Minggu, April 5, 2026
Lainnya
    Beranda blog

    Penutupan Salib sesudah Misa Perjamuan Tuhan

    HAL MENYELUBUNGI SALIB

    Para Saudara terkasih, seputar Masa Prapaskah ini, cukup hangat diskusi di antara kita (imam dan umat) tentang penyelubungan salib. Akibatnya, ada dari antara kita sudah menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa dan ada yang belum menyelubunginya.

    Oleh karena itu, beberapa poin berikut pantas kita simak bersama demi kesatuan paham dan kesamaan gerak dan perayaan iman di Keuskupan Agung Medan.

    1. Tradisi menyelubungi salib, patung-patung kudus dan melepaskan kain altar sudah terlaksana dalam gereja kita sejak 4 abad pertama. Tradisi kuno ini masih tetap berjalan sampai sekarang dalam konteks gereja universal. Tindakan menyelubungi ini boleh juga diganti dengan tindakan memindahkan salib dan patung-patung kudus dari dalam gereja ke tempat lain yang layak. Tradisi ini dikaitkan dengan peristiwa Yesus yang berdoa di taman Getsemani dan seterusnya menjalani peristiwa derita dan salib. Maka salib akan tertutupi dengan kain ungu (atau merah) sampai peristiwa ritus penghormatan salib dilaksanakan pada hari Jumat Agung. Tradisi ini dikaitkan pula dengan tidak adanya perayaan Ekaristi pada hari Jumat Agung.

    2. Tradisi menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa merupakan tradisi yang dilaksanakan sejak abad IX di gereja Jerman. Jadi, bukan berlaku universal untuk gereja Katolik Ritus Roma. Praktik ini dikaitkan dengan kisah Injil pada hari Minggu V Puasa yang berbicara tentang penderitaan yang akan dialami oleh Yesus (Minggu Sengsara Tuhan) dan saat-saat mana Ia mengasingkan diri hingga tampil lagi memasuki kota Yerusalem menjelang saat-saat peristiwa salib, wafat, dan bangkit. Sementara itu, Ritus Ambrosiana melaksanakan penutupan salib sejak Minggu I Puasa (praktisnya selama Masa Prapaska). Praktik ini dikaitkan dengan masa tobat, masa refleksi, retret selama Masa Prapaskah dan menjauhkan diri dari kemeriahan termasuk dari kemeriahan simbol-simbol kudus.

    3. Dokumen Perayaan Paska dan Persiapannya (terbit tahun 1988 oleh Kongregasi Ibadat Suci) tetap berusaha memelihara tradisi-tradisi khusus gereja yang ada di seluruh dunia. Itulah termasuk alasannya mengapa dalam dokumen tersebut dituliskan “kebiasaan menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa dapat dipertahankan, bila demikian ditetapkan oleh Konferensi Waligereja…” (PPdP, 26).

    4. Konteks Indonesia, tidak ada kebiasaan menyelubungi salib sebelum tahun 1988 (terbitnya dokumen tersebut), maka pelaksanaan penyelubungan salib sejak Minggu V Puasa akhir-akhir ini merupakan tradisi yang baru di beberapa daerah di Indonesia. Selain itu, dasar iuridis tindakan itu belum ditetapkan, karena hingga sekarang Konferensi Waligereja belum pernah membuat keputusan untuk menutup salib sejak Minggu V Puasa, sebagaimana ditekankan oleh dokumen Pedoman Perayaan Paskah dan Persiapannya (1988). Penanggalan Liturgi KWI pun hanya mengutip Pedoman 1988; dan tidak memuat keputusan atasnya. Tampaknya tindakan menyelubungi salib itu lebih sebagai inisiatif para pencinta liturgi yang membaca dokumen secara sederhana dan langsung menerapkannya melebihi kewenangan Konferensi Waligereja dan kewenangan Uskup diosesan.

    5. Sampai sekarang, Uskup Keuskupan Agung Medan belum pernah menganjurkan tindakan penyelubungan salib sejak Minggu V Puasa. Dengan demikian KAM tetap mengikuti tradisi Gereja yakni menyelubungi salib sesudah Misa In Cena Domini (adalah nama Latin untuk Misa Perjamuan Tuhan, yaitu perayaan Ekaristi pada Kamis Putih malam-bagian pertama dari Trihari Suci). Maka praktik menyelubungi salib sejak Minggu V Puasa tidak dilaksanakan di wilayah Keuskupan Agung Medan. Ini dilaksanakan dengan berdasar pada tradisi antik gereja dan belum adanya keputusan Konferensi Waligereja Indonesia atasnya.

    6. Selain itu, kita di KAM masih merayakan perayaanperayaan istimewa seputar Minggu Palma, Misa Krisma, Misa In Cena Domini yang mengharapkan simbol-simbol liturgis, termasuk salib, tetap tampil dengan cemerlang, yang dengannya Yesus Kristus sungguh hadir dan tampil dengan jaya.

    7. Bila salib ditutup, itu berarti simbol salib ditiadakan atau tidak dihadirkan dalam perayaan-perayaan iman. Maka salib perarakan tidak dibawa lagi dalam Ibadat Jalan Salib pada hari Jumat Agung, apalagi membawanya dengan posisi tertutup, sangatlah tidak tepat.

    Medan, 05 April 2025
    Komisi Liturgi KAM

     

    Kantor Komlit KAM Lt 3
    Gedung Catholic Center Christosophia Medan
    Jl. Mataram 21 Petisah Hulu, Medan Baru, Medan.

    Jadwal Pekan Suci 2026 Paroki se-KAM

    *Geser ke samping jika isi tabel tidak terlihat seluruhnya

    No Gereja Paroki Kamis Putih, 2 April Jumat Agung, 3 April Vigili Paskah, 4 April Hari Raya Paskah, 5 April Minggu Palma, 29 Maret
    1 Aek Kanopan 19.00 09.00 19.00 09.00
    2 Aek Nabara paroki 18.00 stasi 18.00 paroki jam 14.00 stasi jam 14.00 paroki jam 18.00 stasi jam 19.00 paroki jam 08.00, stasi jam 11.00 stasi jam 10.00
    3 Balige Paroki: 19.00 WIB ; Stasi: 18.00 WIB Paroki: 15.00 WIB ; Stasi: jam 15.00 Paroki: 19.00 WIB ; Stasi: 18.00 WIB Paroki: 08.00 WIB ; Stasi: 09.00 WIB ; Stasi: 10.30 WIB Paroki: 08.00; 10.00 WIB
    4 Banda Aceh 19.00 WIB Jalan Salib 09.00 WIB; Penghormatan Salib 15.00 WIB 19.00 WIB 09.00 WIB 08.00 WIB
    5 Bandar Baru
    6 Batang Kuis Paroki : 19.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 19.00 WIB; Stasi Janji Matogu : 19.00 WIB Paroki : 15.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 15.00 WIB; Stasi Janji Matogu : 15.00 WIB Paroki : 19.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 19.00 WIB; Stasi Pardomuan Nauli : 19.00 WIB Paroki : 07.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 07.30 WIB; Stasi Pasir Putih : 09.00 WIB; Stasi Serdang : 10.00 WIB; Stasi Saur Matio : 11.00 WIB; Stasi Tanjung Rejo : 11.00 WIB Paroki : 07.00 WIB; Stasi Bandar Klippa : 07.30 WIB; Stasi Janji Matogu : 10.00 WIB; Stasi Tanjung Rejo : 11.00 WIB
    7 Berastagi 18.30 WIB Tablo Jalan Salib: 09.00 WIB Penghormatan Salib 15.00 WIB 18.30 WIB 07.00 WIB dan 09.00 WIB 08.30 WIB: Perarakan dimulai dari Bukit Kubu pukul 08.00 WIB
    8 Binjai Pkl. 19.00 wib Tablo Jalan Salib: 09.00 WIB; Penghormatan Salib 15.00 WIB Pkl 19.00 WIB Pkl. 08.00 WIB 08.00 WIB. Perarakan dimulai dari taman doa
    9 Cinta Damai 19.00 WIB JALAN SALIB DIMULAI PUKUL 09.00 WIB; MISA JUMAT AGUNG 15.00 WIB 19.00 WIB 09.00 WIB 09.00 WIB, PERARAKAN DIMULAI DARI GUA MARIA BUNDA KARMEL
    10 Delitua
    11 Diski (KP) Paroki (19.00), Stasi Medan Krio (19.00), Stasi Sei Mencirim (19.00) Jalan Salib (08.00), Paroki (15.00); Stasi Paluhmanan (11.00); Stasi Medan Krio (15.00); Stasi Sei Mencirim (15.00); Stasi Bulu Cina (15.00) Paroki (19.00); Stasi Medan Krio (19.00); Stasi Sei Mencirim (19.00) Paroki (08.00); Stasi Medan Krio (08.00); Stasi Sei Mencirim (10.30); Stasi Paluhmanan (08.00); Stasi Paluhmanan (11.00) Paroki (08.00), Stasi Medan Krio (08.00), Stasi Sei Mencirim (10.30), Stasi Bulu CIna (08.00), Stasi Paluhmanan (11.00)
    12 Dolok Sanggul 18.30 WIB (Buku Puji Syukur) 14.00 WIB (Buku Puji Syukur) 18.30 WIB (Buku Puji Syukur) 18.30 WIB (Buku Puji Syukur) 07.30 WIB (Buku BETK)
    13 Kabanjahe SPM Paroki (19.00), Stasi Seberaya (19.00), Stasi Suka (19.00), Stasi Tigapanah (19.00), Stasi Sinaman (19.00) Gereja Paroki: Ibadah jalan salib Keliling (09.00), Ibadah Jumat Agung (15.00), Stasi Suka Nalu (15.00), Stasi Sukadame (15.00), Stasi Bunuraya (15.00), Stasi Dokan (15.00) Gereja Paroki: Perayaan Malam Paskah (19.00) , Stasi Suka (19.00), Stasi Cingkes (19.00), Stasi Ketaren (19.00), Stasi Rumamis (19.00) Gereja Paroki: Hari Raya Paskah (08.00), Stasi Suka (08.00), Stasi Kutakepar (10.00), Stasi Bulanjahe (08.00), Stasi Bulanjulu (10.30), Stasi Tigapanah (08.00), Stasi Sukadame (10.30) Stasi Bunuraya (08.00), Stasi Kubusimbelang (10.30) Gereja Paroki: Perarakan dari jambur Adil Makmur ke Gereja SPM Kabanjahe dimulai (07.30) | Stasi Sukanalu (08.00) | Stasi Suka (08.00) | Stasi Sukadame (08.00)
    14 Kabanjahe SPP
    15 Kisaran Paroki (19.00) | Stasi Kp. Saragih (18.00) | Stasi Pardomuan (18.30) Jalan Salib 08.30 (Paroki), Paroki (15.00) | Stasi Hessa (15.00) | Sei Lama (15.00) Paroki (19.00) | SilauLaut (08.30) | Stasi Serdang 2 (18.30) Paroki (08.00) | Stasi Kp. Baru (08.30) | Stasi Desa Gajah (10.30) | Rawang 7 (11.00) | Stasi Sudi Makmur (08.30) | Stasi Panggualan (11.00) Paroki (08.00 Wib) dimulai dengan perarakan | Stasi Hessa (08.00 WIB) | Stasi Sei Lama (10.30 WIB) | Stasi Tinjowan (11.00 WIB)
    16 Kotapinang (KP) Kotapinang : 19.00 | Pardomuan : 16.00 Gereja Paroki (Jalan Salib : 09.00; Kisah Sengsara : 15.00) | Aek Batu : 15.00 Kisah Sengsara Kotapinang : 18.30 | Cikampak 17.00 Kotapinang : 08.00 | Cikampak : 09.00 | Langgapayung : 11.00 | Kampung Baru III : 11.30 Kotapinang : 08.00 WIB | Sisumut : 08.00 | Cikampak : 11.00 | Pardomuan : 11.00
    17 Lau Baleng Lau Baleng : 19.30 | Durin Rugun : 19.30 Jalan Salib (OMK) : 08.00 | Lau Baleng : 15.00 | Mardingding : 15.00 Lau Baleng : 19.30 | Limas : 19.30 Wib Lau Baleng : 08.00; Pasir Tengah : 08.00; Buluh Pancur : 11.00; Pasir Mbelang : 11.00; Lau Baleng : 08.00 WIB | Pasir Tengah : 08.00 | Buluh Pancur : 11.00 | Mangan Molih : 11.00
    18 Lawe Desky 19.30 15.00 19.30 07.30
    19 Lintongnihuta 18.00 WIB Jalan Salib : 08.00 WIB ; Penghormatan Salib: 18.00 WIB 18.00 WIB 08.00 WIB Paroki: 08.00 WIB ; Stasi : 10.30 WIB
    20 Lubuk Pakam 19.00 Jalan salib : 08.00 Penghormatan Salib: 15.00 Paroki: 18.00 08.00 Paroki: 08.00
    21 Med. Hayam Wuruk 18.00 15.00 Misa I : 16.30; Misa II : 19.30 Minggu Misa I : 07.30; Misa II : 10.00; Misa III : 17.00 Sabtu Sore : 18.00; Minggu Misa I : 07.30; Misa II : 10.00; Misa III : 17.00
    22 Med. Helvetia 19.00 15.00 19.00 08.00
    23 Med. Katedral Misa I: 17.00 WIB, Misa II: 19.30 WIB Jalan Salib Pukul 08.00 WIB; Penghormatan Salib: Pukul 12.00 WIB, 15.00 WIB Sabtu Suci Pukul 08.00 WIB (Ibadat); Misa I pukul 17.00 WIB. Misa II pukul 20.00 WIB Misa I pukul 08.00 WIB, Misa II pukul 10.00 WIB, Misa III pukul 15.00 WIB, misa IV pukul 17.00 WIB Sabtu Sore : Pukul 17.30 WIB; Minggu Misa I : 06.30 WIB, Misa II: 09.00 WIB, Misa III: 15.00 WIB, Misa IV: 17.00 WIB
    24 Med. Kota 19:00 Jalan Salib: 08:00; Penghormatan Salib I: 15:00; Penghormatan Salib II: 18:00 19:00 Minggu 07:00; 10:00; dan 18:00 Sabtu Sore (M1): 18:00; Minggu (M2): 07:00; Minggu (M3): 10:00; Minggu Sore (M4): 18:00
    25 Med. Mandala STYPM: 18.30 WIB, TS: 19.00 WIB 15.00 WIB STYPM: 18.30 WIB, TS: 18.30 WIB STYPM: 09.00 WIB, TS: 09.00 WIB STYPM: 08.30 WIB, TS: 09.00 WIB
    26 Med. Martubung Misa Malam Jam 19:30 Misa Sore Jam 15:00 Misa Malam Jam 19:00 Misa Pagi Jam 09:00 Misa Pagi Jam 09.00 Wib
    27 Med. Padang Bulan 16.30 WIB dan 19.30 WIB 14.00 WIB dan 18.00 WIB 16.30 dan 19.30 WIB 07.30 WIB dan 10.00 WIB 07.30 dan 10.00 WIB
    28 Med. Pasar Merah 19.00 WIB Jalan Salib: 08.00 | Jumat Agung: 15.00 WIB 19.00 WIB 09.00 WIB SPPM : 08.00 WIB 10.00 WIB; SBM : 10.00 WIB; MBK : 08.00 WIB; SELAMBO : 08.00 WIB
    29 Med. Tamora Martoba: 18.30 WIB Martoba: Jalan Salib 09.00 WIB ; Jumat Agung 15.00 WIB Martoba: 19.00 WIB Martoba: 09.00 WIB Martoba : 08.30 WIB
    30 Med. Tanjung Selamat Pkl. 19.00 WIB Pkl. 15.00 WIB Pkl. 18.00 WIB Pkl 07.00 WIB; Pkl 09.30 WIB dan Pkl 17.00 WIB Pkl. 07.00 WIB; Pkl 10.00 WIB & Pkl 17.00 WIB
    31 Med. Timur Pukul 19.00 WIB Pukul 15.00 WIB Pukul 19.00 WIB Pukul 07.00 WIB dan Pukul 09.00 WIB 09.00 WIB
    32 Namo Pecawir - Tuntungan 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 08.00 WIB 08.00 WIB
    33 Onan Runggu 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 08.00 WIB 08.00 WIB
    34 Pakkat 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 10.00 WIB Pukul 08.00 WIB
    35 Palipi 19.00 15.00 19.00 09.00
    36 Pamatang Raya 19.00 15.00 19.00 08.00 08.00
    37 Pangaribuan (KP) Stasi Lumban Sormin: 18.00 Wib ; Stasi Lobutolong : 18.00 Wib Stasi Lumban Sormin: 15.00 | Stasi Sipahutar: 15.00 Stasi Lumban Sormin: 18.00 | Stasi Rahut Bosi : 18.00 Stasi Parsorminan : 09.00 | Stasi Lumban Sormin : 11.00 | Stasi Parsibarungan : 09.00 | Stasi Rahut Bosi : 11.00 Stasi Lumban Sormin : 09.00 | Stasi Parsorminan : 11.00 | Stasi Sidagal : 09.00 | Stasi Gonting Pege : 11.00
    38 Pangkalan Brandan Pukul. 19.00Wib Pukul. 15.00Wib Pukul. 19.00Wib Pukul. 08.00Wib Gereja Paroki: 08.00 WIB
    39 Pangururan Jam 19:00 Jam 15:00 wib Jam 19:00 Jam 09:00
    40 Parapat 19.00 14.00 19.00 Wib 09.00 ; Stasi 10.00 09.00: Gereja Paroki
    41 Parlilitan 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 08.30 WIB 08.30 WIB
    42 Parongil Gereja Paroki dan Stasi : 19.00 Gereja Paroki dan Stasi : 15.00 Gereja Paroki dan Stasi : 19.00 Gereja Paroki : 08.00 Stasi : 11.00 Gereja Paroki : 08.00 Stasi : 11.00
    43 Parsoburan 18.30 15.00 18.30 08.00 08.00 WIB
    44 Pematangsiantar - Jl. Asahan 19.00 15.00 19.00 08.00 08.00 WIB
    45 Pematangsiantar - Jl. Bali 18.00 15.00 18.00 09.00 09.00
    46 Pematangsiantar - Jl. Medan 19:00 15:00 19:00 07:00; 09.00 09.00
    47 Pematangsiantar - Jl. Sibolga Gereja Paroki: 17.00; 20.00 | Stasi: 18.00 Jalan Salib: Gereja Paroki dan Stasi : 08.00 | Penghormatan Salib: Gereja Paroki dan Stasi: 15.00 Ibadat Sabtu Suci: Gereja Paroki dan Stasi: 08.00 | Gereja Paroki: 17.00; 20.00( Vigili Paska) | Stasi: 18.00 (Vigili Paska) Gereja Paroki: 07.00; 09.00 | Stasi: 08.00; 10.00 | Ibadat Sore Gereja Paroki: 18.00 Gereja Paroki: 18.00 (Sabtu Sore); 07.00; 09.00; 11.00 | Stasi: 07.30; 10.00
    48 Perdagangan Pukul 19.00 Pukul 15.00 Pukul 19.00 Pukul 08.00 Pukul 08.00
    49 Pulo Brayan Bengkel 19.30 15.00 19.30 10.00 10.00
    50 Rantauprapat Paroki: 18.00 WIB Stasi : 18.00 WIB Paroki: 15.00 WIB Stasi : 15.00 WIB Paroki: 18.30 WIB Stasi : 18.30 WIB Paroki : 08.00 WIB Stasi : 11.00 WIBStasi : 11.00 WIB Paroki: 08.00 WIB Stasi : 09.00 WIB
    51 Salak Paroki: 19.00 WIB | Stasi : 19.00 WIB Tablo Jalan Salib di Paroki: 08.00 WIB | Ibadat di Paroki: 15.00 WIB | Ibadat di Stasi : 15.00 WIB Paroki: 19.00 WIB | Stasi : 19.00 WIB Paroki : 08.00 WIB | Stasi : 08.00 WIB | Stasi : 11.00 WIB Paroki : 08.00 WIB | Stasi : 11.00 WIB | Stasi : 11.00 WIB
    52 Saran Padang (KP) Saran Padang & Stasi Paribuan: 20.00 WIB | Stasi Panribuan Jahean & Perasmian : 18.00 WIB Gereja Paroki & Stasi: 15.00 Saran Padang & Panribua: 20.00 WIB | Stasi Panribuan Jahean & Perasmian: 18.00 WIB Saran Padang & Stasi Dolok Mariah: 11.00 WIB | Stasi Panribuan & Marjandi Pamatang: 09.00 WIB Saran Padang & Stasi Gunung Meriah: 11.00 WIB | Panribuan & Gunung Panribuan : 09.00 WIB
    53 Saribudolok Gereja Paroki : 19.00 Gereja paroki : 14.00 Gereja Paroki: 18.00 Gereja Paroki : 07.00 & 09.00 Gereja Paroki : 09.00 WIB
    54 Sei Rampah (KP) 19.00 15.00 19.00 09.00
    55 Siborongborong & Lintongnihuta (satu Pastor Paroki) Siborong-borong, Lintong, Pealinta, Sitabotabo: 18.00 WIB Siborong-borong, Lintong, Pealinta, Sitabotabo: 15.00 WIB Siborong-borong, Lintong, Pealinta, Sitabotabo: 18.00 WIB Pesta Paskah se-Paroki di Stasi Pealinta: 09.00 WIB | Lintong : 08.00 WIB
    56 Sidikalang 19.00 Pukul 09.00 WIB , Pukul 15.00 WIB 19.00 Misa I: pukul 08.00 WIB | Misa II: pukul 10.00 WIB Pukul 09.00 WIB
    57 Silalahi (KP) 19:30 14:00 19:30 08:15 08:15
    58 Simalingkar B (KP) Misa pukul 18.00 WIB Jalan salib pukul: 08.00 WIB; Ibadat pukul 15.00 WIB Pukul 18.00 WIB 09.00 WIB Misa I: pukul 08.00 Misa II: pukul 11.00
    59 Simallopuk (KP) 19.30 WIB 15.00 WIB 19.30 WIB 08.00 WIB 08.00 WIB
    60 Sipintuangin (KP)
    61 Sumbul Gereja Paroki & Stasi : 18.00 Gereja Paroki & Stasi : 15.00 Gereja Paroki & Stasi : 18.00 Gereja Paroki : 08.00 | Paskahan Se Rayon : 10.00 Gereja Paroki : 08.00 | Stasi : 09.00
    62 Tanah Jawa 19.30 WIB 14.00 WIB 19.30 WIB 10.00 WIB
    63 Tanjung Balai 18.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 08.30 WIB 08.00 WIB
    64 Tarutung Gereja Paroki : 18.00 | Stasi Aekraja : 18.00 Gereja Paroki (Devosi Jalan Salib : 09.00 WIB; Ibadat Jumat Agung : 15.00 WIB) | Stasi Peasipon : 15.00 WIB Gereja Paroki : 18.00 WIB | Stasi Aekraja : 18.00 WIB Gereja Paroki : 08.00 WIB | Stasi Lobusingkam : 11.00 | Stasi Silangkitang : 09.00 | Stasi Hutaraja : 11.00 WIB Gereja Paroki : 08.00 WIB | Stasi Sipoholon : 11.00 | Stasi Peasipon : 09.00 | Stasi Aekraja : 11.00
    65 Tebing Tinggi
    66 Termin 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 09.00 WIB Misa I: 07.30 WIB ; Misa II: 10.00 WIB
    67 Tiga Binanga 19.00 15.00 19.00 07.00 dan Stasi jam 09.00, 11.00 07.00 dan Stasi jam 09.00, 11.00
    68 Tiga Dolok PKl. 19.00 WIB Pukul 05.00 WIB Jalan Salib; Pukul 15.00 WIB Pukul 19.00 WIB Pukul 08.00 WIB Pukul 08.00 WIB
    69 Tiga Juhar 19.00 WIB dan stasi 15.00 WIB dan stasi 19.00 dan stasi 08.00 WIB stasi jam 10.00 WIB 08.00 stasi jam 10.00 WIB
    70 Tiga Lingga Masuk Misa Kamis Putih Jam 09.00 Wib Pagi Masuk Misa Jumat Agung Jam 15.00 Wib Sore Masuk Misa Sabtu Suci Jam 09.00 Wib Pagi Masuk Misa Minggu Paskah Jam 09.00 Wib Pagi 08.00 dan stasi jam 09.00 WIB
    71 Tiganderket (KP) Pkl. 20.00 WIB Jalan Salib : 09.00 WIB ; Penghormatan Salib: 15.00 WIB 20.00 Pkl. 09.00 WIB Pkl 09.00 WIB
    72 Tomok – Simanindo 19.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 08.00 WIB 08.00 WIB

     

    Kotbah Minggu Palma

    Kotbah Minggu Palma (Mengenang Sengsara Tuhan) 29 Maret 2026 - Tahun A/II

    Bacaan I : Yes. 50:4-7
    Bacaan II : Flp. 2:6-11
    Bacaan Injil : Mat. 26:14-27:66 (panjang) Mat. 27:11-54 (singkat)

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberi kita damai dan kebaikan.

    Hari ini Gereja merayakan Minggu Palma, sebuah perayaan yang penuh makna dan sekaligus penuh ironi. Di awal liturgi kita mengangkat daun palma dan berseru dengan sukacita: “Hosana!” Kita mengenangkan saat Yesus memasuki Yerusalem dan orang banyak menyambut-Nya sebagai raja. Namun dalam perayaan yang sama kita juga mendengarkan kisah sengsara Tuhan. Raja yang dielu-elukan itu ternyata berjalan menuju salib. Inilah misteri yang sangat dalam: Yesus adalah raja, tetapi raja yang menang melalui pengorbanan.

    Banyak orang pada zaman Yesus berpikir bahwa keselamatan berarti dibebaskan dari musuh di luar diri mereka: penjajah Romawi, kekuatan politik yang menindas, atau situasi sosial yang membatasi kebebasan bangsa mereka. Dalam cara berpikir seperti itu, Mesias yang mereka nantikan adalah seorang pemimpin kuat yang datang membawa kekuasaan dan kemenangan militer. Jika musuh dapat dikalahkan, bangsa akan bebas. Karena itu keselamatan dibayangkan melalui kekuatan, dominasi, dan kemenangan politik.

    Namun Yesus melihat persoalan manusia jauh lebih dalam daripada sekadar konflik politik atau penindasan sosial. Ia tahu bahwa musuh terbesar manusia bukan pertama-tama berada di luar dirinya, tetapi di dalam hatinya sendiri. Musuh itu adalah dosa yang berakar dalam hati manusia: egoisme yang membuat manusia hanya memikirkan dirinya sendiri, iri hati yang merusak relasi, kesombongan yang menutup hati terhadap kebenaran, kebencian yang memecah belah, dan kekerasan yang menghancurkan kehidupan. Dari hati manusia yang terluka oleh dosa inilah lahir berbagai bentuk ketidakadilan, konflik, dan permusuhan yang merusak dunia.

    Karena itu Yesus datang bukan hanya untuk membebaskan manusia dari tekanan eksternal, tetapi terutama untuk membebaskan manusia dari dalam dirinya sendiri. Ia datang untuk menyembuhkan hati manusia yang terluka oleh dosa dan memulihkan relasi manusia dengan Allah dan sesamanya. Jalan yang Ia pilih bukanlah pedang atau kekuatan militer, tetapi belas kasih, pengorbanan, dan salib. Salib Yesus menunjukkan cara Allah bekerja yang sangat berbeda dari logika dunia.

    Dunia sering berpikir bahwa kemenangan diperoleh melalui kekuatan dan dominasi. Dunia juga sering berpikir bahwa musuh harus dihancurkan. Namun Yesus menunjukkan bahwa kemenangan sejati lahir dari kasih yang rela berkorban. Di kayu salib Ia tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi menjawab kebencian dengan pengampunan. Di sana tampak bahwa kasih yang memberi diri memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada kekuatan senjata.

    Karena itu salib bukan hanya tanda penderitaan. Salib adalah jalan hidup. Salib adalah kerelaan untuk menderita demi kebenaran, kerelaan berkorban demi kebaikan orang lain, kerendahan hati yang tidak mencari kemuliaan diri, kesetiaan yang tidak mundur dalam kesulitan, dan ketaatan pada jalan Allah bahkan ketika jalan itu tidak mudah. Justru sikap-sikap inilah yang akhirnya menang atas musuh terbesar manusia: egoisme, kesombongan, ketidakpedulian, iri hati, dan kebencian.

    Pesan ini sangat relevan bagi zaman kita sekarang. Dunia modern sering mencari kemenangan melalui kekuasaan, pengaruh, dan dominasi. Kita melihat konflik politik yang tajam, polarisasi sosial yang semakin dalam, bahkan kebencian yang mudah menyebar melalui media sosial. Orang sering berpikir bahwa masalah dapat diselesaikan dengan mengalahkan pihak lain. Tetapi Injil hari ini mengingatkan kita bahwa perubahan sejati tidak akan terjadi jika hati manusia tetap dipenuhi egoisme dan kebencian.

    Karena itu peristiwa Minggu Palma sebenarnya mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat mendalam bagi kita semua: raja seperti apa yang kita harapkan dalam hidup kita? Apakah kita mengharapkan Allah bertindak sesuai dengan logika dunia—memberi kemenangan cepat dan menghapus kesulitan secara instan? Ataukah kita siap menerima jalan Allah yang sering kali melewati salib, tetapi justru membawa pembaruan hati dan keselamatan sejati?

    Saudara-saudari terkasih, Minggu Palma mengajak kita belajar melihat kehidupan dengan cara Yesus. Ia datang bukan hanya untuk mengubah dunia dari luar, tetapi untuk mengubah hati manusia dari dalam. Ketika hati manusia berubah, dunia pun mulai berubah. Ketika egoisme digantikan oleh kasih, ketika kebencian digantikan oleh pengampunan, ketika kekerasan digantikan oleh belas kasih—di situlah Kerajaan Allah mulai hadir di tengah dunia.

    Karena itu ketika kita hari ini mengangkat daun palma dan berseru, “Hosana!”, kita sebenarnya membuat sebuah komitmen iman. Kita menerima Yesus sebagai raja dalam hidup kita—bukan raja yang memerintah dengan kekuasaan dan dominasi, tetapi raja yang memimpin kita melalui kasih, kerendahan hati, pengorbanan, dan kesetiaan pada kehendak Allah.

    Dan jika kita sungguh mengikuti raja seperti ini, kita pun dipanggil untuk hidup dengan cara yang sama: menaklukkan dunia bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kasih; bukan dengan kekuasaan, tetapi dengan pelayanan; bukan dengan kebencian, tetapi dengan belas kasih.

    Sebab pada akhirnya hanya kasih yang rela berkorban yang mampu mengubah hati manusia dan menyelamatkan dunia. Dan itulah jalan keselamatan yang dilalui dan ditawarkan oleh Yesus kepada kita semua. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Arsip Homili Mingguan - Uskup Keuskupan Agung Medan:
    (klik untuk membacanya)

    Kotbah Minggu V Masa Prapaskah: 22 Maret 2026 - Tahun A/II

    Bacaan I : Yeh. 37:12-14
    Bacaan II : Rm. 8:8-11
    Bacaan Injil : Yoh. 11:1-45

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Injil hari ini membawa kita kepada salah satu tanda terbesar yang dilakukan oleh Jesus Christ: kebangkitan Lazarus. Ketika Yesus tiba di Betania, Lazarus sudah empat hari mati dan kuburnya telah tertutup oleh batu besar. Secara manusiawi semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi harapan. Gambaran ini bukan hanya tentang kematian fisik, tetapi juga tentang pengalaman manusia yang merasa hidupnya sudah tertutup seperti kubur—ketika harapan seolah hilang dan masa depan terasa gelap.

    Dalam bacaan pertama Nabi Yehezkiel menyampaikan sebuah gambaran yang sangat kuat: Allah akan membuka kubur-kubur umat-Nya dan membangkitkan mereka. Gambaran ini disampaikan kepada umat Israel yang sedang hidup dalam pembuangan dan keputusasaan. Mereka merasa seperti bangsa yang sudah mati—tanpa masa depan dan tanpa harapan. Karena itu nubuat Yehezkiel bukan hanya berbicara tentang kematian fisik, tetapi tentang manusia yang kehilangan harapan. Allah menjanjikan bahwa Roh-Nya akan masuk ke dalam mereka dan menghidupkan mereka kembali.

    Batu besar yang menutup kubur Lazarus dapat menjadi gambaran tentang “batu-batu” yang menutup kehidupan manusia zaman ini. Batu itu bisa berupa ketakutan yang membuat orang tidak berani melangkah. Batu itu bisa berupa rasa gagal yang membuat seseorang merasa hidupnya tidak berarti lagi. Batu itu bisa berupa luka dan kekecewaan yang begitu dalam sehingga hati menjadi tertutup. Bahkan bagi sebagian orang batu itu adalah rasa tidak layak—perasaan bahwa dirinya tidak pantas lagi untuk bangkit dan memulai hidup baru.

    Namun di depan kubur itu Yesus melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia berseru dengan suara keras: “Lazarus, keluarlah!” Dan sesuatu yang menakjubkan terjadi—orang yang sudah mati itu mendengar suara Yesus dan keluar dari kubur. Peristiwa ini menunjukkan sesuatu yang sangat mendalam: suara Yesus adalah suara yang memberi kehidupan. Bahkan kematian pun tidak mampu menutup telinga manusia terhadap Sabda yang memberi hidup.

    Sepanjang Injil kita melihat bahwa Sabda Yesus selalu membawa kehidupan. Ketika Yesus berkata kepada orang lumpuh: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah,” orang itu bangkit dan berjalan. Ketika Ia berkata kepada putri Yairus: “Talita kum,” anak yang sudah mati itu bangun. Ketika Ia berkata kepada perempuan yang berdosa: “Dosamu telah diampuni,” hidupnya dipulihkan. Bahkan kepada orang yang buta sejak lahir, Sabda-Nya membuka mata sehingga ia dapat melihat. Di mana pun Sabda Yesus diucapkan, di situ kehidupan baru mulai terjadi.

    Bacaan kedua hari ini menegaskan bahwa kehidupan baru itu berasal dari Roh Allah. Rasul Paulus mengatakan bahwa Roh yang membangkitkan Yesus dari kematian juga tinggal dalam diri kita. Roh Kudus adalah Roh kehidupan. Ia membangkitkan manusia dari kematian dosa, dari keputusasaan, dan dari hidup yang kehilangan arah. Artinya kebangkitan bukan hanya peristiwa di akhir zaman; kebangkitan sudah mulai bekerja dalam hidup orang yang membuka dirinya kepada Roh Allah.

    Saudara-saudari, masa Prapaskah ini adalah kesempatan untuk mendengar kembali suara Kristus yang memanggil kita keluar dari kubur-kubur kehidupan kita. Mungkin ada batu ketakutan yang menutup hidup kita. Mungkin ada luka lama yang membuat kita sulit bangkit. Mungkin ada kegagalan yang membuat kita merasa tidak mampu memulai kembali. Tetapi Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita: Yesus masih memanggil manusia keluar dari kubur.

    Jika kita membuka hati terhadap Sabda-Nya, Roh Allah akan bekerja dalam diri kita untuk membangkitkan kembali iman, harapan, dan kasih. Tuhan tidak pernah membiarkan manusia tinggal dalam kubur keputusasaan. Ia selalu memanggil kita menuju kehidupan yang baru. Semoga kita berani mendengar suara-Nya dan melangkah keluar menuju terang kehidupan yang diberikan oleh Kristus. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Kotbah Minggu IV Masa Prapaskah: 15 Maret 2026 - Tahun A/II

    Bacaan I : 1Sam. 16:1b,6-7,10-13a
    Bacaan II : Ef. 5:8-14
    Bacaan Injil : Yoh. 9:1-41

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberi kita damai dan kebaikan.

    Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita merenungkan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia: cara kita melihat realitas. Dalam filsafat dikatakan bahwa tindakan manusia mengikuti cara ia memahami dunia. Cara melihat menentukan cara bertindak. Jika cara melihat manusia keliru, maka keputusan dan perilakunya juga akan keliru. Karena itu kita dapat mengatakan bahwa banyak krisis yang dialami dunia saat ini sebenarnya berakar pada satu krisis yang lebih dalam: krisis cara manusia melihat sesama, dunia, dan Tuhan.

    Dalam bacaan pertama kita mendengar kisah nabi Samuel yang diutus Tuhan untuk mengurapi raja baru bagi Israel. Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, ia langsung terpikat pada Eliab yang gagah dan tinggi. Secara manusiawi, Samuel menilai seperti kebanyakan orang menilai: pemimpin harus memiliki penampilan yang kuat dan mengesankan. Tetapi Tuhan mengoreksi cara pandangnya dan berkata: “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Akhirnya Samuel menyadari bahwa pilihan Allah bukanlah Eliab yang tampak kuat, tetapi Daud yang sederhana dan tidak diperhitungkan. Di sini Samuel mengalami sebuah pertobatan batin: ia belajar melihat dengan cara Allah melihat.

    Hal yang sama kita temukan dalam Injil tentang penyembuhan orang buta sejak lahir. Ketika para murid melihat orang itu, mereka langsung bertanya: “Siapakah yang berdosa, orang ini atau orang tuanya?” Pertanyaan ini menunjukkan cara berpikir yang umum pada waktu itu: penderitaan dianggap sebagai hukuman atas dosa. Orang buta itu bukan hanya menderita secara fisik, tetapi juga membawa stigma moral. Ia dipandang sebagai orang yang bersalah di hadapan Allah.

    Namun Yesus melihat orang itu dengan cara yang sama sekali berbeda. Ia tidak melihat masa lalu yang penuh stigma, tetapi melihat kesempatan untuk menyatakan karya Allah. Mata Yesus adalah mata belas kasih. Ia tidak melihat manusia melalui label dosa, tetapi melalui martabatnya sebagai ciptaan yang dicintai Allah. Karena itu Ia mendekati orang itu, menyembuhkannya, dan membuka matanya.

    Di sinilah Injil menghadirkan sebuah paradoks besar. Orang yang buta secara fisik akhirnya dapat melihat. Ia mulai mengenal Yesus dan akhirnya berkata: “Aku percaya, Tuhan.” Sebaliknya para Farisi yang merasa diri mereka melihat justru tetap berada dalam kebutaan rohani. Mereka menyaksikan mukjizat yang nyata, tetapi menolak untuk percaya. Mereka lebih mempertahankan cara pandang lama mereka daripada membuka diri terhadap karya Allah. Yesus berkata: “Aku datang supaya mereka yang tidak melihat dapat melihat, dan mereka yang melihat menjadi buta.”

    Saudara-saudari terkasih, Injil ini bukan hanya kisah tentang seorang yang disembuhkan dua ribu tahun yang lalu. Injil ini juga berbicara tentang cara manusia melihat dunia hari ini. Banyak krisis yang terjadi di dunia modern sebenarnya berhubungan dengan cara manusia memandang realitas. Kita melihat adanya krisis makna hidup ketika banyak orang merasa kosong walaupun hidup dalam kemajuan material. Kita melihat krisis relasi ketika teknologi komunikasi berkembang pesat tetapi manusia justru semakin kesepian. Kita melihat krisis kepercayaan sosial ketika masyarakat menjadi terpecah oleh konflik dan polarisasi. Kita melihat krisis moral ketika kebenaran dianggap relatif. Kita juga melihat krisis keadilan ekonomi ketika kekayaan dunia tidak terbagi secara adil. Bahkan bumi sendiri mengalami krisis ekologis karena manusia memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi.

    Jika kita melihat lebih dalam, semua krisis ini sering berakar pada satu hal yang sama: cara manusia memandang manusia dan dunia. Ketika manusia melihat sesama hanya sebagai alat, dunia dipenuhi eksploitasi. Ketika manusia melihat sesama sebagai pesaing, dunia dipenuhi konflik. Ketika manusia melihat sesama melalui stigma dan label, dunia dipenuhi diskriminasi. Krisis dunia sering berawal dari krisis cara manusia melihat.

    Di sinilah Injil menghadirkan sebuah jalan pembaruan. Pertobatan bukan hanya berarti meninggalkan dosa tertentu, tetapi mengubah cara kita melihat realitas. Kita dipanggil untuk belajar melihat dengan cara Allah melihat. Mata Allah tidak pertama-tama melihat kegagalan manusia, tetapi melihat martabatnya sebagai anak yang dicintai-Nya. Mata Allah tidak melihat penderitaan sebagai hukuman, tetapi sebagai kesempatan untuk menyatakan belas kasih. Mata Allah melihat harapan bahkan di tengah kelemahan manusia.

    Samuel menemukan raja yang sejati ketika ia belajar melihat dengan cara Allah melihat. Orang buta dalam Injil menemukan iman ketika matanya dibuka oleh Yesus. Sebaliknya para Farisi tetap berada dalam kegelapan karena mereka menolak mengubah cara pandang mereka. Kisah ini mengingatkan kita bahwa kebutaan rohani bukanlah tidak memiliki mata, tetapi tidak mau membuka hati terhadap kebenaran.

    Karena itu pada Minggu Prapaskah ini kita diajak untuk berdoa dengan kerendahan hati: Tuhan, sembuhkanlah kebutaan hati kami. Ajarilah kami melihat dunia dengan mata-Mu. Agar kami tidak hanya melihat kelemahan manusia, tetapi juga melihat martabat dan harapan yang Engkau tanamkan dalam setiap orang.

    Ketika cara kita melihat berubah, hidup kita juga akan berubah. Dan dari perubahan cara melihat itu, dunia yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih penuh belas kasih dapat mulai dibangun. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Kotbah Minggu III Masa Prapaskah: 8 Maret 2026 - Tahun A/II

    Bacaan I : Kel. 17:3-7
    Bacaan II :  Rm. 5:1-2,5-8
    Bacaan Injil :  Yoh. 4:5-42

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberi kita damai dan kebaikan.

    Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita merenungkan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia: cara kita melihat realitas. Dalam filsafat dikatakan bahwa tindakan manusia mengikuti cara ia memahami dunia. Cara melihat menentukan cara bertindak. Jika cara melihat manusia keliru, maka keputusan dan perilakunya juga akan keliru. Karena itu kita dapat mengatakan bahwa banyak krisis yang dialami dunia saat ini sebenarnya berakar pada satu krisis yang lebih dalam: krisis cara manusia melihat sesama, dunia, dan Tuhan.

    Dalam bacaan pertama kita mendengar kisah nabi Samuel yang diutus Tuhan untuk mengurapi raja baru bagi Israel. Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, ia langsung terpikat pada Eliab yang gagah dan tinggi. Secara manusiawi, Samuel menilai seperti kebanyakan orang menilai: pemimpin harus memiliki penampilan yang kuat dan mengesankan. Tetapi Tuhan mengoreksi cara pandangnya dan berkata: “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Akhirnya Samuel menyadari bahwa pilihan Allah bukanlah Eliab yang tampak kuat, tetapi Daud yang sederhana dan tidak diperhitungkan. Di sini Samuel mengalami sebuah pertobatan batin: ia belajar melihat dengan cara Allah melihat.

    Hal yang sama kita temukan dalam Injil tentang penyembuhan orang buta sejak lahir. Ketika para murid melihat orang itu, mereka langsung bertanya: “Siapakah yang berdosa, orang ini atau orang tuanya?” Pertanyaan ini menunjukkan cara berpikir yang umum pada waktu itu: penderitaan dianggap sebagai hukuman atas dosa. Orang buta itu bukan hanya menderita secara fisik, tetapi juga membawa stigma moral. Ia dipandang sebagai orang yang bersalah di hadapan Allah.

    Namun Yesus melihat orang itu dengan cara yang sama sekali berbeda. Ia tidak melihat masa lalu yang penuh stigma, tetapi melihat kesempatan untuk menyatakan karya Allah. Mata Yesus adalah mata belas kasih. Ia tidak melihat manusia melalui label dosa, tetapi melalui martabatnya sebagai ciptaan yang dicintai Allah. Karena itu Ia mendekati orang itu, menyembuhkannya, dan membuka matanya.

    Di sinilah Injil menghadirkan sebuah paradoks besar. Orang yang buta secara fisik akhirnya dapat melihat. Ia mulai mengenal Yesus dan akhirnya berkata: “Aku percaya, Tuhan.” Sebaliknya para Farisi yang merasa diri mereka melihat justru tetap berada dalam kebutaan rohani. Mereka menyaksikan mukjizat yang nyata, tetapi menolak untuk percaya. Mereka lebih mempertahankan cara pandang lama mereka daripada membuka diri terhadap karya Allah. Yesus berkata: “Aku datang supaya mereka yang tidak melihat dapat melihat, dan mereka yang melihat menjadi buta.”

    Saudara-saudari terkasih, Injil ini bukan hanya kisah tentang seorang yang disembuhkan dua ribu tahun yang lalu. Injil ini juga berbicara tentang cara manusia melihat dunia hari ini. Banyak krisis yang terjadi di dunia modern sebenarnya berhubungan dengan cara manusia memandang realitas. Kita melihat adanya krisis makna hidup ketika banyak orang merasa kosong walaupun hidup dalam kemajuan material. Kita melihat krisis relasi ketika teknologi komunikasi berkembang pesat tetapi manusia justru semakin kesepian. Kita melihat krisis kepercayaan sosial ketika masyarakat menjadi terpecah oleh konflik dan polarisasi. Kita melihat krisis moral ketika kebenaran dianggap relatif. Kita juga melihat krisis keadilan ekonomi ketika kekayaan dunia tidak terbagi secara adil. Bahkan bumi sendiri mengalami krisis ekologis karena manusia memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi.

    Jika kita melihat lebih dalam, semua krisis ini sering berakar pada satu hal yang sama: cara manusia memandang manusia dan dunia. Ketika manusia melihat sesama hanya sebagai alat, dunia dipenuhi eksploitasi. Ketika manusia melihat sesama sebagai pesaing, dunia dipenuhi konflik. Ketika manusia melihat sesama melalui stigma dan label, dunia dipenuhi diskriminasi. Krisis dunia sering berawal dari krisis cara manusia melihat.

    Di sinilah Injil menghadirkan sebuah jalan pembaruan. Pertobatan bukan hanya berarti meninggalkan dosa tertentu, tetapi mengubah cara kita melihat realitas. Kita dipanggil untuk belajar melihat dengan cara Allah melihat. Mata Allah tidak pertama-tama melihat kegagalan manusia, tetapi melihat martabatnya sebagai anak yang dicintai-Nya. Mata Allah tidak melihat penderitaan sebagai hukuman, tetapi sebagai kesempatan untuk menyatakan belas kasih. Mata Allah melihat harapan bahkan di tengah kelemahan manusia.

    Samuel menemukan raja yang sejati ketika ia belajar melihat dengan cara Allah melihat. Orang buta dalam Injil menemukan iman ketika matanya dibuka oleh Yesus. Sebaliknya para Farisi tetap berada dalam kegelapan karena mereka menolak mengubah cara pandang mereka. Kisah ini mengingatkan kita bahwa kebutaan rohani bukanlah tidak memiliki mata, tetapi tidak mau membuka hati terhadap kebenaran. Karena itu pada Minggu Prapaskah ini kita diajak untuk berdoa dengan kerendahan hati: Tuhan, sembuhkanlah kebutaan hati kami. Ajarilah kami melihat dunia dengan mata-Mu. Agar kami tidak hanya melihat kelemahan manusia, tetapi juga melihat martabat dan harapan yang Engkau tanamkan dalam setiap orang. Ketika cara kita melihat berubah, hidup kita juga akan berubah. Dan dari perubahan cara melihat itu, dunia yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih penuh belas kasih dapat mulai dibangun. Amin.

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberi kita damai dan kebaikan. Penginjil Yohanes sangat pandai menghantar pembaca memahami hal-hal rohani dengan berangkat dari realitas yang sangat konkret. Ia berbicara tentang air, roti, terang, dan pokok anggur—semuanya pengalaman sehari-hari manusia—untuk menyingkapkan misteri kehidupan ilahi. Dalam Injil hari ini, Yohanes memulai dari pengalaman yang sangat sederhana: haus dan air. Dari kehausan manusiawi ini Yesus membawa perempuan Samaria kepada pemahaman yang lebih dalam tentang kehausan rohani, yaitu kerinduan terdalam manusia akan Allah. Perempuan Samaria itu memiliki kisah hidup yang tidak mudah. Yesus mengungkapkan bahwa ia telah mempunyai lima suami dan hidup dalam relasi yang tidak jelas. Para penafsir Kitab Suci melihat bahwa perempuan ini sebenarnya sedang mencari kasih dan makna hidup, tetapi ia mencarinya di tempat yang tidak pernah benar-benar memuaskan hatinya. Karena itu Yesus berkata: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi.” Dengan kata lain, apa pun yang ditawarkan dunia ini tidak pernah mampu sepenuhnya memuaskan hati manusia. Kisah ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan manusia zaman ini. Kita hidup dalam dunia yang memiliki banyak kemajuan: teknologi yang canggih, kenyamanan hidup, dan akses informasi tanpa batas. Namun di balik semua itu banyak orang tetap merasa kosong. Banyak orang memiliki banyak hal tetapi kehilangan makna hidup. Banyak orang memiliki banyak relasi tetapi merasa kesepian. Banyak orang mencapai kesuksesan tetapi hatinya tetap tidak puas. Ini menunjukkan bahwa manusia modern pun tetap haus. Mengapa manusia tetap haus meskipun memiliki begitu banyak hal? Karena sering kali manusia mencoba memuaskan kehausan rohani dengan hal-hal yang bersifat sementara. Orang mencari kepenuhan hidup dalam uang, kesuksesan, pengakuan, atau kenikmatan. Semua itu mungkin memberi kepuasan sesaat, tetapi tidak pernah mampu mengisi kekosongan terdalam dalam hati manusia. Seperti kata Santo Agustinus: “Engkau menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau.” Yesus dalam Injil hari ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia berkata kepada perempuan Samaria: “Air yang Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Air hidup ini menunjuk pada kehidupan ilahi yang berasal dari Allah, kehidupan yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan kasih-Nya. Dalam bacaan kedua Santo Paulus menegaskan bahwa kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus. Hanya kasih Allah yang mampu memuaskan dahaga terdalam manusia. Ada satu detail kecil yang sangat indah dalam kisah Injil ini. Setelah perempuan Samaria bertemu dengan Yesus, Injil mengatakan bahwa ia meninggalkan tempayannya. Tempayan itu adalah alasan ia datang ke sumur. Namun setelah bertemu dengan Yesus, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih besar. Ia meninggalkan tempayan itu dan berlari ke kota untuk menceritakan pengalamannya kepada orang lain. Ini adalah gambaran yang sangat kuat tentang pertobatan: meninggalkan pencarian lama yang tidak memuaskan dan menemukan hidup baru dalam Kristus. Saudara-saudari terkasih, kisah perempuan Samaria sebenarnya adalah kisah kita semua. Kita semua pernah haus dan sering mencari kepenuhan hidup di tempat yang tidak tepat. Namun dalam masa Prapaskah ini Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya, sumber air hidup yang sejati. Jika kita ingin menemukan kepenuhan hidup yang sesungguhnya, marilah kita datang kepada Kristus dan berkata dengan kerendahan hati: “Tuhan, berilah aku air hidup itu.” Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Kotbah Minggu I Masa Prapaskah: 22 Februari 2026 - Tahun A/II

    Bacaan I : Kej. 2:7-9; 3:1-7
    Bacaan II :  Rm. 5:12-19
    Bacaan Injil : Mat. 4:1-11

     

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Bacaan di Minggu pertama Masa Prapaskah mengundang para pendengar untuk memilih mengikuri suara Roh Kudus atau roh jahat. Untuk mendalami pesan ini ditampilkan dua tokoh besar: Adam yang jatuh dalam godaan, dan Yesus yang menang atas godaan. Bacaan pertama dari Kitab Kejadian menampilkan manusia pertama yang tergoda oleh satu bisikan halus namun sangat kuat: “Kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Inilah inti godaan itu. Bukan sekadar makan buah terlarang, melainkan keinginan untuk mengambil alih posisi Allah.

    Para ekseget Katolik menjelaskan bahwa ungkapan “menjadi seperti Allah” (Ibrani: ke’Elohim) bukan berarti manusia ingin menyerupai Allah dalam kekudusan—karena manusia memang diciptakan menurut gambar Allah—melainkan ingin menentukan sendiri apa yang baik dan jahat, tanpa lagi bergantung pada Sang Pencipta. Santo Yohanes Paulus II dalam Veritatis Splendor menegaskan bahwa di sinilah akar dosa: manusia menolak menerima kebenaran moral dari Allah dan memilih menjadi sumber hukumnya sendiri. Maka dosa pertama adalah dosa ketidaktaatan, keinginan menentukan kriteria sendiri, bukan lagi mendengarkan Allah.

    Dari ketidaktaatan itu lahirlah maut. Rasul Paulus dalam Surat kepada jemaat di Roma berkata: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang dan oleh dosa itu juga maut...” (Rm 5:12). Maut bukan sekadar kematian fisik, tetapi keterputusan dari Allah, sumber kehidupan. Dosa satu orang membawa seluruh umat manusia masuk ke dalam situasi rapuh dan terluka.

    Namun hari ini Gereja tidak berhenti pada kisah kejatuhan. Injil memperlihatkan Adam yang baru: Yesus Kristus. Jika Adam jatuh karena tidak taat, Yesus justru berdiri teguh dalam ketaatan. Di padang gurun, Ia digoda tiga kali—tentang roti, tentang kuasa, tentang kemuliaan. Inti godaan itu sama: gunakan kuasa-Mu untuk diri-Mu sendiri, ambil jalan pintas, lepaskan ketaatan kepada Bapa. Tetapi Yesus menolak. Ia tidak mau menjadi “Allah versi diri sendiri”. Ia tetap Anak yang taat.

    Bahkan di atas salib pun godaan itu kembali muncul. “Selamatkanlah diri-Mu!” kata salah satu penjahat (Luk 23:39). Itu gema dari godaan di padang gurun. Tetapi Yesus tidak turun dari salib. Ia menyelesaikan perutusan-Nya dalam ketaatan penuh. Santo Paulus berkata: “Oleh satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Rm 5:18). Ketaatan Kristus membuka kembali jalan kehidupan.

    Saudara-saudari, Prapaskah mengajak kita bercermin. Godaan Adam masih hidup dalam diri kita: keinginan untuk menjadi pusat, menentukan sendiri apa yang benar menurut selera, menyingkirkan Allah ketika kehendak-Nya terasa berat. Kita ingin menjadi “seperti Allah” tanpa Allah. Tetapi keselamatan justru lahir dari jalan sebaliknya: kerendahan hati untuk taat.

    Mazmur hari ini menjadi doa kita: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu.” Kita mengakui bahwa dosa kita sering berakar pada kesombongan rohani. Tetapi kita juga percaya bahwa Kristus telah membuka jalan baru. Jika oleh ketidaktaatan Adam kita jatuh, maka oleh ketaatan Kristus kita dibangkitkan.

    Minggu pertama Prapaskah ini adalah undangan untuk memilih: tetap berjalan dalam logika Adam—menentukan sendiri—atau masuk dalam ketaatan Kristus. Jalan ketaatan mungkin tampak sempit, seperti padang gurun, seperti salib. Tetapi justru di situlah kehidupan ditemukan.

    Semoga dalam masa ini kita belajar berkata seperti Yesus: “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Dan dalam ketaatan itu, kita menemukan kembali hidup yang sejati. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Kotbah Minggu I Masa Prapaskah: 22 Februari 2026 - Tahun A/II

    Bacaan I : Kej. 2:7-9; 3:1-7
    Bacaan II :  Rm. 5:12-19
    Bacaan Injil : Mat. 4:1-11

     

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Bacaan di Minggu pertama Masa Prapaskah mengundang para pendengar untuk memilih mengikuri suara Roh Kudus atau roh jahat. Untuk mendalami pesan ini ditampilkan dua tokoh besar: Adam yang jatuh dalam godaan, dan Yesus yang menang atas godaan. Bacaan pertama dari Kitab Kejadian menampilkan manusia pertama yang tergoda oleh satu bisikan halus namun sangat kuat: “Kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Inilah inti godaan itu. Bukan sekadar makan buah terlarang, melainkan keinginan untuk mengambil alih posisi Allah.

    Para ekseget Katolik menjelaskan bahwa ungkapan “menjadi seperti Allah” (Ibrani: ke’Elohim) bukan berarti manusia ingin menyerupai Allah dalam kekudusan—karena manusia memang diciptakan menurut gambar Allah—melainkan ingin menentukan sendiri apa yang baik dan jahat, tanpa lagi bergantung pada Sang Pencipta. Santo Yohanes Paulus II dalam Veritatis Splendor menegaskan bahwa di sinilah akar dosa: manusia menolak menerima kebenaran moral dari Allah dan memilih menjadi sumber hukumnya sendiri. Maka dosa pertama adalah dosa ketidaktaatan, keinginan menentukan kriteria sendiri, bukan lagi mendengarkan Allah.

    Dari ketidaktaatan itu lahirlah maut. Rasul Paulus dalam Surat kepada jemaat di Roma berkata: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang dan oleh dosa itu juga maut...” (Rm 5:12). Maut bukan sekadar kematian fisik, tetapi keterputusan dari Allah, sumber kehidupan. Dosa satu orang membawa seluruh umat manusia masuk ke dalam situasi rapuh dan terluka.

    Namun hari ini Gereja tidak berhenti pada kisah kejatuhan. Injil memperlihatkan Adam yang baru: Yesus Kristus. Jika Adam jatuh karena tidak taat, Yesus justru berdiri teguh dalam ketaatan. Di padang gurun, Ia digoda tiga kali—tentang roti, tentang kuasa, tentang kemuliaan. Inti godaan itu sama: gunakan kuasa-Mu untuk diri-Mu sendiri, ambil jalan pintas, lepaskan ketaatan kepada Bapa. Tetapi Yesus menolak. Ia tidak mau menjadi “Allah versi diri sendiri”. Ia tetap Anak yang taat.

    Bahkan di atas salib pun godaan itu kembali muncul. “Selamatkanlah diri-Mu!” kata salah satu penjahat (Luk 23:39). Itu gema dari godaan di padang gurun. Tetapi Yesus tidak turun dari salib. Ia menyelesaikan perutusan-Nya dalam ketaatan penuh. Santo Paulus berkata: “Oleh satu perbuatan kebenaran, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Rm 5:18). Ketaatan Kristus membuka kembali jalan kehidupan.

    Saudara-saudari, Prapaskah mengajak kita bercermin. Godaan Adam masih hidup dalam diri kita: keinginan untuk menjadi pusat, menentukan sendiri apa yang benar menurut selera, menyingkirkan Allah ketika kehendak-Nya terasa berat. Kita ingin menjadi “seperti Allah” tanpa Allah. Tetapi keselamatan justru lahir dari jalan sebaliknya: kerendahan hati untuk taat.

    Mazmur hari ini menjadi doa kita: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu.” Kita mengakui bahwa dosa kita sering berakar pada kesombongan rohani. Tetapi kita juga percaya bahwa Kristus telah membuka jalan baru. Jika oleh ketidaktaatan Adam kita jatuh, maka oleh ketaatan Kristus kita dibangkitkan.

    Minggu pertama Prapaskah ini adalah undangan untuk memilih: tetap berjalan dalam logika Adam—menentukan sendiri—atau masuk dalam ketaatan Kristus. Jalan ketaatan mungkin tampak sempit, seperti padang gurun, seperti salib. Tetapi justru di situlah kehidupan ditemukan.

    Semoga dalam masa ini kita belajar berkata seperti Yesus: “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” Dan dalam ketaatan itu, kita menemukan kembali hidup yang sejati. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu V Masa Biasa : 8 Februari 2026 - Tahun A/II

    Bacaan I : 
    Bacaan II : 
    Bacaan Injil : 

    Menjadi Garam dan Terang di Dunia Zaman Ini

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Dalam Injil hari ini, Yesus tidak berkata, “Berusahalah menjadi garam dan terang.” Ia berkata dengan tegas: “Kamulah garam dunia… kamulah terang dunia.” Artinya, menjadi garam dan terang bukan pilihan tambahan bagi orang Kristen, melainkan identitas dasar murid Kristus. Pertanyaannya bukan apakah kita mau menjadi terang, tetapi bagaimana terang itu sungguh menyala dalam dunia zaman ini.

    Bacaan pertama dari Nabi Yesaya memberi jawaban yang sangat konkret atas pertanyaan bagaimana menjadi Terang. Terang, menurut Yesaya, bukan pertama-tama soal doa yang indah atau ibadat yang ramai, melainkan tindakan nyata: membagi roti kepada yang lapar, memberi tumpangan kepada yang terlantar, mengenakan pakaian kepada yang telanjang, dan tidak memalingkan diri dari saudara sendiri. Lalu Nabi berkata: “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar.” Artinya, terang lahir bukan dari kata-kata, tetapi dari belas kasih yang diwujudkan dalam tindakan. Yesaya juga menyingkapkan kritik tajam terhadap religiositas palsu: orang bisa rajin beribadah, tetapi membiarkan ketidakadilan, penindasan, dan penderitaan sesama. Tuhan menolak ibadah yang terpisah dari kepedulian sosial. Maka menjadi terang berarti membiarkan iman menjelma dalam tindakan yang memulihkan martabat manusia.

    Bacaan kedua dari Rasul Paulus menegaskan fondasi rohani dari terang itu. Paulus berkata bahwa ia tidak datang dengan kata-kata bijak atau kehebatan manusiawi, tetapi dengan kerendahan hati dan kuasa Allah. Ia tidak ingin iman jemaat bertumpu pada kepandaian manusia, melainkan pada kekuatan Tuhan. Terang Kristen bukan pamer kehebatan, melainkan kesaksian hidup yang jujur, rendah hati, dan bersandar pada Allah.

    Injil hari ini menyatukan semuanya. Garam berfungsi bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memberi rasa dan mencegah kebusukan. Terang tidak dinyalakan untuk disembunyikan, tetapi untuk menerangi rumah. Yesus menegaskan: “Hendaklah terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di surga.” Tujuan terang bukan agar kita dipuji, tetapi agar Allah dimuliakan.

    Saudara-saudari terkasih, Lalu bagaimana menjadi terang di zaman ini, dengan segala tantangannya? Dunia kita menghadapi banyak kegelapan: ketidakadilan sosial, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, hoaks dan kebencian di media sosial, individualisme, serta kelelahan batin yang meluas. Dalam konteks ini, menjadi terang bukan berarti melakukan hal luar biasa, tetapi kesetiaan pada kebaikan konkret: kejujuran di tengah budaya korupsi, kepedulian di tengah sikap acuh tak acuh, solidaritas di tengah polarisasi, dan kesederhanaan di tengah konsumerisme.

    Menjadi terang hari ini berarti berani hadir dan peduli. Dalam keluarga: mendengarkan dengan sabar dan mengampuni. Dalam pekerjaan: bekerja jujur dan adil. Dalam masyarakat: membela yang lemah dan menjaga ciptaan. Dalam Gereja: melayani tanpa mencari pujian. Itulah terang yang kecil, tetapi nyata—dan justru itulah yang dibutuhkan dunia.

    Yesus tidak meminta kita menerangi seluruh dunia sekaligus. Ia meminta kita menyalakan terang di tempat kita berada. Garam bekerja sedikit demi sedikit. Terang menyala setia, bahkan di tengah gelap. Dunia tidak menunggu orang Kristen yang sempurna, tetapi orang Kristen yang mau hidup sesuai imannya.

    Dalam Ekaristi ini, marilah kita memohon rahmat agar hidup kita sungguh menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang memberi harapan. Semoga melalui perbuatan-perbuatan kecil namun setia, dunia melihat terang Kristus dan memuliakan Bapa di surga. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hr Minggu Sabda Allah : Penutupan Pekan Doa Sedunia | 25 Januari 2026 - Tahun A/II

    Bacaan I : Yes. 8:23b - 9:3
    Bacaan II : 1 Kor. 1:10-13,17
    Bacaan Injil : Mat. 4:12-23

    Dipanggil untuk Berjalan dalam Terang Kristus

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Sabda Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan satu kata yang sering kita dengar, tetapi tidak selalu kita hayati secara mendalam, yaitu pertobatan. Injil merangkum pewartaan pertama Yesus dengan sangat sederhana namun tegas: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.”

    Mengikuti Yesus berarti mengubah arah hidup. Itulah makna pertobatan yang sejati. Pertobatan bukan hanya soal berhenti berbuat dosa, bukan sekadar menjadi orang yang lebih baik secara moral. Pertobatan adalah keberanian untuk melangkah ke arah baru bersama Kristus, Sang Terang. Dari hidup yang berpusat pada diri sendiri, menuju hidup yang terbuka pada kehendak Allah. Dari mengandalkan kekuatan sendiri, menuju kepercayaan penuh kepada Tuhan. Dari hidup untuk diri sendiri, menuju hidup untuk perutusan.

    Inilah gerak dari gelap menuju terang. Namun Sabda Tuhan hari ini juga mengajak kita jujur melihat kegelapan zaman kita. Kita hidup di zaman yang penuh cahaya teknologi. Layar menyala sepanjang hari, informasi mengalir tanpa henti, komunikasi terjadi dalam hitungan detik. Tetapi justru di tengah semua cahaya itu, banyak orang hidup dalam kegelapan batin. Informasi berlimpah, tetapi kebijaksanaan menipis. Komunikasi cepat, tetapi relasi menjadi dangkal. Banyak orang lelah secara mental, bingung secara rohani, dan kehilangan harapan dalam hidup.

    Kegelapan zaman ini bukan karena kurang pengetahuan, tetapi karena kehilangan arah. Banyak orang tahu banyak hal, tetapi tidak tahu untuk apa ia hidup. Banyak orang terhubung dengan banyak orang, tetapi merasa sendirian. Banyak orang sibuk membangun citra diri, tetapi lupa membangun kedalaman hati.

    Dalam konteks inilah nubuat Nabi Yesaya menjadi sangat kuat dan relevan: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Terang itu bukan sekadar cahaya fisik, bukan sekadar perubahan situasi politik atau sosial. Terang itu adalah tanda bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Justru ketika manusia berada dalam kebingungan, penindasan, dan kelelahan, Allah datang membawa harapan.

    Injil hari ini menunjukkan bagaimana nubuat itu mulai digenapi. Yesus memulai karya-Nya di Galilea, wilayah yang dianggap pinggiran, bukan pusat kekuasaan atau agama. Dari tempat yang sederhana itu, Yesus membawa terang. Ia tidak datang dengan kekerasan, tetapi dengan pewartaan. Ia tidak memanggil orang-orang sempurna, tetapi orang-orang biasa yang sedang bekerja dan bergumul dengan hidup.

    Ketika Yesus memanggil para nelayan, Injil mengatakan: “Mereka segera meninggalkan jala dan mengikuti Dia.” Jala bukan hanya alat kerja; jala adalah simbol rasa aman, kebiasaan lama, dan cara hidup yang sudah dikenal. Mengikuti Yesus berarti berani meninggalkan jala itu—berani keluar dari zona nyaman—dan mempercayakan hidup kepada terang Kristus.

    Namun terang Kristus tidak hanya mengubah pribadi, tetapi juga membangun persekutuan. Itulah sebabnya Rasul Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan jemaat Korintus agar tidak terpecah-pecah. Dunia yang gelap sering memecah belah: membuat kita saling mencurigai, saling menjatuhkan, dan merasa paling benar. Tetapi terang Kristus mempersatukan. Gereja dipanggil menjadi tanda terang itu melalui kesatuan, bukan perpecahan.

    Saudara-saudari terkasih, Minggu III Masa Biasa ini mengajak kita bertanya secara pribadi dan jujur: Di bagian mana hidupku masih berada dalam kegelapan? Jala apa yang masih sulit kutinggalkan? Apakah aku sungguh berjalan dalam terang Kristus, atau hanya menikmati cahaya dunia? Mengikuti Yesus berarti berani mengubah arah hidup. Bukan karena kita sudah sempurna, tetapi karena kita percaya bahwa terang Kristus lebih kuat daripada kegelapan apa pun.

    Dalam Ekaristi ini, marilah kita mohon rahmat pertobatan sejati: pertobatan yang mengubah arah, pertobatan yang membawa kita dari gelap ke terang, dan pertobatan yang mengutus kita menjadi pembawa harapan bagi dunia yang lelah dan bingung.

    Semoga hidup kita sungguh diterangi oleh Kristus, dan melalui kita, terang itu menjangkau sesama. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hr Minggu Biasa II : Pembukaan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen 18 Januari 2026 - Tahun A/II

    Bacaan I : Yes. 49:3,5-6
    Bacaan II :  1 Kor. 1:1-3
    Bacaan Injil : Yoh. 1:29-34

    Lihatlah Anak Domba Allah: Arah, Jiwa, dan Gaya Hidup Orang Beriman

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Injil hari ini tidak dibuka dengan perintah untuk bertindak, tetapi dengan sebuah seruan yang sangat menentukan arah hidup iman: “Lihatlah Anak Domba Allah.” Yohanes Pembaptis tidak mengajak orang mengagumi dirinya, tidak menunjuk struktur, jabatan, atau kekuatan apa pun. Ia mengarahkan pandangan umat kepada Yesus. Artinya jelas: hidup beriman dan pelayanan Gereja hanya akan benar jika arah pandangannya benar.

    Ajakan “Lihatlah” bukan sekadar melihat dengan mata, melainkan mengalihkan pusat hidup. Dunia hari ini menawarkan begitu banyak hal untuk dipandang dan dikejar: keberhasilan, pengakuan, kekuasaan, posisi, dan gengsi. Tanpa sadar, semua ini bisa menjadi ukuran hidup—bahkan ukuran keberhasilan rohani. Yohanes Pembaptis memperingatkan kita: jika pandangan kita salah arah, maka iman akan kehilangan jiwanya. Arahkan pandanganmu kepada Anak Domba Allah.

    Bacaan pertama dari nabi Yesaya menyingkapkan dengan indah siapakah Anak Domba itu. Ia digambarkan sebagai Hamba Tuhan yang dipilih Allah, bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Hamba ini tidak berteriak-teriak, tidak mematahkan buluh yang terkulai, dan tidak memadamkan sumbu yang pudar. Ia membawa keadilan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kesetiaan dan kelembutan. Inilah potret kepemimpinan dan pelayanan menurut hati Allah: bukan menekan, tetapi membangkitkan; bukan menguasai, tetapi menyembuhkan.

    Yesus menggenapi nubuat ini secara sempurna. Ia adalah Anak Domba yang tidak melawan ketika disakiti, tidak membalas ketika dihina, dan tidak mundur ketika jalan salib terbentang di hadapan-Nya. Ia menanggung dosa dunia bukan dengan pedang, tetapi dengan kasih. Jalan ini sering terasa berlawanan dengan logika dunia, namun justru di sanalah kuasa Allah bekerja. Keselamatan tidak lahir dari dominasi, tetapi dari penyerahan diri.

    Para orang kudus dan Bapa Gereja membantu kita memahami makna ini lebih dalam. Santo Agustinus berkata bahwa Kristus sebagai Anak Domba “menang bukan dengan membunuh, tetapi dengan dibunuh; mengalahkan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kasih.” Santo Yohanes Krisostomus menegaskan bahwa Yohanes Pembaptis menunjuk Anak Domba agar para pelayan dan orang beriman belajar mengosongkan diri supaya Kristus tampak, sebab pelayan sejati tidak mengumpulkan pengikut bagi dirinya, tetapi mengantar umat kepada Tuhan.

    Para paus menegaskan arah yang sama. Paus Benediktus XVI menjelaskan bahwa Anak Domba Allah menyerap kejahatan dunia ke dalam kasih-Nya dan mengalahkannya dari dalam. Maka iman Kristen bukan iman yang menyerang, tetapi iman yang mengubah dari hati. Paus Fransiskus mengingatkan: “Pemimpin Gereja bukan pangeran, melainkan gembala yang berbau domba.” Gereja bertumbuh bukan karena tekanan atau strategi kuasa, tetapi karena daya tarik kasih yang rendah hati.

    Saudara-saudari terkasih, Inilah pertanyaan yang harus kita bawa pulang hari ini:

    • Apa yang sesungguhnya kita pandang dan kejar dalam hidup beriman? 
    • Apakah kita memandang Anak Domba, atau justru sibuk memandang diri sendiri? 
    • Apakah iman kita membuat Kristus makin tampak, atau justru ego kita yang makin besar? 
    •  Apakah kehadiran kita membangkitkan yang rapuh, atau malah mematahkan yang lemah? 

    Minggu ini, Injil tidak meminta kita melakukan hal yang spektakuler. Injil meminta kita mengarahkan ulang pandangan hidup. Dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, relasi sosial, dan keputusan sehari-hari -- pandanglah Anak Domba Allah. Dari sanalah lahir kesabaran ketika lelah, kelembutan ketika marah, keberanian ketika takut, dan kesetiaan ketika jalan terasa berat.

    Dan ketika umat Allah sungguh mengarahkan pandangan kepada Anak Domba: iman tidak berubah menjadi pencitraan, pelayanan tidak berubah menjadi kekuasaan, dan Gereja sungguh menjadi tanda keselamatan. Sebab dengan memandang Anak Domba Allah, kita belajar mengasihi tanpa melukai, melayani tanpa menindas, dan hidup bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk memuliakan Allah dan menyelamatkan sesama. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Pesta Pembaptisan Tuhan | Minggu 11 Januari 2026 - Tahun A/II


    Bacaan I : Yes. 42:1-4,6-7
    Bacaan II : Kis. 10:34-38
    Bacaan Injil : Mat. 3:13-17

    Lihatlah hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku yang kepadanya Aku berkenan.

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Gereja merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Perayaan ini menutup masa Natal dan Epifani dengan sebuah pewahyuan yang sangat mendalam. Liturgi hari ini seakan dibingkai oleh satu ajakan sederhana namun kuat: “Lihatlah.” Dalam hidup sehari-hari, ketika seseorang berkata, “Lihatlah dia,” biasanya ia tidak sedang memberi teori, melainkan menunjuk pada seorang teladan hidup. Kita diajak belajar bukan dari kata-kata, tetapi dari pribadi.

    Itulah yang dilakukan Nabi Yesaya. Ia tidak menyampaikan konsep keselamatan yang rumit, tetapi berkata: “Lihatlah hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku yang kepadanya Aku berkenan; Aku telah menaruh Roh-Ku ke atas-Nya.” Allah mengajak umat untuk melihat bagaimana Ia bekerja melalui seorang hamba yang dipenuhi Roh. Keselamatan Allah bukan pertama-tama gagasan, melainkan hidup yang nyata.

    Injil hari ini menunjukkan bahwa hamba itu adalah Yesus. Ketika Yesus dibaptis di Sungai Yordan, langit terbuka, Roh Kudus turun ke atas-Nya, dan suara Bapa terdengar: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Ini adalah momen Epifani yang paling jernih. Allah sendiri menunjuk Yesus dan seolah berkata kepada dunia: “Lihatlah Dia.” Jika engkau ingin tahu siapa Aku, bagaimana Aku mengasihi, dan bagaimana Aku menyelamatkan—lihatlah Yesus.

    Saudara-saudari terkasih, apa yang kita lihat ketika kita memandang Yesus? Kita melihat Pribadi yang dipenuhi Roh Kudus bukan untuk kemuliaan diri, tetapi untuk perutusan. Setelah dibaptis, Yesus tidak mencari kehormatan atau kenyamanan. Ia berkeliling sambil berbuat baik, menyembuhkan yang sakit, membebaskan yang terbelenggu, dan memulihkan yang terluka. Roh Kudus menjadikan hidup-Nya hadiah bagi banyak orang.

    Pesta Pembaptisan Tuhan mengingatkan kita bahwa jalan Allah adalah jalan kedekatan dan solidaritas. Yesus tidak berdiri di luar barisan manusia berdosa, tetapi masuk ke dalamnya. Ia menyelamatkan bukan dengan menjauh dari dunia, melainkan dengan hadir di tengah luka-luka dunia. Inilah wajah Allah yang sering tidak kita duga: Allah yang rendah hati, lembut, dan setia.

    Saudara-saudari terkasih, sabda “lihatlah” hari ini juga diarahkan kepada kita semua yang telah dibaptis. Dunia tidak hanya mendengar Injil dari mimbar atau Kitab Suci, tetapi melihat Injil dalam hidup umat beriman. Cara kita bekerja, berbicara, memperlakukan sesama, menghadapi konflik, dan menanggapi yang lemah—semuanya menjadi kesaksian tentang siapa Allah yang kita imani.

    Di zaman yang penuh kata-kata tetapi miskin teladan, Allah masih bekerja dengan cara yang sama seperti dahulu. Ia tidak hanya berkata kepada dunia: “Dengarkanlah ajaran-Ku,” tetapi juga: “Lihatlah hidup mereka yang mengikuti Anak-Ku.” Di sinilah tanggung jawab iman kita menjadi nyata dan konkret.

    Maka marilah kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan ini dengan satu sikap batin yang jujur: memandang Yesus,
    membiarkan Roh Kudus membentuk cara hidup kita,
    dan rela menjadi saksi yang dapat dilihat.

    Semoga dalam kehidupan sehari-hari—di keluarga, di tempat kerja, di masyarakat—hidup kita semakin menunjuk kepada Kristus, sehingga ketika dunia bertanya di mana Allah hadir hari ini, Allah dapat menjawab: “Lihatlah mereka.”
    Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Refleksi Akhir Tahun 2025

     

    Refleksi Akhir Tahun Berdasarkan Yohanes 1:1–18

    1. Menutup Tahun dengan Sabda, Bukan Sekadar Angka

    Akhir tahun sering kali identik dengan perhitungan: apa yang berhasil, apa yang gagal, apa yang hilang, dan apa yang belum tercapai. Kita menghitung waktu, prestasi, target, dan statistik. Namun Gereja, dengan kebijaksanaan rohaninya, mengajak kita melakukan sesuatu yang jauh lebih dalam: menutup tahun dengan Sabda, bukan sekadar angka. Itulah sebabnya Injil Yohanes pasal 1 dibacakan pada hari terakhir tahun.

    “In principio erat Verbum – Pada mulanya adalah Firman.”

    Gereja seolah berkata kepada kita: sebelum engkau menutup satu tahun dan membuka tahun yang baru, kembalilah ke awal yang sejati. Awal hidupmu bukan tanggal lahir, bukan pencapaian, bukan keberhasilan atau kegagalanmu, melainkan Allah sendiri yang berfirman dan memberi hidup. Ketika hidup dilepaskan dari sumber ini, manusia mudah tersesat, meskipun tampak sibuk, produktif, dan berhasil.

    Injil Yohanes mengingatkan bahwa hidup bukan milik kita sepenuhnya. Hidup adalah anugerah yang mengalir dari Firman yang kekal. Maka refleksi akhir tahun bukan pertama-tama evaluasi kinerja, tetapi pemeriksaan relasi: sejauh mana aku masih tinggal di dalam Firman yang memberi hidup?

    2. Terang Datang ke Dunia, tetapi Tidak Selalu Diterima

    “Inilah terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang.” Yohanes tidak berkata bahwa terang gagal datang. Terang sudah datang. Kristus telah hadir. Masalahnya bukan pada terang, tetapi pada penerimaan manusia terhadap terang itu. Yohanes menulis dengan jujur dan realistis: terang itu datang ke dunia-Nya sendiri, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Inilah gambaran yang sangat kuat tentang kegelapan zaman ini.

    Kegelapan bukan selalu kejahatan yang terang-terangan. Kegelapan sering tampil sebagai kehidupan yang tampak normal, religius, bahkan berhasil, tetapi kehilangan arah dan makna. Manusia berjalan cepat, tetapi tidak tahu ke mana. Keluarga hidup bersama, tetapi tidak sungguh saling hadir. Banyak yang merasa benar, tetapi jauh dari kebenaran. Berjalan dalam kegelapan berarti hidup tanpa terang Kristus sebagai penuntun.

    Keputusan diambil berdasarkan ego, gengsi, uang, tekanan sosial, atau ketakutan, bukan berdasarkan Sabda Tuhan. Doa menjadi formalitas. Iman direduksi menjadi kebiasaan, bukan relasi. Inilah yang dimaksud Yohanes ketika memperingatkan tentang zaman akhir: zaman ketika terang dan gelap bercampur, dan manusia sulit membedakannya.

    3. Kegelapan dalam Pribadi dan Keluarga Zaman Ini

    Ketika terang Kristus tidak lagi menjadi pusat, tanda-tanda kegelapan mulai muncul dalam hidup pribadi dan keluarga. Salah satu tanda paling jelas adalah kehilangan sukacita batin. Hidup dijalani sebagai beban. Mudah marah, cepat tersinggung, sinis, dan lelah secara rohani. Banyak aktivitas, tetapi sedikit damai.

    Dalam keluarga, kegelapan sering muncul sebagai dinginnya relasi. Dialog menghilang, digantikan oleh layar gawai. Kebersamaan menjadi fisik semata, tanpa kehadiran hati. Kekerasan verbal dan emosional dianggap wajar. Pengampunan menjadi mahal. Padahal keluarga dipanggil menjadi tempat terang pertama—Nazaret tempat Yesus bertumbuh.

    Tanda lain kegelapan adalah Tuhan disingkirkan ke pinggir kehidupan. Doa bersama hilang. Sabda Tuhan tidak lagi menjadi bahan percakapan dan penuntun keputusan. Tuhan hanya dipanggil saat krisis, bukan sebagai Sahabat harian. Dalam situasi ini, manusia mencari terang pengganti: kenikmatan instan, hiburan tanpa henti, konsumerisme, dan pelarian digital. Namun terang semu ini tidak pernah memberi hidup—ia hanya memberi sensasi sesaat dan meninggalkan kehampaan.

    4. Tanpa Terang Kristus, Manusia Mudah Merasa Benar tetapi Sesat

    Bacaan pertama dari Surat Yohanes menegaskan bahwa di zaman akhir akan banyak suara yang menyesatkan. Ini bukan nubuat tentang kiamat semata, tetapi diagnosis rohani yang sangat relevan hari ini. Di zaman informasi dan media sosial, kebenaran sering dikalahkan oleh opini, emosi, dan kepentingan. Orang bisa sangat yakin, sangat lantang, tetapi sangat jauh dari kebenaran.

    Tanpa terang Kristus, manusia kehilangan kompas moral. Yang salah bisa dibenarkan, yang benar bisa disingkirkan. Kepekaan terhadap penderitaan sesama menurun. Solidaritas melemah. Lingkungan rusak, tetapi dianggap harga kemajuan. Orang miskin menderita, tetapi dianggap urusan pribadi. Inilah kegelapan struktural yang tidak selalu disadari, tetapi sangat merusak.

    Mazmur 96 hari ini memberi jawaban iman: Tuhan datang untuk memerintah dengan keadilan. Artinya, terang Kristus bukan hanya urusan batin, tetapi kekuatan yang menata dunia. Terang itu memanggil kita untuk hidup benar, adil, dan berbelas kasih—di rumah, di tempat kerja, di ruang publik, dan di media digital.

    5. Harapan Besar: Kegelapan Bukan Akhir Cerita

    Kabar baik Injil Yohanes adalah ini: kegelapan tidak dapat menguasai terang. Yohanes tidak berkata bahwa kegelapan hilang, tetapi bahwa kegelapan tidak menang. Kristus adalah terang yang bertahan, bahkan ketika dunia menolak-Nya. Inilah dasar pengharapan Kristiani. Berjalan dalam terang bukan berarti hidup tanpa masalah.

    Berjalan dalam terang berarti membiarkan Kristus hadir di tengah masalah, menuntun langkah, menyembuhkan luka, dan memberi arah baru. Terang Kristus memampukan kita untuk jujur pada diri sendiri, berani bertobat, dan memulai kembali. Akhir tahun, karena itu, adalah undangan untuk memilih kembali:

    Apakah aku mau tinggal dalam terang, atau terus bertahan dalam kegelapan yang menipu? Apakah keluargaku mau membuka pintu bagi Kristus, atau membiarkan-Nya tetap di luar?

    6. Menutup Tahun, Membuka Hati

    Gereja menutup tahun dengan Injil Yohanes agar kita tidak menutup hidup dengan kelelahan, ketakutan, atau sinisme, tetapi dengan iman. Pengakuan iman di akhir tahun ini sangat sederhana, tetapi menentukan: “Hidupku bukan milikku sendiri; hidupku ada di dalam Kristus.”

    Dari pengakuan inilah lahir keberanian untuk melangkah ke tahun yang baru—bukan dengan jaminan bebas masalah, tetapi dengan keyakinan bahwa terang Kristus berjalan bersama kita. Bila terang itu tinggal dalam diri dan keluarga kita, maka hidup kita, sekecil apa pun, akan menjadi pantulan terang itu bagi dunia.

    Doa Penutup Refleksi:
    Tuhan Yesus, Engkaulah Terang sejati yang datang ke dunia. Bila selama tahun ini kami berjalan dalam gelap, datanglah dan terangi langkah kami. Bila kami tersesat, jadilah arah kami. Bila kami letih dan kehilangan makna, jadilah hidup kami. Tinggallah dalam hati kami, dalam keluarga kami, dan dalam dunia yang Engkau cintai. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu III Adven (Gaudete) | 14 Desember 2025 - Tahun A/II

    Bacaan I : Yes. 35:1-6a,10
    Bacaan II : Yak. 5:7-10
    Bacaan Injil : Mat. 11:2-11

    Menyelaraskan Hati dengan Dia yang Akan Datang

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Gereja berseru: Gaudete—Bersukacitalah! Sukacita ini bukan karena hidup sudah bebas dari persoalan, melainkan karena Tuhan sungguh sudah dekat. Adven mengingatkan kita bahwa penantian iman bukanlah ruang kosong, tetapi ruang harapan. Bacaan hari ini menolong kita mengenali siapakah Dia yang akan datang itu, supaya penantian kita tidak salah arah dan hati kita sungguh siap menyambut-Nya.

    Nabi Yesaya melukiskan kedatangan Tuhan sebagai saat pemulihan total: padang gurun bersorak, yang lemah dikuatkan, yang buta melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh melompat kegirangan. Gambaran ini menyingkapkan kualitas pertama dari Dia yang akan datang: Allah yang memulihkan kehidupan. Ia tidak datang membawa ancaman, melainkan harapan; bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyembuhkan dan mengangkat kembali martabat manusia yang terluka.

    Rasul Yakobus kemudian mengajak umat untuk bersabar dan tetap teguh, sebab Tuhan sudah dekat. Kesabaran yang dimaksud bukanlah pasrah tanpa daya, tetapi ketekunan iman yang percaya bahwa Allah setia bekerja, meskipun tidak selalu sesuai dengan jadwal manusia. Allah yang akan datang adalah Allah yang dapat dipercaya. Maka hidup kita pun dipanggil untuk diselaraskan dengan irama kesetiaan-Nya, bukan dengan kegelisahan dunia.

    Dalam Injil, Yohanes Pembaptis—yang sedang berada di penjara—bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu?” Pertanyaan ini sangat manusiawi. Bahkan seorang nabi pun bisa diliputi keraguan saat harapan terasa tertunda. Namun Yesus menjawab bukan dengan teori, melainkan dengan tindakan nyata: orang buta melihat, orang miskin menerima kabar baik. Inilah kualitas terdalam dari Mesias: Ia hadir melalui belas kasih yang konkret, menyentuh kehidupan nyata.

    Yesus kemudian memuji Yohanes sebagai nabi besar, namun Yohanes tidak pernah menempatkan dirinya di pusat. Ia selalu menunjuk kepada Kristus. Dari sini kita belajar bahwa menyelaraskan diri dengan Dia yang akan datang berarti merendahkan diri, membiarkan Tuhan semakin besar dan ego kita semakin kecil. Sukacita sejati lahir bukan ketika kita menjadi pusat perhatian, tetapi ketika hidup kita menjadi jalan bagi kehadiran Tuhan.

    Maka Adven mengajak kita bercermin:
    Apakah kehadiran kita membawa pemulihan atau justru menambah luka?
    Apakah kata-kata kita meneguhkan atau melemahkan?
    Apakah hidup kita menjadi tanda harapan atau justru sumber keputusasaan?
    Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menata ulang hati agar seirama dengan Kristus.

    Menyelaraskan diri dengan Dia yang akan datang berarti belajar memiliki hati seperti hati-Nya: hati yang sabar, setia, dan penuh belas kasih. Menjadi pribadi yang menguatkan yang lemah, bukan mengeluh; yang merawat harapan, bukan menyebar ketakutan; yang hadir di tengah penderitaan, bukan menjauh darinya. Inilah pertobatan Adven: bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi menyesuaikan arah hidup dengan kasih Allah.

    Saudara-saudari terkasih, marilah kita menyambut Kristus yang akan datang dengan hati yang siap dan penuh sukacita. Dia yang datang adalah Dia yang mengubah air mata menjadi pengharapan dan luka menjadi sumber kehidupan baru. Barangsiapa menyelaraskan hidupnya dengan Dia, tidak akan pernah berjalan tanpa harapan, sebab Tuhan sungguh dekat.

    Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu II Adven | 7 Desember 2025 - Tahun A/II

    Bacaan I : Yes. 11:1-10
    Bacaan II :  Rm. 15:4-9
    Bacaan Injil : Mat. 3:1-12

    Pertobatan: Menjadi Se-irama dengan Hati Kristus yang Datang

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Masa Adven bukan sekadar masa menunggu tanggal Natal; ini adalah masa untuk menata ulang hati, memperlambat langkah, dan memperhalus kepekaan rohani agar kita menyambut Tuhan bukan hanya dengan dekorasi luar, tetapi dengan batin yang terbuka. Adven adalah masa untuk menyelaraskan kembali hidup kita dengan Dia yang akan datang.

    Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis berseru dengan kuat: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Seruan pertobatan ini bukan ancaman, tetapi undangan penuh kasih. Pertobatan bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi mengizinkan Tuhan membentuk hati kita sesuai hati-Nya — supaya ketika Ia datang, Ia mendapati hati yang siap menjadi tempat tinggal-Nya.

    Yohanes mengkritik orang-orang Farisi dan Saduki yang merasa diri sudah benar, tetapi hati mereka dingin dan sombong. Ia mengingatkan bahwa pertobatan harus nyata dalam hidup: “Hasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan.” Artinya, iman yang sejati selalu berwujud dalam tindakan yang memulihkan — bukan hanya ucapan atau ritual.

    Yesaya dalam Bacaan Pertama menggambarkan Sang Mesias sebagai Raja yang dipenuhi Roh Tuhan: bijaksana, adil, murah hati kepada yang lemah. Kuasa-Nya bukan kuasa yang menindas, tetapi yang menyembuhkan. Ia mengembalikan keharmonisan: serigala tinggal bersama anak domba, alam dipulihkan, dan manusia berdamai kembali. Kerajaan yang datang adalah Kerajaan pemulihan.

    Inilah juga pesan Rasul Paulus: Kristus datang untuk mempersatukan bangsa-bangsa yang berbeda dan rapuh, menyatukan dunia yang tercerai-berai oleh dosa dan egoisme. Pertobatan sejati berarti menjadi bagian dari karya-Nya itu: kita dipanggil bukan hanya menjadi orang baik untuk diri sendiri, tetapi menjadi saluran pemersatu dan penyembuh bagi sesama.

    Paus Fransiskus berkata: “Pertobatan sejati selalu memimpin kita keluar dari diri sendiri menuju saudara yang terluka.” Maka Adven mengundang kita meninggalkan ketidakpedulian, melepaskan sikap menghakimi, dan membuka mata terhadap mereka yang menderita — baik di rumah kita, komunitas kita, maupun dunia sekitar kita.

    Saudara-saudari, pertobatan dalam Adven berarti memulihkan tiga relasi utama:
    relasi dengan Allah (melalui doa dan keheningan),
    relasi dengan sesama (melalui pengampunan dan solidaritas),
    relasi dengan ciptaan (melalui kepedulian ekologis).
    Jika ketiga relasi ini sembuh, maka kedatangan Tuhan menjadi nyata dalam hidup kita, bukan hanya dalam perayaan.

    Lihatlah dunia kita hari ini: masih banyak air mata, pengungsi, orang miskin, dan kehancuran alam. Tuhan datang justru ke dunia seperti itu — bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyembuhkan. Ia mencari hati yang bersedia menjadi tangan-Nya, langkah-Nya, dan senyuman-Nya bagi mereka yang hancur. Pertobatan kita harus menghasilkan buah belas kasih yang konkret.

    Karena itu, marilah kita mengubah arah hidup ini selangkah demi selangkah:
    ✔ lebih banyak mendengarkan Tuhan daripada suara ketakutan
    ✔ lebih banyak memberi daripada menuntut
    ✔ lebih banyak menyembuhkan daripada melukai
    ✔ lebih banyak membangun daripada meruntuhkan
    ✔ lebih banyak membuka diri daripada memisahkan diri Inilah buah-buah Adven yang menyelaraskan hati kita dengan hati Kristus.

    Saudara-saudari terkasih, Semoga Adven ini menjadi masa ketika hati kita menjadi se-irama dengan hati Sang Mesias: hati yang tergerak oleh belas kasih, hati yang menghibur dan memulihkan, hati yang menjadi tempat bagi orang lain menemukan harapan baru. Dengan pertobatan seperti ini, Natal tidak hanya menjadi perayaan tahunan — tetapi kelahiran Kristus kembali di dalam hati kita.

    Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hari Raya Pelindung KAM | 1 Desember 2025 - Tahun A

    Bacaan I : Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6;
    Bacaan Injil : Mat 8:5-11

    Menata Hati Menyambut Dia Yang Datang

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

    Hari ini kita merayakan pesta dua pelindung Keuskupan Agung Medan—Beato Dionisius a Nativitate dan Beato Redemptus a Cruce—dua misionaris Karmel Tak Berkasut yang memberikan hidup mereka di Aceh pada tahun 1638. Mereka bukan hanya martir, tetapi fondasi spiritual pertama kehadiran Gereja di Sumatera. Kita berdiri di atas jejak kesetiaan mereka.

    Beato Dionisius—yang lahir sebagai Pierre Berthelot—adalah pelaut ulung, bangsawan Prancis, ahli peta laut, dan perwira angkatan laut Portugis. Di tengah kejayaan itu, ia mendengar suara Tuhan yang menggelisahkan hatinya. Ia meninggalkan semuanya pada usia 35 tahun dan memilih hidup doa, kesederhanaan, dan cinta Tuhan dalam biara Karmel. Dalam dirinya kita melihat kualitas Kristus yang taat dan rendah hati.

    Beato Redemptus—lahir Thomas da Cunha—adalah putra petani miskin yang pernah menjadi tentara. Namun ia rindu damai batin, sehingga meninggalkan karier militernya dan masuk Karmel sebagai bruder sederhana. Ia menjalani hidup pelayanan kecil: menjaga pintu biara, menerima tamu, dan mengajar anak-anak. Ia menunjukkan bahwa kekudusan tidak lahir dari panggung besar, tetapi dari kesetiaan kecil penuh cinta. Paus Fransiskus berkata: “Kekudusan tumbuh dalam kesederhanaan setiap hari.” Itulah Redemptus.

    Ketika kerajaan Goa membutuhkan utusan diplomatik ke Aceh, Dionisius diminta menjadi penerjemah dan pandu laut; tahbisan imamatnya dipercepat. Redemptus ikut sebagai pembantu. Tujuan mereka sederhana: membangun damai. Namun fitnah VOC Belanda membuat mereka ditangkap dan disiksa. Dalam penjara gelap, mereka tetap meneguhkan sesama tawanan, membagi pengampunan, dan memeluk salib. Mereka menyerupai Kristus yang tetap mencintai di tengah kegelapan.

    Ketika dijatuhi hukuman mati, Dionisius memegang salib kecil dan berkata: “Jangan mundur. Kristus sudah berjalan lebih dahulu.” Redemptus menjadi martir pertama, lalu Dionisius dipancung oleh seorang algojo murtad. Mayat mereka tidak membusuk selama tujuh bulan—tanda bahwa hidup mereka menjadi persembahan kudus. Gereja kemudian mengakui mereka sebagai martir, dan pada tahun 1900 mereka dibeatifikasi.

    Saudara-saudari, pesta ini dirayakan dalam masa Adven. Adven adalah masa “menyelaraskan hati” dengan Dia yang datang. Apa artinya menyelaraskan hati? Artinya membiarkan hidup kita dibentuk oleh kualitas Allah: kesetiaan-Nya, kerendahan hati-Nya, kelembutan-Nya, keberanian-Nya untuk mencintai, dan kesediaan-Nya untuk dekat dengan yang menderita. Para beato ini telah melakukannya: mereka meninggalkan ambisi, ketakutan, dan kenyamanan untuk membuka ruang bagi Kristus.

    Kita yang merayakan mereka hari ini, umat KAM, dipanggil menapaki jejak yang sama. Jangan takut untuk mencintai. Jangan lelah untuk melayani. Jangan ragu untuk menjadi saksi kebenaran. Gereja kita, yang kini besar dan hidup, berdiri bukan di atas strategi, tetapi di atas darah kesetiaan para misionaris. Paus Benediktus XVI pernah berkata: “Gereja dibangun oleh para saksi yang memberi diri, bukan oleh para manajer.”

    Maka pada hari ini, marilah kita mempersembahkan kembali hati kita. Jika hidup terasa gelap, mari ingat keberanian Dionisius. Jika pelayanan terasa berat, mari ingat kesederhanaan Redemptus. Jika hati kita letih, mari ingat bahwa Adven adalah waktu Tuhan memulihkan. Semoga melalui perantaraan kedua beato ini, Gereja KAM menjadi semakin kudus, rendah hati, murah hati, dan berani berjalan bersama siapa pun di Sumatera Utara.

    Beato Dionisius dan Redemptus, Doakanlah kami agar hati kami selaras dengan Kristus yang datang. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam & HOMS | 23 November 2025 - Tahun C

    Bacaan I : 2 Sam. 5:1-3
    Bacaan II : Kol. 1:12-20
    Bacaan Injil : Luk. 23:35-43

    Kerajaan yang Dibuka oleh Doa Seorang Pendosa

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari Raya Kristus Raja selalu membawa kita ke tempat yang tidak kita duga: bukan ke istana atau ruang keagungan, tetapi ke bukit Golgota, di antara tiga salib. Di tempat penghinaan itu, Yesus dinyatakan sebagai Raja. Ironisnya, rahasia kerajaan-Nya tidak diungkap oleh imam, bukan oleh murid, bukan oleh penguasa, melainkan oleh seorang pendosa yang sekarat. Dialah yang berkata, “Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:42). Satu kalimat pendek itu mengguncang surga dan mengubah sejarah keselamatan.

    Di Golgota kita melihat dua penjahat yang sama-sama berdosa, sama-sama menderita, sama-sama berada di ambang kematian, sama-sama dekat dengan Yesus. Namun cara pandang mereka terhadap Yesus sangat berbeda. Penjahat pertama berkata: “Selamatkanlah diri-Mu dan selamatkanlah kami!” Ia melihat Yesus hanya sebagai alat, sebagai tenaga penyelamat instan.

    Ia ingin dibebaskan dari penderitaan tetapi tidak ingin diselamatkan dari dosa. Sedangkan penjahat kedua berkata: “Yesus, ingatlah akan aku.” Ia tidak meminta Yesus turun dari salib, tidak meminta hidupnya diperpanjang. Ia melihat kemuliaan di balik penderitaan, kerajaan di balik luka, dan ia mengakui Yesus sebagai Raja. Itulah perbedaan antara sinisme dan pertobatan, antara putus asa dan harapan, antara hati yang memberontak dan hati yang merendah.

    Doa St. Dismas, sang penjahat yang baik, adalah salah satu doa terpendek dalam seluruh Kitab Suci, namun merupakan doa yang paling indah dan paling mengubah hidup. “Yesus, ingatlah akan aku…” adalah doa yang lahir dari kerendahan hati terdalam. Doa itu mengakui dua kebenaran mendasar: “Yesus, Engkau adalah Raja” dan “Aku membutuhkan Engkau.” Dan Yesus menjawab dengan kalimat yang hanya diucapkan kepada satu manusia dalam Injil: “Hari ini juga engkau bersama-Ku di dalam Firdaus.” Rahmat mengalir bukan besok, bukan setelah penyucian panjang, bukan setelah hidup sempurna, tetapi hari ini—sebab rahmat Allah selalu lebih besar daripada dosa manusia.

    Kerajaan Kristus adalah kerajaan yang selalu terbuka bagi para pendosa yang kembali. Dunia mengenal raja yang kuat, kaya, dan berkuasa, tetapi Yesus adalah Raja yang berbeda. Ia adalah Raja yang memanggul salib, bukan mahkota emas; Raja yang mengampuni, bukan menghukum; Raja yang merangkul, bukan menyingkirkan; Raja yang mengingat pendosa, bukan hanya orang berjasa. Ia memilih takhta-Nya di kayu salib, bukan di atas keangkuhan. Kerajaan-Nya dibangun bukan dengan kekerasan, tetapi dengan pengampunan; bukan diperluas dengan kekuatan, tetapi dengan kerendahan hati; bukan dikukuhkan dengan ketakutan, tetapi dengan cinta.

    Pada hari raya ini, Kristus bertanya kepada kita: siapakah kita di antara dua penjahat itu? Apakah kita seperti penjahat pertama, yang marah ketika Tuhan tidak menjawab doa kita, yang kecewa ketika hidup tidak mudah, yang ingin Tuhan mengikuti rencana kita, dan yang menolak salib? Atau apakah kita seperti penjahat kedua yang jujur mengakui kelemahannya, tetap percaya meskipun tidak mengerti, berharap meski hidup penuh luka, memilih kerendahan hati daripada kesombongan, memilih pertobatan daripada menyalahkan orang lain? Dua salib itu adalah gambaran dua hati manusia. Kita dipanggil memilih hati yang mana.

    Kerajaan Kristus sesungguhnya dimulai dari hati yang berani berkata, “Ingatlah aku.” Kalimat yang sederhana ini menyimpan daya rohani yang besar. Kita tidak diminta menjadi sempurna, tidak diminta menjadi luar biasa, tidak diminta menjadi disanjung banyak orang. Kita hanya diminta untuk meminta diingat. Diingat oleh Yesus berarti masa lalu kita tidak lagi memenjarakan kita; dosa kita bukan identitas kita; penderitaan tidak menjadi akhir cerita; dan kita memiliki tempat dalam kerajaan-Nya. Dunia bisa melupakan kita, manusia bisa meninggalkan kita, tetapi Kristus Raja tidak pernah lupa.

    Hari Raya Kristus Raja juga merupakan undangan untuk memulai kembali. Merayakan Kristus Raja berarti menjadikan Yesus benar-benar Raja dalam hidup, bukan hanya dalam liturgi. Artinya menaati-Nya, bukan hanya memuji-Nya. Hidup dalam pengharapan, bukan dalam ketakutan, karena Raja kita menang bukan dengan pedang, tetapi dengan cinta yang bangkit dari kubur. Masuk ke dalam kerajaan-Nya melalui kerendahan hati, cukup dengan berdoa: “Yesus, ingatlah akan aku.” Dan yang tidak kalah penting: memberi ruang bagi rahmat, bukan menghakimi diri sendiri. Jika Yesus dapat mengampuni penjahat di menit terakhir hidupnya, Ia pasti mampu memulihkan kita hari ini.

    Saudara-saudari terkasih, Kristus Raja bukan Raja yang jauh. Ia adalah Raja yang mati bersama para pendosa. Ia Raja yang membuka kerajaan bagi mereka yang terbuang. Ia Raja yang mengingat kita bahkan ketika kita melupakan diri sendiri. Maka marilah kita berdoa seperti St. Dismas: “Yesus, ingatlah akan aku.” Inilah pintu kerajaan yang paling indah—pintu yang dibuka melalui doa sederhana yang lahir dari hati yang hancur namun berharap, dan yang dijawab oleh Raja yang berkata: “Hari ini juga engkau bersama-Ku.” Semoga Raja kita yang penuh belas kasih meneguhkan kita, memulihkan kita, mengutus kita, dan menuntun kita kepada kerajaan yang tidak akan pernah berakhir. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu XXXIII TAHUN C | 16 November 2025 - Tahun C

    Bacaan I : Mal. 4:1-2a
    Bacaan II : 2 Tes. 3:7-12
    Bacaan Injil : Luk. 21:5-19

    Siaga Dalam Pengharapan, Aktif Dalam Pelayanan

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Minggu ini kita sudah berada di penghujung Tahun Liturgi. Gereja mengajak kita melihat jauh ke depan—bukan dengan rasa takut, tetapi dengan mata iman.

    Bacaan-bacaan hari ini tidak sedang menakut-nakuti kita tentang akhir zaman, tetapi menegaskan bagaimana seharusnya kita hidup hari ini: hidup dalam kesiagaan yang matang, dalam pengharapan yang teguh, dan dalam tanggung jawab nyata.

    Yesus dalam Injil berbicara tentang gejolak dunia: perang, gempa bumi, kelaparan, penganiayaan, perpecahan bahkan dalam keluarga—hal-hal yang membuat banyak orang kehilangan arah.

    Tetapi Ia segera menegaskan, “Janganlah kamu terkejut… Jika kamu bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21:5–19).

    Pesan Yesus tegas: yang penting bukan ramalan tentang kapan dunia berakhir, tetapi bagaimana sikap kita ketika gejolak datang.

    Bangunan bait Allah yang megah bisa runtuh. Sistem-sistem dunia bisa gagal. Situasi bisa berubah dengan cepat. Tetapi satu hal tidak boleh runtuh: kesetiaan umat Allah kepada Tuhan. Itu yang menjadi pegangan kita ketika dunia kehilangan pegangan.

    Hari ini Yesus mengajar kita: ukuran sejati murid Kristus bukan ada pada waktu hidup nyaman, tetapi ketika masa sulit menuntut keteguhan. Jika dunia bergejolak, iman tidak boleh ikut goyah. Jika orang lain menyerah, murid Kristus tetap berdiri. Jika tantangan datang, hati kita tetap berpegang pada sabda-Nya. Yesus berkata, “Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat.” Artinya: keteguhan bukan hasil kemampuan kita pribadi, tetapi buah penyertaan Tuhan.

    Namun Injil tidak berhenti pada ketekunan pasif. Kesetiaan dalam masa sukar bukan berarti kita menunggu dengan cemas sambil berdiam diri. Kesetiaan itu harus berubah menjadi tanggung jawab, kerja, dan pelayanan. Di sinilah bacaan kedua dari Paulus menjadi sangat kuat: “Kami tidak malas ketika berada di antara kalian. Kami bekerja malam dan siang supaya tidak menjadi beban bagi siapa pun.” (2Tes 3:8).

    Paulus mengingatkan: Iman sejati selalu menghasilkan kerja nyata. Kesetiaan tidak tampak dari banyaknya keluhan atau ramalan, tetapi dari kesediaan untuk berkarya, berjuang, dan melayani. Gereja bukanlah komunitas yang menunggu akhir zaman, tetapi komunitas yang mengubah zaman melalui kerja kasih setiap hari.

    Paulus bahkan memberi peringatan keras: “Barangsiapa tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Itu bukan penghinaan terhadap orang miskin, melainkan ajakan agar setiap umat mengambil bagian dalam pembangunan tubuh Kristus. Iman tidak boleh membuat kita pasif; harapan tidak boleh membuat kita malas; menanti Tuhan tidak boleh membuat kita lari dari tanggung jawab.

    Karena itu, tema Minggu ini sangat jelas: Kita dipanggil menjadi umat yang siaga dalam pengharapan dan aktif dalam pelayanan. Siaga bukan berarti panik atau takut, tetapi sadar bahwa hidup adalah rahmat yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Aktif bukan berarti sibuk tak tentu arah, tetapi menghadirkan kasih Allah dalam tindakan nyata.

    Saudara-saudari, bagaimana sikap ini diterapkan dalam hidup sehari-hari? Pertama, siaga dalam iman berarti tetap berakar pada sabda Tuhan, doa, dan Ekaristi—meski dunia sibuk, meski banyak distraksi, meski keadaan tidak menentu. Kedua, siaga dalam pengharapan berarti melihat hidup bukan dari kegelapan hari ini, tetapi dari cahaya Kristus yang akan datang. Harapan membuat kita tidak menyerah. Ketiga, aktif dalam pelayanan berarti bekerja dengan sungguh-sungguh, jujur, bertanggung jawab, dan ikut membangun komunitas. Pelayanan bukan sekadar kegiatan gereja, tetapi cara hidup.

    Kita menjadi saksi Kristus bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata: membantu yang lemah, hadir bagi yang menderita, menguatkan yang putus asa, dan melakukan tugas harian dengan kasih. Di tengah dunia yang gelisah, umat Kristus dipanggil untuk menjadi tanda harapan, bukan tanda panik; menjadi pelayan, bukan penonton; menjadi iman yang hidup, bukan iman yang tidur.

    Gereja pada pekan ini menyampaikan pesan yang sangat jelas: “Siaga, tapi bukan takut. Bekerja, bukan melarikan diri. Berpengharapan, bukan menyerah.” Yesus tidak menjanjikan dunia yang bebas masalah, tetapi Ia menjanjikan KEHIDUPAN kepada mereka yang bertahan dan tetap setia.

    Marilah kita memohon rahmat agar dalam situasi apa pun, kita tetap menjadi umat yang teguh, umat yang bekerja demi kasih, dan umat yang menjadi saksi bahwa Tuhan tetap menyertai dunia ini sampai akhir zaman.

    Doa Penutup:
    Tuhan Yesus, Engkaulah Raja Pengharapan kami. Di tengah gejolak dunia, berikanlah kami hati yang teguh. Di tengah kesibukan dan tanggung jawab, jadikanlah kami umat yang aktif bekerja dan melayani. Semoga hidup kami menjadi tanda yang menunjukkan bahwa Engkau tidak pernah meninggalkan dunia ini. Teguhkan kami hingga akhir, agar kami layak menerima hidup yang Engkau janjikan. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Pesta Pemberkatan Basilika Lateran | 9 November 2025 - Tahun C

    Bacaan I : Yeh. 47:1-2.8-9,12
    Bacaan II : 1Kor. 3:9c-11,16-17
    Bacaan Injil : Yoh. 2:13-22

    Kita Adalah Bait Allah yang Hidup

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Gereja seluruh dunia merayakan Hari Raya Pemberkatan Basilika Lateran — gereja katedral Paus, tanda kesatuan antara Gereja lokal dan Gereja universal. Kita tidak sekadar memperingati bangunan batu di Roma, tetapi mengenangkan misteri Gereja sebagai rumah Allah yang hidup, tempat Allah berdiam di tengah umat-Nya. Peringatan ini mengajak kita merenungkan makna terdalam dari kata “Gereja”: bukan dinding, bukan altar, melainkan umat yang disatukan oleh kasih Kristus.

    Dalam bacaan pertama, nabi Yehezkiel menggambarkan penglihatan yang indah: air mengalir keluar dari bawah ambang pintu Bait Allah, mengalir ke timur dan membawa kehidupan ke mana pun ia pergi. Air itu menjadikan laut asin menjadi manis dan subur, memberi kehidupan pada segala makhluk (Yeh 47:1–12). Air itu melambangkan rahmat Allah yang mengalir dari hadirat-Nya, dari tempat kudus ke dunia yang kering dan mati. Apa artinya bagi kita? Gereja — baik gedungnya maupun umatnya — seharusnya menjadi sumber kehidupan. Dari altar suci, dari hati orang beriman, harus mengalir “air kehidupan”: kasih, pengampunan, dan harapan bagi dunia yang haus.

    Mazmur hari ini pun bernyanyi: “Allah adalah tempat perlindungan dan kekuatan kita.” (Mzm 46:2). Allah bukan hanya hadir di bait suci yang besar, tetapi juga di hati yang percaya. Ia adalah benteng yang teguh di tengah kekacauan dunia. Ini adalah penghiburan besar bagi kita yang kadang merasa rapuh dan kecil: kita tidak sendiri, sebab Tuhan berdiam di tengah umat-Nya. Gereja bukanlah museum kesalehan, melainkan rumah hidup di mana kasih Allah dialami dan dibagikan.

    Dalam bacaan kedua, Santo Paulus mengingatkan umat Korintus: “Kamu adalah bangunan Allah... tidak ada dasar lain yang dapat diletakkan selain Yesus Kristus... Apakah kamu tidak tahu bahwa kamu adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:9–16). Ini pernyataan yang luar biasa! Paulus ingin menegaskan bahwa kehadiran Allah tidak lagi terbatas pada batu dan dinding, tetapi pada setiap orang yang hidup dalam Kristus.

    Tubuh kita, komunitas kita, keluarga kita — semuanya dipanggil menjadi Bait Allah yang hidup. Dan karena itu, kata Paulus, “Barangsiapa merusak bait Allah, akan binasa oleh Allah.” Artinya: jangan kita mencemarkan diri dengan kebencian, iri hati, atau perpecahan. Gereja sejati dibangun bukan oleh batu bata, melainkan oleh kasih dan kesetiaan.

    Injil Yohanes membawa kita kepada Yesus yang marah di Bait Allah (Yoh 2:13–22). Ia melihat para pedagang dan penukar uang menjadikan rumah Bapa-Nya sebagai tempat dagang. Ia mengusir mereka sambil berseru, “Jangan kamu jadikan rumah Bapa-Ku sebagai tempat berjualan!” Peristiwa ini bukan hanya tentang pasar di halaman bait Allah, tetapi tentang hati manusia yang sering menjadikan iman sebagai alat keuntungan diri.

    Yesus mengingatkan: rumah Allah bukan tempat transaksi, tetapi tempat perjumpaan dengan kasih-Nya. Hati kita, jika menjadi bait Allah, tidak boleh dipenuhi oleh keserakahan dan kemunafikan, tetapi oleh kasih dan pelayanan.

    Kemarahan Yesus adalah bentuk cinta yang murni. Ia membersihkan bait Allah agar manusia kembali menyadari maknanya: rumah Allah adalah tempat di mana hati manusia dijernihkan dan diperbarui.

    Ketika Yesus berkata, “Rombaklah bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali,” Ia berbicara tentang tubuh-Nya sendiri. Artinya, Yesus Kristus adalah Bait Allah yang sejati — tempat Allah berjumpa dengan manusia. Di dalam diri-Nya, kita melihat wajah Bapa dan mengalami rahmat yang mengalir tanpa henti.

    Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus menjadikan kita bagian dari tubuh-Nya. Maka setiap orang beriman dipanggil menjadi batu hidup dalam bangunan Gereja. Kita semua disatukan oleh Roh Kudus untuk membentuk satu tubuh: tubuh Kristus. Jika setiap orang hidup dalam kasih, Gereja akan kokoh; tetapi bila ada kebencian dan perpecahan, tembok rohani itu mulai retak.

    Paus Fransiskus pernah berkata dalam homilinya di Basilika Lateran: “Merayakan hari ini bukan berarti memuji dinding atau sejarah, tetapi memperbarui hati agar Gereja tetap menjadi rumah sambutan dan kasih bagi semua orang.” Itu artinya, Gereja bukan hanya tempat untuk berdoa, melainkan tempat bagi yang letih untuk beristirahat, bagi yang berdosa untuk diampuni, bagi yang terluka untuk disembuhkan. Gereja yang sejati adalah Gereja yang terbuka, penuh kerahiman, dan hidup.

    Bro, dalam konteks kita di sini, perayaan ini juga mengajak kita bertanya: apakah paroki kita, komunitas kita, bahkan keluarga kita sudah menjadi “Basilika Lateran kecil”? Artinya, apakah dari hidup kita mengalir air yang menyuburkan seperti dari bait Allah dalam visi Yehezkiel? Apakah orang menemukan damai, pengampunan, dan kekuatan ketika berjumpa dengan kita? Jika hati kita jernih dan terbuka, maka setiap pertemuan dengan kita menjadi perjumpaan dengan Allah yang hidup.

    Kita diingatkan pula untuk menjaga kesatuan dengan Gereja universal. Basilika Lateran adalah lambang persaudaraan dalam iman. Persatuan dengan Bapa Suci bukan sekadar ketaatan formal, tetapi tanda kesetiaan pada ajaran Kristus. Di tengah dunia yang mudah terpecah karena politik, ekonomi, atau ego, Gereja dipanggil menjadi saksi persaudaraan yang tidak bisa dibeli dengan kekuasaan atau kepentingan.

    Saudara-saudari terkasih, hari ini Tuhan mengajak kita memperbarui diri: bukan hanya membersihkan gedung gereja, tetapi memurnikan hati sebagai rumah Allah. Jangan biarkan hati kita dipenuhi dengan “pedagang” rohani — kesombongan, egoisme, iri hati, atau dendam. Biarlah Yesus, Sang Bait sejati, masuk dan menyingkirkan semuanya agar hati kita kembali menjadi tempat kasih dan kedamaian.

    Marilah kita menutup permenungan ini dengan doa: Tuhan Yesus, Bait Allah yang hidup, bersihkanlah hati kami dari segala yang tidak pantas bagi-Mu. Jadikan kami batu-batu hidup yang membangun Gereja-Mu di dunia ini. Semoga dari hidup kami mengalir air kasih dan pengampunan bagi banyak orang, seperti air yang keluar dari Bait Allah dalam penglihatan Yehezkiel. Jadikanlah Gereja kami rumah doa, bukan tempat kesombongan, agar dunia melihat wajah-Mu yang penuh cinta. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman | Tahun C - 2 November 2025

    Bacaan I : 2 Mak. 12:43-46
    Bacaan II :  1 Kor. 15:20-24a.25-28
    Bacaan Injil : Yoh. 6:37-40

    Menjadi Saksi Wajah Allah yang Tidak Menolak Siapa Pun

    🕊️ Pengantar – Wajah Allah yang Menyambut, Bukan Menolak

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Gereja sejagat berdoa bagi semua arwah orang beriman — mereka yang telah berpulang mendahului kita. Perayaan ini tidak diliputi kesedihan, melainkan cahaya pengharapan.

    Sebab dalam iman, kita percaya bahwa Allah tidak meninggalkan siapa pun yang datang kepada-Nya. Inilah wajah sejati Allah: bukan hakim yang menghukum dari jauh, melainkan Bapa yang menantikan anak-anak-Nya kembali ke rumah.

    Doa kita hari ini adalah ungkapan kasih yang melampaui batas kematian — sebab dalam Kristus, kasih tidak pernah berakhir.

    🌿 Sabda Tuhan – “Aku Tidak Akan Menolak Seorang Pun”

    Injil Yohanes memberi kita sabda Yesus yang sangat indah: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, tidak akan Kubuang.” (Yoh 6:37)

    Kalimat ini adalah jantung iman kita pada hari Arwah. Di tengah kesedihan karena kehilangan, Yesus menegaskan: tidak ada satu pun jiwa yang terbuang dari kasih Allah.

    Tak peduli seberapa jauh seseorang tersesat, kasih Tuhan lebih cepat menyusul daripada langkah kita menjauh. Kasih Allah bukan menunggu kita layak dulu, tetapi menjadikan kita layak lewat belas kasih-Nya.

    Karena itu, doa bagi arwah adalah keyakinan bahwa kasih itu terus bekerja, bahkan di balik kematian — membersihkan, menyembuhkan, dan menyempurnakan setiap jiwa dalam terang Tuhan.

    🔥 Iman yang Mengubah Duka Menjadi Harapan

    Bacaan dari Yesaya menggambarkan Allah yang menyiapkan perjamuan bagi semua bangsa dan menyeka air mata dari wajah semua orang.

    (Yes 25:6–9) Inilah Allah yang kita imani: Allah yang menjemput, bukan menghakimi; yang memeluk, bukan menolak.

    Setiap air mata yang jatuh di kuburan orang yang kita cintai tidak sia-sia — sebab Tuhan menampungnya dalam tangan-Nya sendiri. Kematian tidak memutuskan relasi kasih. Ia hanya mengubah bentuknya.

    Kita yang masih berziarah di dunia terus menyapa mereka lewat doa, sedangkan mereka yang telah berpulang menyapa kita dari rumah Bapa.

    Dalam persekutuan para kudus, kita tetap satu tubuh, satu iman, satu kasih dalam Kristus yang telah bangkit.

    🌸 Kasih yang Tak Mengenal Batas

    Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma berkata: “Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus.” (Rm 5:5)

    Kasih ini tidak mengenal batas. Ia menembus dosa, waktu, dan kematian. Allah tidak menolak orang berdosa, karena justru bagi mereka Ia datang.

    Paus Fransiskus pernah menegaskan: “Allah tidak pernah lelah mengampuni kita; kitalah yang sering lelah memohon pengampunan.”

    Maka, bila Allah bersabar dan mengasihi tanpa batas, kita pun dipanggil untuk meneladan kasih itu.

    Hidup sebagai orang Kristen berarti menjadi saksi wajah Allah yang penuh penerimaan — Allah yang tidak menolak siapa pun, termasuk yang lemah, berbeda, atau tersesat.

    💖 Kasih Itu Harus Dihidupkan

    Saudara-saudari, Karena itu, marilah kita pun menjadi saksi wajah Allah yang tidak menolak siapa pun.

    Hidupkan kasih itu dalam keluarga, pelayanan, dan sikap terhadap sesama. Bila Allah menerima kita dengan segala kelemahan, kita pun dipanggil untuk menerima dan mengampuni.

    Dunia hari ini haus akan kesaksian seperti itu — kasih yang tidak menghakimi, tetapi meneguhkan; kasih yang tidak menolak, tetapi menyembuhkan.

    Doa bagi arwah hendaknya menjadi cermin hidup kita: bahwa kasih yang kita doakan bagi mereka, juga harus tampak dalam sikap kita terhadap yang hidup.

    Doa menjadi nyata bila diwujudkan dalam kepedulian dan pengampunan.

    🌿 Aplikasi Hidup – Menjadi Wajah Kasih Itu Sendiri

    Menjadi saksi wajah Allah bukanlah tugas besar yang sulit. Itu dimulai dari hal sederhana: menyapa yang kesepian, menolong yang jatuh, memaafkan yang bersalah, dan mendoakan yang telah pergi.

    Di situlah kita menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih. Gereja hari ini memanggil kita untuk hidup dalam kasih yang aktif — kasih yang menyapa, bukan menjauh; kasih yang membuka pintu, bukan menutupnya.

    Bila kita berani hidup seperti itu, maka setiap rumah kita menjadi perpanjangan tangan Allah, dan setiap hati kita menjadi taman kasih yang menghidupkan.

    🌺 Penutup – Kasih yang Tidak Pernah Menolak

    Saudara-saudari terkasih, Perayaan Arwah mengingatkan kita bahwa kasih Allah tidak mengenal batas, bahkan kematian pun tidak mampu memutuskan ikatan itu.

    Maka, marilah kita terus berdoa bagi mereka yang telah berpulang, sambil memperbarui hati kita untuk menjadi cermin kasih Allah yang tidak menolak siapa pun.

    Semoga dalam setiap doa dan tindakan kasih kita, dunia melihat wajah Allah yang hidup — Allah yang mengampuni, menghibur, dan menyambut setiap anak-Nya pulang. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu Biasa XXX Tahun C - 26 Oktober 2025

    Bacaan I : Sir. 35:12-14,16-18
    Bacaan II : 2Tim. 4:6-8,16-18
    Bacaan Injil : Luk. 18:9-14

    ALLAH YANG DIKENAL MENENTUKAN CARA KITA BERDOA

    Antifon Pembuka

    Tuhan dekat dengan orang yang hancur hatinya; Ia menyelamatkan yang remuk jiwanya. (Mzm 34:19)

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Yesus mengajak kita bercermin melalui dua tokoh dalam Injil: seorang Farisi dan seorang pemungut cukai. Keduanya sama-sama datang ke Bait Allah untuk berdoa, tetapi hasilnya sungguh berbeda. Yang satu meninggalkan rumah Tuhan tanpa pembenaran, sementara yang lain — seorang pendosa — justru diterima oleh Allah. Mengapa demikian? Karena cara kita berdoa sangat ditentukan oleh siapa Allah yang kita kenal.

    Doa bukan sekadar rutinitas rohani, tetapi cermin dari iman dan relasi kita dengan Allah. Bila kita mengenal Allah sebagai kasih, doa kita penuh syukur dan kerendahan hati. Namun bila kita mengenal-Nya sebagai hakim yang menuntut, doa kita menjadi pembelaan diri. Maka benar adanya, teologi yang kita hidupi akan tampak dalam cara kita berdoa.

    Orang Farisi berdiri tegak dan berbicara dengan penuh keyakinan: “Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberi sepersepuluh dari penghasilanku.” Namun kata “aku” mendominasi seluruh doanya. Ia menyebut nama Allah, tapi sesungguhnya berbicara tentang dirinya sendiri. Baginya, Allah adalah hakim yang menilai kinerja religius manusia. Doanya bukan perjumpaan dengan Allah, tetapi pertunjukan rohani di hadapan Allah.

    Yesus tidak menolak kesalehan, tetapi menolak kesombongan yang menyusup di dalamnya. Kesalehan tanpa kasih hanyalah kesombongan berjubah kesucian. Paus Fransiskus dalam Gaudete et Exsultate menegaskan: “Kesombongan rohani membuat kita percaya bahwa rahmat tergantung pada kemampuan kita.” Ketika doa menjadi ajang pembuktian, kasih berubah menjadi gengsi rohani — dan hati kehilangan ruang bagi rahmat Allah.

    Sebaliknya, pemungut cukai berdiri jauh di belakang, menunduk, memukul dada, dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini.” Ia tidak membawa daftar kebaikan, hanya hati yang remuk. Tetapi di sanalah ia menemukan wajah Allah yang sejati: Bapa yang penuh belas kasih. Doanya pendek, namun tulus; sederhana, namun menyentuh surga. Ia datang bukan untuk memamerkan diri, melainkan menyerahkan diri. Dan Yesus berkata: “Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan oleh Allah.”

    Perbedaan ini memperlihatkan dua teologi yang kontras: Jika Allah dipandang sebagai hakim keras, doa menjadi pembelaan diri. Jika Allah dikenal sebagai kasih, doa menjadi penyerahan diri. St. Agustinus berkata: “Allah lebih suka hati yang hancur daripada lidah yang pandai berdoa.” Doa sejati lahir bukan dari kebanggaan, melainkan dari kerendahan hati yang menyentuh kasih Allah.

    Saudara-saudari, kita hidup di zaman yang menyanjung self-confidence dan prestasi. Budaya modern membentuk manusia yang berdoa dengan bibir kepada Tuhan, tapi hatinya sibuk memamerkan diri di hadapan dunia. Paus Fransiskus mengingatkan dalam Fratelli Tutti no. 30: “Dunia ini penuh komunikasi, tetapi miskin relasi.” Maka doa sejati harus mengembalikan kita pada relasi yang benar — dengan Allah dan dengan sesama.

    Kitab Sirakh hari ini mengingatkan: “Doa orang kecil menembus awan dan tidak berhenti sampai mencapai tujuan.” Tuhan mendengar bukan karena kata-kata kita indah, tetapi karena hati kita benar. Pemungut cukai mungkin tak pandai berbicara, tapi doanya murni. Yang menembus surga bukan suara yang keras, tetapi hati yang tulus.

    Rasul Paulus dalam suratnya kepada Timotius berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan, aku telah mencapai garis akhir.” Kalimat ini bukan kesombongan, melainkan ungkapan syukur mendalam. Paulus sadar, segala sesuatu adalah rahmat, bukan ambisi. Ia berdoa dengan hati yang bebas dari ego, dan itulah yang membuat hidupnya menjadi pujian bagi Allah.

    Doa sejati bukanlah presentasi diri, tetapi perjumpaan hati. Jika doa kita masih dipenuhi “aku” dan “prestasi”, berarti ego masih di atas altar. Namun jika doa kita berubah menjadi “Engkau”, maka Allah bersemayam di hati kita. Kerendahan hati membuka jalan menuju pembenaran, sebab Allah tinggal di hati yang sederhana.

    Saudara-saudari terkasih, marilah kita belajar berdoa dengan hati, bukan dengan ego. Dalam doa pribadi, biarkan keheningan berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Dalam pelayanan, jangan cari pengakuan, tetapi kesempatan untuk mencintai. Dalam keberhasilan, jangan sombong, tetapi bersyukurlah karena semuanya berasal dari Tuhan.

    Yesus menutup perumpamaan hari ini dengan sabda-Nya yang abadi: “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”

    Ekaristi yang kita rayakan sekarang adalah puncak doa tanpa ego. Yesus tidak berkata, “Lihat Aku,” melainkan, “Ambillah Aku.” Ia mempersembahkan diri, bukan memuliakan diri. Maka datanglah kepada Tuhan bukan dengan daftar prestasi, tetapi dengan hati yang terbuka. Dan mungkin, jika Tuhan tersenyum kepada kita hari ini, Ia akan berkata: “Aku lebih senang hatimu yang menyesal daripada laporan panjang prestasimu.” Amin.

    Doa Penutup

    Ya Tuhan, Engkau mengenal hati kami lebih dari kami sendiri. Jadikanlah kami umat yang rendah hati dan tulus dalam berdoa, agar kami hidup dalam kasih-Mu dan bukan dalam gengsi kami. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu XXVII Tahun C - 5 Oktober 2025

    Bacaan I : Hab. 1:2-3; 2:2-4
    Bacaan II : 2Tim. 1:6-8,13-14
    Bacaan Injil : Luk. 17:5-10

    Iman yang Hidup, Kecil Namun Mengubah Dunia

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini para murid berseru kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5). Seruan ini begitu jujur dan manusiawi, sebab mereka sadar bahwa mengikuti Yesus tidak mudah. Jalan bersama Kristus tidak selalu terang dan lapang. Ia tidak menjanjikan kemudahan, tetapi mengundang pada salib, pengampunan tanpa batas, dan pelayanan tanpa pamrih. Karena itu, para murid merasa imannya kecil dan rapuh.

    Namun jawaban Yesus sungguh mengejutkan: “Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi, kamu dapat berkata kepada pohon ara: Tumbanglah dan tertanamlah di laut, maka pohon itu akan menuruti kamu.” (Luk 17:6)

    Yesus tidak memberi ukuran baru, tetapi menghadirkan perspektif baru. Ia tidak menuntut iman yang besar, melainkan iman yang hidup dan sejati.

    Biji sesawi adalah biji terkecil di Palestina, namun mampu tumbuh menjadi pohon besar. Dari benih kecil itulah Yesus mengajar kita bahwa kualitas iman lebih penting daripada kuantitasnya. Para ekseget Katolik seperti Raymond E. Brown menegaskan bahwa Yesus tidak sedang berbicara tentang mukjizat fisik, melainkan tentang kekuatan rohani—iman sejati yang sanggup mengubah situasi mustahil.

    Karena itu, Yesus tidak menyuruh kita berbicara kepada pohon literal, melainkan mengajak kita menghadapi pohon-pohon besar dalam hidup kita: akar dosa, kebiasaan buruk, ketakutan, dan luka batin yang selama ini menjerat. Dengan iman sejati, akar-akar itu dapat dicabut, bukan oleh kekuatan manusia, melainkan oleh kasih Allah yang berkarya di dalam diri kita.

    Rudolf Schnackenburg memandang pohon ara sebagai lambang kekuatan batin yang berakar kuat di hati manusia—hal-hal yang tidak mudah diubah oleh kehendak sendiri. Mungkin itu akar kemarahan yang disimpan bertahun-tahun, akar kesombongan yang sulit tunduk, atau akar luka batin yang menghalangi kita untuk mengampuni. Iman sejati, walau sekecil biji sesawi, menyatu dengan kuasa kasih Allah yang mampu mencabut semua akar itu.

    Yesus menegaskan, “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37). Iman sejati adalah partisipasi dalam daya cipta Allah—Allah yang mengubah kekacauan menjadi ciptaan baru, luka menjadi rahmat, dan dosa menjadi kesempatan untuk bertumbuh.

    Nabi Habakuk dalam bacaan pertama pun mengungkapkan pergumulan yang sama. Ia berteriak dalam kebingungan, “Berapa lama lagi, ya Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar?” (Hab 1:2). Namun Allah menjawab dengan lembut: “Orang benar akan hidup oleh imannya” (Hab 2:4). Inilah kunci iman sejati: bukan jalan pintas menuju hasil, melainkan kesetiaan dalam perjalanan panjang.

    Seperti biji sesawi yang memerlukan waktu untuk bertumbuh, iman juga butuh proses: dipupuk oleh doa, diuji oleh penderitaan, dan dikuatkan oleh kesetiaan. Di tengah dunia yang menuntut hasil cepat, iman mengajar kita untuk sabar menunggu proses rahmat Allah.

    St. Thomas Aquinas mengutip para Bapa Gereja: “Yesus tidak mengajarkan besarnya iman, tetapi keberadaannya yang sejati. Sebab iman yang hidup dapat memindahkan gunung keraguan dan mencabut pohon dosa.”

    Iman sejati bukan sekadar “percaya bahwa Allah ada”, melainkan percaya kepada Allah yang mengasihi. Ketika iman berakar pada kasih, ia tidak lagi sekadar ide intelektual, melainkan relasi yang mengubah hati. Dari hati yang diubah inilah mengalir kekuatan untuk mengampuni, melayani, dan berharap di tengah situasi sulit.

    Dalam bagian akhir Injil hari ini, Yesus berbicara tentang pelayan yang rendah hati: “Kami hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”

    Iman sejati tampak bukan dalam kata-kata, melainkan dalam pelayanan yang setia. Ia tidak menuntut pujian, tidak menghitung jasa, tetapi melayani karena cinta. Semakin murni iman seseorang, semakin rendah hati pula pelayanannya.

    Saudara-saudari terkasih, Iman tidak harus besar, tetapi harus hidup. Kadang kecil, namun bila sejati, ia mampu mencabut akar dosa, mengubah hati, menyembuhkan luka, dan menggerakkan dunia. Hari ini, kita tidak perlu berkata, “Tuhan, tambahkan iman kami,” tetapi, “Tuhan, hidupkanlah iman kami.”

    Iman seperti biji sesawi inilah yang membuat hidup kita berbuah—bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kasih Allah yang bekerja di dalam diri kita. Semoga kita menjadi orang beriman sejati: yang percaya walau tidak melihat, yang berharap walau di tengah kesulitan, dan yang mengasihi walau di tengah dunia yang terluka.

    Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu XXVI Tahun C - 28 September 2025

    Bacaan I : Am 6:1a,4-7
    Bacaan II : 1Tim. 6:11-16
    Bacaan Injil : Luk. 16:19-31

    Hidup Berkat, Bukan Berhala — Umat yang Hadir dan Peduli 

    Saudara-saudari terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dn kebaikan.

    Sabda Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan penting: apakah hidup kita sungguh menjadi berkat bagi orang lain, ataukah berkat yang kita miliki justru telah berubah menjadi berhala yang menutup mata terhadap sesama?

    Nabi Amos dalam bacaan pertama mengecam keras bangsa yang hidup mewah tanpa peduli pada penderitaan di sekitarnya: “Mereka berbaring di ranjang dari gading, makan domba dan anak lembu, bernyanyi-nyanyi, minum anggur dari bokor, memakai minyak terbaik, tetapi tidak peduli akan kehancuran umat.” (Am 6:4–6). Gambaran ini sangat relevan dengan zaman sekarang: dunia kita penuh kemewahan, tetapi seringkali miskin empati; banyak hiburan, tetapi sedikit belas kasih. Kita mudah terjebak pada kenyamanan diri dan lupa bahwa berkat diberikan bukan untuk ditimbun, melainkan untuk dibagikan.

    Yesus dalam Injil hari ini menampilkan kontras yang tajam antara orang kaya dan Lazarus. Orang kaya itu tidak digambarkan sebagai penjahat. Ia tidak menolak Lazarus, tidak mengusirnya. Namun ia juga tidak peduli. Di situlah letak dosanya: ketidakpedulian. Ia hidup dalam pesta, sementara di depan pintunya, seorang miskin menanti setetes kasih. Paus Fransiskus menyebut sikap ini sebagai globalisasi ketidakpedulian, ketika hati manusia beku oleh egoisme, dan mata tertutup terhadap penderitaan sesama.

    Saudara-saudari, berkat sejati tidak diukur dari seberapa banyak kita memiliki, melainkan seberapa banyak kita berbagi. Santo Basilius Agung mengingatkan: “Roti yang kau simpan adalah milik orang lapar, pakaian yang kau tumpuk adalah milik orang telanjang.” Artinya, berkat yang tidak dibagikan akan berubah menjadi beban. St. Yohanes Krisostomus menambahkan: “Kamu menghina Kristus jika kamu menghias dinding gereja dengan emas tetapi membiarkan orang miskin kelaparan.” Maka, setiap orang beriman dipanggil untuk menjadikan hidupnya saluran kasih — menghadirkan wajah Allah melalui kepekaan dan solidaritas.

    Paus Benediktus XVI dalam Deus Caritas Est menulis: “Kekayaan tanpa kasih adalah kemiskinan.” Berkat yang sejati tidak membuat kita sombong, tetapi rendah hati; tidak menutup diri, tetapi membuka pintu bagi sesama. Dunia modern sering kali mengajarkan bahwa kebahagiaan diukur dari prestasi, jabatan, atau harta. Namun Yesus menegaskan bahwa nilai sejati manusia tidak terletak pada apa yang dimiliki, melainkan pada kasih yang dihidupi.

    Yesus ingin kita menyadari: berkat adalah panggilan untuk melayani. Harta, talenta, waktu, dan kesempatan yang kita miliki bukan sekadar untuk memperindah hidup sendiri, tetapi untuk menghadirkan sukacita bagi orang lain. Santo Fransiskus dari Asisi memberi teladan ini dengan hidup sederhana dan hati yang kaya akan kasih. Ia memilih miskin agar bisa mencintai lebih besar. Kesederhanaan seperti inilah yang membebaskan hati dari ilusi kemewahan.

    Kisah orang kaya dan Lazarus juga mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbuat kasih adalah sekarang, bukan nanti. Setelah meninggal, jarak di antara mereka tidak bisa dijembatani lagi. Maka selagi hidup, marilah kita membuka mata dan hati. Banyak Lazarus modern di sekitar kita: mereka yang lapar, kesepian, kehilangan arah, atau terluka batinnya. Jangan biarkan berkat yang kita miliki menjadi penghalang untuk melihat wajah Allah dalam diri mereka.

    Paus Fransiskus mengajak kita menjadi Gereja yang “keluar,” bukan Gereja yang terkurung. “Lebih baik Gereja yang memar karena keluar, daripada Gereja yang sakit karena terkurung.” Artinya, lebih baik kita capek karena melayani, daripada nyaman tapi tidak peduli. Dunia membutuhkan Gereja yang hadir — umat yang mau berjalan bersama, berbagi kasih, dan mengulurkan tangan bagi yang lemah.

    Saudara-saudari terkasih, marilah kita memohon rahmat agar hidup kita sungguh menjadi berkat, bukan berhala. Semoga hati kita peka, tangan kita terbuka, dan langkah kita terarah kepada kasih. Dengan begitu, dunia akan melihat bahwa kita bukan hanya umat yang rajin berdoa, tetapi umat yang menghadirkan kasih Allah dalam tindakan nyata.

    Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu XXV Tahun C - 21 September 2025

    Bacaan I : Am. 8:4-7
    Bacaan II : 1Tim. 2:1-8
    Bacaan Injil : Luk. 16:1-13

    Harta: Berkat atau Berhala?

    Saudara-saudari terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Sabda Tuhan mengajak kita menaruh perhatian pada sesuatu yang sangat dekat dengan hidup kita sehari-hari: harta. Kita semua menggunakannya, kita semua membutuhkannya. Tetapi Sabda Tuhan bertanya dengan tegas: apakah harta ini menjadi berkat atau justru berubah menjadi berhala yang memperbudak kita?

    Kitab Amos menggambarkan Allah yang murka pada orang-orang kaya yang menindas orang miskin, meremehkan mereka hanya demi keuntungan. Namun, harta pada dirinya bukanlah jahat. Kitab Ulangan mengingatkan: “Dialah Tuhan, Allahmu, yang memberi kekuatan kepadamu untuk memperoleh kekayaan” (Ul 8:18).

    Harta menjadi berkat bila diterima dengan syukur dan dipakai untuk menolong orang lain. Santo Basilius Agung pernah berkata: “Roti yang kau simpan adalah milik orang lapar; pakaian yang kau tumpuk adalah milik orang telanjang.” Paus Fransiskus juga menekankan hal serupa: kekayaan yang sejati bukan diukur dari apa yang kita kumpulkan, melainkan dari kasih yang kita bagikan.

    Sebaliknya, harta menjadi berhala ketika ia menggantikan Allah sebagai pusat hidup kita. Yesus berkata dalam Injil hari ini: “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk 16:13). Mamon di sini bukan sekadar uang, melainkan lambang kuasa yang menuntut penyembahan.

    Paus Benediktus XVI pernah menegaskan bahwa orang yang menjadikan harta sebagai tujuan hidupnya sedang melayani “allah palsu” yang kejam, karena Mamon selalu meminta lebih dan tidak pernah puas. Inilah bahayanya: ketika harta membuat kita mengorbankan keadilan, melupakan belas kasih, dan menjauh dari Allah.

    Yesus melalui perumpamaan bendahara yang cerdik menantang kita untuk mengelola harta duniawi dengan bijak. Bukan sekadar untuk diri sendiri, melainkan untuk menghasilkan buah kekal. Harta akan menjadi alat keselamatan bila dikelola dengan jujur, transparan, dan penuh kasih. Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium mengingatkan: “Ekonomi yang sejati harus berorientasi pada kesejahteraan semua orang, bukan pada segelintir orang kaya.” Maka harta menjadi berkat bila ia dipakai untuk membangun kehidupan bersama, untuk menegakkan keadilan, dan untuk memperhatikan mereka yang kecil dan tersisih.

    St. Agustinus mengingatkan kita: “Engkau telah menciptakan kami untuk-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sebelum beristirahat dalam Engkau.” Hati manusia hanya menemukan damai bila Allah menjadi pusat. Jika hati lebih melekat pada harta daripada pada Allah, kita akan terus resah, takut kehilangan, iri pada orang lain, dan tak pernah puas. Tetapi bila hati tertambat pada Allah, harta tidak lagi menguasai kita, melainkan menjadi alat untuk melayani. Paus Yohanes Paulus II pernah menekankan bahwa kesederhanaan hidup adalah tanda profetis yang menyatakan bahwa “Allah saja sudah cukup.”

    Sejarah para kudus memberi teladan yang jelas. St. Fransiskus dari Asisi meninggalkan harta duniawi demi menemukan Kristus sebagai “mutiara berharga” yang tak ternilai. St. Yohanes Maria Vianney hidup dalam kesederhanaan dan mempersembahkan seluruh dirinya demi umatnya. Mereka menunjukkan bahwa harta dunia hanya punya nilai bila dijadikan sarana menuju kekudusan. Dengan cara ini, harta menjadi berkat, bukan berhala.

    Saudara-saudari, hari ini kita diajak untuk jujur menilai hati kita. Apakah harta yang kita miliki sungguh menjadi berkat yang dipakai untuk menolong sesama, ataukah ia diam-diam sudah menjadi berhala yang kita puja dan perbudak? Paus Fransiskus memberi peringatan yang sangat relevan: “Jangan biarkan dirimu diperbudak uang. Pakailah uang untuk berbuat baik, untuk mencintai, untuk membangun dunia yang lebih adil.”

    Maka marilah kita mohon rahmat agar harta yang Tuhan percayakan kepada kita sungguh menjadi berkat, bukan berhala. Semoga kita bijak mengelolanya, setia kepada Allah, dan rela berbagi demi kebaikan bersama. Dengan begitu, kita mewartakan dengan hidup kita sendiri bahwa hanya Allah yang layak menjadi Tuan kita, bukan Mamon. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hari Minggu Kitab Suci Nasional - MB XXIII Tahun C - 07 September 2025

    Bacaan I : Keb. 9:13-18
    Bacaan II :  Flm. 9b-10, 12-17
    Bacaan Injil : Luk. 14:25-33

    Hati yang Merdeka untuk Kristus

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Injil hari ini menghadirkan tuntutan Yesus yang sangat serius bagi setiap orang yang mau mengikuti-Nya: mengutamakan Dia di atas segalanya, siap memikul salib, dan berani melepaskan keterikatan pada harta. Yesus tidak sedang mencari pengikut yang setengah hati atau ikut hanya karena euforia. Ia menuntut komitmen total.

    Paus Fransiskus pernah mengingatkan: “Salib bukan dekorasi, tetapi kompas hidup seorang Kristiani.” Dengan kata lain, salib adalah arah dan gaya hidup, bukan sekadar hiasan.

    Boleh Memiliki Dunia, Hati Hanya untuk Allah

    Yesus tidak pernah berkata bahwa kita harus membuang semua yang kita miliki. Ia justru menekankan: jangan sampai harta, jabatan, atau teknologi menguasai hati kita. Kita boleh memiliki dunia, tetapi jangan biarkan dunia memiliki hati kita.

    Santo Agustinus mengingatkan perbedaan antara memakai (uti) dan menikmati (frui): segala sesuatu di dunia boleh kita gunakan sebagai sarana menuju Allah, tetapi hanya Allah sendiri yang layak dinikmati sebagai tujuan akhir. Ketika urutannya terbalik, kita jatuh ke dalam perbudakan harta, jabatan, atau gengsi.

    Keterikatan Modern yang Mengikat Hati

    Kalau kita jujur, ada banyak bentuk keterikatan zaman modern yang membuat kita sulit mengikuti Yesus dengan bebas: kecanduan media sosial yang haus akan “likes” dan komentar; gaya hidup konsumtif yang membuat kita bekerja tanpa henti demi status; jabatan yang sering membuat orang lupa melayani; bahkan rasa takut kehilangan kenyamanan yang membuat kita kompromi terhadap dosa. Semua ini adalah “berhala” modern yang seolah kecil, tetapi perlahan-lahan menguasai hati kita.

    Paus Benediktus XVI menegaskan: “Iman yang tidak berani kehilangan sesuatu tidak akan pernah benar-benar menemukan Kristus.”

    Contoh Konkret Melepaskan Hati

    Lepas dari keterikatan bukan berarti hidup tanpa apa-apa, tetapi hidup dengan hati yang bebas. Misalnya: seorang ayah boleh bekerja keras mencari rezeki, tetapi tetap pulang dengan hati yang utuh bagi keluarga, bukan tersita seluruhnya oleh pekerjaan. Seorang pejabat boleh punya kuasa, tetapi tidak memakainya untuk menindas, melainkan melayani rakyat kecil. Seorang anak muda boleh menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak gawai; ia memakainya untuk belajar, berjejaring dalam kebaikan, bahkan mewartakan Injil. Di situlah bedanya: dunia dipakai, tetapi hati tetap milik Kristus.

    Hidup sebagai Murid Sejati
    Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan menegaskan keterbatasan manusia, tetapi juga janji Roh Allah yang menuntun. Bacaan kedua dari Surat Filemon memperlihatkan bahwa Injil mengubah relasi: Onesimus yang dulu budak kini diterima sebagai saudara. Artinya, ketika hati dikuasai Kristus, cara kita bekerja, mengelola harta, dan membangun relasi akan diubah. Kita menjadi murid yang benar-benar bebas — bebas untuk mengasihi, bebas untuk melayani, bebas untuk memikul salib.

    Rumah pastor dan kantor pastoral yang kita berkati hari ini bukan sekadar bangunan untuk kenyamanan, melainkan tanda nyata kehadiran Kristus di tengah umat. Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Maka rumah ini dipanggil untuk menjadi rumah pelayanan: tempat umat menemukan telinga yang mendengar, hati yang menyambut, dan tangan yang siap membantu. Hati yang merdeka dari keterikatan duniawi akan menjadikan rumah ini bukan benteng pribadi, melainkan pondok gembala yang terbuka, sederhana, dan penuh kasih.

    Kita boleh memiliki rumah ini, tetapi hati kita hanya milik Kristus. Gedung pastoral ini menjadi pusat misi, tempat koordinasi karya, dan ruang perjumpaan iman, agar seluruh umat merasakan bahwa mereka dicintai Tuhan. Paus Fransiskus mengingatkan para imam untuk menjadi gembala yang “berbau domba,” artinya dekat dan akrab dengan umat. Dengan berkat ini, marilah kita mohon rahmat agar rumah dan kantor paroki ini sungguh dipakai untuk pelayanan, bukan hanya untuk kenyamanan, sehingga setiap langkah di dalamnya mengalirkan terang dan kasih Kristus bagi seluruh umat Allah.

    Penutup: Hati yang Merdeka

    Saudara-saudari terkasih, Yesus mengundang kita untuk memeriksa: apakah hatiku dimiliki dunia, ataukah aku sungguh milik Kristus? Kita boleh memiliki harta, jabatan, teknologi, bahkan kenyamanan; tetapi jangan biarkan itu semua memiliki hati kita. Hanya hati yang merdeka yang mampu mengikuti Kristus sampai akhir. Mari kita mohon rahmat agar hidup kita sungguh berpusat pada Yesus, sehingga kita layak disebut murid sejati, yang siap memikul salib dengan kasih dan memasuki logika Kerajaan Allah. Amin.

     

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hari Minggu Kitab Suci Nasional - MB XXIII Tahun C - 07 September 2025

    Bacaan I : Keb. 9:13-18
    Bacaan II :  Flm. 9b-10, 12-17
    Bacaan Injil : Luk. 14:25-33

    Hati yang Merdeka untuk Kristus

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Injil hari ini menghadirkan tuntutan Yesus yang sangat serius bagi setiap orang yang mau mengikuti-Nya: mengutamakan Dia di atas segalanya, siap memikul salib, dan berani melepaskan keterikatan pada harta. Yesus tidak sedang mencari pengikut yang setengah hati atau ikut hanya karena euforia. Ia menuntut komitmen total.

    Paus Fransiskus pernah mengingatkan: “Salib bukan dekorasi, tetapi kompas hidup seorang Kristiani.” Dengan kata lain, salib adalah arah dan gaya hidup, bukan sekadar hiasan.

    Boleh Memiliki Dunia, Hati Hanya untuk Allah

    Yesus tidak pernah berkata bahwa kita harus membuang semua yang kita miliki. Ia justru menekankan: jangan sampai harta, jabatan, atau teknologi menguasai hati kita. Kita boleh memiliki dunia, tetapi jangan biarkan dunia memiliki hati kita.

    Santo Agustinus mengingatkan perbedaan antara memakai (uti) dan menikmati (frui): segala sesuatu di dunia boleh kita gunakan sebagai sarana menuju Allah, tetapi hanya Allah sendiri yang layak dinikmati sebagai tujuan akhir. Ketika urutannya terbalik, kita jatuh ke dalam perbudakan harta, jabatan, atau gengsi.

    Keterikatan Modern yang Mengikat Hati

    Kalau kita jujur, ada banyak bentuk keterikatan zaman modern yang membuat kita sulit mengikuti Yesus dengan bebas: kecanduan media sosial yang haus akan “likes” dan komentar; gaya hidup konsumtif yang membuat kita bekerja tanpa henti demi status; jabatan yang sering membuat orang lupa melayani; bahkan rasa takut kehilangan kenyamanan yang membuat kita kompromi terhadap dosa. Semua ini adalah “berhala” modern yang seolah kecil, tetapi perlahan-lahan menguasai hati kita.

    Paus Benediktus XVI menegaskan: “Iman yang tidak berani kehilangan sesuatu tidak akan pernah benar-benar menemukan Kristus.”

    Contoh Konkret Melepaskan Hati

    Lepas dari keterikatan bukan berarti hidup tanpa apa-apa, tetapi hidup dengan hati yang bebas. Misalnya: seorang ayah boleh bekerja keras mencari rezeki, tetapi tetap pulang dengan hati yang utuh bagi keluarga, bukan tersita seluruhnya oleh pekerjaan. Seorang pejabat boleh punya kuasa, tetapi tidak memakainya untuk menindas, melainkan melayani rakyat kecil. Seorang anak muda boleh menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak gawai; ia memakainya untuk belajar, berjejaring dalam kebaikan, bahkan mewartakan Injil. Di situlah bedanya: dunia dipakai, tetapi hati tetap milik Kristus.

    Hidup sebagai Murid Sejati
    Bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan menegaskan keterbatasan manusia, tetapi juga janji Roh Allah yang menuntun. Bacaan kedua dari Surat Filemon memperlihatkan bahwa Injil mengubah relasi: Onesimus yang dulu budak kini diterima sebagai saudara. Artinya, ketika hati dikuasai Kristus, cara kita bekerja, mengelola harta, dan membangun relasi akan diubah. Kita menjadi murid yang benar-benar bebas — bebas untuk mengasihi, bebas untuk melayani, bebas untuk memikul salib.

    Rumah pastor dan kantor pastoral yang kita berkati hari ini bukan sekadar bangunan untuk kenyamanan, melainkan tanda nyata kehadiran Kristus di tengah umat. Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Maka rumah ini dipanggil untuk menjadi rumah pelayanan: tempat umat menemukan telinga yang mendengar, hati yang menyambut, dan tangan yang siap membantu. Hati yang merdeka dari keterikatan duniawi akan menjadikan rumah ini bukan benteng pribadi, melainkan pondok gembala yang terbuka, sederhana, dan penuh kasih.

    Kita boleh memiliki rumah ini, tetapi hati kita hanya milik Kristus. Gedung pastoral ini menjadi pusat misi, tempat koordinasi karya, dan ruang perjumpaan iman, agar seluruh umat merasakan bahwa mereka dicintai Tuhan. Paus Fransiskus mengingatkan para imam untuk menjadi gembala yang “berbau domba,” artinya dekat dan akrab dengan umat. Dengan berkat ini, marilah kita mohon rahmat agar rumah dan kantor paroki ini sungguh dipakai untuk pelayanan, bukan hanya untuk kenyamanan, sehingga setiap langkah di dalamnya mengalirkan terang dan kasih Kristus bagi seluruh umat Allah.

    Penutup: Hati yang Merdeka

    Saudara-saudari terkasih, Yesus mengundang kita untuk memeriksa: apakah hatiku dimiliki dunia, ataukah aku sungguh milik Kristus? Kita boleh memiliki harta, jabatan, teknologi, bahkan kenyamanan; tetapi jangan biarkan itu semua memiliki hati kita. Hanya hati yang merdeka yang mampu mengikuti Kristus sampai akhir. Mari kita mohon rahmat agar hidup kita sungguh berpusat pada Yesus, sehingga kita layak disebut murid sejati, yang siap memikul salib dengan kasih dan memasuki logika Kerajaan Allah. Amin.

     

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu Biasa XXII Tahun C - 31 Agustus 2025

    Bacaan I : Sir. 3:17-18,20,28-29
    Bacaan II :  Ibr. 12:18-19,22-24a
    Bacaan Injil : Luk. 14:1,7-14

    Kerendahan Hati dan Kasih Tanpa Pamrih: Jalan Masuk Kerajaan Allah

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Injil hari ini menampilkan dua pesan yang tajam dari Yesus.
    Pertama, Ia mengoreksi kecenderungan manusia mencari tempat terhormat: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan; barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

    Kedua, Ia menantang egoisme relasional: jangan hanya mengundang mereka yang bisa membalas, tetapi undanglah mereka yang miskin, cacat, lumpuh, dan buta — yang tidak mampu membalas sama sekali.

     

    Kedua pesan ini bertemu dalam satu titik: hanya kerendahan hati dan kasih tanpa pamrih yang membuka jalan menuju logika Kerajaan Allah. Kerendahan hati membersihkan hati dari kesombongan; kasih tanpa pamrih membersihkan kasih dari kepentingan.

    Namun, saudara-saudari, apakah hanya dua hal ini syarat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Bacaan lain hari ini memberi perspektif lebih luas. Sirakh menegaskan: “Semakin besar engkau, semakin harus engkau merendah, supaya engkau mendapat kasih karunia di hadapan Tuhan” (Sir 3:18).

    Surat kepada orang Ibrani mengingatkan bahwa kita dipanggil bukan kepada gunung yang menakutkan, melainkan ke hadirat Allah yang penuh belas kasih. Jadi, kerendahan hati dan kasih tanpa pamrih memang inti, tetapi keduanya tidak berdiri sendiri.

    Mereka terkait erat dengan pertobatan, iman, dan kerahiman. Santo Agustinus berkata: “Jalan menuju surga sempit bukan karena jalannya kecil, tetapi karena orang yang membawanya terlalu besar oleh kesombongan.” Artinya, pintu sempit hanya bisa dilalui hati yang sederhana, yang rela bertobat dan percaya penuh kepada Tuhan.

    Paus Fransiskus sering mengingatkan bahaya “kekristenan kosmetik” — iman yang indah di luar tetapi rapuh di dalam. Orang yang hanya mencari kehormatan atau memberi demi pamrih terjebak dalam kekristenan kosmetik. Sebaliknya, iman sejati menuntut keotentikan: kerendahan hati yang jujur, kasih yang tulus, serta keberanian hidup dalam pertobatan terus-menerus.

    Paus Benediktus XVI menambahkan: “Iman tidak bisa hanya menjadi adat istiadat, tetapi harus menjadi perjumpaan nyata dengan Kristus yang mengubah hidup.”

    Saudara-saudari, Injil ini juga menegur kita dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia modern, banyak “tempat terhormat” yang kita kejar: status sosial, jumlah pengikut di media sosial, kekuasaan, bahkan pengaruh dalam Gereja.

    Banyak pula “undangan pamrih” yang kita lakukan: kita berbuat baik agar dipuji, agar mendapat imbalan, atau sekadar untuk menjaga gengsi. Namun Yesus berkata dengan jelas: kasih yang sejati adalah kasih yang memberi tanpa balas, karena di situlah kita menyerupai kasih Allah sendiri.

    “Kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus” (Rm 5:5) — kasih yang murah hati, tanpa syarat, tanpa pamrih.

    Karena itu, hari ini kita dipanggil untuk masuk ke dalam logika Kerajaan Allah: dengan kerendahan hati yang menanggalkan kesombongan, dengan kasih tanpa pamrih yang menanggalkan kepentingan, dengan pertobatan yang menanggalkan dosa, dengan iman yang teguh, dan dengan kerahiman yang rela mengampuni.

    Semuanya bermuara pada satu hal: hidup yang berpusat pada Kristus, bukan pada diri sendiri. Inilah syarat sejati untuk ikut dalam perjamuan Kerajaan Allah.

    Saudara-saudari terkasih, marilah kita memohon rahmat agar tidak terjebak pada kehormatan palsu dan kasih yang berhitung untung-rugi.

    Mari kita belajar rendah hati seperti Kristus yang “mengosongkan diri-Nya” (Flp 2:7), dan mengasihi seperti Dia yang memberi diri sampai tuntas di kayu salib.

    Dengan begitu, kita sungguh siap mendengar janji Yesus: “Engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu Biasa XXI Tahun C - 24 Agustus 2025

    Bacaan I : Yes. 66:18-21
    Bacaan II :  Ibr. 12:5-7,11-13
    Bacaan Injil : Luk. 13:22-30

    Berjuang Masuk Melalui Pintu yang Sempit

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit” (Luk 13:24). Latar belakang pernyataan Yesus ini muncul dari konteks di mana orang-orang Yahudi pada zaman-Nya merasa diri mereka sudah “aman” hanya karena menjadi bagian dari umat pilihan atau karena secara lahiriah menaati hukum Taurat. Yesus ingin meluruskan anggapan itu: keselamatan tidak otomatis datang dari status etnis, tradisi, atau kedekatan formal dengan Bait Allah, melainkan dari pertobatan hati dan kesetiaan hidup. Karena itu Ia memakai gambaran “pintu sempit” untuk menunjukkan bahwa jalan menuju Kerajaan Allah menuntut perjuangan pribadi, askese, kerendahan hati, dan kesediaan meninggalkan keterikatan pada dosa serta egoisme. Dengan kata lain, Yesus menekankan bahwa keselamatan adalah undangan yang universal, tetapi tanggapannya menuntut kesungguhan, bukan hanya sekadar klaim atau identitas luar.

    Yesus menggambarkan pintu itu sempit, sebab hanya bisa dilewati oleh mereka yang rela merendahkan diri, menanggalkan beban ego, kesombongan, dendam, dan keterikatan pada harta. Santo Agustinus dengan tajam berkata: “Jalan menuju surga sempit bukan karena jalannya kecil, tetapi karena orang yang membawanya terlalu besar oleh kesombongan.” Betapa sering kita gagal masuk, bukan karena Tuhan menutup pintu, tetapi karena kita enggan melepaskan beban yang kita peluk.

    Bacaan pertama dari Nabi Yesaya memperlihatkan bahwa keselamatan terbuka bagi semua bangsa dan bahasa. Tetapi undangan universal ini menuntut tanggapan pribadi: apakah kita sungguh mau menyesuaikan hidup dengan kehendak Tuhan? Sedangkan Surat kepada orang Ibrani menegaskan bahwa jalan menuju Kerajaan Allah bukanlah jalan instan. Tuhan mendidik kita melalui disiplin iman: doa yang konsisten, pelayanan yang tulus, kesabaran dalam penderitaan. Paus Benediktus XVI pernah mengingatkan: “Allah tidak menjanjikan jalan yang mudah, tetapi menjanjikan bahwa Ia menyertai kita dalam setiap perjuangan menuju kebaikan.”

    Saudara-saudari, Yesus juga memberi peringatan yang keras: banyak yang akan berseru “Tuhan, Tuhan,” tetapi ditolak karena hidup mereka tidak sejalan dengan Injil. Artinya, keaktifan lahiriah — hadir di Misa, ikut devosi, sibuk dalam kegiatan Gereja — tidak otomatis menjamin keselamatan bila tidak diiringi pertobatan hati. Santo Yohanes Krisostomus menegaskan: “Tidak cukup mendengar Injil, yang dibutuhkan adalah melakukannya. Sebab mendengar tanpa melakukan hanyalah menambah penghukuman.” Mendengar tanpa melakukan hanya seperti membangun rumah di atas dasar pasir.

    Paus Fransiskus dalam sebuah homili berkata: “Pintu sempit itu adalah Kristus sendiri. Untuk masuk, kita harus mengecilkan diri, membiarkan kesombongan lenyap. Pintu itu terbuka lebar, tetapi hanya kerendahan hati yang bisa melewatinya.” Inilah logika rohani yang berlawanan dengan dunia: yang meninggikan diri akan direndahkan, yang merendahkan diri akan ditinggikan. Santa Teresa dari Kalkuta menambahkan dengan sederhana: “Hanya dengan kasih yang rendah hati kita bisa masuk surga.”

    Saudara-saudari, marilah kita bertanya: apa yang menjadi “bawaan berat” dalam hidup kita yang membuat kita sulit masuk melalui pintu sempit? Apakah ambisi, iri hati, gaya hidup hedonis, atau mungkin keengganan untuk mengampuni? Mari kita mohon rahmat Tuhan agar kita berani meletakkannya di kaki-Nya. Sebab, seperti Yesus tegaskan, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

    Maka, janganlah kita takut pada pintu sempit itu. Justru di sanalah jalan menuju sukacita sejati. Marilah kita berjuang dengan kerendahan hati, dengan kasih yang tulus, dan dengan iman yang teguh. Dengan Maria, Ratu Surga, yang hidupnya adalah teladan pintu sempit dalam “ya” yang total kepada Allah, kita pun diarahkan kepada Kristus Sang Jalan. Dan kelak, ketika hari panggilan kita tiba, semoga kita diterima masuk ke dalam pesta Kerajaan-Nya, bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai sahabat yang setia. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    HARI RAYA KEMERDEKAAN RI 80 TAHUN - 17 Agustus 2025

    Bacaan I : Sir. 10:1-8
    Bacaan II : 1Ptr. 2:13-17
    Bacaan Injil : Mat. 22:15-21

    “Mengasihi Tanah Air, Mengabdi Tuhan – Menuju Kemerdekaan Sejati”

    1. Pendahuluan – Kemerdekaan yang Diperjuangkan

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Hari ini kita bersyukur merayakan 80 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Pagi 17 Agustus 1945, di sebuah rumah sederhana di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, Bung Karno dan Bung Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia…”

    Kata-kata itu menggetarkan jiwa bangsa dan menggema ke seluruh dunia. Namun, di balik proklamasi itu ada darah para pejuang yang tumpah, air mata para ibu yang berdoa, dan nyawa yang rela dikorbankan. Kemerdekaan ini bukan hadiah, melainkan buah dari perjuangan tanpa pamrih, yang mempersatukan rakyat dari berbagai suku, bahasa, dan agama dalam satu tekad: Indonesia merdeka.

    2. Kemerdekaan yang Diuji – Realitas Zaman Kita 
    Delapan puluh tahun kemudian, kita patut bertanya: apakah kita sungguh merdeka? Secara politik, kita bebas dari penjajahan asing. Namun secara moral dan rohani, banyak dari kita masih terjajah oleh korupsi, keserakahan, kebencian, kebohongan, dan ketidakpedulian. Polarisasi politik memecah belah bangsa; hoaks merusak kepercayaan; ketidakadilan ekonomi memperlebar jurang kaya-miskin; dan kerusakan lingkungan mengancam masa depan anak cucu kita.

    Bung Hatta pernah berkata: “Kemerdekaan hanyalah jembatan; yang di seberangnya adalah masyarakat adil dan makmur.” Jembatan itu sudah kita lewati, tetapi apakah kita sudah sampai pada tujuannya? Jawabannya tergantung pada kemerdekaan hati kita—apakah kita sungguh bebas dari egoisme, iri hati, dan ketidakpedulian.

    3. Hikmah Filsafat – Sokrates dan Kemerdekaan Sejati 
    Filsuf Yunani Sokrates pernah menegaskan bahwa kemerdekaan sejati tidak terletak pada kuasa melakukan apa saja yang diinginkan, tetapi pada kemampuan menguasai diri dan hidup dalam kebenaran. Orang yang tidak mampu menguasai dirinya, kata Sokrates, “adalah budak, walaupun ia mungkin seorang raja.”

    Bagi Sokrates, kebebasan tidak lahir dari memuaskan hawa nafsu, melainkan dari pengekangan diri demi kebajikan. Ia memilih menderita ketidakadilan daripada melakukan ketidakadilan, karena integritas lebih berharga daripada keuntungan sesaat. Inilah kemerdekaan yang tidak dapat dirampas oleh siapapun—kemerdekaan yang berakar pada kebijaksanaan, kebaikan, dan penguasaan diri.

    4. Pesan Kitab Suci – Pemimpin Bijak, Rakyat Damai 
    Bacaan pertama, Sirakh 10:1–8, mengingatkan: “Pemerintah yang bijaksana menjamin ketenteraman rakyat, dan pemerintahan seorang bijak akan teratur.” Sebaliknya, pemimpin yang egois akan menyeret bangsanya ke kehancuran.

    Bacaan kedua, 1 Petrus 2:13–17, menegaskan: “Hiduplah sebagai orang merdeka, dan janganlah menggunakan kemerdekaan itu sebagai selubung untuk kejahatan, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.” Rasul Petrus mengajarkan dua kewajiban yang tak terpisahkan:

    1. Kepada Negara – taat hukum, menjaga persatuan, dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. 
    2. Kepada Tuhan – takut akan Allah, hidup kudus, dan menjadi saksi kasih di mana pun kita berada.

    Paus Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari perintah keempat: menghormati “ibu pertiwi” yang melahirkan kita. Paus Fransiskus menambahkan dalam Fratelli Tutti bahwa patriotisme sejati tidak menutup diri dari bangsa lain, tetapi membangun persaudaraan lintas batas.

    5. Prinsip Emas Yesus – Fondasi Kemerdekaan yang Berkat 
    Yesus memberi pedoman universal: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Mat 7:12). Prinsip ini adalah inti dari keadilan dan kasih—menempatkan diri pada posisi orang lain sebelum bertindak. Bayangkan sebuah Indonesia di mana pemimpin selalu memikirkan rakyat sebelum dirinya; warga saling menghormati tanpa memandang perbedaan; dan keberagaman menjadi kekuatan pemersatu. Kemerdekaan tanpa kasih hanyalah kebebasan yang hampa; tetapi kemerdekaan yang diwarnai kasih akan menjadi berkat bagi semua.

    6. Penutup – Menjadi Penjaga Api Kemerdekaan Sejati 
    Saudara-saudari terkasih, Kemerdekaan yang kita rayakan hari ini adalah anugerah Tuhan sekaligus amanat sejarah. Kemerdekaan politik telah kita miliki; kini kita dipanggil menuju kemerdekaan sejati—kemerdekaan hati yang menguasai diri, memilih kebaikan, hidup dalam kebenaran, dan mengabdi kepada Tuhan serta sesama.

    Mari kita menjadi penjaga api kemerdekaan: jujur dalam bekerja, tulus dalam mengasihi, setia dalam iman, dan berani dalam membela kebenaran. Dengan begitu, kita bukan hanya menjadi warga negara yang baik, tetapi juga murid Kristus yang setia.

    Di hari bersejarah ini, marilah kita berseru bersama: Tuhan, berkatilah Indonesia. Jadikan kami anak-anak-Mu yang merdeka hati, teguh iman, setia melayani, dan tulus mengasihi. Merdeka! Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga - 10 Agustus 2025

    Bacaan I : Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab
    Bacaan II : 1Kor. 15:20-26
    Bacaan Injil : Lukas 1:39-56

    “Maria Bergegas – Gereja yang Hidup”

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Hari ini kita merayakan salah satu perayaan besar Gereja, Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Gereja mengajarkan bahwa Maria, Bunda Tuhan kita, di akhir hidupnya di dunia diangkat ke surga, tubuh dan jiwanya, menikmati kemuliaan bersama Kristus. Ini adalah pengharapan besar bagi kita semua—bahwa hidup yang setia kepada Allah akan berakhir bukan di kuburan, tetapi dalam pelukan Bapa di surga.

    Namun Injil hari ini tidak langsung menceritakan Maria diangkat ke surga. Justru yang kita dengar adalah kisah sederhana namun penuh makna: Maria bergegas ke pegunungan Yudea untuk mengunjungi Elisabet. Kata bergegas di sini penting. Dalam bahasa aslinya, Lukas menggunakan frasa meta spoudēs—bukan sekadar berjalan cepat, tetapi melangkah dengan semangat, digerakkan oleh kasih dan sukacita. Maria baru saja menerima kabar luar biasa dari malaikat bahwa ia akan mengandung Mesias. Ia bisa saja tinggal di rumah, memikirkan diri sendiri. Tetapi Maria memilih keluar dari kenyamanannya untuk melayani orang lain.

    Saudara-saudari, Maria yang bergegas ini adalah gambaran Gereja yang hidup—Gereja yang tidak hanya berkutat pada urusan internal, tetapi yang keluar dari dirinya untuk bertemu, melayani, dan membawa Kristus kepada orang lain. Paus Benediktus XVI menyebut Maria sebagai bintang penginjilan, karena ia membawa Yesus bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kehadiran yang penuh kasih. Paus Fransiskus menambahkan bahwa Gereja sejati adalah Gereja yang “berjalan keluar” (una Chiesa in uscita), tidak tinggal diam, tetapi mendatangi yang lemah, yang sakit, yang menderita, dan yang tersisih.

    Dorongan Maria untuk bergegas lahir dari tiga kekuatan rohani yang juga harus menjadi milik kita:

    1. Kasih yang ingin melayani – karena kasih sejati tidak bisa menunggu.
    2. Sukacita yang ingin dibagikan – karena sukacita Injil bertambah saat dibagikan.
    3. Ketaatan pada Sabda Allah – karena setiap langkah pelayanan adalah jawaban atas panggilan Tuhan.

    Saudara-saudari, Perayaan Maria Diangkat ke Surga mengingatkan kita bahwa pelayanan bukanlah beban yang menguras hidup, tetapi jalan yang memuliakan kita. Maria mengajar kita bahwa setiap langkah untuk melayani sesama adalah langkah menuju surga. Kalau kita mau sampai pada kemuliaan seperti Maria, kita pun harus belajar “bergegas” dalam karya kasih: mendatangi yang membutuhkan, mengulurkan tangan pada yang terjatuh, dan membawa Kristus dalam perkataan maupun perbuatan.

    Maka hari ini, marilah kita meneladani Bunda Maria: keluar dari kenyamanan, bergerak dengan semangat, dan membawa Kristus ke mana pun kita pergi. Sebab seperti Maria, kita pun dipanggil untuk menjadi Gereja yang hidup—Gereja yang bergegas untuk mengasihi. Dan di akhir hidup kita, semoga Tuhan berkata: “Mari masuk ke dalam kemuliaan-Ku,” seperti Ia menyambut Maria di surga. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

    Minggu Biasa XVIII - 03 Agustus 2025

    Bacaan I : Pengkhotbah. 1:2; 2:21-23 (klik untuk membacanya)
    Bacaan II : Kolose 3:1-5.9-11
    Bacaan Injil : Lukas 12:13-21

    Apa yang Kau Cari dalam Hidup Ini? Jangan Sampai Kesia-siaan Membungkus Keberhasilan

    Pendahuluan: Dunia Penuh Pencarian, Tapi Tidak Semua Bernilai

    Saudara-saudari terkasih,semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
    Kita semua sedang dan selalu akan hidup dalam pencarian. Ada yang mengejar penghidupan yang lebih baik, ada yang membangun usaha, ada yang memperjuangkan anak-anaknya, atau membangun pelayanan dan karya. Semua sah. Semua baik.

    Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita merenung dalam: “Apa yang sebenarnya sedang kita cari dalam hidup ini?” Dan apakah yang kita kejar itu sungguh bernilai kekal atau hanya tampak megah namun hampa?

    1. Kesia-siaan yang Tidak Terasa Tapi Mematikan Jiwa

     Kitab Pengkhotbah menyapa kita dengan jujur: “Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia!” Banyak orang hidup dengan bekerja keras siang malam, tetapi akhirnya merasa kosong dan lelah jiwa.

    Yesus dalam Injil Lukas 12:13–21 bercerita tentang seorang yang sukses besar—ladangnya menghasilkan panen melimpah. Ia berkata pada dirinya, “Tenanglah, makanlah, bersenang-senanglah.”

    Namun Allah menjawab: “Hai engkau orang bodoh, malam ini juga jiwamu akan diambil darimu!” Ia lupa satu hal penting: bahwa hidup ini sementara, dan jiwa harus dipersiapkan untuk kekekalan. 

    2. Pencarian-Pencarian Sia-sia Zaman Ini

    Zaman sekarang makin canggih, tetapi hati manusia makin lelah. Banyak orang terjebak dalam pencarian yang tampak menjanjikan, namun kosong secara rohani:
    a. Mengejar kekayaan dengan cara curang atau merugikan orang lain. “Asal kaya, tak peduli cara.” Tapi apa artinya kaya kalau hati keras dan tak ada damai?
    b. Mengejar citra dan pengakuan di media sosial. Kita hidup demi penilaian orang. Tapi Allah melihat hati, bukan tampilan.
    c. Mengejar karier dan prestasi tanpa makna pelayanan. Hebat di luar, tetapi rapuh dan kering dalam jiwa. Apa gunanya?
    d. Mengejar kebebasan tanpa arah. Tak mau terikat. Tapi akhirnya terikat oleh kesepian dan dosa. Yesus menegaskan: Jangan hanya mengumpulkan harta di bumi, tetapi jadilah kaya di hadapan Allah. (Luk 12:21)

    3. Hidup Baru Menurut Roh: Arahkan Pencarianmu ke Atas

    Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus mengajak kita: “Carilah perkara yang di atas… matikanlah segala sesuatu yang duniawi.” (Kol 3:1–5) 

    Hidup rohani bukan pelarian dari dunia, tetapi arah bagi dunia. Bekerja boleh, tetapi jangan lupa berdoa. Mengejar rezeki sah, tetapi jangan mengabaikan kasih dan kejujuran. Membangun masa depan itu baik, tapi jangan mengorbankan hidup kekal.

    Penutup: Mari Hidup Lebih Bijaksana dan Bernilai Kekal

    Mazmur 90 berkata: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, supaya kami beroleh hati yang bijaksana.”
     Orang bijak bukan yang paling kaya, paling viral, atau paling hebat. Orang bijak adalah dia yang tahu: bahwa hidup ini singkat, dan bahwa hanya kasih, kebaikan, dan kebenaran yang akan kekal.

    Aksi Nyata Minggu Ini:
    1. Renungkan kembali: Apa yang paling aku kejar dalam hidup ini?
    2. Periksa: Apakah caraku mengejar itu sesuai dengan kehendak Tuhan?
    3. Komitmenkan dirimu untuk menjadi “kaya di hadapan Allah”: Lewat kejujuran, kesederhanaan, dan kasih terhadap sesama.

    Peneguhan: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” 
    (Mrk 8:36) “Jadilah pribadi yang mencari Tuhan lebih dari segalanya—dan kamu tak akan sia-sia.” Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

     

    Warta Kuria (Januari – Februari 2026)

    1. Temu Pastoral Uskup dan Tarekat Hidup Bakti KAM 19-22/1/2026

    Tanggal 19-22 Januari 2026 diadakan Temu pastoral Uskup dan Tarekat Hidup Bakti Keuskupan Agung Medan di CC PPU Pematangsiantar. Pertemuan itu bertujuan untuk mempererat sinodalitas semua Tarekat Hidup Bakti (THB) yang hadir dan berkarya di Keuskupan Agung Medan dalam mengemban tugas pastoral Gereja lokal di bawah pimpinan Uskup Keuskupan Agung Medan. Pertemuan dihadiri oleh 77 peserta dari 32 Tarekat Hidup Bakti. Suasana pertemuan terasa akrab dan hangat, bagaikan anak-anak bertemu dan berwawan hati dengan Bapa Uskup sebagai gembala di Keuskupan Agung Medan. Panitia yang dikoordinir oleh RP. Joseph Lesta Pandia OFMConv, sebagai Vikep Pro Religius KAM mengatur seluruh rangkaian acara dengan sangat baik. Sinodalitas yang dialami selama 4 hari ini berhasil merumuskan Fokus dan Komitmen Pastoral Tarekat Hidup Bakti di Keuskupan Agung Medan.

    THB berkomitmen terlibat aktif dalam kehidupan Gereja Keuskupan Agung Medan melalui beberapa bidang pelayanan. Dalam penanggulangan pasca bencana, THB membentuk tim koordinator di bawah nama Keuskupan untuk melakukan asesmen kolaboratif, aksi belarasa, edukasi preventif, membantu pembangunan rumah serta kaderisasi anak korban bencana melalui beasiswa dan pendampingan psikologis berkelanjutan. Dalam bidang kaderisasi, THB menjadi mitra Tim Kaderisasi Awam KAM untuk membina awam Katolik sebagai perpanjangan tangan misi Kristus, antara lain dengan pemutakhiran data kader, formasi, penguatan, aksi, pendampingan dan regenerasi supaya awam tetap hadir sebagai garam dan terang dunia. Di bidang pewartaan digital, setiap tarekat membentuk dan memberdayakan tim media sosial, menyusun protokol sesuai UU ITE, menyiapkan anggota yang cakap di bidang IT, bekerja sama dengan Komsos KAM dan berpartisipasi dalam program pewartaan iman, termasuk acara opera Kobar KAM.

    THB memperkuat Forum Pastoral Migran Perantau melalui pendirian shelter, penyediaan tenaga personalia serta kerja sama dengan pemerintah, pihak keamanan, lembaga bantuan hukum dan pihak terkait dalam penanganan TPPO. Keterlibatan THB dalam Sinode VII KAM diwujudkan melalui penunjukan satu contact person di tiap komunitas yang akan berkomunikasi dengan Sekretariat Sinode untuk melaporkan kegiatan sinodal di komunitas. Seluruh komitmen ini diarahkan pada pembentukan wajah Gereja KAM yang sinodal yang dirumuskan dalam Conventio Scripta. THB menyediakan tenaga pastoral yang dibutuhkan keuskupan dan Uskup mengutus parokus yang mampu membangun komunikasi yang baik, sinodal dan komunikatif dengan THB.

    2. Rapat Kolegium Konsultor KAM 22/1/2026

    Pada 22 Januari 2026 Kolegium Konsultor KAM mengadakan rapat bulanan di CC PPU Pematangsiantar. Kolegium Konsultor merupakan lembaga yang dibentuk dalam setiap keuskupan sebagaimana diatur dalam Kitab Hukum Kanonik 1983, khususnya Kan. 502, sebagai turunan dari Dewan Presbiteral. Lembaga ini terdiri dari imam-imam yang dipilih oleh Uskup dari antara anggota Dewan Presbiteral, dengan jumlah antara enam sampai dua belas orang. Mereka dipanggil untuk mendampingi Uskup dalam menjalankan tugas penggembalaan, terutama dalam bidang administrasi, pengelolaan harta benda Gereja, serta hal-hal yang menuntut pertimbangan dan persetujuan hukum tertentu.

    Kolegium Konsultor memiliki peranan istimewa karena, selain menjadi mitra konsultatif Uskup, juga diberi mandat khusus oleh Gereja universal untuk menjaga kesinambungan hidup Gereja lokal apabila Tahta Keuskupan lowong. Bagi Keuskupan Agung Medan, keberadaan Kolegium Konsultor adalah bagian integral dari semangat communio presbyterorum yang menegaskan ikatan persaudaraan sakramental antara Uskup dan para imamnya. Kolegium ini menjadi tanda nyata bahwa kepemimpinan Gereja dijalankan bukan secara individualistis, melainkan dalam kebersamaan, keterbukaan, dan akuntabilitas demi kebaikan umat Allah.

    Rapat kerja Tim Regulasi KAM pada 9-11 September 2025 telah menetapkan secara resmi perubahan nama KONSULKAM menjadi Kolegium Konsultor sesuai dengan pasal 1 Statuta Kolegium Konsultor yang direvisi berdasarkan Kitab Hukum Kanonik.

    3. Rapat Uskup dengan Pengurus Yay. Harapan Penuh Berkat dan DPPH Paroki Jl. Sibolga 23/1/2026

    Pada tanggal 23 Januari 2026 di aula St. Clara Pematangsiantar, Bapa Uskup memberikan klarifikasi kepada Pengurus Yayasan Harapan Penuh Berkat dan DPPH Jl. Sibolga. Klarifikasi tersebut tentang tindak lanjut rencana pembangunan Gereja St. Klara sebagai paroki khusus yang terintegrasi dengan Rumah Sakit Harapan (RSH), berfokus pada pelayanan kesehatan dan umat sekitar. Panitia dibentuk melalui SK Uskup, melibatkan Paroki St. Laurentius dan Yayasan Harapan Penuh Rahmat untuk menyusun master plan, gambar bangunan dan proposal ke Bimas Katolik Pusat. Desain perlu disederhanakan (gereja, aula, kapel, ruang persemayaman, kantor dan fasilitas pendukung). Permohonan bantuan ke Kementerian Agama dapat diajukan jika desain dan RAB telah disederhanakan serta kepanitiaan lengkap.

    Dalam tanggapan, muncul keprihatinan terkait rekomendasi Tim Bangunan Suci, khususnya poin tentang potensi “dua kepala” dalam paroki khusus ini. Uskup menegaskan bahwa penentu utama adalah keputusan Uskup, bukan rekomendasi tim dan bahwa paroki St. Klara harus jelas sebagai satu paroki mandiri dengan satu “tuan”, yakni Uskup, bukan dua pemilik. Bapa Uskup mengingatkan Tim Bangunan Suci agar paroki tersebut selaras dengan visi uskup, yakni fokus pada pelayanan orang sakit, dengan satu gereja dan satu aula yang dapat dipakai bersama RSH dan umat. Bukan bangunan yang “menjulang” melainkan pelayanan yang “menjulang” yang dibutuhkan. Uskup kembali meminta agar disusun konsep bersama yang jelas, inventaris kebutuhan yang rinci dan kerja kolaboratif antara paroki, yayasan, tim bangunan suci, vikep dan panitia. Uskup dilibatkan secara langsung dalam perencanaan ini. Pendampingan dan sosialisasi berkelanjutan kepada umat perlu dijamin.
    4. Tahbisan Imam dari Ordo Kapusin Medan di Berastagi 24/1/2026

    Mgr. Kornelius Kornelius Sipayung, OFMCap menahbiskan delapan diakon Kapusin Provinsi Medan menjadi imam pada 24 Januari 2026 di Gereja St. Fransiskus Assisi, Berastagi. Mereka yang ditahbiskan ialah RP. Stefan Eunaldus Sianturi OFMCap, RP. Ta Trong Tri OFMCap, RP. Firdaus Depari OFMCap, RP. Moel Sinaga OFMCap, RP. Evander Purba OFMCap, RP. Nofrendi Sihaloho OFMCap, RP. Angelo Bonardo Purba OFMCap, RP. Sofyan Sinurat OFMCap. Tahbisan ini didahului pengumuman resmi dari Minister Provinsial Kapusin Medan, RP. Yosafat Ivo Sinaga OFMCap, yang mengundang siapa pun untuk melaporkan bila ada halangan kanonik dalam hidup ke delapan calon tertahbis. Perayaan ini juga dihadiri Bupati Karo, aparat kepolisian dan TNI. Perayaan ini menjadi tanda berkat Allah dan sukacita Gereja karena menerima anugerah gembala-gembala baru yang dengan bebas mempersembahkan hidupnya bagi pelayanan umat Allah demi Kerajaan Allah. Bertindak sebagai ketua panitia ialah Brigadir Jenderal TNI, Dr. Agustatius Sitepu, Komandan Resor Militer (Korem) 031/Wirabima di Pekanbaru, Riau.

    Mengawali homilinya, Bapa Uskup mengulangi nasehat Paulus kepada para penatua di Efesus “jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan Darah Anak-Nya sendiri.” Betapa pentingnya seorang imam menjaga kekudusan dirinya dengan membina keintiman dengan Yesus Kristus. Imamat bukanlah status atau jabatan, melainkan panggilan untuk melayani dengan rendah hati, meneladan St. Fransiskus dari Assisi dalam kesederhanaan, kedekatan dengan kaum kecil dan miskin serta kesetiaan pada Injil. Oleh karena itu, para imam perlu memelihara hidup rohani, sebab kelalaian dalam hal yang paling inti ini akan melukai kawanan. Para imam baru diawaskan dari bahaya klerikalisme, yakni cara berpikir yang melihat tahbisan sebagai kenaikan pangkat, yang mudah dipupuk oleh kenyamanan, kekuasaan dan popularitas—terutama di era media sosial—hingga menjadikan umat sekadar objek. Seorang gembala sejati tetap tinggal bersama umat karena mencintai mereka, terutama ketika pelayanan menjadi berat dan salib sungguh terasa. Selamat melayani para pastor!

    5. Audiensi Kongregasi H.Carm 26/1/2026

    Kongregasi Para Saudari Perawan Maria dari Gunung Karmel (Hermanas de la Virgen Maria del Monte Carmelo), yang juga dikenal dengan nama Suster Carmelitas atau Hermanas Carmelitas – H. Carm, datang beraudiensi kepada Bapa Uskup pada 26 Januari 2026. Kongregasi hadir di Indonesia sejak 40 tahun lalu dan berpusat di Malang, dengan jumlah 83 suster yang tersebar dalam 16 komunitas di 7 keuskupan. Karisma H. Carm adalah hidup doa, persaudaraan dan pelayanan kenabian dalam dimensi kontemplatif. Kongregasi ini bercita-cita mencapai persatuan dengan Allah di “puncak Gunung Karmel” dan membantu umat menemukan Allah yang hidup dalam berbagai karya demi kebutuhan Gereja lokal. Di Keuskupan Agung Medan, H. Carm memiliki dua komunitas: St. Theresia Avila di Sumbul dan Nabi Elia di Silalahi.

    Komunitas St. Theresia Avila – Sumbul (berdiri 23 November 2000, 6 suster) mengambil bagian intensif dalam pelayanan paroki, pendidikan, kesehatan, pendampingan remaja putri serta pembinaan internal komunitas. Karya konkritnya mencakup pastoral parokial (katekese, liturgi, kunjungan umat, pendampingan kelompok kategorial), pastoral kesehatan melalui Klinik St. Yosef dan stasi-stasi, pastoral pendidikan (TK, SD, asrama putri “Kusuma Karmel”) serta pastoral kaum muda dan panggilan. Dalam rencana pengembangan, kongregasi hendak membuka SMPK sebagai kelanjutan TK–SDK dan menempatkan seorang suster sebagai katekis full-time di Paroki Beato Dionysius Sumbul mulai Juli 2026.

    Komunitas Nabi Elia – Silalahi (berdiri 1 November 2024, 3 suster) hadir di daerah wisata Danau Toba untuk memperkuat iman umat dan menyediakan wisata rohani bernuansa Karmel. Mereka terlibat dalam struktur dan kegiatan kuasi paroki (KKS, keuangan, katekese, liturgi, kunjungan keluarga, ibadat sabda, pastoral kaum muda). Selain itu, mereka sedang mempersiapkan pembangunan rumah doa dan taman doa di atas lahan 1 ha yang baru dibeli, meskipun terkendala air. Uskup menyambut positif rencana wisata rohani (penginapan rohani, rumah makan sederhana, guest house bernuansa kontemplatif), menyetujui prinsip pembukaan SMPK dan penempatan katekis full-time. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup meminta bantuan kongregasi untuk menugaskan suster ke STSP Pematangsiantar sebagai formator dan ke Bingkawan untuk mengelola rumah retret.

    6. Audiensi DPU Kongregasi Suster FSE 27/1/2026

    Pada 27 Januari 2026, DPU Kongregasi Suster FSE beraudiensi kepada Uskup Agung Medan. Audiensi ini sebagai ungkapan ketaatan kasih dan menegaskan kesiapan untuk terus melayani Gereja lokal. FSE sedang menjalankan road map 2025–2028 serta menetapkan tiga prioritas 2026: penguatan hidup rohani (kembali ke sumber karisma), penguatan formasi dan pendampingan, dan pemurnian komunitas. DPU FSE menyampaikan kebutuhan yang mendesak kepada Bapa Uskup, yakni penataan ulang ruang doa di Cinta Damai, pengangkatan tulang-belulang para suster pada Juli 2026 dan renovasi kamar suster di Imam Bonjol yang sudah tidak layak huni.

    Dalam bidang karya, FSE memohon izin kepada Bapa Uskup bagi pembangunan komunitas lansia di lahan baru 6.000 m² di depan Velangkanni, pengadaan tabernakel di komunitas St. Damian, Galang, serta izin bermisi di Keuskupan Weetebula (Sumba) terutama di bidang kesehatan untuk menangani masalah stunting. Kongregasi juga menekankan pentingnya penanaman spiritualitas FSE kepada para pegawai.

    Uskup menegaskan bahwa FSE diutus Gereja dan mengapresiasi daya juang khas para suster, terutama yang berasal dari KAM. Uskup mengabulkan izin pembangunan rumah lansia, pemasangan tabernakel di Galang dan misi di Weetebula. Bapa Uskup juga mendorong percepatan pembangunan gedung sekolah di Cinta Damai; meminta SMAK Negeri agar segera membangun rumah suster; serta memberi arahan mengenai status hukum kapel rumah sakit dan tata pengangkatan tulang-belulang dengan merujuk pengalaman kongregasi lain.

    7. Audiensi MPDP Kapusin Medan 28/1/2026

    Pada 28 Januari 2026, Minister Provinsial dan Dewan Penasehatnya (MPDP) beraudiensi kepada Bapa Uskup. Audiensi tersebut menyatakan ketaatan kasih Persaudaraan Kapusin Provinsi Medan kepada ordinaris wilayah. Dalam audiensi singkat ini, Ordo Kapusin Provinsi Medan (OKPM) menegaskan sinodalitas dengan KAM melalui program MPDP, Conventio Scripta, dan Panduan Pengembangan Pelayanan Pastoral Parokial Berwarna Karisma Kapusin (P5BK2): hidup persaudaraan, kedinaan yang transparan (terutama keuangan), liturgi dan doa yang tertib, perhatian pada orang miskin, pengembangan OFS serta pelayanan sakramen tobat dan pemberkatan keluarga. Semua aset paroki diakui sebagai milik paroki/keuskupan, sementara Kapusin adalah pengguna yang melayani di bawah Uskup. Kerja sama konkret mencakup kelanjutan pelayanan paroki dan kategorial, evaluasi reksa pastoral, keterbukaan terhadap permintaan paroki baru, penataan ulang “kebun endowment” berdasarkan Anggaran Dasar dan penataan baru kontrak pengelolaan kebun KAM oleh tim OKPM.

    Bapa Uskup menekankan perlunya perbaikan manajemen dalam reksa pastoral parokial terutama laporan keuangan, pelaksanaan keputusan rapat dan formasi manajerial imam, khususnya di paroki-paroki pilot project Kapusin.

    Pada kesempatan ini, Bapa Uskup menerangkan rencananya untuk menjadikan Paroki St. Fransiskus Berastagi sebagai Paroki Wisata Rohani inkulturatif dan ekologis. Kapusin diminta kontribusinya bagi perwujudan rencana ini. Kepada MPDP ditegaskan kembali prinsip karya: ordo boleh memiliki harta, tetapi karya pastoral selalu membutuhkan izin keuskupan dan dijalankan dengan spirit “tidak memiliki”. Sebelum menutup acara audiensi, disepakati bahwa OKPM dan KAM bekerja sama mempersiapkan perayaan 500 tahun Kapusin (mulai 1 Februari 2026) dan Tahun Yubileum Fransiskus (10 Januari 2026–10 Januari 2027) dengan liturgi dan katekese khusus. Para Pemimpin Tinggi Fransiskan diminta merancang kegiatan selama tahun Yubileum Fransiskan.

    8. Rapat Kuria KAM 6/2/2026

    Pada 6 Februari 2026, diadakan Rapat Kuria kedua di ruang Kolegium Konsultor lt. 2 gedung Catholic Center Christosophia. Rapat ini merupakan lanjutan dari dari rapat perdana pada 12-13 Januari 2026. Rapat ini bermula dari rapat tahunan para vikaris dengan Bapa Uskup yang sudah berjalan sekian lama. Pada rapat para vikaris ini, Bapa Uskup menetapkan tiga jenis rapat yang berbeda, sebagai berikut:

    a. Rapat Komisi. Dikoordinir oleh Vikaris Jenderal dan Vikaris Pastoral, komisi-komisi Keuskupan Agung Medan mengadakan rapat bulanan untuk membahas hal-hal yang perlu dipedomani oleh komisi. Rapat ini berfungsi sebagai sebagai forum koordinasi, perencanaan dan evaluasi pekerjaan komisi;

    b. Rapat Kuria. Rapat yang dilaksanakan satu kali dalam dua bulan ini dihadiri oleh Uskup, Vikaris Jenderal, para Vikaris Teritorial dan kategorial, Ekonom dan Kanselarius. Vikjen, RP. Michael Manurung OFMCap ditunjuk sebagai penanggung jawab dan RP. Joseph Lesta Pandia OFMConv sebagai sekretaris. Rapat ini berfungsi sebagai eksekutor keputusan-keputusan yang diambil dalam Sidang DEPKAM, DEPASKAM dan Dewan Keuangan.

    c. Rapat Paripurna. Diadakan sekali setahun pada bulan Desember, rapat ini dihadiri oleh Kuria, Komisi dan para Vikaris dalam semangat sinodal untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan.

    Semoga ketiga forum ini mampu mengeksekusi semua keputusan yang ditetapkan oleh organ-organ terkait demi pengembangan Kerajaan Allah di Keuskupan Agung Medan.

    9. Pembekalan Tim Penulis Sejarah Paroki se-KAM 12-13/2/2026

    Pada 12-13 Februari 2026, Sekretariat Keuskupan Agung Medan mengadakan kegiatan Pembekalan Tim Penulis Sejarah Paroki se KAM di lt. 8 Catholic Center Medan. Pembekalan ini menjadi langkah strategis dalam penataan dan pengelolaan arsip sejarah Gereja. Materi yang disajikan bertujuan untuk menyatukan konsep dan menerangkan metode penulisan sejarah yang sistematis, akurat dan ilmiah. Para peserta dibekali dengan pemahaman tentang pentingnya data historis, teknik pengumpulan sumber sejarah serta penyusunan narasi sejarah yang standar. Penulisan sejarah bukan sekadar pencatatan peristiwa manusiawi masa lampau, tetapi terutama menyusun narasi ilmiah dan sistematis atas peristiwa-peristiwa manusiawi masa lampau untuk mengkomunikasikan sebuah makna. Untuk itu, para peserta dituntun untuk menulis sejarah paroki dengan menempuh lima tahap penulisan sejarah: heuristik, penentuan topik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Kepada mereka disediakan juga formulir wawancara sebagai panduan.

    Pada 12-13 Februari 2026, Sekretariat Keuskupan Agung Medan mengadakan kegiatan Pembekalan Tim Penulis Sejarah Paroki se KAM di lt. 8 Catholic Center Medan

    Pembekalan yang diikuti para pastor, frater, suster umat yang telah disatukan dalam Tim Penulis Sejarah Paroki ini menegaskan bahwa penulisan sejarah paroki adalah tanggung jawab bersama. Diharapkan sajian materi, mulai dari tugas Kanselarius menurut KHK, pengelolaan arsip, metode dan tahapan penelitian sejarah, teknik pengumpulan data, hingga penyusunan narasi yang komunikatif menumbuhkan rasa cinta dan minat besar akan penulisan sejarah. Ke depan, sejarah paroki akan diterbitkan dalam bentuk buku sebagai arsip resmi dan bahan edukasi bagi umat, sekolah Katolik dan generasi muda. Umat diundang berpartisipasi dengan menyumbangkan dokumen, foto atau kesaksian untuk memperkaya sumber penulisan sejarah. Melalui timeline yang telah disusun dan pendampingan berkelanjutan dari Kanselarius, RP. Adrianus Sembiring OFMCap, sebagai narasumber utama, diharapkan Tim Penulis Sejarah Paroki sungguh menghasilkan karya yang berkualitas demi menyelamatkan data berharga, memperkuat identitas, menumbuhkan rasa memiliki serta meneguhkan penghayatan iman yang sudah mengakar dan teruji.

    10. Hadir Pengukuhan Guru Besar UMSU 16/2/2026
    Fr. Paskalis Wangga, CMM, wakil ketua Komisi Pendidikan KAM, menghadiri acara Pengukuhan Guru Besar UMSU, Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A, pada 16 Februari 2026 mewakili Keuskupan Agung Medan. Upacara akademik ini diselenggarakan di Auditorium Kampus UMSU di Jalan Kapten Mukhtar Basri, Medan. Dalam pidato ilmiahnya, “Agama, Etika Profetik dan Keadaban Publik,” Prof. Muhammad Qorib memaparkan kompleksitas tantangan agama di era modern, terutama kemajuan teknologi yang telah menarik perhatian masyarakat secara besar-besaran, sehingga dalam beberapa kasus sebagian orang memandang agama sebagai hal yang kurang penting atau bahkan ditinggalkan. Guru besar ini menegaskan bahwa agama pada hakikatnya menyatukan entitas-entitas kepercayaan dan etika untuk tujuan kesejahteraan umat. Namun kegagalan dalam hal ini menunjukkan adanya jurang antara keyakinan formal dan praktik kesejahteraan sosial. Menutup pidato ilmiahnya, Prof. Dr. Muhammad Qorib menyoroti rendahnya keadaban digital di masyarakat Indonesia meskipun dikenal sebagai bangsa yang religius; perilaku di platform digital seringkali tidak mencerminkan karakter santun yang ideal. Ia mengkritik pula kecenderungan komodifikasi agama untuk kepentingan dagang atau tujuan pragmatis lain di luar makna keagamaan yang sejati. Semoga Guru Besar ini tetap menjadi rekan seperjalanan Gereja dalam membina dialog yang sehat.
    11. Audiensi Pengurus Militia Immaculatae 16/2/2026

    Pengurus Militia Immaculatae (MI) beraudiensi kepada Bapa Uskup pada 16 Februari 2026, didampingi oleh RP. Maximilanus Sembiring OFMConv, Minister Provinsial Konventual, dan Delegatus MI RP. Fictorium Ginting OFMConv. Asosiasi publik internasional kaum beriman ini didirikan oleh St. Maksimilianus Kolbe pada 1917 untuk menghidupi spiritualitas Maria Tak Bernoda demi pertobatan, evangelisasi dan pengudusan umat. Spiritualitas MI berpusat pada penyerahan total kepada Maria Immakulata sebagai jalan tercepat memasuki Hati Yesus, dengan sarana utama doa (Penyerahan Harian, Brevir, Rosario, Ekaristi), karya kasih, serta penyebaran medali wasiat. Keanggotaan kelompok ini mewajibkan pendaftaran resmi, pembinaan minimal enam bulan, konsekrasi kepada Maria dan mengenakan Medali Wasiat.

    Ke Indonesia, semangat MI dibawa para misionaris OFMConv sejak 1968, dan berkembang menjadi lima pusat lokal di Delitua, Sigara-gara, Bangun Mulia, Mbaruai dan Padang Bulan. Sekarang anggota MI Indonesia berjumlah 396 anggota. Kegiatan MI meliputi doa bersama, misa bulanan, pertemuan triwulanan, rekoleksi, kunjungan sosial, animasi liturgi dan bulan Rosario, serta konsekrasi anggota baru setiap tanggal 8 Desember atau pada pesta lain Santa Perawan Maria. Para anggota memberi kesaksian bahwa spiritualitas MI menumbuhkan keibuan, kesabaran, kedamaian batin dan keberanian.

    Meskipun sudah lama hadir di Indonesia, MI secara kanonik belum disahkan oleh ordinaris wilayah. Karena itu mereka memohon arahan dan pengesahan dari Bapa Uskup di wilayah KAM setelah disahkan pada tingkat nasional. Bapa Uskup menyambut baik MI sebagai bentuk kerasulan Fransiskan yang bersemangat Maria Tak Bernoda, dan menegaskan bahwa otoritas kerasulan berada di tangan uskup. MI dipandang khas karena menekankan penyerahan diri total kepada Maria untuk memenangkan dunia bagi Kristus. Gerakan ini akan didukung sepanjang memberi kontribusi positif bagi kerasulan Gereja, menumbuhkan penyerahan diri dan pengorbanan, serta membantu anggota sebagai garam dan terang bagi dunia. 

    Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.

    RP. Adrianus Sembiring OFMCap
    Kanselarius Keuskupan Agung Medan

     

    Happy Birthday RP. Joseph Lesta S. Pandia OFMConv – Vikaris Pro Religius

    Dengan penuh syukur kepada Allah yang Maharahim, kami mengucapkan selamat ulang tahun ke-60 kepada RP. Joseph Lesta S. Pandia OFMConv, yang saat ini melayani sebagai Vikaris Pro Religius & Ketua Komisi Kerawam KAM.

    Enam puluh tahun kehidupan merupakan anugerah kasih Tuhan yang nyata, yang telah dijalani dengan semangat panggilan sebagai seorang imam dan religius Fransiskan Konventual. Dalam kesederhanaan, ketaatan, dan kasih, Pastor telah menjadi saksi Injil yang hidup, menggembalakan umat serta membina kaum religius dan awam dalam semangat persaudaraan sejati.

    Kami bersyukur atas dedikasi, ketulusan, dan pengabdian Pastor dalam membangun Gereja, memperkuat persekutuan, serta menghidupi spiritualitas pelayanan yang rendah hati dan penuh sukacita.

    Kami mendoakan semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, dan sukacita dalam setiap langkah pelayanan. Kiranya Roh Kudus terus menuntun dan meneguhkan Pastor dalam karya perutusan, sehingga semakin banyak umat dikuatkan dalam iman, harapan, dan kasih.

    “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Mzm 23:1)
    Selamat ulang tahun ke-60. 

    Selamat Jalan Sr. M. Dionisia Marbun, SCMM

    Keuskupan dengan duka cita yang mendalam menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Sr. M. Dionisia Marbun SCMM pada tanggal 10 Maret 2026. Beliau telah mempersembahkan hidupnya secara total dalam pengabdian kepada Tuhan melalui panggilan hidup bakti, dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan semangat pelayanan yang tulus bagi Gereja dan sesama. Keuskupan bersyukur atas teladan iman, doa, dan karya pelayanannya yang telah memperkaya kehidupan umat.

    Semoga Allah Bapa yang Maharahim menerima Sr. M. Dionisia Marbun SCMM dalam damai dan kebahagiaan abadi di rumah-Nya, serta menghibur keluarga, kongregasi, dan semua yang berduka dengan pengharapan akan kebangkitan.

    Dukacita dari Kongregasi SCMM Sebelumnya:
    • Sr. M. Renata Barasa, SCMM (13 Jan 2026) 61 Tahun
    • Sr. M. Nirmala Arulay, SCMM (18 Des 2025) 74 Tahun
    • Sr. M. Fransisca Sinaga SCMM (27 Nov 2024) 70 Tahun
    • Sr. M. Alberta Telaumbanua, SCMM (07 Nov 2024) 92 Tahun
    • Sr. M. Lambertin Manalu, SCMM (11 Okt 2024) 60 Tahun

    Selamat Ulang Tahun ke-52 Kanselarius KAM: RP. Adrianus Sembiring OFMCap

    Selamat Ulang Tahun ke-52, Pastor Adrianus Sembiring OFMCap.

    Dengan penuh syukur kami mengucapkan selamat atas bertambahnya usia Pastor. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, kebijaksanaan, dan sukacita dalam setiap pelayanan Pastor sebagai Sekretaris Keuskupan Agung Medan.

    Kiranya Roh Kudus terus menuntun langkah Pastor dalam menggembalakan umat serta menjadi berkat bagi banyak orang. Terima kasih atas dedikasi, keteladanan, dan pengabdian Pastor bagi Gereja.

    Tuhan memberkati selalu.

    Selamat Jalan Sr. Maria Munthe KYM

    Dengan hati yang penuh duka namun juga syukur, kami menyampaikan:

    Telah berpulang ke rumah Bapa di surga, Sr. Maria Munthe KYM, setelah menapaki perjalanan hidup panggilan yang panjang, penuh kasih, dan setia.

    Dalam diam dan kesederhanaannya, Suster Maria telah menghadirkan wajah Kristus bagi banyak orang — melalui doa, pelayanan, dan cinta kasih yang tulus.

    Hidupnya menjadi cermin dari Sabda Tuhan dan menjadi moto panggilannya: “Aku bekerja segiat-giatnya, hanya untuk Tuhan Allahku” 1 Raja-raja 19:10a.

    Kini, setelah menunaikan panggilan sucinya di dunia, ia dipanggil untuk menikmati perjamuan kekal bersama Tuhan yang menjadi kasih dan pusat hidupnya.

    Kami percaya bahwa Suster Maria telah mendengar suara lembut Sang Gembala: “Baik sekali perbuatanmu itu, hamba-Ku yang baik dan setia... Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21)

    Bagi kami yang ditinggalkan, kepergian Suster Maria meninggalkan ruang hampa, namun juga meninggalkan warisan rohani — teladan iman, kesetiaan dalam pengabdian, dan hati yang selalu siap melayani dengan kasih.

    Kiranya semangat dan cintanya menjadi benih kebaikan yang terus tumbuh di hati setiap orang yang pernah mengenalnya.

    Duka sebelumnya dari Kongregasi KYM Keuskupan Agung Medan:
    • Sr. M. Laurensia Sipayung, KYM (9 Nov 2025) 35 Tahun
    • Sr. M. Mauricia Sihotang KYM (5 Ags 2025) 35 Tahun
    • Sr. M. Bernadetta Purba KYM (10 Jul 2025) 83 Tahun
    • Sr. M. Plasidia Pardede KYM (10 Jul 2025) 86 Tahun

    Selamat Jalan Sr. M. Ancilla Hasugian FCJM

    Keuskupan Agung Medan dengan duka yang mendalam, menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Sr. M. Bernarda Manalu FCJM pada tanggal 1 Maret 2026 pada usia 81 tahun. Suster ini telah mempersembahkan hidupnya secara total dalam pengabdian kepada Tuhan melalui panggilan hidup bakti, dengan kesetiaan, kerendahan hati, dan semangat pelayanan yang tulus bagi Gereja dan sesama. Keuskupan bersyukur atas teladan iman, doa, dan karya pelayanannya yang telah memperkaya kehidupan umat.

    Semoga Allah Bapa yang Maharahim menerima Sr. Bernarda Manalu FCJM dalam damai dan kebahagiaan abadi di rumah-Nya, serta menghibur keluarga, kongregasi, dan semua yang berduka dengan pengharapan akan kebangkitan.

    Duka sebelumnya dari Kongregasi FCJM Keuskupan Agung Medan:
    • Sr. M. Ancilla Hasugian FCJM (27 Jan 2026) 83 Tahun
    • Sr. M. Fransiska Laia FCJM (07 Okt 2025) 59 Tahun
    • Sr. M. Secilia Siringoringo FCJM (11 Juni 2025) 84 Tahun
    • Sr. Venantia Tamba FCJM (19 April 2025) 60 Tahun
    • Sr. M. Juliana Nainggolan FCJM (13 Okt 2024) 68 Tahun
    • Sr. M. Anastasia Samosir FCJM (03 Okt 2024) 66 Tahun

    Penerimaan Mahasiswa Baru STP St Bonaventura KAM 2026

    0

    Pendaftaran Mahasiswa Baru Sekolah Tinggi Pastoral St. Bonaventura KAM s.d. 07 Agustus 2026

    Info selengkapnya silahkan mengunjungi website : STP St. Bonaventura KAM