Selasa, Agustus 18, 2026
Lainnya
    BerandaKabar KAMSukacitaDirgahayu Republik Indonesia

    Dirgahayu Republik Indonesia

    Bacaan I : Sir. 10:1-8
    Bacaan II :  1Ptr. 2:13-17
    Bacaan Injil : Mat. 22:15-21

    Merdeka untuk Mengasihi dan Melayani

    Saudara-saudari yang terkasih, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.

    Hari ini kita datang ke altar dengan dua rasa syukur yang menyatu: syukur sebagai orang beriman dan syukur sebagai warga bangsa Indonesia. Kita mengenang kemerdekaan yang diperjuangkan dengan pengorbanan, darah, air mata, dan keberanian para pendahulu kita. Tetapi sesudah puluhan tahun merdeka, Sabda Tuhan mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: untuk apa kita merdeka? Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan adalah kesempatan dan tanggung jawab untuk membangun kehidupan yang semakin manusiawi, adil, bersaudara, dan bermartabat. Kemerdekaan adalah anugerah, tetapi sekaligus perutusan.

    Bacaan pertama dari Kitab Sirakh berbicara sangat jelas tentang tanggung jawab pemimpin. “Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban rakyat.” Sebaliknya, kekuasaan dapat menghancurkan sebuah bangsa ketika dikuasai kesombongan. Pesannya sangat aktual: bangsa tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mempunyai kekuasaan; bangsa membutuhkan pemimpin yang mempunyai kebijaksanaan dan hati nurani. Jabatan bukan kesempatan memperbesar diri, memperkaya diri, keluarga atau kelompok. Kekuasaan adalah amanah untuk melayani. Semakin tinggi seseorang diberi tanggung jawab, semakin besar pula kewajibannya untuk menjaga kehidupan orang kecil, memperjuangkan keadilan, dan memastikan bahwa kekayaan bangsa sungguh dipakai bagi kesejahteraan bersama.

    Dalam bacaan kedua, Santo Petrus mengatakan sesuatu yang sangat menarik: “Hiduplah sebagai orang merdeka, tetapi jangan menggunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan.” (1Ptr. 2:16). Inilah peringatan penting bagi kita. Merdeka tidak berarti boleh melakukan apa saja. Orang yang mengikuti semua keinginannya belum tentu merdeka. Seseorang dapat hidup di negara merdeka tetapi tetap diperbudak oleh uang, korupsi, kekuasaan, narkoba, kebencian, perjudian, keserakahan, hoaks, atau kepentingan kelompok. Kemerdekaan yang sejati adalah kemampuan memilih dan melakukan yang baik, yang benar, dan yang berguna bagi sesama. Karena itu bangsa yang sungguh merdeka bukan hanya bangsa yang mempunyai bendera dan pemerintahan sendiri, melainkan bangsa yang warganya semakin bebas dari ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, korupsi, kekerasan, dan segala bentuk perendahan martabat manusia.

    Kemudian dalam Injil, Yesus memberikan prinsip yang sangat terkenal: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat. 22:21). Yesus tidak mengajarkan kita untuk memisahkan iman dari kehidupan berbangsa. Sebaliknya, Ia menempatkan keduanya secara benar. Kita mempunyai tanggung jawab kepada negara, tetapi negara bukan Allah. Kekuasaan politik tidak boleh menjadi kekuasaan mutlak. Kepada negara kita memberikan tanggung jawab sebagai warga: menaati hukum yang adil, membayar kewajiban, menjaga ketertiban, bekerja bagi kesejahteraan bersama, dan mencintai tanah air. Tetapi hati nurani, martabat manusia, kebenaran, dan penyembahan kita yang tertinggi adalah milik Allah.

    Ada sesuatu yang lebih dalam lagi dalam jawaban Yesus. Uang dinar mempunyai gambar Kaisar, maka dikembalikan kepada Kaisar. Tetapi manusia mempunyai gambar siapa? Kitab Kejadian menjawab: manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Maka kalau uang bergambar Kaisar diberikan kepada Kaisar, manusia yang bergambar Allah harus dikembalikan kepada Allah. Artinya, tidak seorang pun boleh memperlakukan manusia hanya sebagai angka, alat politik, tenaga kerja, komoditas, atau objek untuk memperoleh keuntungan. Setiap manusia—kaya atau miskin, kuat atau lemah, apa pun suku, agama dan latar belakangnya—mempunyai martabat yang harus dihormati. Mencintai Indonesia berarti menjaga manusia Indonesia.

    Karena itu patriotisme Kristiani bukan sekadar mengibarkan Merah Putih, menyanyikan lagu kebangsaan, atau mengikuti upacara. Semua itu penting sebagai tanda cinta tanah air. Tetapi cinta tanah air harus menjadi cara hidup. Seorang guru mencintai Indonesia ketika mendidik dengan sungguh-sungguh. Petani mencintai Indonesia ketika mengolah tanah dengan tekun. Aparatur negara mencintai Indonesia ketika menolak korupsi. Pengusaha mencintai Indonesia ketika memperlakukan pekerjanya secara adil. Orang muda mencintai Indonesia ketika menggunakan kemampuan dan teknologi untuk membangun, bukan menyebarkan kebencian. Kita semua mencintai Indonesia ketika menjaga persaudaraan dan tidak membiarkan perbedaan suku, agama, budaya, maupun pilihan hidup menghancurkan persatuan kita. Indonesia tidak dibangun hanya di istana dan gedung pemerintahan; Indonesia dibangun setiap hari dari rumah, sekolah, tempat kerja, gereja, pasar, sawah, kantor, dan lingkungan kita.

    Sebagai orang Katolik, kita tidak boleh menjadi penonton dalam perjalanan bangsa. Iman justru mengutus kita masuk ke tengah masyarakat sebagai garam dan terang. Kita mencintai Gereja sekaligus mencintai Indonesia. Kita berdoa bagi bangsa, tetapi doa itu harus mempunyai tangan dan kaki: tangan yang bekerja jujur, kaki yang mendatangi mereka yang membutuhkan, suara yang berani mengatakan kebenaran, dan hati yang membangun persaudaraan. Ketika ada ketidakadilan, kita tidak boleh diam. Ketika lingkungan hidup dirusak, kita harus peduli. Ketika masyarakat terpecah karena kebencian, kita menjadi pembawa damai. Ketika orang miskin kehilangan suara, kita berdiri bersama mereka. Iman yang sungguh mencintai Allah harus menghasilkan warga negara yang semakin bertanggung jawab.

    Saudara-saudari, kemerdekaan yang diwariskan para pendahulu kepada kita jangan hanya dirayakan; kemerdekaan harus dilanjutkan. Generasi dahulu berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan. Generasi kita mempunyai perjuangannya sendiri: membebaskan bangsa dari korupsi, kemiskinan, ketidakadilan, intoleransi, kerusakan lingkungan, kekerasan, kebohongan, dan keserakahan. Perjuangan belum selesai. Musuhnya mungkin berubah, tetapi panggilan untuk berkorban bagi kebaikan bersama tetap sama.

    Maka dalam Ekaristi ini marilah kita bersyukur kepada Allah atas Indonesia. Kita berdoa bagi para pemimpin bangsa agar memiliki kebijaksanaan dan hati yang melayani. Kita mengenang dengan syukur mereka yang telah berkorban bagi kemerdekaan. Dan terutama kita memohon agar Tuhan menjadikan kita sendiri bagian dari jawaban atas doa bagi bangsa ini. Jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah diberikan Indonesia kepada saya?” Marilah bertanya, “Apa yang dapat saya berikan agar Indonesia semakin adil, damai, bersaudara, dan bermartabat?” Sebab kemerdekaan bukan hanya hak untuk menikmati negeri ini; kemerdekaan adalah tanggung jawab untuk ikut merawat dan membangunnya.

    Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga kita sungguh menjadi bangsa yang merdeka: merdeka untuk memilih kebenaran, merdeka untuk melakukan kebaikan, merdeka untuk membangun persaudaraan, dan merdeka untuk mengasihi serta melayani. Tuhan memberkati Indonesia. Amin.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
    Uskup Keuskupan Agung Medan
    Artikel Terkait

    KARYA PENDIDIKAN

    JADWAL USKUP & VIKJEN

    KALENDER LITURGI