Rabu, Juni 10, 2026
Lainnya
    Beranda blog Halaman 22

    Paroki Berastagi

    Pelindung

    :

    Santo Fransiskus Asisi

    Buku Paroki

    :

    20 Februari 2005. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Kabanjahe

    Alamat

    :

    Jl. Letjen Jamin Ginting, Desa Sempajaya, Berastagi, Tanah Karo – 22156, Sumatera Utara

    Telp.

    :

    0628 – 93564

    Email

    :

    [email protected]

    Jumlah Umat

    :

    3.215 KK/ 10.566 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi

    :

    22

    01. Aji Buhara
    04. Barus Julu
    07. Doulu Kuta
    10. Juma Padang
    13. Paribun
    16. Sampun
    19. Serdang
    22. Gajah
    02. Aji Julu
    05. Basam
    08. Doulu Pasar
    11. Kubucolia
    14. Raya
    17. Semangat Gunung
    20. Sukajulu/ Tigajumpa
    03. Barus Jahe
    06. Merdeka
    09. Gurusinga
    12. Sada Perarih
    15. Rumah Rih
    18. Siberteng/ Kabung
    21. Tanjung Barus

    RP. Evangelis Pardede OFMCap

    20-10-1977

    Parochus

    RP. Raymundus Sianipar OFMCap

    10-2-1975

    Vikaris Parokial

    RP. Evander Purba OFMCap

    06-12-1996

    Vikaris Parokial

    Sejarah Paroki St. Fransiskus Asisi | Berastagi

    Sebelum pendudukan Jepang dan juga sesudahnya, Pastor Elpidius van Duynhoven, OFMCap (1906-1993), yang tinggal di Simalungun sudah sering mengunjungi kampung di Tanah Karo untuk mengabarkan sukacita Injil, termasuk ke kampung-kampung yang masuk teritorial paroki Berastagi sekarang ini. Sebelum berangkat ke kampung-kampung beliau biasanya menjumpai Pastor Mattheus de Wolf OFMCap (1865-1950) yang bertempat tinggal di biara suster Fransiskanes St. Elisabet (FSE), komunitas St. Lidwina di Berastagi. Dalam rangka kunjungan-kunjungan itu Pastor Elpidius van Duynhoven (sering disebut Opung Dolok) membuka stasi Berastagi dan Sukajulu pada tahun 1939 (lihat Mbuah Page Nisuan dan Kenangan Tujuh Puluh Lima Tahun Gereja Katolik Tanah Karo.).

    Sejak tahun 1934 suster FSE sudah membuka komunitas pelayanan untuk korban TBC di wilayah Berastagi. Namun rumah pelayanan itu dibakar oleh tentara Jepang waktu Revolusi Perang Dunia II dan para suster dibawa untuk diisolasi di Pamingke. Pada tanggal 3 Agustus 1948, Pastor Maximus Brans OFMCap bertemu dengan Pastor Elpidius van Duynhoven OFMCap di Berastagi untuk merancang pendirian paroki Tanah Karo seturut penugasan uskup Medan, Mgr Matthias Brans. Ketika itu sudah ada 30 keluarga Katolik di Sukajulu dan 10 keluarga Katolik di Berastagi. Selebihnya, 10 keluarga di Kabanjahe dan 9 keluarga di Sumbeikan (Lawe Deski). Data ini mengungkapkan satu fakta bahwa pada awal mula pembukaan paroki Tanah Karo, umat Katolik yang berdomisili di wilayah paroki Berastagi lebih banyak jumlahnya daripada yang berada di Kabanjahe ditambah dengan yang berada di Sembeikan.

    Keberadaan umat Katolik di Sukajulu dan Berastagi dapat dikatakan sebagai cikal bakal penting dalam pendirian Paroki Tanah Karo pada tahun 1948 tersebut. Namun karena kota Kabanjahe merupakan kota terbesar di Tanah Karo, lagi pula sebagai pusat pemerintahan dan perniagaan, serta letaknya yang lebih sentral dibanding Berastagi, maka pusat paroki didirikan di Kabanjahe bertempat di atas tanah di mana suster kongregasi SFD sudah mendirikan komunitas sejak tahun 1937.

    Sejarah Paroki Berastagi 1

    Sejak awal pendirian paroki Tanah Karo, selain mengusahakan sarana fisik berupa pendirian rumah darurat sebagai pastoran, pastor Maximus Brans dan pastor Elpidius van Duynhoven seketika itu jugamengutus seorang katekis awam (guru agama) bernama Nimbasi Purba untuk membimbing “perpulungen” di Sukajulu.

    Ada sebanyak 30 keluarga Katolik di Sukajulu pada waktu itu. Dari catatan periode 1939- 1952 buku Mbuah Page Nisuan yang ditulis P. Leo Joosten Ginting, OFMCap teranglah bahwa setahun kemudian tepatnya pada tanggal 18 Juli 1949 sudah sebanyak 130 orang berminggu di gereja simpang Sukajulu, yang didirikan pada tahun 1940. Pada tanggal 04 September 1949 diadakan permandian massal untuk 60 orang, diantaranya adalah: Ngambang Sitepu, Ngerat Sitepu, Gering Sitepu, Surung Sitepu, Netap Sembiring, Meja Ginting, Tangsi Karo-karo, Loh Sembiring dan Gugung Ginting.

    Di Kubucolia sendiri, atas jerih payah pastor Maximus Brans dan Bpk. Nimbasi Purba pada tanggal 04-09-1949 telah dipermandikan umat sebanyak 57 orang oleh pastor Brans didampingi pastor Elpidius. Umat Katolik dari Kubucolia ini awalnya beribadat di gereja simpang Sukajulu.

    image

    Karena terjadi perang dan masyarakat harus mengungsi, sempat terjadi kemerosotan kehadiran umat yang beribadat di gereja itu, kemudian walau perang telah usai dan masyarakat telah pulang kampungnya masing-masing, gereja sempat dialihfungsikan menjadi gudang. Gereja itu kemudian dibongkar serta papan-papannya dipindahkan untuk mendirikan gereja di Kubucolia.

    Semangat menggereja umat Katolik Stasi Kubucolia selain mewarnai dinamika awal perkembangan Gereja Katolik di seputaran daerah ini, dari stasi ini pula kemudian berasal pastor pertama dari masyarakat Karo Katolik yang bernama Semangat Sembiring atau lebih dikenal dengan pastor Elias Sembiring, OFMCap.

    image

    Pelayanan beliau selama berkali-kali menjadi Vikjen Keuskupan Agung Medan tentu juga ikut mewarnai dinamika perkembangan Keuskupan kita ini. Beberapa tahun sesudahnya tepatnya pada periode 1953-1993, gereja papan Sukajulu kembali dibangun bertempat di lokasi gereja St. Yohanes Don Bosco sekarang berada. 

    Gereja itu ditujukan untuk tempat beribadat bagi tuan rumah: Sukajulu dan Tigajumpa, juga untuk umat Katolik dari kampung-kampung sekitar, yakni dari: Paribun, Jumapadang, Barusjahe dan Serdang. Barusjahe kemudian menjadi stasi tersendiri mekar pada tahun 1960 (baptis pertama 1969), Paribun pada tahun 1966 (baptis pertama tahun tahun 1967), dan Serdang pada tahun 1978 (baptis pertama tahun 1980), Jumapadang pada tahun 1982 (baptis pertama tahun 1983). Sampai sekarang, setasi-stasi ini tetap dalam satu koordinasi rayon, yakni rayon Alverna.

    Pada tahun 2003 direncanakanlah pembangunan gereja Sukajulu-Tigajumpa yang baru bernuansa inkulturatif Karo. Misa peletakan Batu Pertama dipimpin oleh Uskup Mgr. Pius Datubara yang dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 2004. Setelah beberapa kali acara pengumpulan dana diadakan, gereja selesai dibangun dan diresmikan pada tahun 2007. Jumlah umat Katolik Stasi Sukajulu Tigajumpa pada tahun 2006 sebanyak 250 KK.

    image

    Ketika stasi Berastagi dibuka oleh pastor Elpidius van Duynhoven pada tahun 1939, sebagaimana telah disebut di atas, sudah ada 10 keluarga (38 orang) Katolik Di Berastagi. Kebanyakan dari keluarga Katolik itu merupakan perantau dari Samosir yang sudah dibaptis di kampung halamannya dan beberapa di antaranya diterima resmi dari Gereja Protestan. Air baptisan yang diterimanya menghubungkan persaudaran baru dan kental dengan beberapa keluarga Karo yang kemudian menerima air baptisan yang sama dari pastor Elpidius itu. Sebelum tahun 1949 pastor Maximus Brans juga mempermandikan 14 orang menjadi umat Katolik di Berastagi. Keluarga-keluarga Katolik di Stasi Berastagi awalnya beribadat di sebuah rumah kecil yang kosong yang letaknya di sekitar Pasar Berastagi yang sekarang.

    image

    Karena pertambahan umat kemudian rumah itu tidak muat lagi. Mereka mencari tempat yang baru dan mendapatkan tempat peribadatan yang baru yakni sebuah gudang atau garasi bekas peninggalan Belanda di Komplek SMA Negeri 1 Berastagi yang sekarang. Pengurus Gereja Stasi Berastagi pada saat itu yakni, Ketua: Gidion Sigiro; Sekretaris: Marulitua Sianipar dan Bendahara: Lantom Sagala. Tempat ini kemudian diambil-alih oleh orang Tionghoa dan dijadikan sekolah.

    Karena sulitnya mendapatkan tempat yang baru, pada tahun 1952 akhirnya mereka pindah ke salah satu bagian dari bangunan rumah suster FSE yang tidak ikut terbakar di kompleks susteran Maranatha. Di tempat ini pernah dilaksanakan permandian untuk 65 orang, paschantes italic 75 orang dan ada katekumen 10 orang. Karena umat merasa tempat di Maranatha terlalu jauh, kemudian Bpk. J. Lantom Sagala memberikan loteng rumahnya untuk dijadikan tempat beribadat. Pada tahun 1958 stasi ini mendapatkan sebidang tanah bekas pembuangan sampah kota Berastagi yaitu pertapakan gereja pertama stasi Berastagi, yang mulai dibangun pada tahun 1962 oleh Bruder Victricius, Humilis dan Bapak Bungaru Ginting.

    Pada tanggal 15 Oktober 1967 Uskup Mgr. Ferrius van Hurk memberikan Krisma kepada 257 orang di Berastagi. Ini membuktikan bahwa kehidupan menggereja di Stasi ini sungguh dilandasi nilai militansi dan semangat yang tinggi. Adapun totoh-tokoh awam Gereja Katolik dari Stasi Berastagi yang selain gigih menyemangati mendorong kemajuan kehidupan menggereja baik di stasi Berastagi sendiri maupun yang terjun berevangelisasi ke stasi-stasi untuk menyemangati dan mendorong kemajuan stasi-stasi yang baru dibuka di seputaran rayon Berastagi, di antaranya adalah: Gidion Sigiro, Marulitua Sianipar, J. Lamtom Sagala, J. Liman Sagala, Julius Limbong, Argius Sagala, Ndelmat Tarigan, Saur Simamora, Aleksander Sinaga, Njeno Sinuhaji, Ngerajai Sitepu, Kenek Tarigan, Marsudin Sinaga dan Naman Barus. Dan jejak-jejak mereka kemudian diteruskan oleh Zakaria Sinuhaji dan Manggung Sembiring, Saut Pasaribu.

    Pertambahan umat yang pesat menjadikan gereja Berastagi semakin lama semakin tidak memadai lagi dalam menampung jumlah kehadiran warga Katolik yang datang berkumpul merayakan imannya. Beberapa tahun mengadakan kebaktian dengan menambah kursi-kursi di luar gereja sampai ke jalan umum. Di samping itu, dirasakan bahwa pantaslah umat Katolik Berastagi memiliki gereja yang lebih besar karena direncanakan oleh Keuskupan Agung Medan, Berastagi menjadi paroki tersendiri dalam waktu dekat. Paroki Kabanjahe dipandang sudah terlampau luas, memiliki umat yang terbesar di Keuskupan Agung Medan, yakni 39.993 jiwa (statistik tahun 2000).

    Tambah lagi bahwa perlu dibangun suatu gereja inkulturatif arsiktektur Karo dan Berastagi dianggap sebagai kota yang paling cocok untuk gereja bernuansa Karo, karena Berastagi adalah kota pariwisata. Pertapakan gereja dan lokasi pastoran seluas 7200m² dibeli dari keluarga Nelang Sembiring (pemilik hotel Bukit Kubu), dan berada di pinggi jalan besar.

    Pada tanggal 19 Mei 2001 dilaksanakan peletakan batu pertama gereja inkulturatif oleh Bapak uskup Agung Medan, Mgr Pius Datubara. Arsitek gereja adalah Ir. Henry Lumban Gaol (Unika Medan) dan pemborongnya Bruder Anianus Snik OFMCap, kepala Pusat teknik Katolik Medan (PTK. KAM).

    Pada tanggal 20 Februari 2005 gereja inkulturatif Karo di Berastagi diberkati oleh Mgr. Pius Datubara, Uskup Agung Medan, di dampingi Uskup Padang, Mgr Martinus D. Situmorang bersama lebih dari 30 imam, dari dalam dan luar Negeri. Perayaan itu dihadiri oleh ribuan umat dan undangan. Pada akhir Ekaristi Kudus Mgr. Pius Datubara mengumumkan kepada umat bahwa pada hari itu juga tanggal 20 Februari 2005 hadir satu paroki baru di Keuskupan Agung Medan yaitu: Paroki Berastagi dengan pelindung St Fransiskus Assisi.

    Berdasarkan catatan sejarah, setelah paroki Tigabinga dimekarkan pada 22 April 1979, setidaknya sejak tahun 1980-an sudah ada pembagian wilayah di Paroki Kabanjahe untuk mempermudah kordinasi pelayanan. Bahkan para pastor juga dibagi tugas menurut wilayah tersebut. Salah satu dari beberapa wilayah itu adalah daerah Berastagi. Stasi-stasi di seputaran Berastagi yang masuk ke wilayah (rayon) Berastagi, paroki Kabanjahe pada masa itu yakni:
    1. Ajibuhara;
    2. Ajijulu;
    3. Barusjahe;
    4. Basam;
    5. (Induk)Berastagi;
    6. Doulu;
    7. Gurusinga;
    8. Jumapadang;
    9. Kubucolia;
    10. Merdeka;
    11. Paribun;
    12. Raya;
    13. Rumahrih;
    14. Sadaperarih;
    15. Sampun;
    16. Semangat Gunung;
    17. Serdang;
    18. Siberteng-Kabung;
    19. Sukajulu-Tigajumpa; dan
    20. Tanjungbarus.

    Pada saat peresmian paroki baru St. Fransiskus Assisi Berastagi, 20 stasi tersebut langsung disahkan menjadi bagian penggembalaan dari paroki Berastagi, yang tersebar di 5 kecamatan, yakni: Kecamatan Berastagi, Merdeka, Dolat Rayat, Tigapanah, dan Barusjahe.

    Tahun 2010, dua stasi baru bertambah sebagai pemekaran dari stasi sekitarnya, seperti Stasi Barusjulu dimekarkan dari stasi Tanjung Barus oleh P. Ignatius Simbolon dan stasi Doulu Pasar dimekarkan dari stasi Doulu Kuta dan sebagian umatnya dari wilayah kota Berastagi. Maka sekarang tercatat bahwa paroki Berastagi memiliki 21 gereja stasi dan 1 Gereja Paroki.

    Paroki Berastagi mengambil nama St. Fransiskus Assisi menjadi pelindung paroki tentu dengan beberapa alasan. Alasan yang menonjol adalah bahwa dikalangan umat sendiri nama St. Fransiskus Assisi tidak asing bagi mereka. Kemungkinan besar karena, Para Pastor yang melayani di wilayah ini sejak awal hingga saat ini adalah para Pastor dari Ordo Kapusin para pengikut Fransiskus (Ordo Fransiskan Kapusin). Cara hidup dan semangat pelayanan yang mereka tunjukkan tentu sesuai dengan karisma yang ditunjukkan dalam kisah St. Fransiskus sendiri. St. Fransiskus menunjukkan beberapa karisma yang membuat orang sungguh kagum dengan beberapa kisah seperti, kesederhanaan, persaudaraan dan cintanya akan Tuhan melalui doa. Fransiskus juga didedikasikan sebagai orang kudus pelindung segala ciptaan karena dengan cintanya menyebut segala ciptaan sebagai saudaranya termasuk binatang dan tumbuh-tumbuhan. Semangat inilah yang diinginkan umat juga tampak dalam seluruh pelayanan di Paroki St. Fransiskus Assisi Berastagi.

    Santo Fransiskus lahir pada tahun 1182 di Kota Asisi ketika ayahnya, Pietro Bernardone sedang berpergian ke Perancis. Ibunya Dona Pica memberi nama permandian baginya Yohanes Pembaptis. Namun setelah ayahnya pulang dari Perancis, maka ia mengubah nama puteranya itu menjadi Francesco (orang Perancis).

    Fransiskus pada masa mudanya merupakan seorang pedagang yang berbakat namun ia suka menghamburkan uang ayahnya. Ia sering berkeliaran dan bernyanyi sehingga menimbulkan keributan di Asisi. Pada umur dua puluh tahun, terjadi perang antara Asisi dan Perugia. Fransiskus turut berperang bersama pasukan Asisi untuk menyerang kota Perugia, tetapi Asisi kalah dalam perang itu. Fransiskus tertangkap dan dipenjarakan. Setelah satu tahun meringkuk dalam penjara, maka para tawanan dibebaskan. Fransiskus pulang ke rumah, tetapi tidak lama kemudian ia sakit keras bahkan nyaris meninggal.

    Penyakit itu ternyata menjadi sentuhan rahmat Tuhan baginya. Fransiskus tidak berminat lagi untuk berpesta dan berdagang. Ia berusaha untuk mengisi hidupnya dengan lebih baik. Suatu malam Fransiskus bermimpi melihat sebuah benteng besar yang penuh dengan perlengkapan senjata. Dalam mimpi itu dikatakan bahwa benteng tersebut adalah milik Fransiskus dan kawan-kawannya. Fransiskus terbangun dan mengira mendapat ilham yang jelas untuk mengisi hidupnya. Lalu Fransiskus ikut sebagai prajurit dari pihak Paus melawan kaisar Jerman dengan harapan akan dijadikan kesatria nantinya. Ia berangkat ke Apulia, tetapi tidak sampai, sebab di Spoleto Fransiskus yang sedang kena penyakit malaria mendengar suara yang berkata, “ Siapa mengganjar lebih baik, majikan atau hamba; tuan yang kaya untuk orang yang melarat ?” Fransiskus mengerti bahwa apa yang telah ditempuhnya tidak sesuai dengan kehendak Allah. Segera Fransiskus kembali ke Asisi.

    Mulai sejak itu, keheningan dan kemiskinan merasuki hati dan jiwanya. Ia mulai bertapa di gunung dan gua. Dalam keheningan, Fransiskus bertemu dengan orang kusta. Sebenarnya ia mau menolong orangorang itu, namun ia membantu mereka dari orang lain karena takut tertular. Akan tetapi, setelah berperang dengan diri sendiri maka ia sendiri membantu mereka dengan memeluk dan mencium mereka. Setelah kejadian itu banyak orang-orang kusta dilayaninya dengan kasih sayang.

    Fransiskus tetap merasa tidak puas, karena ia merasa bahwa merawat orang sakit bukanlah panggilannya. Pada suatu kali Fransiskus membawa setumpuk kain wol dari toko ayahnya untuk dijual di Foligno. Ia singgah sebentar di gereja San Damiano untuk berdoa. Ketika sedang berdoa Fransiskus mendengar suara dari salib berkata,”Fransiskus, tidakkah kaulihat bahwa rumah-Ku nyaris roboh? Pergilah dan perbaikilah itu bagi-Ku!” Dalam benak Fransiskus ialah gereja itu sendiri yang harus diperbaiki maka ia segera menjual bawaannya. Seluruh uang yang dibawanya diserahkan kepada pastor paroki untuk keperluan perbaikan gereja dan tinggal di pastoran San Damiano sambil mengemis ke rumah-rumah orang.

    Mendengar itu ayahnya tidak senang karena merasa harga dirinya dilecehkan sebagai orang terkemuka, dan hatinya begitu tertusuk. Maka ia mencari, menangkap, memukul dan dengan paksa menyeret Fransiskus ke rumah. Fransiskus dijebloskan ke dalam sebuah kamar yang terkunci rapat dan tidak akan dikeluarkan sebelum bertobat. Namun ibunya membebaskan Fransiskus ketika ayahnya pergi. Tak lama setelah ayahnya kembali, Fransiskus dipanggil ke pengadilan uskup. Uskup memutuskan bahwa Fransiskus harus mengembalikan harta milik ayahnya. Dengan segera Fransiskus meletakkan uang dan menanggalkan pakaiannya di hadapan orang banyak dan meletakkannya di hadapan kaki ayahnya. Sejak itu ia bebas dari ikatan hidupnya masa lalu.

    Ketika Fransiskus menghadiri misa, ia menemukan panggilannya tatkala ia mendengar Injil yang berisi tentang wejangan Yesus kepada para rasul yang diutus untuk mewartakan Injil ke mana-mana dengan tidak membawa apa-apa. Seusai misa, ia meminta penjelasan dengan pastor tentang isi Injil dan setelah mendengar penjelasan itu ia berteriak,”Itulah yang kuinginkan dengan segenap hati aku laksanakan!” Lalu Fransiskus mulai memberitakan Injil kepada siapapun dengan tidak membawa apa-apa. Tak lama kemudian datang dua orang yang hendak bergabung dengan Fransiskus. Tetapi Fransiskus tidak tahu harus berbuat apa.

    Pada tanggal 16 April 1209 pergilah Fransiskus bersama kedua orang itu yang bernama Bernardus dari Quintavalle dan Petrus Katani ke sebuah gereja dan tiga kali membuka Injil. Kemudian mereka melaksanakan Sabda Allah yang mereka temukan itu dan sejak itu lahirlah Ordo Saudara-saudara Dina Fransiskus, mencatatnya dalam sebuah Anggaran Dasar singkat yang disahkan secara lisan oleh Paus Innocentius III. Fransiskus sebagai pemimpin dan pendiri ordo tersebut menyebut ordonya: “Ordo Saudara-saudara Dina”, sebab saudara hidup sebagai perantau dan pewarta Injil, di bawah satu minister dan hamba seluruh persaudaraan.

    Dari waktu ke waktu mereka membicarakan cara hidup mereka dan menimba semangat baru. Cara hidup mereka dilukiskan dalam Anggaran Dasar yang mengikuti perkembangan hidup persaudaraan. Pada tanggal 29 Nopember 1223, Paus Honorius III mengesahkan Anggaran Dasar dengan bulla.

    Pada hari minggu Palma datanglah kepada Fransiskus seorang gadis keturunan bangsawan bernama Klara untuk mengikuti jalan yang sama menuju Allah. Fransiskus menerimanya ke dalam persaudaraan dan dalam waktu yang tidak lama banyak wanita termasuk adik dan ibu Klara mengikuti jejak Klara dan persaudaraan ini disebut Ordo Klaris. Beberapa tahun kemudian banyak awam yang sudah berkeluarga mau menggabungkan diri dengan persaudaraan. Fransiskus menerima mereka dalam persaudaraan dan mereka ini disebut Ordo Fransiskan Sekular (OFS).

    Menjelang akhir hidupnya, Fransiskus mendapat penglihatan Yesus yang tersalib dengan rupa malaikat serafin ketika berdoa sendirian di hutan. Penglihatan ini menyebabkan kaki, tangan dan lambungnya menampakkan luka-luka Yesus ( stigmata ).

    Akhirnya Fransiskus meninggal di Portiunkula pada tanggal 3 Oktober 1226 dan dimakamkan di Asisi. Paus Gregorius IX mengukuhkan Fransiskus sebagai orang kudus. Kekudusannya disebabkan karena kegembiraannya dalam hidup miskin dan dina. Fransiskus juga cinta akan Allah dan sesama serta seluruh ciptaan dan ia menjadi pembaharu dalam Gereja karena setia pada iman Katolik dalam menghayati Injil. Pada saat ini Ordo Saudara-saudara Dina mempunyai tiga cabang, yakni Ordo Konventual, Ordo Fransiskan dan Ordo Kapusin. Ordo-ordo ini berkembang pesat di Eropa, Timur Tengah bahkan sampai ke Asia termasuk Indonesia.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Tiga Dolok

    0
    Pelindung
    :
    Santo Antonius Padua
    Buku Paroki
    :
    Sejak 11 Juli 2010. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Jl. Bali Pematang Siantar
    Alamat
    :
    Jl. Besar Parapat Km. 17, Dolok Panribuan, Simalungun - 21173
    Telp.
    :
    0812 6540 7036
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    1.163 KK / 4.511 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi
    :
    22
    01. Bah Sampuran
    04. Kasindir
    07. Marihat Baru
    10. Naga Saribu
    13. Palia Naopat
    16. Pinang Ratus
    19. Sijoring
    22. Tomuan Dolok
    02. Bosar Hataran
    05. Lumban Gorat
    08. Marihat Raja
    11. Utte Hau
    14. Pematang
    17. Siatasan
    20. Silampuyang

    03. Bukit Dua
    06. Lumban Ri
    09. Naga
    12. Negeri Asih
    15. Pansur Onom
    18. Sihaporas
    21. Tiga Balata
     
    RP. Bonaventura H.R. Gultom, OFMConv
    02.05.'79
    Parochus
    RP. Eriksend Okripo Sitepu, OFMConv
    21.10.'94
    Vikaris Parokial
    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Tomok Simanindo

    Pelindung
    :
    Santo Antonio Maria Claret
    Buku Paroki
    :
    Sejak 29 Oktober 2006. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Parapat, Pangururan, dan Palipi
    Alamat
    :
    Jl. Horas No.33 Tomok – Simanindo, Pulau Samosir – 22395
    Nomor HP
    :
    0822 7613 2588
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    1.913 KK / 7.717 jiwa 
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    17
    01. Ambarita
    04. Lintong
    07. Parmonangan
    10. Sibatubatu
    13. Sinuan Raut Bosi
    16. Tanjungan
    02. Buntu Bosar
    05. Sipinggan Lontung
    08. Peajolo
    11. Sibosur
    14. Siparapat
    17. Tuktuk
    03. Hutagurgur
    06. Pangaloan
    09. Sangkal
    12. Simanindo
    15. Sosortolong

     
             
    RD. Oktavius Tarigan
    RD. Iwan Swanto Lumbangaol
    24.10.’86
    06-09.’86
    Parochus
    Vikaris Parokial

    Jadwal Misa

    Jumat Pertama :

    16.00 WIB (Gereja Paroki)

    Hari Minggu :

    08.00 WIB (Gereja Paroki)
    10.00 WIB (Stasi Tuktuk: Misa Minggu I dan III setiap bulan)
    09.00 WIB atau 11.00 WIB (Stasi lainnya)

    Informasi lebih lengkap, silahkan dihubungi kontak Nomor HP di atas. Terima kasih.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Bandar Baru

    Pelindung

    :

    Sang Penebus

    Buku Paroki

    :

    Sejak tahun 1975. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Delitua

    Alamat

    :

    Jl. Medan-Berastagi Km. 47, Bandar Baru - 20357

    Telp/WA

    :

    081440026801

    Email

    :

    [email protected]

    Jumlah Umat

    :

    939 KK/ 2.904 jiwa 
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi

    :

    22

    01. Basukum
    02. Batu Mbelin
    03. Bengkurung
    04. Bukum
    05. Bingkawan
    06. Bintang Meriah
    07. Durin Serugun
    08. Ketangkuhen
    09. Namo Pakam
    10. Negeri Gugung
    11. Pagar Batu
    12. Permandian
    13. Rambung Baru
    14. Rumah Kinangkung
    15. Rumah Sumbul
    16. Sayum Sabah
    17. Sembahe
    18. Sikeben
    19. Suka Maju
    20. Suka Sama
    21. Tambunen
    22. Tanjung Beringin
     
     

    RP. Fransiskus R. Purba OFMConv

    09.08.'76

    Parochus

    RP. Justianus Bayu Aprianto OFMConv

    14.04.'75

    Vikaris Parokial

     

    Sejarah Paroki Sang Penebus | Bandar Baru

    Stasi induk di Bandar Baru dibuka pada tahun 1969 dan dilayani oleh P. Ferdinando Severi. Gedung gereja dibangun pada tahun 1970. Biara Bandar Baru didirikan secara kanonik pada tahun 1970 diawali dengan kehadiran 2 orang saudara, yaitu P. Ferdinando Severi dan P. Antonio Carigi. Stasi ini diangkat statusnya menjadi paroki pada tahun 1975 oleh Uskup Mgr. Fererius van den Hurk, OFMCap. dengan nama Paroki Sang Penebus.

     

    Pada tahun 1968 seorang dari tiga imam misionaris OFMConv (Ordo Saudara Dina Konventual) dari Provinsi Bologna – ltalia yaitu P. Ferdinando Severi, OFM Conv., diminta tinggal di Kabanjahe untuk belajar bahasa Karo. Di Kabanjahe beliau hidup bersama dengan para imam Kapusin dari negeri Belanda.

     

    Pada suatu hari pastor Kapusin mengajak P. Ferdinando untuk ikut dalam suatu pertemuan di Sibolangit, di mana ada sekelompok kecil umat yang ingin belajar agama Katolik. Pada waktu itu Sibolangit sudah menjadi pusat pewartaan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), tepatnya di desa Bulu Hawar. Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di desa itu sudah berkembang kurang lebih 60 tahun silam. Hal ini dapat diketahui dari tulisan-tulisan yang terdapat pada batu nisan para misionaris Protestan yang dikumpulkan di Sibolangit. Oleh karena itu kecil sekali kemungkinannya agama lain masuk dan cepat berkembang di daerah tersebut. Bahkan ada anggapan bahwa kalau ada orang lain yang berani menyebarkan agama selain agama Protestan di daerah ini dianggap kurang waras.

     

    Namun demikian P. Ferdinando merasa tertarik sekaligus ditantang untuk memasuki daerah ini. Tuhan membuka jalan bagi beliau. Pada suatu hari ia menemukan suatu lokasi yang sangat strategis untuk bangunan Gereja tepatnya di desa Bandar Baru. Mulai saat itu ia dengan tekun mengusahakan dan meminta ijin kepada pemerintah agar diberi kesempatan melayani dan mendirikan Gereja Katolik di wilayah itu. Maka pada tahun 1969 mulailah di bangun gereja darurat. Pastoran pun dibangun dengan jumlah kamar dua buah. Dari tempat inilah juga pewartaan Sabda Allah mulai disebarkan ke kampung-kampung yang ada di sekitar desa Bandar Baru.

    Selama 4-5 tahun pertama pewartaan Sabda Allah dirasa kurang memuaskan. Hal ini dilihat dari jumlah umat yang masih sangat sedikit. Di samping itu kampung-kampung yang menjadi sasaran pewartaannya pun sulit sekali dijangkau. Semua kampung tidak dapat dijangkau dengan kendaraan. Satu-satunya jalan yang ditempuh yakni dengan berjalan kaki. Berkat ketekunan dan kerja keras beberapa tahun kemudian terbentuklah suatu kelompok umat yang cukup banyak. Melihat jumlah umat yang banyak itu, P. Ferdinando mulai gembira. Namun rencana pengembangan menjadi stasi tidak terealisasi sebab pada tahun 1975, ia ditempatkan di Lawe Disky. P. Ferdinando digantikan oleh P. Salvatore Sabato OFMConv.

    Pada waktu peralihan tugas jumlah umat Katolik sudah mencapai lebih kurang 2000 jiwa (termasuk Pancur Batu) dengan 15 stasi yang tersebar di daerah Bandar Baru. Walaupun jumlah umat yang demikian, pada saat itu Paroki Bandar Baru masih terhitung sebagai salah satu stasi dari Paroki Deli Tua.

    Pada tahun 1975, stasi Bandar Baru menjadi suatu Paroki tersendiri dan P. Salvatore Sabato OFMConv., diangkat menjadi pastor paroki pertama. Pada akhir tahun 1975, P. Salvatore digantikan oleh P. Carmelo Comina OFMConv., sebagai pastor paroki kedua. Bersama P. Carmelo ikut seorang imam muda yakni P. Antonio Razzoli OFMConv., yang baru menyelesaikan studinya di Jln. Medan Pematangsiantar. Semangat imam muda ini sungguh memberi angin segar dan semangat baru bagi umat sehingga jumlah stasi bertambah menjadi 18 stasi.

    Pada tahun 1979, rumah Paroki Bandar Baru ditetapkan sebagai salah satu rumah biara bagi Ordo Saudara Dina Konventual dan P. Antonio Carigi, OFM Conv., diangkat sebagai guardian sekaligus menjadi pastor paroki ketiga menggantikan P. Carmelo.

    Pada tahun 1981 P. Ferdinando ditugaskan kembali ke Bandar Baru sebagai guardian dan pastor paroki. Pada tahun 1982 P. Giuseppe Brentazoli ditugaskan di Bandar Baru untuk menggantikan P. Antonio Razzoli yang melaksanakan tahun sabatik di Italia. Pada tahun yang sama suster-suster KYM tiba di Bandar Baru untuk membantu di panti Asuhan dan asrama putera. Pada tahun 1982 biara direnovasi dengan menambah beberapa lokal. Pada tahun 1983 biara di Bandar Baru juga dijadikan novisiat dengan jumlah novis 3 orang dengan P. Giuseppe Brentazzoli bertindak sebagai magister novis. Pada tahun 1984 novis hanya 1 orang dan pada tahun 1985 novis berjumlah 2 orang.

    Pada tahun 1985, kontrak kerjasama antara Ordo Konventual dengan Kongregasi KYM ditandatangani. Pada tahun 1988 postulan OFMConv mulai dibuka di Bandar Baru.

    Pada tahun 1988 P. Giuseppe pindah ke Pematangsiantar dan digantikan oleh P. Fabrizio Bonelli OFMConv., dengan tugas utama sebagai rektor postulan. Pada tahun 1991 P. Ferdinando pindah ke Jakarta. P. Fabrizio ditugaskan sebagai pastor paroki, guardian dan rektor postulan untuk sementara waktu. Pada tanggal 3 Januari 1992, P. Corrado Cassadei OFMConv., menjabat sebagai pastor paroki dan guardian Bandar Baru. Selama menjalani masa tugas beberapa tahun pertama, ia melihat perkembangan dan kemajuan jaman, maka dibutuhkan rumah pastoran permanen. Pada tahun 1993 dimulailah pembangunan rumah bagi para postulan dan gedung pastoran. Setahun kemudian dibangun gedung pastoran lantai dua bersamaan dengan gedung aula dan gereja paroki, dan kantor paroki. Perkembangan jumlah umat pun mulai bertambah dan saat itu sudah mencapai kira-kira 4000 jiwa.

    Hingga pada saat ini proses penggembalaan umat masih tetap berjalan dengan semestinya, walaupun stasi stasi itu hanya dapat mengikuti perayaan Ekaristi sebulan sekali (kecuali Stasi Induk).

     

    No

    Nama Rayon dan Stasi

    Nama Pelindung

    Dibuka menjadi stasi tahun

    1

    Bandar Baru

    Sang Penebus

    1968 (tahun 1975 menjadi paroki)

    2

    Basukum

    Santa Maria

    1974

    3

    Bengkurung

    Santo Fransiskus Assisi

    1984

    4

    Bukum

    Santo Antonius

    1970

    5

    Durin Sirugun

    Santo Petrus

    1969

    6

    Ketangkuhen

    Hati Kudus Yesus

    1984

    7

    Namo Pakam

    Santo Yosef

    1970

    8

    Negeri Gugung

    Santo Fransiskus

    1968

    9

    Pagar Batu

    Santo Antonius dari Padua

    1970

    10

    Permandin

    Santa Elisabet

    1969

    11

    Rambung

    Santo Maximilianus Kolbe

    1969

    12

    Rumah Kinangkung

    Santo Paulus

    1969

    13

    Sayum

    Santo Petrus

    1969

    14

    Sembahe

    St. Fransiskus Antonius Fasani

    1978

    15

    Sibolangit

    Santo Yosef

    1968

    16

    Sikeben

    Santa Maria

    1975

    17

    Suka Maju

    Santa Maria

    1967

    18

    Suka Sama

    Santa Angela

    1983

    19

    Tambunan

    Santo Fransiskus Xaverius

    1974

    20

    Bintang Meriah

    SANTO LAURENTIUS

    1996

    21

    Batu Mbelin

    Santa Rita

    1971

    22

    Tanjung Beringin

    SANTO THOMAS

    1999

    23

    Bingkawan

    TAHTA ST. PETRUS

    1994

    24

    Lau Bengklewan

    Santa Klara

    1981

    Pastor dan Frater yang Pernah Berkarya di Paroki Sang Penebus Bandar Baru sejak 1975 – 2015:
    • 1970 – 1975
      P. Ferdinando Severi
      P. Antonio Carigi 
      Catatan pada periode ini: pada tahun 1975 P. Ferdinando Severi digantikan oleh P. Salvatore Sabato, P. Ferdinando Severi pindah ke Lawe Diski untuk melayani orang kusta.
    • 1975 – 1978
      P. Carmelo Comina (guardian dan parokus)
      P. Antonio Carigi (ekonom rumah)
      P. Antonio Razzoli 
    • 1978 – 1981
      P. Antonio Carigi
      P. Antonio Razzoli
    • 1981 – 1985
      P. Ferdinando Severi (guardian, parokus)
      P. Giuseppe Brentazzoli 
    • 1985 – 1988
      P. Antonio Carigi (guardian)
      P. Ferdinando Severi (parokus) 
    • 1988 – 1991
      P. Corrado Casadei (guardian)
      P. Ferdinando Severi
      P. Fabrizio Bonelli
      P. Carmelo Comina
    • 1991 – 1994
      P. Corrado Casadei (guardian)
      P. Fabrizio Bonelli (rektor postulan)
    • 1994 – 1997
      P. Antonio Carigi (guardian)
      P. Corrado Casadei (parokus)
      Fr. Laurentius Sihaloho (rektor postulan) 
    • 1997 -2001
      P. Simson Sitepu (guardian)
      P. Corrado Casadei 
    • 2001 – 2005
      P. Gilberto Casadei (guardian)
      P. Corrado Casadei (parokus)
      P. Lukas Genesius Nurak (rektor postulan I)
      Fr. Salmon Barus 
    • 2005 – 2009
      P. Paskalis Surbakti (guardian, parokus)
      P. Fransiskus Radiaman Purba
      P. Antonius Siswido Swy
      P. Yakub Janami Barus
      Fr. Norbertus Lasdriantoro (keluar dari ordo)
    • 2009 – 2012
      P. Mario Benediktus Lumban Gaol (guardian, rektor poatulan I)
      P. Marselinus Salem Damanik (parokus)
      P. Cornelius Adi Parditya (vikaris)
      P. Sebastianus Tawar Antoni Ginting (ekonom, eksaktor, panti asuhan, asrama)
      Fr. Darwin Sinaga (sekolah, Yayasan Betlehem) 
    • 2012 – 2017
      P. Marselinus Salem Damanik (guardian, parokus)
      P. Hieronimus Edisukisno (direktur panti asuhan, vikaris biara)
      P. David Barus (pastor rekan)
      P. Yanuarius Tasik Berek (guru)
      Fr. Bonevacio Ezequiel da Costa Esousa (penanggungjawab asrama)
      Fr. Atanasius Edianus Ndarung (socius seminari menengah, guru)
      Fr. Bernardinus Abnur Nainggolan (penanggungjawab yayasan Betlehem)
      Fr. Ambrosius Tapatab (guru)
      Fr. Nikolas Sukana (penanggungjawab pertukangan)

     

     
    Beberapa catatan pada periode ini:
    1. Sejak Seminari Menengah pindah ke Biara Sang Penebus Bandar Baru juli 2013, bertindak sebagai rektor adalah P. Yohanes Kapistrano Sensianus Djebarus. Sejak 4 Maret 2015 yang menjadi rektor adalah P. Eligius Benny Bernardi. 
    2. Pada bulan Juni 2015, P. Hieronimus Edisukisno diutus untuk membantu P. Laurentius Sihaloho di Lampung. Jabatan yang ditinggalkannya digantikan oleh P. Marselinus Salem Damanik. 
    3. Jabatan parokus yang ditinggalkan P. Marselinus Salem Damanik, diisi oleh P. David Barus. 
    4. Sejak bulan Juli 2015, P. Josep Ari Wibowo Djaka berkomunitas di biara ini dan menjadi pastor rekan.

     

    • 2017 – 2021
      P. Robert Zon Piter Sihotang (Guardian, Ketua Yayasan Betlehem)
      P. David Barus (Parokus)
      P. Antonius Arifintus Tpoi (Rektor Seminari Menengah, Ekonom Paroki)
      P. Sebastianus Tawar Ginting (Direktur panti Asuhan)
      Fr. Nikolas Fr. Ambrosius Tapatab
      Fr. Maxilianus Satya Ginting

     

     
    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Tebing Tinggi

     

    Pelindung

    :

    Santo Joseph

    Buku Paroki

    :

    Sejak 1 Juli 1951. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan.

    Alamat

    :

    Jl. Pahlawan 13, Tebing Tinggi - 20633

    Telepon

    :

    0621 – 21396, 0821 6519 1468

    Website

    :

    www.parokitebingtinggi.blogspot.com

    Email

    :

    [email protected]

    Jumlah Umat

    :

    2.078 KK / 7.942 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi

    :

    26

    Tebing Tinggi
    Rayon Bah Tonang
    01. Bah Tonang
    02.   Gunung Pamela
    03.   Nagaraja Rimbun
    Rayon Bandar Pamah
    01. Bandar Pamah
    04. Kampung Toba
    02.   Batu Hobot
     
    03.   Buho
     
    Rayon Bangun Bandar
    01. Bakaran Batu
    02.   Bandar Bejambu
    03.   Bangun Bandar
    04. Blok Sepuluh
    05.   Kampung Jati
    06.   Desa Dame/Kbn Kopi
    07. Pertapaan
    08.   Silau Bawang
    09.   Sukaramai
    Rayon Kampung Juhar
     
     
    01. Kampung Juhar
    02.   Kayu Besar
    03.   Sidomulio
    04. Pagurawan
    Rayon Penggalangan
    01. Mangga Dua
    02.   Hutabagasan
    03.   Kampung Manggis
    04. Penggalangan
    05.   Toba I
    06.   Sei Periuk

    RP. Petrus Umar Sumardi, OSC


    Parochus

    RP. Romaldus Rumlus OSC

    24.12.'59

    Vikaris Parokial

    RP. Adi Putra Panjaitan OSC

    11.01.'92

    Vikaris Parokial

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :
    Rute

    Paroki Tarutung

    PelindungSanta Maria
    Buku ParokiSejak 1 Agustus 1958. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Balige.
    Alamat Jl. D.I. Panjaitan No. 39, Tarutung - 22416
    No HP/WA & Email0813-7031-1509
    [email protected]
    Statistik1.286 KK/ 5.648 jiwa (data BIDUK per Maret 2026)
    Gereja Stasi19

    1. St. Maria Ratu Damai Parsorminan
    2. St. Petrus dan Paulus Lumbansormin
    3. St. Ignatius Sibingke
    4. St. Barnabas Parsibarungan
    5. St. Paulus Rahutbosi
    6. St. Petrus Sigotom
    7. St. Laurentius Sitarindak
    8. St. Theresia Avilla Sipahutar
    9. St. Monika Silimabahal
    10. St. Maria Ratu Para Malaikat Silitonga
    11. St. Fidelis Panjaitan
    12. St. Albertus Agung Lobutolong
    13. St. Paulus Lumban Julu
    14. St. Felix Sidagal
    15. St. Pascalis Gonting Pege
    16. St. Maria Garoga
    17. St. Elisabet Dano Horbo
    18. St. Maria Ratu Rosario Parinsoran
    19. St. Yustinus Martir Sibalanga

    Harian18.00 WIB (Senin) : Misa Komunitas di Susteran 
    06.00 WIB (Selasa, Rabu, Jumat)
    18.00 WIB (Kamis)
    Jumat Pertama18.00 WIB (Misa & Adorasi)
    Sabtu06.00 WIB
    Hari Minggu08.00 WIB
    Jadwal misa bisa berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, mohon menghubungi / chat WA kontak paroki di atas untuk memastikannya. Terima kasih.
    RD. Dedi Ananta Sembiring white
    RD. Dedi Ananta Sembiring
    Parokus (Pastor Paroki)
    RD. Imanuel Purba
    RD. Imanuel Purba
    Vikaris Parokial

    Sejarah Singkat

    Sejarah Paroki Santa Perawan Maria, Tarutung

    Paroki Santa Maria - Tarutung yang ada saat ini bukanlah produk sekali jadi tetapi sebuah proses panjang yang diwarnai perjuangan, kerja keras, keringat bahkan darah. Di bawah ini disajikan sejarah singkat berdirinya paroki Santa Maria – Tarutung. Sumber utama ringkasan ini adalah buku Pelangi Di Bukit Barisan, karya RP. Rudolf Kurris, SJ yang pernah berkarya di paroki Tarutung tahun 2002-2005.

    Cikal Bakal Paroki Tarutung

    Vikariat apostolik Medan yang dibentuk pada tahun 1941, mengalami pemekaran dan membentuk vikariat apostolik Padang (1952). Dengan demikian pelayanan Gereja katolik lebih berkonsentrasi di wilayah Tapanuli. Oleh karena terbentuknya vikariat apostolik Sibolga (1959) yang meliputi wilayah Tapanuli Tengah, pelayanan Gereja Katolik lebih berfokus pada wilayah Tapanuli pinggiran Danau Toba. Salah satu paroki yang dibentuk adalah Paroki Tarutung.

    Adapun bibit kekatolikan di wilayah Tarutung sudah masuk sekitar tahun 1920-an. Hal itu terbukti dengan ditemukannya sepucuk surat kepada Mgr. Matias Brans OFM Cap. Surat itu ditulis tanggal 27 Mei 1922 oleh Hadrianus Siahaan yang mewakili 50 keluarga di Tarutung. Mereka memohon agar mengirimkan seseorang yang bisa membawa pengetahuan iman Katolik Roma dan agar mereka dibaptis menjadi umat Katolik. Permohonan itu baru dapat disanggupi 35 tahun kemudian. Salah satu kendala yang dialami adalah masalah tenaga, dan juga situasi. Walaupun pintu pewartaan ke Tanah Batak telah dibuka kala itu tetapi para misionaris enggan datang ke Tarutung untuk menghindari konfrontasi dengan agama Protestan yang lebih dahulu dibangun oleh DR I.L Nommensen, yaitu sejak 1863.

    Cikal bakal paroki Tarutung dimulai pada tahun 1957, ketika Mgr. Ferrerius van de Hurk mengutus Pastor Lambertus Woestenberg, OFM Cap. untuk melayani umat di Tarutung. Pastor Woestenberg sendiri adalah imam muda berusia 36 tahun dan telah berkarya di Tebing Tinggi dan Balige. Pastor Woestenberg mengawalinya dengan mengontrak rumah di dekat bangunan gereja Katolik di Desa Perbaju/Hutabarat pada 1 Juli 1957. Sebulan kemudian, tepatnya 1 Agustus 1957, Mgr. van de Hurk meresmikan Paroki Tarutung dengan nama pelindungnya yakni Santa Maria. Ia mengangkat Pastor Woestenberg OFM Cap. menjadi pastor paroki yang pertama.

    Rumah pastoran tampaknya cukup primitif: berlantaikan tanah, dinding dan atapnya terbuat dari ilalang, lokasi tanah sangat sempit dan sulit untuk diperluas karena berada di lereng bukit. Situasi itu memaksa pastor dan umat untuk mencari lokasi yang luas dan cocok untuk persiapan jangka panjang. Selain harga tanah yang mahal, pencarian lahan dipersulit oleh situasi di mana penduduk Rura Silindung pada umumnya adalah umat Protestan yang kurang menyutujui kehadiran Gereja Katolik. Namun, Pada akhir tahun 1961 umat berhasil membeli sebidang tanah rawa dari marga Hutabarat. Tanah itu terlatak di pinggir Jalan Pahae. Lokasi itu cukup luas dan sentral sehingga cocok untuk mendirikan gereja dan pastoran.

    Pelayanan Pastoral

    Ketika Tarutung diresmikan menjadi paroki, pastornya harus melayani 32 stasi yang telah terbentuk sebelumnya. Sebagian dari stasi itu adalah perkampungan yang hanya boleh dicapai dengan berjalan kaki dengan melewati sungai, jurang dan bebukitan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pastor paroki yang baru dan muda itu. Pastor Woestenberg sering sekali menginap di stasi. Biasanya ia tiba pada sore hari, kemudian mengadakan pembelajaran agama, penerangan tentang berbagai masalah, menyanyi dan berdoa Rosario. Keesokan harinya diadakan perayaan ekaristi, kemudian ia melanjutkan perjalanan ke stasi lainnya. Ia berkeliling selama 4-5 hari. Bila pastor pulang dari stasi, beberapa umat mambantu pastor dengan memasak makanan dan membersihkan pastoran.

    Pergolakan politik di Indonesia yang terjadi sekitar tahun 1960, dimana terjadi pemberontakan Ahmad Husein di Padang dan Kolonel Simbolon di Medan, mempersulit pekerjaan pastor terutama ketika perang terbuka meluas sampai ke wilayah Tapanuli Utara. Sintua dari Stasi Siantarnaipospos ditembak mati oleh tentara pusat, padahal ia bukan seorang dari pemberontak. Kecurigaan yang semakin meluas menyebabkan kekacauan bahkan terjadinya perang antar-desa. Banyak penduduk terpaksa pergi ke daerah lain di Indonesia. Kesulitan pelayanan pastor juga diperparah dengan kecurigaan terhadap para misionaris oleh tentara-tentara pusat yang pada umumnya non-Kristen.

    Situasi Umat

    Pada umumnya, umat katolik di wilayah paroki Tarutung adalah mantan jemaat HKBP yang berpindah, terutama karena terjadi perselisihan internal di tubuh HKBP. Beberapa persoalan di antaranya merupakan hal sepele antara pendeta dengan jemaat. Walaupun alasan perpindahan umat ini tidak mendasar pada keyakinan iman yang kokoh, tetapi permohonan mereka tidak baik jika ditolak. Oleh karena itu, umat yang Katolik yang baru itu harus diberi perhatian khusus. Akan tetapi tidak semua umat setia dengan gereja Katolik; sebagian kembali lagi ke gereja sebelumnya, dan sebagian lagi pindah ke gereja-gereja protestan lainnya.

    Dari tahun ke tahun penambahan jumlah umat semakin meningkat cepat karena perselisihan internal HKBP yang berlarut-larut. Puncak perselisihan itu terjadi pada tahun 1992, di mana S.A.E Nababan, ephorus HKBP terpilih dalam sinode Godang di Pearaja, berusaha digulingkan oleh Sountilon Simanjuntak, calon ephorus yang didukung oleh Presiden Soeharto (Pemerintah). Akibatnya perselisihan kedua kubu semakin menuncak pada konflik berdarah; ada beberapa pendeta yang meninggal. Tidak sedikit jemaat HKBP yang ingin pindah ke Katolik, tetapi para pastor tidak mau mengail di air yang keruh. Sikap itu sangat dihargai jemaat HKBP, sehingga relasi Gereja Katolik dan HKBP menjadi cukup akrab.

    Walau relasi Katolik dan HKBP cukup hangat, tetap saja ada keluarga-keluarga kecil yang kemudian hari diterima menjadi umat Katolik. Tahun 1996 penambahan umat dan stasi hampir tidak terjadi lagi. Oleh karena itu, pastor yang berkarya di paroki Tarutung menjalankan rutinitas kebanyakan pastor paroki lainnya, yakni memelihara iman umat dengan memaklumkan sabda Allah, menerimakan sakramen-sakramen, menimba penyegaran intelektual dan spiritual.

    Pembangunan Gereja Paroki dan Sekolah

    Awal tahun 1962, dimulailah pembangunan gereja paroki yang baru. Sejumlah orang muda dan umat mengangkati pasir dari Sungai Aek Ristop untuk menimbun tanah gereja yang rendah agar tidak kebanjiran pada musim hujan. Pada bulan Juli 1962, gedung gereja telah selesai dibangun denga daya tampung 300 orang. Sementara rumah tempat tinggal pastor dibangun di belakang gereja. Mgr. Ferrerius van den Hurk diundang dari Medan ke Tarutung untuk memberkati gereja yang baru. Pesta pemberkatan sangat meriah, hikmat dan agung. Uskup bersama rombongan para pastor dan suster dari Balige dan Lintongnihuta dijemput dari perbatasan kota oleh 46 keluarga katolik dari Hutabarat dan wilayah kota. Mereka diarak dalam prosesi menuju gereja. Banyak umat dari stasi-stasi di pegunungan menghadiri pesta besar itu dengan antusias.

    Tahun 1974, suasana sekitar gereja semakin ramai dengan kehadiran anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) yang baru dibuka para suster SCMM. Tahun 1976, Sekolah Dasar (SD) Santa Maria diresmikan oleh bupati. Perkembangan gereja semakin tampak dengan didirikannya SMP Santa Maria. Gedungnya baru diresmikan oleh bupati G. Sinaga pada tanggal 1 September 1985. Pada tahun yang sama rumah pastoran yang layak dan enak dihuni juga telah selesai dibangun.

    Tahun 1996, Mgr. Pius Datubara mengunjungi Tarutung guna menerimakan sakramen krisma dan melantik Dewan paroki. Kedua peristiwa penting ini saling berkaitan untuk menjadi titik mulai menata hari depan yang lebih baik. Pertambahan umat katolik di Tarutung dan juga kunjungan uskup membuat gedung gereja paroki terasa terlalu kecil. Maka dibentuklah panitia pembangunan gereja. Dimulailah usaha mencari dana. Tanah di belakang pastoran juga diperluas.

    Keluarga dermawan asal Sumatera Utara, yakni keluarga Tommy Suryadi, berhasil menggerakkan sekelompok aktivis di Jakarta. Mereka mengadakan yang disebut dengan Malam Cinta Kasih. Acara itu dilaksanakan di Puri Agung Sahid Jaya Hotel, Jakarta. Acara itu dihadiri oleh Mgr. Pius Datubara, Mgr. Pietro Sambi (duta besar Vatikan), Cosman Datubara (Menteri Kehutanan) dan banyak orang lainnya. Para dermawan itu menyumbangkan ratusan juta untuk membiayai pembangunan gereja inkulturatif Batak Toba di Kota Tarutung. Maka tanggal 5 Juli 1998 bangunan yang dinanti-nantikan telah selesai dibangun. Gereja itu diberkati oleh Mgr. Pius Datubara dan diresmikan oleh Bupati T.M.H Sinaga.

    Hari raya Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda yang jatuh pada 8 Desember 2002, menjadi hari bersejarah yakni penyerahan pelayanan paroki Santa Maria dari Ordo Kapusin kepada Ordo Serikat Jesuit (SJ). Pada hari itu juga diadakan peresmian gedung-gedung baru SMA dan SMP Santa Maria, oleh Bupati R.E Nainggolan.

    Pelayan Pastoral

    a. Pelayanan Ordo Kapusin (OFM Cap), tahun 1957-2002

    Ordo Kapusin sangat berjasa dalam pewartaan iman di Tapanuli Utara, khususnya di Rura Silindung. Sejak pendirian paroki Santa Maria – Tarutung pada 1 Juli 1957, mereka tetap berjuang dengan gigih membangun stasi-stasi dan memelihara iman Katolik selama berpuluh-puluh tahun. Berikut ini adalah pelayanan para pastor Kapusin di paroki Tarutung.

    Pastor Lambertus Woestenberg (1957-1965) dipindahkan dari Tarutung menuju Pematangsiantar. Ia digantikan oleh Pastor Rochus Raessens (lebih dikenal dengan sebutan Pastor Ramses), yang juga pernah melayani di beberapa paroki. Ia pernah mendapat pelatihan kesehatan di Belanda selama dua tahun. Maka selama berkarya di Tarutung ia lebih banyak memberi perhatian pada karya kesehatan jasmani. Ia mendirikan klinik di dekat paroki.

    Wilayah paroki Tarutung terlalu luas untuk dilayani satu orang pastor, apalagi kalau pastor tersebut lebih menyibukkan diri pada bidang medis. Oleh karena itu, setelah 3 tahun berkarya, Pastor Ramses dipindahkan dari Tarutung. Pastor Woestenberg diutus kembali ke Tarutung untuk memulihkan keadaan paroki dan semua stasinya. Pada bulan November 1968, datanglah empat orang suster SCMM dari Sibolga, dan membuka biara di Tarutung. Mereka melanjutkan pengobatan di poliklinik yang ditinggalkan oleh pastor Ramses.

    Awal 1969, Pastor Woestenberg pindah kembali ke Pematangsiantar. Ia digantikan oleh Pastor Veldkamp, yang masih berusia 31 tahun, dan baru tiga tahun berada di Sumatera Utara. Sebagai pastor muda yang cukup lincah, ia mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan bahasa, budaya, adat, iklim dan cara bergaul. Walau demkian, dengan gigih ia mengunjungi stasi-stasi yang jauh dengan medan yang sangat berat.

    Ketika Pastor Veldkamp beristirahat ke Belanda antara tahun 1970-1971. Untuk sementara, ia digantikan oleh Pastor Mauritius van Maurik (30 tahun) bersama Pastor Yohanes Simamora (29 tahun ). Pastor Yohanes Simamora adalah pastor pertama dari suku Batak yang melayani di paroki Tarutung. Semangat umat katolik, khususnya stasi Aek Raja, semakin membara setelah menyaksikan dua putra derah ditahbiskan menjadi imam, yakni Pastor Marcelinus Manalu (1969) dan Pastor Philippus Manalu (1973).

    Pada tahun 1974, pastor Veldkamp digantikan oleh Pastor Hubertus Tamba, OFM Cap., Kala itu ia masih berusia 31 tahun. Usia imamatnya masih 5 tahun. Ia berasal dari paroki Parlilitan. Setahun kemudian tenaga pastoral ditambah dengan kehadiran Pastor Yosue Steiner yang berasal dari Swiss. Ia seorang imam yang sangat giat bekerja tanpa mengenal lelah, hidupnya juga sederhana.

    Pastor Hubertus Tamba meninggalkan Tarutung pada tahun 1976. Maka tinggallah pastor Yosue seorang diri. Setahun kemudian Pastor Rajagukguk memulai karyanya di paroki Tarutung selama 3 tahun ke depan. Tahun 1980 Pastor Yosue kembali melayani seorang diri di paroki Tarutung.

    Pastor Ambrosious Sihombing ditugaskan ke Paroki tarutung pada tahun 1981. Bersama Pastor Yosue, ia berjuang membangun gereja dan menata kembali gereja dengan kepengurusan yang sederhana. Mereka mengadakan pertemuan yang disebut dengan sermon rayon dan sermon bolon, untuk membekali para pengurus gereja dengan pengetahuan agama katolik dan keterampilan pastoral yang diperlukan.

    Pastor Yosua dipindahkan tahun 1982. Tahun 1985 Pastor Asterius van Reen diutus ke Tarutung, sementara Pastor Ambrosius Sihombing dipindahkan pada tahun 1986. Setelah beberapa tahun melayani paroki seorang diri, Pastor Asterius ditemani oleh Pastor Filippus Manalu (putera Aek Raja) pada tahun 1989. Pastor Asterius meninggalkan paroki Tarutung pada tahun 1991. Pastor Oktavianus Situngkir OFM Cap, yang baru ditahbiskan memulainya karyanya di Tarutung pada tahun 1992. Pastor Filippus meninggalkan Tarutung dan digantikan oleh Pastor Monaldus Banjarnahor sebagai pastor paroki tahun 1993-1998. Pastor Oktavianus Situngkir dipindahkan pada tahun 1995. Pastor Michael Hutabarat menjadi pastor paroki sampai penyerahan pelayanan paroki Santa Maria kepada Ordo Serikat Jesuit (SJ) pada 8 Desember 2002.

    b. Pelayanan Ordo Serikat Jesuit (SJ), tahun 2002-2015

    Pastor Rudolf Kurris, SJ adalah jesuit pertama yang tiba di Tarutung pada 22 Agustus 2002. Oleh Mgr. Pius Datubara, ia diangkat menjadi pastor paroki pada 8 Desember 2002. Serah terima pastor paroki ini tidak banyak dihadiri umat. Ada kesan bahwa umat kurang menyutujui keputusan uskup itu. Ada hasutan umat yang sampai di telinga para Jesuit bahwa SJ itu adalah nama lain dari Siboan Jea (yang membawa malapetaka). Namun, pelayanan para Jesuit yang tidak jauh berbeda dengan para pastor terdahulu menciptakan relasi yang baik dengan umat.

    Ketika serah terima jabatan pastor paroki, data statistik umat katolik tercatat 10.850 jiwa yang tersebar di Kota Tarutung dan 49 stasi, sementara luas wilayah paroki sekitar 4.000 kilometer persegi. Pelayanan para Jesuit terinspirasi dari ucapan seorang cardinal kepada para imamnya: “Sekarang tugas kalian bukan lagi membaptis orang yang mau bertobat, melainkan menobatkan orang yang sudah dibaptis”. Perkataan itu ditanggapi dengan meningkatkan mutu spiritual umat di Paroki Tarutung. Beberapa hal yang digalakkan para pastor adalah devosional seperti rosario dan juga hidup sakramental. Meraka menghidupkan kembali sakramen tobat yang nyaris lenyap. Maka dibangunlah dua kamar pengakuan dosa di gereja agar umat bisa membersihkan diri dari dosa menjelang hari raya natal.

    Beberapa pastor Jesuit yang pernah berkarya di paroki Tarutung adalah Pastor Yosef Situmorang (pindah pada Agustus 2005), Pastor Laurentinus Sutarno (2005-2015), Pastor Bonaventura Hartaja Toto, seorang ahli fisika, yang juga meluangkan waktunya untuk mengajar fisika di SMA St. Maria – Tarutung.

    c. Pelayanan Imam Diosesan Keuskupan Agung Medan

    Serah terima pelayanan kepada imam diosesan KAM dilaksanakan pada 23 Agustus 2015. RD. Marianus Kedang diangkat menjadi pastor paroki, sementara pastor rekannya adalah RD Parulian Sihombing yang telah 2 tahun tinggal di Tarutung. Pelayanan para imam diosesan di paroki Tarutung melanjutkan pelayanan sudah tertata cukup baik oleh pendahulunya. Di samping itu, pelayanan juga harus disesuaikan dengan standar pelayanan parokial di Keuskupan Agung Medan.

    Sampai saat ini, para imam diosesan berusaha mengembangkan paroki dan memelihara iman umat. Beberapa hal yang dilakukan seperti pembentukan tim pastoral, tim Kursus Persiapan Perkawinan (KPP), WKRI dan badan-badan lain; kelompok koor semakin digalakkan, pembukuan tata cara perayaan-perayaan; beberapa gereja dibangun dan direhap.

    Sejak Agustus 2019 sampai saat ini, Paroki Tarutung digembalakan oleh RD Merdin M Sitanggang. Ia ditemani oleh RD Octavius Tarigan, RD Rafael Hendra Sirait dan Frater Juli Lingga. Beberapa imam diosesan yang pernah berkarya di paroki Tarutung adalah RD Henri Jhonson (2017-2020), RD Anggiat Sihotang (2018-2020).

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Paroki Sidikalang

    Pelindung
    :
    Santa Maria Pertolongan Orang Kristen
    Buku Paroki
    :
    Sejak 26 September 1938. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan
    Alamat
    :
    Jl. Merga Silima 1, P.O. Box 19, Sidikalang – 22211
    Telp.
    :
    -
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    2.217 KK / 9.462 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi
    :
    23
    01. Bakal Julu
    04. Borno
    07. Juma Teguh
    10. Karing
    13. Panji Dabutar
    16. Sigalingging
    19. Sitinjo
    22. Tangga Rube
    02. Bangun
    05. Buntu Raja
    08. Jumantuang
    11. KM 11
    14. Saluksuk
    17. Sikarahung
    20. Sungai Raya
    23. Temba
    03. Binjara
    06. Jumatakar
    09. Kaban Julu
    12. Panji Bako
    15. Sidiangkat
    18. Silumboyah
    21. Tambunan

    RP. Alfonsus Arpol Manik, O.Carm

    Parochus
    RP. Doni Malau, O.Carm

    Vikaris Parokial

    Jadwal Misa

    Harian :

    Pukul 06.00 WIB (Senin, Selasa, Kamis, Jumat)
    Pukul 17.00 WIB (khusus Rabu)

    Jumat Pertama :

    Pukul 18.00 WIB

    Sabtu :

    -

    Hari Minggu :

    Sesi 1 : 08.00 WIB
    Sesi 2 : 10.00 WIB

    Sejarah Paroki

    A. Sejarah Paroki

    Paroki Sidikalang adalah bagian yang tak terpisahkan dari Perjalanan Sejarah Gereja di Wilayah Dairi-Pakpak, karena Sidikalang merupakan pusat Pengembangan Misi Katolik awal di Tanah Dairi-Pakpak. Rentang waktu perjalanan sejarah gereja katolik dimulai sejak tahun 1936 sampai saat ini. Perjalanan yang panjang itu sarat dengan pengorbanan, perjuangan sekaligus harapan.

    Menyusul keluarnya izin penyebaran Misi Katolik di daerah batak Simalungun pada tahun 1933, maka misi gereja Katolik mulai mengembangkan sayapnya ke arah barat Pematangsiantar yang ditandai dengan berdirinya stasi Laras dan Tanah Jawa pada tahun 1934-1935. Dan setahun kemudian berdirilah stasi Sawah Dua-Panei. Dan dari tempat ini misi Katolik memasuki wilayah Seribudolok sehingga pada tahun 1938 berdirilah stasi Seribudolok. Selanjutnya, misi Katolik mulai mengembangkan sayap Ke Tanah Dairi.

    Tepatnya pada bulan Januari 1938, Bapak Johanes Sihombing, seorang Katekis dari Pematangsiantar datang ke Sidikalang. Tujuan utama adalah memberikan Pelajaran Agama Katolik kepada umat Katolik yang ada di Dairi. Menyusul kemudian, hadirlah Pastor Nepomucenus Clemens Hamers OFMCap pada tanggal 28 Februari 1938, di Dairi, yang disambut umat di Sitinjo yang juga akan menjadi sebuah Stasi di bawah Pelayanan Paroki Sidikalang. Peristiwa ini, menjadi awal yang yang menentukan sejarah perjalanan Paroki Sidikalang.

    Umat mulai mengadakan pertemuan doa dan mendapatkan pembinaan. Pastor Hamers untuk sementara waktu bertempat tinggal di sebuah rumah kecil yang disebut HOOFD SCHOOLOP. Tidak lama kemudian, Pastor Hammers memperoleh sebuah gedung sekolah yang belum selesai dibangun sebanyak 4 lokal di Jl. Lae Parera (sekarang Jl Pakpak, Sidikalang). Bangunan Sekolah yang belum selesai ini harus dijadikan sebagai bangunan multi fungsi: Gereja dan tempat tinggal Pastor Hamers.

    Penyelenggaraan Allah sungguh dirasakan ketika Pastor Hammers mendapatkan tanah (lokasi Gereja Sidikalang Sekarang) dari Marga Ujung sebagai raja tanah di Sidikalang. Pastor Hammers memandang ini sebagai sebuah awal yang baik dalam merencanakan pembangunan Gereja yang layak. Perlahan tapi pasti, stasi Sidikalang menunjukkan perkembangan pesat yang pada gilirannya akan menjadi Paroki dan Pastor Hammers juga menjadi pastor Paroki pertama di wilayah Dairi. Tercatat Permandian pertama di Dairi terjadi tanggal 26 September 1938. Hal ini sejalan dengan informasi di Website Keuskupan Agung Medan bahwa Buku Paroki Sidikalang dimulai tahun 1938 yang sebelumnya semua catatan paroki berikut administrasi ditangani Gereja Katedral Medan. Dari sini juga, kita mendapat informasi bahwa pendirian Paroki Sidikalang terjadi pada tahun 1938.

    Perkembangan Gereja di Sidikalang berjalan cepat yang ditandai dengan meningkatnya jumlah katekumen. Menurut sumber Kroniek Missie Sumatera O.F.M.Cap. antara tahun 1938-1939, Sidikalang menempati urutan ketiga dalam jumlah Katekumen (2.500) orang setelah Simbolon dan Lintongnihuta. Pertumbuhan ini tergolong cepat mengingat Gereja Katolik di Sidikalang baru saja berdiri. Sejalan dengan Pertambahan Umat, bangunan Gereja yang masih sangat darurat ini kemudian ditingkatkan menjadi sebuah tempat Ibadah yang layak bagi umat Katolik pada saat itu. Sekitar tahun 1940 gereja pertama Paroki Sidikalang dibangun dengan ukuran 6 x 9 m. dan tempat ibadat yang lama dialihfungsikan menjadi Pastoran.

    Pada tahun 1942, di bawah bayang-bayang Perang Dunia II dan ancaman pendudukan Jepang, peran para Katekis menjadi sangat penting, karena hampir semua misionaris berkebangsaan Belanda diinternir oleh tentara Jepang. Pastor Hammers harus mendekam di Camp konsentrasi Jepang di Tarutung. Karya misi Katolik yang baru saja melangkah, sekarang harus ditinggal gembalanya. Untuk melanjutkan karya kegembalaan, Bapak SMA Sihombing diangkat menjadi pemimpin. Tugas utama beliau adalah memelihara dan menjaga segala inventaris gereja dan menggalang persatuan umat. Katekis ini untuk sementara menempati rumah Pastor. Enam bulan kemudian, Jepang mengadakan pemeriksaan atas segala inventaris Gereja. Bapak SMA Sihombing tidak diperkenankan tinggal di rumah Pastor. Beliau lalu pindah ke Botik Horbo walaupun tetap menjalankan tugas sebagai katekis.

    Sebagai pengganti Bapak SMA Sihombing, maka atas mufakat anggota Gereja, ditunjuklah Bapak H. Lumbantobing sebagai pemimpin di Sidikalang kota. Sejak tanggal 1 Januari 1943 rumah ibadat dipindahkan dan kegiatan hari Minggu –untuk sementara waktu- diadakan di rumah H. Lumbantobing.

    Tantangan baru datang lagi, Jepang yang mengadakan pemeriksaan atas inventaris Gereja akhirnya menangkap juga Bapak SMA Sihombing untuk dimintai pertanggung jawaban, kemudian ditahan pada tahun 1943-1944. Konsekuensinya adalah banyak umat yang meninggalkan gereja dan beberapa stasi juga terpaksa tutup. Bapak H. Lumbantobing sebagai pemimpin di Gereja Sidikalang kota, berhasil mencari tenaga Katekis. Antara lain Bapak K. Hutabarat dari Pematang Siantar, Bapak Daniel Kudadiri, Bapak JB Panggabean dari Balige, Bapak H Siburian, Bapak Liberti Sianturi.

    Fajar harapan kembali merekah bersamaan dengan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Para misionaris dibebaskan kendati masih dalam pengawasan. Tetapi Gereja sudah mulai mengalami kebangkitan. Rencana untuk masa depan Gereja pun ditempa lebih serius. Para pastor yang telah meninggalkan kamp konsentrasi masih harus memulihkan kesehatan. Gereja masih tetap mengandalkan tenaga awam yang bertindak sebagai Katekis. Salah satu di antaranya adalah bapak Petrus Datubara (ayah Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara) yang berasal dari Kutacane (Kab. Karo) untuk membantu kegiatan umat Katolik Dairi.

    Menyikapi situasi yang kurang kondusif ini, Mgr. Mathias Brans, O.F.M.Cap meminta bantuan tenaga Pastor dari Mgr Albertus Soegijapranata, S.J (1896-1963) Keuskupan Semarang. Pastor Sutopanito, S.J. diutus untuk memberikan pelayanan gerejani di Sumatera Utara. Pelayanan beliau sampai juga ke Dairi (Sidikalang dan Silalahi). Pastor Hammers setelah mengalami pemulihan kesehatan tahun 1950 kembali ke Sidikalang. Pada Bulan Agustus 1952 Pastor Hammers mengakhiri masa Baktinya di Paroki Sidikalang. Pada bulan Mei 1952 Pastor Septinius Kamphof, OFM Cap. juga hadir di Sidikalang, menyusul Pastor Stefanus J.Krol, OFM Cap. tahun 1953. Mulai tahun ini gereja Dairi dipersiapkan untuk dimekarkan ke Parongil sebagai Paroki baru yang direalisasikan pada tanggal 1 Mei 1954, dengan pastor Paroki pertama adalah Pastor A. Kamphof. Sumber Vikariat Medan tahun 1955-1956 menunjukkan bahwa paroki Sidikalang memiliki jumlah umat 2.812 dan jumlah stasi sebanyak 24 stasi. Sedangkan jumlah umat Parongil sebanyak 2.000, dan jumlah stasi sebanyak 23 stasi. Pertumbuhan umat yang semakin pesat mendorong Pastor dan umat merencanakan Pembangunan gereja baru, maka pada Tagun 1956 mulai dibangun Gereja Paroki Sidikalang dengan ukuran 12 x 24m. Pada Tahun 1959 pembangunan gereja paroki Sidikalang selesai dan langsung diberkati oleh Mgr. Ferrerius van den Hurk.

    Pada tanggal 2 – 12 Februari 1965 Komisaris Jenderal Ordo Karmel Indonesia, Pastor Martinus Sarko Dipojudo bersama Pastor Quirinus Kramer bertemu dengan Mgr. Ferrerius van den Hurk terkait Pengembangan Misi Karmel di Sumatera Utara. Sebuah Tanggung jawab yang berat namun mulia, ketika Bapak Uskup menyerahkan wilayah kabupaten Dairi kepada Ordo Karmel. Ketika itu, Dairi telah memiliki dua Paroki yakni Sidiklang dan Parongil. Maka, pada tahun 1965, terjadi serah terima dari Ordo Kapusin kepada Ordo Karmel. Serah terima dari Pastor Krol, OFM. Cap kepada Pastor Q. Kramer O.Carm (Paroki Sidikalang). Serah terima juga dari dan Pastor R. Ressens OFMCap kepada Pastor van Wanroij O.Carm (Parongil).

    Karena beratnya medan pelayanan maka Ordo Karmel berusaha untuk menambah barisan tenaga imam di Dairi. Segera diutus Pastor Joseph Kachmadi (Mei 1965), Pastor Arnoldus Hutten (1966). Berkat Tuhan melimpah untuk Tanah Dairi melalui Tahbisan imam Baru Karmelit di Pematangsiantar pada tahun 1967. Tenaga muda dan energik ini diutus ke Dairi antara lain : Pastor Ignatius Widodo Kartoutomo (membantu di Parongil sampai 1969), Johanes Tan Kian Bie Indrakusuma dan Pastor Anastasius Soestijarso Subdibjio.

    Pada tahun 1968, hadir juga Frater Otto Flapper di Sdikalang untuk menagani pembangunan Gereja-gereja di Dairi. Perkembangan umat yang tidak dapat dibendung maka Paroki Parongil dimekarkan, maka lahirlah Paroki Tigalingga pada tahun 1967 setelah menjadi kuasi Paroki pada 14 November 1965. Segera sesudah itu, Paroki Sidikalang juga dimekarkan lagi, sehingga lahirlah Paroki Sumbul pada tahun 1968.

    Gaung Konsili Vatikan II membawa pembaharuan di dalam Gereja. Wajah Gereja makin dekat dan menjemaat. Karya pendidikan melengkapi karya misi Katolik di Dairi yang telah dirintis sejak kehadiran Misi Katolik di Dairi. Tahun 1985 dibuka SMA Cahaya yang dikelola Yayasan Seri Amal. SD St.Yosef dan SMP St. Paulus yang dulunya dikelola Yayasan Bhakti Mengabdi dialihkan kepada Yayasan Seri Amal mulai tahun 1970. Taman Kanak-kanak St. Maria yang sebelumnya menempati bangunan SD St. Yosef menempati bangunan sendiri sejak tanggal 4 Agustus 1968.

    Karya pelayanan kepada umat juga meningkat dengan dibukanya karya pertukangan. Karya pertukangan ini dimulai oleh Br. Otto Flapper O.Carm yang membantu penggantian bangunan gereja-gereja darurat menjadi bangunan permanen atau semi-permanen. Karya pertukangan mendorong umat menyadari arti pembangunan Gereja di stasi-stasi, yang tidak mungkin hanya mengandalkan bantuan keuskupan saja. Umat juga harus ikut serta membangun. Peran serta pemuka umat makin tampak seiring gerak Keuskupan Agung Medan: GEREJA MENJEMAAT.

    Karya pertukangan ini membantu juga pembangunan gereja-gereja lain di wilayah Dairi, yang dinilai cukup memadai dengan situasi sosial-ekonomi umat Dairi. Arah pendewasaan iman umat dibina juga melalui kursus-kursus dan pelatihan serta sermon yang dilakukan melalui peran pemuka jemaat baik dingkat Rayon maupun Paroki. Pembinaan ini tidak bisa diabaikan seiring dengan laju derap kemajuan dan perkembangan masyarakat. Gereja mempunyai misi utama yaitu mendewasakan iman umat serta mengamalkannya demi pembangunan manusia seutuhnya.

    Seiring dengan perjalanan waktu, Bangunan Gereja yang di bangun dan diresmikan tahun 1959 tidak dapat menampung jumlah umat yang bertambah banyak. Oleh karena itulah, pastor dan umat sudah sejak tahun 1995 mencoba memikirkan untuk merehap dan memperluas bangunan Gereja agar dapat menampung umat.

    Pada tahun 2002 Pastor Ignatius Joko Purnomo O.Carm bersama Dewan Pastoral Paroki mencoba hendak mewujudkan harapan yang sudah direncanakan selama 5 tahun. Melalui berbagai pertimbangan, Pastor Ignatius Joko O.Carm bersama Para Pengurus Gereja memutuskan bahwa paroki bukan lagi merehap bangunan tetapi membangun Gereja yang lebih besar. Maka pada pertengahan bulan Desember 2002 diadakan peletakan batu pertama pembangunan Gereja.

    Sejak peletakan batu pertama, pembangunan berjalan dengan sistem swakelola. Umat paroki bahu membahu dalam upaya pembangunan. Selama pembangunan berlangsung, umat beribadah di ‘Gereja darurat’ selama 2 tahun dan selama 2 tahun lebih beribadah di bangunan baru yang belum selesai.

    Pada Desember 2004, Pastor Ignatius Joko O.Carm ditarik oleh Ordo Karmel. Pembangunan Gereja dipercayakan kepada Pastor Antonius Manik O.Carm sebagai pastor Paroki yang baru. Berkat rahmat Tuhan, kerja keras paroki dan dukungan para donator, pembangunan Gereja berjalan terus.

    Akhirnya diberkati oleh Uskup Agung Medan Mgr. A.G. Pius Datubara OFM Cap. pada hari Raya Kristus Raja 26 November 2006. Setelah pemberkatan Gereja, pembangunan tetap berlangsung, menyempurnakan bagian-bagian yang belum selesai.

    Peristiwa penuh syukur atas Rahmat Tuhan bagi Paroki Sidikalang pada khususnya, dan Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat pada umumnya bahwa pada tanggal 23 Oktober 2013, Gereja Dairi merayakan 75 Tahun Misi Katolik di Tanah Dairi. Misa Kudus yang dipimpin oleh Bapak Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga itu dihadiri kurang lebih 17 ribu umat.

    Tiga Tahun kemudian yakni tahun 2016, Pastor Matias Simarmata, O.Carm sebagai Pastor Paroki bersama Dan Pastoral dan panitia bangunan membangun Menara Gereja, pagar Gereja dan Penataan Halaman Gereja. Demikianlah sekilas sejarah gereja Maria Pertolongan Orang Kristen, Paroki Sidikalang.

    B. Wilayah Pelayanan

    Paroki Santa Maria Pertolongan Orang Kristen berada di Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara. Secara gerejawi, Paroki Sidikalang, Gereja Santa Maria Pertolongan Orang Kristen merupakan bagian dari Keuskupan Agung Medan yang mempunyai reksa pastoral meliputi sebagian wilayah di Kabupaten Dairi dengan batas-batas sebagai berikut:
     - Sebelah Timur berbatasan langsung dengan Paroki Sumbul
    - Sebelah Barat berbatasan dengan Paroki Parongil - Sebelah Utara berbatasan dengan Paroki Tigalingga
    - Sebelah Selatan berbatasan dengan Paroki Santa Lusia Salak Kabupaten Pakpak Bharat.

    C. Pemekaran

    Tahun 1953, gereja Dairi dipersiapkan untuk dimekarkan ke DAERAH Parongil sebagai Paroki baru. Akhirnya, paroki Parongil berdiri pada tanggal 1 Mei 1954, dengan pastor Paroki pertama adalah Pastor A. Kamphof.

    Pada tahun 1968, paroki Sidikalang dimekarkan lagi karena jumlah umat yang terus bertambah dan wilayah pelayanan umat yang semakin luas. Sehingga lahirlah Paroki Sumbul secara resmi pada tahun 1968.

    Pada 28 Juli 2003 Kabupaten Dairi dimekarkan, maka lahirlah Kabupaten Pakpak Bharat. Situasi Pemerintahan seperti ini membawa angin segar bagi Paroki Sidikalang. Maka pada 11 Agustus 2011 melalui Keputusan Bapak Uskup Agung Medan Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga, Gereja Stasi Lae Terondi-Salak dijadikan sebagai Kuasi Paroki dan Pastor Mandius M. Siringoringo ditugaskan untuk mempersiapkannya menjadi Paroki. Pada 22 Juli 2018 Salak resmi menjadi Paroki dengan Pelindung Santa Lusia, dengan Pastor Mandius M. Siringoringo sebagai Pastor paroki pertama.

    D. Definitif Paroki

    Paroki Sidikalang definitif menjadi paroki pada tahun 1938. Hal ini sejalan dengan informasi di Website Keuskupan Agung Medan bahwa Buku Paroki Sidikalang dimulai tahun 1938 yang sebelumnya semua catatan paroki berikut administrasi ditangani Gereja Katedral Medan. Dari sini juga, kita mendapat informasi bahwa pendirian Paroki Sidikalang terjadi pada tahun 1938.

    E. Momen Penting
    Januari 1938 : Bapak Johanes Sihombing, Katekis dari Pematangsiantar datang ke Sidikalang.
    28 Februari 1938 : Pastor Nepomucenus Clemens Hamers OFM Cap hadir di Dairi
    26 September 1938 : Permandian pertama di Dairi
    1938 : Paroki Sidikalang berdiri
    24 Mei 1963 : Gereja Paroki yang baru dipersembahkan kepada Bunda Maria. Maria Bunda Pertolongan Orang Kristen sebagai pelindung paroki.
    F. Pergantian Penggembalaan
    Pada tanggal 2 – 12 Februari 1965 Komisaris Jenderal Ordo Karmel Indonesia, Pastor Martinus Sarko Dipojudo bersama Pastor Quirinus Kramer bertemu dengan Mgr. Ferrerius van den Hurk terkait Pengembangan Misi Karmel di Sumatera Utara. Sebuah Tanggung jawab yang berat namun mulia, ketika Bapak Uskup menyerahkan wilayah kabupaten Dairi kepada Ordo Karmel. Ketika itu, Dairi telah memiliki dua Paroki yakni Sidiklang dan Parongil.
    Maka, pada tahun 1965, terjadi serah terima dari Ordo Kapusin kepada Ordo Karmel. Serah terima dari Pastor Krol, OFM. Cap kepada Pastor Q. Kramer O.Carm (Paroki Sidikalang). Serah terima juga dari dan Pastor R. Ressens OFMCap kepada Pastor van Wanroij O.Carm (Parongil).
    G. Perkembangan Jumlah Umat dan Stasi
    Paroki Sidikalang sudah mengalami pemekaran dua kali: Sumbul dan Phakphak Barat. Hal ini menunjukkan perkembangan gereja ini sangat dinamis. Paroki ini pernah memiliki 43 stasi sampai tahun 2018. Sesudah pemekaran Paroki Pakpak Barat, Sidikalang kini memiliki 5 rayon, 26 stasi, dan 14 lingkungan di wilayah Gereja Paroki.
    Gereja Paroki Sidikalang
    1. Lingkungan St. Agustinus
    2. Lingkungan St. Antonius
    3. Lingkungan St. Elisabeth
    4. Lingkungan St. Juan de la Cruz
    5. Lingkungan St. Fransiskus
    6. Lingkungan St. Maria Ratu damai
    7. Lingkungan St. Markus
    8. Lingkungan St. Mikhael
    9. Lingkungan St. Paulus
    10. Lingkungan St. Petrus
    11. Lingkungan St. Theresia
    12. Lingkungan St. Thomas
    13. Lingkungan St. Yohanes
    14. Lingkungan St. Yosef

    I. Rayon Sitinjo meliputi:
    1. Stasi St. Louis Martin Panji Bako
    2. Stasi St. Petrus Sitinjo
    3. Stasi St. Yosef Bangun
    4. Stasi St. Maria Sigalingging
    5. Stasi St. Theresia Lisieux Pangiringan
    6. Stasi St. Juan de la Cruz Simallopuk

    II. Rayon Santa Theresia, meliputi:
    7. Stasi St. Edith Stein Juma Takar
    8. Stasi St. Theresia Avilla Tambunan
    9. Stasi St. Tadeus Sidiangkat
    10. Stasi St. Elias Panji Dabutar
    11. Stasi St. Fidelis Karing

    III. Rayon Maria Bunda Karmel meliputi:
    12. Stasi St. Titus Brandsma Kaban Julu
    13. Stasi St. Redemptus Buntu Raja
    14. Stasi St. Hironimus Juman Tuang
    15. Stasi St. Maria Magdalena de Pazzi Juma Teguh

    IV. Rayon Sungai Raya meliputi:
    16. Stasi St. Paulus Sungai Raya
    17. Stasi St. Dionysius Borno
    18. Stasi St. Anselmus Sikarahung
    19. Stasi St. Michael KM 11
    20. Stasi St. Thomas Aquinas Silumboyah
    21. Stasi St. Bartolomeus Fanti Bakal Julu

    V. Rayon St Yohanes Paulus II meliputi:
    22. Stasi St. Andreas Tangga Rube
    23. Stasi St. Yoakim Raja Ngampu
    24. Stasi St. Rafael Kalinowski Binjara
    25. Stasi St. Yohanes Soreth Temba
    26. Stasi St. Thomas Saluksuk
    Jumlah umat paroki Sidikalang (14 lingkungan, 26 stasi) adalah 11.162 jiwa/2570 KK
    H. Model Kerasulan Khas
    Paroki Sidikalang masih bercorak pelayanan sakramental. Model kerasulan yang khas ialah adanya pelayanan kerasulan doa. Adanya kelompok karmelit awam yang sejak lama dirintis oleh romo-romo karmel terdahulu sampai saat ini masih berdiri dan berjalan dengan baik.
    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Perdagangan

     
    Pelindung
    :
    Kristus Raja
    Buku Paroki
    :
    Sejak 5 Juli 1970. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Pematangsiantar I Jl. Sibolga dan Kisaran
    Alamat
    :
    Jl. Jend. Sudirman No. 3, Kec. Bandar, Perdagangan - 21184
    Telp.
    :
    0822 7214 0596
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    1.232 KK / 4.591 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    23
     
    01. Bandar Rakyat
    04. Habatu
    07. Kerasaan Pekan
    10. Mayang Emplasmen
    13. Pematang Bandar
    16. Raja Maligas III
    19. Sungai Langge
    22. Simpang Dosin
     
    02. Bosar Majawa
    05. Kampung Lalang
    08. Mariah Bandar
    11. Panduman
    14. Pematang Kerasaan
    17. Sahkuda
    20. Silakkidir
    23. Sugaran
     
    03. Bukit Lima
    06. Kampung Teladan
    09. Marihat Mayang
    12. Pardomuan Nauli
    15. Raja Maligas I
    18. Sampe Mauli
    21. Simangonai
     

     
    RP. Danrisman R.Sitanggang, O.Carm
    15.11.’72
    Parochus
    RP. Ignatius Imam Sukarno O.Carm
    10.01.'76
    Vikaris Parokial
         

    Jadwal Misa

    Harian :
    -
    Jumat Pertama :

    18.00 WIB

    Sabtu :

    05.30 WIB

    Hari Minggu :

    08.00 WIB

    Sejarah Paroki Kristus Raja - Perdagangan

    1. Sejarah
    Sejarah panjang Paroki Kristus Raja Perdagangan dimulai sebelum era tahun 1970-an. Paroki St. Laurentius Brindisi yang terletak di Jalan Sibolga - Pematang Siantar, menjadi induk bagi stasi-stasi di wilayah kabupaten Asahan dan Simalungun. Pada masa itu, Pastor-pastor Ordo Capusin melayani umat Katolik yang berada di wilayah Timur kabupaten Simalungun. Tidak semua stasi memiliki Gereja sebagai sarana penggembalaan umat Katolik, termasuk stasi Perdagangan sebagai cikal bakal Paroki. MISA masih dilaksanakan di rumah-rumah umat yang berlokasi di Pasar I, Perdagangan.
    Pada tahun 1967 dilakukan pembentukan stasi Bandar Buntu (Bandar Rakyat sekarang ini) melalui musyawarah mufakat antara stasi Pajak Nagori dan stasi Perdagangan yang masing-masing dipimpin oleh Vorhanger Simon Pasaribu dan Vorhanger Albert Palentinus Gultom. Musyawarah mufakat kedua stasi menghasilkan kesepakatan untuk mengalihkan sebanyak 20 dari total 59 kepala keluarga umat stasi Pajak Nagori yang wilayahnya berdekatan dengan Bandar Buntu berpindah keanggotaannya ke stasi Bandar Buntu. Sementara 39 kepala keluarga umat stasi Pajak Nagori yang lain bergabung dengan stasi Perdagangan sehingga umat stasi Perdagangan bertambah menjadi 79 kepala keluarga.
    Setahun kemudian, tahun 1968 pemerintah kecamatan Bandar merencanakan perluasan kota Perdagangan. Setiap gereja diberi kebebasan untuk memilih lokasi pendirian gereja. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pengurus dan tokoh-tokoh Gereja Katolik - Walter Napitupulu, Evraim Gultom, Simarmata (Toko Famili), Salomo Pasaribu, Simon Pasaribu, dan Albert Palentinus Gultom untuk mendirikan gereja Katolik stasi Perdagangan. Area seluas ± 4 rante di jalan Sudirman yang diajukan, mendapatkan persetujuan dari Camat Bandar sebagai lokasi Pastoran dan Gereja Katolik Induk Stasi Perdagangan sekarang ini.
    Pembangunan Gereja dan Pastoran dimulai pada tahun 1969 dipimpin oleh Pastor Lambertus Woestenberg OFM.Cap yang bertugas di Paroki St. Laurentius Brindisi dan melayani umat stasi-stasi di wilayah Perdagangan. Pembangunan ini mendapatkan dukungan dana dari upaya umat dan sebagian besar donatur dari negeri Belanda atas usaha Pastor Lambertus Woestenberg.
    Semangat umat Katolik Perdagangan terus berlanjut. Setelah bangunan Gereja dan Pastoran selesai, para pengurus dan tokoh Gereja Katolik di bawah bimbingan pastor Lambertus Woestenberg menyampaikan usulan ke Keuskupan Agung Medan perihal pembentukan Paroki. Ada 2 pilihan lokasi rencana Paroki pada waktu itu yaitu Cinta Damai atau di Perdagangan. Berdasarkan berbagai pertimbangan pengembangan di masa mendatang, salah satunya adalah pengembangan pendidikan (sekolah) maka disepakati dan diputuskan oleh Uskup Agung Medan – Mgr. A. H. van de Hurk OFM.Cap., Paroki dipusatkan di Perdagangan.
    Pada tahun 1970 dilaksanakan peresmian Paroki Perdagangan dengan Pastor Paroki Lambertus Woestenberg, OFM.Cap, Vorhanger Albert Palentinus Gultom yang dibantu oleh para pengurus dan pengetua-pengetua gereja antara lain: Walter Napitupulu, Evraim Gultom, Simarmata (Toko Family), Salomo Pasaribu, Martogi Situmorang, Oberlin Sinaga, Simon Siboro, Lostan Sitanggang, dan Sahat Situngkir.
    Pastor Esdras Tarigan, Pr. yang bertugas sebagai pastor Paroki Perdagangan tahun 1988-1992 mengetahui perlunya keberadaan Aula serba guna di Perdagangan. Dewan Paroki merespon melalui pembelian area tanah sawah seluas ± 3,5 rantedi depan rumah Susteran untuk rencana pembangunan aula tersebut. Kepanitiaan dibentuk dengan panitia inti adalah Drs. Lindung Samosir, Berman Purba, Kapingan Situngkir masing-masing sebagai ketua, sekretaris dan bendahara.
    Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tahun 1989 dan kekurangan dana membuat pembangunan aula ini sempat terhenti. Pada tahun 1992 Pastor Carolus Tribeno Yuwono O.Carm yang menggantikan Pastor Esdras Tarigan Pr, melanjutkan pembangunan aula dengan dukungan sebagian besar dana dari sumbangan Ordo Karmel. Aula serba guna paroki Perdagangan berdiri dengan megah hingga kini. Aula tidak hanya diperuntukkan bagi penggunaan internal (sekolah, gereja) tetapi juga dapat digunakan oleh masyarakat sekitar untuk berbagai acara penduduk Perdagangan (eksternal) sebagai bagian dari kemandirian Paroki.
    Dalam menjalankan tugas pelayanan Pastor Lambertus Woestenberg, OFM.Cap dibantu oleh pastor pembantu yaitu Pastor Cosmas Peter, O.Carm. Dari sejak terbentuknya, Paroki Perdagangan mendapatkan pelayanan dari berbagai Tarekat yang diawali oleh Ordo Capusin (Pastor Lambertus Woestenberg), Serikat Xaverian (Pastor Gianfranco Cruder), Imam Projo (Pastor Esdras Tarigan) dan kemudian Ordo Carmelit (Pastor Carolus Tribeno Yuwono, OCarm.) yang berlangsung hingga saat ini. Pergantian Tarekat yang bertugas memperkaya pengetahuan umat akan kehidupan spiritual dan karya-karya Gereja Katolik yang beragam. Alih tugas para-Pastor juga menjadikan umat mengenal sosok gembala gereja dengan beragam kepemimpinan dan kepribadian. Setiap Pastor menghadirkan pembaharuan ke arah perkembangan yang lebih baik, menjadikan kehidupan menggereja umat lebih dinamis dan selalu bergerak maju.
    Adapun Pastor yang pernah bertugas di Paroki Perdagangan adalah sebagai berikut:

    No

    Pastor

    Tahun bertugas

    Status

    1

    P. Lambertus Woestenberg OFM.Cap

    1970-1980

    Pastor Paroki

    2

    P. Cosmas Peter O.Carm

    1970-1980

     

    3

    P. Gianfranco Cruder, SX

    1980-1986

    Pastor Paroki

    4

    P. Germano Fremarin SX

    1980-1986

     

    5

    P. Luigi Mefuerco SX

    1983-1984

     

    6

    P. Angelo Geremia SX

    1985-1987

     

    7

    P. Arie Vandiemen OFM.Cap

    1987-1988

    Pastor Paroki

    8

    P. Joseph Rajagukguk OFM.Cap

    1987-1988

     

    9

    P. Ignatius Simbolon OFM.Cap

    1987-1988

     

    10

    P. Esdras Persadaan Tarigan, Pr

    1988-1992

    Pastor Paroki

    11

    P. Carolus Tribeno Yuwono, O.Carm

    1992-1996

    Pastor Paroki

    12

    P. Servus Emanuel Nuwa, O.Carm

    1992-1999

    Pastor Paroki

    13

    P. Krisna Aji Nugroho O.Carm

    1996-1998

     

    14

    P. Frans Borta Rumapea O.Carm

    1998-2000

     

    15

    P. Ignatius Joko Purnomo O.Carm

    1998-2001

     

    16

    P. Petrus Suu O.Carm

    2000-2002

    Pastor Paroki

    17

    P. Danrisman Sitanggang O.Carm

    2000-2005

     

    18

    P. Bernard Teguh Kusdarmanto O.Carm

    2002-2003

    Pastor Paroki

    19

    P. Damian Parngadi O.Carm

    2003-2008

    Pastor Paroki

    20

    P. Lukas Jokoprasetyo O.Carm

    2005-2006

     

    21

    P. Tinto Hasugian O.Carm

    2006-2012

    Pastor Paroki

    22

    P. Paschalis Tumarno O.Carm

    2008-2009

     

    23

    P. Robi Setiawan O.Carm

    2009-2010

     

    24

    P. Samuel Situmorang O.Carm

    2010-2012

     

    25

    P. Vinsensius Mbiru O.Carm

    2012-2017

    Pastor Paroki

    26

    P. Nampak Wijaya, O.Carm

    2016-2017

     

    27

    P. Mathias M. Simarmata, O. Carm

    2017-2020

    Pastor Paroki

    28

    P. Andreas Novem O.Carm

    2017-2020

     

    29

    P. Bernardinus Tamrin Berutu O.Carm

    2020 – sekarang

    Pastor Paroki

    30

    P. Adytia Permana Perangin-Angin O.Carm

    2022 – sekarang

     

    Stasi yang menjadi wilayah paroki Perdagangan pada saat itu berjumlah 40 stasi. Dalam perjalanannya, paroki Perdagangan mengalami dinamika pertumbuhan umat. Pertambahan umat diikuti dengan pembangunan gereja di stasi-stasi dan juga pemekaran stasi. 4 stasi baru terbentuk selama periode 50 tahun yaitu Kampung Kelapa, Indrapura, Panduman dan Cahaya Pardomuan.
    Penggabungan umat ke stasi terdekat juga terjadi sebagai akibat penurunan jumlah umat di stasi tertentu (stasi Dolok Parmonangan, Dolok Sinumbah, dan Kampung Onom). Hal ini berakibat pada penutupan gereja di stasi tersebut. Selain itu, pengalihan status stasi terjadi ketika berpindah wilayah ke Paroki lain seturut ketetapan yang dikeluarkan oleh Keuskupan (Paroki Tebing Tinggi, Tanah Jawa dan Cinta Damai). Saat ini jumlah wilayah Reksa Pastoral Paroki Kristus Raja meliputi 23 Stasi dan 7 Wilayah.

    No

    Stasi

    Pelindung Santo/Santa

    1970

    Berdiri dan status

    2022

    1

    Bandar Buntu/ Bandar Rakyat

    St. Mateus

    V

    1968 ibadat di Simpang Pajak Nagori, 1972 ibadat di Stasi Bandar Rakyat

    V

    2

    Bosar Majawa

    St. Alfonsus

    V

    1954

    V

    3

    Bukit Lima

    St. Bartolomeus

    V

    1954

    V

    4

    Cinta Damai

    St. Petrus

    V

    1955, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    5

    Cinta Maju

    St. Thomas

    V

    1967, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    6

    Dolok Parmonangan

     

    V

    1985 gabung ke Pematang Bandar

     

    7

    Dolok Sinumbah

    St. Pius

    V

    1978, 2010 gabung ke Marihat Bandar

     

    8

    Emplasmen Mayang

    St. Mikael

    V

    1978

    V

    9

    Gunung Rante

    St. Lukas

    V

    1959, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    10

    Habatu

    St. Benedictus

    V

    1971

    V

    11

    Kampung Lalang

    St. Fransiskus

    V

    1983

    V

    12

    Kampung Onom

     

    V

    1972, 2020 tutup

     

    13

    Kampung Teladan

    St. Bernardus

    V

    1980

    V

    14

    Kerasaan Pekan

    St. Carolus

    V

    1951

    V

    15

    Lima Puluh

    St. Magdalena

    V

    1970, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    16

    Mariah Bandar

    St. Hieronimus

    V

    1958

    V

    17

    Marihat Bandar/

    Simpang Dosin

    St. Antonius

    V

    1968

    V

    18

    Marihat Mayang

    St. Agustinus

    V

     

    V

    19

    Pandomayu

    St. Cornelius

    V

    1966, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    20

    Panurunan

    St. Yohanes

    V

    1965, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    21

    Pardomuan Nauli

    St. Petrus Andreas

    V

    1953

    V

    22

    Pematang Bandar

    St. Lusia

    V

    1957

    V

    23

    Pematang Kerasaan

    St. Gregorius

    V

    1952

    V

    24

    Pematang Tengah

    St. Agustinus

    V

    1962, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    25

    Perdagangan Induk

    Kristus Raja

    V

    1970, 2022 ditiadakan

     

    26

    Raja Maligas I

    St. Germanus

    V

    1952

    V

    27

    Raja Maligas III

    St. Dominikus

    V

    1970

    V

    28

    Sahkuda

    St. Maria

    V

    1979

    V

    29

    Sampe Mauli

    St. Laurensius

    V

    1970

    V

    30

    Silakkidir

    St. Paulus

    V

    1962

    V

    31

    Simangonai

    St. Aloysius

    V

    1968

    V

    32

    Simpang Dolok

    St. Anna

    V

    1957, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    33

    Sugaran

    St. Phillipus

    V

    1964

    V

    34

    Suka Mulia

    St. Atanasius

    V

    1967, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    35

    Suka Raja

    St. Katharina

    V

    1952, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    36

    Suka Ramai

    St. Canisius

    V

    1969, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    37

    Sungai Langge

    St. Titus

    V

    1957

    V

    38

    Sungai Tenang

     

    V

    1985 pindah ke Paroki Tebing Tinggi

     

    39

    Tanjung Muda

    St. Canisius

    V

    1950, 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    40

    Tanjungan

     

    V

    1994 pindah ke Paroki Tanah Jawa

     

    41

    Kampung Kelapa

    St. Yosep

     

    1985 (pemekaran stasi Cinta Damai), 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    42

    Indrapura

    St. Albertus

     

    1997 (pemekaran stasi Suka Raja), 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     

    43

    Panduman

    St. Maria Goretti

     

    2004 pemekaran stasi Pematang Kerasaan

    V

    44

    Cahaya Pardomuan

    St. Fidelis

     

    1963 (pemekaran stasi Simpang Dolok), 2020 pindah ke Paroki Cinta Damai

     
     

    Total Stasi

     

    40

     

    23

    Setelah 37 tahun penggembalaan umat Katolik di Perdagangan, tahun 2007 Pastor Tinto Tiopan Hasugian O.Carm, memimpin umat Paroki Kristus Raja Perdagangan melaksanakan pembangunan gereja yang baru. Lindung Samosir, P. Sihombing, Malem Jenda Tarigan masing-masing ditetapkan sebagai Ketua Panitia, Wakil Ketua I dan Wakil Ketua II. Bahu membahu umat mengosongkan gereja lama, meruntuhkan dan membangun gereja baru. “CINTA UNTUK RUMAHMU MENGHANGUSKAN AKU” (Yohanes 2:17) menjadi semangat bagi umat Paroki Kristus Raja Perdagangan untuk segera menyelesaikan pembangunan gereja yang lebih besar dan megah. Peresmian gereja baru dilakukan pada tanggal 21 Desember 2008 oleh Uskup Agung Medan - Mgr Alfred Gonti Pius Datubara dan Bupati Simalungun – Drs. T. Zulkarnain Damanik, MM.
    Peresmian gereja baru dilakukan pada tanggal 21 Desember 2008 oleh Uskup Agung Medan - Mgr Alfred Gonti Pius Datubara dan Bupati Simalungun – Drs. T. Zulkarnain Damanik, MM. Pada acara Peresmian Gereja ini Bupati Simalungun menyumbangkan dana sebesar Rp. 50.000.000, - (lima puluh juta rupiah) untuk Gereja Paroki Kristus Raja Perdagangan.
    Demi meningkatkan pelayanan intensif bagi umat dan pengembangan Gereja di Keuskupan Agung Medan maka Uskup Agung Medan – Mgr. Dr. Anicetus Bonsu Sinaga mendirikan Kuasi Paroki Santo Petrus Rasul, Cinta Damai sebagai pemekaran dari Paroki Santo Yoseph, Tebing Tinggi dan Paroki Kristus Raja, Perdagangan sejak 21 Agustus 2018 yang tertuang dalam Surat Keputusan Uskup Agung Medan no: 396/PAR/CD/KA/VIII/’18.
    Pastor Paroki Kristus Raja Perdagangan Mathias Mangapul Simarmata, O.Carm. memimpin persiapan Kuasi Paroki Santo Petrus Rasul, Cinta Damai, dibantu oleh Pastor Andreas Novem, O.Carm. Di akhir tahun 2020 dilakukan serah terima oleh Paroki Perdagangan dari Pastor Mathias Mangapul Simarmata, O.Carm (berkarya ke Paroki Santo Petrus Rasul, Cinta Damai) ke Pastor Bernardinus Tamrin Berutu, O.Carm selaku Pastor Paroki Kristus Raja Perdagangan yang baru. Bersamaan dengan serah terima tersebut pelayanan Pastoral Paroki Kristus Raja Perdagangan sudah tidak meliputi Kuasi Cinta Damai.
    Devosi Bunda Maria Paroki Kristus Raja Perdagangan dimulai pada bulan Mei tahun 2018. Pastor Mathias Mangapul Simarmata, O.Carm menggalakkan umat se-Paroki untuk bersama-sama meningkatkan penghormatan dan doa kepada Bunda Maria. Area kosong di belakang Gereja Pastoran dipersiapkan untuk memulai Devosi Maria. Bersama-sama Pengurus Gereja dan Orang Muda Katolik, Pastor Mathias Mangapul Simarmata, O.Carm menyulap area kosong menjadi cikal bakal lokasi Devosi Maria umat paroki Kristus Raja Perdagangan.
    Menilik semangat umat Paroki Kristus Raja dalam melaksanakan Devosi Maria, Pastor Mathias Mangapul Simarmata, O.Carm lebih bersemangat untuk mewujudkan lokasi Devosi Maria di Paroki Kristus Raja. Setelah melalui berbagai persiapan perihal desain dan dana, pada tahun 2018, Albert Marbun ditetapkan sebagai penanggung jawab pembangunan lokasi Devosi Bunda Maria. Tanggal 1 Oktober 2018, Pondok Maria - demikian nama yang diberikan – resmi digunakan melalui pembukaan bulan Rosario.
    Pastor Bernardinus Tamrin Berutu, O.Carm selaku Pastor Paroki Kristus Raja Perdagangan melayani umat Paroki Kristus Raja Perdagangan didampingi Pastor Damian Parngadi O.Carm yang melalui masa pension dengan tetap melakukan pelayanan untuk umat di Perdagangan. Diusianya yang lebih dari 70 tahun, Pastor Damian tetap setia melayani Kristus dengan segala daya upaya yang ada dan keterbatasannya. Contoh nyata bahwa pelayanan kepada Kristus tidak memandang usia.
    Di masa Pandemi ini, umat memberikan perhatian terhadap kondisi kesehatan Pastor Damian. Bersama-sama umat menjaga Pastor agar terhindar dari Covid-19 yang sudah menyebar di seputaran Perdagangan. Usaha keluarga Pastoran dan umat membuahkan hasil yang nyata. Pastor Damian masih dalam kondisi sehat dan terus membina iman umat melalui pelayanan Misa dan pendalaman alkitab dalam berbagai kegiatan doa hingga berpulangnya pada tahun 2022.
    Kehadiran Pastor Bernardinus Tamrin Berutu, O.Carm membawa pembaharuan bagi Paroki Kristus Raja Perdagangan. Paroki sudah jauh lebih ASRI dengan perhatian terhadap pertumbuhan tanaman. Setelah 3 tahun melaksanakan Devosi Maria dan di tengah-tengah kondisi pandemi, pada tahun 2021 Pastor Bernardinus Tamrin Berutu merenovasi Pondok Maria dengan menambahkan perlindungan terhadap bangunan Pondok Maria seperti tampak sekarang ini. Kembali Albert Marbun bertanggung jawab terhadap pelaksanaan renovasi bersama Harry Ericson Iswandar selaku pembuat desain renovasi Pondok Maria.
    Pembangunan Paroki Kristus Raja terus berlanjut. Pembangunan Asrama Putra dipercayakan kepada Albert Marbun sebagai pelaksana pembangunan dan Harry Ericson Iswandar selaku pembuat desain Asrama Putra. Asrama Putra dibangun di belakang area Aula Paroki. Asrama Putra dan Gereja stasi Kampung Teladan dibangun dan selesai pada tahun 2021. Pada tahun tahun 2022, pembangunan gereja stasi Kampung Lalang dan Simangonai telah dimulai sedangkan pembangunan Pastoran dan Gereja stasi Sahkuda masih dalam perencanaan.
    2. Wilayah Pelayanan
    Paroki Kristus Raja Perdagangan terletak di Kelurahan Perdagangan III, Kecamatan Bandar Kabupaten Simalungun. Lokasi ini dipandang sebagai ‘Lumbung Umat’ yang terbesar dengan peluang untuk pengembangan bidang pendidikan serta pertumbuhan umat sehubungan dengan keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus - Sei Mangkei. Letak paroki di jalan protokol Jenderal Sudirman merupakan posisi yang strategis dan menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Jarak paroki ke semua stasi dapat ditempuh dalam 1 hari perjalanan pulang pergi.
    Wilayah Reksa Pastoral Paroki Perdagangan meliputi 23 Stasi dan 7 Wilayah yang terbentang di 6 kecamatan di kabupaten Simalungun yaitu kecamatan Bandar Masilam, kecamatan Bandar, kecamatan Pematang Bandar, kecamatan Hutabayu Raja, kecamatan Gunung Malela dan kecamatan Bosar Maligas. Seluruh Stasi dan Wilayah tersebut dikelompokan menjadi 4 Rayon dan 2 Wilayah, sebagai berikut:
    a. Wilayah I (Satu)

    No

    Nama Lingkngan

    Nama Pelindung

    Desa/Kelurahan

    Kecamatan

    1

    Lingkungan Pasar 1

    St.Theresia Lisieux

    Perdagangan 3

    Bandar

    2

    Lingkungan Pajak Negeri

    St.Pransiskus

    Pajak Negeri

    Bandar

    3

    Lingkungan Kota

    St.Maria

    Perdagangan1

    Bandar

    4

    Lingkungan Perluasan

    St.Paulus

    Perdagangan 1

    Bandar

    b. Wilayah II

     

    No

    Nama Lingkungan

    Nama Pelindung

    Desa/Kelurahan

    Kecamatan

    1

    Lingkungan Manahul

    St.Yohannes Pembaptis

    Perdagangan 3

    Bandar

    2

    Lingkungan Pasar 1

    St.Petrus

    Perdagangan 3

    Bandar

    3

    Lingkungan Kuala Tanjung

    St.Lusia

    Perdagangan 3

    Bandar

     

    c. Wilayah Sermon Bandar

     

    No

    Nama Stasi

    Nama Pelindung

    Desa/Kelurahan

    Kecamatan

    1

    Stasi Sungai Langgei

    St.Titus

    Bandar Gunung

    Bandar Masilam

    2

    Stasi Simpang Dosin

    St.Antonius

    Marihat Bandar

    Bandar

    3

    Stasi Bandar Rakyat

    St.Mateus

    Bandar Rakyat

    Bandar

    4

    Stasi Sugaran

    St.Philipus

    Sugaran

    Bandar

     

    d. Wilayah Sermon Kerasaan Pekan

     

     

     

    No

    Nama Stasi

    Nama Pelindung

    Desa/Kelurahan

    Kecamatan

    1

    Stasi Sahkuda

    St.Maria Diangkat ke Surga

    Sahkuda Bayu

    Gunung Malela

    2

    Stasi Kerasaan Pekan

    St.Carolus

    Kerasaan  I

    Pematang Bandar

    3

    Stasi Pematang Kerasaan

    St.Gregorius

    Pematang Kerasaan

    Bandar

    4

    Stasi Panduman

    St.Maria Goretti

    Pematang Kerasaan

    Bandar

    5

    Stasi Mariah Bandar

    St.Hieronimus

    Mariah Bandar

    Pematang Bandar

    6

    Stasi Pardomuan Nauli

    St.Petrus

    Pardomuan Nauli

    Pematang Bandar

    7

    Stasi Pematang Bandar

    St.Lusia

    Pematang Bandar

    Pematang Bandar

    8

    Stasi Habatu

    St.Benedictus

    Habatu

    Bandar

    e. Wilayah Sermon Silakkidir

     

    No

    Nama Stasi

    Nama Pelindung

    Desa/Kelurahan

    Kecamatan

    1

    Stasi Bosar Majawa

    St.Alfonsus

    Bosar Bayu

    Hutabayu Raja

    2

    Stasi Marihat Mayang

    St.Agustinus

    Huta Sada

    Hutabayu Raja

    3

    Stasi Mayang Emplasmen

    St.Mikael

    Nagori Mayang

    Bosar Maligas

    4

    Stasi Silakkidir

    St.Paulus

    Silakkidir

    Hutabayu Raja

    5

    Stasi Raja Malias  1

    St.Germanus

    Raja Maligas I

    Hutabayu Raja

    6

    Stasi Sampemauli

    St.Laurensius

    Talam Bayu

    Hutabayu Raja

    7

    Stasi Raja Maligas 3

    St.Dominikis

    Bahal Batu

    Hutabayu Raja

     

    f. Wilayah Sermon Bukit Lima
    1. Stasi Bukit Lima (St. Bartolomeus) : Desa/Kel. Marihat Tanjung, Kec. Bosar Maligas
    2. Stasi Kampung Lalang (St. Stefanus) : Desa/Kel. Marihat Mayang, Kec. Hutabayu Raja
    3. Stasi Simangonai (St. Aloysius) : Jawa Baru, Kec. Hutabayu Raja
    4. Stasi Kampung Teladan (St. Clara) : Kampung Teladan, Kec. Bosar Maligas
    Infrastruktur transportasi darat di 6 wilayah kecamatan ini sudah termasuk lumayan baik meskipun jalan ke beberapa stasi masih kurang bagus karena mereka terletak di pelosok dan di kelilingi hamparan kebun sawit. Pengerasan jalan tanah masih dilakukan menggunakan batu pasir yang pada kondisi hujan akan menjadi licin dan sering berlubang besar akibat tanah yang tidak padat. Namun demikian secara umum semua stasi sudah bisa dilalui dengan kendaraan sepeda motor dan mobil.
    3. Kekhasan Paroki
    Mayoritas umat Paroki Kristus Raja Perdagangan adalah suku Batak selain itu adalah Simalungun, Karo, Jawa, Nias dan Cina. Pelayanan liturgi di Paroki Kristus Raja Perdagangan menggunakan 2 bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Batak. Keberagaman umat dari berbagai segi ini telah menjadi salah satu dasar pemilihan nama Pelindung Gereja yaitu Kristus Raja. Sang Pencipta alam raya dengan segala keberagamannya.
    Umat paroki Kristus Raja Perdagangan umumnya adalah pendatang. Mereka yang pindah pada awal tahun lima puluhan biasanya mendapat tanah yang subur dan strategis yang digunakan untuk lahan pertanian. Sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani dan profesi lainnya adalah pedagang, pegawai negeri sipil dan karyawan. Untuk pengembangan perekonomian dan kesejahteraan umat, paroki Kristus Raja Perdagangan memiliki suatu wadah yang disebut Pengembangan Kesejahteraan Umat Paroki Perdagangan (PASARDA). Pasarda ini merupakan wadah semacam ‘arisan’ bagi umat Katolik Paroki Kristus Raja Perdagangan yang bernaung di bawah Gereja Katolik dengan tetap memakai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Credit Union (CU).
    Pada tahap awal, CU ini beranggotakan para Vorhanger dan Pengurus Gereja Paroki Perdagangan yang berjumlah 28 orang dan sekarang anggotanya telah berjumlah lebih dari 5800 orang. Kegiatan simpan pinjam yang dikelolanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup para anggotanya dengan ikatan pemersatu adalah Paroki Perdagangan. Kiprah PASARDA telah menunjukkan dampak positif bagi kehidupan umat Paroki Perdagangan terkhusus para anggotanya. Selain itu, Pasarda juga terlibat aktif dalam pembangunan infrastruktur, kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan yang diselenggarakan oleh Paroki. Pada tahun 2022, kepengurusan di bawah pimpinan L. Situmorang, telah berhasil membangun gedung milik PASARDA.
    Lokasi Paroki :

    Paroki Pematangsiantar Jalan Bali

     

    Pelindung
    :
    Santo Joseph
    Buku Paroki
    :
    Sejak tahun 1966. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Jl. Sibolga.
    Alamat
    :
    Jl. Bali - Kain Batik, Kec. Siantar Utara, Pematang Siantar - 21142
    HP.
    :
    0853 6056 7969
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    2.672 KK / 10.258 jiwa
    (data Biduk per 27/03/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    19
    01. Bah Kapul
    04. Marjandi
    07. Pargampualan
    10. Sibaganding
    13. Simbou Baru
    16. SKI
    19. Manik Rejo
    02. Bukit Hataran
    05. Martoba
    08. Parjalangan
    11. Sibisa
    14. Simpang Dua 
    17. Tiga Bolon
    20. St. Yohanes Paulus II - Jl. Marasi  
    03. Kampung Baru
    06. Panombean
    09. Sawah Dua
    12. Simbolon
    15. Sipoldas
    18. Jl. Kain Batik

    RD. Merdin Marselinus Sitanggang

    15-10-1979

    Parochus

    RD. Repanta Ginting

    06-8-1995

    Vikaris Parokial

    RD. Sandarut Paulus John Tambunan

    11-3-1996

    Vikaris Parokial

    Jadwal Misa Gereja Paroki Jl Bali Pematangsiantar

    Harian : 06.00 WIB (Senin-Jumat), 18.00 WIB (khusus hari Kamis)
    Minggu : 09.00 WIB

    Sejarah Paroki St. Joseph - Jl. Bali Pematangsiantar

    Pematangsiantar merupakan pusat Daerah Simalungun yang menjadi bagian dari Gouvernement van de Ookust (Gubernemen Pantai Timur). Karya Zending Protestan di kalangan Orang Batak Simalungun sudah dimulai sejak tahun 1901. Akan tetapi masih banyak di daerah Simalungun ini belum menjadi Kristen. Alasannya adalah mereka sudah menjadi Islam dan pewartaannya tidak sampai ke pedalaman. Misi Katolik memperoleh kesulitan larangan Pemerintah Hindia Belanda dalam Buku Hukum pasal 123 (sesudah tahun 1952 tahun 177) yang mengatakan : “Guru-guru Kristen, imam-imam dan pendeta-pendeta” bila hendak masuk suatu daerah untuk melaksanakan tugas harus lebih dahulu mendapat izin dari Gubernur Jendral. Kalau tugas mereka dianggap dapat menggangu keamanan suatu daerah, maka izin masuk mereka dapat dicabut oleh Gubernur Jendral.Terumata “dobel-zending” dilarang (sekaligus Misi Katolik dan zending protestan)”.

    Misi di Pematangsiantar dan sekitarnya sudah mulai sebenarnya sejak Juli 1929 oleh permintaan yang diajukan oleh 120 orang Katolik di sekitar Pematangsiantar. Kerohanian umat di sini dilayani oleh Pastor Aemilius Van Der Zanden dari Medan. Pada waktu itu timbul usaha untuk mengajukan usul kepada Mgr. Mathias Brams agar di Pematangsiantar dibangun sebuah gereja dan ditempatkan seorang Pastor untuk memimpin umat di daerah ini. Pada bulan Juni 1931 diperoleh izin seorang imam Katolik menetap di Pematangsiantar. Akan tetapi, izin tersebut disertai dengan larangan memperluas ajaran agama di luar tempat kedudukan. Stasi Batak pertama didirikan di dekat Pematangsiantar yaitu Laras di wilayah perkebunan, pada tahun 1931.

    Pada tanggal 3 Juli 1931, P. Aurelius Kerkers memulai karyanya di Pematangsiantar. Dalam perkembangan selanjutnya, ternyata disadari tidak mungkin mentaati larangan pengajaran agama Katolik di daerah lain. Ketidakmungkinan tersebut bukan terutama dari pihak pastornya, tetapi juga oleh karena semakin banyak permintaan dari pihak orang Batak agar Katolik diperkenalkan. Di Pematangsiantar, pada 1 Januari 1932 umat Katolik sudah ada sebanyak 203 orang: 174 orang Eropa, 19 orang Batak (yang dipermandikan di Medan), 5 orang Cina, 5 orang Jawa. Pada 1 Juni 1932, dibukalah sebuah Hollands Inlandse School. Pada akhir 1932 diajukan permohonan izin bagi karya misi di daerah Simalungun dengan bertolak Pematangsiantar. Tanggal 17 Februari 1933, datanglah jawaban positif. Pada tahun yang sama, yakni melalui surat tertanggal 12 Agustus 1933, akhirnya keluarlah izin umum yang memperbolehkan penyebaran pengajaran keagamaan. Maka dibentuklah beberapa Stasi-Stasi bantuan pertama yakni, Laras, Pantoan, Tanah Djawa, dan Panei.

    Penyebaran misi Katolik di Pematangsiantar semakin mantap dengan diangkatnya seorang Katekis yang membantu penyebaran ke- Katolikan-an, yakni Kenan Hutabarat. Bersama Katekis ini, karya misi semakin mantap. Pastor Aurelius Kerkers melihat jumlah umat semakin banyak. Pada saat itu dilihat bahwa sudah saatnya membangun fasilitas yang sungguh berguna. Pembangunan gereja, sekolah, pastoran dan susteran (seperti sekarang ini) mulai dilakukan. Gereja tersebut diberkatinya tahun 1934.

    Beberapa catatan tentang perkembangan misi di Pematangsiantar ini perlu ditambahkan. Pastor Aurelius Kerkers kemudian hari dibantu oleh Pastor Elpidius Van Duinhoven yang tiba di Pematangsiantar pada tanggal 16 Februari 1934. P. Elpidius Van Duinhoven dengan sangat gigih mendirikan beberapa Stasi baru. Dia mendirikan Stasi baru di Sawah Dua-Panei tanggal 1 Januari 1936. Stasi ini menjadi pusat kegiatan untuk daerah Panei dan sekitarnya: Tigadolok, Sidamanik, dan sampai ke Saribudolok yang berdiri sejak 30 Agustus 1938.

    Pada masa pendudukan Jepang, kegiatan misi lumpuh. Hanya para Suster berkebangsaan Jerman di Balige yang boleh tinggal. Akan tetapi, masih ada keuntungan besar lain yakni karena P. Marianus van den Acker selaku pemelihara rohani para Suster tersebut tidak ikut ditawan. Pada kesempatan itulah dia membentuk Badan Pimpinan Gereja selama masa sulit itu dengan mengangkat beberapa katekis. Yang menjadi Ketua Badan Pimpinan Gereja tersebut adalah Y. B. Panggabean sekaligus katekis kepala di Balige. Di Wilayah Simalungun, K. Hutabarat menjadi katekis kepala di Pematangsiantar, P. Datubara (Saribudolok).

    Pada tahun 1965, karmelit membangun biara di Pematangsiantar yakni Seminari Agung (Fakultas Teologi Karmel). Alasan perpindahan pusat pendidikan Karmel dari Malang ke Pematangsiantar adalah alasan keamanan, yakni terjadinya ketegangan pasca peristiwa “G30S/PKI” di Jawa. Pimpinan Karmel saat itu melihat bahwa Sumatera merupakan tempat yang aman sekaligus tepat, untuk kelanjutan pendidikan para fraternya.

    Wacana kehadiran para Karmelit di Pematangsiantar disambut dengan baik. Umat dan lembaga-lembaga Gereja memberikan dukungan. Yayasan Cinta Rakyat turut memberi dukungannya yang sangat berharga, karena mereka memperboleh Seminari Agung Karmelit tersebut didirikan di atas tanah mereka. Dalam surat keterangan dukungan Yayasan Cinta Rakyat, dituliskan demikian. “Ketua Pengurus Jajasan Tjinta Rakjat Pematangsiantar, menjatakan, tidak berkeberatan bahwa Badan Pengurus Geredja Katolik dan Amal di Pematangsiantar akan mendirikan Geredja dan Seminari Agung di tanah kami yang terletak disebelah Kebun Siantar State didekat Djalan Bali dan Djalan Sisingamangaradja”. Berdasarkan kutipan di atas, bisa dikatakan bahwa sejak awal telah direncanakan juga sekaligus pembangunan Gereja untuk umat. Bangunan Karmel inilah yang digunakan umat.

    Di sekitar bangunan ini sudah ada beberapa umat Katolik. Mereka beribadat di rumah-rumah umat. Berdasarkan Buku Baptis (LB) paroki, kita ketahui lebih terang bahwa sudah ada pembaptisan pertama di tiga titik daerah: Jl. Bali (20 Februari 1958), Martoba (1 November 1964), Bah Kapul (31 Mei 1958). Maka dengan kehadiran Karmel ini umat disekitarnya juga mengikuti kebaktian di gereja biara (sejak Juni 1966). Stasi St. Yusup Jalan Balipun berdiri. Pembaptisan pertama di Gereja ini sesudah kehadiran para Karmelit pada tanggal 16 Oktober 1966. Gereja ini seringkali dituliskan (dikenal) dengan nama Gereja Karmel atau Gereja St. Jusup Karmel.

    Karmel juga sekaligus mendirikan Sekolah Dasar, yang diberi nama Sekolah Dasar Karmel 1. Tidak banyak informasi yang diperoleh tentang hal ini. Misalnya, apakah SD Karmel 1 ini yang kemudian menjadi SD Cinta Rakyat saat ini (cikal bakal?). Keterangan keberadaan SD Karmel ini sangat terang dari Surat Permohonan kepada Walikota Pematangsiantar tentang memohon pembuatan Jalan Karmel, untuk jalan yang menghubungkan Jalan Bali dengan Kompleks biara, gereja dan sekolah. Pada no. 2 dikatakan demikian, “ S.D jang terletak di udjung jalan itu adalah S.D Karmel 1 yang diurus oleh pastor-pastor karmel”.

    Sesudah Stasi baru St. Yusup-Jl. Bali berdiri (1966), Badan Pengurus Gereja dan Amal Katolik mulai memikirkan pemekaran paroki Jl. Sibolga tahun 1967 Paroki St. Laurensius-Jl. Sibolga dimekarkan. Pada tahun 1968, Paroki Jl. Sibolga dimekarkan kemudian dengan mendirikan Paroki St. Fransiskus-Jl. Medan. Demi efektivitas pelayanan, Paroki Jl. Sibolga terus dimekarkan dengan membentuk paroki-paroki baru: Paroki Kristus Raja-Perdagangan (1970), Paroki Kristus Raja Tanah Jawa (1976), Paroki Saribudolok, Paroki Parapat. Selain Stasi Jl. Bali sendiri, Stasi Bah Kapul diserahkan pada pelayanan Karmelit. Dengan diserahkan kepada pelayanan Karmelit, akhirnya muncul gagasan baru, yakni mendirikan gereja permanen. Maka, pada tahun 1968, pembangunan gereja di Bah Kapul- Sibatubatu mulai digagas. Pastor Paroki saat itu, Pastor Koning, O.Carm, segera mengajukan permohonan pembangunan gereja baru kepada Bupati Simalungun.

    Pada tahun 1969, Stasi Martoba kemudian diserahkan kepada pelayanan para Pastor Karmelit. Baptisan di Stasi ini dicatat di Paroki St. Laurensius terakhir pada tanggal 29 juni 1969. Sesudah tanggal ini, segala yang berhubungan dengan Stasi ini dicatatkan di Paroki St. Jusu-Jl. Bali. Maka, disimpulkan bahwa sampai tahun 1969, Paroki St. Jusup memiliki tiga Stasi: Jl: Bali (Stasi Induk), Bah Kapul, dan Martoba. Pada tahun 1970, Para Karmelit segera meninggalkan pematangsiantar pimpinan Karmel melihat bahwa pemberontakan PKI tidak lagi merupakan ancaman serius. Alasan keamanan dirasa tidak tepat lagi menjadi alasan membagi dua tempat pendidikan frater. Disisi lain, perpindahan ini juga dipengaruhi kerumitan internal tentang program pendidikan para frater mereka. Misalnya, bagaimana menyesuaikan program kuliah dengan Seminari Agung di Pematangsiantar.

    Bagaimana dengan keberadaan gedung biara yang besar tersebut? Setelah theologicum Karmelit pindah kembali ke Malang pada akhir tahun 1970, Ordo Karmel ingin menjual gedung mereka. Gabungan kongregasi suster-suter berpendapat bahwa gedung tersebut cocok untuk pusat pendidikan dan rumah retret. Namun, karena gedung itu terlalu besar untuk hal dimaksud, para suster mengusulkan agar pihak keuskupan membeli gedung tersebut dan menyewakannya kepada suster. Akan tetapi, akhirnya sebagian besar gedung tersebut dibeli oleh gabungan suster-suster. Maka pada tanggal 6 juli 1970, mulailah para suster tinggal disana. Gedung besar tersebut akhirnya digunakan sebagai Pusat Pembinaan Para Biarawan/wati, sampai akhirnya mereka membangun pusat yang baru di Sinaksak, Pematangsiantar tahun 1993.

    Maka sejak saat itu, gedung tersebut difungsikan untuk dua hal sekaligus, yakni sebagai kantor paroki (Sekaligus Pastoran), dan tempat pembinaan para suster (Bina Samadi). Maka segala hal yang menyangkut tentang gedung tersebut, perbaikan, batas tanggungjawab masing-masing pihak, senantiasa diperbaharui dalam dan dengan surat perjanjian antara pihak P3B (Pusat Pembinaan Para Biarawan/wati). Hanya beberapa kamar saja yang digunakan untuk paroki, terlebih sebagai kantor paroki.

    Bagaimana pelayanan Paroki? Sejak para Karmelit meninggalkan Paroki St. Joseph, dan kehadiran P3B disana, paroki ini dilayani oleh Pastor Kapusin P. Marianus van den Acker, yang diangkat menjadi rektor pembimbing para suster, beliau sekaligus juga menjadi pastor paroki. Pada tahun 1973, Pastor Clemens Hamers, diangkat menjadi pastor paroki. Akan tetapi, beliau baru pindah pada bulan Maret 1974 ke Pastoran St. Joseph, sesudah gedung tersebut ditata kembali penggunaannya. Gereja tersebut dibuat dinding baru, sehingga sebagian menjadi kapel para suster, dan sebagian lagi menjadi gereja paroki.

    Dari beberapa arsip surat menyurat yang masih tertinggal, diketahui adanya perkembangan jumlah umat yang pada akhirnya gereja yang ada pada saat itu tidak cukup untuk menampung umat. Ketika P. Gonzalvus Snijders sebagai Pastor Paroki (1976-1984), dia beberapa kali mohon kepada pihak Keuskupan untuk segera memperbesar gereja atau memperbesar/membangun gereja baru (tahun 1977, 30 Jan 1980, 27 Maret 1980). Dalam surat-surat permohonan tersebut P. H Snijders menyebutkan beberapa alasan pengajuan permohonan tersebut: Perpindahan SPG tahun 1977 sehingga gereja tidak cukup untuk menampung umat, perluasan kota dan pertambahan jumlah penduduk. Pembangunan Gereja tersebut baru bisa dimulai pada tahun 1983. Pada tahun 2005, digagas juga didirikan gereja baru di depan gedung paroki/gereja saat ini. Gedung gereja baru tersebut telah berdiri besar, gagah dan unik dan sudah diresmikan April 2012 dan sejak itu sampai sekarang umat beribadah di dalamnya dan gedung gereja lama dipakai sebagai aula paroki.

    Paroki Jl. Bali kemudian menjadi paroki besar. Pada tahun 1987, stasi-stasi ke arah sisi kanan parapat sampai ke arah Tigaras, menjadi bagian (stasi) Paroki Jl. Bali. Mengapa paroki Jl. Bali menjadi paroki “raksasa” ?. Dugaan P. Ari van Diemen adalah karena semua stasi tersebut dari segi wilayah (secara praktis) lebih cocok dimasukkan menjadi bagian dari Paroki St. Joseph-Jl. Bali. Dugaan lain menurutnya adalah karena paroki sendiri memiliki gedung yang sangat luas, dan sangat cocok untuk tempat pembinaan. Paroki Jl. Sibolga menjadi paroki tanpa Stasi lebih merupakan karena pertimbangan jumlah umat. Pada tanggal 11 juli 2010, Paroki “raksasa” ini dimekarkan dengan mendirikan Paroki Tiga Dolok meliputi Tiga Balata dan Tiga Dolok. Penggembalaan paroki ini diserahkan kepada para Saudara Dina Konventual.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki P. Siantar Jalan Asahan

    0
    Pelindung
    :
    Santo Petrus dan Paulus
    Buku Paroki
    :
    Sejak tahun 1968. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Jl. Sibolga Pematang Siantar
    Alamat
    :
    Jl. Asahan Km. 5 No. 238, Nagori Pantoan Maju, Kec. Siantar, Kab. Simalungun, Pematang Siantar – 21151
    Telp.
    :
    0852 7097 9007
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    1.467 KK / 5.732 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi
    :
    18
    01. Bah Jambi
    04. Laras
    07. Naga Raja
    10. Perumnas
    13. Serbelawan
    16. Sosor Samosir
    02. Bah Gunung
    05. Laras Dua
    08. Nagur Usang
    11. Rambung Merah
    14. Silau Malela
    17. Sordang Raya
    03. Bintang Mariah
    06. Naga Jaya
    09. Pardamean
    12. Semangat Baris
    15. Sinaksak
    18. Timuran
    RP. Emmanuel Sembiring OFMCap

    Parochus
    RP. Leopold Purba OFMCap

    Vikaris Parokial
     

    Sejarah Paroki St. Petrus & Paulus - Jl. Asahan, Pematang Siantar

    1. Letak Geografis
    Paroki St. Petrus dan Paulus memiliki tiga wilayah pelayanan yakni Kota Pematangsiantar, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Serdang Bedagai. Di Kabupaten Simalungun ada 18 stasi, Serdang Bedagai satu stasi dan di kota Pematangsiantar satu stasi.
    2. Keadaan Umat
    Umat paroki St. Petrus dan Paulus pada umumnya terdiri dari beragam suku, adat dan bahasa, yaitu Simalungun, Toba, Karo, Pakpak, Nias, Flores, Toraja, Jawa, Tionghoa dan suku lainnya. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan paroki ini. Pada saat beribadat ada delapan stasi memakai bahasa Indonesia dan 12 stasi memakai bahasa Batak Toba.
    Seiring dengan perjalanan waktu, umat Paroki St. Petrus dan Paulus mengalami perkembangan dan pertambahan yang amat pesat. Paroki ini berjumlah 20 Stasi, yang dibagi dalam lima rayon, yakni; Rayon I (Stasi St. Petrus dan Paulus, Termin), Rayon II ada lima stasi (St. Markus, Sinaksak; St. Elisabeth, Nagur Usang; St. Maria, Bintang Mariah; St. Fransiskus Asisi, Sordang Raya; St. Maria, Nagaraja), Rayon III ada empat stasi (St. Yosep, Serbelawan; St. Yosep, Naga Jaya; St. Thomas, Bah Gunung; St. Maria, Laras), Rayon IV ada enam stasi (St. Perawan Maria, Perumnas; St. Yosep Laras II; St. Maria, Silau Malela; St. Benediktus, Bah Jambi; St. Paulus, Timuran; St. Maria, Sosor Samosir) dan Rayon V, empat Stasi (St. Yosep, Batu Lima; St. Elisabeth, Pardamean; St. Ambrosius, Semangat Baris; St. Yosep, Rambung Merah).
    3. Perjalanan Paroki St. Petrus dan Paulus
    Paroki yang pertama hadir di kota Pematangsiantar, adalah Paroki St. Laurentius Brindisi Jl. Sibolga. Paroki St.Petrus dan Paulus mekar dari Paroki St. Laurentius Jl. Sibolga.
    Tahun 1967, Seminari Tinggi di Jalan Medan didirikan. Pada tahun 1968, didirikan juga satu gereja baru di Jalan Medan Pematangsiantar. Para pastor dari Seminari ini melayani beberapa stasi di sekitarnya seperti Stasi Bah Gunung, Stasi Nagajaya, Stasi Serbelawan, Stasi Nagaraja, Stasi Bintang Mariah, Stasi Martoba, Stasi Rambung Merah dan Stasi Batulima. Gereja baru ini, walaupun secara administratif tidak menjadi paroki, tetapi de facto dalam pelayanan sudah berbentuk paroki, yang dinamai Paroki Pastor Bonus. Dan ini menjadi titik awal berdirinya Paroki St. Petrus dan Paulus. Paroki ini langsung dipimpin oleh Rektor Seminari Tinggi, RP. Gonzalvus Snijders, OFMCap. Awalnya paroki ini terdiri dari sembilan stasi dengan jumlah umat kurang lebih 535 keluarga yang terdiri dari berbagai jenis profesi seperti pegawai negeri, ABRI, buruh dan petani. Kurang lebih 20 tahun, paroki ini selalu dipimpin oleh rektor Seminari Tinggi Jl. Medan, antara lain RP. Gonzalvus Snijders, OFMCap, RP. Ferdinand Knoops, OFMCap, RP. Martinus Situmorang, OFMCap. RP. Elias Sembiring, OFMCap.
    Jumlah umat dari tahun ke tahun semakin bertambah. Stasi juga semakin bertambah, khususnya di pinggiran kota Pematangsiantar. Maka, pada tahun 1987 diadakanlah restrukturisasi paroki di Pematangsiantar. Hasil dari restrukturisasi itu ialah 12 stasi yang sebelumnya masuk ke paroki St. Laurentius Brindisi Jl. Sibolga menjadi wilayah pelayanan paroki ini. Dan pada waktu itu pula, nama Paroki Pastor Bonus Jl. Medan menjadi Paroki St. Petrus dan Paulus Jl. Medan. Dengan adanya restrukturisasi tersebut, jumlah stasi paroki ini menjadi 21 stasi: Termin (Pusat Paroki), Jl. Medan, Sinaksak-Baringin, Bintang Mariah, Sordang Raya (sebelumnya Mariah Nagur), Nagur Usang, Naga Raja, Serbelawan, Laras, Bah Gunung, Naga Jaya (sebelumnya Bandar Betsy), Rambung Merah, Batulima, Pardamean, Perumnas, Laras II, Silau Malela, Bah Jambi, Sosor Samosir, Timuran dan Semangat Baris.
    Walaupun Termin sebagai pusat paroki, namun keberadaan kantor paroki masih tetap di Jl. Medan, karena di Termin belum ada pastoran dan belum ada pastor yang tinggal secara menetap di sana. Akan tetapi, pada waktu RP. Isidorus Lambertus Woestenberg, OFMCap sebagai pastor paroki, pernah tinggal menetap di Termin dengan menyewa rumah J. Manurung demi mempermudah pelayanan, namun hal ini tidak bertahan lama.
    Pada tahun 1997, RP. Hubertus Tamba, OFMCap menjadi pastor paroki. Ia bersama dewan pastoral paroki mewacanakan pembagian wilayah pelayanan yakni: wilayah Sinaksak (Sinaksak, Bintang Mariah, Sordang Raya, Naga Raja, Nagur Usang, Serbelawan, Laras, Bah Gunung, dan Naga Jaya), wilayah Jl. Medan (tersendiri) dan wilayah Batu Lima (Termin, Batulima, Rambung Merah, Pardamean, Laras II, Perumnas, Silau Malela, Timuran, Semangat Baris, dan Sosor Samosir).
    Pada tahun 2000, RP. Joseph Rajagukguk, OFMCap memindahkan Kantor Paroki dari Jl. Medan ke Termin. Namun pastor paroki masih tetap tinggal di Biara Kapusin Jl. Medan. Tahun 2003, segala arsip dan dokumen paroki resmi dipindahkan ke Termin. Pernah dijajaki untuk membeli tanah di belakang gereja untuk mendirikan pastoran, namun tidak jadi, karena terlalu banyak kesulitan.
    Pada tahun 2005, paroki ini dimekarkan menjadi dua paroki yakni Paroki St. Petrus dan Paulus dan Paroki St. Fransiskus Asisi, Jl. Medan. Maka, jumlah stasi di paroki St. Petrus dan Paulus menjadi 20 stasi. Pastor Paroki pada saat itu adalah RP. Markus Manurung, OFMCap. Dalam masa kepemimpinannya, sebagai pastor paroki, dibuatlah master plan paroki, yakni meneruskan salah satu rencana yang pernah diputuskan tahun 1997 tentang pusat paroki di Jalan Asahan-Batulima.
    Dengan segala kerja dan usaha keras, maka 16 September 2007 dilaksanakan peletakan batu pertama gereja paroki/ gereja induk oleh Uskup Koajutor Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap. Pembangunan gereja paroki ini berlangsung dua tahun. Pada 05 Juli 2009, Gereja Paroki diberkati oleh Mgr. A.G. Pius Datubara, OFMCap.
    Rabu, 8 Agustus 2012 Eks gereja lama dialihfungsikan menjadi rumah pastoran Batulima. Komunitas pastoran baru ini ditempati oleh 3 orang pastor, yaitu RP. Raymond Simanjorang, OFMCap (Pastor Paroki), RP. Yovinus Sibagariang, OFMCap (pastor rekan) dan RP. Elio Sihombing, OFMCap (anggota komunitas yang bertugas di Komisi Liturgi KAM).
    Tahun 2009 – 2013 Pastor Paroki dijabat oleh RP.Raymond Simanjorang, OFMCap. Pastor Raymond mengalami sakit secara tiba-tiba sehingga pelayanan pastoral ditanggung-jawabi oleh RP. Emmanuel Sembiring, OFMCap. (Desember 2012-Februari 2013) selaku administrator. Kemudian dilanjutkan oleh RP. Michael Manurung, OFMCap. (Februari 2013-Agustus 2013) yang adalah Vikep.St. Paulus Rasul, menjadi Administrator Paroki.
    Pada tanggal 1 September 2013 diadakan serah terima Pastor Paroki dari RP.Michael Manurung, OFMCap. kepada RP.Fridolinus Simanjorang, OFMCap sebagai Pastor Paroki definitif. Pada masa ini mulai dipikirkan secara matang dan intensif pembangunan pastoran dan kantor paroki. Peletakan batu pertama Pastoran dan Kantor Paroki dilaksanakan pada tanggal 23 Februari 2014 dan diberkati tanggal 5 Desember 2015 oleh Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap.
    RASUL PETRUS
    Simon, yang disebut Petrus, dan saudaranya Andreas yang berasal dari kampung Betsaida (Yoh 1: 44) dipanggil Yesus untuk menjadi murid-murid-Nya (Mrk 1: 16-20). Simon dan Andreas, bersama dengan Yohanes dan Yakobus dipanggil di pantai danau Galilea. Mereka dipanggil dari penjala ikan dan dibimbing untuk menjadi penjala manusia.
    Bagaimana bisa terjadi? Yesus memanggil dan meminta mereka untuk “ada bersama dengan Dia” (Mrk 3: 13). Proses pembentukan menjadi murid terlaksana dengan “ada tinggal bersama dengan Sang Guru”. Mereka pelan-pelan mendengarkan pengajaran demi pengajaran Yesus, melihat tanda heran demi tanda heran. Mereka juga meyaksikan bahwa makin banyak orang berbondong-bondong mengikuti Yesus. Untuk apa mereka semua datang kepada Yesus? Karena Yesus mengajar dengan baik, Yesus melakukan mukzijat penyembuhan berbagai macam penyakit, pengusiran setan, menenangkan danau/angin, memberi makan dan perbanyakan roti dan ikan. Yesus juga mampu berhadapan dengan para pemimpin Yahudi, ahli taurat, kaum Farisi, Zelot, Saduki, dll. Maka siapakah Yesus ini?
    Pertanyaan siapakah Dia disampaikan-Nya kepada para murid-Nya dengan melemparkan dua pertanyaan, pertama “kata orang siapakah Aku ini?” Yesus tidak puas kalau murid-murid mengenal-Nya sejauh dikatakan orang. Karena itu disampaikan pertanyaan kedua, “apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mrk 8: 27-30). Jawaban yang disampaikan Simon Petrus: bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (Mat. 16: 13-20). Tapi segera dinyatakan bahwa Simon belum mengenal dengan kata: “...bukan manusia yang mengatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 16: 17). Simon Petrus diingatkan bahwa manusia tidak dapat mengandalkan ilmu manusiawi untuk mengenal Yesus, harus mengandalkan “ilmu ilahi” yaitu kekuatan Roh Allah. Yesus berkata kepada Petrus: “enyahlah iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mrk. 8: 33).
    Dalam perjalannya menjadi murid Yesus, Simon Petrus beberapa kali bersandar pada tanggapan manusiawi dan pikiran manusiawi. Pada peristiwa di taman Getsemani Petrus gagal (tidak sanggup berjaga...(Mrk. 14: 37). Petrus gagal mengikuti Gurunya pada hal dia telah bersumpah bahwa sampai mati tidak akan menyangkal-Nya. Pada kenyataannya Petrus meniadakan panggilan, pengenalan, dan kebersamaannya dengan Yesus dengan menjawab pertanyaan seorang wanita dengan berkata: “aku tidak kenal dengan orang yang kamu sebut-sebut ini” (Mrk. 14: 71).
    Dengan semua kejadian atau kenyataan itu apakah kita bisa mengatakan bahwa Yesus gagal memilih Petrus? Petrus gagal menjadi murid Yesus? Dalam Mrk 16: 8 dituliskan: “dengan singkat mereka sampaikan pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu”.
    Kisah Rasul menunjukkan bahwa tahap demi tahap, dengan dibantu oleh bimbingan Roh Kudus, Petrus bersama rasul lain mewartakan Injil dari Yerusalem sampai ke ujung dunia.
    RASUL PAULUS
    Saulus, yang kemudian bernama Paulus, lahir dalam keluarga Yahudi di Tarsus (Kis 9: 11; 21:39; 22:3). Pada umumnya, setiap keluarga Yahudi sungguh berharap agar anak-anaknya menempuh pendidikan dan menjalankan pelatihan sesuai dengan minat dan bakatnya. Orang tua Saulus mengirimkannya ke Yerusalem demi mengecap pendidikan. Ia masuk sekolah yang didirikan oleh Gamaliel untuk mengecap pendidikan tentang taurat (Kis. 22: 3-4).
    Dengan latar belakang pendidikan ilmu taurat, Saulus menjadi seorang Farisi (Flp. 3: 5-6) dan menganiaya orang-orang yang mengikuti jalan Tuhan (Gal. 7: 13-14; Flp. 3: 6). Dalam perjalanan menuju Damaskus, Tuhan memanggil Saulus (1 Kor 9: 1). Melalui panggilan dan sentuhan Tuhan, seluruh hidup Saulus berubah dan ia harus membangun kembali kehidupannya di dalam Kristus. Saulus yang akhirnya disebut sebagai Paulus menjadi alat Tuhan untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia.
    Dalam pewartaannya, Paulus mengalami berbagai penderitaan (2Kor 12: 5.9-10). Ia menjadi tawanan karena mewartakan Injil dan akhirnya dibawa ke Roma. Akan tetapi, walaupun sebagai tawanan, Paulus tetap mewartakan Injil Tuhan di Roma (1 Kor 9: 16). Bagi Paulus, penderitaan tidak menjadi penghalang dalam pewartaannya. Pewartaan Paulus tetap berbuah dan buah dari pewartaannya itu adalah jemaat-jemaat yang didirikannya. Kepada mereka Paulus menulis surat-suratnya, yang memuat ajaran iman, nasihat-nasihat pastoral dan moral.
    Menurut tradisi, kedua rasul ini, Petrus dan Paulus dimartirkan di kota Roma.
    PASTOR PAROKI DARI MASA KE MASA
    RP. Sybrandus van Rossum, OFMCap
    P. Gonzalvus Snijders,OFMCap,
    RP. Ferdinand Knoops, OFMCap
    RP Martinus Situmorang, OFMCap
    RP. Martinus Situmorang, OFMCap (1976 – 1984) 
    RP. Elias Sembiring,OFMCap (1984 – 1987)
    RP. Isidorus Lambertus Woestenberg,OFMCap (1987 – 1994)
    RP. Albert Pandiangan,OFMCap (1994 –1995)
    RP. Hubertus Tamba, OFMCap (1995 – 1998) 
    P. Josep Rajagukguk, OFMCap (1998 – 2002)
    RP. Thomas Sinabariba,OFMCap (2002 – 2004) 
    RP. Markus Manurung, OFMCap (2004 - 2009)
    RP. Emmanuel Sembiring, OFMCap
    RP. Mikhael Manurung, OFMCap
    RP. Raymond Simanjorang,OFMCap
    RP. Fridolinus Simanjorang, OFMCap
    RP. Gokmenteo Sitinjak,OFMCap
    D. Masro Situmorang, OFMCap (Pastor Rekan)
    Pastor yang Pernah Berkomunitas di Pastoran Paroki St. Petrus & Paulus
    RP. Elio Sihombing, OFMCap (Komisi Liturgi KAM)
    RP. Kristinus C. Mahulae, OFMCap (Dosen Kitab Suci STFT-St. Yohanes Pematangsiantar)
    RP. Oktavianus Situngkir, OFMCap (Komisi Kateketik KAM)
    PARA PASTOR, BIARAWAN-BIARAWATI, ASAL PAROKI ST. PETRUS DAN PAULUS
    Para Pastor/ Biarawan
    RP. Hugolinus Malau, OFMCap
    RD. Joddy Morison Turnip
    RP. Derikson Alverius Turnip, CICM
    RP. Riston Situmorang, OSC
    RP Bonifasius Saragih, OFMCap
    Para Biarawati
    - Kongregasi FCJM
    Sr. Klementina Sinaga, FCJM
    Sr. Ludovika Sidauruk, FCJM
    Sr. Klemensia Sitanggang, FCJM
    Sr. Alfonsine Purba, FCJM
    Sr. Fabiola Pandiangan, FCJM
    Sr. Meriam Siagian, FCJM
    Sr. Ferdinanda Sitanggang FCJM
    Sr. Damiana Turnip, FCJM

    - Konggregasi KSSY
    Sr. Antonia Simarmata KSSY
    Sr. Theresia Sinaga KSSY

    - Konggregasi KYM
    Sr. M. Eleonora Silalahi, KYM
    Sr. M. Sebastiana Sinambela, KYM

    - Konggregasi Alma
    Sr. Franceline Silalahi, KYM
    Sr. Mastinora Marlina Silalahi, ALMA

    - Konggregasi FCh
    Sr. Dominica, FCh
    Sr. M. Maristella Tarigan, FCh.

    - Konggregasi FMM
    Sr. Meyly Jens Sibarani, FMM

    - Konggregasi OSCCap
    Sr. M. Veronika Ambarita, OSCCap

    - Konggregasi DLMC
    Sr. Maria Julita Sihaloho, DLMC

    - Konggregasi KSFL
    Sr. Rufina Simamora, KSFL
    Sr. Regina Sidabutar, KSFL
    Sr. Francine Hutabarat, KSFL
    Sr. Amandin Manurung, KSFL (RIP)
    Lokasi Paroki :