Jumat, April 19, 2024
More
    BerandaParokiParoki Namo Pecawir - Tuntungan

    Paroki Namo Pecawir – Tuntungan

    Pelindung
    :
    Santo Yohanes Paulus II
    Buku Paroki
    :
    Sejak 25 September 2014. Sebelumnya bergabung dengan Paroki St. Fransiskus Asisi Padang Bulan Medan.
    Alamat
    :
    Jl. Namo Pencawir, Desa Tuntungan II, Kec. Pancur Batu, Kab. Deli Serdang - 22114
    Telp.
    :
    0823-6062-1845
    Email
    :
    st.yohanespaulusii@gmail.com
    Jumlah Umat
    :
    1.534 KK / 5.399 jiwa 
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    15
    01. Barung Ketang
    04. Gunung Merlawan
    07. Namo Keling
    10. Pasar V
    13. Suka Dame
    02. Belimbingan
    05. Gunung Tinggi
    08. Namo Riam
    11. Pasar X
    14. Taburen
    03. Desa Hulu
    06. Kuta Tualah
    09. Pancur Batu
    12. Rumah Kinangkung
    15. Ujung Jawi
    RP. Simon Kemit OFMConv
    23.12.'71
    Parochus
    RP. David D. Barus OFMConv
    01.03.'77
    Vikaris Parokial
    RP. Rufinus Ero Jenska Peranginangin OFMConv
    03.10.'83
    Vikaris Parokial
     

    Sejarah Paroki St. Yohanes Paulus II - Namo Pecawir Tuntungan

    Sejarah Pendirian dan Perkembangan (klik untuk membaca)
    Paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir - Tuntungan merupakan pemekaran dari paroki St. Fransiskus Assisi, Padang Bulan – Medan. Sebelum menjadi paroki yang baru, di Namopecawir telah berdiri gereja stasi St. Antonius Padua pada tahun 1981. Wilayah yang sekarang menjadi reksa pastoral Paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir – Tuntungan dulunya adalah rayon 2 dan rayon 3 dari paroki St. Fransiskus Assisi, Padang Bulan – Medan. Paroki St. Fansiskus Asisi, Padang Bulan sendiri memiliki 3 rayon pada masa itu dengan data sebagai berikut:
    RAYON 1  
    - Stasi Pasar VI - Stasi Pasar Baru - Stasi Simpang Kuala - Stasi Perumnas Simalingkar - Stasi Simalingkar B - Stasi Simpang Selayang
    RAYON 2
    - Stasi Pancur Batu - Stasi Desa Hulu - Stasi Ujung Jawi - Stasi Keloni - Stasi Namoriam - Stasi Barung Ketang - Stasi Durin Pitu - Stasi Kuta Tualah - Stasi Suka Dame
    RAYON 3
    - Stasi Namo Keling - Stasi Namopecawir - Stasi Pasar V - Stasi Pasar X - Stasi Rumah Kinangkung - Stasi Gunung Merlawan - Stasi Taburen
    Ketiga rayon tersebut tersebar di Kotamadya Medan dan 2 kecamatan di wilayah kabupaten Deliserdang. Mengingat zona pelayanan yang demikian luas dan demi pelayanan yang lebih efektif maka sejak awal tahun 2014 telah muncul ide tentang pemekaran paroki. Sebagai data dasar maka jumlah umat di masing-masing rayon menjadi satu pertimbangan khusus. Stasi-stasi yang berada di rayon 1 memiliki jumlah umat sekitar 2000 KK sedangkan rayon 2 sejumlah 820 KK dan rayon 3 sejumlah 464 KK. Berdasar pada jumlah umat di masing-masing rayon tersebut maka kesepakatan awal yang didapat adalah pemekaran akan dilakukan dengan menggabung rayon 2 dan 3 menjadi satu calon paroki yang baru.
    Tindak lanjut dari ide pemekaran paroki tersebut adalah membuat rekomendasi kepada Bapa Uskup Keuskupan Agung Medan, MGR. Anicetus B Sinaga OFMCap terkait stasi mana di wilayah rayon 2 dan 3 yang akan menjadi pusat paroki. Setelah memberikan rekomendasi kepada bapa Uskup maka pada tanggal 12 Oktober 2014 bertepatan dengan perayaan ekaristi kenangan 25 tahun kunjungan Paus Yohanes paulus II ke Sumatera, Uskup Keuskupan Agung Medan Mgr. Anicetus B Sinaga OFMCap memutuskan berdirinya kuasi paroki yang baru di Keuskupan Agung Medan yakni kuasi paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan. Namopecawir sendiri merupakan tempat dimana Paus Yohanes Paulus II pernah merayakan perayaan ekaristi pada tanggal 13 Oktober 1989 ketika beliau mengunjungi Indonesia.
    Kuasi paroki St. Yohanes Paulus II Namopecawir-Tuntungan terdiri dari 16 stasi yang tersebar di 2 kecamatan yakni Kecamatan Pancur Batu dan Kecamatan Kutalimbaru. Di kuasi paroki yang baru berdiri tersebut sesuai dengan sejarahnya terdapat 2 rayon yakni rayon St. Bonaventura (dulu disebut rayon 2) dan Rayon St. Lukas (dulu disebut rayon 3) dengan data sebagai berikut:
    Rayon St. Bonaventura
    1. Stasi St. Petrus - Pancur Batu
    2. Stasi St. St. Monika – Ujung Jawi
    3. Stasi St. Stefanus - Keloni
    4. Stasi St. Maria ‘Mater Dei’ – Desa Hulu
    5. Stasi St. Christoforus – Namoriam
    6. Stasi St. Petrus – Barung Ketang
    7. Stasi St. Fransiskus Assisi – Durin Pitu
    8. Stasi St. Fransiskus Assisi – Kuta Tualah
    9. Stasi St. Felix – Suka Dame 10. Stasi St. Cosmas – Namo Keling
    Rayon St. Lukas
    1. Stasi St. Yohanes Paulus II – Namopecawir (Stasi Induk)
    2. Stasi Salib Suci – Pasar V
    3. Stasi St. Maria Diangkat ke Surga – Pasar X
    4. Stasi St. Agustinus – Rumah Kinangkung
    5. Stasi St. Fransiskus Fasani – Gunung Merlawan
    6. Stasi St. Yusuf - Taburen
    Sebagai peletak dasar maka Uskup Agung Medan mempercayakan kuasi paroki yang baru berdiri tersebut dalam kegembalaan Ordo Saudara Dina Konventual (OFMConv). RP. Maximilianus Sembiring OFMConv selaku kustos Provinsial OFMConv di Indonesia segera mengutus tiga orang Saudara Dina Konventual untuk memulai karya pelayanan di kuasi paroki yang baru berdiri tersebut. Ketiga saudara Dina Konventual tersebut terdiri dari 2 orang imam dan satu orang frater, yakni:
    1. RP. Mario Benedict L. Gaol OFMConv,
    2. RP. Andreas Budianto OFMConv dan
    3. Fr. Norbertus Nana Manek OFMConv.
    Dalam pelaksanaan reksa pastoral harian mereka dibantu oleh Dewan Pastoral Paroki Harian masa bakti 2014-2016 dengan struktur sebagai berikut:
    1. RP. Mario Benedict L. Gaol OFMConv (ketua DPPH)
    2. RP. Andreas Budianto OFMConv (wakil ketua DPPH)
    3. Drg. Nathanael Gersan MAP (pelaksana 1 DPPH)
    4. Drs. Alus Tarigan (Pelaksana 2 DPPH)
    5. Jamahi Saragih (Sekretaris 1 DPPH) 6. Parulian Surbakti (Sekretaris 2 DPPH)
    7. Manuarang Sianturi (Bendahara 1 DPPH)
    8. Sr. Maria Viany Tarigan, SFD (Bendahara 2 DPPH)
    9. Benres Tarigan (anggota)
    10. Riswan Depari (anggota)
    11. Sr. Imelda Tampubolon (anggota)
    12. Bernando Sembiring (anggota)
    13. Kabul Gultom (anggota)
    Inaugurasi menjadi kuasi paroki di wilayah Keuskupan Agung Medan menyisakan sejumlah “Pekerjaan Rumah” bagi para pelayan pastoral yang akan berkarya di kuasi paroki yang baru berdiri tersebut. Sejumlah “Pekerjaan Rumah” tersebut mulai dari tempat tinggal sementara yang belum ada dan pastoran yang harus segera dibangun. Terkait dengan pembangunan pastoran maka pada tanggal 8 Maret 2015 dilantiklah panitia pembangunan pastoran oleh RP. Harold Harianja, OFMCap selaku vikaris episkopal kevikepan St. Yohanes Rasul, Hayam Wuruk. Proses pelantikan panitia pembangunan pastoran tersebut digabung dengan peletakan batu pertama pastoran kuasi paroki St. Yohanes Paulus II.
    Menjadi peletak dasar dan memulai sesuatu yang baru bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan. Dikarenakan belum ditemukannya tempat tinggal sementara (rumah kontrakan) yang sesuai bagi ketiga Saudara Dina Konventual tersebut maka selama 8 bulan setelah inaugurasi kuasi paroki ketiga Saudara Dina Konventual tersebut masih tinggal di Paroki St. Fransiskus Assisi Padang Bulan. Seluruh karya pelayanan untuk umat kuasi paroki St. Yohanes Paulus II, Tuntungan masih dilakukan pergi-pulang dari Padang Bulan. Setelah mencari-cari rumah kontrakan yang sesuai akhirnya pada bulan Juni 2015 ditemukanlah tempat tinggal yang sesuai untuk dijadikan tempat tinggal sementara bagi ketiga Saudara Dina tersebut. Setelah dipugar dan direnovasi akhirnya pada tanggal 1 Juli 2015 tempat tinggal sementara tersebut pun diresmikan/diberkati dan tempat itulah yang menjadi pastoran sementara bagi para pelayan di kuasi paroki St. Yohanes Paulus II, Tuntungan.
    Sebulan berselang setelah tantangan mengenai tempat tinggal dapat dilalui, kuasi paroki St. Yohanes Paulus II, Tuntungan kembali dihadapkan pada tantangan lain, yakni terbakarnya kantor sekretariat kuasi paroki. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 11 Agustus 2015 kira-kira pukul 9 malam. Mendengar kabar tersebut pastor paroki langsung berlari menuju kantor sekretariat yang berada di kompleks gereja induk (sekitar 100 meter dari pastoran sementara) dan sempat mengamankan beberapan dokumen penting seperti Liber Baptizatorum, Liber Matrimonium dan Liber Infirmorum.
    Pada awal tahun 2016, Uskup Keuskupan Agung Medan memekarkan kembali paroki St. Fransiskus Assisi – Padang Bulan, Medan. Stasi Simalingkar B dipersiapkan menjadi calon paroki baru di wilayah Keuskupan Agung Medan. Pemekaran tersebut merubah peta wilayah pelayanan kuasi Paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan. Stasi St. Stefanus – Keloni dan stasi St. Fransiskus Assisi - Durin Pitu masuk ke dalam wilayah pelayanan kuasi paroki Simalingkar B dan sebagai gantinya terdapat 2 stasi baru yang masuk ke wilayah pelayanan kuasi paroki St.Yohanes Paulus II Namopecawir-Tuntungan yakni Stasi St. Agustinus – Gunung Tinggi dan Stasi St. Petrus – Belimbingan. Kedua stasi tersebut sebelumnya berada dalam reksa pastoral paroki St. Maria Ratu Rosari – Tanjung Selamat. Dengan perubahan tersebut maka reksa pastoral kuasi paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir – Tuntungan menjadi sebagai berikut:
    Rayon St. Bonaventura
    1. Stasi St. Petrus - Pancur Batu
    2. Stasi St. St. Monika – Ujung Jawi
    3. Stasi St. Maria ‘Mater Dei’ – Desa Hulu
    4. Stasi St. Christoforus – Namoriam
    5. Stasi St. Petrus – Barung Ketang
    6. Stasi St. Fransiskus Assisi – Kuta Tualah
    7. Stasi St. Felix – Suka Dame
    8. Stasi St. Cosmas – Namo Keling
    Rayon St. Lukas
    1. Stasi St. Yohanes Paulus II – Namopecawir (Stasi Induk)
    2. Stasi Salib Suci – Pasar V
    3. Stasi St. Maria Diangkat ke Surga – Pasar X
    4. Stasi St. Agustinus – Rumah Kinangkung
    5. Stasi St. Fransiskus Fasani – Gunung Merlawan
    6. Stasi St. Yusuf – Taburen
    7. Stasi St. Agustinus – Gunung Tinggi
    8. Stasi St. Petrus - Belimbingan
    Pada tanggal 29 Oktober 2016 menjadi nyatalah perkataan bahwa tiada yang mustahil bagi Allah! Pada tanggal tersebut diresmikanlah pastoran kuasi paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan oleh Mgr. Anicetus Sinaga, OFMCap. Sekitar 1500 umat berkumpul di halaman gedung pastoran kuasi paroki St. Yohanes Paulus II, Tuntungan untuk menyaksikan peresmian pastoran yang baru tersebut! Peresmian pastoran yang dilaksanakan sesudah homili tersebut disusul dengan pembacaan Surat Keputusan Uskup Agung Medan baik Surat Keputusan untuk Pastoran maupun Surat Keputusan untuk Peresmian Paroki. pada tanggal 29 Oktober 2016 inilah secara resmi paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan secara yuridis menjadi paroki ke-59 di wilayah yurisdiksi Keuskupan Agung Medan.
    Dalam kesempatan tersebut Bapa Uskup Agung Medan juga melantik pengurus inti Dewan Pastoral Paroki Harian (DPPH) St. Yohanes Paulus II, Tuntungan untuk periode 2016-2021 dengan susunan:
    Ketua : RP. Mario Benedict L. Gaol OFMConv (ex officio parochus)
    Wakil Ketua : RP. Andreas Budianto OFMConv (ex officio vikaris parokial)
    Pelaksana 1  : Drg. Nathanael Gersang, MAP
    Pelaksana 2 : Drs. Alus Tarigan
    Sekretaris 1 : Petrus Martua Sinaga
    Sekretaris 2 : Riswan Depari
    Bendahara 1 : Edna Br Ginting, M.Pd
    Bendahara 2 : Dhanu Boy Sembiring, ST
    Anggota 1 : Drs. Sofiyan Purba
    Anggota 2 : Serasi Surbakti
    Anggota 3 : Sr. Veneranda, SFD
    Anggota 4 : Rosida Br Surbakti
    Anggota 5 : Tumpak Arizona Sinaga
    Sebagai paroki yang baru maka kajian yang mendalam terkait sejumlah aspek masih harus dilaksanakan. Kebijakan-kebijakan pastoral masih perlu disesuaikan seturut medan pastoral dan cita rasa iman umat di wilayah paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan. Sejumlah kegiatan baik itu kegiatan sakramental maupun yang non-sakramental mulai berjalan walau dengan sistem yang terus menerus harus diperbaiki dan disempurnakan. Peristiwa pandemi Covid-19 membuat seluruh aspek yang telah coba dibangun harus terhenti.
    Pada tahun 2021 ketika pandemi covid-19 telah mulai menunjukkan tren menurun maka dilaksanakanlah sejumlah kegiatan yang sempat tertunda. Pada tanggal 30 Oktober 2021 dilaksanakanlah penerimaan Sakramen Krisma yang sempat tertunda karena Covid-19 dan keesokan harinya pada tanggal 31 Oktober 2021 dilaksanakanlah pelantikan pengurus gereja separoki mulai dari tingkat DPPH sampai ke tingkat lingkungan. Dalam perayaan tersebut juga dirayakan peringatan Hari Ulang Tahun berdirinya paroki yang ke-5 sekaligus penggalangan dana untuk pembangunan gereja pusat paroki. Adapun DPPH yang dilantik untuk masa bakti 2021-2026 adalah:
    Ketua : RP. Simon Kemit OFMConv
    Wakil Ketua : RP. David Barus OFMConv
    Pelaksana 1 : Petrus Martua Sinaga
    Pelaksana 2 : Drs. Emanuel Ginting
    Sekretaris 1 : Fernando Tarigan
    Sekretaris 2 : Riswan Depari
    Bendahara 1 : Drs. Darlan Tinambunan
    Bendahara 2 : Rosida Surbakti
    Koordinator Bidang
    Kerygma : Pemancar Ginting, OFS
    Diakonia : Patris Ginting
    Martyria : Darson Tarigan
    Koinonia : Kabul Gultom
    Liturgya : Sr. Veneranda Milala, SFD
    Ketua DPGP : Serasi Surbakti
    Wilayah Pelayanan
    Wilayah pelayanan (reksa pastoral) paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan tersebar di dua kecamatan yakni Kecamatan Pancur Batu dan kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang. Dalam fungsi koordinasi maka dibentuk satu kesatuan yang dikenal dengan istilah rayon. Secara statistik maka di paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan terdapat 2 rayon, 16 stasi dan 52 lingkungan dengan sejarah dan persebaran sebagai berikut:
    RAYON BONAVENTURA
    1. Stasi St. Petrus – Pancur Batu
    Stasi ini berdiri pada tahun 1954 dan merupakan stasi pertama di wilayah paroki Namopecawir-Tuntungan. Jumlah umat di stasi ini per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 341 KK yang tersebar di 12 lingkungan:
    - Lingkungan St. Anna (29 KK)
    - Lingkungan St. Elisabeth (22 KK)
    - Lingkungan St. Maria Ratu Damai (Marada) (25 KK)
    - Lingkungan St. Maria (34 KK)
    - Lingkungan St. Maria Immaculata (23 KK)
    - Lingkungan St. Teresia (33 KK)
    - Lingkungan St. Antonius (28 KK)
    - Lingkungan St. Fransiskus (29 KK)
    - Lingkungan St. Paulus (35 KK)
    - Lingkungan St. Petrus (30 KK)
    - Lingkungan St. Yoakim (20 KK)
    - Lingkungan St. Yosep (33 KK)
    2. Stasi St. Monika – Ujung Jawi
    Stasi ini berdiri pada 16 April 1989 dan merupakan pemekaran dari stasi St. Petrus – Pancur Batu. Berdasarkan data statistik jumlah umat di stasi ini berjumlah 75 KK yang tersebar di 3 lingkungan yakni:
    - Lingkungan St. Veronika (23 KK)
    - Lingkungan St. Bonaventura (26 KK)
    - Lingkungan St. Yosep (26 KK)
    3. Stasi St. Maria “Mater Dei” – Desa Hulu
    Stasi ini berdiri pada tahun 1994 dan merupakan pemekaran dari stasi St. Petrus – Pancur Batu dengan jumlah umat per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 74 KK yang tersebar di 2 lingkungan yakni:
    - Lingkungan St. Yohanes Rasul (34 KK)
    - Lingkungan St. Bernardus (40 KK)
    4. Stasi St. Petrus - Barung Ketang
    Stasi ini berdiri pada tahun 1972 dengan jumlah umat per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 60 KK yang tersebar di 2 lingkungan yakni:
    - Lingkungan St. Monika (30 KK)
    - Lingkungan St. Agustinus (30 KK)
    5. Stasi St. Christoforus – Namoriam
    Stasi ini berdiri pada 16 Oktober 1983 dengan jumlah umat per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 143 KK yang tersebar di 3 lingkungan yakni:
    - Lingkungan St. Maria (40 KK)
    - Lingkungan St. Petrus (46 KK)
    - Lingkungan St. Yosep (57 KK)
    6. Stasi St. Fransiskus Assisi – Kuta Tualah
    Stasi ini berdiri pada tahun 1992 dengan jumlah umat per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 19 KK.
    7. Stasi St. Felix – Suka Dame
    Stasi ini berdiri pada 1982 dengan jumlah umat per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 90 KK yang tersebar di 2 lingkungan yakni:
    - Lingkungan St. Maria (42 KK)
    - Lingkungan St. Theresia (48 KK)
    8. Stasi St. Cosmas – Namo Keling
    Stasi ini berdiri pada tahun 2002 dengan jumlah umat per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 25 KK.
    RAYON ST. LUKAS
    1. Stasi St. Yohanes Paulus II Namopecawir – Tuntungan (Stasi Induk)

    Stasi ini berdiri pada tahun 1981 dan merupakan pemekaran dari stasi St. Petrus – Pancur Batu. Jumlah umat di stasi ini per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 205 KK yang tersebar di 9 lingkungan:
    - Lingkungan St. Petrus (39 KK)
    - Lingkungan St. Paulus (15 KK)
    - Lingkungan St. Yosep (23 KK)
    - Lingkungan St. Elisabeth (32 KK)
    - Lingkungan St. Maria (30 KK)
    - Lingkungan St. Fransiskus (15 KK)
    - Lingkungan St. Regina (18 KK)
    - Lingkungan St. Antonius (11 KK)
    - Lingkungan St. Rosa (22 KK)
    2. Stasi Salib Suci – Pasar V
    Stasi ini berdiri pada tahun 1963 dengan jumlah umat per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 100 KK yang tersebar di 3 lingkungan yakni:
    - Lingkungan St. Maria Pertolongan Abadi (48 KK)
    - Lingkungan St. Fransiskus Assisi (19 KK)
    - Lingkungan St. Yosep (33 KK)
    3. Stasi St. Maria Diangkat ke Surga – Pasar X
    Stasi ini berdiri pada tahun 1971 dengan jumlah umat per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 115 KK yang tersebar di 3 lingkungan yakni:
    - Lingkungan St. Antonius Padua (55 KK)
    - Lingkungan St. Bonaventura (21 KK)
    - Lingkungan St. Fransiskus Assisi (39 KK)
    4. Stasi St. Agustinus – Rumah Kinangkung
    Stasi ini berdiri pada tahun 1994 dengan jumlah umat per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 55 KK yang tersebar di 2 lingkungan yakni:
    - Lingkungan St. Patrisius Aurelius (32 KK)
    - Lingkungan St. Monika (23 KK)
    5. Stasi St. Fransiskus Fasani – Gunung Merlawan
    Stasi ini berdiri pada tahun 1981 dengan jumlah umat berdasarkan data BIDUK paroki sebanyak 23 KK.
    6. Stasi St. Yosep – Taburen
    Stasi ini berdiri pada tahun 2002 dengan jumlah umat per tahun 2022 berdasarkan data BIDUK paroki berjumlah 27 KK.
    7. Stasi St. Agustinus – Gunung Tinggi
    Stasi ini baru bergabung ke dalam wilayah paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan di pertengahan tahun 2016. Stasi ini berdiri pada tahun 1983 dan berdasarkan data BIDUK paroki per tahun 2022 jumlah umat di stasi ini berjumlah 104 KK yang tersebar di 4 lingkungan:
    - Lingkungan St. Anna (38 KK)
    - Lingkungan St. Petrus (27 KK)
    - Lingkungan St. Yosep (23 KK)
    - Lingkungan St. Yoakhim (16 KK)
    8. Stasi St. Petrus – Belimbingan
    Stasi ini baru bergabung ke dalam wilayah paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan di pertengahan tahun 2016. Stasi ini berdiri pada 25 April 1978 dan berdasarkan data BIDUK paroki per tahun 2022 jumlah umat di stasi ini berjumlah 83 KK yang tersebar di 3 lingkungan:
    - Lingkungan St.Maria (35 KK)
    - Lingkungan St. Theresia (19 KK)
    - Lingkungan St. Yosef (29 KK)
    Lain - lain
    Pergantian Penggembalaan
    Penggembalaan Paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir – Tuntungan dipercayakan oleh Uskup Keuskupan Agung Medan kepada Ordo Saudara Dina Konventual (OFMConv). Mulai dari kuasi paroki tahun 2014 sampai tahun 2022 telah terjadi 3 kali formasi para pelayan reksa pastoral paroki, yakni:
    Tahun 2014 - 2017
    Parochus : RP. Mario B L.Gaol OFMConv
    Vikaris Parochial : RP. Andreas Budianto OFMConv
    Tahun 2017 - 2020
     Parochus : RP. Paskalis Surbakti OFMConv
    Vikaris Parochial : RP. Fransiskus Mardan Ginting OFMConv
    Ekonom : Fr. Hyasintus Zulsan E Simatupang OFMConv
    Tahun 2020 – Sekarang
    Parochus : RP. Simon Kemit OFMConv
    Vikaris Parochial : RP. David Barus OFMConv
    Ekonom : Fr. Hyasintus Zulsan E Simatupang OFMConv
    Perkembangan Jumlah Umat
    Berdasarkan data statistik paroki maka perkembangan jumlah umat di wilayah paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan sejak menjadi kuasi paroki masih merupakan data mentah karena belum ada pendataan yang valid. Sejak tahun 2016 Keuskupan Agung Medan telah memulai pendataan umat katolik dengan berbasis pada teknologi/aplikasi. Aplikasi yang digunakan pada masa itu dikenal dengan istilah DUK-KAM (Database Umat Katolik - Keuskupan Agung Medan). Setelah melalui sejumlah pengembanan pada aplikasi maka pada tahun 2018 Keuskupan Agung Medan mulai melaksanakan pendataan ulang terhadap seluruh umat katolik di Keuskupan Agung Medan. Program pendataan ini berbasis pada teknologi dan dapat diakses secara online dan dikenal dengan istilah BIDUK (Basis Integral Data Umat Katolik). Berdasarkan data BIDUK maka jumlah umat di Paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir – Tuntungan pada tahun 2021 berjumlah 1539 KK (5587 orang) mengalami peningkatan rata-rata 50-70 KK (100-200 orang) per tahun.
    Model Kerasulan
    Kerasulan di wilayah paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir – Tuntungan berdasar pada prinsip keseperahuan. Paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir – Tuntungan ibarat satu perahu dengan mengarah pada satu tujuan keselamatan. Dalam upaya menuju tujuan tersebut maka sangat dibutuhkan partisipasi dan semangat gotong royong dari seluruh sendi gereja. Setiap orang diajak unjuk ikut ambil bagian dalam upaya mengembangkan dan memajukan paroki seturut fungsinya masing-masing mulai dari tingkat lingkungan sampai ke tingkat DPPH. Dengan model kerasulan yang partisipatif/gotong royong tersebut maka wajah gereja yang coba ditampilkan adalah gereja yang menjemaat dan rumah bagi seluruh umat.
    Kekhasan Paroki
    Kekhasan paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan tidak terlepas dari spiritualitas ordo saudara dina konventual. Semangat persaudaraan dan kesederahanaan yang ditampilkan para gembala yang melayani di wilayah paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan juga memberi warna yang khas untuk paroki ini. Melalui semangat persaudaraan dan kesederhanaa tersebut nilai-nilai utama paroki coba ditampilkan yakni:
    1. Menjemaat yang berarti bahwa hidup menggereja yang ada di wilayah paroki St. Yohanes Paulus II, Namopecawir-Tuntungan harus menekankan persekutuan, solidaritas dan peran awam dalam pelayanan pastoral.
    2. Mandiri yang berarti sanggup memenuhi kebutuhannya, mengembangkan dirinya dan menyumbangkan sumber dayanya di bidang perayaan iman, personalia dan keuangannya.
    3. Solider dan bersaudara berarti memiliki rasa empati, simpati, setia kawan dan senasib dalam suka duka yang dialami sesama.
    4. Misioner yang berarti siap sedia untuk hadir dan diutus untuk mewartakan injil ke tengah dunia.
    5. Inkulturatif yang berarti menghargai budaya setempat dalam konteks penghayatan iman katolik.
    6. Dinamis yang berarti terbuka terhadap bimbingan Roh, tanggap akan perkembangan zaman dan mampu membaharui dirinya dan dunia tanpa kehilangan identitas.
    7. Inklusif yang berarti mengakui keberadaan dan terbuka untuk berdialog dengan agama dan kepercayaan lain.
    8. Rela berkorban yang berarti memiliki semangat unutk memberi diri secara tulus ikhlas 9. Militan yang berarti memahami, menghidupi dan mempraktekkan ajaran yang dianut dengan sungguh-sungguh dan sanggup mempertahankannya terhadap tantangan dan godaan yang ada.
    10. Loyal yang berarti memiliki sikap tulus, setia, hormat dan taat terhadap hirarki
    11. Kudus yang berarti menghayati iman, harapan dan kasih dalam hidup sehari-hari dengan bersumber pada Perayaan Sabda dan Ekaristi serta ulah kesalehan pribadi.
    Video Profil :
    Lokasi Paroki :
    Artikel sebelumnya
    Artikel selanjutnya

    JADWAL USKUP & VIKJEN KAM

    KALENDER LITURGI

    Terbaru