Kotbah Minggu III Masa Prapaskah: 8 Maret 2026 - Tahun A/II
Bacaan I : Kel. 17:3-7
Bacaan II : Rm. 5:1-2,5-8
Bacaan Injil : Yoh. 4:5-42
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberi kita damai dan kebaikan.
Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita merenungkan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia: cara kita melihat realitas. Dalam filsafat dikatakan bahwa tindakan manusia mengikuti cara ia memahami dunia. Cara melihat menentukan cara bertindak. Jika cara melihat manusia keliru, maka keputusan dan perilakunya juga akan keliru. Karena itu kita dapat mengatakan bahwa banyak krisis yang dialami dunia saat ini sebenarnya berakar pada satu krisis yang lebih dalam: krisis cara manusia melihat sesama, dunia, dan Tuhan.
Dalam bacaan pertama kita mendengar kisah nabi Samuel yang diutus Tuhan untuk mengurapi raja baru bagi Israel. Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, ia langsung terpikat pada Eliab yang gagah dan tinggi. Secara manusiawi, Samuel menilai seperti kebanyakan orang menilai: pemimpin harus memiliki penampilan yang kuat dan mengesankan. Tetapi Tuhan mengoreksi cara pandangnya dan berkata: “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Akhirnya Samuel menyadari bahwa pilihan Allah bukanlah Eliab yang tampak kuat, tetapi Daud yang sederhana dan tidak diperhitungkan. Di sini Samuel mengalami sebuah pertobatan batin: ia belajar melihat dengan cara Allah melihat.
Hal yang sama kita temukan dalam Injil tentang penyembuhan orang buta sejak lahir. Ketika para murid melihat orang itu, mereka langsung bertanya: “Siapakah yang berdosa, orang ini atau orang tuanya?” Pertanyaan ini menunjukkan cara berpikir yang umum pada waktu itu: penderitaan dianggap sebagai hukuman atas dosa. Orang buta itu bukan hanya menderita secara fisik, tetapi juga membawa stigma moral. Ia dipandang sebagai orang yang bersalah di hadapan Allah.
Namun Yesus melihat orang itu dengan cara yang sama sekali berbeda. Ia tidak melihat masa lalu yang penuh stigma, tetapi melihat kesempatan untuk menyatakan karya Allah. Mata Yesus adalah mata belas kasih. Ia tidak melihat manusia melalui label dosa, tetapi melalui martabatnya sebagai ciptaan yang dicintai Allah. Karena itu Ia mendekati orang itu, menyembuhkannya, dan membuka matanya.
Di sinilah Injil menghadirkan sebuah paradoks besar. Orang yang buta secara fisik akhirnya dapat melihat. Ia mulai mengenal Yesus dan akhirnya berkata: “Aku percaya, Tuhan.” Sebaliknya para Farisi yang merasa diri mereka melihat justru tetap berada dalam kebutaan rohani. Mereka menyaksikan mukjizat yang nyata, tetapi menolak untuk percaya. Mereka lebih mempertahankan cara pandang lama mereka daripada membuka diri terhadap karya Allah. Yesus berkata: “Aku datang supaya mereka yang tidak melihat dapat melihat, dan mereka yang melihat menjadi buta.”
Saudara-saudari terkasih, Injil ini bukan hanya kisah tentang seorang yang disembuhkan dua ribu tahun yang lalu. Injil ini juga berbicara tentang cara manusia melihat dunia hari ini. Banyak krisis yang terjadi di dunia modern sebenarnya berhubungan dengan cara manusia memandang realitas. Kita melihat adanya krisis makna hidup ketika banyak orang merasa kosong walaupun hidup dalam kemajuan material. Kita melihat krisis relasi ketika teknologi komunikasi berkembang pesat tetapi manusia justru semakin kesepian. Kita melihat krisis kepercayaan sosial ketika masyarakat menjadi terpecah oleh konflik dan polarisasi. Kita melihat krisis moral ketika kebenaran dianggap relatif. Kita juga melihat krisis keadilan ekonomi ketika kekayaan dunia tidak terbagi secara adil. Bahkan bumi sendiri mengalami krisis ekologis karena manusia memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi.
Jika kita melihat lebih dalam, semua krisis ini sering berakar pada satu hal yang sama: cara manusia memandang manusia dan dunia. Ketika manusia melihat sesama hanya sebagai alat, dunia dipenuhi eksploitasi. Ketika manusia melihat sesama sebagai pesaing, dunia dipenuhi konflik. Ketika manusia melihat sesama melalui stigma dan label, dunia dipenuhi diskriminasi. Krisis dunia sering berawal dari krisis cara manusia melihat.
Di sinilah Injil menghadirkan sebuah jalan pembaruan. Pertobatan bukan hanya berarti meninggalkan dosa tertentu, tetapi mengubah cara kita melihat realitas. Kita dipanggil untuk belajar melihat dengan cara Allah melihat. Mata Allah tidak pertama-tama melihat kegagalan manusia, tetapi melihat martabatnya sebagai anak yang dicintai-Nya. Mata Allah tidak melihat penderitaan sebagai hukuman, tetapi sebagai kesempatan untuk menyatakan belas kasih. Mata Allah melihat harapan bahkan di tengah kelemahan manusia.
Samuel menemukan raja yang sejati ketika ia belajar melihat dengan cara Allah melihat. Orang buta dalam Injil menemukan iman ketika matanya dibuka oleh Yesus. Sebaliknya para Farisi tetap berada dalam kegelapan karena mereka menolak mengubah cara pandang mereka. Kisah ini mengingatkan kita bahwa kebutaan rohani bukanlah tidak memiliki mata, tetapi tidak mau membuka hati terhadap kebenaran. Karena itu pada Minggu Prapaskah ini kita diajak untuk berdoa dengan kerendahan hati: Tuhan, sembuhkanlah kebutaan hati kami. Ajarilah kami melihat dunia dengan mata-Mu. Agar kami tidak hanya melihat kelemahan manusia, tetapi juga melihat martabat dan harapan yang Engkau tanamkan dalam setiap orang. Ketika cara kita melihat berubah, hidup kita juga akan berubah. Dan dari perubahan cara melihat itu, dunia yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih penuh belas kasih dapat mulai dibangun. Amin.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberi kita damai dan kebaikan.
Penginjil Yohanes sangat pandai menghantar pembaca memahami hal-hal rohani dengan berangkat dari realitas yang sangat konkret. Ia berbicara tentang air, roti, terang, dan pokok anggur—semuanya pengalaman sehari-hari manusia—untuk menyingkapkan misteri kehidupan ilahi. Dalam Injil hari ini, Yohanes memulai dari pengalaman yang sangat sederhana: haus dan air. Dari kehausan manusiawi ini Yesus membawa perempuan Samaria kepada pemahaman yang lebih dalam tentang kehausan rohani, yaitu kerinduan terdalam manusia akan Allah.
Perempuan Samaria itu memiliki kisah hidup yang tidak mudah. Yesus mengungkapkan bahwa ia telah mempunyai lima suami dan hidup dalam relasi yang tidak jelas. Para penafsir Kitab Suci melihat bahwa perempuan ini sebenarnya sedang mencari kasih dan makna hidup, tetapi ia mencarinya di tempat yang tidak pernah benar-benar memuaskan hatinya. Karena itu Yesus berkata: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi.” Dengan kata lain, apa pun yang ditawarkan dunia ini tidak pernah mampu sepenuhnya memuaskan hati manusia.
Kisah ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan manusia zaman ini. Kita hidup dalam dunia yang memiliki banyak kemajuan: teknologi yang canggih, kenyamanan hidup, dan akses informasi tanpa batas. Namun di balik semua itu banyak orang tetap merasa kosong. Banyak orang memiliki banyak hal tetapi kehilangan makna hidup. Banyak orang memiliki banyak relasi tetapi merasa kesepian. Banyak orang mencapai kesuksesan tetapi hatinya tetap tidak puas. Ini menunjukkan bahwa manusia modern pun tetap haus.
Mengapa manusia tetap haus meskipun memiliki begitu banyak hal? Karena sering kali manusia mencoba memuaskan kehausan rohani dengan hal-hal yang bersifat sementara. Orang mencari kepenuhan hidup dalam uang, kesuksesan, pengakuan, atau kenikmatan. Semua itu mungkin memberi kepuasan sesaat, tetapi tidak pernah mampu mengisi kekosongan terdalam dalam hati manusia. Seperti kata Santo Agustinus: “Engkau menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sampai beristirahat dalam Engkau.”
Yesus dalam Injil hari ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia berkata kepada perempuan Samaria: “Air yang Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” Air hidup ini menunjuk pada kehidupan ilahi yang berasal dari Allah, kehidupan yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan kasih-Nya. Dalam bacaan kedua Santo Paulus menegaskan bahwa kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus. Hanya kasih Allah yang mampu memuaskan dahaga terdalam manusia.
Ada satu detail kecil yang sangat indah dalam kisah Injil ini. Setelah perempuan Samaria bertemu dengan Yesus, Injil mengatakan bahwa ia meninggalkan tempayannya. Tempayan itu adalah alasan ia datang ke sumur. Namun setelah bertemu dengan Yesus, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih besar. Ia meninggalkan tempayan itu dan berlari ke kota untuk menceritakan pengalamannya kepada orang lain. Ini adalah gambaran yang sangat kuat tentang pertobatan: meninggalkan pencarian lama yang tidak memuaskan dan menemukan hidup baru dalam Kristus.
Saudara-saudari terkasih, kisah perempuan Samaria sebenarnya adalah kisah kita semua. Kita semua pernah haus dan sering mencari kepenuhan hidup di tempat yang tidak tepat. Namun dalam masa Prapaskah ini Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya, sumber air hidup yang sejati. Jika kita ingin menemukan kepenuhan hidup yang sesungguhnya, marilah kita datang kepada Kristus dan berkata dengan kerendahan hati: “Tuhan, berilah aku air hidup itu.” Amin.