Rabu, Agustus 12, 2026
Lainnya
    Beranda blog

    Warta Kuria (Mei-Juni 2026)

    1. Menjaga Wajah dan Suara yang Tetap Manusiawi di Era Digital

    Umat Keuskupan Agung Medan merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 pada Sabtu, 17 Mei 2026, di Gereja Paroki Santo Fransiskus Asisi Padang Bulan. Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap dan didampingi oleh para imam konselebran dihadiri oleh biarawan-biarawati, penggiat Komsos dan umat dalam semangat sinodal, ‘berjalan bersama untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan.’

    Dalam homilinya, Mgr. Kornelius menegaskan bahwa di tengah derasnya arus media sosial, Gereja dipanggil untuk memancarkan wajah Kristus yang penuh kasih, damai dan pengharapan. Dunia digital tidak boleh menjadi ruang kebencian dan ajang saling menyerang, melainkan harus diolah menjadi sarana pewartaan Injil, persaudaraan dan bela rasa. Komunikasi sejati lahir dari hati yang mau mendengar, memahami dan menghargai martabat sesama.

    Dalam rangkaian perayaan Ekaristi, Bapa Uskup memberkati Taman Yubileum Fransiskus Asisi Keuskupan Agung Medan yang berada di lingkungan paroki. Taman ini menjadi simbol pengharapan, keindahan ciptaan dan komitmen Gereja untuk merawat kehidupan serta membangun komunikasi yang membawa kedamaian. Dalam spiritualitas Santo Fransiskus Asisi, umat diajak menjadi pembawa damai yang menghadirkan sukacita Injil melalui kata, tindakan dan kesaksian hidup sehari-hari. Keuskupan Agung Medan berusaha tetap hadir sebagai Oase Ilahi di tengah dunia yang berubah, melalui komunikasi yang menyembuhkan, merangkul dan meneguhkan banyak orang.

    2. Dalam Rangkulan Kasih Tritunggal Mahakudus

    Dalam semangat Kristus yang bangkit dan kasih Tritunggal Maha Kudus, umat Paroki Delitua meneguhkan diri sebagai Gereja yang mendengarkan, meneguhkan, dan mewartakan. Dari misteri Allah sebagai persekutuan kasih Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Gereja diundang untuk membangun persatuan, mempererat persaudaraan, dan setia pada perutusan mewartakan Injil, sejalan dengan hakikat Gereja partikular dan reksa pastoral paroki (bdk. KHK kan. 369; kan. 515 §1).

    Pada Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, yang jatuh pada 31 Mei 2026, umat Paroki Delitua berkumpul dalam perayaan syukur Paska se-paroki. Perayaan Ekaristi yang penuh rahmat ini dan dirangkai dengan penerimaan Sakramen Penguatan dipimpin langsung oleh Uskup Agung Medan. Para krismawan dan krismawati dicurahi Roh Kudus untuk meneguhkan mereka menjadi saksi iman yang dewasa dalam di tengah dunia (bdk. KHK kan. 879).

    Pada waktu yang sama, para pengurus gereja yang baru terpilih dilantik dan menerima perutusan untuk melayani umat dengan semangat kasih persaudaraan dan tanggung jawab sebagai pelayan Gereja. Pelayanan ini sejalan dengan ketentuan KHK mengenai peran umat beriman kristiani yang mengambil bagian dalam tugas imami, kenabian dan rajawi Kristus (bdk. KHK kan. 204 §1; kan. 225), serta keterlibatan mereka dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu di paroki (bdk. KHK kan. 228; kan. 536–537). Melalui rangkaian syukuran Paska, penerimaan Sakramen Penguatan dan pelantikan pengurus, Paroki Delitua diteguhkan kembali sebagai komunitas yang hidup dari Ekaristi, dikuatkan oleh Roh Kudus dan diutus untuk berjalan bersama mewartakan sukacita Injil.

    3. Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia

    Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution, S.E., M.M. memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Lapangan Astaka Dispora Provsu, Jl. William Iskandar, Medan, pada 1 Juni 2026. Saat membacakan amanat dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Yudian Wahyudi, Gubernur Sumut menyampaikan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila merupakan momen refleksi untuk memastikan api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap warga negara.

    Peringatan kali ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, lebih lanjut Gubernur menyatakan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa, tetapi juga menjadi landasan bagi terciptanya perdamaian dunia yang abadi. Disebutkan juga bahwa Pancasila sebagai penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya di tengah ketidakpastian geopolotik dunia, Indonesia tetap berdiri kokoh dalam keberagaman etnis, pulau dan bahasa serta budaya dapat disatukan dalam ikatan kebangsaan yang berlandaskan Pancasila.

    Gubernur juga menegaskan peran Indonesia di kancah Internasional sesuai amanat Undang-undang Dasar 1945, yakni ikut mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial. Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Tingkat Provinsi Sumatera Utara dihadiri oleh jajaran Forkopimda Provsu, jajaran OPD Provsu, TNI – POLRI, Tokoh Agama, dalam hal ini Keuskupan Agung Medan dihadiri oleh RD Parulian Sihombing, juga dihadiri oleh berbagai elemen masyarkat.   Semoga semangat Pancasila tetap menyala di hati sanubari masing-masing kita.

    4. Menjadi Rumah bagi Harapan dan Kesembuhan

    Pemberkatan Renovasi Gedung Rumah Sakit Harapan Pematangsiantar pada 1 Juni 2026 menandai komitmen Gereja dan seluruh insan kesehatan untuk menghadirkan pelayanan yang profesional, manusiawi dan berlandaskan kasih bagi setiap pribadi yang membutuhkan pertolongan. Rumah sakit ini diharapkan sungguh menjadi “rumah bagi harapan,” tempat di mana yang sakit menemukan kesembuhan, yang lemah mendapatkan kekuatan dan yang datang dengan kecemasan pulang dipenuhi pengharapan baru. St Yohanes Paulus II dalam ensiklik Evangelium Vitae menegaskan pentingnya martabat setiap kehidupan manusia, terutama yang rapuh dan menderita, dan Paus Fransiskus melalui ensiklik Fratelli Tutti mengingatkan pentingnya solidaritas dan kepedulian terhadap sesama yang terluka di “pinggir jalan” kehidupan.

    Dalam suasana penuh syukur dan sukacita, perayaan ekaristi pemberkatan dipimpin oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Melalui perayaan ini, Gereja memohon agar setiap sudut gedung dan seluruh ruang pelayanan menjadi sarana nyata kehadiran Allah yang penuh belas kasih.

    “Ya Allah Bapa kami, sumber kehidupan dan keselamatan kami. Putra-Mu menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan kami dalam kuasa Roh Kudus. Ia pun menyuruh para murid-Nya mengunjungi dan merawat orang yang sakit ketika Ia mengutus mereka mewartakan Injil. Berkatilah gedung ini dan semua ruangan-ruangan yang ada di dalamnya. Agar semua yang akan dirawat di sini mengalami kasih-Mu yang tak berkesudahan, dikuatkan pengharapannya oleh karena hospitalitas kami dan semoga mereka sehat jasmani dan rohani… Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.”

    Doa ini mencerminkan visi Gereja sebagaimana ditekankan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium dan Fratelli Tutti: Gereja dipanggil menjadi “rumah sakit medan perang” yang pertama-tama merawat luka-luka manusia, serta memanusiakan kembali mereka yang ringkih secara fisik maupun batin. Kehadiran Rumah Sakit Harapan Pematangsiantar tidak hanya menjadi institusi layanan kesehatan, tetapi juga tanda konkret belas kasih Allah di tengah dunia, tempat di mana cinta kasih Injil diwujudkan dalam pelayanan yang merawat tubuh sekaligus menguatkan jiwa.

    5. Menyalakan Kembali Api Pembaruan: Konvenda Karismatik 2026 dan Harapan bagi Pemimpin Muda Katolik Medan

    Pada 3 Juni 2026, Badan Pelayanan Provinsi Gerejawi (BPPG) Medan mengadakan audiensi di Catholic Center Medan sebagai bagian dari persiapan Konvensi Daerah (Konvenda) Pembaruan Karismatik Katolik. Pertemuan dihadiri oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, para imam pendamping, serta pengurus dan panitia. Ibu Fransiska Lany Soekowati memaparkan arah gerakan dengan penekanan pada spirit-empowered youth leadership dan tema Konvenda: “Aku dipilih, dibentuk dan diutus”, yang diarahkan untuk membentuk pemimpin muda Katolik yang relevan, tangguh, dan matang secara rohani maupun sosial.

    Ketua panitia, Josua Fransisko Munthe, melaporkan bahwa dari target peserta 700 orang, 400 orang sudah mendaftar, di antaranya baru sekitar 40 Orang Muda Katolik yang mendaftar. Panitia tetap optimis dan terus mengupayakan pendekatan ke paroki-paroki, sekolah dan komunitas OMK. Perubahan lokasi dari aula Catholic Center ke Hotel Emerald Garden dilakukan demi daya tampung dan kenyamanan peserta. Konvenda yang akan berlangsung 3–5 Juli 2026 ini akan diisi oleh narasumber dari Badan Pelayanan Nasional, RP. Aaron OSC dan RP. Eko Wahyu OSC.  Konvenda akan dibuka dengan Perayaan Ekaristi. Karena tidak bisa hadir dalam acara ini, Bapa Uskup akan memberikan dukungan dalam bentuk video sapaan dan ajakan.

    Dalam sesi diskusi, mengemuka keprihatinan atas minimnya jumlah peserta dan rendahnya gaung Konvenda di tengah umat, serta kesan meredupnya gerakan Pembaruan Karismatik dan Persekutuan Doa di kalangan muda. Bapa Uskup mendorong perluasan promosi melalui media sosial, video kreatif dan bahan cetak seperti brosur di paroki dan lingkungan pendidikan Katolik. Di tengah tantangan, harapan tetap dijaga: pengalaman konvenda sebelumnya menunjukkan buah rohani yang besar dan minat akademisi terhadap gerakan karismatik terus hidup. Konvenda 2026 diharapkan menjadi momen pembaruan dan lahirnya pemimpin muda yang siap menyalakan kembali api Roh Kudus di tengah Gereja dan masyarakat.

    6. Revitalisasi dan Persiapan Perayaan Ulang Tahun 111 Paroki St. Antonius Padua Hayam Wuruk

    Audiensi Panitia Revitalisasi Gereja dan Panitia HUT ke-111 Paroki St. Antonius Padua berlangsung pada  5 Juni 2026 di Catholic Center. Mengawali sambutannya Bapa Uskup mengapresiasi ketersediaan notulen audiensi sebelumnya sebagai pijakan rapat-rapat berikutnya, kemudian mempersilahkan panitia untuk memaparkan perkembangan revitalisasi gedung gereja dan persiapan perayaan Ulang Tahun 111 Paroki St. Antonius Padua, Hayam Wuruk.

    Dalam pemaparan dinyatakan bahwa revitalisasi gereja hampir selesai, tinggal pengerjaan puncak menara yang dijadwalkan terpasang pada Senin, 7 Juni 2026. Bagian lain, yakni façade depan, sanctuarium, perbaikan ruang pengakuan, gerbang dan pagar, termasuk relief bernuansa Injil juga sudah rampung. Dalam sanctuarium akan ditempatkan relikwi Santo Antonius di atas prasasti, dengan latar belakang kalpataru sebagai simbol pemeliharaan lingkungan.

    Berkaitan dengan perayaan HUT ke-111, panitia melaporkan rangkaian kegiatan yang sudah diadakan sejak Maret 2026. Puncak perayaan jatuh pada 14 Juni 2026 dengan perayaan Ekaristi agung yang dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap yang dirangkai dengan pemberkatan sanctuarium dan peletakan relikwi. Karena Walikota Medan sudah mengkonfirmasi kehadirannya dalam perayaan puncak ini, Bapa Uskup akan menyampaikan dengan tegas beberapa hal yang perlu mendapat perhatian serius dari Pemko Medan, antara lain penebangan pohon, sampah dan kabel listrik yang semrawut. Bapa Uskup juga meminta panitia merumuskan karya karitatif secara konkret yang bisa dijalankan bagi penderita kanker di sekitar RSUPD Adam Malik Medan, misalnya pembangunan kos/mess sederhana dan pendampingan pastoral. Semoga perayaan Ulang Tahun ini membuahkan karya pastoral nyata bagi orang papa.

    7. Menghadirkan Wajah Ekonomi yang bernuansa Imani dan Humanis

    Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Konsumen Sekunder Kristoforus, Komisi PSE Keuskupan Agung Medan diawali dengan Perayaan Ekaristi pada Jumat, 5 Juni 2026 di lantai 8 Gedung Catholic Center Medan. Perayaan kudus ini dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, Uskup Keuskupan Uskup Agung Medan. Hadir dalam perayaan ini para pengurus serta perwakilan Credit Union dari berbagai paroki yang berada di bawah naungan Koperasi Konsumen Sekunder Kristoforus.

    RAT bukan sekadar pelaksanaan agenda tahunan kelembagaan, melainkan lebih sebagai peristiwa iman yang menyatukan refleksi rohani dan tanggung jawab ekonomi. Dalam Ekaristi pembuka, seluruh peserta diajak mensyukuri penyelenggaraan Tuhan yang setia menyertai perjalanan koperasi, sembari memohon terang Roh Kudus agar setiap keputusan yang diambil berbuah pada kesejahteraan umat. Dalam nuansa ajaran sosial Gereja, selain sebagai instrumen ekonomi, koperasi hadir sebagai perwujudan konkret spiritualitas solidaritas. Melalui pola kepemilikan bersama, partisipasi anggota serta pembagian manfaat yang adil, koperasi menjadi sarana untuk mengoreksi wajah ekonomi yang kerap bercorak individualistis dan spekulatif. Dalam koperasi diwujudkan nilai kejujuran dalam pengelolaan keuangan, tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan keberpihakan pada anggota yang lemah dan kecil.

    Koperasi Kristoforus diteguhkan untuk terus tumbuh sebagai lembaga yang profesional dan transparan, namun sekaligus berjiwa profetis, yakni berani mengutamakan martabat manusia di atas keuntungan finansial semata. Mekanisme RAT—mulai dari laporan pertanggungjawaban, evaluasi kinerja, hingga perencanaan program—diharapkan menjadi ruang pembelajaran bersama tentang bagaimana mengelola sumber daya secara efisien, sehat dan berkelanjutan, tanpa kehilangan roh pelayanan. Dengan semangat persaudaraan kristiani, RAT tahun ini diharapkan memperkuat komitmen seluruh pengurus dan anggota untuk menghadirkan model ekonomi yang lebih manusiawi dan inklusif. Koperasi dipanggil menjadi “tangan panjang Gereja” dalam bidang ekonomi, yakni memampukan umat mengelola keuangan, menumbuhkan budaya menabung dan saling menolong serta menciptakan jaringan ekonomi umat yang kokoh dan berkeadilan.

    Seluruh dinamika Rapat Anggota Tahunan yang berakar pada Ekaristi dan berbuah dalam tata kelola yang baik diarahkan demi kesejahteraan bersama dan kemuliaan Tuhan. Sebagai badan usaha, Koperasi Konsumen Sekunder Kristoforus menjadi tanda harapan yang menghadirkan wajah ekonomi berdimensi religius, efisien sekaligus penuh kasih.

    8. Gereja yang Bertumbuh: Kuasi Paroki St. Yohanes Maria Vianney Pangaribuan Diinaugurasi dan DPP Dilantik

    Inaugurasi Kuasi Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Pangaribuan yang berlangsung pada 7 Juni 2026 menjadi peristiwa bersejarah bagi Gereja di wilayah Tapanuli Utara. Kuasi paroki yang didirikan pada 24 Februari 2026 ini sebelumnya merupakan bagian dari Paroki Santa Maria, Tarutung, dan kini menjadi pusat pelayanan pastoral baru yang mencakup wilayah Kecamatan Pangaribuan, Sipahutar, Garoga, dan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Beralamat di Jl. Garoga–Lumban Sormin, Pangaribuan, kuasi paroki yang menanggungjawabi reksa pastoral 19 stasi ini memusatkan karya pastoralnya pada bidang pertanian, pendidikan, wisata dan pendampingan keluarga sebagai jawaban atas kebutuhan nyata umat di wilayah agraris tersebut.

    Dalam suasana penuh syukur, umat Allah di Pangaribuan berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi inaugurasi yang dipimpin oleh Uskup Agung Medan. Perayaan diawali dengan perarakan meriah diiringi musik dan tarian adat Batak Toba, sebagai ungkapan kegembiraan dan syukur atas pertumbuhan Gereja di tanah Batak. Inkulturasi melalui seni dan budaya lokal ini menegaskan bahwa kehadiran Gereja sungguh berakar dalam kehidupan masyarakat setempat dan berjalan seiring dengan kekayaan tradisi Batak Toba.

    Pada Perayaan Ekaristi inaugurasi tersebut, Uskup Agung Medan juga melantik Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kuasi Paroki yang baru. Di hadapan Uskup dan seluruh umat, para anggota DPP menyatakan kesediaan mereka untuk melayani dengan semangat iman, rasa tanggung jawab dan pengabdian kepada Gereja. Melalui pelantikan ini, mereka diutus untuk bersama-sama membangun kehidupan menggereja yang semakin hidup, partisipatif dan misioner, menjadi rekan kerja pastor dan garda depan dalam merancang serta melaksanakan program-program pastoral di tengah umat.

    Peristiwa inaugurasi dan pelantikan DPP ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Gereja di Pangaribuan. Berdirinya Kuasi Paroki Santo Yohanes Maria Vianney meneguhkan semangat umat untuk terus bertumbuh dalam persekutuan, pelayanan, dan misi. Terinspirasi oleh teladan pelindungnya, Santo Yohanes Maria Vianney, yang dikenal karena kesederhanaan, ketekunan doa dan pengabdian tanpa pamrih, umat diajak membangun Gereja yang berakar kuat dalam iman, menyatu dengan budaya setempat, serta berbuah dalam karya kasih bagi sesama.

    9. Dari Perkebunan Menjadi Persekutuan: Pemberkatan Gereja Stasi St. Matius Penginjil Panigoran

    Jumat, 12 Juni 2026, suasana penuh sukacita menyelimuti Stasi St. Matius Penginjil Panigoran, Paroki Aek Kanopan, yang terletak di kawasan perkebunan PT SMART. Umat Allah menyambut kedatangan Uskup Agung Medan dan para tamu undangan dengan penuh hormat dan kegembiraan. Turut hadir perwakilan manajemen PT SMART, yakni Bapak Stefanus dan Bapak Susanto beserta rombongan, sebagai tanda dukungan dan kebersamaan antara Gereja, masyarakat dan dunia usaha, sejalan dengan semangat Gaudium et Spes yang menegaskan keterlibatan Gereja dalam suka dan duka dunia.

    Prosesi penyambutan berlangsung meriah melalui pemberian selempang ulos dan tarian adat setempat sebagai simbol penghormatan, persaudaraan dan berkat. Inkulturasi ini mencerminkan ajaran Konsili Vatikan II dan Ecclesia in Asia tentang pentingnya Injil berakar dalam budaya setempat. Puncak perayaan adalah Ekaristi dan ritus pemberkatan gereja, di mana bangunan gereja dikuduskan menjadi rumah doa dan pusat persekutuan umat, sebagaimana ditegaskan dalam tradisi liturgi Gereja dan Lumen Gentium tentang kehadiran Gereja di tengah umat melalui paroki dan stasi-stasi.

    Lebih dari pada sekadar menandai peresmian sebuah gedung, pemberkatan Gereja Stasi St. Matius Penginjil Panigoran mengawali babak baru kehidupan iman umat. Di tengah kawasan perkebunan, Gereja hadir sebagai tanda harapan dan kehadiran Allah yang menyertai perjalanan umat-Nya, selaras dengan semangat misioner yang diungkapkan dalam Evangelii Nuntiandi dan Evangelii Gaudium untuk menjangkau “pinggiran-pinggiran”. Kerjasama dengan PT SMART mencerminkan ajaran sosial Gereja tentang tanggung jawab dunia usaha terhadap kesejahteraan bersama, seperti digarisbawahi dalam Centesimus Annus dan Laudato Si’. Dengan demikian, Gereja Stasi St. Matius Penginjil menjadi pusat persekutuan, pewartaan dan pelayanan yang menguatkan umat untuk bersaksi tentang iman, persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.

    10. Pesta 111 Tahun Paroki St. Antonius dari Padua Hayam Wuruk: Syukur, Santuarium, dan Semangat Misioner yang Diperbarui

    Pesta Pelindung Paroki Santo Antonius Padua Hayam Wuruk ke-111 yang dirayakan pada 14 Juni 2026 menyaksikan ekspresi syukur yang istimewa dari umat Allah di Medan. Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Medan mengajak umat untuk mengenang penyertaan Tuhan yang setia membimbing perjalanan panjang paroki ini. Momen Kairos ini juga menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen sebagai komunitas Gereja yang bersaudara, melayani dan diutus, dengan meneladani Santo Antonius dari Padua sebagai pelindung paroki.

    Perayaan Ekaristi kudus dirangkai dengan pemberkatan Taman Doa dan Santuarium Santo Antonius Padua. Melalui doa pemberkatan dimohonkan agar tempat ini sungguh menjadi ruang hening bagi perjumpaan pribadi dengan Tuhan, tempat umat menimba kekuatan iman, pengharapan dan kasih. Pemberkatan ini diperkaya dengan penandatanganan prasasti, pelepasan burung merpati dan penerbangan balon yang menyimbolkan damai, harapan dan dinamika Gereja yang terus bertumbuh. Taman Doa dan Santuarium ini diharapkan menjadi oase rohani di tengah hiruk pikuk kehidupan kota. Di sini umat dapat merenungkan Sabda Allah dan mempersembahkan intensi-intensi doa mereka.

    Santo Antonius dari Padua, yang dikenal sebagai pengkhotbah ulung, pencinta orang miskin dan santo yang sering dimintai bantuan dalam menemukan yang hilang, menjadi inspirasi bagi umat Paroki Hayam Wuruk untuk hidup semakin dekat dengan Sabda Allah dan peka terhadap sesama yang menderita. Dengan meneladani kerendahan hati dan kepasrahannya kepada Allah, umat dituntun untuk bersyukur atas perjalanan masa lalu, menghidupi pelayanan dengan sukacita pada masa kini, serta melangkah penuh harapan menuju masa depan sebagai Gereja yang hidup dan misioner, yang menghadirkan kasih Kristus bagi semua orang tanpa kecuali.

    11. Sabda Meneguhkan Langkah: Ekaristi Pembukaan Pertemuan Delegasi Kitab Suci Regio Sumatera 2026

    Pada 15 Juni 2026, para delegasi Kerasulan Kitab Suci dari berbagai keuskupan di Regio Sumatera berkumpul di Kapel Santa Faustina, Catholic Center Medan. Perayaan Ekaristi pembukaan, yang dipimpin Uskup Agung Medan, menegaskan bahwa seluruh rangkaian pertemuan bersumber pada Sabda dan Ekaristi sebagai pusat hidup Gereja.

    Liturgi Sabda mengundang mengundang para peserta untuk semakin mencintai Kitab Suci dan belajar mendengarkan Allah dengan hati terbuka. Sabda Allah dialami sebagai firman yang hidup dan mengubah, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun” (Ibr 4:12). Perayaan Ekaristi membawa Sabda yang didengarkan itu kepada kepenuhannya dalam Tubuh dan Darah Kristus. Dari meja Sabda dan meja Ekaristi, para delegasi diutus untuk memperbarui semangat perutusan dalam pewartaan Injil di keuskupan masing-masing, sesuai amanat Kristus, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).

    Pertemuan ini juga menjadi wujud sinodalitas Gereja di Regio Sumatera. Para delegasi saling berbagi pengalaman, belajar dari praktik baik dan mencari cara kontekstual untuk menjadikan Kitab Suci sebagai dasar seluruh bidang pelayanan. Dengan demikian, Sabda Allah sungguh dihayati sebagai sumber kehidupan iman, pedoman dalam pelayanan pastoral serta pelita yang menuntun umat di tengah perubahan zaman. Pemazmur berseru, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105). Semoga buah pertemuan ini tampak dalam umat yang semakin akrab dengan Kitab Suci, komunitas yang dibentuk oleh Sabda dan Gereja di Sumatera yang berani mewartakan harapan Kristus secara profetis di tengah dunia.

    12. Pemberkatan Ruang Opera KOBAR KAM: Langkah Strategis Evangelisasi Digital KAM

    Dalam semangat pewartaan di era digital, pada Kamis, 18 Juni 2026, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, Uskup Keuskupan Uskup Agung Medan memberkati pemberkatan Ruang Opera KOBAR KAM di lantai 5 Gedung Catholic Center Medan. Ibadat yang berlangsung dalam suasana syukur dan sukacita ini dihadiri para imam, biarawan-biarawati, frater, pegawai Keuskupan Agung Medan serta pihak yang terlibat dalam perancangan dan pembangunan ruangan tersebut.

    Melalui doa dan pemercikan air suci, Uskup memohon agar Ruang Opera KOBAR KAM menjadi pusat karya komunikasi, katekese dan evangelisasi digital yang kreatif, inspiratif, dan efektif. Di ruangan ini diharapkan lahir berbagai konten yang meneguhkan iman, menumbuhkan harapan serta menghadirkan sukacita Injil bagi umat di seluruh Keuskupan dan masyarakat luas.

    Syukur yang dipanjatkan atas selesainya ruang digitalisasi pastoral ini sejalan dengan semangat ensiklik Magnifica Humanitas Paus Leo XIV yang menegaskan bahwa teknologi harus melayani martabat manusia dan menjadi ruang perjumpaan yang memuliakan manusia, bukan sekadar ruang konsumsi. Evangelisasi digital menuntut kreatifitas yang tetap setia pada kebenaran Injil. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi secara terarah, Keuskupan Agung Medan menegaskan komitmennya untuk semakin dekat dengan umat di ruang-ruang baru kehidupan, menjawab tantangan pastoral zaman ini dan menjadikan dunia digital sebagai medan pewartaan Kabar Baik yang memanusiakan dan menguduskan.

    Requiescat in Pace Sr Yohanna Timmer OSCCap

    Keuskupan Agung Medan menyampaikan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Sr. M. Yohanna Timmer, OSCCap, pada 12 Agustus 2026 dalam usia 96 tahun. Kepergian Suster Yohanna meninggalkan duka bagi keluarga, komunitas para Suster Klaris Kapusines (OSCCap), serta Gereja yang telah menerima dan mengalami buah pengabdian hidupnya.

    Sr. M. Yohanna Timmer merupakan seorang suster misionaris dari Biara Santa Klara Senden, Jerman, yang diutus ke Indonesia. Dengan hati yang terbuka dan semangat pelayanan, ia membawa kekayaan panggilan kontemplatif serta spiritualitas hidup doa ke tanah misi, khususnya ke Gunungsitoli, Kepulauan Nias, Sumatera Utara.

    Kehadiran Sr. Yohanna dan para suster Klaris OSCCap di Gunungsitoli menjadi bagian penting dalam perjalanan berkembangnya kehidupan kontemplatif di wilayah Keuskupan Agung Medan. Melalui doa, keheningan, persaudaraan, dan kesetiaan dalam hidup bakti, para suster memberikan kesaksian bahwa karya misi Gereja tidak hanya diwujudkan melalui pelayanan aktif, tetapi juga melalui hidup yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah dalam doa dan kontemplasi.

    Perjalanan tersebut kemudian berkembang. Pada tahun 1991, para Suster Klaris anggota komunitas Gunungsitoli membuka cabang baru di Sikeben, Keuskupan Agung Medan. Kehadiran komunitas ini menjadi awal dari sebuah perjalanan rohani yang kelak memiliki tempat istimewa dalam kehidupan Gereja di Keuskupan Agung Medan.

    Tiga tahun kemudian, pada 1994, Tahta Suci merestui dan mengeluarkan Surat Deklarasi Kemandirian Biara Santa Klara Sikeben sebagai biara otonom. Peristiwa ini menjadi tonggak penting bagi perkembangan kehidupan kontemplatif para Suster Klaris Kapusines di Indonesia. Di balik perjalanan tersebut terdapat kesetiaan para suster yang dengan tekun menghidupi panggilan mereka dalam doa, keheningan, pengorbanan, dan persaudaraan.

    Dalam perjalanan panjangnya, Sr. M. Yohanna Timmer, OSCCap, telah menjadi bagian dari sejarah dan pertumbuhan kehidupan kontemplatif di Gereja lokal. Kesaksiannya mengingatkan kita bahwa doa yang tersembunyi dalam keheningan pun merupakan pelayanan yang sangat berharga bagi Gereja dan dunia. Hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan dalam kesetiaan menjadi benih yang terus bertumbuh dan menghasilkan buah bagi banyak orang.

    Kini, setelah 96 tahun menjalani perjalanan hidup dan panggilan, Sr. M. Yohanna Timmer telah menyelesaikan peziarahannya di dunia. Kita percaya bahwa Tuhan yang telah memanggil dan menuntunnya dalam perjalanan hidup bakti, kini menyambutnya dalam rumah-Nya yang kekal.

    Sabda Tuhan dalam Wahyu 14:13 menjadi sumber penghiburan bagi kita:

    “Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

    Keuskupan Agung Medan menyampaikan doa dan penghiburan kepada keluarga besar para Suster Klaris Kapusines (OSCCap), komunitas Biara Santa Klara Sikeben, para suster di Gunungsitoli, keluarga, sahabat, serta semua umat yang mengenal dan mengalami kesaksian hidup Sr. M. Yohanna Timmer.

    Semoga teladan hidup, kesetiaan dalam panggilan, semangat misioner, serta kehidupan doa dan kontemplasi yang telah diwariskannya terus menjadi inspirasi bagi Gereja. Semoga pula Biara Santa Klara Sikeben senantiasa menjadi tempat di mana doa, keheningan, dan persembahan diri kepada Tuhan terus menjadi kekuatan bagi kehidupan dan perutusan Gereja.

    Selamat jalan, Sr. M. Yohanna Timmer, OSCCap.
    Terima kasih atas kesetiaan dalam panggilan, atas doa dan pengabdian, serta atas bagian yang telah Suster berikan dalam perjalanan Gereja di Keuskupan Agung Medan.

    Kiranya Kristus, yang telah Suster cintai dan layani sepanjang hidup, menerima Suster dalam pelukan kasih-Nya dan menganugerahkan kehidupan kekal.

    Berikanlah istirahat kekal kepadanya, ya Tuhan, dan semoga terang abadi menyinarinya. Semoga ia beristirahat dalam damai. Amin.

    Selamat Jalan Sr Adelina Gultom SFD

    Uskup Keuskupan Agung Medan, bersama seluruh klerus, biarawan-biarawati, dan umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Medan, menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke Rumah Bapa:

    Sr. Adelina Gultom SFD

    Lahir: 06 Juni 1970
    Wafat: 12 Agustus 2026 (Dalam usia 56 Tahun)

    Kami mengenang pengabdian dan teladan iman Sr. Adelina yang luar biasa bagi Gereja. Kiranya Tuhan memberikan tempat yang terindah di surga baginya dan memberikan penghiburan serta kekuatan bagi keluarga dan komunitas religius yang ditinggalkan.

    Filipi 1:21“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

    Rest in Peace (R.I.P.)

    Duka sebelumnya Kongregasi Suster SFD Keuskupan Agung Medan:

    Sr. Yohana Sinaga SFD (4 Ags 2026) 59 TahunSr. Vinsensia Tarigan SFD (10 Jan 2025) 62 Tahun

    Tata Ibadat Hari Ekologis KAM 2026 Pekan Laudato Si (Dari Harapan Menuju Aksi Nyata)

    Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.

    Selamat berjumpa dalam Perayaan Pekan Laudato Si’. Dalam terang ensiklik Laudato Si' dari Paus Fransiskus, kita dihimpun dalam satu panggilan yang mendesak dan profetis: mendengarkan jeritan bumi dan jeritan kaum miskin, serta mengubah harapan menjadi tindakan nyata. Inilah jalan iman yang harus kita tempuh sebagai murid-murid Kristus di tengah dunia yang terluka.

    Perjalanan rohani kita diawali dengan sikap dasar yang amat penting sesuai dengan semangat Sinode VII KAM yakni mendengarkan. Bumi sedang mengerang karena eksploitasi dan kerusakan; pada saat yang sama, kaum miskin menanggung beban paling berat dari krisis ekologis yang bukan mereka sebabkan. Seperti ditegaskan dalam Laudato Si’, krisis ekologis selalu berkaitan erat dengan krisis sosial. Tidak ada dua krisis yang terpisah, melainkan satu krisis kompleks yang menyentuh lingkungan dan kemanusiaan sekaligus. Karena itu, mendengarkan jeritan bumi berarti juga membuka hati terhadap penderitaan mereka yang kecil, lemah, dan tersingkir.

    Mendengarkan menuntut keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya. Ia menggerakkan hati nurani kita, mengguncang kenyamanan, dan mengajak kita keluar dari sikap acuh tak acuh. Kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap sesama dan terhadap ciptaan. Iman yang sejati selalu memiliki dimensi sosial dan ekologis. Disanalah kita hadir untuk meneguhkan dan mewartakan.

    Namun kita tidak berjalan dalam ketakutan atau keputusasaan. Kita berjalan dalam harapan yang berakar pada Allah Sang Pencipta yang tidak pernah meninggalkan karya tangan-Nya. Harapan Kristiani bukanlah optimisme kosong, melainkan keyakinan bahwa rahmat Allah bekerja melalui komitmen kecil namun setia dari umat-Nya. Setiap langkah pertobatan, setiap pilihan hidup yang lebih sederhana, setiap tindakan solidaritas adalah benih Kerajaan Allah. Karena itu, Pekan Laudato Si’ dan sekaligus sebagai peringatan akan St.Fransiskus dari Asisi ini mengajak kita melangkah lebih jauh: mengubah harapan menjadi tindakan nyata. Harapan tidak boleh berhenti pada doa dan refleksi. Ia harus menjelma dalam gaya hidup yang lebih bertanggung jawab, dalam keberpihakan kepada kaum miskin, dalam pengelolaan sumber daya yang bijaksana, dan dalam karya pastoral yang menyentuh kehidupan konkret umat. Pertobatan ekologis berarti perubahan hati yang tampak dalam perubahan tindakan.

    Dalam semangat berjalan bersama, kita dipanggil menjadi Gereja yang mendengarkan, berdialog, dan bertindak. Setiap komunitas Kristiani dipanggil menjadi tanda kasih Allah yang merawat, melindungi, dan memulihkan rumah bersama. Di sinilah kesaksian kita menjadi nyata: ketika iman melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan aksi.

    Semoga Roh Kudus membimbing kita dalam perjalanan ini: dari mendengarkan menuju bertindak, dari belas kasih menuju komitmen, dari harapan menuju aksi nyata.
    Kiranya Gereja sungguh menjadi penjaga setia rumah bersama dan pembawa harapan bagi bumi dan kaum miskin.

    Salam,
    RP.Stefanus Sitohang OFMCap

    Bahan Pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026

    Tahun 2026 merupakan tahun berahmat bagi umat Keuskupan Agung Medan karena kita melaksanakan Sinode Diosesan VII
    Keuskupan Agung Medan dengan tema: “Gereja KAM Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan dan Mewartakan”. Sejalan dengan itu, Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM menyusun pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 ini dengan memperhatikan tema sinode dan tema BKSN yang disusun oleh LBI, yakni “Yesus Guru Yang Penuh Kuasa. Wajah Yesus dalam Injil Matius”.

    Pendalaman BKSN 2026 ini berlandaskan pada Injil Matius. Dalam Injil Matius kita dapat menemukan lima kumpulan pengajaran Yesus. Empat di antaranya kita pilih untuk dibahas dan didalami dalam empat sub tema, yakni:

    1. Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Sejati (Matius 5:1-12)
    2. Pengajaran Yesus tentang Tugas Perutusan Para Murid (Matius 10:1-15),
    3. Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman (Matius 18:15-20),
    4. Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Kekal (Matius 25:31-46).

    Melalui pendalaman ini, umat KAM diundang untuk mendengarkan suara Yesus sebagai Guru dan teladan iman, meneguhkan satu sama lain dalam persaudaraan, serta mewartakan sukacita Injil melalui tindakan kasih yang nyata-seturut semangat Sinode Diosesan VII yang menjadikan Gereja KAM sebagai Oase Ilahi di Tengah Dunia.

    Semoga Allah memberikan kepada kita karunia untuk mengerti dan menghayati, sehingga apa yang diajarkan oleh Kristus meresap dalam hati kita dan mengubah hidup kita. “Inilah Anak-Ku yang terkasih. Dengarkanlah Dia” (bdk. Matius 17:5).

    Salam kami,

    Petunjuk Teknis Pendalaman Kitab Suci dalam BKSN

    1. Sebelum kegiatan dilaksanakan
      a. Kegiatan dilaksanakan dalam ibadat lingkungan selama bulan September 2026. Setiap pertemuan hendaknya mendalami satu
      subtema, sehingga perlu empat kali pertemuan. Perlu diinformasikan agar setiap umat membawa Kitab Suci dengan bahasa yang sama dengan bahan yang didalami.
      b. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemandu, lektor, dan pembawa lagu.
      - Pemandu: hendaknya mempelajari bahan panduan pendalaman ini dengan baik. Perhatikan setiap keterangan dalam buku panduan, pahami tujuan setiap kegiatan, dan ikuti setiap langkah yang disediakan. Pemandu wajib menyampaikan rangkuman yang telah disediakan dalam buku ini. Terbuka kemungkinan bagi pemandu untuk berkreasi, namun jangan sampai membuat tujuan tidak tercapai.
      - Pembaca (lektor): hendaknya telah membaca teks Kitab Suci yang akan dibacakan dalam pertemuan. Bacaan dibacakan dari Kitab Suci, bukan dari buku panduan ini.
      - Pembawa Nyanyian: hendaknya mempelajari dan menggunakan lagu yang sudah ditentukan dalam buku panduan. Petugas pembawa Nyanyian perlu memastikan bahwa Nyanyian bisa dinyanyikan oleh umat. Apabila sangat kesulitan, silakan dipilih Nyanyian yang sesuai dengan tema pendalaman.
    2. Sebelum kegiatan dimulai di lingkungan
      a. Pemandu memastikan Kitab Suci, salib dan lilin yang bernyala kiranya sudah ada sebelum lagu pembuka.
      b. Pemandu menjelaskan hal-hal yang perlu kepada umat.
      Penjelasan ini khususnya disampaikan pada saat pertemuan
      pertama. Hal-hal dimaksud adalah:
      - Pemandu atau petugas pembawa lagu hendaknya memastikan umat sudah memahami lagu.
      - Pemandu memberitahukan kutipan yang akan didalami dan meminta umat untuk membuka kutipan atau menandainya sehingga ketika pendalaman, umat bisa langsung mengikuti.
      c. Pemandu bertanya kepada umat, termasuk kepada tuan rumah, ujud doa lain selain ujud doa yang disediakan dalam buku panduan. Pemandu menentukan petugas yang akan membawakan ujud-ujud doa serta urutannya.
    3. Saat kegiatan berlangsung (khusus untuk pemandu)
      a. Saat pembacaan ulang kutipan. Pemandu jangan meniadakan bagian ini agar umat semakin terbiasa membuka dan membaca Kitab Suci.
      b. Saat pendalaman kutipan. Pemandu mengupayakan agar banyak umat terlibat aktif dengan meminta umat menjawab setiap pertanyaan.
      c. Saat Sharing. Diupayakan agar lebih banyak umat yang bersharing. Sharing terarah dengan pertanyaan panduan dan tidak bertele-tele. Bila tidak sesuai dengan pertanyaan, pemandu dapat mengarahkannya.
      d. Saat merencanakan aksi nyata. Tentukanlah aksi nyata yang bisa dilaksanakan oleh sebanyak mungkin umat di lingkungan.
      e. Perhatikan durasi pertemuan, yakni antara 60-90 menit. Pemandu mengatur waktu dengan baik sehingga kegiatan tidak terkesan asal terlaksana supaya cepat selesai, tetapi juga tidak bertele-tele.

    Renungan Uskup – Hari Minggu Biasa XIX

    9 Agustus 2026 - Minggu Biasa XIX | Tahun A/II

    Bacaan I : 1Raj. 19:9a,11-13a
    Bacaan II : Rm. 9:1-5
    Bacaan Injil : Mat. 14:22-33

    "Jangan Takut! Aku Ini."

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Setiap orang pasti pernah mengalami "badai" dalam hidupnya. Ada badai penyakit yang tidak kunjung sembuh, badai ekonomi yang mengguncang keluarga, badai relasi yang retak, badai kehilangan orang yang dikasihi, badai kegagalan, bahkan badai kecemasan akan masa depan. Dalam situasi seperti itu, doa kita hampir selalu sama: "Tuhan, hilangkan badai ini!" Kita ingin persoalan segera selesai, penderitaan segera berakhir, dan hidup kembali tenang. Namun Injil hari ini memperlihatkan sesuatu yang sangat mengejutkan. Ketika para murid diterjang angin sakal dan ombak besar, Yesus tidak langsung menghentikan badai itu. Ia justru datang kepada mereka berjalan di atas air dan berkata, "Tenanglah! Aku ini. Jangan takut!" Seolah-olah Yesus ingin mengajarkan bahwa kehadiran-Nya jauh lebih penting daripada berubahnya keadaan.

    Kalimat "Aku ini" bukan sekadar cara Yesus memperkenalkan diri. Dalam bahasa Yunani, ungkapan Ego Eimi mengingatkan kita pada nama Allah yang diwahyukan kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Artinya, Yesus sedang menyatakan bahwa Allah sendiri hadir di tengah badai kehidupan manusia. Inilah inti iman Kristen. Allah bukan hanya Allah yang bekerja ketika hidup berjalan baik. Ia adalah Allah yang masuk ke dalam badai bersama kita. Ia tidak berdiri di pantai sambil berteriak memberi petunjuk. Ia datang mendekat. Ia berjalan di atas ombak yang menakutkan itu. Karena itu pesan Injil hari ini bukanlah, "Jangan takut karena badai akan segera berhenti," tetapi, "Jangan takut, karena Aku ada bersamamu."

    Betapa sering kita mencari Tuhan hanya supaya masalah kita selesai. Kita berpikir, jika penyakit sembuh, barulah kita bersyukur; jika ekonomi membaik, barulah kita merasa Tuhan dekat; jika keluarga kembali harmonis, barulah kita percaya. Namun Yesus mengubah cara berpikir kita. Ia seakan berkata, "Jangan hanya mencari hidup tanpa badai. Carilah Aku yang menyertaimu di dalam badai." Sebab hidup tanpa badai belum tentu membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Sebaliknya, banyak orang justru menemukan Tuhan secara mendalam ketika melewati badai kehidupan. Yang memberi damai bukan karena badai sudah hilang, tetapi karena mereka menyadari bahwa Kristus tidak pernah meninggalkan mereka.

    Puncak Injil ini terjadi ketika Petrus mulai tenggelam. Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia mampu berjalan di atas air. Tetapi ketika ia mulai memandang angin dan ombak, ia kehilangan keberanian. Lalu ia berseru, "Tuhan, tolonglah aku!" Dan Injil mencatat sesuatu yang sangat indah: "Yesus segera mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus." Kata "segera" menunjukkan bahwa kasih Allah tidak pernah terlambat. Yesus tidak membiarkan Petrus tenggelam lebih dahulu agar ia belajar dari kesalahannya. Ia tidak berkata, "Bukankah sudah Aku bilang?" Sebelum memberikan nasihat, Yesus lebih dahulu memberikan tangan-Nya. Inilah wajah Allah yang kita imani: Allah yang pertama-tama menyelamatkan, baru kemudian membimbing.

    Bacaan pertama semakin memperkaya pesan ini. Nabi Elia juga sedang mengalami badai batin. Ia kecewa, letih, takut, bahkan ingin menyerah. Namun Allah tidak hadir dalam angin ribut, gempa bumi, atau api. Allah hadir dalam suara angin sepoi-sepoi basa. Mengapa? Karena Allah sering bekerja bukan dengan menghilangkan semua persoalan secara ajaib, tetapi dengan menghadirkan damai di dalam hati orang yang percaya. Begitulah Tuhan bekerja juga dalam hidup kita. Ia hadir melalui doa yang menenangkan hati, melalui Sabda yang menguatkan, melalui keluarga yang mendampingi, melalui sahabat yang mendengarkan, melalui Ekaristi yang menghidupkan kembali harapan kita. Kehadiran Allah sering kali lembut, tetapi justru itulah yang menguatkan kita untuk terus melangkah.

    Saudara-saudari, dunia saat ini dipenuhi oleh ketakutan. Orang takut kehilangan pekerjaan karena perkembangan teknologi. Orang muda takut menghadapi masa depan yang tidak pasti. Banyak keluarga takut akan krisis ekonomi. Gereja pun menghadapi berbagai tantangan. Dalam situasi seperti ini, sangat mudah jika kita lebih sibuk menghitung besarnya ombak daripada menyadari besarnya kasih Allah. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita mengubah fokus hidup. Jangan menjadikan ketakutan sebagai pusat hidup kita. Jadikan Kristus sebagai pusatnya. Orang yang memegang tangan Kristus mungkin tetap berjalan di tengah badai, tetapi ia tidak akan berjalan sendirian.

    Maka marilah kita pulang hari ini dengan membawa satu keyakinan yang mengubah hidup: Tuhan tidak selalu mengubah situasi kita, tetapi Tuhan selalu menyertai kita di dalam situasi itu. Ia tidak selalu menghilangkan salib kita, tetapi Ia memikulnya bersama kita. Ia tidak selalu menghentikan badai, tetapi Ia selalu mengulurkan tangan-Nya agar kita tidak tenggelam. Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan hanya berdoa, "Tuhan, hilangkan badai ini." Berdoalah juga, "Tuhan, peganglah tanganku, supaya aku tetap setia berjalan bersama-Mu." Sebab tangan Kristus jauh lebih kuat daripada badai apa pun. Dan selama tangan itu menggenggam kita, kita tidak perlu takut. "Jangan takut! Aku ini."

    Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCapArsip Homili sebelumnya:

    2 Agustus 2026 - Minggu Biasa XVIII | Tahun A/II

    Bacaan I : Yes. 55:1-3
    Bacaan II : Rm. 8:35,37-39
    Bacaan Injil : Mat. 14:13-21

    Bawa Kemari, kepada-Ku

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Ada satu benang merah yang menghubungkan bacaan pertama dan Injil hari ini, yaitu undangan Allah. Dalam bacaan pertama, melalui Nabi Yesaya, Allah berseru, "Hai semua orang yang haus, datanglah kepada air… datanglah, beli dan makan tanpa uang dan tanpa membayar." Allah mengundang semua orang yang lapar dan haus untuk datang kepada-Nya. Yang menarik, Allah tidak langsung berbicara kepada umat, tetapi melalui seorang nabi. Yesaya menjadi jembatan yang mengantar manusia kepada Allah. Lalu Tuhan melanjutkan undangan itu dengan kalimat yang sangat indah: "Dengarkanlah Aku, maka kamu akan hidup." Jadi, datang kepada Tuhan bukan hanya berarti mendekat secara fisik, tetapi menjadi pendengar Sabda-Nya. Sebab hidup yang sejati lahir ketika kita mendengarkan Allah dan membiarkan Sabda-Nya mengenyangkan kelaparan terdalam hati kita.

    Undangan yang sama muncul kembali dalam Injil. Menjelang malam, para murid melihat kenyataan yang memprihatinkan. Ribuan orang berada di tempat yang sunyi tanpa makanan. Mereka mengingatkan Yesus dengan niat yang baik, "Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka dapat membeli makanan." Mereka sadar bahwa kelaparan dapat berakibat fatal. Namun Yesus justru memberi jawaban yang mengejutkan, "Kamu harus memberi mereka makan." Para murid tentu terkejut. Bagaimana mungkin mereka memberi makan lebih dari lima ribu orang? Mereka hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Di sinilah Yesus mengucapkan kalimat yang menjadi tema homili kita hari ini: "Bawa kemari kepada-Ku."

    Perhatikan, Yesus tidak meminta sesuatu yang besar. Ia tidak berkata, "Carilah lebih banyak roti." Ia hanya berkata, "Bawa apa yang ada kepada-Ku." Inilah tugas para murid. Mereka tidak diminta menciptakan mukjizat. Mereka hanya diminta membawa apa yang mereka miliki kepada Yesus. Lima roti dan dua ikan memang sangat sedikit, tetapi ketika dibawa kepada Kristus, yang sedikit itu berubah menjadi kelimpahan. Di sinilah kita belajar bahwa Allah selalu memulai dari apa yang kita miliki, bukan dari apa yang tidak kita miliki. Yang menjadi persoalan bukan sedikit atau banyaknya, tetapi apakah kita bersedia membawanya kepada Tuhan.

    Namun ada satu hal yang sering kita lupakan. Membawa kepada Yesus berarti berani melepaskan apa yang kita miliki. Lima roti dan dua ikan itu harus dilepaskan dari tangan pemiliknya agar dapat diletakkan di tangan Yesus. Selama roti itu tetap digenggam, mukjizat tidak akan pernah terjadi. Mukjizat dimulai ketika ada orang yang berani berkata, "Tuhan, inilah yang kumiliki. Aku menyerahkannya kepada-Mu." Orang itu melepaskan miliknya, para murid membawanya kepada Yesus, Yesus memberkatinya, lalu mengembalikannya menjadi berkat bagi banyak orang. Mukjizat selalu lahir dari penyerahan. Sebaliknya, kalau semua orang memilih menggenggam miliknya sendiri karena takut kekurangan, tidak akan pernah ada mukjizat.

    Bukankah ini juga yang sering terjadi dalam hidup kita? Kita berkata, "Saya hanya punya sedikit waktu." "Saya hanya punya sedikit kemampuan." "Saya hanya punya sedikit uang." "Saya hanya orang biasa." Padahal Yesus tidak pernah bertanya berapa banyak yang kita miliki. Ia hanya bertanya, "Apakah engkau mau membawa dan menyerahkannya kepada-Ku?" Hari ini pun mukjizat masih terjadi ketika ada orang tua yang menyerahkan keluarganya kepada Tuhan, ketika orang muda menyerahkan masa depannya kepada Tuhan, ketika umat menyerahkan tenaga, pikiran, dan hartanya demi pelayanan Gereja, ketika seseorang menyerahkan luka dan dosanya kepada belas kasih Tuhan. Apa yang diserahkan kepada Kristus tidak pernah sia-sia; semuanya diubah menjadi rahmat.

    Bacaan kedua semakin meneguhkan kita. Santo Paulus berkata, "Siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?" Tidak ada penderitaan, kesulitan, kelaparan, bahaya, bahkan maut yang mampu memisahkan kita dari kasih-Nya. Mengapa? Karena kasih Kristus selalu lebih besar daripada segala keterbatasan kita. Jika lima roti dan dua ikan saja mampu mengenyangkan ribuan orang, maka hidup kita yang sederhana pun dapat menjadi berkat besar apabila diserahkan kepada Tuhan.

    Saudara-saudari terkasih, hari ini Tuhan kembali mengucapkan dua undangan yang saling melengkapi. Dalam bacaan pertama Ia berkata, "Datanglah kepada-Ku… dengarkanlah Aku, maka kamu akan hidup." Dalam Injil Ia berkata, "Bawa kemari kepada-Ku." Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang haus akan Dia, lalu bawalah kepada-Nya apa pun yang kita miliki. Jangan takut melepaskannya. Sebab yang kita lepaskan ke dalam tangan Kristus tidak akan hilang; justru akan diubah menjadi berkat yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan.

    Marilah kita pulang hari ini dengan satu keyakinan: mukjizat tidak dimulai dari kelimpahan, tetapi dari keberanian untuk melepaskan dan menyerahkan. Selama kita terus menggenggam hidup kita sendiri, mukjizat tidak akan terjadi. Tetapi ketika kita berani membawa dan meletakkan semuanya di tangan Yesus, Dia akan memberkati, memecah, melipatgandakan, dan menjadikan hidup kita makanan yang menghidupkan banyak orang.

    Amin.

    26 Juli 2026 - Hari Kakek Nenek Sedunia | Minggu Biasa XVII | Tahun A/II

    Bacaan I : 1Raj. 3:5,7-12
    Bacaan II : Rm. 8:28-30
    Bacaan Injil : Mat. 13:44-52 (panjang) atau Mat. 13:44-46 (singkat)

    Menemukan Harta yang Mengubah Hidup

    Setiap orang pasti sedang mencari sesuatu yang dianggap paling berharga dalam hidupnya. Ada yang mengejar uang, jabatan, popularitas, kekuasaan, kenyamanan, kesehatan, atau masa depan anak-anaknya. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi Injil hari ini mengajukan sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Apakah harta yang sedang kita kejar sungguh layak menjadi pusat hidup kita? Sebab Yesus berkata, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang… seumpama mutiara yang sangat berharga." Orang yang menemukannya rela menjual segala miliknya dengan sukacita demi memperoleh harta itu. Mengapa? Karena ia sadar bahwa setelah menemukan harta itu, semua yang lain menjadi bernilai karena harta tersebut.

    Harta itu bukan pertama-tama sesuatu, melainkan Kristus sendiri dan Kerajaan-Nya. Ketika seseorang sungguh menemukan Kristus, seluruh cara pandangnya berubah. Ia tidak lagi hidup hanya untuk memiliki lebih banyak, tetapi untuk menjadi lebih baik. Ia tidak lagi bertanya, "Apa yang paling menguntungkan bagiku?" tetapi, "Apa yang paling dikehendaki Tuhan?" Inilah perubahan terbesar dalam hidup seorang murid: bukan sekadar memiliki iman, tetapi menjadikan Kristus sebagai harta yang paling berharga.

    Karena itu bacaan pertama menjadi sangat indah. Ketika Tuhan menawarkan apa saja kepada Salomo, ia tidak meminta umur panjang, kekayaan, kemenangan atas musuh, atau kejayaan politik. Ia meminta hati yang bijaksana, hati yang mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Mengapa? Karena Salomo tahu bahwa bila hati benar, keputusan pun benar; bila keputusan benar, hidup pun akan benar. Salomo memilih harta yang tidak dapat dicuri siapa pun: kebijaksanaan yang berasal dari Allah. Itulah sebabnya Tuhan memberikan kepadanya bukan hanya hikmat, tetapi juga berkat-berkat lain.

    Begitu pula Santo Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Orang yang menemukan Kristus sebagai hartanya mulai melihat seluruh hidup dengan cara yang baru. Bahkan penderitaan, kegagalan, penyakit, kehilangan, dan air mata pun tidak lagi dianggap sia-sia. Semua itu dapat dipakai Tuhan sebagai jalan menuju keselamatan. Inilah harta yang tidak dapat diberikan dunia: keyakinan bahwa Tuhan tetap berkarya bahkan di tengah peristiwa yang paling sulit sekalipun.

    Injil kemudian menghadirkan perumpamaan ketiga, yakni jala yang menangkap berbagai jenis ikan. Selama hidup di dunia, baik dan jahat masih hidup berdampingan. Tetapi pada akhirnya Tuhan sendiri akan memisahkan semuanya. Pesan ini mengingatkan bahwa menemukan Kristus sebagai harta tidak cukup hanya di awal. Harta itu harus dijaga dengan kesetiaan sampai akhir hidup. Jangan sampai kita menemukan mutiara Kerajaan Allah, tetapi kemudian menukarnya kembali dengan hal-hal yang sementara: kekuasaan, uang, kesenangan, atau dosa.

    Hari ini Gereja juga memperingati Hari Orang Tua, Kakek, dan Nenek Sedunia, bertepatan dengan peringatan Santo Yoakim dan Santa Anna, orang tua Bunda Maria. Mereka tidak dikenang karena kekayaan atau jabatan mereka, tetapi karena berhasil mewariskan harta yang paling berharga kepada Maria, yaitu iman kepada Allah. Warisan terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak bukanlah rumah, tanah, atau tabungan, melainkan hati yang mengenal Tuhan. Harta dunia dapat habis; iman akan membuka jalan menuju hidup kekal.

    Saudara-saudari, zaman kita sedang mengalami krisis nilai. Banyak orang rela mengorbankan kejujuran demi uang, mengorbankan keluarga demi karier, mengorbankan iman demi kenyamanan, bahkan mengorbankan hati nurani demi keuntungan sesaat. Injil hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur: Apa sebenarnya harta yang paling kita jaga? Sebab apa yang paling kita cintai akan menentukan arah hidup kita. Jika Kristus sungguh menjadi harta kita, maka doa bukan lagi beban, pelayanan bukan lagi kewajiban, pengampunan bukan lagi kelemahan, dan kasih bukan lagi sekadar teori.

    Namun ada satu hal yang sangat menghibur dalam Injil hari ini. Orang yang menemukan harta itu menjual segala miliknya dengan sukacita. Ia tidak merasa rugi. Mengikuti Kristus memang menuntut pengorbanan, tetapi pengorbanan itu bukan kehilangan, melainkan pertukaran. Kita melepaskan yang sementara untuk memperoleh yang kekal; kita meninggalkan yang kecil untuk menerima yang jauh lebih besar. Tidak ada orang yang menjadi miskin karena memilih Kristus. Justru di dalam Dia kita menemukan kekayaan yang sejati: damai, sukacita, pengharapan, dan hidup kekal.

    Marilah kita memohon pada hari Minggu ini agar Tuhan memberi kita hati seperti Salomo: hati yang bijaksana untuk mengenali harta yang sejati. Semoga kita tidak menghabiskan hidup mengejar hal-hal yang suatu hari akan kita tinggalkan, tetapi sungguh mengejar Kristus, Sang Mutiara yang Tak Ternilai. Dan seperti Santo Yoakim dan Santa Anna, semoga kita menjadi keluarga yang mewariskan iman sebagai harta terbesar kepada anak-anak dan cucu-cucu kita.

    Akhirnya, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Jika hari ini Tuhan meminta kita menunjukkan harta terbesar dalam hidup kita, apakah yang akan kita tunjukkan? Semoga jawaban kita bukan hanya terucap dengan bibir, tetapi tampak dalam seluruh cara hidup kita: Kristus adalah hartaku, Kerajaan-Nya adalah tujuanku, dan kasih-Nya adalah kekayaanku yang tak akan pernah habis.

    Amin.

    12 Juli 2026 - Hari Minggu Biasa XV | Tahun A/II

    Bacaan I :  Yes. 55:10-11
    Bacaan II :   Rm. 8:18-23
    Bacaan Injil : Mat. 13:1-23

    Jadilah Tanah yang Gembur, Sebab Firman Allah Tidak Pernah Gagal

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Di tengah berbagai tantangan hidup, Tuhan hari ini menyampaikan sebuah kabar yang sangat menghiburkan: Firman Allah tidak pernah gagal. Melalui Nabi Yesaya, Tuhan berkata, "Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana sebelum mengairi bumi, demikianlah firman-Ku; firman itu tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia." Betapa indah janji ini. Artinya, setiap kali kita membaca Kitab Suci, mengikuti Ekaristi, mendengarkan homili, atau merenungkan Sabda Tuhan, Allah sedang bekerja. Mungkin perubahan itu belum langsung kita lihat, tetapi Sabda-Nya sedang menyuburkan hati, menguatkan iman, menyembuhkan luka, dan membentuk hidup kita. Firman Tuhan tidak pernah menjadi sia-sia.

    Kalau begitu, mengapa hasilnya berbeda-beda? Mengapa ada orang yang hidupnya berubah, sementara ada yang seolah tetap sama? Yesus menjawabnya melalui perumpamaan tentang penabur. Benihnya sama. Penaburnya juga sama. Yang berbeda hanyalah tanahnya. Tanah yang gembur adalah hati yang mendengar dan memahami Sabda Tuhan. Memahami di sini bukan sekadar mengerti isi bacaan, melainkan membiarkan Sabda itu masuk ke dalam hati, mengubah cara berpikir, cara mengambil keputusan, cara memperlakukan sesama, dan akhirnya mengubah seluruh hidup. Sabda tidak berhenti menjadi informasi, tetapi menjadi transformasi.

    Kabar baiknya adalah bahwa Allah sendiri tidak tinggal diam menunggu hati kita berubah. Mazmur hari ini menggambarkan Allah seperti seorang petani yang penuh kasih. Dialah yang mengunjungi bumi, mengairi alur-alurnya, melembutkan tanah dengan hujan, dan memberkati pertumbuhannya. Ini berarti, ketika hati kita mulai mengeras karena dosa, luka batin, atau kekecewaan, Allah datang untuk melembutkannya. Ketika iman kita terasa kering, Allah mengairinya dengan rahmat-Nya. Ketika kita merasa tidak sanggup berubah, Allah lebih dahulu bekerja di dalam diri kita. Pertumbuhan rohani bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi hasil kerja sama antara rahmat Allah dan keterbukaan hati kita.

    Karena itu, jangan pernah berkata, "Saya sudah terlambat berubah," atau "Hati saya sudah terlalu keras." Tuhan mampu menggemburkan tanah yang paling keras sekalipun. Yang dibutuhkan hanyalah kesediaan untuk membuka hati. Mungkin selama ini hati kita dipenuhi kesombongan, ambisi, iri hati, ketamakan, kekhawatiran, atau luka yang belum diampuni. Semua itu memang dapat menghambat pertumbuhan benih. Namun rahmat Tuhan lebih besar daripada semua hambatan itu. Bila kita membiarkan Tuhan mengolah hati kita, benih Sabda akan mulai bertumbuh kembali.

    Yesus juga memberi penghiburan yang sangat indah. Tanah yang baik menghasilkan buah tiga puluh, enam puluh, bahkan seratus kali lipat. Perhatikan, Tuhan tidak menuntut semua orang menghasilkan buah yang sama. Tidak semua dipanggil menghasilkan seratus kali lipat. Ada yang tiga puluh, ada yang enam puluh. Yang penting adalah setiap orang menghasilkan buah. Jangan membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Allah tidak meminta kita menjadi seperti orang lain. Ia meminta kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, sesuai rahmat yang diberikan-Nya. Yang Tuhan lihat bukan besar kecilnya hasil, tetapi kesetiaan kita membiarkan Sabda bekerja.

    Santo Paulus membantu kita memahami bahwa buah itu juga membutuhkan waktu. Ia mengatakan bahwa seluruh ciptaan sedang mengeluh seperti seorang ibu yang sedang melahirkan. Tidak ada kelahiran tanpa perjuangan. Tidak ada panen tanpa penantian. Begitu pula kehidupan rohani. Ada saat-saat kita merasa doa belum dijawab, pelayanan belum membuahkan hasil, atau perjuangan melawan dosa terasa berat. Jangan putus asa. Benih yang ditanam hari ini tidak langsung menjadi pohon esok hari. Allah sedang bekerja dalam waktu-Nya. Yang diminta dari kita adalah tetap setia, tetap berharap, dan tetap membuka hati.

    Saudara-saudari terkasih, hari ini Tuhan tidak pertama-tama bertanya, "Berapa banyak Sabda yang sudah kamu dengar?" Tuhan bertanya, "Apakah hatimu menjadi tanah yang gembur bagi Sabda-Ku?" Tanah yang gembur adalah hati yang rendah hati, mau diajar, mau bertobat, mau diubah, dan mau melaksanakan kehendak Tuhan. Bila hati kita seperti itu, Firman Allah pasti menghasilkan buah yang nyata: kasih yang semakin besar, pengampunan yang semakin tulus, kejujuran yang semakin kokoh, damai yang semakin mendalam, pelayanan yang semakin murah hati, dan kekudusan yang semakin bertumbuh.

    Maka marilah kita pulang hari ini dengan penuh harapan. Jangan takut bila proses pertumbuhan terasa lambat. Jangan berkecil hati bila hasilnya belum langsung terlihat. Percayalah pada janji Tuhan: Firman-Nya tidak pernah kembali dengan sia-sia. Biarkan Allah terus menggemburkan hati kita, mengairinya dengan rahmat-Nya, dan menumbuhkan benih Sabda di dalamnya. Pada waktunya nanti, hidup kita pun akan menjadi ladang yang penuh panen, menghasilkan buah yang berlimpah—tiga puluh, enam puluh, bahkan seratus kali lipat—demi kemuliaan Allah dan keselamatan banyak orang.

    Amin.

    5 Juli 2026 - Hari Minggu Biasa XIV | Tahun A/II

    Bacaan I :  Za. 9:9-10
    Bacaan II :  Rm. 8:9,11-13
    Bacaan Injil : Mat. 11:25-30

    Bukan Beban yang Diangkat, tetapi Hati yang Diubah

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Jika hari ini saya bertanya, "Apa yang paling sering kita minta dalam doa?" barangkali banyak dari kita akan menjawab: kesehatan, rezeki, kesembuhan, jalan keluar dari masalah, atau agar Tuhan mengangkat beban hidup kita. Seorang ibu berdoa agar beban keluarganya diangkat. Seorang ayah berdoa agar kesulitan ekonominya segera selesai. Orang yang sakit memohon agar penyakitnya disembuhkan. Orang yang sedang menghadapi persoalan memohon agar masalahnya segera berlalu. Semua doa itu baik. Namun, kalau kita mendengarkan Injil hari ini dengan saksama, kita akan menemukan sesuatu yang sangat menarik. Yesus tidak berkata, "Marilah kepada-Ku dan Aku akan menghilangkan semua bebanmu." Yang dijanjikan Yesus justru adalah, "Marilah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu." Yang dijanjikan bukanlah hidup tanpa beban, melainkan hati yang memperoleh kelegaan.

    Apa bedanya? Beban bisa saja tetap ada, tetapi hati kita berubah. Salib mungkin belum diangkat, tetapi kita tidak lagi berjalan sendirian. Persoalan hidup mungkin belum selesai, tetapi kita tidak lagi dikuasai oleh ketakutan. Itulah sebabnya sesudah berkata, "Aku akan memberikan kelegaan," Yesus langsung melanjutkan, "Pikullah kuk yang Kupasang." Yesus tidak menghapus salib kehidupan. Bahkan Ia mengajak kita memikul kuk bersama-Nya. Mengapa kuk itu menjadi ringan? Karena kuk itu tidak lagi dipikul sendirian. Sebelum kita memikul salib, Kristus telah lebih dahulu memikulnya. Sebelum kita menderita, Kristus telah lebih dahulu menderita. Ketika kita berjalan bersama-Nya, beban yang sama terasa berbeda karena kasih-Nya menopang kita.

    Lalu bagaimana memperoleh kelegaan itu? Jawaban Yesus sangat sederhana tetapi sangat mendalam: "Belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati." Inilah sekolah Yesus. Belajar kepada Yesus berarti belajar menghadapi hidup tanpa kesombongan, Dia melayani tanpa mencari pujian, Dia memikul tanggung jawab tanpa mengeluh, Dia mengampuni tanpa menghitung-hitung, dan tetap percaya ketika jalan hidup menjadi berat. Orang yang rendah hati tidak merasa harus menguasai semuanya. Ia tahu kapan harus berjuang dan kapan harus menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Orang yang lemah lembut bukan orang yang lemah, melainkan orang yang kuat karena mampu mengendalikan dirinya dan tetap mengasihi ketika disakiti.

    Bacaan pertama dari Nabi Zakharia memberikan gambaran yang sangat indah tentang Yesus. Nabi Zakharia menubuatkan bahwa Sang Raja yang dinantikan tidak datang dengan kereta perang, pasukan berkuda, atau senjata. Ia datang dengan menunggang seekor keledai, lambang kerendahan hati dan kedamaian. Nubuat tadi terpenuhi dlm diri Yesus yang menunjukkan bahwa kekuatan sejati lahir dari kerendahan hati.

    Santo Paulus dalam bacaan kedua menambahkan bahwa kita dipanggil hidup menurut Roh, bukan menurut keinginan daging. Hidup menurut Roh berarti membiarkan Roh Kudus membentuk hati kita menjadi seperti hati Kristus. Ketika hati berubah, cara kita memandang masalah pun berubah. Yang dahulu terasa mustahil mulai dapat dijalani. Yang dahulu membuat kita putus asa kini menjadi kesempatan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Yang dulu terasa pahit dan kita hindarkan, sekarang menjadi manis.

    Saudara-saudari terkasih, sering kali kita salah arah dalam berdoa. Kita lebih sibuk meminta agar Tuhan mengubah keadaan daripada meminta agar Tuhan mengubah diri kita. Kita meminta agar salib segera diangkat, padahal mungkin Tuhan ingin memakai salib itu untuk membentuk hati kita. Kita meminta agar persoalan segera selesai, padahal Tuhan sedang mengajar kita menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih percaya, dan lebih mengasihi. Kadang-kadang mukjizat terbesar bukanlah berubahnya keadaan, melainkan berubahnya hati manusia. Ketika hati berubah, kita mulai melihat bahwa Tuhan ternyata tidak pernah meninggalkan kita.

    Karena itu, mulai hari ini marilah kita memperbarui doa-doa kita. Jangan hanya berkata, "Tuhan, hilangkanlah bebanku." Tetapi berdoalah, "Tuhan, berilah aku hati seperti hati-Mu." Berilah aku kerendahan hati untuk menerima apa yang tidak dapat kuubah. Berilah aku kelemahlembutan untuk menghadapi orang-orang yang sulit. Berilah aku kesabaran untuk memikul tanggung jawab. Berilah aku iman untuk tetap percaya ketika jalan hidup terasa gelap. Sebab ketika kita belajar dari hati Yesus, beban tidak selalu berubah, tetapi kita yang berubah. Hati menjadi lebih damai, langkah menjadi lebih ringan, dan jiwa menemukan kelegaan yang dijanjikan-Nya.

    Marilah kita masuk ke sekolah Yesus setiap hari melalui doa, Ekaristi, Sabda Tuhan, dan pelayanan kasih. Di sanalah kita belajar memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati. Dan ketika hati kita semakin menyerupai hati Kristus, kita akan mengalami sendiri kebenaran sabda-Nya: "Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." Bukan karena hidup menjadi tanpa salib, tetapi karena Kristus memikul salib itu bersama kita. Itulah kelegaan sejati. Itulah damai yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Dan itulah sukacita yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun. Amin.

    28 Juni 2026 - Hari Minggu Biasa XIII | Tahun A/II

    Bacaan I : 2Raj. 4:8-11,14-16a
    Bacaan II :  Rm. 6:3-4,8-11
    Bacaan Injil : Mat. 10:37-42

    Mengutamakan Kristus, Menghadirkan Kasih dalam Hal-Hal Kecil

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Sabda Tuhan hari ini menunjukkan bahwa kasih sejati selalu menuntut pilihan. Yesus berkata, "Barangsiapa mengasihi ayah atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku." Perkataan ini bukan berarti Yesus menyuruh kita mengurangi kasih kepada keluarga. Sebaliknya, Yesus sedang mengajarkan urutan kasih. Bila Kristus menjadi yang pertama, kita justru akan semakin mampu mengasihi keluarga, sahabat, dan sesama dengan kasih yang benar. Tetapi bila sesuatu atau seseorang menggantikan tempat Allah, maka kasih kita mudah berubah menjadi keterikatan, egoisme, atau bahkan penyembahan terhadap manusia.

    Bacaan pertama memberikan contoh yang indah tentang kasih yang diwujudkan dalam tindakan. Perempuan Sunem mengenali Elisa sebagai abdi Allah. Ia tidak hanya mengaguminya, tetapi menyediakan makanan, bahkan membangun sebuah kamar kecil lengkap dengan tempat tidur, meja, kursi, dan pelita agar Elisa dapat beristirahat setiap kali melewati daerahnya. Keramahtamahan yang sederhana itu ternyata menjadi jalan datangnya berkat Allah. Dari tindakan kecil lahirlah mukjizat besar: keluarga yang lama tidak mempunyai anak akhirnya menerima anugerah seorang putra. Sabda Tuhan mengajarkan bahwa kasih kepada Allah selalu menemukan bentuk konkretnya dalam pelayanan kepada orang lain.

    Rasul Paulus kemudian membawa kita lebih dalam lagi. Dalam surat kepada jemaat di Roma, ia mengatakan bahwa melalui Baptisan kita telah dipersatukan dengan wafat dan kebangkitan Kristus. Artinya, hidup Kristen bukan sekadar memperbaiki perilaku, melainkan menerima hidup yang baru. Manusia lama yang dikuasai dosa dipanggil mati bersama Kristus, supaya lahir manusia baru yang hidup bagi Allah. Karena itu mengutamakan Kristus bukan sekadar keputusan sesaat, melainkan cara hidup setiap hari. Kita belajar mematikan kesombongan, egoisme, kebencian, dan kepentingan diri, agar kasih Kristus semakin nyata dalam diri kita.

    Injil hari ini kemudian menunjukkan bahwa kasih kepada Kristus selalu membawa salib. "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku." Salib bukan pertama-tama penderitaan yang dicari-cari, melainkan kesediaan tetap setia ketika kesetiaan itu menuntut pengorbanan. Seorang ayah yang bekerja keras demi keluarganya dengan jujur, seorang ibu yang setia merawat anak-anaknya, seorang imam atau biarawan yang tetap setia pada panggilannya, seorang pegawai yang menolak korupsi meskipun dirugikan—semuanya sedang memanggul salib demi Kristus. Justru di situlah kasih menjadi nyata.

    Namun menariknya, setelah berbicara tentang salib, Yesus langsung berbicara tentang segelas air putih. Seolah-olah Yesus ingin mengatakan bahwa kesetiaan kepada-Nya tidak selalu diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar. Memberikan segelas air kepada seorang murid, menyambut seorang tamu, mengunjungi orang sakit, mendengarkan orang yang sedang berduka, menghibur yang putus asa, menyapa dengan ramah, memaafkan kesalahan kecil—semuanya mempunyai nilai kekal di hadapan Allah. Tidak ada kasih yang terlalu kecil bila dilakukan demi Kristus.

    Inilah kabar gembira bagi kita. Banyak orang berpikir bahwa menjadi kudus harus melakukan hal-hal luar biasa. Padahal sebagian besar hidup kita justru terdiri dari hal-hal kecil. Santo Fransiskus dari Assisi pernah mengajarkan bahwa kasih dibuktikan lebih oleh perbuatan daripada oleh kata-kata. Demikian pula Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus menunjukkan bahwa "jalan kecil" penuh kasih dapat membawa seseorang kepada kekudusan. Allah tidak hanya melihat besarnya pekerjaan kita, tetapi terutama besarnya kasih yang mendorong pekerjaan itu.

    Saudara-saudari terkasih, benang merah seluruh bacaan hari ini sangat jelas. Allah yang setia telah memberi kita hidup baru melalui Kristus. Kini kita dipanggil menanggapi kasih itu dengan menempatkan Kristus sebagai prioritas utama, memanggul salib dengan setia, dan menghadirkan kasih dalam tindakan-tindakan sederhana setiap hari. Semoga setiap orang yang berjumpa dengan kita dapat merasakan keramahan seperti yang diberikan perempuan Sunem, mengalami perhatian sekecil "segelas air" yang disebut Yesus, dan melihat bahwa hidup baru dalam Kristus sungguh nyata melalui cara kita mengasihi. Amin.

    21 Juni 2026 - Hari Minggu Biasa XII | Tahun A/II

    Bacaan I : Yer. 20:10-13
    Bacaan II : Rm. 5:12-15
    Bacaan Injil : Mat. 10:26-33

    Jangan Takut, Sebab Kamu Sangat Berharga di Mata Allah

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Salah satu pengalaman paling manusiawi adalah rasa takut. Kita takut kehilangan kesehatan, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita cintai, kehilangan masa depan, kehilangan nama baik, bahkan kadang-kadang takut mempertahankan iman kita sendiri. Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi menyimpan banyak ketakutan di dalam hati. Karena itu sangat menarik bahwa dalam Injil hari ini Yesus berulang kali mengucapkan kalimat yang sama: “Jangan takut.” Rupanya Tuhan tahu bahwa salah satu pertempuran terbesar manusia bukanlah melawan dunia di luar, melainkan melawan ketakutan di dalam dirinya sendiri.

    Bacaan pertama memperlihatkan pengalaman Nabi Yeremia. Ia bukan nabi yang hidup nyaman. Ia diejek, ditolak, diawasi, bahkan dicari-cari kesalahannya. Orang-orang di sekelilingnya menunggu saat kejatuhannya. Secara manusiawi, Yeremia memiliki banyak alasan untuk takut. Namun yang mengagumkan, Yeremia tidak menyerahkan hidupnya kepada ketakutan itu. Ia menyerahkan perkaranya kepada Tuhan. Ia berkata bahwa Tuhanlah yang menyelidiki hati dan batin manusia. Yeremia mengajarkan kepada kita bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki ketakutan. Keberanian berarti membawa ketakutan itu kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan menjadi hakim terakhir atas hidup kita.

    Pengalaman yang sama juga dialami oleh para murid Yesus. Ketika Yesus mengutus mereka, Ia tidak menjanjikan hidup yang mudah. Ia tidak mengatakan bahwa semua orang akan menerima mereka. Sebaliknya, mereka akan mengalami penolakan, ejekan, bahkan penganiayaan. Injil tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan bebas dari masalah. Yang dijanjikan Yesus adalah bahwa iman dapat bertahan di tengah masalah. Yang dijanjikan bukan hilangnya badai, melainkan kehadiran Tuhan di dalam badai itu.

    Karena itu Yesus berkata:

    Jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa.

    Kalimat ini mengubah cara pandang kita. Sering kali kita terlalu takut kehilangan hal-hal yang sementara, tetapi kurang takut kehilangan hal-hal yang kekal. Kita takut kehilangan uang, tetapi tidak takut kehilangan integritas. Kita takut kehilangan jabatan, tetapi tidak takut kehilangan hati nurani. Kita takut ditolak manusia, tetapi tidak takut menjauh dari Tuhan. Yesus mengajak kita menata kembali urutan nilai hidup. Kebenaran Allah lebih besar daripada opini manusia. Keselamatan jiwa lebih berharga daripada kenyamanan sesaat.

    Lalu Yesus memberikan gambaran yang sangat indah:

    “Bukankah dua ekor burung pipit dijual dengan satu duit? Namun seekor pun tidak akan jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan Bapamu.”

    Dan sesudah itu Yesus menambahkan:

    “Kamu jauh lebih berharga daripada banyak burung pipit.”

    Inilah dasar terdalam mengapa orang beriman tidak perlu hidup dalam ketakutan. Kita tidak hidup di dunia yang dikuasai nasib atau kebetulan. Kita hidup di bawah penyelenggaraan Bapa. Jika Tuhan memperhatikan burung pipit yang kecil, apalagi anak-anak-Nya. Jika Tuhan mengetahui rambut di kepala kita, apalagi air mata yang kita sembunyikan. Kita mungkin tidak selalu mengerti jalan Tuhan, tetapi kita dapat selalu mempercayai hati-Nya.

    Bacaan kedua dari Surat Roma memperdalam keyakinan itu. Santo Paulus menjelaskan bahwa dosa memang masuk ke dalam dunia melalui manusia, dan bersama dosa datanglah penderitaan, ketakutan, dan kematian. Namun kasih karunia Kristus jauh lebih besar daripada dosa. Jika dosa mampu melukai manusia, rahmat Kristus mampu memulihkan manusia. Jika dosa membawa ketakutan, Kristus membawa pengharapan. Jika kematian tampak berkuasa, Kristus telah mengalahkannya melalui kebangkitan-Nya. Karena itu keberanian iman bukan lahir dari kekuatan kita sendiri, melainkan dari keyakinan bahwa Kristus telah menang.

    Saudara-saudari terkasih, dunia kita hari ini dipenuhi oleh ketakutan. Orang takut akan masa depan ekonomi, takut akan konflik sosial, takut akan penyakit, takut akan kegagalan, bahkan takut untuk menyatakan imannya secara terbuka. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita berdiri teguh. Kebenaran Allah pada akhirnya akan muncul ke terang. Kasih Allah lebih kuat daripada ancaman manusia. Penyelenggaraan Allah lebih besar daripada kecemasan kita. Karena itu marilah kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan seperti Yeremia, mengakui Kristus di hadapan manusia dengan berani, dan percaya bahwa kita sangat berharga di mata Allah. Sebab orang yang menjadikan Tuhan sebagai pusat pengharapannya akan menemukan damai yang tidak dapat dirampas oleh ketakutan apa pun. Amin.

    14 Juni 2026 - Hari Minggu Biasa XI | Tahun A/II

    Bacaan I : Kel. 19:2-6a
    Bacaan II : Rm. 5:6-11
    Bacaan Injil : Mat. 9:36-10:8

    Dikasihi, Diperdamaikan, dan Diutus

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Manusia didefinisikan bukan berdasarkan apa yang dia miliki, tetapi berdasarkan Siapa yang memilikinya. Dalam hidup ini kita sering mendefinisikan diri berdasarkan pekerjaan, jabatan, pendidikan, atau keberhasilan yang kita miliki. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melihat identitas yang lebih mendasar. Siapakah kita di hadapan Allah? Bacaan-bacaan hari ini memberikan jawaban yang sangat indah: kita adalah umat yang dikasihi Allah, diperdamaikan oleh Kristus, dan diutus untuk menghadirkan kasih-Nya kepada dunia. Inilah identitas terdalam setiap orang beriman.

    Dalam bacaan pertama, Allah mengingatkan bangsa Israel: “Aku telah membawa kamu di atas kepak sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.” Sebelum memberi hukum dan perintah, Allah terlebih dahulu menyelamatkan mereka. Sebelum menuntut kesetiaan, Allah lebih dahulu menunjukkan kasih-Nya. Karena itu Israel disebut sebagai “milik kesayangan Allah” dan “bangsa yang kudus.” Demikian pula hidup kita. Kita ada bukan pertama-tama karena kekuatan atau kemampuan kita sendiri, melainkan karena kasih Allah yang menopang, membimbing, dan memelihara kita sepanjang perjalanan hidup.

    Kasih Allah itu mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Santo Paulus berkata dalam bacaan kedua bahwa Kristus mati untuk kita ketika kita masih lemah dan berdosa. Allah tidak menunggu kita menjadi baik untuk mengasihi kita. Ia lebih dahulu datang mencari kita. Ia mendamaikan kita ketika kita masih jauh dari-Nya. Inilah inti Injil: keselamatan adalah anugerah, bukan prestasi. Kita hidup bukan karena layak dicintai, tetapi karena Allah memilih untuk mencintai kita tanpa syarat.

    Orang yang sungguh menyadari dirinya dicintai Allah akan mengalami perubahan cara hidup. Ia tidak lagi harus mencari harga dirinya dari kekayaan, jabatan, atau pujian manusia. Ia tidak lagi hidup dari ketakutan dan kecemasan. Sebaliknya, ia hidup dari rasa syukur. Ia sadar bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah anugerah. Dari hati yang bersyukur lahirlah belas kasih kepada sesama. Orang yang merasa dirinya telah diampuni akan lebih mudah mengampuni. Orang yang merasa dirinya dicintai akan lebih mudah mencintai.

    Karena itu dalam Injil kita melihat Yesus memandang orang banyak dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Mereka seperti domba yang tidak bergembala. Yesus melihat penderitaan, kebingungan, dan kehilangan arah yang dialami manusia. Dari belas kasih itulah lahir perutusan. Ia memanggil para murid dan mengutus mereka untuk menyembuhkan, meneguhkan, dan mewartakan Kerajaan Allah. Gereja lahir bukan dari ambisi manusia, tetapi dari hati Yesus yang berbelaskasih kepada dunia.

    Lalu Yesus memberikan prinsip yang menjadi dasar seluruh pelayanan Gereja: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Segala sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita sesungguhnya kita terima secara cuma-cuma: hidup, iman, kasih, pengampunan, dan keselamatan. Karena itu hidup Kristiani tidak boleh berhenti pada menerima. Kita dipanggil menjadi saluran rahmat. Kasih yang kita terima harus menjadi kasih yang dibagikan. Penghiburan yang kita terima harus menjadi penghiburan bagi orang lain. Rahmat yang kita terima harus menjadi berkat bagi dunia.

    Maka pada Minggu ini Sabda Tuhan mengajak kita mengingat kembali identitas kita yang paling dalam. Kita adalah umat yang dikasihi Allah. Kita adalah orang-orang yang telah diperdamaikan oleh darah Kristus. Dan kita adalah murid-murid yang diutus untuk menghadirkan belas kasih-Nya kepada dunia. Semoga setiap orang yang berjumpa dengan kita dapat merasakan sedikit dari kasih Kristus. Sebab Gereja yang sejati bukanlah Gereja yang hanya berkumpul untuk berdoa, tetapi Gereja yang keluar untuk melayani; Gereja yang bersukacita karena dikasihi, hidup karena diperdamaikan, dan bergerak karena diutus. Amin.

    Hari Raya Tubuh dan Darah Kritus 07 Juni 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Ulangan 8:2-3.14b-16a
    Bacaan II : 1 Korintus 10:16-17
    Bacaan Injil : Yohanes 6:51-58

    “Allah Memberi Roti Agar Manusia Tinggal di Dalam Kristus”

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Banyak orang melihat Ekaristi sebagai sebuah ritual yang dilakukan setiap Minggu. Ada pula yang melihatnya sebagai kenangan akan Perjamuan Terakhir. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita masuk lebih dalam. Benang merah seluruh bacaan adalah ini: Allah memberi roti agar manusia tinggal di dalam Dia. Sejak awal sejarah keselamatan, Allah selalu memberi makan umat-Nya, bukan sekadar untuk menghilangkan lapar jasmani, tetapi untuk membawa mereka masuk ke dalam persekutuan hidup dengan-Nya.

    Dalam bacaan pertama, Musa mengingatkan bangsa Israel tentang perjalanan mereka di padang gurun. Selama empat puluh tahun mereka mengalami lapar, kehausan, dan ketidakpastian. Namun justru di tengah situasi itu Allah memberi manna dari surga. Musa menjelaskan bahwa Allah melakukan semuanya itu agar umat memahami satu kebenaran besar:

    “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan.” Allah ingin membebaskan umat-Nya dari ilusi bahwa hidup bergantung pada kekuatan, kekayaan, atau kemampuan manusia semata. Manna menjadi sekolah iman. Setiap hari mereka belajar bahwa hidup adalah anugerah dan bahwa Allah sendirilah sumber kehidupan mereka.

    Mazmur tanggapan melanjutkan tema yang sama. Pemazmur memuji Tuhan yang memberi damai, memberi gandum terbaik, dan mengutus Sabda-Nya ke seluruh bumi. Dalam tradisi Gereja, gandum dan Sabda ini selalu dipandang sebagai gambaran Ekaristi. Sebelum umat menerima Tubuh Kristus, mereka terlebih dahulu mendengarkan Sabda Kristus. Meja Sabda dan Meja Ekaristi tidak pernah dipisahkan. Allah memberi makan umat-Nya melalui Sabda dan Sakramen. Ia tidak hanya mengajar dari jauh, tetapi memberi diri-Nya sendiri sebagai santapan bagi umat-Nya.

    Dalam bacaan kedua, Santo Paulus membawa kita lebih jauh lagi. Ia bertanya:

    “Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan Tubuh Kristus?” Ekaristi bukan hanya soal hubungan pribadi antara saya dan Tuhan. Ekaristi membentuk Gereja. Karena roti itu satu, maka kita yang banyak menjadi satu tubuh. Di altar, segala perbedaan status, suku, bahasa, jabatan, dan kekayaan dipersatukan dalam Kristus. Maka tidak mungkin seseorang menerima Tubuh Kristus tetapi tetap memelihara kebencian, perpecahan, atau ketidakpedulian terhadap sesama. Komuni dengan Kristus harus menghasilkan komunio dengan saudara-saudari kita.

    Puncaknya terdapat dalam Injil Yohanes. Yesus berkata:

    “Akulah roti hidup yang turun dari surga.” Dan lebih tegas lagi: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Inilah salah satu pernyataan paling radikal dalam seluruh Injil. Yesus tidak berkata bahwa Ekaristi hanya lambang atau kenangan. Ia berbicara tentang sebuah persekutuan yang nyata dan mendalam. Tujuan Ekaristi bukan sekadar agar kita menerima Kristus, melainkan agar kita tinggal dalam Kristus dan Kristus tinggal dalam diri kita. Dalam bahasa Yohanes, “tinggal” berarti hidup dalam relasi yang tetap, mendalam, dan mengubah seluruh keberadaan kita.

    Karena itu Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus bukan hanya perayaan tentang roti dan anggur yang dikonsekrir. Ini adalah perayaan tentang Allah yang memberikan diri-Nya sepenuhnya kepada manusia. Dalam Ekaristi, Kristus yang wafat dan bangkit terus hadir sebagai kurban keselamatan, sebagai kehadiran nyata, dan sebagai persekutuan yang mengubah hidup. Ia tidak hanya memberi sesuatu kepada kita. Ia memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Tidak ada agama lain yang memiliki misteri kasih seperti ini: Allah menjadi santapan bagi umat-Nya agar umat-Nya mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri.

    Namun pertanyaan penting bagi kita adalah: apakah kita sungguh tinggal di dalam Kristus setelah menerima Komuni Kudus? Banyak orang menerima Ekaristi setiap Minggu, tetapi tetap hidup seolah-olah Kristus tidak hadir dalam dirinya. Mereka menerima Tubuh Kristus di altar, tetapi tidak menjadi tubuh Kristus bagi sesamanya. Mereka makan roti surgawi, tetapi tidak membagikan kasih surgawi. Padahal Ekaristi selalu mengandung perutusan. Kita menerima Kristus agar kita menjadi kehadiran Kristus di tengah dunia. Kita diberi makan agar mampu memberi makan mereka yang lapar akan kasih, pengampunan, keadilan, perhatian, dan pengharapan.

    Di dunia saat ini, banyak orang mengalami kelaparan yang lebih dalam daripada kelaparan fisik. Ada yang lapar akan makna hidup, lapar akan kasih sayang, lapar akan pengampunan, lapar akan persaudaraan, dan lapar akan harapan. Ada keluarga yang retak, orang muda yang kehilangan arah, masyarakat yang terpecah oleh kebencian, dan banyak orang yang merasa sendirian. Maka setelah menerima Tubuh dan Darah Kristus, kita diutus untuk menjadi roti yang dipecah-pecahkan bagi sesama. Seperti Kristus memberikan diri-Nya bagi dunia, demikian pula kita dipanggil memberikan waktu, perhatian, kemampuan, dan kasih kita bagi orang lain.

    Saudara-saudari terkasih,

    Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan kita bahwa Allah memberi roti bukan hanya untuk mengenyangkan manusia, tetapi agar manusia tinggal di dalam Dia. Dari manna di padang gurun, gandum terbaik dalam mazmur, roti yang satu dalam surat Paulus, hingga Roti Hidup dalam Injil Yohanes, semuanya menunjuk kepada Kristus. Karena itu marilah kita datang kepada Ekaristi bukan sekadar sebagai kewajiban Minggu, melainkan sebagai perjumpaan dengan Kristus yang hidup. Dan setelah menerima-Nya, marilah kita pergi untuk menjadi roti kasih bagi dunia yang lapar akan Allah. Sebab tujuan akhir Ekaristi bukan hanya agar Kristus hadir di altar, tetapi agar Kristus hidup dalam diri kita dan melalui kita menjangkau dunia. Amin.

    Hari Raya Tritunggal Mahakudus 31 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Keluaran 34:4b-6.8-9
    Bacaan II : 2 Korintus 13:11-13
    Bacaan Injil : Yohanes 3:16-18

    Allah adalah Kasih yang Hadir, Menyelamatkan, dan Mempersatukan

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
    Hari Raya Tritunggal Mahakudus sering kali dianggap sebagai salah satu misteri iman yang paling sulit dipahami. Bagaimana mungkin Allah satu tetapi tiga pribadi? Bagaimana mungkin Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah satu Allah? Sepanjang sejarah, para teolog telah berusaha menjelaskan misteri ini, tetapi pada akhirnya Tritunggal bukan pertama-tama sebuah rumus matematika yang harus dipecahkan, melainkan sebuah pengalaman iman yang harus dihayati. Hari ini Gereja tidak mengajak kita menghitung pribadi-pribadi Allah, melainkan mengenal siapa Allah yang menyatakan diri kepada manusia. Dan menariknya, ketiga bacaan hari ini memperlihatkan satu benang merah yang sangat jelas: Allah Tritunggal adalah Allah yang kasih-Nya selalu mengalir kepada manusia.

    Dalam bacaan pertama, Musa mengalami Allah bukan sebagai penguasa yang menakutkan, melainkan sebagai Allah yang penuh belas kasih. Ketika bangsa Israel baru saja jatuh ke dalam dosa penyembahan anak lembu emas, Musa naik kembali ke gunung Sinai. Di sana Tuhan memperkenalkan diri-Nya:
    “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia.” (Kel. 34:6)

    Inilah salah satu pernyataan terindah tentang Allah dalam seluruh Perjanjian Lama. Allah yang dikenal Musa bukan Allah yang mudah marah dan menghukum, melainkan Allah yang tetap setia bahkan ketika umat-Nya tidak setia. Allah yang pertama-tama bukan menunjukkan kekuasaan-Nya, tetapi menunjukkan belas kasih-Nya. Dengan kata lain, inti terdalam identitas Allah adalah kasih. Musa menemukan bahwa di balik hukum-hukum, perintah-perintah, dan kuasa ilahi, terdapat hati Allah yang penuh belas kasih terhadap manusia.

    Pemahaman ini semakin diperdalam oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Menjelang akhir suratnya kepada jemaat Korintus yang penuh konflik dan perpecahan, Paulus tidak menekankan aturan atau hukuman. Sebaliknya ia berkata:
    “Hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu.” (2Kor. 13:11)

    Perhatikan ungkapan Paulus: Allah sumber kasih dan damai sejahtera. Allah bukan hanya memiliki kasih; Allah adalah sumber kasih itu sendiri. Karena itu orang yang sungguh mengenal Allah harus menjadi pembawa kasih dan damai. Paulus mengajak umat Korintus untuk sehati sepikiran, hidup dalam persaudaraan, dan mengatasi perpecahan. Mengapa? Karena hidup dalam kasih dan damai merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menjadi anak-anak Allah. Tidak mungkin seseorang mengaku mengenal Allah Tritunggal tetapi hidup dalam kebencian, iri hati, permusuhan, atau perpecahan.

    Puncak pewahyuan tentang Allah itu kita temukan dalam Injil Yohanes hari ini. Barangkali inilah ayat yang paling terkenal dalam seluruh Kitab Suci:
    “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” (Yoh. 3:16)
    Di sini Yohanes membawa kita masuk ke dalam jantung misteri Tritunggal. Allah bukan sekadar mengasihi; Allah adalah kasih. Dan kasih sejati selalu memberi diri. Karena itu Bapa mengaruniakan Putra-Nya. Putra menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia. Roh Kudus dicurahkan agar manusia dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi itu. Seluruh karya keselamatan adalah gerakan kasih Allah yang terus mengalir keluar menuju manusia.

    Jika dalam Perjanjian Lama Musa mengenal Allah sebagai penyayang dan pengasih, maka dalam Yesus manusia melihat kasih itu dalam bentuk yang paling nyata. Dalam perkataan-Nya, dalam mukjizat-mukjizat-Nya, dalam pengampunan-Nya kepada orang berdosa, dalam perhatian-Nya kepada orang miskin dan tersingkir, hingga akhirnya dalam wafat-Nya di salib, Yesus memperlihatkan wajah Allah yang sesungguhnya: wajah kasih.

    Karena itu Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukan terutama perayaan tentang teori Allah, tetapi tentang kehidupan Allah sendiri.
    Allah yang kita imani bukan pribadi yang hidup sendirian dalam kesunyian ilahi. Allah adalah persekutuan kasih: Bapa mengasihi Putra, Putra mengasihi Bapa, dan kasih itu dipersatukan dalam Roh Kudus. Para Bapa Gereja sering menyebut Tritunggal sebagai communio amoris, persekutuan kasih. Maka ketika manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia pun dipanggil untuk hidup dalam relasi kasih, bukan dalam egoisme dan keterasingan. Itulah sebabnya dosa selalu memecah-belah, sedangkan kasih selalu mempersatukan.

    Pesan ini sangat relevan bagi dunia kita saat ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin terhubung oleh teknologi, tetapi sering kali semakin terpecah secara sosial. Banyak keluarga kehilangan komunikasi. Banyak komunitas terbelah oleh perbedaan politik, suku, agama, atau kepentingan ekonomi. Bahkan media sosial sering menjadi tempat pertengkaran dan saling menjatuhkan. Dunia mengalami krisis relasi karena kehilangan sumber kasih yang sejati. Hari Raya Tritunggal mengingatkan kita bahwa manusia hanya menemukan identitasnya ketika hidup dalam kasih. Kita tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita diciptakan untuk membangun persekutuan, saling menerima, saling mengampuni, dan saling menguatkan.

    Saudara-saudari terkasih,
    Jika Musa mengenal Allah sebagai penyayang dan pengasih, jika Paulus mengenal Allah sebagai sumber kasih dan damai sejahtera, dan jika Yohanes mewartakan Allah yang begitu mengasihi dunia hingga mengaruniakan Putra-Nya, maka pertanyaan bagi kita adalah: apakah wajah Allah itu tampak dalam hidup kita? Apakah keluarga kita menjadi tempat kasih bertumbuh? Apakah komunitas kita menjadi ruang damai sejahtera? Apakah Gereja kita menjadi cerminan persekutuan kasih Tritunggal? Sebab orang tidak dapat melihat Allah secara langsung, tetapi mereka dapat melihat pantulan kasih Allah dalam hidup umat-Nya.

    Maka pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, marilah kita memohon agar Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus membentuk hidup kita menurut citra-Nya sendiri. Semoga kita semakin menjadi pribadi yang penuh belas kasih seperti Bapa, semakin rela memberi diri seperti Putra, dan semakin menjadi pembawa damai serta pemersatu seperti Roh Kudus. Dengan demikian, melalui hidup kita, dunia dapat mengalami bahwa Allah yang kita imani sungguh adalah Allah yang hidup, Allah yang hadir, dan Allah yang adalah Kasih. Amin.

    Hari Minggu Pentakosta 24 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 2:1-11
    Bacaan II :  1Kor. 12:3b-7,12-13
    Bacaan Injil : Yoh. 20:19-23

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai dan sukacita Pentakosta memenuhi hati kita.

    Hari Raya Pentakosta adalah hari kelahiran Gereja. Tetapi Gereja lahir bukan pertama-tama dari organisasi, aturan, atau kekuatan manusia. Gereja lahir dari transformasi hati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Dalam Injil hari ini, para murid berada dalam keadaan takut, tertutup, kecewa, dan kehilangan arah. Mereka mengunci pintu karena takut kepada dunia di luar mereka. Mereka adalah komunitas yang terluka. Namun justru kepada murid-murid yang terluka itulah Yesus Kristus datang, berdiri di tengah mereka, dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.”

    Saudara-saudari terkasih,
    Sesudah itu Yesus melakukan sesuatu yang sangat mendalam: Ia menghembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” Yesus memberikan Roh yang hidup dalam diri-Nya sendiri: Roh cinta, Roh damai, Roh pengampunan, dan Roh keberanian. Inilah awal transformasi para murid. Mereka yang sebelumnya takut perlahan berubah menjadi berani. Mereka yang tertutup mulai terbuka. Mereka yang terluka mulai dipulihkan. Roh Kudus mengubah hati mereka dari dalam.

    Menarik bahwa sesudah kebangkitan-Nya, Yesus tidak menyembunyikan luka-luka salib-Nya. Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada para murid. Luka itu tetap ada, tetapi sudah dimuliakan. Luka itu tidak lagi menjadi sumber kebencian dan penderitaan, melainkan sumber kasih dan keselamatan. Dari luka-luka itu Yesus justru membawa damai dan pengampunan. Inilah karya Roh Kudus yang sangat indah: Roh Kudus tidak selalu langsung menghapus semua luka manusia, tetapi mentransformasikannya menjadi sumber belas kasih, kebijaksanaan, dan pengharapan.

    Saudara-saudari terkasih,
    Luka adalah bagian dari hidup manusia. Ada luka karena pengkhianatan, penolakan, kehilangan, kegagalan, penghinaan, dan pengalaman pahit lainnya. Luka yang tidak disentuh Roh Kudus dapat berubah menjadi kemarahan, dendam, dan kebencian. Banyak orang hidup dengan hati yang tertutup karena takut menghadapi luka hidupnya sendiri. Tetapi Roh Kudus memberi keberanian untuk membuka luka itu di hadapan Tuhan dan membiarkan Tuhan menyembuhkannya.

    Karena itu sesudah memberikan Roh Kudus, Yesus langsung berbicara tentang pengampunan: “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni.” Seolah Yesus mau mengatakan bahwa orang yang menerima Roh-Nya harus belajar memiliki hati seperti hati-Nya sendiri: hati yang mampu mengampuni. Pengampunan bukan sekadar kemampuan manusia, tetapi buah karya Roh Kudus. Roh Kudus melembutkan hati yang keras, menyembuhkan luka batin, dan memberi keberanian untuk berdamai.

    Saudara-saudari terkasih,
    Transformasi inilah yang kemudian tampak dalam bacaan pertama. Para rasul yang dahulu takut kini mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti diilhami Roh Kudus. “Bahasa lain” di sini bukan hanya bahasa asing, tetapi bahasa baru yang lahir dari Roh Allah. Mereka mulai berbicara dengan bahasa kasih, bahasa damai, bahasa pengharapan, dan bahasa yang membangun persekutuan. Mereka tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi menjadi saksi karya besar Allah bagi dunia.

    Inilah kelahiran Gereja. Gereja lahir ketika manusia yang terluka disentuh Roh Kudus dan diubah menjadi pembawa damai dan pengharapan. Gereja lahir ketika orang mulai mampu keluar dari ego, kebencian, dan ketakutannya untuk hidup dalam kasih Kristus. Karena itu inti Pentakosta bukan pertama-tama mukjizat bahasa, tetapi transformasi hati manusia.

    Dalam bacaan kedua, Santo Paulus Rasul berkata: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus.” Roh Kudus mengarahkan hati manusia kepada Kristus dan mempersatukan Gereja dalam berbagai karunia. Ada yang diberi kemampuan mengajar, melayani, menghibur, memimpin, merawat, dan meneguhkan. Semua karunia itu diberikan bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk membangun Tubuh Kristus dalam kasih dan persatuan.

    Saudara-saudari terkasih,
    Sepanjang sejarah, Roh Kudus terus menjaga Gereja. Gereja pernah mengalami penganiayaan, perpecahan, ajaran sesat, kelemahan manusia, dan berbagai krisis zaman. Tetapi Roh Kudus tidak meninggalkan Gereja. Roh Kudus membangkitkan para kudus, para martir, dan para pewarta Injil yang terus memperbarui Gereja. Tanpa Roh Kudus, Gereja hanyalah organisasi manusia yang rapuh. Tetapi bersama Roh Kudus, Gereja tetap hidup karena Roh Kudus adalah jiwa Gereja.

    Hari ini dunia menghadapi tantangan baru: budaya kebencian, polarisasi, media sosial yang penuh kemarahan, individualisme, dan hilangnya hati manusiawi. Banyak orang terhubung lewat teknologi, tetapi semakin jauh secara batin. Karena itu dunia membutuhkan manusia Pentakosta: manusia yang dipenuhi Roh Kudus dan mampu menghadirkan wajah Kristus.

    Paus Leo XIV mengingatkan agar kita menjaga suara dan wajah tetap manusiawi. Orang yang dipenuhi Roh Kudus tidak memakai kata-katanya untuk melukai, tetapi untuk menyembuhkan. Tidak memakai hidupnya untuk memperbesar ego, tetapi untuk menghadirkan kasih Kristus bagi sesama. Roh Kudus membuat manusia kembali sungguh manusiawi menurut hati Allah.

    Saudara-saudari terkasih,
    Hari ini Yesus juga berdiri di tengah hidup kita dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” Terimalah Roh yang mampu mentransformasikan hidupmu. Terimalah Roh yang menyembuhkan luka-lukamu. Terimalah Roh yang mengubah ketakutan menjadi keberanian, kebencian menjadi pengampunan, dan luka menjadi sumber kasih bagi sesama.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: semoga Roh Kudus memenuhi hati kita dan mentransformasikan hidup kita seperti para rasul dahulu, sehingga kita menjadi Gereja yang hidup, mengasihi, mempersatukan, dan membawa pengharapan bagi dunia.
    Sebab pada akhirnya,
    Pentakosta adalah kisah tentang manusia-manusia terluka yang disentuh Roh Kudus dan diubah menjadi Gereja yang hidup serta menjadi saksi kasih Kristus bagi dunia.
    Amin. Alleluia.

    Hari Minggu VII Paskah (Hari Komunikasi Sosial Sedunia) 17 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 1:12-14
    Bacaan II : 1Ptr. 4:13-16
    Bacaan Injil : Yoh. 17:1-11a.

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, 
    Hari ini Gereja universal merayakan Hari Komunikasi Sedunia. Menarik bahwa perayaan ini selalu ditempatkan dalam Minggu VII Paskah, sesudah Kenaikan Tuhan dan menjelang Pentakosta. Apa yang dilakukan para murid setelah Yesus naik ke surga? Dalam bacaan pertama kita mendengar bahwa setelah Yesus naik ke surga, para murid kembali ke Yerusalem dan “bertekun dengan sehati dalam doa.” Inilah gambaran pertama Gereja: Gereja yang membangun komunikasi dan persekutuan dengan Tuhan. Sebab komunikasi sejati pertama-tama bukan soal teknologi atau kata-kata, tetapi relasi dan komunio. Doa adalah komunikasi terdalam manusia dengan Allah. Dan ini jugalah kerinduan terdalam dari manusia: dimana manusia tinggal bersama-Nya, mendengarkan-Nya, dan membiarkan hati dipersatukan dengan hati-Nya.

    Mazmur hari ini mengungkapkan kerinduan itu dengan sangat indah: “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan: diam di rumah Tuhan seumur hidupku dan menyaksikan kemurahan Tuhan.” Orang yang sungguh tinggal dalam Tuhan akan memandang dunia dengan hati yang berbeda: lebih lembut, lebih penuh belas kasih, lebih mampu melihat sesama bukan sebagai ancaman tetapi sebagai saudara. Dan hati yang dipenuhi kasih Alkah inilah diekspresikan melalui wajah. Inilah jantung komunikasi Kristen: hati yang mengalami kasih Allah lalu menghadirkan kasih itu kepada sesama melalui wajah dan suara.

    Saudara-saudari terkasih, menjaga wajah dan suara manusiawi yang sesuai dengan kehendak Allah mengandung resiko yang berat. Bacaan kedua mengingatkan bahwa bagian yang diterima para murid sebagai pengikut Kristus bukan pertama-tama kenyamanan, tetapi juga penderitaan. Santo Petrus mengatakan bahwa murid Kristus mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Kesatuan dengan Kristus berarti ikut berjalan di jalan kasih, memperjuangan kebenaran, dgn pengorbanan, dan kesetiaan. Tetapi justru melalui jalan itulah manusia masuk ke dalam kebangkitan dan kemuliaan bersama Dia. Maka komunikasi Kristen bukan komunikasi yang mencari popularitas atau kemenangan diri, tetapi komunikasi yang rela membawa damai, walaupun kadang harus menanggung kesalahpahaman atau penolakan. Manusia tergoda untuk meminjam dan memakai wajah dan suara lain, karena berat memakai wajah dan suara asli yg jadi ekspresi dari hati.

    Dalam Injil hari ini, kita meligat kesetiaan memakai wajah dan suara asli, wajah dan suara yang dipenuhi kasih Allah. Ini nampak dalam wajah dan suara Yesus. Yesus berdoa kepada Bapa: “Permuliakanlah Anak-Mu supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” Dalam Injil Yohanes, “kemuliaan” bukan pertama-tama kejayaan duniawi, tetapi kasih Allah yang dinyatakan kepada manusia. Yesus mempermuliakan Bapa dengan menyampaikan Firman Bapa kepada dunia. Melalui Yesus, manusia melihat wajah dan mendengar suara Allah yang asli tidak rekayasa dan artifisial, yakni wajah yg penuh belas kasih. Di sinilah komunikasi mencapai puncaknya: Allah tidak hanya berbicara, tetapi memperlihatkan wajah-Nya sendiri kepada manusia melalui Yesus.

    Saudara-saudari terkasih, Pesan Pope Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sedunia tahun ini sangat sederhana tetapi mendalam: “Jagalah wajah dan suara kita tetap manusiawi.” Di tengah dunia digital dan kecerdasan buatan, Paus mengingatkan agar manusia jangan kehilangan wajah kasih, wajah empati, wajah kelembutan, dan wajah ketulusan. Jangan sampai media sosial membuat manusia memakai topeng: wajah manipulatif, wajah pencitraan, wajah amarah, wajah yang ingin menguasai dan menjatuhkan orang lain.

    Kita harus menjaga wajah kita. Wajah orang Kristen seharusnya memantulkan wajah Kristus sendiri: wajah yang berbelas kasih kepada yang terluka, wajah yang lembut kepada yang lemah, wajah yang tulus dan sederhana. Dunia digital hari ini penuh dengan wajah-wajah yang dibuat-buat dan direkayasa demi pujian, pengaruh, atau kekuasaan. Tetapi Injil memanggil kita untuk menghadirkan wajah yang jujur dan manusiawi. Sebab melalui wajah kita, orang lain seharusnya dapat merasakan kedamaian Tuhan.

    Kita juga harus menjaga suara kita. Suara seorang murid Kristus harus menjadi suara yang meneguhkan, menghibur, memberdayakan, dan memberkati. Bukan suara yang mengutuk, bukan suara yang melukai batin, bukan suara yang membingungkan dan memprovokasi. Betapa mudah hari ini orang menghina lewat komentar, menyebarkan kebencian, atau menyerang sesama dengan kata-kata kasar. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kata-kata sejati lahir dari hati yang tinggal dalam kasih Allah.

    Karena itu tantangan terbesar komunikasi zaman ini bukan kurangnya teknologi, tetapi hilangnya hati sebagai jantung persekutuan. Orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun kebenaran. Lebih mudah menyerang daripada memahami. Lebih mudah menghakimi daripada mendengarkan. Padahal komunikasi Kristen lahir dari hati yang bersatu dengan Allah Tritunggal: Allah yang saling mendengar, saling mengasihi, dan saling memberi diri.

    Saudara-saudari terkasih, Para murid sesudah Kenaikan Tuhan tidak langsung pergi berbicara ke mana-mana. Mereka terlebih dahulu bertekun dalam doa dan persekutuan. Mereka belajar tinggal dalam Tuhan sebelum diutus mewartakan Tuhan. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita: komunikasi yang benar lahir dari hati yang berdoa, hati yang mendengarkan, hati yang mengalami kasih Allah.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar di tengah dunia yang penuh kebisingan, pencitraan, dan suara artifisial, kita tetap menjadi pribadi yang memiliki hati. Hati yang mampu mendengarkan Tuhan. Hati yang mampu merasakan penderitaan sesama. Hati yang mampu berkata benar dengan kasih. Dan hati yang mampu membangun komunio, bukan perpecahan. Semoga wajah kita tetap manusiawi—wajah yang memancarkan kasih Tuhan. Dan semoga suara kita tetap manusiawi—suara yang membawa damai, harapan, dan penghiburan.

    Sebab pada akhirnya, komunikasi Kristen bukan pertama-tama soal kemampuan berbicara, tetapi kemampuan tinggal dalam kasih Allah dan menghadirkan kasih itu kepada dunia. Amin. Alleluia.

    Hari Minggu VI Paskah - 10 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 8:5-8,14-17
    Bacaan II : 1Ptr. 3:15-18
    Bacaan Injil : Yoh. 14:15-21

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan sesuatu yang sangat penting kepada para murid-Nya: “Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran.” Di tengah ketakutan dan ketidakpastian para murid, Yesus tidak meninggalkan mereka sendirian. Ia menjanjikan Roh Kebenaran yang akan tinggal bersama mereka dan menuntun mereka kepada hidup yang benar.

    Namun Yesus juga memberikan satu syarat yang sangat jelas: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Artinya, Roh Kebenaran tidak bekerja dalam hati yang tertutup terhadap kasih Allah. Murid yang mau dipimpin oleh Roh harus lebih dahulu hidup dalam kasih kepada Kristus dan membiarkan hidupnya dibentuk oleh perintah-perintah-Nya.

    Saudara-saudari terkasih, Apa itu Roh Kebenaran? Roh Kebenaran adalah Roh yang menuntun dan mengarahkan murid kepada kebenaran sejati. Tetapi Yesus sendiri sudah berkata sebelumnya: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Maka kebenaran dalam iman Kristen bukan pertama-tama konsep, bukan teori, bukan sekadar logika atau ide. Kebenaran adalah pribadi, yaitu Yesus Kristus sendiri.

    Yesus adalah pribadi yang menghadirkan Allah ke dunia. Dalam diri-Nya kita melihat Allah yang mengasihi, Allah yang mengampuni, Allah yang peduli kepada yang kecil dan terluka, Allah yang mencari yang hilang, Allah yang membawa damai, dan Allah yang membuka mata manusia akan kasih-Nya. Maka Roh Kebenaran tidak hanya membuat kita “tahu” tentang Allah, tetapi menuntun kita masuk dalam hidup Kristus sendiri.

    Saudara-saudari terkasih, Karena itu syarat untuk menerima Roh Kebenaran adalah mengasihi Yesus dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Mengapa? Karena hanya hati yang mengasihi yang mampu mengenali kebenaran itu. Orang yang hidup dalam kebencian, egoisme, dan penolakan terhadap kasih Allah akan sulit menerima terang Roh Kudus. Sebaliknya, orang yang belajar mengasihi, mengampuni, peduli, dan membawa damai sedang membuka dirinya terhadap karya Roh Kebenaran.

    Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam Gereja perdana. Ketika Injil diberitakan di Samaria, banyak orang mengalami sukacita besar. Mengapa? Karena Roh Allah menghadirkan kebenaran yang membebaskan dan memulihkan hidup manusia. Di mana Roh Kudus bekerja, di situ lahir damai, harapan, dan sukacita.

    Saudara-saudari terkasih, Hari ini kita hidup di tengah dunia yang memiliki banyak versi “kebenaran.” Orang mudah menentukan benar menurut dirinya sendiri. Tetapi Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kebenaran sejati bukanlah apa yang kita ciptakan sendiri, melainkan pribadi Kristus yang harus kita ikuti. Dan Roh Kudus terus menuntun Gereja untuk tetap tinggal dalam kebenaran itu.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar kita sungguh mengasihi Kristus, menuruti perintah-perintah-Nya, dan membuka hati terhadap Roh Kebenaran yang dijanjikan-Nya. Sebab pada akhirnya, kebenaran sejati bukan sekadar sesuatu yang diketahui, tetapi Pribadi yang diikuti, dicintai, dan dihidupi—yaitu Yesus Kristus sendiri. Amin. Alleluia.





    Kotbah Minggu V Paskah - 3 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 6:1-7
    Bacaan II :  1Ptr. 2:4-9
    Bacaan Injil : Yoh. 14:1-12

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.

    Manusia pada dasarnya adalah pencari kebenaran. Dalam Injil hari ini, kita mendengar dua suara yang sangat jujur dari para murid: Rasul Tomas berkata, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” dan Rasul Filipus berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami.” Dua pertanyaan ini adalah cermin hati kita semua: kita mencari arah hidup, kita merindukan kebenaran, kita ingin mengenal Allah.

    Sepanjang sejarah, banyak orang besar mengalami pencarian ini. Augustinus dari Hippo mengakui bahwa hatinya gelisah sebelum menemukan Tuhan. Ia mencari dalam berbagai hal, tetapi tetap kosong, sampai akhirnya ia menemukan Kristus—dan hidupnya berubah. Demikian juga Thomas Aquinas, yang dengan kecerdasannya mencari kebenaran, tetapi akhirnya menyadari bahwa kebenaran sejati bukan hanya dipahami, tetapi dialami dalam Allah. Keduanya menunjukkan satu hal: ketika seseorang menemukan kebenaran, hidupnya tidak bisa tetap sama.

    Saudara-saudari terkasih, Yesus menjawab kerinduan itu dengan sabda yang sangat tegas: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Ini adalah jawaban bagi setiap pencarian manusia. Di tengah dunia yang penuh pilihan dan kebingungan, Yesus menegaskan bahwa hanya dalam Dia kita menemukan arah, kebenaran, dan hidup yang tidak pernah berakhir. Ia bukan sekadar penunjuk jalan, tetapi jalan itu sendiri yang harus kita ikuti.

    Namun kita juga harus jujur melihat kenyataan. Zaman ini menawarkan banyak “jalan lain” yang sangat menggoda: jalan kesuksesan dan materi, jalan popularitas, jalan kenyamanan, bahkan jalan yang membiarkan kita menentukan kebenaran sendiri. Semua ini tampak menarik dan menjanjikan. Tetapi sering kali, setelah dijalani, jalan-jalan ini meninggalkan kehampaan—hidup terasa penuh di luar, tetapi kosong di dalam.

    Saudara-saudari terkasih, Di sinilah kita memahami sabda Yesus lebih dalam. Ia adalah jalan—yang mengajak kita mengikuti hidup-Nya: jalan kasih, pengorbanan, dan kesetiaan kepada kehendak Bapa. Ia adalah kebenaran—bukan sekadar ide, tetapi pribadi yang harus dihidupi. Ia adalah hidup—yang memberi makna terdalam dan kekal. Maka iman bukan hanya soal mencari kebenaran, tetapi membiarkan diri ditarik, diubah, dan dihidupi oleh kebenaran itu, yaitu Kristus.

    Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Gereja perdana memilih jalan yang benar, bukan yang mudah. Mereka menghadapi persoalan, tetapi menanganinya dengan kebijaksanaan dan iman. Karena itu Gereja bertumbuh dan memberi kesaksian yang hidup. Ini menjadi cermin bagi kita hari ini.

    Saudara-saudari terkasih, Hari ini kita diajak untuk bertanya: apakah kita sungguh mencari kebenaran? Dan jika kita telah menemukannya dalam Kristus, apakah kita membiarkan hidup kita diubah oleh-Nya? Ataukah kita tetap berjalan di jalan kita sendiri?

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar kita tidak hanya menjadi pencari kebenaran, tetapi menjadi orang yang ditemukan, diubah, dan dihidupi oleh kebenaran itu sendiri.

    Sebab pada akhirnya, hanya dalam Kristus kita menemukan arah, kebenaran, dan hidup yang tidak pernah berakhir—dan hanya dalam Dia hidup kita menjadi penuh dan bermakna. Amin. Alleluia.

     

    Warta Kuria (Juni-Juli 2026)

    1. Meneguhkan Misi Pendidikan Tinggi Pastoral: Rapat Tri Organ Yayasan Budi Murni dalam Terang Gravissimum Educationis

    Rapat Tri Organ Yayasan Budi Murni pada 19 Juni 2026 di ruang Kolegium Konsultor Gedung Catholic Center Medan berusaha mengevaluasi perjalanan pelayanan dan merumuskan arah strategis pengembangan pendidikan tinggi pastoral. Suasana dialogis mewarnai paparan berbagai capaian dan tantangan dipaparkan, disertai masukan serta arahan Bapa Uskup yang meneguhkan komitmen yayasan untuk menghadirkan pelayanan pendidikan yang unggul, berintegritas dan relevan dengan kebutuhan Gereja serta perkembangan zaman. Apresiasi khusus diberikan kepada STP Santo Bonaventura Keuskupan Agung Medan yang dinilai berhasil melahirkan lulusan yang berkarakter Katolik dengan masa tunggu kerja yang semakin singkat, menunjukkan meningkatnya kepercayaan dan kebutuhan dunia pastoral terhadap alumni lembaga tersebut. Semangat pengembangan ini sejalan dengan ajaran Konsili Vatikan II dalam Gravissimum Educationis yang menegaskan bahwa “pendidikan sejati bertujuan membentuk pribadi manusia secara utuh, baik menyangkut kesejahteraan hidup jasmani maupun pengembangan nilai-nilai rohani dan moral.” Dalam spirit ini, rapat juga membahas rencana pembukaan dua program studi baru, yakni Program Pascasarjana Pendidikan Keagamaan Katolik dan Konseling Pastoral, yang diharapkan mampu memperdalam kompetensi para pelayan Gereja dalam bidang pendidikan iman dan pendampingan umat secara profesional dan kontekstual.

    Selain itu, rapat menyoroti pengelolaan keuangan dan peningkatan kinerja yayasan dengan menegaskan pentingnya tata kelola yang transparan, akuntabel, efisien serta berbasis kolaborasi antarlembaga di bawah naungan yayasan. Upaya ini dimaksudkan untuk menjamin keberlanjutan karya pendidikan dan kualitas pelayanan, selaras dengan penegasan Gravissimum Educationis bahwa “sekolah-sekolah Katolik sungguh-sungguh diarahkan kepada pembinaan pribadi-pribadi, yang setelah diperkaya dengan budaya manusiawi dan selaras dengan warta keselamatan, mampu menjadi daya fermentasi demi kesejahteraan masyarakat.” Melalui seluruh rangkaian evaluatif ini, Yayasan Budi Murni kian meneguhkan diri untuk mengembangkan pendidikan tinggi pastoral yang menghasilkan lulusan yang beriman dan profesional dan siap diutus menjadi pelayan Gereja yang peka terhadap persoalan sosial, mampu membaca tanda-tanda zaman dan berkomitmen untuk mewartakan Injil di tengah masyarakat.

    2. Membangun Rumah Tuhan, Meneguhkan Iman Umat

    Sebagai wujud sinergi dalam membangun Gereja yang hidup dan melayani, Panitia Pembangunan Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolok mengadakan audiensi dengan Bapa Uskup Agung Medan pada 20 Juni 2026 di Gedung Catholic Center Medan. Panitia memohon arahan, peneguhan dan pendampingan rohani agar seluruh proses pembangunan gereja sungguh selaras dengan semangat pastoral Gereja dan membawa berkat bagi kehidupan umat. Dalam terang Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan dengan tema “Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan, dan Mewartakan”, audiensi ini merupakan bagian peziarahan bersama sebagai umat Allah yang saling bergandeng tangan membangun rumah Tuhan.

    Dalam suasana persaudaraan, Dewan Pastoral Paroki Harian bersama panitia pembangunan memaparkan perkembangan rencana pembangunan serta dinamika yang menyertainya, seraya memohon masukan Bapa Uskup. Beliau menegaskan bahwa pembangunan gereja menghadirkan rumah Tuhan yang menumbuhkan iman, menjadi pusat liturgi dan doa serta ruang perjumpaan yang mendekatkan setiap orang kepada Kristus dan sesama. Semangat sinodal “mendengarkan dan meneguhkan” tampak ketika seluruh rencana ditimbang bersama dalam terang iman, sehingga setiap keputusan teknis berpijak pada kebutuhan nyata umat dan misi Gereja.

    Bapa Uskup juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh umat dalam doa, dukungan moral, partisipasi konkret dan pengelolaan dana yang jujur dan transparan, agar gereja yang dibangun sungguh menjadi karya bersama umat Allah. Dengan demikian, pembangunan Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolok menjadi sebuah pewartaan melalui kesaksian persatuan, kerelaan berkorban dan semangat berbagi. Dalam semangat kerja sama, persaudaraan dan kepercayaan pada penyelenggaraan Tuhan, proses ini diharapkan berjalan lancar dan menjadi sarana yang mendukung pertumbuhan iman, pelayanan dan pewartaan Injil, sehingga paroki semakin menjadi komunitas yang berjalan bersama untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan Kristus.

    3. Awal Baru untuk Membangun Iman Umat

    Suasana doa dan sukacita mengumpulkan umat Santa Klara, Paroki Santo Laurentius Brindisi, Jalan Sibolga, Pematangsiantar pada Minggu, 28 Juni 2026, untuk merayakan Ekaristi peletakan batu pertama pembangunan gereja baru. Melalui doa dan ritus pemberkatan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap menyerahkan seluruh proses pembangunan ke dalam tangan Tuhan, sambil memohonkan berkat khusus kepada Tuhan bagi para donatur dan semua pihak yang terlibat agar karya bersama ini dapat berjalan dengan baik demi kemuliaan nama Tuhan. Karya ini mencerminkan semangat Kanon 1214 Kitab Hukum Kanonik yang menegaskan bahwa gereja adalah bangunan suci yang diperuntukkan bagi ibadat Ilahi dan terbuka bagi umat beriman.

    Peletakan batu pertama adalah simbol iman, persatuan dan harapan umat. Gereja yang akan dibangun, diharapkan menjadi tempat ibadah yang semakin mendukung kehidupan menggereja: pusat perayaan Ekaristi, doa, pewartaan Sabda dan persekutuan umat. Pembangunan gedung gereja tidak berhenti pada berdirinya tembok dan atap, melainkan terus berlanjut pada usaha menyegarkan kesediaan untuk terus membangun diri sebagai Gereja yang hidup melalui pertobatan, pelayanan dan kesaksian kasih di tengah masyarakat. Dalam semangat kebersamaan, seluruh umat diajak untuk berpartisipasi sesuai kemampuan - melalui doa, tenaga, pemikiran dan dukungan materi, sehingga gereja yang kelak berdiri sungguh menjadi buah jerih payah dan cinta komunitas. Semoga berkat doa Santa Klara, pembangunan gereja ini berjalan lancar menjadi tempat umat mengalami kasih Allah, bertumbuh dalam iman dan diteguhkan sebagai saksi Kristus yang membawa damai dan harapan bagi sesama.

    4. Berjalan Bersama sebagai Imago Dei

    Audiensi PUDP (Pimpinan Umum dan Dewan Penasehat) KSSY dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, berlangsung pada 29 Juni 2026 di Catholic Center, Medan. Pertemuan diawali dengan tinjauan singkat atas notulen audiensi 5 Februari 2025, khususnya implementasi hasil Kapitel VII bertema “Bersama Bertransformasi sebagai Citra Allah”. PUDP memaparkan Rencana Strategis 2024–2028, pengembangan karya pendidikan, pastoral dan ekologi di berbagai keuskupan, serta tindak lanjut arahan Bapa Uskup terkait pembinaan berkelanjutan, penyediaan tenaga katekis dan dosen religius, dan dukungan bagi Catholic Center. Beberapa keputusan masih berproses, seperti rencana ke Penajam (IKN), pembangunan kolumbarium dan penyiapan dosen untuk lembaga pendidikan tinggi Katolik.

    KSSY beranggotakan 263 suster yang tersebar di 29 komunitas pada 10 keuskupan di Indonesia dan Thailand, dengan 64% berada pada usia produktif. Sepanjang 2025–2026, kongregasi menyelenggarakan rapat, retret, pembinaan dan kursus bagi berbagai kelompok (formator, yunior, medior, pimpinan komunitas dan pelayan karya). Kegiatan-kegiatan ini berfokus pada spiritualitas Imago Dei, hidup bakti, ekologi integral, komunikasi sehat, kematangan kepribadian serta pendalaman dokumen Gereja seperti Antiqua et Nova, Magnifica Humanitas, Dignitas Infinita, dan Sedula Devotio. Program 2026 mencakup visitasi ke seluruh komunitas, pembinaan terstruktur calon kaul kekal serta pembangunan PAUD St. Yosef di Kota Pinang dan Museum KSSY di Pusat Pembinaan Spiritual, Cinta Alam.

    Dalam arahan pastoralnya, Bapa Uskup menegaskan agar tema Kapitel dan dokumen Gereja tidak hanya didalami dalam retret, tetapi juga melalui studi dan diskusi dengan menghadirkan para ahli sebagai narasumber. Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap menitikberatkan bahwa fokus utama program PUDP Kongregasi adalah pengelolaan personalia dan persaudaraan. Kompetensi konseling, spiritualitas, kesehatan mental dan komunikasi perlu diperkuat sebagai bekal visitasi. Para suster diingatkan untuk menampilkan identitas mereka sebagai religius dan ahli iman, bukan terutama sebagai pekerja profesional untuk karya-karya kongregasi. Bapa Uskup juga meminta penyiapan katekis full time pengganti dan calon tenaga suster untuk Tribunal serta komisi KAM melalui studi filsafat-teologi lanjutan. Beliau mendukung kelanjutan persiapan museum dan kolumbarium KSSY, serta menekankan pentingnya mengadakan audiensi regular, yakni audiensi tahunan dan audiensi khusus menjelang event khusus, seperti Kapitel Kongregasi pada 2028.

    5. Doa dan Kebersamaan: KAM Berkolaborasi dalam HUT Bhayangkara ke-80

    Keuskupan Agung Medan turut berpartisipasi dalam perayaan Hari Ulang Tahun Bhayangkara (Polri) ke-80 yang digelar Polrestabes Medan pada 30 Juni hingga 1 Juli 2026. Kehadiran yang diwakili oleh Fr. Paskalis Wangga, CMM ini mengungkapkan secara nyata komitmen Gereja dalam membangun persaudaraan lintas iman dan memperkuat sinergi dengan aparat keamanan demi kebaikan bersama.

    Rangkaian kegiatan meliputi Doa Bersama Lintas Agama yang dipimpin Kapolrestabes Medan, Kombes Pol. Dr. Jean Calvijn Simanjuntak bersama jajaran Forkopimda. Kedamaian bagi kota Medan menjadi intensi khusus kegiatan spiritual ini. Selain itu, digelar turnamen e-sports Kapolrestabes Medan Cup bertema "Dream to Become" sebagai wadah positif bagi generasi muda, patroli skala besar untuk mencegah kejahatan jalanan, bakti sosial dan anjangsana ke sesepuh Polri, serta berbagai lomba seperti vocal grup dan penyanyi jalanan. Puncaknya adalah upacara resmi HUT ke-80 pada 1 Juli 2026 yang dihadiri seluruh elemen masyarakat dan Forkopimda Kota Medan.

    Kehadiran tokoh Gereja Katolik bersama pemuka agama lainnya mencerminkan semangat Sinodalitas KAM, bahwa keberagaman bukan penghalang melainkan kekuatan untuk bersatu. Melalui doa dan kebersamaan, Gereja turut meneguhkan harapan agar masyarakat semakin menghargai perbedaan dan bersama Polri menjaga keamanan serta ketertiban di Kota Medan. Semangat HUT ke-80 Polri kiranya mempererat persatuan dalam membangun Kota Medan yang semakin aman, damai dan spiritual.

    6. Semakin Kuat dalam Karya Pastoral: Sambutan Hangat bagi Suster-Suster Baru

    Keluarga besar Keuskupan Agung Medan (KAM) mengawali bulan Juli dengan penuh sukacita. Setelah ibadat pagi pada 1 Juli 2026 dilangsungkan acara sederhana penyambutan bagi dua suster yang memulai tugas pelayanan sebagai staf purnawaktu di lingkungan Catholic Center Medan. Sr. Ludgardis Juita, ALMA menerima perutusan untuk melayani di Komisi Kerasulan Kitab Suci, sedangkan Sr. Xaveria Purba, KSFL akan bertugas di Komisi Keluarga.

    Syukur atas kesediaan kedua suster dalam mengabdikan diri bagi karya pastoral Keuskupan Agung Medan menjadi inti dalam acara penyambutan ini. Semangat kerja sama antara Keuskupan dan Tarekat Hidup Bakti ini selaras dengan penegasan Konsili Vatikan II dalam Dekrit Christus Dominus artikel 34, "para religius yang berkarya dalam keuskupan hendaknya memandang para Uskup sebagai bapa dan dengan rela hati bekerja sama, sehingga karya pastoral dapat berjalan dengan lancar dan efektif." Lebih lanjut, Christus Dominus artikel 35 juga mengingatkan "para religius, karena tahbisan atau penyerahan diri mereka dalam tarekat, memiliki peranan penting dalam Gereja, dan wajib dengan tekun membantu karya keuskupan sesuai dengan karisma tarekat mereka masing-masing."

    Kehadiran Sr. Ludgardis dan Sr. Xaveria merupakan wujud nyata dari semangat kerja sama ini. Semoga kehadiran mereka semakin memperkuat pelayanan kerasulan Kitab Suci dan pendampingan keluarga di Keuskupan Agung Medan. Jalinan kerja sama selalu menopang pertumbuhan Gereja dalam semangat melayani, meneguhkan dan mewartakan Injil.

    7. Teguhkan Panggilan, Perbarui Semangat: Temu Imam Diosesan KAM 2026

    Para imam Diosesan Keuskupan Agung Medan (KAM) baru saja menyelesaikan Temu Imam Diosesan yang berlangsung di Silalahi pada 1-3 Juli 2026. Momen berharga ini menyatukan para imam untuk memperbarui semangat panggilan melalui doa, refleksi dan penguatan ikatan persaudaraan.

    Dalam suasana yang penuh keakraban, para imam diajak untuk kembali berakar pada Kristus dengan mengutamakan doa dan pelayanan sabda. Mereka juga diteguhkan untuk menghidupi kemiskinan Injili, profesionalitas, integritas serta kreativitas pastoral dalam melayani umat. Semangat ini selaras dengan penegasan Konsili Vatikan II dalam Presbyterorum Ordinis artikel 3, yang menyatakan bahwa "para imam, dengan tahbisan suci dan perutusan yang mereka terima dari para Uskup, diangkat untuk melayani Kristus Sang Guru, Imam, dan Raja, serta mengambil bagian dalam pelayanan-Nya."

    Refleksi bersama difokuskan pada tantangan panggilan imamat di tengah zaman. Para imam diingatkan bahwa mereka tidak hanya dipanggil untuk setia dalam pelayanan liturgi, tetapi juga menjadi suara kenabian yang menghadirkan kebenaran, keadilan dan harapan bagi Gereja serta masyarakat. Presbyterorum Ordinis artikel 4 menandaskan, "para imam, sebagai rekan kerja para Uskup, mempunyai kewajiban untuk mewartakan Injil Allah kepada semua orang," sehingga panggilan mereka senantiasa bersifat misioner dan relevan bagi kebutuhan umat. Semoga Temu Imam Diosesan KAM 2026 ini semakin meneguhkan para imam dalam panggilan dan bertumbuh dalam kesatuan dengan Kristus sehingga mampu menghadirkan pelayanan yang penuh kasih, berintegritas dan relevan bagi umat Allah di Keuskupan Agung Medan.

    8. Tujuh Puluh Lima Tahun Berkat: Syukur dan Harapan Baru Paroki Santo Fidelis

    Suasana sukacita dan syukur yang mendalam terpancar di wajah seluruh umat Allah Paroki Santo Fidelis Dolok Sanggul pada perayaan Ulang Tahun paroki ke-75 pada Minggu 5 Juli 2026. Perayaan yang merupakan momen vertikal antara umat dan Tuhan ditampakkan dalam tataran horizontal yang mempererat persaudaraan. Sebelum Perayaan Ekaristi, Bapa Uskup dan rombongan disambut dengan kemegahan adat Batak melalui pemberian ulos, simbol penghormatan dan penerimaan, diiringi oleh alunan gondang yang megah serta gerakan tortor yang dinamis. Seni budaya menjadi pernyataan iman inkulturatif yang hidup. Setiap gerak tortor nada gondang menjadi ungkapan syukur dan doa yang dipersembahkan kepada Sang Pencipta.

    Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap menjadi pusat dan puncak dari seluruh rangkaian acara. Perjamuan Kudus yang memperdengarkan Sabda dan menyajikan Tubuh dan Darah Kristus membawa umat kepada pengalaman mendalam akan kasih setia Tuhan yang tak pernah berkesudahan. Peristiwa altar mengobarkan umat untuk terus hidup dalam kasih Kristus, memperbarui semangat pelayanan dan bertekad untuk melanjutkan perutusan Gereja di tengah-tengah masyarakat.

    Pada usianya yang genap 75 tahun, Paroki Santo Fidelis Dolok Sanggul, tetap mengalami dan manjalani secara lebih matang lagi panggilan untuk menjadi Gereja yang hidup, dinamis dan misioner. Semangat baru yang lahir dari perayaan ini meneguhkan komitmen untuk setia mewartakan Injil, menjadi terang dan garam bagi sesama, serta membawa harapan bagi banyak jiwa di Dolok Sanggul dan sekitarnya. Selamat merayakan sukacita iman, Paroki Santo Fidelis! Horas!

    9. Mendengarkan dan Meneguhkan: Pertemuan Anggota Kanonis Sinode Diosesan VII KAM

    Sebanyak 156 anggota Kanonis Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan menggelar pertemuan di CC PPU Pematangsiantar pada 8-9 Juli 2026, dibuka oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap dengan tema "Berjalan Bersama: Mendengarkan Disposisi Batin, Meneguhkan Harapan, Mewartakan Kristus." Tiga narasumber ahli mencoba membaca dan memberikan peneguhan ilmiah terhadap 15 topik yang dihasilkan dalam kegiatan mendengarkan tahap pertama Sinode.

    Prof. Dr. Karlina Supelli menekankan bahwa mendengarkan sejati meliputi kegiatan mengindera, mengurai makna dan memahami. Ahli astronomi ini mengajak Gereja berpijak pada kelompok paling menderita serta mengingatkan bahwa data berbicara, di balik angka ada wajah manusia. Tantangan yang digarisbawahi adalah kerinduan umat akan imam dan risiko ego sektoral Tarekat Hidup Bakti. FX Marmidi SCJ menguraikan tafsiran eksegetis atas perjalanan ke Emaus, Lukas 24:13-24, sebagai model pertobatan cara mendengarkan dan pelayanan yang berpusat pada Kristus. Penjelasan Kitab Suci dan pemecahan roti oleh orang “asing” merupakan dua hal yang tak terpisahkan. RP. Richard Sinaga OFMCap mengajak Gereja untuk sentire Deum, cum Ecclesiam, mundum. Dosen emeritus ini menegaskan bahwa Gereja KAM sekaligus kudus dan terluka. Kesadaran akan luka adalah awal pertobatan dalam kegiatan mendengarkan yang mengandung pengakuan martabat orang yang didengarkan. Dr. Handoko dari Tim Litbang memaparkan analisis realitas yang membentuk cara pikir dan iman umat, dengan sorotan utama pada maraknya disinformasi dari kebijakan politik.

    Dalam renungan pada perayaan Ekaristi, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, berdasarkan bacaan dari kitab Nabi Hosea, menandaskan bahwa murka Allah bukan kata akhir. Belas kasih-Nya selalu menang, sehingga Gereja dipanggil menjadi tempat pemulihan. Menutup pertemuan, Bapa Uskup menyampaikan amanat bahwa mendengarkan bukan tujuan akhir. Gereja kini memasuki tahap penegasan rohani (discernment) dengan melepaskan kepentingan pribadi dan kelompok, sebagaimana Samuel berkata: "Berbicaralah, Tuhan, hamba-Mu mendengarkan."

    10. "Aku Datang untuk Melayani": Sukacita Tahbisan Sembilan Diakon Kapusin

    Syukur dan sukacita terungkap di Paroki Santo Fransiskus Asisi Pematangsiantar saat Uskup Agung Medan memimpin perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon bagi sembilan frater Kapusin pada 9 Juli 2026. Melalui penumpangan tangan dan doa tahbisan, Gereja menganugerahkan rahmat pelayanan apostolik kepada para diakon baru. Mereka yang ditahbiskan ialah Diakon Carolus Hubertus Silaban, OFMCap., Adrian Roni Josafat Pasaribu, OFMCap., Hoang Kim Duong, OFMCap., Suhendro Afandi Purba, OFMCap., Cok Motung Hadonganan Manurung, OFMCap., Roki Pasaribu, OFMCap., Dio Sandi Pinayungan, OFMCap., Peter Trần Quý Hồng, OFMCap., dan Joseph Dang Van Tuyen, OFMCap.

    Melalui tahbisan ini, para diakon diutus untuk mewartakan Sabda Allah, melayani altar serta menghadirkan kasih Kristus kepada umat, terutama mereka yang miskin, lemah dan membutuhkan perhatian. Tahbisan ini merupakan rahmat besar bagi Gereja lokal yang kembali dipenuhi dengan para pelayan altar yang siap mengemban tugas perutusan. Semoga para diakon baru senantiasa dibimbing oleh Roh Kudus agar menjadi pelayan yang rendah hati, setia pada Injil, mencintai Ekaristi dan menghadirkan wajah Kristus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Pace e Bene!

    11. Menyongsong Yubelium 100 Tahun: Rencana Pembangunan Gereja, Aula, dan Pastoran Paroki Santo Yosef Balige

    Pada tanggal 10 Juli 2026, bertempat di Catholic Center Pematangsiantar, Dewan Pastoral Paroki Harapan (DPPH) Paroki Santo Yosef Balige mengadakan audiensi dengan Bapa Uskup Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap. Pertemuan ini membahas rencana strategis pembangunan Gereja, Aula, dan Pastoran dalam rangka menyambut Yubelium 100 Tahun Gereja Katolik di Tanah Batak. Beberapa pertimbangan utama mendorong rencana ini, antara lain perlunya revitalisasi lokasi gereja yang saat ini berada di bawah jalan raya dan terdampak kebisingan, serta peningkatan jumlah umat yang membutuhkan fasilitas pastoran yang lebih representatif.

    Perancangan bangunan direncanakan secara bertahap dengan estimasi biaya sekitar Rp25 miliar. Sebelum pembangunan fisik dimulai, pihak paroki perlu menyelesaikan persoalan pertanahan dengan FCJM. Tahapan pembangunan meliputi tukar guling lahan pada Februari 2027, peletakan batu pertama pada Maret 2027, dan ditargetkan selesai serta didedikasikan pada Desember 2034. Dalam audiensi tersebut, para peserta memberikan umpan balik positif dan menekankan pentingnya transparansi dalam penggalangan dana serta dukungan penuh dari seluruh umat. Bapa Uskup memberikan arahan khusus agar persoalan tanah dan desain bangunan diselesaikan dengan baik serta menekankan pentingnya pelibatan seluruh umat dalam pembangunan yang berkelanjutan. Rencana ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan momentum iman bersama untuk membangun rumah Allah yang menjadi pusat perjumpaan dan perayaan iman umat Katolik di Tanah Batak. Semoga semangat kebersamaan ini terus terpelihara hingga terwujudnya Gereja, Aula, dan Pastoran yang baru sebagai tanda syukur atas 100 tahun perjalanan iman.

    12. Wajah Baru, Semangat Baru: Uskup Agung Medan Berkati Gedung Pastoran dan Lantik Pengurus Paroki Pangkalan Brandan

    Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Medan di Paroki Santo Paulus Pangkalan Brandan pada 12 Juli 2026 memadukan sukacita dan syukur yang dipanjatkan kepada Allah. Perayaan istimewa ini merangkaikan pemberkatan gedung pastoran dan aula pastoral yang baru dengan pelantikan Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik (PGDP) masa bakti 2026–2031. Melalui liturgi pemberkatan, kedua bangunan ini diresmikan menjadi ruang persekutuan, pewartaan dan pusat pelayanan yang menghadirkan damai bagi umat.

    Tak kalah khidmat, pelantikan para pengurus baru menjadi puncak peneguhan komitmen pelayanan. Mereka yang dilantik dipanggil untuk menghayati kepemimpinan sebagai pelayanan, meneladani Kristus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Para pengurus siap mengemban amanat membangun Gereja yang hidup, bersaudara, dan penuh kasih. Dengan wajah baru gedung pastoran dan semangat baru para pengurus, paroki ini diharapkan semakin bertumbuh sebagai persekutuan yang menghadirkan harapan dan menjadi berkat bagi semua. Deus meus et omnia!

    13. Menyatukan Umat Tamil Katolik Medan: Audiensi Yayasan St. Bonaventura dengan Bapa Uskup

    Pada 13 Juli 2026, bertempat di Catholic Center Pematangsiantar, Yayasan St. Bonaventura Tamil Katolik Medan – Indonesia mengadakan audiensi dengan Bapa Uskup, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap. Pertemuan ini membahas rencana pembangunan aula serba guna di atas lahan yang telah diserahkan Keuskupan untuk pengembangan budaya Tamil. Ketua Yayasan melaporkan bahwa telah dibangun rumah doa sederhana di lahan tersebut dan memohon kesediaan Bapa Uskup untuk memberkati dan meletakkan batu pertama gedung serba guna.

    Menanggapi hal ini, Bapa Uskup menegaskan bahwa sejak awal tujuan Keuskupan bukanlah mendirikan rumah doa khusus Tamil, melainkan aula serba guna sebagai wadah pengembangan dan promosi budaya Tamil, termasuk pelatihan liturgi inkulturatif yang akan ditampilkan di Graha Annai Maria Velangkanni. Bapa Uskup memberikan arahan tegas agar Yayasan St. Bonaventura bersatu dan tunduk di bawah kelompok umat Tamil Katolik Kota Medan yang memiliki struktur kepengurusan sendiri. Saat ini terdapat riak-riak kecil di kalangan umat Tamil, termasuk tuduhan bahwa tanah Keuskupan telah menjadi milik pribadi. Oleh karena itu, sebelum memulai pembangunan, persatuan umat Tamil harus dipulihkan terlebih dahulu. Bapa Uskup menugaskan RP. Bonaventura Situmorang OFMCap secara resmi melalui Surat Keputusan untuk memfasilitasi pertemuan rekonsiliatif kelompok Tamil Katolik di Medan, menyatukan persepsi tentang tujuan perkumpulan dan pentingnya pembangunan aula serba guna.

    Tiga poin penegasan menjadi kesimpulan penting audiensi ini. Pertama, bangunan yang sudah ada tidak boleh difungsikan sebagai rumah doa, melainkan sebagai ruang perkumpulan dan persiapan pembangunan aula. Kedua, sebelum peletakan batu pertama, persatuan seluruh umat Tamil Katolik Medan harus terwujud dan semua pihak meyakini nilai strategis aula sebagai pusat pengembangan budaya Tamil. Ketiga, sejarah perkumpulan Tamil serta tujuan pendirian Yayasan St. Bonaventura perlu disusun dan disosialisasikan dengan baik. Semoga semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap kekayaan budaya Tamil semakin kuat demi mewujudkan aula serba guna sebagai tanda penghargaan Gereja terhadap budaya Tamil di Kota Medan.

    14. Sinergi Pastoral dan Negara: KAM-Kemenag Teken MoU Optimalisasi Penyuluh Agama Katolik

    Pada 13 Juli 2026, sebuah langkah strategis dalam pelayanan umat Katolik di Sumatera Utara dan Aceh resmi dimulai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama antara Keuskupan Agung Medan (KAM) dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara, serta Bimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Aceh. Bertempat di Catholic Center Christosophia, acara ini dihadiri oleh Mgr. Kornelius Sipayung selaku Uskup KAM dan H. Ahmad Qosbi, S.Ag, MM selaku Kepala Kanwil Kemenag Sumut, didampingi Marihuttua Pasaribu (Pembimas Katolik Medan) dan Baron Ferryson Pandiangan (Pembimas Katolik Aceh). Kedua dokumen ini bertujuan mengoptimalkan kapasitas dan sinergi para Penyuluh Agama Katolik dalam pelayanan pastoral secara terpadu.

    Nota Kesepahaman dengan Kanwil Kemenag Sumut menitikberatkan pada program pembinaan iman terpadu, penyusunan modul, pendataan umat, karya sosial, hingga moderasi beragama. Sementara itu, Perjanjian Kerja Sama dengan Bimas Katolik Aceh menjadi pedoman praktis bagi penyuluh asal Aceh yang bertugas di wilayah KAM, memastikan setiap penyuluhan tidak hanya sesuai regulasi pemerintah tetapi juga tegak lurus dengan ajaran Magisterium Gereja dan visi pastoral keuskupan.

    Kerangka kerja yang dihasilkan sangat terstruktur, mencakup ketaatan hirarkis penyuluh kepada Pastor Paroki, ortodoksi ajaran yang wajib ditandatangani pastor, prinsip subsidiaritas serta protokol perlindungan (safeguarding) seperti larangan pendampingan one-on-one tertutup dengan anak di bawah umur. Dengan adanya perjanjian ini, para Penyuluh Agama Katolik diharapkan dapat menjadi pelayan yang efektif, baik bagi program Asta Protas Kementerian Agama maupun bagi Gereja dalam membangun iman umat yang kokoh.

    15. Memantapkan Formasi Imam dan Kolaborasi Pastoral: Rapat Kuria KAM

    Rapat Kuria Keuskupan Agung Medan (KAM) pada 14 Juli 2026, di Catholic Center, dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap dan dihadiri sepuluh anggota kuria. Salah satu keputusan penting adalah pembentukan Divisi Ongoing Formation (OGF) Imam sebagai organ kerja DEPKAM, yang bertugas sebagai fasilitator, penghubung dan evaluator program pembinaan imam KAM. Divisi ini beranggotakan RP. Richard Sinaga OFMCap, RD. Sesarius Mau, RP. Joseph Lesta Pandia OFMConv, RP. Angelo Purba OFMCap, RD. Hamjani Simbolon, dan RP. Yohanes Rudi Kartolo O.Carm. Kurikulum tahap pertama untuk masa pra-diakon hingga satu tahun tahbisan telah disusun dalam tujuh modul, meliputi Panorama Pastoral KAM (bulan Agustus), Administrasi Dasar Paroki (Oktober), Tata Kelola Keuangan dan Kepemimpinan Pastoral (November), Pelayanan Liturgi dan Sakramen (Februari), Katekese dan Sabda Allah (Maret), Komunikasi dan Pendampingan Pastoral (Mei), serta Inkulturasi bagi Imam Non-Native (Juni). Selain itu, Diklat Tribunal KAM tetap digelar setiap bulan Juli. Setiap modul akan dilengkapi dengan pra test, mid test dan final test untuk menjamin keseriusan peserta.

    Dalam bidang kolaborasi dengan Tarekat Hidup Bakti (THB), rapat menindaklanjuti rekomendasi TEPAS 2026 yang mencakup lima bidang strategis. Pertama, gerakan ekologi integral yang dikoordinasi oleh PSE-Caritas KAM dengan rencana pembentukan Gerakan Laudato Si yang berbadan hukum. Kedua, kaderisasi awam melalui sinergi Komisi Kerawam, Tim Kaderisasi Awam KAM dan FKTHB-KAM; tiga pedoman kaderisasi telah disusun dan struktur Tim Kaderisasi Awam (TKA) ditunggu untuk penerbitan SK. Ketiga, pewartaan digital yang mencakup literasi media dan pelatihan kecerdasan buatan (AI) oleh KOMSOS KAM dan THB. Keempat, pastoral migran dan pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dengan fokus edukasi kepada tamatan SMA yang tidak melanjut ke perguruan tinggi. Kelima, pengembangan kurikulum ideal bagi THB non-imam yang sudah disiapkan dan diharapkan menjamin terwujudnya komunitas yang berjalan bersama.

    Rapat juga membahas sejumlah agenda lainnya, antara lain wacana pemekaran keuskupan, SD St. Paulus Onanrunggu dan struktur pelayanan di Sekretariat Keuskupan yang memungkinkan reposisi staf demi efisiensi dan efektifitas kerja. Pada rapat berikutnya akan dibahas secara mendalam mengenai tindak lanjut pedoman perlindungan anak dan dewasa rentan bersama tim Mahkamah Terang Dunia.

    16. Gereja Rapi dan Terukur Dalam Pelayanan: KAM Gelar Bimtek Penyusunan SOP

    Keuskupan Agung Medan mengambil langkah maju dalam tata kelola administrasi dan pastoral. Bertempat di Catholic Center Medan, pada 16 Juli 2026 Sekretariat KAM menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) bagi para pegawai unit dan komisi-komisi di lingkungan keuskupan. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pelayanan Gereja harus dikelola secara profesional dan akuntabel.

    Bimtek yang ditutori oleh Sr. Melania Siringoringo FSE ini bertujuan menciptakan keseragaman pelayanan yang profesional, transparan dan berkelanjutan. Dengan SOP yang sistematis, setiap unit kerja memiliki pedoman yang jelas sehingga tidak lagi bergantung pada ingatan atau kebiasaan pribadi masing-masing pegawai. "Standar ini menjadi peta jalan agar pelayanan kita tetap berkualitas, siapa pun yang melayaninya," demikian ditandaskan oleh Sr. Melania.

    Dengan adanya SOP yang terstandarisasi, kesalahan administrasi diharapkan dapat diminimalisir dan mutu pelayanan kepada umat tetap terjaga meskipun terjadi pergantian petugas di masa mendatang. Langkah ini menjadi fondasi bagi Gereja yang tidak hanya hidup dalam iman, tetapi juga tertib dalam karya pelayanan.

    17. Sinergi Gereja dan Negara: Pemkab Toba-KAM Menandatangani Kesepakatan Tingkatkan Kualitas SDM dan Alam

    Pada 18 Juli 2026 Pemerintah Daerah Kabupaten Toba dan Keuskupan Agung Medan resmi menandatangani Kesepakatan Bersama tentang Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dan Alam dalam lingkup Gereja Katolik di Kabupaten Toba. Bertempat di lantai 2 Gedung Catholic Center, Bupati Toba Effendi Sintong P. Napitupulu diwakili oleh Wakil Bupati Toba, Drs. Audi Murphy O. Sitorus, S.H., M.Si dan Uskup KAM Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap menyepakati tujuh bidang kerja sama, meliputi pelayanan dokumen administrasi kependudukan, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, pelayanan kesehatan, pendidikan dan pembinaan rohani, lingkungan hidup, pembangunan dan kesejahteraan sosial serta wawasan kebangsaan dan toleransi. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah dan institusi gereja dalam pembangunan manusia dan alam yang berkelanjutan.

    Sebagai implementasi konkret dari kesepakatan tersebut, setiap paroki yang berada di wilayah Kabupaten Toba dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Toba menyusun Rancangan Perjanjian Kerja Sama yang berfokus pada pelayanan pencatatan perkawinan umat Katolik. Ruang lingkupnya mencakup pelayanan pencatatan perkawinan, verifikasi dan validasi data administrasi, sosialisasi dan edukasi kepada umat, pelayanan terpadu yang terintegrasi dengan pemberkatan perkawinan di gereja serta koordinasi percepatan penerbitan dokumen kependudukan. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas dan tertib administrasi perkawinan sekaligus mempermudah akses umat terhadap layanan yang terintegrasi antara Gereja dan negara.

    Melalui perjanjian ini, semua paroki yang berada di wilayah Kabupaten Toba berperan sebagai mitra strategis non-pemerintah yang memperkuat pembangunan manusia dan lingkungan berbasis nilai iman, moral, sosial dan spiritual. Disdukcapil Toba sebagai penyelenggara urusan administrasi kependudukan, sementara itu, berkomitmen mewujudkan data kependudukan yang akurat, mutakhir dan terpercaya. Kolaborasi ini merupakan model sinergi gereja dan pemerintah daerah dalam pelayanan publik yang berdampak langsung bagi kesejahteraan umat dan masyarakat luas.

    Sampai jumpa di Aktualisasi KAM berikutnya.

    RP. Adrianus Sembiring OFMCAp

    Selamat Ulang Tahun RP. Chrispinus Silalahi OFMCap – Ekonom KAM

    Selamat Ulang Tahun Pastor RP. Chrispinus Silalahi OFMCap.

    Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, sukacita, dan damai dalam setiap karya pelayanan pastor, terlebih dalam tugas di Ekonom Keuskupan Agung Medan.

    Kiranya Roh Kudus terus membimbing dan meneguhkan Pastor agar tetap setia menjadi gembala yang penuh kasih, bijaksana, dan menjadi berkat bagi umat Allah. Semoga segala karya pelayanan semakin berbuah bagi kemuliaan Tuhan dan perkembangan Gereja.

    Selamat bertambah usia. Tuhan Yesus memberkati Pastor selalu.

    Selamat Ulang Tahun RD Johannes Sampang Tumanggor – Vikep Medan Katedral & Hayam Wuruk

    Selamat Ulang Tahun Pastor Johannes Sampang Tumanggor.
    Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, sukacita, dan damai dalam setiap karya pelayanan pastor, terlebih dalam tugas di Vikaris Episkopal Medan Katedral dan Hayam Wuruk Keuskupan Agung Medan

    Kiranya Roh Kudus terus membimbing dan meneguhkan Pastor agar tetap setia menjadi gembala yang penuh kasih, bijaksana, dan menjadi berkat bagi umat Allah.Semoga segala karya pelayanan semakin berbuah bagi kemuliaan Tuhan dan perkembangan Gereja.

    Selamat bertambah usia. Tuhan Yesus memberkati selalu.

    Selamat Jalan Sr. M. Rahel Pandiangan, KYM

    Keuskupan Agung Medan menyampaikan dukacita yang mendalam atas berpulangnya ke rumah Bapa di Surga:

    Sr. M. Rahel Pandiangan, KYM (Usia 44 tahun) yang telah dipanggil Tuhan pada 13 Juli 2026.

    Semoga Tuhan Yang Maharahim berkenan menerima mendiang dalam kebahagiaan abadi bersama para kudus. Kiranya keluarga besar Kongregasi Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM), keluarga yang ditinggalkan, serta semua yang mengenal dan mengasihinya senantiasa dikuatkan dan dihibur oleh kasih Kristus.

    "Allah kita penuh rahmat dan belas kasihan." (Kidung Zakharia)

    Selamat jalan, Sr. M. Rahel Pandiangan, KYM. Beristirahatlah dalam damai Kristus.

    Duka sebelumnya Kongregasi Suster KYM Keuskupan Agung Medan:Sr. Maria Munthe, KYM (3 Mar 2026) 49 TahunSr. M. Laurensia Sipayung, KYM (9 Nov 2025) 35 TahunSr. M. Mauricia Sihotang KYM (5 Ags 2025) 35 TahunSr. M. Bernadetta Purba KYM (10 Jul 2025) 83 TahunSr. M. Plasidia Pardede KYM (10 Jul 2025) 86 Tahun

    Selamat Jalan Sr. M. Walburga Simarmata FSE

    0

    Keuskupan Agung Medan dengan duka yang mendalam, menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Sr. M. Walburga Simarmata FSE pada tanggal 7 Juli 2026 pada usia 84 tahun. Suster ini telah mempersembahkan hidupnya secara total dalam pengabdian kepada Tuhan melalui panggilan hidup bakti, dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan semangat pelayanan yang tulus bagi Gereja dan sesama. Keuskupan bersyukur atas teladan iman, doa, dan karya pelayanannya yang telah memperkaya kehidupan umat.

    Semoga Allah Bapa yang Maharahim menerima Suster ini dalam damai dan kebahagiaan abadi di rumah-Nya, serta menghibur keluarga, kongregasi, dan semua yang berduka dengan pengharapan akan kebangkitan.

    Duka sebelumnya dari Kongregasi FCJM Keuskupan Agung Medan:Sr. M. Hieronima Mahulae, FSE (7 Nov 2026) 81 TahunSr. M. Bonifasia Nainggolan FSE (3 Feb 2025) 73 Tahun