Saudara-saudari terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Selamat berjumpa dalam Perayaan Pekan Laudato Si’. Dalam terang ensiklik Laudato Si' dari Paus Fransiskus, kita dihimpun dalam satu panggilan yang mendesak dan profetis: mendengarkan jeritan bumi dan jeritan kaum miskin, serta mengubah harapan menjadi tindakan nyata. Inilah jalan iman yang harus kita tempuh sebagai murid-murid Kristus di tengah dunia yang terluka.
Perjalanan rohani kita diawali dengan sikap dasar yang amat penting sesuai dengan semangat Sinode VII KAM yakni mendengarkan. Bumi sedang mengerang karena eksploitasi dan kerusakan; pada saat yang sama, kaum miskin menanggung beban paling berat dari krisis ekologis yang bukan mereka sebabkan. Seperti ditegaskan dalam Laudato Si’, krisis ekologis selalu berkaitan erat dengan krisis sosial. Tidak ada dua krisis yang terpisah, melainkan satu krisis kompleks yang menyentuh lingkungan dan kemanusiaan sekaligus. Karena itu, mendengarkan jeritan bumi berarti juga membuka hati terhadap penderitaan mereka yang kecil, lemah, dan tersingkir.
Mendengarkan menuntut keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya. Ia menggerakkan hati nurani kita, mengguncang kenyamanan, dan mengajak kita keluar dari sikap acuh tak acuh. Kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap sesama dan terhadap ciptaan. Iman yang sejati selalu memiliki dimensi sosial dan ekologis. Disanalah kita hadir untuk meneguhkan dan mewartakan.
Namun kita tidak berjalan dalam ketakutan atau keputusasaan. Kita berjalan dalam harapan yang berakar pada Allah Sang Pencipta yang tidak pernah meninggalkan karya tangan-Nya. Harapan Kristiani bukanlah optimisme kosong, melainkan keyakinan bahwa rahmat Allah bekerja melalui komitmen kecil namun setia dari umat-Nya. Setiap langkah pertobatan, setiap pilihan hidup yang lebih sederhana, setiap tindakan solidaritas adalah benih Kerajaan Allah. Karena itu, Pekan Laudato Si’ dan sekaligus sebagai peringatan akan St.Fransiskus dari Asisi ini mengajak kita melangkah lebih jauh: mengubah harapan menjadi tindakan nyata. Harapan tidak boleh berhenti pada doa dan refleksi. Ia harus menjelma dalam gaya hidup yang lebih bertanggung jawab, dalam keberpihakan kepada kaum miskin, dalam pengelolaan sumber daya yang bijaksana, dan dalam karya pastoral yang menyentuh kehidupan konkret umat. Pertobatan ekologis berarti perubahan hati yang tampak dalam perubahan tindakan.
Dalam semangat berjalan bersama, kita dipanggil menjadi Gereja yang mendengarkan, berdialog, dan bertindak. Setiap komunitas Kristiani dipanggil menjadi tanda kasih Allah yang merawat, melindungi, dan memulihkan rumah bersama. Di sinilah kesaksian kita menjadi nyata: ketika iman melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan aksi.
Semoga Roh Kudus membimbing kita dalam perjalanan ini: dari mendengarkan menuju bertindak, dari belas kasih menuju komitmen, dari harapan menuju aksi nyata.
Kiranya Gereja sungguh menjadi penjaga setia rumah bersama dan pembawa harapan bagi bumi dan kaum miskin.
RP.Stefanus Sitohang OFMCap


