Rabu, Juni 10, 2026
Lainnya
    Beranda blog Halaman 21

    Paroki Tiga Binanga

    PelindungSanto Fransiskus Assisi
    Buku ParokiSejak 1979. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Kabanjahe.
    AlamatJl. Rakoetta Brahmana KM.1, Tiga Binanga - 22162
    HP / WA0628 - 410025 / 0821-6563-5585
    Email[email protected]
    Jumlah Umat3.430 KK/ 10.610 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)
    ParochusRP. Nikolaus Manurung OFMCap
    Vikaris ParokialRP. Stefan Eunaldus Sianturi OFMCap
    Jumlah Gereja Stasi

    Gereja Stasi

    1Batu Mamak I18Kuta Kendit
    2Batu Mamak II 19Kuta Mbaru Punti
    3Benjire 20Kuta Nangka
    4Bunga Baru21Kuta Pengkih
    5Butar22Kuta Raya
    6Cerumbu 23Lau Petundal
    7Gunung 24Lau Riman
    8Jandi 25Liren - Kuta Gamber
    9Kempawa 26Mbetong
    10Keriahen 27Namo Siro
    11Kidupen28Pamah
    12Kuala29Pasar Baru
    13Kuta Bangun30Perbesi
    14Kuta Buara31Pergendangen
    15Kuta Buluh32Pola Tebu
    16Kuta Galoh33Simolap
    17Kuta Gugung 34Simpang Perbesi
    35Suka Julu

    Jadwal Misa

    Harian :
    06.00 WIB (Senin -Jumat)

    18.30 WIB (Kamis)

    Jumat Pertama :

    18.30 WIB

    Sabtu :

    06.30 WIB

    Hari Minggu :

    07.00 WIB

    Sejarah Paroki St. Fransiskus Asisi - Tiga Binanga

    PENGANTAR

    Paroki pertama di Tanah Karo berdiri tahun 1948 yaitu Paroki Santa Perawan Maria Kabanjahe. Atas usulan dari umat, diambil kebijakan untuk membeli sebuah rumah di Kabanjahe yang dipakai sebagai pastoran. Alumni Sekolah Rakyat sebanyak 60 orang dari Pematang Siantar ditugaskan untuk membantu karya pelayanan Pastor. Beberapa di antaranya ialah Salim Ginting, Ketep Ginting, Brandan, Ngosari Barus, Jaga Ginting dan lain-lain. Mereka juga mengajar di sekolah negeri dan menjadi pioner-pioner yang membantu masyarakat Karo. Dengan adanya kerasulan awam ini, Gereja Katolik di Tanah Karo semakin berkembang dan dikenal di masyarakat.


    Pada tahun 1949 Pastor Maximus Brans dibantu oleh Pastor Lukas Renders serta dibantu guru agama Katolik Nimbasi Purba untuk mengembangkan gereja. Dirasakan betapa susah merintis gereja agar dapat berkembang. Januari 1950 dibentuk pengurus Gereja yang pertama di Suka Julu dan disusul pembentukan pengurus gereja Berastagi tanggal 01 Februari 1951.


    Kehadiran Suster SFD tahun 1954 sangat dirasakan di Tanah Karo yang juga sebagai usaha mewartakan karya injil dalam bidang khusus yaitu pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan kewanitaan. Selain itu dilakukan kursus-kursus kitab Suci dan doa lingkungan serta penerbitan buku-buku dalam bahasa Karo seperti: Buku Tahun Liturgi ABC, buku nyanyian, pedoman kotbah dll.

    MENGARAH KE SINGALURLAU

    Dengan kegigihan para pastor dan suster dan dibantu oleh tenaga awam, maka semakin banyak yang dipermandikan dalam Gereja Katolik termasuk ke wilayah Singalurlau sekitarnya. Adapun permandian yang dilakukan di Singalor lau yakni tanggal 18 Desember 1955 di Tiga Binanga dipermandikan sebanyak 15 orang oleh Pastor Elpidius van Duynhoven, salah satu di antaranya adalah Lenggas Simbolon. Katekumen tersebut dibimbing oleh katekis Mitar Kasianus Saragih. Sesudahnya tahun demi tahun dibaptis beberapa umat.

    Pada tahun 1959 dengan resmi Gereja Katolik Stasi Juhar berdiri dan diresmikan oleh Pastor Brans. Dalam perkumpulan, umat dibimbing oleh katekis Naik Damianus Tarigan, Syukur Sitepu dll. Pada saat itu juga dilantik pengurus yang pertama yang terdiri dari Tarzan Tarigan, Tertib Pinem dll. Tahun-tahun berikutnya tetap ada beberapa umat menerima pembaptisan di daerah ini.

    Selanjutnya perkembangan misi Katolik di daerah Kecamatan Tiga Binanga, Juhar, dan Munte agak mendek karena bencana nasional pemberontakan PKI tahun 1965.


    Pada tahun 1966 Misi Gereja Katolik diemban oleh Pastor Licinus Ginting Suka dan Pastor Kleopas van Laarhoven. Dalam menjalankan misi ini Pastor dibantu oleh katekis seperti Adat Sembiring Brahmana, Nd Nirwan, Nd Ernita, Bp Tangsi Tarigan, Pa Ngolu Purba, J. Maju Tarigan dll. Mereka menggarami masyarakat Singalorlau dalam pembentukan stasi-stasi.

    Pada tahun 1966 di Tiga Binanga di rumah Ngadang Sebayang (Pengulu Tiga Binanga) diadakan pertemuan yang dihadiri oleh Pastor Kleopas van Larhoven, Naik Dameanus Tarigan, Budi Sebayang, Ngadang Sebayang, Pak Nadeak (Supir Pastor) dan Bisman Siringo-ringo, dan dalam pertemuan tersebut direncanakan pembentukan Stasi Tiga Binanga. Sejak itu terbentuklah jemaat Gereja Katolik yang terdiri dari 10 KK antara lain keluarga Budi Sebayang, Setia Meliala, Pas Perangin-angin, Aluan Nadeak, Bismar Sirigo-ringo, Teropong Sitepu dan lainnya. Secara rutin mereka dibimbing oleh katekis Raja Kutana Sitepu, dan mengadakan kebaktian hari minggu di SD 3 Tiga Binanga. Tugas pembinaan umat ini juga dilaksanakan secara rutin dengan kunjungan Pastor Kleopas dan Pastor Licinus dari Kabanjahe. Akhirnya umat bertambah dan dibentuk pengurus dewan stasi Tiga Binanga yang terdiri dari Budi Sebayang, Pas Perangin-angin dll.

    Pada Tahun 1966 Stasi Perbesi diresmikan oleh Pastor Licinus dan Pastor Kleopas. Pada tahun 1967, Stasi Bunga Baru diresmikan oleh Pastor Licinus dan Pastor Kleopas dengan jumlah katekumen 25 KK (105 orang). Pada tahun 1968, Stasi Mbetung diresmikan oleh Pastor kleopas dan Pastor Michael Hutabarat yang mulai bertugas di Paroki Kabanjahe. Pada tahun 1968 Stasi Kempawa dan Kuta Buluh (berdiri tahun 1945) dipindahkan ke Tanah Karo. Pada tahun 1970 Stasi Pernantin diresmikan oleh Pastor Kleopas dan Pastor Michael Hutabarat. Tenaga katekis yang membantu Pastor yakni Liman Pinem.

    Perkembangan umat di Stasi Tiga Binanga tidak berjalan mulus tetapi penuh perjuangan. Akibat dari keterbatasan pengurus dalam pengembangan iman Katolik, sekitar tahun 1970 pelayanan sedikit mengalami kemacetan. Karena itu Pastor Yustinus Tinambunan OFMCap dari Kabanjahe menyurati dan memohon kepada Datas Sembiring (Bp Juliana Sembiring) dari Stasi Bunga Baru agar membantu pelaksanaan kebaktian di Tiga Binanga. Dengan kesediaan beliau Tiga Binanga dapat hidup kembali.

    PERSIAPAN PENDIRIAN PAROKI TIGA BINANGA

    Pada bulan Agustus 1975 di rumah Bp Daud Tarigan (Bp Pagit) diadakan pertemuan kecil antara Pastor Michael, Bp Pagit, Nd Pagit, dan Bohor Bangun (Bp Girik). Dalam pertemuan tersebut, Pastor Michael mengemukakan rencana Uskup untuk mendirikan Paroki Tiga Binanga sehingga nantinya Tanah Karo ada 2 Paroki yaitu Paroki Kabanjahe dan Paroki Tiga Binanga. Dalam pertemuan tersebut mereka menyambut rencana pendirian paroki ini sebagai upaya untuk meningkatkan usaha kerasulan di wilayah Tiga Binanga sekitarnya. Rencana tersebut dipublikasikan kepada umat Tiga Binanga dan mereka menerimanya hati gembira.

    Dengan penuh perjuangan para perintis mengadakan pendekatan melalui budaya dan sosial ke desa-desa di sekitar Tiga Binanga. Katekis Bohor Bangun dan Rajahot Sitanggang dengan setia mendampingi pembinaan umat di stasi Kuta Galoh sehingga tahun 1976 dapat diresmikan oleh Pastor Michael dengan katekumen sebanyak 20 KK (108 orang) dan dengan pengurus Stasi pertama yakni: Akal Sembiring, dan Nampat Ginting. Gereja Katolik Stasi Batu Mamak diresmikan oleh Pastor Simon Sinaga yang tidak lama kemudian ditugaskan di Tiga Binanga dan Pastor Michael Hutabarat. Katekumen sebanyak 8 KK (33 orang) yang dibimbing oleh katekis Rajahot dan Bohor Bangun. Pengurus stasi yang pertama adalah Bamansius Ginting dan K. Tarigan. Gereja Katolik Stasi Suka Julu oleh Pastor Michael Hutabarat dan Pastor Simon Sinaga dengan katekumen 11 KK (48 orang) yang dibimbing oleh katekis Bohor Bangun dan Rajahot. Pengurus stasi yang pertama adalah Pandek Ginting dan Rasmi Kembaren.

    Selanjutnya dengan terus bertambahnya stasi-stasi di wilayah Tiga Binanga maka akhirnya tahun 1976 Uskup Agung Medan menugaskan Pastor Michael di Tiga Binanga dan sekaligus di Tiga Nderket. Tempat tinggal pastor adalah rumah kontrakan di Jalan Kota Cane Tiga Binanga. Kehadirannya di Tiga Binanga memperderas karya kerasulan. Sementara itu karena tenaga katekis umat masih kurang, diminta kembali tenaga katekis dari Kabanjahe seperti Adat Sembiring Brahmana, Nd Nirwan, Nd Ernita Br Girsang, Maju Tarigan, Drs. Relek Tarigan, Permulaan Sebayang, R. Purba S.H dan Sr Agustina Br Matondang.


    Dengan penetapan bapak Uskup, walaupun belum ada gedung pastoran, tetapi sebenarnya Tiga Binanga sudah dipersiapkan sebagai paroki dan dewan paroki yaitu Bohor Bangun, Daud Tarigan, dan Poltak Simalango dan dilantik oleh Uskup Agung Medan pada Upacara Misa Pertama Pastor Lusius Ganin Ginting di Tiga Panah. Selanjutnya wilayah Tiga Binanga dibagi dalam 4 Subwilayah yaitu: Subwilayah Juhar dipimpin oleh Tertib Pinem, Kasim Pinem dan Sukaten Pinem. Subwilayah Tiga Binanga dipimpin oleh Bohor Bangun, Daud Tarigan dan Poltak Simalango. Subwilayah Mbetung dipimpin oleh Ndameken Pasifikus Ginting, Getum Pinem, dan Rasmin Sembiring. Subwilayah Kuta Buluh dipimpin oleh Gumpil Silangit dan Kepe Ginting.

    Pada tahun 1979 Pastor Michael Hutabarat, OFMCap., dan Pastor Simon Sinaga, OFMCap., sudah mendiami gedung Paroki Tiga Binanga di Kompleks SMP Swasta Asisi Tiga Binanga. Menurut data yang tertera dalam buku babtis I maka PAROKI TIGA BINANGA BERDIRI TANGGAL 22 APRIL 1979.


    Dalam upaya pengembangan misi gereja di Paroki Tiga Binanga, Pastor Paroki selalu memotivasi pemuka-pemuka jemaat, bahwa pengembangan rohani tidak dapat dipisahkan dari pengembangan jasmani. Mereka menekankan bahwa Gereja selain berperan membina iman, juga tidak boleh melupakan pembinaan jasmani umat. Untuk itu dibutuhkan karya-karya nyata Gereja yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kita harus dapat merebut hati masyarakat dengan mengadakan pendekatan-pendekatan di bidang religius, sosial ekonomi dan budaya. Sesudahnya penambahan stasi tetap dilaksanakan.

    Pastoran Tiga Binanga dibangun pada tahun 1982 pada masa RD Jimmy Liaw sebagai tanda kehadiran gembala di tengah umatnya dan pusat administrasi paroki. Sesudahnya pada tahun 1990-an RP Ignasius Simbolon, OFMCap., RP Norbertus Ambarita, OFMCap., RP Albinus Ginting, OFMCap., dan RP Nestor Manalu, OFMCap., meneruskan pewartaan injil dengan membina iman umat agar semakin berakar dan berkembang. Sangat disadari bahwa pewartaan injil harus senantiasa ditekankan sehingga pada masa RP Karolus Sembiring, OFMCap., sekitar 1995-2002 evangelisasi kembali digalakkan bagi mereka yang baru mengenal iman Katolik dan bagi para simpatisan dan katekumen. Dengan itu mereka semakin memahami imannya yang diaktualisasikan dalam hidup sehari-hari dengan cara sederhana. Sementara itu RP Antonius Siregar, OFMCap yang telah berada di paroki ini sejak tahun 2000 menekuni pengobatan tradisional yang membantu banyak orang sakit dari berbagai tempat. Kegiatan ini juga mendorong makin banyak orang datang ke paroki untuk memperoleh pengobatan sebagai sarana perhatian kepada mereka yang sakit dan menderita.


    Sekitar tahun 2005 RP Angelo Purba, OFMCap., menggalakkan musik liturgi dan inkulturasi sehingga liturgi semakin hidup dan semakin banyak umat terlibat dalam kehidupan menggereja. Kehadiran RP Hugolinus Malau, OFMCap., dan RP Moses Situmorang, OFMCap., meneruskan pembinaan umat. Pertumbuhan umat yang semakin banyak menuntut adanya pembagian lingkungan yang dilaksanakan sejak tahun 2013 hingga 2014 oleh RP Stefanus Sitohang, OFMCap. Dengan itu dibutuhkan para pengurus yang mendampingi dan mengorganisir kegiatan lingkungan. Melihat banyaknya kegiatan yang dilaksanakan di paroki Tiga Binanga untuk memberikan pendampingan para pengurus, kursus-kursus dan pelatihan dalam berbagai bidang maka dibutuhkan tempat yang lebih luas dan nyaman bagi para pengurus.


    Kebutuhan akan tempat pelayanan yang lebih baik mendorong RP Cypriano Barasa, OFMCap., pada awal tahun 2016 menggulirkan ide untuk memikirkan pengadaan ruangan aula, kantor paroki dan tempat penginapan yang lebih besar dan memadai. Dalam rapat-rapat DPP setiap bulan, hal ini dimatangkan dan diperluas sehingga semakin banyak umat menyumbangkan ide untuk merealisasikannya. Kemudian dilihat bahwa satu hal yang mendorong pembangunan ialah pembuatan monumen pesta 40 tahun pendirian paroki Tiga Binanga yang akan jatuh pada tahun 2019. Karena itu momen ini merupakan saat penegasan ulang untuk membangkitkan iman umat dan para pengurus agar semakin aktif dalam hidup menggereja. Hal ini didorong lagi dengan kehadiran RP Kaprilius Sitepu, OFMCap sebagai diakon pada bulan Juli 2016. Pada bulan Mei 2017 dewan paroki mendorong dan mendukung pelaksanaan pembangunan pastoran, kantor paroki dan aula paroki.


    Karena itu setelah pembentukan panitia pembangunan, panitia bekerja keras mewujudkan ide pembangunan dengan mencari dukungan dari semua pengurus stasi untuk mengumpulkan dana, mencari arsitek untuk menggambar bangunan, berkonsultasi dengan pihak Keuskupan tentang ide tersebut. Sesudahnya panitia tetap berkoordinasi untuk mematangkan ide dan melengkapi hal-hal yang diperlukan. Kehadiran RP Sebastian Siringoringo, OFMCap., Agustus 2018, memperkuat pelayanan di paroki ini dan mendukung rencana pembangunan tersebut. Pada akhir bulan September 2018, panitia bersama pastor melaksanakan audiensi ke Mgr Anicetus Sinaga, OFMCap., di Kuria Keuskupan Agung Medan untuk menyampaikan seluruh rencana besar Paroki Tiga Binanga antara lain situasi kondisi Tiga Binanga, pertambahan umat dan gerakan pengurus, serta rencana pembangunan pastoran, kantor paroki dan aula paroki sebagai hadiah pesta 40 tahun yang jatuh pada tahun 2019 yang akan datang. Bapa Uskup mendukung dan mengapresiasi kinerja seluruh panitia yang telah mempersiapkan rencana pembangunan yang hendak dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 14 Oktober 2018 sekaligus penerimaan sakramen krisma bagi umat.


    Sesudah peletakan batu pertama, pembangunan dilaksanakan oleh Bapak Ir Oloan Tamba bersama tukang sebanyak 25 orang. Dalam proses pembangunan, bagian pastoran telah selesai dan diberkati oleh Mgr Kornelius Sipayung, OFMCap., sebagai hadiah pesta 40 tahun yang dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2019, kendati bagian aula dan kantor paroki belum selesai. Peresmian bangunan pastoran ini juga dilaksanakan oleh Bapak Gubernur Sumatera Utara, Letjen Edy Rahmayadi bersama para Kadis Sumut pada tanggal 21 Oktober 2019. Pembangunan diteruskan hingga selesai dengan penambahan bagian belakang pastoran sebagai kamar-kamar tamu. Pembangunan ini menjadi tanda kedewasaan iman di Paroki ini kendati masih harus berjuang menyiapkan para pengurus supaya dapat menjawab kebutuhan umat.

    Sesudah melewati situasi Covid-19 yang sangat mengerikan, pada tgl 03 Desember 2021, secara lengkap gedung paroki Tiga Binanga yaitu kantor paroki, aula, dan kamar-kamar tamu paroki diberkati dan diresmikan oleh Mgr Kornelius Sipayung, OFMCap., (Uskup KAM). Turut hadir saat itu RP Selestinus Manalu, OFMCap., (Minister Propinsial Kapusin Medan), RP Cypriano Barasa, OFMCap., (Parochus Tiga Binanga), RP Sebastian Siringo-ringo, OFMCap., RP. Kaprilius Sitepu, OFMCap., RP. Antonius Siregar, OFMCap., Diakon Zakaria Ginting, OFMCap., dan Diakon Jona Joakim Pinem, OFMCap. Pemberkatan yang dilaksanakan di aula ini, dihadiri sebanyak 500-an umat sebagai perwakilan umat separoki. Jumlah ini tergolong ramai karena suasana masih pandemic.

    Semoga Gereja Katolik Tiga Binanga dapat menjawab kebutuhan umat, hadir di tengah situasi umat, dan menuntun umat dalam menghadapi zaman sebagai konkretisasi penghayatan iman dalam dunia masa kini.

    Para Pastor yang pernah bertugas di Paroki Tiga Binanga sejak tahun 1979 sampai dengan tahun 2020 adalah:
    1. RP Michaelangelus Hutabarat tahun 1973 sd 1978 dari Kabanjahe. Menetap di Tiga Binanga dan tinggal di rumah Sebayang sambil membangun SMP Asisi, bertugas hingga 1982.
    2. RP Simon Sinaga, OFMCap., mulai dari Kabanjahe 1976- 1982 dan pelaksana kepsek SMP pertama 1981.
    3. RP Redemptus Simamora, OFMCap., tahun 1980-1982, tinggal di aula, sendirian bebrapa waktu, sambil mengajar di SMP, masih 1 kelas dan mengajari beberapa mata pelajaran.
    4. RP Raesens, OFMCap.
    5. RD Esdras Tarigan, 1981-1984. 
    6. RD Jimmy Liaw,1982-1989.
    7. RP Valentinus Barus, OFMCap., 1981-1983.
    8. RP Antonio Razzoli, OFMConv., 1986-1990.
    9. RP Ignasius Simbolon, OFMCap., 1991-1997.
    10. RP Norbertus Ambarita, OFMCap., 1991-1996.
    11. RP Albinus Ginting, OFMCap., 1990-1995.
    12. RP Nestor Manalu, OFMCap., 1995-1998.
    13. RP Karolus Sembiring, OFMCap., 1995-2002 (Parochus).
    14. RD Anggiat Damianus Sihotang, 1996-1997.
    15. RP Antonius Siregar, OFMCap., 1999 - ss.
    16. RP Angelo Purba,OFMCap., 2001-2007 (Parochus)
    17. RP Hugolinus Malau, OFMCap., 2005- (Parochus 2007-) 2009 .
    18. RP Cyrus Simalango, OFMCap 2007-2009
    19. RP Moses Situmorang, OFMCap., 2009-2013 (Parochus).
    20. RP Stefanus Sitohang, OFMCap., 2009 - (Parochus 2013-) 2015.
    21. RP Yuventius Saragih, OFMCap., 2011-2013.
    22. RP Petrus Sinaga, OFMCap., Juli 2012- Maret 2016.
    23. RP Cypriano Barasa, OFMCap., 15 Okt 2013 (Parochus 05 Sept 2015-) 2022.
    24. RP Kaprilius Sitepu, OFMCap., Januari 2017.
    25. RP Sebastian Siringo-ringo, OFMCap., Agustus 2018.
    26. RP Zakaria Ginting, OFMCap., 05 Februari 2022
    27. RP Bernardus Sigalingging, OFMCap., 01 Juni 2022

    PARA PASTOR YANG BERKARYA SAAT INI DARI ORDO KAPUSIN YAITU:

    1. RP Bernardus Sigalingging, OFMCap., 01 Juni 2022 (Parochus 28-08-2022-ss)

    2. RP Sebastian Siringo-ringo, OFMCap., Agustus 2018ss.

    3. RP Zakaria Ginting, OFMCap., 05 Februari 2022ss

    4. RP Antonius Siregar, OFMCap., 1999 – 2019. Sejak 2019 hingga kini beliau menjadi asistensi pastoral.

    Hingga saat ini Paroki Santo Fransiskus Asisi Tiga Binanga dilayani oleh Para Imam Kapusin. Semua stasi berjumlah 45 stasi, terdiri dari 5 rayon. Jumlah KK 3238 dan jumlah jiwa 10370 jiwa. Umat tersebar di Kabupaten Karo dan Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Kongregasi Suster

    1
     
    1.
    CAE – Crucified Adorer Sisters of The Eucharist
     
    Alamat
    :
    Jl. Pelita V No. 60, Kel. Sidorame Barat, Kec. Medan Perjuangan, Medan - 20237
     
    Telp.
    :
    0812 6914 0080
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Local Superior
    :
    Sr. Marybeth Llamo, CAE
     
     
     
     
     
     2.
    DSA – Daughters of Saint Anne
     
    Alamat
    :
    Susteran Santa Anna, Jl. Pardede, GG. Sakinah No. 56, Jl. Binjai Km. 10.8, Mulio Rejo, Kec. Sunggal, Kab. Deli Serdang – 20352
     
    Telp.
    :
    (061) 8477 563
     
    HP.
    :
    0853 2154 7493
     
    Perwakilan
    :
    Sr. Morianita Sitohang, DSA
     
     
     
     
     
     3.
    FCJM – Fransiscanae Cordis Jesu et Mariae (Suster Fransiskan Putri-Putri Hati Kudus Yesus dan Maria)
     
    Alamat
    :
    Jl. Viyata Yudha, Kel. Setia Negara, Pematang Siantar – 21139
     
    Telp.
    :
    (0622) 27278
     
    HP
    :
    0812 8971 6009
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Website
    :
    www.fcjm-indonesia.org
     
    Provinsial
    :
    Sr. Theodosia Tinambunan, FCJM
     
     
     
     
     
    4.
    FSE – Fransciscanessen van de H. Elisabeth (Kongregasi Suster Fransiskanes Santa Elisabeth)
     
    Alamat
    :
    Jl. Bunga Terompet 120, Simpang Selayang, Pasar VIII, Padang Bulan, Medan – 20131
     
    Telp
    :
    (061) 8220838
     
    HP
    :
    0813-6267-7112
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Pimpinan Umum
    :
    Sr. Xaveria Lingga, FSE
     
     5.
    H. CARM - Hermanas Carmelitas (Para Saudari Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel)
     
    Alamat
    :
    Vikariat "Mater Et Decor Carmeli" Indonesia, Jl. Tidar Utara No. 14 Malang-Jawa Timur 65146
     
    Telp.
    :
    0341 – 566520
     
    Pimpinan Vikariat
    :
    Sr. Veronika Sri Agung, H.Carm
     
    Perwakilan di KAM
     
    Alamat
    :
    Susteran Hermanas Carmelitas, Jl. Sisingamangaraja Atas No. 134, Sumbul – 22281
     
    Telp.
    :
    0812 5926 2514
     
    Website
    :
    hcarmindonesia.blogspot.com
     
    Perwakilan
    :
    Sr. Pestamin Maria Pandiangan, H. Carm
     
     
     
     
     
     6.
    KSFL - Kongregasi Suster Fransiskan Santa Lusia 
     
    Alamat
    :
    Biara Santa Lusia Jl. Kain Sutera 8, Kel. Bane, Kec. Siantar Utara, Pematang Siantar – 21142
     
    Telp.
    :
    (0622) 25010 / 0813 9838 4483
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Website
    :
    www.susterksfl.org
     
    Pimpinan Umum
    :
    Sr. Oktaviana Sinaga, KSFL
     
     
     
     
     
     7.
    KSSY - Kongregasi Suster Santo Yosef
     
    Alamat
    :
    Jl. Hayam Wuruk 11, Medan – 20153
     
    Telp.
    :
    (061) 4155783 / 0813 7595 9074
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Pimpinan Umum
    :
    Sr. Gerarda Sinaga, KSSY
     
     
     
     
     
    8.
    KYM - Kongregasi Suster Cinta Kasih Dari Yesus dan Maria Pertolongan Yang Baik
     
    Alamat
    :
    Biara Mieke de Bref, Simpang Karang Sari, Desa Tambun Nabolon, Pematang Siantar – 21151
     
    Telp.
    :
    (0622) 24292 / 0813 7599 7721
     
    Website
    :
    kym-indonesia.org
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Pimpinan Umum
    :
    Sr. Theresia Situmorang, KYM
     
     
     
     
     
    9.
    OSCCap – Ordo Santa Klara Kapusines 
     
    Alamat
    :
    Biara St. Klara Sikeben, Bandar Baru, P.O.Box 1084, Kec. Sibolangit, Kab. Deli Serdang
     
    Telp.
    :
    0822-7750-0133
     
    Email
    :
    [email protected] / [email protected]
     
    Abdis
    :
    Sr. Yosefa Sinurat OSCCap
     
    10.
    OSF – Kongregasi Suster Fransiskan Sibolga
     
    Alamat
    :
    Jl. Zainul Basri Hutagalung No.2 Pandan, Tapanuli Tengah – 22613
     
    Telp.
    :
    0631 – 371845 / 0853-7123-0009
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Pimpinan Umum
    :
    Sr. Dominika Nababan, OSF
     
    Perwakilan di KAM
     
    Alamat
    :
    Huta Simpang IV, Desa Nagori Bosar, Kec. Panombeian Panei, Kab. Simalungun 21165
     
    HP
    :
    0821 6488 6766
     
    Perwakilan
    :
    Sr. Auxilia Siringoringo, OSF
     
    11.
    P. Karm – Puteri Karmel
     
    Alamat
    :
    Pertapaan Karmel, Tromol Pos 1 Tumpang, Malang - 65156
     
    Telp.
    :
    0341 – 788650
     
    Pimp. Umum
    :
    Sr. Maria Petra, P. Karm
     
    Perwakilan di KAM
     
    Alamat
    :
    Pertapaan Karmel St. Joseph, Dusun Buluh Nipes III, Desa Tanjung Sena, Kec. Sibiru-biru, Deli Serdang
     
    HP.
    :
    0822 4567 7834
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Perwakilan
    :
    Sr. Maria Rita, P. Karm
     
     
     
     
     
    12.
    SCMM – Kongregasi Suster-Suster Cintakasih Maria Bunda Berbelaskasih 
     
    Alamat
    :
    Jl. Gereja Zaitun No. 12, Sukadono, Tanjung Gusta, Deli Serdang 20352
     
    Telp.
    :
    0813-7021-1057
     
    Email
    :
    [email protected] / [email protected]
     
    Provinsial
    :
    Sr. Donata Manalu, SCMM
     
     
     
     
     
    13.
    SFD – Kongregasi Suster Fransiskus Dina
     
    Alamat
    :
    Jl. Ganesha II/8, Yogyakarta – 55165
     
    Telp.
    :
    0274 – 583890 / 0813 7508 0128
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Ministra Umum
    :
    Sr. Angela Purba, SFD
     
    Perwakilan di KAM
     
    Alamat
    :
    Jl. Bunga Terompet VII No. 40, Pasar VIII, Padang Bulan, Medan – 20131
     
    Telp.
    :
    061 – 8212476 / 0813 7569 7989
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Perwakilan
    :
    Sr. M. Yovita Simamora, SFD
     
    14.
    SFMA – Fransiscan Missionary Sisters of Asisi
     
    Alamat
    :
    Jl. Bunga Rampe, Simalingkar B, Medan – 20135
     
    Hp
    :
    0821 6523 2301 / 0813 7572 7397
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Perwakilan
    :
    Sr. Christina Hur, SFMA
     
     
     
     
     
    15.
    SOSFS – Sister Oblate Of Saint Francis Savier
     
    Perwakilan di KAM
     
    Alamat
    :
    Jl. Sakura III, Gg. Pertama, No. 10, Tanjung Selamat, Medan
     
    Hp.
    :
    0813 7519 3050
     
    Perwakilan
    :
    Sr. Handayani Peranginangin, SOSFS
     
     
     
     
     
    16.
    SS.CC – Kongregasi Suster Hati Kudus Yesus dan Maria
     
    Alamat
    :
    Jl. Cikungkurak 1 No. 44 RT 04/RW 06, Blok Beas (Blk. Komp. Sumber Sari Indah) Bandung 40223
     
    Tlp.
    :
    022-6016414
     
    Fax
    :
    022-6028764
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Pimpinan
    :
     Sr. Romeka Situmorang, SS.CC
     
    Perwakilan di KAM
     
    Alamat
    :
    d/p. Paroki St. Damian Lau Baleng
     
    Tlp.
    :
    0852-6074-4605
     
    Koordinator
    :
     Sr. Rimenda Lydia Kaban, SS.CC
     
     
     
     
     
    17.
    Institut Sekuler ALMA Medan
     
    Alamat
    :
    Jl. Rawe IV, Lingk. VI, Kel. Tangkahan/Martubung, Kec. Medan Labuhan, Medan – 20259
     
    HP.
    :
    0821 6585 2512
     
    Email
    :
    [email protected] / [email protected]
     
    Perwakilan
    :
    Sr. Fransiska Romana Dondo, ALMA
     
     
     
     
     
    18.
    Institut Sekular Katekis St. Maria
     
    Perwakilan di KAM
     
    Alamat
    :
    Pastoran Katolik, Jl.M.T. Haryono No.39, Medan 20212
     
    HP
    :
    0812-6596-358
     
    Perwakilan
    :
    Sr. Yustina Ferina Natalia
     
     
     
     
    19.
    Kongregasi Suster Kapusin Maria Rubatto (CSMR)
      
     
    Alamat
    :
    Desa Simallopuk, Kec. Parbuluan, Kab. Dairi
    HP
    :
    -
     
    Perwakilan
    :
    -

    Paroki Saribudolok

    Pelindung

    :

    Santo Fransiskus Assisi

    Buku Paroki

    :

    Sejak 1 Maret 1938. Sebelumnya bergabung dengan Pematangsiantar.

    Alamat

    :

    Pastoran Katolik, Jl. Sutomo No. 16, Saribudolok, Kec. Silimakuta,
    Kab. Simalungun - 22167

    Telp./HP.

    :

    0813-7025-0065

    Email

    :

    [email protected]

    Jumlah Umat

    :

    4.758 KK/ 18.043 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi

    :

    32

     
    01. Bagot Raja
    04. Banua
    07. Garingging
    10. Huta Raja
    13. Jandi Mariah
    16. Nagara
    19.  Pertibi Lama
    22. Purba Hinalang
    25. Purba Tua
    27. Silau Merawan
    30.Situnggaling 


    02. Baluhut
    05. Bulu Maganjang
    08. Halaotan
    11. Huta Saing
    14. Mardinding
    17. Nagori Purba
    20. Pertibi Tembe
    23. Purba Saribu
    Salbe (dipindah ke Sipintuangin, 11-Feb-2026)
    28. Sindar Dolok
    31.Soping

    03. Bandar Hinalang
    06. Gaol
    09. Haranggaol
    12. Huta Tinggir
    15. Naga Panei
    18. Pancur Batu
    21. Pematang Purba
    24.  Purba Tongah
    26. Saribu Jandi
    29. Sipolin
    32. Tiga Raja


     

    RP. Cut Noris Purba OFMCap

    27-1-1987

    Parochus

    RP. Firdaus Depari OFMCap

    19-1-1997

    Vikaris Parokial

    RP. Petrus Sinaga OFMCap 10-1-1982  Asistensi
         
     

    Sejarah Paroki St. Fransiskus Asisi - Saribudolok

    Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolog dirintis dan dimulai oleh Misionaris Kapusin Belanda. Pada tanggal 3 Juli 1931 Pastor Aurelius Kerkers OFMCap tiba di tanoh Simalungun yakni di Pematang Siantar. Pada tahun itu dibukalah stasi pertama di Tanoh Habonaron do Bona ini yakni stasi Laras. Namun pada saat itu pelayanan Misionaris lebih diutamakan kepada kalangan kolonial yang bekerja di perkebunan.

    Pada Tanggal 16 Februari 1934 tibalah juga Pastor Elpidius van Duijhoven, OFMCap di Belawan dan langsung ke jalan Sibolga Pematang Siantar. Di Siantar tepatnya di jalan Sibolga beliau tinggal bersama dengan Pastor Aurelius Kerkers. Satu tahun kemudian, yakni tahun 1935, Pastor Elpidius ditugaskan oleh Mgr. Matthias Brans untuk bermisi ke daerah Simalungun bagian atas (sebelah Utara dan Timur Danau Toba). Untuk itu Pastor Elpidius memilih tinggal di Sabah Dua, sekitar tujuh kilometer dari Pematang Siantar.

    Pada tanggal 1 Januari 1936 bersama dengan Pastor Aurelius Kerkers didirikanlah stasi Sabah Dua. Stasi ini menjadi markas pewartaan Pastor Elpidius untuk menuju Simalungun bagian atas. Dengan demikian Pastor Elpidius meninggalkan markas di Jalan Sibolga Pematang Siantar.

    Pembabtisan pertama di Simalungun Atas (Saribudolog sekitarnya) dilaksanakan di Haranggaol pada tanggal 24 November 1935. Pada hari yang sama juga ada pembabtisan di Pamatang Purba. Di Haranggaol dibabtis 11 orang dan di Pamatang Purba sebanyak 7 orang. Pembabtisan tersebut dilaksanakan oleh Pastor Elpidius. Pembabtisan berikutnya dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 1938 juga di Haranggaol dan 30 Januari 1938 di Purba Hinalang. Pembabtisan ini dicatat di Paroki St. Laurensius Jln Sibolga Pematang Siantar.

    Pada awal misi ke Simalungun Atas para misionaris sering berpindah-pindah tempat tinggal. Misalnya begitu tiba di Indonesia (1934) Pastor Elpidius bertempat tinggal di Pematangsiantar (Jalan Sibolga). Pada tahun 1935 beliau pindah dari Siantar dan bertempat tinggal di Sabah Dua. Dari Sabah Dua pastor Elpidius pindah tempat tinggal ke Sirpang Haranggaol. Dari Sirpang Haranggol pindah ke Saribudolog demi alasan strategis dari segi lokasi. Saribudolog merupakan tempat yang strategis karena di Saribudolog ada pekan (tiga) sehingga mempermudah Pastor bertemu dengan umat.

    Kalau dilihat dari Liber Babtis, pembabtisan pertama yang dicatat di Liber Babtis I Paroki Saribudolog dilaksanakan di Ranto Dior (Kotacane) pada tanggal 26 September 1938 oleh Pastor Nepomucenus Hamers OFMCap. Babtisan kedua dilaksanakan pada tanggal 27 September 1938 di Lau Bekung (Kotacane) juga oleh Pastor Nepomucenus Hamers OFMCap.Tanggal 12 Maret 1939 diadakan pembabtisan dua orang di Saribudolog oleh Pastor Nepomucenus Hamers OFMCap.

    Dengan data ini berarti pada awalnya para pastor yang melayani di Simalungun Atas tidak terbatas melayani di Simalungun Atas (Saribudolog sekitarnya) saja tetapi juga bermisi sampai ke Aceh Tenggara. Di Aceh Tenggara (Lau Bekung) Pastor Elpidius van Duijhoven berhasil menemukan seseorang yang dapat diandalkan menjadi seorang Katekis yaitu Bapak Petrus Datubara (ayah dari Uskup A.G Pius Datubara). Katekis tersebut dibawa oleh Pastor Elpidius ke Simalungun Atas dan mereka memilih tinggal tetap di Sirpang Haranggaol.

    Di Sirpang Haranggaol mereka tinggal di lokasi bangunan gereja pertama di Sirpang Haranggaol dengan bangunan rumah tempat tinggal yang sangat sederhana. Lokasi tersebut berada di sebelah kanan bila kita datang dari Saribudolog, kira-kira 100 meter sebelum simpang tiga. Sekarang lokasi tersebut milik keluarga Samuel Sipayung. Alih kepemilikan tanah tersebut terjadi karena dinilai bahwa lokasi gereja pertama kurang strategis karena berada di bawah jalan raya (struktur tanah). Maka diadakan tukar guling kepemilikan tanah antara gereja Katolik dengan keluarga Samuel Sipayung. Tanah yang dulu tempat gereja dan tempat tinggal pastor dan katekis menjadi milik keluarga Samuel Sipayung dan keluarga Samuel Sipayung menyerahkan lokasi gereja sekarang kepada pihak katolik.

    Misi di Simalungun Atas juga sempat sebentar masuk ke Tanah Karo. Di Tanah Karo Pastor Elpidius membabtis di stasi Berastagi, Sukajulu, Berastepu dan Kabanjahe. Tanggal 20 Agustus 1940 pembabtisan pertama di Berastagi atas nama Petrus Saragih tercatat di Liber Babtis I Halaman 47 Nomor 423. Pembabtisan kedua di Berastagi tanggal 26 Januari 1941 sebanyak 7 orang tercatat di LB I Halaman 66-67 No. 596-602. Tanggal 29 Desember 1940 pembabtisan di Sukajulu sebanyak 24 orang tercatat di LB I Halaman 63-65 Nomor 567-590. Tanggal 28 November 1941 pembabtisan di Berastepu atas nama Esteria br Meliala tercatat pada Liber Babtis I Halaman 86 Nomor 773. Tanggal 20 Januari 1943 pembabtisan di Kabanjahe atas nama Ndela br Sembiring, tercatat pada Liber Babtis I Halaman 112 Nomor 1006. Pembabtisan di Berastagi yang dicatat di Liber Babtis I Saribudolog yakni pembabtisan tahun 1940, 1941, 1943, 1944, 1945, 1946, 1947 dan 1948.

    Pembabtisan di Sukajulu hanya sekali saja yang di catat di Liber Babtis Saribudolog yakni pada tahun 1940. Pembabtisan di Berastepu juga hanya sekali saja yang di catat di Liber Babtis Saribudolog yakni pada tahun 1941. Pembabtisan di Kabanjahe juga hanya sekali saja di catat di liber Babtis Saribudolog dan itu pun hanya satu orang saja yakni pada tahun 1943. Dengan data ini kami tidak dapat menyimpulkan bahwa ke-empat stasi tersebut bagian dari Paroki Saribudolog karena yang dicatat di Liber Babtis Saribudolog hanya sedikit saja dan pencatatannya tidak berurut. Sesuai dengan katalog Keuskupan Agung Medan Paroki Kabanjahe sebelumnya telah bergabung dengan Paroki Katedral.

    Kapan Saribudolog menjadi Paroki? Kami tidak menemukan SK pendirian Paroki dari Keuskupan. Di catalog Keuskupan dituliskan bahwa Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolog berdiri sejak 1 Maret 1938. Pembabtisan pertama yang dicatat di Liber Babtis I Paroki Saribudolog terlaksana pada 26 September 1938 di Ranto Dior (Kotacane). Sedangkan pembabtisan di Saribudolog sendiri dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 1939 diadakan pembabtisan dua orang di Saribudolog oleh Pastor Nepomucenus Hamers OFMCap.

    Buku Kenangan 75 tahun Karya Gereja Katolik Paroki St. Fransiskus Assisi Saribudolog (1935-2010) menuliskan bahwa Paroki ini berdiri sejak 24 November 1935 dengan adanya pembabtisan pertama di Haranggaol sebanyak 11 orang dan dihari yang sama pembabtisan di Pamatang Purba 7 orang oleh Pastor Elpidius van Duijhoven. Tetapi pembabtisan tersebut masih dicatat di Paroki St. Laurensius Pamatang Siantar.

    Para Pastor yang pernah bertugas di Paroki Saribudolog yaitu:
    1. Pastor Elpidius van Duijhoven (Februari 1934 – 1985)
    2. Pastor Nepomucenus Hamers (Maret 1939 – Oktober 1939)
    3. Pastor Lukas Renders (Maret 1949 – Oktober 1949)
    4. Pastor Evaristus Albers (Februari 1966 – Agustus 1974)
    5. Pastor Fidelis Sihotang (1 Juli 1970 – Juni 1973)
    6. Pastor Rafael Hutabarat (Juli 1973 – Desember 1973)
    7. Pastor Yustinus Tinambunan (7 Agustus 1974 – April 1980)
    8. Pastor Venansius Sinaga (Juli 1974 – Desember 1975)
    9. Pastor Kosmas Tumanggor (23 Juli 1976 – 23 Juni 1978)
    10. Pastor Marianus Simanullang ( 27 juni 1978 – 15 Agustus 1983 dan 13 Agustus 1985 – 22 Juni 1988)
    11. Pastor Antonius Siregar (30 April 1980 – 13 Agustus 1985)
    12. Pastor Raymond Simanjorang (15 Agustus 1983 – 25 Desember 1991)
    13. Pastor Redemptus Simamora (16 Juni 1987 – 22 Juni 1988)
    14. Pastor Harold Harianja (27 Juli 1988 –25 April 1993)
    15. Pastor Donatus Marbun (27 Juli 1991 – 11 Juli 1995)
    16. Pastor Exuperius Sihaloho (28 Juni 1992 – 26 November 1995)
    17. Pastor Sirilus Manalu (29 Agustus 1993 – 06 Juni 1995)
    18. Pastor Thomas Sinabariba (29 Januari 1995 – 25 Desember 1995)
    19. Pastor Theodorus Sitinjak (13 Agustus 1995 – 21 Juni 1998)
    20. Pastor Frans P Situmorang (19 Agustus 1995 – 11 April 1999)
    21. Pastor Alfonsus Simatupang (28 April 1996 – 03 Januari 1999)
    22. Pastor Hugolinus Malau (September 1998 – Agustus 2000)
    23. Pastor Hiasintus Sinaga (Agustus 2000 – Agustus 2004)
    24. Pastor Selestinus Manalu (07 September 2003 – 07 Juli 2007)
    25. Pastor Albertus Pandiangan (18 Agustus 2003 – 10 Agustus 2008)
    26. Pastor Mario Sihombing (13 Agustus 2006 – 2011)
    27. Pastor Damianus Gultom (20 Agustus 2007 – Agustus 2011)
    28. Pastor Ambrosius Nainggolan (10 Agustus 2008 – 2014)
    29. Pastor Simon Sinaga (Agustus 2009 – April 2010)
    30. Pastor Ivan Simamora (27 Juli 2010 – April 2012)
    31. Pastor Jhon Paul Saragih (Agustus 2011 – April 2014)
    32. Pastor Hilarius Kemit (Maret 2014 – Oktober 2015)
    33. Pastor Giovanno Sinaga (Agustus 2012 – Maret 2019)
    34. Pastor Karolus Sembiring (Juli 2014 – Juli 2016)
    35. Pastor Trimenro Sinaga (2016 – 2019)
    36. Pastor Veuster Tamba (Juli 2020 – Juli 2021 )
    37. Pastor Angelo Pk Purba (06 Agustus 2012 – 12 September 2016 sebagai pastor rekan di Saribudolog dan pastor Paroki Pamatang Raya dan 12 September 2016 sampai sekarang sebagai pastor Paroki Saribudolog).
    38. Pastor Ignasius Simbolon (November 2016 – 05 September 2022)
    39. Pastor Roy Stepanus Nababan ( 01 Agustus 2018 – 01 Mei 2022)
    40. Pastor Noris Purba (21 September 2022 sampai sekarang)
    41. Diakon Robin Situmorang ( 01 Juli 2022 ditahbisan diakon pada tanggal 14 Juli 2022 sampai sekarang).

    Sejak tahun 1990 dibentuklah Dewan Pastoral Paroki (DPP). Salah satu tugasnya adalah menetapkan visi dan misi paroki sebagai panduan, pedoman arah dan tujuan kita menggereja. Berikut mereka yang pernah mengabdi sebagai ketua DPP (Dewan Pastoral Paroki) di Paroki Saribudolog:
    1. Jan Naman Sipayung (periode 1991– 1993 dan periode 1994 – 1996)
    2. Jahotni Philipus Manihuruk (periode 1997 – 1999)
    3. Mangasi Manik (periode 2000 – 2002)
    4. Alexander Haloho (Periode 2003 – 2005)
    5. Albert Sinaga (periode 2006 – 2008)
    6. Jahotni Philippus Manihuruk (periode 2009 – 2011)
    7. Fransiskus Xaverius Purba (periode 2012 – 2014)
    8. Elpidius Saragih (periode 2015 sampai sekarang).

    Sejak Februari 2020 paroki Saribudolog sudah memiliki seorang Katekis Generasi Muda bernama Fernando Don Bosco Saragih yang sudah mendapat SK dari keuskupan. Dengan adanya katekis ini maka pelayanan terhadap kaum generasi muda semakin dimaksimalkan.

    PANGGILAN RELIGIUS

    Paroki ini adalah lahan yang subur untuk panggilan imam. Sampai saat ini, ada 1 orang Uskup, 30 orang Pastor, 3 orang Diakon, 1 orang pradiakon dan 4 orang frater calon imam yang sudah berkaul kekal. Mereka adalah Mgr. Kornelius Sipayung (Bandar Hinalang - Uskup Keuskupan Agung Medan), Pastor Thomas Saragih OFMCap (Purba Saribu), Pastor Anselmus Haloho OFMCap (Haranggaol), Pastor Jhon Rufinus Saragih OFMCap (Pamatang Purba), Pastor Chrisanctus Saragih OFMCap (Purba Hinalang), Pastor Laurensius Haloho OFMConv (Paropo), Pastor Leopold Purba OFMCap (Purba Saribu), Pastor Agustinus Saragih OFMCap (Haranggaol), Pastor Angelo Pk Purba OFMCap (Purba Saribu), Pastor Josavat Ivo Sinaga OFMCap (Purba Saribu), Pastor Marselinus Damanik OFMConv (Jandi Mariah), Pastor Fridolinus Simanjorang OFMCap (Sibolangit), Pastor Julius Lingga OFMCap (Purba Hinalang), Pastor Gindo Saragih OFMConv (Sirpang Sigodang), Pastor Frans Purba OFMConv (Sirpang Sigodang), Pastor Gundo Saragih Pr (Sirpang Sigodang), Pastor Rinardo Saragih OFMCap (Dolog Huluan), Pastor Andreas Turnip OFMCap (Halaotan), Pastor Taucen Hotlan Girsang OFM (Purba Tua), Pastor Dionisius Purba OFMCap (Purba Saribu), Pastor Fiorensius Sipayung OFMCap (Hutatinggir), Pastor Juvensius Saragih OFMCap (Bandar Hinalang), Pastor Jonam Sipayung (Bandar Hinalang), Pastor Alfred F Karo-Karo OFMCap (Saribudolog), Pastor Jameslin Damanik Pr (Saribujandi), Pastor Hotraja Purba, OFMCap (Hutatinggir), Pastor Jumperdinan Manik OFMCap (Purba Tua), Pastor Selestinus Sinaga OFMCap (Tigaraja) Pastor Tuppal Vandenhoven Sipayung OFMCap (Halaotan), Pastor Petrus Gingging Saragih OMI (Purba Saribu), Pastor Vincent Purba Pr (Purba Hinalang), Diakon Agustinus Naibaho OFMCap (Situnggaling), Diakon Ariando Saputra Manihuruk OFMCap (Saribudolog), Diakon Ucok Dani Manik OFMCap (Purba Tua), Pradiakon Marsen Damanik Diosesan (Pamatang Purba), Frater Angelo Purba OFMCap (Saribudolog), Frater Alam Saragih OFMCap (Purba Saribu), Frater Evander Purba OFMCap (Purba Tua), Frater Wilfrido Damanik OFMCap (Pamatang Purba).

    Sekarang, karena pemekaran paroki Saribudolog, maka 6 dari pastor diatas berpindah paroki. 4 Pastor yang menjadi bagian dari Pamatang Raya yaitu, Pastor Gindo Saragih, Pastor Frans Purba, Pastor Rinardo Saragih dan Pastor Gundo Saragih. Kemudian pada September 2022, 2 orang pastor yakni pastor Laurensius Haloho dan Pastor Fridolinus Simanjorang menjadi bagian dari kuasi Paroki Silalahi.

    Paroki ini juga menjadi lahan yang subur untuk panggilan menjadi suster. Jumlah suster dari Paroki ini yang sudah berkaul kekal sampai pada saat ini sebanyak 106 orang yang tersebar di berbagai kongregasi yakni: SFD 44 orang, KYM 17 orang, FSE 12 orang, KSSY 11 orang, KSFL 7 orang, FCJM 5 orang, CB 3 orang, OSF 2 orang, Pasionis 1 orang, SPM 1 orang, OSFX 1 orang, FCh 1 orang, RMICM 1 orang.

    Suster pertama yang berasal dari Paroki ini ada 3 orang, yakni Suster Bernadetta Saragih KSSY (Haranggaol), Suster Marietha Purba KSSY (Purba Saribu), Suster Yosefina Batubara KSSY (Purba Saribu). Ketiga suster ini masuk postulan tanggal 01 Agustus 1950 dan kaul kekal 24 Juli 1958.

    Bruder yang berasal dari paroki ini ada 4 orang, yakni: Bruder Ferdinan Peranginangin BM (Panribuan), Bruder Egidius Lingga OFMCap (Purba Hinalang), Bruder Darwin Sinaga OFMConv (Nagapanei), Bruder Wilfrid Gino Sipayung OFMCap (Purba Hinalang).

    GAYA PASTORAL

    Paroki ini tergolong tua karena dirintis oleh Misionaris Kapusin Belanda. Metode dan gaya pastoral pun pasti berbeda dari zaman ke zaman. Kami mencoba membagi metode pelayanan di paroki ini menjadi 3 zaman.

    Zaman pertama kami sebut zaman Pastor Elpidius van Duijhoven cs, yakni terhitung sejak awal berdiri, yakni 1935 sampai ke pertengahan tahun 1980-an, atau zaman Pastor Elpidius cs, metode dan fokus pastoral lebih disemangati oleh Lopen en Dopen (berjalan dan membaptis). Pada zaman inilah banyak umat yang dibaptis dan stasi yang didirikan. Panggilan menjadi suster sangat pesat. Banyak umat yang masuk ke Seminari Menengah tetapi banyak yang tidak terpanggil. Maka sering kedengaran anekdot “masuk satu bis tetapi keluar dua bis”. Banyak stasi yang mayoritas penduduknya adalah Katolik. Pengaruh Pastor Elpidius sangat dominan di zaman pertama ini.

    Zaman kedua dapat kita sebut sebagai zaman Pastor Raymond Simanjorang cs, yakni antara pertengahan tahun 1980-an sampai akhir awal tahun 2000-an. Pada periode ini fokus dan metode pastoral lebih menekankan paroki mandiri. Pastor yang melayani adalah pastor pribumi. Di zaman ini kualitas iman sudah lebih mendapat perhatian. Sering kedengaran istilah “bukan kuantitas tetapi kualitas’. Pembinaan-pembinaan mulai dihidupkan dan peraturan serta “anggaran dasar paroki” mulai dituliskan. Pesta-pesta setiap tahun terhutang banyak. Maka sering juga disebut paroki ini sebagai “paroki pesta”. Disiplin ditingkatkan. Maka tidak heran bahwa sejak saat itu istilah “Katolik Disiplin” sering kedengaran.

    Banyak kemajuan yang dialami paroki pada zaman Pastor Raymond Simanjorang cs ini, tetapi dari sisi lain ada beberapa stasi, yang jauh dari pusat paroki, yang sebelumnya 100% masyarakat di desa itu beragama katolik berpindah ke agama lain, misalnya stasi Gaol dan Soping. Sejauh kami dengar perpindahan ini dapat terjadi akibat dari penanaman aturan dan disiplin demi kualitas umat. Misalnya ada aturan yang mengatakan bahwa sebelum anak dibabtis, orangtuanya harus terlebih dahulu mengikuti pembinaan dan rajin ke gereja setiap hari Minggu. Istilah “testing” pada saat persiapan terakhir sebelum baptis sering membuat umat ketakutan. Tentu hal ini berat bagi orang yang kurang rajin ke gereja, sehingga bisa saja mereka menjauh dari Katolik dan lebih memilih dibaptis di gereja yang lebih ‘’mudah’’ aturannya.

    Pada zaman Pastor Raymond Simanjorang cs aturan kursus sebelum menikah juga sudah mulai diwajibkan. Hal ini juga sering dianggap mengejutkan dan memberatkan bagi orang yang akan menikah. Gaya dan metode zaman Pastor Raymond Simanjorang cs bisa saja berat bagi umat yang hanya terlena dan menginginkan pelayanan gaya zaman Pastor Elpidius van Duijhoven cs yang lebih menekankan Lopen en Dopen, sehingga ada umat yang kurang rajin ke gereja semakin menjauh dari Katolik, walaupun sebagian besar dari umat menginginkan perubahan sebagaimana gaya dan metode pastoral yang dibuat oleh Pastor Raymond Simanjorang cs.

    Zaman ketiga kita sebut Zaman Pastor Albertus Pandiangan cs, yakni awal tahun 2000 sampai sekarang. Pada zaman ini gaya dan metode pastoral sedikit banyak masih melanjutkan gaya dan metode zaman Pastor Raymond Simanjorang cs. Pesta-pesta masih banyak, kursus-kursus dan pembinan-pembinaan semakin ditingkatkan, aula dan penginapan modern dibangun untuk tempat pembinaan atau kursus-kursus demi membangun kualitas pelayanan pengurus gereja dan iman umat Katolik. Media sosial berkembang pesat, era digital di segala bidang. Satu hal yang sangat membanggakan di zaman Pastor Albertus Pandiangan cs adalah banyaknya umat yang terpanggil dan ditahbiskan menjadi imam. Sejak tahun tahun 1999 hampir setiap tahun dari paroki ini ada yang ditahbiskan menjadi imam. Panggilan menjadi suster masih tetap subur dari dulu sampai sekarang.

    Sejak tahun 2017 metode dan fokus pastoral di paroki ini lebih berpedoman kepada fokus pastoral yang ditetapkon oleh Keuskupan Agung Medan dengan tetap mempertahankan kegiatan rutin tahunan yang sudah mentradisi di paroki ini.

    PEMEKARAN PAROKI DAN STASI

    Sejak 11 Agustus 2011 Paroki Pamatang Raya dimekarkan dari Paroki Saribudolog. Pemekran paroki ini adalah buah dari pesta Yubileum 75 tahun paroki Santo Fransiskus Assisi Saribudolog tahun 2010 dan perpindahan ibukota kabupaten Simalungun dari Pematang Siantar ke Pamatang Raya. Stasi-stasi yang masuk ke Paroki Pamatang Raya adalah stasi yang pada saat itu masuk ke Rayon Pamatang Raya yaitu: Pamatang Raya, Kampung Baru, Tumbukan Dalig, Bongguron, Dolog Manahan, Kariahan Usang, Dolog Huluan, Pulian Baru, Bangun Mariah, Bintang Mariah, Tanjung Mariah, Dolog Marimbun, Kampung Tempel, Sirpang Sigodang, Gunung Mariah Panei dan Mappu.

    Kemudian per 01 September 2022 diresmikan kuasi paroki Silalahi, dimana stasi Silalahi sebelumnya merupakan salah satu stasi dari paroki Dyonisius Sumbul. Empat stasi dari Paroki Saribudolog bergabung dalam Kuasi Paroki Silalahi yaitu: stasi Sibolangit, stasi Tongging, stasi Kodon-kodon dan Stasi Paropo, dengan jumlah 295 kepala keluarga degan jumlah 1.157 jiwa dari ke 4 stasi tersebut.

    Mengingat jumlah umat yang semakin hari semakin bertambah, maka diperlukan pemekaran stasi. Pada tahun 1973 stasi Purba Saribu Mekar dari stasi Haranggaol, pada tahun 1985 stasi Bandar Hinalang mekar dari Saribudolog, dan pada tahun 1985 juga stasi Bulu Maganjang mekar dari stasi Sipolin, pada tahun 1997 Stasi Perasmian mekar dari stasi Saranpadang, pada tahun 1995 stasi Nagara mekar dari stasi Garingging, pada tahun 2008 stasi Panribuan Jahean mekar dari stasi Panribuan, pada tahun 2012 stasi Bagod Raja mekar dari stasi Pamatang Purba, pada tahun 2019 stasi Mardinding mekar dari gereja paroki Saribudolog.

    Untuk rencana di kemudian hari, kami melihat bahwa ada 4 stasi yang akan dimekarkan yakni, stasi Dusun (Bintang Mariah) akan dimekarkan dari gereja paroki, stasi Bangun Saribu akan dimekarkan dari Jandi Mariah, stasi Gajapokki akan dimekarkan dari stasi Purba Hinalang dan stasi Nagalingga akan dimekarkan dari stasi Pancur Batu.

    KEADAAN FISIK PAROKI

    Dalam tulisan ini kami ingin juga menceritakan bagaimana sejarah pembangunan fisik paroki ini. Mengenai tahap pembangunan dan pengembangan fisik Paroki tidak banyak kami ketahui, tetapi tanah yang dibeli Pastor Elpidius untuk dijadikan tempat mendirikan gereja dan pastoran sederhana disampingnya dibeli dengan harga yang relatif mahal. Tanah yang sekarang diatasnya berdiri bangunan Gereja, Pastoran, Aula, Susteran dan Sekolah merupakan gabungan dari tanah yang dibeli oleh Pastor Elpidius dari beberapa orang pemilik tanah.

    Pada awalnya di tanah tersebut dibangunlah gereja kecil dan pastoran sederhana di dekatnya. Gereja kecil dengan plankat besar yang berdiri di pinggir jalan Nasional Saribudolok - Kabanjahe tersebut mengundang pertanyaan bagi orang yang melihatnya dan bertanya “mengapa gerejanya kecil tetapi plankatnya begitu besar?”. Pastor Elpidius menjawab ”gerejanya memang kecil, tetapi gereja inilah gereja yang benar”. Setelah beberapa tahun gereja kecil dan pastoran kecil itu diganti menjadi gereja yang besar dan pastoran yang relatif luas pada zamannya dan aula yang kemudian digunakan sebagai asrama putri. Pada tahun 1991 Pastoran diperbarui dan diresmikan pada tanggal 29 September 1991. Pada tahun 1997 Aula yang dulu dipakai sebagai Asrama Putri kembali difungsikan menjadi aula paroki. Pada tahun 2013 Gereja Paroki direhab dan diresmikan pada tanggal 26 Januari 2014 oleh Uskup Agung Medan Mgr. Anicetus Sinaga.

    Menurut kami, aula paroki yang dulu sempat dijadikan asrama putri sampai tahun 1997 sudah tidak layak lagi sebagai tempat berkumpul dan pembinaan umat karena sudah termakan usia. Padahal, paroki sangat membutuhkan tempat untuk berkumpul dan pembinaan yang layak dan mendukung. Perlu juga kami informasikan bahwa pembangunan aula baru sangat mendesak karena kebutuhan pastoral, misalnya tempat ibadat sekolah minggu sekali seminggu, tempat kursus persiapan perkawinan selama 3 hari 2 malam setiap bulan, rapat-rapat dewan pastoral paroki, rapat paripurna, kursus/pembinaan untuk pengurus gereja dan umat. Pada tanggal 27 Mei 2018 telah diadakan peletakan batu pertama oleh Mgr A.G Pius Datubara.

    Pembangunan dimulai pada tanggal 15 Juli 2019. Aula tersebut diberi nama Sopou Bolon Oppung Dolog. “Oppung Dolog” adalah nama atau gelar yang diberi masyarakat Saribudolog kepada Pastor Elpidius van Duijhoven ketika beliau merayakan pesta Yubileum 50 tahun imamat di Saribudolog. Aula ini diberi nama Sopou Bolon Oppung Dolog untuk mengingat jasa Pastor yang memulai Paroki ini, serta mengingat Pastor tersebut sudah menjadi “orang Kudus” di paroki Saribudolog dan sekitarnya. Menurut Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung komunitas pastoran akan dipindahkan ke lantai II sopou Bolon Oppung Dolog. Sekarang Kantor Paroki, Pastoran, Aula sudah menyatu menjadi satu bangunan. Kantor paroki akan direhab sehingga menjadi lebih luas lengkap dengan ruang kanonik/bicara pribadi, perluasan kamar arsip/brankas/kamar tahan api dan kamar para Pastor yang selama ini akan dijadikan menjadi penginapan tamu dan peserta kursus pembinaan. Sopou Bolon Oppung Dolog telah diresmikan pada tanggal 1 Mei 2022 yang diresmikan oleh Mgr. Kornelius Sipayung.

    BATAS WILAYAH

    Batas Wilayah Paroki Saribudolog sebelah Timur adalah stasi Tigarunggu, Kecamatan Purba yang berbatas dengan Kecamatan Dolog Masagal, Kabupaten Simalungun (Paroki Pamatang Raya), dan stasi Salbe di Kecamatan Dolog Pardamean, Kabupaten Simalungun yang berbatasan dengan Paroki St. Josep Jl. Bali Pematang Siantar. Batas Paroki sebelah Utara adalah stasi Marjandi Pamatang, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Deli Serdang yang berbatasan dengan Paroki Lubuk Pakam. Batas sebelah Barat adalah Stasi Pansur Batu Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Batas bagian Selatan adalah Stasi Baluhut dan Soping Kecamatan Pamatang Silimahuta, Kabupaten Simalungun yang berbatas dengan Danau Toba dan Stasi Nagori Purba dan Gaol Kecamatan Haranggaol Horisan, Kabupaten Simalungun yang berbatas dengan Danau Toba. Data Umat berdasarkan BIDUK sebanyak 17.085 jiwa, Mayoritas pekerjaan umat adalah petani, dengan jumlah stasi sebanyak 42 ditambah dengan gereja paroki dan lingkungan sebanyak 141 lingkungan.

    KEKHASAN PAROKI

    Dalam konteks teritorial, Paroki Saribudolog berada di pusat Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun yang pelayanannya meliputi 34 stasi di Kabupaten Simalungun, 6 stasi di Kabupaten Karo, 3 stasi di Kabupaten Deli Serdang.

    Dalam konteks kategorial, umat paroki ini hidup melalui pertanian, ada juga pedagang dan Pegawai Negeri Sipil. Lahan pertanian di Paroki ini umumnya lahan yang suburdan luas serta cuaca yang dingin, sementara di pesisir pantai Danau Toba tanahnya kurang subur dan lahan pertanian sempit. Tentu perbedaan diatas membuat perbedaan tingkat ekonomi juga terasa antara kedua daerah tersebut. Mayoritas umat di Paroki ini sudah sadar akan pentingnya pendidikan dan banyak umat yang sudah menimba ilmu di perguruan tinggi memilih untuk tinggal dan mengolah lahan pertanian mereka serta berwiraswasta di daerahnya.

    Dalam Konteks Kemasyarakatan. Mayoritas umat paroki ini adalah etnis Simalungun, banyak juga etnis Karo dan Toba, sebahagian kecil ada suku Nias dan khususnya di pusat paroki dan stasi Haranggaol ada etnis Tionghoa yang sudah lama tinggal di Saribudolog dan Haranggaol yang telah memilih bermarga Purba, Girsang, Sipayung dan Haloho. Bahasa Liturgi di Paroki ini ada tiga bahasa yakni, Bahasa Simalungun, Bahasa Karo, Bahasa Toba. Yang menggunakan bahasa Simalungun sebanyak 32 stasi, berbahasa Toba sebanyak 5 stasi, dan Bahasa Karo sebanyak 6 stasi. Dengan demikian mau tidak mau petugas pastoral di Paroki Saribudolog ini harus menguasai ketiga bahasa tersebut dan berkenan mempelajari ketiga budaya yang ada karena pendekatan pastoral kepada ketiga etnis tersebut juga pasti berbeda. Demikian juga pendekatan pastoral terhadap umat yang berada di dataran tinggi berbeda dengan umat yang berada di pesisir pantai. Umat yang berada di dataran tinggi ini tutur katanya lebih halus sedangkan umat yang berada di Pesisir Pantai tutur-katanya lebih keras.

    Di paroki ini sosok Pastor Elpidius van Duijhoven masih tetap dikenang. Nama Pastor ini lebih dikenal sebagai Oppung Dolog. Makamnya ada di simpang Haranggaol dan banyak umat Paroki ini dan juga banyak yang merantau ke laur daerah dan bahkan orang dari luar paroki ini baik Katolik maupun yang tidak Katolik berziarah kemakam tersebut. Untuk umat paroki ini Oppung Dolog sudah dianggap ‘orang kudus’. SMA Katolik yang didirikan disini diberi nama SMA CR van Duynhoven dan 2 lingkungan di Gereja Paroki mengambil nama beliau menjadi nama pelindungnya. Setiap tahun ada pesta OMK dengan nama Duijhoven Cup. Aula paroki diberi nama Sopou Bolon Oppung Dolog. Intinya jikalau berbicara mengenai Oppung Dolog umat di paroki ini sepertinya tidak pernah bosan. Ada juga sekelompok umat yang dinamai Siminik ni Oppung Dolog. Mereka tinggal di perantauan dan bangga sebagai Putera dan Puteri Paroki Saribudolog ini. Mereka sangat hormat kepada Oppung Dolog dan senantiasa berusaha supaya Oppung Dolog tetap dikenang. Mereka telah menerbitkan biografi Oppung Dolog dan sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris. Selain memberi perhatian kepada Oppung Dolog, mereka juga selalu memberi perhatian atau sumbangan demi kemajuan Paroki ini.

    Pada tanggal 5 Februari 2022 yang lalu, kami Pastor Paroki bersama dengan Dewan Pastoral Paroki, wakil umat serta Siminik ni Oppung Dolog telah menghadap Minister Provinsial Kapusin Medan, RP. Selestinus Manalu, OFMCap, bermohon supaya Provinsial berkenan mengusulkan kepada Minister General Kapusin di Roma supaya Pastor Elpidius van Duijhoven diajukan menjadi Orang Kudus dalam gereja Katolik.

    KOMUNITAS RELIGIUS

    Di paroki ini ada tiga komunitas religious yaitu, Komunitas Ordo Kapusin Saribudolog, Komunitas Suster SFD Saribudolog dan komunitas Suster SFD Haranggaol.

    Komunitas Kapusin Saribudolog sudah dimulai sejak pastor Elpidius dan misionaris Kapusin tinggal di Saribudolog. Menurut katalog keuskupan, paroki/komunitas Saribudolog berdiri sejak 1 Maret 1938. Tujuannya adalah misi Katolik dan pelayanan pastoral parokial.

    Komunitas Suster Fransiskan Dina (SFD) ikut serta bermisi di Saribudolog sekitarnya. Mereka berasal dari Dongen (Belanda). Misi Suster SFD ini lebih memprioritaskan bidang sosial; pendidikan dan kesehatan. Awalnya mereka melayani paroki Saribudolog dari komunitas Kabanjahe. Suster pertama yang hadir dan berkarya di Paroki Saribudolog adalah Suster Antonetha SFD dan Suster Bibiana SFD. Pada tanggal 01 Agustus 1958 Suster SFD mendirikan Sekolah Keterampilan Khusus Perempuan (SKKP) di Saribudolog dan sejak itulah mereka tinggal menetap (berkomunitas) di Saribudolog. Kemudian pada tahun 1976 SKKP tersebut berubah menjadi SMP Bunda Mulia Saribudolog.

    Pada tahun 1988 Suster SFD membuka karya di Haranggaol. Misi/karya mereka di Haranggaol bergerak di bidang kesehatan dan pendidikan. Awalnya mereka tinggal di rumah milik paroki yang sebelumnya digunakan sebagai asrama putri yang bersekolah di SMP St. Agustinus Haranggaol. Sekarang rumah itu sudah direhab dan digunakan untuk kebutuhan stasi dan paroki. Ada rencana bahwa pada tahun ajaran 2022 ini akan difungsikan kembali menjadi asrama putri dengan tujuan mendukung SMP St. Agustinus Haranggaol.Pada tahun 1989 Suster SFD membangun susteran yang diresmikan oleh Mgr. Pius Datubara pada tanggal 4 Maret 1990. Suster yang pertama tinggal di komunitas Haranggaol adalah suster Bernadetta SFD dan suster Albertha SFD.

    PELAYANAN BIDANG PENDIDIKAN

    Karya bidang Pendidikan ada enam yaitu, TK Harapan Saribudolog, TK St. Fransiskus Haranggaol, SD Don Bosco Saribudolog, SMP St. Agustinus Haranggaol, SMP Bunda Mulia Saribudolog, SMA van Duynhoven Saribudolog.

    Taman Kanak - kanak (TK) Harapan Saribudolog adalah milik suster SFD yang didirikan pada tanggal 06 September 1976 dan sekaligus menjadi tempat penitipan bayi. Sesudah keluar izin operasional sekolah dari pemerintah pada tanggal 28 Februari 1989 penitipan bayi ditutup dan hanya menerima murid TK.

    Taman Kanak - kanak (TK) St. Fransiskus Haranggaol adalah milik suster SFD, TK ini berdiri sejak tahun 1988 dengan menggunakan gedung milik paroki yang sebelumnya digunakan sebagai asrama putri yang berada di pinggir Danau Toba berseberangan jalan dengan gedung SMP St. Agustinus Haranggaol.Izin operasional dari dinas pendidikan baru keluar pada tanggal 31 Desember 2003. TK tersebut pindah lokasi ke tempat yang sekarang pada tahun 1991 yang berada di samping susteran Haranggaol.

    Sekolah Dasar (SD) Don Bosco Saribudolog. Sekolah ini didirikan pada tahun 1967 oleh Pastor Elpidius Van Duijhoven bersama suster SFD dan beberapa tokoh umat. Awalnya sekolah ini didirikan untuk pemberantasan buta huruf alias belum sekolah formal. Pada tanggal 01 Juli 1968 gedung semi permanen dibangun dan sejak itu sekolah ini menjadi sekolah formal. Kepala sekolah yang pertama ialah suster Antonetta SFD. Sekolah ini sekarang dibawah Yayasan Pendidikan Katolik Don Bosco KAM.

    Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bunda Mulia Saribudolog. Sebelumnya sekolah ini adalah Sekolah Keterampilan Khusus Perempuan (SKKP) yang berdiri pada tanggal 01 Agustus 1956. Kemudian pada tahun 1976 SKKP tersebut berubah menjadi SMP Bunda Mulia Saribudolog. Kepala sekolah yang pertama ialah Agnes Saragih. Sekolah ini sekarang dibawah Yayasan Pendidikan Katolik Don Bosco KAM.

    Sekolah Menengah Pertama (SMP) St. Agustinus Haranggaol. Sekolah ini didirikan oleh misionaris sekitar awal tahun 30an. Tanah tempat bangunan tersebut dihibahkan oleh Raja Purba kepada Katolik. Pada awalnya sekolah ini berfungsi ganda; tempat Sekolah Rakyat (SR) Katolik dan sekaligus juga sebagai tempat ibadah (Gereja). Pada tahun 1954 pemerintah membangun Sekolah Rakyat di Haranggaol, akibatnya SR Katolik tersebut ditutup dan beralih menjadi Sekolah Guru Bawah (SGB) pada tanggal 01 Agustus 1954. SGB hanya bertahan 3 tahun. Pada tahun 1957 SGB tersebut beralih menjadi Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kepala sekolah yang pertama adalah A. Situmorang. Kini sekolah ini dibawah Yayasan Pendidikan Katolik Don Bosco KAM.

    Sekolah Menengah Atas (SMA) van Duynhoven Saribudolog. Sekolah ini berdiri sejak 1986 diprakarsai oleh Pastor Raymond Simanjorang,OFMCap bersama Dewan Pastoral Paroki Saribudolog. Ide mendirikan sekolah ini lahir dari latar belakang pesta emas imamat Pastor Elpidius.“Kado apa gerangan yang cocok diberikan kepada Pastor Elpidius atas pesta Jubileum imamatnya?” lalu muncul ide mendirikan monumen berupa patung Pastor Elpidius (Oppung Dolog), namun pastor Elpidius keberatan. Pastor Elpidius lebih senang bila Paroki lebih memperhatikan pendidikan supaya anak-anak paroki bisa di didik dengan baik. Akhirnya paroki mendirikan SMA yang diberi nama SMA van Duynhoven Saribudolog yang sekarang berdiri teguh di Jl. Kabanjahe Saribudolog. Pembangunan sekolah ini dibiayai oleh umat paroki dan di dukung oleh para donator. Kepala sekolah yang pertama adalah Pastor Raymond Simanjorang,OFMCap. Kini sekolah ini dibawah Yayasan Pendidikan Katolik Don Bosco KAM.

    Untuk mendukung karya pendidikan di atas di paroki ini juga didirikan 2 asrama yaitu, Asrama Putra Kapusin St. Fransiskus Assisi Saribudolog dan Asrama Putri Suster SFD Sta. Theresia Saribudolog.

    Asrama putri didirikan pada tahun 1954 untuk menampung siswa SKKP yang ditangani oleh suster SFD, akan tetapi pada tahun 1967 pengelolaannya diserahkan kepada paroki. Maka sejak tahun itu aula paroki dialihfungsikan dan disekat menjadi asrama putra dan putri. Seiring dengan adanya usaha untuk memajukan kualitas asrama maka paroki mengusulkan pengelolaan asrama putra diserahkan kepada ordo Kapusin dan asrama putri kepada kongregasi SFD. Ordo Kapusin dan kongregasi suster SFD menerimanya dengan senang hati. Akhirnya pada tahun 1999 Kapusin membangun asrama putra di tanah milik Kapusin Medan dan diresmikan pada tanggal 17 Februari 2001yang diberi nama Asrama Putra Kapusin St. Fransiskus Assisi Saribudolog. Asrama putri juga dibangun di lahan milik suster SFD yang diberi nama asrama Sta. Theresia Saribudolog. Yang diresmikan oleh pastor Theodorus Sitinjak,OFMCap pada tanggal 27 Februari 1997.

    PELAYANAN BIDANG KESEHATAN

    Bidang Kesehatan ada dua yaitu, Klinik Suster SFD St. Fransiskus Saribudolog dan Klinik Suster SFD Haranggaol.

    Klinik St. Fransiskus Assisi Saribudolog adalah milik suster SFD. Klinik ini didirikan pada tahun 1987 yang pelayanannya dimulai oleh suster Bernadetta SFD. Tetapi pada awalnya pelayanan hanya dilaksanakan setiap hari Rabu di tempat yang sangat sederhana dekat dengan susteran Alverna Saribudolog. Hari Rabu dipilih karena Rabu adalah hari pekan di Saribudolog. Pada tahun 1989 pelayanan ini semakin diseriusi dengan memberi tenaga yang khusus di bidang kesehatan yakni suster Venantia SFD. Sejak saat itu pelayanan tidak hanya sebatas hari rabu tetapi menjadi setiap hari. Pada tahun 1994 izin operasional klinik kesehatan resmi keluar dari Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun. Karena jumlah pasien yang datang semakin hari semakin banyak maka pada tahun 1997 dibangunlah poliklinik yang baru dengan fasilitas rawat inap di tempat yang sekarang. Bangunan tersebut diresmikan tanggal 22 Februari 1998 oleh pastor Emmanuel Sembiring,OFMCap.

    Klinik pengobatan St. Fransiskus Haranggaol adalah milik suster SFD. Pelayanan kesehatan oleh suster SFD di Haranggaol dimulai sejak 1989 dengan menyewa satu rumah milik masyarakat. Pelayanan hanya sekali seminggu yakni di hari Senin mengingat bahwa hari Senin adalah Pekan di Haranggaol. Suster yang pertama melayani adalah suster Bernadetha SFD. Klinik yang sekarang didirikan dan diresmikan pada tahun 2001 dan pelayanan sudah beroperasi setiap hari dengan fasilitas rawat jalan dan rawat inap.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Kongregasi Bruder/Frater

    0

     

     
    1.
    Kongregasi Bruder Budi Mulia (BM)
     
    Alamat
    :
    Jl. Gunung Sahari 91, Jakarta – 10610
     
    Telp.
    :
    (021) 4219055
     
    Provinsial
    :
    Br. Gregorius Suwardi, BM
     
    Perwakilan di KAM
     
    Alamat
    :
    Bruderan Budi Mulia, Jl. Uskup Agung Soegiopranoto No. 1, Pangururan - Samosir 22392
     
    Telp.
    :
    +62 - 853 2661 9878 
     
    Koordin.
    :
    Br. Fransiskus Sirait, BM
     
    2.
    Kongregasi Frater Santa Maria Bunda Yang Berbelas Kasih (Frater CMM)
     
    Alamat
    :
    Jl. Ampel 6 Papringan, Yogyakarta – 55281
     
    Telp.
    :
    (0274) 514480
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Provinsisal
    :
    Fr. Pilipus Weridity CMM
     
    Perwakilan di KAM
     
    Alamat
    :
    Frateran CMM Perawan Maria dan Fatima, Jl. Pastor Sybrandus van Rossum, Soposurung, Kec. Balige, Kab. Toba 22312
     
    Telp.
    :
    +62 - 852 5386 2562
     
    Email
    :
    [email protected]
     
    Koordinator
    :
    Fr. Bonifasius Leston Situmorang CMM

     

    Paroki Lawe Desky

    Pelindung

    :

    Santo Yosef

    Buku Paroki

    :

    Sejak 1 Maret 1952. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan dan Paroki Saribudolok (tahun 1939-1952)

    Alamat

    :

    Jl. Simpang RK, Lawe Desky, Kec. Babul Makmur Kab. Aceh Tenggara– 24673

    Telp.

    :

    -

    Email

    :

    [email protected]

    Jumlah Umat

    :

    1.120 KK/ 4.318 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi

    :

    14

    01. Bukit Makmur
    04. Lau Garut
    07. Lau Pengulu
    10. Lumban Tua
    13. Ranto Dior
    02. Gunung Nias
    05. Lau Kesumpat
    08. Lawe Bekung
    11. Muara Situlen
    14. Sumbeikan
    03. Kuta Tengah
    06. Lau Mandin
    09. Lawe Kinga
    12. Rambe Mbelang

    RP. Tarsisius Son, SS.CC

    24.02.’78

    Parochus

    RP. Adrianus David Nautani, SS.CC

    05.06.’95

    Vikaris Parokial

    Jadwal Misa Gereja Paroki Lawe Desky

    Harian : 06.00 WIB (Senin-Jumat)
    Jumat Pertama : 19.30 WIB
    Minggu : 07.30 WIB

    Sejarah Paroki St. Yosef Lawe Desky

    Untuk menggambarkan secara jelas dan detail mengenai awal berdiri gereja Katolik di paroki ini tidak ditemukan. Gereja Katolik masuk Aceh Tenggara sejak masa penjajahan Belanda melalui orang Batak. Yang menghadirkan gereja Katolik di Aceh Tenggara adalah Pater Elpidius Van Duinjhoven OFM Cap yang waktu itu datang dari Saribudolok. Stasi pertama yang dikunjungi oleh Pater Van Duinjhoven adalah Stasi Ranto Dior, selanjutnya Lawe Desky, Lawe Bekung, Kuta Tengah dan lain-lain. Jumlah umat stasi Ranto Dior waktu itu berjumlah 12 KK dan di Lawe Desky 10 KK. Kehadiran umat Katolik di wilayah ini datang dari Tapanuli Utara, Tanah Karo dan Simalungun.

    Keterbatasan ruang gerak dan kebebasan membuat gereja Katolik bertumbuh dan berkembang lamban secara kuantitatif. Namun Paroki ini makin bertumbuh dan berkembang setelah Pater Reginaldus Bleijs OFM Cap menetap di Lawe Desky dan mendirikan Paroki ini.

    Berdasarkan data Liber Baptizatorum (Buku Baptis), ada pembaptisan yang pertama pada tanggal 07 Maret 1952 di Lawe Desky. Tidak tercatat kapan tanggal peresmian paroki ini (tidak ditemukan data yang valid mengenai hal ini). Namun menurut dugaan, besar kemungkinan paroki ini diresmikan tanggal 19 Maret 1952 (Dua Minggu setelah baptisan pertama) bertepatan dengan Hari Raya Santo Yosef, Suami Maria yang merupakan pelindung paroki ini.

    Pastor paroki yang pertama adalah Pastor RegenaldusBleys OFM Cap. Pastor Regenalus Bleys OFM Cap berkarya selama 10 tahun mulai tahun 1952 – 1962. Jumlah stasi pada awal pendirian paroki ini adalah 6 stasi, yakni Ranto Dior, Lawe Bekung, Lawe Desky, Kuta Tengah, Lumban Tua dan Lawe Kinga. Jumlah umat awal kira-kira 210 orang.

    Peranan umat awam dalam karya perintisan Gereja Katolik di wilayah ini sungguh mengagumkan. Mereka membantu pastor dalam menyebarkan dan mewartakan Injil di wilayah Aceh Tenggara dan Tanah Karo. Tokoh awam yang patut disebutkan namanya di sini adalah Bapak Petrus Datubara (Ayah Kandung dari Uskup Emeritus Mgr. Pius Datubara) dari stasi Lawe Bekung, Bapak Tian Saragih, Bapak Martinus Purba dari Stasi Lawe Desky.

    Tanggal 10 Agustus 1997, Paroki St Yosef Lawe Desky diserahterimakan dari Ordo Kapusin kepada SVD. Waktu diadakan serahterima dari Ordo Kapusin kepada ordo SVD jumlah stasi sudah jauh bertambah yakni 32 stasi yang menyebar di 3 (tiga) kabupaten: Aceh Tenggara, Kabupaten Karo dan kabupaten Dairi dengan jumlah umat 1196 KK (5191 jiwa) yang digabungkan dalam 3 (Tiga) rayon, yakni:
    1. Rayon Lawe Desky (10 stasi)
    2. Lau Baleng (13 stasi)
    3. Mardinding (9 stasi)
    Pada tahun 2013, paroki St Yosef membuat pemekaran paroki untuk dua rayon (Lau Baleng dan Mardinding) dengan pusat paroki pemekaran yakni Lau Baleng.

    Sejak Januari 2019, paroki St Yosef mengalami pergantian penggembalaan. Keuskupan Agung Medan menyerahkan tata penggembalaan paroki St Yosef dari Ordo SVD ke Ordo SSCC (Hati Kudus Yesus dan Maria). Jumlah stasi paroki St Yosef setelah dimekarkan dan pergantian tata penggembalaan yakni 15 stasi yang terbagi menjadi dua rayon: Rayon Satu Aceh Tenggara 8 stasi dan Rayon Dua tanah Karo 7 stasi.

    Berdasarkan data pada Liber Baptizatorum, para pastor yang pernah bertugas di paroki ini untuk melanjutkan karya kerasulan dan pastoral adalah sebagai berikut:
    1. P. Licinius Fasol OFMCap
    2. P Elpidius Van Duijnhoven OFMCap
    3. P. Reginaldus Bleijs OFMCap
    4. P. Maximus Brans OFMCap
    5. P. R. Raessens OFMCap
    6. P. Mikael Hutabarat OFMCap
    7. P. Simon Sinaga OFMCap
    8. P. Fernando Saveri OFMConv.
    9. P. Valentinus Barus OFMCap
    10. P. Ambrosius Sihombing OFMCap
    11. P. Ludovikus Siallagan OFMCap
    12. P. Albinus Ginting OFMCap
    13. P. Ignasius Simbolon OFMCap
    14. P. Norbert Ambarita OFMCap
    15. P. Karolus Sembiring OFMCap
    16. P. Nestor Manalu OFMCap
    17. P. Ezra Susanto SVD
    18. P. Yoseph Waryadi SVD
    19. P Paulus Payong SVD
    20. P. Fransiskus Sidok SVD
    21. P. Charles Lanang Ona SVD
    22. P. Agus Naru SVD
    23. P. Aloysius Wayan SVD
    24. P. Antonius Suprapto SSCC
    25. P. Tarsisius Son SSCC (2019... sekarang)
    26. P. Shenli Mario Angelo SSCC (2022 ... sekarang)

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Lau Baleng

    Pelindung

    :

    Santo Damian

    Buku Paroki

    :

    Sejak 18 Oktober 2013. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Lawe Desky dan Tiga Binanga

    Alamat

    :

    Jl. Renun No. 175 Gg. Wed-Pastoran Pondok, Kec. Lau Baleng, Kab. Karo, Tanah Karo - 22164

    Telp.

    :

    0821 6544 2922

    Email

    :

    [email protected]

    Jumlah Umat

    :

    1.283 KK/ 4.183 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi

    :

    22

    01. Alur Subur
    04. Genting
    07. Kinangkong
    10. Lau Peranggunen
    13. Lau Timah
    16. Mardingding
    19. Pasir Tengah
    22. Siodang-odang
    02. Buluh Pancur
    05. Gunung Pamah
    08. Lau Mulgap
    11. Lau Peske
    14. Lingga Muda
    17. Mbal-mbal Petarum
    20. Pintu Angin
     
    03. Durian Rugun
    06. Huta Ginjang
    09. Lau Njuhar
    12. Lau Renun
    15. Mangan Molih
    18. Pasir Mbelang
    21. Simpang Banjar
     

    RP. Paulus Budi Yunianto SSCC 


    Parochus

    RP. Abel Nelo SSCC


    Vikaris Parokial

     
     

    Sejarah Paroki Santo Damian Lau Baleng

    Panggilan menjadi umat katolik merupakan sebuah sapaan dan tawaran Tuhan yang bersifat personal dan bebas bagi setiap umat manusia. Tumbuhnya benih iman di Lau Baleng bermula dari keterbukaan hati Bapak Bolong Maha untuk mengenal Kristus yang muncul saat dia menjadi tahanan penjara pada zaman Belanda. Ketika di dalam penjara, beliau berjumpa dan berbagi pengalaman dengan umat katolik dari Belanda yang ditahan waktu itu. Setelah keluar dari penjara (1949), beliau melanjutkan tugasnya sebagai kepala desa Lau Baleng. Rumahnya tidak hanya lagi menjadi pusat urusan administrasi pemerintahan tetapi juga terbuka bagi kunjungan pastor untuk mewartakan iman bagi warga sekitar yang saat itu masih beragama asli (agama pemena).

    Pada tahun 1953, Bpk Bolong Maha sekeluarga dan umat bersedia dibaptis menjadi Katolik. Kelompok ini menjadi komunitas awal tumbuh dan berkembangnya iman katolik di Lau Baleng. Awalnya semua kegiatan doa dilaksanakan di rumah bapak Bolong Maha. Namun dalam perkembangan waktu ketika jumlah umat semakin bertambah maka kegiatan gereja berpindah ke sebuah gedung sederhana di Kampung Baru. Selain berdoa bersama, para pengurus pun bergiat mengunjungi umat dari rumah ke rumah. Kunjungan keluarga menumbuhkan semangat kekeluargaan dan persaudaraan sebagai umat katolik. Iman umat semakin berkembang dan banyak warga tertarik menjadi Katolik. Pada tahun 1960an, kegiatan gereja dipindahkan ke daerah Jalan Renun Lau Baleng. Para pengurus gereja bersama umat membangun sebuah gedung setengah tembok di atas lahan yang sebelumnya menjadi lapangan terbang Belanda. Gedung gereja diresmikan oleh Mgr Batubara (2012) dan seluruh pelayanan pastoral dari Paroki Lawe Desky. Sejarah Kuasi Paroki St Damian Lau Baleng.

    Sebelum menjadi kuasi paroki, beberapa stasi Lau Baleng bergabung dengan paroki Lawedesky dan Tiga Binanga. Luasnya wilayah pastoral menumbuhkan sebuah refleksi baru atas tenaga pastoral bagi para pastor yang berkarya di kedua paroki tersebut. Pada tahun 2013 mulai ada penjajakan untuk melihat kemungkinan terbentuknya kuasi paroki yang baru. Keuskupan mempercayakannya kepada kongregasi Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria (SS.CC). Kongregasi SSCC pun menanggapi undangan tersebut dengan mengirimkan Pst. Tangkas Dame Simatupang, SSCC untuk melakukan penjajakan awal.

    Sejak 18 Oktober 2013 nama kuasi paroki Lau Baleng tercatat di buku Paroki Keuskupan Agung Medan dengan nama pelindung St Damian. Nama pelindung ini dipilih dari nama santo dari salah satu anggota kongregasi SSCC. Selama hidupnya, St. Damian menjadi misionaris bagi para penderita Kusta di Molokai, Kalaupapa-Hawai. Dia adalah seorang misionaris sejati yang memberikan diri dalam pelayan secara tulus dan total sampai akhir hidupnya bagi para penderita kusta. Semoga semangat misionaris St. Damian juga menjiwai dan melandasi pelayanan di kuasi paroki yang baru.

    Secara administrasi pemerintahan, wilayah kuasi paroki St Damian melingkupi 2 kabupaten yaitu kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi. Sebelah utara berbatasan dengan Langkat dan Deli Serdang, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Tapanuli Utara, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun dan sebelah Barat berbatasan dengan Aceh Tenggara. Dalam lingkup wilayah paroki, sebelah Timur berbatasan dengan Paroki Tiga Binanga dan sebelah Barat berbatasan dengan paroki Lawedesky. Secara morfologis, wilayah kuasi paroki St Damian Lau Baleng berada di dataran tinggi. Sebagian besar wilayah di Paroki ini berada di daerah pemukiman penduduk yang dapat dijangkau sepeda motor, mobil dan jalan kaki. Umumnya mata pencaharian masyarakat adalah berladang (berupa padi, jagung, coklat dan papaya), tenaga guru dan wiraswasta.

    Gereja kuasi paroki St Damian Lau Baleng terletak di Jln Renun, Desa Lau Baleng, Kec. Lau Baleng, Tanah Karo. Letak gereja ini sangat strategis karena berada di pusat kecamatan dan di pinggir jalan raya yang menghubungkan Medan dan Kota Cane, Aceh Tenggara. Kuasi paroki ini membawahi 3 rayon (22 stasi dan 25 lingkungan). Kuasi paroki ini memiliki 1400 kepala keluarga dan 5344 jiwa umat. Umat di Kuasi Paroki ini terdiri dari Suku Batak Karo, Batak Toba, Nias dan Pak-Pak. Sejak berdiri telah dibentuk 4 presidium Legio Maria yang terdiri dari 3 presidium senior dan 1 presidium yunior.

    Pada tanggal 4-5 Desember 2013, Kuasi Paroki St. Damian mengadakan Sermon Simbelin perdana di Gereja St. Damian Lau Baleng. Rapat paripurna ini diikuti oleh Pst. Baltasar Mili, SSCC, dan Pst Dame Simatupang, SSCC serta para anggota DPPH dan semua DPP, pengurus rayon, stasi dan lingkungan. Para peserta mengadakan diskusi berkaitan dengan peraturan-peraturan yang akan diterapkan di kuasi paroki St Damian. Keputusan-keputusan hasil sermon simbelin menjadi keputusan bersama untuk ditaati dan dijalankan di seluruh wilayah kuasi paroki yang meliputi 22 stasi. Pada 12 Januari 2014 diadakan misa pelantikan pengurus DPP Kuasi Paroki yang dipimpin oleh Pst. Ignasius Simbolon, OFM.Cap,Vikep St. Yakobus Rasul Kabanjahe. Ada tiga pastor SS.CC yang diutus untuk berkarya di kuasi paroki st Damian yaitu Pst Baltasar Mili, SSCC (pastor paroki), Pst. Antonius Suprapto, SSCC (pastor rekan) dan Pst. Tangkas Dame Simatupang, SSCC (pastor rekan).

    Manajemen Kuasi Paroki dilaksanakan berdasarkan kebijakan Keuskupan Agung Medan dan dalam Sermon Simbelin yang dilaksanakan di Kuasi Paroki St. Damian. Pengelolaan manajemen Kuasi Paroki ini selalu ada dalam bingkai pedoman pelaksanaan keuskupan, yakni dalam lingkup Keuskupan Agung Medan. Pola manajerial di sini adalah pola yang melibatkan umat beriman untuk bersama-sama mengembangkan dan memberdayakan kehidupan menggereja yang sungguh berdaya guna, berdaya ubah dan berdaya sapa sesuai dengan semangat Injil dengan tetap ada dalam payung Arah Dasar Keuskupan Agung Medan.

    Dewan paroki berfungsi sebagai wadah pelayanan dan koordinasi keterlibatan semua umat beriman di paroki dalam melaksanakan panggilan dan tugas perutusan Gereja. Dewan paroki berwenang mengambil keputusan reksa pastoral paroki dalam kesatuan dengan arah pastoral Keuskupan Agung Medan. Reksa pastoral adalah pemeliharaan dan pengembangan iman umat yang dijiwai oleh semangat Kristus Sang Gembala sesuai dengan situasi dan kondisi di kuasi paroki St. Damian Lau Baleng.

    Keuangan paroki berasal dari Kolekte, Dana Mandiri, persembahan/intensi, dan dana APP, kolekte khusus yang dipersembahkan dengan tujuan tertentu berdasarkan kesepakatan bersama dengan dewan paroki dan persembahan-persembahan lainnya. Adapun beberapa prinsip yang selalu dipegang teguh dalam pengelolaan keuangan paroki antara lain: transparan dan akuntabel, mandiri dalam solidaritas dan subsidiaritas. Penanggung jawab pengelolaan keuangan adalah pastor paroki dan dewan paroki, dan untuk lingkungan-lingkungan dipercayakan pada koordinator lingkungan masing-masing. Pelaksana harian pengelola keuangan dilakukan oleh bendahara dewan paroki.

    Saat ini kuasi paroki sudah memiliki kantor sekretariat yang sederhana. Di kantor sekretariat paroki tersimpan segala berkas yang berkaitan dengan aktivitas dari paroki. Jam kerja dari petugas sekretariat paroki adalah setiap hari kerja. (pukul 08.00-13.00). Hari Senin, Minggu dan hari libur petugas sekretariat mengambil waktu tersebut sebagai hari libur juga. Berkat usaha bersama umat itu telah membuahkan berkat istimewa bagi kuasi ini, tanggal 30 Juli 2018, Bapa Uskup Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap., mengangkat Kuasi Paroki ini menjadi paroki dengan SK: 344/PAR/LB/KA/VII/18.

    Setelah menjadi paroki, secara perlahan umat mulai mengalami dan merasakan pelayaan pastoral yang semakin efektif dan efisien. Para pastor secara rutin membuat jadwal kunjungan pastoral dan mengevaluasinya setiap bulan. Penyusunan jadwal ini membantu para tim pastoral untuk mengunjungi semua stasi (umat). Kunjungan pastoral yang dilakukan menghantar umat untuk semakin mengenal iman katolik dan tergerak hati untuk terlibat dalam kegiatan hidup menggereja. Ada dua tim yang senantiasa berperan aktif dalam membantu kunjungan pastoral yaitu tim katekese dan tim evangelisasi. Tim katekese berperan dalam mengajarkan iman kepada umat dan tim evangelisasi hadir di tengah umat untuk mendengarkan pergulatan hidup iman umat serta memberikan motivasi dan semangat bagi umat agar tetap setia dalam iman. Selain itu, tim pastores mengadakan kunjungan umat, terkadang ke rumah atau juga menjumpai umat di ladang.

    Wilayah pastoral yang luas dan jauh membuat tim pastoral membagi skala prioritas kunjungan ke stasi-stasi. Stasi-stasi terdekat dapat dilayani setiap bulan, sekali dalam 4 bulan dan ada stasi jauh yang hanya dapat dikunjungi sekali dalam setahun. Ada dua stasi jauh yang hanya dapat dikunjungi setahun sekali yaitu Stasi Alur Subur dan Stasi si Odang-Odang. Ada 27 kepala keluarga katolik yang tinggal di kedua stasi tersebut. Kedua stasi tersebut terletak di kabupaten Dairi. Perjalanan menuju kedua stasi tersebut dapat ditempuh selama 7-8 jam dengan biaya yang cukup besar. Alat transportasi yang biasa digunakan ke stasi-stasi ini adalah mobil hardtop. Dalam kunjungan tersebut, tim pastoral langsung mengadakan pelayanan sakramental (baptis, perkawinan dan komuni pertama). Meskipun kunjungan pastoral ini membutuhkan tenaga dan biaya yang banyak, namun tim pastoral tetap melaksanakannya. Sebab kunjungan pastoral ini sangat dirindukan umat katolik yang tinggal di kedua stasi tersebut.

    Ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam karya pastoral yaitu jarak antara stasi yang cukup jauh dengan medan yang menantang; pengetahuan umat tentang iman katolik yang masih rendah; perkawinan beda gereja; adat yang masih menjadi primadona bagi umat dibandingkan dengan gereja dan masih sedikit umat yang terlibat dalam hidup menggereja. Dalam menghadapi tantangan tersebut, tim pastoral membuat fokus pelayanan ke depan yaitu meningkatkan katekese untuk memperkaya dan memperdalam pengetahuan dan penghayatan iman umat; mendidik katekis-katekis awam yang mampu membantu pelayanan pastoral dan melakukan promosi panggilan agar muncul benih panggilan menjadi biarawan-biarawati dan imam.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Kabanjahe SPP

    Pelindung

    :

    Santo Petrus dan Paulus

    Buku Paroki

    :

    Sejak 15 November 2007. Sebelumnya bergabung dengan Paroki SPM Kabanjahe

    Alamat

    :

    Jl. Irian No. 1, Kabanjahe, Kab. Karo - 22114

    Telp.

    :

    0628 - 20469, 0821 3276 9181

    Email

    :

    [email protected]

    Jumlah Umat

    :

    2.911 KK/ 10.069 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi

    :

    33

         
    Rayon Kacaribu:
     
     
    01. Barung Kersap
    04. Kacaribu
    07. Kuta Gerat
    10. Nageri
    13. Siasor
    02. Bandar Meriah
    05. Kandibata
    08. Kutambelin Singa
    11. Singa
     
    03. Guru Benua
    06. Kineppen
    09. Lau Simomo
    12. Sirumbia
     
         
    Rayon Munthe:
     
     
    01. Biak Nampe
    04. Kabantua
    07. Parimbalang
    10. Singgamanik
    02. Buluh Naman
    05. Kutambaru
    08. Sarimunte
    11. Sukababo
    03. Gunung Manumpak
    06. Munte
    09. Sarinembah
     
     
     
     
    Rayon Simpang Empat:
     
     
    01. Beganding
    03. Lingga
    06. Rumah Kabanjahe
    - Gajah (pindah ke Berastagi)
    04. Naman
    07. Sigarang Garang
    02. Kutambelin Naman
    05. Ndeskati
    08. Surbakti

    RD. Sautma Toho Maruba Manullang

    10.07.’86

    Parochus

    RD. Lukman Rafael Pandiangan

    29.09.’96

    Vikaris Parokial

    Sejarah Paroki St. Petrus dan Paulus Kabanjahe

    Perkembangan umat katolik pertama kali di Kabupaten Tanah Karo terjadi di desa Sukajulu oleh P. Van Duynhoven pada tahun 1939, kemudian ke Berastagi, Guru kinayan dan Sembeikan. Selanjutnya Uskup Mathias Brans mandirikan Paroki Kabanjahe pada tanggal 3 Agustus 1948 dengan Pastor Paroki pertama P. Maximus Brans dan paroki ini sekarang kita kenal dengan nama Paroki Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga Kabanjahe.

    Pada tahun 1965 an, Keuskupan Agung Medan mendirikan Lembaga Latihan Pertanian (LLP) Kabanjahe yang diresmikan pada tanggal 19 Desember 1967. Lembaga Latihan Pertanian Kabanjahe merupakan sarana pelatihan ketrampilan bagi para petani se-Keuskupan Agung Medan khususnya masyarakat tanah karo dengan tujuan agar pengelolaan usaha tani lebih profesional menjadi asas kesejahteraan keluarga. LLP Kabanjahe yang dibangun berada di lokasi Jl Irian, Kelurahan Lau Cimba Kec. Kabanjahe yang merupakan tanah atas jasa dan bantuan dari Keluarga Bapak Leman Purba dengan luas lahan kurang lebih 6 Ha yang dibeli atas nama Ketua Badan Pengurus Gereja dan Amal Roma Katholik di Kabanjahe yakni oleh Bapak Stefanus Naik Ginting dengan harga Rp 354.846,- dan akte jual beli no. 121/1967.

    Adapun pengelolaan LLP Kabanjahe diserahkan kepada Kongregasi Budi Mulia dengan pimpinan yang pertama adalah Br. Alfons kemudian berganti kepada Br. Wolfram selanjutnya berganti lagi kepada Br. Paul Damen (seorang insinyur pertanian dari Belgia) selanjutnya pimpinan beralih kepada Br. Yoris. Setelah Br. Yoris, pimpinan LLP Kabanjahe beralih kepada Br. Tarsisius dan yang terakhir dipimpin oleh Br. Yanuarius. LLP Kabanjahe dikelola dengan dana mandiri (tanpa dana Keuskupan) dan dengan perjanjian kontrak pengelolaan dengan KAM selama 30 tahun yang berakhir pada tahun 1990. Pada akhir kontrak tahun 1990 Kongregasi Budi Mulia sudah mengusulkan agar LLP dilanjutkan oleh KAM akan tetapi pihak KAM saat itu meminta kembali kepada Kongregasi Budi Mulia untuk melanjutkannya.

    Di tahun 2000 Br. Yanuaraius akan pindah tugas, sementara pengganti pimpinan LLP Kabanjahe belum ada sehingga Br. Yanuarius berkoordinasi dengan Pastor Leo Josten Ginting untuk membuat dan mengajukan surat penyerahan LLP Kabanjahe kepada KAM dan pada hari Jumat 22 Desember 2000 terjadilah acara serah terima LLP Kabanjahe dari Kongregasi Budi Mulia Kepada KAM yang dilaksanakan di Maranatha dibuka dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Vikjen Pastor Paulinus Simbolon OFMCap kemudian dilanjutkan dengan acara lokakarya : “Quo Vadis LLP Kabanjahe”.

    Sejak serah terima LLP Kabanjahe kepada KAM (20 Des 2000) hingga tahun 2004, LLP Kabanjahe dikelola/ditangani oleh KAM akan tetapi tidak berjalan dengan baik dan akhirnya lahan dan aset LLP Kabanjahe diserahkan pengelolaannya ke Paroki Kabanjehe pada saat itu pengelolaan lahan dikoordinatori oleh Edison Saragih. Pada bulan April 2004, Pastor Leo mulai melakukan pembenahan di lokasi LLP Kabanjahe dengan membangun pagar tembok, pemugaran bruderan dan penambahan beberapa kamar dan menjadikan lokasi LLP Kabanjahe sebagai Pastoran dan kantor Paroki Kabanjahe. Kantor Paroki yang dulu dan sekarang masih tetap sama yakni pengalihfungsian dari ruang tamu LLP menjadi Kantor Paroki.

    Seiring berjalannya waktu dan juga perkembangan serta pertambahaan umat katolik di Kabupaten Tanah Karo khususnya di Kota Kabanjahe dan sekitarnya maka untuk memaksimalkan pelayanan parokial pada tahun 2005 terjadilah pemekaran Paroki Kabanjahe dengan Paroki Berastagi. Pada tahun 2006, Pastor Leo Josten Ginting merasa wilayah pelayanan masih terlalu luas sehingga diwacanakan untuk pembangunan Gereja Katolik yang baru di Jalan Irian. Rencana ini kemudian dibicarakan dalam rapat-rapat kecil dan ternyata disambut dengan meriah oleh pengurus-pengurus Gereja Katolik dan DPP (Paroki SPM) sehingga terbentuklah Panitia Pembangunan Gereja Katolik dengan Susunan :

    Ketua : Ganti Kaban SE
    Wakil Ketua I : Drs. Swingly Sitepu
    Wakil Ketua II : Drs. Mangat Ginting
    Wakil Ketua III : Hadamean Lumban Gaol S.Pd
    Sekretaris : Drs. Harmonis Bukit M. Si Wakil
    Sek I : Ir. Markus Malau M.Si
    Wakil Sek II : Permulaan Sebaya B.A
    Wakil Sek III : Roni Barus S.E
    Bendahara : Pastor Leo Josten Ginting OFMCap.
    Wakil Bend I : Marheni Br Sembiring
    Wakil Bend II : Sabarita Br Tarigan dan dilengkapi dengan seksi-seksi.

    Pada tanggal 6 Agustus 2006 dilaksanakanlah acara Peletakan Batu I Pembangunan Gereja Katolik yang baru Sekaligus memperingati 50 tahun berdirinya Paroki Santa Perawan Maria di angkat ke Surga oleh Uskup Alfred Gonti Pius Datubara, OFMCap. Pembangunan Gereja yang baru berukuran 20m x 34m dengan biaya Rp 1.403.715.000,- (Satu Milyar Empat Ratus Tiga Juta Tujuh Ratus Lima Belas Ribu Rupiah) yang merupakan tanggung jawab umat Paroki Kabanjahe dan saat itu sudah terkumpul dana sebesar Rp 600.000.000,- (Enam Ratus Juta Rupiah) dan tahapan Pembangunan Gereja Katolik di Jalan Irian ini selesai pada tahun 2007.

    Dalam perjalanan waktu banyak perdebatan yang terjadi dikarenakan semula DPP, pengurus Gereja dan umat mengira bahwa pembanguan Gereja Katolik yang baru adalah merupakan gereja stasi yang baru yang merupakan pemekaran dari Gereja Stasi Induk Paroki SPM, sementara Pastor Leo menginginkan Gereja Stasi Induk pindah ke Jalan Irian sehingga selanjutnya banyak perdebatan terutama dari kalangan pengurus dan umat katolik yang berada di wilayah kota Kabanjahe karena dipandang sejarah awal terbentuknya Paroki Kabanjahe adalah Gereja Katolik yang berada di Jl. Letnan Rata Perangin-angin sehingga beberapa pengurus lebih setuju kalau pemekaran Paroki. Untuk rencana pemekaran Paroki juga mendapat banyak tantangan dan perdebataan karena perkembangan kedapan yang sudah direncanakan untuk pemekaran Paroki di tujukan ke Stasi Suka Kecamatan Tiga Panah.

    Status Gereja Katolik yang baru dibangun hingga Nov 2007 belum jelas, apakah pemekaran Stasi atau pemekaran Paroki atapun perpindahan Gereja Stasi Induk. Pada tanggal 25 Nov 2007 dilaksanakanlah acara peresmian Gereja Katolik yang baru selesai dibangun, yang diresmikan oleh Mgr Pius A.G Datubara OFM.Cap dan Bupati Karo Drs. DD. Sinulingga. Pada kesempatan ini pulalah diputuskan oleh Uskup bahwa gereja yang baru merupakan pemekaran Paroki Kabanjahe. Di tahun 2007 lahan LLP kembali dikelola oleh Keuskupan Agung Medan melalui PSE KAM yang saat itu ditangani oleh RD. Sabat Saulus Nababan (Wakil Ketua PSE KAM) dimana saat itu RD. Sabat Saulus Nababan bertugas di Paroki Kabanjahe sebagai Pastor rekan.

    Sambil berjalannya waktu hingga 2009 paroki di Kabanjahe masih tetap satu yakni Paroki SPM dan dilayani oleh imam dari Kapusin dan imam Diosesan. Tahun 2010 baru terjadi pemisahan administrasi, keuangan dan pelayanan secara total dengan nama pelindung St. Petrus Dan Paulus untuk Paroki yang baru dengan jumlah umat 19366 jiwa dengan meliputi wilayah Kabanjahe (Stasi Induk) : Lingkungan Paulus A, Lingkungan Paulus B, Lingkungan Veronika, Lingkungan Vicentius, Lingkungan Yosafat, Lingkungan Matius, Lingkungan St. Maria, Lingkungan Ignatius, Lingkungan Lorentius dan Lingkungan Valentinus, serta stasi stasi yang berada di

    Rayon Simpang Empat : Stasi Rumah Kabanjahe, Stasi Lingga, Stasi Surbakti, Stasi Beganding, Stasi Naman, Stasi Ndeskati, Stasi Sigarang-garang, Stasi Kutambelin Naman, Stasi Berastepu dan Stasi Bakerahsemacem (Bekasi),

    Rayon Kacaribu : Stasi Kacaribu, Stasi Singa, Stasi Kutambelin Singa, Stasi Lau Simomo, Stasi Kutagerat, Stasi Guru Benua, Stasi Barung Kersap, Stasi Sirumbia, Stasi Kandibata, Stasi Kineppen, Stasi Nageri dan Stasi Bandar Meriah,

    Rayon Munte : Stasi Biak Nampe, Stasi Buluh Naman, Stasi Gunung Manumpak, Stasi Kabantua, Stasi Kutambaru, Stasi Munte, Stasi Sarimunte, Stasi Singgamanik, Stasi Sarinembah, Stasi Parimbalang dan Stasi Sukobabao ; dan Rayon Tiga Nderket.

    Pastor Paroki pertama : RD. Rudianto Sitanggang dan
    Pastor Rekan adalah : RD. Sabat Saulus Nababan dan RD. Sesarius Petrus Mau
    Pelaksana I DPP: Antoni Bangun
    Pelaksana II DPP : Masa Bangun (+),
    Sekretaris DPP: Romanius Tarigan S.Pd
    Wakil Sekretaris : Josua Ginting
    Bendahara DPP : RD. Sesarius Petrus Mau
    Wakil Bendahara : Mazmur Christoper Ginting dengan anggota : Sr. Margaretha Kaloko SFD, Ir. Ragam Sinamo (Kabanjahe), Moris Sinukaban (Lingga), Marimin Tarigan (Berastepu) Martha Br Ginting (Kabanjahe), Kincar Perangin-angin (Guru Benua) dan Pinerlina Br Munthe (Kabanjahe) dengan SK Uskup untuk tahun 2010 hingga 2011.
    SK Uskup untuk Periode 2011 hingga 2015 :
    Pastor Paroki : RD. Marianus G.A. Kedang
    Pastor Rekan : RD. Sesarius Petrus Mau
    Pelaksana I DPP : Antoni Bangun
    Pelaksana II : Nelson Lingga
    Sekretaris DPP : Romanius Tarigan S.Pd
    Wakil Sekretaris : Josua Ginting
    Bendahara : RD. Sesarius Petrus Mau
    Wakil Bendahara : Mariati Br Barus dengan
    Anggota DPP : Sr. Beatrix Saragih SFD, Valentinus Tarigan, Bastanta Purba, Kincar Perangin-angin dan Moris Sinukaban.

    Perkembangan dan pertambahan umat katolik di wilayah Paroki St. Petrus dan Paulus Kabanjahe yang begitu pesat dan dengan tujuan untuk memaksimalkan pelayanan pengembalaan umat Katolik maka di tahun 2014 terjadi pemekaran Paroki St. Petrus dan Paulus Kabanjahe dengan Paroki St. Monika Tiga Nderket yang semula pemekaran ini direncanakan ke Stasi Batu Karang dengan wilayah pelayanan meliputi Stasi Induk Tiga Nderket, Stasi Batu Karang, Stasi Payung, Stasi Selandi, Stasi Mardinding, Stasi Buah Raya, Stasi guru Kinayan, Stasi Amburidi, Stasi Tanjung Pulo, Stasi Jinabun, Stasi Sukatendel, Stasi Njandi Meriah, Stasi Kuta male, Stasi Kutabuluh dengan Pastor Paroki Pertama Pastor Liber Sihombing OFM.Cap dan dengan jumlah umat 7.421 jiwa sehingga umat di paroki St. Petrus Dan Pulus Kabanjahe tinggal 11.945 jiwa.

    Perkembangan Paroki St. Petrus Dan Paulus Kabanjahe sejak tahun 2014 hingga sekarang mengalami pertambahan umat yang masih cukup signifikan dengan jumlah 2.985 KK (18.619 Jiwa).

    No

    Nama Stasi

    Tahun Berdiri

    Jumlah KK

    I

    Rayon Munte

     

    730 KK

    1

    Biaknampe (St. Benediktus)

    ± 1982

    15

    2

    Buluhnaman (St. Paulus)

    1967

    112

     3

    Gunung Manumpak (St. Gabriel)

    1968

    28

    4

    Kabantua (St. Leonardo)

    2000

    27

    5

    Kutambaru (St. Maria)

    1958

    155

    6

    Munte (St. Silvester)

    1967

    180

    7

    Parimbalang (St. Maria Tak Bernoda Asal)

    1981

    15

    8

    Sarimunte (St. Antonius dari Padua)

    1965

    42

    9

    Sarinembah (St Theresia Avila)

    1998

    26

    10

    Singgamanik (St. Petrus)

    1953

    60

    11

    Sukababo (St. Yoseph)

    1981

    70

     

    II

    Rayon Kacaribu

     

    1.071 KK

    1

    Barung Kersap (St. Laurensius)

    1982

    66

    2

    Bandar Meriah (St. Fransiskus)

    2004

    20

    3

    Guru Benua (St. Kornelius)

    1978

    138

    4

    Kacaribu (St. Paulus)

    1963

    151

    5

    Kandibata (St. Paulus)

    1953

    200

    6

    Kineppen (St. Yohannes Paulus II)

    1981

    65

    7

    Kutagerat (St. Theresia dar Kalkuta)

    1980

    32

    8

    Kutambelin Singa (St. Maria Vianney)

    1975

    74

    9

    Lau Simomo (St. Damian)

    1955

    57

    10

    Nageri (St. Mikhael)

    1980

    18

    11

    Singa (St. Paulus)

    1975

    162

    12

    Sirumbia (St. Skolastika)

    1978

    63

    13

    Siosar / Bakerah Simacem (St. Clara)

    2019 (1981)

    25

     

    III

    Rayon Simpang Empat

     

    727 KK

    1

    Beganding (St. Paulus)

    1966

    142

    2

    Berastepu (St. Theresia Avila)

    1963

    125

    3

    Kutambelin Naman (St. Fansiskus Asisi)

    1982

    56

    4

    Lingga (St. Petrus)

    1977

    63

    5

    Naman (St. Ignatius Loyola)

    2002

    40

    6

    Ndeskati (Stefanus Martir)

    1995

    18

    7

    Sigarang-garang (St. yoseph)

    1997

    123

    8

    Surbakti (St. Lukas)

    1966

    60

    9

    Rumah Kabanjahe (St. Clara)

    1970

    100

     

    IV

    Wilayah Kabanjahe/ Gereja Paroki

     

    457 KK

    1

    Lingkungan St.Ignatius

     

    26

    2

    Lingkungan St.Laurentius

     

    24

    3

    Lingkungan St. Maria

     

    22

    4

    Lingkungan St.Matius

     

    19

    5

    Lingkungan Paulus A

     

    36

    6

    Lingkungan Paulus B

     

    33

    7

    Lingkungan St.Valentinus

     

    30

    8

    Lingkungan St.Veronika

     

    20

    9

    Lingkungan St.Vincentius

     

    25

    10

    Lingkungan St.Yeremia

    2010

    44

    11

    Lingkungan St.Yosafat

     

    34

    12

    Lingkungan St.Yusuf

     

    22

    13

    Lingkungan St.Petrus

    2012

    25

    14

    Lingkungan St.Bonifasius

    2012

    25

    15

    Lingkungan St.Elisabeth

    16-02-2015

    36

    16

    Lingkungan St. Fransiskus Asisi

    29-09-2017

    18

    17

    Lingkungan St. Yohanes

    30-11-2018

    18

    Stasi Bakerah Simacem yang semula masuk dalam wilayah Rayon Simpang Empat berpindah ke wilayah Rayon Kacaribu karena Stasi Bakerah Simacem terkena dampak erupsi Gunung Sinabung yang cukup parah sehingga desa tersebut di relokasi pemerintah ke Siosar sehingga sekarang bernama Stasi Siosar dan masuk Rayon Kacaribu.

    Stasi Sigarang-garang terdiri dari umat yang berada di Desa Sigarang-garang, Desa Kutarakyat dan Dusun Kuta Gugung. Gereja Katolik Stasi Sigarang-garang berada di Dusun Kuta Gugung yang merupakan kawasan zona Merah ketetapan pemerintah untuk erupsi Gunung Sinabung dan akan di relokasikan pemerintah ke daerah Siosar.

    Para Imam/Pastor yang bertugas di Paroki St. Petrus Dan Paulus Kabanjahe sejak diakuinya berdiri Paroki St. Petrus Dan Paulus Kabanjahe (mulai SK 2010) :

    1. RD. Rudianto Sitanggang tahun 2010 – 2011 Pastor Paroki
    2. RD. Sabat Saulus Nababan tahun 2010 – 2011 Pastor Rekan
    3. RD. Marianus G.A Kedang tahun 2010 – 2011 Pastor Rekan
    4. RD. Marianus G.A Kedang tahun 2011 – 2015 Pastor Paroki
    5. RD. Sesarius Petrus Mao tahun 2010 – 2015 Pastor Rekan
    6. RD. Sesarius Petrus Mao tahun 2015 – 2016 Pastor Paroki
    7. RD. Silvester Asan Marlin tahun 2015 - 2018 Pastor Rekan
    8. RD. Mansuetus Amadeus tahun 2016 - skrg Pastor Paroki
    9. RD. Iwan S. Lumban Gaol tahun 2017 – 2019 Pastor Rekan
    10. RD. Limson Manalu tahun 2018 - skrg Pastor Rekan

    Nama pelindung paroki pertama kali di usulkan oleh Pastor Leo Josten dengan melihat sejarah perkembangan berdirinya Paroki yang baru dimana banyak sekali perdebatan dan tangtangan yang terjadi begitu juga dengan wilayah paroki yang umatnya bercampur dari berbagai suku. Demikian dikutip dari Alkitab Surat Paulus kepada jemaat di Galatia 2 : 1- 21; dimana Rasul Petrus dipercayakan oleh Allah untuk menjadi rasul dan memberitakan injil kepada orang-orang Yahudi sedangkan Rasul Paulus dipercayakan oleh Allah untuk menjadi rasul dan memberitakan injil kepada orang-orang non Yahudi.

    Ada 2 kelompok yang berbeda, demikian juga awalnya perkembangan berdirinya Paroki yang baru ada beberapa kelompok yang berbeda serta di wilayah Gereja Katolik yang baru ada beberapa suku yang berbeda sehingga diharapkan dengan nama pelindung St. Petrus Dan St. Paulus kelompok-kelompok yang berbeda tersebut dapat bersatu dan saling bekerja sama saling bahu-membahu dalam Gereja Katolik untuk mengembangkan iman katolik di kalangan umat.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Kabanjahe SPM

    Pelindung

    :

    Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga

    Buku Paroki

    :

    Sejak 1 Agustus 1948. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan.

    Alamat

    :

    Jl. Letnan. R. Peranginangin No. 13, Kabanjahe - 22111

    Telp/WA

    :

    0812-6946-0402

    Email

    :

    [email protected]

    Jumlah Umat

    :

    4.012 KK/ 13.750 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi

    :

    20

     
    Rayon Tiga Panah:
     
     
    01. Bulanjahe
    04. Ketaren
    07. Pertumbuken
    10. Sukanalu
    02. Bulanjulu
    05. Kubu Simbelang
    08. Seberaya
    11. Tiga Panah
    03. Bunuraya
    06. Kuta Kepar
    09. Suka
     
     
     
     
    Rayon Sukadame:
       
    01. Bawah
    04. Rumamis/Tambunen
    07. Sukamandi
    02. Cingkes
    05. Sinaman
    08. Talimbaru
    03. Dokan
    06. Suka Dame
    09. Ujung Bawang
     
     
     
     

    RD. Daniel Manik

    23-3-1985 Parochus

    RD. Sumardiono Sihombing

    31-3-1996

    Vikaris Parokial

         

    Jadwal Misa Gereja Paroki Kabanjahe SPM

    Harian : 06.00 WIB (Senin, Rabu, Jumat)
    Jumat Pertama : 18.00 WIB
    Minggu :
    Sesi 1: 07.30 WIB
    Sesi 2: 10.00 WIB

    Sejarah Paroki Kabanjahe SPM

    Pengantar
    Kehadiran Gereja Katolik di daerah Kabanjahe dibawa oleh para Misionaris. Para Misionaris ini adalah para pastor dari Ordo Kapusin yang berasal dari Belanda. Misionaris pertama yang membawa ajaran Katolik ialah P. Elpidius Van Duyhoven, OFM,Cap. Pewartaan ajaran Gereja Katolik ini mulai di bawa oleh para misioanaris pada masa kolonial di bawah pemerintahan Belanda. Akan tetapi, pewartaan kemudian menjadi terganggu, ketika pemerintahan Jepang berhasil menguasai Indonesia sejak tahun 1940. Dari catatan sejarah, para misionaris yang datang dari Belanda juga ikut menjadi tawanan tentara Jepang.

    Sebelum ditawan oleh jepang P.Elpidius Van Duyhoven,OFM,Cap yang tinggal di Simalungun telah mengunjungi beberapa daerah di tanah Karo. Ketika itu , dikota Berastagi sendiri telah berdiri biara Suster Fransiskanes St. Elisabeth. Sedangkan Suster Fransiskanes Dongen telah mendirikan biara di Kabanjahe. Selain mengunjungi daerah-daerah pedesaan, P.Elpidius juga sering mengunjungi kedua biara suster fransiskanes ini. Selain P.Elpidius, P. De Wolf,Ofm.Cap pun pernah tinggal di biara suster fransikanes Santa Elisabeth. Namun patut disayangkan, kedua biara tersebut terbakar waktu revolusi perang dunia II.

    Dalam sejarah perkembangan kehadiran Gereja Katolik di tanah Karo, Paroki St. Perawan Maria yang Diangkat Ke Surga (SPM) merupakan pusat penyebaran kehadiran Gereja Katolik di Kabupaten Karo. Maka melalui tulisan ini, kami akan membagi dalam beberapa periode.

    1. Periode Awal 1939 - 1952

    Pada tahun 1939 P.Elpidius membuka stasi Sukajulu. Waktu itu ia pun sering mengunjungi daerah Berastepu, Gurukinayan, Munthe dan Sembeiken. Ketika perang dunia II Pecah, para misionaris sangat merasakan akibatnya sejak bulan Mei 1940 semua hubungan dengan belanda terputus. Misionaris dilarang masuk ke Indonesia. Bantuan finansial dan perlengkapan misi terhenti. Pada masa itu P.Elpidius dan beberapa pastor kapusin lainnya dipenjarakan di KAMP Tahanan Siringoringo (Labuhan Batu). Situasi ini terus berlangsung hingga Jepang menyerang kepada sekutu tahun 1945. Para misionaris yang ditahan akhirnya dibebaskan.

    Pada tanggal 03 Agustus 1948 Mgr. Matias Brans mengutus P. Maximilianus Brans dan P. Elpidius untuk mendirikan sebuah paroki di tanah Karo. Umat yang sudah tercatat berjumlah 59 KK. Selanjutnya mereka mendirikan pastoran dan sebuah gereja darurat di Kabanjahe yang diresmikan oleh Mgr. Matias Brans pada tanggal 19 Desember 1948. Selain itu mereka juga mengirim 18 anak ke Pematangsiantar untuk melanjutkan pendidikan keguruan(OVVO). Kedua Pastor ini pun dibantu oleh oleh seorang guru agama, yakni Nimbasi Purba.

    2. Periode Tahun 1953 - 1997

    Pada masa ini tidak ditemukan catatan sejarah yang tepat dan teratur tentang perkembangan Gereja dan Misi Katolik di Tanah Karo. Gerakan Perkembangan Gereja dan Misi lama periode ini diperoleh dan disarikan dari tulisan beberapa orang pastor yang pernah bertugas di Tanah Karo, Tepatnya di Paroki St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga (P.Theodosius Van Eijk, P.Kleopas Van Laarhoven, P.Yustinus Tinambunan, P. Simon Sinaga dan P. Ignatius Simbolon) dan beberapa orang awam yang terlibat aktif dalam karya kerasulan. Berikut ini akan disarikan beberapa tulisan yang kiranya bisa membantu kita untuk mengetahui perkembangan Gereja Katolik di Tanah Karo. Periode tahun 1953-1965 diambil dari tulisan P.Theodosius Van Eijk. Menurutnya yang menjadi perintis Misi Gereja Katolik di Tanah Karo adalah P. Brans Sitepu Bebere Ginting. Gereja Katolik ditanah karo resmi dimulai sejak datang dan tinggalnya P.Brans di Kabanjahe. Pada masa ini mulai didirikan sekolah, biara untuk para suster SFD (Tahun 1954), asrama dan beberapa pembenahan lainnya. Keberhasilan mengembangkan Gereja dan Misi Katolik di tanah karo sesungguhnya berlangsung melalui kegiatan pendidikan (SMP dan SKP). Melalui siswa-siswi inilah agama dan Gereja disebarkan. Perkembangan Gereja dan agama katolik di tanah karo semakin pesat setelah tahun 1965.

    Pada tahun 1965, P.Kleopas bertugas di paroki St.Perawan Maria- Kabanjahe sampai tahun 1981. Sejak menginjakkan kaki di sumatera P.KLeopas langsung ditempatkan di Kabanjahe untuk membantu P.Lici dan P.Paduanus Kramer. Pada masa itu paroki kabanjahe memiliki 18 stasi dengan jumlah umat sekitar 3.600 jiwa. Setelah 16 tahun jumlah ini bertambah menjadi 56 stasi dengan 16.000 jiwa. Dalam kurun waktu ini pastor yang berkarya di paroki kabanjahe ini antara lain: P.Kramer, P.Lici , P.Justinus Tinambunan, P. Mikael Hutabarat, dan P.Simon Sinaga. Hingga tahun 1977 di Kabupaten Tanah Karo ini hanya terdapat satu paroki dan Kabanjahe lah yang menjadi pusatnya. Karena pesatnya pertumbahan umat dan luasnya wilayah pelayanan, maka sejak bulan juli 1977 P.Simon Sinaga bersama P.Mikael hutabarat memulai membuka paroki yang baru yakni paroki Tiga Binanga.

    Pada awal tahun 1980-an di tanah Karo ini terjadi persaingan yang sangat ketat antara agama (Protestan, Islam dan Katolik) dalam rangka merebut simpati umat atau masyarakat yang relative besar masih menganut animisme atau agama sipemena. Pada masa inilah pimpinan Keuskupan Agung Medan menetapkan tanak karo sebagai daerah “evangelisasi”. Hingga tahap ini, Gereja Katolik di tanah karo sangat pesat berkembang.

    3. Periode Tahun 1997 - 2005

    Setelah kepindahan P.Laurentius Sinaga OFM,Cap, P. Ignatius Simbolon OFM.Cap kembali ditempatkan di kabanjahe sebagai Parokus. Pada periode ini beliau ditemani oleh P.Damianus Anggiat Sihotang, P. Kornelius Sipayung, Uliraja Simarmata dan P.Marselino Simamora, OFM.Cap. Hampir kurang lebih sepuluh bulan P.ignatius Simbolon menjabat sebagai Pastor Paroki menunggu kedatangan P.Leo Joosten, OFM.Cap dari pangururan.

    Menurut data statistik 1999 data umat kabanjahe telah mencapai 38.093 jiwa. Pesatnya pertambahan umat dan luasnya wilayah menyebabkan pelayanan pastoralpun kurang memadai. Patut disyukuri bahwa awam dan para susterpun turut ambil bagian dalam kegiatan pastoral di paroki ini. Melihat situasi ini, maka sejumlah pihak dan pimpinan KAM mulai berpikir untuk memekarkan paroki ini menjadi tiga yakni Berastagi dan Tiganderket sebagai pusat paroki yang baru serta kabanjahe. Karena itulah diangkat sebuah komisi khusus untuk mewujudkan pembangunan gereja di Berastagi. Pada periode ini juga atas usul pihak keuskupan direncanakan pastoran kabanjahe, kantor dan sekretariat paroki yang terletak di Jl.Letnanrata perangin-angin dipindahkan ke jalan irian kabanjahe (bekas tempat lembaga latihan pertanian) yang telah diserahkan ke paroki kabanjahe.

    4. Periode Tahun 2005 - Pemekaran

    Sebelum pemekaran, umat paroki kabanjahe yang berjumlah 45.594 jiwa tersebar di 87 stasi (10 rayon) sesudah pemekaran Paroki kabanjahe memiliki 67 stasi (7 rayon) dan paroki berastagi memiliki 20 stasi (3 rayon). Setelah persemian paroki berastagi , selanjutnya dibuat dalam master plan paroki st. Perawan maria diangkat ke surga kabanjahe tahun 2006 adalah pemekaran paroki. Sebagai tindak lanjut dari master plan tersebut maka diusulkan agar pemekaran kabanjahe dapar direalisasikan pada akhir tahun 2007. Pemekaran telah terealisasi dengan didirikannya paroki St.Petrus dan St.Paulus Jl.Irian kabanjahe(47) stasi. Dengan demikian pelayanan pastoral di SPM semakin ramping. Paroki ini sekarang terdiri dari 21 stasi (3 rayon) dan jumlah umat kurang lebih 18.700 jiwa.

    Seiring dengan perjalanan waktu yang lebih dari 50 tahun sejak didirikannya pada tahun 1956, gereja katolik paroki SPM yang berada di Jl.Letnan Rata Perangin-angin kabanjahe mengalami perkembangan pesat. Paroki ini merupakan pusat pengembangan pelayanan dan pewartaan kabar gembira sekaligus paroki induk gereja katolik tanah Karo simalem. Dari paroki inilah mekar 4 paroki baru yakni paroki Tigabinanga(1979), paroki Berastagi (2005), paroki St. Paulus dan Petrus(2007) dan 1 kuasi paroki Tiganderket (2013).

    1. Rayon Kabanjahe
    Gereja pertama di Kabanjahe didirikan oleh militer-militer Belanda pada bulan November 1948. Pada tanggal 19 Desember 1948, Gereja itu diberkati oleh Mgr. Mathias Brans OFMCap. Pada tahun 1957, Gereja pertama ini menjadi gudang setelah gereja baru dibangun. Gedung gereja kedua dibangun pada tahun 1956 oleh Br. Anscharius OFMcap. Diberkati oleh Mgr Ferrerius van den Hurk OFMCap pada 5 Agustus 1956. Bagian altar disesuaikan dengan Liturgi Konsili Vatikan II pada September 1971. Bangunan gereja sekarang ini diberkati pada tanggal 16 Februari 2014 oleh Mgr. Anicetus Sinaga.

    2. Rayon Suka Dame
    Gereja pertama di Kabanjahe didirikan oleh militer-militer Belanda pada bulan November 1948. Pada tanggal 19 Desember 1948, Gereja itu diberkati oleh Mgr. Mathias Brans OFMCap. Pada tahun 1957, Gereja pertama ini menjadi gudang setelah gereja baru dibangun. Gedung gereja kedua dibangun pada tahun 1956 oleh Br. Anscharius OFMcap. Diberkati oleh Mgr Ferrerius van den Hurk OFMCap pada 5 Agustus 1956. Bagian altar disesuaikan dengan Liturgi Konsili Vatikan II pada September 1971. Bangunan gereja sekarang ini diberkati pada tanggal 16 Februari 2014 oleh Mgr. Anicetus Sinaga.

    a. Stasi Suka Dame
    Stasi dibuka pada : 1963

    Dibuka oleh : Pastor Maximus Brans OFMCap
    Luas tanah aset gereja : 560 m
    Tahun pembelian : 26 April 1964
    Pembangunan gereja : 1963 (Rumah Papan);
    Gereja pertama adalah Rumah Papan berukuran 7 x 9 m. Pada tahun 1999 dibangun gereja baru dan diberkati oleh Bapak Uskup Agung Medan Mgr. Pius Datubara tahun 2001.

    b. Stasi Sinaman

    Stasi dibuka pada : 1962
    Dibuka oleh : Pastor Maximus Brans OFMcap, Licinus Fasol-Ginting OFMcap dan Bapak Tangsi Tarigan
    Luas tanah aset gereja : 15 x 20
    Tahun pembelian : 1962
    Pembangunan gereja : 1962 (Pada 29 Juni 2003 Gereja dibangun kembali karena perkembangan umat)

    c. Stasi Rumamis Tambunen
     

    Stasi dibuka pada : 1963
    Dibuka oleh : Pastor Licinus Fasol-Ginting OFMCap dan Bungan Raja Sitepu
    Luas tanah aset gereja : 20 x 29 m
    Tahun pembelian : 6 Oktober 1963
    Pembangunan gereja : 1964
    d. Stasi Bawang 
    Stasi dibuka pada : 1956
    Dibuka oleh : Pastor Maximus Brans OFMCap
    Jumlah umat yang dipermandikan pertama kali: 25 orang
    Tanah aset gereja : 10 x 21 m
    Tahun pembelian : 1951
    Pembangunan gereja : 5 Maret 1990
    Ukuran gereja : 8 x 12 m (permanen)Nama pelindung gereja : St. Antonius dari Padua

    e. Stasi Suka Mandi
    Stasi dibuka pada : 2 Mei 1956
    Dibuka oleh : Pastor Maximus Brans OFMcap dan Bapak Purba
    Luas tanah aset gereja : 12 x 23 m (276m) hibah dari Nerang Karo-karo tahun 1956. Surat Hibah tanggal 2 Februari 1997.
    Tanah ukuran baru : 21 x 12 m (252 m) terbuat dari semi permanen. Ukuran 8 x 12 m.
    Nama pelindung gereja : St. Yohanes Rasul

    f. Stasi Cingkes
    Stasi dibuka pada : 1966
    Dibuka oleh : Pastor Licinus Fasol-Ginting OFMCap dan Artis Sembiring dan Bapak Arus Ginting (pindah ke GBKP)
    Luas tanah aset gereja : 18 x 25 m
    Tahun pembelian : 6 Agustus 1969
    Pembangunan gereja darurat : 1966. Pada 23 Juli 1969 Gereja dibangun oleh Bp. Madan berukuran 7 x 9 dan diberkati pada 5 Oktober 1969. Pada 16 Juni 2006 dibangun kembali Gereja baru.
    Nama pelindung gereja : St. Maria Diangkat ke Surga

    g. Stasi Ujung Bawang
    Stasi dibuka pada : 1982
    Dibuka oleh : Pastor Thomas Sinabarita OFMcap, Pastor Anggiat Sihotang Pr, Pastor Antonius Siregar OFMCap
    Luas tanah aset gereja : 20 x 18 m
    Tahun pembelian : 1 Maret 1974
    Pembangunan gereja : Gereja awal dibangun darurat pada tanggal 13 Juni 2005
    Nama pelindung gereja : St. Maximilianus Kolbe OFM Konv.

    h. Stasi Talimbaru
    Stasi dibuka pada : 1953
    Dibuka oleh : Pastor Maximus Brans OFMcap, Bapak Palas Perangin-angin, Mancang Sitepu, Tambat Barus
    Luas tanah aset gereja : 15 x 15 m
    Tahun hibah : 10 Desember 1953
    Dihibahkan oleh : Motor Barus dan Ngulih Barus
    Luas bangunan gereja saat ini : 11 x 14 m
    Nama pelindung gereja : St. Fransiskus Xaverius

    i. Stasi Dokan
    Stasi dibuka pada : 1950
    Dibuka oleh : Pastor Maximus Brans OFMcap dan Jangasi Ginting/Purba
    Luas tanah aset gereja : -
    Tahun pembelian : 1950
    Pembangunan gereja : 1951 (Gedung gereja diganti jadi permanen pada tahun 1987 dengan ukuran 8 x 12 m.) ;
    2. Rayon Tiga Panah
    a. Stasi Suka
    Stasi dibuka pada : 1953
    Dibuka oleh : Pastor Maximus Brans OFMCap
    Luas tanah aset gereja : 8 x 12 m
    Tahun pembelian : 18 Mei 1967
    Pembangunan gereja : 1961 (Pada tahun 1995 Gereja dibangun kembali karena perkembangan umat)
    b. Stasi Suka Nalu
    Stasi dibuka pada : 1963
    Dibuka oleh : Pastor Licinus Fasol-Ginting OFMCap
    Luas tanah aset gereja : 41 x 39 m
    Tahun pembelian : Lahan gereja pertama dijual dan diganti dengan tapak gereja baru yang dibeli pada 30 Maret 1967 dengan luas 41 x 39 m.
    Pembangunan gereja : 1967 luas 12 x 8 m oleh Pak Madan Sitepu. Gereja selanjutnya dibangun pada tahun 1989.
    Nama pelindung gereja : St. Paulus
    c. Stasi Bunu Raya
    Stasi dibuka pada : 1970
    Dibuka oleh : Pastor Licinus Fasol-Ginting OFMCap
    Luas tanah aset gereja : 10 x 20 m (26 Desember 1977)
    Tahun pembelian : 26 Desember 1977
    Pembangunan gereja : 1977 dan dibangun kembali 11 Januari 2004 (13 x 23 m)
    d. Stasi Kubu Simbellang
    Stasi dibuka pada : 1967
    Dibuka oleh : Pastor Licinus Fasol-Ginting OFMCap dan Bapak Mbaru Lingga
    Pembangunan gereja : Gereja Darurat 1967
    Renovasi Bangunan Gereja : 2021
    e. Stasi Bulan Julu 
    Stasi dibuka pada : 1976
    Dibuka oleh : Pastor Licinus Fasol-Ginting OFMCap, Limakuta Girsang, Maju Tarigan dan Sada Ukut Kemit (Tiga Panah)
    Gereja Sekarang diresmikan : 2021
    Nama pelindung gereja : Sta. Maria Diangkat ke Surga
    f. Stasi Bulan Jahe
    Stasi dibuka pada : 1967
    Dibuka oleh : Pastor Licinus Fasol-Ginting OFMCap dan Pastor Kleopas van Laarhoven OFMCap
    Luas tanah aset gereja : 15 x 35
    Tahun pembelian : 1 Februari 1969
    Pembangunan gereja : 1970 dan pada tahun 2004 dibentuk panitia pembangunan untuk membangun gereja baru
    Nama pelindung gereja : St. Petrus
    g. Stasi Pertumbuken 
    Stasi dibuka pada : 1967
    Dibuka oleh : Pastor Licinus Fasol-Ginting OFMCap
    Tanah aset gereja : 12 x 8 m (Dibangun pada tahun 1985)
    Tahun pembelian : 10 Oktober 1967
    Pembangunan gereja : 1985
    h. Stasi Tiga Panah 
    Stasi dibuka pada : 1955
    Dibuka oleh : P. Maximus Brans OFMcap dan b. Ngolu Purba
    Luas tanah aset gereja: 20 x 50 m
    Tahun Pembelian : 20 November 1967
    Pembangunan gereja : 1968 (12 x 8 m)
    Diberkati oleh Mgr. Ferrerius van den Hurk OFMcap pada tanggal 22 September 1968
    Nama pelindung gereja : St. Padre Pio
    i. Stasi Ketaren
    Stasi dibuka pada : 1967
    Dibuka oleh : Pastor Licinus Fasol-Ginting OFMCap
    Luas tanah aset gereja : 12 x 20 m (240 m persegi)
    Tahun pembelian : 1978
    Pembangunan gereja : 1979 (7 x 13 m) – semi permanen
    Nama pelindung gereja : -
    j. Stasi Kutakepar
    Stasi kuta kepar berkembang dari stasi Suka. Rencana pendirian stasi ini di mulai tahun 2013. Pemberkatan gereja dilaksanakan pada tahun 2016 0leh Mgr. Pius Datubara
    k. Stasi Seberaya
    Stasi dibuka pada : 1955
    Dibuka oleh : Pastor Maximus Brans Sitepu OFMCap
    Luas tanah aset gereja : 20 x 18 m
    Tahun pembelian : 1 Maret 1974
    Pembangunan gereja : Gereja awal dibangun dengan dinding bambu. Pada tahun 1974 gereja lama dibongkar dan dipindahkan ke Kuta Mbelin.
    Nama pelindung gereja : -

    Para pastor yang berkarya di paroki Santa Perawan Maria sangat baik dan semangat dalam melaksanakan karya kerasulan sebagai seorang pewarta Injil. Para pastor melakukan banyak tugas pelayanan seperti: kunjungan stasi-stasi, pelayanan sakramen-sakramen, seperti: Ekaristi, perkawinan dan orang sakit, tobat, adorasi dan pemberkatan rumah dan persiapan penerimaan sakramen-sakramen: baptis, komuni pertama, krisma dan pemeriksaan kanonik untuk perkawinan.

    Untuk memperdalam penghayatan iman kekatolikan, para Pastor selalu setia mengadakan sermon (katekese) perihal kehidupan pendalaman iman gereja katolik. Sermon atau katekese ini di laksanakan secara rutin setiap bulan dengan mengundang para pengurus gereja, seksi-seksi dalam kepengurusan gereja dan juga umat Allah.

    Umat katolik paroki SPM memiliki semangat yang tinggi untuk merayakan Ekaristi. Hal itu tampak dari banyaknya permintaan umat kepada para pastor untuk melayankan Ekaristi baik untuk keluarga, lingkungan ataupun stasi. Umat paroki SPM sangat meyakini dan menginginkan bahwa setiap kegiatan penting sebisa mungkin diisi dengan Ekaristi. Niat dan penghayatan umat yang tinggi akan imannya menjadikan para pastor sering melakukan kerasulan ke lingkungan dan stasi. Para pastor hampir setiap hari memiliki jadwal pelayanan ke lingkungan dan stasi untuk melayankan pelayanan sakramen.

    Para pastor yang melayani di paroki SPM juga melakukan pelayanan dalam kelompok-kelompok kategorial (BIAK, OMK, Paduan Suara, Kerahiman Ilahi, Kumpulan perbapaan dan perkumpulan Pernanden). Para pastor memimpin dan membimbing umat dalam kelompoknya masing-masing demi kemajuan kehidupan religius umat beriman. Para pastor beserta pengurus Gereja sangat aktif dan semangat dalam melaksanakan tugas pelayanan di seksi masing-masing.

    Dalam pemberdayaan ekonomi umat, paroki SPM hadir melalui seksi PSE untuk memberikan penyuluhan dalam bidang pertanian. Sebab 80% dari umat di paroki adalah petani. Maka dari itu, paroki ini telah membentuk tiga kelompok tani untuk mengembangkan perekonomian umat Allah.

    Selain dari pada itu, paroki SPM juga mengelola sekolah PAUD yang berada di stasi sukanalu dan serberaya. PAUD Santa Maria Sukanalu didirikan dan dibuka pada tahun 2003. Pada awal didirikan PAUD Santa Maria ini adalah atas inisiatif umat setempat dan didukung oleh Pastor Leo Joosten OFM.Cap, yang pada waktu itu sebagai Pastor Paroki Santa Perawan Maria Di angkat Ke surga Kabanjahe. Dengan berdirinya PAUD ini diharapkan anak -anak usia dini mendapatkan pendidikan taman kanak-kanak khususnya yang tinggal di pedesaan. Awal dibuka PAUD ini banyak orang tua yang mempercayakan anak-anak mereka untuk dididik dan berkembang bukan hanya dalam ilmu pengetahuan tetapi juga dalam iman dan budi pekerti dibawah pimpinan seorang umat yang merangkap menjadi guru sekaligus sebagai Kepala Sekolah, namun melihat perkembangan PAUD supaya lebih efektif, maka pihak Yayasan dalam hal kepeminpinan selanjutnya PAUD dipercayakan kepada Suster SFD menjadi Kepala sekolah dan merangkap sebagai guru di PAUD tersebut, dengan harapan PAUD (TK) Santa Maria menjadi lebih berkembang.

    Gereja Katolik Paroki SPM Kabanjahe semakin berkembang dengan pesat dalam bidang kerasulan dan petambahan umat dari tahun ke tahun. Hal ini tidak terlepas oleh para gembala yang berusaha memberikan pelayanan dalam bidang pastoral. Di bawah ini adalah para pastor yang pernah bertugas:

    1. Pastor Elpidius van Duijnhoven (1948-1949)
    2. Pastor lukas Renders (1949) 
    3. Pastor Maximus Brans (1948-1962) 
    4. Pastor Licinus Fasol-Ginting (1962-1984) 
    5. Pastor Theodosius Van Eijk (1953-1965) 
    6. Pastor Marianus Van den Acker (1960-1962;1966-1968) 
    7. Pastor Ildofonsus van Atraalen (1961) 
    8. Pastor Fredericus Finaut (1961) 
    9. Pastor Paduanus Kramer (1948-1962) 
    10. Pastor Kleopas van Laarhoven (1965) 
    11. Pastor Stefanus Krol (1970) 
    12. Pastor Yustinus Tambunan (1970) 
    13. Pastor Mikhael Hutabarat (1973-1980) 
    14. Pastor Timoteus Sinaga (1976-1980) 
    15. Pastor Simon Sinaga (1977-1986) 
    16. Pastor Redemptus Simamora (1980-1982) 
    17. Pastor Thomas Sinabariba (1981-1984) 
    18. Pastor Ignatius Simbolon (1981-1984;1997-1998) 
    19. Pastor Nestor Manalu(1984-1988) 
    20. Pastor Anselmus Haloho {1985) 
    21. Pastor Philipus Manalu (1985-1989) 
    22. Pastor Yan van Maurik (1986-1987) 
    23. Pastor Gabriel Lumban Tobing (1986-1996) 
    24. Pastor Monaldus Banjarnahor (1989-1993)
    25. Pastor Albert Pandiangan (1991-1993)
    26. Pastor Urbanus Tamba (1992)
    27. Pastor Laurentius Sinaga (1993-1997)
    28. Pastor Heribertus Cartono (1994-1997) 
    29. Pastor Antonius Siregar (1996-2002) 
    30. Pastor Anggiat Sihotang 91997-2001) 
    31. Pastor Uliraja Simarmata (1997-2002) 
    32. Pastor Leo Joosten 1998-2005) 
    33. Pastor Marselino Simamora (1998-1999) 
    34. Pastor Kornelius Sipayung (1999-2002) 
    35. Pastor Marianus Manullang (2002-2003) 
    36. Pastor Stefanus Kota Tarigan (2002-2003) 
    37. Pastor Moses Situmorang (2002-2003) 
    38. Pastor Maximilianus (2002) 
    39. Pastor Adrianus Sembiring (2003-2006) 
    40. Pastor Stefanus Sihotang (2005-2008) 
    41. Pastor Martinus Sarjan(2005-2009) 
    42. Pastor Bernardus Sijabat (2010-2015) 
    43. Pastor Rudi Sitanggang (2013-2017) 
    44. Pastor Gundo Saragih (2015-2021) 
    45. Pastor Dedi ananta Sembiring (2020-Sekarang) 
    46. Pastor Jameslin Damanik (2019-2021) 
    47. Pastor Daniel Manik (2021-Sekarang)

    Prefek Apostolik di Padang Mgr. Liberatus Cluts mengutur pastor Mattheus de Wolf OFMCap (pastor di Medan) ke Belanda pada Januari 1921. Beliau diutus untuk mencari kongregasi-kongregasi suster yang bersedia untuk mengambil bagian dalam karya kerasulan Ordo Kapusin di Sumatera Utara. Pastor De Wolf pergi ke kota kecil Dongen, rumah induk Kongregasi suster Fransiskanes Dongen dan berbicara dengan Pemimpin Umum Kongregasi SFD. Dewan pimpinan umum SFD sudah berencana memperluas kegiatannya ke luar negeri. Mereka langsung berjanji akan mengutus beberapa suster ke Sumatera Utara. Tujuan mereka ialah untuk menolong Ordo Kapusin yang sedang menanam Gereja Katolik di Sumatera Utara dan membuka sekolah-sekolah Katolik supaya banyak orang pribumi diterangi cahaya iman Katolik. Waktu pimpinan umum mulai mempersiapkan semuanya, Mgr Liberatus Cluts OFMcap meninggal dunia di Padang dan Pastor Mathias brans OFMcap resmi diangkat sebagai penggantinya.

    Pada akhir tahun 1922, kontrak Prefektur dengan SFD ditandatangi dan enam suster diutus. Pada 1 April 1923 mereka sampai ke Belawan dan disambut dengan senang hati oleh Mgr. Mathias Brans dan Pastor de Wolf. Para suster mendirikan sekolah St. Yoseph dan diberkati pada 2 Juli 1923. Pada tahun 1926 rumah suster dan Asrama dibuka dengan resmi. Pada tahun 1926, 11 suster Missionaris SFD pergi untuk pertama kalinya ke Kabanjahe. Mgr. mathias Brans, Prefek Apostolik Padang telah membeli sebuah rumah untuk sementara dengan biaya dari Prefektur.

    Pada tanggal 25 Juli 1954 dimulai komunitas baru di Kabanjahe. Pemimpin komunitas ialah Zr. Constantinen. Dia mengurus SD. Sr, Bibiana untuk sekolah Frobel/TK dan Suster Maria Magdalena untuk Asrama. Rumah Suster pada waktu itu sedang dibangun dan para suster untuk sementara waktu tinggal di pastoran. Kerasulan di Kabanjahe menghasilkan buah yang baik. Masyarakat pribumi memiliki minat untuk terlibat sepenuhyna dalam karya para Misionaris. Pada 1955, dibuka Novisiat dengan ibu Novis yang pertama Zr. Mauritia.

    Suster Fransiskanes Dongen ingin melayani kesehatan masyarakat setempat dan mereka membuka Poliklinik. Di samping kesehatan, pendidikan di sekolah pun diperhatikan. Pada tanggal 1 Agustus 1954 TK Sint Xaverius dibuka. Pada tahun 1990, SFD menangani kembali SD St. Yosep di Jl. Let. Perangin-angin no. 11 kabanjahe. Suster SFD ingin mengangkat harkat wanita karena itu Asrama St. Teresia yang didirikan oleh para missionaris tetap dikelola sampai saat ini.

    Pada Agustus 1954, Sekolah Kepandaian Puteri (SKP) dibuka oleh SFD. Sesuai Visi SFD yang mengangkat harkat wanita dan SKP ini digemari oleh orang karena pada waktu itu keterampilan Putri sangat penting. Seiring berkembangnya zaman, minat masyarakat masuk SKP berkurang sehingga SKP diganti menjadi SMP Maria Goretti. SFD juga menangani sekolah SMP-SMA Santa Maria Kabanjahe dan Asrama Putera dan Komunitas Fioretti Kabanjahe.

    Pada saat ini, para suster SFD yang berada di biara Maria Ratu Dame, bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan. Para suster memiliki poliklinik yang diberi nama Klinik Bakti murni yang dilengkapi dengan satu Apotik. Sedangkan sekolah yang mereka tangani adalah SMA St. Maria, SD St. Yosef dan TK St. Saverius. Sekolah tepat berada di samping bangunan gereja paroki.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Siborongborong

    Pelindung
    :
    Santo Kristoforus
    Buku Paroki
    :
    Sejak 25 September 2012. Sebelumnya termasuk dalam Paroki Lintongnihuta, Tarutung, dan Dolok Sanggul.
    Alamat
    :
    Jl. Siswa No.32, Siborong-borong, Tapanuli Utara – 22474
    HP.
    :
    0633 - 41628 / 0821-6435-7388
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    1.636 KK/ 7.024 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    22
    01. Aritonang
    04. Batubinumbun
    07. Hariara Silaban
    10. Lobu Siregar
    13. Pangambatan
    16. Purba Sinomba
    19. Sipultak
    22. Sitiotio
    02. Bahal Batu
    05. Buhit Nangge
    08. Huta Bulu
    11. Onan Runggu
    14. Pealinta
    17. Sibaragas
    20. Sitabotabo
     
    03. Bariba Niaek
    06. Dolok Bintatar
    09. Huta Ginjang
    12. Pamansuran
    15. Pulo Sibandang
    18. Simatupang
    21. Sitinjo
     
    RP. Krispianus Kia Anen, SVD
    05.09.’67
    Parochus
    RP. Korinus Budaya, SVD
    05.02.’83
    Vikaris Parokial
     

    Sejarah Paroki St. Kristoforus | Siborong-borong

    PENDAHULUAN
    Paroki St. Kristoforus Siborongborong merupakan pemekaran dari Paroki St. Koendraad Parzham Lintongnihuta. Penetapan paroki ini berdasarkan SK Bapak Uskup Keuskupan Agung Medan, No.515/PAR/BOR/KA/IX/2013 tertanggal 25 September 2013 dengan nama Pelindung St. Kristoforus Siborongborong, dan SK Bapak Uskup Keuskupan Agung Medan No.516/PAR/BOR/KA/IX/2013 menetapkan 23 Stasi. Berdasarkan SK tersebut 16 stasi dari Paroki St. Koendrad Parzham Lintongnihuta, 6 Stasi dari Paroki St. Fidelis Dolok Sanggul dan 1 stasi dari Paroki St. Maria Tarutung.
    Wilayah Paroki St. Kristofurus Siborongborong berada pada wilayah Kabupaten Tapanuli Utara dan tersebar pada 4 kecamatan. Kecamatan Muara, 6 stasi (St. Yosef Baribaniaek, St. Antonius Sitotio, Aritonang, Simatupang, Batubinumbun, Pulo Sibandang), Kecamatan Pagaran, 5 stasi (St. Maria Ratu Rosari Pamansuran, Sipultak, St. Paulus Sibaragas, Kristus Raja Semesta Alam Pealinta, St. Lusia Onan Runggu dan St.arkus Dolok Bintatar), Kecamatan Siborongborong, 11 stasi (St. Yakobus Siborongborong, St. Petrus Pagambatan, St. Andreas Lobu Siregar, Hariara Silaban, St. Paulus Huta Bulu, St. Theresia Ginjang, St. Fidelis Buhit Nangge, Purba Sinomba, St. Thomas Sitabotabo, St. Nikolaus Bahabatu). Kecamatan Sipahutar, 1 stasi (Sitinjo).
    Pastor paroki pertama adalah RP. Plavianus Lidi, SVD. Dan selanjutnya pastor yang melayani, RP. Viktorianus Yanto Laung, SVD (Pastor Paroki) dan RP. Anton Lelaona, SVD, Br Karolus Ferdinando K S, SVD , SVD. (Pastor & Bruder Rekan , PR. Krispianus Kia Anen, SVD (Pastor Paroki) dan RP. Yohanes G Seran, SVD (pastor rekan).
    DATA STASI DAN LINGKUNGAN
    PAROKI ST. KRISTOFORUS SIBORONGBORONG

    No

    Nama Pelindung Stasi & Tanggal Pesta/Peringatan

    Nama Lingkungan

    Tanggal Pesta/ Peringatan Pelindung

    Tahun Berdiri

    1

    St. Kristoforus
    Siborongborong

    (25 Juli)

    St. Lusia

    13 Desember

    1971

    St. Theresia

    1 Oktober

    St. Yoseph

    19 Maret

    St. Fransiskus Asisi

    4 Oktober

    2

    St. Andreas Lobu Siregar

    (30 Nopember)

    St. Yoseph

    19 Maret

    1962

    St. Paulus

    29 Juni

    St. Maria

    1 Januari

    St. Filipus

    3 Mei

    3

    St. Mateus Hariara Silaban

    (21 September)

    -

    21 September

    1975

    4

    St. Petrus Pagambatan

    (22 Pebruari)

    St. Maria

    1 Januari

    1959

    St. Paulus

    29 Juni

    St. Lusia

    13 Desember

    5

    St. Thomas Sitabotabo

    (3 Juli)

    St. Maria

    1 Januari

    1936

    St. Bonaventura

    15 Juli

    St. Timoteus

    26 Januari

    St. Yoseph

    19 Maret

    6

     

    St. Markus Dolok Bintatar

    (25 April)

     

    -

    25 April

    1953

    7

    St. Nikolaus Bahal Batu

    (6 Desember)

    -

    6 Desember

    1963

    8

    St. Yustinus Sitinjo

    (1 Juni)

    St. Maria

    1 Januari

    1962

    St. Yustinus

    1 Juni

    9

    St. Yoseph Sipultak

    (1 Mei)

    St. Maria Goretti

    6 Juli

    1967

    St. Yohanes

    18 Mei

    10

    St. Maria Ratu Rosari Pamansuran

    (7 Oktober)

    St. Paulus

    29 Juni

    1953

    St. Maria

    1 Januari

    11

    St. Paulus Sibaragas

    (29 Juni)

    St. Maria

    1 Januari

    1934

    St. Paulus

    29 Juni

    12

    Kristus Raja Semesta Alam Pealinta

    St. Maria

    1 Januari

    1951

    St. Theresia

    1 Oktober

    St. Petrus

    22 Pebruari

    St. Lusia

    13 Desember

    St. Yoseph

    19 Maret

    13

    St. Lusia Onan Runggu

    (13 Desember)

    -

    13 Desember

    1960

    14

    St. Paulus Huta Bulu

    (29 Juni)

    St. Yoseph

    19 Maret

    1959

    St. Fidelis

    24 April

    St. Petrus

    22 Pebruari

    St. Maria

    1 Januari

    15

    St. Theresia Huta Ginjang

    (1 Oktober)

    -

    1 Oktober

    1978

    16

    St. Fidelis Buhit Nangge

    (24 April)

    St. Maria

    1 Januari

    1968

    St. Yoseph

    19 Maret

    17

    St. Benediktus Purba Sinomba

    (14 Maret)

    -

    14 Maret

    1971

    18

    St. Fransiskus Aritonang

    (4 Oktober)

    -

    4 Oktober

    1938

    19

    St. Maria Batu Binumbun

    (8 Desember)

    St. Paulus

    29 Juni

    1935

    St. Yohanes

    18 Mei

    St. Petrus

    22 Februari

    20

    St. Paulus Simatupang

    (29 Juni)

    St. Lusia

    13 Desember

    1957

    St. Petrus

    22 Februari

    21

    St. Antonius Sitiotio

    (13 Juni)

    St. Maria

    1 Januari

    1938

    St. Petrus

    22 Pebruari

    St. Mikael

    29 September

    22

    St. Yoseph Baribaniaek

    (19 Maret)

    St. Petrus

    22 Pebruari

    1994

    St. Yoseph

    19 Maret

    23

    St. Petrus Pulo Sibandang

    (22 Pebruari)

    -

    22 Februari

    1978

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Tiga Juhar

    Pelindung
    :
    Santa Katarina
    Buku Paroki
    :
    Sejak 11 Agustus 2011. Sebelumnya bergabung dengan Paroki St. Yoseph Delitua
    Alamat
    :
    Jl. Veteran No. 1, Tiga Juhar, Kec. Sinembah Tanjung Muda Hulu, Deli Serdang - 20582
    Telp.
    :
    0852-9616-6828
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    1.140 KK / 3.995 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    14
     
    01. Buntu
    04. Karya Jaya
    07. Pangkasilo
    10. Simada-mada
    13. Tanjung Raja
    02. Deleng Gerat
    05. Kuta Jurung
    08. Rumah Sumbul
    11. Talapeta
    14. Tanjung Timur
    03. Durin Tinggung
    06. Namo Linting
    09. Sibunga-bunga
    12. Tanjung Bampu
     
    RP. Silverius Gilbert P. Hutauruk OFMConv
    21.11.’83
    Parochus
    RP. Richardus Natun OFMConv
    17.07.'90
    Vikaris Parokial
         

    Jadwal Misa Gereja Paroki Tiga Juhar

    Harian : 06.00 WIB (Misa & Adorasi)
    Minggu : 08.00 WIB dan 10.00 WIB

    Lokasi Paroki :