kasih dan damai sejahtera. Allah bukan hanya memiliki kasih; Allah adalah sumber kasih itu sendiri. Karena itu orang yang sungguh mengenal Allah harus menjadi pembawa kasih dan damai. Paulus mengajak umat Korintus untuk sehati sepikiran, hidup dalam persaudaraan, dan mengatasi perpecahan. Mengapa? Karena hidup dalam kasih dan damai merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menjadi anak-anak Allah. Tidak mungkin seseorang mengaku mengenal Allah Tritunggal tetapi hidup dalam kebencian, iri hati, permusuhan, atau perpecahan.

    Puncak pewahyuan tentang Allah itu kita temukan dalam Injil Yohanes hari ini. Barangkali inilah ayat yang paling terkenal dalam seluruh Kitab Suci:
    “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” (Yoh. 3:16)
    Di sini Yohanes membawa kita masuk ke dalam jantung misteri Tritunggal. Allah bukan sekadar mengasihi; Allah adalah kasih. Dan kasih sejati selalu memberi diri. Karena itu Bapa mengaruniakan Putra-Nya. Putra menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia. Roh Kudus dicurahkan agar manusia dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi itu. Seluruh karya keselamatan adalah gerakan kasih Allah yang terus mengalir keluar menuju manusia.

    Jika dalam Perjanjian Lama Musa mengenal Allah sebagai penyayang dan pengasih, maka dalam Yesus manusia melihat kasih itu dalam bentuk yang paling nyata. Dalam perkataan-Nya, dalam mukjizat-mukjizat-Nya, dalam pengampunan-Nya kepada orang berdosa, dalam perhatian-Nya kepada orang miskin dan tersingkir, hingga akhirnya dalam wafat-Nya di salib, Yesus memperlihatkan wajah Allah yang sesungguhnya: wajah kasih.

    Karena itu Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukan terutama perayaan tentang teori Allah, tetapi tentang kehidupan Allah sendiri.
    Allah yang kita imani bukan pribadi yang hidup sendirian dalam kesunyian ilahi. Allah adalah persekutuan kasih: Bapa mengasihi Putra, Putra mengasihi Bapa, dan kasih itu dipersatukan dalam Roh Kudus. Para Bapa Gereja sering menyebut Tritunggal sebagai communio amoris, persekutuan kasih. Maka ketika manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia pun dipanggil untuk hidup dalam relasi kasih, bukan dalam egoisme dan keterasingan. Itulah sebabnya dosa selalu memecah-belah, sedangkan kasih selalu mempersatukan.

    Pesan ini sangat relevan bagi dunia kita saat ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin terhubung oleh teknologi, tetapi sering kali semakin terpecah secara sosial. Banyak keluarga kehilangan komunikasi. Banyak komunitas terbelah oleh perbedaan politik, suku, agama, atau kepentingan ekonomi. Bahkan media sosial sering menjadi tempat pertengkaran dan saling menjatuhkan. Dunia mengalami krisis relasi karena kehilangan sumber kasih yang sejati. Hari Raya Tritunggal mengingatkan kita bahwa manusia hanya menemukan identitasnya ketika hidup dalam kasih. Kita tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita diciptakan untuk membangun persekutuan, saling menerima, saling mengampuni, dan saling menguatkan.

    Saudara-saudari terkasih,
    Jika Musa mengenal Allah sebagai penyayang dan pengasih, jika Paulus mengenal Allah sebagai sumber kasih dan damai sejahtera, dan jika Yohanes mewartakan Allah yang begitu mengasihi dunia hingga mengaruniakan Putra-Nya, maka pertanyaan bagi kita adalah: apakah wajah Allah itu tampak dalam hidup kita? Apakah keluarga kita menjadi tempat kasih bertumbuh? Apakah komunitas kita menjadi ruang damai sejahtera? Apakah Gereja kita menjadi cerminan persekutuan kasih Tritunggal? Sebab orang tidak dapat melihat Allah secara langsung, tetapi mereka dapat melihat pantulan kasih Allah dalam hidup umat-Nya.

    Maka pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, marilah kita memohon agar Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus membentuk hidup kita menurut citra-Nya sendiri. Semoga kita semakin menjadi pribadi yang penuh belas kasih seperti Bapa, semakin rela memberi diri seperti Putra, dan semakin menjadi pembawa damai serta pemersatu seperti Roh Kudus. Dengan demikian, melalui hidup kita, dunia dapat mengalami bahwa Allah yang kita imani sungguh adalah Allah yang hidup, Allah yang hadir, dan Allah yang adalah Kasih. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
    Uskup Keuskupan Agung Medan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


    Hari Minggu Pentakosta 24 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 2:1-11
    Bacaan II :  1Kor. 12:3b-7,12-13
    Bacaan Injil : Yoh. 20:19-23

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai dan sukacita Pentakosta memenuhi hati kita.

    Hari Raya Pentakosta adalah hari kelahiran Gereja. Tetapi Gereja lahir bukan pertama-tama dari organisasi, aturan, atau kekuatan manusia. Gereja lahir dari transformasi hati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Dalam Injil hari ini, para murid berada dalam keadaan takut, tertutup, kecewa, dan kehilangan arah. Mereka mengunci pintu karena takut kepada dunia di luar mereka. Mereka adalah komunitas yang terluka. Namun justru kepada murid-murid yang terluka itulah Yesus Kristus datang, berdiri di tengah mereka, dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.”

    Saudara-saudari terkasih,
    Sesudah itu Yesus melakukan sesuatu yang sangat mendalam: Ia menghembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” Yesus memberikan Roh yang hidup dalam diri-Nya sendiri: Roh cinta, Roh damai, Roh pengampunan, dan Roh keberanian. Inilah awal transformasi para murid. Mereka yang sebelumnya takut perlahan berubah menjadi berani. Mereka yang tertutup mulai terbuka. Mereka yang terluka mulai dipulihkan. Roh Kudus mengubah hati mereka dari dalam.

    Menarik bahwa sesudah kebangkitan-Nya, Yesus tidak menyembunyikan luka-luka salib-Nya. Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada para murid. Luka itu tetap ada, tetapi sudah dimuliakan. Luka itu tidak lagi menjadi sumber kebencian dan penderitaan, melainkan sumber kasih dan keselamatan. Dari luka-luka itu Yesus justru membawa damai dan pengampunan. Inilah karya Roh Kudus yang sangat indah: Roh Kudus tidak selalu langsung menghapus semua luka manusia, tetapi mentransformasikannya menjadi sumber belas kasih, kebijaksanaan, dan pengharapan.

    Saudara-saudari terkasih,
    Luka adalah bagian dari hidup manusia. Ada luka karena pengkhianatan, penolakan, kehilangan, kegagalan, penghinaan, dan pengalaman pahit lainnya. Luka yang tidak disentuh Roh Kudus dapat berubah menjadi kemarahan, dendam, dan kebencian. Banyak orang hidup dengan hati yang tertutup karena takut menghadapi luka hidupnya sendiri. Tetapi Roh Kudus memberi keberanian untuk membuka luka itu di hadapan Tuhan dan membiarkan Tuhan menyembuhkannya.

    Karena itu sesudah memberikan Roh Kudus, Yesus langsung berbicara tentang pengampunan: “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni.” Seolah Yesus mau mengatakan bahwa orang yang menerima Roh-Nya harus belajar memiliki hati seperti hati-Nya sendiri: hati yang mampu mengampuni. Pengampunan bukan sekadar kemampuan manusia, tetapi buah karya Roh Kudus. Roh Kudus melembutkan hati yang keras, menyembuhkan luka batin, dan memberi keberanian untuk berdamai.

    Saudara-saudari terkasih,
    Transformasi inilah yang kemudian tampak dalam bacaan pertama. Para rasul yang dahulu takut kini mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti diilhami Roh Kudus. “Bahasa lain” di sini bukan hanya bahasa asing, tetapi bahasa baru yang lahir dari Roh Allah. Mereka mulai berbicara dengan bahasa kasih, bahasa damai, bahasa pengharapan, dan bahasa yang membangun persekutuan. Mereka tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi menjadi saksi karya besar Allah bagi dunia.

    Inilah kelahiran Gereja. Gereja lahir ketika manusia yang terluka disentuh Roh Kudus dan diubah menjadi pembawa damai dan pengharapan. Gereja lahir ketika orang mulai mampu keluar dari ego, kebencian, dan ketakutannya untuk hidup dalam kasih Kristus. Karena itu inti Pentakosta bukan pertama-tama mukjizat bahasa, tetapi transformasi hati manusia.

    Dalam bacaan kedua, Santo Paulus Rasul berkata: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus.” Roh Kudus mengarahkan hati manusia kepada Kristus dan mempersatukan Gereja dalam berbagai karunia. Ada yang diberi kemampuan mengajar, melayani, menghibur, memimpin, merawat, dan meneguhkan. Semua karunia itu diberikan bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk membangun Tubuh Kristus dalam kasih dan persatuan.

    Saudara-saudari terkasih,
    Sepanjang sejarah, Roh Kudus terus menjaga Gereja. Gereja pernah mengalami penganiayaan, perpecahan, ajaran sesat, kelemahan manusia, dan berbagai krisis zaman. Tetapi Roh Kudus tidak meninggalkan Gereja. Roh Kudus membangkitkan para kudus, para martir, dan para pewarta Injil yang terus memperbarui Gereja. Tanpa Roh Kudus, Gereja hanyalah organisasi manusia yang rapuh. Tetapi bersama Roh Kudus, Gereja tetap hidup karena Roh Kudus adalah jiwa Gereja.

    Hari ini dunia menghadapi tantangan baru: budaya kebencian, polarisasi, media sosial yang penuh kemarahan, individualisme, dan hilangnya hati manusiawi. Banyak orang terhubung lewat teknologi, tetapi semakin jauh secara batin. Karena itu dunia membutuhkan manusia Pentakosta: manusia yang dipenuhi Roh Kudus dan mampu menghadirkan wajah Kristus.

    Paus Leo XIV mengingatkan agar kita menjaga suara dan wajah tetap manusiawi. Orang yang dipenuhi Roh Kudus tidak memakai kata-katanya untuk melukai, tetapi untuk menyembuhkan. Tidak memakai hidupnya untuk memperbesar ego, tetapi untuk menghadirkan kasih Kristus bagi sesama. Roh Kudus membuat manusia kembali sungguh manusiawi menurut hati Allah.

    Saudara-saudari terkasih,
    Hari ini Yesus juga berdiri di tengah hidup kita dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” Terimalah Roh yang mampu mentransformasikan hidupmu. Terimalah Roh yang menyembuhkan luka-lukamu. Terimalah Roh yang mengubah ketakutan menjadi keberanian, kebencian menjadi pengampunan, dan luka menjadi sumber kasih bagi sesama.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: semoga Roh Kudus memenuhi hati kita dan mentransformasikan hidup kita seperti para rasul dahulu, sehingga kita menjadi Gereja yang hidup, mengasihi, mempersatukan, dan membawa pengharapan bagi dunia.
    Sebab pada akhirnya,
    Pentakosta adalah kisah tentang manusia-manusia terluka yang disentuh Roh Kudus dan diubah menjadi Gereja yang hidup serta menjadi saksi kasih Kristus bagi dunia.
    Amin. Alleluia.

    Hari Minggu VII Paskah (Hari Komunikasi Sosial Sedunia) 17 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 1:12-14
    Bacaan II : 1Ptr. 4:13-16
    Bacaan Injil : Yoh. 17:1-11a.

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, 
    Hari ini Gereja universal merayakan Hari Komunikasi Sedunia. Menarik bahwa perayaan ini selalu ditempatkan dalam Minggu VII Paskah, sesudah Kenaikan Tuhan dan menjelang Pentakosta. Apa yang dilakukan para murid setelah Yesus naik ke surga? Dalam bacaan pertama kita mendengar bahwa setelah Yesus naik ke surga, para murid kembali ke Yerusalem dan “bertekun dengan sehati dalam doa.” Inilah gambaran pertama Gereja: Gereja yang membangun komunikasi dan persekutuan dengan Tuhan. Sebab komunikasi sejati pertama-tama bukan soal teknologi atau kata-kata, tetapi relasi dan komunio. Doa adalah komunikasi terdalam manusia dengan Allah. Dan ini jugalah kerinduan terdalam dari manusia: dimana manusia tinggal bersama-Nya, mendengarkan-Nya, dan membiarkan hati dipersatukan dengan hati-Nya.

    Mazmur hari ini mengungkapkan kerinduan itu dengan sangat indah: “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan: diam di rumah Tuhan seumur hidupku dan menyaksikan kemurahan Tuhan.” Orang yang sungguh tinggal dalam Tuhan akan memandang dunia dengan hati yang berbeda: lebih lembut, lebih penuh belas kasih, lebih mampu melihat sesama bukan sebagai ancaman tetapi sebagai saudara. Dan hati yang dipenuhi kasih Alkah inilah diekspresikan melalui wajah. Inilah jantung komunikasi Kristen: hati yang mengalami kasih Allah lalu menghadirkan kasih itu kepada sesama melalui wajah dan suara.

    Saudara-saudari terkasih, menjaga wajah dan suara manusiawi yang sesuai dengan kehendak Allah mengandung resiko yang berat. Bacaan kedua mengingatkan bahwa bagian yang diterima para murid sebagai pengikut Kristus bukan pertama-tama kenyamanan, tetapi juga penderitaan. Santo Petrus mengatakan bahwa murid Kristus mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Kesatuan dengan Kristus berarti ikut berjalan di jalan kasih, memperjuangan kebenaran, dgn pengorbanan, dan kesetiaan. Tetapi justru melalui jalan itulah manusia masuk ke dalam kebangkitan dan kemuliaan bersama Dia. Maka komunikasi Kristen bukan komunikasi yang mencari popularitas atau kemenangan diri, tetapi komunikasi yang rela membawa damai, walaupun kadang harus menanggung kesalahpahaman atau penolakan. Manusia tergoda untuk meminjam dan memakai wajah dan suara lain, karena berat memakai wajah dan suara asli yg jadi ekspresi dari hati.

    Dalam Injil hari ini, kita meligat kesetiaan memakai wajah dan suara asli, wajah dan suara yang dipenuhi kasih Allah. Ini nampak dalam wajah dan suara Yesus. Yesus berdoa kepada Bapa: “Permuliakanlah Anak-Mu supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” Dalam Injil Yohanes, “kemuliaan” bukan pertama-tama kejayaan duniawi, tetapi kasih Allah yang dinyatakan kepada manusia. Yesus mempermuliakan Bapa dengan menyampaikan Firman Bapa kepada dunia. Melalui Yesus, manusia melihat wajah dan mendengar suara Allah yang asli tidak rekayasa dan artifisial, yakni wajah yg penuh belas kasih. Di sinilah komunikasi mencapai puncaknya: Allah tidak hanya berbicara, tetapi memperlihatkan wajah-Nya sendiri kepada manusia melalui Yesus.

    Saudara-saudari terkasih, Pesan Pope Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sedunia tahun ini sangat sederhana tetapi mendalam: “Jagalah wajah dan suara kita tetap manusiawi.” Di tengah dunia digital dan kecerdasan buatan, Paus mengingatkan agar manusia jangan kehilangan wajah kasih, wajah empati, wajah kelembutan, dan wajah ketulusan. Jangan sampai media sosial membuat manusia memakai topeng: wajah manipulatif, wajah pencitraan, wajah amarah, wajah yang ingin menguasai dan menjatuhkan orang lain.

    Kita harus menjaga wajah kita. Wajah orang Kristen seharusnya memantulkan wajah Kristus sendiri: wajah yang berbelas kasih kepada yang terluka, wajah yang lembut kepada yang lemah, wajah yang tulus dan sederhana. Dunia digital hari ini penuh dengan wajah-wajah yang dibuat-buat dan direkayasa demi pujian, pengaruh, atau kekuasaan. Tetapi Injil memanggil kita untuk menghadirkan wajah yang jujur dan manusiawi. Sebab melalui wajah kita, orang lain seharusnya dapat merasakan kedamaian Tuhan.

    Kita juga harus menjaga suara kita. Suara seorang murid Kristus harus menjadi suara yang meneguhkan, menghibur, memberdayakan, dan memberkati. Bukan suara yang mengutuk, bukan suara yang melukai batin, bukan suara yang membingungkan dan memprovokasi. Betapa mudah hari ini orang menghina lewat komentar, menyebarkan kebencian, atau menyerang sesama dengan kata-kata kasar. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kata-kata sejati lahir dari hati yang tinggal dalam kasih Allah.

    Karena itu tantangan terbesar komunikasi zaman ini bukan kurangnya teknologi, tetapi hilangnya hati sebagai jantung persekutuan. Orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun kebenaran. Lebih mudah menyerang daripada memahami. Lebih mudah menghakimi daripada mendengarkan. Padahal komunikasi Kristen lahir dari hati yang bersatu dengan Allah Tritunggal: Allah yang saling mendengar, saling mengasihi, dan saling memberi diri.

    Saudara-saudari terkasih, Para murid sesudah Kenaikan Tuhan tidak langsung pergi berbicara ke mana-mana. Mereka terlebih dahulu bertekun dalam doa dan persekutuan. Mereka belajar tinggal dalam Tuhan sebelum diutus mewartakan Tuhan. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita: komunikasi yang benar lahir dari hati yang berdoa, hati yang mendengarkan, hati yang mengalami kasih Allah.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar di tengah dunia yang penuh kebisingan, pencitraan, dan suara artifisial, kita tetap menjadi pribadi yang memiliki hati. Hati yang mampu mendengarkan Tuhan. Hati yang mampu merasakan penderitaan sesama. Hati yang mampu berkata benar dengan kasih. Dan hati yang mampu membangun komunio, bukan perpecahan. Semoga wajah kita tetap manusiawi—wajah yang memancarkan kasih Tuhan. Dan semoga suara kita tetap manusiawi—suara yang membawa damai, harapan, dan penghiburan.

    Sebab pada akhirnya, komunikasi Kristen bukan pertama-tama soal kemampuan berbicara, tetapi kemampuan tinggal dalam kasih Allah dan menghadirkan kasih itu kepada dunia. Amin. Alleluia.

    Hari Minggu VI Paskah - 10 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 8:5-8,14-17
    Bacaan II : 1Ptr. 3:15-18
    Bacaan Injil : Yoh. 14:15-21

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan sesuatu yang sangat penting kepada para murid-Nya: “Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran.” Di tengah ketakutan dan ketidakpastian para murid, Yesus tidak meninggalkan mereka sendirian. Ia menjanjikan Roh Kebenaran yang akan tinggal bersama mereka dan menuntun mereka kepada hidup yang benar.

    Namun Yesus juga memberikan satu syarat yang sangat jelas: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Artinya, Roh Kebenaran tidak bekerja dalam hati yang tertutup terhadap kasih Allah. Murid yang mau dipimpin oleh Roh harus lebih dahulu hidup dalam kasih kepada Kristus dan membiarkan hidupnya dibentuk oleh perintah-perintah-Nya.

    Saudara-saudari terkasih, Apa itu Roh Kebenaran? Roh Kebenaran adalah Roh yang menuntun dan mengarahkan murid kepada kebenaran sejati. Tetapi Yesus sendiri sudah berkata sebelumnya: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Maka kebenaran dalam iman Kristen bukan pertama-tama konsep, bukan teori, bukan sekadar logika atau ide. Kebenaran adalah pribadi, yaitu Yesus Kristus sendiri.

    Yesus adalah pribadi yang menghadirkan Allah ke dunia. Dalam diri-Nya kita melihat Allah yang mengasihi, Allah yang mengampuni, Allah yang peduli kepada yang kecil dan terluka, Allah yang mencari yang hilang, Allah yang membawa damai, dan Allah yang membuka mata manusia akan kasih-Nya. Maka Roh Kebenaran tidak hanya membuat kita “tahu” tentang Allah, tetapi menuntun kita masuk dalam hidup Kristus sendiri.

    Saudara-saudari terkasih, Karena itu syarat untuk menerima Roh Kebenaran adalah mengasihi Yesus dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Mengapa? Karena hanya hati yang mengasihi yang mampu mengenali kebenaran itu. Orang yang hidup dalam kebencian, egoisme, dan penolakan terhadap kasih Allah akan sulit menerima terang Roh Kudus. Sebaliknya, orang yang belajar mengasihi, mengampuni, peduli, dan membawa damai sedang membuka dirinya terhadap karya Roh Kebenaran.

    Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam Gereja perdana. Ketika Injil diberitakan di Samaria, banyak orang mengalami sukacita besar. Mengapa? Karena Roh Allah menghadirkan kebenaran yang membebaskan dan memulihkan hidup manusia. Di mana Roh Kudus bekerja, di situ lahir damai, harapan, dan sukacita.

    Saudara-saudari terkasih, Hari ini kita hidup di tengah dunia yang memiliki banyak versi “kebenaran.” Orang mudah menentukan benar menurut dirinya sendiri. Tetapi Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kebenaran sejati bukanlah apa yang kita ciptakan sendiri, melainkan pribadi Kristus yang harus kita ikuti. Dan Roh Kudus terus menuntun Gereja untuk tetap tinggal dalam kebenaran itu.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar kita sungguh mengasihi Kristus, menuruti perintah-perintah-Nya, dan membuka hati terhadap Roh Kebenaran yang dijanjikan-Nya. Sebab pada akhirnya, kebenaran sejati bukan sekadar sesuatu yang diketahui, tetapi Pribadi yang diikuti, dicintai, dan dihidupi—yaitu Yesus Kristus sendiri. Amin. Alleluia.





    Kotbah Minggu V Paskah - 3 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 6:1-7
    Bacaan II :  1Ptr. 2:4-9
    Bacaan Injil : Yoh. 14:1-12

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.

    Manusia pada dasarnya adalah pencari kebenaran. Dalam Injil hari ini, kita mendengar dua suara yang sangat jujur dari para murid: Rasul Tomas berkata, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” dan Rasul Filipus berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami.” Dua pertanyaan ini adalah cermin hati kita semua: kita mencari arah hidup, kita merindukan kebenaran, kita ingin mengenal Allah.

    Sepanjang sejarah, banyak orang besar mengalami pencarian ini. Augustinus dari Hippo mengakui bahwa hatinya gelisah sebelum menemukan Tuhan. Ia mencari dalam berbagai hal, tetapi tetap kosong, sampai akhirnya ia menemukan Kristus—dan hidupnya berubah. Demikian juga Thomas Aquinas, yang dengan kecerdasannya mencari kebenaran, tetapi akhirnya menyadari bahwa kebenaran sejati bukan hanya dipahami, tetapi dialami dalam Allah. Keduanya menunjukkan satu hal: ketika seseorang menemukan kebenaran, hidupnya tidak bisa tetap sama.

    Saudara-saudari terkasih, Yesus menjawab kerinduan itu dengan sabda yang sangat tegas: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Ini adalah jawaban bagi setiap pencarian manusia. Di tengah dunia yang penuh pilihan dan kebingungan, Yesus menegaskan bahwa hanya dalam Dia kita menemukan arah, kebenaran, dan hidup yang tidak pernah berakhir. Ia bukan sekadar penunjuk jalan, tetapi jalan itu sendiri yang harus kita ikuti.

    Namun kita juga harus jujur melihat kenyataan. Zaman ini menawarkan banyak “jalan lain” yang sangat menggoda: jalan kesuksesan dan materi, jalan popularitas, jalan kenyamanan, bahkan jalan yang membiarkan kita menentukan kebenaran sendiri. Semua ini tampak menarik dan menjanjikan. Tetapi sering kali, setelah dijalani, jalan-jalan ini meninggalkan kehampaan—hidup terasa penuh di luar, tetapi kosong di dalam.

    Saudara-saudari terkasih, Di sinilah kita memahami sabda Yesus lebih dalam. Ia adalah jalan—yang mengajak kita mengikuti hidup-Nya: jalan kasih, pengorbanan, dan kesetiaan kepada kehendak Bapa. Ia adalah kebenaran—bukan sekadar ide, tetapi pribadi yang harus dihidupi. Ia adalah hidup—yang memberi makna terdalam dan kekal. Maka iman bukan hanya soal mencari kebenaran, tetapi membiarkan diri ditarik, diubah, dan dihidupi oleh kebenaran itu, yaitu Kristus.

    Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Gereja perdana memilih jalan yang benar, bukan yang mudah. Mereka menghadapi persoalan, tetapi menanganinya dengan kebijaksanaan dan iman. Karena itu Gereja bertumbuh dan memberi kesaksian yang hidup. Ini menjadi cermin bagi kita hari ini.

    Saudara-saudari terkasih, Hari ini kita diajak untuk bertanya: apakah kita sungguh mencari kebenaran? Dan jika kita telah menemukannya dalam Kristus, apakah kita membiarkan hidup kita diubah oleh-Nya? Ataukah kita tetap berjalan di jalan kita sendiri?

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar kita tidak hanya menjadi pencari kebenaran, tetapi menjadi orang yang ditemukan, diubah, dan dihidupi oleh kebenaran itu sendiri.

    Sebab pada akhirnya, hanya dalam Kristus kita menemukan arah, kebenaran, dan hidup yang tidak pernah berakhir—dan hanya dalam Dia hidup kita menjadi penuh dan bermakna. Amin. Alleluia.

     

    Tata Ibadat Lingkungan – Bulan Liturgi Nasional 2026

    Unduh Bahan Pertemuan 1-4 Ibadat Lingkungan Bulan Liturgi Nasional 2026 (Bahasa Indonesia dan Daerah)

    Pengantar

    Liturgi merupakan puncak dan sumber kehidupan iman Kristiani. Dalam setiap perayaan liturgi, terutama Ekaristi, Gereja menghadirkan karya keselamatan Allah yang terus hidup dan menyapa umat-Nya. Dalam Ekaristi, umat beriman, termasuk anak-anak, dipanggil untuk berpartisipasi secara aktif, sadar, dan penuh iman dalam perayaan misteri Kristus.

    Sebagai bagian dari upaya pembinaan liturgis yang berkelanjutan, Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (Komlit KWI) menetapkan bulan Mei sebagai Bulan Liturgi Nasional (BLN). Namun di Keuskupan Agung Medan (KAM), perayaan ini dijalankan secara kontekstual pada bulan Juni, menyesuaikan dengan dinamika pastoral setempat. Hal ini menjadi bentuk nyata dari semangat Gereja yang hidup dan hadir dalam keberagaman.

    Dalam rangka itu, Bulan Liturgi Nasional Tahun 2026 mengambil tema “Liturgi dan Anak-Anak”. Tema ini diperdalam dan dirumuskan secara lebih spesifik serta berkesinambungan dengan tema BLN 2025, yakni “Ekaristi dalam Ziarah Pengharapan”. Hal ini juga sejalan dengan hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 yang menekankan pentingnya formasi iman umat yang sinodal, kolaboratif, dan berkelanjutan. Tema ini akan di dalami dalam 4 sub tema, yakin:

    1. Orangtua sebagai Bejana Tanah Liat yang Membawa Harta Iman
    2. Menyemai Sabda di Hati Mungil.
    3. Memuji dan Memuliakan Tuhan dalam Ekaristi bersama dan dengan Anak-Anak.
    4. Menyusun Misa Anak-Anak.

    Bahan ini disarikan dari materi resmi Komlit KWI, dan disesuaikan dengan konteks pastoral Keuskupan Agung Medan. Harapannya, buku ini dapat menjadi sarana pembinaan dan pendalaman iman, khususnya bagi anak-anak, orangtua, dan para animator liturgi. Diharapkan bahan ini juga dapat dipakai dalam berbagai kesempatan bina iman, sehingga umat semakin dibantu untuk bertumbuh dalam partisipasi liturgis yang sadar, aktif, dan penuh penghayatan.

    Dengan demikian, melalui pendalaman ini, umat beriman diharapkan semakin menyadari bahwa dirinya dibentuk oleh liturgi, dan Ekaristi sungguh menjadi sumber pengharapan dalam perjalanan iman Gereja di tengah dunia. Semoga setiap perayaan Ekaristi menjadi perjumpaan yang hidup dengan Kristus, yang memperkuat, memperbarui, dan mengutus umat-Nya untuk menjadi saksi kasih Allah di tengah masyarakat.

    1. Petugas Ibadat

    1. Ibadat dapat dipandu oleh 2 orang petugas yang disebut pemandu 1 (P1) dan pemandu 2 (P2). Bila tidak memungkinkan 2 orang, pemandu dapat juga satu orang.
      • P1 bertugas untuk bagian pelaksanaan ibadat keseluruhan;
      • P2 bertugas untuk membacakan Sabda Allah (Injil) dan bagian Renungan/Pendalaman bahan.
    2. Petugas lain adalah pembawa ujud doa umat, kolektan, pemandu lagu, dan pengiring nyanyian.
    3. Para petugas, khususnya P1 dan P2, hendaknya menggunakan pakaian liturgis: alba dan kap/samir pemandu liturgi.

    2. Tempat dan Perlengkapan

    1. Tempat ibadat umumnya dilaksanakan di rumah umat tetapi boleh juga di tempat lain yang disepakati, misalnya di aula.
    2. Di tempat ibadat (di rumah umat) hendaknya disediakan satu meja kecil sebagai ”altar”. Di atasnya disediakan 2 lilin, salib menghadap umat, buku Alkitab, dan patung/arca Bunda Maria. Dekorasi bunga boleh juga disediakan di sekitar meja tersebut untuk menambah suasana ibadat.
    3. Pemandu ibadat (P1 dan P2) akan mengambil tempat duduk di samping kiri dan kanan meja tersebut.
    4. Posisi umat di tempat ibadat boleh duduk melingkar, tetapi boleh juga duduk berjejer, seturut situasi tempat.

    Demikian buku ibadat ini disampaikan kepada kita. Semoga kita semua semakin bergembira memuliakan Tuhan dalam ibadat khususnya dalam perayaan Ekaristi.

    Medan, 14 Mei 2026
    Komisi Liturgi KAM
    RP Christian Lumbangaol OFMCap

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Kuasi Paroki Teluk Pulai

    PelindungSanta Perawan Maria Bunda Hati Kudus
    Buku Paroki25 Mei 2026, yang sebelumnya bergabung dengan Paroki Santo Mikael, Tanjungbalai
    Meliputi wilayahSekitar Kabupaten Labuhan Batu dan Labuhanbatu Utara Provinsi Sumatera Utara
    AlamatDusun Pardomuan, Desa Teluk Pulai Dalam, Kecamatan Kualuh Leidong Maligas, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara
    HP / WA-
    Email-
    Jumlah Umat545 KK, 2.232 Jiwa (BIDUK Mei 2026)
    Jumlah Stasi15 (lima belas)

    Nama dan Pelindung Gereja Stasi

    1. St. Perawan Maria Bunda Hati Kudus, Teluk Pulai
    2. St. Petrus dan Paulus, Teluk Katung
    3. St. Benediktus Nursia, Tangkahan Mangga
    4. St. Yosef, Cinta Damai
    5. St. Thomas, Ulak Putar
    6. St. Theresia dari Avila, Tangkahan Mujari
    7. Keluarga Kudus, Tangkahan Horas
    8. St. Angelus, Sei Kubung
    9. St. Benediktus, Sei Keramat
    10. St. Gabriel, Tangkahan Berombang
    11. St. Rafael, Sei Rebut
    12. Kristus Raja, Tanjung Leidong
    13. St. Petrus, Simandulang
    14. St. Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Sei Dua
    15. St. Paulus, Pasar Barat

    Pastor yang Melayani

    CMF - Apolinarius Vinsensius Tarut
    RP. Apolinaris Vinsensius Tarut CMF
    Pastor Kuasi Paroki Santa Perawan Maria Bunda Hati Kudus, Teluk Pulai
    Logo KAM small compressed
    RP. Karolus Klaudius Guru CMF
    Vikaris Parokial Kuasi Paroki Santa Perawan Maria Bunda Hati Kudus, Teluk Pulai

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Surat Ensiklik Magnifica Humanitas

    Dari Bapa Suci Pope Leo XIV Tentang Menjaga Martabat Pribadi Manusia di Masa Kecerdasan Buatan

    Ensiklik Magnifica Humanitas dari Pope Leo XIV secara resmi ditandatangani pada 15 Mei 2026, dan dipublikasikan kepada umum pada 25 Mei 2026. Tanggal 15 Mei 2026 dipilih secara simbolis karena bertepatan dengan 135 tahun promulgasi ensiklik Pope Leo XIII, yaitu Rerum Novarum (15 Mei 1891), yang menjadi tonggak awal Ajaran Sosial Gereja modern. Jadi, dalam tradisi dokumen Gereja Tanggal resmi ensiklik adalah 15 Mei 2026 dan Tanggal tahun promulgasi  Vatikan adah 25 Mei 2026, terdiri atas 245 nomor.

    Surat ensiklik adalah surat edaran resmi yang dikeluarkan oleh Paus (Gereja Katolik Roma). Surat ini ditujukan kepada para uskup, imam, atau seluruh umat Katolik di dunia, dan terkadang untuk semua "orang yang berkehendak baik," untuk memberikan pengajaran, bimbingan, atau pandangan mengenai masalah iman, moral, dan isu sosial.

    I. Pengantar: Zaman Baru Umat Manusia

    Dalam ensiklik Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV melihat perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai salah satu titik balik terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Teknologi digital, algoritma, dan mesin pembelajar telah mengubah cara manusia bekerja, berpikir, berkomunikasi, bahkan memahami dirinya sendiri. Dunia memasuki suatu “zaman baru,” di mana kemampuan teknologi berkembang jauh melampaui apa yang pernah dibayangkan sebelumnya.

    Paus mengakui bahwa AI membawa manfaat besar bagi kehidupan manusia. Dalam bidang kesehatan, AI membantu diagnosis penyakit dan penelitian medis. Dalam pendidikan, teknologi membuka akses pengetahuan yang luas. Dalam ekonomi dan komunikasi, AI mempercepat pekerjaan dan mempertemukan manusia dari berbagai bangsa. Semua ini menunjukkan bahwa akal budi manusia adalah anugerah Allah yang dapat dipakai untuk membangun dunia yang lebih baik.

    Namun, Paus juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis berarti kemajuan moral. Dunia modern sering kali terpesona oleh efisiensi, kecepatan, dan kemampuan mesin, tetapi melupakan pertanyaan mendasar: Apakah manusia sungguh menjadi lebih manusiawi? Karena itu, Gereja merasa perlu memberikan terang moral dan spiritual agar perkembangan AI tetap menghormati martabat manusia.

    II. Martabat Manusia sebagai Dasar Utama

    Pusat ensiklik ini adalah keyakinan Kristiani bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei). Karena itu, setiap pribadi memiliki martabat yang tidak dapat diukur hanya dengan produktivitas, data, atau kemampuan intelektual.

    AI dapat memproses informasi dengan sangat cepat, tetapi tidak memiliki jiwa, hati nurani, kasih, ataupun kebebasan moral. Mesin dapat “meniru” bahasa manusia, tetapi tidak dapat sungguh mengasihi. Teknologi dapat membantu mengambil keputusan, tetapi tidak dapat menggantikan tanggung jawab etis manusia.

    Paus Leo XIV menegaskan bahwa manusia tidak boleh direduksi menjadi sekadar “data digital” atau objek algoritma. Bahaya terbesar zaman teknologi adalah ketika manusia mulai dinilai berdasarkan efisiensi ekonomi, statistik perilaku, atau kemampuan konsumsi. Dalam situasi seperti itu, pribadi manusia kehilangan kedalaman spiritual dan nilai sakralnya.

    Karena itu, Gereja mengingatkan bahwa manusia selalu lebih besar daripada teknologi; yakni hati nurani tidak dapat digantikan mesin; relasi kasih tidak dapat diprogram; dan kebebasan manusia tetap merupakan anugerah ilahi yang harus dihormati.

    III. Peluang Positif Kecerdasan Buatan

    Ensiklik ini tidak menolak teknologi. Sebaliknya, Paus mengajak Gereja dan dunia untuk melihat AI sebagai sarana yang dapat dipakai demi kesejahteraan bersama (bonum commune).

    AI dapat membantu pengembangan ilmu pengetahuan; pelayanan kesehatan; pendidikan bagi daerah miskin; perlindungan lingkungan hidup; pengurangan pekerjaan berat dan berbahaya; serta peningkatan solidaritas global.

    Paus mengapresiasi para ilmuwan, peneliti, dan pengembang teknologi yang bekerja demi kemajuan umat manusia. Gereja memandang penelitian ilmiah sebagai bagian dari panggilan manusia untuk ikut mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah.

    Namun, Paus mengingatkan bahwa teknologi harus selalu diarahkan pada pelayanan kepada manusia, terutama mereka yang miskin, lemah, sakit, dan tersingkir. Jika AI hanya memperkaya segelintir orang dan memperlebar ketimpangan sosial, maka teknologi kehilangan orientasi moralnya.

    IV. Bahaya dan Tantangan Moral

    Ensiklik Magnifica Humanitas juga memberi perhatian besar pada bahaya yang dapat muncul dari penggunaan AI tanpa etika.

    1. Manipulasi dan Penyalahgunaan Informasi

    AI dapat dipakai untuk menyebarkan kebohongan, propaganda, manipulasi politik, dan
    deepfake yang merusak kepercayaan publik. Dalam dunia digital, manusia dapat dengan mudah kehilangan kemampuan membedakan kebenaran dan kepalsuan.

    Paus menegaskan bahwa kebenaran tetap merupakan dasar kehidupan bersama. Teknologi
    yang memanipulasi kesadaran manusia bertentangan dengan martabat pribadi.

    2. Pengawasan dan Hilangnya Privasi

    Perkembangan AI memungkinkan pengumpulan data pribadi dalam skala besar. Jika tidak
    dikendalikan secara etis, manusia dapat hidup dalam budaya pengawasan yang menghilangkan kebebasan dan ruang batin pribadi.

    Gereja menekankan bahwa privasi bukan hanya masalah teknis, tetapi bagian dari
    penghormatan terhadap martabat manusia.

    3. Krisis Relasi Manusia

    Budaya digital dapat membuat manusia semakin terhubung secara virtual tetapi semakin
    kesepian secara nyata. Paus mengingatkan bahwa relasi sejati membutuhkan kehadiran personal, dialog, empati, dan kasih yang nyata.

    Teknologi tidak boleh menggantikan keluarga, persahabatan, komunitas, dan kehidupan
    rohani.

    4. Ketimpangan Sosial dan Ekonomi

    Otomatisasi dapat menyebabkan hilangnya banyak pekerjaan dan memperbesar jurang antara kaya dan miskin. Karena itu, negara dan masyarakat internasional harus memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak mengorbankan martabat pekerja.

    V. Pendidikan dan Formasi Moral

    Paus Leo XIV menekankan pentingnya pendidikan integral di era AI. Manusia modern tidak
    cukup hanya menguasai teknologi; mereka juga harus dibentuk dalam kebijaksanaan moral dan spiritual.

    Pendidikan Kristiani harus membantu generasi muda yakni menggunakan teknologi secara
    bijaksana; membangun kemampuan berpikir kritis; menghormati kebenaran; mengembangkan empati dan solidaritas; serta menjaga kehidupan doa dan keheningan batin.

    Paus mengingatkan bahwa dunia digital sering dipenuhi kebisingan informasi yang membuat manusia kehilangan kemampuan merenung. Karena itu, keheningan, doa, dan kontemplasi menjadi semakin penting agar manusia tidak kehilangan arah hidupnya.


    VI. Gereja dan Tanggung Jawab Bersama

    Ensiklik ini menyerukan dialog global antara Gereja, ilmuwan, pemerintah, dunia pendidikan, perusahaan teknologi, dan masyarakat sipil.

    AI tidak boleh hanya diatur oleh kepentingan ekonomi atau politik semata. Dunia
    membutuhkan prinsip-prinsip etis universal yang menjaga kehidupan manusia, perdamaian, dan keadilan sosial.

    Gereja dipanggil hadir bukan sebagai musuh kemajuan, tetapi sebagai suara moral yang
    mengingatkan bahwa teknologi harus melayani cinta kasih dan kesejahteraan bersama.

    VII. Harapan Kristiani di Tengah Revolusi Teknologi

    Pada bagian penutup, Paus Leo XIV menegaskan bahwa harapan terbesar manusia tidak
    terletak pada mesin, algoritma, ataupun kecerdasan buatan, melainkan pada Allah sendiri.

    Teknologi dapat membantu kehidupan manusia, tetapi tidak dapat menyelamatkan jiwa
    manusia. Hanya kasih Allah yang mampu memenuhi kerinduan terdalam manusia akan makna, kebenaran, dan kebahagiaan. Karena itu, Gereja mengajak seluruh umat beriman yakni menggunakan teknologi dengan bijaksana, menjaga martabat setiap pribadi, memperkuat solidaritas kemanusiaan, dan tetap menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan.

    Ensiklik Magnifica Humanitas menjadi seruan profetis agar dunia modern tidak kehilangan
    kemanusiaannya di tengah kemajuan teknologi yang sangat cepat.

    Kutipan Penutup

    “Kecerdasan buatan adalah buah kecerdasan manusia; tetapi martabat manusia berasal dari Allah. Karena itu, teknologi harus tetap berada dalam pelayanan kepada pribadi manusia dan tidak pernah menggantikan nilai sakral hidup manusia.” — Magnifica Humanitas

    “245. With the same faith as Mary, let us become “weavers of hope” in our world, sharing
    who we are and what we have, so that the presence of Jesus may grow among us and his
    Kingdom take shape. In the humble fidelity of daily life, even the era of AI can become a time in which the Holy Spirit brings about the civilization of love in our lives. Indeed, the Lord continues to make all things new and offers every era the possibility of becoming part of salvation history in the light of the Incarnation. I entrust our desire to the Mother of Christ, to the Woman of the Magnificat, that she may guide our steps through this time of change and preserve in each of us true faith in the Gospel, so that we may bear witness to the grandeur of humanity, in which God has made his dwelling.”

    Ringkasan (tidak resmi) SURAT ENSIKLIK MAGNIFICA HUMANITAS
    Jakarta, 25 Mei 2026
    Jacobus Tarigan, Pr

        Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Katolik St. Thomas 2026/2027

        “Omnibus Omnia”
        COMPETENCE, COMPASSION, AND CONSCIENCE

        INFORMASI PENDAFTARAN & BEASISWA

        PENDAFTARAN ONLINE

        pmb.ust.ac.id

        JENIS-JENIS BEASISWA:

        • Beasiswa KIP (Reguler, Aspirasi)
        • Beasiswa Afirmasi Papua
        • Beasiswa Keuskupan (PSE)

        FAKULTAS & PROGRAM STUDI

        PROGRAM SARJANA (S1) & PROFESI

        EKONOMI DAN BISNIS
        • MANAJEMEN
        • AKUNTANSI

        ILMU BUDAYA
        • SASTRA INGGRIS
        • PARIWISATA
        • PSIKOLOGI

        TEKNIK
        • TEKNIK SIPIL
        • ARSITEKTUR

        PERTANIAN
        • AGRIBISNIS
        • TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
        • AGROTEKNOLOGI

        HUKUM
        • ILMU HUKUM

        ILMU KOMPUTER
        • SISTEM INFORMASI
        • TEKNIK INFORMATIKA
        • SAINS DATA

        KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
        • PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
        • PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DAN SASTRA INDONESIA
        • PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
        • PENDIDIKAN MATEMATIKA
        • PENDIDIKAN PROFESI GURU

        FILSAFAT
        • ILMU FILSAFAT

        PROGRAM MAGISTER (S2)

        MAGISTER
        • MAGISTER MANAJEMEN
        • MAGISTER HUKUM
        • MAGISTER FILSAFAT

        HUBUNGI KAMI (WHATSAPP)

        0822-7777-8506 — ADMIN 1
        0822-7777-8504 — ADMIN 2
        0822-6617-6663 — ADMIN 3
        0822-6778-9300 — ADMIN 4

        ALAMAT KAMPUS

        KAMPUS I
        Gedung Unika Santo Thomas
        Jalan Setia Budi No. 479 F,
        Tj. Sari, Medan.

        KAMPUS II
        Gedung Catholic Center
        Jalan Mataram No. 21,
        Medan.

        Rekomendasi & Komitmen Temu Pastoral Uskup Agung Medan dengan Pimpinan Tarekat Hidup Bakti 2026

        CC - PPU PEMATANGSIANTAR, 19 - 22 JANUARI 2026

        Pengantar

        Temu Pastoral Uskup, Kuria, dan Pimpinan Tarekat Hidup Bakti Keuskupan Agung Medan (TEPAS) dilaksanakan pada 19–22 Januari 2026 di CC–PPU Pematangsiantar. Pertemuan ini dihadiri oleh Bapa Uskup, Kuria KAM, serta para pimpinan/perwakilan tarekat religius dan sekular yang berkarya di wilayah Keuskupan Agung Medan yang hadir 77 orang. Pertemuan dibuka oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap yang menegaskan bahwa Tarekat Hidup Bakti adalah bagian integral dari Gereja dan dipanggil untuk berjalan bersama dalam semangat sinodalitas, memperbarui relasi dengan Gereja lokal, serta menghidupi kembali karisma pendiri dalam pelayanan pastoral yang kolaboratif dan transformatif.

        TEPAS 2026 mengangkat tema: “Gereja KAM Berjalan Bersama dalam Iman dan Aksi, Berkomitmen pada Kaderisasi, Lingkungan Hidup, dan Martabat Manusia.” Melalui proses mendengarkan, meneguhkan, dan mewartakan, pertemuan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat kerja sama antara keuskupan dan tarekat hidup bakti, serta merumuskan rekomendasi dan komitmen pastoral bersama bagi pelayanan Gereja di KAM.

        Tujuan TEPAS

        1. Mengapresiasi kerja tarekat hidup bakti di tempat karya masing-masing, yang membantu Gereja lokal dengan karisma masing-masing,
        2. Memupuk semangat “berjalan bersama” dengan mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan sesuai visi dan misi keuskupan tanpa mengabaikan visi dan misi tarekat masing-masing
        3. Mengupayakan kerjasama lintas tarekat dalam karya pastoral parokial, pendidikan, kesehatan, asrama, dll
        4. Menerjemahkan rekomendasi atau anjuran pastoral KAM, KWI atau Gereja Universal, misalnya kaderisasi, lingkungan hidup, TPPO, pastoral kaum muda, penyalahgunaan narkoba dan sebagainya, dll. dan mengusulkan karya-karya pastoral tertentu ke KAM untuk dijadikan karya pastoral bersama.

        Topik-topik TEPAS 2026

        1. Merawat Ciptaan, Menghidupi Iman: Ephorus Dr. Viktor Tinambunan. Menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan bagian dari iman dan tanggung jawab bersama umat beriman dalam merawat ciptaan Tuhan.
        2. Tarekat Hidup Bakti dalam Gereja dan Identitasnya: Sr. Alfonsine, KSFL. Menjelaskan identitas dan peran tarekat hidup bakti sebagai bentuk panggilan khusus dalam Gereja yang hidup dari karisma pendiri dan pelayanan bagi umat.
        3. THB dalam Kesatuan dengan Gereja: RD Sampang Tumanggor. Menekankan pentingnya kesatuan dan kerja sama antara tarekat hidup bakti dengan Gereja lokal dalam menjalankan misi pastoral.
        4. Laporan dan Sharing Pertemuan SAGKI 2025: RD Joseph Gultom. Menyampaikan hasil dan refleksi dari Pertemuan SAGKI 2025 sebagai bahan inspirasi dan arah pastoral bagi Gereja di KAM.
        5. Sinode Diosesan VII KAM dan Fokus Pastoral KAM: RP Serafin, OSC. Memaparkan arah dan fokus pastoral Keuskupan Agung Medan berdasarkan hasil Sinode Diosesan VII.
        6. Gambaran Wajah Gereja KAM: RP Michael Manurung, OFMCap. Menggambarkan situasi, dinamika, dan tantangan kehidupan Gereja di wilayah Keuskupan Agung Medan saat ini.
        7. Laporan dan Sharing Kongres Misi Penang 2025: Sr. Caroline Naibaho, KYM Menyampaikan pengalaman dan refleksi dari Kongres Misi Penang sebagai inspirasi bagi semangat misioner Gereja.
        8. Gerakan Peduli Lingkungan: Learn, Connect & Action: RP Stephanus Sitohang, OFMCap. Mengajak Gereja untuk belajar, membangun jejaring, dan melakukan aksi nyata dalam gerakan kepedulian terhadap lingkungan.
        9. Perhatian dan Aksi KAM terkait Lingkungan Hidup: RP Hilarius Kemit, OFMCap. Menjelaskan berbagai inisiatif dan langkah konkret Keuskupan Agung Medan dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.
        10. Kaderisasi dalam Gereja KAM: Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Menekankan pentingnya kaderisasi untuk menyiapkan generasi penerus Gereja yang beriman, kompeten, dan siap melayani.
        11. Peran Media Sosial dalam Pewartaan Nilai-nilai Kristiani: RD Benno Ola. Menunjukkan bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan secara bijak sebagai sarana evangelisasi dan pewartaan iman.
        12. Pastoral Migran dan Perantau dalam Upaya Penanggulangan TPPO: RD Sesarius. Menyoroti pentingnya perhatian pastoral bagi para migran dan perantau serta upaya Gereja dalam mencegah perdagangan orang.
        13. Conventio Scripta: RP Joseph Lesta S. Pandia, OFMConv: Membahas pentingnya kesepakatan tertulis antara keuskupan dan tarekat dalam kerja sama karya pastoral.
        14. Perancangan Kurikulum Kursus Keagamaan THB Non-Imam KAM: RP Kartolo Malau,O.Carm. Menyampaikan poin-poin dan langkah-langkah penyusunan kurikulum pembinaan iman bagi anggota tarekat hidup bakti non-imam di wilayah KAM.
        15. Jaring Opini Kegiatan Pembinaan Formator THB dan UNIO di PPU: RD Irfantinus Tarigan. Menghimpun masukan dan refleksi terkait pembinaan para formator tarekat hidup bakti dan anggota UNIO di PPU.

        Rekomendasi dan Komitmen

        Berangkat dari topik yang dibicarakan dalam Temu Pastoral 2026 ini, yang merupakan buah refleksi, dialog, dan disermen bersama antara Keuskupan Agung Medan dan Tarekat Hidup Bakti yang berkarya di wilayah keuskupan. Dalam semangat sinodalitas, persekutuan, partisipasi, dan perutusan, serta merumuskan arah pastoral bersama demi menghadirkan Gereja yang semakin misioner, profetis, dan transformatif di tengah masyarakat. Maka beberapa komitmen dan rekomendasi sebagai berikut:

        1. Lingkungan Hidup (Tindakan Pasca Bencana dan Ekologi Praktis)

        • Realitas Pastoral Krisis ekologi merupakan tantangan serius bagi dunia dan wilayah pastoral KAM karena meningkatnya bencana banjir dan tanah longsor akhir-akhir ini. Bencana ini tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi oleh perilaku manusia karena pengelolaan sampah yang buruk, perusakan hutan, eksploitasi lahan, pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Maka dampaknya tidak hanya merusak secara fisik dan ekonomi, tetapi menimbulkan luka sosial, psikologis, dan spiritual yang membutuhkan pendampingan pastoral berkelanjutan. Dalam terang iman, Gereja memandang perawatan bumi sebagai tanggung jawab kepada Sang Pencipta dan bagi THB kepedulian ekologis ini menjadi wujud spiritualitas profetis yang berpihak pada kehidupan, kaum kecil, dan masa depan generasi mendatang.
        • Rekomendasi Pastoral Setiap tarekat atau kongregasi diharapkan terlibat aktif dalam tanggap darurat bencana alam secara terkoordinasi dengan Keuskupan melalui bantuan logistik, medis, dan kebutuhan dasar korban, sekaligus melakukan survey dan pendataan kebutuhan, khususnya terkait tempat tinggal (rumah) yang layak, serta menggalang dukungan (jejaring donator) untuk pembangunan rumah korban. Kerasulan pastoral THB dapat diwujudkan melalui program live-in, pelayanan kesehatan, dukungan psikososial dan bimbingan rohani. THB perlu meningkatkan kesiapsiagaan melalui pelatihan tanggap bencana dan penunjukan contact person. Mengembangkan advokasi ekologis, katekese lingkungan, dan jejaring kerjasama lintas kongregasi/ lembaga yang peduli pada kelestarian ciptaan.
        • Komitmen Bersama
          1. THB dan KAM berjalan bersama menanggapi krisis ekologis secara sinodal dan berkelanjutan, dengan menjadikan kepedulian terhadap lingkungan hidup sebagai bagian integral dari spiritualitas, formasi dan karya kerasulan.
          2. Komitmen ini diwujudkan melalui pembentukan Tim Koordinator Penanggulangan Pasca Bencana THB yang bergerak di bawah dan atas nama Keuskupan Agung Medan, melaksanakan tindakan belarasa melalui assessment kolaboratif dengan mencari, mengumpulkan, dan menguji data hingga tercapai kesepahaman mengenai motivasi dan tujuan bersama sebagai dasar aksi pastoral yang profetis.
          3. Tim ini merumuskan tugas dan tanggung jawab secara jelas, antara lain melalui edukasi preventif bagi masyarakat, dukungan pembangunan rumah bagi korban bencana, serta kaderisasi anak-anak korban bencana melalui pemberian beasiswa pendidikan dan pendampingan psikologis yang berkelanjutan.
          4. Penguatan gerakan ekologis Gereja, seperti pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pengolahan sampah berbasis komunitas, peningkatan keterlibatan dalam Komisi JPIC Keuskupan, penggalangan dana bersama, serta pengembangan edukasi lingkungan di paroki, sekolah, dan komunitas umat.

        2. Kaderisasi Awam (Membangun kader Katolik menjadi garam dan terang dunia)

        • Realitas Pastoral
          KAM menghadapi tantangan pastoral berupa masih terbatasnya kader awam Katolik yang siap terlibat secara aktif dan bertanggung jawab dalam bidang sosial, politik, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. Situasi ini antara karena sistem kaderisasi yang terarah, berjenjang, dan berkelanjutan belum maksimal, sehingga proses regenerasi pemimpin Katolik di berbagai bidang kehidupan belum berkembang secara optimal. Dalam terang iman, Gereja menegaskan kembali panggilan setiap umat beriman sebagaimana sabda Yesus, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia,” mengingatkan bahwa kaum awam dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat. Karena itu, sebagaimana ditegaskan dalam ajaran Sosial Gereja, kaum awam mengambil bagian dalam tugas penginjilan serta pembangunan masyarakat demi terwujudnya kebaikan bersama (bonum commune).
        • Rekomendasi Pastoral
          Memperkuat kaderisasi awam melalui program kaderisasi dan penguatan Sekretariat Komisi Kerawam Keuskupan dengan melibatkan Tarekat Hidup Bakti secara aktif serta mengembangkan database kader Katolik dari berbagai bidang pelayanan dan profesi. Proses kaderisasi dilaksanakan secara berkelanjutan melalui siklus 6P: profiling (identifikasi bibit kader), pembinaan (formasi rohani dan kepemimpinan), penguatan (dukungan pendidikan dan pelatihan), partisipasi aksi (keterlibatan sosial dan pastoral), pendampingan (mentoring berkelanjutan), dan regenerasi (kader menjadi pembina kader baru). Diselenggarakan pelatihan kader awam berjenjang bagi OMK, mahasiswa, profesional muda, dan tokoh masyarakat dengan modul yang mencakup spiritualitas awam, kepemimpinan transformatif, pendidikan politik Katolik, etika digital, dan advokasi kebaikan bersama, melalui kerjasama sinergis antara THB, paroki, sekolah Katolik, dan organisasi awam.
        • Komitmen Bersama
          1. THB dan KAM menjadi mitra aktif Tim Kaderisasi Awam KAM dalam mengembangkan sistem kaderisasi awam yang berkelanjutan dan terstruktur, guna membentuk kader Katolik yang mampu menjadi perpanjangan tangan misi Kristus di tengah dunia.
          2. Keterlibatan aktif dalam mengidentifikasi dan memperbarui database kader Katolik yang berasal dari sekolah-sekolah di bawah yayasan ordo atau kongregasi, yakni data profesi, alamat, kontak, serta proses kaderisasi meliputi identifikasi (testimoni), formasi, penguatan melalui dukungan dana, aksi pelayanan, pendampingan, dan regenerasi.
          3. Bersinergi dalam menyelenggarakan pembekalan dan pelatihan kader (diklat) agar para kader tetap memiliki semangat kekatolikan sebagai garam dan terang dunia, serta mampu berkontribusi bagi kebaikan bersama (bonum commune).
          4. Turut membina generasi muda Katolik agar menjadi pemimpin yang beriman dan berintegritas. Menyediakan sumber daya manusia, fasilitas, jejaring pendukung kaderisasi, mendampingi pertumbuhan rohani dan kepemimpinan kader.
          5. Mendorong keterlibatan awam dalam kehidupan sosial dan pelayanan Gereja, serta menghadirkan awam Katolik sebagai saksi iman yang membawa terang Injil bagi masyarakat.

        3. Pewarta Digital dan Media Sosial (THB sebagai pewarta injil di era digital)

        • Realitas Pastoral
          Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan membangun relasi, sekaligus membuka peluang besar bagi pewartaan Injil. Namun, dunia digital juga, menghadirkan risiko serius seperti disinformasi, penyalahgunaan media sosial, dan krisis etika digital semakin menantang komunitas religius yang belum sepenuhnya siap menghadapi dinamika budaya digital. Kurangnya pedoman penggunaan media digital menimbulkan kerentanan bagi individu maupun institusi Gereja. Dalam konteks ini, Gereja memandang dunia digital sebagai medan baru evangelisasi yang harus dihadiri dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab, di mana pewartaan digital dipanggil untuk membangun relasi otentik, menyebarkan kebenaran, dan menghadirkan kasih Kristus bagi masyarakat.
        • Rekomendasi Pastoral
          Memperkuat pewartaan digital dengan membentuk tim komunikasi digital di setiap THB, menjalin kolaborasi aktif dengan Komisi Komsos KAM, menyelenggarakan pelatihan etika digital dan penggunaan teknologi AI secara bijaksana, menyusun pedoman penggunaan media sosial bagi anggota THB, serta mengembangkan jaringan komunikasi digital antar tarekat untuk memperluas jangkauan evangelisasi dan membangun relasi yang edukatif dan inspiratif.
        • Komitmen Bersama
          1. THB dan KAM berkomitmen untuk menghadirkan pewartaan Injil yang kreatif, edukatif, dan bertanggung jawab di ruang digital, sambil menjaga etika dan integritas dalam penggunaan media sosial.
          2. Setiap tarekat membentuk dan memberdayakan tim media sosial yang kompeten, menyusun protokol penggunaan UU ITE, serta terhubung dengan Komsos KAM untuk memperlancar konten pewartaan iman.
          3. THB siap mendukung kegiatan digital Keuskupan, termasuk mengisi acara Opera Kobar KAM.
          4. Kolaborasi digital THB, paroki, dan Komsos KAM dikembangkan menjadikan ruang evangelisasi yang membangun harapan, sarana pelayanan dan menampilkan kesaksian THB yang autentik melalui budaya digital.

        4. Pastoral Migran dan Perantau

        • Realitas Pastoral
          Mobilitas manusia yang semakin tinggi menyebabkan peningkatan jumlah migran dan perantau, namun banyak dari mereka menghadapi risiko eksploitasi, perdagangan orang, dan pelanggaran martabat manusia. Korban perdagangan orang sering mengalami penderitaan fisik, psikologis, dan sosial yang mendalam, sementara kurangnya informasi dan perlindungan hukum membuat mereka semakin rentan terhadap penipuan dan eksploitasi. Dalam konteks pastoral, Gereja terpanggil untuk membela martabat manusia, melindungi yang lemah dan tertindas, serta menghadirkan belas kasih dan keadilan melalui pelayanan pastoral migran, sebagai wujud nyata misi Gereja dalam menegakkan martabat setiap orang.
        • Rekomendasi Pastoral
          Pengembangan katekese tentang migrasi aman dan bahaya perdagangan orang, pembentukan tim pastoral migran serta tim anti-TPPO di jaringan THB dan Keuskupan, serta penguatan Forum Pastoral Migran Perantau sebagai wadah koordinasi pelayanan. Penyediaan shelter yang aman bagi korban, pengembangan kerjasama dengan pemerintah, kepolisian, dan lembaga bantuan hukum, serta penggalangan dukungan dana dan jejaring solidaritas untuk pendampingan korban menjadi langkah strategis untuk melindungi martabat migran dan perantau.
        • Komitmen Bersama
          1. THB dan KAM berkomitmen untuk membela martabat manusia, khususnya para migran dan korban perdagangan orang, melalui pastoral migran yang profetis dan humanis.
          2. Komitmen ini diwujudkan dengan mengembangkan jaringan pastoral yang kuat dan responsif, menyediakan pendampingan pastoral, sosial, dan hukum bagi korban, serta memperkuat jejaring Gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam pencegahan TPPO.
          3. Mengedukasi umat tentang migrasi yang aman dan bermartabat, mengembangkan solidaritas Gereja bagi perantau dan keluarga mereka, serta menjadi suara profetis yang memperjuangkan keadilan bagi mereka yang tertindas.

        5. Menjadi Komunitas Yang Berjalan Bersama (Spiritualitas sinodalitas)

        • Realitas Pastoral Gereja dipanggil untuk hidup dalam semangat sinodalitas sebagai cara hidup bersama, yang menekankan persekutuan, partisipasi, dan misi bersama. Di tengah dunia modern yang terfragmentasi, Gereja diharapkan menghadirkan kesaksian persaudaraan, membangun budaya mendengar, meneguhkan dan mewartakan. Berdialog secara terbuka, melibatkan semua umat dalam kehidupan dan misi Gereja. Roh Kudus diyakini bekerja melalui dialog, disermen, dan kebersamaan, sehingga berjalan bersama menjadi panggilan mendasar Gereja di zaman ini.
        • Rekomendasi Pastoral THB di Keuskupan diharapkan berpartisipasi aktif dalam proses sinodal dengan mengembangkan budaya mendengarkan dan dialog dalam komunitas Gereja, mempromosikan nilai-nilai sinodal dalam pendidikan iman, pastoral, dan media sosial, serta menyediakan pelayanan konseling iman bagi umat. Berkolaborasi dengan para imam, religius, dan awam, mengembangkan forum dialog dan refleksi pastoral bersama untuk memperkuat semangat kebersamaan dan misi sinodal.
        • Komitmen Bersama
          1. Membangun Gereja yang hidup dalam semangat sinodalitas dengan meneguhkan budaya dialog, kebersamaan, dan kolaborasi dalam karya pastoral.
          2. Menjadi saksi persaudaraan sejati di tengah masyarakat, mendengarkan suara umat dengan hati terbuka, dan berjalan bersama sebagai umat Allah dalam perutusan, sehingga setiap langkah pastoral tercermin dari partisipasi aktif, kesatuan, dan pelayanan yang nyata.

        6. Wajah Baru THB KAM (Menuju kolaborasi sinodal)

        • Realitas Pastoral
          Integrasi karisma religius dalam pastoral Gereja lokal saat ini masih belum optimal dan sering berkembang secara pragmatis serta sporadis. Karya pastoral THB sering berjalan sendiri-sendiri dengan koordinasi yang terbatas, sehingga potensi kolaborasi belum tercapai sepenuhnya. Gereja mendorong model relasi yang sinodal dan kolaboratif, memanggil THB untuk mengaktualisasikan karisma mereka secara kontekstual dalam dinamika pastoral Gereja lokal. Kolaborasi sinodal menjadi strategi utama untuk memperkuat misi Gereja dan menghadirkan karya pastoral yang terpadu, efektif, dan berdampak nyata bagi umat serta masyarakat.
        • Rekomendasi Pastoral
          Mengintegrasikan karisma THB ke dalam arah pastoral Keuskupan Agung Medan, meningkatkan keterlibatan THB dalam Dewan Pastoral Paroki, dan mengembangkan karya pastoral kolaboratif lintas kongregasi. Menyelenggarakan forum dialog dan disermen pastoral antara THB dan Keuskupan, membangun program pastoral bersama di bidang pendidikan, sosial, dan evangelisasi, serta memperkuat koordinasi antara THB dan struktur pastoral Keuskupan agar kolaborasi berjalan efektif, terpadu, dan berdampak nyata bagi umat dan masyarakat.
        • Komitmen Bersama
          1. Menghidupi karisma religius dalam konteks pastoral Keuskupan, mengembangkan kolaborasi lintas tarekat dan lembaga Gereja. Terlibat aktif dalam perutusan Gereja lokal. 2. Semangat sinodal diwujudkan melalui Conventio Scripta, penyediaan tenaga pastoral yang dibutuhkan KAM,
          3. Membangun komunikasi efektif dengan THB, sehingga tercipta hubungan pastoral yang sinodal, komunikatif, dan kolaboratif.
          4. Mengembangkan semangat sinodal dalam kehidupan dan karya, menghindari sikap eksklusif, serta bersama-sama membentuk wajah Gereja lokal yang misioner, sinodal, dan profetis.

        Demikian rekomendasi dan komitmen ini dibuat agar mendapat perhatian kita dalam karya-karya pastoral di wilayah pastoral Keuskupan Agung Medan, demi kemuliaan Allah dan keselamatan umat manusia.

        CC-PPU Pematang Siantar, Panitia TEPAS KAM 2026

        Warta Kuria (Maret-April 2026)

        1. Berjalan Bersama Menjadi Garam dan Terang Dunia 27 Mar 2026

        Audiensi KSFL dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap pada 27 Maret 2026 menjadi momen syukur dan evaluasi atas hidup dan karya para suster KSFL di Indonesia. Bapa Uskup menegaskan pentingnya audiensi tahunan, buah doa yang nyata dalam hidup harian, serta pendalaman iman untuk meneguhkan pelayanan kongregasi.

        KSFL, dengan jumlah anggota 295 suster yang terlibat dalam karya pendidikan, kesehatan, pastoral, dan sosial, hadir di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua. Perayaan Yubileum 100 tahun KSFL melahirkan komitmen lima tahunan, yakni pendalaman hidup rohani, penguatan persaudaraan, rencana pemekaran regio, pembukaan formatio di Papua, revitalisasi karya sosial, penguatan JPIC dan media serta persiapan misi ke Timor Leste. Sepanjang tahun 2026 karya dan refleksi KSFL difokuskan pada tema: “Berjalan Bersama Menjadi Garam dan Terang Dunia seturut Kharisma dan Spiritualitas KSFL.

        Bapa Uskup meminta agar laporan yang disampaikan kongregasi dalam audiensi selama 1 jam 10 menit ini diisi dengan refleksi persaudaraan dan peristiwa penting dalam terang kehendak Allah. Komitmen KSFL di bidang ekologi, media, keluarga dan human trafficking diarahkan pada seruan Paus Fransiskus pada Tahun Hidup Bakti (2014) “awaken the world,” agar hidup bakti menjadi tanda profetis. Beliau juga menyampaikan kebutuhan tenaga KSFL untuk sekretariat, komisi keluarga, ahli hukum Gereja dan katekis, serta mengingatkan dukungan dana bagi dua seminaris dan masa berlaku Conventio Scripta sampai 2027.

        Uskup dan moderator mengapresiasi stabilitas dan semangat KSFL, khususnya di tempat miskin. Sr. Oktaviana, sambil mengucapkan terima kasih, menegaskan kembali komitmen mereka untuk menghidupi spiritualitas “membangunkan dunia”, bermedia sosial secara bijak, menata kunjungan keluarga, menindaklanjuti permintaan tenaga dan biaya seminaris, serta mendukung studi S3 Sr. Gerarda. Bapa Uskup memberikan berkat untuk meneguhkan hidup dan karya para suster KSFL.

        2. Menggali Warisan Leluhur, Menguatkan Persaudaraan bersama Parsadaan Purba Pakpak
        27 Mar 2026

        Panitia Harungguon Bolon, Patappei Sihilap, dan Marsombuh Sihol Parsadaan Purba Pakpak Boru Panagolan wilayah Kota Medan dan sekitarnya mengadakan audiensi kepada Uskup Agung Medan pada 27 Maret 2026. Dalam pertemuan ini, panitia menyerahkan proposal kegiatan sekaligus memohon arahan pastoral dan peneguhan atas rencana pelaksanaan Harungguon Bolon dan Patappei Sihilap. Audiensi ini menunjukkan kecintaan Gereja kepada budaya lokal sebagai wadah pewartaan iman.

        Harungguon Bolon merupakan musyawarah besar adat Simalungun untuk mengambil keputusan-keputusan penting, sedangkan Patappei Sihilap adalah upacara pengukuhan atau pelantikan pengurus adat. Kedua kegiatan ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan, melestarikan budaya serta meneguhkan kepemimpinan dalam komunitas Parsadaan Purba Pakpak Boru Panagolan, sehingga nilai-nilai adat dan iman berjalan seiring di tengah dinamika zaman.

        Dalam arahannya, Uskup Agung menekankan pentingnya menggali dan menghidupi kembali nilai-nilai luhur warisan leluhur, khususnya semangat Opung Parultop-ultop Purba Pakpak Panagolan. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi kekuatan untuk membangun persatuan, memupuk kebersamaan yang perlu diwariskan lintas generasi, bahkan dirumuskan secara konkret dalam anggaran dasar dan rumah tangga komunitas. Atas bimbingan dan sambutan hangat ini, panitia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih, sekaligus termotivasi untuk terus menghidupi semangat persaudaraan dan kearifan leluhur dalam kehidupan sehari-hari.

        3. Menata Arah Pelayanan dan Pemulihan Pascabencana 2026
        28 Mar 2026

        Yayasan Caritas PSE KAM menggelar Rapat Tri Organ pada 28 Maret 2026 untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja tahun 2025 sekaligus merumuskan arah pelayanan tahun 2026. Rapat yang mempertemukan Dewan Pembina, Dewan Pengawas dan Dewan Pengurus ini membahas berbagai program strategis yang tetap mengacu pada divisi-divisi pelayanan yang telah berjalan, dengan penekanan khusus pada upaya pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera Utara dan Aceh Tamiang.

        Fokus utama program tahun 2026 meliputi pemulihan ekonomi, pendidikan serta pembangunan hunian tetap dan rekonstruksi rumah bagi masyarakat terdampak banjir. Sebanyak 639 kepala keluarga (KK) rentan menjadi sasaran program pemulihan ekonomi, disertai perhatian khusus bagi 166 mahasiswa di wilayah terdampak. Selain itu, direncanakan pembangunan dan rekonstruksi sekitar 50 unit rumah di beberapa daerah, antara lain Pakkat, Dolok Sanggul, Tarutung, Pangkalan Brandan dan Aceh Tamiang. Duduk bersama ini juga menegaskan pentingnya advokasi di bidang lingkungan hidup dan ekologi, sejalan dengan semangat ensiklik Laudato Si’ serta penguatan upaya pencegahan tindak pidana perdagangan manusia.

        Masukan yang konstruktif dari Dewan Pembina dan Dewan Pengawas menjadi landasan penting bagi Dewan Pengurus dalam menyempurnakan program kerja dan penyusunan anggaran 2026. Setiap langkah pelayanan Caritas PSE KAM diharapkan semakin terarah, berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terdampak bencana sekaligus menjaga martabat dan keutuhan kehidupan bersama.

        4. Panggilan berjalan bersama untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan 30-31 Mar 2026

        Hari Pengudusan Imam Keuskupan Agung Medan tahun 2026 dirayakan di CC PPU Pematangsiantar, 30–31 Maret 2026. Sebanyak 203 imam dan para diakon hadir dalam persekutuan ini. Melalui tema Yubileum St. Fransiskus Assisi, Bapa Uskup Kornelius Sipayung, OFMCap menegaskan kembali bahwa imam bukan untuk dirinya sendiri, melainkan dipanggil untuk masuk ke dalam misi Yesus. Imam pertama-tama dipanggil untuk tinggal bersama Yesus dan mengalami keintiman dengan-Nya. Kedalaman relasi ini melahirkan kekuatan untuk bermisi dan mewartakan Kerajaan Allah.

        Rekoleksi pengudusan imam dibawakan oleh RP. Fictorium Natanael Ginting OFMConv, yang memperkenalkan kembali figur St. Fransiskus, sejarah pertobatannya dan makna Tahun Yubileum Fransiskan yang dipromulgasikan oleh Paus Leo XIV. Dalam semangat “Il Signore vi dia la pace” – “Tuhan memberi kalian damai” – para imam diajak menghidupi kembali spiritualitas Fransiskus, yakni damai, belarasa (misericordia), kesederhanaan dan kedekatan dengan Injil. Paus Fransiskus melalui ensiklik Fratelli Tutti, Christus Vivit dan Laudato Si’ menekankan kembali penghayatan semangat ini dan menuntun Gereja untuk keluar dari mentalitas institusionalisasi dan kembali kepada Injil sebagai Kabar Gembira dan persona Kristus sendiri. St. Fransiskus dihadirkan sebagai teladan yang “menghidupi Injil” lebih daripada sekadar mewartakannya. Tugas utama Gereja dan para imam, demikian ditekankan, adalah menghidupi Injil secara konkret di tengah dunia yang terluka, dalam pangkuan Gereja dan bersama umat.

        Puncak perayaan berlangsung pada 31 Maret 2026 pukul 17.00 dengan Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Krisma di Gereja Jl. Sibolga, Pematangsiantar, dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Sekitar 300-an imam ikut berkonselebrasi. Dalam homilinya, Bapa Uskup kembali menegaskan inti imamat sebagai pengabdian total kepada Allah melalui Ekaristi. Sumber dan puncak kehidupan Gereja ini menguduskan imam dan umat Allah. Oleh karena itu, imam dipanggil untuk terus memupuk keintiman dengan Kristus dalam doa dan meditasi. Perayaan Misa Krisma ini menampakkan kesatuan para imam dengan Uskup sebagai gembala utama keuskupan. Acara ditutup dengan ramah tamah dan santap bersama sebagai ungkapan syukur atas rahmat pelayanan imamat dan persaudaraan yang terus diperbarui dalam terang Injil dan spiritualitas St. Fransiskus.

        5. Menata Arah Pelayanan Pastoral: Wawan Hati Imam dengan Uskup Agung Medan 1 April 2026

        Suasana hangat dan penuh keterbukaan mewarnai Pertemuan Wawan Hati antara Uskup Agung Medan dan para imam moderator paroki serta ketua-ketua komisi pada 1 April 2026 di CC-PPU Pematangsiantar. Sebanyak 89 imam hadir menanggapi undangan yang sesungguhnya lahir dari “bawah”, yakni kerinduan para parokus untuk dapat berbicara dari hati ke hati dengan Bapa Uskup mengenai arah dan wajah pelayanan pastoral Keuskupan Agung Medan ke depan.

        Dalam hantarannya, Bapa Uskup mengekspresikan apresiasi atas dedikasi para imam dan karya beragam komisi di tengah umat. Ia menegaskan bahwa Gereja Keuskupan tengah memasuki fase penting penataan struktur dan tata kelola pastoral, yakni memperjelas peran Kuria, Dewan Presbiteral, Dewan Pastoral Keuskupan, komisi-komisi serta meneguhkan fungsi Dewan Keuangan Paroki yang hingga kini masih belum aktif di banyak paroki. Di saat yang sama, keuskupan terus bergerak memperluas jangkauan pelayanan melalui pendirian dan pemekaran kuasi paroki baru seperti Santo Bonaventura Saran Padang dan Santo Petrus dan Paulus Pangaribuan, pemetaan ulang wilayah stasi, penguatan bina iman anak dan remaja, sinergi dengan Bimas Katolik untuk pengadaan guru agama di sekolah negeri serta penerapan aplikasi BIDUK Sakramen dan SOP sekretariat paroki demi administrasi yang lebih tertib dan profesional.

        Sesi wawan hati menjadi ruang dialog yang hidup. Para imam mengangkat beragam realitas lapangan, antara lain, administrasi sakramen dan perbedaan data, status pegawai sekretariat, pembentukan dan SK dewan-dewan paroki, pemanfaatan dana APP untuk beasiswa, pemekaran dan pemindahan stasi, hingga usulan penataan ulang jadwal Hari Pengudusan Imam dan format Wawan Hati agar lebih bercorak sharing dan correctio fraterna. Uskup menyambut masukan tersebut sambil menegaskan pentingnya koordinasi pastoral tahunan setelah tersusunnya program keuskupan serta membuka kembali ruang wawan hati personal bagi para imam yang membutuhkan pendampingan langsung. Pertemuan ini menandai langkah konkret Gereja Keuskupan Agung Medan untuk terus bertumbuh sebagai Gereja yang sinodal: berjalan bersama untuk saling mendengarkan dan bersama-sama menata pelayanan yang bertanggung jawab dan semakin kontekstual.

        6. Kunjungan ke Taman Sains Herbal dan Hortikultura Humbang Hasundutan

        1 April 2026

        Keuskupan Agung Medan, diwakili oleh RD. Sabat Nababan, menyaksikan kunjungan kerja Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan Menteri Koordinator Bidang Pangan ke Taman Sains Herebal dan Hortikultura (TSTH 2) Desa Aek Nauli I Kecamatan Pollung pada 1 April 2026. Kawasan seluas sekitar 500 ha ini sedang dikembangkan menjadi pusat riset strategis.

        Dalam pemaparannya, Direktur Del dan Prof. Sri Fatmawati menjelaskan bahwa TSTH2 ditargetkan menjadi pusat riset herbal dan hortikultura bertaraf internasional yang mendukung kemandirian benih dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Langkah-langkah yang ditempuh ialah pengembangan benih unggul, teknologi pascapanen, produk fitofarmaka dan pupuk hayati, didukung oleh pembangunan gedung riset, smart greenhouse dan inkubator. Hasil riset diarahkan hingga tahap komersialisasi, antara lain kemenyan, kopi, empon-empon, bawang putih dan kentang berkolaborasi BRIN, perguruan tinggi, pemerintah dan mitra internasional.

        Pada kesempatan ini dipresentasikan juga aplikasi JUMA AI untuk membantu dinas pertanian se-Tapanuli Raya mengumpulkan data riil komoditas, mencegah over produksi serta mendeteksi hama dan penyakit. Kunjungan diakhiri dengan peninjauan smart greenhouse pembibitan dan koleksi tanaman herbal yang disiapkan untuk mendukung peningkatan kesehatan dan ekonomi masyarakat.

        7. Syukur Atas Imamat dan Anugerah Ekaristi: Jamuan Menyongsong Triduum Paska

        2 April 2026

        Pada 2 April 2026, Bapa Uskup dan para imam Kevikepan Medan berkumpul di gedung Catholic Center untuk merayakan pesta Imamat dan pendirian Ekaristi. Dalam suasana syukur dan persaudaraan, Gereja kembali mengenangkan anugerah agung yang diberikan Kristus kepada Gereja pada malam sebelum sengsara-Nya. Kegiatan ini merayakan dua pokok, yakni Ekaristi sebagai perjamuan keselamatan dan imamat sebagai pelayanan yang menjaga agar misteri keselamatan tetap hidup di tengah umat. Dimensi ini diperdalam dengan pengenangan akan jamuan Paskah Yahudi yang melatari Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid.

        Melalui ritus sederhana, diberkatilah anak domba, sayuran, roti tak beragi dan anggur sebagai simbol pembebasan Israel dari perbudakan Mesir dan tanda karya keselamatan Allah dalam sejarah. Umat diajak melihat tanda-tanda ini sebagai jalan untuk memahami Ekaristi sebagai penggenapan karya keselamatan dalam diri Kristus.

        Perjamuan bersama yang sebagai akhir dari perayaan ini dihayati sebagai wujud persaudaraan dan persiapan rohani menyongsong Tri Hari Paskah untuk memasuki misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan. Kegiatan ini mengingatkan kita bahwa Paskah bukan peristiwa masa lampau semata, melainkan misteri iman yang terus hidup dalam Gereja melalui Ekaristi dan pelayanan para imam.

        8. Gereja Bertumbuh, Umat Berjalan Bersama

        7 April 2026

        Pada 7 April 2026, pukul 20.00 WIB, senja yang beranjak malam menyelimuti Pastoran Paroki Santo Mikhael Pangururan. Dalam kehangatan yang bersahaja, Bapa Uskup Agung Medan hadir dan duduk satu meja bersama Pastor Paroki, Dewan Pastoral Paroki Harian (DPPH), Dewan Pastoral Stasi serta panitia pembangunan gereja. Tanpa seremoni berlebihan, pertemuan berlangsung dalam suasana dialog sederhana yang menyatukan hati dalam iman dan pelayanan.

        Dalam nuansa penuh syukur, panitia pembangunan Gereja Stasi Santo Paulus Saitnihuta memaparkan perkembangan pembangunan yang telah diupayakan dengan doa, kerja keras dan pengorbanan umat. Bata demi bata yang tersusun menjadi tanda kasih dan kepedulian banyak pihak, sekaligus mengungkapkan bahwa perjalanan ini belum selesai. Dukungan dana masih sangat dibutuhkan agar karya pembangunan dapat diteruskan hingga tahap penyelesaian, sebagai undangan bagi seluruh umat untuk terus berjalan bersama.

        Pertemuan ini menjadi ruang perjumpaan yang hening namun berdaya: gembala dan umat saling mendengarkan, berbagi harapan dan mencari jalan bersama demi terwujudnya rumah doa di tengah umat. Di balik rangka dan dinding gereja yang sedang dibangun, tumbuh pula persekutuan yang hidup dalam harapan, persaudaraan dan kesetiaan kepada Kristus. Di sanalah Gereja sejati bertumbuh, bukan hanya dalam megahnya bangunan, melainkan dalam hati umat yang saling meneguhkan dalam iman dan kasih. Mari berjalan bersama untuk saling mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan.

        9. Tata Kelola Dana Pensiun KWI: Tanggung Jawab Ekonomis dan Gerejani

        10 April 2026

        Pada 10 April 2026, pertemuan Mitra Pendiri Dana Pensiun KWI wilayah Keuskupan Agung Medan berlangsung di Gedung Catholic Center Medan dalam suasana penuh tanggung jawab dan semangat kebersamaan. Momen penting ini hendak menegaskan arah pengelolaan dana pensiun, khususnya dalam proses perubahan dari Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) menuju Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP).

        Suasana yang serius dan konstruktif mewarnai pemaparan mengenai dinamika perubahan tersebut serta berbagai konsekuensi yang perlu ditimbang secara matang. Pembahasan juga menyentuh aspek-aspek teknis yang krusial, seperti ketentuan perhitungan aktuaria dan opsi-opsi penyelesaian terkait piutang iuran tambahan. Semua ini menunjukkan perhatian Gereja terhadap fondasi yang kokoh, yakni pengelolaan yang transparan, akuntabel dan berorientasi pada keberlanjutan.

        Langkah-langkah administratif yang dirumuskan dalam pertemuan ini memperlihatkan dimensi ekonomis yang dijalankan dalam kerangka perwujudan nilai gerejani, yakni merawat kesejahteraan para pelayan Gereja kini dan kelak. Dalam semangat sinodalitas untuk mendengarkan, berdiskusi dan mengambil keputusan bersama Gereja berkomitmen menghadirkan tata kelola yang bijaksana, agar pengharapan tetap terjaga dan kebaikan bersama terus dirawat secara nyata.

        10. Pemberkatan Pastoran Paroki Simalingkar B - Gereja yang Hidup dan Melayani

        12 April 2026

        Pada 12 April 2026, Bapa Uskup Agung Medan memimpin pemberkatan Pastoran Paroki Santo Fransiskus Xaverius Simalingkar B. Kegiatan ini menandai selesainya pembangunan sekaligus menjadi tanda nyata kehadiran Gereja yang hidup dan melayani di tengah umat. Pada kesempatan tersebut, Bapa Uskup menerima dan meneguhkan laporan pertanggungjawaban panitia pembangunan sebagai wujud karya bersama yang lahir dari iman, pengorbanan dan semangat gotong royong. Penyerahan dokumen dan kunci kepada Pastor Paroki menjadi penanda dimulainya babak baru, yakni pastoran sebagai rumah pelayanan tempat gembala tinggal dan mendampingi umat. Perayaan ini menjadi saat sukacita karena Bapa Uskup secara resmi mempromulgasikan kenaikan status Kuasi Paroki menjadi Paroki Santo Fransiskus Xaverius Simalingkar B.

        Pembukaan pintu pastoran diharapkan menjadi awal harapan pelayanan yang semakin dekat, hangat dan penuh kasih; tempat doa, kekuatan rohani serta pelayanan yang tulus bagi umat Allah. Setelah doa sesudah komuni, perayaan dilanjutkan dengan perarakan menuju Taman Doa Maria Ratu. Dalam doa pemberkatan, Bapa Uskup memohon agar taman doa tersebut menjadi tempat umat dikuatkan dalam iman, diteguhkan dalam harapan dan dipenuhi kasih serta kerendahan hati.

        Melalui kehadiran Taman Doa Maria Ratu, umat diharapkan semakin mampu menghadapi suka dan duka serta dipanggil menjadi pembawa damai dan pelaku keadilan, sehingga perjalanan hidup berujung pada kepenuhan dalam Kerajaan Allah melalui pengantaraan Kristus, Tuhan kita.

        11. Tim Kolaboratif Kanselarius KAM: Langkah Baru Pelayanan Administrasi yang Sinodal

        14 April 2026

        Pada 14 April 2026, di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung CC Medan diselenggarakan Pertemuan Perdana Tim Kolaboratif Kanselarius Keuskupan Agung Medan. Pertemuan ini dipimpin oleh Kanselarius KAM, RP. Adrianus Sembiring, OFMCap, sebagai Ketua Tim. Tim ini beranggotakan para profesional dari beragam latar belakang, yakni Samuel Surbakti, Sr. Melania Siringoringo FSE, Dr. Aryanto Tinambunan, Dr. Relita Buaton, ST., M.Kom, Florensia Tobing, Evanson Sihotang, Prof. Dr. Kimberly Febrina Kodrat, M.S., M.Kes., MT dan Fictroy Modestus Rumahorbo, S.S.I. Komposisi lintas bidang tersebut mencerminkan semangat kolaborasi yang kuat untuk mendukung pelayanan keuskupan.

        Pembentukan Tim Kolaboratif Kanselarius KAM merupakan perwujudan konkret Gereja yang bersinodal: berjalan bersama untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan. Pertemuan perdana ini menjadi langkah awal membangun sinergi demi pelayanan sekretariat yang lebih tertata, efektif dan responsif terhadap perkembangan zaman. Pokok utama yang dibahas mencakup rencana pengembangan sistem e-office dan penataan arsip berbasis Dewey Decimal Classification (DDC). Keduanya menjadi bagian dari upaya transformasi pelayanan administrasi di lingkungan Keuskupan Agung Medan. Seluruh anggota tim menyatakan komitmen dan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Mereka siap berkontribusi sesuai dengan kompetensi masing-masing demi pelayanan Gereja yang semakin profesional untuk hadir sebagai garam dan terang dunia.

        12. Mengenang Jasa, Meneruskan Pengabdian: Ziarah ke Makam Pahlawan

        15 April 2026

        Pada 15 April 2026, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengadakan ziarah ke Makam Pahlawan di Jalan Sisingamangaraja, Medan dalam rangka memperingati HUT Provinsi Sumatera Utara yang ke-78. Seluruh unsur Pemerintah Provinsi Sumatera Utara baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif serta TNI–Polri dan berbagai lembaga lainnya berpartisipasi dalam ziarah ini. Keuskupan Agung Medan turut ambil bagian dalam perayaan ini melalui kehadiran RD Gundo Saragih, bersama wakil dari gereja-gereja Protestan yang tergabung dalam PGI Wilayah Medan. Kehadiran tokoh-tokoh Gereja di tengah acara resmi pemerintah ini menegaskan komitmen bersama untuk membangun Sumatera Utara dalam semangat persatuan dan kebersamaan lintas lembaga dan agama.

        Ziarah dipimpin oleh Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. Rangkaian acara meliputi penghormatan kepada para pahlawan, mengheningkan cipta, peletakan karangan bunga, doa serta penaburan bunga di beberapa makam pahlawan. Dalam suasana hening dan khidmat para peserta diajak merenungkan kembali nilai-nilai perjuangan, pengorbanan dan cinta tanah air yang telah diwariskan para pendahulu. Melalui ziarah ini diharapkan jasa dan pengabdian para pahlawan yang telah berkontribusi bagi Provinsi Sumatera Utara tidak hanya dikenang, tetapi juga diwujudkan kembali dalam karya nyata. Semoga semangat para pahlawan menginspirasi seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun Sumatera Utara yang lebih adil, sejahtera dan bermartabat.

        13. Standarisasi Tata Kelola Pelayanan: Pentingnya SOP Unit dan Komisi

        15 April 2026

        Pada 15 April 2026 unit dan Komisi-Komisi Keuskupan Agung Medan mengadakan rapat penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP). Rapat dipimpin oleh RP. Adrianus Sembiring OFMCap selaku Kanselarius KAM. Rapat menekankan bahwa SOP diperlukan agar cara kerja antar komisi dan unit menjadi lebih seragam, tertib dan jelas. SOP juga dipandang penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan, memudahkan koordinasi serta membuat setiap kegiatan memiliki catatan dan dasar kerja yang rapi. SOP adalah kebutuhan yang mendesak agar pelayanan berjalan lebih baik dan berkelanjutan.

        Rapat menyepakati bahwa penyusunan SOP akan mengacu pada peraturan yang berlaku, sekaligus menyesuaikan dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing unit dan komisi. Peserta juga membahas perlunya pengaturan mekanisme kerja antar komisi agar alur koordinasi tidak berjalan sendiri-sendiri. Selain isi SOP, rapat turut menentukan format dokumen dan bagian-bagian yang harus ada di setiap SOP, misalnya tujuan, ruang lingkup, pihak terkait, prosedur kerja, hingga ketentuan pengesahan. Sebagai contoh, dipaparkan praktik SOP pengelolaan surat masuk.

        Terkait pelaksanaan, rapat mengacu pada timeline penyusunan hingga finalisasi. Meski sempat ada usulan penyesuaian jadwal, timeline tetap dipertahankan untuk menjaga konsistensi. Jika ada kendala, unit/komisi diminta berkoordinasi dengan penanggung jawab SOP, Sr. Melania Siringoringo FSE.

        Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.

        RP. Adrianus Sembiring OFMCap
        Kanselarius Keuskupan Agung Medan

        Doa Rosario – Sinode Diosesan VII KAM

         

        HBD RD Benno Ola Tage – Ketua Komisi Komunikasi Sosial & Hubungan Antar-Agama dan Kepercayaan KAM

        0

        Selamat ulang tahun RD Benno Ola Tage.
        Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, sukacita, dan damai dalam setiap karya pelayanan pastor, terlebih dalam tugas di Komisi Komunikasi Sosial serta Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Medan.

        Kiranya Roh Kudus terus menuntun Pastor menjadi pewarta kasih Kristus, pembawa persaudaraan, dan jembatan dialog yang menghadirkan harapan serta persatuan bagi banyak orang.

        Ad multos annos dan Tuhan memberkati pelayanan Pastor selalu.

        Kuasi Paroki Juhar

        Pelindung Santo Paulus
        Buku Paroki 02 Mei 2026, yang sebelumnya bergabung dengan Paroki St Fransiskus Asisi, Tiga Binanga dan Paroki St Petrus dan Paulus, Kabanjahe
        Meliputi Wilayah Sekitar Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara
        Alamat Desa Juhar, Kec. Juhar, Kab. Karo, Provinsi Sumatera Utara
        HP / WA -
        Email -
        Jumlah Umat
        Jumlah Stasi 11 (sebelas)
        Administrator Kuasi Paroki RP. Alfred F. Karo-karo OFMCap 19 Januari 1987
        Gereja Stasi
        1) St. Paulus, Juhar 7) St. Hironimus, Pinem
        2) St. Clara, Juma Baru 8) St. Monika, Rambah Telko
        3) St. Lusia, Lau Lingga 9) St. Dionisius, Sugihen
        4) St. Hieronimus, Naga 10) St. Felix Kantalasia, Sigedang
        5) St. Ludovikus, Nageri 11) St. Yoseph, Suka Babo
        6) St. Yohanes Rasul, Pernantin