Rabu, Mei 20, 2026
Lainnya
    Beranda blog

    Rekomendasi & Komitmen Temu Pastoral Uskup Agung Medan dengan Pimpinan Tarekat Hidup Bakti 2026

    CC - PPU PEMATANGSIANTAR, 19 - 22 JANUARI 2026

    Pengantar

    Temu Pastoral Uskup, Kuria, dan Pimpinan Tarekat Hidup Bakti Keuskupan Agung Medan (TEPAS) dilaksanakan pada 19–22 Januari 2026 di CC–PPU Pematangsiantar. Pertemuan ini dihadiri oleh Bapa Uskup, Kuria KAM, serta para pimpinan/perwakilan tarekat religius dan sekular yang berkarya di wilayah Keuskupan Agung Medan yang hadir 77 orang. Pertemuan dibuka oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap yang menegaskan bahwa Tarekat Hidup Bakti adalah bagian integral dari Gereja dan dipanggil untuk berjalan bersama dalam semangat sinodalitas, memperbarui relasi dengan Gereja lokal, serta menghidupi kembali karisma pendiri dalam pelayanan pastoral yang kolaboratif dan transformatif.

    TEPAS 2026 mengangkat tema: “Gereja KAM Berjalan Bersama dalam Iman dan Aksi, Berkomitmen pada Kaderisasi, Lingkungan Hidup, dan Martabat Manusia.” Melalui proses mendengarkan, meneguhkan, dan mewartakan, pertemuan ini menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat kerja sama antara keuskupan dan tarekat hidup bakti, serta merumuskan rekomendasi dan komitmen pastoral bersama bagi pelayanan Gereja di KAM.

    Tujuan TEPAS

    1. Mengapresiasi kerja tarekat hidup bakti di tempat karya masing-masing, yang membantu Gereja lokal dengan karisma masing-masing,
    2. Memupuk semangat “berjalan bersama” dengan mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan sesuai visi dan misi keuskupan tanpa mengabaikan visi dan misi tarekat masing-masing
    3. Mengupayakan kerjasama lintas tarekat dalam karya pastoral parokial, pendidikan, kesehatan, asrama, dll
    4. Menerjemahkan rekomendasi atau anjuran pastoral KAM, KWI atau Gereja Universal, misalnya kaderisasi, lingkungan hidup, TPPO, pastoral kaum muda, penyalahgunaan narkoba dan sebagainya, dll. dan mengusulkan karya-karya pastoral tertentu ke KAM untuk dijadikan karya pastoral bersama.

    Topik-topik TEPAS 2026

    1. Merawat Ciptaan, Menghidupi Iman: Ephorus Dr. Viktor Tinambunan. Menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan bagian dari iman dan tanggung jawab bersama umat beriman dalam merawat ciptaan Tuhan.
    2. Tarekat Hidup Bakti dalam Gereja dan Identitasnya: Sr. Alfonsine, KSFL. Menjelaskan identitas dan peran tarekat hidup bakti sebagai bentuk panggilan khusus dalam Gereja yang hidup dari karisma pendiri dan pelayanan bagi umat.
    3. THB dalam Kesatuan dengan Gereja: RD Sampang Tumanggor. Menekankan pentingnya kesatuan dan kerja sama antara tarekat hidup bakti dengan Gereja lokal dalam menjalankan misi pastoral.
    4. Laporan dan Sharing Pertemuan SAGKI 2025: RD Joseph Gultom. Menyampaikan hasil dan refleksi dari Pertemuan SAGKI 2025 sebagai bahan inspirasi dan arah pastoral bagi Gereja di KAM.
    5. Sinode Diosesan VII KAM dan Fokus Pastoral KAM: RP Serafin, OSC. Memaparkan arah dan fokus pastoral Keuskupan Agung Medan berdasarkan hasil Sinode Diosesan VII.
    6. Gambaran Wajah Gereja KAM: RP Michael Manurung, OFMCap. Menggambarkan situasi, dinamika, dan tantangan kehidupan Gereja di wilayah Keuskupan Agung Medan saat ini.
    7. Laporan dan Sharing Kongres Misi Penang 2025: Sr. Caroline Naibaho, KYM Menyampaikan pengalaman dan refleksi dari Kongres Misi Penang sebagai inspirasi bagi semangat misioner Gereja.
    8. Gerakan Peduli Lingkungan: Learn, Connect & Action: RP Stephanus Sitohang, OFMCap. Mengajak Gereja untuk belajar, membangun jejaring, dan melakukan aksi nyata dalam gerakan kepedulian terhadap lingkungan.
    9. Perhatian dan Aksi KAM terkait Lingkungan Hidup: RP Hilarius Kemit, OFMCap. Menjelaskan berbagai inisiatif dan langkah konkret Keuskupan Agung Medan dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.
    10. Kaderisasi dalam Gereja KAM: Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Menekankan pentingnya kaderisasi untuk menyiapkan generasi penerus Gereja yang beriman, kompeten, dan siap melayani.
    11. Peran Media Sosial dalam Pewartaan Nilai-nilai Kristiani: RD Benno Ola. Menunjukkan bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan secara bijak sebagai sarana evangelisasi dan pewartaan iman.
    12. Pastoral Migran dan Perantau dalam Upaya Penanggulangan TPPO: RD Sesarius. Menyoroti pentingnya perhatian pastoral bagi para migran dan perantau serta upaya Gereja dalam mencegah perdagangan orang.
    13. Conventio Scripta: RP Joseph Lesta S. Pandia, OFMConv: Membahas pentingnya kesepakatan tertulis antara keuskupan dan tarekat dalam kerja sama karya pastoral.
    14. Perancangan Kurikulum Kursus Keagamaan THB Non-Imam KAM: RP Kartolo Malau,O.Carm. Menyampaikan poin-poin dan langkah-langkah penyusunan kurikulum pembinaan iman bagi anggota tarekat hidup bakti non-imam di wilayah KAM.
    15. Jaring Opini Kegiatan Pembinaan Formator THB dan UNIO di PPU: RD Irfantinus Tarigan. Menghimpun masukan dan refleksi terkait pembinaan para formator tarekat hidup bakti dan anggota UNIO di PPU.

    Rekomendasi dan Komitmen

    Berangkat dari topik yang dibicarakan dalam Temu Pastoral 2026 ini, yang merupakan buah refleksi, dialog, dan disermen bersama antara Keuskupan Agung Medan dan Tarekat Hidup Bakti yang berkarya di wilayah keuskupan. Dalam semangat sinodalitas, persekutuan, partisipasi, dan perutusan, serta merumuskan arah pastoral bersama demi menghadirkan Gereja yang semakin misioner, profetis, dan transformatif di tengah masyarakat. Maka beberapa komitmen dan rekomendasi sebagai berikut:

    1. Lingkungan Hidup (Tindakan Pasca Bencana dan Ekologi Praktis)

    • Realitas Pastoral Krisis ekologi merupakan tantangan serius bagi dunia dan wilayah pastoral KAM karena meningkatnya bencana banjir dan tanah longsor akhir-akhir ini. Bencana ini tidak hanya disebabkan oleh faktor alam, tetapi oleh perilaku manusia karena pengelolaan sampah yang buruk, perusakan hutan, eksploitasi lahan, pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekologis. Maka dampaknya tidak hanya merusak secara fisik dan ekonomi, tetapi menimbulkan luka sosial, psikologis, dan spiritual yang membutuhkan pendampingan pastoral berkelanjutan. Dalam terang iman, Gereja memandang perawatan bumi sebagai tanggung jawab kepada Sang Pencipta dan bagi THB kepedulian ekologis ini menjadi wujud spiritualitas profetis yang berpihak pada kehidupan, kaum kecil, dan masa depan generasi mendatang.
    • Rekomendasi Pastoral Setiap tarekat atau kongregasi diharapkan terlibat aktif dalam tanggap darurat bencana alam secara terkoordinasi dengan Keuskupan melalui bantuan logistik, medis, dan kebutuhan dasar korban, sekaligus melakukan survey dan pendataan kebutuhan, khususnya terkait tempat tinggal (rumah) yang layak, serta menggalang dukungan (jejaring donator) untuk pembangunan rumah korban. Kerasulan pastoral THB dapat diwujudkan melalui program live-in, pelayanan kesehatan, dukungan psikososial dan bimbingan rohani. THB perlu meningkatkan kesiapsiagaan melalui pelatihan tanggap bencana dan penunjukan contact person. Mengembangkan advokasi ekologis, katekese lingkungan, dan jejaring kerjasama lintas kongregasi/ lembaga yang peduli pada kelestarian ciptaan.
    • Komitmen Bersama
      1. THB dan KAM berjalan bersama menanggapi krisis ekologis secara sinodal dan berkelanjutan, dengan menjadikan kepedulian terhadap lingkungan hidup sebagai bagian integral dari spiritualitas, formasi dan karya kerasulan.
      2. Komitmen ini diwujudkan melalui pembentukan Tim Koordinator Penanggulangan Pasca Bencana THB yang bergerak di bawah dan atas nama Keuskupan Agung Medan, melaksanakan tindakan belarasa melalui assessment kolaboratif dengan mencari, mengumpulkan, dan menguji data hingga tercapai kesepahaman mengenai motivasi dan tujuan bersama sebagai dasar aksi pastoral yang profetis.
      3. Tim ini merumuskan tugas dan tanggung jawab secara jelas, antara lain melalui edukasi preventif bagi masyarakat, dukungan pembangunan rumah bagi korban bencana, serta kaderisasi anak-anak korban bencana melalui pemberian beasiswa pendidikan dan pendampingan psikologis yang berkelanjutan.
      4. Penguatan gerakan ekologis Gereja, seperti pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pengolahan sampah berbasis komunitas, peningkatan keterlibatan dalam Komisi JPIC Keuskupan, penggalangan dana bersama, serta pengembangan edukasi lingkungan di paroki, sekolah, dan komunitas umat.

    2. Kaderisasi Awam (Membangun kader Katolik menjadi garam dan terang dunia)

    • Realitas Pastoral
      KAM menghadapi tantangan pastoral berupa masih terbatasnya kader awam Katolik yang siap terlibat secara aktif dan bertanggung jawab dalam bidang sosial, politik, pendidikan, dan pelayanan masyarakat. Situasi ini antara karena sistem kaderisasi yang terarah, berjenjang, dan berkelanjutan belum maksimal, sehingga proses regenerasi pemimpin Katolik di berbagai bidang kehidupan belum berkembang secara optimal. Dalam terang iman, Gereja menegaskan kembali panggilan setiap umat beriman sebagaimana sabda Yesus, “Kamu adalah garam dunia dan terang dunia,” mengingatkan bahwa kaum awam dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat. Karena itu, sebagaimana ditegaskan dalam ajaran Sosial Gereja, kaum awam mengambil bagian dalam tugas penginjilan serta pembangunan masyarakat demi terwujudnya kebaikan bersama (bonum commune).
    • Rekomendasi Pastoral
      Memperkuat kaderisasi awam melalui program kaderisasi dan penguatan Sekretariat Komisi Kerawam Keuskupan dengan melibatkan Tarekat Hidup Bakti secara aktif serta mengembangkan database kader Katolik dari berbagai bidang pelayanan dan profesi. Proses kaderisasi dilaksanakan secara berkelanjutan melalui siklus 6P: profiling (identifikasi bibit kader), pembinaan (formasi rohani dan kepemimpinan), penguatan (dukungan pendidikan dan pelatihan), partisipasi aksi (keterlibatan sosial dan pastoral), pendampingan (mentoring berkelanjutan), dan regenerasi (kader menjadi pembina kader baru). Diselenggarakan pelatihan kader awam berjenjang bagi OMK, mahasiswa, profesional muda, dan tokoh masyarakat dengan modul yang mencakup spiritualitas awam, kepemimpinan transformatif, pendidikan politik Katolik, etika digital, dan advokasi kebaikan bersama, melalui kerjasama sinergis antara THB, paroki, sekolah Katolik, dan organisasi awam.
    • Komitmen Bersama
      1. THB dan KAM menjadi mitra aktif Tim Kaderisasi Awam KAM dalam mengembangkan sistem kaderisasi awam yang berkelanjutan dan terstruktur, guna membentuk kader Katolik yang mampu menjadi perpanjangan tangan misi Kristus di tengah dunia.
      2. Keterlibatan aktif dalam mengidentifikasi dan memperbarui database kader Katolik yang berasal dari sekolah-sekolah di bawah yayasan ordo atau kongregasi, yakni data profesi, alamat, kontak, serta proses kaderisasi meliputi identifikasi (testimoni), formasi, penguatan melalui dukungan dana, aksi pelayanan, pendampingan, dan regenerasi.
      3. Bersinergi dalam menyelenggarakan pembekalan dan pelatihan kader (diklat) agar para kader tetap memiliki semangat kekatolikan sebagai garam dan terang dunia, serta mampu berkontribusi bagi kebaikan bersama (bonum commune).
      4. Turut membina generasi muda Katolik agar menjadi pemimpin yang beriman dan berintegritas. Menyediakan sumber daya manusia, fasilitas, jejaring pendukung kaderisasi, mendampingi pertumbuhan rohani dan kepemimpinan kader.
      5. Mendorong keterlibatan awam dalam kehidupan sosial dan pelayanan Gereja, serta menghadirkan awam Katolik sebagai saksi iman yang membawa terang Injil bagi masyarakat.

    3. Pewarta Digital dan Media Sosial (THB sebagai pewarta injil di era digital)

    • Realitas Pastoral
      Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi dan membangun relasi, sekaligus membuka peluang besar bagi pewartaan Injil. Namun, dunia digital juga, menghadirkan risiko serius seperti disinformasi, penyalahgunaan media sosial, dan krisis etika digital semakin menantang komunitas religius yang belum sepenuhnya siap menghadapi dinamika budaya digital. Kurangnya pedoman penggunaan media digital menimbulkan kerentanan bagi individu maupun institusi Gereja. Dalam konteks ini, Gereja memandang dunia digital sebagai medan baru evangelisasi yang harus dihadiri dengan kebijaksanaan dan tanggung jawab, di mana pewartaan digital dipanggil untuk membangun relasi otentik, menyebarkan kebenaran, dan menghadirkan kasih Kristus bagi masyarakat.
    • Rekomendasi Pastoral
      Memperkuat pewartaan digital dengan membentuk tim komunikasi digital di setiap THB, menjalin kolaborasi aktif dengan Komisi Komsos KAM, menyelenggarakan pelatihan etika digital dan penggunaan teknologi AI secara bijaksana, menyusun pedoman penggunaan media sosial bagi anggota THB, serta mengembangkan jaringan komunikasi digital antar tarekat untuk memperluas jangkauan evangelisasi dan membangun relasi yang edukatif dan inspiratif.
    • Komitmen Bersama
      1. THB dan KAM berkomitmen untuk menghadirkan pewartaan Injil yang kreatif, edukatif, dan bertanggung jawab di ruang digital, sambil menjaga etika dan integritas dalam penggunaan media sosial.
      2. Setiap tarekat membentuk dan memberdayakan tim media sosial yang kompeten, menyusun protokol penggunaan UU ITE, serta terhubung dengan Komsos KAM untuk memperlancar konten pewartaan iman.
      3. THB siap mendukung kegiatan digital Keuskupan, termasuk mengisi acara Opera Kobar KAM.
      4. Kolaborasi digital THB, paroki, dan Komsos KAM dikembangkan menjadikan ruang evangelisasi yang membangun harapan, sarana pelayanan dan menampilkan kesaksian THB yang autentik melalui budaya digital.

    4. Pastoral Migran dan Perantau

    • Realitas Pastoral
      Mobilitas manusia yang semakin tinggi menyebabkan peningkatan jumlah migran dan perantau, namun banyak dari mereka menghadapi risiko eksploitasi, perdagangan orang, dan pelanggaran martabat manusia. Korban perdagangan orang sering mengalami penderitaan fisik, psikologis, dan sosial yang mendalam, sementara kurangnya informasi dan perlindungan hukum membuat mereka semakin rentan terhadap penipuan dan eksploitasi. Dalam konteks pastoral, Gereja terpanggil untuk membela martabat manusia, melindungi yang lemah dan tertindas, serta menghadirkan belas kasih dan keadilan melalui pelayanan pastoral migran, sebagai wujud nyata misi Gereja dalam menegakkan martabat setiap orang.
    • Rekomendasi Pastoral
      Pengembangan katekese tentang migrasi aman dan bahaya perdagangan orang, pembentukan tim pastoral migran serta tim anti-TPPO di jaringan THB dan Keuskupan, serta penguatan Forum Pastoral Migran Perantau sebagai wadah koordinasi pelayanan. Penyediaan shelter yang aman bagi korban, pengembangan kerjasama dengan pemerintah, kepolisian, dan lembaga bantuan hukum, serta penggalangan dukungan dana dan jejaring solidaritas untuk pendampingan korban menjadi langkah strategis untuk melindungi martabat migran dan perantau.
    • Komitmen Bersama
      1. THB dan KAM berkomitmen untuk membela martabat manusia, khususnya para migran dan korban perdagangan orang, melalui pastoral migran yang profetis dan humanis.
      2. Komitmen ini diwujudkan dengan mengembangkan jaringan pastoral yang kuat dan responsif, menyediakan pendampingan pastoral, sosial, dan hukum bagi korban, serta memperkuat jejaring Gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam pencegahan TPPO.
      3. Mengedukasi umat tentang migrasi yang aman dan bermartabat, mengembangkan solidaritas Gereja bagi perantau dan keluarga mereka, serta menjadi suara profetis yang memperjuangkan keadilan bagi mereka yang tertindas.

    5. Menjadi Komunitas Yang Berjalan Bersama (Spiritualitas sinodalitas)

    • Realitas Pastoral Gereja dipanggil untuk hidup dalam semangat sinodalitas sebagai cara hidup bersama, yang menekankan persekutuan, partisipasi, dan misi bersama. Di tengah dunia modern yang terfragmentasi, Gereja diharapkan menghadirkan kesaksian persaudaraan, membangun budaya mendengar, meneguhkan dan mewartakan. Berdialog secara terbuka, melibatkan semua umat dalam kehidupan dan misi Gereja. Roh Kudus diyakini bekerja melalui dialog, disermen, dan kebersamaan, sehingga berjalan bersama menjadi panggilan mendasar Gereja di zaman ini.
    • Rekomendasi Pastoral THB di Keuskupan diharapkan berpartisipasi aktif dalam proses sinodal dengan mengembangkan budaya mendengarkan dan dialog dalam komunitas Gereja, mempromosikan nilai-nilai sinodal dalam pendidikan iman, pastoral, dan media sosial, serta menyediakan pelayanan konseling iman bagi umat. Berkolaborasi dengan para imam, religius, dan awam, mengembangkan forum dialog dan refleksi pastoral bersama untuk memperkuat semangat kebersamaan dan misi sinodal.
    • Komitmen Bersama
      1. Membangun Gereja yang hidup dalam semangat sinodalitas dengan meneguhkan budaya dialog, kebersamaan, dan kolaborasi dalam karya pastoral.
      2. Menjadi saksi persaudaraan sejati di tengah masyarakat, mendengarkan suara umat dengan hati terbuka, dan berjalan bersama sebagai umat Allah dalam perutusan, sehingga setiap langkah pastoral tercermin dari partisipasi aktif, kesatuan, dan pelayanan yang nyata.

    6. Wajah Baru THB KAM (Menuju kolaborasi sinodal)

    • Realitas Pastoral
      Integrasi karisma religius dalam pastoral Gereja lokal saat ini masih belum optimal dan sering berkembang secara pragmatis serta sporadis. Karya pastoral THB sering berjalan sendiri-sendiri dengan koordinasi yang terbatas, sehingga potensi kolaborasi belum tercapai sepenuhnya. Gereja mendorong model relasi yang sinodal dan kolaboratif, memanggil THB untuk mengaktualisasikan karisma mereka secara kontekstual dalam dinamika pastoral Gereja lokal. Kolaborasi sinodal menjadi strategi utama untuk memperkuat misi Gereja dan menghadirkan karya pastoral yang terpadu, efektif, dan berdampak nyata bagi umat serta masyarakat.
    • Rekomendasi Pastoral
      Mengintegrasikan karisma THB ke dalam arah pastoral Keuskupan Agung Medan, meningkatkan keterlibatan THB dalam Dewan Pastoral Paroki, dan mengembangkan karya pastoral kolaboratif lintas kongregasi. Menyelenggarakan forum dialog dan disermen pastoral antara THB dan Keuskupan, membangun program pastoral bersama di bidang pendidikan, sosial, dan evangelisasi, serta memperkuat koordinasi antara THB dan struktur pastoral Keuskupan agar kolaborasi berjalan efektif, terpadu, dan berdampak nyata bagi umat dan masyarakat.
    • Komitmen Bersama
      1. Menghidupi karisma religius dalam konteks pastoral Keuskupan, mengembangkan kolaborasi lintas tarekat dan lembaga Gereja. Terlibat aktif dalam perutusan Gereja lokal. 2. Semangat sinodal diwujudkan melalui Conventio Scripta, penyediaan tenaga pastoral yang dibutuhkan KAM,
      3. Membangun komunikasi efektif dengan THB, sehingga tercipta hubungan pastoral yang sinodal, komunikatif, dan kolaboratif.
      4. Mengembangkan semangat sinodal dalam kehidupan dan karya, menghindari sikap eksklusif, serta bersama-sama membentuk wajah Gereja lokal yang misioner, sinodal, dan profetis.

    Demikian rekomendasi dan komitmen ini dibuat agar mendapat perhatian kita dalam karya-karya pastoral di wilayah pastoral Keuskupan Agung Medan, demi kemuliaan Allah dan keselamatan umat manusia.

    CC-PPU Pematang Siantar, Panitia TEPAS KAM 2026

    Kotbah Uskup – Hari Minggu VII Paskah

    Hari Minggu VII Paskah (Hari Komunikasi Sosial Sedunia) 17 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 1:12-14
    Bacaan II : 1Ptr. 4:13-16
    Bacaan Injil : Yoh. 17:1-11a.

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, 
    Hari ini Gereja universal merayakan Hari Komunikasi Sedunia. Menarik bahwa perayaan ini selalu ditempatkan dalam Minggu VII Paskah, sesudah Kenaikan Tuhan dan menjelang Pentakosta. Apa yang dilakukan para murid setelah Yesus naik ke surga? Dalam bacaan pertama kita mendengar bahwa setelah Yesus naik ke surga, para murid kembali ke Yerusalem dan “bertekun dengan sehati dalam doa.” Inilah gambaran pertama Gereja: Gereja yang membangun komunikasi dan persekutuan dengan Tuhan. Sebab komunikasi sejati pertama-tama bukan soal teknologi atau kata-kata, tetapi relasi dan komunio. Doa adalah komunikasi terdalam manusia dengan Allah. Dan ini jugalah kerinduan terdalam dari manusia: dimana manusia tinggal bersama-Nya, mendengarkan-Nya, dan membiarkan hati dipersatukan dengan hati-Nya.

    Mazmur hari ini mengungkapkan kerinduan itu dengan sangat indah: “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan: diam di rumah Tuhan seumur hidupku dan menyaksikan kemurahan Tuhan.” Orang yang sungguh tinggal dalam Tuhan akan memandang dunia dengan hati yang berbeda: lebih lembut, lebih penuh belas kasih, lebih mampu melihat sesama bukan sebagai ancaman tetapi sebagai saudara. Dan hati yang dipenuhi kasih Alkah inilah diekspresikan melalui wajah. Inilah jantung komunikasi Kristen: hati yang mengalami kasih Allah lalu menghadirkan kasih itu kepada sesama melalui wajah dan suara.

    Saudara-saudari terkasih, menjaga wajah dan suara manusiawi yang sesuai dengan kehendak Allah mengandung resiko yang berat. Bacaan kedua mengingatkan bahwa bagian yang diterima para murid sebagai pengikut Kristus bukan pertama-tama kenyamanan, tetapi juga penderitaan. Santo Petrus mengatakan bahwa murid Kristus mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Kesatuan dengan Kristus berarti ikut berjalan di jalan kasih, memperjuangan kebenaran, dgn pengorbanan, dan kesetiaan. Tetapi justru melalui jalan itulah manusia masuk ke dalam kebangkitan dan kemuliaan bersama Dia. Maka komunikasi Kristen bukan komunikasi yang mencari popularitas atau kemenangan diri, tetapi komunikasi yang rela membawa damai, walaupun kadang harus menanggung kesalahpahaman atau penolakan. Manusia tergoda untuk meminjam dan memakai wajah dan suara lain, karena berat memakai wajah dan suara asli yg jadi ekspresi dari hati.

    Dalam Injil hari ini, kita meligat kesetiaan memakai wajah dan suara asli, wajah dan suara yang dipenuhi kasih Allah. Ini nampak dalam wajah dan suara Yesus. Yesus berdoa kepada Bapa: “Permuliakanlah Anak-Mu supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” Dalam Injil Yohanes, “kemuliaan” bukan pertama-tama kejayaan duniawi, tetapi kasih Allah yang dinyatakan kepada manusia. Yesus mempermuliakan Bapa dengan menyampaikan Firman Bapa kepada dunia. Melalui Yesus, manusia melihat wajah dan mendengar suara Allah yang asli tidak rekayasa dan artifisial, yakni wajah yg penuh belas kasih. Di sinilah komunikasi mencapai puncaknya: Allah tidak hanya berbicara, tetapi memperlihatkan wajah-Nya sendiri kepada manusia melalui Yesus.

    Saudara-saudari terkasih, Pesan Pope Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sedunia tahun ini sangat sederhana tetapi mendalam: “Jagalah wajah dan suara kita tetap manusiawi.” Di tengah dunia digital dan kecerdasan buatan, Paus mengingatkan agar manusia jangan kehilangan wajah kasih, wajah empati, wajah kelembutan, dan wajah ketulusan. Jangan sampai media sosial membuat manusia memakai topeng: wajah manipulatif, wajah pencitraan, wajah amarah, wajah yang ingin menguasai dan menjatuhkan orang lain.

    Kita harus menjaga wajah kita. Wajah orang Kristen seharusnya memantulkan wajah Kristus sendiri: wajah yang berbelas kasih kepada yang terluka, wajah yang lembut kepada yang lemah, wajah yang tulus dan sederhana. Dunia digital hari ini penuh dengan wajah-wajah yang dibuat-buat dan direkayasa demi pujian, pengaruh, atau kekuasaan. Tetapi Injil memanggil kita untuk menghadirkan wajah yang jujur dan manusiawi. Sebab melalui wajah kita, orang lain seharusnya dapat merasakan kedamaian Tuhan.

    Kita juga harus menjaga suara kita. Suara seorang murid Kristus harus menjadi suara yang meneguhkan, menghibur, memberdayakan, dan memberkati. Bukan suara yang mengutuk, bukan suara yang melukai batin, bukan suara yang membingungkan dan memprovokasi. Betapa mudah hari ini orang menghina lewat komentar, menyebarkan kebencian, atau menyerang sesama dengan kata-kata kasar. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kata-kata sejati lahir dari hati yang tinggal dalam kasih Allah.

    Karena itu tantangan terbesar komunikasi zaman ini bukan kurangnya teknologi, tetapi hilangnya hati sebagai jantung persekutuan. Orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun kebenaran. Lebih mudah menyerang daripada memahami. Lebih mudah menghakimi daripada mendengarkan. Padahal komunikasi Kristen lahir dari hati yang bersatu dengan Allah Tritunggal: Allah yang saling mendengar, saling mengasihi, dan saling memberi diri.

    Saudara-saudari terkasih, Para murid sesudah Kenaikan Tuhan tidak langsung pergi berbicara ke mana-mana. Mereka terlebih dahulu bertekun dalam doa dan persekutuan. Mereka belajar tinggal dalam Tuhan sebelum diutus mewartakan Tuhan. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita: komunikasi yang benar lahir dari hati yang berdoa, hati yang mendengarkan, hati yang mengalami kasih Allah.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar di tengah dunia yang penuh kebisingan, pencitraan, dan suara artifisial, kita tetap menjadi pribadi yang memiliki hati. Hati yang mampu mendengarkan Tuhan. Hati yang mampu merasakan penderitaan sesama. Hati yang mampu berkata benar dengan kasih. Dan hati yang mampu membangun komunio, bukan perpecahan. Semoga wajah kita tetap manusiawi—wajah yang memancarkan kasih Tuhan. Dan semoga suara kita tetap manusiawi—suara yang membawa damai, harapan, dan penghiburan.

    Sebab pada akhirnya, komunikasi Kristen bukan pertama-tama soal kemampuan berbicara, tetapi kemampuan tinggal dalam kasih Allah dan menghadirkan kasih itu kepada dunia. Amin. Alleluia.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Kotbah Minggu V Paskah - 3 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 6:1-7
    Bacaan II :  1Ptr. 2:4-9
    Bacaan Injil : Yoh. 14:1-12

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.

    Manusia pada dasarnya adalah pencari kebenaran. Dalam Injil hari ini, kita mendengar dua suara yang sangat jujur dari para murid: Rasul Tomas berkata, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” dan Rasul Filipus berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami.” Dua pertanyaan ini adalah cermin hati kita semua: kita mencari arah hidup, kita merindukan kebenaran, kita ingin mengenal Allah.

    Sepanjang sejarah, banyak orang besar mengalami pencarian ini. Augustinus dari Hippo mengakui bahwa hatinya gelisah sebelum menemukan Tuhan. Ia mencari dalam berbagai hal, tetapi tetap kosong, sampai akhirnya ia menemukan Kristus—dan hidupnya berubah. Demikian juga Thomas Aquinas, yang dengan kecerdasannya mencari kebenaran, tetapi akhirnya menyadari bahwa kebenaran sejati bukan hanya dipahami, tetapi dialami dalam Allah. Keduanya menunjukkan satu hal: ketika seseorang menemukan kebenaran, hidupnya tidak bisa tetap sama.

    Saudara-saudari terkasih, Yesus menjawab kerinduan itu dengan sabda yang sangat tegas: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Ini adalah jawaban bagi setiap pencarian manusia. Di tengah dunia yang penuh pilihan dan kebingungan, Yesus menegaskan bahwa hanya dalam Dia kita menemukan arah, kebenaran, dan hidup yang tidak pernah berakhir. Ia bukan sekadar penunjuk jalan, tetapi jalan itu sendiri yang harus kita ikuti.

    Namun kita juga harus jujur melihat kenyataan. Zaman ini menawarkan banyak “jalan lain” yang sangat menggoda: jalan kesuksesan dan materi, jalan popularitas, jalan kenyamanan, bahkan jalan yang membiarkan kita menentukan kebenaran sendiri. Semua ini tampak menarik dan menjanjikan. Tetapi sering kali, setelah dijalani, jalan-jalan ini meninggalkan kehampaan—hidup terasa penuh di luar, tetapi kosong di dalam.

    Saudara-saudari terkasih, Di sinilah kita memahami sabda Yesus lebih dalam. Ia adalah jalan—yang mengajak kita mengikuti hidup-Nya: jalan kasih, pengorbanan, dan kesetiaan kepada kehendak Bapa. Ia adalah kebenaran—bukan sekadar ide, tetapi pribadi yang harus dihidupi. Ia adalah hidup—yang memberi makna terdalam dan kekal. Maka iman bukan hanya soal mencari kebenaran, tetapi membiarkan diri ditarik, diubah, dan dihidupi oleh kebenaran itu, yaitu Kristus.

    Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Gereja perdana memilih jalan yang benar, bukan yang mudah. Mereka menghadapi persoalan, tetapi menanganinya dengan kebijaksanaan dan iman. Karena itu Gereja bertumbuh dan memberi kesaksian yang hidup. Ini menjadi cermin bagi kita hari ini.

    Saudara-saudari terkasih, Hari ini kita diajak untuk bertanya: apakah kita sungguh mencari kebenaran? Dan jika kita telah menemukannya dalam Kristus, apakah kita membiarkan hidup kita diubah oleh-Nya? Ataukah kita tetap berjalan di jalan kita sendiri?

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar kita tidak hanya menjadi pencari kebenaran, tetapi menjadi orang yang ditemukan, diubah, dan dihidupi oleh kebenaran itu sendiri.

    Sebab pada akhirnya, hanya dalam Kristus kita menemukan arah, kebenaran, dan hidup yang tidak pernah berakhir—dan hanya dalam Dia hidup kita menjadi penuh dan bermakna. Amin. Alleluia.

    Hari Minggu VI Paskah - 10 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 8:5-8,14-17
    Bacaan II : 1Ptr. 3:15-18
    Bacaan Injil : Yoh. 14:15-21

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan sesuatu yang sangat penting kepada para murid-Nya: “Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran.” Di tengah ketakutan dan ketidakpastian para murid, Yesus tidak meninggalkan mereka sendirian. Ia menjanjikan Roh Kebenaran yang akan tinggal bersama mereka dan menuntun mereka kepada hidup yang benar.

    Namun Yesus juga memberikan satu syarat yang sangat jelas: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Artinya, Roh Kebenaran tidak bekerja dalam hati yang tertutup terhadap kasih Allah. Murid yang mau dipimpin oleh Roh harus lebih dahulu hidup dalam kasih kepada Kristus dan membiarkan hidupnya dibentuk oleh perintah-perintah-Nya.

    Saudara-saudari terkasih, Apa itu Roh Kebenaran? Roh Kebenaran adalah Roh yang menuntun dan mengarahkan murid kepada kebenaran sejati. Tetapi Yesus sendiri sudah berkata sebelumnya: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Maka kebenaran dalam iman Kristen bukan pertama-tama konsep, bukan teori, bukan sekadar logika atau ide. Kebenaran adalah pribadi, yaitu Yesus Kristus sendiri.

    Yesus adalah pribadi yang menghadirkan Allah ke dunia. Dalam diri-Nya kita melihat Allah yang mengasihi, Allah yang mengampuni, Allah yang peduli kepada yang kecil dan terluka, Allah yang mencari yang hilang, Allah yang membawa damai, dan Allah yang membuka mata manusia akan kasih-Nya. Maka Roh Kebenaran tidak hanya membuat kita “tahu” tentang Allah, tetapi menuntun kita masuk dalam hidup Kristus sendiri.

    Saudara-saudari terkasih, Karena itu syarat untuk menerima Roh Kebenaran adalah mengasihi Yesus dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Mengapa? Karena hanya hati yang mengasihi yang mampu mengenali kebenaran itu. Orang yang hidup dalam kebencian, egoisme, dan penolakan terhadap kasih Allah akan sulit menerima terang Roh Kudus. Sebaliknya, orang yang belajar mengasihi, mengampuni, peduli, dan membawa damai sedang membuka dirinya terhadap karya Roh Kebenaran.

    Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam Gereja perdana. Ketika Injil diberitakan di Samaria, banyak orang mengalami sukacita besar. Mengapa? Karena Roh Allah menghadirkan kebenaran yang membebaskan dan memulihkan hidup manusia. Di mana Roh Kudus bekerja, di situ lahir damai, harapan, dan sukacita.

    Saudara-saudari terkasih, Hari ini kita hidup di tengah dunia yang memiliki banyak versi “kebenaran.” Orang mudah menentukan benar menurut dirinya sendiri. Tetapi Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kebenaran sejati bukanlah apa yang kita ciptakan sendiri, melainkan pribadi Kristus yang harus kita ikuti. Dan Roh Kudus terus menuntun Gereja untuk tetap tinggal dalam kebenaran itu.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar kita sungguh mengasihi Kristus, menuruti perintah-perintah-Nya, dan membuka hati terhadap Roh Kebenaran yang dijanjikan-Nya. Sebab pada akhirnya, kebenaran sejati bukan sekadar sesuatu yang diketahui, tetapi Pribadi yang diikuti, dicintai, dan dihidupi—yaitu Yesus Kristus sendiri. Amin. Alleluia.





     

    Warta Kuria (Maret-April 2026)

    1. Berjalan Bersama Menjadi Garam dan Terang Dunia 27 Mar 2026

    Audiensi KSFL dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap pada 27 Maret 2026 menjadi momen syukur dan evaluasi atas hidup dan karya para suster KSFL di Indonesia. Bapa Uskup menegaskan pentingnya audiensi tahunan, buah doa yang nyata dalam hidup harian, serta pendalaman iman untuk meneguhkan pelayanan kongregasi.

    KSFL, dengan jumlah anggota 295 suster yang terlibat dalam karya pendidikan, kesehatan, pastoral, dan sosial, hadir di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Papua. Perayaan Yubileum 100 tahun KSFL melahirkan komitmen lima tahunan, yakni pendalaman hidup rohani, penguatan persaudaraan, rencana pemekaran regio, pembukaan formatio di Papua, revitalisasi karya sosial, penguatan JPIC dan media serta persiapan misi ke Timor Leste. Sepanjang tahun 2026 karya dan refleksi KSFL difokuskan pada tema: “Berjalan Bersama Menjadi Garam dan Terang Dunia seturut Kharisma dan Spiritualitas KSFL.

    Bapa Uskup meminta agar laporan yang disampaikan kongregasi dalam audiensi selama 1 jam 10 menit ini diisi dengan refleksi persaudaraan dan peristiwa penting dalam terang kehendak Allah. Komitmen KSFL di bidang ekologi, media, keluarga dan human trafficking diarahkan pada seruan Paus Fransiskus pada Tahun Hidup Bakti (2014) “awaken the world,” agar hidup bakti menjadi tanda profetis. Beliau juga menyampaikan kebutuhan tenaga KSFL untuk sekretariat, komisi keluarga, ahli hukum Gereja dan katekis, serta mengingatkan dukungan dana bagi dua seminaris dan masa berlaku Conventio Scripta sampai 2027.

    Uskup dan moderator mengapresiasi stabilitas dan semangat KSFL, khususnya di tempat miskin. Sr. Oktaviana, sambil mengucapkan terima kasih, menegaskan kembali komitmen mereka untuk menghidupi spiritualitas “membangunkan dunia”, bermedia sosial secara bijak, menata kunjungan keluarga, menindaklanjuti permintaan tenaga dan biaya seminaris, serta mendukung studi S3 Sr. Gerarda. Bapa Uskup memberikan berkat untuk meneguhkan hidup dan karya para suster KSFL.

    2. Menggali Warisan Leluhur, Menguatkan Persaudaraan bersama Parsadaan Purba Pakpak
    27 Mar 2026

    Panitia Harungguon Bolon, Patappei Sihilap, dan Marsombuh Sihol Parsadaan Purba Pakpak Boru Panagolan wilayah Kota Medan dan sekitarnya mengadakan audiensi kepada Uskup Agung Medan pada 27 Maret 2026. Dalam pertemuan ini, panitia menyerahkan proposal kegiatan sekaligus memohon arahan pastoral dan peneguhan atas rencana pelaksanaan Harungguon Bolon dan Patappei Sihilap. Audiensi ini menunjukkan kecintaan Gereja kepada budaya lokal sebagai wadah pewartaan iman.

    Harungguon Bolon merupakan musyawarah besar adat Simalungun untuk mengambil keputusan-keputusan penting, sedangkan Patappei Sihilap adalah upacara pengukuhan atau pelantikan pengurus adat. Kedua kegiatan ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan, melestarikan budaya serta meneguhkan kepemimpinan dalam komunitas Parsadaan Purba Pakpak Boru Panagolan, sehingga nilai-nilai adat dan iman berjalan seiring di tengah dinamika zaman.

    Dalam arahannya, Uskup Agung menekankan pentingnya menggali dan menghidupi kembali nilai-nilai luhur warisan leluhur, khususnya semangat Opung Parultop-ultop Purba Pakpak Panagolan. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi kekuatan untuk membangun persatuan, memupuk kebersamaan yang perlu diwariskan lintas generasi, bahkan dirumuskan secara konkret dalam anggaran dasar dan rumah tangga komunitas. Atas bimbingan dan sambutan hangat ini, panitia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih, sekaligus termotivasi untuk terus menghidupi semangat persaudaraan dan kearifan leluhur dalam kehidupan sehari-hari.

    3. Menata Arah Pelayanan dan Pemulihan Pascabencana 2026
    28 Mar 2026

    Yayasan Caritas PSE KAM menggelar Rapat Tri Organ pada 28 Maret 2026 untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja tahun 2025 sekaligus merumuskan arah pelayanan tahun 2026. Rapat yang mempertemukan Dewan Pembina, Dewan Pengawas dan Dewan Pengurus ini membahas berbagai program strategis yang tetap mengacu pada divisi-divisi pelayanan yang telah berjalan, dengan penekanan khusus pada upaya pemulihan pascabencana di wilayah Sumatera Utara dan Aceh Tamiang.

    Fokus utama program tahun 2026 meliputi pemulihan ekonomi, pendidikan serta pembangunan hunian tetap dan rekonstruksi rumah bagi masyarakat terdampak banjir. Sebanyak 639 kepala keluarga (KK) rentan menjadi sasaran program pemulihan ekonomi, disertai perhatian khusus bagi 166 mahasiswa di wilayah terdampak. Selain itu, direncanakan pembangunan dan rekonstruksi sekitar 50 unit rumah di beberapa daerah, antara lain Pakkat, Dolok Sanggul, Tarutung, Pangkalan Brandan dan Aceh Tamiang. Duduk bersama ini juga menegaskan pentingnya advokasi di bidang lingkungan hidup dan ekologi, sejalan dengan semangat ensiklik Laudato Si’ serta penguatan upaya pencegahan tindak pidana perdagangan manusia.

    Masukan yang konstruktif dari Dewan Pembina dan Dewan Pengawas menjadi landasan penting bagi Dewan Pengurus dalam menyempurnakan program kerja dan penyusunan anggaran 2026. Setiap langkah pelayanan Caritas PSE KAM diharapkan semakin terarah, berkelanjutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terdampak bencana sekaligus menjaga martabat dan keutuhan kehidupan bersama.

    4. Panggilan berjalan bersama untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan 30-31 Mar 2026

    Hari Pengudusan Imam Keuskupan Agung Medan tahun 2026 dirayakan di CC PPU Pematangsiantar, 30–31 Maret 2026. Sebanyak 203 imam dan para diakon hadir dalam persekutuan ini. Melalui tema Yubileum St. Fransiskus Assisi, Bapa Uskup Kornelius Sipayung, OFMCap menegaskan kembali bahwa imam bukan untuk dirinya sendiri, melainkan dipanggil untuk masuk ke dalam misi Yesus. Imam pertama-tama dipanggil untuk tinggal bersama Yesus dan mengalami keintiman dengan-Nya. Kedalaman relasi ini melahirkan kekuatan untuk bermisi dan mewartakan Kerajaan Allah.

    Rekoleksi pengudusan imam dibawakan oleh RP. Fictorium Natanael Ginting OFMConv, yang memperkenalkan kembali figur St. Fransiskus, sejarah pertobatannya dan makna Tahun Yubileum Fransiskan yang dipromulgasikan oleh Paus Leo XIV. Dalam semangat “Il Signore vi dia la pace” – “Tuhan memberi kalian damai” – para imam diajak menghidupi kembali spiritualitas Fransiskus, yakni damai, belarasa (misericordia), kesederhanaan dan kedekatan dengan Injil. Paus Fransiskus melalui ensiklik Fratelli Tutti, Christus Vivit dan Laudato Si’ menekankan kembali penghayatan semangat ini dan menuntun Gereja untuk keluar dari mentalitas institusionalisasi dan kembali kepada Injil sebagai Kabar Gembira dan persona Kristus sendiri. St. Fransiskus dihadirkan sebagai teladan yang “menghidupi Injil” lebih daripada sekadar mewartakannya. Tugas utama Gereja dan para imam, demikian ditekankan, adalah menghidupi Injil secara konkret di tengah dunia yang terluka, dalam pangkuan Gereja dan bersama umat.

    Puncak perayaan berlangsung pada 31 Maret 2026 pukul 17.00 dengan Misa Pembaruan Janji Imamat dan Pemberkatan Minyak Krisma di Gereja Jl. Sibolga, Pematangsiantar, dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Sekitar 300-an imam ikut berkonselebrasi. Dalam homilinya, Bapa Uskup kembali menegaskan inti imamat sebagai pengabdian total kepada Allah melalui Ekaristi. Sumber dan puncak kehidupan Gereja ini menguduskan imam dan umat Allah. Oleh karena itu, imam dipanggil untuk terus memupuk keintiman dengan Kristus dalam doa dan meditasi. Perayaan Misa Krisma ini menampakkan kesatuan para imam dengan Uskup sebagai gembala utama keuskupan. Acara ditutup dengan ramah tamah dan santap bersama sebagai ungkapan syukur atas rahmat pelayanan imamat dan persaudaraan yang terus diperbarui dalam terang Injil dan spiritualitas St. Fransiskus.

    5. Menata Arah Pelayanan Pastoral: Wawan Hati Imam dengan Uskup Agung Medan 1 April 2026

    Suasana hangat dan penuh keterbukaan mewarnai Pertemuan Wawan Hati antara Uskup Agung Medan dan para imam moderator paroki serta ketua-ketua komisi pada 1 April 2026 di CC-PPU Pematangsiantar. Sebanyak 89 imam hadir menanggapi undangan yang sesungguhnya lahir dari “bawah”, yakni kerinduan para parokus untuk dapat berbicara dari hati ke hati dengan Bapa Uskup mengenai arah dan wajah pelayanan pastoral Keuskupan Agung Medan ke depan.

    Dalam hantarannya, Bapa Uskup mengekspresikan apresiasi atas dedikasi para imam dan karya beragam komisi di tengah umat. Ia menegaskan bahwa Gereja Keuskupan tengah memasuki fase penting penataan struktur dan tata kelola pastoral, yakni memperjelas peran Kuria, Dewan Presbiteral, Dewan Pastoral Keuskupan, komisi-komisi serta meneguhkan fungsi Dewan Keuangan Paroki yang hingga kini masih belum aktif di banyak paroki. Di saat yang sama, keuskupan terus bergerak memperluas jangkauan pelayanan melalui pendirian dan pemekaran kuasi paroki baru seperti Santo Bonaventura Saran Padang dan Santo Petrus dan Paulus Pangaribuan, pemetaan ulang wilayah stasi, penguatan bina iman anak dan remaja, sinergi dengan Bimas Katolik untuk pengadaan guru agama di sekolah negeri serta penerapan aplikasi BIDUK Sakramen dan SOP sekretariat paroki demi administrasi yang lebih tertib dan profesional.

    Sesi wawan hati menjadi ruang dialog yang hidup. Para imam mengangkat beragam realitas lapangan, antara lain, administrasi sakramen dan perbedaan data, status pegawai sekretariat, pembentukan dan SK dewan-dewan paroki, pemanfaatan dana APP untuk beasiswa, pemekaran dan pemindahan stasi, hingga usulan penataan ulang jadwal Hari Pengudusan Imam dan format Wawan Hati agar lebih bercorak sharing dan correctio fraterna. Uskup menyambut masukan tersebut sambil menegaskan pentingnya koordinasi pastoral tahunan setelah tersusunnya program keuskupan serta membuka kembali ruang wawan hati personal bagi para imam yang membutuhkan pendampingan langsung. Pertemuan ini menandai langkah konkret Gereja Keuskupan Agung Medan untuk terus bertumbuh sebagai Gereja yang sinodal: berjalan bersama untuk saling mendengarkan dan bersama-sama menata pelayanan yang bertanggung jawab dan semakin kontekstual.

    6. Kunjungan ke Taman Sains Herbal dan Hortikultura Humbang Hasundutan

    1 April 2026

    Keuskupan Agung Medan, diwakili oleh RD. Sabat Nababan, menyaksikan kunjungan kerja Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan Menteri Koordinator Bidang Pangan ke Taman Sains Herebal dan Hortikultura (TSTH 2) Desa Aek Nauli I Kecamatan Pollung pada 1 April 2026. Kawasan seluas sekitar 500 ha ini sedang dikembangkan menjadi pusat riset strategis.

    Dalam pemaparannya, Direktur Del dan Prof. Sri Fatmawati menjelaskan bahwa TSTH2 ditargetkan menjadi pusat riset herbal dan hortikultura bertaraf internasional yang mendukung kemandirian benih dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Langkah-langkah yang ditempuh ialah pengembangan benih unggul, teknologi pascapanen, produk fitofarmaka dan pupuk hayati, didukung oleh pembangunan gedung riset, smart greenhouse dan inkubator. Hasil riset diarahkan hingga tahap komersialisasi, antara lain kemenyan, kopi, empon-empon, bawang putih dan kentang berkolaborasi BRIN, perguruan tinggi, pemerintah dan mitra internasional.

    Pada kesempatan ini dipresentasikan juga aplikasi JUMA AI untuk membantu dinas pertanian se-Tapanuli Raya mengumpulkan data riil komoditas, mencegah over produksi serta mendeteksi hama dan penyakit. Kunjungan diakhiri dengan peninjauan smart greenhouse pembibitan dan koleksi tanaman herbal yang disiapkan untuk mendukung peningkatan kesehatan dan ekonomi masyarakat.

    7. Syukur Atas Imamat dan Anugerah Ekaristi: Jamuan Menyongsong Triduum Paska

    2 April 2026

    Pada 2 April 2026, Bapa Uskup dan para imam Kevikepan Medan berkumpul di gedung Catholic Center untuk merayakan pesta Imamat dan pendirian Ekaristi. Dalam suasana syukur dan persaudaraan, Gereja kembali mengenangkan anugerah agung yang diberikan Kristus kepada Gereja pada malam sebelum sengsara-Nya. Kegiatan ini merayakan dua pokok, yakni Ekaristi sebagai perjamuan keselamatan dan imamat sebagai pelayanan yang menjaga agar misteri keselamatan tetap hidup di tengah umat. Dimensi ini diperdalam dengan pengenangan akan jamuan Paskah Yahudi yang melatari Perjamuan Terakhir Yesus bersama para murid.

    Melalui ritus sederhana, diberkatilah anak domba, sayuran, roti tak beragi dan anggur sebagai simbol pembebasan Israel dari perbudakan Mesir dan tanda karya keselamatan Allah dalam sejarah. Umat diajak melihat tanda-tanda ini sebagai jalan untuk memahami Ekaristi sebagai penggenapan karya keselamatan dalam diri Kristus.

    Perjamuan bersama yang sebagai akhir dari perayaan ini dihayati sebagai wujud persaudaraan dan persiapan rohani menyongsong Tri Hari Paskah untuk memasuki misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan. Kegiatan ini mengingatkan kita bahwa Paskah bukan peristiwa masa lampau semata, melainkan misteri iman yang terus hidup dalam Gereja melalui Ekaristi dan pelayanan para imam.

    8. Gereja Bertumbuh, Umat Berjalan Bersama

    7 April 2026

    Pada 7 April 2026, pukul 20.00 WIB, senja yang beranjak malam menyelimuti Pastoran Paroki Santo Mikhael Pangururan. Dalam kehangatan yang bersahaja, Bapa Uskup Agung Medan hadir dan duduk satu meja bersama Pastor Paroki, Dewan Pastoral Paroki Harian (DPPH), Dewan Pastoral Stasi serta panitia pembangunan gereja. Tanpa seremoni berlebihan, pertemuan berlangsung dalam suasana dialog sederhana yang menyatukan hati dalam iman dan pelayanan.

    Dalam nuansa penuh syukur, panitia pembangunan Gereja Stasi Santo Paulus Saitnihuta memaparkan perkembangan pembangunan yang telah diupayakan dengan doa, kerja keras dan pengorbanan umat. Bata demi bata yang tersusun menjadi tanda kasih dan kepedulian banyak pihak, sekaligus mengungkapkan bahwa perjalanan ini belum selesai. Dukungan dana masih sangat dibutuhkan agar karya pembangunan dapat diteruskan hingga tahap penyelesaian, sebagai undangan bagi seluruh umat untuk terus berjalan bersama.

    Pertemuan ini menjadi ruang perjumpaan yang hening namun berdaya: gembala dan umat saling mendengarkan, berbagi harapan dan mencari jalan bersama demi terwujudnya rumah doa di tengah umat. Di balik rangka dan dinding gereja yang sedang dibangun, tumbuh pula persekutuan yang hidup dalam harapan, persaudaraan dan kesetiaan kepada Kristus. Di sanalah Gereja sejati bertumbuh, bukan hanya dalam megahnya bangunan, melainkan dalam hati umat yang saling meneguhkan dalam iman dan kasih. Mari berjalan bersama untuk saling mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan.

    9. Tata Kelola Dana Pensiun KWI: Tanggung Jawab Ekonomis dan Gerejani

    10 April 2026

    Pada 10 April 2026, pertemuan Mitra Pendiri Dana Pensiun KWI wilayah Keuskupan Agung Medan berlangsung di Gedung Catholic Center Medan dalam suasana penuh tanggung jawab dan semangat kebersamaan. Momen penting ini hendak menegaskan arah pengelolaan dana pensiun, khususnya dalam proses perubahan dari Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) menuju Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP).

    Suasana yang serius dan konstruktif mewarnai pemaparan mengenai dinamika perubahan tersebut serta berbagai konsekuensi yang perlu ditimbang secara matang. Pembahasan juga menyentuh aspek-aspek teknis yang krusial, seperti ketentuan perhitungan aktuaria dan opsi-opsi penyelesaian terkait piutang iuran tambahan. Semua ini menunjukkan perhatian Gereja terhadap fondasi yang kokoh, yakni pengelolaan yang transparan, akuntabel dan berorientasi pada keberlanjutan.

    Langkah-langkah administratif yang dirumuskan dalam pertemuan ini memperlihatkan dimensi ekonomis yang dijalankan dalam kerangka perwujudan nilai gerejani, yakni merawat kesejahteraan para pelayan Gereja kini dan kelak. Dalam semangat sinodalitas untuk mendengarkan, berdiskusi dan mengambil keputusan bersama Gereja berkomitmen menghadirkan tata kelola yang bijaksana, agar pengharapan tetap terjaga dan kebaikan bersama terus dirawat secara nyata.

    10. Pemberkatan Pastoran Paroki Simalingkar B - Gereja yang Hidup dan Melayani

    12 April 2026

    Pada 12 April 2026, Bapa Uskup Agung Medan memimpin pemberkatan Pastoran Paroki Santo Fransiskus Xaverius Simalingkar B. Kegiatan ini menandai selesainya pembangunan sekaligus menjadi tanda nyata kehadiran Gereja yang hidup dan melayani di tengah umat. Pada kesempatan tersebut, Bapa Uskup menerima dan meneguhkan laporan pertanggungjawaban panitia pembangunan sebagai wujud karya bersama yang lahir dari iman, pengorbanan dan semangat gotong royong. Penyerahan dokumen dan kunci kepada Pastor Paroki menjadi penanda dimulainya babak baru, yakni pastoran sebagai rumah pelayanan tempat gembala tinggal dan mendampingi umat. Perayaan ini menjadi saat sukacita karena Bapa Uskup secara resmi mempromulgasikan kenaikan status Kuasi Paroki menjadi Paroki Santo Fransiskus Xaverius Simalingkar B.

    Pembukaan pintu pastoran diharapkan menjadi awal harapan pelayanan yang semakin dekat, hangat dan penuh kasih; tempat doa, kekuatan rohani serta pelayanan yang tulus bagi umat Allah. Setelah doa sesudah komuni, perayaan dilanjutkan dengan perarakan menuju Taman Doa Maria Ratu. Dalam doa pemberkatan, Bapa Uskup memohon agar taman doa tersebut menjadi tempat umat dikuatkan dalam iman, diteguhkan dalam harapan dan dipenuhi kasih serta kerendahan hati.

    Melalui kehadiran Taman Doa Maria Ratu, umat diharapkan semakin mampu menghadapi suka dan duka serta dipanggil menjadi pembawa damai dan pelaku keadilan, sehingga perjalanan hidup berujung pada kepenuhan dalam Kerajaan Allah melalui pengantaraan Kristus, Tuhan kita.

    11. Tim Kolaboratif Kanselarius KAM: Langkah Baru Pelayanan Administrasi yang Sinodal

    14 April 2026

    Pada 14 April 2026, di Ruang Rapat Lantai 2 Gedung CC Medan diselenggarakan Pertemuan Perdana Tim Kolaboratif Kanselarius Keuskupan Agung Medan. Pertemuan ini dipimpin oleh Kanselarius KAM, RP. Adrianus Sembiring, OFMCap, sebagai Ketua Tim. Tim ini beranggotakan para profesional dari beragam latar belakang, yakni Samuel Surbakti, Sr. Melania Siringoringo FSE, Dr. Aryanto Tinambunan, Dr. Relita Buaton, ST., M.Kom, Florensia Tobing, Evanson Sihotang, Prof. Dr. Kimberly Febrina Kodrat, M.S., M.Kes., MT dan Fictroy Modestus Rumahorbo, S.S.I. Komposisi lintas bidang tersebut mencerminkan semangat kolaborasi yang kuat untuk mendukung pelayanan keuskupan.

    Pembentukan Tim Kolaboratif Kanselarius KAM merupakan perwujudan konkret Gereja yang bersinodal: berjalan bersama untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan. Pertemuan perdana ini menjadi langkah awal membangun sinergi demi pelayanan sekretariat yang lebih tertata, efektif dan responsif terhadap perkembangan zaman. Pokok utama yang dibahas mencakup rencana pengembangan sistem e-office dan penataan arsip berbasis Dewey Decimal Classification (DDC). Keduanya menjadi bagian dari upaya transformasi pelayanan administrasi di lingkungan Keuskupan Agung Medan. Seluruh anggota tim menyatakan komitmen dan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Mereka siap berkontribusi sesuai dengan kompetensi masing-masing demi pelayanan Gereja yang semakin profesional untuk hadir sebagai garam dan terang dunia.

    12. Mengenang Jasa, Meneruskan Pengabdian: Ziarah ke Makam Pahlawan

    15 April 2026

    Pada 15 April 2026, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengadakan ziarah ke Makam Pahlawan di Jalan Sisingamangaraja, Medan dalam rangka memperingati HUT Provinsi Sumatera Utara yang ke-78. Seluruh unsur Pemerintah Provinsi Sumatera Utara baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif serta TNI–Polri dan berbagai lembaga lainnya berpartisipasi dalam ziarah ini. Keuskupan Agung Medan turut ambil bagian dalam perayaan ini melalui kehadiran RD Gundo Saragih, bersama wakil dari gereja-gereja Protestan yang tergabung dalam PGI Wilayah Medan. Kehadiran tokoh-tokoh Gereja di tengah acara resmi pemerintah ini menegaskan komitmen bersama untuk membangun Sumatera Utara dalam semangat persatuan dan kebersamaan lintas lembaga dan agama.

    Ziarah dipimpin oleh Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. Rangkaian acara meliputi penghormatan kepada para pahlawan, mengheningkan cipta, peletakan karangan bunga, doa serta penaburan bunga di beberapa makam pahlawan. Dalam suasana hening dan khidmat para peserta diajak merenungkan kembali nilai-nilai perjuangan, pengorbanan dan cinta tanah air yang telah diwariskan para pendahulu. Melalui ziarah ini diharapkan jasa dan pengabdian para pahlawan yang telah berkontribusi bagi Provinsi Sumatera Utara tidak hanya dikenang, tetapi juga diwujudkan kembali dalam karya nyata. Semoga semangat para pahlawan menginspirasi seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun Sumatera Utara yang lebih adil, sejahtera dan bermartabat.

    13. Standarisasi Tata Kelola Pelayanan: Pentingnya SOP Unit dan Komisi

    15 April 2026

    Pada 15 April 2026 unit dan Komisi-Komisi Keuskupan Agung Medan mengadakan rapat penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP). Rapat dipimpin oleh RP. Adrianus Sembiring OFMCap selaku Kanselarius KAM. Rapat menekankan bahwa SOP diperlukan agar cara kerja antar komisi dan unit menjadi lebih seragam, tertib dan jelas. SOP juga dipandang penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan, memudahkan koordinasi serta membuat setiap kegiatan memiliki catatan dan dasar kerja yang rapi. SOP adalah kebutuhan yang mendesak agar pelayanan berjalan lebih baik dan berkelanjutan.

    Rapat menyepakati bahwa penyusunan SOP akan mengacu pada peraturan yang berlaku, sekaligus menyesuaikan dengan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing unit dan komisi. Peserta juga membahas perlunya pengaturan mekanisme kerja antar komisi agar alur koordinasi tidak berjalan sendiri-sendiri. Selain isi SOP, rapat turut menentukan format dokumen dan bagian-bagian yang harus ada di setiap SOP, misalnya tujuan, ruang lingkup, pihak terkait, prosedur kerja, hingga ketentuan pengesahan. Sebagai contoh, dipaparkan praktik SOP pengelolaan surat masuk.

    Terkait pelaksanaan, rapat mengacu pada timeline penyusunan hingga finalisasi. Meski sempat ada usulan penyesuaian jadwal, timeline tetap dipertahankan untuk menjaga konsistensi. Jika ada kendala, unit/komisi diminta berkoordinasi dengan penanggung jawab SOP, Sr. Melania Siringoringo FSE.

    Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.

    RP. Adrianus Sembiring OFMCap
    Kanselarius Keuskupan Agung Medan

    HBD RD Benno Ola Tage – Ketua Komisi Komunikasi Sosial & Hubungan Antar-Agama dan Kepercayaan KAM

    0

    Selamat ulang tahun RD Benno Ola Tage.
    Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, sukacita, dan damai dalam setiap karya pelayanan pastor, terlebih dalam tugas di Komisi Komunikasi Sosial serta Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Medan.

    Kiranya Roh Kudus terus menuntun Pastor menjadi pewarta kasih Kristus, pembawa persaudaraan, dan jembatan dialog yang menghadirkan harapan serta persatuan bagi banyak orang.

    Ad multos annos dan Tuhan memberkati pelayanan Pastor selalu.

    Kuasi Paroki Juhar

    Pelindung Santo Paulus
    Buku Paroki 02 Mei 2026, yang sebelumnya bergabung dengan Paroki St Fransiskus Asisi, Tiga Binanga dan Paroki St Petrus dan Paulus, Kabanjahe
    Meliputi Wilayah Sekitar Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara
    Alamat Desa Juhar, Kec. Juhar, Kab. Karo, Provinsi Sumatera Utara
    HP / WA -
    Email -
    Jumlah Umat
    Jumlah Stasi 11 (sebelas)
    Administrator Kuasi Paroki RP. Alfred F. Karo-karo OFMCap 19 Januari 1987
    Gereja Stasi
    1) St. Paulus, Juhar 7) St. Hironimus, Pinem
    2) St. Clara, Juma Baru 8) St. Monika, Rambah Telko
    3) St. Lusia, Lau Lingga 9) St. Dionisius, Sugihen
    4) St. Hieronimus, Naga 10) St. Felix Kantalasia, Sigedang
    5) St. Ludovikus, Nageri 11) St. Yoseph, Suka Babo
    6) St. Yohanes Rasul, Pernantin

    Kabar Duka dari Kongregasi KSFL

    0

    Keuskupan Agung Medan menyampaikan turut berdukacita yang mendalam atas berpulangnya Sr. Lidwina Situmorang KSFL, dalam usia 46 tahun.

    Dalam iman akan Kristus yang bangkit, kita berpegang teguh pada sabda Tuhan: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes 11:25).

    Semoga Suster Alm. yang telah mempersembahkan hidup dalam panggilan bakti, kini beristirahat dalam damai kasih Tuhan dan memperoleh kepenuhan hidup kekal di rumah Bapa.

    Kami mendoakan agar Kongregasi KSFL, keluarga yang ditinggalkan, serta seluruh umat yang mengenal Suster ini diteguhkan dalam pengharapan Kristiani, bahwa kematian bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan abadi.

    Selamat jalan Sr. Lidwina Situmorang KSFL. Requiescat in pace.

    Ikuti Perlombaan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 60

    LOMBA HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE 60

    1. LOMBA KOREOGRAFI THEMESONG HARI KOMSOS 2026
    2. LOMBA VIDEO KREATIF
    3. LOMBA MENULIS OPINI

    Tur Ziarah & Rekreasi di Sumatera Utara 5D4N

    28 Januari – 1 Februari 2026

    Perjalanan ini bukan sekadar wisata. Ia adalah langkah iman, perjalanan hati, dan momen kebersamaan yang menguatkan.

    Selama lima hari empat malam, rombongan peziarah menyusuri wilayah Keuskupan Agung Medan dengan semangat doa dan persaudaraan. Setibanya di Bandara Internasional Kualanamu, perjalanan langsung diarahkan menuju Pematangsiantar. Di sana, suasana hening dan penuh rahmat terasa saat mengikuti Misa di Gereja Kerahiman Ilahi St. Laurentius. Perjalanan iman itu semakin bermakna ketika rombongan berbagi kasih bersama anak-anak di Panti Asuhan Bhakti Luhur.

    Langkah ziarah berlanjut menyusuri keindahan Danau Toba—dari Parapat, Doloksanggul, hingga Pulau Samosir. Di Gereja Paroki Santo Fidelis Doloksanggul dan Gereja St. Mikael Pangururan, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk. Puncak pengalaman rohani juga dirasakan saat berdoa di Gereja Katedral Medan dan mengunjungi Graha Maria Annai Velangkanni—tempat yang menghadirkan nuansa devosi yang mendalam.

    Keindahan ciptaan Tuhan terpampang nyata di Bukit Sibea-bea dengan Patung Yesus Penebus yang megah, di Bukit Holbung yang memanjakan mata, serta di Huta Siallagan yang memperkenalkan kekayaan budaya Batak. Perjalanan juga diperkaya dengan kunjungan sejarah ke Rumah Tjong A Fie serta aksi nyata belas kasih di Panti Asuhan St. Lucy Filipini Tanjung Selamat.

    Namun lebih dari semua destinasi itu, yang paling berkesan adalah kebersamaan. Tawa di perjalanan, doa yang dipanjatkan bersama, refleksi rohani, serta pendampingan iman yang diberikan oleh pendamping rohani menjadikan ziarah ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga pembaruan batin.

    Komisi Peziarahan Keuskupan Agung Medan menghadirkan ziarah rohani ini sebagai kesempatan bagi umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan, menyegarkan jiwa, dan semakin dekat dengan Tuhan. Dengan pendamping rohani yang siap membimbing, setiap perjalanan dirancang bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dihayati.

    Mari ambil bagian dalam ziarah rohani berikutnya. Biarkan langkah kaki membawa kita ke tempat-tempat penuh rahmat, dan biarkan hati kita dipulihkan dalam perjalanan iman bersama.

    Karena terkadang, kita tidak hanya perlu berlibur—kita perlu berziarah.

    Warta Kuria (Februari – Maret 2026)

    1. Rapat Tri Organ YPK Don Bosco 20 - 21 Feb 2026

    Karya pendidikan Katolik dipanggil terutama untuk membentuk manusia seutuhnya. Dengan visi itu, Rapat Tri Organ Yayasan Pendidikan Katolik Don Bosco diselenggarakan pada 20 – 21 Februari 2026, di ruang Kolegium Konsultor lantai 2 gedung Catholic Center Christosophia, Keuskupan Agung Medan. Pertemuan ini hendak menyatukan visi, mengevaluasi pelayanan dan merumuskan langkah strategis bagi keberlanjutan pendidikan Katolik.

    Evaluasi karya dan mutu pelayanan diadakan pada hari pertama. Para pembina, pengawas, dan pengurus yayasan secara penuh menyimak laporan program serta karya pendidikan yang telah dijalankan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mencakup tata kelola sekretariat, sarana dan prasarana, serta mutu pendidikan, termasuk pembinaan iman dan karakter. Evaluasi ini kembali meneguhkan dan menyemangati peserta akan panggilan untuk menghadirkan sekolah Katolik yang bermutu dan berakar pada nilai-nilai Injili.

    Hari kedua berfokus pada penetapan arah dan prioritas strategis. Dalam dialog yang terbuka, Tri Organ bersama-sama merumuskan program yang selaras dengan visi dan misi yayasan, mengoptimalkan sumber daya manusia dan sarana, serta memperkuat koordinasi dan sinergi pelayanan. Dengan bimbingan Bapa Uskup dan dukungan doa umat, rapat ini diharapkan menghasilkan keputusan yang konkret bagi pertumbuhan peserta didik serta keberlanjutan karya pendidikan Katolik di Keuskupan Agung Medan. Bagi setiap yayasan di bawah payung Keuskupan Agung Medan, rapat Tri Organ merupakan momen pembaruan komitmen untuk melayani dengan setia, profesional, dan penuh tanggung jawab dalam bingkai sinodalitas.

    2. Rise Home 27 Feb 2026

    Peluncuran Program RISE HOME (Resilient, Inclusive, Sustainable Economic & Housing for Empowerment) pada tanggal 27 Februari 2026 di Catholic Center Keuskupan Agung Medan meneguhkan harapan baru bagi keluarga-keluarga yang terdampak bencana alam pada November 2025. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup secara resmi membuka program pemulihan, menyusul tahap tanggap darurat bencana yang telah terlaksana dengan baik. Program yang digagas oleh Caritas Keuskupan Agung Medan bekerja sama dengan Caritas Indonesia ini berfokus pada usaha pemulihan holistik, yakni pemulihan ekonomi keluarga melalui dukungan mata pencaharian, bantuan pendidikan bagi anak-anak agar mereka dapat kembali belajar dengan tenang, serta penyediaan hunian yang aman dan layak sebagai dukungan dasariah bagi kehidupan yang bermartabat.

    Melalui program ini, Gereja, seraya menanggapi kebutuhan mendesak akibat bencana, terlibat aktif dalam membangun kembali martabat dan ketahanan masyarakat. Pada saat yang sama, Caritas Keuskupan Agung Medan dan Caritas Indonesia menyampaikan apresiasi yang tulus kepada seluruh umat Allah yang telah menunjukkan solidaritas kasih melalui dukungan dan donasi bagi para korban bencana. Semoga upaya kasih ini sungguh membantu keluarga-keluarga terdampak untuk perlahan bangkit, memulihkan penghidupan, dan menata kembali masa depan dengan penuh harapan.

    3. Sidang Dewan Prebiteral KAM (KAM) 2 Mar 2026

    Sidang Dewan Presbiteral Keuskupan Agung Medan berlangsung di ruang DEPKAM, lantai 3 Catholic Center Christosophia, pada tanggal 2 – 4 Maret 2026. Pertemuan selama tiga hari ini diawali dengan Ibadat Sore bersama yang dipimpin oleh para petugas yang sudah ditentukan oleh Sekretariat DEPKAM. Sidang yang sangat penting ini menegaskan bahwa seluruh dinamika pastoral Gereja harus berakar pada doa dan penyerahan diri pada bimbingan Roh Kudus. Sidang ini adalah saat berahmat untuk pertama-tama mendengarkan yang dikehendaki Tuhan dalam pelayanan Gereja lokal. Salah satu pokok penting yang dibahas dalam sidang ini ialah rencana pemekaran paroki yang diajukan oleh umat bersama Pastor Paroki dan Vikaris Teritorial. Melalui dialog yang jujur dan terbuka, para imam memberikan pertimbangan pastoral kepada Uskup mengenai kebutuhan perluasan wilayah pelayanan agar Gereja semakin hadir dekat dengan umat dan pelayanan sakramen dapat menjangkau lebih banyak orang. Setelah lama didiskusikan dalam sidang-sidang DEPKAM sebelumnya, pada kesempatan ini dipaparkan kembali apa hakikat DEPKAM dan apa fungsinya.

    Dewan Presbiteral adalah organ representatif para imam yang bertugas membantu Uskup dalam pelayanan pastoral keuskupan dengan memberikan nasihat dan pertimbangan demi kebaikan umat. Secara teologis, keberadaan dewan ini berakar pada eklesiologi persekutuan yang ditekankan oleh Konsili Vatikan II, yakni kolegialitas antara Uskup dan para imam dalam satu persekutuan pelayanan. Dalam kerangka ini, Dewan Presbiteral ikut membangun kerja sama dalam pelayanan, mencerminkan struktur hirarkis Gereja, dan mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan pastoral. Motu Proprio Ecclesiae Sanctae yang dikeluarkan Paus Paulus VI menggariskan tugas Dewan Presbiteral untuk mengkaji dan memberikan nasihat mengenai kegiatan pastoral dengan tujuan membangun kesatuan dalam pelayanan. Kitab Hukum Kanonik menegaskan dewan ini sebagai “senat Uskup” yang membantu pemerintahan keuskupan secara pastoral. Dengan demikian, Dewan Presbiteral secara esensial merupakan realitas teologis yang menampakkan persekutuan pelayanan apostolik dalam Gereja.

    DEPKAM wajib terlibat aktif dalam pendampingan para imam yang berkarya di Keuskupan Agung Medan. Tugas ini sudah dijalankan oleh Tim OGF (ongoing formation), yang sejak Desember 2024 dipisahkan dari DEPKAM menjadi tim tersendiri yang langsung berada di bawah arahan Bapa Uskup. Diinspirasi oleh studi imam yang usia tahbisannya di atas 21 tahun yang dikoordinir oleh OGF Regio Sumatera, Bapa Uskup menyatakan keprihatinannya akan para imam yang sungguh membutuhkan pendampingan dan pendidikan berlanjut. Oleh karena itu, pada hari terakhir Sidang DEPKAM, semua peserta menyatakan persetujuannya agar Bapa Uskup membentuk satgas untuk menyusun kurikulum pembinaan imam berlanjut sesuai dengan kelompok usia tahbisannya, yakni 0 – 1 tahun, 2 – 5 tahun, 6 – 10 tahun, 10 – 20 tahun, dan 21 tahun ke atas. Program pendampingan ini diharapkan semakin membantu para imam menyadari tugasnya untuk menguduskan, mengajar, dan memimpin umat. Agar mampu menghayati imamatnya dengan baik, imam perlu membina intimitas yang semakin mendalam dengan Yesus Kristus, sehingga mampu menjawab tantangan zaman dan hidup semakin sesuai dengan Injil.

    Sidang DEPKAM menghadirkan secara nyata Gereja Keuskupan Agung Medan sebagai komunitas yang hidup dari doa, berjalan dalam semangat sinodal, dan memelihara para gembalanya agar semakin mampu menggembalakan umat dengan hati yang menyerupai hati Kristus. Semoga para imam semakin mengalami persaudaraan satu sama lain dan sekaligus bersatu dengan Bapa Uskup dalam penggembalaan umat Keuskupan Agung Medan.

    4. Audiensi DPPH, Panitia Revitalisasi Gereja dan Pembangunan Aula Hayam Wuruk 5 Mar 2026

    DPPH, Panitia Revitalisasi Gereja, dan Pembangunan Aula Hayam Wuruk berdiskusi dengan Bapa Uskup pada tanggal 5 Maret 2026 di Catholic Center. Dalam sambutan pembukaan, Bapa Uskup mengajak para peserta audiensi untuk melanjutkan pembangunan aula yang terhubung dengan Catholic Center serta revitalisasi Gereja St. Antonius Padua demi tata ruang yang lebih layak dan fungsional. Panitia melaporkan kegiatan revitalisasi gereja yang sudah mencakup perbaikan pagar, plafon, tata hijau, ruang sakramen tobat, pembangunan sanctuarium, façade, dan menara yang ditargetkan selesai menjelang HUT ke-111 paroki. Dalam hal keuangan, dicatat adanya potensi double counting antara laporan panitia dan paroki sehingga dibutuhkan pelaporan yang lebih terintegrasi dan transparan. Uskup memberi catatan mengenai desain: paroki harus tetap menjadi ruang pertemuan umat, sanctuarium dan menara perlu dirancang agar menonjolkan keindahan dan daya Tarik, sementara façade gereja perlu diperhalus agar lebih serasi.

    Terkait pembangunan aula baru, dilaporkan bahwa sertifikat tanah sudah terbit, PKR dan IMB/PBG sedang diproses, dan pembongkaran aula lama menunggu izin resmi serta proses tender. Panitia mengajukan dukungan dana dari KSSY dan dana internal paroki, serta mulai menjalin komunikasi dengan calon donatur. Dr. Hendrik Sitompul menekankan perlunya struktur panitia yang kuat, adanya pengawas khusus, SOP pembangunan yang jelas, serta pola komunikasi yang tertata agar seluruh tim bergerak serentak. Bapa Uskup menambahkan bahwa struktur dan tupoksi harus dirumuskan dengan baik, rapat rutin dengan notulen yang ditindaklanjuti sangat penting, dan pembongkaran gedung lama sebaiknya dilakukan setelah sekitar 60% pendanaan terjamin. Aula baru diproyeksikan bukan hanya untuk umat Hayam Wuruk, tetapi untuk seluruh Kevikepan Medan dan kerja sama dengan berbagai lembaga Gereja. Lantai bawah difungsikan sebagai ruang berkumpul umat, bukan sekadar area parkir. Panitia, melalui R.P. Moses Situmorang, menyatakan siap menata kembali struktur dan SOP sesuai arahan.

    Mengenai Kuasi Stasi Polonia, dilaporkan bahwa tanah seluas 14 x 80meter milik keluarga Hermes dihibahkan kepada Gereja dengan tujuan dipakai sebagai tempat untuk membangun gedung gereja tanpa kemungkinan untuk perubahan peruntukan. Draft perjanjian sedang disusun oleh notaris dan akan dikonsultasikan kepada Uskup, dengan perhatian khusus pada aspek hukum agar hak pakai Gereja terlindungi dalam jangka panjang meski sertifikat tetap atas nama pemilik. Desain gereja dua lantai berkapasitas sekitar 400 orang sudah tersedia, proses perizinan IMB/PBG sedang berjalan, dan persetujuan warga sekitar telah dipenuhi. Jika izin terbit tepat waktu, peletakan batu pertama direncanakan pada April 2026 dan diharapkan dipimpin langsung oleh Bapa Uskup. Bapa Uskup memberkati peserta audiensi sebagai peneguhan komitmen bersama untuk melanjutkan karya pembangunan dan revitalisasi secara tertib, akuntabel, dan selaras dengan visi keuskupan.

    5. Audiensi LP3KD 5 Mar 2026

    LP3KD Sumatera Utara beraudiensi kepada Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, pada tanggal 5 Maret 2026 untuk memaparkan identitas, kiprah 2023 – 2025, serta rencana Pesparani Sumut III tahun 2026 yang diposisikan sebagai sarana pembinaan iman melalui liturgi dan seni gerejani, bukan sekadar lomba. Disampaikan juga rencana Pesparani berjenjang hingga nasional, laporan singkat keuangan hibah dari Pemprovsu dan Kemenag, serta kebutuhan fasilitas pembinaan dan ruang pertemuan di gedung Catholic Center.

    Mgr. Kornelius menyetujui secara prinsip penunjukan moderator imam yang menjembatani LP3KD dengan struktur Gereja, menekankan pentingnya koordinasi dengan wilayah pemerintahan (kecamatan/kabupaten) demi sinergi dengan pemerintah, serta perlunya penentuan lokasi Pesparani yang mempertimbangkan kapasitas panitia dan fasilitas. Bapa Uskup menegaskan kembali bahwa fokus utama Pesparani adalah pembinaan liturgi dan iman, dengan penilaian yang objektif dan bebas dari “suka-tidak suka”. Uskup juga mendorong pengenalan LP3KD di lingkungan para imam dan pengembangan pelatihan musik liturgi yang berkelanjutan. Pertemuan ditutup dengan doa dan berkat Uskup, menandai komitmen bersama menguatkan Pesparani sebagai karya pastoral Gereja di Sumatera Utara.

    6. Tim Centenario Fransiskan 16 Mar 2026

    Pada tanggal 16 Maret 2026, Tim Centenario Fransiskan mengadakan audiensi dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, untuk meminta arahan berkaitan dengan Tahun Santo Fransiskus di Keuskupan Agung Medan. Menindaklanjuti dekret Paus Leo XIV tentang Yubileum 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus (10 Januari 2026–10 Januari 2027), Gereja lokal KAM memilih untuk menghayatinya bukan sekadar sebagai rangkaian ziarah, melainkan sebagai masa rahmat untuk pembaruan hidup injili. Inti yang ditekankan adalah spiritualitas Fransiskan, yaitu hidup sederhana dan miskin menurut Injil, persaudaraan yang inklusif, damai (Pax et Bonum), rekonsiliasi dengan Allah dan sesama, serta kepekaan terhadap orang kecil dan kelestarian ciptaan.

    Dengan tema “Fransiskus Pembawa Damai dan Saudara bagi Semua”, program tahun Yubileum di KAM dirancang sederhana namun terarah demi menjamin partisipasi umat yang maksimal. Umat diajak berziarah ke salah satu dari 37 tempat yang telah ditetapkan (paroki yang digembalakan oleh para imam Fransiskan, biara induk Fransiskan, dan gereja yang menjadikan St. Fransiskus sebagai pelindungnya), dengan kesempatan memperoleh indulgensi penuh bagi yang memenuhi syarat-syarat lazim, yakni pengakuan dosa, komuni, doa bagi intensi Paus, dan ziarah ke salah satu tempat yang telah ditetapkan. Ziarah dianjurkan dijalani dalam semangat tobat dan solidaritas, misalnya dengan berjalan kaki tanpa unsur komersial.

    Di samping ziarah, Tim Centenario akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan formasi: katekese tentang spiritualitas Fransiskan dan indulgensi, dialog perdamaian lintas agama, seminar kaum muda tentang menjadi Katolik di era media sosial, serta rekonsiliasi Fransiskan dengan penekanan khusus pada Sakramen Tobat di wilayah pelayanan keluarga Fransiskan sepanjang tahun. Aksi profetis sosial dan ekologis juga akan dirumuskan secara lebih konkret sebagai wujud nyata hidup injili di tengah kemiskinan dan krisis lingkungan. Tahun ini diintegrasikan dengan dinamika Sinode Diosesan VII KAM sehingga semangat Fransiskan sungguh mewarnai pembaruan hidup menggereja.

    Mgr. Kornelius menegaskan bahwa undangan Paus bersifat ajakan, bukan kewajiban, namun KAM menanggapinya secara positif dan aktif. Uskup akan mengeluarkan surat resmi yang mengundang seluruh umat KAM untuk mengambil bagian dalam Tahun Santo Fransiskus, dengan Keluarga Fransiskan sebagai motor penggerak yang bekerja sama dengan berbagai komisi keuskupan. Melalui perencanaan yang terkoordinasi dan penekanan kuat pada penularan spiritualitas, diharapkan Tahun Yubileum ini menjadi kesempatan bagi umat KAM untuk kembali menghidupi Injil secara lebih murni, sehingga damai dan kebaikan Pax et Bonum semakin nyata dalam hidup pribadi, komunitas, dan masyarakat luas. Melalui perayaan Yubileum ini, Santo Fransiskus semakin nyata dijadikan sebagai model yang relevan dan mendesak bagi kehidupan iman di zaman sekarang.

    7. Menuju Gereja Baru Saribudolok 16 Mar 2026

    Pada hari Senin, 16 Maret 2026, DPPH dan Panitia Pembangunan Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolog beraudiensi dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, untuk memohon arahan atas rencana pembangunan gedung gereja baru. Pembangunan ini tidak hanya menjawab kebutuhan fisik, tetapi juga merupakan upaya menata ruang liturgi yang lebih sesuai kaidah Gereja dan mampu menampung umat yang bertambah secara signifikan.

    Panitia menjelaskan bahwa gereja lama mengalami keretakan, menara miring, dan secara visual “tenggelam” di antara bangunan baru (pastoran dan sekolah), sementara tata ruang liturgi, yakni panti imam, tabernakel, ruang tobat, dan sakristi, belum memadai. Peletakan batu pertama telah dilakukan pada 26 Oktober 2025, gereja lama dibongkar pada awal 2026, dan lahan kini siap memasuki tahap pondasi setelah desain final disetujui.

    Mgr. Kornelius menilai ukuran dasar bangunan sudah cukup, tetapi konsep ruang dianjurkan lebih “mendekatkan” umat dengan altar (bukan hanya memanjang), dengan kemungkinan mempendekkan bangunan dan sedikit melebarkannya. Beliau mengusulkan agar gereja baru didekatkan ke pastoran lama sehingga tercipta komposisi yang lebih serasi dan fungsional, serta ruang bawah yang lapang dengan kolom yang lebih besar dan artistik. Area luar, seperti taman baca, diharapkan menjadi ruang ekspresi yang hidup bagi umat dan sekolah.

    Arsitek dan panitia menyambut usulan ini, sepakat meninjau kembali posisi bangunan di lapangan dan menyesuaikan desain tanpa menunda terlalu lama demi menjaga kepercayaan umat yang sudah menantikan kelanjutan pembangunan. Berkat Bapa Uskup pada akhir pertemuan meneguhkan langkah bersama untuk mewujudkan sebuah gereja baru yang kokoh, indah, liturgis, dan sungguh menjadi rumah doa bagi umat Paroki Saribudolok.

    8. Rapat Kuria KAM 17-20 Mar 2026

    Pada tanggal 17 – 20 Maret 2026, Bapa Uskup bersama semua vikaris episkopal teritorial, vikaris episkopal kategorial, kanselarius, dan ekonom mengadakan rapat Kuria di Penang. Sebelum berangkat ke Penang, rapat dibuka di ruang Kolegium Konsultor dengan membahas notulen rapat Kuria bulan Februari 2026. Setelah memaparkan pengembangan notulen, ekonom diminta memaparkan budget yang telah disusun yang akan dipakai selama tahun 2026. Pada pukul 10.30 WIB, peserta rapat berangkat ke Penang. Rapat diteruskan pada 18 Maret 2026 di ruang pertemuan Sentral Seaview Hotel. Sedianya tempat pertemuan adalah di rumah retret Kapusin di Penang, tetapi karena tempat ini sudah penuh, peserta rapat harus pindah ke tempat lain. Kesempatan berada di Penang dipakai oleh dua peserta rapat untuk mengadakan medical check-up. Sejumlah pokok penting dibahas dalam rapat ini, antara lain konkritisasi rekomendasi temu pastoral Uskup dan Tarekat Hidup Bakti pada 19 – 22 Januari 2026 di CC PPU Pematangsiantar. Enam pokok utama yang dibahas dalam rapat ini adalah Lingkungan Hidup (Tindakan Pasca Bencana dan Ekologi Praktis), Kaderisasi Awam, Pewarta Digital dan Media Sosial, Pastoral Migran dan Perantau, Menjadi Komunitas yang Berjalan Bersama, dan Wajah Baru THB KAM. Aplikasi konkret keenam tema ini harus digariskan agar dokumen yang sangat baik ini tidak tinggal sebagai rumusan indah belaka.

    Rapat kuria juga membahas sejumlah poin penting, yakni Keputusan Sidang DEPKAM ke-18 pada 2 – 4 Maret 2026, rencana pemekaran Keuskupan Agung Medan, dan pemekaran paroki. Poin terakhir yang mendapat pembahasan serius ialah penyusunan ratio formationis bagi ongoing formation imam yang berkarya di KAM berdasarkan usia tahbisan. Pada tanggal 20 Maret 2026, peserta rapat kembali ke Keuskupan Agung Medan dengan selamat. Semoga hal-hal yang mendapat pembahasan serius dalam rapat ini dapat menghasilkan buah manis di wilayah Keuskupan Agung Medan.

    Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.

    RP. Adrianus Sembiring OFMCap
    Kanselarius Keuskupan Agung Medan