Kamis, Januari 8, 2026
Lainnya
    Beranda blog

    Refleksi Akhir Tahun 2025

    Refleksi Akhir Tahun 2025


    Refleksi Akhir Tahun Berdasarkan Yohanes 1:1–18

    1. Menutup Tahun dengan Sabda, Bukan Sekadar Angka

    Akhir tahun sering kali identik dengan perhitungan: apa yang berhasil, apa yang gagal, apa yang hilang, dan apa yang belum tercapai. Kita menghitung waktu, prestasi, target, dan statistik. Namun Gereja, dengan kebijaksanaan rohaninya, mengajak kita melakukan sesuatu yang jauh lebih dalam: menutup tahun dengan Sabda, bukan sekadar angka. Itulah sebabnya Injil Yohanes pasal 1 dibacakan pada hari terakhir tahun.

    “In principio erat Verbum – Pada mulanya adalah Firman.”

    Gereja seolah berkata kepada kita: sebelum engkau menutup satu tahun dan membuka tahun yang baru, kembalilah ke awal yang sejati. Awal hidupmu bukan tanggal lahir, bukan pencapaian, bukan keberhasilan atau kegagalanmu, melainkan Allah sendiri yang berfirman dan memberi hidup. Ketika hidup dilepaskan dari sumber ini, manusia mudah tersesat, meskipun tampak sibuk, produktif, dan berhasil.

    Injil Yohanes mengingatkan bahwa hidup bukan milik kita sepenuhnya. Hidup adalah anugerah yang mengalir dari Firman yang kekal. Maka refleksi akhir tahun bukan pertama-tama evaluasi kinerja, tetapi pemeriksaan relasi: sejauh mana aku masih tinggal di dalam Firman yang memberi hidup?

    2. Terang Datang ke Dunia, tetapi Tidak Selalu Diterima

    “Inilah terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang.” Yohanes tidak berkata bahwa terang gagal datang. Terang sudah datang. Kristus telah hadir. Masalahnya bukan pada terang, tetapi pada penerimaan manusia terhadap terang itu. Yohanes menulis dengan jujur dan realistis: terang itu datang ke dunia-Nya sendiri, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Inilah gambaran yang sangat kuat tentang kegelapan zaman ini.

    Kegelapan bukan selalu kejahatan yang terang-terangan. Kegelapan sering tampil sebagai kehidupan yang tampak normal, religius, bahkan berhasil, tetapi kehilangan arah dan makna. Manusia berjalan cepat, tetapi tidak tahu ke mana. Keluarga hidup bersama, tetapi tidak sungguh saling hadir. Banyak yang merasa benar, tetapi jauh dari kebenaran. Berjalan dalam kegelapan berarti hidup tanpa terang Kristus sebagai penuntun.

    Keputusan diambil berdasarkan ego, gengsi, uang, tekanan sosial, atau ketakutan, bukan berdasarkan Sabda Tuhan. Doa menjadi formalitas. Iman direduksi menjadi kebiasaan, bukan relasi. Inilah yang dimaksud Yohanes ketika memperingatkan tentang zaman akhir: zaman ketika terang dan gelap bercampur, dan manusia sulit membedakannya.

    3. Kegelapan dalam Pribadi dan Keluarga Zaman Ini

    Ketika terang Kristus tidak lagi menjadi pusat, tanda-tanda kegelapan mulai muncul dalam hidup pribadi dan keluarga. Salah satu tanda paling jelas adalah kehilangan sukacita batin. Hidup dijalani sebagai beban. Mudah marah, cepat tersinggung, sinis, dan lelah secara rohani. Banyak aktivitas, tetapi sedikit damai.

    Dalam keluarga, kegelapan sering muncul sebagai dinginnya relasi. Dialog menghilang, digantikan oleh layar gawai. Kebersamaan menjadi fisik semata, tanpa kehadiran hati. Kekerasan verbal dan emosional dianggap wajar. Pengampunan menjadi mahal. Padahal keluarga dipanggil menjadi tempat terang pertama—Nazaret tempat Yesus bertumbuh.

    Tanda lain kegelapan adalah Tuhan disingkirkan ke pinggir kehidupan. Doa bersama hilang. Sabda Tuhan tidak lagi menjadi bahan percakapan dan penuntun keputusan. Tuhan hanya dipanggil saat krisis, bukan sebagai Sahabat harian. Dalam situasi ini, manusia mencari terang pengganti: kenikmatan instan, hiburan tanpa henti, konsumerisme, dan pelarian digital. Namun terang semu ini tidak pernah memberi hidup—ia hanya memberi sensasi sesaat dan meninggalkan kehampaan.

    4. Tanpa Terang Kristus, Manusia Mudah Merasa Benar tetapi Sesat

    Bacaan pertama dari Surat Yohanes menegaskan bahwa di zaman akhir akan banyak suara yang menyesatkan. Ini bukan nubuat tentang kiamat semata, tetapi diagnosis rohani yang sangat relevan hari ini. Di zaman informasi dan media sosial, kebenaran sering dikalahkan oleh opini, emosi, dan kepentingan. Orang bisa sangat yakin, sangat lantang, tetapi sangat jauh dari kebenaran.

    Tanpa terang Kristus, manusia kehilangan kompas moral. Yang salah bisa dibenarkan, yang benar bisa disingkirkan. Kepekaan terhadap penderitaan sesama menurun. Solidaritas melemah. Lingkungan rusak, tetapi dianggap harga kemajuan. Orang miskin menderita, tetapi dianggap urusan pribadi. Inilah kegelapan struktural yang tidak selalu disadari, tetapi sangat merusak.

    Mazmur 96 hari ini memberi jawaban iman: Tuhan datang untuk memerintah dengan keadilan. Artinya, terang Kristus bukan hanya urusan batin, tetapi kekuatan yang menata dunia. Terang itu memanggil kita untuk hidup benar, adil, dan berbelas kasih—di rumah, di tempat kerja, di ruang publik, dan di media digital.

    5. Harapan Besar: Kegelapan Bukan Akhir Cerita

    Kabar baik Injil Yohanes adalah ini: kegelapan tidak dapat menguasai terang. Yohanes tidak berkata bahwa kegelapan hilang, tetapi bahwa kegelapan tidak menang. Kristus adalah terang yang bertahan, bahkan ketika dunia menolak-Nya. Inilah dasar pengharapan Kristiani. Berjalan dalam terang bukan berarti hidup tanpa masalah.

    Berjalan dalam terang berarti membiarkan Kristus hadir di tengah masalah, menuntun langkah, menyembuhkan luka, dan memberi arah baru. Terang Kristus memampukan kita untuk jujur pada diri sendiri, berani bertobat, dan memulai kembali. Akhir tahun, karena itu, adalah undangan untuk memilih kembali:

    Apakah aku mau tinggal dalam terang, atau terus bertahan dalam kegelapan yang menipu? Apakah keluargaku mau membuka pintu bagi Kristus, atau membiarkan-Nya tetap di luar?

    6. Menutup Tahun, Membuka Hati

    Gereja menutup tahun dengan Injil Yohanes agar kita tidak menutup hidup dengan kelelahan, ketakutan, atau sinisme, tetapi dengan iman. Pengakuan iman di akhir tahun ini sangat sederhana, tetapi menentukan: “Hidupku bukan milikku sendiri; hidupku ada di dalam Kristus.”

    Dari pengakuan inilah lahir keberanian untuk melangkah ke tahun yang baru—bukan dengan jaminan bebas masalah, tetapi dengan keyakinan bahwa terang Kristus berjalan bersama kita. Bila terang itu tinggal dalam diri dan keluarga kita, maka hidup kita, sekecil apa pun, akan menjadi pantulan terang itu bagi dunia.

    Doa Penutup Refleksi:
    Tuhan Yesus, Engkaulah Terang sejati yang datang ke dunia. Bila selama tahun ini kami berjalan dalam gelap, datanglah dan terangi langkah kami. Bila kami tersesat, jadilah arah kami. Bila kami letih dan kehilangan makna, jadilah hidup kami. Tinggallah dalam hati kami, dalam keluarga kami, dan dalam dunia yang Engkau cintai. Amin.
    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Arsip Homili Mingguan - Uskup Keuskupan Agung Medan:
    (klik untuk membacanya)

    Minggu III Adven (Gaudete) | 14 Desember 2025 - Tahun A/II

    Bacaan I : Yes. 35:1-6a,10
    Bacaan II : Yak. 5:7-10
    Bacaan Injil : Mat. 11:2-11

    Menyelaraskan Hati dengan Dia yang Akan Datang

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Gereja berseru: Gaudete—Bersukacitalah! Sukacita ini bukan karena hidup sudah bebas dari persoalan, melainkan karena Tuhan sungguh sudah dekat. Adven mengingatkan kita bahwa penantian iman bukanlah ruang kosong, tetapi ruang harapan. Bacaan hari ini menolong kita mengenali siapakah Dia yang akan datang itu, supaya penantian kita tidak salah arah dan hati kita sungguh siap menyambut-Nya.

    Nabi Yesaya melukiskan kedatangan Tuhan sebagai saat pemulihan total: padang gurun bersorak, yang lemah dikuatkan, yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh melompat kegirangan. Gambaran ini menyingkapkan kualitas pertama dari Dia yang akan datang: Allah yang memulihkan kehidupan. Ia tidak datang membawa ancaman, melainkan harapan; bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyembuhkan dan mengangkat kembali martabat manusia yang terluka.

    Rasul Yakobus kemudian mengajak umat untuk bersabar dan tetap teguh, sebab Tuhan sudah dekat. Kesabaran yang dimaksud bukanlah pasrah tanpa daya, tetapi ketekunan iman yang percaya bahwa Allah setia bekerja, meskipun tidak selalu sesuai dengan jadwal manusia. Allah yang akan datang adalah Allah yang dapat dipercaya. Maka hidup kita pun dipanggil untuk diselaraskan dengan irama kesetiaan-Nya, bukan dengan kegelisahan dunia.

    Dalam Injil, Yohanes Pembaptis—yang sedang berada di penjara—bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu?” Pertanyaan ini sangat manusiawi. Bahkan seorang nabi pun bisa diliputi keraguan saat harapan terasa tertunda. Namun Yesus menjawab bukan dengan teori, melainkan dengan tindakan nyata: orang buta melihat, orang miskin menerima kabar baik. Inilah kualitas terdalam dari Mesias: Ia hadir melalui belas kasih yang konkret, menyentuh kehidupan nyata.

    Yesus kemudian memuji Yohanes sebagai nabi besar, namun Yohanes tidak pernah menempatkan dirinya di pusat. Ia selalu menunjuk kepada Kristus. Dari sini kita belajar bahwa menyelaraskan diri dengan Dia yang akan datang berarti merendahkan diri, membiarkan Tuhan semakin besar dan ego kita semakin kecil. Sukacita sejati lahir bukan ketika kita menjadi pusat perhatian, tetapi ketika hidup kita menjadi jalan bagi kehadiran Tuhan.

    Maka Adven mengajak kita bercermin:
    Apakah kehadiran kita membawa pemulihan atau justru menambah luka?
    Apakah kata-kata kita meneguhkan atau melemahkan?
    Apakah hidup kita menjadi tanda harapan atau justru sumber keputusasaan?
    Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menata ulang hati agar seirama dengan Kristus.

    Menyelaraskan diri dengan Dia yang akan datang berarti belajar memiliki hati seperti hati-Nya: hati yang sabar, setia, dan penuh belas kasih. Menjadi pribadi yang menguatkan yang lemah, bukan mengeluh; yang merawat harapan, bukan menyebar ketakutan; yang hadir di tengah penderitaan, bukan menjauh darinya. Inilah pertobatan Adven: bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi menyesuaikan arah hidup dengan kasih Allah.

    Saudara-saudari terkasih, marilah kita menyambut Kristus yang akan datang dengan hati yang siap dan penuh sukacita. Dia yang datang adalah Dia yang mengubah air mata menjadi pengharapan dan luka menjadi sumber kehidupan baru. Barangsiapa menyelaraskan hidupnya dengan Dia, tidak akan pernah berjalan tanpa harapan, sebab Tuhan sungguh dekat.

    Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu II Adven | 7 Desember 2025 - Tahun A/II

    Bacaan I : Yes. 11:1-10
    Bacaan II :  Rm. 15:4-9
    Bacaan Injil : Mat. 3:1-12

    Pertobatan: Menjadi Se-irama dengan Hati Kristus yang Datang

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Masa Adven bukan sekadar masa menunggu tanggal Natal; ini adalah masa untuk menata ulang hati, memperlambat langkah, dan memperhalus kepekaan rohani agar kita menyambut Tuhan bukan hanya dengan dekorasi luar, tetapi dengan batin yang terbuka. Adven adalah masa untuk menyelaraskan kembali hidup kita dengan Dia yang akan datang.

    Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis berseru dengan kuat: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Seruan pertobatan ini bukan ancaman, tetapi undangan penuh kasih. Pertobatan bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi mengizinkan Tuhan membentuk hati kita sesuai hati-Nya — supaya ketika Ia datang, Ia mendapati hati yang siap menjadi tempat tinggal-Nya.

    Yohanes mengkritik orang-orang Farisi dan Saduki yang merasa diri sudah benar, tetapi hati mereka dingin dan sombong. Ia mengingatkan bahwa pertobatan harus nyata dalam hidup: “Hasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan.” Artinya, iman yang sejati selalu berwujud dalam tindakan yang memulihkan — bukan hanya ucapan atau ritual.

    Yesaya dalam Bacaan Pertama menggambarkan Sang Mesias sebagai Raja yang dipenuhi Roh Tuhan: bijaksana, adil, murah hati kepada yang lemah. Kuasa-Nya bukan kuasa yang menindas, tetapi yang menyembuhkan. Ia mengembalikan keharmonisan: serigala tinggal bersama anak domba, alam dipulihkan, dan manusia berdamai kembali. Kerajaan yang datang adalah Kerajaan pemulihan.

    Inilah juga pesan Rasul Paulus: Kristus datang untuk mempersatukan bangsa-bangsa yang berbeda dan rapuh, menyatukan dunia yang tercerai-berai oleh dosa dan egoisme. Pertobatan sejati berarti menjadi bagian dari karya-Nya itu: kita dipanggil bukan hanya menjadi orang baik untuk diri sendiri, tetapi menjadi saluran pemersatu dan penyembuh bagi sesama.

    Paus Fransiskus berkata: “Pertobatan sejati selalu memimpin kita keluar dari diri sendiri menuju saudara yang terluka.” Maka Adven mengundang kita meninggalkan ketidakpedulian, melepaskan sikap menghakimi, dan membuka mata terhadap mereka yang menderita — baik di rumah kita, komunitas kita, maupun dunia sekitar kita.

    Saudara-saudari, pertobatan dalam Adven berarti memulihkan tiga relasi utama:
    relasi dengan Allah (melalui doa dan keheningan),
    relasi dengan sesama (melalui pengampunan dan solidaritas),
    relasi dengan ciptaan (melalui kepedulian ekologis).
    Jika ketiga relasi ini sembuh, maka kedatangan Tuhan menjadi nyata dalam hidup kita, bukan hanya dalam perayaan.

    Lihatlah dunia kita hari ini: masih banyak air mata, pengungsi, orang miskin, dan kehancuran alam. Tuhan datang justru ke dunia seperti itu — bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyembuhkan. Ia mencari hati yang bersedia menjadi tangan-Nya, langkah-Nya, dan senyuman-Nya bagi mereka yang hancur. Pertobatan kita harus menghasilkan buah belas kasih yang konkret.

    Karena itu, marilah kita mengubah arah hidup ini selangkah demi selangkah:
    ✔ lebih banyak mendengarkan Tuhan daripada suara ketakutan
    ✔ lebih banyak memberi daripada menuntut
    ✔ lebih banyak menyembuhkan daripada melukai
    ✔ lebih banyak membangun daripada meruntuhkan
    ✔ lebih banyak membuka diri daripada memisahkan diri Inilah buah-buah Adven yang menyelaraskan hati kita dengan hati Kristus.

    Saudara-saudari terkasih, Semoga Adven ini menjadi masa ketika hati kita menjadi se-irama dengan hati Sang Mesias: hati yang tergerak oleh belas kasih, hati yang menghibur dan memulihkan, hati yang menjadi tempat bagi orang lain menemukan harapan baru. Dengan pertobatan seperti ini, Natal tidak hanya menjadi perayaan tahunan — tetapi kelahiran Kristus kembali di dalam hati kita.

    Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hari Raya Pelindung KAM | 1 Desember 2025 - Tahun A

    Bacaan I : Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6;
    Bacaan Injil : Mat 8:5-11

    Menata Hati Menyambut Dia Yang Datang

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

    Hari ini kita merayakan pesta dua pelindung Keuskupan Agung Medan—Beato Dionisius a Nativitate dan Beato Redemptus a Cruce—dua misionaris Karmel Tak Berkasut yang memberikan hidup mereka di Aceh pada tahun 1638. Mereka bukan hanya martir, tetapi fondasi spiritual pertama kehadiran Gereja di Sumatera. Kita berdiri di atas jejak kesetiaan mereka.

    Beato Dionisius—yang lahir sebagai Pierre Berthelot—adalah pelaut ulung, bangsawan Prancis, ahli peta laut, dan perwira angkatan laut Portugis. Di tengah kejayaan itu, ia mendengar suara Tuhan yang menggelisahkan hatinya. Ia meninggalkan semuanya pada usia 35 tahun dan memilih hidup doa, kesederhanaan, dan cinta Tuhan dalam biara Karmel. Dalam dirinya kita melihat kualitas Kristus yang taat dan rendah hati.

    Beato Redemptus—lahir Thomas da Cunha—adalah putra petani miskin yang pernah menjadi tentara. Namun ia rindu damai batin, sehingga meninggalkan karier militernya dan masuk Karmel sebagai bruder sederhana. Ia menjalani hidup pelayanan kecil: menjaga pintu biara, menerima tamu, dan mengajar anak-anak. Ia menunjukkan bahwa kekudusan tidak lahir dari panggung besar, tetapi dari kesetiaan kecil penuh cinta. Paus Fransiskus berkata: “Kekudusan tumbuh dalam kesederhanaan setiap hari.” Itulah Redemptus.

    Ketika kerajaan Goa membutuhkan utusan diplomatik ke Aceh, Dionisius diminta menjadi penerjemah dan pandu laut; tahbisan imamatnya dipercepat. Redemptus ikut sebagai pembantu. Tujuan mereka sederhana: membangun damai. Namun fitnah VOC Belanda membuat mereka ditangkap dan disiksa. Dalam penjara gelap, mereka tetap meneguhkan sesama tawanan, membagi pengampunan, dan memeluk salib. Mereka menyerupai Kristus yang tetap mencintai di tengah kegelapan.

    Ketika dijatuhi hukuman mati, Dionisius memegang salib kecil dan berkata: “Jangan mundur. Kristus sudah berjalan lebih dahulu.” Redemptus menjadi martir pertama, lalu Dionisius dipancung oleh seorang algojo murtad. Mayat mereka tidak membusuk selama tujuh bulan—tanda bahwa hidup mereka menjadi persembahan kudus. Gereja kemudian mengakui mereka sebagai martir, dan pada tahun 1900 mereka dibeatifikasi.

    Saudara-saudari, pesta ini dirayakan dalam masa Adven. Adven adalah masa “menyelaraskan hati” dengan Dia yang datang. Apa artinya menyelaraskan hati? Artinya membiarkan hidup kita dibentuk oleh kualitas Allah: kesetiaan-Nya, kerendahan hati-Nya, kelembutan-Nya, keberanian-Nya untuk mencintai, dan kesediaan-Nya untuk dekat dengan yang menderita. Para beato ini telah melakukannya: mereka meninggalkan ambisi, ketakutan, dan kenyamanan untuk membuka ruang bagi Kristus.

    Kita yang merayakan mereka hari ini, umat KAM, dipanggil menapaki jejak yang sama. Jangan takut untuk mencintai. Jangan lelah untuk melayani. Jangan ragu untuk menjadi saksi kebenaran. Gereja kita, yang kini besar dan hidup, berdiri bukan di atas strategi, tetapi di atas darah kesetiaan para misionaris. Paus Benediktus XVI pernah berkata: “Gereja dibangun oleh para saksi yang memberi diri, bukan oleh para manajer.”

    Maka pada hari ini, marilah kita mempersembahkan kembali hati kita. Jika hidup terasa gelap, mari ingat keberanian Dionisius. Jika pelayanan terasa berat, mari ingat kesederhanaan Redemptus. Jika hati kita letih, mari ingat bahwa Adven adalah waktu Tuhan memulihkan. Semoga melalui perantaraan kedua beato ini, Gereja KAM menjadi semakin kudus, rendah hati, murah hati, dan berani berjalan bersama siapa pun di Sumatera Utara.

    Beato Dionisius dan Redemptus, Doakanlah kami agar hati kami selaras dengan Kristus yang datang. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam & HOMS | 23 November 2025 - Tahun C

    Bacaan I : 2 Sam. 5:1-3
    Bacaan II : Kol. 1:12-20
    Bacaan Injil : Luk. 23:35-43

    Kerajaan yang Dibuka oleh Doa Seorang Pendosa

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari Raya Kristus Raja selalu membawa kita ke tempat yang tidak kita duga: bukan ke istana atau ruang keagungan, tetapi ke bukit Golgota, di antara tiga salib. Di tempat penghinaan itu, Yesus dinyatakan sebagai Raja. Ironisnya, rahasia kerajaan-Nya tidak diungkap oleh imam, bukan oleh murid, bukan oleh penguasa, melainkan oleh seorang pendosa yang sekarat. Dialah yang berkata, “Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:42). Satu kalimat pendek itu mengguncang surga dan mengubah sejarah keselamatan.

    Di Golgota kita melihat dua penjahat yang sama-sama berdosa, sama-sama menderita, sama-sama berada di ambang kematian, sama-sama dekat dengan Yesus. Namun cara pandang mereka terhadap Yesus sangat berbeda. Penjahat pertama berkata: “Selamatkanlah diri-Mu dan selamatkanlah kami!” Ia melihat Yesus hanya sebagai alat, sebagai tenaga penyelamat instan.

    Ia ingin dibebaskan dari penderitaan tetapi tidak ingin diselamatkan dari dosa. Sedangkan penjahat kedua berkata: “Yesus, ingatlah akan aku.” Ia tidak meminta Yesus turun dari salib, tidak meminta hidupnya diperpanjang. Ia melihat kemuliaan di balik penderitaan, kerajaan di balik luka, dan ia mengakui Yesus sebagai Raja. Itulah perbedaan antara sinisme dan pertobatan, antara putus asa dan harapan, antara hati yang memberontak dan hati yang merendah.

    Doa St. Dismas, sang penjahat yang baik, adalah salah satu doa terpendek dalam seluruh Kitab Suci, namun merupakan doa yang paling indah dan paling mengubah hidup. “Yesus, ingatlah akan aku…” adalah doa yang lahir dari kerendahan hati terdalam. Doa itu mengakui dua kebenaran mendasar: “Yesus, Engkau adalah Raja” dan “Aku membutuhkan Engkau.” Dan Yesus menjawab dengan kalimat yang hanya diucapkan kepada satu manusia dalam Injil: “Hari ini juga engkau bersama-Ku di dalam Firdaus.” Rahmat mengalir bukan besok, bukan setelah penyucian panjang, bukan setelah hidup sempurna, tetapi hari ini—sebab rahmat Allah selalu lebih besar daripada dosa manusia.

    Kerajaan Kristus adalah kerajaan yang selalu terbuka bagi para pendosa yang kembali. Dunia mengenal raja yang kuat, kaya, dan berkuasa, tetapi Yesus adalah Raja yang berbeda. Ia adalah Raja yang memanggul salib, bukan mahkota emas; Raja yang mengampuni, bukan menghukum; Raja yang merangkul, bukan menyingkirkan; Raja yang mengingat pendosa, bukan hanya orang berjasa. Ia memilih takhta-Nya di kayu salib, bukan di atas keangkuhan. Kerajaan-Nya dibangun bukan dengan kekerasan, tetapi dengan pengampunan; bukan diperluas dengan kekuatan, tetapi dengan kerendahan hati; bukan dikukuhkan dengan ketakutan, tetapi dengan cinta.

    Pada hari raya ini, Kristus bertanya kepada kita: siapakah kita di antara dua penjahat itu? Apakah kita seperti penjahat pertama, yang marah ketika Tuhan tidak menjawab doa kita, yang kecewa ketika hidup tidak mudah, yang ingin Tuhan mengikuti rencana kita, dan yang menolak salib? Atau apakah kita seperti penjahat kedua yang jujur mengakui kelemahannya, tetap percaya meskipun tidak mengerti, berharap meski hidup penuh luka, memilih kerendahan hati daripada kesombongan, memilih pertobatan daripada menyalahkan orang lain? Dua salib itu adalah gambaran dua hati manusia. Kita dipanggil memilih hati yang mana.

    Kerajaan Kristus sesungguhnya dimulai dari hati yang berani berkata, “Ingatlah aku.” Kalimat yang sederhana ini menyimpan daya rohani yang besar. Kita tidak diminta menjadi sempurna, tidak diminta menjadi luar biasa, tidak diminta menjadi disanjung banyak orang. Kita hanya diminta untuk meminta diingat. Diingat oleh Yesus berarti masa lalu kita tidak lagi memenjarakan kita; dosa kita bukan identitas kita; penderitaan tidak menjadi akhir cerita; dan kita memiliki tempat dalam kerajaan-Nya. Dunia bisa melupakan kita, manusia bisa meninggalkan kita, tetapi Kristus Raja tidak pernah lupa.

    Hari Raya Kristus Raja juga merupakan undangan untuk memulai kembali. Merayakan Kristus Raja berarti menjadikan Yesus benar-benar Raja dalam hidup, bukan hanya dalam liturgi. Artinya menaati-Nya, bukan hanya memuji-Nya. Hidup dalam pengharapan, bukan dalam ketakutan, karena Raja kita menang bukan dengan pedang, tetapi dengan cinta yang bangkit dari kubur. Masuk ke dalam kerajaan-Nya melalui kerendahan hati, cukup dengan berdoa: “Yesus, ingatlah akan aku.” Dan yang tidak kalah penting: memberi ruang bagi rahmat, bukan menghakimi diri sendiri. Jika Yesus dapat mengampuni penjahat di menit terakhir hidupnya, Ia pasti mampu memulihkan kita hari ini.

    Saudara-saudari terkasih, Kristus Raja bukan Raja yang jauh. Ia adalah Raja yang mati bersama para pendosa. Ia Raja yang membuka kerajaan bagi mereka yang terbuang. Ia Raja yang mengingat kita bahkan ketika kita melupakan diri sendiri. Maka marilah kita berdoa seperti St. Dismas: “Yesus, ingatlah akan aku.” Inilah pintu kerajaan yang paling indah—pintu yang dibuka melalui doa sederhana yang lahir dari hati yang hancur namun berharap, dan yang dijawab oleh Raja yang berkata: “Hari ini juga engkau bersama-Ku.” Semoga Raja kita yang penuh belas kasih meneguhkan kita, memulihkan kita, mengutus kita, dan menuntun kita kepada kerajaan yang tidak akan pernah berakhir. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu XXXIII TAHUN C | 16 November 2025 - Tahun C

    Bacaan I : Mal. 4:1-2a
    Bacaan II : 2 Tes. 3:7-12
    Bacaan Injil : Luk. 21:5-19

    Siaga Dalam Pengharapan, Aktif Dalam Pelayanan

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Minggu ini kita sudah berada di penghujung Tahun Liturgi. Gereja mengajak kita melihat jauh ke depan—bukan dengan rasa takut, tetapi dengan mata iman.

    Bacaan-bacaan hari ini tidak sedang menakut-nakuti kita tentang akhir zaman, tetapi menegaskan bagaimana seharusnya kita hidup hari ini: hidup dalam kesiagaan yang matang, dalam pengharapan yang teguh, dan dalam tanggung jawab nyata.

    Yesus dalam Injil berbicara tentang gejolak dunia: perang, gempa bumi, kelaparan, penganiayaan, perpecahan bahkan dalam keluarga—hal-hal yang membuat banyak orang kehilangan arah.

    Tetapi Ia segera menegaskan, “Janganlah kamu terkejut… Jika kamu bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21:5–19).

    Pesan Yesus tegas: yang penting bukan ramalan tentang kapan dunia berakhir, tetapi bagaimana sikap kita ketika gejolak datang.

    Bangunan bait Allah yang megah bisa runtuh. Sistem-sistem dunia bisa gagal. Situasi bisa berubah dengan cepat. Tetapi satu hal tidak boleh runtuh: kesetiaan umat Allah kepada Tuhan. Itu yang menjadi pegangan kita ketika dunia kehilangan pegangan.

    Hari ini Yesus mengajar kita: ukuran sejati murid Kristus bukan ada pada waktu hidup nyaman, tetapi ketika masa sulit menuntut keteguhan. Jika dunia bergejolak, iman tidak boleh ikut goyah. Jika orang lain menyerah, murid Kristus tetap berdiri. Jika tantangan datang, hati kita tetap berpegang pada sabda-Nya. Yesus berkata, “Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat.” Artinya: keteguhan bukan hasil kemampuan kita pribadi, tetapi buah penyertaan Tuhan.

    Namun Injil tidak berhenti pada ketekunan pasif. Kesetiaan dalam masa sukar bukan berarti kita menunggu dengan cemas sambil berdiam diri. Kesetiaan itu harus berubah menjadi tanggung jawab, kerja, dan pelayanan. Di sinilah bacaan kedua dari Paulus menjadi sangat kuat: “Kami tidak malas ketika berada di antara kalian. Kami bekerja malam dan siang supaya tidak menjadi beban bagi siapa pun.” (2Tes 3:8).

    Paulus mengingatkan: Iman sejati selalu menghasilkan kerja nyata. Kesetiaan tidak tampak dari banyaknya keluhan atau ramalan, tetapi dari kesediaan untuk berkarya, berjuang, dan melayani. Gereja bukanlah komunitas yang menunggu akhir zaman, tetapi komunitas yang mengubah zaman melalui kerja kasih setiap hari.

    Paulus bahkan memberi peringatan keras: “Barangsiapa tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Itu bukan penghinaan terhadap orang miskin, melainkan ajakan agar setiap umat mengambil bagian dalam pembangunan tubuh Kristus. Iman tidak boleh membuat kita pasif; harapan tidak boleh membuat kita malas; menanti Tuhan tidak boleh membuat kita lari dari tanggung jawab.

    Karena itu, tema Minggu ini sangat jelas: Kita dipanggil menjadi umat yang siaga dalam pengharapan dan aktif dalam pelayanan. Siaga bukan berarti panik atau takut, tetapi sadar bahwa hidup adalah rahmat yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Aktif bukan berarti sibuk tak tentu arah, tetapi menghadirkan kasih Allah dalam tindakan nyata.

    Saudara-saudari, bagaimana sikap ini diterapkan dalam hidup sehari-hari? Pertama, siaga dalam iman berarti tetap berakar pada sabda Tuhan, doa, dan Ekaristi—meski dunia sibuk, meski banyak distraksi, meski keadaan tidak menentu. Kedua, siaga dalam pengharapan berarti melihat hidup bukan dari kegelapan hari ini, tetapi dari cahaya Kristus yang akan datang. Harapan membuat kita tidak menyerah. Ketiga, aktif dalam pelayanan berarti bekerja dengan sungguh-sungguh, jujur, bertanggung jawab, dan ikut membangun komunitas. Pelayanan bukan sekadar kegiatan gereja, tetapi cara hidup.

    Kita menjadi saksi Kristus bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata: membantu yang lemah, hadir bagi yang menderita, menguatkan yang putus asa, dan melakukan tugas harian dengan kasih. Di tengah dunia yang gelisah, umat Kristus dipanggil untuk menjadi tanda harapan, bukan tanda panik; menjadi pelayan, bukan penonton; menjadi iman yang hidup, bukan iman yang tidur.

    Gereja pada pekan ini menyampaikan pesan yang sangat jelas: “Siaga, tapi bukan takut. Bekerja, bukan melarikan diri. Berpengharapan, bukan menyerah.” Yesus tidak menjanjikan dunia yang bebas masalah, tetapi Ia menjanjikan KEHIDUPAN kepada mereka yang bertahan dan tetap setia.

    Marilah kita memohon rahmat agar dalam situasi apa pun, kita tetap menjadi umat yang teguh, umat yang bekerja demi kasih, dan umat yang menjadi saksi bahwa Tuhan tetap menyertai dunia ini sampai akhir zaman.

    Doa Penutup:
    Tuhan Yesus, Engkaulah Raja Pengharapan kami. Di tengah gejolak dunia, berikanlah kami hati yang teguh. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab, jadikanlah kami umat yang aktif bekerja dan melayani. Semoga hidup kami menjadi tanda yang menunjukkan bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan dunia ini. Teguhkan kami hingga akhir, agar kami layak menerima hidup yang Engkau janjikan. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Pesta Pemberkatan Basilika Lateran | 9 November 2025 - Tahun C

    Bacaan I : Yeh. 47:1-2.8-9,12
    Bacaan II : 1Kor. 3:9c-11,16-17
    Bacaan Injil : Yoh. 2:13-22

    Kita Adalah Bait Allah yang Hidup

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Gereja seluruh dunia merayakan Hari Raya Pemberkatan Basilika Lateran — gereja katedral Paus, tanda kesatuan antara Gereja lokal dan Gereja universal. Kita tidak sekadar memperingati bangunan batu di Roma, tetapi mengenangkan misteri Gereja sebagai rumah Allah yang hidup, tempat Allah berdiam di tengah umat-Nya. Peringatan ini mengajak kita merenungkan makna terdalam dari kata “Gereja”: bukan dinding, bukan altar, melainkan umat yang disatukan oleh kasih Kristus.

    Dalam bacaan pertama, nabi Yehezkiel menggambarkan penglihatan yang indah: air mengalir keluar dari bawah ambang pintu Bait Allah, mengalir ke timur dan membawa kehidupan ke mana pun ia pergi. Air itu menjadikan laut asin menjadi manis dan subur, memberi kehidupan pada segala makhluk (Yeh 47:1–12). Air itu melambangkan rahmat Allah yang mengalir dari hadirat-Nya, dari tempat kudus ke dunia yang kering dan mati. Apa artinya bagi kita? Gereja — baik gedungnya maupun umatnya — seharusnya menjadi sumber kehidupan. Dari altar suci, dari hati orang beriman, harus mengalir “air kehidupan”: kasih, pengampunan, dan harapan bagi dunia yang haus.

    Mazmur hari ini pun bernyanyi: “Allah adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita.” (Mzm 46:2). Allah bukan hanya hadir di bait suci yang besar, tetapi juga di hati yang percaya. Ia adalah benteng yang teguh di tengah kekacauan dunia. Ini adalah penghiburan besar bagi kita yang kadang merasa rapuh dan kecil: kita tidak sendiri, sebab Tuhan berdiam di tengah umat-Nya. Gereja bukanlah museum kesalehan, melainkan rumah hidup di mana kasih Allah dialami dan dibagikan.

    Dalam bacaan kedua, Santo Paulus mengingatkan umat Korintus: “Kamu adalah bangunan Allah... tidak ada dasar lain yang dapat diletakkan selain Yesus Kristus... Apakah kamu tidak tahu bahwa kamu adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:9–16). Ini pernyataan yang luar biasa! Paulus ingin menegaskan bahwa kehadiran Allah tidak lagi terbatas pada batu dan dinding, tetapi pada setiap orang yang hidup dalam Kristus.

    Tubuh kita, komunitas kita, keluarga kita — semuanya dipanggil menjadi Bait Allah yang hidup. Dan karena itu, kata Paulus, “Barangsiapa merusak bait Allah, akan binasa oleh Allah.” Artinya: jangan kita mencemarkan diri dengan kebencian, iri hati, atau perpecahan. Gereja sejati dibangun bukan oleh batu bata, melainkan oleh kasih dan kesetiaan.

    Injil Yohanes membawa kita kepada Yesus yang marah di Bait Allah (Yoh 2:13–22). Ia melihat para pedagang dan penukar uang menjadikan rumah Bapa-Nya sebagai tempat dagang. Ia mengusir mereka sambil berseru, “Jangan kamu jadikan rumah Bapa-Ku sebagai tempat berjualan!” Peristiwa ini bukan hanya tentang pasar di halaman bait Allah, tetapi tentang hati manusia yang sering menjadikan iman sebagai alat keuntungan diri.

    Yesus mengingatkan: rumah Allah bukan tempat transaksi, tetapi tempat perjumpaan dengan kasih-Nya. Hati kita, jika menjadi bait Allah, tidak boleh dipenuhi oleh keserakahan dan kemunafikan, tetapi oleh kasih dan pelayanan.

    Kemarahan Yesus adalah bentuk cinta yang murni. Ia membersihkan bait Allah agar manusia kembali menyadari maknanya: rumah Allah adalah tempat di mana hati manusia dijernihkan dan diperbarui.

    Ketika Yesus berkata, “Rombaklah bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali,” Ia berbicara tentang tubuh-Nya sendiri. Artinya, Yesus Kristus adalah Bait Allah yang sejati — tempat Allah berjumpa dengan manusia. Di dalam diri-Nya, kita melihat wajah Bapa dan mengalami rahmat yang mengalir tanpa henti.

    Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus menjadikan kita bagian dari tubuh-Nya. Maka setiap orang beriman dipanggil menjadi batu hidup dalam bangunan Gereja. Kita semua disatukan oleh Roh Kudus untuk membentuk satu tubuh: tubuh Kristus. Jika setiap orang hidup dalam kasih, Gereja akan kokoh; tetapi bila ada kebencian dan perpecahan, tembok rohani itu mulai retak.

    Paus Fransiskus pernah berkata dalam homilinya di Basilika Lateran: “Merayakan hari ini bukan berarti memuji dinding atau sejarah, tetapi memperbarui hati agar Gereja tetap menjadi rumah sambutan dan kasih bagi semua orang.” Itu artinya, Gereja bukan hanya tempat untuk berdoa, melainkan tempat bagi yang letih untuk beristirahat, bagi yang berdosa untuk diampuni, bagi yang terluka untuk disembuhkan. Gereja yang sejati adalah Gereja yang terbuka, penuh kerahiman, dan hidup.

    Bro, dalam konteks kita di sini, perayaan ini juga mengajak kita bertanya: apakah paroki kita, komunitas kita, bahkan keluarga kita sudah menjadi “Basilika Lateran kecil”? Artinya, apakah dari hidup kita mengalir air yang menyuburkan seperti dari bait Allah dalam visi Yehezkiel? Apakah orang menemukan damai, pengampunan, dan kekuatan ketika berjumpa dengan kita? Jika hati kita jernih dan terbuka, maka setiap pertemuan dengan kita menjadi perjumpaan dengan Allah yang hidup.

    Kita diingatkan pula untuk menjaga kesatuan dengan Gereja universal. Basilika Lateran adalah lambang persaudaraan dalam iman. Persatuan dengan Bapa Suci bukan sekadar ketaatan formal, tetapi tanda kesetiaan pada ajaran Kristus. Di tengah dunia yang mudah terpecah karena politik, ekonomi, atau ego, Gereja dipanggil menjadi saksi persaudaraan yang tidak bisa dibeli dengan kekuasaan atau kepentingan.

    Saudara-saudari terkasih, hari ini Tuhan mengajak kita memperbarui diri: bukan hanya membersihkan gedung gereja, tetapi memurnikan hati sebagai rumah Allah. Jangan biarkan hati kita dipenuhi dengan “pedagang” rohani — kesombongan, egoisme, iri hati, atau dendam. Biarlah Yesus, Sang Bait sejati, masuk dan menyingkirkan semuanya agar hati kita kembali menjadi tempat kasih dan kedamaian.

    Marilah kita menutup permenungan ini dengan doa: Tuhan Yesus, Bait Allah yang hidup, bersihkanlah hati kami dari segala yang tidak pantas bagi-Mu. Jadikan kami batu-batu hidup yang membangun Gereja-Mu di dunia ini. Semoga dari hidup kami mengalir air kasih dan pengampunan bagi banyak orang, seperti air yang keluar dari Bait Allah dalam penglihatan Yehezkiel. Jadikanlah Gereja kami rumah doa, bukan tempat kesombongan, agar dunia melihat wajah-Mu yang penuh cinta. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman | Tahun C - 2 November 2025

    Bacaan I : 2 Mak. 12:43-46
    Bacaan II :  1 Kor. 15:20-24a.25-28
    Bacaan Injil : Yoh. 6:37-40

    Menjadi Saksi Wajah Allah yang Tidak Menolak Siapa Pun

    🕊️ Pengantar – Wajah Allah yang Menyambut, Bukan Menolak

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Gereja sejagat berdoa bagi semua arwah orang beriman — mereka yang telah berpulang mendahului kita. Perayaan ini tidak diliputi kesedihan, melainkan cahaya pengharapan.

    Sebab dalam iman, kita percaya bahwa Allah tidak meninggalkan siapa pun yang datang kepada-Nya. Inilah wajah sejati Allah: bukan hakim yang menghukum dari jauh, melainkan Bapa yang menantikan anak-anak-Nya kembali ke rumah.

    Doa kita hari ini adalah ungkapan kasih yang melampaui batas kematian — sebab dalam Kristus, kasih tidak pernah berakhir.

    🌿 Sabda Tuhan – “Aku Tidak Akan Menolak Seorang Pun”

    Injil Yohanes memberi kita sabda Yesus yang sangat indah: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, tidak akan Kubuang.” (Yoh 6:37)

    Kalimat ini adalah jantung iman kita pada hari Arwah. Di tengah kesedihan karena kehilangan, Yesus menegaskan: tidak ada satu pun jiwa yang terbuang dari kasih Allah.

    Tak peduli seberapa jauh seseorang tersesat, kasih Tuhan lebih cepat menyusul daripada langkah kita menjauh. Kasih Allah bukan menunggu kita layak dulu, tetapi menjadikan kita layak lewat belas kasih-Nya.

    Karena itu, doa bagi arwah adalah keyakinan bahwa kasih itu terus bekerja, bahkan di balik kematian — membersihkan, menyembuhkan, dan menyempurnakan setiap jiwa dalam terang Tuhan.

    🔥 Iman yang Mengubah Duka Menjadi Harapan

    Bacaan dari Yesaya menggambarkan Allah yang menyiapkan perjamuan bagi semua bangsa dan menyeka air mata dari wajah semua orang.

    (Yes 25:6–9) Inilah Allah yang kita imani: Allah yang menjemput, bukan menghakimi; yang memeluk, bukan menolak.

    Setiap air mata yang jatuh di kuburan orang yang kita cintai tidak sia-sia — sebab Tuhan menampungnya dalam tangan-Nya sendiri. Kematian tidak memutuskan relasi kasih. Ia hanya mengubah bentuknya.

    Kita yang masih berziarah di dunia terus menyapa mereka lewat doa, sedangkan mereka yang telah berpulang menyapa kita dari rumah Bapa.

    Dalam persekutuan para kudus, kita tetap satu tubuh, satu iman, satu kasih dalam Kristus yang telah bangkit.

    🌸 Kasih yang Tak Mengenal Batas

    Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma berkata: “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus.” (Rm 5:5)

    Kasih ini tidak mengenal batas. Ia menembus dosa, waktu, dan kematian. Allah tidak menolak orang berdosa, karena justru bagi mereka Ia datang.

    Paus Fransiskus pernah menegaskan: “Allah tidak pernah lelah mengampuni kita; kitalah yang sering lelah memohon pengampunan.”

    Maka, bila Allah bersabar dan mengasihi tanpa batas, kita pun dipanggil untuk meneladan kasih itu.

    Hidup sebagai orang Kristen berarti menjadi saksi wajah Allah yang penuh penerimaan — Allah yang tidak menolak siapa pun, termasuk yang lemah, berbeda, atau tersesat.

    💖 Kasih Itu Harus Dihidupkan

    Saudara-saudari, Karena itu, marilah kita pun menjadi saksi wajah Allah yang tidak menolak siapa pun.

    Hidupkan kasih itu dalam keluarga, pelayanan, dan sikap terhadap sesama. Bila Allah menerima kita dengan segala kelemahan, kita pun dipanggil untuk menerima dan mengampuni.

    Dunia hari ini haus akan kesaksian seperti itu — kasih yang tidak menghakimi, tetapi meneguhkan; kasih yang tidak menolak, tetapi menyembuhkan.

    Doa bagi arwah hendaknya menjadi cermin hidup kita: bahwa kasih yang kita doakan bagi mereka, juga harus tampak dalam sikap kita terhadap yang hidup.

    Doa menjadi nyata bila diwujudkan dalam kepedulian dan pengampunan.

    🌿 Aplikasi Hidup – Menjadi Wajah Kasih Itu Sendiri

    Menjadi saksi wajah Allah bukanlah tugas besar yang sulit. Itu dimulai dari hal sederhana: menyapa yang kesepian, menolong yang jatuh, memaafkan yang bersalah, dan mendoakan yang telah pergi.

    Di situlah kita menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih. Gereja hari ini memanggil kita untuk hidup dalam kasih yang aktif — kasih yang menyapa, bukan menjauh; kasih yang membuka pintu, bukan menutupnya.

    Bila kita berani hidup seperti itu, maka setiap rumah kita menjadi perpanjangan tangan Allah, dan setiap hati kita menjadi taman kasih yang menghidupkan.

    🌺 Penutup – Kasih yang Tidak Pernah Menolak

    Saudara-saudari terkasih, Perayaan Arwah mengingatkan kita bahwa kasih Allah tidak mengenal batas, bahkan kematian pun tidak mampu memutuskan ikatan itu.

    Maka, marilah kita terus berdoa bagi mereka yang telah berpulang, sambil memperbarui hati kita untuk menjadi cermin kasih Allah yang tidak menolak siapa pun.

    Semoga dalam setiap doa dan tindakan kasih kita, dunia melihat wajah Allah yang hidup — Allah yang mengampuni, menghibur, dan menyambut setiap anak-Nya pulang. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu Biasa XXX Tahun C - 26 Oktober 2025

    Bacaan I : Sir. 35:12-14,16-18
    Bacaan II : 2Tim. 4:6-8,16-18
    Bacaan Injil : Luk. 18:9-14

    ALLAH YANG DIKENAL MENENTUKAN CARA KITA BERDOA

    Antifon Pembuka

    Tuhan dekat dengan orang yang hancur hatinya; Ia menyelamatkan yang remuk jiwanya. (Mzm 34:19)

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Yesus mengajak kita bercermin melalui dua tokoh dalam Injil: seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Keduanya sama-sama datang ke Bait Allah untuk berdoa, tetapi hasilnya sungguh berbeda. Yang satu meninggalkan rumah Tuhan tanpa pembenaran, sementara yang lain — seorang pendosa — justru diterima oleh Allah. Mengapa demikian? Karena cara kita berdoa sangat ditentukan oleh siapa Allah yang kita kenal.

    Doa bukan sekadar rutinitas rohani, tetapi cermin dari iman dan relasi kita dengan Allah. Bila kita mengenal Allah sebagai kasih, doa kita penuh syukur dan kerendahan hati. Namun bila kita mengenal-Nya sebagai hakim yang menuntut, doa kita menjadi pembelaan diri. Maka benar adanya, teologi yang kita hidupi akan tampak dalam cara kita berdoa.

    Orang Farisi berdiri tegak dan berbicara dengan penuh keyakinan: “Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberi sepersepuluh dari penghasilanku.” Namun kata “aku” mendominasi seluruh doanya. Ia menyebut nama Allah, tapi sesungguhnya berbicara tentang dirinya sendiri. Baginya, Allah adalah hakim yang menilai kinerja religius manusia. Doanya bukan perjumpaan dengan Allah, tetapi pertunjukan rohani di hadapan Allah.

    Yesus tidak menolak kesalehan, tetapi menolak kesombongan yang menyusup di dalamnya. Kesalehan tanpa kasih hanyalah kesombongan berjubah kesucian. Paus Fransiskus dalam Gaudete et Exsultate menegaskan: “Kesombongan rohani membuat kita percaya bahwa rahmat tergantung pada kemampuan kita.” Ketika doa menjadi ajang pembuktian, kasih berubah menjadi gengsi rohani — dan hati kehilangan ruang bagi rahmat Allah.

    Sebaliknya, pemungut cukai berdiri jauh di belakang, menunduk, memukul dada, dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini.” Ia tidak membawa daftar kebaikan, hanya hati yang remuk. Tetapi di sanalah ia menemukan wajah Allah yang sejati: Bapa yang penuh belas kasih. Doanya pendek, namun tulus; sederhana, namun menyentuh surga. Ia datang bukan untuk memamerkan diri, melainkan menyerahkan diri. Dan Yesus berkata: “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan oleh Allah.”

    Perbedaan ini memperlihatkan dua teologi yang kontras: Jika Allah dipandang sebagai hakim keras, doa menjadi pembelaan diri. Jika Allah dikenal sebagai kasih, doa menjadi penyerahan diri. St. Agustinus berkata: “Allah lebih suka hati yang hancur daripada lidah yang pandai berdoa.” Doa sejati lahir bukan dari kebanggaan, melainkan dari kerendahan hati yang menyentuh kasih Allah.

    Saudara-saudari, kita hidup di zaman yang menyanjung self-confidence dan prestasi. Budaya modern membentuk manusia yang berdoa dengan bibir kepada Tuhan, tapi hatinya sibuk memamerkan diri di hadapan dunia. Paus Fransiskus mengingatkan dalam Fratelli Tutti no. 30: “Dunia ini penuh komunikasi, tetapi miskin relasi.” Maka doa sejati harus mengembalikan kita pada relasi yang benar — dengan Allah dan dengan sesama.

    Kitab Sirakh hari ini mengingatkan: “Doa orang kecil menembus awan dan tidak berhenti sampai mencapai tujuan.” Tuhan mendengar bukan karena kata-kata kita indah, tetapi karena hati kita benar. Pemungut cukai mungkin tak pandai berbicara, tapi doanya murni. Yang menembus surga bukan suara yang keras, tetapi hati yang tulus.

    Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan, aku telah mencapai garis akhir.” Kalimat ini bukan kesombongan, melainkan ungkapan syukur mendalam. Paulus sadar, segala sesuatu adalah rahmat, bukan ambisi. Ia berdoa dengan hati yang bebas dari ego, dan itulah yang membuat hidupnya menjadi pujian bagi Allah.

    Doa sejati bukanlah presentasi diri, tetapi perjumpaan hati. Jika doa kita masih dipenuhi “aku” dan “prestasi”, berarti ego masih di atas altar. Namun jika doa kita berubah menjadi “Engkau”, maka Allah bersemayam di hati kita. Kerendahan hati membuka jalan menuju pembenaran, sebab Allah tinggal di hati yang sederhana.

    Saudara-saudari terkasih, marilah kita belajar berdoa dengan hati, bukan dengan ego. Dalam doa pribadi, biarkan keheningan berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Dalam pelayanan, jangan cari pengakuan, tetapi kesempatan untuk mencintai. Dalam keberhasilan, jangan sombong, tetapi bersyukurlah karena semuanya berasal dari Tuhan.

    Yesus menutup perumpamaan hari ini dengan sabda-Nya yang abadi: “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

    Ekaristi yang kita rayakan sekarang adalah puncak doa tanpa ego. Yesus tidak berkata, “Lihat Aku,” melainkan, “Ambillah Aku.” Ia mempersembahkan diri, bukan memuliakan diri. Maka datanglah kepada Tuhan bukan dengan daftar prestasi, tetapi dengan hati yang terbuka. Dan mungkin, jika Tuhan tersenyum kepada kita hari ini, Ia akan berkata: “Aku lebih senang hatimu yang menyesal daripada laporan panjang prestasimu.” Amin.

    Doa Penutup

    Ya Tuhan, Engkau mengenal hati kami lebih dari kami sendiri. Jadikanlah kami umat yang rendah hati dan tulus dalam berdoa, agar kami hidup dalam kasih-Mu dan bukan dalam gengsi kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu XXVII Tahun C - 5 Oktober 2025

    Bacaan I : Hab. 1:2-3; 2:2-4
    Bacaan II : 2Tim. 1:6-8,13-14
    Bacaan Injil : Luk. 17:5-10

    Iman yang Hidup, Kecil Namun Mengubah Dunia

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini para murid berseru kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5). Seruan ini begitu jujur dan manusiawi, sebab mereka sadar bahwa mengikuti Yesus tidak mudah. Jalan bersama Kristus tidak selalu terang dan lapang. Ia tidak menjanjikan kemudahan, tetapi mengundang pada salib, pengampunan tanpa batas, dan pelayanan tanpa pamrih. Karena itu, para murid merasa imannya kecil dan rapuh.

    Namun jawaban Yesus sungguh mengejutkan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi, kamu dapat berkata kepada pohon ara: Tumbanglah dan tertanamlah di laut, maka pohon itu akan menuruti kamu.” (Luk 17:6)

    Yesus tidak memberi ukuran baru, tetapi menghadirkan perspektif baru. Ia tidak menuntut iman yang besar, melainkan iman yang hidup dan sejati.

    Biji sesawi adalah biji terkecil di Palestina, namun mampu tumbuh menjadi pohon besar. Dari benih kecil itulah Yesus mengajar kita bahwa kualitas iman lebih penting daripada kuantitasnya. Para ekseget Katolik seperti Raymond E. Brown menegaskan bahwa Yesus tidak sedang berbicara tentang mukjizat fisik, melainkan tentang kekuatan rohani—iman sejati yang sanggup mengubah situasi mustahil.

    Karena itu, Yesus tidak menyuruh kita berbicara kepada pohon literal, melainkan mengajak kita menghadapi pohon-pohon besar dalam hidup kita: akar dosa, kebiasaan buruk, ketakutan, dan luka batin yang selama ini menjerat. Dengan iman sejati, akar-akar itu dapat dicabut, bukan oleh kekuatan manusia, melainkan oleh kasih Allah yang berkarya di dalam diri kita.

    Rudolf Schnackenburg memandang pohon ara sebagai lambang kekuatan batin yang berakar kuat di hati manusia—hal-hal yang tidak mudah diubah oleh kehendak sendiri. Mungkin itu akar kemarahan yang disimpan bertahun-tahun, akar kesombongan yang sulit tunduk, atau akar luka batin yang menghalangi kita untuk mengampuni. Iman sejati, walau sekecil biji sesawi, menyatu dengan kuasa kasih Allah yang mampu mencabut semua akar itu.

    Yesus menegaskan, “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37). Iman sejati adalah partisipasi dalam daya cipta Allah—Allah yang mengubah kekacauan menjadi ciptaan baru, luka menjadi rahmat, dan dosa menjadi kesempatan untuk bertumbuh.

    Nabi Habakuk dalam bacaan pertama pun mengungkapkan pergumulan yang sama. Ia berteriak dalam kebingungan, “Berapa lama lagi, ya Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar?” (Hab 1:2). Namun Allah menjawab dengan lembut: “Orang benar akan hidup oleh imannya” (Hab 2:4). Inilah kunci iman sejati: bukan jalan pintas menuju hasil, melainkan kesetiaan dalam perjalanan panjang.

    Seperti biji sesawi yang memerlukan waktu untuk bertumbuh, iman juga butuh proses: dipupuk oleh doa, diuji oleh penderitaan, dan dikuatkan oleh kesetiaan. Di tengah dunia yang menuntut hasil cepat, iman mengajar kita untuk sabar menunggu proses rahmat Allah.

    St. Thomas Aquinas mengutip para Bapa Gereja: “Yesus tidak mengajarkan besarnya iman, tetapi keberadaannya yang sejati. Sebab iman yang hidup dapat memindahkan gunung keraguan dan mencabut pohon dosa.”

    Iman sejati bukan sekadar “percaya bahwa Allah ada”, melainkan percaya kepada Allah yang mengasihi. Ketika iman berakar pada kasih, ia tidak lagi sekadar ide intelektual, melainkan relasi yang mengubah hati. Dari hati yang diubah inilah mengalir kekuatan untuk mengampuni, melayani, dan berharap di tengah situasi sulit.

    Dalam bagian akhir Injil hari ini, Yesus berbicara tentang pelayan yang rendah hati: “Kami hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”

    Iman sejati tampak bukan dalam kata-kata, melainkan dalam pelayanan yang setia. Ia tidak menuntut pujian, tidak menghitung jasa, tetapi melayani karena cinta. Semakin murni iman seseorang, semakin rendah hati pula pelayanannya.

    Saudara-saudari terkasih, Iman tidak harus besar, tetapi harus hidup. Kadang kecil, namun bila sejati, ia mampu mencabut akar dosa, mengubah hati, menyembuhkan luka, dan menggerakkan dunia. Hari ini, kita tidak perlu berkata, “Tuhan, tambahkan iman kami,” tetapi, “Tuhan, hidupkanlah iman kami.”

    Iman seperti biji sesawi inilah yang membuat hidup kita berbuah—bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kasih Allah yang bekerja di dalam diri kita. Semoga kita menjadi orang beriman sejati: yang percaya walau tidak melihat, yang berharap walau di tengah kesulitan, dan yang mengasihi walau di tengah dunia yang terluka.

    Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu XXVI Tahun C - 28 September 2025

    Bacaan I : Am 6:1a,4-7
    Bacaan II : 1Tim. 6:11-16
    Bacaan Injil : Luk. 16:19-31

    Hidup Berkat, Bukan Berhala — Umat yang Hadir dan Peduli 

    Saudara-saudari terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dn kebaikan.

    Sabda Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan penting: apakah hidup kita sungguh menjadi berkat bagi orang lain, ataukah berkat yang kita miliki justru telah berubah menjadi berhala yang menutup mata terhadap sesama?

    Nabi Amos dalam bacaan pertama mengecam keras bangsa yang hidup mewah tanpa peduli pada penderitaan di sekitarnya: “Mereka berbaring di ranjang dari gading, makan domba dan anak lembu, bernyanyi-nyanyi, minum anggur dari bokor, memakai minyak terbaik, tetapi tidak peduli akan kehancuran umat.” (Am 6:4–6). Gambaran ini sangat relevan dengan zaman sekarang: dunia kita penuh kemewahan, tetapi seringkali miskin empati; banyak hiburan, tetapi sedikit belas kasih. Kita mudah terjebak pada kenyamanan diri dan lupa bahwa berkat diberikan bukan untuk ditimbun, melainkan untuk dibagikan.

    Yesus dalam Injil hari ini menampilkan kontras yang tajam antara orang kaya dan Lazarus. Orang kaya itu tidak digambarkan sebagai penjahat. Ia tidak menolak Lazarus, tidak mengusirnya. Namun ia juga tidak peduli. Di situlah letak dosanya: ketidakpedulian. Ia hidup dalam pesta, sementara di depan pintunya, seorang miskin menanti setetes kasih. Paus Fransiskus menyebut sikap ini sebagai globalisasi ketidakpedulian, ketika hati manusia beku oleh egoisme, dan mata tertutup terhadap penderitaan sesama.

    Saudara-saudari, berkat sejati tidak diukur dari seberapa banyak kita memiliki, melainkan seberapa banyak kita berbagi. Santo Basilius Agung mengingatkan: “Roti yang kau simpan adalah milik orang lapar, pakaian yang kau tumpuk adalah milik orang telanjang.” Artinya, berkat yang tidak dibagikan akan berubah menjadi beban. St. Yohanes Krisostomus menambahkan: “Kamu menghina Kristus jika kamu menghias dinding gereja dengan emas tetapi membiarkan orang miskin kelaparan.” Maka, setiap orang beriman dipanggil untuk menjadikan hidupnya saluran kasih — menghadirkan wajah Allah melalui kepekaan dan solidaritas.

    Paus Benediktus XVI dalam Deus Caritas Est menulis: “Kekayaan tanpa kasih adalah kemiskinan.” Berkat yang sejati tidak membuat kita sombong, tetapi rendah hati; tidak menutup diri, tetapi membuka pintu bagi sesama. Dunia modern sering kali mengajarkan bahwa kebahagiaan diukur dari prestasi, jabatan, atau harta. Namun Yesus menegaskan bahwa nilai sejati manusia tidak terletak pada apa yang dimiliki, melainkan pada kasih yang dihidupi.

    Yesus ingin kita menyadari: berkat adalah panggilan untuk melayani. Harta, talenta, waktu, dan kesempatan yang kita miliki bukan sekadar untuk memperindah hidup sendiri, tetapi untuk menghadirkan sukacita bagi orang lain. Santo Fransiskus dari Asisi memberi teladan ini dengan hidup sederhana dan hati yang kaya akan kasih. Ia memilih miskin agar bisa mencintai lebih besar. Kesederhanaan seperti inilah yang membebaskan hati dari ilusi kemewahan.

    Kisah orang kaya dan Lazarus juga mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbuat kasih adalah sekarang, bukan nanti. Setelah meninggal, jarak di antara mereka tidak bisa dijembatani lagi. Maka selagi hidup, marilah kita membuka mata dan hati. Banyak Lazarus modern di sekitar kita: mereka yang lapar, kesepian, kehilangan arah, atau terluka batinnya. Jangan biarkan berkat yang kita miliki menjadi penghalang untuk melihat wajah Allah dalam diri mereka.

    Paus Fransiskus mengajak kita menjadi Gereja yang “keluar,” bukan Gereja yang terkurung. “Lebih baik Gereja yang memar karena keluar, daripada Gereja yang sakit karena terkurung.” Artinya, lebih baik kita capek karena melayani, daripada nyaman tapi tidak peduli. Dunia membutuhkan Gereja yang hadir — umat yang mau berjalan bersama, berbagi kasih, dan mengulurkan tangan bagi yang lemah.

    Saudara-saudari terkasih, marilah kita memohon rahmat agar hidup kita sungguh menjadi berkat, bukan berhala. Semoga hati kita peka, tangan kita terbuka, dan langkah kita terarah kepada kasih. Dengan begitu, dunia akan melihat bahwa kita bukan hanya umat yang rajin berdoa, tetapi umat yang menghadirkan kasih Allah dalam tindakan nyata.

    Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu XXV Tahun C - 21 September 2025

    Bacaan I : Am. 8:4-7
    Bacaan II : 1Tim. 2:1-8
    Bacaan Injil : Luk. 16:1-13

    Harta: Berkat atau Berhala?

    Saudara-saudari terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Sabda Tuhan mengajak kita menaruh perhatian pada sesuatu yang sangat dekat dengan hidup kita sehari-hari: harta. Kita semua menggunakannya, kita semua membutuhkannya. Tetapi Sabda Tuhan bertanya dengan tegas: apakah harta ini menjadi berkat atau justru berubah menjadi berhala yang memperbudak kita?

    Kitab Amos menggambarkan Allah yang murka pada orang-orang kaya yang menindas orang miskin, meremehkan mereka hanya demi keuntungan. Namun, harta pada dirinya bukanlah jahat. Kitab Ulangan mengingatkan: “Dialah Tuhan, Allahmu, yang memberi kekuatan kepadamu untuk memperoleh kekayaan” (Ul 8:18).

    Harta menjadi berkat bila diterima dengan syukur dan dipakai untuk menolong orang lain. Santo Basilius Agung pernah berkata: “Roti yang kau simpan adalah milik orang lapar; pakaian yang kau tumpuk adalah milik orang telanjang.” Paus Fransiskus juga menekankan hal serupa: kekayaan yang sejati bukan diukur dari apa yang kita kumpulkan, melainkan dari kasih yang kita bagikan.

    Sebaliknya, harta menjadi berhala ketika ia menggantikan Allah sebagai pusat hidup kita. Yesus berkata dalam Injil hari ini: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). Mamon di sini bukan sekadar uang, melainkan lambang kuasa yang menuntut penyembahan.

    Paus Benediktus XVI pernah menegaskan bahwa orang yang menjadikan harta sebagai tujuan hidupnya sedang melayani “allah palsu” yang kejam, karena Mamon selalu meminta lebih dan tidak pernah puas. Inilah bahayanya: ketika harta membuat kita mengorbankan keadilan, melupakan belas kasih, dan menjauh dari Allah.

    Yesus melalui perumpamaan bendahara yang cerdik menantang kita untuk mengelola harta duniawi dengan bijak. Bukan sekadar untuk diri sendiri, melainkan untuk menghasilkan buah kekal. Harta akan menjadi alat keselamatan bila dikelola dengan jujur, transparan, dan penuh kasih. Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium mengingatkan: “Ekonomi yang sejati harus berorientasi pada kesejahteraan semua orang, bukan pada segelintir orang kaya.” Maka harta menjadi berkat bila ia dipakai untuk membangun kehidupan bersama, untuk menegakkan keadilan, dan untuk memperhatikan mereka yang kecil dan tersisih.

    St. Agustinus mengingatkan kita: “Engkau telah menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sebelum beristirahat dalam Engkau.” Hati manusia hanya menemukan damai bila Allah menjadi pusat. Jika hati lebih melekat pada harta daripada pada Allah, kita akan terus resah, takut kehilangan, iri pada orang lain, dan tak pernah puas. Tetapi bila hati tertambat pada Allah, harta tidak lagi menguasai kita, melainkan menjadi alat untuk melayani. Paus Yohanes Paulus II pernah menekankan bahwa kesederhanaan hidup adalah tanda profetis yang menyatakan bahwa “Allah saja sudah cukup.”

    Sejarah para kudus memberi teladan yang jelas. St. Fransiskus dari Asisi meninggalkan harta duniawi demi menemukan Kristus sebagai “mutiara berharga” yang tak ternilai. St. Yohanes Maria Vianney hidup dalam kesederhanaan dan mempersembahkan seluruh dirinya demi umatnya. Mereka menunjukkan bahwa harta dunia hanya punya nilai bila dijadikan sarana menuju kekudusan. Dengan cara ini, harta menjadi berkat, bukan berhala.

    Saudara-saudari, hari ini kita diajak untuk jujur menilai hati kita. Apakah harta yang kita miliki sungguh menjadi berkat yang dipakai untuk menolong sesama, ataukah ia diam-diam sudah menjadi berhala yang kita puja dan perbudak? Paus Fransiskus memberi peringatan yang sangat relevan: “Jangan biarkan dirimu diperbudak uang. Pakailah uang untuk berbuat baik, untuk mencintai, untuk membangun dunia yang lebih adil.”

    Maka marilah kita mohon rahmat agar harta yang Tuhan percayakan kepada kita sungguh menjadi berkat, bukan berhala. Semoga kita bijak mengelolanya, setia kepada Allah, dan rela berbagi demi kebaikan bersama. Dengan begitu, kita mewartakan dengan hidup kita sendiri bahwa hanya Allah yang layak menjadi Tuan kita, bukan Mamon. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hari Minggu Kitab Suci Nasional - MB XXIII Tahun C - 07 September 2025

    Bacaan I : Keb. 9:13-18
    Bacaan II :  Flm. 9b-10, 12-17
    Bacaan Injil : Luk. 14:25-33

    Hati yang Merdeka untuk Kristus

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Injil hari ini menghadirkan tuntutan Yesus yang sangat serius bagi setiap orang yang mau mengikuti-Nya: mengutamakan Dia di atas segalanya, siap memikul salib, dan berani melepaskan keterikatan pada harta. Yesus tidak sedang mencari pengikut yang setengah hati atau ikut hanya karena euforia. Ia menuntut komitmen total.

    Paus Fransiskus pernah mengingatkan: “Salib bukan dekorasi, tetapi kompas hidup seorang Kristiani.” Dengan kata lain, salib adalah arah dan gaya hidup, bukan sekadar hiasan.

    Boleh Memiliki Dunia, Hati Hanya untuk Allah

    Yesus tidak pernah berkata bahwa kita harus membuang semua yang kita miliki. Ia justru menekankan: jangan sampai harta, jabatan, atau teknologi menguasai hati kita. Kita boleh memiliki dunia, tetapi jangan biarkan dunia memiliki hati kita.

    Santo Agustinus mengingatkan perbedaan antara memakai (uti) dan menikmati (frui): segala sesuatu di dunia boleh kita gunakan sebagai sarana menuju Allah, tetapi hanya Allah sendiri yang layak dinikmati sebagai tujuan akhir. Ketika urutannya terbalik, kita jatuh ke dalam perbudakan harta, jabatan, atau gengsi.

    Keterikatan Modern yang Mengikat Hati

    Kalau kita jujur, ada banyak bentuk keterikatan zaman modern yang membuat kita sulit mengikuti Yesus dengan bebas: kecanduan media sosial yang haus akan “likes” dan komentar; gaya hidup konsumtif yang membuat kita bekerja tanpa henti demi status; jabatan yang sering membuat orang lupa melayani; bahkan rasa takut kehilangan kenyamanan yang membuat kita kompromi terhadap dosa. Semua ini adalah “berhala” modern yang seolah kecil, tetapi perlahan-lahan menguasai hati kita.

    Paus Benediktus XVI menegaskan: “Iman yang tidak berani kehilangan sesuatu tidak akan pernah benar-benar menemukan Kristus.”

    Contoh Konkret Melepaskan Hati

    Lepas dari keterikatan bukan berarti hidup tanpa apa-apa, tetapi hidup dengan hati yang bebas. Misalnya: seorang ayah boleh bekerja keras mencari rezeki, tetapi tetap pulang dengan hati yang utuh bagi keluarga, bukan tersita seluruhnya oleh pekerjaan. Seorang pejabat boleh punya kuasa, tetapi tidak memakainya untuk menindas, melainkan melayani rakyat kecil. Seorang anak muda boleh menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak gawai; ia memakainya untuk belajar, berjejaring dalam kebaikan, bahkan mewartakan Injil. Di situlah bedanya: dunia dipakai, tetapi hati tetap milik Kristus.

    Hidup sebagai Murid Sejati
    Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan menegaskan keterbatasan manusia, tetapi juga janji Roh Allah yang menuntun. Bacaan kedua dari Surat Filemon memperlihatkan bahwa Injil mengubah relasi: Onesimus yang dulu budak kini diterima sebagai saudara. Artinya, ketika hati dikuasai Kristus, cara kita bekerja, mengelola harta, dan membangun relasi akan diubah. Kita menjadi murid yang benar-benar bebas — bebas untuk mengasihi, bebas untuk melayani, bebas untuk memikul salib.

    Rumah pastor dan kantor pastoral yang kita berkati hari ini bukan sekadar bangunan untuk kenyamanan, melainkan tanda nyata kehadiran Kristus di tengah umat. Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Maka rumah ini dipanggil untuk menjadi rumah pelayanan: tempat umat menemukan telinga yang mendengar, hati yang menyambut, dan tangan yang siap membantu. Hati yang merdeka dari keterikatan duniawi akan menjadikan rumah ini bukan benteng pribadi, melainkan pondok gembala yang terbuka, sederhana, dan penuh kasih.

    Kita boleh memiliki rumah ini, tetapi hati kita hanya milik Kristus. Gedung pastoral ini menjadi pusat misi, tempat koordinasi karya, dan ruang perjumpaan iman, agar seluruh umat merasakan bahwa mereka dicintai Tuhan. Paus Fransiskus mengingatkan para imam untuk menjadi gembala yang “berbau domba,” artinya dekat dan akrab dengan umat. Dengan berkat ini, marilah kita mohon rahmat agar rumah dan kantor paroki ini sungguh dipakai untuk pelayanan, bukan hanya untuk kenyamanan, sehingga setiap langkah di dalamnya mengalirkan terang dan kasih Kristus bagi seluruh umat Allah.

    Penutup: Hati yang Merdeka

    Saudara-saudari terkasih, Yesus mengundang kita untuk memeriksa: apakah hatiku dimiliki dunia, ataukah aku sungguh milik Kristus? Kita boleh memiliki harta, jabatan, teknologi, bahkan kenyamanan; tetapi jangan biarkan itu semua memiliki hati kita. Hanya hati yang merdeka yang mampu mengikuti Kristus sampai akhir. Mari kita mohon rahmat agar hidup kita sungguh berpusat pada Yesus, sehingga kita layak disebut murid sejati, yang siap memikul salib dengan kasih dan memasuki logika Kerajaan Allah. Amin.

     

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hari Minggu Kitab Suci Nasional - MB XXIII Tahun C - 07 September 2025

    Bacaan I : Keb. 9:13-18
    Bacaan II :  Flm. 9b-10, 12-17
    Bacaan Injil : Luk. 14:25-33

    Hati yang Merdeka untuk Kristus

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Injil hari ini menghadirkan tuntutan Yesus yang sangat serius bagi setiap orang yang mau mengikuti-Nya: mengutamakan Dia di atas segalanya, siap memikul salib, dan berani melepaskan keterikatan pada harta. Yesus tidak sedang mencari pengikut yang setengah hati atau ikut hanya karena euforia. Ia menuntut komitmen total.

    Paus Fransiskus pernah mengingatkan: “Salib bukan dekorasi, tetapi kompas hidup seorang Kristiani.” Dengan kata lain, salib adalah arah dan gaya hidup, bukan sekadar hiasan.

    Boleh Memiliki Dunia, Hati Hanya untuk Allah

    Yesus tidak pernah berkata bahwa kita harus membuang semua yang kita miliki. Ia justru menekankan: jangan sampai harta, jabatan, atau teknologi menguasai hati kita. Kita boleh memiliki dunia, tetapi jangan biarkan dunia memiliki hati kita.

    Santo Agustinus mengingatkan perbedaan antara memakai (uti) dan menikmati (frui): segala sesuatu di dunia boleh kita gunakan sebagai sarana menuju Allah, tetapi hanya Allah sendiri yang layak dinikmati sebagai tujuan akhir. Ketika urutannya terbalik, kita jatuh ke dalam perbudakan harta, jabatan, atau gengsi.

    Keterikatan Modern yang Mengikat Hati

    Kalau kita jujur, ada banyak bentuk keterikatan zaman modern yang membuat kita sulit mengikuti Yesus dengan bebas: kecanduan media sosial yang haus akan “likes” dan komentar; gaya hidup konsumtif yang membuat kita bekerja tanpa henti demi status; jabatan yang sering membuat orang lupa melayani; bahkan rasa takut kehilangan kenyamanan yang membuat kita kompromi terhadap dosa. Semua ini adalah “berhala” modern yang seolah kecil, tetapi perlahan-lahan menguasai hati kita.

    Paus Benediktus XVI menegaskan: “Iman yang tidak berani kehilangan sesuatu tidak akan pernah benar-benar menemukan Kristus.”

    Contoh Konkret Melepaskan Hati

    Lepas dari keterikatan bukan berarti hidup tanpa apa-apa, tetapi hidup dengan hati yang bebas. Misalnya: seorang ayah boleh bekerja keras mencari rezeki, tetapi tetap pulang dengan hati yang utuh bagi keluarga, bukan tersita seluruhnya oleh pekerjaan. Seorang pejabat boleh punya kuasa, tetapi tidak memakainya untuk menindas, melainkan melayani rakyat kecil. Seorang anak muda boleh menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak gawai; ia memakainya untuk belajar, berjejaring dalam kebaikan, bahkan mewartakan Injil. Di situlah bedanya: dunia dipakai, tetapi hati tetap milik Kristus.

    Hidup sebagai Murid Sejati
    Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan menegaskan keterbatasan manusia, tetapi juga janji Roh Allah yang menuntun. Bacaan kedua dari Surat Filemon memperlihatkan bahwa Injil mengubah relasi: Onesimus yang dulu budak kini diterima sebagai saudara. Artinya, ketika hati dikuasai Kristus, cara kita bekerja, mengelola harta, dan membangun relasi akan diubah. Kita menjadi murid yang benar-benar bebas — bebas untuk mengasihi, bebas untuk melayani, bebas untuk memikul salib.

    Rumah pastor dan kantor pastoral yang kita berkati hari ini bukan sekadar bangunan untuk kenyamanan, melainkan tanda nyata kehadiran Kristus di tengah umat. Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Maka rumah ini dipanggil untuk menjadi rumah pelayanan: tempat umat menemukan telinga yang mendengar, hati yang menyambut, dan tangan yang siap membantu. Hati yang merdeka dari keterikatan duniawi akan menjadikan rumah ini bukan benteng pribadi, melainkan pondok gembala yang terbuka, sederhana, dan penuh kasih.

    Kita boleh memiliki rumah ini, tetapi hati kita hanya milik Kristus. Gedung pastoral ini menjadi pusat misi, tempat koordinasi karya, dan ruang perjumpaan iman, agar seluruh umat merasakan bahwa mereka dicintai Tuhan. Paus Fransiskus mengingatkan para imam untuk menjadi gembala yang “berbau domba,” artinya dekat dan akrab dengan umat. Dengan berkat ini, marilah kita mohon rahmat agar rumah dan kantor paroki ini sungguh dipakai untuk pelayanan, bukan hanya untuk kenyamanan, sehingga setiap langkah di dalamnya mengalirkan terang dan kasih Kristus bagi seluruh umat Allah.

    Penutup: Hati yang Merdeka

    Saudara-saudari terkasih, Yesus mengundang kita untuk memeriksa: apakah hatiku dimiliki dunia, ataukah aku sungguh milik Kristus? Kita boleh memiliki harta, jabatan, teknologi, bahkan kenyamanan; tetapi jangan biarkan itu semua memiliki hati kita. Hanya hati yang merdeka yang mampu mengikuti Kristus sampai akhir. Mari kita mohon rahmat agar hidup kita sungguh berpusat pada Yesus, sehingga kita layak disebut murid sejati, yang siap memikul salib dengan kasih dan memasuki logika Kerajaan Allah. Amin.

     

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu Biasa XXII Tahun C - 31 Agustus 2025

    Bacaan I : Sir. 3:17-18,20,28-29
    Bacaan II :  Ibr. 12:18-19,22-24a
    Bacaan Injil : Luk. 14:1,7-14

    Kerendahan Hati dan Kasih Tanpa Pamrih: Jalan Masuk Kerajaan Allah

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Injil hari ini menampilkan dua pesan yang tajam dari Yesus.
    Pertama, Ia mengoreksi kecenderungan manusia mencari tempat terhormat: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan; barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

    Kedua, Ia menantang egoisme relasional: jangan hanya mengundang mereka yang bisa membalas, tetapi undanglah mereka yang miskin, cacat, lumpuh, dan buta — yang tidak mampu membalas sama sekali.

     

    Kedua pesan ini bertemu dalam satu titik: hanya kerendahan hati dan kasih tanpa pamrih yang membuka jalan menuju logika Kerajaan Allah. Kerendahan hati membersihkan hati dari kesombongan; kasih tanpa pamrih membersihkan kasih dari kepentingan.

    Namun, saudara-saudari, apakah hanya dua hal ini syarat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Bacaan lain hari ini memberi perspektif lebih luas. Sirakh menegaskan: “Semakin besar engkau, semakin harus engkau merendah, supaya engkau mendapat kasih karunia di hadapan Tuhan” (Sir 3:18).

    Surat kepada orang Ibrani mengingatkan bahwa kita dipanggil bukan kepada gunung yang menakutkan, melainkan ke hadirat Allah yang penuh belas kasih. Jadi, kerendahan hati dan kasih tanpa pamrih memang inti, tetapi keduanya tidak berdiri sendiri.

    Mereka terkait erat dengan pertobatan, iman, dan kerahiman. Santo Agustinus berkata: “Jalan menuju surga sempit bukan karena jalannya kecil, tetapi karena orang yang membawanya terlalu besar oleh kesombongan.” Artinya, pintu sempit hanya bisa dilalui hati yang sederhana, yang rela bertobat dan percaya penuh kepada Tuhan.

    Paus Fransiskus sering mengingatkan bahaya “kekristenan kosmetik” — iman yang indah di luar tetapi rapuh di dalam. Orang yang hanya mencari kehormatan atau memberi demi pamrih terjebak dalam kekristenan kosmetik. Sebaliknya, iman sejati menuntut keotentikan: kerendahan hati yang jujur, kasih yang tulus, serta keberanian hidup dalam pertobatan terus-menerus.

    Paus Benediktus XVI menambahkan: “Iman tidak bisa hanya menjadi adat istiadat, tetapi harus menjadi perjumpaan nyata dengan Kristus yang mengubah hidup.”

    Saudara-saudari, Injil ini juga menegur kita dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia modern, banyak “tempat terhormat” yang kita kejar: status sosial, jumlah pengikut di media sosial, kekuasaan, bahkan pengaruh dalam Gereja.

    Banyak pula “undangan pamrih” yang kita lakukan: kita berbuat baik agar dipuji, agar mendapat imbalan, atau sekadar untuk menjaga gengsi. Namun Yesus berkata dengan jelas: kasih yang sejati adalah kasih yang memberi tanpa balas, karena di situlah kita menyerupai kasih Allah sendiri.

    “Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Rm 5:5) — kasih yang murah hati, tanpa syarat, tanpa pamrih.

    Karena itu, hari ini kita dipanggil untuk masuk ke dalam logika Kerajaan Allah: dengan kerendahan hati yang menanggalkan kesombongan, dengan kasih tanpa pamrih yang menanggalkan kepentingan, dengan pertobatan yang menanggalkan dosa, dengan iman yang teguh, dan dengan kerahiman yang rela mengampuni.

    Semuanya bermuara pada satu hal: hidup yang berpusat pada Kristus, bukan pada diri sendiri. Inilah syarat sejati untuk ikut dalam perjamuan Kerajaan Allah.

    Saudara-saudari terkasih, marilah kita memohon rahmat agar tidak terjebak pada kehormatan palsu dan kasih yang berhitung untung-rugi.

    Mari kita belajar rendah hati seperti Kristus yang “mengosongkan diri-Nya” (Flp 2:7), dan mengasihi seperti Dia yang memberi diri sampai tuntas di kayu salib.

    Dengan begitu, kita sungguh siap mendengar janji Yesus: “Engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu Biasa XXI Tahun C - 24 Agustus 2025

    Bacaan I : Yes. 66:18-21
    Bacaan II :  Ibr. 12:5-7,11-13
    Bacaan Injil : Luk. 13:22-30

    Berjuang Masuk Melalui Pintu yang Sempit

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit” (Luk 13:24). Latar belakang pernyataan Yesus ini muncul dari konteks di mana orang-orang Yahudi pada zaman-Nya merasa diri mereka sudah “aman” hanya karena menjadi bagian dari umat pilihan atau karena secara lahiriah menaati hukum Taurat. Yesus ingin meluruskan anggapan itu: keselamatan tidak otomatis datang dari status etnis, tradisi, atau kedekatan formal dengan Bait Allah, melainkan dari pertobatan hati dan kesetiaan hidup. Karena itu Ia memakai gambaran “pintu sempit” untuk menunjukkan bahwa jalan menuju Kerajaan Allah menuntut perjuangan pribadi, askese, kerendahan hati, dan kesediaan meninggalkan keterikatan pada dosa serta egoisme. Dengan kata lain, Yesus menekankan bahwa keselamatan adalah undangan yang universal, tetapi tanggapannya menuntut kesungguhan, bukan hanya sekadar klaim atau identitas luar.

    Yesus menggambarkan pintu itu sempit, sebab hanya bisa dilewati oleh mereka yang rela merendahkan diri, menanggalkan beban ego, kesombongan, dendam, dan keterikatan pada harta. Santo Agustinus dengan tajam berkata: “Jalan menuju surga sempit bukan karena jalannya kecil, tetapi karena orang yang membawanya terlalu besar oleh kesombongan.” Betapa sering kita gagal masuk, bukan karena Tuhan menutup pintu, tetapi karena kita enggan melepaskan beban yang kita peluk.

    Bacaan pertama dari Nabi Yesaya memperlihatkan bahwa keselamatan terbuka bagi semua bangsa dan bahasa. Tetapi undangan universal ini menuntut tanggapan pribadi: apakah kita sungguh mau menyesuaikan hidup dengan kehendak Tuhan? Sedangkan Surat kepada orang Ibrani menegaskan bahwa jalan menuju Kerajaan Allah bukanlah jalan instan. Tuhan mendidik kita melalui disiplin iman: doa yang konsisten, pelayanan yang tulus, kesabaran dalam penderitaan. Paus Benediktus XVI pernah mengingatkan: “Allah tidak menjanjikan jalan yang mudah, tetapi menjanjikan bahwa Ia menyertai kita dalam setiap perjuangan menuju kebaikan.”

    Saudara-saudari, Yesus juga memberi peringatan yang keras: banyak yang akan berseru “Tuhan, Tuhan,” tetapi ditolak karena hidup mereka tidak sejalan dengan Injil. Artinya, keaktifan lahiriah — hadir di Misa, ikut devosi, sibuk dalam kegiatan Gereja — tidak otomatis menjamin keselamatan bila tidak diiringi pertobatan hati. Santo Yohanes Krisostomus menegaskan: “Tidak cukup mendengar Injil, yang dibutuhkan adalah melakukannya. Sebab mendengar tanpa melakukan hanyalah menambah penghukuman.” Mendengar tanpa melakukan hanya seperti membangun rumah di atas dasar pasir.

    Paus Fransiskus dalam sebuah homili berkata: “Pintu sempit itu adalah Kristus sendiri. Untuk masuk, kita harus mengecilkan diri, membiarkan kesombongan lenyap. Pintu itu terbuka lebar, tetapi hanya kerendahan hati yang bisa melewatinya.” Inilah logika rohani yang berlawanan dengan dunia: yang meninggikan diri akan direndahkan, yang merendahkan diri akan ditinggikan. Santa Teresa dari Kalkuta menambahkan dengan sederhana: “Hanya dengan kasih yang rendah hati kita bisa masuk surga.”

    Saudara-saudari, marilah kita bertanya: apa yang menjadi “bawaan berat” dalam hidup kita yang membuat kita sulit masuk melalui pintu sempit? Apakah ambisi, iri hati, gaya hidup hedonis, atau mungkin keengganan untuk mengampuni? Mari kita mohon rahmat Tuhan agar kita berani meletakkannya di kaki-Nya. Sebab, seperti Yesus tegaskan, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

    Maka, janganlah kita takut pada pintu sempit itu. Justru di sanalah jalan menuju sukacita sejati. Marilah kita berjuang dengan kerendahan hati, dengan kasih yang tulus, dan dengan iman yang teguh. Dengan Maria, Ratu Surga, yang hidupnya adalah teladan pintu sempit dalam “ya” yang total kepada Allah, kita pun diarahkan kepada Kristus Sang Jalan. Dan kelak, ketika hari panggilan kita tiba, semoga kita diterima masuk ke dalam pesta Kerajaan-Nya, bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai sahabat yang setia. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    HARI RAYA KEMERDEKAAN RI 80 TAHUN - 17 Agustus 2025

    Bacaan I : Sir. 10:1-8
    Bacaan II : 1Ptr. 2:13-17
    Bacaan Injil : Mat. 22:15-21

    “Mengasihi Tanah Air, Mengabdi Tuhan – Menuju Kemerdekaan Sejati”

    1. Pendahuluan – Kemerdekaan yang Diperjuangkan

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Hari ini kita bersyukur merayakan 80 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Pagi 17 Agustus 1945, di sebuah rumah sederhana di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, Bung Karno dan Bung Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia…”

    Kata-kata itu menggetarkan jiwa bangsa dan menggema ke seluruh dunia. Namun, di balik proklamasi itu ada darah para pejuang yang tumpah, air mata para ibu yang berdoa, dan nyawa yang rela dikorbankan. Kemerdekaan ini bukan hadiah, melainkan buah dari perjuangan tanpa pamrih, yang mempersatukan rakyat dari berbagai suku, bahasa, dan agama dalam satu tekad: Indonesia merdeka.

    2. Kemerdekaan yang Diuji – Realitas Zaman Kita 
    Delapan puluh tahun kemudian, kita patut bertanya: apakah kita sungguh merdeka? Secara politik, kita bebas dari penjajahan asing. Namun secara moral dan rohani, banyak dari kita masih terjajah oleh korupsi, keserakahan, kebencian, kebohongan, dan ketidakpedulian. Polarisasi politik memecah belah bangsa; hoaks merusak kepercayaan; ketidakadilan ekonomi memperlebar jurang kaya-miskin; dan kerusakan lingkungan mengancam masa depan anak cucu kita.

    Bung Hatta pernah berkata: “Kemerdekaan hanyalah jembatan; yang di seberangnya adalah masyarakat adil dan makmur.” Jembatan itu sudah kita lewati, tetapi apakah kita sudah sampai pada tujuannya? Jawabannya tergantung pada kemerdekaan hati kita—apakah kita sungguh bebas dari egoisme, iri hati, dan ketidakpedulian.

    3. Hikmah Filsafat – Sokrates dan Kemerdekaan Sejati 
    Filsuf Yunani Sokrates pernah menegaskan bahwa kemerdekaan sejati tidak terletak pada kuasa melakukan apa saja yang diinginkan, tetapi pada kemampuan menguasai diri dan hidup dalam kebenaran. Orang yang tidak mampu menguasai dirinya, kata Sokrates, “adalah budak, walaupun ia mungkin seorang raja.”

    Bagi Sokrates, kebebasan tidak lahir dari memuaskan hawa nafsu, melainkan dari pengekangan diri demi kebajikan. Ia memilih menderita ketidakadilan daripada melakukan ketidakadilan, karena integritas lebih berharga daripada keuntungan sesaat. Inilah kemerdekaan yang tidak dapat dirampas oleh siapapun—kemerdekaan yang berakar pada kebijaksanaan, kebaikan, dan penguasaan diri.

    4. Pesan Kitab Suci – Pemimpin Bijak, Rakyat Damai 
    Bacaan pertama, Sirakh 10:1–8, mengingatkan: “Pemerintah yang bijaksana menjamin ketenteraman rakyat, dan pemerintahan seorang bijak akan teratur.” Sebaliknya, pemimpin yang egois akan menyeret bangsanya ke kehancuran.

    Bacaan kedua, 1 Petrus 2:13–17, menegaskan: “Hiduplah sebagai orang merdeka, dan janganlah menggunakan kemerdekaan itu sebagai selubung untuk kejahatan, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” Rasul Petrus mengajarkan dua kewajiban yang tak terpisahkan:

    1. Kepada Negara – taat hukum, menjaga persatuan, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. 
    2. Kepada Tuhan – takut akan Allah, hidup kudus, dan menjadi saksi kasih di mana pun kita berada.

    Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari perintah keempat: menghormati “ibu pertiwi” yang melahirkan kita. Paus Fransiskus menambahkan dalam Fratelli Tutti bahwa patriotisme sejati tidak menutup diri dari bangsa lain, tetapi membangun persaudaraan lintas batas.

    5. Prinsip Emas Yesus – Fondasi Kemerdekaan yang Berkat 
    Yesus memberi pedoman universal: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Prinsip ini adalah inti dari keadilan dan kasih—menempatkan diri pada posisi orang lain sebelum bertindak. Bayangkan sebuah Indonesia di mana pemimpin selalu memikirkan rakyat sebelum dirinya; warga saling menghormati tanpa memandang perbedaan; dan keberagaman menjadi kekuatan pemersatu. Kemerdekaan tanpa kasih hanyalah kebebasan yang hampa; tetapi kemerdekaan yang diwarnai kasih akan menjadi berkat bagi semua.

    6. Penutup – Menjadi Penjaga Api Kemerdekaan Sejati 
    Saudara-saudari terkasih, Kemerdekaan yang kita rayakan hari ini adalah anugerah Tuhan sekaligus amanat sejarah. Kemerdekaan politik telah kita miliki; kini kita dipanggil menuju kemerdekaan sejati—kemerdekaan hati yang menguasai diri, memilih kebaikan, hidup dalam kebenaran, dan mengabdi kepada Tuhan serta sesama.

    Mari kita menjadi penjaga api kemerdekaan: jujur dalam bekerja, tulus dalam mengasihi, setia dalam iman, dan berani dalam membela kebenaran. Dengan begitu, kita bukan hanya menjadi warga negara yang baik, tetapi juga murid Kristus yang setia.

    Di hari bersejarah ini, marilah kita berseru bersama: Tuhan, berkatilah Indonesia. Jadikan kami anak-anak-Mu yang merdeka hati, teguh iman, setia melayani, dan tulus mengasihi. Merdeka! Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga - 10 Agustus 2025

    Bacaan I : Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab
    Bacaan II : 1Kor. 15:20-26
    Bacaan Injil : Lukas 1:39-56

    “Maria Bergegas – Gereja yang Hidup”

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Hari ini kita merayakan salah satu perayaan besar Gereja, Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Gereja mengajarkan bahwa Maria, Bunda Tuhan kita, di akhir hidupnya di dunia diangkat ke surga, tubuh dan jiwanya, menikmati kemuliaan bersama Kristus. Ini adalah pengharapan besar bagi kita semua—bahwa hidup yang setia kepada Allah akan berakhir bukan di kuburan, tetapi dalam pelukan Bapa di surga.

    Namun Injil hari ini tidak langsung menceritakan Maria diangkat ke surga. Justru yang kita dengar adalah kisah sederhana namun penuh makna: Maria bergegas ke pegunungan Yudea untuk mengunjungi Elisabet. Kata bergegas di sini penting. Dalam bahasa aslinya, Lukas menggunakan frasa meta spoudēs—bukan sekadar berjalan cepat, tetapi melangkah dengan semangat, digerakkan oleh kasih dan sukacita. Maria baru saja menerima kabar luar biasa dari malaikat bahwa ia akan mengandung Mesias. Ia bisa saja tinggal di rumah, memikirkan diri sendiri. Tetapi Maria memilih keluar dari kenyamanannya untuk melayani orang lain.

    Saudara-saudari, Maria yang bergegas ini adalah gambaran Gereja yang hidup—Gereja yang tidak hanya berkutat pada urusan internal, tetapi yang keluar dari dirinya untuk bertemu, melayani, dan membawa Kristus kepada orang lain. Paus Benediktus XVI menyebut Maria sebagai bintang penginjilan, karena ia membawa Yesus bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kehadiran yang penuh kasih. Paus Fransiskus menambahkan bahwa Gereja sejati adalah Gereja yang “berjalan keluar” (una Chiesa in uscita), tidak tinggal diam, tetapi mendatangi yang lemah, yang sakit, yang menderita, dan yang tersisih.

    Dorongan Maria untuk bergegas lahir dari tiga kekuatan rohani yang juga harus menjadi milik kita:

    1. Kasih yang ingin melayani – karena kasih sejati tidak bisa menunggu.
    2. Sukacita yang ingin dibagikan – karena sukacita Injil bertambah saat dibagikan.
    3. Ketaatan pada Sabda Allah – karena setiap langkah pelayanan adalah jawaban atas panggilan Tuhan.

    Saudara-saudari, Perayaan Maria Diangkat ke Surga mengingatkan kita bahwa pelayanan bukanlah beban yang menguras hidup, tetapi jalan yang memuliakan kita. Maria mengajar kita bahwa setiap langkah untuk melayani sesama adalah langkah menuju surga. Kalau kita mau sampai pada kemuliaan seperti Maria, kita pun harus belajar “bergegas” dalam karya kasih: mendatangi yang membutuhkan, mengulurkan tangan pada yang terjatuh, dan membawa Kristus dalam perkataan maupun perbuatan.

    Maka hari ini, marilah kita meneladani Bunda Maria: keluar dari kenyamanan, bergerak dengan semangat, dan membawa Kristus ke mana pun kita pergi. Sebab seperti Maria, kita pun dipanggil untuk menjadi Gereja yang hidup—Gereja yang bergegas untuk mengasihi. Dan di akhir hidup kita, semoga Tuhan berkata: “Mari masuk ke dalam kemuliaan-Ku,” seperti Ia menyambut Maria di surga. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu Biasa XVIII - 03 Agustus 2025

    Bacaan I : Pengkhotbah. 1:2; 2:21-23 (klik untuk membacanya)
    Bacaan II : Kolose 3:1-5.9-11
    Bacaan Injil : Lukas 12:13-21

    Apa yang Kau Cari dalam Hidup Ini? Jangan Sampai Kesia-siaan Membungkus Keberhasilan

    Pendahuluan: Dunia Penuh Pencarian, Tapi Tidak Semua Bernilai

    Saudara-saudari terkasih,semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
    Kita semua sedang dan selalu akan hidup dalam pencarian. Ada yang mengejar penghidupan yang lebih baik, ada yang membangun usaha, ada yang memperjuangkan anak-anaknya, atau membangun pelayanan dan karya. Semua sah. Semua baik.

    Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita merenung dalam: “Apa yang sebenarnya sedang kita cari dalam hidup ini?” Dan apakah yang kita kejar itu sungguh bernilai kekal atau hanya tampak megah namun hampa?

    1. Kesia-siaan yang Tidak Terasa Tapi Mematikan Jiwa

     Kitab Pengkhotbah menyapa kita dengan jujur: “Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia!” Banyak orang hidup dengan bekerja keras siang malam, tetapi akhirnya merasa kosong dan lelah jiwa.

    Yesus dalam Injil Lukas 12:13–21 bercerita tentang seorang yang sukses besar—ladangnya menghasilkan panen melimpah. Ia berkata pada dirinya, “Tenanglah, makanlah, bersenang-senanglah.”

    Namun Allah menjawab: “Hai engkau orang bodoh, malam ini juga jiwamu akan diambil darimu!” Ia lupa satu hal penting: bahwa hidup ini sementara, dan jiwa harus dipersiapkan untuk kekekalan. 

    2. Pencarian-Pencarian Sia-sia Zaman Ini

    Zaman sekarang makin canggih, tetapi hati manusia makin lelah. Banyak orang terjebak dalam pencarian yang tampak menjanjikan, namun kosong secara rohani:
    a. Mengejar kekayaan dengan cara curang atau merugikan orang lain. “Asal kaya, tak peduli cara.” Tapi apa artinya kaya kalau hati keras dan tak ada damai?
    b. Mengejar citra dan pengakuan di media sosial. Kita hidup demi penilaian orang. Tapi Allah melihat hati, bukan tampilan.
    c. Mengejar karier dan prestasi tanpa makna pelayanan. Hebat di luar, tetapi rapuh dan kering dalam jiwa. Apa gunanya?
    d. Mengejar kebebasan tanpa arah. Tak mau terikat. Tapi akhirnya terikat oleh kesepian dan dosa. Yesus menegaskan: Jangan hanya mengumpulkan harta di bumi, tetapi jadilah kaya di hadapan Allah. (Luk 12:21)

    3. Hidup Baru Menurut Roh: Arahkan Pencarianmu ke Atas

    Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus mengajak kita: “Carilah perkara yang di atas… matikanlah segala sesuatu yang duniawi.” (Kol 3:1–5) 

    Hidup rohani bukan pelarian dari dunia, tetapi arah bagi dunia. Bekerja boleh, tetapi jangan lupa berdoa. Mengejar rezeki sah, tetapi jangan mengabaikan kasih dan kejujuran. Membangun masa depan itu baik, tapi jangan mengorbankan hidup kekal.

    Penutup: Mari Hidup Lebih Bijaksana dan Bernilai Kekal

    Mazmur 90 berkata: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, supaya kami beroleh hati yang bijaksana.”
     Orang bijak bukan yang paling kaya, paling viral, atau paling hebat. Orang bijak adalah dia yang tahu: bahwa hidup ini singkat, dan bahwa hanya kasih, kebaikan, dan kebenaran yang akan kekal.

    Aksi Nyata Minggu Ini:
    1. Renungkan kembali: Apa yang paling aku kejar dalam hidup ini?
    2. Periksa: Apakah caraku mengejar itu sesuai dengan kehendak Tuhan?
    3. Komitmenkan dirimu untuk menjadi “kaya di hadapan Allah”: Lewat kejujuran, kesederhanaan, dan kasih terhadap sesama.

    Peneguhan: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” 
    (Mrk 8:36) “Jadilah pribadi yang mencari Tuhan lebih dari segalanya—dan kamu tak akan sia-sia.” Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

    Mari kita jadikan Hari Raya Natal 2025 & Tahun Baru 2026 sebagai momentum kebangkitan harapan. Allah sudah datang untuk menyelamatkan kita, sekarang giliran kita menjadi terang dan pembawa harapan bagi dunia.

    Dekrit Penutupan Tahun Yubileum 2025 di KAM

    DEKRET USKUP KEUSKUPAN AGUNG MEDAN
    No.:949/YUBILEUM/KA/XII/’25

    TENTANG:
    PENUTUPAN TAHUN YUBILEUM 2025
    DI KEUSKUPAN AGUNG MEDAN

    1. Dengan penuh syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus, Gereja yang berziarah di Keuskupan Agung Medan telah mengambil bagian dalam perayaan Tahun Yubileum Biasa 2025 dengan tema “Peziarah Pengharapan”, yang dimaklumkan oleh Paus Fransiskus melalui Bulla Spes non confundit yang diterbitkan pada 9 Mei 2024. Sehubungan dengan itu Penitensiaria Apostolik telah menerbitkan dekrit tentang tata cara perolehan indulgensi penuh bagi umat beriman sepanjang Tahun Yubileum 2025.

    2. Keuskupan Agung Medan, dalam semangat ketaatan dan persekutuan dengan Takhta Suci, telah membuka secara resmi perayaan Tahun Yubileum di Gereja Katedral Santa Perawan Maria yang Dikandung tanpa Noda pada Sabtu, 28 Desember 2024 dan menetapkan beberapa gereja dan gua Maria sebagai tempat suci yang bisa dikunjungi umat dalam rangka ziarah untuk mendapatkan indulgensi selama tahun Yubileum biasa 2025 sebagai tambahan kepada pintu suci di Gereja Katedral Medan.

    3. Kini, ketika mendekati berakhirnya masa khusus Yubileum, sebagai gembala Gereja partikular Keuskupan Agung Medan, kami memandang perlu untuk menegaskan secara resmi tata cara penutupan Tahun Yubileum 2025 di seluruh wilayah pastoral Keuskupan Agung Medan. Semoga rahmat yang telah dianugerahkan selama Tahun Suci ini tidak berhenti pada perayaan lahiriah, melainkan terus dihayati hingga berbuah dalam hidup iman serta karya pelayanan umat Allah sehari-hari.

    4. Maka, demi kemuliaan Tuhan dan demi kebaikan rohani umat Allah di Keuskupan Agung Medan, dengan ini kami menetapkan bahwa perayaan resmi penutupan Tahun Yubileum 2025 di Keuskupan Agung Medan diselenggarakan pada Hari Minggu Tanggal 28 Desember 2025 dalam Perayaan Ekaristi Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yosef, mengambil tempat di Gereja Katedral Santa Perawan Maria yang Dikandung tanpa Noda, Medan sesuai dengan ketetapan bulla spes non confundit.

    5. Dalam perayaan ini akan dilaksanakan ritus penutupan lambang-lambang Yubileum, termasuk penutupan secara simbolis “Pintu Rahmat Yubileum” atau tanda lain yang selama ini digunakan selama tahun Yubileum. Ritus tersebut menjadi tanda bahwa masa khusus pengaplikasian indulgensi penuh dan perayaan Yubileum di Gereja partikular Keuskupan Agung Medan telah berakhir, sementara rahmat dan buah rohaninya tetap mengalir dalam kehidupan sehari-hari.

    6. Para Pastor Paroki yang menggembalakan Gereja dan tempat yang ditetapkan secara resmi sebagai tempat suci pada hari yang sama, Minggu, 28 Desember 2025, diminta untuk menyelenggarakan Perayaan Ekaristi Syukur Penutupan Tahun Yubileum 2025 di tempatnya masing-masing. Dalam perayaan tersebut hendaknya diadakan ritus sederhana penutupan lambang-lambang Yubileum yang ada di gereja dan tempat tersebut dengan tetap menjaga kesederhanaan, keluhuran dan martabat liturgi suci.

    7. Kami mengajak seluruh paroki, stasi, komunitas hidup bakti dan kelompok kategorial di Keuskupan Agung Medan untuk Merayakan Ekaristi Pesta Keluarga Kudus dengan intensi syukur atas segala rahmat yang diterima selama Tahun Yubileum 2025 pada hari Minggu, 28 Desember 2025.

    8. Di dalam perayaan tersebut hendaknya didoakan Doa Umat khusus yang mengungkapkan syukur atas Tahun Rahmat dan agar buahnya tetap tinggal dalam hati umat;

    9. Kami menyemangati umat untuk memperbaharui komitmen menghidupi karya-karya belas kasih rohani dan jasmani, kesetiaan pada perayaan Ekaristi dan penerimaan Sakramen Tobat, serta keterlibatan nyata sebagai saksi harapan pasti di tengah masyarakat yang majemuk.

    10. Di tempat-tempat yang memungkinkan, hendaknya diadakan pula adorasi Sakramen Mahakudus atau ibadat devosi singkat (seperti rosario, jalan salib, ibadat tobat atau bentuk doa devosi lain) yang menyatakan syukur atas Tahun Yubileum dan peneguhan panggilan umat sebagai “peziarah pengharapan” di tengah konteks sosial-budaya Sumatera Utara yang sedang dilanda bencana alam.

    11. Dengan ini, segala ketentuan khusus di tingkat Keuskupan Agung Medan yang bertentangan dengan isi dekrit ini, sejauh menyangkut perayaan dan penutupan Tahun Yubileum 2025, dinyatakan dicabut.

    Ditetapkan di Medan
    Pada 24 Desember 2025
    Deus Meus et Omnia,

    †Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
    Uskup Keuskupan Agung Medan

     

    Selamat Jalan Sr. M. Nirmala Arulay, SCMM

    Keuskupan dengan duka cita yang mendalam menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Sr. M. Nirmala Arulay, SCMM. Almarhumah telah mempersembahkan hidupnya secara total dalam pengabdian kepada Tuhan melalui panggilan hidup bakti, dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan semangat pelayanan yang tulus bagi Gereja dan sesama. Keuskupan bersyukur atas teladan iman, doa, dan karya pelayanannya yang telah memperkaya kehidupan umat. Semoga Allah Bapa yang Maharahim menerima Sr. M. Nirmala Arulay, SCMM dalam damai dan kebahagiaan abadi di rumah-Nya, serta menghibur keluarga, kongregasi, dan semua yang berduka dengan pengharapan akan kebangkitan.

    Dukacita dari Kongregasi SCMM Sebelumnya:
    • Sr. M. Fransisca Sinaga SCMM (27 Nov 2024) 70 Tahun
    • Sr. M. Alberta Telaumbanua, SCMM (07 Nov 2024) 92 Tahun
    • Sr. M. Lambertin Manalu, SCMM (11 Okt 2024) 60 Tahun

    Pesan Natal 2025

    PESAN NATAL 2025
    “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga dan Masyarakat yang Terluka”
    (Bdk. Matius 1:21-24)

    Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

    Natal bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi misteri agung inkarnasi Allah yang hadir dan tinggal di tengah dunia yang terluka. Dalam Injil Matius, kita mendengar malaikat berkata kepada Yusuf: "Maria akan melahirkan seorang anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." (Mat 1:21). Inilah inti Natal: Allah hadir untuk menyelamatkan, bukan dari jauh, tetapi dari dalam luka umat manusia.

    Di tengah peristiwa kelahiran-Nya, Allah tidak memilih istana, tetapi palungan; bukan kemewahan, tetapi kesederhanaan. Seperti yang dikatakan Yohanes, “Sabda telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Allah hadir dalam keluarga sederhana di Betlehem, memberi pesan kuat bagi kita: Allah hadir dalam keluarga-keluarga kita, khususnya yang sedang menderita, terpinggirkan, dan dilanda bencana.

    Solidaritas Sebagai Jalan Pertobatan Natal

    Natal sejati bukanlah tentang gemerlap lampu, dekorasi, dan pesta, tetapi tentang pertobatan yang melahirkan solidaritas. Paus Benediktus XVI dalam Spe Salvi mengingatkan bahwa “pengharapan Kristiani tidak pernah bersifat individualistis, tetapi selalu bersifat bersama, membangun dunia baru bersama Kristus dan orang lain.” (SS 14).

    Maka, di tengah bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, kita tidak dapat merayakan Natal hanya dengan liturgi yang indah atau makanan yang lezat. Kita dipanggil untuk menjadikan Natal sebagai peristiwa transformasi hidup, membuka rumah dan hati bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal, yang kelaparan, yang putus asa.

    Yesus sendiri bersabda, “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40). Maka setiap tindakan kasih kepada para pengungsi, anak-anak korban bencana, petani yang kehilangan mata pencaharian, adalah tindakan menyambut Kristus yang lahir.

    Membangun Harapan di Dunia yang Terluka

    Dalam Evangelii Gaudium, Paus Fransiskus menyampaikan bahwa “Ketika kita mengenal kasih Allah yang menyelamatkan, kita sadar bahwa hidup tidak bisa sama lagi. Kita dipanggil untuk menjadi murid-murid misioner yang membawa Injil ke tengah dunia yang penuh luka.” (EG 3). Gereja tidak boleh bersikap netral di hadapan penderitaan.

    Pesan ini semakin kuat ketika kita membaca seruan Laudato Si’ yang menegaskan: “Teriakan bumi dan teriakan orang miskin adalah satu dan sama.” (LS 49). Maka pertobatan ekologis dan sosial adalah jalan Natal kita bersama. Jangan sampai kita hanya bersedih sesaat, lalu kembali hidup tanpa perubahan. Dunia menantikan umat beriman yang berani berubah dan menyembuhkan.

    Gereja dipanggil menjadi tanda harapan dan kasih bagi dunia yang terluka, seperti ditekankan dalam Compendium of the Social Doctrine of the Church (CSDC 4). Ini bukan panggilan tambahan, melainkan jati diri Gereja sebagai Tubuh Kristus. Maka, marilah kita hadir di tengah penderitaan masyarakat sebagai “sahabat pengharapan” dan agen pemulihan.

    Penutup: Keluarga sebagai Taman Harapan

    Natal adalah undangan bagi setiap keluarga untuk menjadi tempat kelahiran harapan. Di tengah runtuhnya nilai kekeluargaan karena egoisme dan konsumerisme, kita diundang untuk membangun rumah yang menjadi oase kasih, pengampunan, dan kepedulian.

    Sebagaimana Yusuf dan Maria merawat Yesus dalam segala keterbatasan, demikian pula keluarga-keluarga Kristen di Sumatera, dari pedalaman Aceh hingga lembah Minang, dari desa pesisir Sibolga hingga kampung-kampung di Tanah Karo, dipanggil menjadi tempat di mana Kristus hadir dan tumbuh.

    Mari kita jadikan Natal 2025 sebagai momentum kebangkitan harapan. Allah sudah datang untuk menyelamatkan kita, sekarang giliran kita menjadi terang dan pembawa harapan bagi dunia.

    Selamat Natal 2025.
    Damai Kristus tinggal di keluargamu.
    Harapan Allah menyala dalam tindakan kasihmu.

    Deus Meus et Omnia,
    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
    Uskup Keuskupan Agung Medan

    Syukur atas 26 Tahun Imamat Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Selamat Ulang Tahun Tahbisan Imamat ke-26, Mgr. Kornelius Sipayung - Uskup Agung Medan.
    Syukur atas rahmat dan kasih Tuhan yang tercurah bagi Bapa Uskup.
    Semoga tetap sehat dan terus memancarkan sukacita Iman dalam karya pengembalaan.

    Per 11 Des Bantuan Bencana Alam Tahun 2025

    0
    Salve.
    Keuskupan Agung Medan bersama seluruh Saudara-i yang terdampak bencana alam di 3 Keuskupan (Medan, Sibolga, Padang), menyampaikan terima kasih kepada Donatur yg telah membantu korban.
    Kami informasikan dana terkumpul hingga per 11 Des 2025, sebesar:
    Rp.1,-

    Semoga Tuhan memberkati Saudara-i semua.
    RP Michael Manurung, OFMCap


    Surat KAM No. 889/P/KA/XI/’25

    Gambar Surat KAM 889-2025

    Dengan hormat,

    Semoga Tuhan kita Yesus Kristus memberkati kita semua, untuk melanjutkan kehidupan kita masing-masing yang semakin bermakna.

    Para saudara/saudari yang terkasih dalam Kristus. Kita sudah mendengar, melihat, dan membaca melalui media sosial perihal bencana alam yang menimpa wilayah kegembalaan Keuskupan Sibolga, Keuskupan Padang dan Keuskupan Agung Medan.

    Hujan deras telah menyebabkan banjir bandang dan longsor yang mengakibatkan korban jiwa, kerusakan rumah, sawah, perladangan dan sarana-prasarana lainnya.

    Saat ini ribuan warga masyarakat mengungsi di tempat yang disediakan oleh Pemerintah dan Gereja.

    Berbagai pihak (Pemerintah dan Gereja) masih bekerja untuk mencari korban yang hilang dan mendirikan posko-posko pengungsi.

    Gereja Katolik Keuskupan Agung Medan, ikut peduli dan menunjukkan rasa solidaritas dengan berbelarasa terhadap Saudara/i kita yang mengalami bencana.

    Maka, saya Uskup Keuskupan Agung Medan mengharapkan dan mengarahkan semua umat, Yayasan, Lembaga, Perkumpulan, Tarekat Hidup Bakti, Ormas, dan pribadi di wilayah KAM untuk ikut memberikan bantuan solidaritas kepada saudara-saudari kita yang ditimpa bencana.

    Bantuan materi berupa obat-obatan, sembako, pakaian, dll. dapat dikumpulkan di paroki-paroki berikut ini: Katedral, Santo Antonius Padua Hayam Wuruk, Kristus Raja Nusantara, Santa Maria Ratu Rosari Tanjung Selamat, Santo Padre Pio Helvetia, Santo Petrus Medan Timur, Santo Paulus Pasar Merah, Santo Fransiskus Assisi Padang Bulan, Santo Yohanes Penginjil Mandala, Santo Konrad Martubung, dan Gedung Catholic Center.

    Bantuan uang bisa disalurkan lewat rekening berikut ini:

    Bank Sumut KC Kampung Lalang
    No. Rek: 110-02-04-007992-6
    An. DANA BENCANA KAM
    Berita: Bencana Alam (Medan, Sibolga, Padang)
    Bank Mandiri dan QRIS ada pada Gambar di atas.

    Seluruh dana penerimaan ini akan disalurkan melalui PSE di masing-masing Keuskupan (Medan, Sibolga dan Padang).

    Demikian pemberitahuan dan permohonan ini kami sampaikan. Terima kasih atas kerja samanya dan semoga Tuhan memberkati kita semua.

    Pesta Pelindung KAM 2025: Beato Dionisius dan Redemptus

    Download TPE Perayaan Ekaristi Pelindung KAM 2025 Unduh disini
    Surat KAM No. : 890/P/KA/XI/’25
    Hal : Perayaan Pelindung Keuskupan Agung Medan Beato Dionysius dan Redemptus

    Kepada Yth.:
    1. Para Parokus KAM
    2. Pimpinan Tarekat Hidup Bakti di KAM
    3. Rektor Seminari Tinggi Santo Petrus 

    Semoga hati kita selalu dikobarkan oleh api Roh Kudus untuk menjalankan pelayanan dengan penuh semangat demi proyek ilahi.

    Pada 01 Desember kita merayakan Hari Raya Beato Dionysius dan Redemptus, sebagai pelindung Keuskupan Agung Medan.

    Oleh karena itu kami meminta agar di setiap paroki, komunitas Tarekat Hidup Bakti dan Seminari Tinggi dirayakan perayaan Ekaristi untuk merayakan kedua beato pelindung Keuskupan Agung Medan tersebut, pagi atau sore hari pada Senin, 01 Desember 2025.

    Liturgi perayaan Ekaristi akan disediakan oleh Komisi Liturgi Keuskupan Agung Medan.

    Demikian hal ini kami sampaikan untuk dijalankan. Atas perhatian dan kerja sama yang baik kami haturkan terima kasih.

    Surat KAM No. : 892/P/KA/XI/’29
    Lamp.: Daftar Undangan
    Hal : Perayaan Pelindung Keuskupan Agung Medan Beato Dionisius dan Redemptus

    Kepada Yth.:
    1. Paroki Vikariat Santo Petrus Rasul, Medan
    2. Paroki Vikariat Santo Yohanes Rasul, Medan
    3. Pimpinan Komunitas Tarekat Hidup Bakti di wilayah Medan
    4. Pengurus YPK-YPK di wilayah Medan
    5. UNIKA Santo Thomas
    6. STP Santo Bonaventua, Delitua
    7. STIKES Santa Elisabeth Medan
    8. Organisasi Gerejawi/Kategorial KAM
    9. Staf Pegawai KAM
    Di-
    Tempat

    Salam damai Sejahtera,

    Semoga hati kita selalu dikobarkan oleh api Roh Kudus untuk menjalankan pelayanan dengan penuh semangat demi proyek Ilahi.

    Beato Dionisius dan Redemptus, Biarawan dan Martir Indonesia (Aceh) sebagai Pelindung Keuskupan Agung Medan. Dengan bimbingan Roh Kudus dan semangat spiritualitas Beato Dionisius dan Redemptus, kami mengundang Pastor, Frater, Bruder, Suster, Bapak/Ibu untuk menghadiri perayaan syukur dalam ekaristi yang akan dilaksanakan pada:

    Hari & Tanggal : Senin, 01 Desember 2025
    Pukul : 18.00 WIB s.d. Selesai
    Tempat : Gereja Santa Perawan Maria Yang dikandung tanpa Noda, Katedral Jl. Pemuda No. 1, Kelurahan Aur, Kec. Medan Maimun, Kota Medan

    Pada tahun 2025 ini, kami hanya mengundang perwakilan dari Vikariat Medan karena alasan situasi dan keadaan yang terjadi sebagai dampak cuaca ekstrim.

    Demikian hal ini kami sampaikan untuk dijalankan. Atas perhatian dan kerja sama yang baik kami haturkan terima kasih.

    Salam dan hormat,

    RP. Michael Manurung OFMCap
    Vikaris Jenderal KAM

    image

    Tata Ibadat Lingkungan Masa Adven – Bahasa Indonesia & Daerah

    Kata Pengantar

    Setiap tahun kita menjalani Masa Adven, suatu masa yang dijalani sebagai persiapan Masa Natal. Secara umum Adven dimengerti sebagai ungkapan untuk menyatakan kedatangan Kristus di antara manusia. Masa Adven sudah mulai dihidupi oleh Gereja kita sejak abad-abad pertama. Paus Gregorius Agung menetapkan durasi Masa Adven sebanyak 4 minggu.

    Pedoman Tahun Liturgi dan Penanggalan Liturgi (PTLPL) sesudah Konsili Vatikan II menyebut bahwa “Masa Adven mempunyai dua tujuan yaitu, pertama, menyiapkan hari raya Natal (kedatangan Tuhan ke dunia di antara manusia) dan, kedua, mengarahkan hati supaya menantikan kedatangan Tuhan pada akhir zaman (kedatangan-Nya yang kedua).

    Dari waktu ke waktu tradisi Adven ini semakin dihayati dengan baik dalam perayaan ibadat dan penghayatan spiritualitasnya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tradisi yang kemudian muncul dalam gereja kita dalam memaknai Masa Adven ini adalah kehadiran Korona Adven dan 4 lilin di atasnya. Ini dijadikan sebagai simbol perjalanan umat beriman mengisi 4 minggu Masa Adven untuk mempersiapkan Natal Tuhan.

    Buku ini disusun sebagai panduan dalam melaksanakan ibadat lingkungan selama Masa Adven. Di dalamnya terdapat 4 tema pokok yang dirancang untuk membantu kita semua, baik sebagai pemandu maupun peserta, agar dapat mengikuti ibadat dengan baik dan khidmat. Keempat sub tema ini akan didalami dalam 4 kali pertemuan dan ibadat selama Masa Adven.

    Buku ini disusun sebagai panduan dalam melaksanakan ibadat lingkungan selama Masa Adven. Di dalamnya terdapat 4 tema pokok yang dirancang untuk membantu kita semua, baik sebagai pemandu maupun peserta, agar dapat mengikuti ibadat dengan baik dan khidmat. Keempat sub tema ini akan didalami dalam 4 kali pertemuan dan ibadat selama Masa Adven.

    Pertemuan - 1: BERJAGA-JAGA MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN
    Pertemuan - 2: BERTOBATLAH SEBAB KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT
    Pertemuan - 3: MENERIMA YESUS DENGAN TULUS HATI

    Pertemuan - 4: SIAP MENYONGSONG TUHAN

    Download Tata Ibadat Lingkungan Masa Adven Tahun 2025 - Keuskupan Agung Medan:

    Unduh Tata Ibadat Masa Adven
    1. Petugas Ibadat

    a. Ibadat dapat dipandu oleh 2 orang petugas yang disebut pemandu 1 (P1) dan pemandu 2 (P2). Bila tidak memungkinkan 2 orang, pemandu dapat juga satu orang.
    ❖ P1 bertugas untuk bagian pelaksanaan ibadat keseluruhan;
    ❖ P2 bertugas untuk membacakan Sabda Allah (Injil) dan bagian Renungan/Pendalaman bahan.

    b. Petugas lain adalah pembawa ujud doa umat, kolektan, pemandu lagu, dan pengiring nyanyian.

    c. Para petugas, khususnya P1 dan P2, hendaknya menggunakan pakaian liturgis: alba dan kap/samir pemandu liturgi.

    2. Tempat dan perlengkapan

    a. Tempat ibadat umumnya dilaksanakan di rumah umat tetapi boleh juga di tempat lain yang disepakati, misalnya di aula.

    b. Di tempat ibadat (di rumah umat) hendaknya disediakan satu meja kecil sebagai ”altar”. Di atasnya disediakan 2 lilin, salib menghadap umat, buku Alkitab, dan patung/arca Bunda Maria. Dekorasi bunga boleh juga disediakan di sekitar meja tersebut untuk menambah suasana ibadat.

    c. Baik juga disediakan korona adven dan lilin putih (4 biji) di atasnya.

    d. Pemandu ibadat (P1 dan P2) akan mengambil tempat duduk di samping kiri dan kanan meja tersebut.

    e. Posisi umat di tempat ibadat boleh duduk melingkar, tetapi boleh juga duduk berjejer, seturut situasi tempat.

    Demikian buku ibadat ini disampaikan kepada kita. Semoga kita semua semakin bergembira memuliakan Tuhan dan mempersiapkan diri akan kedatangan Tuhan, Sang Penyelamat dan Cahaya Kehidupan.

    Medan, 01 November 2025

    RP Christian L. Gaol OFMCap.
    Ketua Komisi Liturgi KAM 

    Warta Kuria KAM (Oktober-November 2025)

    22 Oktober 2025

    1. Pengambilan sumpah/janji jabatan dan pelantikan pejabat fungsional pemerintah kota Medan.

    Ibu Dona Sari br Karo Sekali dilantik menjadi pejabat fungsional dalam Dinas Pariwisata Pemko Medan pada 22 Oktober 2025 di ruang rapat III Kantor Walikota Medan oleh Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas.

    Pengucapan janji pejabat ini disaksikan oleh RP. Adrianus Sembiring OFMCap, Kanselarius Keuskupan Agung Medan.

    Dalam sambutannya, bapak Walikota meminta agar para pejabat yang baru dilantik menjalankan tugas-tugasnya dengan hati.

    Diingatkan akan maraknya kasus-kasus moral di kalangan ASN, seperti narkoba, mabuk-mabukan dan perselingkuhan antar sesama ASN.

    Pelantikan ini bukan sekedar selebrasi, melainkan pernyataan komitmen untuk memimpin dengan hati sambil menjaga integritas demi menjaga marwah pemerintahan kota Medan yang bersih dalam pelayanan.

    Semoga umat Katolik yang diserahi tanggung jawab untuk menjalankan tugas pejabat fungsional menyatakan imannya dalam pelayanan yang menghasilkan buah-buah Roh.

    27 Oktober 2025

    2. Keluarga Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara bertemu dengan Bapa Uskup di ruang Kolegium Konsultor pada Senin, 27 Oktober 2025, didampingi oleh Kanselarius KAM untuk mengucapkan terima kasih atas rangkaian acara penghormatan terakhir dan pemakaman Op. Pius Datubara yang berjalan dengan sangat hikmat.

    Mereka menyatakan rasa haru atas semua yang telah dilakukan oleh Keuskupan Agung Medan dan para pastor serta semua umat Allah bagi uskup emeritus yang adalah anggota keluarga besar Datubara.

    Kedatangan keluarga ini disambut hangat oleh Bapa Uskup seraya mengucapkan terima kasih atas keterlibatan keluarga dalam seluruh rangkaian acara iman tersebut.

    Keluarga Op. Pius menyerahkan sedikit dana untuk membantu Keuskupan Agung Medan, sambil meminta agar diberikan satu jubah Op. Pius untuk dimasukkan ke dalam tugu keluarga pada perayaan Ekaristi arwah 40 hari wafatnya Op. Pius.

    Bapa Uskup mengabulkan permohonan ini sambil menumpangkan tangan untuk memberkati mereka.

    Semoga semua keluarga dipersatukan dalam iman akan Yesus Kristus yang akan membangkitkan Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara OFMCap.

    28-31 Oktober 2025

    3. Suasana penuh semangat terasa di Bandar Lampung saat Temu Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) Regio Sumatera digelar pada 28–31 Oktober 2025.

    Mengusung tema “Sinergi dan Konsistensi Pembinaan untuk Meningkatkan Partisipasi Awam demi Bonum Commune,” kegiatan ini mempertemukan 36 peserta dari enam keuskupan se Sumatera untuk memperkuat peran awam Katolik dalam kehidupan menggereja dan berbangsa.

    Keuskupan Agung Medan diwakili oleh Ketua Komisi Kerawam KAM, RP. Joseph Lesta Pandia OFMConv.

    Kegiatan ini dibimbing oleh Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Palembang sebagai Ketua Regio Sumatera dan Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, Uskup Tanjungkarang.

    Mgr. Harun menekankan perlunya pembinaan iman yang nyata dalam tindakan sosial untuk menanggapi tantangan korupsi dan lemahnya integritas publik.

    Sementara Mgr. Vinsensius membagikan pengalaman keberhasilan Keuskupan Tanjungkarang menerapkan model pembinaan awam berjenjang: dasar, menengah dan lanjut yang diusulkan menjadi acuan tingkat regio.

    Pertemuan ini melahirkan pembentukan Tim Kerja Regio Sumatera untuk menyusun modul pembinaan terpadu, serta komitmen setiap keuskupan mengadakan satu kegiatan pembinaan awam pada tahun 2026.

    Pertemuan ini meneguhkan semangat kolaborasi antar-keuskupan dan panggilan awam Katolik untuk aktif melayani demi kebaikan bersama.

    Temu Kerawam 2025 menjadi momentum berharga untuk meneguhkan semangat sinergi lintas keuskupan dan melahirkan awam Katolik yang beriman teguh, solider dan siap melayani demi kebaikan bersama.

    01 November 2025

    4. Yayasan Taman Wisata Rohani Belas Kasih Urung Ompung Dolok – Naga Panei

    Di tengah keindahan alam Sumatera Utara, akan hadir Pusat Peziarahan dan Ekopastoral Urung Ompung Dolok, sebuah karya iman yang memadukan spiritualitas dan ekologi.

    Diinspirasi oleh spiritualitas St. Fransiskus dari Assisi dan ensiklik Laudato Si’, tempat ini menjadi ruang hening di mana umat Allah bisa memulihkan relasi dengan Allah melalui alam ciptaan-Nya.

    Berakar pada seruan Santo Fransiskus Assisi “Deus Meus et Omnia”, Tuhanku dan Segalanya, Taman Wisata Rohani ini mengajak setiap peziarah untuk menemukan kasih Allah dalam kesederhanaan, keheningan dan keindahan ciptaan.

    Kawasan ini akan dilengkapi dengan Kapel, Jalan Salib, lahan pertanian organik dan hutan konservasi sebagai simbol harmoni antara iman dan bumi.

    Urung Ompung Dolok menjadi pusat pembelajaran spiritual dan ekopastoral melalui program retret, formasi iman dan konservasi lingkungan.

    Umat diajak menghayati gaya hidup sederhana, berbelarasa dan bersahabat dengan ciptaan.

    Untuk mengelola tempat peziarahan ini, Keuskupan Agung Medan mendirikan Yayasan Taman Wisata Rohani Belas Kasih Urung Ompung Dolok pada 1 November 2025 berkedudukan di Medan.

    Organ yayasan terdiri dari: Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap sebagai Ketua Dewan Pembina, RP. Michael Manurung OFMCap sebagai Ketua Yayasan dan RP. John Rupinus Saragih OFMCap sebagai Ketua Pengawas.

    Triorgan Yayasan berkomitmen menjalankan prinsip tata kelola profesional dan transparan berlandaskan iman Katolik.

    Semoga umat terbantu untuk semakin mengalami persatuan dengan Allah melalui sentuhan alam ciptaan.

    03 November 2025

    5. Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025, Jakarta, 3–7 November yang diselenggarakan di hotel Mercure, Jakarta, mengusung tema “Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian".

    Sidang ini menegaskan panggilan Gereja Indonesia untuk hidup semakin sinodal, misioner dan menjadi pembawa damai di tengah perubahan zaman.

    Keuskupan Agung Medan (KAM) turut ambil bagian dalam sidang nasional ini melalui kehadiran Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, RP. Michael Manurung OFMCap, RD. Joseph Parasian Gultom, RD. Petrus Simarmata, serta perwakilan awam dan religius: Lamhot Simamora, Sr. Caroline KYM, Todo Pasaribu, Nova dan Nelly Sitanggang.

    Kehadiran berbagai unsur Gereja ini mewujudkan semangat sinodalitas dalam mendengarkan dan melayani umat.

    Sidang menekankan tiga pilar utama yang perlu diwujudkan.

    Pertama, Sinodalitas — Gereja yang mendengar dan berjalan bersama umat, Kedua, Misioner — panggilan untuk keluar melayani yang miskin dan terluka. Ketiga, Perdamaian — menjadi jembatan rekonsiliasi dan keadilan sosial.

    Fokus pastoral 2025–2030 diarahkan pada pemberdayaan kaum muda, perempuan, difabel dan lansia serta komitmen pada pendidikan, ekologi dan dialog lintas iman.

    Gereja dipanggil untuk bersuara profetis terhadap ketimpangan sosial, pelanggaran HAM, intoleransi dan kerusakan alam sebagai wujud kesaksian atas kasih Allah yang membebaskan dan memulihkan martabat manusia.

    Setiap keuskupan diminta menyusun rencana pastoral lima tahun untuk memperkuat formasi iman umat.

    SAGKI 2025 menjadi momentum Gereja Indonesia untuk terus berjalan bersama, melayani dengan kasih dan menjadi tanda pengharapan serta damai bagi dunia.

    Sinode Diosesan VII KAM
    Logo Sinode revisi 6 Final

    6. Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan 2026–2027.

    Keuskupan Agung Medan bersiap memasuki babak istimewa perjalanan imannya melalui Sinode Diosesan VII dengan tema “Gereja yang Berjalan Bersama, Mendengarkan dan Mewartakan.”

    Sinode ini merupakan peristiwa rohani yang mengundang seluruh umat untuk mendengarkan bisikan Roh Kudus demi merumuskan arah baru Gereja KAM di tengah dunia yang berubah cepat.

    Panitia sinode telah menyiapkan booklet pedoman sinode, vademecum dan logo resmi sebagai panduan proses panjang yang dimulai tahun 2025.

    Tahap pendalaman di tingkat umat dan paroki akan dilaksanakan sepanjang 2026 dan puncaknya digelar pada Juni 2027.

    Setiap tahap menjadi kesempatan untuk mendengarkan, meneguhkan dan berjalan bersama.

    Sinode yang dijiwai oleh semangat Laudato Si’ ini mendorong pertobatan ekologis dan kepedulian umat terhadap bumi sebagai rumah bersama.

    Seluruh elemen Gereja diajak merefleksikan bidang-bidang pelayanan dan kehidupan Gereja, mulai dari persekutuan, liturgi, misi, hingga dialog lintas iman dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

    Melalui lima pilar Gereja - koinonia, kerygma, liturgia, diakonia dan martyria - Keuskupan Agung Medan diharapkan semakin menjadi “Oase Ilahi di Tengah Dunia.”

    Sinode ini menjadi peziarahan iman yang meneguhkan Gereja KAM untuk terus mendengarkan suara Roh dan mewartakan kasih Kristus dengan semangat baru.

    Para pastor diajak untuk menganimasi umat agar dengan penuh antusias memasuki dinamika Sinode Diosesan VII KAM mulai saat ini hingga selesai pada puncaknya.

    29 September 2025

    7. Gereja Meneguhkan Jalan Damai di Tengah Konflik TPL dan Masyarakat Sihaporas Konflik antara PT. Toba Pulp Lestari (TPL) dan masyarakat Sihaporas kembali mencuat setelah insiden kekerasan pada 22 September 2025 yang melibatkan aparat keamanan perusahaan.

    Menanggapi insiden tersebut, Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap., mengeluarkan Pernyataan Sikap resmi No. 725/PS/KA/IX/’25 tanggal 26 September 2025.

    Bapa Uskup mengecam segala bentuk kekerasan sambil menegaskan pentingnya penghormatan terhadap martabat manusia dan menyerukan penyelesaian konflik melalui dialog rekonsiliatif sesuai ajaran sosial Gereja Katolik.

    Menanggapi pernyataan sikap ini, pihak manajemen PT. TPL mengirim surat resmi kepada Uskup Agung Medan.

    Perusahaan memohon arahan, masukan dan dukungan agar Gereja tetap berperan sebagai jembatan dialog menuju penyelesaian damai jangka panjang.

    Keuskupan Agung Medan menegaskan sikapnya untuk tetap berada di jalur dialog dan sinodalitas, serta mendukung gerakan-gerakan yang memperjuangkan keadilan sosial dan pelestarian lingkungan, namun tidak terlibat langsung dalam aksi unjuk rasa di depan kantor Gubernur Medan yang digelar oleh Sekretariat Bersama (Sekber) Gerakan Oikumenis untuk keadilan ekologis pada 10 November 2025. Gereja memilih jalan nonviolence dan tidak menciptakan musuh.

    Sebaliknya, Gereja tetapi membangun perdamaian melalui kasih, kejujuran dan dialog. Gereja tetap berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan, sembari mengajak semua pihak - pemerintah, masyarakat dan perusahaan, untuk menemukan solusi adil dan bermartabat yang menjaga kehidupan manusia dan kelestarian ciptaan di kawasan Danau Toba.

    Solusi ini menuntut studi dan kajian ilmiah atas data dan infomasi komprehensif untuk mengurai kompleksitas persoalan yang ada.

    Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.

    RP. Adrianus Sembiring OFMCap
    Kanselarius Keuskupan Agung Medan