Karya pendidikan Katolik dipanggil terutama untuk membentuk manusia seutuhnya. Dengan visi itu, Rapat Tri Organ Yayasan Pendidikan Katolik Don Bosco diselenggarakan pada 20 – 21 Februari 2026, di ruang Kolegium Konsultor lantai 2 gedung Catholic Center Christosophia, Keuskupan Agung Medan. Pertemuan ini hendak menyatukan visi, mengevaluasi pelayanan dan merumuskan langkah strategis bagi keberlanjutan pendidikan Katolik.
Evaluasi karya dan mutu pelayanan diadakan pada hari pertama. Para pembina, pengawas, dan pengurus yayasan secara penuh menyimak laporan program serta karya pendidikan yang telah dijalankan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mencakup tata kelola sekretariat, sarana dan prasarana, serta mutu pendidikan, termasuk pembinaan iman dan karakter. Evaluasi ini kembali meneguhkan dan menyemangati peserta akan panggilan untuk menghadirkan sekolah Katolik yang bermutu dan berakar pada nilai-nilai Injili.
Hari kedua berfokus pada penetapan arah dan prioritas strategis. Dalam dialog yang terbuka, Tri Organ bersama-sama merumuskan program yang selaras dengan visi dan misi yayasan, mengoptimalkan sumber daya manusia dan sarana, serta memperkuat koordinasi dan sinergi pelayanan. Dengan bimbingan Bapa Uskup dan dukungan doa umat, rapat ini diharapkan menghasilkan keputusan yang konkret bagi pertumbuhan peserta didik serta keberlanjutan karya pendidikan Katolik di Keuskupan Agung Medan. Bagi setiap yayasan di bawah payung Keuskupan Agung Medan, rapat Tri Organ merupakan momen pembaruan komitmen untuk melayani dengan setia, profesional, dan penuh tanggung jawab dalam bingkai sinodalitas.
Peluncuran Program RISE HOME (Resilient, Inclusive, Sustainable Economic & Housing for Empowerment) pada tanggal 27 Februari 2026 di Catholic Center Keuskupan Agung Medan meneguhkan harapan baru bagi keluarga-keluarga yang terdampak bencana alam pada November 2025. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup secara resmi membuka program pemulihan, menyusul tahap tanggap darurat bencana yang telah terlaksana dengan baik. Program yang digagas oleh Caritas Keuskupan Agung Medan bekerja sama dengan Caritas Indonesia ini berfokus pada usaha pemulihan holistik, yakni pemulihan ekonomi keluarga melalui dukungan mata pencaharian, bantuan pendidikan bagi anak-anak agar mereka dapat kembali belajar dengan tenang, serta penyediaan hunian yang aman dan layak sebagai dukungan dasariah bagi kehidupan yang bermartabat.
Melalui program ini, Gereja, seraya menanggapi kebutuhan mendesak akibat bencana, terlibat aktif dalam membangun kembali martabat dan ketahanan masyarakat. Pada saat yang sama, Caritas Keuskupan Agung Medan dan Caritas Indonesia menyampaikan apresiasi yang tulus kepada seluruh umat Allah yang telah menunjukkan solidaritas kasih melalui dukungan dan donasi bagi para korban bencana. Semoga upaya kasih ini sungguh membantu keluarga-keluarga terdampak untuk perlahan bangkit, memulihkan penghidupan, dan menata kembali masa depan dengan penuh harapan.
Sidang Dewan Presbiteral Keuskupan Agung Medan berlangsung di ruang DEPKAM, lantai 3 Catholic Center Christosophia, pada tanggal 2 – 4 Maret 2026. Pertemuan selama tiga hari ini diawali dengan Ibadat Sore bersama yang dipimpin oleh para petugas yang sudah ditentukan oleh Sekretariat DEPKAM. Sidang yang sangat penting ini menegaskan bahwa seluruh dinamika pastoral Gereja harus berakar pada doa dan penyerahan diri pada bimbingan Roh Kudus. Sidang ini adalah saat berahmat untuk pertama-tama mendengarkan yang dikehendaki Tuhan dalam pelayanan Gereja lokal. Salah satu pokok penting yang dibahas dalam sidang ini ialah rencana pemekaran paroki yang diajukan oleh umat bersama Pastor Paroki dan Vikaris Teritorial. Melalui dialog yang jujur dan terbuka, para imam memberikan pertimbangan pastoral kepada Uskup mengenai kebutuhan perluasan wilayah pelayanan agar Gereja semakin hadir dekat dengan umat dan pelayanan sakramen dapat menjangkau lebih banyak orang. Setelah lama didiskusikan dalam sidang-sidang DEPKAM sebelumnya, pada kesempatan ini dipaparkan kembali apa hakikat DEPKAM dan apa fungsinya.
Dewan Presbiteral adalah organ representatif para imam yang bertugas membantu Uskup dalam pelayanan pastoral keuskupan dengan memberikan nasihat dan pertimbangan demi kebaikan umat. Secara teologis, keberadaan dewan ini berakar pada eklesiologi persekutuan yang ditekankan oleh Konsili Vatikan II, yakni kolegialitas antara Uskup dan para imam dalam satu persekutuan pelayanan. Dalam kerangka ini, Dewan Presbiteral ikut membangun kerja sama dalam pelayanan, mencerminkan struktur hirarkis Gereja, dan mengambil bagian dalam proses pengambilan keputusan pastoral. Motu Proprio Ecclesiae Sanctae yang dikeluarkan Paus Paulus VI menggariskan tugas Dewan Presbiteral untuk mengkaji dan memberikan nasihat mengenai kegiatan pastoral dengan tujuan membangun kesatuan dalam pelayanan. Kitab Hukum Kanonik menegaskan dewan ini sebagai “senat Uskup” yang membantu pemerintahan keuskupan secara pastoral. Dengan demikian, Dewan Presbiteral secara esensial merupakan realitas teologis yang menampakkan persekutuan pelayanan apostolik dalam Gereja.
DEPKAM wajib terlibat aktif dalam pendampingan para imam yang berkarya di Keuskupan Agung Medan. Tugas ini sudah dijalankan oleh Tim OGF (ongoing formation), yang sejak Desember 2024 dipisahkan dari DEPKAM menjadi tim tersendiri yang langsung berada di bawah arahan Bapa Uskup. Diinspirasi oleh studi imam yang usia tahbisannya di atas 21 tahun yang dikoordinir oleh OGF Regio Sumatera, Bapa Uskup menyatakan keprihatinannya akan para imam yang sungguh membutuhkan pendampingan dan pendidikan berlanjut. Oleh karena itu, pada hari terakhir Sidang DEPKAM, semua peserta menyatakan persetujuannya agar Bapa Uskup membentuk satgas untuk menyusun kurikulum pembinaan imam berlanjut sesuai dengan kelompok usia tahbisannya, yakni 0 – 1 tahun, 2 – 5 tahun, 6 – 10 tahun, 10 – 20 tahun, dan 21 tahun ke atas. Program pendampingan ini diharapkan semakin membantu para imam menyadari tugasnya untuk menguduskan, mengajar, dan memimpin umat. Agar mampu menghayati imamatnya dengan baik, imam perlu membina intimitas yang semakin mendalam dengan Yesus Kristus, sehingga mampu menjawab tantangan zaman dan hidup semakin sesuai dengan Injil.
Sidang DEPKAM menghadirkan secara nyata Gereja Keuskupan Agung Medan sebagai komunitas yang hidup dari doa, berjalan dalam semangat sinodal, dan memelihara para gembalanya agar semakin mampu menggembalakan umat dengan hati yang menyerupai hati Kristus. Semoga para imam semakin mengalami persaudaraan satu sama lain dan sekaligus bersatu dengan Bapa Uskup dalam penggembalaan umat Keuskupan Agung Medan.
DPPH, Panitia Revitalisasi Gereja, dan Pembangunan Aula Hayam Wuruk berdiskusi dengan Bapa Uskup pada tanggal 5 Maret 2026 di Catholic Center. Dalam sambutan pembukaan, Bapa Uskup mengajak para peserta audiensi untuk melanjutkan pembangunan aula yang terhubung dengan Catholic Center serta revitalisasi Gereja St. Antonius Padua demi tata ruang yang lebih layak dan fungsional. Panitia melaporkan kegiatan revitalisasi gereja yang sudah mencakup perbaikan pagar, plafon, tata hijau, ruang sakramen tobat, pembangunan sanctuarium, façade, dan menara yang ditargetkan selesai menjelang HUT ke-111 paroki. Dalam hal keuangan, dicatat adanya potensi double counting antara laporan panitia dan paroki sehingga dibutuhkan pelaporan yang lebih terintegrasi dan transparan. Uskup memberi catatan mengenai desain: paroki harus tetap menjadi ruang pertemuan umat, sanctuarium dan menara perlu dirancang agar menonjolkan keindahan dan daya Tarik, sementara façade gereja perlu diperhalus agar lebih serasi.
Terkait pembangunan aula baru, dilaporkan bahwa sertifikat tanah sudah terbit, PKR dan IMB/PBG sedang diproses, dan pembongkaran aula lama menunggu izin resmi serta proses tender. Panitia mengajukan dukungan dana dari KSSY dan dana internal paroki, serta mulai menjalin komunikasi dengan calon donatur. Dr. Hendrik Sitompul menekankan perlunya struktur panitia yang kuat, adanya pengawas khusus, SOP pembangunan yang jelas, serta pola komunikasi yang tertata agar seluruh tim bergerak serentak. Bapa Uskup menambahkan bahwa struktur dan tupoksi harus dirumuskan dengan baik, rapat rutin dengan notulen yang ditindaklanjuti sangat penting, dan pembongkaran gedung lama sebaiknya dilakukan setelah sekitar 60% pendanaan terjamin. Aula baru diproyeksikan bukan hanya untuk umat Hayam Wuruk, tetapi untuk seluruh Kevikepan Medan dan kerja sama dengan berbagai lembaga Gereja. Lantai bawah difungsikan sebagai ruang berkumpul umat, bukan sekadar area parkir. Panitia, melalui R.P. Moses Situmorang, menyatakan siap menata kembali struktur dan SOP sesuai arahan.
Mengenai Kuasi Stasi Polonia, dilaporkan bahwa tanah seluas 14 x 80meter milik keluarga Hermes dihibahkan kepada Gereja dengan tujuan dipakai sebagai tempat untuk membangun gedung gereja tanpa kemungkinan untuk perubahan peruntukan. Draft perjanjian sedang disusun oleh notaris dan akan dikonsultasikan kepada Uskup, dengan perhatian khusus pada aspek hukum agar hak pakai Gereja terlindungi dalam jangka panjang meski sertifikat tetap atas nama pemilik. Desain gereja dua lantai berkapasitas sekitar 400 orang sudah tersedia, proses perizinan IMB/PBG sedang berjalan, dan persetujuan warga sekitar telah dipenuhi. Jika izin terbit tepat waktu, peletakan batu pertama direncanakan pada April 2026 dan diharapkan dipimpin langsung oleh Bapa Uskup. Bapa Uskup memberkati peserta audiensi sebagai peneguhan komitmen bersama untuk melanjutkan karya pembangunan dan revitalisasi secara tertib, akuntabel, dan selaras dengan visi keuskupan.
LP3KD Sumatera Utara beraudiensi kepada Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, pada tanggal 5 Maret 2026 untuk memaparkan identitas, kiprah 2023 – 2025, serta rencana Pesparani Sumut III tahun 2026 yang diposisikan sebagai sarana pembinaan iman melalui liturgi dan seni gerejani, bukan sekadar lomba. Disampaikan juga rencana Pesparani berjenjang hingga nasional, laporan singkat keuangan hibah dari Pemprovsu dan Kemenag, serta kebutuhan fasilitas pembinaan dan ruang pertemuan di gedung Catholic Center.
Mgr. Kornelius menyetujui secara prinsip penunjukan moderator imam yang menjembatani LP3KD dengan struktur Gereja, menekankan pentingnya koordinasi dengan wilayah pemerintahan (kecamatan/kabupaten) demi sinergi dengan pemerintah, serta perlunya penentuan lokasi Pesparani yang mempertimbangkan kapasitas panitia dan fasilitas. Bapa Uskup menegaskan kembali bahwa fokus utama Pesparani adalah pembinaan liturgi dan iman, dengan penilaian yang objektif dan bebas dari “suka-tidak suka”. Uskup juga mendorong pengenalan LP3KD di lingkungan para imam dan pengembangan pelatihan musik liturgi yang berkelanjutan. Pertemuan ditutup dengan doa dan berkat Uskup, menandai komitmen bersama menguatkan Pesparani sebagai karya pastoral Gereja di Sumatera Utara.
Pada tanggal 16 Maret 2026, Tim Centenario Fransiskan mengadakan audiensi dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, untuk meminta arahan berkaitan dengan Tahun Santo Fransiskus di Keuskupan Agung Medan. Menindaklanjuti dekret Paus Leo XIV tentang Yubileum 800 tahun wafatnya Santo Fransiskus (10 Januari 2026–10 Januari 2027), Gereja lokal KAM memilih untuk menghayatinya bukan sekadar sebagai rangkaian ziarah, melainkan sebagai masa rahmat untuk pembaruan hidup injili. Inti yang ditekankan adalah spiritualitas Fransiskan, yaitu hidup sederhana dan miskin menurut Injil, persaudaraan yang inklusif, damai (Pax et Bonum), rekonsiliasi dengan Allah dan sesama, serta kepekaan terhadap orang kecil dan kelestarian ciptaan.
Dengan tema “Fransiskus Pembawa Damai dan Saudara bagi Semua”, program tahun Yubileum di KAM dirancang sederhana namun terarah demi menjamin partisipasi umat yang maksimal. Umat diajak berziarah ke salah satu dari 37 tempat yang telah ditetapkan (paroki yang digembalakan oleh para imam Fransiskan, biara induk Fransiskan, dan gereja yang menjadikan St. Fransiskus sebagai pelindungnya), dengan kesempatan memperoleh indulgensi penuh bagi yang memenuhi syarat-syarat lazim, yakni pengakuan dosa, komuni, doa bagi intensi Paus, dan ziarah ke salah satu tempat yang telah ditetapkan. Ziarah dianjurkan dijalani dalam semangat tobat dan solidaritas, misalnya dengan berjalan kaki tanpa unsur komersial.
Di samping ziarah, Tim Centenario akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan formasi: katekese tentang spiritualitas Fransiskan dan indulgensi, dialog perdamaian lintas agama, seminar kaum muda tentang menjadi Katolik di era media sosial, serta rekonsiliasi Fransiskan dengan penekanan khusus pada Sakramen Tobat di wilayah pelayanan keluarga Fransiskan sepanjang tahun. Aksi profetis sosial dan ekologis juga akan dirumuskan secara lebih konkret sebagai wujud nyata hidup injili di tengah kemiskinan dan krisis lingkungan. Tahun ini diintegrasikan dengan dinamika Sinode Diosesan VII KAM sehingga semangat Fransiskan sungguh mewarnai pembaruan hidup menggereja.
Mgr. Kornelius menegaskan bahwa undangan Paus bersifat ajakan, bukan kewajiban, namun KAM menanggapinya secara positif dan aktif. Uskup akan mengeluarkan surat resmi yang mengundang seluruh umat KAM untuk mengambil bagian dalam Tahun Santo Fransiskus, dengan Keluarga Fransiskan sebagai motor penggerak yang bekerja sama dengan berbagai komisi keuskupan. Melalui perencanaan yang terkoordinasi dan penekanan kuat pada penularan spiritualitas, diharapkan Tahun Yubileum ini menjadi kesempatan bagi umat KAM untuk kembali menghidupi Injil secara lebih murni, sehingga damai dan kebaikan Pax et Bonum semakin nyata dalam hidup pribadi, komunitas, dan masyarakat luas. Melalui perayaan Yubileum ini, Santo Fransiskus semakin nyata dijadikan sebagai model yang relevan dan mendesak bagi kehidupan iman di zaman sekarang.
Pada hari Senin, 16 Maret 2026, DPPH dan Panitia Pembangunan Gereja Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolog beraudiensi dengan Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, untuk memohon arahan atas rencana pembangunan gedung gereja baru. Pembangunan ini tidak hanya menjawab kebutuhan fisik, tetapi juga merupakan upaya menata ruang liturgi yang lebih sesuai kaidah Gereja dan mampu menampung umat yang bertambah secara signifikan.
Panitia menjelaskan bahwa gereja lama mengalami keretakan, menara miring, dan secara visual “tenggelam” di antara bangunan baru (pastoran dan sekolah), sementara tata ruang liturgi, yakni panti imam, tabernakel, ruang tobat, dan sakristi, belum memadai. Peletakan batu pertama telah dilakukan pada 26 Oktober 2025, gereja lama dibongkar pada awal 2026, dan lahan kini siap memasuki tahap pondasi setelah desain final disetujui.
Mgr. Kornelius menilai ukuran dasar bangunan sudah cukup, tetapi konsep ruang dianjurkan lebih “mendekatkan” umat dengan altar (bukan hanya memanjang), dengan kemungkinan mempendekkan bangunan dan sedikit melebarkannya. Beliau mengusulkan agar gereja baru didekatkan ke pastoran lama sehingga tercipta komposisi yang lebih serasi dan fungsional, serta ruang bawah yang lapang dengan kolom yang lebih besar dan artistik. Area luar, seperti taman baca, diharapkan menjadi ruang ekspresi yang hidup bagi umat dan sekolah.
Arsitek dan panitia menyambut usulan ini, sepakat meninjau kembali posisi bangunan di lapangan dan menyesuaikan desain tanpa menunda terlalu lama demi menjaga kepercayaan umat yang sudah menantikan kelanjutan pembangunan. Berkat Bapa Uskup pada akhir pertemuan meneguhkan langkah bersama untuk mewujudkan sebuah gereja baru yang kokoh, indah, liturgis, dan sungguh menjadi rumah doa bagi umat Paroki Saribudolok.
Pada tanggal 17 – 20 Maret 2026, Bapa Uskup bersama semua vikaris episkopal teritorial, vikaris episkopal kategorial, kanselarius, dan ekonom mengadakan rapat Kuria di Penang. Sebelum berangkat ke Penang, rapat dibuka di ruang Kolegium Konsultor dengan membahas notulen rapat Kuria bulan Februari 2026. Setelah memaparkan pengembangan notulen, ekonom diminta memaparkan budget yang telah disusun yang akan dipakai selama tahun 2026. Pada pukul 10.30 WIB, peserta rapat berangkat ke Penang. Rapat diteruskan pada 18 Maret 2026 di ruang pertemuan Sentral Seaview Hotel. Sedianya tempat pertemuan adalah di rumah retret Kapusin di Penang, tetapi karena tempat ini sudah penuh, peserta rapat harus pindah ke tempat lain. Kesempatan berada di Penang dipakai oleh dua peserta rapat untuk mengadakan medical check-up. Sejumlah pokok penting dibahas dalam rapat ini, antara lain konkritisasi rekomendasi temu pastoral Uskup dan Tarekat Hidup Bakti pada 19 – 22 Januari 2026 di CC PPU Pematangsiantar. Enam pokok utama yang dibahas dalam rapat ini adalah Lingkungan Hidup (Tindakan Pasca Bencana dan Ekologi Praktis), Kaderisasi Awam, Pewarta Digital dan Media Sosial, Pastoral Migran dan Perantau, Menjadi Komunitas yang Berjalan Bersama, dan Wajah Baru THB KAM. Aplikasi konkret keenam tema ini harus digariskan agar dokumen yang sangat baik ini tidak tinggal sebagai rumusan indah belaka.
Rapat kuria juga membahas sejumlah poin penting, yakni Keputusan Sidang DEPKAM ke-18 pada 2 – 4 Maret 2026, rencana pemekaran Keuskupan Agung Medan, dan pemekaran paroki. Poin terakhir yang mendapat pembahasan serius ialah penyusunan ratio formationis bagi ongoing formation imam yang berkarya di KAM berdasarkan usia tahbisan. Pada tanggal 20 Maret 2026, peserta rapat kembali ke Keuskupan Agung Medan dengan selamat. Semoga hal-hal yang mendapat pembahasan serius dalam rapat ini dapat menghasilkan buah manis di wilayah Keuskupan Agung Medan.
Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.
RP. Adrianus Sembiring OFMCap
Kanselarius Keuskupan Agung Medan


