Senin, September 21, 2026
Lainnya
    Beranda blog Halaman 27

    Paroki Aek Kanopan

     

    PelindungSanto Pius X
    Buku ParokiSejak 1 Mei 1975. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Kisaran/ Tanjung Balai
    AlamatJl. Serma Maulana S. No. 48, Aekkanopan Labura – 21457
    HP / WA0812-6346-1708
    Email[email protected]
    Jumlah Umat1.759 KK/ 6.996 jiwa (data Biduk per Februari 2024)
    Jumlah Stasi54

    Senin-Kamis: 06.00 WIB
    Jumat : 19.30 WIB
    Minggu : 08.00 WIB

    RP. Giovanno Sinaga OFMCap
    Pastor Paroki
    RP. Meinrad Rumapea OFMCap
    Vikaris Parokial
    RP. Alam Tukhot Makabe Saragih OFMCap
    Vikaris Parokial
    1. St. Pius X Aek Kanopan
    2. St. Bonaventura - Cinta Rame
    3. St. Yosep - Cinta Dame
    4. St. Yakobus - Adian Torop
    5. St. Benediktus - Pamaratan
    6. St. Paulus - Adian Modang
    7. St. Yosep - Sinar Toba
    8. Gereja Katolik Hati Kudus Yesus - Tunggul Morbo
    9. St. Yohanes Pembaptis – Parsaoran
    10. St. Yustinus - Huta Baru
    11. St. Ignatius - Jambur Damuli
    12. St. Carolus Borromeus – Pulo Gombut
    13. St. Matias Rasul - Simpang 4
    14. St. Filipus Rasul - Tapian Nauli
    15. St. Paulus - Harian Timur
    16. St. Maria Bunda Gereja – Tangkahan Habeahan
    17. St. Simon Petrus - Sei Karet
    18. St. Oktavianus - Sei Peranginan
    19. St. Yohanes Pembaptis – Tangkahan Manggis
    20. St. Alexander - Makmur Bersama
    21. St. Fidelis Dari Sigmaringen – Tangkahan Bosi
    22. St. Maria Bunda Pertolongan Abadi – Sei Apung
    23. St. Mikael - Sei Juragan
    24. St. Dominikus Aek Nabara
    25. Gereja Katolik Martinus Rambong Merah
    26. St. Yustinus Kuala Tani
    27. St. Norbertus Kilang Saudara
    28. St. Agustinus Lalang Bundar
    29. Gereja Katolik Andreas - Kampung Baru
    30. St. Bernardus Abbas – Pardomuan Nauli
    31. St. Stefanus – Martir - Trans
    32. St. Yosef – Teluk Binjai
    33. Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga – Pancasila
    34. St. Thomas Aquinas – Pulo Harapan
    35. Santa Maria Ratu Rosario – Teluk Ampean
    36. St. Kornelius – Pulo Angin
    37. St. Romanus – Sei Piandang
    38. Gereja Katolik Salib Suci – Sei Naetek
    39. St. Lauarentius – Situngir
    40. St. Tarsisius – Pamingke Stasiun
    41. St. Petrus – Padang Mahondang 1
    42. St. Hubertus – Padang Mahondang 2
    43. St. Fransiskus Xaverius – Bulu Cina
    44. St. Robertus – Aek Nauli
    45. Gereja Katolik Kristus Raja – Sei Piring
    46. St. Antonius Padua - Pardamaran
    47. St. Fransiskus Assisi – Pinggol Toba
    48. St. Benediktus - Haunapitu
    49. Santa Maria Ratu Damai – Pulau Maria
    50. St. Paulus - Marjanji Aceh
    51. St. Theresia dari kanak-kanak Yesus – Suka Maju
    52. St. Albertus Magnus – Pulo Raja
    53. St. Markus – Adian Baja
    54. St. Mateus Penginjil – Panigoran
    55. St. Lukas Penginjil – Labuhan Haji

    Sejak awal tahun 1940-an sudah ada arus perantau (panombang) dari daerah Tapanuli ke belahan bagian Timur Sumatera Utara, bahkan sampai ke daerah Riau. Para perantau ini dalam kondisi “demam terjajah oleh Belanda (terutama penjajahan Jepang) tetapi sebagian besar sudah beragama Kristen Muda (Protestan) dan sebagian lagi masih “Parmalim” atau bahkan masih animis. Jika diperhitungkan dari sudut historisnya, tentu sebagian kecil dari mereka dapat dipastikan sudah ada yang sudah beragama Katolik.

    Dalam “Sejarah Kabupaten Labuhanbatu Utara” disebut bahwa pada tahun 1942 tentara Dai Nippon (Jepang) menduduki seluruh wilayah Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 3 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Perupuk (Tanjung Tiram). Dari Perupuk sebahagian tentara Jepang melanjutkan gerakan merebut kota Tebing Tinggi dan seterusnya Medan. Setelah itu sebagian lagi bergerak menuju Tanjung Balai yang pada saat itu sebagai pusat pemerintahan Afdeling Asahan. Dari Asahan (Tanjung Balai) melanjut ke wilayah Labuhanbatu untuk merebut kota Rantauprapat.

    Menurut sumber yang tidak tertulis, ternyata bahwa dengan alasan untuk mempertahankan hidup dan masa depannya, para perantau dari Samosir dan Tapanuli yang sudah beragama Kristen Muda dan Parmalim serta aninimis atau mungkin juga yang sudah Katolik, terpaksa menganut agama Islam yang mengikuti masyarakat Melayu (penduduk setempat). Sebagian dari mereka lama kelamaan mereka masuk agama Islam dan bergabung dengan suku Dalle (Orang Batak yang pada umumnya beragama Islam). Mereka beredar di sekitar kabupaten Batubara, Asahan, Labura, Labuhanbatu Induk dan Labuhanbatu Selatan sekarang.


    Sebenarnya, para pastor misionaris periode paling awal, mula-mula ditempat-tugaskan di Tanjung Balai untuk lebih berfokus kepada orang Tionghoa dan sedikit banyaknya pada 'tuan kebun'. Secara berkala mereka mengunjungi orang Tionghoa yang tersebar di wilayah itu, termasuk Aekkanopan. Mungkin sekali sudah sejak Pastor Odilo Wap, OFMCap hal itu terjadi. Akan tetapi, mengenai Beliau, tidak ada data persis yang diketahui.


    Pastor Restitutus Joosten, OFMCap dan terutama pastor Arthur Jansen, OFMCap tercatat sebagai pelopor yang datang dan berkarya di daerah ini dengan dua periode yakni periode 1948-1949, kemudian periode 1953-1962. Lambat laun mereka juga semakin memperhatikan dan mengunjungi/ mengumpulkan orang Batak Perantau. Pastor Ezecchiel Vergeest, OFMCap. dan pastor Paternus van Litsenburg, OFMCap. serta pastor Meinrad Manzer, OFMCap ikut juga memperkuat kelompok misionaris awal ini, sampai ke daerah Aek Kanopan.


    Sejak awal, umat perdana dilayani para pastor misionaris Kapusin dan Saverian dari paroki Tanjung Balai dan Kisaran. Sebagai paroki, Tanjung Balai berdiri secara resmi pada tahun 1947 dengan nama pelindung St. Mikael. Kemudian pada tahun 1968 paroki ini dimekarkan menjadi dua paroki yakni paroki St. Mikael Tanjung Balai dan Paroki Sakramen Maha Kudus Kisaran. Keduanya terletak di Kabupaten Asahan dan Batubara sekarang.


    Pada pertengahan tahun 50-an atas semangat kerasulan yang gigih dari para pastor misionaris kapusin (RP. Lucas Reinders OFMCap., RP. Remigius Pennock OFMCap, RP. De Wit OFMCap. dan RP. Schepens OFMCap), datang dari Tanjung Balai dan Kisaran ke arah Labuhanbatu bahkan sampai ke daerah Kota Pinang.Arus kedatangan “panombang” dari Tapanuli makin lama makin kencang sampai pada tahun 1970-an.


    Sebelumnya (di Tapanuli: Samosir dan Humbang Hasundutan masih bagian dari Tapanuli pada waktu itu) mereka sudah memeluk agama Kristen atau Katolik, tetapi di perantauan seputar daerah Labuhanbatu sekarang mereka tidak menemukan satu pun gereja di daerah Labuhanbatu. Dari Kisaran juga RP. Clarus Sihotang, OFMCap juga cukup memberi perhatian sejak awal tahun 1972.


    Kelompok orang Katolik pertama terbentuk di Stasi Tapian Nauli tahun 1956 sedang Stasi Aekkanopan resmi berdiri sebagai stasi baru pada tahun 1960. Akan tetapi karena Aekkanopan jauh lebih strategis dan menjanjikan perkembangannya, dari pada stasi-stasi yang sudah lebih dahulu terbentuk, maka dalam perjalanan waktu Aek Kanopan ditetapkan menjadi Stasi Induk dan kemudian menjadi pusat paroki. Tahun 1970-an usaha kerasulan para misionaris perdana ini, disuburkan lagi oleh semangat penggembalaan yang tak kenal lelah dari para pastor kapusin dan suster-suster KYM (RP. Antonius Siregar, OFMCap; RP. Beatus Jenniskens, OFMCap; RP. Arie Van Diemen, OFMCap; dan Sr. Imelda Harianja, KYM; Sr. Helena Rumapea, KYM; Sr. Maristella, KYM dan Sr. Anastasia Sitohang, KYM) dan ditopang oleh tokoh umat perdana (B. Rajagukguk, Johanes Tan Kok Eng dan R.S. Siburian, dll.) mereka mempersiapkan Aekkanopan menjadi satu paroki yang baru.


    Menurut kesaksian RP. Arie van Diemen, OFMCap, dituliskan sebagai berikut via email: “Pada awal tahun-tahun tujuhpuluhan paroki Kisaran semakin tambah luasnya dengan semakin berpindahnya umat ke Asahan dan Labuhanbatu, sampai daerah perbatasan Riau. Terutama mereka yang menggarap tanah, dari Tapanuli dan Samosir. Dari ujung ke ujung panjangnya paroki itu sudah lebih dari 200 km. Maka, Bapak Uskup v.d. Hurk menugaskan kami, khususnya pastor Schepens dan saya, untuk mencari tahu tempat yang strategis yang cocok untuk pemekaran paroki itu. Kami berdua segera sepakat: Aek Kanopanlah.


    Sebagai langkah pertama, sebaiknya, agar dalam jangka waktu agak singkat disusul dengan Aek Nabara. Atas prakarsa beberapa pemuka jemaat, seperti R. Joewono, Johannes Tan Kok Eng, Binsar - A. Bukit - Rajagukguk dan Pak Siburian, ditemukan lokasi yang rasanya cocok. Sesudah ditinjau bersama oleh pastor Schepens, Jenniskens dan saya pada tgl 2/1/1975, maka tanah itu resmi dibeli di kantor camat pada tgl 17/3/1975. Agar bisa secepatnya pindah kesana, maka selama dua bulan berikutnya didirikan sebuah 'gubuk-gubuk' yang sederhana. Tepat pada waktu yang sama 'tersiar' berita bahwa Tahta Suci telah mengangkat Pastor Pius Datubara sebagai Uskup Pembantu, dengan tujuan untuk sebentar lagi mengambil alih tugas Uskup Agung Medan. Sungguh, suatu peristiwa bersejarah bagi sejarah Keuskupan kita. Pengumuman resminya sampai pada tgl 24/05/1975, 2 hari sesudah pastor Jennis dan saya pindah ke Aekkanopan.”


    Pada tanggal 16 Mei 1975, Aekkanopan resmi sebagai paroki yang baru dengan nama Paroki St. Pius X Aekkanopan. Akan tetapi pastor paroki pertama, RP. Arie van Diemen, OFMCap bersama pastor rekan RP. Beatus Jenniskens, OFMCap baru kemudian pindah dari Kisaran ke Aekkanopan pada tanggal 26 Mei 1975.


    Tentu sebagai paroki yang sudah resmi, maka sarana-sarana yang mendukung keresmiaanya dibutuhkan, seperti stempel paroki. Untuk membuat stempel dibutuhkan nama pelindung resmi paroki ini juga. Santo Pius X secara spontan muncul dalam pikiran pastor Arie van Diemen, OFMCap.


    Mengapa Santo Pius X? Pastor Arie menulis: “Mengapa justru Pius X? Karena masih agak kontemporer. Baru 60 tahun sebelumnya meninggal dunia, pada saat beliau terkejut mendengar Perang Dunia I telah pecah. Tetapi, terutama, karena ia sebagai Uskup Agung Venetia sangat dicintai dan akrab dengan umat yang sederhana. Sebagai Paus beliau mengusahakan agar perayaan liturgi lebih hidup-hidup oleh partisipasi umat beriman. Keputusannya yang amat terkenal yaitu bahwa umur anak-anak untuk boleh menyambut komuni kudus, dipercepatnya sampai tujuh tahun. Saat itu belum saya bisa menduga bahwa nama beliau kemudian 'dibacak' oleh kelompok-kelompok ultra konservatif dalam gereja yang ingin menghalangi segala perkembangan. Sangat pantas disesalkan.” Demikianlah tahap paling awal sebagai paroki baru dimulai sambil lebih serius memeta kondisi lapangan pastoral misioner di Aek Kanopan.


    Bagi Pastor Arie Van Diemen, OFMCap, sejak awal paroki ini sangat menantang dan mengasyikkan. Selengkapnya Beliau menuliskan sebagai berikut: “Kesan saya tentang karya di paroki: amat menarik, menantang karena semua masih baru, fisik berat tetapi mengasyikkan, semangat para pemuka jemaat bergairah, umat masih gembira menerima kehadiran pastor bersama dengan para suster karena bagi mereka masih sungguh kabar gembira ditongatonga tombak na gok rongit.”


    Ungkapan ini sungguh memberi kesan bahwa pastor Arie dan pastor rekan lainnya serta para tokoh awam perdana benar-benar berjuang untuk permulaan awal paroki St Pius X ini. Medan pastoral begitu sangat berat dan masih banyak hutan asli. Lahan luas membentang subur dan sangat alamiah. Perikehidupan ekonomi sangat-sangat memprihatinkan. Akan tetapi umat masih membutuhkan para petugas pastoral dan disambut dengan sangat antusias.


    Makin lama berpastoral dan semakin masuk ke kondisi riil umat atau masyarakat sekitar, para petugas pastoral ini semakin melihat kebutuhan-kebutuhan hidup harian dan kebutuhan masa depan. Berbagai upaya dilakukan untuk melayani umat baik dari segi kehadiran pendampingan maupun dari segi materi (dana batuan) bagi umat yang sangat-sangat sederhana. Dan untuk menjawabi kebutuhan-kebutuhan ini semua, di sana sini lahan digarap dan dibeli. Sekolah, asrama dan CU didirikan. Kursus-kursus kaderisasi pengurus awam mulai ditangani.

    BIDUK KAM, Gerakan Pastoral Berbasis Data

    0
    KAM - Keuskupan Agung Medan (KAM), Sabtu (5 Oktober 2019), menghelat soft launching Basis Integrasi Data Umat Keuskupan (BIDUK) KAM di Catholic Center – Medan. Puluhan perwakilan sekretariat paroki se-KAM turut hadir dalam seremoni dan dwi-hari training input data umat keuskupan secara online ini.Victor Erico, perwakilan tim BIDUK Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), mengutarakan, program ini adalah gerakan untuk pelayanan pastoral berbasis data. “Ketika kita hendak memulai BIDUK, kita memperkirakan jumlah umat KAJ adalah sebanyak 510.000. Namun, setelah pendataan dengan BIDUK rampung, ternyata jumlah umat KAJ yang benar adalah 430.000,” katanya.Dia melanjutkan, banyak pihak di KAJ yang marah atas hasil perhitungan tersebut. “Banyak yang marah, bahwa kita kehilangan umat sebanyak 80.000 jiwa. Padahal itu adalah jumlah yang sebenarnya. Kenapa? Karena ada umat yang telah meninggal masih dimasukkan dalam data. Selain itu, ada juga umat yang sering berpindah domisili, sehingga terdata di dua atau tiga paroki.”“Jadi, kuncinya adalah gerakan. Dari yang sebelumnya, kita belum mengenal umat. Sekarang paroki bisa mengandalkan data tersebut untuk melayani umat sesuai statistik nyata.Gerakan ini diterapkan di seluruh paroki untuk melayani lebih baik,” ujar Victor.Uskup KAM, Mgr. Kornelius Sipayung, dalam kata sambutan, turut mendukung pelaksanaan gerakan BIDUK KAM. “Kita hendak buat pelayanan pastoral di keuskupan ini agar berbasis digital. Kita ingin pastoral berbasis data. Oleh sebab itu, Jangan kita sia-siakan waktu dan bantuan tim BIDUK KAJ. Banyak yang bisa dirangkul dalam gerakan ini. (Peserta) yang hadir di sini bisa merangkul pastor paroki, ketua lingkungan, dan lainnya agar BIDUK KAM bisa rampung,” ucapnya seraya memotivasi para peserta training, yang berlangsung hingga Minggu (6 Oktober 2019).Dia menyampaikan, “Jangan menganggap bahwa setelah pendataan rampung, program BIDUK KAM akan selesai. Ini tidak akan pernah selesai, karena dinamika data yang akan dikerjakan. Setiap menit data ini akan terus berubah. Semisal ada umat yang meninggal, atau kelahiran, atau juga pindah domisili. Untuk itulah kita membutuhkan data akurat demi pelayanan.”Mgr. Kornelius berharap, BIDUK KAM bisa menjadi rahmat bagi KAM untuk mendorong pelayanan pastoral berdasarkan data. Untuk mewujudkan impian tersebut dibutuhkan komitmen, kesabaran dan ketekunan dalam menjalankan gerakan ini.“Saya mendapat kabar, bahwa BIDUK di Keuskupan Agung Pontianak (KAP), kalau tidak salah bisa selesai 4-5 bulan ya. Besar harapan saya, BIDUK KAM kalau bisa selesai dalam dua bulan ini. Agar menjadi kado natal kita, dan kita akan makan di rumah masing-masing,” ujarnya, disusul gelak tawa hadirin.(Ananta Bangun) 

    Komisi Pendidikan

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20153, Sumatera Utara – Indonesia
    0852-6076-3462
    RP. Michael Manurung OFMCap (PJ)
    Komisi Pendidikan KAM
    Komdik KAM

    Pengurus Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Medan masa bakti 2025-2030 dengan susunan jabatan dan nama sebagai berikut:

    1. Ketua : RP. Michael Manurung OFMCap
    2. Wakil Ketua : Fr. Paskalis Wangga CMM
    3. Sekretaris : Dr. Dionisius Sihombing, S.Pd., M.Si
    4. Bendahara : Elisa Br. Ginting, S.Pd., M.Pd
    5. Anggota :
    1) Mangaratua M. Simanjorang, M.Pd., Ph.D
    2) Oskar Rafael Tampubolon, S.S., M.Ag

     

    Komisi Liturgi

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20152, Sumatera Utara – Indonesia
    RP. Christian Lumbangaol OFMCap
    0813-6134-8824 (Sr Wilfrida)
    Komisi Liturgi KAM

    Komisi Komunikasi Sosial

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20152, Sumatera Utara – Indonesia
    RD. Benno Ola Tage
    0822-6095-6957
    Komsos KAM
    @komsoskam
    KomsosKAM
    www.komsoskam.com

    Komisi Kerasulan Kitab Suci

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20152, Sumatera Utara – Indonesia
    0822-7316-7051
    RP. Paulus Halek Bere SSCC
    Komisi Kerasulan Kitab Suci - KAM
    @komisikkskam
    Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM

    Badan Pengurus Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Agung Medan 2024-2029

    1. Ketua : RP. Paulus Halek Bere SSCC 
    2. Wakil Ketua : RP. Fransiskus Xaverius Marmidi SCJ 
    3. Sekretaris : Jogi Hotmario Panjaitan 
    4. Bendahara : Silvana Natalia Nainggolan 
    5. Anggota :
      1. RD. Josep Gultom
      2. RP. John Paul Saragih OFMCap
      3. Resdina Simanjuntak
      4. Megaria Tampubolon
      5. Johanes Monang
      6. Redemptus Sangononi Zai
      7. Manahan Hamonangan Fransiskus Sitohang
      8. Marulam Nainggolan
      9. Hekdi Sinaga

    Komisi Kerasulan Awam

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20152, Sumatera Utara – Indonesia
    RP. Joseph Lesta S. Pandia OFMConv
    0812-6018-2233
    Komisi Kerawam KAM

    Komisi Kepemudaan

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20153, Sumatera Utara – Indonesia
    0812-6536-0145
    RP. Theodorus Goli Ruing, OCD
    Emika F. Barus (Pegawai KAM - Komisi Kepemudaan)
    Komisi Kepemudaan KAM
    @komkep.kam

    SURAT KEPUTUSAN USKUP KEUSKUPAN AGUNG MEDAN
    Nomor:623/KOMKEP/KA/VII/’26

    A. Badan Pengurus Harian

    1. Ketua : RP. Theodorus Goli Ruing OCD ex officio Ketua Komkep KAM
    2. Wakil Ketua : RD. Shan Efran Sinaga
    3. Sekretaris : Megaria Tampubolon
    4. Bendahara : Veronika Sitanggang

    B. Bidang-Bidang

    1. Bidang Kaderisasi dan Pembinaan : Paulinus Tibo
    2. Bidang Pewartaan : Elvina Simanjuntak
    3. Bidang Komunikasi dan Media : Anne Griselda Manullang
    4. Bidang Persaudaraan : Andreas Corsini Putut Lingga

    Menugaskan Badan Pengurus Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Medan untuk memikirkan, merencanakan, pembinaan Orang Muda Katolik yang semakin berkualitas, sehingga menghasilkan kader yang baik sebagai generasi Gereja dan Bangsa dalam koordinasi dan kerja sama dengan komisi lainnya

    Surat Keputusan ini berlaku sejak 17 Juli 2026 berlaku seiring dengan Surat Keputusan Uskup Keuskupan Agung Medan Nomor:204/ KOMKEP/KA/III/’24, 27 Maret 2024 dan Nomor:61/KOMKEP/ KA/I/’25, 31 Januari 2025 sampai dengan 30 Maret 2029, dan/atau berlaku terus sampai ada keputusan lain dari Uskup Keuskupan Agung Medan, yang dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan pastoral.

    Sejak 1965 perhatian kepada jemaat khususnya kaum muda sangatlah banyak. Sejak dibentuknya Panitia, Panitialah yang membawahi segala bentuk ormas yang berkaitan dengan kepemudaan, baik itu PMKRI atau Pemuda Katolik, bahkan sampai MUDIKA sekalipun. Sampai pada akhirnya dibuatlah kursus-kursus pengkaderan ke paroki-paroki guna mendidik kaum muda untuk bisa berorganisasi dalam bidang kepemudaan. Hal ini terbukti dengan diberikannya kursus mengenai dokumen "Pacem in Terris" dan "Mater et Magistra" bagi kaum muda di paroki-paroki. Ketua pertama dari panitia untuk kaum muda ini adalah P. Idesblad Domen, OFMCap yang kemudian lebih dikenal dengan nama Komisi Kepemudaan.

    Pada tanggal 10 Desember 1968, P. Domen menghadiri Kongres Pemuda Katolik Se-Indonesia yang berlanjut dengan dibukanya Pusat Kaum Muda di Pematangsiantar tahun 1970 dan 1971 yang kemudian aktif digunakan secara intesif. Bahkan, pada waktu itu telah terbit sebuah majalah berjudul "Pertemuan" yang dipimpin langsung oleh P. Josue Steiner, OFMCap yang kemudian tidak diterbitkan lagi karena suatu hal. Hasil dari dibentuknya komisi ini adalah dengan diadakannya suatu program yaitu "Mgr. Cup" yang rencananya diadakan sekali dalam dua tahun. Tetapi setelah adanya tiga kali penyelenggaraan program ini banyak timbul kekecewaan, dimana program tersebut tidak berhasil membangun kembali hubungan antar kaum muda dibandingkan dengan kerja keras serta upaya agar program ini dapat berlangsung. Sehingga pihak Komisi Kepemudaan sendiri mengusulkan agar Mgr. Cup IV tidak perlu dilaksanakan lagi dikarenakan hal tersebut. Dan Coetus menyerahkan keputusan mengenai hal itu kepada komisi sendiri.

    Disamping itu seiring berjalannya waktu, Komisi Kepemudaan sadar betul akan pembinaan rohani bagi kaum muda. Ditambah lagi dengan banyaknya kelompok kaum muda yang semakin banyak muncul, sehingga pada tahun 1990 terbentuklah yang dinamakan Tim Pastoral Mahasiswa KAM (TPM). Pada awalnya tim ini terbentuk untuk pembinaan mahasiswa-mahasiswa yang sedang baru menyelesaikan studinya. Namun tujuan awal tersebut berubah dengan adanya sekelompok mahasiswa yang tidak mau masuk ke dalam ormas berbau politik seperti PMKRI dan juga tidak mau ikut bergabung ke dalam MUDIKA. Dan pada tanggal 21 Oktober 1990 dilaksanakan pertemuan mahasiswa Katolik se-Kotamadya Medan yang dihadiri sekitar 500 mahasiswa-mahasiswa di Aula St. Thomas guna membahas masalah tersebut. Dan banyak TPM melakukan kegiatan yang berbau ceramah dan juga perayaan ekaristi pada pekan ketiga setiap bulan.

    Komisi Keluarga

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20152, Sumatera Utara – Indonesia
    RP. Andreas Budianto OFMConv
    0822-8926-8569
    Komisi Keluarga KAM
    Komisi Keluarga KAM
    Pengurus Komisi Keluarga Keuskupan Agung Medan untuk masa bakti 2024-2029

    1. Ketua : RP. Andreas Budianto OFMConv
    2. Wakil Ketua : Barita Esman Dabukke, S.Pd., M.Psi
    3. Sekretaris : Tara Karo-karo, S.S.
    4. Bendahara : Sr. Morianita Sitohang FSA
    5. Anggota :
      1. Sr. Kristina Varianti Dakhi, SCMM, S.Psi., M. Psi., Psikolog
      2. dr. Freddy Sebastianus Nainggolan, Sp. K. J
      3. Dinaria Peranginangin, SE.
      4. Drs. Jasinar Simamora
      5. Nurmawaty Hutahaean, A.Md.
      6. Ir. Diana Rosemery Barus
      7. Wilfrid Manalu, SH.
      8. Juler Manalu, S.Pd
      9. Jansen Ginting
      10. Parluhutan Manalu, A.Md.
      11. Asli Purba, SE.
      12. Arni Silalahi

    Komisi Kateketik

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20152, Sumatera Utara – Indonesia
    0812-1456-0270
    RP. Konrad Situmorang OFMCap
    @komkatkam