Senin, April 27, 2026
Lainnya
    BerandaRenunganKotbah Hari Minggu IV Paskah (Minggu Gembala Baik)

    Kotbah Hari Minggu IV Paskah (Minggu Gembala Baik)

    Kotbah Minggu IV Paskah (Minggu Gembala Baik) - 26 April 2026 | Tahun A/II

    Bacaan I : Kis. 2:14a,36-41
    Bacaan II :  1Ptr. 2:20b-25
    Bacaan Injil : Yoh. 10:1-10

    Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga damai Paskah memenuhi hati kita.

    Dalam hidup sehari-hari, kita sangat akrab dengan makna sebuah pintu. Rumah mempunyai pintu—bahkan dalam satu rumah ada beberapa pintu. Kota mempunyai pintu—gerbang yang mengatur siapa yang boleh masuk. Negara mempunyai pintu—melalui imigrasi. Gereja pun mempunyai pintu masuk, yaitu inisiasi Kristen: baptisan, krisma, dan Ekaristi. Pintu selalu berarti satu hal: akses untuk masuk—masuk ke dalam rumah, kota, negara, Gereja, bahkan menuju Kerajaan Surga.

    Karena itu ketika Yesus berkata dalam Injil Yohanes: “Akulah pintu,” Ia sedang berbicara tentang sesuatu yang sangat mendasar: Ia adalah akses menuju kehidupan. Ia bukan sekadar menunjukkan jalan, tetapi menjadi pintu itu sendiri—tempat kita masuk untuk menemukan hidup yang sejati.

    Saudara-saudari terkasih, Dalam tradisi iman sebelumnya, umat Allah juga memiliki banyak jalan menuju hidup yang benar: menaati Taurat, beribadah di Bait Allah Yerusalem, mempersembahkan korban, dan hidup dalam aturan kesalehan. Semua itu baik dan suci, tetapi tetap bersifat jalan yang menuntun, belum sepenuhnya membawa manusia masuk ke dalam kehidupan Allah.

    Dalam diri Yesus, semua jalan itu mencapai kepenuhannya. Ia tidak meniadakan, tetapi menggenapi. Maka ketika Ia berkata “Akulah pintu,” Ia menegaskan bahwa akses menuju hidup yang sejati tidak lagi melalui banyak jalan atau sistem, tetapi melalui pribadi-Nya sendiri.

    Dan hidup yang Ia tawarkan adalah hidup yang berbeda dari yang ditawarkan dunia. Ia berkata: “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Hidup ini bukan sekadar hidup panjang atau nyaman, tetapi hidup yang penuh makna—hidup yang bersatu dengan Allah. Inilah hidup berkelimpahan.

    Saudara-saudari terkasih, Pintu itu bukan hanya ajaran, tetapi cara hidup Yesus sendiri. Ia membuka akses menuju hidup melalui: pemberian diri, bukan egoisme pengorbanan, bukan kenyamanan semata pengampunan, bukan balas dendam membawa damai, bukan konflik membuka hati, bukan menutup diri Dunia berkata: “kumpulkan sebanyak mungkin,” tetapi Kristus menunjukkan: hidup menjadi penuh ketika kita memberi diri. Inilah pintu menuju hidup yang sejati.

    Dalam bacaan pertama dari Kisah Para Rasul, orang banyak tersentuh oleh pewartaan Santo Petrus Rasul dan bertanya: “Apakah yang harus kami perbuat?” Pertanyaan itu juga menjadi pertanyaan kita hari ini. Dan jawabannya sangat jelas: “Bertobatlah dan hendaklah kamu memberi dirimu dibaptis…” Artinya: ubahlah arah hidupmu, masuklah ke dalam Kristus, tinggalkan hidup lama, dan mulailah hidup baru. Itulah cara konkret untuk masuk melalui pintu itu.

    Pada Minggu ini, Gereja juga merayakan Minggu Panggilan. Ketika Yesus berkata, “Akulah pintu,” Ia tidak hanya mengundang kita untuk masuk dan menemukan hidup, tetapi juga memanggil kita untuk menjadi jalan bagi orang lain. Kita yang telah masuk melalui Kristus dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam misi-Nya sebagai Gembala Baik. Secara khusus, kita diajak untuk mendoakan dan mendukung mereka yang dipanggil menjadi imam, religius, dan pelayan Gereja—agar mereka berani menjawab panggilan Tuhan dan menjadi pintu yang menghadirkan kasih Allah bagi banyak orang.

    Saudara-saudari terkasih, Namun panggilan bukan hanya untuk segelintir orang. Setiap kita yang telah dibaptis juga dipanggil: dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam masyarakat. Panggilan itu sederhana tetapi mendalam—hidup seperti Kristus, menjadi tanda kasih, pengampunan, dan damai. Maka marilah kita membuka hati, mendengarkan suara Tuhan, dan berani menjawab: “Ya Tuhan, aku siap.” Sebab ketika kita hidup seturut panggilan-Nya, kita bukan hanya masuk melalui pintu itu, tetapi juga menuntun orang lain untuk menemukan hidup dalam Kristus.

    Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap
    RELATED ARTICLES

    KARYA PENDIDIKAN

    JADWAL USKUP & VIKJEN

    KALENDER LITURGI