Tanggal 19-22 Januari 2026 diadakan Temu pastoral Uskup dan Tarekat Hidup Bakti Keuskupan Agung Medan di CC PPU Pematangsiantar. Pertemuan itu bertujuan untuk mempererat sinodalitas semua Tarekat Hidup Bakti (THB) yang hadir dan berkarya di Keuskupan Agung Medan dalam mengemban tugas pastoral Gereja lokal di bawah pimpinan Uskup Keuskupan Agung Medan. Pertemuan dihadiri oleh 77 peserta dari 32 Tarekat Hidup Bakti. Suasana pertemuan terasa akrab dan hangat, bagaikan anak-anak bertemu dan berwawan hati dengan Bapa Uskup sebagai gembala di Keuskupan Agung Medan. Panitia yang dikoordinir oleh RP. Joseph Lesta Pandia OFMConv, sebagai Vikep Pro Religius KAM mengatur seluruh rangkaian acara dengan sangat baik. Sinodalitas yang dialami selama 4 hari ini berhasil merumuskan Fokus dan Komitmen Pastoral Tarekat Hidup Bakti di Keuskupan Agung Medan.
THB berkomitmen terlibat aktif dalam kehidupan Gereja Keuskupan Agung Medan melalui beberapa bidang pelayanan. Dalam penanggulangan pasca bencana, THB membentuk tim koordinator di bawah nama Keuskupan untuk melakukan asesmen kolaboratif, aksi belarasa, edukasi preventif, membantu pembangunan rumah serta kaderisasi anak korban bencana melalui beasiswa dan pendampingan psikologis berkelanjutan. Dalam bidang kaderisasi, THB menjadi mitra Tim Kaderisasi Awam KAM untuk membina awam Katolik sebagai perpanjangan tangan misi Kristus, antara lain dengan pemutakhiran data kader, formasi, penguatan, aksi, pendampingan dan regenerasi supaya awam tetap hadir sebagai garam dan terang dunia. Di bidang pewartaan digital, setiap tarekat membentuk dan memberdayakan tim media sosial, menyusun protokol sesuai UU ITE, menyiapkan anggota yang cakap di bidang IT, bekerja sama dengan Komsos KAM dan berpartisipasi dalam program pewartaan iman, termasuk acara opera Kobar KAM.
THB memperkuat Forum Pastoral Migran Perantau melalui pendirian shelter, penyediaan tenaga personalia serta kerja sama dengan pemerintah, pihak keamanan, lembaga bantuan hukum dan pihak terkait dalam penanganan TPPO. Keterlibatan THB dalam Sinode VII KAM diwujudkan melalui penunjukan satu contact person di tiap komunitas yang akan berkomunikasi dengan Sekretariat Sinode untuk melaporkan kegiatan sinodal di komunitas. Seluruh komitmen ini diarahkan pada pembentukan wajah Gereja KAM yang sinodal yang dirumuskan dalam Conventio Scripta. THB menyediakan tenaga pastoral yang dibutuhkan keuskupan dan Uskup mengutus parokus yang mampu membangun komunikasi yang baik, sinodal dan komunikatif dengan THB.
Pada 22 Januari 2026 Kolegium Konsultor KAM mengadakan rapat bulanan di CC PPU Pematangsiantar. Kolegium Konsultor merupakan lembaga yang dibentuk dalam setiap keuskupan sebagaimana diatur dalam Kitab Hukum Kanonik 1983, khususnya Kan. 502, sebagai turunan dari Dewan Presbiteral. Lembaga ini terdiri dari imam-imam yang dipilih oleh Uskup dari antara anggota Dewan Presbiteral, dengan jumlah antara enam sampai dua belas orang. Mereka dipanggil untuk mendampingi Uskup dalam menjalankan tugas penggembalaan, terutama dalam bidang administrasi, pengelolaan harta benda Gereja, serta hal-hal yang menuntut pertimbangan dan persetujuan hukum tertentu.
Kolegium Konsultor memiliki peranan istimewa karena, selain menjadi mitra konsultatif Uskup, juga diberi mandat khusus oleh Gereja universal untuk menjaga kesinambungan hidup Gereja lokal apabila Tahta Keuskupan lowong. Bagi Keuskupan Agung Medan, keberadaan Kolegium Konsultor adalah bagian integral dari semangat communio presbyterorum yang menegaskan ikatan persaudaraan sakramental antara Uskup dan para imamnya. Kolegium ini menjadi tanda nyata bahwa kepemimpinan Gereja dijalankan bukan secara individualistis, melainkan dalam kebersamaan, keterbukaan, dan akuntabilitas demi kebaikan umat Allah.
Rapat kerja Tim Regulasi KAM pada 9-11 September 2025 telah menetapkan secara resmi perubahan nama KONSULKAM menjadi Kolegium Konsultor sesuai dengan pasal 1 Statuta Kolegium Konsultor yang direvisi berdasarkan Kitab Hukum Kanonik.
Pada tanggal 23 Januari 2026 di aula St. Clara Pematangsiantar, Bapa Uskup memberikan klarifikasi kepada Pengurus Yayasan Harapan Penuh Berkat dan DPPH Jl. Sibolga. Klarifikasi tersebut tentang tindak lanjut rencana pembangunan Gereja St. Klara sebagai paroki khusus yang terintegrasi dengan Rumah Sakit Harapan (RSH), berfokus pada pelayanan kesehatan dan umat sekitar. Panitia dibentuk melalui SK Uskup, melibatkan Paroki St. Laurentius dan Yayasan Harapan Penuh Rahmat untuk menyusun master plan, gambar bangunan dan proposal ke Bimas Katolik Pusat. Desain perlu disederhanakan (gereja, aula, kapel, ruang persemayaman, kantor dan fasilitas pendukung). Permohonan bantuan ke Kementerian Agama dapat diajukan jika desain dan RAB telah disederhanakan serta kepanitiaan lengkap.
Mgr. Kornelius Kornelius Sipayung, OFMCap menahbiskan delapan diakon Kapusin Provinsi Medan menjadi imam pada 24 Januari 2026 di Gereja St. Fransiskus Assisi, Berastagi. Mereka yang ditahbiskan ialah RP. Stefan Eunaldus Sianturi OFMCap, RP. Ta Trong Tri OFMCap, RP. Firdaus Depari OFMCap, RP. Moel Sinaga OFMCap, RP. Evander Purba OFMCap, RP. Nofrendi Sihaloho OFMCap, RP. Angelo Bonardo Purba OFMCap, RP. Sofyan Sinurat OFMCap. Tahbisan ini didahului pengumuman resmi dari Minister Provinsial Kapusin Medan, RP. Yosafat Ivo Sinaga OFMCap, yang mengundang siapa pun untuk melaporkan bila ada halangan kanonik dalam hidup ke delapan calon tertahbis. Perayaan ini juga dihadiri Bupati Karo, aparat kepolisian dan TNI. Perayaan ini menjadi tanda berkat Allah dan sukacita Gereja karena menerima anugerah gembala-gembala baru yang dengan bebas mempersembahkan hidupnya bagi pelayanan umat Allah demi Kerajaan Allah. Bertindak sebagai ketua panitia ialah Brigadir Jenderal TNI, Dr. Agustatius Sitepu, Komandan Resor Militer (Korem) 031/Wirabima di Pekanbaru, Riau.
Mengawali homilinya, Bapa Uskup mengulangi nasehat Paulus kepada para penatua di Efesus “jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan Darah Anak-Nya sendiri.” Betapa pentingnya seorang imam menjaga kekudusan dirinya dengan membina keintiman dengan Yesus Kristus. Imamat bukanlah status atau jabatan, melainkan panggilan untuk melayani dengan rendah hati, meneladan St. Fransiskus dari Assisi dalam kesederhanaan, kedekatan dengan kaum kecil dan miskin serta kesetiaan pada Injil. Oleh karena itu, para imam perlu memelihara hidup rohani, sebab kelalaian dalam hal yang paling inti ini akan melukai kawanan. Para imam baru diawaskan dari bahaya klerikalisme, yakni cara berpikir yang melihat tahbisan sebagai kenaikan pangkat, yang mudah dipupuk oleh kenyamanan, kekuasaan dan popularitas—terutama di era media sosial—hingga menjadikan umat sekadar objek. Seorang gembala sejati tetap tinggal bersama umat karena mencintai mereka, terutama ketika pelayanan menjadi berat dan salib sungguh terasa. Selamat melayani para pastor!
Kongregasi Para Saudari Perawan Maria dari Gunung Karmel (Hermanas de la Virgen Maria del Monte Carmelo), yang juga dikenal dengan nama Suster Carmelitas atau Hermanas Carmelitas – H. Carm, datang beraudiensi kepada Bapa Uskup pada 26 Januari 2026. Kongregasi hadir di Indonesia sejak 40 tahun lalu dan berpusat di Malang, dengan jumlah 83 suster yang tersebar dalam 16 komunitas di 7 keuskupan. Karisma H. Carm adalah hidup doa, persaudaraan dan pelayanan kenabian dalam dimensi kontemplatif. Kongregasi ini bercita-cita mencapai persatuan dengan Allah di “puncak Gunung Karmel” dan membantu umat menemukan Allah yang hidup dalam berbagai karya demi kebutuhan Gereja lokal. Di Keuskupan Agung Medan, H. Carm memiliki dua komunitas: St. Theresia Avila di Sumbul dan Nabi Elia di Silalahi.
Komunitas St. Theresia Avila – Sumbul (berdiri 23 November 2000, 6 suster) mengambil bagian intensif dalam pelayanan paroki, pendidikan, kesehatan, pendampingan remaja putri serta pembinaan internal komunitas. Karya konkritnya mencakup pastoral parokial (katekese, liturgi, kunjungan umat, pendampingan kelompok kategorial), pastoral kesehatan melalui Klinik St. Yosef dan stasi-stasi, pastoral pendidikan (TK, SD, asrama putri “Kusuma Karmel”) serta pastoral kaum muda dan panggilan. Dalam rencana pengembangan, kongregasi hendak membuka SMPK sebagai kelanjutan TK–SDK dan menempatkan seorang suster sebagai katekis full-time di Paroki Beato Dionysius Sumbul mulai Juli 2026.
Komunitas Nabi Elia – Silalahi (berdiri 1 November 2024, 3 suster) hadir di daerah wisata Danau Toba untuk memperkuat iman umat dan menyediakan wisata rohani bernuansa Karmel. Mereka terlibat dalam struktur dan kegiatan kuasi paroki (KKS, keuangan, katekese, liturgi, kunjungan keluarga, ibadat sabda, pastoral kaum muda). Selain itu, mereka sedang mempersiapkan pembangunan rumah doa dan taman doa di atas lahan 1 ha yang baru dibeli, meskipun terkendala air. Uskup menyambut positif rencana wisata rohani (penginapan rohani, rumah makan sederhana, guest house bernuansa kontemplatif), menyetujui prinsip pembukaan SMPK dan penempatan katekis full-time. Pada kesempatan ini, Bapa Uskup meminta bantuan kongregasi untuk menugaskan suster ke STSP Pematangsiantar sebagai formator dan ke Bingkawan untuk mengelola rumah retret.
Pada 27 Januari 2026, DPU Kongregasi Suster FSE beraudiensi kepada Uskup Agung Medan. Audiensi ini sebagai ungkapan ketaatan kasih dan menegaskan kesiapan untuk terus melayani Gereja lokal. FSE sedang menjalankan road map 2025–2028 serta menetapkan tiga prioritas 2026: penguatan hidup rohani (kembali ke sumber karisma), penguatan formasi dan pendampingan, dan pemurnian komunitas. DPU FSE menyampaikan kebutuhan yang mendesak kepada Bapa Uskup, yakni penataan ulang ruang doa di Cinta Damai, pengangkatan tulang-belulang para suster pada Juli 2026 dan renovasi kamar suster di Imam Bonjol yang sudah tidak layak huni.
Dalam bidang karya, FSE memohon izin kepada Bapa Uskup bagi pembangunan komunitas lansia di lahan baru 6.000 m² di depan Velangkanni, pengadaan tabernakel di komunitas St. Damian, Galang, serta izin bermisi di Keuskupan Weetebula (Sumba) terutama di bidang kesehatan untuk menangani masalah stunting. Kongregasi juga menekankan pentingnya penanaman spiritualitas FSE kepada para pegawai.
Uskup menegaskan bahwa FSE diutus Gereja dan mengapresiasi daya juang khas para suster, terutama yang berasal dari KAM. Uskup mengabulkan izin pembangunan rumah lansia, pemasangan tabernakel di Galang dan misi di Weetebula. Bapa Uskup juga mendorong percepatan pembangunan gedung sekolah di Cinta Damai; meminta SMAK Negeri agar segera membangun rumah suster; serta memberi arahan mengenai status hukum kapel rumah sakit dan tata pengangkatan tulang-belulang dengan merujuk pengalaman kongregasi lain.
Pada 28 Januari 2026, Minister Provinsial dan Dewan Penasehatnya (MPDP) beraudiensi kepada Bapa Uskup. Audiensi tersebut menyatakan ketaatan kasih Persaudaraan Kapusin Provinsi Medan kepada ordinaris wilayah. Dalam audiensi singkat ini, Ordo Kapusin Provinsi Medan (OKPM) menegaskan sinodalitas dengan KAM melalui program MPDP, Conventio Scripta, dan Panduan Pengembangan Pelayanan Pastoral Parokial Berwarna Karisma Kapusin (P5BK2): hidup persaudaraan, kedinaan yang transparan (terutama keuangan), liturgi dan doa yang tertib, perhatian pada orang miskin, pengembangan OFS serta pelayanan sakramen tobat dan pemberkatan keluarga. Semua aset paroki diakui sebagai milik paroki/keuskupan, sementara Kapusin adalah pengguna yang melayani di bawah Uskup. Kerja sama konkret mencakup kelanjutan pelayanan paroki dan kategorial, evaluasi reksa pastoral, keterbukaan terhadap permintaan paroki baru, penataan ulang “kebun endowment” berdasarkan Anggaran Dasar dan penataan baru kontrak pengelolaan kebun KAM oleh tim OKPM.
Bapa Uskup menekankan perlunya perbaikan manajemen dalam reksa pastoral parokial terutama laporan keuangan, pelaksanaan keputusan rapat dan formasi manajerial imam, khususnya di paroki-paroki pilot project Kapusin.
Pada kesempatan ini, Bapa Uskup menerangkan rencananya untuk menjadikan Paroki St. Fransiskus Berastagi sebagai Paroki Wisata Rohani inkulturatif dan ekologis. Kapusin diminta kontribusinya bagi perwujudan rencana ini. Kepada MPDP ditegaskan kembali prinsip karya: ordo boleh memiliki harta, tetapi karya pastoral selalu membutuhkan izin keuskupan dan dijalankan dengan spirit “tidak memiliki”. Sebelum menutup acara audiensi, disepakati bahwa OKPM dan KAM bekerja sama mempersiapkan perayaan 500 tahun Kapusin (mulai 1 Februari 2026) dan Tahun Yubileum Fransiskus (10 Januari 2026–10 Januari 2027) dengan liturgi dan katekese khusus. Para Pemimpin Tinggi Fransiskan diminta merancang kegiatan selama tahun Yubileum Fransiskan.
Pada 6 Februari 2026, diadakan Rapat Kuria kedua di ruang Kolegium Konsultor lt. 2 gedung Catholic Center Christosophia. Rapat ini merupakan lanjutan dari dari rapat perdana pada 12-13 Januari 2026. Rapat ini bermula dari rapat tahunan para vikaris dengan Bapa Uskup yang sudah berjalan sekian lama. Pada rapat para vikaris ini, Bapa Uskup menetapkan tiga jenis rapat yang berbeda, sebagai berikut:
a. Rapat Komisi. Dikoordinir oleh Vikaris Jenderal dan Vikaris Pastoral, komisi-komisi Keuskupan Agung Medan mengadakan rapat bulanan untuk membahas hal-hal yang perlu dipedomani oleh komisi. Rapat ini berfungsi sebagai sebagai forum koordinasi, perencanaan dan evaluasi pekerjaan komisi;
b. Rapat Kuria. Rapat yang dilaksanakan satu kali dalam dua bulan ini dihadiri oleh Uskup, Vikaris Jenderal, para Vikaris Teritorial dan kategorial, Ekonom dan Kanselarius. Vikjen, RP. Michael Manurung OFMCap ditunjuk sebagai penanggung jawab dan RP. Joseph Lesta Pandia OFMConv sebagai sekretaris. Rapat ini berfungsi sebagai eksekutor keputusan-keputusan yang diambil dalam Sidang DEPKAM, DEPASKAM dan Dewan Keuangan.
c. Rapat Paripurna. Diadakan sekali setahun pada bulan Desember, rapat ini dihadiri oleh Kuria, Komisi dan para Vikaris dalam semangat sinodal untuk mendengarkan, meneguhkan dan mewartakan.
Semoga ketiga forum ini mampu mengeksekusi semua keputusan yang ditetapkan oleh organ-organ terkait demi pengembangan Kerajaan Allah di Keuskupan Agung Medan.
Pada 12-13 Februari 2026, Sekretariat Keuskupan Agung Medan mengadakan kegiatan Pembekalan Tim Penulis Sejarah Paroki se KAM di lt. 8 Catholic Center Medan. Pembekalan ini menjadi langkah strategis dalam penataan dan pengelolaan arsip sejarah Gereja. Materi yang disajikan bertujuan untuk menyatukan konsep dan menerangkan metode penulisan sejarah yang sistematis, akurat dan ilmiah. Para peserta dibekali dengan pemahaman tentang pentingnya data historis, teknik pengumpulan sumber sejarah serta penyusunan narasi sejarah yang standar. Penulisan sejarah bukan sekadar pencatatan peristiwa manusiawi masa lampau, tetapi terutama menyusun narasi ilmiah dan sistematis atas peristiwa-peristiwa manusiawi masa lampau untuk mengkomunikasikan sebuah makna. Untuk itu, para peserta dituntun untuk menulis sejarah paroki dengan menempuh lima tahap penulisan sejarah: heuristik, penentuan topik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Kepada mereka disediakan juga formulir wawancara sebagai panduan.
Pembekalan yang diikuti para pastor, frater, suster umat yang telah disatukan dalam Tim Penulis Sejarah Paroki ini menegaskan bahwa penulisan sejarah paroki adalah tanggung jawab bersama. Diharapkan sajian materi, mulai dari tugas Kanselarius menurut KHK, pengelolaan arsip, metode dan tahapan penelitian sejarah, teknik pengumpulan data, hingga penyusunan narasi yang komunikatif menumbuhkan rasa cinta dan minat besar akan penulisan sejarah. Ke depan, sejarah paroki akan diterbitkan dalam bentuk buku sebagai arsip resmi dan bahan edukasi bagi umat, sekolah Katolik dan generasi muda. Umat diundang berpartisipasi dengan menyumbangkan dokumen, foto atau kesaksian untuk memperkaya sumber penulisan sejarah. Melalui timeline yang telah disusun dan pendampingan berkelanjutan dari Kanselarius, RP. Adrianus Sembiring OFMCap, sebagai narasumber utama, diharapkan Tim Penulis Sejarah Paroki sungguh menghasilkan karya yang berkualitas demi menyelamatkan data berharga, memperkuat identitas, menumbuhkan rasa memiliki serta meneguhkan penghayatan iman yang sudah mengakar dan teruji.
Pengurus Militia Immaculatae (MI) beraudiensi kepada Bapa Uskup pada 16 Februari 2026, didampingi oleh RP. Maximilanus Sembiring OFMConv, Minister Provinsial Konventual, dan Delegatus MI RP. Fictorium Ginting OFMConv. Asosiasi publik internasional kaum beriman ini didirikan oleh St. Maksimilianus Kolbe pada 1917 untuk menghidupi spiritualitas Maria Tak Bernoda demi pertobatan, evangelisasi dan pengudusan umat. Spiritualitas MI berpusat pada penyerahan total kepada Maria Immakulata sebagai jalan tercepat memasuki Hati Yesus, dengan sarana utama doa (Penyerahan Harian, Brevir, Rosario, Ekaristi), karya kasih, serta penyebaran medali wasiat. Keanggotaan kelompok ini mewajibkan pendaftaran resmi, pembinaan minimal enam bulan, konsekrasi kepada Maria dan mengenakan Medali Wasiat.
Ke Indonesia, semangat MI dibawa para misionaris OFMConv sejak 1968, dan berkembang menjadi lima pusat lokal di Delitua, Sigara-gara, Bangun Mulia, Mbaruai dan Padang Bulan. Sekarang anggota MI Indonesia berjumlah 396 anggota. Kegiatan MI meliputi doa bersama, misa bulanan, pertemuan triwulanan, rekoleksi, kunjungan sosial, animasi liturgi dan bulan Rosario, serta konsekrasi anggota baru setiap tanggal 8 Desember atau pada pesta lain Santa Perawan Maria. Para anggota memberi kesaksian bahwa spiritualitas MI menumbuhkan keibuan, kesabaran, kedamaian batin dan keberanian.
Meskipun sudah lama hadir di Indonesia, MI secara kanonik belum disahkan oleh ordinaris wilayah. Karena itu mereka memohon arahan dan pengesahan dari Bapa Uskup di wilayah KAM setelah disahkan pada tingkat nasional. Bapa Uskup menyambut baik MI sebagai bentuk kerasulan Fransiskan yang bersemangat Maria Tak Bernoda, dan menegaskan bahwa otoritas kerasulan berada di tangan uskup. MI dipandang khas karena menekankan penyerahan diri total kepada Maria untuk memenangkan dunia bagi Kristus. Gerakan ini akan didukung sepanjang memberi kontribusi positif bagi kerasulan Gereja, menumbuhkan penyerahan diri dan pengorbanan, serta membantu anggota sebagai garam dan terang bagi dunia.
Sampai jumpa dalam aktualita KAM selanjutnya.
RP. Adrianus Sembiring OFMCap
Kanselarius Keuskupan Agung Medan


