Senin, Februari 16, 2026
Lainnya
    Beranda blog Halaman 16

    Tim Bina Lanjut / OGF KAM

    0
    Alamat
    :
    PPU Pematangsiantar, Jl. Simpang Karangsari
    Ketua
    :
    RP. Richard Sinaga, OFMCap
    Sekretaris
    :
    RD. Asrot Purba
    Bendahara
    :
    RP. Romaldus Nairun, CMF
    Anggota
    :
    RP. Fridolinus Simanjorang, OFMCap
    RD. Bernardus Sijabat
    RP. Joseph Lesta Pandia, OFMConv

    Tim Bangunan Suci

    0
    Ketua
    :
    RD. Bernardus Sijabat
    Sekretaris
    :
    Ir. Toni Sirait
    Bendahara
    :
    RP. Christian Lumbangaol, OFMCap
    Anggota
    :
    RP. Fridolinus Simanjorang, OFMCap
    Benny Manik, ST
    RP. Richard Sinaga, OFMCap
    Ir. Ruben Simangunsong

    Komisi Seminari

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 2, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20152, Sumatera Utara – Indonesia
    RP. Michael Manurung, OFMCap

    Grand Launching BIDUK KAM

    0
    Medan, Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap, Sabtu (8 Februari 2020), meresmikan peluncuran Basis Integrasi Data Umat Keuskupan Agung Medan (BIDUK KAM). Acara grand launching di hall Catholic Center KAM, dihadiri Imam dan personil pengisian data BIDUK KAM dari masing-masing paroki. Dalam misa pembuka, Mgr. Kornelius mengaku terilhami dengan nats Bacaan Pertama dan Injil hari ini. “Dalam bacaan pertama, kita mendengar doa Raja Salomo yang akan menggantikan tahta ayahnya, Raja Daud. Salomo meminta agar diberi anugerah hati yang paham memilah hal yang baik dan yang jahat. Ini lah kemampuan yang hendaknya dimiliki pemimpin. Termasuk pemimpin di gereja,” ujarnya di sesi homili. “Sementara dalam Injil, kita mendengar bagaimana Yesus mengajak murid-muridnya ke tempat yang hening. Untuk berdoa, untuk menimba kekuatan dari Allah. Agar memiliki hati yang paham membedakan hal yang baik dan buruk. Inilah yang menggerakkan hatinya untuk berbelas kasih dalam melayani.” Mgr. Kornelius menyampaikan, karya BIDUK KAM diilhami dari sabda Tuhan: “Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku. Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.” “Gembala mengenal domba-domba. BIDUK KAM ini adalah sarana untuk mendukung gembala dalam mengenal para umat. KAJ mendukung kita dalam upaya mulia ini. Agar para gembala bukan hanya mengenal, tapi bincang-bincang. Sarana untuk mengenal domba-domba,” dia menjelaskan.
    Mgr. Kornelius Sipayung foto bersama dengan para Admin BIDUK KAM
    Bapa Uskup berharap, agar para gembala atau Imam di KAM mengenal para domba-domba (umat). “Supaya jangan ada yang hilang. Jika ada umat yang hilang, jangan dibiarkan. Marilah meneladani Yesus yang terus mencari domba-domba-Nya,” seraya mendorong para Imam dan personil input data BIDUK KAM dapat merampungkan pendataan pada Mei 2020 mendatang. Pimpinan Tim BIDUK Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), RD. Vincentius Adi Prasojo memberi apresiasi dan terima kasih atas dukungan Mgr. Kornelius dan Kuria KAM, atas kemajuan dalam pendataan di keuskupan ini. “Perlu bapak ibu ketahui, bahwa dalam tahun ini, BIDUK akan ‘berlayar’ ke Keuskupan Tanjung Karang, Makassar, Maumere, Ende dan Ruteng,” ujar Romo Adi. “Akhir kata. Selamat bertekun. Terima kasih untuk kerjasamanya. Mauliate godang.”   (Ananta Bangun)

    Rekoleksi Pegawai KAM: “Dipersiapkan Untuk Karya di Tahun 2020”

    0
    Samosir – Puluhan pegawai Kuria Keuskupan Agung Medan (KAMI) turut dalam Rekreasi dan Rekoleksi, Senin-Rabu (13-15 Januari 2020) di Tuktuk – Samosir. Kanselarius dan Kepala Personalia KAM, RP. Borta Rumapea O.Carm menyampaikan momen tahunan ini istimewa, sebab ikut dihadiri Bapa Uskup, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap. Pastor Borta juga menyampaikan presentasi mengenai Learning Organization sebagai kultur dalam karya SDM di Kuria KAM. “Perlu diketahui juga bahwa melayani di Gereja bukanlah profesi. Namun, profesi khusus, atau vocation yang berarti panggilan,” tuturnya. “Dan hendaknya ethos kerja professional juga menyemangati pelayanan kita.” Romualdus Nairun CMF, dalam sesi rekoleksi, mendorong para pegawai KAM untuk menggali visi KAM “Oase Ilahi di tengah Dunia” selama kebersamaan ini. “Rekoleksi adalah sarana menumbuhkan kembali semangat untuk mempererat kebersamaan.” Mgr. Kornelius, pada sesi arahan, mengatakan dirinya sengaja memindahkan jadwal kegiatan ini dari semula direncanakan pada April 2020. “Dalam bacaan Injil tadi dikisahkan, Yesus memanggil dan mempersiapkan murid-murid-Nya. Inilah yang mengilhami saya agar rekoleksi pegawai KAM sebaiknya digelar pada Januari 2020. Yakni, kita semua turut dipersiapkan untuk karya di tahun 2020 ini,” terang Mgr. Kornelius.   (Ananta Bangun)

    Penyerahan Pallium kepada Mgr. Kornelius Sipayung

    0
    KAM – Minggu 15 Desember 2019, Mgr. Kornelius menerima Pallium yang dikalungkan langsung  oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Msgr. Piero Pioppo.  Acara tersebut digelar dengan Misa Minggu Adven III di Gereja Katedral Medan. Pallium yang dikalungkan ke Mgr. Kornelius merupakan lambang anak domba, yang oleh kristus diserahkan kepada Petrus untuk digembalakan.  Hal ini juga disampaikan oleh Msgr. Piero Pioppo pada saat memberikan kata sambutan. Ia juga mengatakan dengan dikenakan nya Pallium tersebut, maka Mgr. Kornelius Sipayung harus memelihara dan menjaga persekutuan gerejawi dalam iman dan kasih. Peristiwa tersebut dihadiri oleh dua Uskup Emeritus Keuskupan Agung Medan, yaitu  Mgr. A.G. Pius Datubara, OFMCap dan Mgr. Anicetus Sinaga, OFMCap. Selain kedua Uskup Emeritus KAM tersebut, turut hadir juga Uskup Tanjung Karang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Pallium yang dikalungkan kepada Mgr. Kornelius merupakan salah satu busana gerejawi dalam Gereja Katolik Roma, yang awalnya hanya dikhususkan bagi Sri Paus. Namun seiring berjalannya waktu, selama berabad-abad dianugerahkan oleh Paus kepada para Uskup Agung Metropolitan. Pallium tersebut berupa sehelai selempang yang saat dikalungkan akan berbentuk huruf “Y”. Pallium tersebut dikenakan melingkar pada pundak diatas kasula, dan kedua ujungnya masing-masing menjuntai di depan dan belakang. Dan biasanya Pallium tersebut hanya akan diterima oleh para Uskup Agung Metropolitan. (Vinny)  

    Paroki Medan Hayam Wuruk

    0
    Pelindung Santo Antonius dari Padua
    Buku Paroki Sejak Maret 1915. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan
    Alamat Jl. Hayam Wuruk No. 1, Medan – 20153
    HP / WA 0812 6597 9101
    Email [email protected]
    Website www.stantoniushwmedan.or.id
    Jumlah Umat 1.489 KK / 5.333 jiwa (data BIDUK per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi 3
    Pastor Paroki RP. Moses Elias Situmorang OFMCap 23-08-71
    Vikaris Parokial RP. Paulinus M. Simbolon OFMCap 27-10-51
    Gereja Stasi
    1) St. Yoseph, Dr. Mansyur
    2) St. Maria Pintu Surga, Sei Agul
    3) St. Fransiskus Xaverius, Sunggal
    4) Kuasi Stasi St. Fransiskus Assisi-Polonia
    Jadwal Misa
    Harian : Senin-Sabtu 06:30 WIB
    Jumat Pertama 12:00 WIB
    Mingguan : Sabtu 18:00 WIB
    Minggu 07:30 WIB
    10:00 WIB
    17:00 WIB
    Novena : Santo Antonius 18:00 WIB
    Bunda Maria 17:00 WIB

    Sejarah Paroki St. Antonius dari Padua - Medan Hayam Wuruk

    Pada awalnya yang melayani pastoral di tanah Deli Sumatera Timur ialah seorang Pastor Jesuit. Kedatangan Pastor Johanes de Vries, SJ ke tanah Deli Sumatra Timur pada tahun 1873 adalah untuk pelayanan tugas pastoral, khususnya untuk umat Katolik yang bekerja di perkebunan. Berkat bantuan dan izin dari Direktur Perkebunan Deli di Sei Sikambing, dibangunlah satu unit kapel sederhana sebagai tempat ibadat. Tiga puluh Sembilan tahun kemudian Pastor Ferdinandus (Yohannes Martinus van Loon), OFMCap datang tepatnya pada tanggal 20 Agustus 1912. Dia juga dipersiapkan melayani umat Katolik secara umum dan melanjutkan tugas Pastor Camillus di stasi Medan Deli dan di Perkebunan.

    Selama melaksanakan karya pastoral di perkebunan Deli Maatschappij Sei Sikambing, Pastor Ferdinandus van Loon sangat memperhatikan Suku Tamil (India) yang bekerja di perkebunan tersebut. Untuk memudahkan komunikasi dengan mereka, tahun 1913 Pastor Ferdinandus van Loon dikirim ke Penang untuk belajar Bahasa Tamil dan Cina. Akan tetapi, beliau hanya belajar Bahasa Tamil saja dan kembali ke Medan pada akhir Juli 1913.

    Kemudian sekitar Agustus 1913, Pastor Ferdinandus van Loon, memohon kepada propinsial, Pastor Stanislaus untuk membangun kapel dan sekolah bagi Suku Tamil di Medan yang diperkirakan ada sekitar 100 orang yang beragama Katolik. Ternyata Pastor Ferdinandus van Loon bukan hanya ingin membangun kapel dan sekolah, melainkan juga membangun perkampungan Masyarakat Tamil (Kampung Kristen). Pada tahun 1914, keinginan beliau terlaksana. Maka dibelilah sebidang tanah di Petisah (Jalan Bantam sekarang) seharga F. 5000. Di atas tanah tersebut, dibangun beberapa rumah yang sederhana. Pada tanggal 01 Maret 1915 dibangun juga sekolah untuk anak-anak Tamil. Untuk pertama kalinya jumlah murid ada sebanyak 52 orang. Pada tahun yang sama, beliau juga membangun gereja untuk suku Tamil dan diberkati pada hari Minggu, 14 November 1915 yang terletak di Daendelstrat (Jalan Hayam Wuruk). Tanggal inilah resmi awal berdirinya Paroki St. Antonius dari Padua Hayam Wuruk – Medan.

    Sejalan dengan perkembangan umat, dirasa perlu untuk membangun pastoran di perkampungan Tamil. Maka pada tanggal 10 Juli 1916, didirikan bangunan untuk pastoran dan lebih kurang 3 (tiga) bulan siap digunakan pada tanggal 20 Oktober 1916. Pada tanggal 06 Mei 1919, Pastor Marcellinus yang sebelumnya berkarya di Sambong (Bangka) datang untuk menggantikan tugas Pastor Ferdinandus van Loon di gereja Jalan Hayam Wuruk, dan Pastor Ferdinandus van Loon dikirim ke Sambong (Bangka) menggantikan tugas Pator Marcellinus (mutasi tempat). Lalu Oktober 1922, Pator Ferdinandus van Loon kembali bertugas di gereja Jalan Hayam Wuruk Medan.

    Beberapa tenaga Pastor Kapusin dari Negeri Belanda datang ke Sumatera/Tanah Deli untuk membantu tugas pelayanan pastoral. Sebelum mereka datang, Suster-suster Fransiskanes telah membantu para pastor sekaligus mempersiapkan susteran di Daendelstrat – Petisah (Jalan Hayam Wuruk). Pada tanggal 28 Januari 1931, datang enam orang suster St. Yosef dari Amorsfoorts-Belanda. Kedatangan mereka selain untuk membantu pastor, juga dipersiapkan untuk mengajar anak-anak Tamil, membuka asrama untuk anak-anak Eropa dan rumah yatim piatu (internat).

    Bangunan gereja yang sederhana di Jalan Hayam Wuruk tidak cukup menampung umat beribadat, jumlah umat semakin banyak, tidak hanya dari Suku Tamil saja, melainkan dari suku Tionghoa, Batak, Ambon, dll. Untuk memenuhi tuntutan kemajuan dan perkembangan umat, maka pada tahun 1933 dibangunlah gereja yang lebih besar dan permanen. Lokasinya persis di depan gereja lama. Bangunan gereja yang lebih besar ini mulai dipakai pada tahun 1935 dan beberapa kali renovasi. Dan yang terakhir direnovasi serta diperluas lagi pada tahun 2005, agar dapat menampung umat untuk beribadat. Jumlah umat pada waktu itu 745 KK (2.584 jiwa). Misa yang dulunya hanya satu kali pada hari Minggu, sekarang ini menjadi empat kali (Sabtu Sore & Minggu). Pastor-pastor yang pada awalnya semua berasal dari luar negeri yakni Belanda melayani paroki selama 68 tahun (1915 – 1983) sejak 1983 Pastor Indonesia pertama melayani paroki St. Antonius dari Padua Hayam Wuruk – Medan.

    Paroki ini mempunyai 4 gereja stasi lain, yakni: St. Yoseph Dr. Mansur, St. Fransiskus Xaverius Sunggal, St. Perawan Maria Pintu Surga Sei Agul dan Rumah Doa Poloni sejak November 2021 yang sebelumnya di kapel Karya Kasih – Jl. Mongonsidi. Sehingga jumlah umat di Paroki saat ini sebanyak 1.474 KK (5.431 jiwa). Demikian Paroki St. Antonius dari Padua ini dilayani oleh Pastor Kapusin selama seratus tujuh tahun (1915 – 2022; Kecuali 1968 – 1970 oleh pastor Cornelius Kwee OCarm), tentu punya cita dan cerita sejarah yang panjang. Kini paroki ini dilayani oleh dua orang imam yaitu RP. John Rufinus Saragih, OFMCap sebagai Parochus, RP. Paulinus M. Simbolon, OFMCap, sebagai vicaris parokial dan RP. Yosafat Ivo Sinaga OFMCap sejak 01 September 2022 tidak lagi sebagai vicaris parokial.

    Di gereja paroki setiap Selasa diadakan Misa Novena untuk menghormati pelindung paroki yaitu Santo Antonius dari Padua, dan biasanya dihadiri oleh orang muda dan orang tua, sementara setiap hari Sabtu sebelum Misa sore diadakan Novena untuk menghormati Bunda Maria Penolong Abadi, kebanyakan dihadiri oleh orang-orang muda, bahkan yang tidak Katolik juga turut berdoa novena.

    1. Stasi St. Yosep – Dr. Mansyur
    Diprakarsai oleh Bapak Laurentius Sayangen Barus, seorang katekis yang tadinya pemuka agama Protestan (pertua GBKP) dari Tigalingga, Kabupaten Dairi. Dia mengumpulkan, beberapa jemaat warga Katolik yang berasal dari suku karo dan berdomisili di Jl. Dr. Mansur dan sekitarnya yang letaknya jauh dari Paroki Santo Antonius dari Padua dengan iman yang teguh dan kokoh, berkumpul dan berdoa bersama-sama secara rutin dan kemudian membentuk lingkungan doa jalan Dr. Mansur sekitarnya. Mereka adalah umat yang telah memeluk agama Katolik dan yang masih belum memeluk salah satu agama tetapi berniat memeluk agama Katolik.

    Pada tahun 1964, Bapak Laurentius Sayangen Barus yang biasa dipanggil dengan Pa Barus menghimpun umat Katolik, membimbing dan memimpin doa dan ibadat bersama setiap hari Minggu, Bapak Laurentius S. Barus juga memberikan pelajaran agama Katolik bagi para katekumen baru yang berminat menjadi umat Katolik. Rumah Bapak Laurentius S. Barus dijadikan sebagai tempat belajar agama Katolik, juga sebagai tempat beribadat dan setelah itu mereka dibaptis atau diterima. Gereja/jemaat yang baru berdiri ini mengalami pertumbuhan iman yang luar biasa. Mengingat jarak tempuh yang cukup jauh dari sekitar Jl. Dr. Mansur ke Gereja Hayam Wuruk dan transportasi belum ada, maka dibangunlah sebuah Gereja Sederhana di Jl. Dr. Mansur.

    Para jemaat perdana ini mulai mengumpulkan dana maupun hasil ladang mereka (padi). Dengan keterbatasan kemampuan ekonomi dan semangat yang tinggi dan kuat serta kebersamaan yang teguh, maka pada tahun 1964, mereka dapat membeli sebidang tanah milik Bapak Taman Sinuhaji, terletak di Jl. Dr. Mansur dengan ukuran 100 M x 40 M dan direncanakanlah untuk membangun sebuah gedung gereja semi permanen dan sederhana.

    Para jemaat perdana tidak hanya menyumbang dari keterbatasan mereka, tetapi mereka juga terlibat secara langsung dalam pekerjaan pembangunan fisik Gereja. Kemauan keras dan niat yang tulus dengan semangat gotong royong yang sangat tinggi dari jemaat perdana dibangunlah sebuah gedung gereja dengan lantai semen seluas 84m2, dengan ukuran 7 m x 12 m, rangka kayu meranti kelas satu, dinding beton setinggi 1 m dan sisanya papan. Dengan dibangunnya gereja tersebut maka pada Tanggal 15 April 1967 Pastor Paroki meningkatkan status lingkungan Santo Yoseph menjadi Stasi Santo Yoseph.

    Seiring dengan berjalannya waktu, gereja yang tadinya hanya berukuran 7 x 12 meter sudah tidak sanggup lagi menampung jemaat beribadah. Sehingga pada tahun 1965 – 1966 dilakukan renovasi terhadap bangunan gereja dengan menambah panjang 9 meter sehingga bangunan hasil renovasi ini menjadi 7 x 21 meter. Setelah selesainya renovasi ini maka pada tanggal 15 April 1967 Pastor Johanes Marsinus Brans, OFMCap meresmikan gereja stasi St. Yoseph Dr. Mansyur Medan.

    Pada Tahun 1984 dilakukan pembangunan Gereja yang kedua. Pengumpulan dana pembangunan gereja dimulai pada waktu itu. Dalam jangka waktu yang cukup lama, walaupun dana yang menjadi tanggungan umat stasi belum mencapai target, pihak Keuskupan Agung Medan mulai mendirikan bangunan gedung gereja baru di samping kiri bangunan gereja lama, dengan ukuran 12 m x 29 m. Jarak antara dinding gedung gereja lama dan baru + 1m. Sehingga pada tanggal 19 September 1993 gedung gereja baru ini diberkati pemakaiannya oleh YM. Uskup Agung Medan.

    Pada tahun 1997 atas prakarsa P. Johannes Veldkam, OFMCap dibangun sebuah gua Maria, di lokasi tanah Gereja Katolik Stasi Santo Yoseph. Gua Maria ditempatkan pada sudut kanan belakang gereja.Pembangunan gua Maria juga sudah dilakukan renovasi satu kali. Dengan dilakukan renovasi gua Maria dibangun juga pagar di sekitar gereja untuk menjaga keamanan lingkungan Gereja.

    Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan penduduk kota Medan, atas inisiatif Pastor Karolus Sembiring, OFMCap, pada tanggal 17 Januari 2010 dicanangkan renovasi dan pengembangan tahap II. Setelah proses dan pengumpulan dana pada Juli 2011 dilaksanakan peletakan batu penjuru renovasi dan pembangunan tahap II. Pada tanggal 20 Juli 2013 Panitia pembangunan mengadakan konser Rohani “Muliakanlah Tuhan” yang di Ketuai oleh Bapak Ruben Simangunsong di Hotel Santikan Dyandra, sehingga terkumpullah dana sejumlah + Rp. 400 juta. Dengan terkumpulnya dana tersebut renovasi fisik bangunan gedung gereja dapat diselesaikan pada Februari 2015. Ukuran gedung dari keadaan lama berubah menjadi 42 m x 19 m dengan daya tampung 700 orang. Lalu pada tahun 2022 atap gereja yang lama dan “palas-palas” telah diganti dengan biaya yang cukup besar dan dana seluruhnya diusahakan oleh umat sendiri. Sehingga Jumlah umat sekarang ini ada 188 KK (699 jiwa) 5 lingkungan.

    2. Stasi St. Maria Pintu Surga - Sei Agul
    Pada Agustus 1965, beberapa umat Katolik yang tinggal di Sei Agul, selama dua tahun, setiap hari Minggu merayakan imannya di gereja Hayam Wuruk dengan berjalan kaki atau bersepeda. Jarak tempuh dari Sei Agul ke Hayam Wuruk sekitar 4 km. Seusai merayakan Ekaristi di gereja, umat di Sei Agul dan di sekitar Pabrik Tenun Kampung Sekip membuat pertemuan rutin. Pada bulan Juli 1967, mulailah dijajaki kemungkinan untuk mendirikan gereja di Sei Agul, dan bulan Agustus 1968 diadakan pertemuan pertama. Dalam pertemuan itu, peserta sepakat untuk mendirikan gereja Katolik di Sei Agul. Setelah didata, selanjutnya dilaporkan kepada Pastor Paroki. Paroki menyetujui dan menghunjuk Pastor Cornelius Kwee, O.Carm menjadi penanggung jawab pembangunan gereja di Sei Agul. September 1968, dalam acara makan bersama diputuskan untuk mendirikan gereja Katolik di Sei Agul. Nama pelindung gereja berdasarkan saran dari Pastor Cornelius Kwee, O.Carm yakni Gereja Katolik St. Maria Pintu Surga. Tempat sementara gereja ini di rumah keluarga Bapak Lim dengan lantai tanah. Demikianlah kurang lebih 2 tahun umat beribadat dengan duduk di atas tikar lalu berkembang dengan adanya bangku darurat yang dibuat dari batang bambu. Tahun 1969 direncanakan untuk membeli tanah pertapakan gereja ukuran 30 x 40 m. Dengan semangat yang tinggi, umat mengumpul dana, untuk pembelian tanah dan rencana pembangunan. Atas kerjasama anggota, Pastor Paroki dan Keuskupan, gereja pun dibangun. Pada tahun 1970, bangunan gereja diresmikan. Pada tahun ini juga terjadi pergantian Pastor Paroki dan sekaligus dibentuk juga kepengurusan yang lebih permanen. Usaha-usaha selama masa kepengurusan ini, pada tahun 1975 didirikan SD Katolik disamping Gereja. Demikianlah kepengurusan tersebut berlangsung selama kurang lebih 21 tahun, sampai berdirinya bangunan gereja pada tanggal 2 Agustus 1990. Pada saat itu juga lah terjadi perubahan kepengurusan yang baru.

    Pada bulan Oktober 2018, dirayakan Pesta Jubileum 50 Tahun berdirinya Gereja Katolik Santa Maria Pintu Surga Sei Agul. Perayaan ini dibentuk panitia Jubileum dan dilaksanakan dengan meriah. Misa perayaan Jubileum ini dipimpin oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga, dengan Pastor Paroki RP. John Rufinus Saragih, OFMCap. Seiring dengan perkembangan penduduk maka pada tahun 2022 jumlah umat mencapai 223 KK (861 jiwa).

    4. Stasi St. Fransiskus Xaverius – Sunggal
    Pada tahun 1961 beberapa umat Katolik berdomisili di Desa Tapian Nauli – Sunggal sekitarnya yang kebanyakan berasal dari Pulau Samosir. Mereka merindukan tempat yang menetap untuk beribadat atau Perayaan Ekaristi. Maka, pada Oktober 1962 diadakan ibadat perdana di Rumah Op. Luhut Sitanggang yang terletak di Desa Tapian Nauli Sunggal (sekarang Jl. Bersama Pasar 3 Tapian Nauli-Sunggal). Pada saat itu secara aklamasi ditetapkan Op. Luhut sebagai Voorhanger, Op. Rio Naibaho sebagai sekretaris dan dibantu beberapa orang pengurus lain. Kepengurusan ini bersifat sementara, belum secara resmi dilaporkan kepada Pastor Paroki. Tahun 1989 dibentuk 3 lingkungan doa, dan akhirnya Gereja resmi berdiri 18 Oktober 1967.

    Pada bulan Oktober 2017 yang lalu dirayakan Pesta Jubileum 50 Tahun Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius – Sunggal. Perayaan pesta ini dilaksanakan dengan membentuk panitia Pesta Jubileum dan dihadiri oleh semua umat. Misa berlangsung meriah yang dipimpin oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga dan didampingi oleh Pastor Paroki (RP. John Rufinus Saragih, OFMCap), P. Raymond dan P. James dari Velangkanni. Dalam Misa khusus pada saat homili Uskup menyampaikan harapan bahwa semua umat Katolik khususnya pada Fokus Pastoral KAM 2017 ini, iman umat semakin bertumbuh. Seiring dengan perkembangan jumlah umat, pada tahun 2022 ini tercatat, 6 lingkungan, dengan jumlah umat stasi St. Fransiskus Xaverius – Sunggal mencapai 177 KK (826 jiwa).

    4. Kapel Karya Kasih
    Kapel Karya Kasih ini didirikan oleh Pastor Antonius Siegfried van Dam, OFMCap. Karya Kasih statusnya bukanlah stasi seperti gereja stasi lain, walaupun demikian setiap Minggu dirayakan Ekaristi yang dilayani oleh pastor dari komunitas Hayam Wuruk. Umat yang hadir pada perayaan Ekaristi ialah beberapa penghuni lansia Karya Kasih, para suster KSSY yang berkarya di rumah lansia dan umat sekitar. Di tempat ini dibangun kapel yang sebenarnya tujuan awalnya adalah untuk para suster dan para penghuni lansia Karya Kasih, tetapi dalam perjalanan waktu ternyata umat yang berada di sekitarnya ikut menghadiri Misa setiap hari Minggu. Pada tahun 2020 karena pandemi covid-19 membuat Karya Kasih lock down. Kapel pun tidak bisa dipakai. Maka + 2 tahun umat, yang biasanya bergereja ke Karya Kasih, merayakan Ekaristi ke Gereja Paroki Jl. Hayam Wuruk. Kesulitan muncul karena tidak semua umat memiliki kendaraan, maka atas prakarsa Pengurus Lingkungan dicarilah dan disewa rumah selama dua tahun ke depan.

    Pada bulan Desember 2021 rumah yang disewa tersebut digunakan umat sebagai tempat ibadah dan disebut sebagai “Rumah Doa Polonia”. Dengan perkembangan dan pertumbuhan umat di wilayah Polonia tersebut maka jumlah umat pada tahun 2022 ini tercatat 90 KK (384 jiwa) sebanyak 3 lingkungan.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki P. Siantar Jalan Sibolga

    0
     
    Pelindung
    :
    Santo Laurentius Brindisi
    Buku Paroki
    :
    Sejak 1 Juli 1931. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan.
    Alamat
    :
    Jl. Sibolga 21, Pematangsiantar - 21121
    Telp./HP.
    :
    0622 - 21400
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    1.447 KK / 5.495 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    2
     
    01. St. Maria Lourdes, Marihat
    02. St. Klara Asisi, Pematang Siantar
    RP. Markus Manurung OFMCap
    05.01.'68
    Parochus



         
         
         
         

    Sejarah Paroki St. Laurentius Brindisi - Jl. Sibolga , Pematang Siantar

    1. Gereja Katolik di Pematangsiantar
    Gereja Katolik di Pematangsiantar didirikan pada 3 Juli 1931 oleh seorang misionaris asal Belanda, Pastor Aurelius Kerkers OFMCap. Tanggal pendirian ini ditetapkan karena sejak itulah Pastor Aurelius menetap di Pematangsiantar, awal misi Gereja Katolik seluruh Pematangsiantar dan sekitarnya. Sebuah rumah di Jl. Sekolah 18, Simpang Empat sekarang, disewa oleh Pastor Aurelius menjadi tempat tinggal dan sekaligus sebagai gereja. Pada tahun 1931 itu pula Pastor Aurelius mengangkat seorang katekis pertama yakni Kenan Hutabarat (yang terkenal dengan sebutan PENDETA). Bahkan atas kerjasama Pastor dan Kenan Hutabarat untuk membuat suatu buku pegangan bagi umat Katolik, disusunlah suatu Booklet Agama dengan judul Hoeria ni Jesus Christus ima Hoeria Katholiek. Buku ini bahasanya diperhalus oleh Katekis Bonifasius Panggabean.
    Berhubung pekerjaan Pastor Aurelius Kerkers semakin hari semakin banyak, maka pada tahun 1932 datanglah Pastor Sybrandus van Rossum di Pematangsiantar.
    Pada tahun 1932 Pastor Aurelius Kerkers mendirikan Sekolah HIS (Hollands Indlandse School) yang berbahasa Belanda untuk mendidik para umat, pada saat itu tempat belajar masih bersama-sama dengan rumah Pastor yang berada di Simpang Empat. Pastor Aurelius melihat masa depan sekolah dan gereja di Pematangsiantar cukup cerah. Karena itu ia membeli sebidang tanah seluas 1,5 ha di Jl. Sibolga. Di atas tanah ini dibangun pastoran, sekolah, gereja, dan susteran. Tempat ini kemudian menjadi pusat Katolik di Pematangsiantar. Dari sini, di mana Pastor Aurelius sebagai pastor kepala, misi mulai bergerak ke daerah Simalungun, Karo, dan Toba setelah pemerintah kolonial memberi izin pada 17 Desember 1933.
    2. Pengembangan Misi
    Pengembangan misi digencarkan setelah izin itu ada. Stasi-stasi baru didirikan. Stasi pertama adalah Laras, menyusul stasi-stasi lain di daerah Simalungun, Tapanuli, Karo, dan Sidikalang. Pangkalan misi ketika itu adalah Pematangsiantar.
    Pastor Elpidius van Duijnhoven OFMCap., yang ditempatkan di Pematangsiantar pada 16 Februari 1934, mendirikan stasi-stasi di sekitar Pematangsiantar antara lain Sawahdua. Tetapi sayang, perkembangan umat sangat terganggu karena meletus Perang Dunia II pada tahun 1940.
    3. Pembangunan Gereja Induk
    Awalnya gereja di Jl. Sibolga dibangun di samping susteran. Kebutuhan gedung lebih besar makin nyata, maka Pastor Aurelius membangun sebuah gereja besar yang sekarang dikenal dengan gereja Santo Laurentius Brindisi. Pemakaian gereja baru ini diresmikan pada 11 November 1934. Gedung inilah kemudian menjadi gereja induk di Pematangsiantar. Saat peresmiannya telah ada 12 stasi, 3 orang pastor, 4 orang suster, dan 528 orang umat yang terdiri dari 260 Eropa, 268 Tionghoa dan pribumi.
    4. Masa Sulit – Karya Misi Terus Berkembang
    Tahun 1942 Jepang berkuasa di Indonesia. Semua misionaris termasuk kemudian Pastor Aurelius Kerkers ditangkap dan dibawa ke penjara. Misi diteruskan oleh para katekis awam yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
    Pastor Aurelius setelah dibebaskan dari penjara pada 20 Oktober 1945 tinggal di Medan. Pada bulan Oktober 1947 ia bersama beberapa suster van Schjindel memberanikan diri kembali ke Pematangsiantar. Situasi mulai aman dan normal.
    Pada tahun 1949 Pastor Aurelius Kerkers diganti oleh Pastor Werenfridus Joosen OFMCap. Ia bekerja melayani umat dengan segala hati dan kemampuannya. Pastor Werenfridus meninggal karena serangan jantung pada 12 September 1954 dan dikebumikan pada 13 September 1954 di pemakaman Jl. Sibolga.
    Pastor Werenfridus Joosen OFMCap. digantikan oleh Pastor Walterus Derksen OFMCap. dari tahun 1955 sampai dengan Februari 1960. Pastor Walterus kembali ke Negeri Belanda dan meninggal di sana 20 September 1961.
    Pastor Walterus Derksen OFMCap. digantikan oleh Pastor Godhard Liebreks OFMCap. dan memimpin Paroki Santo Laurensius Brindisi dari tahun 1961-1986.
    Luas wilayah paroki hampir sama dengan Kabupaten Simalungun, mulai dari Laras sampai Tigaras, mulai dari Dolog Simbolon sampai Girsang Sipanganbolon.
    5. Paroki Pematangsiantar Menjadi Paroki St. Laurentius Brindisi
    Pemekaran Paroki Pematangsiantar dimungkinkan karena sejak tahun 1967, hampir setiap tahun ada penahbisan imam pribumi. Sementara itu, misionaris Kapusin Belanda masih diizinkan masuk ke Indonesia hingga tahun 1971.
    Paroki Pematangsiantar sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1986, telah mekar menjadi 4 Paroki: Jl. Sibolga, Jl. Medan, Jl. Bali, Tanah jawa. Paroki St. Laurentius Brindisi, induk dari paroki-paroki itu, sejak Desember 1986 menjadi Paroki kota tanpa stasi.
    6. Rencana Pembangunan Gereja di Tomuan
    Setiap tahun jumlah umat bertambah pesat. Karena itu, dipikirkan pembangunan gereja baru di Tomuan, di atas tanah seluas 4000 M2 yang dibeli Pastor Liebreks tahun 1986. Gereja di Tomuan belum dibangun sampai sekarang ini.
    7. Pembangunan Sekretariat Paroki
    Kantor Paroki atau Sekretariat Paroki awalnya berada di bangunan pastoran bagian depan. Pada tahun 1987 tanah pertapakan di samping kiri Pastoran dibeli pada masa Pastor Marcelinus Manalu OFMCap. sebagai Parochus. Di atas tanah inilah akhirnya Sekretariat Paroki dibangun pada masa Pastor Thomas Saragi OFMCap. sebagai Parochus.
    Peletakan batu pertama dilaksanakan pada 2 Juli 2006 bersama perayaan pembukaan Jubileum 75 tahun Paroki Santo Laurentius Brindisi, dan peresmiannya pada tahun 2007. Bangunan ini merupakan “kado” bagi Paroki Santo Laurentius Brindisi dalam usianya yang ke-75 tahun.
    8. Gereja Santa Klara Jl. Farel Pasaribu
    Gereja Santa Klara merupakan perkembangan dari gereja St. Laurentius Brindisi Jl. Sibolga pada masa Pastor Thomas Saragi OFMCap. sebagai Parochus. Atas permintaannya, Mgr. Pius Datubara OFMCap. mengizinkan bangunan eks SD Budi Mulia 2, Jl. Farel Pasaribu (lebih dikenal Jl. Lapangan Bola Atas) dipoles menjadi kapel. Peresmiannya terjadi Minggu 23 April 2006. Ketika itu juga Wilayah Santa Klara serta pengurusnya diresmikan.
    Status kapel menjadi gereja Santa Klara dinyatakan dengan Surat Keputusan Uskup Agung Medan No. 362/PAR/PS.JS/KA/ VIII/’18 tertanggal 3 Agustus 2018.
    9. Pembangunan Gereja Santa Maria Lourdes Marihat
    Sekalipun gereja Santa Klara sudah dibangun, gereja Jl. Sibolga belum sanggup menampung kehadiran umat. Karena itu, Pastor Paroki Pastor Raymundus Sianipar OFMCap. memohon kepada Pengurus Yayasan Budi Mulia pada 18 Juli 2012, untuk menggunakan aula SMP Budi Mulia, Marihat sebagai tempat perayaan liturgi. Misa perdana dirayakan di tempat ini pada 12 Agustus 2012 serentak dengan peresmian Wilayah Marihat serta pengurusnya. Sementara itu dilaksanakan sosialisasi rencana pembangunan gereja baru di atas tanah seluas kurang lebih 5000 m2 yang telah dibeli oleh Bruder Anianus tahun 1994. Rencana ini ditanggapi umat dengan antusias.
    Ketika Pastor Monald Banjarnahor OFMCap. sebagai Parochus dilaksanakan peletakan batu pertama pada 10 Februari 2013 dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Pius Datubara OFMCap. Gereja ini didedikasikan pada perayaan 27 November 2016 yang dipimpin Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap.
    10. Para Gembala Dari Awal Pendirian Sampai Sekarang
    Berikut para Pastor, sebagai Parochus atau Pastor Rekan (Vikaris Parokial) yang pernah menggembalakan Paroki Santo Laurentius Brindisi.
    Selain para Pastor yang disebut di atas, masih banyak Pastor yang pernah berkomunitas di Pastoran Jalan Sibolga 21 Pematangsiantar, dalam penggembalaan di Stasi/Paroki lain atau tugas khusus lainnya.
    1) Pastor Aurelius Kerkers OFMCap.
    Parochus: Tahun 1931-1949

    2) Pastor Werenfridus Joosen OFMCap.
    Parochus: Tahun 1949-1954.

    3) Pastor Walterus Derksen OFMCap.
    Parochus: Tahun 1955-1960

    4) Pastor Godehardus Liebreks OFMCap.
    Parochus: Tahun 1961-1986

    5) Pastor Marcelinus Manalu OFMCap.
    Parochus: Tahun 1986 s/d Agustus 1991

    6) Pastor Bonifasius Manullang OFMCap.
    Parochus: September 1991 s/d April 1992

    7) Pastor Johannes Simamora OFMCap.
    Parochus: Mei 1992 s/d September 2005

    8) Pastor Thomas S. Saragi OFMCap.
    Parochus: Tahun 2005 s/d Oktober 2010

    9) Pastor Yustinus Turnip OFMCap.
    Diakonat dan Imam Baru: Tahun 1-8-2007 s/d 2008

    10) Pastor Raymundus Sianipar OFMCap.
    Pastor Rekan (Vikaris Parokial): Agustus 2009
    Parochus: Nopember 2010 s/d Agustus 2012
    11) Pastor Kosmas Tumanggor OFMCap.
    Pastor Rekan (Vikaris Parokial): Tahun 2000 s/d 1-9-2018

    12) Pastor Jumperdunan Manik OFMCap.
    Diakonat: 15-8-2017 s/d 26-1-2018
    Sebagai Imam baru: 26-1-2018 s/d 14-3-2018

    13) Pastor Monald Banjarnahor OFMCap.
    Parochus: 15-8-2012 s/d 30-8-2018
    Vikaris Parokial: 1-9-2018 s/d Mei 2019

    14) Pastor Leopold Purba OFMCap.
    Parochus: 1 September 2018 s/d 30 Juni 2020.
    Sejak 1 Juli 2020 non aktif sebagai Parochus karena sakit.

    15) Pastor Ivan Adelbert Siallagan OFMCap.
    Vikaris Parokial: 1 Agustus 2019 s/d sekarang

    16) Pastor Emmanuel J. Sembiring OFMCap.
    Administrator Paroki: 1 Juli 2020–31 Maret 2021
    KEADAAN UMAT
    Umat Paroki ini terdiri dari berbagai etnis, antara lain: Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Tionghoa, Nias, Jawa, Flores.
    Umat per 5 Maret 2021 berjumlah 1.366 Kepala Keluarga dan 5.183 jiwa, yang tersebar di 58 lingkungan.
    KEGIATAN/KARYA PELAYANAN
    Kegiatan/karya pelayanan Paroki ini didasarkan pada 5 (lima) pilar hidup menggereja. Semua Seksi di Paroki ini berupaya mengembangkan setiap pilar sesuai dengan bidangnya dalam kebijakan DPPH. Pada setiap Seksi ada utusan DPPH sebagai penyambung antara Seksi dan DPPH.
    Dengan kata lain, setiap Seksi adalah perpanjangan tangan Pastor Paroki/DPPH.
    1. Kerygma (Pewartaan)
    Bidang Kerygma (Pewartaan) diemban oleh Seksi Paroki sebagai berikut:
    • Seksi Katekese
    • Seksi Komsos
    • Seksi KKS
    • Seksi Evangelisasi
    • Seksi Panggilan Suci
    2. Leitourgia (Liturgi)
    Bidang Leitourgia (Liturgi) dikembangkan oleh Seksi Paroki sebagai berikut:
    • Seksi Liturgi
    - Musik Liturgi
    - Liturgi Anak
    - Pembagi Komuni Tak Lazim (PKTL)

    • Tata Perayaan Sakramen
    - Perayaan Pembaptisan
    - Perayaan Penguatan/Krisma
    - Perayaan Ekaristi dan Komuni Pertama
    - Tobat dan Pendamaian
    - Pengurapan Orang Sakit
    - Imamat
    - Perkawinan

    • Tata Perayaan Sakramentali
    - Aneka Pemberkatan
    - Pelantikan (Lektor, Akolit, Katekis)
    - Eksorsisme
    - Perayaan Pemakaman
    - Perayaan Penerimaan Resmi
    • Devosi/Ulah Kesalehan
    • Paraliturgi (Ibadat Sabda/Doa Lingkungan/Rapat)
    • Perayaan Pelindung
    3. Diakonia (Pelayanan)
    Bidang Diakonia (Pelayanan) dikembangkan oleh Seksi Paroki sebagai berikut:
    • Seksi PSE
    • Seksi Aksi Puasa Pembangunan
    • Credit Union
    • Seksi Kesehatan
    • BPPG
    • Seksi Pembangunan
    4. Koinonia (Persekutuan)
    Bidang Koinonia (Persekutuan) dikembangkan oleh Seksi Paroki sebagai berikut:
    • Seksi Keluarga
    • Santa Monika
    • Kumpulan Ibu/PIK
    • Seksi Kepemudaan/OMK
    • ASMIKA/SEKAMI
    • Kerahiman Ilahi
    • Legio Maria
    • Persekutuan Karismatik Katolik
    5. Martyria (Kesaksian)
    Bidang Martyria (Kesaksian) dikembangkan oleh Seksi Paroki sebagai berikut:
    • Seksi HAK
    • Seksi Kerawam: WKRI-PMKRI-FMKI-Pemuda Katolik
    • Seksi Pendidikan
    HARAPAN/CITA-CITA KE MASA DEPAN
    Rasul Paulus berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakakan: Bersuka-citalah” (Filipi 4:4). Seruan ini merupakan ciri umat beriman yang penuh sukacita dan pengharapan, pantang menyerah bila mengalami tantangan dan kesulitan, tidak mundur atau berhenti walaupun mengalami hambatan dan penderitaan dalam perjalanan hidup. Tidak ada paska kemenangan tanpa salib, sebagaimana terjadi dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.
    Dalam mewujudkan pelayanan umat, seluruh umat beriman harus berupaya membuat yang terbaik sesuai dengan kharisma dan talenta masing-masing. Pada masa sulit pun, kita harus tetap bersemangat dalam iman, harap, dan kasih.
    Di masa depan kita tetap mengharapkan perkembangan umat, baik dari kualitas dan kuantitas yang antara lain tampak melalui pemekaran lingkungan. Untuk pengembangan ini dibutuhkan fasilitas pastoral yang memadai dan menjawab tuntutan zaman. Kita juga membutuhkan tenaga-tenaga pastoral yang mumpuni baik tertahbis maupun tak tertahbis.
    Untuk menggerakkan seluruh pelayanan ini kita dipanggil semakin membenahi Sekretariat Paroki sebagai dapur pastoral dan pusat pelayanan. Sekretariat Paroki mestilah memiliki data akurat, sistem pengelolaan pastoral yang baik, efektif, dan efisien yang berbasis data.
    Dalam semangat kesatuan Gereja Keuskupan Agung Medan, kita wajib mewujudkan setiap pelayanan seturut kebijakan Keuskupan Agung Medan seperti implementasi Sinode VI 2016, keputusan-keputusan Vikariat, arahan-arahan Uskup Agung Medan.
    Pantaslah diingat bahwa Paroki ini merupakan paroki tertua di Pematangsiantar dan sekitarnya, dan telah memekarkan sejumlah paroki. Fakta ini seharusnya menjadi pemicu semangat untuk semakin memajukan dan mengembangkan setiap pelayanan. Fakta lain, Paroki ini sangat kaya akan suku dan budaya, dikitari oleh banyak sekolah Katolik, lembaga kesehatan, dan sejumlah tarekat religius, yang sangat potensial bagi pengembangan karya pastoral Paroki ini. Semuanya ini harus dirawat dalam terang cahaya Injil.
    Untuk mewujudkan harapan dan cita-cita ini, umat beriman haruslah memiliki 3 (tiga) habitus yakni: kedisiplinan, kerja keras, dan peduli keuangan Paroki. Ketiga habitus ini hendaknya menjadi bingkai atau dasar kehidupan seluruh kegiatan Paroki, yang menjadi poros kegiatan bersama.
    Lokasi Paroki :