Rabu, September 16, 2026
Lainnya
    Beranda blog

    Warta Kuria (Mei-Juni 2026)

    1. Menjaga Wajah dan Suara yang Tetap Manusiawi di Era Digital

    Umat Keuskupan Agung Medan merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 pada Sabtu, 17 Mei 2026, di Gereja Paroki Santo Fransiskus Asisi Padang Bulan. Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap dan didampingi oleh para imam konselebran dihadiri oleh biarawan-biarawati, penggiat Komsos dan umat dalam semangat sinodal, ‘berjalan bersama untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan.’

    Dalam homilinya, Mgr. Kornelius menegaskan bahwa di tengah derasnya arus media sosial, Gereja dipanggil untuk memancarkan wajah Kristus yang penuh kasih, damai dan pengharapan. Dunia digital tidak boleh menjadi ruang kebencian dan ajang saling menyerang, melainkan harus diolah menjadi sarana pewartaan Injil, persaudaraan dan bela rasa. Komunikasi sejati lahir dari hati yang mau mendengar, memahami dan menghargai martabat sesama.

    Dalam rangkaian perayaan Ekaristi, Bapa Uskup memberkati Taman Yubileum Fransiskus Asisi Keuskupan Agung Medan yang berada di lingkungan paroki. Taman ini menjadi simbol pengharapan, keindahan ciptaan dan komitmen Gereja untuk merawat kehidupan serta membangun komunikasi yang membawa kedamaian. Dalam spiritualitas Santo Fransiskus Asisi, umat diajak menjadi pembawa damai yang menghadirkan sukacita Injil melalui kata, tindakan dan kesaksian hidup sehari-hari. Keuskupan Agung Medan berusaha tetap hadir sebagai Oase Ilahi di tengah dunia yang berubah, melalui komunikasi yang menyembuhkan, merangkul dan meneguhkan banyak orang.

    2. Dalam Rangkulan Kasih Tritunggal Mahakudus

    Dalam semangat Kristus yang bangkit dan kasih Tritunggal Maha Kudus, umat Paroki Delitua meneguhkan diri sebagai Gereja yang mendengarkan, meneguhkan, dan mewartakan. Dari misteri Allah sebagai persekutuan kasih Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Gereja diundang untuk membangun persatuan, mempererat persaudaraan, dan setia pada perutusan mewartakan Injil, sejalan dengan hakikat Gereja partikular dan reksa pastoral paroki (bdk. KHK kan. 369; kan. 515 §1).

    Pada Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, yang jatuh pada 31 Mei 2026, umat Paroki Delitua berkumpul dalam perayaan syukur Paska se-paroki. Perayaan Ekaristi yang penuh rahmat ini dan dirangkai dengan penerimaan Sakramen Penguatan dipimpin langsung oleh Uskup Agung Medan. Para krismawan dan krismawati dicurahi Roh Kudus untuk meneguhkan mereka menjadi saksi iman yang dewasa dalam di tengah dunia (bdk. KHK kan. 879).

    Pada waktu yang sama, para pengurus gereja yang baru terpilih dilantik dan menerima perutusan untuk melayani umat dengan semangat kasih persaudaraan dan tanggung jawab sebagai pelayan Gereja. Pelayanan ini sejalan dengan ketentuan KHK mengenai peran umat beriman kristiani yang mengambil bagian dalam tugas imami, kenabian dan rajawi Kristus (bdk. KHK kan. 204 §1; kan. 225), serta keterlibatan mereka dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu di paroki (bdk. KHK kan. 228; kan. 536–537). Melalui rangkaian syukuran Paska, penerimaan Sakramen Penguatan dan pelantikan pengurus, Paroki Delitua diteguhkan kembali sebagai komunitas yang hidup dari Ekaristi, dikuatkan oleh Roh Kudus dan diutus untuk berjalan bersama mewartakan sukacita Injil.

    3. Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia

    Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution, S.E., M.M. memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Lapangan Astaka Dispora Provsu, Jl. William Iskandar, Medan, pada 1 Juni 2026. Saat membacakan amanat dari Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia, Yudian Wahyudi, Gubernur Sumut menyampaikan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila merupakan momen refleksi untuk memastikan api Pancasila tetap menyala dalam jiwa setiap warga negara.

    Peringatan kali ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, lebih lanjut Gubernur menyatakan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga keutuhan bangsa, tetapi juga menjadi landasan bagi terciptanya perdamaian dunia yang abadi. Disebutkan juga bahwa Pancasila sebagai penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya di tengah ketidakpastian geopolotik dunia, Indonesia tetap berdiri kokoh dalam keberagaman etnis, pulau dan bahasa serta budaya dapat disatukan dalam ikatan kebangsaan yang berlandaskan Pancasila.

    Gubernur juga menegaskan peran Indonesia di kancah Internasional sesuai amanat Undang-undang Dasar 1945, yakni ikut mewujudkan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian dan keadilan sosial. Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Tingkat Provinsi Sumatera Utara dihadiri oleh jajaran Forkopimda Provsu, jajaran OPD Provsu, TNI – POLRI, Tokoh Agama, dalam hal ini Keuskupan Agung Medan dihadiri oleh RD Parulian Sihombing, juga dihadiri oleh berbagai elemen masyarkat.   Semoga semangat Pancasila tetap menyala di hati sanubari masing-masing kita.

    4. Menjadi Rumah bagi Harapan dan Kesembuhan

    Pemberkatan Renovasi Gedung Rumah Sakit Harapan Pematangsiantar pada 1 Juni 2026 menandai komitmen Gereja dan seluruh insan kesehatan untuk menghadirkan pelayanan yang profesional, manusiawi dan berlandaskan kasih bagi setiap pribadi yang membutuhkan pertolongan. Rumah sakit ini diharapkan sungguh menjadi “rumah bagi harapan,” tempat di mana yang sakit menemukan kesembuhan, yang lemah mendapatkan kekuatan dan yang datang dengan kecemasan pulang dipenuhi pengharapan baru. St Yohanes Paulus II dalam ensiklik Evangelium Vitae menegaskan pentingnya martabat setiap kehidupan manusia, terutama yang rapuh dan menderita, dan Paus Fransiskus melalui ensiklik Fratelli Tutti mengingatkan pentingnya solidaritas dan kepedulian terhadap sesama yang terluka di “pinggir jalan” kehidupan.

    Dalam suasana penuh syukur dan sukacita, perayaan ekaristi pemberkatan dipimpin oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap. Melalui perayaan ini, Gereja memohon agar setiap sudut gedung dan seluruh ruang pelayanan menjadi sarana nyata kehadiran Allah yang penuh belas kasih.

    “Ya Allah Bapa kami, sumber kehidupan dan keselamatan kami. Putra-Mu menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan kami dalam kuasa Roh Kudus. Ia pun menyuruh para murid-Nya mengunjungi dan merawat orang yang sakit ketika Ia mengutus mereka mewartakan Injil. Berkatilah gedung ini dan semua ruangan-ruangan yang ada di dalamnya. Agar semua yang akan dirawat di sini mengalami kasih-Mu yang tak berkesudahan, dikuatkan pengharapannya oleh karena hospitalitas kami dan semoga mereka sehat jasmani dan rohani… Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.”

    Doa ini mencerminkan visi Gereja sebagaimana ditekankan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium dan Fratelli Tutti: Gereja dipanggil menjadi “rumah sakit medan perang” yang pertama-tama merawat luka-luka manusia, serta memanusiakan kembali mereka yang ringkih secara fisik maupun batin. Kehadiran Rumah Sakit Harapan Pematangsiantar tidak hanya menjadi institusi layanan kesehatan, tetapi juga tanda konkret belas kasih Allah di tengah dunia, tempat di mana cinta kasih Injil diwujudkan dalam pelayanan yang merawat tubuh sekaligus menguatkan jiwa.

    5. Menyalakan Kembali Api Pembaruan: Konvenda Karismatik 2026 dan Harapan bagi Pemimpin Muda Katolik Medan

    Pada 3 Juni 2026, Badan Pelayanan Provinsi Gerejawi (BPPG) Medan mengadakan audiensi di Catholic Center Medan sebagai bagian dari persiapan Konvensi Daerah (Konvenda) Pembaruan Karismatik Katolik. Pertemuan dihadiri oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, para imam pendamping, serta pengurus dan panitia. Ibu Fransiska Lany Soekowati memaparkan arah gerakan dengan penekanan pada spirit-empowered youth leadership dan tema Konvenda: “Aku dipilih, dibentuk dan diutus”, yang diarahkan untuk membentuk pemimpin muda Katolik yang relevan, tangguh, dan matang secara rohani maupun sosial.

    Ketua panitia, Josua Fransisko Munthe, melaporkan bahwa dari target peserta 700 orang, 400 orang sudah mendaftar, di antaranya baru sekitar 40 Orang Muda Katolik yang mendaftar. Panitia tetap optimis dan terus mengupayakan pendekatan ke paroki-paroki, sekolah dan komunitas OMK. Perubahan lokasi dari aula Catholic Center ke Hotel Emerald Garden dilakukan demi daya tampung dan kenyamanan peserta. Konvenda yang akan berlangsung 3–5 Juli 2026 ini akan diisi oleh narasumber dari Badan Pelayanan Nasional, RP. Aaron OSC dan RP. Eko Wahyu OSC.  Konvenda akan dibuka dengan Perayaan Ekaristi. Karena tidak bisa hadir dalam acara ini, Bapa Uskup akan memberikan dukungan dalam bentuk video sapaan dan ajakan.

    Dalam sesi diskusi, mengemuka keprihatinan atas minimnya jumlah peserta dan rendahnya gaung Konvenda di tengah umat, serta kesan meredupnya gerakan Pembaruan Karismatik dan Persekutuan Doa di kalangan muda. Bapa Uskup mendorong perluasan promosi melalui media sosial, video kreatif dan bahan cetak seperti brosur di paroki dan lingkungan pendidikan Katolik. Di tengah tantangan, harapan tetap dijaga: pengalaman konvenda sebelumnya menunjukkan buah rohani yang besar dan minat akademisi terhadap gerakan karismatik terus hidup. Konvenda 2026 diharapkan menjadi momen pembaruan dan lahirnya pemimpin muda yang siap menyalakan kembali api Roh Kudus di tengah Gereja dan masyarakat.

    6. Revitalisasi dan Persiapan Perayaan Ulang Tahun 111 Paroki St. Antonius Padua Hayam Wuruk

    Audiensi Panitia Revitalisasi Gereja dan Panitia HUT ke-111 Paroki St. Antonius Padua berlangsung pada  5 Juni 2026 di Catholic Center. Mengawali sambutannya Bapa Uskup mengapresiasi ketersediaan notulen audiensi sebelumnya sebagai pijakan rapat-rapat berikutnya, kemudian mempersilahkan panitia untuk memaparkan perkembangan revitalisasi gedung gereja dan persiapan perayaan Ulang Tahun 111 Paroki St. Antonius Padua, Hayam Wuruk.

    Dalam pemaparan dinyatakan bahwa revitalisasi gereja hampir selesai, tinggal pengerjaan puncak menara yang dijadwalkan terpasang pada Senin, 7 Juni 2026. Bagian lain, yakni façade depan, sanctuarium, perbaikan ruang pengakuan, gerbang dan pagar, termasuk relief bernuansa Injil juga sudah rampung. Dalam sanctuarium akan ditempatkan relikwi Santo Antonius di atas prasasti, dengan latar belakang kalpataru sebagai simbol pemeliharaan lingkungan.

    Berkaitan dengan perayaan HUT ke-111, panitia melaporkan rangkaian kegiatan yang sudah diadakan sejak Maret 2026. Puncak perayaan jatuh pada 14 Juni 2026 dengan perayaan Ekaristi agung yang dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap yang dirangkai dengan pemberkatan sanctuarium dan peletakan relikwi. Karena Walikota Medan sudah mengkonfirmasi kehadirannya dalam perayaan puncak ini, Bapa Uskup akan menyampaikan dengan tegas beberapa hal yang perlu mendapat perhatian serius dari Pemko Medan, antara lain penebangan pohon, sampah dan kabel listrik yang semrawut. Bapa Uskup juga meminta panitia merumuskan karya karitatif secara konkret yang bisa dijalankan bagi penderita kanker di sekitar RSUPD Adam Malik Medan, misalnya pembangunan kos/mess sederhana dan pendampingan pastoral. Semoga perayaan Ulang Tahun ini membuahkan karya pastoral nyata bagi orang papa.

    7. Menghadirkan Wajah Ekonomi yang bernuansa Imani dan Humanis

    Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Konsumen Sekunder Kristoforus, Komisi PSE Keuskupan Agung Medan diawali dengan Perayaan Ekaristi pada Jumat, 5 Juni 2026 di lantai 8 Gedung Catholic Center Medan. Perayaan kudus ini dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, Uskup Keuskupan Uskup Agung Medan. Hadir dalam perayaan ini para pengurus serta perwakilan Credit Union dari berbagai paroki yang berada di bawah naungan Koperasi Konsumen Sekunder Kristoforus.

    RAT bukan sekadar pelaksanaan agenda tahunan kelembagaan, melainkan lebih sebagai peristiwa iman yang menyatukan refleksi rohani dan tanggung jawab ekonomi. Dalam Ekaristi pembuka, seluruh peserta diajak mensyukuri penyelenggaraan Tuhan yang setia menyertai perjalanan koperasi, sembari memohon terang Roh Kudus agar setiap keputusan yang diambil berbuah pada kesejahteraan umat. Dalam nuansa ajaran sosial Gereja, selain sebagai instrumen ekonomi, koperasi hadir sebagai perwujudan konkret spiritualitas solidaritas. Melalui pola kepemilikan bersama, partisipasi anggota serta pembagian manfaat yang adil, koperasi menjadi sarana untuk mengoreksi wajah ekonomi yang kerap bercorak individualistis dan spekulatif. Dalam koperasi diwujudkan nilai kejujuran dalam pengelolaan keuangan, tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan keberpihakan pada anggota yang lemah dan kecil.

    Koperasi Kristoforus diteguhkan untuk terus tumbuh sebagai lembaga yang profesional dan transparan, namun sekaligus berjiwa profetis, yakni berani mengutamakan martabat manusia di atas keuntungan finansial semata. Mekanisme RAT—mulai dari laporan pertanggungjawaban, evaluasi kinerja, hingga perencanaan program—diharapkan menjadi ruang pembelajaran bersama tentang bagaimana mengelola sumber daya secara efisien, sehat dan berkelanjutan, tanpa kehilangan roh pelayanan. Dengan semangat persaudaraan kristiani, RAT tahun ini diharapkan memperkuat komitmen seluruh pengurus dan anggota untuk menghadirkan model ekonomi yang lebih manusiawi dan inklusif. Koperasi dipanggil menjadi “tangan panjang Gereja” dalam bidang ekonomi, yakni memampukan umat mengelola keuangan, menumbuhkan budaya menabung dan saling menolong serta menciptakan jaringan ekonomi umat yang kokoh dan berkeadilan.

    Seluruh dinamika Rapat Anggota Tahunan yang berakar pada Ekaristi dan berbuah dalam tata kelola yang baik diarahkan demi kesejahteraan bersama dan kemuliaan Tuhan. Sebagai badan usaha, Koperasi Konsumen Sekunder Kristoforus menjadi tanda harapan yang menghadirkan wajah ekonomi berdimensi religius, efisien sekaligus penuh kasih.

    8. Gereja yang Bertumbuh: Kuasi Paroki St. Yohanes Maria Vianney Pangaribuan Diinaugurasi dan DPP Dilantik

    Inaugurasi Kuasi Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Pangaribuan yang berlangsung pada 7 Juni 2026 menjadi peristiwa bersejarah bagi Gereja di wilayah Tapanuli Utara. Kuasi paroki yang didirikan pada 24 Februari 2026 ini sebelumnya merupakan bagian dari Paroki Santa Maria, Tarutung, dan kini menjadi pusat pelayanan pastoral baru yang mencakup wilayah Kecamatan Pangaribuan, Sipahutar, Garoga, dan Siatas Barita, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara. Beralamat di Jl. Garoga–Lumban Sormin, Pangaribuan, kuasi paroki yang menanggungjawabi reksa pastoral 19 stasi ini memusatkan karya pastoralnya pada bidang pertanian, pendidikan, wisata dan pendampingan keluarga sebagai jawaban atas kebutuhan nyata umat di wilayah agraris tersebut.

    Dalam suasana penuh syukur, umat Allah di Pangaribuan berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi inaugurasi yang dipimpin oleh Uskup Agung Medan. Perayaan diawali dengan perarakan meriah diiringi musik dan tarian adat Batak Toba, sebagai ungkapan kegembiraan dan syukur atas pertumbuhan Gereja di tanah Batak. Inkulturasi melalui seni dan budaya lokal ini menegaskan bahwa kehadiran Gereja sungguh berakar dalam kehidupan masyarakat setempat dan berjalan seiring dengan kekayaan tradisi Batak Toba.

    Pada Perayaan Ekaristi inaugurasi tersebut, Uskup Agung Medan juga melantik Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kuasi Paroki yang baru. Di hadapan Uskup dan seluruh umat, para anggota DPP menyatakan kesediaan mereka untuk melayani dengan semangat iman, rasa tanggung jawab dan pengabdian kepada Gereja. Melalui pelantikan ini, mereka diutus untuk bersama-sama membangun kehidupan menggereja yang semakin hidup, partisipatif dan misioner, menjadi rekan kerja pastor dan garda depan dalam merancang serta melaksanakan program-program pastoral di tengah umat.

    Peristiwa inaugurasi dan pelantikan DPP ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Gereja di Pangaribuan. Berdirinya Kuasi Paroki Santo Yohanes Maria Vianney meneguhkan semangat umat untuk terus bertumbuh dalam persekutuan, pelayanan, dan misi. Terinspirasi oleh teladan pelindungnya, Santo Yohanes Maria Vianney, yang dikenal karena kesederhanaan, ketekunan doa dan pengabdian tanpa pamrih, umat diajak membangun Gereja yang berakar kuat dalam iman, menyatu dengan budaya setempat, serta berbuah dalam karya kasih bagi sesama.

    9. Dari Perkebunan Menjadi Persekutuan: Pemberkatan Gereja Stasi St. Matius Penginjil Panigoran

    Jumat, 12 Juni 2026, suasana penuh sukacita menyelimuti Stasi St. Matius Penginjil Panigoran, Paroki Aek Kanopan, yang terletak di kawasan perkebunan PT SMART. Umat Allah menyambut kedatangan Uskup Agung Medan dan para tamu undangan dengan penuh hormat dan kegembiraan. Turut hadir perwakilan manajemen PT SMART, yakni Bapak Stefanus dan Bapak Susanto beserta rombongan, sebagai tanda dukungan dan kebersamaan antara Gereja, masyarakat dan dunia usaha, sejalan dengan semangat Gaudium et Spes yang menegaskan keterlibatan Gereja dalam suka dan duka dunia.

    Prosesi penyambutan berlangsung meriah melalui pemberian selempang ulos dan tarian adat setempat sebagai simbol penghormatan, persaudaraan dan berkat. Inkulturasi ini mencerminkan ajaran Konsili Vatikan II dan Ecclesia in Asia tentang pentingnya Injil berakar dalam budaya setempat. Puncak perayaan adalah Ekaristi dan ritus pemberkatan gereja, di mana bangunan gereja dikuduskan menjadi rumah doa dan pusat persekutuan umat, sebagaimana ditegaskan dalam tradisi liturgi Gereja dan Lumen Gentium tentang kehadiran Gereja di tengah umat melalui paroki dan stasi-stasi.

    Lebih dari pada sekadar menandai peresmian sebuah gedung, pemberkatan Gereja Stasi St. Matius Penginjil Panigoran mengawali babak baru kehidupan iman umat. Di tengah kawasan perkebunan, Gereja hadir sebagai tanda harapan dan kehadiran Allah yang menyertai perjalanan umat-Nya, selaras dengan semangat misioner yang diungkapkan dalam Evangelii Nuntiandi dan Evangelii Gaudium untuk menjangkau “pinggiran-pinggiran”. Kerjasama dengan PT SMART mencerminkan ajaran sosial Gereja tentang tanggung jawab dunia usaha terhadap kesejahteraan bersama, seperti digarisbawahi dalam Centesimus Annus dan Laudato Si’. Dengan demikian, Gereja Stasi St. Matius Penginjil menjadi pusat persekutuan, pewartaan dan pelayanan yang menguatkan umat untuk bersaksi tentang iman, persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama.

    10. Pesta 111 Tahun Paroki St. Antonius dari Padua Hayam Wuruk: Syukur, Santuarium, dan Semangat Misioner yang Diperbarui

    Pesta Pelindung Paroki Santo Antonius Padua Hayam Wuruk ke-111 yang dirayakan pada 14 Juni 2026 menyaksikan ekspresi syukur yang istimewa dari umat Allah di Medan. Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Medan mengajak umat untuk mengenang penyertaan Tuhan yang setia membimbing perjalanan panjang paroki ini. Momen Kairos ini juga menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen sebagai komunitas Gereja yang bersaudara, melayani dan diutus, dengan meneladani Santo Antonius dari Padua sebagai pelindung paroki.

    Perayaan Ekaristi kudus dirangkai dengan pemberkatan Taman Doa dan Santuarium Santo Antonius Padua. Melalui doa pemberkatan dimohonkan agar tempat ini sungguh menjadi ruang hening bagi perjumpaan pribadi dengan Tuhan, tempat umat menimba kekuatan iman, pengharapan dan kasih. Pemberkatan ini diperkaya dengan penandatanganan prasasti, pelepasan burung merpati dan penerbangan balon yang menyimbolkan damai, harapan dan dinamika Gereja yang terus bertumbuh. Taman Doa dan Santuarium ini diharapkan menjadi oase rohani di tengah hiruk pikuk kehidupan kota. Di sini umat dapat merenungkan Sabda Allah dan mempersembahkan intensi-intensi doa mereka.

    Santo Antonius dari Padua, yang dikenal sebagai pengkhotbah ulung, pencinta orang miskin dan santo yang sering dimintai bantuan dalam menemukan yang hilang, menjadi inspirasi bagi umat Paroki Hayam Wuruk untuk hidup semakin dekat dengan Sabda Allah dan peka terhadap sesama yang menderita. Dengan meneladani kerendahan hati dan kepasrahannya kepada Allah, umat dituntun untuk bersyukur atas perjalanan masa lalu, menghidupi pelayanan dengan sukacita pada masa kini, serta melangkah penuh harapan menuju masa depan sebagai Gereja yang hidup dan misioner, yang menghadirkan kasih Kristus bagi semua orang tanpa kecuali.

    11. Sabda Meneguhkan Langkah: Ekaristi Pembukaan Pertemuan Delegasi Kitab Suci Regio Sumatera 2026

    Pada 15 Juni 2026, para delegasi Kerasulan Kitab Suci dari berbagai keuskupan di Regio Sumatera berkumpul di Kapel Santa Faustina, Catholic Center Medan. Perayaan Ekaristi pembukaan, yang dipimpin Uskup Agung Medan, menegaskan bahwa seluruh rangkaian pertemuan bersumber pada Sabda dan Ekaristi sebagai pusat hidup Gereja.

    Liturgi Sabda mengundang mengundang para peserta untuk semakin mencintai Kitab Suci dan belajar mendengarkan Allah dengan hati terbuka. Sabda Allah dialami sebagai firman yang hidup dan mengubah, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun” (Ibr 4:12). Perayaan Ekaristi membawa Sabda yang didengarkan itu kepada kepenuhannya dalam Tubuh dan Darah Kristus. Dari meja Sabda dan meja Ekaristi, para delegasi diutus untuk memperbarui semangat perutusan dalam pewartaan Injil di keuskupan masing-masing, sesuai amanat Kristus, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).

    Pertemuan ini juga menjadi wujud sinodalitas Gereja di Regio Sumatera. Para delegasi saling berbagi pengalaman, belajar dari praktik baik dan mencari cara kontekstual untuk menjadikan Kitab Suci sebagai dasar seluruh bidang pelayanan. Dengan demikian, Sabda Allah sungguh dihayati sebagai sumber kehidupan iman, pedoman dalam pelayanan pastoral serta pelita yang menuntun umat di tengah perubahan zaman. Pemazmur berseru, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105). Semoga buah pertemuan ini tampak dalam umat yang semakin akrab dengan Kitab Suci, komunitas yang dibentuk oleh Sabda dan Gereja di Sumatera yang berani mewartakan harapan Kristus secara profetis di tengah dunia.

    12. Pemberkatan Ruang Opera KOBAR KAM: Langkah Strategis Evangelisasi Digital KAM

    Dalam semangat pewartaan di era digital, pada Kamis, 18 Juni 2026, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, Uskup Keuskupan Uskup Agung Medan memberkati pemberkatan Ruang Opera KOBAR KAM di lantai 5 Gedung Catholic Center Medan. Ibadat yang berlangsung dalam suasana syukur dan sukacita ini dihadiri para imam, biarawan-biarawati, frater, pegawai Keuskupan Agung Medan serta pihak yang terlibat dalam perancangan dan pembangunan ruangan tersebut.

    Melalui doa dan pemercikan air suci, Uskup memohon agar Ruang Opera KOBAR KAM menjadi pusat karya komunikasi, katekese dan evangelisasi digital yang kreatif, inspiratif, dan efektif. Di ruangan ini diharapkan lahir berbagai konten yang meneguhkan iman, menumbuhkan harapan serta menghadirkan sukacita Injil bagi umat di seluruh Keuskupan dan masyarakat luas.

    Syukur yang dipanjatkan atas selesainya ruang digitalisasi pastoral ini sejalan dengan semangat ensiklik Magnifica Humanitas Paus Leo XIV yang menegaskan bahwa teknologi harus melayani martabat manusia dan menjadi ruang perjumpaan yang memuliakan manusia, bukan sekadar ruang konsumsi. Evangelisasi digital menuntut kreatifitas yang tetap setia pada kebenaran Injil. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi secara terarah, Keuskupan Agung Medan menegaskan komitmennya untuk semakin dekat dengan umat di ruang-ruang baru kehidupan, menjawab tantangan pastoral zaman ini dan menjadikan dunia digital sebagai medan pewartaan Kabar Baik yang memanusiakan dan menguduskan.

    Hari Minggu Biasa XXIV – Homili Uskup KAM

    13 September 2026 - Minggu Biasa XXIV | Tahun A/II

    Bacaan I : Sir. 27:33-28:9
    Mazmur: Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12
    Bacaan II : Rm. 14:7-9
    Bacaan Injil : Mat. 18:21-35

    Mengampuni adalah Menyembuhkan

    Saudara-saudari terkasih, semoga Tuhan memberi kita damai dan kebaikan. Petrus datang kepada Yesus dengan pertanyaan yang sangat manusiawi: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Petrus sebenarnya sudah menawarkan sesuatu yang luar biasa. Tetapi Yesus menjawab: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Yesus tidak sedang memberikan rumus matematika pengampunan. Ia hendak mengatakan: jangan hidup dengan menghitung kesalahan dan menghitung pengampunan. Bacaan pertama bahkan bertanya dengan sangat tajam: “Bagaimana orang dapat memohon kesembuhan kepada Tuhan, jika ia menyimpan amarah terhadap sesamanya?” Kita semua hidup karena belas kasih. Setiap hari kita datang kepada Allah membawa kelemahan kita, dan setiap hari Allah membuka kembali pintu pengampunan. Karena itu, orang yang telah mengalami belas kasih dipanggil menjadi jalan yang melaluinya belas kasih itu mengalir kepada orang lain.

    Yesus menjelaskannya melalui kisah seorang hamba yang mempunyai utang luar biasa besar. Ketika ia memohon belas kasih, tuannya bukan hanya memberi waktu tambahan, tetapi menghapus seluruh utangnya. Namun begitu keluar, hamba itu bertemu dengan temannya yang berutang jauh lebih sedikit. Ia menangkap dan mencekiknya: “Bayarlah utangmu!” Di sinilah tragedinya: ia telah menerima pengampunan, tetapi pengampunan belum mengubah hatinya. Utangnya sudah dihapus, tetapi kekerasan hatinya belum disembuhkan. Bukankah kita pun dapat seperti itu? Kita menerima absolusi, berdoa, mengikuti Ekaristi, bahkan menerima Tubuh Kristus, tetapi dalam hati tetap menyimpan buku besar berisi utang orang lain: dia pernah mengatakan ini; dia pernah mempermalukan saya; dia tidak menghargai saya; saya tidak akan melupakannya. Maka pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya sudah menerima pengampunan Tuhan?” tetapi “Menjadi manusia seperti apakah saya karena telah diampuni Tuhan?” Rahmat yang sungguh diterima seharusnya perlahan-lahan mengubah cara kita memperlakukan sesama.

    Namun Yesus mengetahui bahwa mengampuni tidak mudah, sebab luka itu nyata. Ada pengkhianatan yang menghancurkan kepercayaan, perkataan yang meninggalkan bekas bertahun-tahun, ketidakadilan yang sungguh merugikan, bahkan kekerasan yang tidak boleh disepelekan. Karena itu, mengampuni tidak berarti mengatakan bahwa kejahatan itu baik. Mengampuni tidak selalu berarti melupakan, menghapus tanggung jawab, atau kembali kepada relasi yang tidak aman. Keadilan tetap diperlukan; batas yang sehat kadang harus dibuat. Tetapi mengampuni berarti mengambil satu keputusan rohani yang sangat penting: saya tidak akan membiarkan kejahatan yang dilakukan orang lain terus menguasai hati saya. Dendam mempunyai keanehan: kita menyimpannya untuk menghukum orang lain, tetapi justru kita sendiri yang setiap hari meminum racunnya. Orang yang melukai kita mungkin sudah melanjutkan hidupnya, sementara kita terus mengulang peristiwa itu di dalam pikiran. Maka mengampuni bukan pertama-tama membebaskan orang lain dari tanggung jawab; mengampuni membebaskan kita dari penjara kebencian.

    Karena itu saya ingin mengajak kita melihat pengampunan sebagai proses penyembuhan cara memandang. Ketika terluka, kita mudah mengidentikkan seseorang dengan kesalahannya: dia pengkhianat, dia pembohong, dia orang jahat. Kesalahannya mungkin benar-benar serius, tetapi seorang manusia selalu lebih besar daripada satu bab terburuk dalam hidupnya. Di balik orang yang melukai kita mungkin ada sejarah, kelemahan, ketakutan dan luka yang tidak kita ketahui. Melihatnya secara lebih utuh bukan berarti membenarkan kejahatannya; kita sedang menolak membiarkan kejahatan itu menjadi satu-satunya kacamata kita. Ketika cara memandang mulai disembuhkan, hati pun perlahan disembuhkan. Dan inilah sesuatu yang sangat indah: kadang orang yang paling membutuhkan pengampunan kita bukan hanya orang yang bersalah, melainkan hati kita sendiri membutuhkan pengampunan itu agar dapat kembali bernapas, mencintai, mempercayai, dan hidup dengan bebas.

    Mungkin karena itulah Yesus mengatakan “tujuh puluh kali tujuh kali.” Luka yang dalam jarang sembuh melalui satu keputusan. Hari ini kita berkata, “Saya mengampuni,” tetapi minggu depan ingatan itu kembali dan hati terasa sakit lagi. Apakah berarti pengampunan kita gagal? Tidak. Pengampunan kadang harus diperbarui setiap kali luka itu kembali. Setiap kali ingatan lama mengetuk pintu hati, kita mempunyai pilihan: membiarkan kebencian masuk kembali atau menyerahkannya sekali lagi kepada Tuhan. Kita dapat berdoa: “Tuhan, luka ini masih sakit. Aku belum mampu mengasihi orang ini sebagaimana Engkau mengasihinya, tetapi hari ini aku memilih untuk tidak membencinya. Aku menyerahkan penghakiman kepada-Mu. Sembuhkanlah hatiku.” Itulah pengampunan tujuh puluh kali tujuh kali: bukan berpura-pura tidak terluka, melainkan berulang kali memilih kebebasan daripada kebencian.

    Bacaan kedua memberikan dasar yang lebih dalam: “Tidak seorang pun di antara kita hidup untuk dirinya sendiri… jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan.” Hidup kita terlalu berharga untuk dihabiskan dengan menjadi tawanan masa lalu. Kristus telah wafat dan bangkit agar kita menjadi milik-Nya, bukan milik luka, dendam, atau kebencian kita. Karena itu mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang hari ini bukan lagi, “Apakah orang itu pantas saya ampuni?” tetapi “Apakah saya mau disembuhkan dan dibebaskan?” Kita mengampuni bukan karena kesalahannya kecil, tetapi karena kasih Kristus lebih besar daripada kesalahan itu. Kita mengampuni bukan karena kita lemah, tetapi karena kita tidak mau menyerahkan masa depan kita kepada luka masa lalu.

    Maka dalam Ekaristi ini, bawalah kepada Kristus satu nama, satu wajah, satu luka yang masih sulit dilepaskan. Tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya sudah selesai. Katakan dengan jujur kepada Tuhan: “Inilah lukaku. Aku ingin sembuh, tetapi aku belum mampu mengampuni sepenuhnya. Tolonglah aku.” Kristus yang dari salib berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka,” mampu melakukan di dalam diri kita apa yang tidak mampu kita lakukan sendiri. Barangkali mukjizat yang Tuhan kerjakan hari ini bukan pertama-tama mengubah orang yang pernah menyakiti kita, melainkan membebaskan hati kita dari kuasa orang itu dan dari luka yang ditinggalkannya. Sebab setiap kali kita mengampuni, ada sesuatu dalam diri kita yang disembuhkan; setiap kali kita melepaskan dendam, ada ruang baru bagi damai; dan setiap kali kita meneruskan belas kasih yang telah kita terima, kita menjadi semakin serupa dengan Bapa yang Maharahim. Mengampuni adalah menyembuhkan; mengampuni adalah membebaskan; dan kadang-kadang, orang pertama yang disembuhkan oleh pengampunan kita adalah diri kita sendiri. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCapArsip Homili sebelumnya:

    6 September 2026 - Minggu Biasa XXIII | Tahun A/II

    Bacaan I : Yeh. 33:7-9
    Mazmur: Mzm. 95:1-2,6-7,8-9
    Bacaan II :  Rm. 13:8-10
    Bacaan Injil : Mat. 18:15-20

    Menegur untuk Menyelamatkan, Bukan Menghukum

    Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan. Kita hidup pada zaman ketika kesalahan seseorang dapat tersebar dalam hitungan detik. Satu foto, satu video, satu kalimat yang keliru, lalu banyak orang menjadi hakim: berkomentar, menuduh, membagikan, bahkan menghancurkan nama baik seseorang. Orang yang bersalah mungkin belum sempat menjelaskan, tetapi “pengadilan media sosial” sudah menjatuhkan vonis. Kita sering lebih cepat membagikan kesalahan orang daripada kebaikannya; lebih mudah berbicara tentang seseorang daripada berbicara kepada seseorang. Di tengah budaya seperti ini, Yesus memberikan jalan yang sangat berbeda: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata.” Dan Yesus langsung menjelaskan tujuannya: “Jika ia mendengarkan nasihatmu, engkau telah mendapatnya kembali.” Perhatikan: tujuannya bukan memenangkan perdebatan, bukan membuktikan bahwa saya benar, apalagi mempermalukannya. Tujuannya adalah mendapatkan saudara kembali. Maka koreksi Kristiani bukan seni menemukan kesalahan, tetapi seni menyelamatkan saudara dan memulihkan relasi.

    Mengapa kita kadang justru menikmati membicarakan kelemahan orang lain? Karena di balik gosip sering tersembunyi sesuatu dalam diri kita sendiri. Ada kesombongan: dengan menunjukkan kesalahan orang, kita merasa diri lebih baik. Ada iri hati: kejatuhan orang lain diam-diam membuat kita merasa lebih tinggi. Ada luka yang belum disembuhkan sehingga kesalahan orang lain menjadi kesempatan untuk membalas. Bahkan ada kebutuhan untuk diperhatikan: kita merasa penting karena mempunyai cerita yang belum diketahui orang lain. Karena itu sebelum bertanya, “Apa kesalahannya?”, kita perlu bertanya, “Apa yang sedang terjadi di dalam hatiku sehingga aku begitu ingin menceritakan kesalahannya?” Orang yang sungguh mengasihi tidak menikmati kejatuhan saudaranya. Kalau melihat saudaranya jatuh, ia tidak berlari mencari orang lain untuk menceritakannya; ia berlari mendekati saudaranya untuk membantunya bangkit. Kasih menutupi aib yang tidak perlu diumbar, tetapi tidak menutupi kesalahan yang perlu diperbaiki. Kasih menjaga martabat orang sekaligus berani mengatakan kebenaran.

    Karena itu Yesus memberikan tahapan yang sangat bijaksana: datanglah kepada orangnya, bicaralah empat mata, dengarkanlah, dan usahakanlah pemulihan. Kalau belum berhasil, bawalah satu atau dua orang yang bijaksana; dan barulah persoalan dibawa kepada komunitas. Urutan ini penting karena Yesus ingin menjaga martabat manusia sambil tetap menangani kesalahan dengan serius. Bandingkan dengan kebiasaan kita: kadang orang yang terakhir mengetahui bahwa dirinya mempunyai masalah justru adalah orang yang bersangkutan! Semua orang sudah mengetahuinya, grup WhatsApp sudah membicarakannya, teman-temannya sudah mendiskusikannya, tetapi tidak seorang pun berani berbicara langsung kepadanya. Itu bukan koreksi fraterna. Menegur membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada bergosip. Bergosip mudah karena orangnya tidak hadir; menegur sulit karena kita harus bertemu wajah dengan wajah, mendengarkan jawabannya, dan mungkin juga menemukan bahwa kita sendiri tidak sepenuhnya benar. Karena itu koreksi persaudaraan membutuhkan dua kebajikan sekaligus: keberanian untuk mengatakan kebenaran dan kerendahan hati untuk mendengarkan kebenaran.

    Bacaan pertama memperdalam tanggung jawab ini. Tuhan menjadikan Yehezkiel sebagai penjaga bagi Israel. Ketika melihat bahaya, seorang penjaga tidak boleh diam. Artinya, kasih Kristiani bukan sikap masa bodoh yang berkata, “Itu hidupnya, terserah dia.” Kalau seseorang sedang berjalan menuju kehancuran, kasih kadang menuntut kita berani mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Tetapi bacaan kedua memberikan ukuran bagi teguran itu. Paulus berkata: “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia; karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” Jadi ukuran terakhir sebuah teguran adalah kasih. Ada perbedaan besar antara menegur dan menghakimi. Menghakimi berkata, “Engkau orang jahat.” Menegur berkata, “Perbuatan ini tidak benar, tetapi engkau tetap saudaraku.” Menghakimi ingin orang lain kalah; menegur ingin dia bangkit. Menghakimi membuka aib; menegur menjaga martabat. Menghakimi berhenti pada kesalahan masa lalu; menegur membuka kemungkinan masa depan. Karena itu, kasih tanpa kebenaran menjadi pembiaran, tetapi kebenaran tanpa kasih dapat berubah menjadi kekejaman. Dalam Kristus, kebenaran dan kasih harus berjalan bersama.

    Sabda ini sangat penting bagi keluarga, komunitas, paroki, lembaga, bahkan bagi cara kita membangun Gereja yang sinodal. Kita tidak mungkin sungguh berjalan bersama kalau budaya kita adalah berbicara di belakang, membentuk kelompok, menyimpan kecurigaan, menyebarkan cerita, lalu menghindari percakapan langsung. Kita perlu membangun budaya baru: berbicara dengan orang, bukan berbicara tentang orang. Dalam keluarga, kalau ada persoalan dengan pasangan, bicaralah dengan pasangan. Dalam komunitas, kalau ada persoalan dengan seorang saudara, datanglah kepadanya. Dalam pelayanan, kalau ada sesuatu yang perlu diperbaiki, sampaikanlah dengan jujur tetapi penuh hormat. Dan ketika seseorang datang menegur kita, jangan langsung melihatnya sebagai musuh. Mungkin melalui orang itu Tuhan sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita sadari. Sinodalitas bukan berarti tidak pernah berbeda atau berkonflik. Sinodalitas berarti kita tidak membiarkan perbedaan menghancurkan persaudaraan. Kita tetap duduk bersama, mendengarkan, berbicara benar, mengampuni, dan mencari jalan untuk berjalan kembali bersama.

    Saudara-saudari, sebelum menceritakan kesalahan seseorang, biasakanlah mengajukan tiga pertanyaan: Apakah saya sudah berbicara langsung kepadanya? Apakah tujuan saya sungguh ingin menyelamatkan dan memulihkannya? Apakah yang hendak saya katakan lahir dari kasih? Kalau belum, mungkin kita bukan sedang melakukan koreksi persaudaraan, tetapi sedang memperbesar luka. Yesus menutup Injil dengan janji yang indah: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka.” Kristus hadir ketika dua orang yang terluka berani duduk kembali bersama; ketika orang yang bersalah berani berkata, “Maafkan saya”; ketika orang yang disakiti berani berkata, “Saya mengampunimu”; ketika seseorang berani menegur tanpa mempermalukan dan yang ditegur berani mendengarkan tanpa membenci. Maka marilah kita mengubah budaya kita: dari membicarakan menjadi berbicara langsung, dari mempermalukan menjadi memulihkan, dari menghakimi menjadi mendampingi, dari memenangkan perdebatan menjadi memenangkan saudara. Sebab menurut Injil, keberhasilan sebuah teguran bukanlah ketika kita dapat berkata, “Ternyata saya benar,” melainkan ketika Kristus dapat berkata, “Saudaramu telah engkau dapatkan kembali.” Amin.

    30 Agustus 2026 - Minggu Biasa XXII | Tahun A/II

    Bacaan I : Yer. 20:7-9
    Bacaan II :  Rm. 12:1-2
    Bacaan Injil : Mat. 16:21-27

    Berjalanlah di Belakang-Ku: Mengikuti Yesus, Bukan Mengarahkan Yesus

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Minggu lalu kita mendengar pengakuan Petrus yang sangat indah: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Yesus bahkan memuji Petrus dan menyebutnya batu karang. Tetapi hari ini suasananya berubah drastis. Petrus yang baru saja dipuji, sekarang mendapat teguran sangat keras: “Enyahlah Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku.” Apa yang terjadi? Petrus tidak berhenti percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Persoalannya, Petrus mempunyai gambaran sendiri tentang bagaimana Mesias seharusnya bertindak. Ia menerima Yesus sebagai Mesias, tetapi belum menerima jalan Yesus sebagai jalan Mesias.

    Ketika Yesus mulai menjelaskan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita, dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga, Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Niat Petrus sebenarnya tampak baik. Ia mencintai Gurunya. Ia tidak ingin Yesus menderita. Tetapi tanpa disadarinya, Petrus sedang berusaha mengarahkan Yesus agar mengikuti keinginannya. Karena itulah Yesus berkata kepadanya, “Pergilah ke belakang-Ku.” Seolah-olah Yesus mengatakan: “Petrus, tempatmu bukan di depan-Ku untuk menunjukkan jalan kepada-Ku. Tempatmu di belakang-Ku. Akulah yang berjalan di depan, engkau mengikuti.” Inilah inti kemuridan: bukan Yesus mengikuti jalan yang kita tentukan, melainkan kita mengikuti jalan yang ditunjukkan Yesus.

    Di sinilah kita pun perlu memeriksa iman kita. Kadang-kadang kita memperlakukan Tuhan seperti Petrus. Kita percaya kepada Yesus, tetapi kita juga mempunyai rancangan tentang bagaimana Tuhan seharusnya bekerja. “Tuhan, kalau Engkau mengasihiku, sembuhkanlah aku.” “Tuhan, kalau Engkau mendengarkan doaku, lancarkanlah usahaku.” “Tuhan, jauhkanlah penderitaan ini.” Kita ingin Tuhan memberkati rencana yang sudah kita susun. Kita ingin Tuhan berjalan di belakang kita. Ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan, kita mulai bertanya: “Di mana Tuhan?” Padahal mungkin pertanyaan yang lebih benar ialah: “Di manakah posisi saya? Apakah saya masih berjalan di belakang Yesus, atau saya sedang memaksa Yesus berjalan di belakang saya?”

    Yesus kemudian menjelaskan dengan sangat terang apa artinya berjalan di belakang-Nya: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku.” Mengikuti Kristus tidak berarti mencari penderitaan. Kekristenan bukan agama yang memuliakan rasa sakit. Tetapi cinta yang sejati selalu mempunyai harga. Kesetiaan mempunyai harga. Kejujuran mempunyai harga. Mengampuni mempunyai harga. Membela kebenaran mempunyai harga. Melayani orang lain mempunyai harga. Yesus tidak mencari salib demi salib; Ia menerima salib karena setia kepada kasih dan kehendak Bapa sampai akhir. Jalan-Nya bergerak melalui penderitaan dan wafat menuju kebangkitan. Maka murid tidak boleh menginginkan kemuliaan Kristus tetapi menolak jalan kasih yang berkorban menuju kemuliaan itu.

    Nabi Yeremia dalam bacaan pertama menjadi teladan yang sangat kuat. Ia mengikuti kehendak Allah, tetapi konsekuensinya tidak menyenangkan. Karena menyampaikan Sabda Tuhan, ia menjadi bahan tertawaan dan olok-olok sepanjang hari. Ia bahkan pernah ingin berhenti: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya.” Tetapi Yeremia kemudian berkata bahwa Sabda Allah seperti api yang menyala-nyala di dalam hatinya, terkurung dalam tulang-tulangnya. Ia berusaha menahannya tetapi tidak sanggup. Yeremia mengajarkan bahwa mengikuti Tuhan tidak selalu membuat kita populer, nyaman, atau bebas dari kesulitan. Kadang-kadang justru karena setia kepada Tuhan kita harus mengambil jalan yang lebih berat. Tetapi orang yang sungguh mengenal Tuhan akhirnya berkata: “Sekalipun berat, aku tetap akan berjalan di belakang-Mu.”

    Santo Paulus dalam bacaan kedua menerjemahkan kemuridan itu ke dalam kehidupan konkret: “Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.” Artinya, mengikuti Yesus bukan hanya urusan pikiran dan perkataan. Seluruh kehidupan harus ikut berjalan di belakang-Nya. Paulus bahkan berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu.” Dunia dapat berkata: balaslah orang yang menyakitimu; Yesus berkata: ampunilah. Dunia berkata: carilah kekuasaan; Yesus berkata: layanilah. Dunia berkata: selamatkan dirimu sendiri; Yesus berkata: berikanlah dirimu. Dunia berkata: hindari semua pengorbanan; Yesus menunjukkan bahwa justru melalui pemberian diri, kehidupan menemukan maknanya.

    Maka menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri. Menyangkal diri berarti berhenti menjadikan diri sendiri sebagai pusat. Tidak semua yang saya inginkan harus terjadi. Tidak semua pendapat saya harus dimenangkan. Tidak semua keinginan saya harus dipenuhi. Dalam keluarga, menyangkal diri dapat berarti berani meminta maaf terlebih dahulu. Dalam pelayanan, berarti tetap bekerja sekalipun tidak dipuji. Dalam pekerjaan, berarti memilih jujur meskipun ada keuntungan yang harus dilepaskan. Dalam kehidupan bersama, berarti bersedia mendengarkan dan tidak selalu memaksakan kehendak. Salib seperti ini tidak menghancurkan manusia; justru perlahan-lahan membebaskan kita dari egoisme dan membuat kita semakin menyerupai Kristus.

    Karena itu ada satu pertanyaan penting untuk kita bawa pulang: siapa sebenarnya yang berjalan di depan dalam hidup saya—Kristus atau saya sendiri? Kita dapat memasang salib di rumah, membawa rosario, rajin mengikuti Misa, bahkan aktif dalam pelayanan, tetapi tetap saja secara rohani kita berjalan di depan sambil meminta Yesus mengikuti rencana kita. Kemuridan yang sejati dimulai ketika kita berani berkata: “Tuhan, bukan Engkau yang harus mengikuti aku. Akulah yang harus mengikuti Engkau.” Doa pun berubah. Bukan hanya, “Tuhan, lakukanlah apa yang kuinginkan,” tetapi, “Tuhan, tunjukkan apa yang Engkau kehendaki dan berilah aku kekuatan untuk melakukannya.”

    Saudara-saudari, Petrus memberi kita pengharapan. Orang yang hari ini ditegur, “Pergilah ke belakang-Ku,” kelak sungguh-sungguh belajar berjalan di belakang Sang Guru sampai ia sendiri berani menyerahkan hidupnya. Artinya, teguran Yesus bukan penolakan terhadap Petrus, melainkan pembentukan seorang murid. Kita pun masih terus belajar. Ada saat kita seperti Petrus, ingin menentukan jalan bagi Tuhan. Ada saat kita seperti Yeremia, merasa lelah karena jalan Tuhan berat. Tetapi Tuhan terus memanggil: “Ikutlah Aku.” Berjalanlah di belakang-Ku. Percayalah kepada-Ku.

    Maka marilah kita memohon rahmat agar tidak hanya mengakui seperti Petrus, “Engkau adalah Mesias,” tetapi juga berani mengikuti Mesias pada jalan-Nya. Ketika jalan itu melewati pengorbanan, tetaplah mengikuti. Ketika kesetiaan membuat kita harus kehilangan sesuatu, tetaplah mengikuti. Ketika kebenaran membuat kita tidak populer, tetaplah mengikuti. Sebab kita mengetahui ke mana jalan Kristus menuju. Salib bukan tujuan terakhir. Sesudah Jumat Agung ada Paskah; sesudah pemberian diri ada kehidupan; sesudah salib ada kebangkitan. Karena itu, jangan meminta Yesus berjalan di belakang kita. Marilah kembali ke tempat seorang murid: di belakang Kristus, mengikuti langkah-Nya, memikul salib bersama-Nya, menuju kehidupan dan kemuliaan bersama-Nya. Amin.

    23 Agustus 2026 - Minggu Biasa XXI | Tahun A/II

    Bacaan I : Yes. 22:19-23
    Bacaan II :  Rm. 11:33-36
    Bacaan Injil : Mat. 16:13-20

    Membuka Pintu, Membangun Jembatan Keselamatan

    Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan. Injil hari ini dimulai dengan pertanyaan Yesus yang sangat pribadi: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Pertanyaan ini penting karena cara kita mengenal Kristus akan menentukan cara kita menjalankan perutusan-Nya. Jika kita mengenal Kristus secara keliru, kita pun dapat menjalankan misi secara keliru. Karena itu sebelum Yesus memberikan tugas kepada Petrus, Ia terlebih dahulu membawa Petrus kepada pengenalan akan diri-Nya. Kita harus mengenal wajah Kristus yang sejati agar dapat menghadirkan wajah-Nya secara benar kepada dunia.

    Wajah Kristus yang sejati adalah wajah Dia yang datang untuk membuka jalan keselamatan dan membangun kembali jembatan antara Allah dan manusia, serta antara manusia dengan sesamanya. Seluruh kehidupan Yesus adalah gerakan mendekatkan kembali mereka yang terpisah. Ia mendekati orang berdosa yang dijauhi, menyentuh orang sakit yang dianggap najis, duduk makan bersama mereka yang disingkirkan, berbicara dengan orang yang dianggap asing, mengampuni orang berdosa, dan mencari domba yang hilang. Puncaknya adalah salib. Di sana Kristus memperdamaikan manusia dengan Allah dan sesamanya. Karena itu, semakin sungguh kita mengenal Kristus, semakin kita seharusnya menjadi pembangun jembatan, bukan pembangun tembok; orang yang mempertemukan, bukan memisahkan; orang yang membuka jalan, bukan menutup jalan.

    Bacaan pertama memberikan simbol yang sangat kuat, yaitu kunci. Kepada Elyakim Tuhan mempercayakan kunci keluarga Daud: “Apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” Dalam Injil, Yesus berkata kepada Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.” Kunci adalah lambang kepercayaan dan tanggung jawab. Tetapi ada sesuatu yang sederhana yang tidak boleh kita lupakan: fungsi utama kunci adalah membuka. Kunci diberikan bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk membuka pintu. Demikian juga kuasa dan tanggung jawab dalam Gereja diberikan bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk membuka jalan agar manusia berjumpa dengan Allah.

    Karena itu, Gereja harus terus bertanya: pintu apa yang dipercayakan Tuhan kepada kita untuk dibuka? Bukalah pintu bagi orang yang sedang mencari Tuhan. Bukalah jalan pulang bagi mereka yang sudah lama menjauh dari Gereja. Bukalah ruang pengampunan bagi orang berdosa yang ingin bertobat. Bukalah pintu harapan bagi keluarga yang hampir menyerah. Bukalah ruang persaudaraan bagi orang yang merasa tidak diterima. Bukalah jalan rekonsiliasi bagi mereka yang sedang bermusuhan. Bukalah hati terhadap orang miskin, orang sakit, orang tua, orang muda, dan mereka yang terlupakan. Gereja menjadi semakin menyerupai Kristus ketika kehadirannya membuat orang berkata, “Ternyata masih ada jalan pulang; ternyata saya masih mempunyai saudara; ternyata Allah belum meninggalkan saya.”

    Tetapi untuk membuka pintu, sering kali kita harus terlebih dahulu membangun jembatan. Ada begitu banyak jurang dalam kehidupan sekarang: antara suami dan istri, orang tua dan anak, generasi tua dan generasi muda, kaya dan miskin, kelompok yang berbeda, bahkan antara umat dengan Gereja. Jurang itu semakin lebar oleh prasangka, gosip, luka masa lalu, kesombongan dan keinginan selalu merasa benar. Murid Kristus tidak dipanggil berdiri di satu sisi jurang sambil berteriak kepada mereka yang berada di seberang. Murid Kristus dipanggil membangun jembatan. Jembatan itu bernama mendengarkan, dialog, pengampunan, belas kasih, kesabaran dan keberanian mengambil langkah pertama untuk berdamai.

    Dan kita harus berhati-hati: kunci yang seharusnya membuka dapat dipakai untuk menutup; agama yang seharusnya menjadi jembatan dapat berubah menjadi tembok. Hal itu terjadi ketika kita merasa lebih suci daripada orang lain, mudah menghakimi, menolak orang karena masa lalunya, atau menggunakan jabatan dan aturan bukan untuk menuntun tetapi untuk menguasai. Tentu membuka pintu bukan berarti mengatakan bahwa semuanya boleh dan semuanya benar. Kristus sendiri memanggil manusia kepada pertobatan. Tetapi Ia selalu membuka jalan menuju pertobatan. Ia tidak berkata kepada orang berdosa, “Tetaplah dalam dosamu,” tetapi juga tidak berkata, “Tidak ada lagi tempat bagimu.” Ia berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” Kebenaran menunjukkan jalan; belas kasih memberi kekuatan untuk berjalan di atasnya.

    Maka tugas membuka pintu dan membangun jembatan bukan hanya milik Petrus, Paus, uskup, imam atau pengurus Gereja. Setiap orang yang dibaptis dipanggil mengambil bagian dalam misi Kristus. Orang tua dapat menjadi jembatan yang membawa anak kepada Tuhan. Guru menjadi jembatan bagi masa depan muridnya. Kaum muda dapat menjadi jembatan persahabatan di tengah lingkungan yang mudah mengucilkan. Kita semua dapat menjadi jembatan rekonsiliasi dalam keluarga dan komunitas. Karena itu pertanyaan yang sangat konkret hari ini adalah: karena kehadiran saya, apakah orang semakin dekat atau semakin jauh? Apakah saya membuka pintu atau menutupnya? Apakah saya mempertemukan atau memisahkan? Jangan sampai kita membawa nama Kristus tetapi membangun tembok yang tidak pernah dibangun Kristus.

    Saudara-saudari, Yesus hari ini kembali bertanya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawablah bukan hanya dengan mulut, tetapi dengan kehidupan. Jika kita mengakui Dia sebagai Mesias, marilah meneruskan misi-Nya: membuka jalan keselamatan dan membangun jembatan perjumpaan. Peganglah “kunci” yang Tuhan percayakan kepada kita bukan sebagai tanda kehormatan, melainkan sebagai tanggung jawab untuk membuka. Bukalah pintu pengampunan, pengharapan, persaudaraan, pertobatan dan jalan pulang kepada Allah. Sebab semakin kita mengenal wajah Kristus yang sejati, semakin kita menjadi pembuka jalan, bukan penutup jalan; pembangun jembatan, bukan pembangun tembok. Dan melalui jembatan kehidupan kita, semoga semakin banyak orang dapat menemukan jalan menuju Kristus, Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup. Amin.

    16 Agustus 2026 - Hari Raya St Perawan Maria Diangkat ke Surga | Tahun A/II

    Bacaan I : Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab
    Bacaan II : 1Kor. 15:20-26
    Bacaan Injil : Luk. 1:39-56

    Maria, Tanda Pengharapan Kita

    Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini kita merayakan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Hari Raya ini sebenarnya adalah Hari Raya Pengharapan kita. Mengapa? Karena apa yang kita harapkan sebagai orang beriman sudah kita lihat terjadi secara istimewa dalam diri Maria. Kita percaya bahwa hidup manusia tidak berakhir dengan kematian. Kita percaya akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal bersama Allah. Maria telah sampai pada kepenuhan itu. Maria telah sampai; kita masih berjalan. Karena itu ketika memandang Maria di surga, kita bukan hanya berkata, “Betapa bahagianya Maria,” tetapi juga, “Di sanalah tujuan perjalanan kita.”

    Lalu, mengapa Maria mendapat anugerah yang begitu besar? Apakah karena Maria hebat? Apakah karena semuanya merupakan hasil perjuangannya sendiri? Maria sendiri memberikan jawabannya dalam Injil hari ini: “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku.” Maria tidak berkata, “Aku telah melakukan perkara-perkara besar.” Ia berkata, Allah telah melakukan perkara-perkara besar kepadaku. Allah memilih Maria, memenuhi dia dengan rahmat, menjadikannya Bunda Yesus, menaunginya dengan Roh Kudus, meneguhkan imannya, menyertainya sampai di bawah salib, dan akhirnya membawanya kepada kemuliaan. Jadi, kehidupan Maria adalah cerita tentang Allah yang terus bekerja dalam diri manusia yang membuka hati kepada-Nya.

    Tetapi Maria juga menjawab karya Allah itu dengan iman. Ketika malaikat menyampaikan kehendak Tuhan, Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu.” Maria mengatakan “ya” kepada Allah bukan hanya sekali. Ia terus mengatakan “ya” sepanjang hidupnya: ketika melahirkan Yesus di Betlehem, ketika harus mengungsi ke Mesir, ketika hidup sederhana di Nazaret, dan ketika berdiri di bawah salib. Maria tidak selalu memahami apa yang terjadi, tetapi ia tetap percaya. Maria mengajarkan bahwa beriman bukan berarti memahami semua jalan Tuhan; beriman berarti tetap berjalan bersama Tuhan sekalipun kita belum memahami jalan-Nya.

    Dasar pengharapan Maria adalah Kristus. Santo Paulus berkata dalam bacaan kedua, “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati.” Kristuslah yang mengalahkan kematian. Maria tidak sampai kepada kemuliaan dengan kekuatannya sendiri. Kristus naik ke surga; Maria diangkat ke surga. Semuanya adalah rahmat Allah. Karena itu Hari Raya ini tidak pertama-tama menunjukkan betapa hebatnya Maria, tetapi betapa besar kuasa kasih Allah yang bekerja dalam diri Maria.

    Itulah sebabnya Maria menjadi tanda pengharapan kita. Dalam diri Maria kita melihat apa yang Allah janjikan kepada kita. Ketika kita semakin tua, ketika tubuh mulai lemah, ketika sakit, ketika mengalami kegagalan, ketika kehilangan orang yang kita kasihi, bahkan ketika suatu saat harus menghadapi kematian, Maria mengingatkan kita: “Jangan kehilangan pengharapan. Perjalananmu tidak berakhir di sini.” Kematian bukan tujuan akhir kita. Tujuan kita adalah kehidupan bersama Allah. Kristus adalah dasar pengharapan kita, Maria adalah tanda pengharapan kita, dan kita adalah orang-orang yang sedang berjalan menuju pengharapan itu.

    Menarik sekali, hari ini kita merayakan Maria yang diangkat ke surga, tetapi Injil justru bercerita tentang Maria yang berjalan di bumi. Maria pergi mengunjungi Elisabet. Ia mendengar bahwa Elisabet membutuhkan pertolongan, lalu Maria bergegas pergi kepadanya. Di sini kita belajar sesuatu yang sangat sederhana: orang yang mempunyai pengharapan tidak hanya duduk diam. Pengharapan mempunyai kaki. Pengharapan berjalan. Pengharapan mendatangi. Pengharapan menolong. Pengharapan melayani. Maria membawa Yesus yang ada dalam rahimnya kepada Elisabet. Dan ketika Maria datang, Elisabet dipenuhi Roh Kudus dan Yohanes melonjak kegirangan.

    Maka kita pun dapat bertanya: ketika saya hadir di tengah orang lain, apa yang saya bawa? Apakah kehadiran saya membawa sukacita atau justru menambah persoalan? Apakah perkataan saya membuat orang bersemangat atau semakin putus asa? Apakah saya membawa damai atau pertengkaran? Apakah saya membawa pengharapan atau ketakutan? Maria membawa Kristus, maka kehadirannya membawa sukacita. Demikian juga kita. Kalau Kristus sungguh hidup dalam hati kita, orang lain seharusnya merasakan sesuatu yang baik melalui kehadiran kita.

    Tetapi pengharapan bukan berarti hidup selalu mudah. Maria pun mengalami banyak kesulitan. Ia tidak menemukan tempat untuk melahirkan Yesus. Ia harus membawa Anak itu mengungsi ke Mesir. Ia mengalami kecemasan dan ketidakpastian. Dan akhirnya ia berdiri di bawah salib melihat Putranya wafat. Namun Maria tetap percaya kepada Allah. Maria berharap bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ia percaya bahwa Allah setia. Inilah pengharapan Kristiani. Kita tidak berkata, “Tidak akan ada masalah.” Kita berkata, “Sekalipun ada masalah, Tuhan tetap bersama kita.” Kita tidak berkata, “Tidak akan ada salib.” Kita percaya, “Salib bukan akhir; sesudah Jumat Agung ada Paskah.”

    Saudara-saudari, dunia kita membutuhkan orang-orang yang membawa pengharapan. Ada orang yang sedang kehilangan semangat. Ada keluarga yang sedang menghadapi masalah. Ada orang sakit yang merasa sendirian. Ada orang muda yang bingung tentang masa depannya. Ada orang yang jatuh dalam dosa dan merasa tidak mungkin berubah lagi. Kepada mereka kita dipanggil membawa pesan sederhana: “Jangan menyerah. Engkau tidak sendirian. Tuhan masih bekerja.” Kadang kita tidak perlu memberikan nasihat panjang. Cukup hadir, mendengarkan, menemani, menolong, dan berjalan bersama. Dengan cara sederhana seperti itulah kita menjadi pembawa pengharapan.

    Maka pada Hari Raya ini, marilah kita belajar dari Maria untuk menjadi penjaga pengharapan. Jangan mudah menyebarkan pesimisme. Jangan membuat orang lain semakin takut. Teguhkanlah orang yang lemah. Dengarkanlah yang terluka. Kunjungilah yang sakit dan kesepian. Rangkul mereka yang merasa tidak mempunyai tempat. Bantulah orang yang jatuh untuk bangkit kembali. Biarlah melalui kehidupan kita seseorang dapat berkata, “Saya tidak sendirian. Masih ada orang yang peduli. Masih ada jalan. Masih ada kasih. Tuhan masih bekerja.”

    Hari ini kita memandang Maria yang telah sampai kepada kepenuhan janji Allah. Maria telah sampai; kita masih berjalan. Tetapi kita tahu ke mana kita berjalan. Penderitaan bukan kata terakhir. Kegagalan bukan kata terakhir. Dosa bukan kata terakhir. Bahkan kematian bukan kata terakhir. Kata terakhir Allah adalah kehidupan. Maka jangan kehilangan pengharapan. Allah yang telah melakukan perkara-perkara besar dalam diri Maria adalah Allah yang sama yang masih bekerja dalam diri kita. Kristus adalah dasar pengharapan kita, Maria adalah tanda pengharapan kita, dan kita dipanggil menjadi pembawa pengharapan bagi sesama. Amin.

    9 Agustus 2026 - Minggu Biasa XIX | Tahun A/II

    Bacaan I : 1Raj. 19:9a,11-13a
    Bacaan II : Rm. 9:1-5
    Bacaan Injil : Mat. 14:22-33

    "Jangan Takut! Aku Ini."

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Setiap orang pasti pernah mengalami "badai" dalam hidupnya. Ada badai penyakit yang tidak kunjung sembuh, badai ekonomi yang mengguncang keluarga, badai relasi yang retak, badai kehilangan orang yang dikasihi, badai kegagalan, bahkan badai kecemasan akan masa depan. Dalam situasi seperti itu, doa kita hampir selalu sama: "Tuhan, hilangkan badai ini!" Kita ingin persoalan segera selesai, penderitaan segera berakhir, dan hidup kembali tenang. Namun Injil hari ini memperlihatkan sesuatu yang sangat mengejutkan. Ketika para murid diterjang angin sakal dan ombak besar, Yesus tidak langsung menghentikan badai itu. Ia justru datang kepada mereka berjalan di atas air dan berkata, "Tenanglah! Aku ini. Jangan takut!" Seolah-olah Yesus ingin mengajarkan bahwa kehadiran-Nya jauh lebih penting daripada berubahnya keadaan.

    Kalimat "Aku ini" bukan sekadar cara Yesus memperkenalkan diri. Dalam bahasa Yunani, ungkapan Ego Eimi mengingatkan kita pada nama Allah yang diwahyukan kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Artinya, Yesus sedang menyatakan bahwa Allah sendiri hadir di tengah badai kehidupan manusia. Inilah inti iman Kristen. Allah bukan hanya Allah yang bekerja ketika hidup berjalan baik. Ia adalah Allah yang masuk ke dalam badai bersama kita. Ia tidak berdiri di pantai sambil berteriak memberi petunjuk. Ia datang mendekat. Ia berjalan di atas ombak yang menakutkan itu. Karena itu pesan Injil hari ini bukanlah, "Jangan takut karena badai akan segera berhenti," tetapi, "Jangan takut, karena Aku ada bersamamu."

    Betapa sering kita mencari Tuhan hanya supaya masalah kita selesai. Kita berpikir, jika penyakit sembuh, barulah kita bersyukur; jika ekonomi membaik, barulah kita merasa Tuhan dekat; jika keluarga kembali harmonis, barulah kita percaya. Namun Yesus mengubah cara berpikir kita. Ia seakan berkata, "Jangan hanya mencari hidup tanpa badai. Carilah Aku yang menyertaimu di dalam badai." Sebab hidup tanpa badai belum tentu membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Sebaliknya, banyak orang justru menemukan Tuhan secara mendalam ketika melewati badai kehidupan. Yang memberi damai bukan karena badai sudah hilang, tetapi karena mereka menyadari bahwa Kristus tidak pernah meninggalkan mereka.

    Puncak Injil ini terjadi ketika Petrus mulai tenggelam. Selama matanya tertuju kepada Yesus, ia mampu berjalan di atas air. Tetapi ketika ia mulai memandang angin dan ombak, ia kehilangan keberanian. Lalu ia berseru, "Tuhan, tolonglah aku!" Dan Injil mencatat sesuatu yang sangat indah: "Yesus segera mengulurkan tangan-Nya dan memegang Petrus." Kata "segera" menunjukkan bahwa kasih Allah tidak pernah terlambat. Yesus tidak membiarkan Petrus tenggelam lebih dahulu agar ia belajar dari kesalahannya. Ia tidak berkata, "Bukankah sudah Aku bilang?" Sebelum memberikan nasihat, Yesus lebih dahulu memberikan tangan-Nya. Inilah wajah Allah yang kita imani: Allah yang pertama-tama menyelamatkan, baru kemudian membimbing.

    Bacaan pertama semakin memperkaya pesan ini. Nabi Elia juga sedang mengalami badai batin. Ia kecewa, letih, takut, bahkan ingin menyerah. Namun Allah tidak hadir dalam angin ribut, gempa bumi, atau api. Allah hadir dalam suara angin sepoi-sepoi basa. Mengapa? Karena Allah sering bekerja bukan dengan menghilangkan semua persoalan secara ajaib, tetapi dengan menghadirkan damai di dalam hati orang yang percaya. Begitulah Tuhan bekerja juga dalam hidup kita. Ia hadir melalui doa yang menenangkan hati, melalui Sabda yang menguatkan, melalui keluarga yang mendampingi, melalui sahabat yang mendengarkan, melalui Ekaristi yang menghidupkan kembali harapan kita. Kehadiran Allah sering kali lembut, tetapi justru itulah yang menguatkan kita untuk terus melangkah.

    Saudara-saudari, dunia saat ini dipenuhi oleh ketakutan. Orang takut kehilangan pekerjaan karena perkembangan teknologi. Orang muda takut menghadapi masa depan yang tidak pasti. Banyak keluarga takut akan krisis ekonomi. Gereja pun menghadapi berbagai tantangan. Dalam situasi seperti ini, sangat mudah jika kita lebih sibuk menghitung besarnya ombak daripada menyadari besarnya kasih Allah. Sabda Tuhan hari ini mengajak kita mengubah fokus hidup. Jangan menjadikan ketakutan sebagai pusat hidup kita. Jadikan Kristus sebagai pusatnya. Orang yang memegang tangan Kristus mungkin tetap berjalan di tengah badai, tetapi ia tidak akan berjalan sendirian.

    Maka marilah kita pulang hari ini dengan membawa satu keyakinan yang mengubah hidup: Tuhan tidak selalu mengubah situasi kita, tetapi Tuhan selalu menyertai kita di dalam situasi itu. Ia tidak selalu menghilangkan salib kita, tetapi Ia memikulnya bersama kita. Ia tidak selalu menghentikan badai, tetapi Ia selalu mengulurkan tangan-Nya agar kita tidak tenggelam. Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan hanya berdoa, "Tuhan, hilangkan badai ini." Berdoalah juga, "Tuhan, peganglah tanganku, supaya aku tetap setia berjalan bersama-Mu." Sebab tangan Kristus jauh lebih kuat daripada badai apa pun. Dan selama tangan itu menggenggam kita, kita tidak perlu takut. "Jangan takut! Aku ini."

    Amin.

    2 Agustus 2026 - Minggu Biasa XVIII | Tahun A/II

    Bacaan I : Yes. 55:1-3
    Bacaan II : Rm. 8:35,37-39
    Bacaan Injil : Mat. 14:13-21

    Bawa Kemari, kepada-Ku

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Ada satu benang merah yang menghubungkan bacaan pertama dan Injil hari ini, yaitu undangan Allah. Dalam bacaan pertama, melalui Nabi Yesaya, Allah berseru, "Hai semua orang yang haus, datanglah kepada air… datanglah, beli dan makan tanpa uang dan tanpa membayar." Allah mengundang semua orang yang lapar dan haus untuk datang kepada-Nya. Yang menarik, Allah tidak langsung berbicara kepada umat, tetapi melalui seorang nabi. Yesaya menjadi jembatan yang mengantar manusia kepada Allah. Lalu Tuhan melanjutkan undangan itu dengan kalimat yang sangat indah: "Dengarkanlah Aku, maka kamu akan hidup." Jadi, datang kepada Tuhan bukan hanya berarti mendekat secara fisik, tetapi menjadi pendengar Sabda-Nya. Sebab hidup yang sejati lahir ketika kita mendengarkan Allah dan membiarkan Sabda-Nya mengenyangkan kelaparan terdalam hati kita.

    Undangan yang sama muncul kembali dalam Injil. Menjelang malam, para murid melihat kenyataan yang memprihatinkan. Ribuan orang berada di tempat yang sunyi tanpa makanan. Mereka mengingatkan Yesus dengan niat yang baik, "Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka dapat membeli makanan." Mereka sadar bahwa kelaparan dapat berakibat fatal. Namun Yesus justru memberi jawaban yang mengejutkan, "Kamu harus memberi mereka makan." Para murid tentu terkejut. Bagaimana mungkin mereka memberi makan lebih dari lima ribu orang? Mereka hanya memiliki lima roti dan dua ikan. Di sinilah Yesus mengucapkan kalimat yang menjadi tema homili kita hari ini: "Bawa kemari kepada-Ku."

    Perhatikan, Yesus tidak meminta sesuatu yang besar. Ia tidak berkata, "Carilah lebih banyak roti." Ia hanya berkata, "Bawa apa yang ada kepada-Ku." Inilah tugas para murid. Mereka tidak diminta menciptakan mukjizat. Mereka hanya diminta membawa apa yang mereka miliki kepada Yesus. Lima roti dan dua ikan memang sangat sedikit, tetapi ketika dibawa kepada Kristus, yang sedikit itu berubah menjadi kelimpahan. Di sinilah kita belajar bahwa Allah selalu memulai dari apa yang kita miliki, bukan dari apa yang tidak kita miliki. Yang menjadi persoalan bukan sedikit atau banyaknya, tetapi apakah kita bersedia membawanya kepada Tuhan.

    Namun ada satu hal yang sering kita lupakan. Membawa kepada Yesus berarti berani melepaskan apa yang kita miliki. Lima roti dan dua ikan itu harus dilepaskan dari tangan pemiliknya agar dapat diletakkan di tangan Yesus. Selama roti itu tetap digenggam, mukjizat tidak akan pernah terjadi. Mukjizat dimulai ketika ada orang yang berani berkata, "Tuhan, inilah yang kumiliki. Aku menyerahkannya kepada-Mu." Orang itu melepaskan miliknya, para murid membawanya kepada Yesus, Yesus memberkatinya, lalu mengembalikannya menjadi berkat bagi banyak orang. Mukjizat selalu lahir dari penyerahan. Sebaliknya, kalau semua orang memilih menggenggam miliknya sendiri karena takut kekurangan, tidak akan pernah ada mukjizat.

    Bukankah ini juga yang sering terjadi dalam hidup kita? Kita berkata, "Saya hanya punya sedikit waktu." "Saya hanya punya sedikit kemampuan." "Saya hanya punya sedikit uang." "Saya hanya orang biasa." Padahal Yesus tidak pernah bertanya berapa banyak yang kita miliki. Ia hanya bertanya, "Apakah engkau mau membawa dan menyerahkannya kepada-Ku?" Hari ini pun mukjizat masih terjadi ketika ada orang tua yang menyerahkan keluarganya kepada Tuhan, ketika orang muda menyerahkan masa depannya kepada Tuhan, ketika umat menyerahkan tenaga, pikiran, dan hartanya demi pelayanan Gereja, ketika seseorang menyerahkan luka dan dosanya kepada belas kasih Tuhan. Apa yang diserahkan kepada Kristus tidak pernah sia-sia; semuanya diubah menjadi rahmat.

    Bacaan kedua semakin meneguhkan kita. Santo Paulus berkata, "Siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?" Tidak ada penderitaan, kesulitan, kelaparan, bahaya, bahkan maut yang mampu memisahkan kita dari kasih-Nya. Mengapa? Karena kasih Kristus selalu lebih besar daripada segala keterbatasan kita. Jika lima roti dan dua ikan saja mampu mengenyangkan ribuan orang, maka hidup kita yang sederhana pun dapat menjadi berkat besar apabila diserahkan kepada Tuhan.

    Saudara-saudari terkasih, hari ini Tuhan kembali mengucapkan dua undangan yang saling melengkapi. Dalam bacaan pertama Ia berkata, "Datanglah kepada-Ku… dengarkanlah Aku, maka kamu akan hidup." Dalam Injil Ia berkata, "Bawa kemari kepada-Ku." Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang haus akan Dia, lalu bawalah kepada-Nya apa pun yang kita miliki. Jangan takut melepaskannya. Sebab yang kita lepaskan ke dalam tangan Kristus tidak akan hilang; justru akan diubah menjadi berkat yang jauh lebih besar daripada yang dapat kita bayangkan.

    Marilah kita pulang hari ini dengan satu keyakinan: mukjizat tidak dimulai dari kelimpahan, tetapi dari keberanian untuk melepaskan dan menyerahkan. Selama kita terus menggenggam hidup kita sendiri, mukjizat tidak akan terjadi. Tetapi ketika kita berani membawa dan meletakkan semuanya di tangan Yesus, Dia akan memberkati, memecah, melipatgandakan, dan menjadikan hidup kita makanan yang menghidupkan banyak orang.

    Amin.

    26 Juli 2026 - Hari Kakek Nenek Sedunia | Minggu Biasa XVII | Tahun A/II

    Bacaan I : 1Raj. 3:5,7-12
    Bacaan II : Rm. 8:28-30
    Bacaan Injil : Mat. 13:44-52 (panjang) atau Mat. 13:44-46 (singkat)

    Menemukan Harta yang Mengubah Hidup

    Setiap orang pasti sedang mencari sesuatu yang dianggap paling berharga dalam hidupnya. Ada yang mengejar uang, jabatan, popularitas, kekuasaan, kenyamanan, kesehatan, atau masa depan anak-anaknya. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Tetapi Injil hari ini mengajukan sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Apakah harta yang sedang kita kejar sungguh layak menjadi pusat hidup kita? Sebab Yesus berkata, "Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang… seumpama mutiara yang sangat berharga." Orang yang menemukannya rela menjual segala miliknya dengan sukacita demi memperoleh harta itu. Mengapa? Karena ia sadar bahwa setelah menemukan harta itu, semua yang lain menjadi bernilai karena harta tersebut.

    Harta itu bukan pertama-tama sesuatu, melainkan Kristus sendiri dan Kerajaan-Nya. Ketika seseorang sungguh menemukan Kristus, seluruh cara pandangnya berubah. Ia tidak lagi hidup hanya untuk memiliki lebih banyak, tetapi untuk menjadi lebih baik. Ia tidak lagi bertanya, "Apa yang paling menguntungkan bagiku?" tetapi, "Apa yang paling dikehendaki Tuhan?" Inilah perubahan terbesar dalam hidup seorang murid: bukan sekadar memiliki iman, tetapi menjadikan Kristus sebagai harta yang paling berharga.

    Karena itu bacaan pertama menjadi sangat indah. Ketika Tuhan menawarkan apa saja kepada Salomo, ia tidak meminta umur panjang, kekayaan, kemenangan atas musuh, atau kejayaan politik. Ia meminta hati yang bijaksana, hati yang mampu membedakan yang baik dan yang jahat. Mengapa? Karena Salomo tahu bahwa bila hati benar, keputusan pun benar; bila keputusan benar, hidup pun akan benar. Salomo memilih harta yang tidak dapat dicuri siapa pun: kebijaksanaan yang berasal dari Allah. Itulah sebabnya Tuhan memberikan kepadanya bukan hanya hikmat, tetapi juga berkat-berkat lain.

    Begitu pula Santo Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Orang yang menemukan Kristus sebagai hartanya mulai melihat seluruh hidup dengan cara yang baru. Bahkan penderitaan, kegagalan, penyakit, kehilangan, dan air mata pun tidak lagi dianggap sia-sia. Semua itu dapat dipakai Tuhan sebagai jalan menuju keselamatan. Inilah harta yang tidak dapat diberikan dunia: keyakinan bahwa Tuhan tetap berkarya bahkan di tengah peristiwa yang paling sulit sekalipun.

    Injil kemudian menghadirkan perumpamaan ketiga, yakni jala yang menangkap berbagai jenis ikan. Selama hidup di dunia, baik dan jahat masih hidup berdampingan. Tetapi pada akhirnya Tuhan sendiri akan memisahkan semuanya. Pesan ini mengingatkan bahwa menemukan Kristus sebagai harta tidak cukup hanya di awal. Harta itu harus dijaga dengan kesetiaan sampai akhir hidup. Jangan sampai kita menemukan mutiara Kerajaan Allah, tetapi kemudian menukarnya kembali dengan hal-hal yang sementara: kekuasaan, uang, kesenangan, atau dosa.

    Hari ini Gereja juga memperingati Hari Orang Tua, Kakek, dan Nenek Sedunia, bertepatan dengan peringatan Santo Yoakim dan Santa Anna, orang tua Bunda Maria. Mereka tidak dikenang karena kekayaan atau jabatan mereka, tetapi karena berhasil mewariskan harta yang paling berharga kepada Maria, yaitu iman kepada Allah. Warisan terbesar yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak bukanlah rumah, tanah, atau tabungan, melainkan hati yang mengenal Tuhan. Harta dunia dapat habis; iman akan membuka jalan menuju hidup kekal.

    Saudara-saudari, zaman kita sedang mengalami krisis nilai. Banyak orang rela mengorbankan kejujuran demi uang, mengorbankan keluarga demi karier, mengorbankan iman demi kenyamanan, bahkan mengorbankan hati nurani demi keuntungan sesaat. Injil hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur: Apa sebenarnya harta yang paling kita jaga? Sebab apa yang paling kita cintai akan menentukan arah hidup kita. Jika Kristus sungguh menjadi harta kita, maka doa bukan lagi beban, pelayanan bukan lagi kewajiban, pengampunan bukan lagi kelemahan, dan kasih bukan lagi sekadar teori.

    Namun ada satu hal yang sangat menghibur dalam Injil hari ini. Orang yang menemukan harta itu menjual segala miliknya dengan sukacita. Ia tidak merasa rugi. Mengikuti Kristus memang menuntut pengorbanan, tetapi pengorbanan itu bukan kehilangan, melainkan pertukaran. Kita melepaskan yang sementara untuk memperoleh yang kekal; kita meninggalkan yang kecil untuk menerima yang jauh lebih besar. Tidak ada orang yang menjadi miskin karena memilih Kristus. Justru di dalam Dia kita menemukan kekayaan yang sejati: damai, sukacita, pengharapan, dan hidup kekal.

    Marilah kita memohon pada hari Minggu ini agar Tuhan memberi kita hati seperti Salomo: hati yang bijaksana untuk mengenali harta yang sejati. Semoga kita tidak menghabiskan hidup mengejar hal-hal yang suatu hari akan kita tinggalkan, tetapi sungguh mengejar Kristus, Sang Mutiara yang Tak Ternilai. Dan seperti Santo Yoakim dan Santa Anna, semoga kita menjadi keluarga yang mewariskan iman sebagai harta terbesar kepada anak-anak dan cucu-cucu kita.

    Akhirnya, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Jika hari ini Tuhan meminta kita menunjukkan harta terbesar dalam hidup kita, apakah yang akan kita tunjukkan? Semoga jawaban kita bukan hanya terucap dengan bibir, tetapi tampak dalam seluruh cara hidup kita: Kristus adalah hartaku, Kerajaan-Nya adalah tujuanku, dan kasih-Nya adalah kekayaanku yang tak akan pernah habis.

    Amin.

    12 Juli 2026 - Hari Minggu Biasa XV | Tahun A/II

    Bacaan I :  Yes. 55:10-11
    Bacaan II :   Rm. 8:18-23
    Bacaan Injil : Mat. 13:1-23

    Jadilah Tanah yang Gembur, Sebab Firman Allah Tidak Pernah Gagal

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Di tengah berbagai tantangan hidup, Tuhan hari ini menyampaikan sebuah kabar yang sangat menghiburkan: Firman Allah tidak pernah gagal. Melalui Nabi Yesaya, Tuhan berkata, "Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana sebelum mengairi bumi, demikianlah firman-Ku; firman itu tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia." Betapa indah janji ini. Artinya, setiap kali kita membaca Kitab Suci, mengikuti Ekaristi, mendengarkan homili, atau merenungkan Sabda Tuhan, Allah sedang bekerja. Mungkin perubahan itu belum langsung kita lihat, tetapi Sabda-Nya sedang menyuburkan hati, menguatkan iman, menyembuhkan luka, dan membentuk hidup kita. Firman Tuhan tidak pernah menjadi sia-sia.

    Kalau begitu, mengapa hasilnya berbeda-beda? Mengapa ada orang yang hidupnya berubah, sementara ada yang seolah tetap sama? Yesus menjawabnya melalui perumpamaan tentang penabur. Benihnya sama. Penaburnya juga sama. Yang berbeda hanyalah tanahnya. Tanah yang gembur adalah hati yang mendengar dan memahami Sabda Tuhan. Memahami di sini bukan sekadar mengerti isi bacaan, melainkan membiarkan Sabda itu masuk ke dalam hati, mengubah cara berpikir, cara mengambil keputusan, cara memperlakukan sesama, dan akhirnya mengubah seluruh hidup. Sabda tidak berhenti menjadi informasi, tetapi menjadi transformasi.

    Kabar baiknya adalah bahwa Allah sendiri tidak tinggal diam menunggu hati kita berubah. Mazmur hari ini menggambarkan Allah seperti seorang petani yang penuh kasih. Dialah yang mengunjungi bumi, mengairi alur-alurnya, melembutkan tanah dengan hujan, dan memberkati pertumbuhannya. Ini berarti, ketika hati kita mulai mengeras karena dosa, luka batin, atau kekecewaan, Allah datang untuk melembutkannya. Ketika iman kita terasa kering, Allah mengairinya dengan rahmat-Nya. Ketika kita merasa tidak sanggup berubah, Allah lebih dahulu bekerja di dalam diri kita. Pertumbuhan rohani bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi hasil kerja sama antara rahmat Allah dan keterbukaan hati kita.

    Karena itu, jangan pernah berkata, "Saya sudah terlambat berubah," atau "Hati saya sudah terlalu keras." Tuhan mampu menggemburkan tanah yang paling keras sekalipun. Yang dibutuhkan hanyalah kesediaan untuk membuka hati. Mungkin selama ini hati kita dipenuhi kesombongan, ambisi, iri hati, ketamakan, kekhawatiran, atau luka yang belum diampuni. Semua itu memang dapat menghambat pertumbuhan benih. Namun rahmat Tuhan lebih besar daripada semua hambatan itu. Bila kita membiarkan Tuhan mengolah hati kita, benih Sabda akan mulai bertumbuh kembali.

    Yesus juga memberi penghiburan yang sangat indah. Tanah yang baik menghasilkan buah tiga puluh, enam puluh, bahkan seratus kali lipat. Perhatikan, Tuhan tidak menuntut semua orang menghasilkan buah yang sama. Tidak semua dipanggil menghasilkan seratus kali lipat. Ada yang tiga puluh, ada yang enam puluh. Yang penting adalah setiap orang menghasilkan buah. Jangan membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Allah tidak meminta kita menjadi seperti orang lain. Ia meminta kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri, sesuai rahmat yang diberikan-Nya. Yang Tuhan lihat bukan besar kecilnya hasil, tetapi kesetiaan kita membiarkan Sabda bekerja.

    Santo Paulus membantu kita memahami bahwa buah itu juga membutuhkan waktu. Ia mengatakan bahwa seluruh ciptaan sedang mengeluh seperti seorang ibu yang sedang melahirkan. Tidak ada kelahiran tanpa perjuangan. Tidak ada panen tanpa penantian. Begitu pula kehidupan rohani. Ada saat-saat kita merasa doa belum dijawab, pelayanan belum membuahkan hasil, atau perjuangan melawan dosa terasa berat. Jangan putus asa. Benih yang ditanam hari ini tidak langsung menjadi pohon esok hari. Allah sedang bekerja dalam waktu-Nya. Yang diminta dari kita adalah tetap setia, tetap berharap, dan tetap membuka hati.

    Saudara-saudari terkasih, hari ini Tuhan tidak pertama-tama bertanya, "Berapa banyak Sabda yang sudah kamu dengar?" Tuhan bertanya, "Apakah hatimu menjadi tanah yang gembur bagi Sabda-Ku?" Tanah yang gembur adalah hati yang rendah hati, mau diajar, mau bertobat, mau diubah, dan mau melaksanakan kehendak Tuhan. Bila hati kita seperti itu, Firman Allah pasti menghasilkan buah yang nyata: kasih yang semakin besar, pengampunan yang semakin tulus, kejujuran yang semakin kokoh, damai yang semakin mendalam, pelayanan yang semakin murah hati, dan kekudusan yang semakin bertumbuh.

    Maka marilah kita pulang hari ini dengan penuh harapan. Jangan takut bila proses pertumbuhan terasa lambat. Jangan berkecil hati bila hasilnya belum langsung terlihat. Percayalah pada janji Tuhan: Firman-Nya tidak pernah kembali dengan sia-sia. Biarkan Allah terus menggemburkan hati kita, mengairinya dengan rahmat-Nya, dan menumbuhkan benih Sabda di dalamnya. Pada waktunya nanti, hidup kita pun akan menjadi ladang yang penuh panen, menghasilkan buah yang berlimpah—tiga puluh, enam puluh, bahkan seratus kali lipat—demi kemuliaan Allah dan keselamatan banyak orang.

    Amin.

    5 Juli 2026 - Hari Minggu Biasa XIV | Tahun A/II

    Bacaan I :  Za. 9:9-10
    Bacaan II :  Rm. 8:9,11-13
    Bacaan Injil : Mat. 11:25-30

    Bukan Beban yang Diangkat, tetapi Hati yang Diubah

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Jika hari ini saya bertanya, "Apa yang paling sering kita minta dalam doa?" barangkali banyak dari kita akan menjawab: kesehatan, rezeki, kesembuhan, jalan keluar dari masalah, atau agar Tuhan mengangkat beban hidup kita. Seorang ibu berdoa agar beban keluarganya diangkat. Seorang ayah berdoa agar kesulitan ekonominya segera selesai. Orang yang sakit memohon agar penyakitnya disembuhkan. Orang yang sedang menghadapi persoalan memohon agar masalahnya segera berlalu. Semua doa itu baik. Namun, kalau kita mendengarkan Injil hari ini dengan saksama, kita akan menemukan sesuatu yang sangat menarik. Yesus tidak berkata, "Marilah kepada-Ku dan Aku akan menghilangkan semua bebanmu." Yang dijanjikan Yesus justru adalah, "Marilah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu." Yang dijanjikan bukanlah hidup tanpa beban, melainkan hati yang memperoleh kelegaan.

    Apa bedanya? Beban bisa saja tetap ada, tetapi hati kita berubah. Salib mungkin belum diangkat, tetapi kita tidak lagi berjalan sendirian. Persoalan hidup mungkin belum selesai, tetapi kita tidak lagi dikuasai oleh ketakutan. Itulah sebabnya sesudah berkata, "Aku akan memberikan kelegaan," Yesus langsung melanjutkan, "Pikullah kuk yang Kupasang." Yesus tidak menghapus salib kehidupan. Bahkan Ia mengajak kita memikul kuk bersama-Nya. Mengapa kuk itu menjadi ringan? Karena kuk itu tidak lagi dipikul sendirian. Sebelum kita memikul salib, Kristus telah lebih dahulu memikulnya. Sebelum kita menderita, Kristus telah lebih dahulu menderita. Ketika kita berjalan bersama-Nya, beban yang sama terasa berbeda karena kasih-Nya menopang kita.

    Lalu bagaimana memperoleh kelegaan itu? Jawaban Yesus sangat sederhana tetapi sangat mendalam: "Belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati." Inilah sekolah Yesus. Belajar kepada Yesus berarti belajar menghadapi hidup tanpa kesombongan, Dia melayani tanpa mencari pujian, Dia memikul tanggung jawab tanpa mengeluh, Dia mengampuni tanpa menghitung-hitung, dan tetap percaya ketika jalan hidup menjadi berat. Orang yang rendah hati tidak merasa harus menguasai semuanya. Ia tahu kapan harus berjuang dan kapan harus menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Orang yang lemah lembut bukan orang yang lemah, melainkan orang yang kuat karena mampu mengendalikan dirinya dan tetap mengasihi ketika disakiti.

    Bacaan pertama dari Nabi Zakharia memberikan gambaran yang sangat indah tentang Yesus. Nabi Zakharia menubuatkan bahwa Sang Raja yang dinantikan tidak datang dengan kereta perang, pasukan berkuda, atau senjata. Ia datang dengan menunggang seekor keledai, lambang kerendahan hati dan kedamaian. Nubuat tadi terpenuhi dlm diri Yesus yang menunjukkan bahwa kekuatan sejati lahir dari kerendahan hati.

    Santo Paulus dalam bacaan kedua menambahkan bahwa kita dipanggil hidup menurut Roh, bukan menurut keinginan daging. Hidup menurut Roh berarti membiarkan Roh Kudus membentuk hati kita menjadi seperti hati Kristus. Ketika hati berubah, cara kita memandang masalah pun berubah. Yang dahulu terasa mustahil mulai dapat dijalani. Yang dahulu membuat kita putus asa kini menjadi kesempatan untuk semakin dekat kepada Tuhan. Yang dulu terasa pahit dan kita hindarkan, sekarang menjadi manis.

    Saudara-saudari terkasih, sering kali kita salah arah dalam berdoa. Kita lebih sibuk meminta agar Tuhan mengubah keadaan daripada meminta agar Tuhan mengubah diri kita. Kita meminta agar salib segera diangkat, padahal mungkin Tuhan ingin memakai salib itu untuk membentuk hati kita. Kita meminta agar persoalan segera selesai, padahal Tuhan sedang mengajar kita menjadi lebih sabar, lebih rendah hati, lebih percaya, dan lebih mengasihi. Kadang-kadang mukjizat terbesar bukanlah berubahnya keadaan, melainkan berubahnya hati manusia. Ketika hati berubah, kita mulai melihat bahwa Tuhan ternyata tidak pernah meninggalkan kita.

    Karena itu, mulai hari ini marilah kita memperbarui doa-doa kita. Jangan hanya berkata, "Tuhan, hilangkanlah bebanku." Tetapi berdoalah, "Tuhan, berilah aku hati seperti hati-Mu." Berilah aku kerendahan hati untuk menerima apa yang tidak dapat kuubah. Berilah aku kelemahlembutan untuk menghadapi orang-orang yang sulit. Berilah aku kesabaran untuk memikul tanggung jawab. Berilah aku iman untuk tetap percaya ketika jalan hidup terasa gelap. Sebab ketika kita belajar dari hati Yesus, beban tidak selalu berubah, tetapi kita yang berubah. Hati menjadi lebih damai, langkah menjadi lebih ringan, dan jiwa menemukan kelegaan yang dijanjikan-Nya.

    Marilah kita masuk ke sekolah Yesus setiap hari melalui doa, Ekaristi, Sabda Tuhan, dan pelayanan kasih. Di sanalah kita belajar memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati. Dan ketika hati kita semakin menyerupai hati Kristus, kita akan mengalami sendiri kebenaran sabda-Nya: "Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." Bukan karena hidup menjadi tanpa salib, tetapi karena Kristus memikul salib itu bersama kita. Itulah kelegaan sejati. Itulah damai yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Dan itulah sukacita yang tidak dapat dirampas oleh siapa pun. Amin.

    28 Juni 2026 - Hari Minggu Biasa XIII | Tahun A/II

    Bacaan I : 2Raj. 4:8-11,14-16a
    Bacaan II :  Rm. 6:3-4,8-11
    Bacaan Injil : Mat. 10:37-42

    Mengutamakan Kristus, Menghadirkan Kasih dalam Hal-Hal Kecil

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Sabda Tuhan hari ini menunjukkan bahwa kasih sejati selalu menuntut pilihan. Yesus berkata, "Barangsiapa mengasihi ayah atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku." Perkataan ini bukan berarti Yesus menyuruh kita mengurangi kasih kepada keluarga. Sebaliknya, Yesus sedang mengajarkan urutan kasih. Bila Kristus menjadi yang pertama, kita justru akan semakin mampu mengasihi keluarga, sahabat, dan sesama dengan kasih yang benar. Tetapi bila sesuatu atau seseorang menggantikan tempat Allah, maka kasih kita mudah berubah menjadi keterikatan, egoisme, atau bahkan penyembahan terhadap manusia.

    Bacaan pertama memberikan contoh yang indah tentang kasih yang diwujudkan dalam tindakan. Perempuan Sunem mengenali Elisa sebagai abdi Allah. Ia tidak hanya mengaguminya, tetapi menyediakan makanan, bahkan membangun sebuah kamar kecil lengkap dengan tempat tidur, meja, kursi, dan pelita agar Elisa dapat beristirahat setiap kali melewati daerahnya. Keramahtamahan yang sederhana itu ternyata menjadi jalan datangnya berkat Allah. Dari tindakan kecil lahirlah mukjizat besar: keluarga yang lama tidak mempunyai anak akhirnya menerima anugerah seorang putra. Sabda Tuhan mengajarkan bahwa kasih kepada Allah selalu menemukan bentuk konkretnya dalam pelayanan kepada orang lain.

    Rasul Paulus kemudian membawa kita lebih dalam lagi. Dalam surat kepada jemaat di Roma, ia mengatakan bahwa melalui Baptisan kita telah dipersatukan dengan wafat dan kebangkitan Kristus. Artinya, hidup Kristen bukan sekadar memperbaiki perilaku, melainkan menerima hidup yang baru. Manusia lama yang dikuasai dosa dipanggil mati bersama Kristus, supaya lahir manusia baru yang hidup bagi Allah. Karena itu mengutamakan Kristus bukan sekadar keputusan sesaat, melainkan cara hidup setiap hari. Kita belajar mematikan kesombongan, egoisme, kebencian, dan kepentingan diri, agar kasih Kristus semakin nyata dalam diri kita.

    Injil hari ini kemudian menunjukkan bahwa kasih kepada Kristus selalu membawa salib. "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak layak bagi-Ku." Salib bukan pertama-tama penderitaan yang dicari-cari, melainkan kesediaan tetap setia ketika kesetiaan itu menuntut pengorbanan. Seorang ayah yang bekerja keras demi keluarganya dengan jujur, seorang ibu yang setia merawat anak-anaknya, seorang imam atau biarawan yang tetap setia pada panggilannya, seorang pegawai yang menolak korupsi meskipun dirugikan—semuanya sedang memanggul salib demi Kristus. Justru di situlah kasih menjadi nyata.

    Namun menariknya, setelah berbicara tentang salib, Yesus langsung berbicara tentang segelas air putih. Seolah-olah Yesus ingin mengatakan bahwa kesetiaan kepada-Nya tidak selalu diwujudkan dalam tindakan-tindakan besar. Memberikan segelas air kepada seorang murid, menyambut seorang tamu, mengunjungi orang sakit, mendengarkan orang yang sedang berduka, menghibur yang putus asa, menyapa dengan ramah, memaafkan kesalahan kecil—semuanya mempunyai nilai kekal di hadapan Allah. Tidak ada kasih yang terlalu kecil bila dilakukan demi Kristus.

    Inilah kabar gembira bagi kita. Banyak orang berpikir bahwa menjadi kudus harus melakukan hal-hal luar biasa. Padahal sebagian besar hidup kita justru terdiri dari hal-hal kecil. Santo Fransiskus dari Assisi pernah mengajarkan bahwa kasih dibuktikan lebih oleh perbuatan daripada oleh kata-kata. Demikian pula Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus menunjukkan bahwa "jalan kecil" penuh kasih dapat membawa seseorang kepada kekudusan. Allah tidak hanya melihat besarnya pekerjaan kita, tetapi terutama besarnya kasih yang mendorong pekerjaan itu.

    Saudara-saudari terkasih, benang merah seluruh bacaan hari ini sangat jelas. Allah yang setia telah memberi kita hidup baru melalui Kristus. Kini kita dipanggil menanggapi kasih itu dengan menempatkan Kristus sebagai prioritas utama, memanggul salib dengan setia, dan menghadirkan kasih dalam tindakan-tindakan sederhana setiap hari. Semoga setiap orang yang berjumpa dengan kita dapat merasakan keramahan seperti yang diberikan perempuan Sunem, mengalami perhatian sekecil "segelas air" yang disebut Yesus, dan melihat bahwa hidup baru dalam Kristus sungguh nyata melalui cara kita mengasihi. Amin.

    21 Juni 2026 - Hari Minggu Biasa XII | Tahun A/II

    Bacaan I : Yer. 20:10-13
    Bacaan II : Rm. 5:12-15
    Bacaan Injil : Mat. 10:26-33

    Jangan Takut, Sebab Kamu Sangat Berharga di Mata Allah

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Salah satu pengalaman paling manusiawi adalah rasa takut. Kita takut kehilangan kesehatan, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita cintai, kehilangan masa depan, kehilangan nama baik, bahkan kadang-kadang takut mempertahankan iman kita sendiri. Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi menyimpan banyak ketakutan di dalam hati. Karena itu sangat menarik bahwa dalam Injil hari ini Yesus berulang kali mengucapkan kalimat yang sama: “Jangan takut.” Rupanya Tuhan tahu bahwa salah satu pertempuran terbesar manusia bukanlah melawan dunia di luar, melainkan melawan ketakutan di dalam dirinya sendiri.

    Bacaan pertama memperlihatkan pengalaman Nabi Yeremia. Ia bukan nabi yang hidup nyaman. Ia diejek, ditolak, diawasi, bahkan dicari-cari kesalahannya. Orang-orang di sekelilingnya menunggu saat kejatuhannya. Secara manusiawi, Yeremia memiliki banyak alasan untuk takut. Namun yang mengagumkan, Yeremia tidak menyerahkan hidupnya kepada ketakutan itu. Ia menyerahkan perkaranya kepada Tuhan. Ia berkata bahwa Tuhanlah yang menyelidiki hati dan batin manusia. Yeremia mengajarkan kepada kita bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki ketakutan. Keberanian berarti membawa ketakutan itu kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan menjadi hakim terakhir atas hidup kita.

    Pengalaman yang sama juga dialami oleh para murid Yesus. Ketika Yesus mengutus mereka, Ia tidak menjanjikan hidup yang mudah. Ia tidak mengatakan bahwa semua orang akan menerima mereka. Sebaliknya, mereka akan mengalami penolakan, ejekan, bahkan penganiayaan. Injil tidak menjanjikan bahwa orang beriman akan bebas dari masalah. Yang dijanjikan Yesus adalah bahwa iman dapat bertahan di tengah masalah. Yang dijanjikan bukan hilangnya badai, melainkan kehadiran Tuhan di dalam badai itu.

    Karena itu Yesus berkata:

    Jangan takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa.

    Kalimat ini mengubah cara pandang kita. Sering kali kita terlalu takut kehilangan hal-hal yang sementara, tetapi kurang takut kehilangan hal-hal yang kekal. Kita takut kehilangan uang, tetapi tidak takut kehilangan integritas. Kita takut kehilangan jabatan, tetapi tidak takut kehilangan hati nurani. Kita takut ditolak manusia, tetapi tidak takut menjauh dari Tuhan. Yesus mengajak kita menata kembali urutan nilai hidup. Kebenaran Allah lebih besar daripada opini manusia. Keselamatan jiwa lebih berharga daripada kenyamanan sesaat.

    Lalu Yesus memberikan gambaran yang sangat indah:

    “Bukankah dua ekor burung pipit dijual dengan satu duit? Namun seekor pun tidak akan jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan Bapamu.”

    Dan sesudah itu Yesus menambahkan:

    “Kamu jauh lebih berharga daripada banyak burung pipit.”

    Inilah dasar terdalam mengapa orang beriman tidak perlu hidup dalam ketakutan. Kita tidak hidup di dunia yang dikuasai nasib atau kebetulan. Kita hidup di bawah penyelenggaraan Bapa. Jika Tuhan memperhatikan burung pipit yang kecil, apalagi anak-anak-Nya. Jika Tuhan mengetahui rambut di kepala kita, apalagi air mata yang kita sembunyikan. Kita mungkin tidak selalu mengerti jalan Tuhan, tetapi kita dapat selalu mempercayai hati-Nya.

    Bacaan kedua dari Surat Roma memperdalam keyakinan itu. Santo Paulus menjelaskan bahwa dosa memang masuk ke dalam dunia melalui manusia, dan bersama dosa datanglah penderitaan, ketakutan, dan kematian. Namun kasih karunia Kristus jauh lebih besar daripada dosa. Jika dosa mampu melukai manusia, rahmat Kristus mampu memulihkan manusia. Jika dosa membawa ketakutan, Kristus membawa pengharapan. Jika kematian tampak berkuasa, Kristus telah mengalahkannya melalui kebangkitan-Nya. Karena itu keberanian iman bukan lahir dari kekuatan kita sendiri, melainkan dari keyakinan bahwa Kristus telah menang.

    Saudara-saudari terkasih, dunia kita hari ini dipenuhi oleh ketakutan. Orang takut akan masa depan ekonomi, takut akan konflik sosial, takut akan penyakit, takut akan kegagalan, bahkan takut untuk menyatakan imannya secara terbuka. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita berdiri teguh. Kebenaran Allah pada akhirnya akan muncul ke terang. Kasih Allah lebih kuat daripada ancaman manusia. Penyelenggaraan Allah lebih besar daripada kecemasan kita. Karena itu marilah kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan seperti Yeremia, mengakui Kristus di hadapan manusia dengan berani, dan percaya bahwa kita sangat berharga di mata Allah. Sebab orang yang menjadikan Tuhan sebagai pusat pengharapannya akan menemukan damai yang tidak dapat dirampas oleh ketakutan apa pun. Amin.

    14 Juni 2026 - Hari Minggu Biasa XI | Tahun A/II

    Bacaan I : Kel. 19:2-6a
    Bacaan II : Rm. 5:6-11
    Bacaan Injil : Mat. 9:36-10:8

    Dikasihi, Diperdamaikan, dan Diutus

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Manusia didefinisikan bukan berdasarkan apa yang dia miliki, tetapi berdasarkan Siapa yang memilikinya. Dalam hidup ini kita sering mendefinisikan diri berdasarkan pekerjaan, jabatan, pendidikan, atau keberhasilan yang kita miliki. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melihat identitas yang lebih mendasar. Siapakah kita di hadapan Allah? Bacaan-bacaan hari ini memberikan jawaban yang sangat indah: kita adalah umat yang dikasihi Allah, diperdamaikan oleh Kristus, dan diutus untuk menghadirkan kasih-Nya kepada dunia. Inilah identitas terdalam setiap orang beriman.

    Dalam bacaan pertama, Allah mengingatkan bangsa Israel: “Aku telah membawa kamu di atas kepak sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku.” Sebelum memberi hukum dan perintah, Allah terlebih dahulu menyelamatkan mereka. Sebelum menuntut kesetiaan, Allah lebih dahulu menunjukkan kasih-Nya. Karena itu Israel disebut sebagai “milik kesayangan Allah” dan “bangsa yang kudus.” Demikian pula hidup kita. Kita ada bukan pertama-tama karena kekuatan atau kemampuan kita sendiri, melainkan karena kasih Allah yang menopang, membimbing, dan memelihara kita sepanjang perjalanan hidup.

    Kasih Allah itu mencapai puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Santo Paulus berkata dalam bacaan kedua bahwa Kristus mati untuk kita ketika kita masih lemah dan berdosa. Allah tidak menunggu kita menjadi baik untuk mengasihi kita. Ia lebih dahulu datang mencari kita. Ia mendamaikan kita ketika kita masih jauh dari-Nya. Inilah inti Injil: keselamatan adalah anugerah, bukan prestasi. Kita hidup bukan karena layak dicintai, tetapi karena Allah memilih untuk mencintai kita tanpa syarat.

    Orang yang sungguh menyadari dirinya dicintai Allah akan mengalami perubahan cara hidup. Ia tidak lagi harus mencari harga dirinya dari kekayaan, jabatan, atau pujian manusia. Ia tidak lagi hidup dari ketakutan dan kecemasan. Sebaliknya, ia hidup dari rasa syukur. Ia sadar bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah anugerah. Dari hati yang bersyukur lahirlah belas kasih kepada sesama. Orang yang merasa dirinya telah diampuni akan lebih mudah mengampuni. Orang yang merasa dirinya dicintai akan lebih mudah mencintai.

    Karena itu dalam Injil kita melihat Yesus memandang orang banyak dan hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Mereka seperti domba yang tidak bergembala. Yesus melihat penderitaan, kebingungan, dan kehilangan arah yang dialami manusia. Dari belas kasih itulah lahir perutusan. Ia memanggil para murid dan mengutus mereka untuk menyembuhkan, meneguhkan, dan mewartakan Kerajaan Allah. Gereja lahir bukan dari ambisi manusia, tetapi dari hati Yesus yang berbelaskasih kepada dunia.

    Lalu Yesus memberikan prinsip yang menjadi dasar seluruh pelayanan Gereja: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Segala sesuatu yang paling berharga dalam hidup kita sesungguhnya kita terima secara cuma-cuma: hidup, iman, kasih, pengampunan, dan keselamatan. Karena itu hidup Kristiani tidak boleh berhenti pada menerima. Kita dipanggil menjadi saluran rahmat. Kasih yang kita terima harus menjadi kasih yang dibagikan. Penghiburan yang kita terima harus menjadi penghiburan bagi orang lain. Rahmat yang kita terima harus menjadi berkat bagi dunia.

    Maka pada Minggu ini Sabda Tuhan mengajak kita mengingat kembali identitas kita yang paling dalam. Kita adalah umat yang dikasihi Allah. Kita adalah orang-orang yang telah diperdamaikan oleh darah Kristus. Dan kita adalah murid-murid yang diutus untuk menghadirkan belas kasih-Nya kepada dunia. Semoga setiap orang yang berjumpa dengan kita dapat merasakan sedikit dari kasih Kristus. Sebab Gereja yang sejati bukanlah Gereja yang hanya berkumpul untuk berdoa, tetapi Gereja yang keluar untuk melayani; Gereja yang bersukacita karena dikasihi, hidup karena diperdamaikan, dan bergerak karena diutus. Amin.

    Hari Raya Tubuh dan Darah Kritus 07 Juni 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Ulangan 8:2-3.14b-16a
    Bacaan II : 1 Korintus 10:16-17
    Bacaan Injil : Yohanes 6:51-58

    “Allah Memberi Roti Agar Manusia Tinggal di Dalam Kristus”

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Banyak orang melihat Ekaristi sebagai sebuah ritual yang dilakukan setiap Minggu. Ada pula yang melihatnya sebagai kenangan akan Perjamuan Terakhir. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita masuk lebih dalam. Benang merah seluruh bacaan adalah ini: Allah memberi roti agar manusia tinggal di dalam Dia. Sejak awal sejarah keselamatan, Allah selalu memberi makan umat-Nya, bukan sekadar untuk menghilangkan lapar jasmani, tetapi untuk membawa mereka masuk ke dalam persekutuan hidup dengan-Nya.

    Dalam bacaan pertama, Musa mengingatkan bangsa Israel tentang perjalanan mereka di padang gurun. Selama empat puluh tahun mereka mengalami lapar, kehausan, dan ketidakpastian. Namun justru di tengah situasi itu Allah memberi manna dari surga. Musa menjelaskan bahwa Allah melakukan semuanya itu agar umat memahami satu kebenaran besar:

    “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan.” Allah ingin membebaskan umat-Nya dari ilusi bahwa hidup bergantung pada kekuatan, kekayaan, atau kemampuan manusia semata. Manna menjadi sekolah iman. Setiap hari mereka belajar bahwa hidup adalah anugerah dan bahwa Allah sendirilah sumber kehidupan mereka.

    Mazmur tanggapan melanjutkan tema yang sama. Pemazmur memuji Tuhan yang memberi damai, memberi gandum terbaik, dan mengutus Sabda-Nya ke seluruh bumi. Dalam tradisi Gereja, gandum dan Sabda ini selalu dipandang sebagai gambaran Ekaristi. Sebelum umat menerima Tubuh Kristus, mereka terlebih dahulu mendengarkan Sabda Kristus. Meja Sabda dan Meja Ekaristi tidak pernah dipisahkan. Allah memberi makan umat-Nya melalui Sabda dan Sakramen. Ia tidak hanya mengajar dari jauh, tetapi memberi diri-Nya sendiri sebagai santapan bagi umat-Nya.

    Dalam bacaan kedua, Santo Paulus membawa kita lebih jauh lagi. Ia bertanya:

    “Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan Tubuh Kristus?” Ekaristi bukan hanya soal hubungan pribadi antara saya dan Tuhan. Ekaristi membentuk Gereja. Karena roti itu satu, maka kita yang banyak menjadi satu tubuh. Di altar, segala perbedaan status, suku, bahasa, jabatan, dan kekayaan dipersatukan dalam Kristus. Maka tidak mungkin seseorang menerima Tubuh Kristus tetapi tetap memelihara kebencian, perpecahan, atau ketidakpedulian terhadap sesama. Komuni dengan Kristus harus menghasilkan komunio dengan saudara-saudari kita.

    Puncaknya terdapat dalam Injil Yohanes. Yesus berkata:

    “Akulah roti hidup yang turun dari surga.” Dan lebih tegas lagi: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” Inilah salah satu pernyataan paling radikal dalam seluruh Injil. Yesus tidak berkata bahwa Ekaristi hanya lambang atau kenangan. Ia berbicara tentang sebuah persekutuan yang nyata dan mendalam. Tujuan Ekaristi bukan sekadar agar kita menerima Kristus, melainkan agar kita tinggal dalam Kristus dan Kristus tinggal dalam diri kita. Dalam bahasa Yohanes, “tinggal” berarti hidup dalam relasi yang tetap, mendalam, dan mengubah seluruh keberadaan kita.

    Karena itu Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus bukan hanya perayaan tentang roti dan anggur yang dikonsekrir. Ini adalah perayaan tentang Allah yang memberikan diri-Nya sepenuhnya kepada manusia. Dalam Ekaristi, Kristus yang wafat dan bangkit terus hadir sebagai kurban keselamatan, sebagai kehadiran nyata, dan sebagai persekutuan yang mengubah hidup. Ia tidak hanya memberi sesuatu kepada kita. Ia memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. Tidak ada agama lain yang memiliki misteri kasih seperti ini: Allah menjadi santapan bagi umat-Nya agar umat-Nya mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri.

    Namun pertanyaan penting bagi kita adalah: apakah kita sungguh tinggal di dalam Kristus setelah menerima Komuni Kudus? Banyak orang menerima Ekaristi setiap Minggu, tetapi tetap hidup seolah-olah Kristus tidak hadir dalam dirinya. Mereka menerima Tubuh Kristus di altar, tetapi tidak menjadi tubuh Kristus bagi sesamanya. Mereka makan roti surgawi, tetapi tidak membagikan kasih surgawi. Padahal Ekaristi selalu mengandung perutusan. Kita menerima Kristus agar kita menjadi kehadiran Kristus di tengah dunia. Kita diberi makan agar mampu memberi makan mereka yang lapar akan kasih, pengampunan, keadilan, perhatian, dan pengharapan.

    Di dunia saat ini, banyak orang mengalami kelaparan yang lebih dalam daripada kelaparan fisik. Ada yang lapar akan makna hidup, lapar akan kasih sayang, lapar akan pengampunan, lapar akan persaudaraan, dan lapar akan harapan. Ada keluarga yang retak, orang muda yang kehilangan arah, masyarakat yang terpecah oleh kebencian, dan banyak orang yang merasa sendirian. Maka setelah menerima Tubuh dan Darah Kristus, kita diutus untuk menjadi roti yang dipecah-pecahkan bagi sesama. Seperti Kristus memberikan diri-Nya bagi dunia, demikian pula kita dipanggil memberikan waktu, perhatian, kemampuan, dan kasih kita bagi orang lain.

    Saudara-saudari terkasih,

    Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan kita bahwa Allah memberi roti bukan hanya untuk mengenyangkan manusia, tetapi agar manusia tinggal di dalam Dia. Dari manna di padang gurun, gandum terbaik dalam mazmur, roti yang satu dalam surat Paulus, hingga Roti Hidup dalam Injil Yohanes, semuanya menunjuk kepada Kristus. Karena itu marilah kita datang kepada Ekaristi bukan sekadar sebagai kewajiban Minggu, melainkan sebagai perjumpaan dengan Kristus yang hidup. Dan setelah menerima-Nya, marilah kita pergi untuk menjadi roti kasih bagi dunia yang lapar akan Allah. Sebab tujuan akhir Ekaristi bukan hanya agar Kristus hadir di altar, tetapi agar Kristus hidup dalam diri kita dan melalui kita menjangkau dunia. Amin.

    Hari Raya Tritunggal Mahakudus 31 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Keluaran 34:4b-6.8-9
    Bacaan II : 2 Korintus 13:11-13
    Bacaan Injil : Yohanes 3:16-18

    Allah adalah Kasih yang Hadir, Menyelamatkan, dan Mempersatukan

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
    Hari Raya Tritunggal Mahakudus sering kali dianggap sebagai salah satu misteri iman yang paling sulit dipahami. Bagaimana mungkin Allah satu tetapi tiga pribadi? Bagaimana mungkin Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah satu Allah? Sepanjang sejarah, para teolog telah berusaha menjelaskan misteri ini, tetapi pada akhirnya Tritunggal bukan pertama-tama sebuah rumus matematika yang harus dipecahkan, melainkan sebuah pengalaman iman yang harus dihayati. Hari ini Gereja tidak mengajak kita menghitung pribadi-pribadi Allah, melainkan mengenal siapa Allah yang menyatakan diri kepada manusia. Dan menariknya, ketiga bacaan hari ini memperlihatkan satu benang merah yang sangat jelas: Allah Tritunggal adalah Allah yang kasih-Nya selalu mengalir kepada manusia.

    Dalam bacaan pertama, Musa mengalami Allah bukan sebagai penguasa yang menakutkan, melainkan sebagai Allah yang penuh belas kasih. Ketika bangsa Israel baru saja jatuh ke dalam dosa penyembahan anak lembu emas, Musa naik kembali ke gunung Sinai. Di sana Tuhan memperkenalkan diri-Nya:
    “Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia.” (Kel. 34:6)

    Inilah salah satu pernyataan terindah tentang Allah dalam seluruh Perjanjian Lama. Allah yang dikenal Musa bukan Allah yang mudah marah dan menghukum, melainkan Allah yang tetap setia bahkan ketika umat-Nya tidak setia. Allah yang pertama-tama bukan menunjukkan kekuasaan-Nya, tetapi menunjukkan belas kasih-Nya. Dengan kata lain, inti terdalam identitas Allah adalah kasih. Musa menemukan bahwa di balik hukum-hukum, perintah-perintah, dan kuasa ilahi, terdapat hati Allah yang penuh belas kasih terhadap manusia.

    Pemahaman ini semakin diperdalam oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Menjelang akhir suratnya kepada jemaat Korintus yang penuh konflik dan perpecahan, Paulus tidak menekankan aturan atau hukuman. Sebaliknya ia berkata:
    “Hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu.” (2Kor. 13:11)

    Perhatikan ungkapan Paulus: Allah sumber kasih dan damai sejahtera. Allah bukan hanya memiliki kasih; Allah adalah sumber kasih itu sendiri. Karena itu orang yang sungguh mengenal Allah harus menjadi pembawa kasih dan damai. Paulus mengajak umat Korintus untuk sehati sepikiran, hidup dalam persaudaraan, dan mengatasi perpecahan. Mengapa? Karena hidup dalam kasih dan damai merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menjadi anak-anak Allah. Tidak mungkin seseorang mengaku mengenal Allah Tritunggal tetapi hidup dalam kebencian, iri hati, permusuhan, atau perpecahan.

    Puncak pewahyuan tentang Allah itu kita temukan dalam Injil Yohanes hari ini. Barangkali inilah ayat yang paling terkenal dalam seluruh Kitab Suci:
    “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.” (Yoh. 3:16)
    Di sini Yohanes membawa kita masuk ke dalam jantung misteri Tritunggal. Allah bukan sekadar mengasihi; Allah adalah kasih. Dan kasih sejati selalu memberi diri. Karena itu Bapa mengaruniakan Putra-Nya. Putra menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia. Roh Kudus dicurahkan agar manusia dapat mengambil bagian dalam kehidupan ilahi itu. Seluruh karya keselamatan adalah gerakan kasih Allah yang terus mengalir keluar menuju manusia.

    Jika dalam Perjanjian Lama Musa mengenal Allah sebagai penyayang dan pengasih, maka dalam Yesus manusia melihat kasih itu dalam bentuk yang paling nyata. Dalam perkataan-Nya, dalam mukjizat-mukjizat-Nya, dalam pengampunan-Nya kepada orang berdosa, dalam perhatian-Nya kepada orang miskin dan tersingkir, hingga akhirnya dalam wafat-Nya di salib, Yesus memperlihatkan wajah Allah yang sesungguhnya: wajah kasih.

    Karena itu Hari Raya Tritunggal Mahakudus bukan terutama perayaan tentang teori Allah, tetapi tentang kehidupan Allah sendiri.
    Allah yang kita imani bukan pribadi yang hidup sendirian dalam kesunyian ilahi. Allah adalah persekutuan kasih: Bapa mengasihi Putra, Putra mengasihi Bapa, dan kasih itu dipersatukan dalam Roh Kudus. Para Bapa Gereja sering menyebut Tritunggal sebagai communio amoris, persekutuan kasih. Maka ketika manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, manusia pun dipanggil untuk hidup dalam relasi kasih, bukan dalam egoisme dan keterasingan. Itulah sebabnya dosa selalu memecah-belah, sedangkan kasih selalu mempersatukan.

    Pesan ini sangat relevan bagi dunia kita saat ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin terhubung oleh teknologi, tetapi sering kali semakin terpecah secara sosial. Banyak keluarga kehilangan komunikasi. Banyak komunitas terbelah oleh perbedaan politik, suku, agama, atau kepentingan ekonomi. Bahkan media sosial sering menjadi tempat pertengkaran dan saling menjatuhkan. Dunia mengalami krisis relasi karena kehilangan sumber kasih yang sejati. Hari Raya Tritunggal mengingatkan kita bahwa manusia hanya menemukan identitasnya ketika hidup dalam kasih. Kita tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Kita diciptakan untuk membangun persekutuan, saling menerima, saling mengampuni, dan saling menguatkan.

    Saudara-saudari terkasih,
    Jika Musa mengenal Allah sebagai penyayang dan pengasih, jika Paulus mengenal Allah sebagai sumber kasih dan damai sejahtera, dan jika Yohanes mewartakan Allah yang begitu mengasihi dunia hingga mengaruniakan Putra-Nya, maka pertanyaan bagi kita adalah: apakah wajah Allah itu tampak dalam hidup kita? Apakah keluarga kita menjadi tempat kasih bertumbuh? Apakah komunitas kita menjadi ruang damai sejahtera? Apakah Gereja kita menjadi cerminan persekutuan kasih Tritunggal? Sebab orang tidak dapat melihat Allah secara langsung, tetapi mereka dapat melihat pantulan kasih Allah dalam hidup umat-Nya.

    Maka pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, marilah kita memohon agar Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus membentuk hidup kita menurut citra-Nya sendiri. Semoga kita semakin menjadi pribadi yang penuh belas kasih seperti Bapa, semakin rela memberi diri seperti Putra, dan semakin menjadi pembawa damai serta pemersatu seperti Roh Kudus. Dengan demikian, melalui hidup kita, dunia dapat mengalami bahwa Allah yang kita imani sungguh adalah Allah yang hidup, Allah yang hadir, dan Allah yang adalah Kasih. Amin.

    Hari Minggu Pentakosta 24 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 2:1-11
    Bacaan II :  1Kor. 12:3b-7,12-13
    Bacaan Injil : Yoh. 20:19-23

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai dan sukacita Pentakosta memenuhi hati kita.

    Hari Raya Pentakosta adalah hari kelahiran Gereja. Tetapi Gereja lahir bukan pertama-tama dari organisasi, aturan, atau kekuatan manusia. Gereja lahir dari transformasi hati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Dalam Injil hari ini, para murid berada dalam keadaan takut, tertutup, kecewa, dan kehilangan arah. Mereka mengunci pintu karena takut kepada dunia di luar mereka. Mereka adalah komunitas yang terluka. Namun justru kepada murid-murid yang terluka itulah Yesus Kristus datang, berdiri di tengah mereka, dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu.”

    Saudara-saudari terkasih,
    Sesudah itu Yesus melakukan sesuatu yang sangat mendalam: Ia menghembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” Yesus memberikan Roh yang hidup dalam diri-Nya sendiri: Roh cinta, Roh damai, Roh pengampunan, dan Roh keberanian. Inilah awal transformasi para murid. Mereka yang sebelumnya takut perlahan berubah menjadi berani. Mereka yang tertutup mulai terbuka. Mereka yang terluka mulai dipulihkan. Roh Kudus mengubah hati mereka dari dalam.

    Menarik bahwa sesudah kebangkitan-Nya, Yesus tidak menyembunyikan luka-luka salib-Nya. Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya kepada para murid. Luka itu tetap ada, tetapi sudah dimuliakan. Luka itu tidak lagi menjadi sumber kebencian dan penderitaan, melainkan sumber kasih dan keselamatan. Dari luka-luka itu Yesus justru membawa damai dan pengampunan. Inilah karya Roh Kudus yang sangat indah: Roh Kudus tidak selalu langsung menghapus semua luka manusia, tetapi mentransformasikannya menjadi sumber belas kasih, kebijaksanaan, dan pengharapan.

    Saudara-saudari terkasih,
    Luka adalah bagian dari hidup manusia. Ada luka karena pengkhianatan, penolakan, kehilangan, kegagalan, penghinaan, dan pengalaman pahit lainnya. Luka yang tidak disentuh Roh Kudus dapat berubah menjadi kemarahan, dendam, dan kebencian. Banyak orang hidup dengan hati yang tertutup karena takut menghadapi luka hidupnya sendiri. Tetapi Roh Kudus memberi keberanian untuk membuka luka itu di hadapan Tuhan dan membiarkan Tuhan menyembuhkannya.

    Karena itu sesudah memberikan Roh Kudus, Yesus langsung berbicara tentang pengampunan: “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni.” Seolah Yesus mau mengatakan bahwa orang yang menerima Roh-Nya harus belajar memiliki hati seperti hati-Nya sendiri: hati yang mampu mengampuni. Pengampunan bukan sekadar kemampuan manusia, tetapi buah karya Roh Kudus. Roh Kudus melembutkan hati yang keras, menyembuhkan luka batin, dan memberi keberanian untuk berdamai.

    Saudara-saudari terkasih,
    Transformasi inilah yang kemudian tampak dalam bacaan pertama. Para rasul yang dahulu takut kini mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti diilhami Roh Kudus. “Bahasa lain” di sini bukan hanya bahasa asing, tetapi bahasa baru yang lahir dari Roh Allah. Mereka mulai berbicara dengan bahasa kasih, bahasa damai, bahasa pengharapan, dan bahasa yang membangun persekutuan. Mereka tidak lagi hidup untuk diri sendiri, tetapi menjadi saksi karya besar Allah bagi dunia.

    Inilah kelahiran Gereja. Gereja lahir ketika manusia yang terluka disentuh Roh Kudus dan diubah menjadi pembawa damai dan pengharapan. Gereja lahir ketika orang mulai mampu keluar dari ego, kebencian, dan ketakutannya untuk hidup dalam kasih Kristus. Karena itu inti Pentakosta bukan pertama-tama mukjizat bahasa, tetapi transformasi hati manusia.

    Dalam bacaan kedua, Santo Paulus Rasul berkata: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus.” Roh Kudus mengarahkan hati manusia kepada Kristus dan mempersatukan Gereja dalam berbagai karunia. Ada yang diberi kemampuan mengajar, melayani, menghibur, memimpin, merawat, dan meneguhkan. Semua karunia itu diberikan bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk membangun Tubuh Kristus dalam kasih dan persatuan.

    Saudara-saudari terkasih,
    Sepanjang sejarah, Roh Kudus terus menjaga Gereja. Gereja pernah mengalami penganiayaan, perpecahan, ajaran sesat, kelemahan manusia, dan berbagai krisis zaman. Tetapi Roh Kudus tidak meninggalkan Gereja. Roh Kudus membangkitkan para kudus, para martir, dan para pewarta Injil yang terus memperbarui Gereja. Tanpa Roh Kudus, Gereja hanyalah organisasi manusia yang rapuh. Tetapi bersama Roh Kudus, Gereja tetap hidup karena Roh Kudus adalah jiwa Gereja.

    Hari ini dunia menghadapi tantangan baru: budaya kebencian, polarisasi, media sosial yang penuh kemarahan, individualisme, dan hilangnya hati manusiawi. Banyak orang terhubung lewat teknologi, tetapi semakin jauh secara batin. Karena itu dunia membutuhkan manusia Pentakosta: manusia yang dipenuhi Roh Kudus dan mampu menghadirkan wajah Kristus.

    Paus Leo XIV mengingatkan agar kita menjaga suara dan wajah tetap manusiawi. Orang yang dipenuhi Roh Kudus tidak memakai kata-katanya untuk melukai, tetapi untuk menyembuhkan. Tidak memakai hidupnya untuk memperbesar ego, tetapi untuk menghadirkan kasih Kristus bagi sesama. Roh Kudus membuat manusia kembali sungguh manusiawi menurut hati Allah.

    Saudara-saudari terkasih,
    Hari ini Yesus juga berdiri di tengah hidup kita dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.” Terimalah Roh yang mampu mentransformasikan hidupmu. Terimalah Roh yang menyembuhkan luka-lukamu. Terimalah Roh yang mengubah ketakutan menjadi keberanian, kebencian menjadi pengampunan, dan luka menjadi sumber kasih bagi sesama.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: semoga Roh Kudus memenuhi hati kita dan mentransformasikan hidup kita seperti para rasul dahulu, sehingga kita menjadi Gereja yang hidup, mengasihi, mempersatukan, dan membawa pengharapan bagi dunia.
    Sebab pada akhirnya,
    Pentakosta adalah kisah tentang manusia-manusia terluka yang disentuh Roh Kudus dan diubah menjadi Gereja yang hidup serta menjadi saksi kasih Kristus bagi dunia.
    Amin. Alleluia.

    Hari Minggu VII Paskah (Hari Komunikasi Sosial Sedunia) 17 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 1:12-14
    Bacaan II : 1Ptr. 4:13-16
    Bacaan Injil : Yoh. 17:1-11a.

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, 
    Hari ini Gereja universal merayakan Hari Komunikasi Sedunia. Menarik bahwa perayaan ini selalu ditempatkan dalam Minggu VII Paskah, sesudah Kenaikan Tuhan dan menjelang Pentakosta. Apa yang dilakukan para murid setelah Yesus naik ke surga? Dalam bacaan pertama kita mendengar bahwa setelah Yesus naik ke surga, para murid kembali ke Yerusalem dan “bertekun dengan sehati dalam doa.” Inilah gambaran pertama Gereja: Gereja yang membangun komunikasi dan persekutuan dengan Tuhan. Sebab komunikasi sejati pertama-tama bukan soal teknologi atau kata-kata, tetapi relasi dan komunio. Doa adalah komunikasi terdalam manusia dengan Allah. Dan ini jugalah kerinduan terdalam dari manusia: dimana manusia tinggal bersama-Nya, mendengarkan-Nya, dan membiarkan hati dipersatukan dengan hati-Nya.

    Mazmur hari ini mengungkapkan kerinduan itu dengan sangat indah: “Satu hal telah kuminta kepada Tuhan: diam di rumah Tuhan seumur hidupku dan menyaksikan kemurahan Tuhan.” Orang yang sungguh tinggal dalam Tuhan akan memandang dunia dengan hati yang berbeda: lebih lembut, lebih penuh belas kasih, lebih mampu melihat sesama bukan sebagai ancaman tetapi sebagai saudara. Dan hati yang dipenuhi kasih Alkah inilah diekspresikan melalui wajah. Inilah jantung komunikasi Kristen: hati yang mengalami kasih Allah lalu menghadirkan kasih itu kepada sesama melalui wajah dan suara.

    Saudara-saudari terkasih, menjaga wajah dan suara manusiawi yang sesuai dengan kehendak Allah mengandung resiko yang berat. Bacaan kedua mengingatkan bahwa bagian yang diterima para murid sebagai pengikut Kristus bukan pertama-tama kenyamanan, tetapi juga penderitaan. Santo Petrus mengatakan bahwa murid Kristus mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Kesatuan dengan Kristus berarti ikut berjalan di jalan kasih, memperjuangan kebenaran, dgn pengorbanan, dan kesetiaan. Tetapi justru melalui jalan itulah manusia masuk ke dalam kebangkitan dan kemuliaan bersama Dia. Maka komunikasi Kristen bukan komunikasi yang mencari popularitas atau kemenangan diri, tetapi komunikasi yang rela membawa damai, walaupun kadang harus menanggung kesalahpahaman atau penolakan. Manusia tergoda untuk meminjam dan memakai wajah dan suara lain, karena berat memakai wajah dan suara asli yg jadi ekspresi dari hati.

    Dalam Injil hari ini, kita meligat kesetiaan memakai wajah dan suara asli, wajah dan suara yang dipenuhi kasih Allah. Ini nampak dalam wajah dan suara Yesus. Yesus berdoa kepada Bapa: “Permuliakanlah Anak-Mu supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.” Dalam Injil Yohanes, “kemuliaan” bukan pertama-tama kejayaan duniawi, tetapi kasih Allah yang dinyatakan kepada manusia. Yesus mempermuliakan Bapa dengan menyampaikan Firman Bapa kepada dunia. Melalui Yesus, manusia melihat wajah dan mendengar suara Allah yang asli tidak rekayasa dan artifisial, yakni wajah yg penuh belas kasih. Di sinilah komunikasi mencapai puncaknya: Allah tidak hanya berbicara, tetapi memperlihatkan wajah-Nya sendiri kepada manusia melalui Yesus.

    Saudara-saudari terkasih, Pesan Pope Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sedunia tahun ini sangat sederhana tetapi mendalam: “Jagalah wajah dan suara kita tetap manusiawi.” Di tengah dunia digital dan kecerdasan buatan, Paus mengingatkan agar manusia jangan kehilangan wajah kasih, wajah empati, wajah kelembutan, dan wajah ketulusan. Jangan sampai media sosial membuat manusia memakai topeng: wajah manipulatif, wajah pencitraan, wajah amarah, wajah yang ingin menguasai dan menjatuhkan orang lain.

    Kita harus menjaga wajah kita. Wajah orang Kristen seharusnya memantulkan wajah Kristus sendiri: wajah yang berbelas kasih kepada yang terluka, wajah yang lembut kepada yang lemah, wajah yang tulus dan sederhana. Dunia digital hari ini penuh dengan wajah-wajah yang dibuat-buat dan direkayasa demi pujian, pengaruh, atau kekuasaan. Tetapi Injil memanggil kita untuk menghadirkan wajah yang jujur dan manusiawi. Sebab melalui wajah kita, orang lain seharusnya dapat merasakan kedamaian Tuhan.

    Kita juga harus menjaga suara kita. Suara seorang murid Kristus harus menjadi suara yang meneguhkan, menghibur, memberdayakan, dan memberkati. Bukan suara yang mengutuk, bukan suara yang melukai batin, bukan suara yang membingungkan dan memprovokasi. Betapa mudah hari ini orang menghina lewat komentar, menyebarkan kebencian, atau menyerang sesama dengan kata-kata kasar. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kata-kata sejati lahir dari hati yang tinggal dalam kasih Allah.

    Karena itu tantangan terbesar komunikasi zaman ini bukan kurangnya teknologi, tetapi hilangnya hati sebagai jantung persekutuan. Orang lebih sibuk membangun citra daripada membangun kebenaran. Lebih mudah menyerang daripada memahami. Lebih mudah menghakimi daripada mendengarkan. Padahal komunikasi Kristen lahir dari hati yang bersatu dengan Allah Tritunggal: Allah yang saling mendengar, saling mengasihi, dan saling memberi diri.

    Saudara-saudari terkasih, Para murid sesudah Kenaikan Tuhan tidak langsung pergi berbicara ke mana-mana. Mereka terlebih dahulu bertekun dalam doa dan persekutuan. Mereka belajar tinggal dalam Tuhan sebelum diutus mewartakan Tuhan. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita: komunikasi yang benar lahir dari hati yang berdoa, hati yang mendengarkan, hati yang mengalami kasih Allah.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar di tengah dunia yang penuh kebisingan, pencitraan, dan suara artifisial, kita tetap menjadi pribadi yang memiliki hati. Hati yang mampu mendengarkan Tuhan. Hati yang mampu merasakan penderitaan sesama. Hati yang mampu berkata benar dengan kasih. Dan hati yang mampu membangun komunio, bukan perpecahan. Semoga wajah kita tetap manusiawi—wajah yang memancarkan kasih Tuhan. Dan semoga suara kita tetap manusiawi—suara yang membawa damai, harapan, dan penghiburan.

    Sebab pada akhirnya, komunikasi Kristen bukan pertama-tama soal kemampuan berbicara, tetapi kemampuan tinggal dalam kasih Allah dan menghadirkan kasih itu kepada dunia. Amin. Alleluia.

    Hari Minggu VI Paskah - 10 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 8:5-8,14-17
    Bacaan II : 1Ptr. 3:15-18
    Bacaan Injil : Yoh. 14:15-21

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.Dalam Injil hari ini, Yesus menjanjikan sesuatu yang sangat penting kepada para murid-Nya: “Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran.” Di tengah ketakutan dan ketidakpastian para murid, Yesus tidak meninggalkan mereka sendirian. Ia menjanjikan Roh Kebenaran yang akan tinggal bersama mereka dan menuntun mereka kepada hidup yang benar.

    Namun Yesus juga memberikan satu syarat yang sangat jelas: “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Artinya, Roh Kebenaran tidak bekerja dalam hati yang tertutup terhadap kasih Allah. Murid yang mau dipimpin oleh Roh harus lebih dahulu hidup dalam kasih kepada Kristus dan membiarkan hidupnya dibentuk oleh perintah-perintah-Nya.

    Saudara-saudari terkasih, Apa itu Roh Kebenaran? Roh Kebenaran adalah Roh yang menuntun dan mengarahkan murid kepada kebenaran sejati. Tetapi Yesus sendiri sudah berkata sebelumnya: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Maka kebenaran dalam iman Kristen bukan pertama-tama konsep, bukan teori, bukan sekadar logika atau ide. Kebenaran adalah pribadi, yaitu Yesus Kristus sendiri.

    Yesus adalah pribadi yang menghadirkan Allah ke dunia. Dalam diri-Nya kita melihat Allah yang mengasihi, Allah yang mengampuni, Allah yang peduli kepada yang kecil dan terluka, Allah yang mencari yang hilang, Allah yang membawa damai, dan Allah yang membuka mata manusia akan kasih-Nya. Maka Roh Kebenaran tidak hanya membuat kita “tahu” tentang Allah, tetapi menuntun kita masuk dalam hidup Kristus sendiri.

    Saudara-saudari terkasih, Karena itu syarat untuk menerima Roh Kebenaran adalah mengasihi Yesus dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Mengapa? Karena hanya hati yang mengasihi yang mampu mengenali kebenaran itu. Orang yang hidup dalam kebencian, egoisme, dan penolakan terhadap kasih Allah akan sulit menerima terang Roh Kudus. Sebaliknya, orang yang belajar mengasihi, mengampuni, peduli, dan membawa damai sedang membuka dirinya terhadap karya Roh Kebenaran.

    Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Roh Kudus bekerja dalam Gereja perdana. Ketika Injil diberitakan di Samaria, banyak orang mengalami sukacita besar. Mengapa? Karena Roh Allah menghadirkan kebenaran yang membebaskan dan memulihkan hidup manusia. Di mana Roh Kudus bekerja, di situ lahir damai, harapan, dan sukacita.

    Saudara-saudari terkasih, Hari ini kita hidup di tengah dunia yang memiliki banyak versi “kebenaran.” Orang mudah menentukan benar menurut dirinya sendiri. Tetapi Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kebenaran sejati bukanlah apa yang kita ciptakan sendiri, melainkan pribadi Kristus yang harus kita ikuti. Dan Roh Kudus terus menuntun Gereja untuk tetap tinggal dalam kebenaran itu.

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar kita sungguh mengasihi Kristus, menuruti perintah-perintah-Nya, dan membuka hati terhadap Roh Kebenaran yang dijanjikan-Nya. Sebab pada akhirnya, kebenaran sejati bukan sekadar sesuatu yang diketahui, tetapi Pribadi yang diikuti, dicintai, dan dihidupi—yaitu Yesus Kristus sendiri. Amin. Alleluia.





    Kotbah Minggu V Paskah - 3 Mei 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 6:1-7
    Bacaan II :  1Ptr. 2:4-9
    Bacaan Injil : Yoh. 14:1-12

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.

    Manusia pada dasarnya adalah pencari kebenaran. Dalam Injil hari ini, kita mendengar dua suara yang sangat jujur dari para murid: Rasul Tomas berkata, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” dan Rasul Filipus berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami.” Dua pertanyaan ini adalah cermin hati kita semua: kita mencari arah hidup, kita merindukan kebenaran, kita ingin mengenal Allah.

    Sepanjang sejarah, banyak orang besar mengalami pencarian ini. Augustinus dari Hippo mengakui bahwa hatinya gelisah sebelum menemukan Tuhan. Ia mencari dalam berbagai hal, tetapi tetap kosong, sampai akhirnya ia menemukan Kristus—dan hidupnya berubah. Demikian juga Thomas Aquinas, yang dengan kecerdasannya mencari kebenaran, tetapi akhirnya menyadari bahwa kebenaran sejati bukan hanya dipahami, tetapi dialami dalam Allah. Keduanya menunjukkan satu hal: ketika seseorang menemukan kebenaran, hidupnya tidak bisa tetap sama.

    Saudara-saudari terkasih, Yesus menjawab kerinduan itu dengan sabda yang sangat tegas: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Ini adalah jawaban bagi setiap pencarian manusia. Di tengah dunia yang penuh pilihan dan kebingungan, Yesus menegaskan bahwa hanya dalam Dia kita menemukan arah, kebenaran, dan hidup yang tidak pernah berakhir. Ia bukan sekadar penunjuk jalan, tetapi jalan itu sendiri yang harus kita ikuti.

    Namun kita juga harus jujur melihat kenyataan. Zaman ini menawarkan banyak “jalan lain” yang sangat menggoda: jalan kesuksesan dan materi, jalan popularitas, jalan kenyamanan, bahkan jalan yang membiarkan kita menentukan kebenaran sendiri. Semua ini tampak menarik dan menjanjikan. Tetapi sering kali, setelah dijalani, jalan-jalan ini meninggalkan kehampaan—hidup terasa penuh di luar, tetapi kosong di dalam.

    Saudara-saudari terkasih, Di sinilah kita memahami sabda Yesus lebih dalam. Ia adalah jalan—yang mengajak kita mengikuti hidup-Nya: jalan kasih, pengorbanan, dan kesetiaan kepada kehendak Bapa. Ia adalah kebenaran—bukan sekadar ide, tetapi pribadi yang harus dihidupi. Ia adalah hidup—yang memberi makna terdalam dan kekal. Maka iman bukan hanya soal mencari kebenaran, tetapi membiarkan diri ditarik, diubah, dan dihidupi oleh kebenaran itu, yaitu Kristus.

    Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana Gereja perdana memilih jalan yang benar, bukan yang mudah. Mereka menghadapi persoalan, tetapi menanganinya dengan kebijaksanaan dan iman. Karena itu Gereja bertumbuh dan memberi kesaksian yang hidup. Ini menjadi cermin bagi kita hari ini.

    Saudara-saudari terkasih, Hari ini kita diajak untuk bertanya: apakah kita sungguh mencari kebenaran? Dan jika kita telah menemukannya dalam Kristus, apakah kita membiarkan hidup kita diubah oleh-Nya? Ataukah kita tetap berjalan di jalan kita sendiri?

    Akhirnya, marilah kita memohon satu rahmat: agar kita tidak hanya menjadi pencari kebenaran, tetapi menjadi orang yang ditemukan, diubah, dan dihidupi oleh kebenaran itu sendiri.

    Sebab pada akhirnya, hanya dalam Kristus kita menemukan arah, kebenaran, dan hidup yang tidak pernah berakhir—dan hanya dalam Dia hidup kita menjadi penuh dan bermakna. Amin. Alleluia.

     

    Warta Kuria (Juli-Agustus 2026)

    1. Menjadi Jembatan Harapan: Pesan Sidang Pleno XII FABC dari Jakarta

    Kunjungan para uskup Asia ke Masjid Istiqlal pada Minggu, 26 Juli 2026, menjadi puncak simbolis dari Sidang Pleno ke-12 Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) yang berlangsung di Jakarta pada 20–25 Juli 2026. Lebih daripada sekadar agenda seremonial, silaturahmi ini menyatakan dengan tegas bahwa perbedaan agama, budaya dan bangsa bukanlah tembok pemisah, melainkan jembatan yang mempersatukan. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, Gereja Asia memilih untuk hadir sebagai tanda persaudaraan dan komitmen nyata bagi perdamaian.

    Dengan mengusung tema "You Will See Greater Things" (bdk. Yoh. 1:50), FABC XII mengajak Gereja Asia memasuki pertobatan sinodal: berdoa, saling mendengarkan, berdialog dan bersama-sama membedakan kehendak Allah. Misi Gereja diperluas menjadi panggilan untuk membangun jembatan dengan masyarakat, antaragama, antarbudaya, kaum miskin, para migran, hingga seluruh ciptaan di tengah krisis ekologis. Penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah pun sarat makna strategis: dari negeri yang hidup dalam keberagaman, Gereja Asia hadir sebagai pembangun masa depan melalui dialog persaudaraan dan kerja sama.

    Rangkaian peristiwa ini menampakkan kembali identitas Gereja Asia yang sinodal dan misioner. Gereja dipanggil menghadirkan wajah Kristus yang membawa harapan serta kedamaian. Semangat perjumpaan yang dihidupi di Jakarta—dari ruang sidang hingga serambi Istiqlal—menjadi warisan berharga bagi Gereja dan dunia. Kiranya Gereja terus menjadi jembatan harapan yang menyatukan, sehingga terang kasih Allah semakin nyata di Asia dan seluruh dunia.

    2. Merawat Ciptaan, Membangun Kesejahteraan: Arah Baru Gereja Indonesia dalam Sidang Tahunan KWI 2026

    Sidang Tahunan KWI 2026, 27-31 Juli, dibuka dengan hari studi yang mendalami kembali hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAKGI) 2025. Kegiatan diawali dengan pengantar oleh Mgr. Kornelius Sipayung, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan berbagai persoalan penting menyangkut ekologi, ekonomi dan kehidupan sosial.

    Sesi pertama membahas Teologi Ekologi Integral dan Pertobatan Ekologis, dengan menghadirkan R.P. Mateus Mali, CSsR dan R.P. Martin Harun, OFM. Para peserta diajak menyadari tanggung jawab manusia untuk menjaga harmoni dan keberlangsungan seluruh ciptaan sebagai bagian dari rumah bersama. Sesi kedua membahas Pertobatan Ekonomi dan Alternatif Model Ekonomi yang dipaparkan oleh Alisio Senyoman dan R.D. Fredi Rante Taruk. Sesi ini menekankan bahwa ekonomi bukan sekadar pengelolaan sumber daya, melainkan upaya membangun kesejahteraan manusia dan keluarga secara adil dan berkelanjutan.

    Inti rangkaian studi ini menegaskan bahwa pertobatan ekologis dan pertobatan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Keduanya harus berjalan bersama agar pembangunan tidak hanya mengejar kesejahteraan manusia, tetapi juga menjaga kelestarian ciptaan. Melalui Sidang Tahunan KWI 2026, Gereja di Indonesia diteguhkan untuk membangun rumah bersama yang berkelanjutan, berkeadilan dan berlandaskan tanggung jawab terhadap sesama serta seluruh ciptaan.

    3. Inaugurasi Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar: Gereja yang Berjalan Bersama dan Membawa Harapan

    Ribuan umat paroki Tigabinanga menyatakan rasa syukur pada perayaan Ekaristi Inaugurasi Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar pada Minggu, 2 Agustus 2026. Uskup Keuskupan Agung Medan secara resmi mendirikan kuasi paroki St. Paulus Juhar pada 2 Mei 2026 sebagai pemekaran dari Paroki Tigabinanga dan Paroki Santo Petrus dan Paulus Kabanjahe. Peristiwa iman ini sudah lama dinanti-nantikan oleh umat dari kedua paroki induk ini. Reksa pastoral wilayah kegembalaan baru yang terdiri dari 11 stasi ini dipercayakan kepada Ordo Kapusin Provinsi Medan. Minister Provinsial Kapusin Medan menugaskan RP. Alfred Karo-Karo sebagai administrator kuasi paroki St. Paulus Juhar.

    Selebrasi inaugurasi diawali dengan penyambutan rombongan Bapa Uskup dari kantor Camat Juhar diiringi drumband menuju lokasi perayaan di Gereja St. Paulus Juhar. Tiba di lokasi pesta ibu-ibu yang mengenakan pakaian adat karo menyambut Bapa Uskup dengan tarian penyambutan yang turut menyemarakkan persiapan perayaan ekaristi. Dalam perayaan yang dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, Dewan Pastoral Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar untuk masa jabatan 1 tahun juga dilantik untuk mengambil bagian dalam pelayanan umat dalam semangat persaudaraan dan sinodalitas. Dengan bimbingan Roh Kudus, para pelayan pastoral diharapkan mampu bekerja bersama, mendengarkan umat dan menghadirkan Gereja yang merangkul serta menaburkan harapan.

    Dalam homilinya, Bapa Uskup mengajak umat merefleksikan alasan pentingnya pemekaran dan kehadiran sebuah kuasi paroki, yakni agar gembala semakin dekat dengan umat. Kedekatan tersebut memungkinkan Gereja untuk mendengarkan kehidupan umat, membawa sukacita kepada mereka yang bersedih, menghadirkan penghiburan bagi keluarga yang mengalami kesulitan, serta mendampingi anak-anak agar bertumbuh sebagai murid Kristus. Diinspirasi oleh Injil yang berkisah tentang mujizat pergandaan roti, Bapa Uskup juga menandaskan pemberian makanan kehidupan kekal melalui Ekaristi yang lebih sering dirayakan sebagai alasan pemekaran wilayah kegembalaan ini. Tuhan mampu mengubah sesuatu yang kecil dan sederhana menjadi berkat yang besar bagi banyak orang. Gereja dipanggil untuk hadir di tengah mereka yang miskin dan tersingkir, membawa persoalan dan konflik kepada jalan rekonsiliasi, serta menyertai setiap cita-cita umat dalam terang iman. Dengan demikian, kasih Allah semakin dekat dan nyata dalam kehidupan umat. Semoga Kuasi Paroki Santo Paulus Juhar terus bertumbuh menjadi komunitas iman yang hidup, membawa sukacita, memperkuat persaudaraan dan menjadi berkat bagi umat serta masyarakat di sekitarnya.

    4. KAM Hadir dalam Pelantikan Pengurus BPK 45 Sumatera Utara

    Medan, 4 Agustus 2026 – Keuskupan Agung Medan (KAM) yang diwakili Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan (Komisi HAK KAM), yaitu RD. Benno Ola Tage, Erni Kristiani dan Anna Aritonang, menghadiri pelantikan Pengurus Dewan Harian Badan Pembudayaan Kejuangan (BPK) 45 Sumatera Utara periode 2026–2031 di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara. BPK 45 merupakan organisasi kemasyarakatan yang memperjuangkan penghayatan nilai Pancasila dalam mengisi kemerdekaan, dengan semangat juang 45 sebagai dasar gerakannya untuk memelihara keutuhan NKRI. Para pengurusnya umumnya adalah mereka yang telah purna tugas dari pemerintahan maupun lembaga legislatif.

    Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, dalam sambutannya mengapresiasi semangat karya para pengurus BPK 45, yang dinilainya sebagai generasi yang telah berkontribusi nyata bagi bangsa Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Kehadiran KAM dalam acara ini menjadi wujud partisipasi Gereja dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sejalan dengan semangat kebangsaan yang terus dijaga. Dengan rasa bangga Keuskupan Agung Medan mendukung umatnya, Bapak Tuahman Purba, menjadi salah satu anggota Badan Pengurus BPK 45 Sumatera Utara. Melalui beliau, Gereja Katolik turut ambil bagian dalam pembangunan dan perjuangan kebangsaan. Semoga keterlibatan ini semakin mempererat kerja sama antara Gereja dan negara dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila demi kesejahteraan bersama. Nilai-nilai ini hendak dihidupi lebih dalam melalui Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan: “Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan dan Mewartakan.”

    5. Sukacita Bersama Gembala: Malam Keakraban OMK St. Damian Lau Baleng

    Lau Baleng, 7 Agustus 2026 — Sukacita mewarnai Malam Keakraban Orang Muda Katolik (OMK) St. Damian Lau Baleng bersama Bapa Uskup Agung Medan. Kegiatan pada Jumat malam itu merupakan momen istimewa bagi OMK dan anak-anak SEKAMI untuk berkumpul, berbagi kegembiraan serta menampilkan berbagai kreativitas melalui nyanyian, tarian dan penampilan lainnya. Perjumpaan ini menjadi bukti nyata bahwa Gereja tidak hanya berbicara tentang kaum muda, tetapi hadir bersama mereka, sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus dalam Christus Vivit: "Gereja membutuhkan mereka [kaum muda] untuk menjadi dirinya sendiri, dan mereka membutuhkan Gereja untuk menjadi diri mereka sendiri" (CV, No. 166). Kreativitas yang ditampilkan juga merupakan wujud nyata panggilan kaum muda sebagai "rasul-rasul pertama dan segera bagi kaum muda sendiri" (Dekrit Apostolicam Actuositatem, No. 12).

    Keceriaan memuncak ketika Bapa Uskup melontarkan kuis interaktif kepada para peserta. Gelak tawa dan antusiasme anak-anak serta orang muda pecah seketika, menciptakan suasana yang hidup dan akrab. Di balik keceriaan itu, tersirat makna yang lebih dalam: terjalinnya perjumpaan yang hangat antara gembala dan umatnya, di mana terjadi saling mendengarkan dan saling meneguhkan. Hal ini sejalan dengan semangat Gembala Baik yang mengenal dan dikenal oleh domba-dombanya (lih. Yoh 10:14).

    Kehadiran Bapa Uskup di tengah-tengah OMK merupakan tanda nyata bahwa Gereja senantiasa hadir dan berjalan bersama kaum muda. Orang muda merupakan bagian penting dari Gereja saat ini, sebab "kaum muda bukan hanya menjadi sasaran pewartaan, tetapi juga menjadi subjek dan pelaku pewartaan itu sendiri" (CV, No. 174). Kebersamaan ini semakin mengakarkan OMK St. Damian Lau Baleng dalam iman, berani mengambil peran dalam pelayanan serta menjadi pembawa sukacita dan harapan bagi perutusan Gereja di tengah masyarakat.

    6. Berjalan Bersama sebagai Satu Tubuh: Perjumpaan Gembala dan Komunitas SSCC

    Pertemuan Bapa Uskup Agung Medan bersama Vikep Pro Religius dan komunitas SSCC (Congregatio Sacrorum Cordium atau Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria) Keuskupan Agung Medan berlangsung pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Pertemuan yang dipandu oleh RP. Paulus Halek Bere, SSCC, Ketua Regio SSCC Sumatera ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal, mendengarkan dan memperteguh kebersamaan dalam pelayanan Gereja.

    Acara diisi dengan sharing mengenai makna kehadiran SSCC di Keuskupan Agung Medan. Mewakili Provinsi SSCC Indonesia, Pastor Tarsisius, SSCC., menyampaikan bahwa kehadiran SSCC membawa spiritualitas Hati Kudus Yesus dan Maria sebagai kekayaan rohani untuk menjawab kebutuhan Gereja lokal. Sementara itu, Sr. Romeka, SSCC., menyatakan kesiapsediaan para suster untuk terlibat dalam berbagai karya pastoral Keuskupan. Vikep Pro Religius pun mengapresiasi kehadiran komunitas SSCC sebagai bagian dari kekayaan hidup bakti di Keuskupan Agung Medan.

    Menanggapi hal tersebut, Bapa Uskup mengajak komunitas SSCC untuk terus menghidupi semangat sinodalitas sambil menghindari ego sektoral dan berjalan bersama sebagai satu tubuh Kristus. Perbedaan karisma hendaknya menjadi kekayaan yang dipersatukan dalam satu perutusan untuk membangun Gereja yang semakin sinodal, misioner dan hadir bagi umat. Kehadiran dan keterlibatan SSCC semakin memperkaya dan memperkuat Keuskupan Agung Medan dalam pelayanan pastoral yang berakar pada kasih Kristus.

    7. “Saat Gembala dan Umat Saling Mendengarkan” : Wawan Hati di Lau Baleng

    Semangat sinodalitas yang mengajak seluruh umat Allah untuk saling mendengarkan, saling meneguhkan, dan bersama-sama mencari kehendak Tuhan berkobar dalam kegiatan Wawan Hati bersama pengurus gereja dan komunitas kategorial di Paroki Santo Damian Lau Baleng, Sabtu, 8 Agustus 2026. Perjumpaan ini menjadi wujud nyata dari panggilan Gereja untuk keluar dari keterbatasannya dan berjalan bersama umat, sebagaimana ditegaskan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium: "Gereja 'keluar' merupakan Gereja yang berinisiatif keluar dari kenyamanannya dan berani pergi ke pinggiran untuk mencari mereka yang jauh" (EG, No. 24).

    Dalam suasana penuh persaudaraan, umat berdialog secara terbuka bersama Bapa Uskup Agung Medan, Vikep Pro Religius, Ketua Komisi Kerasulan Kitab Suci Keuskupan Agung Medan, dan Pastor Paroki. Berbagai pertanyaan mengenai kehidupan iman, pelayanan, dan dinamika Gereja dibagikan dan didiskusikan bersama. Perjumpaan ini merupakan kesempatan istimewa untuk saling mendengarkan pengalaman, harapan, sukacita, maupun tantangan yang dihadapi umat dalam pelayanan. Paus Fransiskus mengingatkan dalam Dilexit Nos, "Gereja tidak bertumbuh dengan perpindahan orang, melainkan dengan daya tarik kesaksian kasih" — dan kasih itu lahir dari hati yang mau mendengarkan dan hadir bagi sesama.

    Wawan Hati ini semakin meyakinkan umat bahwa Gereja bertumbuh ketika seluruh anggotanya mau duduk bersama, mendengarkan dengan hati terbuka dan berjalan dalam persaudaraan. Dari Lau Baleng, semangat untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan sukacita Injil terus dihidupi sebagai tanda Gereja yang hidup dan misioner, yang berakar pada kasih Kristus yang telah lebih dahulu mengasihi kita (lih. Dilexit Nos, No. 1).

    8. "Tetap Teduh di Tengah Perubahan Jadwal: KAM Hadiri AKRS HUT ke-81 RI

    Menanggapi undangan Gubernur Sumatera Utara, Keuskupan Agung Medan (KAM) mengutus RD. Sesarius Petrus Mau, Pastor Paroki Katedral Medan, untuk menghadiri Upacara Apel Kehormatan dan Renungan Suci (AKRS) dalam rangka Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI Tingkat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026. Acara semula dijadwalkan pada Minggu, 16 Agustus 2026, pukul 24.00 WIB, di Taman Makam Pahlawan Bukit Barisan, Jl. Sisingamangaraja, Medan.

    Pada Jumat, 14 Agustus 2026, Sekretariat Daerah Pemprov Sumatera Utara menerbitkan surat resmi berisi ralat jadwal, yang mengubah pelaksanaan upacara menjadi Sabtu, 15 Agustus 2026. RD. Sesarius Mau, dengan pengabdian tulus kepada Gereja dan Negara, tetap hadir pada tanggal dan jam yang telah ditentukan. Namun saat tiba di lokasi, ternyata pelaksanaan upacara kembali diubah menjadi 16 Agustus 2026 tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada Keuskupan Agung Medan, sehingga upacara tidak jadi dilaksanakan pada 15 Agustus 2026 padahal sejumlah tokoh agama telah hadir.

    Meskipun mengecewakan, pastor yang akrab dipanggil Sesar, tetap menunjukkan sikap teduh dan wajah ramah sebagai wujud kesatuan Keuskupan Agung Medan. Peristiwa ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama agar koordinasi dan komunikasi penyelenggaraan kegiatan serupa dapat berjalan lebih baik di masa mendatang. Merdeka!

    9. Kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas Memulai Babak Baru dalam Iman dan Pelayanan

    Spes non confundit! Penantian lama umat rayon Talun Kenas dan Negara paroki santo Yosep Delitua tidak mengecewakan. Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung secara resmi mendirikan Kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas pada 22 Juni 2026 sebagai pemekaran dari Paroki Santo Yosep, Delitua. Kuasi Paroki baru ini memusatkan karya pastoralnya untuk memajukan pertanian, Pendidikan dan pembinaan iman berbasis lingkungan dan stasi dengan peningkatan katekese bagi BIA, BIR, OMK, Keluarga dan kategorial. Wilayahnya tersebar di sekitar Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Kuasi paroki ini beralamat di Dusun III, Desa Talun Kenas, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Ordo Saudara Dina Konventual Provinsi Maria Tak Bernoda Indonesia dipercayakan untuk menanggungjawabi reksa pastoralnya. Umat yang berjumlah 4.212 jiwa yang tersebar di 14 stasi digembalakan oleh RP. Yohanes K. Sensianus Jebarus OFMConv sebagai pastor kuasi paroki.

    Inaugurasi Kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas dirayakan dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap pada Minggu, 16 Agustus 2026, bertepatan dengan hari raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga. Ribuan umat paroki Delitua dan undangan lain ikut menyatakan syukur kepada Allah atas perkembangan wilayah kegembalaan ini. ‘Gembala dekat dengan umatnya’ adalah tujuan utama penetapan wilayah baru ini. Diharapkan umat akan semakin bertumbuh dalam persaudaraan dan menjadi terang Kristus bagi sesama. Sesuai dengan inti perayaan hari raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga, Kuasi Paroki memikul tanggung jawab mulia untuk menghidupkan pengharapan sejati umat manusia akan kehidupan kekal. Maria yang diangkat tubuh dan jiwanya ke surga menjadi jaminan bahwa hidup manusia tidak berakhir di dunia ini, tetapi berlanjut dalam kehidupan kekal bersama para kudus di surga. Bunda Maria yang sudah berada di surga memiliki hak istimewa untuk mendoakan umat Allah yang masih berjuang di dunia.

    Didoakan oleh Santa Klara sebagai pelindungnya, Kuasi Paroki ini berjuang menjadi cahaya yang menerangi umat Allah. “Santa Klara….Bercahaya, Menerangi, Menjadi Berkat,” diusulkan Bapa Uskup sebagai yel-yel yang menjadi spirit kuasi Paroki Santa Klara Talun Kenas. Semoga Kuasi Paroki ini yang dipimpin dalam semangat persaudaraan convento dalam diri para saudara dina Konventual menjadi pembawa cahaya, menerangi dan menjadi berkat bagi umat Allah dan Masyarakat di sekitarnya.

    10. Jalan Harapan di Tengah Dinamika Bangsa: Nota Pastoral KWI 2026 (Jakarta, 17 Agustus 2026)

    Untuk menindaklanjuti Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia ke-5 (SAGKI V, Jakarta, 3–7 November 2025) yang bertema "Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian," Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menerbitkan Nota Pastoral. Bangsa dan Gereja layak bersyukur atas perjalanan sejarah yang meliputi Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Pancasila, Proklamasi, Reformasi 1998, dan sebagainya. Namun syukur sejati menuntut kejujuran. Gereja menghadapi lemahnya katekese dan keterbatasan SDM, sementara bangsa masih diliputi kemiskinan, korupsi, krisis ekologi dan kemunduran demokrasi.

      Indonesia kini dilanda krisis multidimensi yang saling terkait. Di bidang sosial, ada krisis kesehatan mental remaja (34,9%), ketidakadilan gender, kekerasan perempuan-anak (35.025 kasus), krisis Papua dan tutupnya banyak sekolah/klinik Katolik. Dari sudut pandang teknologi terjadi disrupsi digital dan AI menjadi pedang bermata dua: membuka akses informasi namun melahirkan kejahatan siber, alienasi, dan menurunnya empati. Secara ekonomis, ada paradoks wajah ganda: PDB ~5% di balik Gini 0,363–0,375, kemiskinan BPS 8,25% vs Bank Dunia 60,3%, pekerja informal 59,40%, dan korupsi sistemik. Di bidang ekologi, deforestasi melonjak dari 261.575 menjadi 433.751 hektare, perubahan iklim melampaui 1,5°C, dan hak masyarakat adat terampas; krisis moral-spiritual yang menuntut habitus ekologis. Secara politik, terjadi kemunduran demokrasi (EIU 6,44 flawed; V-Dem electoral autocracy) ditandai sentralisasi, represi hukum dan remiliterisasi. Arus sekularisme, dehumanisasi, keletihan moral dan eksklusivisme agama menggerus martabat manusia.

      Gereja dipanggil menjadi mitra kritis negara dalam berbagai bidang. Dalam kehidupan sosial, gereja bertugas menciptakan perjumpaan lintas iman, bantuan hukum, safeguarding, memulihkan sekolah-klinik sebagai "rumah bagi semua" dan membuka Sekretariat Papua. Untuk mengarahkan penggunaan teknologi, Gereja mewajibkan diri untuk merumuskan etika digital kritis, anti-hoaks, pemerataan akses ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) dan memastikan AI tak menggantikan kecerdasan manusia. Ajaran Sosial Gereja, Credit Union dan semangat "Gereja miskin dan bagi kaum miskin diarahkan untuk perbaikan dan pemerataan ekonomi. Perduli akan ekologi, Gereja mempromosikan eko-teologi, perlindungan hutan dan hak masyarakat adat, serta menolak investasi perusak ciptaan. Kaderisasi kaum muda dan Katekese Kebangsaan digalakkan untuk Pendidikan politik. Untuk menanamkan nilai sejati kemanusiaan, keluarga dijadikan sebagai sekolah pertama, sekolah Katolik sebagai ruang perjumpaan interreligius dan perayaan Ekaristi diharuskan memiliki dampak sosial.

      RP. Adrianus Sembiring OFMCAp

      Komisi Peziarahan Rohani

      0

      Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan penyertaan-Nya sehingga kami dapat menyusun rencana dan struktur organisasi Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan ini. Komisi ini dibentuk untuk melestarikan, mempromosikan, dan mengembangkan destinasi wisata rohani yang kaya akan nilai sejarah, budaya, dan spiritual di wilayah Keuskupan Agung Medan (KAM).

      Latar belakang pembentukan komisi ini adalah kebutuhan untuk mengelola berbagai destinasi wisata rohani secara efektif, seperti Graha Maria Annai Velangkanni, Gereja Inkulturatif Karo di Berastagi, Gereja Inkulturatif Toba di Pangururan, Gereja Inkulturatif Pakpak di Sumbul, Bukit Kerahiman Ilahi di Siosar, dan Patung Yesus tertinggi di dunia di Sibea-bea. Selain itu, potensi wisata umum seperti Danau Toba, Bukit Lawang-Bahorok, Sabang-Aceh, dan Berastagi juga menjadi fokus pengembangan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat lokal.

      Inspirasi pembentukan komisi ini datang dari seorang imam Keuskupan Agung Jakarta, Yustinus Ardianto Pr, yang juga direktur pusat pastoral Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Setelah mengalami pesona alam di Sumatera Utara dan reksa pastoral Keuskupan Agung Medan, beliau memicu gagasan untuk hadirnya Komisi Peziarahan Rohani di KAM. Peziarahan rohani pernah hadir dalam satu divisi Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) – Karitas KAM ketika Danau Toba sedang digalakkan menjadi destinasi wisata prioritas. Kini divisi tersebut ditingkatkan menjadi komisi yang berdiri sendiri.

      Pembentukan komisi ini berlatar belakang kekayaan destinasi wisata yang mempunyai nilai-nilai spiritual dan estetika yang mengagumkan di berbagai wilayah KAM, serta minat umat Katolik di Indonesia, khususnya di KAM, untuk mengadakan perjalanan Wisata Rohani. Melalui komisi ini, Gereja Partikular KAM hadir menunjukkan wajah Allah yang Mahabesar dan Berbelaskasih kepada banyak orang yang mengadakan perjalanan ziarah. Semoga dengan kehadiran Komisi Peziarahan Roahani ini, misteri kebesaran Allah semakin dinyatakan dan pujian kepada Allah semakin ditinggikan.

      Komisi Peziarahan Rohani ini bertujuan melestarikan dan mempromosikan keindahan alam, ragam budaya, dan situs-situs religius di KAM. Selain itu, memberikan informasi resmi terkait spot wisata rohani kepada peziarah, memfasilitasi kelompok-kelompok peziarah, mengorganisir peziarahan rohani, meningkatkan fasilitas di spot wisata rohani, menyediakan katekese audio-visual, serta meningkatkan kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri.

      Berbagai strategi telah dirumuskan untuk mencapai tujuan tersebut, termasuk pengembangan infrastruktur, promosi dan informasi, kolaborasi dengan berbagai pihak, pelayanan dan fasilitasi peziarah, pemberdayaan masyarakat lokal, pengembangan program wisata dan acara khusus, monitoring dan evaluasi, inovasi teknologi, dan peningkatan kesadaran lingkungan.

      Kami berharap dengan adanya komisi ini, wisata rohani di Keuskupan Agung Medan dapat berkembang lebih baik, memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan umat Katolik, serta mendukung Visi Keuskupan untuk menjadi "Oase Ilahi di Tengah Dunia."

      Komisi Peziarahan Rohani ini memiliki visi dan misi, yakni:

      1. Visinya adalah  Oase Ilahi di Tengah Dunia
      • Misinya adalah:
      1. Memperkenalkan Wajah Allah:
        • Memperkenalkan wajah Allah dalam keindahan alam, ragam budaya, situs-situs religius, geopark, dan tempat-tempat religius di wilayah KAM.
      2. Melestarikan Pariwisata Religius dan Budaya:
        • Melestarikan pariwisata religius dan budaya yang aman, nyaman, menarik, mudah dicapai, dan tepat sasaran. Pariwisata ini berwawasan lingkungan dan kebudayaan, serta berfungsi sebagai Oase Ilahi di Tengah dunia.
      3. Menggali dan Menyebarkan Nilai Spiritual:
        • Menggali, mendokumentasikan, dan menyebarkan nilai spiritual serta semangat kekatolikan yang terkandung dalam budaya, situs-situs religius, geopark, dan tempat-tempat religius di wilayah KAM.
      4. Menghargai dan Mempromosikan Budaya Setempat:
        • Menghargai, menggali, dan mempromosikan budaya setempat dalam konteks penghayatan iman Katolik.
      5. Memberdayakan Umat dalam Sektor Pariwisata:
        • Menganimasi dan memberdayakan umat dalam meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terangkat.

      Dengan misi ini, Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan diharapkan dapat berperan aktif dalam memperkenalkan, melestarikan, dan mengembangkan pariwisata rohani dan budaya di wilayah KAM, mendukung misi keuskupan untuk menjadi "Oase Ilahi di Tengah Dunia", serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan umat Katolik.

      • Sejarah dan Perkembangan Pariwisata

      Pariwisata telah menjadi bagian dari peradaban manusia sejak zaman dahulu, yang ditandai dengan perjalanan menuju tempat-tempat yang memberikan kesegaran jiwa dan raga. Sebagai kegiatan ekonomi, pariwisata mulai berkembang pada awal abad ke-19 dan menjadi industri internasional sejak tahun 1869. Saat ini, pariwisata telah menjadi salah satu industri utama penghasil devisa di berbagai negara, bahkan ketika sektor perdagangan barang mengalami kelesuan, pariwisata tetap menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

      • Wisata Rohani sebagai Bagian dari Pariwisata Minat Khusus

      Wisata rohani adalah salah satu bentuk pariwisata minat khusus yang berkaitan dengan kepercayaan, adat istiadat masyarakat, dan aktivitas keagamaan. Wisata ini bisa dilakukan secara perorangan maupun berkelompok, ke tempat-tempat yang dianggap suci dan penting bagi perkembangan iman seseorang atau komunitas, termasuk makam para pemimpin yang diagungkan. Dalam tradisi Katolik, ziarah ke tanah suci yang berkaitan dengan kehidupan Yesus telah dilakukan sejak abad ke-4, mencakup tempat-tempat seperti Roma, makam para rasul, martir, dan situs penampakan Perawan Maria.

      • Tempat-Tempat Ziarah yang Populer

      Temuan Forbes menunjukkan bahwa umat Katolik di seluruh dunia gemar berziarah tidak hanya ke Gua Bunda Maria tetapi juga ke Gereja-gereja bersejarah, makam orang Kudus, dan Biara. Tempat-tempat ziarah ini menarik ribuan hingga ratusan ribu peziarah setiap tahunnya.

      • Kekayaan Destinasi Wisata Rohani di Keuskupan Agung Medan

      Keuskupan Agung Medan (KAM) memiliki banyak obyek pariwisata dan wisata rohani yang kaya akan nilai sejarah, budaya, dan spiritual, antara lain:

      1. Graha Maria Annai Velangkanni di Medan, yang terkenal dengan arsitektur India-Mogul.
      2. Gereja Inkulturatif Berastagi, yang mengadopsi arsitektur tradisional Karo.
      3. Gereja Inkulturatif Pangururan di Samosir, yang memadukan elemen budaya Batak Toba.
      4. Gereja Katolik Inkulturatif Pakpak di Sumbul dan Gereja Padre Pio di Purba Hinalang, yang kaya akan ornamen dan simbol budaya Simalungun.
      5. Gua Bunda Maria Tritunggal Maha Kudus. Gua Bunda Maria Tritunggal Maha Kudus lokasinya berada di Namo Suro Baru, Kec. Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
      6. Gua Maria Namo Pecawir. Gua Maria Namo Pocawir lokasinya berada di Jl. Namo Pencawir, Desa Tuntungan II, Kec. Pancur Batu, Kab. Deli Serdang. Tempat ini merupakan Gua Maria yang menjadi sisa peninggalan/warisan sejarah Paus Yohanes Paulus II di Medan pada bulan Oktober 1989.
      7. Gua Maria Bunda Karmel. Gua Maria Bunda Karmel berada di Paroki Cinta Damai kebupaten Batu Bara.
      8. Bukit Kerahiman Ilahi di Siosar, Tanah Karo, yang menjadi salah satu destinasi ziarah utama dengan taman doa dan patung Yesus Kristus.
      9. Patung Yesus Tertinggi di Dunia di Sibea-bea, Kabupaten Samosir, yang menjadi ikon baru pariwisata rohani dan menarik banyak peziarah dari berbagai daerah.
      10. Taman Iman di Kabupaten Dairi, yang menawarkan pengalaman spiritual melalui replika tempat-tempat suci dari berbagai agama dan keyakinan.
      11. Kekayaan Destinasi Wisata Umum di Wilayah Keuskupan Agung Medan

      Selain destinasi wisata rohani, wilayah KAM juga memiliki kekayaan destinasi wisata umum yang menarik, seperti:

      • Danau Toba dengan keindahan alamnya yang memukau, pulau Samosir yang berada di tengahnya, serta berbagai kegiatan wisata seperti berperahu, berenang, dan menikmati keindahan alam sekitarnya.
      • Bukit Lawang-Bahorok yang terkenal dengan konservasi orangutan, menawarkan pengalaman unik trekking di hutan hujan tropis.
      • Sabang, Aceh yang merupakan titik nol kilometer Indonesia dengan keindahan pantai, terumbu karang, dan spot snorkeling serta diving yang mempesona.
      • Berastagi yang dikenal dengan udara sejuk, kebun stroberi, dan pemandangan Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak, menjadi tempat favorit untuk bersantai dan menikmati alam pegunungan.
      • Tingginya Jumlah Peziarah dan Wisatawan

      Wilayah KAM sering dikunjungi oleh banyak peziarah dari dalam dan luar negeri, termasuk negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Tempat-tempat ini menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam, serta pengenalan terhadap simbol-simbol budaya dan keagamaan.

      • Kebutuhan Akan Informasi dan Penerangan

      Banyak peziarah memerlukan penjelasan lebih mendalam mengenai makna simbol-simbol keagamaan dan budaya di setiap situs ziarah. Informasi yang kurang memadai mengenai spot wisata rohani seringkali menjadi hambatan, meskipun internet telah menjadi alat utama dalam mencari informasi wisata.

      • Dukungan Pemerintah dan Infrastruktur

      Pemerintah telah menetapkan Danau Toba, yang berada di wilayah KAM, sebagai salah satu destinasi wisata unggulan. Namun, masyarakat dan umat di wilayah KAM masih perlu meningkatkan kesiapan mereka dalam menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan, mengembangkan karakter hospitality, ramah lingkungan, dan memanfaatkan peluang ekonomi yang ada.

      • Pembentukan Komisi Pariwisata dan Peziarahan Rohani

      Sebagai tanda kepedulian terhadap perkembangan pariwisata rohani, Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFM Cap, telah membentuk satu Komisi yang menangani seluruh spot wisata rohani di wilayah pastoral KAM. Pembentukan Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan merupakan langkah strategis untuk mengembangkan dan mengelola kekayaan obyek wisata rohani yang ada. Melalui komisi ini, diharapkan dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat dan umat Katolik, serta mendukung misi keuskupan untuk menjadi oase spiritual di tengah dunia.

      Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan dibentuk dengan tujuan untuk:

      1. Melestarikan dan Mempromosikan Keindahan Alam dan Ragam Budaya
        • Menghargai dan melestarikan kekayaan alam, budaya, situs-situs religius, geopark, dan tempat-tempat religius yang dimiliki oleh Keuskupan Agung Medan.
        • Mengedukasi dan memotivasi umat Allah serta peziarah untuk mengalami kehadiran Allah melalui keindahan alam dan budaya di wilayah KAM.
      2. Memberikan Informasi Resmi
        • Menyediakan informasi resmi mengenai spot wisata rohani di wilayah pastoral Keuskupan Agung Medan, baik yang dimiliki oleh pribadi, pemerintah, Gereja Kristen, maupun terutama yang dimiliki oleh Gereja Katolik.
        • Mengembangkan platform digital dan cetak seperti brosur, buku, situs web, dan aplikasi mobile untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat luas.
      3. Memfasilitasi Kelompok-Kelompok Peziarah
        • Menyediakan sarana dan prasarana yang memadai bagi kelompok-kelompok peziarah.
        • Memberikan informasi, katekese, dan perayaan sakramen yang mendukung pengalaman ziarah yang mendalam dan bermakna.
      4. Mengorganisir Wisata dan Peziarahan Rohani
        • Mengorganisir dan mengkoordinasikan kegiatan wisata dan peziarahan rohani ke tempat-tempat utama seperti Graha Maria Annai Velangkanni, Gereja Katolik Santo Fransiskus Inkulturatif Berastagi, Gereja Santo Dionisius Sumbul, Gereja Santo Mikael Pangururan, dan Gereja Santo Pio Purbahinalang.
        • Menyediakan panduan dan bimbingan yang membantu peziarah memahami makna dan nilai spiritual dari setiap tempat ziarah.
      5. Meningkatkan Fasilitas di Spot Wisata Rohani
        • Komisi ikut meningkatkan fasilitas termasuk spot wisata Rohani yang bukan milik Keuskupan Agung Medan
        • Menyediakan katekese audio-visual yang menjelaskan lambang-lambang dan simbol-simbol rohani yang ditemukan pada gereja-gereja inkulturatif dan tempat-tempat ziarah milik KAM.
      6. Meningkatkan Kunjungan Wisatawan
        • Meningkatkan kunjungan wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri, ke spot wisata rohani di wilayah pastoral Keuskupan Agung Medan.
        • Melakukan promosi melalui berbagai saluran komunikasi dan kerjasama dengan agen-agen perjalanan, pemerintah daerah, dan pihak-pihak terkait lainnya.
      7. Mengembangkan Ekonomi Lokal
        • Meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pengembangan Wisata rohani.
        • Membantu masyarakat memanfaatkan peluang ekonomi dari kegiatan Wista Rohani dengan menyediakan produk-produk lokal, suvenir, dan jasa terkait.

      Dengan tujuan-tujuan ini, Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung  diharapkan dapat mendukung visi keuskupan untuk menjadi "Oase Ilahi di Tengah Dunia" serta memperkuat identitas budaya dan keagamaan dalam konteks keimanan Katolik.

      Berdasarkan latar belakang dan tujuan yang telah dipaparkan, sasaran utama dari Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan meliputi:

      1. Umat Katolik di Indonesia khususnya di Keuskupan Agung Medan
        • Umat Katolik yang ingin memperdalam iman melalui ziarah dan mengunjungi tempat-tempat religius yang memiliki nilai spiritual tinggi.
        • Kelompok gerejani yang ingin mengorganisir perjalanan ziarah untuk anggotanya, sehingga mereka bisa mengalami dan berkomunikasi dengan Allah melalui tempat-tempat ziarah.
      2. Peziarah Wisata Rohani dari Dalam dan Luar Negeri
        • Peziarah dari berbagai daerah di Indonesia non Katolik yang mencari pengalaman spiritual dan ingin mengetahui lebih dalam tentang budaya dan tradisi Katolik di wilayah KAM.
        • Peziarah dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan negara lainnya yang tertarik dengan kekayaan spiritual dan budaya di wilayah KAM.
      3. Wisatawan Umum dalam dan Luar Negeri
        • Wisatawan yang tertarik dengan keindahan alam dan kekayaan budaya di wilayah KAM, seperti Danau Toba, Bukit Lawang-Bahorok, Sabang-Aceh, dan Berastagi.
        • Wisatawan yang ingin mengeksplorasi situs-situs wisata umum dan rohani, serta belajar tentang sejarah, budaya, dan tradisi lokal.
      4. Kelompok-Kelompok Peziarah
        • Kelompok-kelompok rohani dari berbagai denominasi Kristen yang tertarik dengan destinasi wisata rohani dan ingin mengadakan kegiatan spiritual bersama.
      5. Masyarakat Lokal di Wilayah Keuskupan Agung Medan
        • Masyarakat lokal yang akan mendapatkan manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan Peziarah melalui penjualan suvenir, makanan, dan layanan akomodasi.
        • Masyarakat yang diharapkan dapat mengembangkan karakter hospitality, ramah lingkungan, dan melihat peluang peningkatan kesejahteraan melalui sektor pariwisata.
      6. Pemerintah Daerah dan Pihak Terkait
        • Pemerintah daerah yang ingin mempromosikan pariwisata di wilayah mereka dan mendukung pengembangan fasilitas serta infrastruktur wisata.
        • Agen-agen perjalanan, hotel, restoran, dan penyedia jasa wisata yang bekerja sama dengan komisi untuk menawarkan paket wisata rohani yang menarik dan informatif.

      Dengan fokus pada berbagai kelompok sasaran ini, Komisi Peziarahan Rohani Keuskupan Agung Medan diharapkan dapat mencapai tujuannya dalam melestarikan, mempromosikan, dan mengembangkan pariwisata rohani serta mendukung visi keuskupan untuk menjadi "Oase Ilahi di Tengah Dunia".

      Bahan Pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026

      Tahun 2026 merupakan tahun berahmat bagi umat Keuskupan Agung Medan karena kita melaksanakan Sinode Diosesan VII
      Keuskupan Agung Medan dengan tema: “Gereja KAM Berjalan Bersama untuk Mendengarkan, Meneguhkan dan Mewartakan”. Sejalan dengan itu, Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM menyusun pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 ini dengan memperhatikan tema sinode dan tema BKSN yang disusun oleh LBI, yakni “Yesus Guru Yang Penuh Kuasa. Wajah Yesus dalam Injil Matius”.

      Pendalaman BKSN 2026 ini berlandaskan pada Injil Matius. Dalam Injil Matius kita dapat menemukan lima kumpulan pengajaran Yesus. Empat di antaranya kita pilih untuk dibahas dan didalami dalam empat sub tema, yakni:

      1. Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Sejati (Matius 5:1-12)
      2. Pengajaran Yesus tentang Tugas Perutusan Para Murid (Matius 10:1-15),
      3. Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman (Matius 18:15-20),
      4. Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Kekal (Matius 25:31-46).

      Melalui pendalaman ini, umat KAM diundang untuk mendengarkan suara Yesus sebagai Guru dan teladan iman, meneguhkan satu sama lain dalam persaudaraan, serta mewartakan sukacita Injil melalui tindakan kasih yang nyata-seturut semangat Sinode Diosesan VII yang menjadikan Gereja KAM sebagai Oase Ilahi di Tengah Dunia.

      Semoga Allah memberikan kepada kita karunia untuk mengerti dan menghayati, sehingga apa yang diajarkan oleh Kristus meresap dalam hati kita dan mengubah hidup kita. “Inilah Anak-Ku yang terkasih. Dengarkanlah Dia” (bdk. Matius 17:5).

      Salam kami,

      Petunjuk Teknis Pendalaman Kitab Suci dalam BKSN

      1. Sebelum kegiatan dilaksanakan
        a. Kegiatan dilaksanakan dalam ibadat lingkungan selama bulan September 2026. Setiap pertemuan hendaknya mendalami satu
        subtema, sehingga perlu empat kali pertemuan. Perlu diinformasikan agar setiap umat membawa Kitab Suci dengan bahasa yang sama dengan bahan yang didalami.
        b. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemandu, lektor, dan pembawa lagu.
        - Pemandu: hendaknya mempelajari bahan panduan pendalaman ini dengan baik. Perhatikan setiap keterangan dalam buku panduan, pahami tujuan setiap kegiatan, dan ikuti setiap langkah yang disediakan. Pemandu wajib menyampaikan rangkuman yang telah disediakan dalam buku ini. Terbuka kemungkinan bagi pemandu untuk berkreasi, namun jangan sampai membuat tujuan tidak tercapai.
        - Pembaca (lektor): hendaknya telah membaca teks Kitab Suci yang akan dibacakan dalam pertemuan. Bacaan dibacakan dari Kitab Suci, bukan dari buku panduan ini.
        - Pembawa Nyanyian: hendaknya mempelajari dan menggunakan lagu yang sudah ditentukan dalam buku panduan. Petugas pembawa Nyanyian perlu memastikan bahwa Nyanyian bisa dinyanyikan oleh umat. Apabila sangat kesulitan, silakan dipilih Nyanyian yang sesuai dengan tema pendalaman.
      2. Sebelum kegiatan dimulai di lingkungan
        a. Pemandu memastikan Kitab Suci, salib dan lilin yang bernyala kiranya sudah ada sebelum lagu pembuka.
        b. Pemandu menjelaskan hal-hal yang perlu kepada umat.
        Penjelasan ini khususnya disampaikan pada saat pertemuan
        pertama. Hal-hal dimaksud adalah:
        - Pemandu atau petugas pembawa lagu hendaknya memastikan umat sudah memahami lagu.
        - Pemandu memberitahukan kutipan yang akan didalami dan meminta umat untuk membuka kutipan atau menandainya sehingga ketika pendalaman, umat bisa langsung mengikuti.
        c. Pemandu bertanya kepada umat, termasuk kepada tuan rumah, ujud doa lain selain ujud doa yang disediakan dalam buku panduan. Pemandu menentukan petugas yang akan membawakan ujud-ujud doa serta urutannya.
      3. Saat kegiatan berlangsung (khusus untuk pemandu)
        a. Saat pembacaan ulang kutipan. Pemandu jangan meniadakan bagian ini agar umat semakin terbiasa membuka dan membaca Kitab Suci.
        b. Saat pendalaman kutipan. Pemandu mengupayakan agar banyak umat terlibat aktif dengan meminta umat menjawab setiap pertanyaan.
        c. Saat Sharing. Diupayakan agar lebih banyak umat yang bersharing. Sharing terarah dengan pertanyaan panduan dan tidak bertele-tele. Bila tidak sesuai dengan pertanyaan, pemandu dapat mengarahkannya.
        d. Saat merencanakan aksi nyata. Tentukanlah aksi nyata yang bisa dilaksanakan oleh sebanyak mungkin umat di lingkungan.
        e. Perhatikan durasi pertemuan, yakni antara 60-90 menit. Pemandu mengatur waktu dengan baik sehingga kegiatan tidak terkesan asal terlaksana supaya cepat selesai, tetapi juga tidak bertele-tele.

      Selamat Ulang Tahun ke-56 Mgr Kornelius Sipayung OFMCap

      0

      Selamat Ulang Tahun yang ke-56, Yang Mulia Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap.

      Semoga Bapa Uskup semakin menembus selubung fenomena menuju hakikat yang tak terlihat dan bersentuhan dengan Sang Ipsum Esse.
      “Deus Meus et Omnia” semakin menggema.

      Pembentukan dan Pengangkatan Divisi Ongoing Formation Keuskupan Agung Medan (Divisi OGF KAM)

      0
      SURAT KEPUTUSAN USKUP KEUSKUPAN AGUNG MEDAN
      Nomor: 743/SK/KAM/D.OGF/VIII/2026

      Bertujuan untuk memastikan pelaksanaan secara terarah Program Ongoing Formation (OGF) bagi para imam di Keuskupan Agung Medan (KAM) sebagai sebuah program pembinaan praktis dan bertahap yang disesuaikan dengan pengalaman pelayanan imam di Keuskupan Agung Medan, perlu dibentuk dan diangkat divisi OGF KAM;

      DIVISI ONGOING FORMATION KEUSKUPAN AGUNG MEDAN untuk masa bakti 2026-2031
      dengan susunan sebagai berikut:

      Ketua : RP. Angelo P.K Purba OFMCap
      Sekretaris : RP. Joseph Lesta Pandia OFMConv
      Anggota :
      1) RP. Richard Sinaga OFMCap
      2) RD. Hamjani Simbolon
      3) RP. Kartolo Malau, O.Carm
      4) RD. Sesarius Petrus Mau

      Divisi OGF KAM bertugas:
      1. Melaksanakan dan mengoordinasikan program Ongoing Formation (OGF) sesuai dengan pedoman dan kurikulum OGF KAM;
      2. Menyelenggarakan pembinaan bagi para imam berdasarkan tahap usia tahbisan secara berkelanjutan;
      3. Memastikan program OGF tetap relevan dengan situasi pastoral serta selaras dengan arah dan visi pastoral Keuskupan Agung Medan;
      4. Memfasilitasi refleksi dan pengembangan para imam dalam dimensi manusiawi, rohani, intelektual, dan pastoral;
      5. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan OGF serta menyampaikan laporan dan rekomendasi kepada Uskup.
      Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, Divisi OGF KAM menjalankan fungsi:
      1. Koordinasi - mengoordinasikan seluruh kegiatan pembinaan OGF di tingkat keuskupan dan vikariat;
      2. Perencanaan - menyusun program pembinaan yang bertahap, terarah, dan kontekstual sesuai kebutuhan nyata pada setiap tahap pelayanan imam;
      3. Fasilitasi - memfasilitasi refleksi iman, pembaruan spiritualitas, ser-ta pengembangan kompetensi pastoral para imam;
      4. Kolaborasi - bekerja sama dengan berbagai komisi, lembaga pen-didikan, dan narasumber berkompeten dalam bidang teologi, pasto-ral, kepemimpinan, psikologi pastoral, serta bidang relevan lainnya;
      5. Evaluasi dan Pelaporan - melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan serta melaporkan hasil dan rekomendasi kepada Uskup.

      Dalam menjalankan tugasnya, Divisi OGF KAM dapat bekerja sama dengan berbagai komisi, lembaga pendidikan, maupun narasumber yang memiliki kompetensi dalam bidang teologi, pastoral, kepemimpinan, psikologi pastoral, serta bidang lain yang relevan.

      Pembinaan OGF berlaku bagi seluruh calon imam dan imam yang berkarya dalam Gereja partikular KAM, baik imam diosesan maupun imam religius yang melayani di wilayah keuskupan, dengan memperhatikan tahapan sebagai berikut:

      1. Pra-Diakon, Diakonat sampai 1 Tahun Tahbisan, serta imam non-native (imam yang masa formasinya di luar KAM atau baru bertugas di KAM);
      2. Usia tahbisan 2–5 tahun;
      3. Usia tahbisan 6–10 tahun;
      4. Usia tahbisan 11–20 tahun;
      5. Usia tahbisan 21 tahun ke atas (imam senior).

      Surat Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan pada 24 Agustus 2026 sampai dengan 23 Agustus 3031 dan/atau berlaku terus sampai ada keputusan lain dari Uskup Keuskupan Agung Medan yang dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan pastoral.

      Tim Kaderisasi Awam Keuskupan Agung Medan masa bakti 2026 – 2031

      0

      SURAT KEPUTUSAN USKUP KEUSKUPAN AGUNG MEDAN
      Nomor: 738/SK/KAM/KDA-KAM/VIII/2026

      Tim Kaderisasi Awam bertujuan untuk mempersiapkan kader-kader Katolik yang kelak berkarya di dalam dan di luar Gereja Katolik sesuai dengan harapan Gereja dan tuntutan zaman, perlu membentuk Tim untuk mempersiapkan dan mendampingi serta melakukan pembinaan terhadap orang-orang Katolik agar menjadi kader-kader yang unggul dan militan baik dalam Gereja, instansi Pemerintah maupun lembaga-lembaga lainnya.

      KetuaRD. Sesarius Petrus Mau
      Wakil Ketua IRP. Joseph Lesta S. Pandia OFMConv (Ketua Kerawam KAM)
      Wakil Ketua IIRP. Theodorus Goli Ruing OCD (Ketua Komkep KAM)
      SekretarisProf. Dr. Zakarias Situmorang
      Wakil SekretarisInter Of Fitelis Zalukhu, SH
      BendaharaSamuel Surbakti, SE., MM.
      Wakil BendaharaSr. M. Felicitas Karo-karo FSE
      Anggota1.Dr. Aloysius Dewanto Handoko, SH., MH
      2. Fr. Paskalis Wangga CMM (Komdik KAM)
      3. Sr. Gaudensia Haloho KSSY
      4. Argandhi Siloam Y. Manalu, SKM
      5. Juler Manalu, S.Pd (YPK Santo Yoseph)
      6. Ir. Martinus Tj, M.Psi
      7. Sr. Francis Dakhi SCMM
      8. Dr. Yakobus Ndona, SS., M.Hum
      Surat Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan pada 20 Agustus 2026 untuk masa bakti 5 (lima) tahun sampai dengan 19 Agustus 2031 dan/atau berlaku terus sampai ada keputusan lain dari Uskup Keuskupan Agung Medan yang dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai dengan kebutuhan pastoral.

      Dirgahayu Republik Indonesia

      Bacaan I : Sir. 10:1-8
      Bacaan II :  1Ptr. 2:13-17
      Bacaan Injil : Mat. 22:15-21

      Merdeka untuk Mengasihi dan Melayani

      Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

      Hari ini kita datang ke altar dengan dua rasa syukur yang menyatu: syukur sebagai orang beriman dan syukur sebagai warga bangsa Indonesia. Kita mengenang kemerdekaan yang diperjuangkan dengan pengorbanan, darah, air mata, dan keberanian para pendahulu kita. Tetapi sesudah puluhan tahun merdeka, Sabda Tuhan mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: untuk apa kita merdeka? Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan adalah kesempatan dan tanggung jawab untuk membangun kehidupan yang semakin manusiawi, adil, bersaudara, dan bermartabat. Kemerdekaan adalah anugerah, tetapi sekaligus perutusan.

      Bacaan pertama dari Kitab Sirakh berbicara sangat jelas tentang tanggung jawab pemimpin. “Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban rakyat.” Sebaliknya, kekuasaan dapat menghancurkan sebuah bangsa ketika dikuasai kesombongan. Pesannya sangat aktual: bangsa tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mempunyai kekuasaan; bangsa membutuhkan pemimpin yang mempunyai kebijaksanaan dan hati nurani. Jabatan bukan kesempatan memperbesar diri, memperkaya diri, keluarga atau kelompok. Kekuasaan adalah amanah untuk melayani. Semakin tinggi seseorang diberi tanggung jawab, semakin besar pula kewajibannya untuk menjaga kehidupan orang kecil, memperjuangkan keadilan, dan memastikan bahwa kekayaan bangsa sungguh dipakai bagi kesejahteraan bersama.

      Dalam bacaan kedua, Santo Petrus mengatakan sesuatu yang sangat menarik: “Hiduplah sebagai orang merdeka, tetapi jangan menggunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan.” (1Ptr. 2:16). Inilah peringatan penting bagi kita. Merdeka tidak berarti boleh melakukan apa saja. Orang yang mengikuti semua keinginannya belum tentu merdeka. Seseorang dapat hidup di negara merdeka tetapi tetap diperbudak oleh uang, korupsi, kekuasaan, narkoba, kebencian, perjudian, keserakahan, hoaks, atau kepentingan kelompok. Kemerdekaan yang sejati adalah kemampuan memilih dan melakukan yang baik, yang benar, dan yang berguna bagi sesama. Karena itu bangsa yang sungguh merdeka bukan hanya bangsa yang mempunyai bendera dan pemerintahan sendiri, melainkan bangsa yang warganya semakin bebas dari ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, korupsi, kekerasan, dan segala bentuk perendahan martabat manusia.

      Kemudian dalam Injil, Yesus memberikan prinsip yang sangat terkenal: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat. 22:21). Yesus tidak mengajarkan kita untuk memisahkan iman dari kehidupan berbangsa. Sebaliknya, Ia menempatkan keduanya secara benar. Kita mempunyai tanggung jawab kepada negara, tetapi negara bukan Allah. Kekuasaan politik tidak boleh menjadi kekuasaan mutlak. Kepada negara kita memberikan tanggung jawab sebagai warga: menaati hukum yang adil, membayar kewajiban, menjaga ketertiban, bekerja bagi kesejahteraan bersama, dan mencintai tanah air. Tetapi hati nurani, martabat manusia, kebenaran, dan penyembahan kita yang tertinggi adalah milik Allah.

      Ada sesuatu yang lebih dalam lagi dalam jawaban Yesus. Uang dinar mempunyai gambar Kaisar, maka dikembalikan kepada Kaisar. Tetapi manusia mempunyai gambar siapa? Kitab Kejadian menjawab: manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Maka kalau uang bergambar Kaisar diberikan kepada Kaisar, manusia yang bergambar Allah harus dikembalikan kepada Allah. Artinya, tidak seorang pun boleh memperlakukan manusia hanya sebagai angka, alat politik, tenaga kerja, komoditas, atau objek untuk memperoleh keuntungan. Setiap manusia—kaya atau miskin, kuat atau lemah, apa pun suku, agama dan latar belakangnya—mempunyai martabat yang harus dihormati. Mencintai Indonesia berarti menjaga manusia Indonesia.

      Karena itu patriotisme Kristiani bukan sekadar mengibarkan Merah Putih, menyanyikan lagu kebangsaan, atau mengikuti upacara. Semua itu penting sebagai tanda cinta tanah air. Tetapi cinta tanah air harus menjadi cara hidup. Seorang guru mencintai Indonesia ketika mendidik dengan sungguh-sungguh. Petani mencintai Indonesia ketika mengolah tanah dengan tekun. Aparatur negara mencintai Indonesia ketika menolak korupsi. Pengusaha mencintai Indonesia ketika memperlakukan pekerjanya secara adil. Orang muda mencintai Indonesia ketika menggunakan kemampuan dan teknologi untuk membangun, bukan menyebarkan kebencian. Kita semua mencintai Indonesia ketika menjaga persaudaraan dan tidak membiarkan perbedaan suku, agama, budaya, maupun pilihan hidup menghancurkan persatuan kita. Indonesia tidak dibangun hanya di istana dan gedung pemerintahan; Indonesia dibangun setiap hari dari rumah, sekolah, tempat kerja, gereja, pasar, sawah, kantor, dan lingkungan kita.

      Sebagai orang Katolik, kita tidak boleh menjadi penonton dalam perjalanan bangsa. Iman justru mengutus kita masuk ke tengah masyarakat sebagai garam dan terang. Kita mencintai Gereja sekaligus mencintai Indonesia. Kita berdoa bagi bangsa, tetapi doa itu harus mempunyai tangan dan kaki: tangan yang bekerja jujur, kaki yang mendatangi mereka yang membutuhkan, suara yang berani mengatakan kebenaran, dan hati yang membangun persaudaraan. Ketika ada ketidakadilan, kita tidak boleh diam. Ketika lingkungan hidup dirusak, kita harus peduli. Ketika masyarakat terpecah karena kebencian, kita menjadi pembawa damai. Ketika orang miskin kehilangan suara, kita berdiri bersama mereka. Iman yang sungguh mencintai Allah harus menghasilkan warga negara yang semakin bertanggung jawab.

      Saudara-saudari, kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu kepada kita jangan hanya dirayakan; kemerdekaan harus dilanjutkan. Generasi dahulu berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan. Generasi kita mempunyai perjuangannya sendiri: membebaskan bangsa dari korupsi, kemiskinan, ketidakadilan, intoleransi, kerusakan lingkungan, kekerasan, kebohongan, dan keserakahan. Perjuangan belum selesai. Musuhnya mungkin berubah, tetapi panggilan untuk berkorban bagi kebaikan bersama tetap sama.

      Maka dalam Ekaristi ini marilah kita bersyukur kepada Allah atas Indonesia. Kita berdoa bagi para pemimpin bangsa agar memiliki kebijaksanaan dan hati yang melayani. Kita mengenang dengan syukur mereka yang telah berkorban bagi kemerdekaan. Dan terutama kita memohon agar Tuhan menjadikan kita sendiri bagian dari jawaban atas doa bagi bangsa ini. Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah diberikan Indonesia kepada saya?” Marilah bertanya, “Apa yang dapat saya berikan agar Indonesia semakin adil, damai, bersaudara, dan bermartabat?” Sebab kemerdekaan bukan hanya hak untuk menikmati negeri ini; kemerdekaan adalah tanggung jawab untuk ikut merawat dan membangunnya.

      Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga kita sungguh menjadi bangsa yang merdeka: merdeka untuk memilih kebenaran, merdeka untuk melakukan kebaikan, merdeka untuk membangun persaudaraan, dan merdeka untuk mengasihi serta melayani. Tuhan memberkati Indonesia. Amin.

      Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap

      Ruhe in Frieden Sr Johanna Timmer OSCCap

      Keuskupan Agung Medan menyampaikan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Sr. Johanna Timmer, OSCCap, pada 12 Agustus 2026 dalam usia 96 tahun. Kepergian Suster Johanna meninggalkan duka bagi keluarga, komunitas para Suster Klaris Kapusines (OSCCap), serta Gereja yang telah menerima dan mengalami buah pengabdian hidupnya.

      Sr. Johanna Timmer merupakan seorang suster misionaris dari Biara Santa Klara Senden, Jerman, yang diutus ke Indonesia. Dengan hati yang terbuka dan semangat pelayanan, ia membawa kekayaan panggilan kontemplatif serta spiritualitas hidup doa ke tanah misi, khususnya ke Gunungsitoli, Kepulauan Nias, Sumatera Utara.

      Kehadiran Sr. Johanna dan para suster Klaris OSCCap di Gunungsitoli menjadi bagian penting dalam perjalanan berkembangnya kehidupan kontemplatif di wilayah Keuskupan Agung Medan. Melalui doa, keheningan, persaudaraan, dan kesetiaan dalam hidup bakti, para suster memberikan kesaksian bahwa karya misi Gereja tidak hanya diwujudkan melalui pelayanan aktif, tetapi juga melalui hidup yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah dalam doa dan kontemplasi.

      Perjalanan tersebut kemudian berkembang. Pada tahun 1991, para Suster Klaris anggota komunitas Gunungsitoli membuka cabang baru di Sikeben, Keuskupan Agung Medan. Kehadiran komunitas ini menjadi awal dari sebuah perjalanan rohani yang kelak memiliki tempat istimewa dalam kehidupan Gereja di Keuskupan Agung Medan.

      Tiga tahun kemudian, pada 1994, Tahta Suci merestui dan mengeluarkan Surat Deklarasi Kemandirian Biara Santa Klara Sikeben sebagai biara otonom. Peristiwa ini menjadi tonggak penting bagi perkembangan kehidupan kontemplatif para Suster Klaris Kapusines di Indonesia. Di balik perjalanan tersebut terdapat kesetiaan para suster yang dengan tekun menghidupi panggilan mereka dalam doa, keheningan, pengorbanan, dan persaudaraan.

      Dalam perjalanan panjangnya, Sr. Johanna Timmer, OSCCap, telah menjadi bagian dari sejarah dan pertumbuhan kehidupan kontemplatif di Gereja lokal. Kesaksiannya mengingatkan kita bahwa doa yang tersembunyi dalam keheningan pun merupakan pelayanan yang sangat berharga bagi Gereja dan dunia. Hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan dalam kesetiaan menjadi benih yang terus bertumbuh dan menghasilkan buah bagi banyak orang.

      Kini, setelah 96 tahun menjalani perjalanan hidup dan panggilan, Sr. Johanna Timmer telah menyelesaikan peziarahannya di dunia. Kita percaya bahwa Tuhan yang telah memanggil dan menuntunnya dalam perjalanan hidup bakti, kini menyambutnya dalam rumah-Nya yang kekal.

      Sabda Tuhan dalam Wahyu 14:13 menjadi sumber penghiburan bagi kita:

      “Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

      Keuskupan Agung Medan menyampaikan doa dan penghiburan kepada keluarga besar para Suster Klaris Kapusines (OSCCap), komunitas Biara Santa Klara Sikeben, para suster di Gunungsitoli, keluarga, sahabat, serta semua umat yang mengenal dan mengalami kesaksian hidup Sr. Johanna Timmer.

      Semoga teladan hidup, kesetiaan dalam panggilan, semangat misioner, serta kehidupan doa dan kontemplasi yang telah diwariskannya terus menjadi inspirasi bagi Gereja. Semoga pula Biara Santa Klara Sikeben senantiasa menjadi tempat di mana doa, keheningan, dan persembahan diri kepada Tuhan terus menjadi kekuatan bagi kehidupan dan perutusan Gereja.

      Selamat jalan, Sr. Johanna Timmer, OSCCap.
      Terima kasih atas kesetiaan dalam panggilan, atas doa dan pengabdian, serta atas bagian yang telah Suster berikan dalam perjalanan Gereja di Keuskupan Agung Medan.

      Kiranya Kristus, yang telah Suster cintai dan layani sepanjang hidup, menerima Suster dalam pelukan kasih-Nya dan menganugerahkan kehidupan kekal.

      Berikanlah istirahat kekal kepadanya, ya Tuhan, dan semoga terang abadi menyinarinya. Semoga ia beristirahat dalam damai. Amin.

      Selamat Jalan Sr Adelina Gultom SFD

      Uskup Keuskupan Agung Medan, bersama seluruh klerus, biarawan-biarawati, dan umat Katolik di wilayah Keuskupan Agung Medan, menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya ke Rumah Bapa:

      Sr. Adelina Gultom SFD

      Lahir: 06 Juni 1970
      Wafat: 12 Agustus 2026 (Dalam usia 56 Tahun)

      Kami mengenang pengabdian dan teladan iman Sr. Adelina yang luar biasa bagi Gereja. Kiranya Tuhan memberikan tempat yang terindah di surga baginya dan memberikan penghiburan serta kekuatan bagi keluarga dan komunitas religius yang ditinggalkan.

      Filipi 1:21“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”

      Rest in Peace (R.I.P.)

      Duka sebelumnya Kongregasi Suster SFD Keuskupan Agung Medan:

      Sr. Yohana Sinaga SFD (4 Ags 2026) 59 TahunSr. Vinsensia Tarigan SFD (10 Jan 2025) 62 Tahun