Mengutamakan Kristus, Menghadirkan Kasih dalam Hal-Hal Kecil
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Sabda Tuhan hari ini menunjukkan bahwa kasih sejati selalu menuntut pilihan. Yesus berkata, "Barangsiapa mengasihi ayah atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku." Perkataan ini bukan berarti Yesus menyuruh kita mengurangi kasih kepada keluarga. Sebaliknya, Yesus sedang mengajarkan urutan kasih. Bila Kristus menjadi yang pertama, kita justru akan semakin mampu mengasihi keluarga, sahabat, dan sesama dengan kasih yang benar. Tetapi bila sesuatu atau seseorang menggantikan tempat Allah, maka kasih kita mudah berubah menjadi keterikatan, egoisme, atau bahkan penyembahan terhadap manusia.
Bacaan pertama memberikan contoh yang indah tentang kasih yang diwujudkan dalam tindakan. Perempuan Sunem mengenali Elisa sebagai abdi Allah. Ia tidak hanya mengaguminya, tetapi menyediakan makanan, bahkan membangun sebuah kamar kecil lengkap dengan tempat tidur, meja, kursi, dan pelita agar Elisa dapat beristirahat setiap kali melewati daerahnya. Keramahtamahan yang sederhana itu ternyata menjadi jalan datangnya berkat Allah. Dari tindakan kecil lahirlah mukjizat besar: keluarga yang lama tidak mempunyai anak akhirnya menerima anugerah seorang putra. Sabda Tuhan mengajarkan bahwa kasih kepada Allah selalu menemukan bentuk konkretnya dalam pelayanan kepada orang lain.
Rasul Paulus kemudian membawa kita lebih dalam lagi. Dalam surat kepada jemaat di Roma, ia mengatakan bahwa melalui Baptisan kita telah dipersatukan dengan wafat dan kebangkitan Kristus. Artinya, hidup Kristen bukan sekadar memperbaiki perilaku, melainkan menerima hidup yang baru. Manusia lama yang dikuasai dosa dipanggil mati bersama Kristus, supaya lahir manusia baru yang hidup bagi Allah. Karena itu mengutamakan Kristus bukan sekadar keputusan sesaat, melainkan cara hidup setiap hari. Kita belajar mematikan kesombongan, egoisme, kebencian, dan kepentingan diri, agar kasih Kristus semakin nyata dalam diri kita.
Injil hari ini kemudian menunjukkan bahwa kasih kepada Kristus selalu membawa salib. "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku." Salib bukan pertama-tama penderitaan yang dicari-cari, melainkan kesediaan tetap setia ketika kesetiaan itu menuntut pengorbanan. Seorang ayah yang bekerja keras demi keluarganya dengan jujur, seorang ibu yang setia merawat anak-anaknya, seorang imam atau biarawan yang tetap setia pada panggilannya, seorang pegawai yang menolak korupsi meskipun dirugikan—semuanya sedang memanggul salib demi Kristus. Justru di situlah kasih menjadi nyata.
Namun menariknya, setelah berbicara tentang salib, Yesus langsung berbicara tentang segelas air putih. Seolah-olah Yesus ingin mengatakan bahwa kesetiaan kepada-Nya tidak selalu diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar. Memberikan segelas air kepada seorang murid, menyambut seorang tamu, mengunjungi orang sakit, mendengarkan orang yang sedang berduka, menghibur yang putus asa, menyapa dengan ramah, memaafkan kesalahan kecil—semuanya mempunyai nilai kekal di hadapan Allah. Tidak ada kasih yang terlalu kecil bila dilakukan demi Kristus.
Inilah kabar gembira bagi kita. Banyak orang berpikir bahwa menjadi kudus harus melakukan hal-hal luar biasa. Padahal sebagian besar hidup kita justru terdiri dari hal-hal kecil. Santo Fransiskus dari Assisi pernah mengajarkan bahwa kasih dibuktikan lebih oleh perbuatan daripada oleh kata-kata. Demikian pula Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus menunjukkan bahwa "jalan kecil" penuh kasih dapat membawa seseorang kepada kekudusan. Allah tidak hanya melihat besarnya pekerjaan kita, tetapi terutama besarnya kasih yang mendorong pekerjaan itu.
Saudara-saudari terkasih, benang merah seluruh bacaan hari ini sangat jelas. Allah yang setia telah memberi kita hidup baru melalui Kristus. Kini kita dipanggil menanggapi kasih itu dengan menempatkan Kristus sebagai prioritas utama, memanggul salib dengan setia, dan menghadirkan kasih dalam tindakan-tindakan sederhana setiap hari. Semoga setiap orang yang berjumpa dengan kita dapat merasakan keramahan seperti yang diberikan perempuan Sunem, mengalami perhatian sekecil "segelas air" yang disebut Yesus, dan melihat bahwa hidup baru dalam Kristus sungguh nyata melalui cara kita mengasihi. Amin.
Jangan Takut, Sebab Kamu Sangat Berharga di Mata Allah
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Salah satu pengalaman paling manusiawi adalah rasa takut. Kita takut kehilangan kesehatan, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita cintai, kehilangan masa depan, kehilangan nama baik, bahkan kadang-kadang takut mempertahankan iman kita sendiri. Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi menyimpan banyak ketakutan di dalam hati. Karena itu sangat menarik bahwa dalam Injil hari ini Yesus berulang kali mengucapkan kalimat yang sama: “Jangan takut.” Rupanya Tuhan tahu bahwa salah satu pertempuran terbesar manusia bukanlah melawan dunia di luar, melainkan melawan ketakutan di dalam dirinya sendiri.
Bacaan pertama memperlihatkan pengalaman Nabi Yeremia. Ia bukan nabi yang hidup nyaman. Ia diejek, ditolak, diawasi, bahkan dicari-cari kesalahannya. Orang-orang di sekelilingnya menunggu saat kejatuhannya. Secara manusiawi, Yeremia memiliki banyak alasan untuk takut. Namun yang mengagumkan, Yeremia tidak menyerahkan hidupnya kepada ketakutan itu. Ia menyerahkan perkaranya kepada Tuhan. Ia berkata bahwa Tuhanlah yang menyelidiki hati dan batin manusia. Yeremia mengajarkan kepada kita bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki ketakutan. Keberanian berarti membawa ketakutan itu kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan menjadi hakim terakhir atas hidup kita.
Pengalaman yang sama juga dialami oleh para murid Yesus. Ketika Yesus mengutus mereka, Ia tidak menjanjikan hidup yang mudah. Ia tidak mengatakan bahwa semua orang akan menerima mereka. Sebaliknya, mereka akan mengalami penolakan, ejekan, bahkan penganiayaan. Injil tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan bebas dari masalah. Yang dijanjikan Yesus adalah bahwa iman dapat bertahan di tengah masalah. Yang dijanjikan bukan hilangnya badai, melainkan kehadiran Tuhan di dalam badai itu.
Karena itu Yesus berkata:
Jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa.
Kalimat ini mengubah cara pandang kita. Sering kali kita terlalu takut kehilangan hal-hal yang sementara, tetapi kurang takut kehilangan hal-hal yang kekal. Kita takut kehilangan uang, tetapi tidak takut kehilangan integritas. Kita takut kehilangan jabatan, tetapi tidak takut kehilangan hati nurani. Kita takut ditolak manusia, tetapi tidak takut menjauh dari Tuhan. Yesus mengajak kita menata kembali urutan nilai hidup. Kebenaran Allah lebih besar daripada opini manusia. Keselamatan jiwa lebih berharga daripada kenyamanan sesaat.
Lalu Yesus memberikan gambaran yang sangat indah:
“Bukankah dua ekor burung pipit dijual dengan satu duit? Namun seekor pun tidak akan jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan Bapamu.”
Dan sesudah itu Yesus menambahkan:
“Kamu jauh lebih berharga daripada banyak burung pipit.”
Inilah dasar terdalam mengapa orang beriman tidak perlu hidup dalam ketakutan. Kita tidak hidup di dunia yang dikuasai nasib atau kebetulan. Kita hidup di bawah penyelenggaraan Bapa. Jika Tuhan memperhatikan burung pipit yang kecil, apalagi anak-anak-Nya. Jika Tuhan mengetahui rambut di kepala kita, apalagi air mata yang kita sembunyikan. Kita mungkin tidak selalu mengerti jalan Tuhan, tetapi kita dapat selalu mempercayai hati-Nya.
Bacaan kedua dari Surat Roma memperdalam keyakinan itu. Santo Paulus menjelaskan bahwa dosa memang masuk ke dalam dunia melalui manusia, dan bersama dosa datanglah penderitaan, ketakutan, dan kematian. Namun kasih karunia Kristus jauh lebih besar daripada dosa. Jika dosa mampu melukai manusia, rahmat Kristus mampu memulihkan manusia. Jika dosa membawa ketakutan, Kristus membawa pengharapan. Jika kematian tampak berkuasa, Kristus telah mengalahkannya melalui kebangkitan-Nya. Karena itu keberanian iman bukan lahir dari kekuatan kita sendiri, melainkan dari keyakinan bahwa Kristus telah menang.
Saudara-saudari terkasih, dunia kita hari ini dipenuhi oleh ketakutan. Orang takut akan masa depan ekonomi, takut akan konflik sosial, takut akan penyakit, takut akan kegagalan, bahkan takut untuk menyatakan imannya secara terbuka. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita berdiri teguh. Kebenaran Allah pada akhirnya akan muncul ke terang. Kasih Allah lebih kuat daripada ancaman manusia. Penyelenggaraan Allah lebih besar daripada kecemasan kita. Karena itu marilah kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan seperti Yeremia, mengakui Kristus di hadapan manusia dengan berani, dan percaya bahwa kita sangat berharga di mata Allah. Sebab orang yang menjadikan Tuhan sebagai pusat pengharapannya akan menemukan damai yang tidak dapat dirampas oleh ketakutan apa pun. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Manusia didefinisikan bukan berdasarkan apa yang dia miliki, tetapi berdasarkan Siapa yang memilikinya. Dalam hidup ini kita sering mendefinisikan diri berdasarkan pekerjaan, jabatan, pendidikan, atau keberhasilan yang kita miliki. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melihat identitas yang lebih mendasar. Siapakah kita di hadapan Allah? Bacaan-bacaan hari ini memberikan jawaban yang sangat indah: kita adalah umat yang dikasihi Allah, diperdamaikan oleh Kristus, dan diutus untuk menghadirkan kasih-Nya kepada dunia. Inilah identitas terdalam setiap orang beriman.
Dalam bacaan pertama, Allah mengingatkan bangsa Israel: “Aku telah membawa kamu di atas kepak sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.” Sebelum memberi hukum dan perintah, Allah terlebih dahulu menyelamatkan mereka. Sebelum menuntut kesetiaan, Allah lebih dahulu menunjukkan kasih-Nya. Karena itu Israel disebut sebagai “milik kesayangan Allah” dan “bangsa yang kudus.” Demikian pula hidup kita. Kita ada bukan pertama-tama karena kekuatan atau kemampuan kita sendiri, melainkan karena kasih Allah yang menopang, membimbing, dan memelihara kita sepanjang perjalanan hidup.
Kasih Allah itu mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Santo Paulus berkata dalam bacaan kedua bahwa Kristus mati untuk kita ketika kita masih lemah dan berdosa. Allah tidak menunggu kita menjadi baik untuk mengasihi kita. Ia lebih dahulu datang mencari kita. Ia mendamaikan kita ketika kita masih jauh dari-Nya. Inilah inti Injil: keselamatan adalah anugerah, bukan prestasi. Kita hidup bukan karena layak dicintai, tetapi karena Allah memilih untuk mencintai kita tanpa syarat.
Orang yang sungguh menyadari dirinya dicintai Allah akan mengalami perubahan cara hidup. Ia tidak lagi harus mencari harga dirinya dari kekayaan, jabatan, atau pujian manusia. Ia tidak lagi hidup dari ketakutan dan kecemasan. Sebaliknya, ia hidup dari rasa syukur. Ia sadar bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah anugerah. Dari hati yang bersyukur lahirlah belas kasih kepada sesama. Orang yang merasa dirinya telah diampuni akan lebih mudah mengampuni. Orang yang merasa dirinya dicintai akan lebih mudah mencintai.
Karena itu dalam Injil kita melihat Yesus memandang orang banyak dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Mereka seperti domba yang tidak bergembala. Yesus melihat penderitaan, kebingungan, dan kehilangan arah yang dialami manusia. Dari belas kasih itulah lahir perutusan. Ia memanggil para murid dan mengutus mereka untuk menyembuhkan, meneguhkan, dan mewartakan Kerajaan Allah. Gereja lahir bukan dari ambisi manusia, tetapi dari hati Yesus yang berbelaskasih kepada dunia.
Lalu Yesus memberikan prinsip yang menjadi dasar seluruh pelayanan Gereja: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Segala sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita sesungguhnya kita terima secara cuma-cuma: hidup, iman, kasih, pengampunan, dan keselamatan. Karena itu hidup Kristiani tidak boleh berhenti pada menerima. Kita dipanggil menjadi saluran rahmat. Kasih yang kita terima harus menjadi kasih yang dibagikan. Penghiburan yang kita terima harus menjadi penghiburan bagi orang lain. Rahmat yang kita terima harus menjadi berkat bagi dunia.
Maka pada Minggu ini Sabda Tuhan mengajak kita mengingat kembali identitas kita yang paling dalam. Kita adalah umat yang dikasihi Allah. Kita adalah orang-orang yang telah diperdamaikan oleh darah Kristus. Dan kita adalah murid-murid yang diutus untuk menghadirkan belas kasih-Nya kepada dunia. Semoga setiap orang yang berjumpa dengan kita dapat merasakan sedikit dari kasih Kristus. Sebab Gereja yang sejati bukanlah Gereja yang hanya berkumpul untuk berdoa, tetapi Gereja yang keluar untuk melayani; Gereja yang bersukacita karena dikasihi, hidup karena diperdamaikan, dan bergerak karena diutus. Amin.
Hari Raya Tubuh dan Darah Kritus 07 Juni 2026 | Tahun A/II
Bacaan I : Ulangan 8:2-3.14b-16a Bacaan II : 1 Korintus 10:16-17 Bacaan Injil : Yohanes 6:51-58
“Allah Memberi Roti Agar Manusia Tinggal di Dalam Kristus”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Banyak orang melihat Ekaristi sebagai sebuah ritual yang dilakukan setiap Minggu. Ada pula yang melihatnya sebagai kenangan akan Perjamuan Terakhir. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita masuk lebih dalam. Benang merah seluruh bacaan adalah ini: Allah memberi roti agar manusia tinggal di dalam Dia. Sejak awal sejarah keselamatan, Allah selalu memberi makan umat-Nya, bukan sekadar untuk menghilangkan lapar jasmani, tetapi untuk membawa mereka masuk ke dalam persekutuan hidup dengan-Nya.
Dalam bacaan pertama, Musa mengingatkan bangsa Israel tentang perjalanan mereka di padang gurun. Selama empat puluh tahun mereka mengalami lapar, kehausan, dan ketidakpastian. Namun justru di tengah situasi itu Allah memberi manna dari surga. Musa menjelaskan bahwa Allah melakukan semuanya itu agar umat memahami satu kebenaran besar:
“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan.” Allah ingin membebaskan umat-Nya dari ilusi bahwa hidup bergantung pada kekuatan, kekayaan, atau kemampuan manusia semata. Manna menjadi sekolah iman. Setiap hari mereka belajar bahwa hidup adalah anugerah dan bahwa Allah sendirilah sumber kehidupan mereka.
Mazmur tanggapan melanjutkan tema yang sama. Pemazmur memuji Tuhan yang memberi damai, memberi gandum terbaik, dan mengutus Sabda-Nya ke seluruh bumi. Dalam tradisi Gereja, gandum dan Sabda ini selalu dipandang sebagai gambaran Ekaristi. Sebelum umat menerima Tubuh Kristus, mereka terlebih dahulu mendengarkan Sabda Kristus. Meja Sabda dan Meja Ekaristi tidak pernah dipisahkan. Allah memberi makan umat-Nya melalui Sabda dan Sakramen. Ia tidak hanya mengajar dari jauh, tetapi memberi diri-Nya sendiri sebagai santapan bagi umat-Nya.
Dalam bacaan kedua, Santo Paulus membawa kita lebih jauh lagi. Ia bertanya:
“Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan Tubuh Kristus?” Ekaristi bukan hanya soal hubungan pribadi antara saya dan Tuhan. Ekaristi membentuk Gereja. Karena roti itu satu, maka kita yang banyak menjadi satu tubuh. Di altar, segala perbedaan status, suku, bahasa, jabatan, dan kekayaan dipersatukan dalam Kristus. Maka tidak mungkin seseorang menerima Tubuh Kristus tetapi tetap memelihara kebencian, perpecahan, atau ketidakpedulian terhadap sesama. Komuni dengan Kristus harus menghasilkan komunio dengan saudara-saudari kita.
Puncaknya terdapat dalam Injil Yohanes. Yesus berkata:
“Akulah roti hidup yang turun dari surga.” Dan lebih tegas lagi: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Inilah salah satu pernyataan paling radikal dalam seluruh Injil. Yesus tidak berkata bahwa Ekaristi hanya lambang atau kenangan. Ia berbicara tentang sebuah persekutuan yang nyata dan mendalam. Tujuan Ekaristi bukan sekadar agar kita menerima Kristus, melainkan agar kita tinggal dalam Kristus dan Kristus tinggal dalam diri kita. Dalam bahasa Yohanes, “tinggal” berarti hidup dalam relasi yang tetap, mendalam, dan mengubah seluruh keberadaan kita.
Karena itu Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus bukan hanya perayaan tentang roti dan anggur yang dikonsekrir. Ini adalah perayaan tentang Allah yang memberikan diri-Nya sepenuhnya kepada manusia. Dalam Ekaristi, Kristus yang wafat dan bangkit terus hadir sebagai kurban keselamatan, sebagai kehadiran nyata, dan sebagai persekutuan yang mengubah hidup. Ia tidak hanya memberi sesuatu kepada kita. Ia memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Tidak ada agama lain yang memiliki misteri kasih seperti ini: Allah menjadi santapan bagi umat-Nya agar umat-Nya mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri.
Namun pertanyaan penting bagi kita adalah: apakah kita sungguh tinggal di dalam Kristus setelah menerima Komuni Kudus? Banyak orang menerima Ekaristi setiap Minggu, tetapi tetap hidup seolah-olah Kristus tidak hadir dalam dirinya. Mereka menerima Tubuh Kristus di altar, tetapi tidak menjadi tubuh Kristus bagi sesamanya. Mereka makan roti surgawi, tetapi tidak membagikan kasih surgawi. Padahal Ekaristi selalu mengandung perutusan. Kita menerima Kristus agar kita menjadi kehadiran Kristus di tengah dunia. Kita diberi makan agar mampu memberi makan mereka yang lapar akan kasih, pengampunan, keadilan, perhatian, dan pengharapan.
Di dunia saat ini, banyak orang mengalami kelaparan yang lebih dalam daripada kelaparan fisik. Ada yang lapar akan makna hidup, lapar akan kasih sayang, lapar akan pengampunan, lapar akan persaudaraan, dan lapar akan harapan. Ada keluarga yang retak, orang muda yang kehilangan arah, masyarakat yang terpecah oleh kebencian, dan banyak orang yang merasa sendirian. Maka setelah menerima Tubuh dan Darah Kristus, kita diutus untuk menjadi roti yang dipecah-pecahkan bagi sesama. Seperti Kristus memberikan diri-Nya bagi dunia, demikian pula kita dipanggil memberikan waktu, perhatian, kemampuan, dan kasih kita bagi orang lain.
Saudara-saudari terkasih,
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan kita bahwa Allah memberi roti bukan hanya untuk mengenyangkan manusia, tetapi agar manusia tinggal di dalam Dia. Dari manna di padang gurun, gandum terbaik dalam mazmur, roti yang satu dalam surat Paulus, hingga Roti Hidup dalam Injil Yohanes, semuanya menunjuk kepada Kristus. Karena itu marilah kita datang kepada Ekaristi bukan sekadar sebagai kewajiban Minggu, melainkan sebagai perjumpaan dengan Kristus yang hidup. Dan setelah menerima-Nya, marilah kita pergi untuk menjadi roti kasih bagi dunia yang lapar akan Allah. Sebab tujuan akhir Ekaristi bukan hanya agar Kristus hadir di altar, tetapi agar Kristus hidup dalam diri kita dan melalui kita menjangkau dunia. Amin.
Hari Raya Tritunggal Mahakudus 31 Mei 2026 | Tahun A/II
Bacaan I : Keluaran 34:4b-6.8-9 Bacaan II : 2 Korintus 13:11-13 Bacaan Injil : Yohanes 3:16-18
Allah adalah Kasih yang Hadir, Menyelamatkan, dan Mempersatukan
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Hari Raya Tritunggal Mahakudus sering kali dianggap sebagai salah satu misteri iman yang paling sulit dipahami. Bagaimana mungkin Allah satu tetapi tiga pribadi? Bagaimana mungkin Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah satu Allah? Sepanjang sejarah, para teolog telah berusaha menjelaskan misteri ini, tetapi pada akhirnya Tritunggal bukan pertama-tama sebuah rumus matematika yang harus dipecahkan, melainkan sebuah pengalaman iman yang harus dihayati. Hari ini Gereja tidak mengajak kita menghitung pribadi-pribadi Allah, melainkan mengenal siapa Allah yang menyatakan diri kepada manusia. Dan menariknya, ketiga bacaan hari ini memperlihatkan satu benang merah yang sangat jelas: Allah Tritunggal adalah Allah yang kasih-Nya selalu mengalir kepada manusia.
Dalam bacaan pertama, Musa mengalami Allah bukan sebagai penguasa yang menakutkan, melainkan sebagai Allah yang penuh belas kasih. Ketika bangsa Israel baru saja jatuh ke dalam dosa penyembahan anak lembu emas, Musa naik kembali ke gunung Sinai. Di sana Tuhan memperkenalkan diri-Nya: “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia.” (Kel. 34:6)
Inilah salah satu pernyataan terindah tentang Allah dalam seluruh Perjanjian Lama. Allah yang dikenal Musa bukan Allah yang mudah marah dan menghukum, melainkan Allah yang tetap setia bahkan ketika umat-Nya tidak setia. Allah yang pertama-tama bukan menunjukkan kekuasaan-Nya, tetapi menunjukkan belas kasih-Nya. Dengan kata lain, inti terdalam identitas Allah adalah kasih. Musa menemukan bahwa di balik hukum-hukum, perintah-perintah, dan kuasa ilahi, terdapat hati Allah yang penuh belas kasih terhadap manusia.
Pemahaman ini semakin diperdalam oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Menjelang akhir suratnya kepada jemaat Korintus yang penuh konflik dan perpecahan, Paulus tidak menekankan aturan atau hukuman. Sebaliknya ia berkata: “Hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu.” (2Kor. 13:11)
Perhatikan ungkapan Paulus: Allah sumber kasih dan damai sejahtera. Allah bukan hanya memiliki kasih; Allah adalah sumber kasih itu sendiri. Karena itu orang yang sungguh mengenal Allah harus menjadi pembawa kasih dan damai. Paulus mengajak umat Korintus untuk sehati sepikiran, hidup dalam persaudaraan, dan mengatasi perpecahan. Mengapa? Karena hidup dalam kasih dan damai merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menjadi anak-anak Allah. Tidak mungkin seseorang mengaku mengenal Allah Tritunggal tetapi hidup dalam kebencian, iri hati, permusuhan, atau perpecahan.
Puncak pewahyuan tentang Allah itu kita temukan dalam Injil Yohanes hari ini. Barangkali inilah ayat yang paling terkenal dalam seluruh Kitab Suci: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” (Yoh. 3:16) Di sini Yohanes membawa kita masuk ke dalam jantung misteri Tritunggal. Allah bukan sekadar mengasihi; Allah adalah kasih. Dan kasih sejati selalu memberi diri. Karena itu Bapa mengaruniakan Putra-Nya. Putra menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia. Roh Kudus dicurahkan agar manusia dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi itu. Seluruh karya keselamatan adalah gerakan kasih Allah yang terus mengalir keluar menuju manusia.
Jika dalam Perjanjian Lama Musa mengenal Allah sebagai penyayang dan pengasih, maka dalam Yesus manusia melihat kasih itu dalam bentuk yang paling nyata. Dalam perkataan-Nya, dalam mukjizat-mukjizat-Nya, dalam pengampunan-Nya kepada orang berdosa, dalam perhatian-Nya kepada orang miskin dan tersingkir, hingga akhirnya dalam wafat-Nya di salib, Yesus memperlihatkan wajah Allah yang sesungguhnya: wajah kasih.
Karena itu Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukan terutama perayaan tentang teori Allah, tetapi tentang kehidupan Allah sendiri. Allah yang kita imani bukan pribadi yang hidup sendirian dalam kesunyian ilahi. Allah adalah persekutuan kasih: Bapa mengasihi Putra, Putra mengasihi Bapa, dan kasih itu dipersatukan dalam Roh Kudus. Para Bapa Gereja sering menyebut Tritunggal sebagai communio amoris, persekutuan kasih. Maka ketika manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia pun dipanggil untuk hidup dalam relasi kasih, bukan dalam egoisme dan keterasingan. Itulah sebabnya dosa selalu memecah-belah, sedangkan kasih selalu mempersatukan.
Pesan ini sangat relevan bagi dunia kita saat ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin terhubung oleh teknologi, tetapi sering kali semakin terpecah secara sosial. Banyak keluarga kehilangan komunikasi. Banyak komunitas terbelah oleh perbedaan politik, suku, agama, atau kepentingan ekonomi. Bahkan media sosial sering menjadi tempat pertengkaran dan saling menjatuhkan. Dunia mengalami krisis relasi karena kehilangan sumber kasih yang sejati. Hari Raya Tritunggal mengingatkan kita bahwa manusia hanya menemukan identitasnya ketika hidup dalam kasih. Kita tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita diciptakan untuk membangun persekutuan, saling menerima, saling mengampuni, dan saling menguatkan.
Saudara-saudari terkasih, Jika Musa mengenal Allah sebagai penyayang dan pengasih, jika Paulus mengenal Allah sebagai sumber kasih dan damai sejahtera, dan jika Yohanes mewartakan Allah yang begitu mengasihi dunia hingga mengaruniakan Putra-Nya, maka pertanyaan bagi kita adalah: apakah wajah Allah itu tampak dalam hidup kita? Apakah keluarga kita menjadi tempat kasih bertumbuh? Apakah komunitas kita menjadi ruang damai sejahtera? Apakah Gereja kita menjadi cerminan persekutuan kasih Tritunggal? Sebab orang tidak dapat melihat Allah secara langsung, tetapi mereka dapat melihat pantulan kasih Allah dalam hidup umat-Nya.
Maka pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, marilah kita memohon agar Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus membentuk hidup kita menurut citra-Nya sendiri. Semoga kita semakin menjadi pribadi yang penuh belas kasih seperti Bapa, semakin rela memberi diri seperti Putra, dan semakin menjadi pembawa damai serta pemersatu seperti Roh Kudus. Dengan demikian, melalui hidup kita, dunia dapat mengalami bahwa Allah yang kita imani sungguh adalah Allah yang hidup, Allah yang hadir, dan Allah yang adalah Kasih. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai dan sukacita Pentakosta memenuhi hati kita.
Hari Raya Pentakosta adalah hari kelahiran Gereja. Tetapi Gereja lahir bukan pertama-tama dari organisasi, aturan, atau kekuatan manusia. Gereja lahir dari transformasi hati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Dalam Injil hari ini, para murid berada dalam keadaan takut, tertutup, kecewa, dan kehilangan arah. Mereka mengunci pintu karena takut kepada dunia di luar mereka. Mereka adalah komunitas yang terluka. Namun justru kepada murid-murid yang terluka itulah Yesus Kristus datang, berdiri di tengah mereka, dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.”
Saudara-saudari terkasih, Sesudah itu Yesus melakukan sesuatu yang sangat mendalam: Ia menghembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” Yesus memberikan Roh yang hidup dalam diri-Nya sendiri: Roh cinta, Roh damai, Roh pengampunan, dan Roh keberanian. Inilah awal transformasi para murid. Mereka yang sebelumnya takut perlahan berubah menjadi berani. Mereka yang tertutup mulai terbuka. Mereka yang terluka mulai dipulihkan. Roh Kudus mengubah hati mereka dari dalam.
Menarik bahwa sesudah kebangkitan-Nya, Yesus tidak menyembunyikan luka-luka salib-Nya. Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada para murid. Luka itu tetap ada, tetapi sudah dimuliakan. Luka itu tidak lagi menjadi sumber kebencian dan penderitaan, melainkan sumber kasih dan keselamatan. Dari luka-luka itu Yesus justru membawa damai dan pengampunan. Inilah karya Roh Kudus yang sangat indah: Roh Kudus tidak selalu langsung menghapus semua luka manusia, tetapi mentransformasikannya menjadi sumber belas kasih, kebijaksanaan, dan pengharapan.
Saudara-saudari terkasih, Luka adalah bagian dari hidup manusia. Ada luka karena pengkhianatan, penolakan, kehilangan, kegagalan, penghinaan, dan pengalaman pahit lainnya. Luka yang tidak disentuh Roh Kudus dapat berubah menjadi kemarahan, dendam, dan kebencian. Banyak orang hidup dengan hati yang tertutup karena takut menghadapi luka hidupnya sendiri. Tetapi Roh Kudus memberi keberanian untuk membuka luka itu di hadapan Tuhan dan membiarkan Tuhan menyembuhkannya.
Karena itu sesudah memberikan Roh Kudus, Yesus langsung berbicara tentang pengampunan: “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni.” Seolah Yesus mau mengatakan bahwa orang yang menerima Roh-Nya harus belajar memiliki hati seperti hati-Nya sendiri: hati yang mampu mengampuni. Pengampunan bukan sekadar kemampuan manusia, tetapi buah karya Roh Kudus. Roh Kudus melembutkan hati yang keras, menyembuhkan luka batin, dan memberi keberanian untuk berdamai.
Saudara-saudari terkasih, Transformasi inilah yang kemudian tampak dalam bacaan pertama. Para rasul yang dahulu takut kini mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti diilhami Roh Kudus. “Bahasa lain” di sini bukan hanya bahasa asing, tetapi bahasa baru yang lahir dari Roh Allah. Mereka mulai berbicara dengan bahasa kasih, bahasa damai, bahasa pengharapan, dan bahasa yang membangun persekutuan. Mereka tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi menjadi saksi karya besar Allah bagi dunia.
Inilah kelahiran Gereja. Gereja lahir ketika manusia yang terluka disentuh Roh Kudus dan diubah menjadi pembawa damai dan pengharapan. Gereja lahir ketika orang mulai mampu keluar dari ego, kebencian, dan ketakutannya untuk hidup dalam kasih Kristus. Karena itu inti Pentakosta bukan pertama-tama mukjizat bahasa, tetapi transformasi hati manusia.
Dalam bacaan kedua, Santo Paulus Rasul berkata: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus.” Roh Kudus mengarahkan hati manusia kepada Kristus dan mempersatukan Gereja dalam berbagai karunia. Ada yang diberi kemampuan mengajar, melayani, menghibur, memimpin, merawat, dan meneguhkan. Semua karunia itu diberikan bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk membangun Tubuh Kristus dalam kasih dan persatuan.
Saudara-saudari terkasih, Sepanjang sejarah, Roh Kudus terus menjaga Gereja. Gereja pernah mengalami penganiayaan, perpecahan, ajaran sesat, kelemahan manusia, dan berbagai krisis zaman. Tetapi Roh Kudus tidak meninggalkan Gereja. Roh Kudus membangkitkan para kudus, para martir, dan para pewarta Injil yang terus memperbarui Gereja. Tanpa Roh Kudus, Gereja hanyalah organisasi manusia yang rapuh. Tetapi bersama Roh Kudus, Gereja tetap hidup karena Roh Kudus adalah jiwa Gereja.
Hari ini dunia menghadapi tantangan baru: budaya kebencian, polarisasi, media sosial yang penuh kemarahan, individualisme, dan hilangnya hati manusiawi. Banyak orang terhubung lewat teknologi, tetapi semakin jauh secara batin. Karena itu dunia membutuhkan manusia Pentakosta: manusia yang dipenuhi Roh Kudus dan mampu menghadirkan wajah Kristus.
Paus Leo XIV mengingatkan agar kita menjaga suara dan wajah tetap manusiawi. Orang yang dipenuhi Roh Kudus tidak memakai kata-katanya untuk melukai, tetapi untuk menyembuhkan. Tidak memakai hidupnya untuk memperbesar ego, tetapi untuk menghadirkan kasih Kristus bagi sesama. Roh Kudus membuat manusia kembali sungguh manusiawi menurut hati Allah.
Saudara-saudari terkasih, Hari ini Yesus juga berdiri di tengah hidup kita dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” Terimalah Roh yang mampu mentransformasikan hidupmu. Terimalah Roh yang menyembuhkan luka-lukamu. Terimalah Roh yang mengubah ketakutan menjadi keberanian, kebencian menjadi pengampunan, dan luka menjadi sumber kasih bagi sesama.
Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: semoga Roh Kudus memenuhi hati kita dan mentransformasikan hidup kita seperti para rasul dahulu, sehingga kita menjadi Gereja yang hidup, mengasihi, mempersatukan, dan membawa pengharapan bagi dunia. Sebab pada akhirnya, Pentakosta adalah kisah tentang manusia-manusia terluka yang disentuh Roh Kudus dan diubah menjadi Gereja yang hidup serta menjadi saksi kasih Kristus bagi dunia. Amin. Alleluia.
Hari Minggu VII Paskah (Hari Komunikasi Sosial Sedunia) 17 Mei 2026 | Tahun A/II
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Hari ini Gereja universal merayakan Hari Komunikasi Sedunia. Menarik bahwa perayaan ini selalu ditempatkan dalam Minggu VII Paskah, sesudah Kenaikan Tuhan dan menjelang Pentakosta. Apa yang dilakukan para murid setelah Yesus naik ke surga? Dalam bacaan pertama kita mendengar bahwa setelah Yesus naik ke surga, para murid kembali ke Yerusalem dan “bertekun dengan sehati dalam doa.” Inilah gambaran pertama Gereja: Gereja yang membangun komunikasi dan persekutuan dengan Tuhan. Sebab komunikasi sejati pertama-tama bukan soal teknologi atau kata-kata, tetapi relasi dan komunio. Doa adalah komunikasi terdalam manusia dengan Allah. Dan ini jugalah kerinduan terdalam dari manusia: dimana manusia tinggal bersama-Nya, mendengarkan-Nya, dan membiarkan hati dipersatukan dengan hati-Nya.
Mazmur hari ini mengungkapkan kerinduan itu dengan sangat indah: “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan: diam di rumah Tuhan seumur hidupku dan menyaksikan kemurahan Tuhan.” Orang yang sungguh tinggal dalam Tuhan akan memandang dunia dengan hati yang berbeda: lebih lembut, lebih penuh belas kasih, lebih mampu melihat sesama bukan sebagai ancaman tetapi sebagai saudara. Dan hati yang dipenuhi kasih Alkah inilah diekspresikan melalui wajah. Inilah jantung komunikasi Kristen: hati yang mengalami kasih Allah lalu menghadirkan kasih itu kepada sesama melalui wajah dan suara.
Saudara-saudari terkasih, menjaga wajah dan suara manusiawi yang sesuai dengan kehendak Allah mengandung resiko yang berat. Bacaan kedua mengingatkan bahwa bagian yang diterima para murid sebagai pengikut Kristus bukan pertama-tama kenyamanan, tetapi juga penderitaan. Santo Petrus mengatakan bahwa murid Kristus mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Kesatuan dengan Kristus berarti ikut berjalan di jalan kasih, memperjuangan kebenaran, dgn pengorbanan, dan kesetiaan. Tetapi justru melalui jalan itulah manusia masuk ke dalam kebangkitan dan kemuliaan bersama Dia. Maka komunikasi Kristen bukan komunikasi yang mencari popularitas atau kemenangan diri, tetapi komunikasi yang rela membawa damai, walaupun kadang harus menanggung kesalahpahaman atau penolakan. Manusia tergoda untuk meminjam dan memakai wajah dan suara lain, karena berat memakai wajah dan suara asli yg jadi ekspresi dari hati.
Dalam Injil hari ini, kita meligat kesetiaan memakai wajah dan suara asli, wajah dan suara yang dipenuhi kasih Allah. Ini nampak dalam wajah dan suara Yesus. Yesus berdoa kepada Bapa: “Permuliakanlah Anak-Mu supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” Dalam Injil Yohanes, “kemuliaan” bukan pertama-tama kejayaan duniawi, tetapi kasih Allah yang dinyatakan kepada manusia. Yesus mempermuliakan Bapa dengan menyampaikan Firman Bapa kepada dunia. Melalui Yesus, manusia melihat wajah dan mendengar suara Allah yang asli tidak rekayasa dan artifisial, yakni wajah yg penuh belas kasih. Di sinilah komunikasi mencapai puncaknya: Allah tidak hanya berbicara, tetapi memperlihatkan wajah-Nya sendiri kepada manusia melalui Yesus.
Saudara-saudari terkasih, Pesan Pope Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sedunia tahun ini sangat sederhana tetapi mendalam: “Jagalah wajah dan suara kita tetap manusiawi.” Di tengah dunia digital dan kecerdasan buatan, Paus mengingatkan agar manusia jangan kehilangan wajah kasih, wajah empati, wajah kelembutan, dan wajah ketulusan. Jangan sampai media sosial membuat manusia memakai topeng: wajah manipulatif, wajah pencitraan, wajah amarah, wajah yang ingin menguasai dan menjatuhkan orang lain.
Kita harus menjaga wajah kita. Wajah orang Kristen seharusnya memantulkan wajah Kristus sendiri: wajah yang berbelas kasih kepada yang terluka, wajah yang lembut kepada yang lemah, wajah yang tulus dan sederhana. Dunia digital hari ini penuh dengan wajah-wajah yang dibuat-buat dan direkayasa demi pujian, pengaruh, atau kekuasaan. Tetapi Injil memanggil kita untuk menghadirkan wajah yang jujur dan manusiawi. Sebab melalui wajah kita, orang lain seharusnya dapat merasakan kedamaian Tuhan.
Kita juga harus menjaga suara kita. Suara seorang murid Kristus harus menjadi suara yang meneguhkan, menghibur, memberdayakan, dan memberkati. Bukan suara yang mengutuk, bukan suara yang melukai batin, bukan suara yang membingungkan dan memprovokasi. Betapa mudah hari ini orang menghina lewat komentar, menyebarkan kebencian, atau menyerang sesama dengan kata-kata kasar. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kata-kata sejati lahir dari hati yang tinggal dalam kasih Allah.
Karena itu tantangan terbesar komunikasi zaman ini bukan kurangnya teknologi, tetapi hilangnya hati sebagai jantung persekutuan. Orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun kebenaran. Lebih mudah menyerang daripada memahami. Lebih mudah menghakimi daripada mendengarkan. Padahal komunikasi Kristen lahir dari hati yang bersatu dengan Allah Tritunggal: Allah yang saling mendengar, saling mengasihi, dan saling memberi diri.
Saudara-saudari terkasih, Para murid sesudah Kenaikan Tuhan tidak langsung pergi berbicara ke mana-mana. Mereka terlebih dahulu bertekun dalam doa dan persekutuan. Mereka belajar tinggal dalam Tuhan sebelum diutus mewartakan Tuhan. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita: komunikasi yang benar lahir dari hati yang berdoa, hati yang mendengarkan, hati yang mengalami kasih Allah.
Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar di tengah dunia yang penuh kebisingan, pencitraan, dan suara artifisial, kita tetap menjadi pribadi yang memiliki hati. Hati yang mampu mendengarkan Tuhan. Hati yang mampu merasakan penderitaan sesama. Hati yang mampu berkata benar dengan kasih. Dan hati yang mampu membangun komunio, bukan perpecahan. Semoga wajah kita tetap manusiawi—wajah yang memancarkan kasih Tuhan. Dan semoga suara kita tetap manusiawi—suara yang membawa damai, harapan, dan penghiburan.
Sebab pada akhirnya, komunikasi Kristen bukan pertama-tama soal kemampuan berbicara, tetapi kemampuan tinggal dalam kasih Allah dan menghadirkan kasih itu kepada dunia. Amin. Alleluia.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan sesuatu yang sangat penting kepada para murid-Nya: “Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran.” Di tengah ketakutan dan ketidakpastian para murid, Yesus tidak meninggalkan mereka sendirian. Ia menjanjikan Roh Kebenaran yang akan tinggal bersama mereka dan menuntun mereka kepada hidup yang benar.
Namun Yesus juga memberikan satu syarat yang sangat jelas: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Artinya, Roh Kebenaran tidak bekerja dalam hati yang tertutup terhadap kasih Allah. Murid yang mau dipimpin oleh Roh harus lebih dahulu hidup dalam kasih kepada Kristus dan membiarkan hidupnya dibentuk oleh perintah-perintah-Nya.
Saudara-saudari terkasih, Apa itu Roh Kebenaran? Roh Kebenaran adalah Roh yang menuntun dan mengarahkan murid kepada kebenaran sejati. Tetapi Yesus sendiri sudah berkata sebelumnya: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Maka kebenaran dalam iman Kristen bukan pertama-tama konsep, bukan teori, bukan sekadar logika atau ide. Kebenaran adalah pribadi, yaitu Yesus Kristus sendiri.
Yesus adalah pribadi yang menghadirkan Allah ke dunia. Dalam diri-Nya kita melihat Allah yang mengasihi, Allah yang mengampuni, Allah yang peduli kepada yang kecil dan terluka, Allah yang mencari yang hilang, Allah yang membawa damai, dan Allah yang membuka mata manusia akan kasih-Nya. Maka Roh Kebenaran tidak hanya membuat kita “tahu” tentang Allah, tetapi menuntun kita masuk dalam hidup Kristus sendiri.
Saudara-saudari terkasih, Karena itu syarat untuk menerima Roh Kebenaran adalah mengasihi Yesus dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Mengapa? Karena hanya hati yang mengasihi yang mampu mengenali kebenaran itu. Orang yang hidup dalam kebencian, egoisme, dan penolakan terhadap kasih Allah akan sulit menerima terang Roh Kudus. Sebaliknya, orang yang belajar mengasihi, mengampuni, peduli, dan membawa damai sedang membuka dirinya terhadap karya Roh Kebenaran.
Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam Gereja perdana. Ketika Injil diberitakan di Samaria, banyak orang mengalami sukacita besar. Mengapa? Karena Roh Allah menghadirkan kebenaran yang membebaskan dan memulihkan hidup manusia. Di mana Roh Kudus bekerja, di situ lahir damai, harapan, dan sukacita.
Saudara-saudari terkasih, Hari ini kita hidup di tengah dunia yang memiliki banyak versi “kebenaran.” Orang mudah menentukan benar menurut dirinya sendiri. Tetapi Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kebenaran sejati bukanlah apa yang kita ciptakan sendiri, melainkan pribadi Kristus yang harus kita ikuti. Dan Roh Kudus terus menuntun Gereja untuk tetap tinggal dalam kebenaran itu.
Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar kita sungguh mengasihi Kristus, menuruti perintah-perintah-Nya, dan membuka hati terhadap Roh Kebenaran yang dijanjikan-Nya. Sebab pada akhirnya, kebenaran sejati bukan sekadar sesuatu yang diketahui, tetapi Pribadi yang diikuti, dicintai, dan dihidupi—yaitu Yesus Kristus sendiri. Amin. Alleluia.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.
Manusia pada dasarnya adalah pencari kebenaran. Dalam Injil hari ini, kita mendengar dua suara yang sangat jujur dari para murid: Rasul Tomas berkata, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” dan Rasul Filipus berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami.” Dua pertanyaan ini adalah cermin hati kita semua: kita mencari arah hidup, kita merindukan kebenaran, kita ingin mengenal Allah.
Sepanjang sejarah, banyak orang besar mengalami pencarian ini. Augustinus dari Hippo mengakui bahwa hatinya gelisah sebelum menemukan Tuhan. Ia mencari dalam berbagai hal, tetapi tetap kosong, sampai akhirnya ia menemukan Kristus—dan hidupnya berubah. Demikian juga Thomas Aquinas, yang dengan kecerdasannya mencari kebenaran, tetapi akhirnya menyadari bahwa kebenaran sejati bukan hanya dipahami, tetapi dialami dalam Allah. Keduanya menunjukkan satu hal: ketika seseorang menemukan kebenaran, hidupnya tidak bisa tetap sama.
Saudara-saudari terkasih, Yesus menjawab kerinduan itu dengan sabda yang sangat tegas: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Ini adalah jawaban bagi setiap pencarian manusia. Di tengah dunia yang penuh pilihan dan kebingungan, Yesus menegaskan bahwa hanya dalam Dia kita menemukan arah, kebenaran, dan hidup yang tidak pernah berakhir. Ia bukan sekadar penunjuk jalan, tetapi jalan itu sendiri yang harus kita ikuti.
Namun kita juga harus jujur melihat kenyataan. Zaman ini menawarkan banyak “jalan lain” yang sangat menggoda: jalan kesuksesan dan materi, jalan popularitas, jalan kenyamanan, bahkan jalan yang membiarkan kita menentukan kebenaran sendiri. Semua ini tampak menarik dan menjanjikan. Tetapi sering kali, setelah dijalani, jalan-jalan ini meninggalkan kehampaan—hidup terasa penuh di luar, tetapi kosong di dalam.
Saudara-saudari terkasih, Di sinilah kita memahami sabda Yesus lebih dalam. Ia adalah jalan—yang mengajak kita mengikuti hidup-Nya: jalan kasih, pengorbanan, dan kesetiaan kepada kehendak Bapa. Ia adalah kebenaran—bukan sekadar ide, tetapi pribadi yang harus dihidupi. Ia adalah hidup—yang memberi makna terdalam dan kekal. Maka iman bukan hanya soal mencari kebenaran, tetapi membiarkan diri ditarik, diubah, dan dihidupi oleh kebenaran itu, yaitu Kristus.
Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Gereja perdana memilih jalan yang benar, bukan yang mudah. Mereka menghadapi persoalan, tetapi menanganinya dengan kebijaksanaan dan iman. Karena itu Gereja bertumbuh dan memberi kesaksian yang hidup. Ini menjadi cermin bagi kita hari ini.
Saudara-saudari terkasih, Hari ini kita diajak untuk bertanya: apakah kita sungguh mencari kebenaran? Dan jika kita telah menemukannya dalam Kristus, apakah kita membiarkan hidup kita diubah oleh-Nya? Ataukah kita tetap berjalan di jalan kita sendiri?
Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar kita tidak hanya menjadi pencari kebenaran, tetapi menjadi orang yang ditemukan, diubah, dan dihidupi oleh kebenaran itu sendiri.
Sebab pada akhirnya, hanya dalam Kristus kita menemukan arah, kebenaran, dan hidup yang tidak pernah berakhir—dan hanya dalam Dia hidup kita menjadi penuh dan bermakna. Amin. Alleluia.
Profesional Usahawan Katolik Keuskupan Agung Medan (PUKAT KAM) perlu diberhentikan dan diangkat pengurus yang baru, untuk turut serta mengambil peran dan berpatisipsi membangun bangsa dan negara melalui gereja dengan pemikiran, tenaga dan usaha secara bersama-sama dengan tanggung jawab sebagai Katolik dan Warga Negara Indonesia;
Susunan Pengurus Profesional Usahawan Katolik Keuskupan Agung Medan (PUKAT KAM) masa bakti 2023 - 2026 (sesuai dengan Surat Keputusan Uskup Keuskupan Agung Medan No-mor:406/PUKAT/KA/V/’26)
I. Moderator
RD. Benno Ola Tage
II. Dewan Penasehat
Parlindungan Purba
Nita Ernawati
Henry Jhon Hutagalung
Albert Pakpahan
Prof. Johannes Tarigan
Johannes Sembiring
Jonas Hudaja
Gregorius Marbun
Dr. Lie King Fuan
III. Badan Pengurus Harian
Ketua Umum : Hendry Wigin
Ketua I (Bidang Pertanian) : Andy Wahab Sitepu
Ketua II (Bidang Sosial Ekonomi) : Leo K. Simanjuntak
Ketua III (Bidang UMKM) : Alex Wijaya
Wakil Ketua III (Bidang UMKM) : Argandhi Manalu
Ketua IV (Bidang Diklat & Spiritual) : Barita Esman Sidabukke
Wakil Ketua IV (Bidang Diklat & Spiritual) : Dr. Nikous Sotar Sihombing
Sekretaris Umum : Erni Kristina
Bendahara Umum : Andreas Intan Budiman
Wakil Bendahara Umum : Albert Ginting
IV. Bidang – Bidang
Bidang Sosial Ekonomi : 1. Benyamin Winata 2. Leonard Tarigan
SURAT KEPUTUSAN USKUP KEUSKUPAN AGUNG MEDAN Nomor : 346/FKTHB-KAM/KA/V/’26
Forum Kerja sama Tarekat Hidup Bakti Keuskupan Agung Medan (FKTHB-KAM) merupakan sarana koordinasi, komunikasi, pembinaan, dan pengembangan pelayanan bersama di wilayah Keuskupan Agung Medan;
Mengkoordinasikan dan mengkolaborasikan karya pelayanan antar Tarekat Hidup Bakti di wilayah Keuskupan Agung Medan sesuai arah pastoral Keuskupan dan ketentuan Gereja;
Menjamin terlaksananya semangat persaudaraan, solidaritas, dan saling mendukung antar anggota Tarekat Hidup Bakti melalui pertemuan, refleksi bersama, dan kegiatan pastoral bersama;
Menggagas dan mengembangkan refleksi teologis dan pastoral mengenai hidup bakti serta pelayanan Gereja sesuai konteks pastoral wilayah Keuskupan Agung Medan;
Menjadi penghubung antara Uskup Keuskupan Agung Medan dengan Tarekat Hidup Bakti serta instansi-instansi terkait;
Menyusun, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengembangkan program kerja pelayanan Tarekat Hidup Bakti di wilayah Keuskupan Agung Medan;
Menyusun laporan kegiatan dan laporan keuangan secara berkala dan mempertanggungjawabkannya dalam rapat anggota dan kepada Uskup melalui Vikarius Pro Religius.
Keuskupan Agung Medan dengan duka yang mendalam, menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Sr. M. Avelina Simbolon FCJM pada tanggal 13 Juni 2026 pada usia 76 tahun. Suster ini telah mempersembahkan hidupnya secara total dalam pengabdian kepada Tuhan melalui panggilan hidup bakti, dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan semangat pelayanan yang tulus bagi Gereja dan sesama. Keuskupan bersyukur atas teladan iman, doa, dan karya pelayanannya yang telah memperkaya kehidupan umat.
Semoga Allah Bapa yang Maharahim menerima Sr. M. Avelina Simbolon FCJM dalam damai dan kebahagiaan abadi di rumah-Nya, serta menghibur keluarga, kongregasi, dan semua yang berduka dengan pengharapan akan kebangkitan.
Duka sebelumnya dari Kongregasi FCJM Keuskupan Agung Medan:
Sr. M. Bernarda Manalu FCJM (01 Mar 2026) 81 Tahun
Sr. M. Ancilla Hasugian FCJM (27 Jan 2026) 83 Tahun
Sr. M. Fransiska Laia FCJM (07 Okt 2025) 59 Tahun
Sr. M. Secilia Siringoringo FCJM (11 Juni 2025) 84 Tahun
Sr. Venantia Tamba FCJM (19 April 2025) 60 Tahun
Sr. M. Juliana Nainggolan FCJM (13 Okt 2024) 68 Tahun
Sr. M. Anastasia Samosir FCJM (03 Okt 2024) 66 Tahun
Dalam rangka menyambut bulan keluarga di Keuskupan Agung Medan 2026, Komisi Keluarga KAM menyediakan Buku Ibadat Lingkungan/Keluarga selama bulan Juli 2026. Kami berharap buku ibadat ini dapat dipakai dalam doa/ibadat di seluruh lingkungan/keluarga di paroki-paroki Keuskupan Agung Medan.
Adapun tema pendalaman dalam ibadat ini berfokus pada Sinode Diosesan VII : Mendengarkan, Meneguhkan, Mewartakan. Keluarga sebagai Gereja rumah tangga memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk iman dan karakter setiap anggotanya.
Dalam semangat kebersamaan Gereja Keuskupan Agung Medan, keluarga-keluarga Katolik diajak untuk terus berjalan bersama, saling mendengarkan dengan hati yang terbuka, meneguhkan satu sama lain dalam kasih Kristus, serta mewartakan nilai-nilai Injil melalui kehidupan sehari-hari. Tema-tema yang disiapkan untuk 4 (empat) kali pertemuan ialah:
Keluarga Berjalan Bersama untuk Saling Mendengarkan.
Keluarga Berjalan Bersama untuk Saling Meneguhkan.
Keluarga Berjalan Bersama untuk Saling Mewartakan.
Keluarga Katolik yang Sinodal dan Berkarakter.
Medan, 1 Juni 2026
RP. Andreas Budianto, OFMConv Ketua Komisi Keluarga KAM
Pada 17 April 2026, di Gereja Paroki Santa Perawan Maria Kabanjahe dirayakan sebuah peristiwa iman yang indah dan mendalam, yakni pengikraran Kaul Kekal 7 orang Suster Fransiskus Dina. Dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Bapa Uskup Keuskupan Agung Medan, Gereja setempat secara nyata merasakan kasih Allah yang senantiasa hidup dan berkarya di tengah umat-Nya. Dijiwai spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi yang sederhana, rendah hati dan hidup bersama orang kecil, terpinggirkan dan menderita, pengikraran Kaul Kekal ini menjadi sumber harapan baru bagi Gereja lokal. Kesaksian hidup bakti para suster adalah kekuatan rohani yang meneguhkan iman, menghidupkan semangat pelayanan dan mendorong karya evangelisasi di tengah umat Allah.
Di hadapan Allah dan Gereja, para suster dengan penuh iman dan kerendahan hati menyatakan penyerahan seluruh hidup untuk menghidupi nasihat Injil melalui kaul kemurnian, kemiskinan dan ketaatan. Janji suci ini merupakan ungkapan cinta total kepada Kristus, Sang Mempelai, serta kesediaan untuk melayani umat Allah seumur hidup dalam semangat pengorbanan dan kerendahan hati yang siap setiap saat diisi oleh Rahmat Allah.
Perayaan syukur ini mengajak seluruh umat beriman untuk kembali menyadari dan menghidupi panggilannya masing-masing baik sebagai imam, hidup bakti maupun awam di tengah keluarga dan masyarakat. Kesetiaan para suster menantang dan mengobarkan hati kita untuk memperbarui komitmen dalam tugas dan pelayanan sehari-hari di dalam Gereja. Semoga kesetiaan dan persembahan hidup para Suster Fransiskus Dina yang tampak dalam kebersamaan dan sinodalitas, menyentuh semakin banyak hati untuk semakin mencintai Kristus dan Gereja-Nya, serta terbuka pada panggilan Tuhan dalam berbagai keragamannya. Kiranya hidup dan karya para suster didasari oleh pengetahuan dan penghayatan iman yang mendalam, sehingga mereka tampil sebagai “ahli” iman yang mampu menerangkan kekatolikan kepada siapa saja yang bertanya kepadanya. Setia selalu!
2. Peletakan Batu Pertama Pastoran dan Perayaan Paskah
Pada 19 April 2026, Kuasi Paroki Santo Bonaventura Saran Padang, dalam usianya masih dini, mengukir langkah penting dalam perjalanan iman umat melalui perayaan Ekaristi dalam rangka peletakan batu pertama pembangunan pastoran. Dalam suasana Paskah yang mengobarkan hati, perayaan suci ini dipimpin oleh Bapa Uskup bersama para imam konselebran dan umat beriman.
Melalui perayaan agung yang sarat makna ini, Gereja memohon berkat Tuhan agar seluruh proses pembangunan berjalan dengan baik, aman dan lancar, sehingga bangunan pastoran sungguh menjadi sarana kehadiran kasih dan pelayanan Kristus di tengah umat dan masyarakat sekitar. Batu yang diletakkan melambangkan iman umat yang berakar pada Kristus, Sang Batu Penjuru Gereja.
Dalam terang Kitab Hukum Kanonik, pembangunan dan pemeliharaan rumah pastoran merupakan bagian dari tanggung jawab pastoral demi kesejahteraan umat beriman. Kanon 1214 menyebutkan bahwa gereja adalah “bangunan suci yang diperuntukkan bagi ibadat ilahi dan terbuka bagi semua orang beriman,” sementara kanon 537 dan kanon 1254 §2 menegaskan bahwa harta benda Gereja “diarahkan pertama-tama untuk menyelenggarakan ibadat ilahi, menyokong dengan layak para pelayan suci serta melaksanakan karya kerasulan dan amal kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan.” Dalam semangat itu, pembangunan pastoran menjadi wujud nyata pengelolaan sarana pastoral demi pelayanan yang semakin baik dan teratur bagi umat Allah.
Peletakan batu pertama ini menampakkan komitmen umat untuk terus membangun Gereja yang hidup. Pembangunan fisik merupakan bagian pembinaan persekutuan, pelayanan yang tulus serta kasih persaudaraan yang nyata. Gedung pastoran menjadi pusat kehidupan pastoral, yakni tempat imam menggembalakan umat, tempat tumbuh dan diperdalamnya iman serta rumah pelayanan yang memancarkan kehangatan dan belas kasih Kristus bagi semua yang datang.
Bagi Keuskupan Agung Medan, pembangunan pastoran di Kuasi Paroki Santo Bonaventura Saran Padang merupakan tanda berkembangnya karya penggembalaan Gereja lokal. Dengan dukungan struktur dan sarana yang memadai, pelayanan kepada umat dapat diwujudkan secara lebih dekat, terarah dan berkelanjutan, sejalan dengan tema Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan, “Berjalan bersama untuk mendengarkan, meneguhan dan mewartakan. Kanon 529 §1 menegaskan bahwa pastor paroki “hendaknya berusaha mengenal umatnya dan mengabdikan diri pada pelayanan mereka dengan berkobar dalam cinta kasih.” Semoga dari tempat ini mengalir rahmat dan berkat bagi seluruh umat, sehingga komunitas beriman di Saran Padang semakin diteguhkan dalam iman, pengharapan dan kasih.
3. Paskah Ekumene USU 2026: Kaum Muda Dipanggil Menjadi Terang dan Harapan
Perayaan Paskah Ekumene Universitas Sumatera Utara pada 22 April 2026 membuka babak baru dalam perjalanan iman di kampus ini. Untuk pertama kalinya dalam 24 tahun penyelenggaraan Paskah Ekumene USU, perayaan dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap. Kehadiran beliau menghadirkan suasana liturgis yang khidmat sekaligus penuh sukacita, mempersatukan umat beriman dari berbagai latar belakang dalam satu perayaan Paskah ekumenis yang berakar pada spiritualitas Katolik.
Dalam terang misteri Paskah, kebangkitan Kristus dirayakan sebagai sumber harapan yang menggerakkan. Melalui homili dan refleksi yang mendalam, para mahasiswa diajak untuk memandang realitas kehidupan bangsa dengan mata iman: berani menghidupi tantangan, ketidakadilan dan luka sosial, tanpa kehilangan harapan. Iman akan Kristus yang bangkit menjadi pelita yang menuntun, agar hati tidak terjebak dalam keputusasaan, melainkan terbuka pada karya penebusan Allah dalam sejarah.
Dalam pesannya, Bapa Uskup menegaskan bahwa mahasiswa-mahasiswi dipanggil menjadi agen perubahan yang membawa terang di tengah gelapnya egoisme, korupsi, kekerasan dan perpecahan. Gereja sendiri menegaskan martabat dan perutusan kaum muda dalam hidup dan perutusan Gereja. Konsili Vatikan II menganjurkan agar kaum muda dibina sedemikian rupa, sehingga dengan berkembangnya kepribadian mereka, mereka juga siap mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan sosial dan gerejawi (bdk. Gravissimum Educationis, 1). Roh Kudus membimbing generasi muda untuk berpikir kritis, terlibat aktif dalam kehidupan sosial dan memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat, baik melalui studi, pelayanan maupun kesaksian hidup sehari-hari.
Perayaan Paskah Ekumene ini menjadi tanda bahwa iman yang dirayakan dalam semangat persaudaraan mampu meretas batas-batas denominasi. Di sinilah spiritualitas Paskah menemukan wujud konkret, yakni kesediaan untuk mengasihi melampaui sekat, membangun jembatan dan menghadirkan damai.
Bagi Universitas Sumatera Utara, Paskah Ekumene 2026 terutama menjadi sebuah panggilan pembaruan. Para akademisi diajak menjadikan kampus sebagai ruang kesaksian iman, tempat di mana nilai-nilai Injil, yakni kebenaran, keadilan, kejujuran dan solidaritas diperjuangkan. “Wahai mahasiswa-mahasiswi, ayo terus berjalan bersama Gereja untuk menumbuhkan spiritualitas yang matang dan berani menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus sungguh hidup dalam pilihan-pilihan konkretmu. Jangan takut pada Salib, karena salib adalah jalan paling pasti untuk sampai kepada kebangkitan!”
4. Tri Organ Yayasan St. Thomas Medan
Rapat Tri Organ Yayasan Santo Thomas Medan pada 23 April 2026 menjadikan evaluasi dan perumusan arah strategis pengembangan lembaga pendidikan dalam terang visi Katolik sebagai agenda utamanya. Capaian pelayanan pendidikan, khususnya mutu pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dinilai kembali untuk memastikan bahwa seluruh proses akademik berjalan sejalan dengan identitas dan perutusan Gereja, yakni memajukan martabat manusia dan kebaikan bersama. Pendidikan adalah kegiatan formasi keadaan manusia seutuhnya, sebagaimana diungkapkan Kitab Suci: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Amsal 22:6).
Fokus utama rapat terarah pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama para dosen, agar pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi semakin optimal dan relevan. Penguatan kompetensi pedagogis dan profesional, dorongan terhadap penelitian yang kontekstual dan beretika serta keterlibatan aktif dalam pengabdian kepada masyarakat dipahami sebagai bentuk pelayanan intelektual yang menghubungkan iman dan akal budi. Sejalan dengan itu, rapat juga menegaskan pentingnya pembenahan tata kelola, penguatan akreditasi dan pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif dan akuntabel sebagai wujud tanggung jawab moral lembaga.
Dalam perspektif Keuskupan Agung Medan, langkah-langkah pembenahan ini menjadi harapan baru bagi penguatan karya pendidikan Katolik. Yayasan Santo Thomas Medan meneguhkan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang bermutu, humanis dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat, sehingga mampu melahirkan lulusan yang unggul, berintegritas serta memiliki semangat pelayanan bagi Gereja dan bangsa. Berkobarlah Unika St. Thomas.
5. Lepas Sambut Dandim 0201
Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti acara Lepas Sambut Terima Jabatan Komandan Kodim (Dandim) 0201/Medan pada 25 April 2026 di Grand Mercure Maha Cipta Medan Angkasa. Kolonel Inf. Muhammad Radhi Rusin, S.I.P, menyerahkan tongkat komando kepada pejabat baru, Letkol Arm. Delli Yudha Adi Nurcahyo, SE., MM. Dalam kesempatan tersebut, Uskup Keuskupan Agung Medan yang diwakili oleh RD Parulian Susanto Sihombing turut hadir mengikuti rangkaian kegiatan yang berjalan khidmat. Pergantian kepemimpinan ini menjadi momen penting dalam dinamika tugas serta pembinaan di lingkungan Kodim.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh dari berbagai unsur, termasuk perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran TNI–POLRI serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Kota Medan. Kehadiran berbagai elemen ini menunjukkan dukungan bersama terhadap kelangsungan kepemimpinan dan pelaksanaan tugas pengamanan negara. Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap, menyampaikan bahwa kerja sama antara Pemerintah Kota Medan dengan TNI dan POLRI telah berjalan dengan baik. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan dan menciptakan kondusivitas bagi warga Kota Medan.
Selain itu, Wakil Wali Kota juga memberikan apresiasi atas dedikasi Kolonel Inf. Muhammad Radhi Rusin selama menjabat sebagai Dandim 0201/Medan. Kepada pejabat yang baru, Letkol Arm. Delli Yudha Adi Nurcahyo, Zakiyuddin menyampaikan ucapan selamat datang dan selamat bertugas di Kota Medan. Ia berharap kerja sama yang telah terbangun dapat terus diperkuat, demi menjaga stabilitas keamanan sekaligus mendorong percepatan pembangunan ke depan. Keuskupan Agung Medan, dalam semangat sinodalits, mendukung para pemimpin militer dalam menjalankan tugasnya untuk menjaminkan keamanan di wilayah tugasnya. Selamat bertugas Bapak Dandim.
6. Pembukaan Perdhaki Sumatera
Rapat Kerja PERDHAKI Sumatera yang berlangsung pada 30 April 2026 di Catholic Center PPU Pematangsiantar menegaskan kembali identitas pelayanan kesehatan Katolik sebagai perpanjangan tangan belas kasih Kristus. Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap mengajak para peserta untuk menyadari bahwa karya kesehatan Gereja tidak berhenti pada pemenuhan standar profesional, tetapi berakar pada misi Gereja untuk menyentuh, menyembuhkan, dan memberi harapan, terutama bagi mereka yang menderita dan tersisih. Ensiklik Evangelium Vitae menggariskan bahwa Gereja secara khusus merasakan sebagai tugasnya untuk melayani mereka yang paling lemah dan paling menderita (bdk. Evangelium Vitae, 3). Dimensi iman ini menjadikan setiap tindakan medis, pengambilan keputusan klinis dan pelayanan terhadap pasien sebagai bagian dari kesaksian Gereja akan kasih Allah yang memuliakan martabat manusia.
Melalui ruang dialog, refleksi dan perumusan langkah bersama, rapat kerja ini merumuskan langkah-langkah untuk memperkuat tata kelola dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan Katolik. Semangat sinodalitas tampak dalam upaya untuk mendengarkan berbagai pengalaman lapangan, membaca tantangan zaman serta menyusun strategi pengelolaan yang transparan, bertanggung jawab dan selaras dengan etika Katolik. Profesionalisme, akuntabilitas dan komitmen terhadap keadilan sosial merupakan bagian integral dari spiritualitas pelayanan Kesehatan Gereja.
Dalam konteks Keuskupan Agung Medan yang plural dan dinamis, pertemuan ini diharapkan memperteguh karya kesehatan Katolik sebagai sarana evangelisasi yang hidup dan relevan. Pelayanan yang humanis dan inklusif menjadi wujud konkret kehadiran Gereja di tengah masyarakat. Dengan demikian, institusi dan tenaga kesehatan Katolik dipanggil terutama untuk membangun harapan dalam penderitaan serta memperjuangkan martabat kehidupan manusia dari awal hingga akhir hayat. Lembaga dan tenaga kesehatan hadir sebagai tanda kasih dan belas kasih Kristus yang menyembuhkan.
7. Tenaga Personalia Komisi KKS KAM
Pada 5 Mei 2026, Sr. Fransiska Romana Dondo, ALMA mengunjungi Bapa Uskup dalam rangka menanggapi permohonan Keuskupan Agung Medan akan tenaga personalia di Komisi KKS KAM. Dalam pertemuan tersebut, Sr. Fransiska sekaligus memperkenalkan Sr. Ludgardis, ALMA, yang akan mulai bertugas di Komisi KKS pada 1 Juli 2026.
Perutusan anggota kongregasi ini dimaknai sebagai wujud sinodalitas untuk berjalan bersama, saling mendukung dan memperkuat pelayanan untuk kemajuan karya pastoral keuskupan. Kehadiran Sr. Ludgardis di komisi diharapkan membawa semangat baru dalam pengembangan pelayanan Kitab Suci, baik melalui pendampingan, pembinaan maupun kegiatan-kegiatan yang semakin dekat dengan kebutuhan umat.
Keuskupan menyampaikan limpah terima kasih atas tanggapan terhadap permintaan Keuskupan Agung Medan. Harapannya, pelayanan pastoral yang terwujud akan semakin menyentuh kebutuhan umat, khususnya dalam menghadirkan dan memenuhi kehausan akan Kitab Suci, agar Sabda Tuhan semakin hidup dan berbuah dalam kehidupan iman umat. Selamat datang dan selamat bertugas, Sr. Ludgardis.
8. Dispensasi dari Status Imamat
Pada 11 Mei 2026, Kuria Keuskupan Agung Medan menyambut kedatangan dua mantan Imam Diosesan, Selman Alpinus Sipayung dan Charles Karolus Sinaga. Keduanya telah dianugerahi dispensasi dari semua kewajiban klerikal, sebagai tanda kemurahan dan kerahiman Gereja. Melalui anugerah ini, mereka dapat kembali berpartisipasi secara penuh dalam hidup sakramental Gereja dan diakui dalam status kanonik yang baru.
Dispensasi tersebut diberikan melalui anugerah Istimewa oleh Bapa Suci pada 20 Februari 2026. Sejak penganugerahan dispensasi itu, keduanya diakui dan diterima sepenuhnya sebagai awam dalam Gereja Katolik. Perkawinan mereka dapat dikonvalidasi, sekaligus diberikan izin untuk menyambut Komuni Kudus dalam perayaan Ekaristi.
Keduanya diundang untuk menjadi teladan hidup sebagai awam dan sejauh mampu, hadir sebagai umat yang berguna dan berbuah bagi pelayanan komunitas Kristen melalui karunia serta talenta yang dianugerahkan Allah. Keuskupan juga menyampaikan ucapan selamat datang kembali, disertai harapan agar tetap menjalin komunikasi yang baik dengan Keuskupan Agung Medan. Selman Alpinus Sipayung bersama keluarga berdomisili di Nias, sementara Charles Karolus Sinaga bersama keluarga berdomisili di Malang.
9. Rapat Komisi Pendidikan KAM bersama para Ketua dan Pengurus YPK KAM
Rapat Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Medan bersama para Ketua dan Pengurus Yayasan Pendidikan Katolik (YPK) se-KAM pada 12 Mei 2026 di Catholic Center KAM menunjukkan bahwa semangat sinodalitas Gereja dihidupi melalui kolaborasi dan budaya mendengarkan. Dalam forum ini, para peserta berdialog dan merumuskan langkah strategis untuk mengembangkan pendidikan Katolik yang unggul, berintegritas dan misioner. Bapa Uskup menegaskan perlunya membangun budaya mendengarkan serta meneguhkan pendidik dan peserta didik agar berakar pada nilai iman dan kemanusiaan.
Secara teologis, rapat ini memperlihatkan bahwa pendidikan Katolik terutama merupakan aktivitas pembentukan manusia seutuhnya berdasarkan nilai Injil dan kepedulian terhadap sesama. Penguatan para pendidik dalam spiritualitas dan kemanusiaan menjadi kunci agar sekolah-sekolah Katolik tampil sebagai sarana pewartaan kasih dan harapan di tengah masyarakat. Pendidikan Katolik menjadi kesaksian iman yang nyata, nilai-nilai Gereja diwujudkan dalam cara mendidik, relasi antarwarga sekolah serta pilihan-pilihan etis yang konsisten.
Kolaborasi yang semakin erat antara Komisi Pendidikan KAM dan para pengelola YPK diharapkan bermuara pada penguatan karya pendidikan Gereja secara berkelanjutan, sehingga mampu melahirkan generasi muda yang cerdas, berkarakter dan memiliki spirit pelayanan. Pendidikan Katolik dipanggil untuk membentuk peserta didik agar menjadi saksi nilai-nilai Injil, baik di dalam kehidupan Gereja maupun di tengah masyarakat luas. Sebagai wujud konkret sinodalitas KAM dan semua Yayasan Pendidikan Katolik di wilayah kegembalaan KAM, Bapa Uskup meminta agar setiap Yayasan memberikan laporan mengenai kegiatan pastoral yang diadakan di lembaganya masing-masing, terutama dalam penyusunan kurikulumnya.
Liturgi merupakan puncak dan sumber kehidupan iman Kristiani. Dalam setiap perayaan liturgi, terutama Ekaristi, Gereja menghadirkan karya keselamatan Allah yang terus hidup dan menyapa umat-Nya. Dalam Ekaristi, umat beriman, termasuk anak-anak, dipanggil untuk berpartisipasi secara aktif, sadar, dan penuh iman dalam perayaan misteri Kristus.
Sebagai bagian dari upaya pembinaan liturgis yang berkelanjutan, Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (Komlit KWI) menetapkan bulan Mei sebagai Bulan Liturgi Nasional (BLN). Namun di Keuskupan Agung Medan (KAM), perayaan ini dijalankan secara kontekstual pada bulan Juni, menyesuaikan dengan dinamika pastoral setempat. Hal ini menjadi bentuk nyata dari semangat Gereja yang hidup dan hadir dalam keberagaman.
Dalam rangka itu, Bulan Liturgi Nasional Tahun 2026 mengambil tema “Liturgi dan Anak-Anak”. Tema ini diperdalam dan dirumuskan secara lebih spesifik serta berkesinambungan dengan tema BLN 2025, yakni “Ekaristi dalam Ziarah Pengharapan”. Hal ini juga sejalan dengan hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2025 yang menekankan pentingnya formasi iman umat yang sinodal, kolaboratif, dan berkelanjutan. Tema ini akan di dalami dalam 4 sub tema, yakin:
Orangtua sebagai Bejana Tanah Liat yang Membawa Harta Iman
Menyemai Sabda di Hati Mungil.
Memuji dan Memuliakan Tuhan dalam Ekaristi bersama dan dengan Anak-Anak.
Menyusun Misa Anak-Anak.
Bahan ini disarikan dari materi resmi Komlit KWI, dan disesuaikan dengan konteks pastoral Keuskupan Agung Medan. Harapannya, buku ini dapat menjadi sarana pembinaan dan pendalaman iman, khususnya bagi anak-anak, orangtua, dan para animator liturgi. Diharapkan bahan ini juga dapat dipakai dalam berbagai kesempatan bina iman, sehingga umat semakin dibantu untuk bertumbuh dalam partisipasi liturgis yang sadar, aktif, dan penuh penghayatan.
Dengan demikian, melalui pendalaman ini, umat beriman diharapkan semakin menyadari bahwa dirinya dibentuk oleh liturgi, dan Ekaristi sungguh menjadi sumber pengharapan dalam perjalanan iman Gereja di tengah dunia. Semoga setiap perayaan Ekaristi menjadi perjumpaan yang hidup dengan Kristus, yang memperkuat, memperbarui, dan mengutus umat-Nya untuk menjadi saksi kasih Allah di tengah masyarakat.
1. Petugas Ibadat
Ibadat dapat dipandu oleh 2 orang petugas yang disebut pemandu 1 (P1) dan pemandu 2 (P2). Bila tidak memungkinkan 2 orang, pemandu dapat juga satu orang.
P1 bertugas untuk bagian pelaksanaan ibadat keseluruhan;
P2 bertugas untuk membacakan Sabda Allah (Injil) dan bagian Renungan/Pendalaman bahan.
Petugas lain adalah pembawa ujud doa umat, kolektan, pemandu lagu, dan pengiring nyanyian.
Para petugas, khususnya P1 dan P2, hendaknya menggunakan pakaian liturgis: alba dan kap/samir pemandu liturgi.
2. Tempat dan Perlengkapan
Tempat ibadat umumnya dilaksanakan di rumah umat tetapi boleh juga di tempat lain yang disepakati, misalnya di aula.
Di tempat ibadat (di rumah umat) hendaknya disediakan satu meja kecil sebagai ”altar”. Di atasnya disediakan 2 lilin, salib menghadap umat, buku Alkitab, dan patung/arca Bunda Maria. Dekorasi bunga boleh juga disediakan di sekitar meja tersebut untuk menambah suasana ibadat.
Pemandu ibadat (P1 dan P2) akan mengambil tempat duduk di samping kiri dan kanan meja tersebut.
Posisi umat di tempat ibadat boleh duduk melingkar, tetapi boleh juga duduk berjejer, seturut situasi tempat.
Demikian buku ibadat ini disampaikan kepada kita. Semoga kita semua semakin bergembira memuliakan Tuhan dalam ibadat khususnya dalam perayaan Ekaristi.