Rabu, Juni 10, 2026
Lainnya
    Beranda blog Halaman 25

    Paroki Delitua

    Pelindung Santo Yosep
    Buku Paroki Sejak tahun 1968. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan.
    Alamat Jl. Sibiru-biru No. 1, Lk. V, RT 002, RW 003, Delitua - 20355
    HP / WA 0852-6279-7708
    Email [email protected]
    Website parokidelitua.wordpress.com
    Jumlah Umat 4.394 KK / 14.534 jiwa (data BIDUK per 31 Des 2025)
    Jumlah Stasi 38
    Parochus RP. Simon Kemit OFMConv 23-12-1971
    Vikaris Parokial RP. Antonius Jani Anwar Barus OFMConv 24-07-1988
    Vikaris Parokial RP. Antonius Arifin Tpoi OFMConv 30-04-1981
    Gereja Stasi
    1. St Lusia, Ajibaho 14. St Bonaventura - Lau Rempak 27. St Paulus - Rambe
    2. St Lukas - Bangun Jati 15. St Vitalis - Mbaruai 28. St Bernandus - Rampah
    3. St Daniel - Batu Mbelin 16. St Pius Xaverius - Mardinding 29. St Yusuf - Rumah Gerat
    4. St Antonius Padua - Besamat 17. St Rita - Namo Pinang 30. St Yosep - Salang Tungir
    5. St Fransiskus Assisi - Bintang Meriah 18. St Maria - Namo Rambe 31. St Kosmas Et Damianus - Sarilaba
    6. St Fransiskus, Biru-Biru 19. St Tarsisius - Namo Puli 32. St Rita - Namo Pinang
    7. Keluarga Kudus - Cinta Adil 20. Kristus Raja - Namo Serit 33. St Maria - Simpang Ranting
    8. Hati Kudus Yesus - Cinta Dame 21. Hati Kudus Yesus - Negara 34. St Rita - Sinar Kemenangan
    9. St Fransiskus Antonius Fasani - Siguci 22. Fransiskus Xaverius - Pasar Tiga Namo Rambe 35. St Klara - Talun Kenas
    10. St Yohanes Babtista - Juma Tombak 23. St Maria - Penen 36. St Petrus - Tangkahen
    11. St Elisabet - Kampung Dalam 24. St Yosef Kopertino - Periaria 37. St Lusia - Tembengen
    12. St Mikael - Lau Buluh 25. St Mikael - Pernangenen 38. Salib Suci - Ujung Beringin
    13. St Yohanes - Lau Rakit 26. Sang Penebus - Pertumbuken
    Jadwal Misa Gereja Paroki Delitua
    Sabtu 19.00 WIB
    Minggu I 08.00 WIB
    II 10.00 WIB

    Sejarah Paroki St. Yosep Delitua

    Pada sekitar tahun 1964 Mgr. Ferrerius van den Hurk berkeinginan untuk mengembangkan pewartaan iman Katolik di sekitar pinggiran kota Medan, khususnya ke arah Delitua. Untuk mewujudkan harapan tersebut beliau mengutus P. Johanes Maksimus Brans OMCap yang bertugas di Paroki St. Antonius dari Padua Jalan Hayam Wuruk Medan dan P. Elpidius van Duynhoven OFMCap yang saat itu bertugas di Paroki St. Perawan Maria Tak Bernoda Jalan Pemuda Medan untuk mengobservasi daerah Delitua. Pada saat itu di Delitua sekitarnya telah ada agama Kristen dan Islam. Banyak suku Batak Karo sudah menganut agama Kristen Protestan, seperti Gereja Batak Kristen Protestan (GBKP). Agama Islam pada umunya dianut oleh suku Jawa dan Melayu. Selain itu masih banyak anggota masyarakat yang belum menganut agama. Di antara itu semua, belum ada seorangpun yang beragama Katolik.

    Pada tahun 1966 Mgr. Ferrerius van den Hurk menugaskan P. Diego van de Biggelaar OFMCap untuk melanjutkan misi yang telah dimulai tahun 1964, dibantu oleh P. Lukas Renders OFMCap. Mereka berdua berusaha memperkenalkan dan menanamkan iman Katolik serta melayani umat yang mulai tumbuh.

    Pada tahun 1967, Mgr. Ferrerius van den Hurk sebagai Uskup Agung Medan mengundang Ordo Saudara Dina Konventual (Ordo Fratrum Minorum Conventualium, OFMConv) untuk berkarya di Keuskupan Agung Medan ini. Minister General Saudara Dina Konventual menerima baik undangan ini, maka diutuslah P. Adeodatus Laibahas OFMConv. dan Br. Willy Brodus OFMConv untuk memulai karyanya di Keuskupan Agung Medan. Mereka berdua terlebih dahulu ditempatkan di Pangururan untuk mempelajari bahasa dan budaya. Namun dalam masa persiapan itu P. Adeodatus Laibahas OFMConv meninggal dunia karena tenggelam di Danau Toba. Setelah peristiwa itu Br. Willy Brodus kembali ke paroki St. Perawan Maria Tak Bernoda Jalan Pemuda Medan dan untuk sementara waktu berkarya di sana.

    Dalam situasi yang demikian, Uskup Agung Medan kembali meminta kepada Minister General OFMConv untuk melanjutkan karya yang sudah dimulai di Keuskupan Agung Medan. Menjawab permintaan uskup tersebut diutuslah tiga imam Fransiskan Konventual dari Italia, yaitu P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Ferdinando Severi OFMConv, yang berasal dari Provinsi Bologna dan P. Antonio Murru OFMConv., dari Provinsi Sardegna. Mereka bertiga tiba di Medan pada tanggal 6 April 1968 dan ditempatkan di Delitua. Karena pastoran belum tersedia maka untuk sementara waktu mereka tinggal di salah satu ruangan Rumah Sakit Sembiring milik Keluarga Serta Laurentius Sembiring. Dari tempat itulah mereka memulai karya menaburkan dan menanamkan Sabda Allah. Pada tahun yang sama tepatnya pada tanggal 31 Oktober 1968 ketiganya secara resmi memulai karya pelayanan di wilayah Delitua.

    Seiring proses pewartaan Sabda Allah, pada tanggal 27 Januari 1969 keluar izin dari pemerintah untuk membangun gereja dan pastoran. Maka dimulailah proses pembangunan gereja dan pastoran yang diarsiteki oleh Br. Meinard van der Made OFMCap dan selesai pada tahun 1970. Pada tanggal 26 April 1970 gedung gereja dan pastoran tersebut diberkati oleh Uskup Agung Medan Mgr. Ferrerius A. H. van den Hurk OFMCap dengan nama pelindung St. Yosep.

    Untuk membantu karya kerasulan di paroki yang baru ini, tahun 1971 Kongregasi FSE memulai karya pelayanan mereka di Delitua. Mereka berkarya membantu paroki dan kerasulan kategorial yaitu Asrama dan Panti Asuhan.

    Melihat begitu berkembang dan pesatnya pertumbuhan umat di Paroki Delitua, maka pada tahun 2002 atas inisiatif P. Antonio Murru OFMConv., yang kala itu menjadi Pastor Paroki Delitua membangun gereja paroki yang lebih besar dan luas karena gedung gereja yang lama tidak memadai lagi untuk umat beribadat. Bentuk dan ciri khas gereja yang dibangun ini terinspirasi dari bentuk gereja SS. Trinita di Saccargia, P. Sardegna, Italia. Dengan usaha kerja keras para pastor dan umat, serta dibantu oleh rombongan tukang dari Rumah Sakit Sembiring akhirnya gedung gereja ini selesai dibangun pada tahun 2004 dan ditahbiskan oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Pius Datubara OFMCap pada tanggal 18 Maret 2005.

    Dalam kurun waktu 43 tahun (1968-2011) Paroki St. Yosep Delitua yang sudah memiliki 62 stasi dan 8 rayon yang tersebar di 8 kecamatan di bagian dataran tinggi Kabupaten Deli Serdang. Pada Agustus 2011 Uskup Agung Medan Mgr. Anicetus B. Sinaga OFMCap memekarkan Paroki St. Yosep Delitua dengan membuka Kuasi Paroki St. Katarina Tigajuhar, Kecamatan STM Hulu yang terdiri dari 15 Stasi. Hingga saat ini Paroki St. Yosep Delitua terdiri dari 1 gereja paroki, 46 stasi dan 109 lingkungan.

    Wilayah Pelayanan
    Wilayah pelayanan Paroki St. Yosep Delitua berada di 7 Kecamatan bagian dataran tinggi Kabupaten Deli Serdang. Rayon Negara dan Rayon Talun Kenas berada di Kecamatan STM. Hilir dan beberapa stasi Kec. Patumbak. Rayon Tanjung Morawa berada di Kec. Tanjung Morawa dan ada 1 stasi berada di wilayah kota Medan, yakni stasi Bangun Mulia. Rayon Delitua berada di Kelurahan Delitua, Rayon Birubiru berada di Kec. Birubiru, dan Rayon Namorambe berada di Kec. Namorambe. Pusat paroki berada di Delitua. Delitua secara teritorial mungkin tidak berada di titik sentral, tetapi secara historis menjadi sentral karena sudah sejak lama menjadi pusat kegiatan ekonomi untuk bagian dataran tinggi. Hingga sekarang pasar pekan hari Kamis di Delitua masih hidup. Kadang-kadang aktivitas umat dari pedalaman sering dibarengi dengan aktivitas berbelanja ke pekan. Beberapa stasi relatif sulit dijangkau karena kondisi infrastruktur jalan yang belum baik, seperti beberapa stasi di rayon Penen (Mardinding, Pernangenan, dan Rambe) dan rayon Negara (Juma Tombak dan Lau Rempak).

    Pemekaran Paroki

    Dalam kurun waktu 43 tahun (1968-2011) Paroki St. Yosep Delitua yang sudah memiliki 62 stasi dan 8 rayon yang tersebar di 8 kecamatan yakni Kec. Bangun Purba, Kecamatan STM. Hilir, Kecamatan STM. Hulu Kec. Patumbak, Kec. Tanjung Morawa, Kelurahan Delitua, Kec. Birubiru, Kec. Namorambe. Untuk memaksimalkan pelayanan reksa pastoral maka pada Agustus 2011 Uskup Agung Medan Mgr. Anicetus AB. Sinaga OFMCap memekarkan Paroki St. Yosep Delitua dengan membuka Kuasi Paroki St. Katarina Tigajuhar, Kecamatan STM Hulu yang terdiri dari 15 Stasi. Kemudian salah satu stasi dari Rayon Tanjung Morawa yakni Stasi St. Petrus Batang Kuis bergabung ke Paroki St. Petrus Batang Kuis.

    Pergantian Penggembalaan

    Sejak tahun 1968 Paroki St. Yosep Delitua telah mengalami banyak pergantian penggembalaan. Berikut adalah periode para pastor paroki dan rekan-rekannya:

     

    • 1968 – 1970: P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv, P. Ferdinando Severi OFMConv

    • 1970 – 1973: P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv, P. Ferdinando Severi OFMConv

    • 1973 – 1975: P. Carmelo Comina OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv.

    • 1975 – 1978: P. Salvatore Sabatho OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv.

    • 1978 – 1982: P. Salvatore Sabatho OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Carmelo Comina OFMConv.

    • 1982 – 1985: P. Salvatore Sabatho OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Carmelo Comina OFMConv, P. Corrado Casadei OFMConv.

    • 1985 – 1988: P. Salvatore Sabatho OFMConv, P. Corrado Casadei OFMConv, P. Carmelo Comina OFMConv.

    • 1988 – 1991: P. Antonio Razzoli OFMConv, P. Corrado Casadei OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv.

    • 1991 – 1994: P. Antonio Razzoli OFMConv, P. Tarcisio Centis OFMConv, P. Simson Sitepu OFMConv.

    • 1994 – 1997: P. Antonio Murru OFMConv, P. Tarcisio Centis OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv

    • 1997-2002: P. John Paul Tarigan OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv

    • 2002-2005: P. Fransiskus Mardan Ginting OFMConv, P. Fransiskus Rencana Sinulingga OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv

    • 2005-2009: P. Andreas Elpian Gurusinga OFMConv, P. Benediktus Mario Lumbangaol OFMConv, P. Cornelius Ady Parditya OFMConv.

    • 2009-2012: P. Antonius Siswido Swy OFMConv, P. Eligius Benny Bernardi OFMConv.

    • 2012-2017: P. Yohannes Eduardus Padiyana OFMConv, P. Fransiskus Radiaman Purba OFMConv.

    • 2017 – 2021: P. Simon Kemit OFMConv, P. Andreas Budiyanto OFMConv, P. Anastasius Thomas Tamal OFMConv, P. Silverius Hutauruk OFMConv.

    • 2021 – sekarang: P. Paskalis Surbakti OFMConv, P. Fransiskus Radiaman Purba OFMConv, P. Richardus Natun OFMConv.

    Paroki St. Yosef Delitua memiliki 1 gereja paroki, 46 stasi dan 109 lingkungan yang berada di 7 rayon. Berikut nama-nama stasi dan profilnya:

      1. Rayon Delitua
        Rayon Delitua adalah kumpulan 15 lingkungan di gereja paroki St. Yosep Delitua. Ke-15 lingkungan tersebut adalah: St. Maria, St. Yosef, St. Fransiskus Xaverius, St. Antonius, St. Bonaventura, St. Fransiskus Assisi, St. Maximilianus Kolbe, St. Petrus, St. Lusia, St. Paulus, St. Thomas Aquinas, St. Markus Penginjil, St. Mikael, St. Rafael, St. Agustinus.

      2. Rayon Namorambe
        Rayon Namorambe terdiri dari 7 stasi yang berada di Kecamatan Namorambe. Ke-7 stasi itu adalah:
        1) Stasi St. Maria Namorambe
        Stasi St. Maria Namorambe didirikan pada tahun 1963 oleh P. Diego v.d. Biggelaar, OFMCap. Jumlah umat di stasi ini adalah 193 kepala keluarga, 585 jiwa.
        2) Stasi St. Fransiskus Xaverius NamorambeStasi St. Fransiskus Xaverius Pasar 3 Namorambe didirikan pada tahun 1967 oleh P. Diego v.d. Biggelaar, OFMCap. Jumlah umat sebanyak 333 kepala keluarga, 1.256 jiwa.
        3) Stasi St. Petrus Tangkahan
        Stasi St. Petrus Tangkahan didirikan pada 2002 oleh Andreas Gurusinga OFMConv Jumlah umat 67 kepala keluarga, 197 jiwa.
        4) Stasi St. Rita Namo Pinang
        Stasi St. Rita Namo Pinang didirikan pada tahun 1969 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 140 kepala keluarga, 489 jiwa.
        5) Stasi St. Daniel Batu Mbelin
        Stasi St. Daniel Batu Mbelin didirikan pada tahun 1971 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 61 kepala keluarga, 207 jiwa.
        6) Stasi St. Yosef Salang Tungir
        Stasi St. Yosef Salang Tungir didirikan pada tahun 1965 oleh P. Diego v.d. Biggelaar, OFMCap. Jumlah umat sebanyak 32 kepala keluarga, 116 jiwa.
        7) Stasi St. Bernardus Rampah
        Stasi St. Bernardus Rampah didirikan pada tahun 1969 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 109 kepala keluarga, 351 jiwa.

     

      1. Rayon Birubiru

    1) Stasi St. Fransiskus Assisi Birubiru 
    Stasi St. Fransiskus Assisi Birubiru didirikan pada tahun 1968 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 150 kepala keluarga, 519 jiwa.
    2) Stasi St. Yusuf Rumah Great 
    Stasi St. Yusuf Rumah Gerat didirikan pada tahun 2006 oleh P. Andreas Gurusinga, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 67 kepala keluarga, 246 jiwa.
    3) Stasi St. Penebus Pertumbuken
    Stasi St. Penebus Pertumbuken didirikan pada tahun 1989 oleh P. Antonio Razzoli, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 64 kepala keluarga, 225 jiwa.
    4) Stasi St. Kosmas dan Damianus Sarilaba
    Stasi St. Kosmas dan Damianus Sarilaba didirikan pada tahun 1988 oleh P. Salvatore Sabato, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 73 kepala keluarga, 232 jiwa.
    5) Stasi St. Suci Ujung Beringin 
    Stasi St. Suci Ujung Beringin didirikan pada tahun 1970 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 68 kepala keluarga, 217 jiwa.
    6) Stasi St. Vitalis Mbaruai 
    Stasi St.Vitalis Mbaruai didirikan pada tahun 1978 oleh P. Salvatore Sabato, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 107 kepala keluarga, 388 jiwa.
    7) Stasi St. Maria Simpang Ranting
    Stasi St. Maria Simpang Ranting didirikan pada tahun 1970 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 64 kepala keluarga, 215 jiwa.
    8) Stasi Keluarga Kudus Cinta Adil
    Stasi Keluarga Kudus Cinta Adil didirikan pada tahun 1968 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 117 kepala keluarga, 408 jiwa. 
    9) Stasi St. Yohanes Bosco Simpang Namo Pinang
    Stasi St. Yohanes Bosco Simpang Namo Pinang didirikan pada tahun 1985 oleh P. Salvatore Sabato, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 51 kepala keluarga, 183 jiwa.
    10) Stasi St. Lusia Ajibaho
    Stasi St. Lusia Ajibaho didirikan pada tahun 1989 oleh P. Antonio Razzoli, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 67 kepala keluarga, 205 jiwa.

      1. Rayon Talun Kenas

    1) Stasi St. Klara Talun Kenas
    Stasi St. Klara Talun Kenas didirikan pada tahuj 1968 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 233 kepala keluarga, 824 jiwa.
    2) Stasi St. Antonius Padua Besamat
    Stasi St. Antonius Padua Besamat didirikan pada tahun 1984 oleh P. Salvatore Sabato, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 72 kepala keluarga, 224 jiwa.
    3) Stasi St. Elisabet Kampung Dalam 
    Stasi St. Elisabet Kampung Dalam didirikan pada tahun 1985 oleh P. Salvatore sabato, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 50 kepala keluarga, 188 jiwa.
    4) Stasi St. Mikael Lau Buluh
    Stasi St. Mikael Lau Buluh didirikan pada tahun 1989 oleh P. Antonio Razzoli, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 35 kepala keluarga, 121 jiwa.
    5) Stasi St. Fransiskus Assisi Bintang Meriah
    Stasi St. Fransiskus Assisi Bintang Meriah didirikan pada tahun 1967 oleh P. Diego v.d Biggelaar OFMCap. Jumlah umat sebanyak 122 kepala keluarga, 441 jiwa.
    6) Stasi St. Tarsisius Namo Puli  
    Stasi St. Tarsisius Namo Puli didirikan pada tahun 1970 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 173 kepala keluarga, 590 jiwa.
    7) Stasi St. Fransiskus Antonius Fasani Siguci
    Stasi St. Fransiskus Antonius Fasani Siguci didirikan pada tahun 1975 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 65 kepala keluarga, 216 jiwa.
    8) Stasi Kristus Raja Namo Serit
    Stasi Kristus Raja Namo Serit didirikan pada tahun 1975 oleh P. Giuseppe Brentazzoli, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 62 kepala keluarga, 216 jiwa.
    9) Stasi Hati Kudus Yesus Cinta Damai
    Stasi Hati Kudus Yesus Cinta Damai didirikan pada tahun 1969 oleh P. Giuseppe Brentazzoli, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 85 kepala keluarga, 286 jiwa.

      1. Rayon Negara 

    1) Stasi Hati Kudus Yesus Negara 
    Stasi Hati Kudus Yesus Negara didirikan pada tahun 1966 oleh P. Diego v.d. Biggelaar, OFMCap. Jumlah umat sebanyak 116 kepala keluarga, 405 jiwa.
    2) Stasi St. Rita Sinar Kemenangen
    Stasi St. Rita Sinar Kemenangen didirikan pada tahun 1979 oleh P. Giuseppe Brentazzoli, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 17 kepala keluarga, 63 jiwa.
    3) Stasi St. Lukas Bangun Jati
    Stasi St. Lukas Bangun Jati didirikan pada tahun 1963 oleh P. Lukas Renders, OFMCap. Jumlah umat sebanyak 35 kepala keluarga, 135 jiwa.
    4) Stasi St. Yohanes Baptista Juma Tombak
    Stasi St. Yohanes Baptista Juma Tombak didirikan pada tahun 1972 oleh P. Lukas Renders, OFMCap. Jumlah umat sebanyak 45 kepala keluarga, 143 jiwa.
    5) Stasi St. Bonaventura Lau Rempak
    Stasi St. Bonaventura Lau Rempak didirikan pada tahun 1970 oleh P. Antonio Murru, OFMconv. Jumlah umat sebanyak 47 kepala keluarga, 168 jiwa.

      1. Rayon Tanjung Morawa

    1) Stasi St. Maria Fatima Tanjung Morawa
    Stasi St. Maria Fatima Tanjung Morawa didirikan pada tahun 1965 oleh P. Diego v.d Biggelaar, OFMCap. Jumlah umat sebanyak 198 kepala keluarga, 782 jiwa.
    2) Stasi St. Antonius Padua Bangun Mulia
    Stasi St. Antonius Padua Bangun Mulia didirikan pada tahun 1966 oleh P. Diego v.d Biggelaar, OFMCap. Jumlah umat sebanyak 152 kepala keluarga, 550 jiwa.
    3) Stasi St. Theresia Avila Sigara-gara
    Stasi St. Theresia Avila Sigara-gara didirikan pada tahun 1966 oleh P. Diego v.d Biggelaar, OFMCap. Jumlah umat sebanyak 287 kepala keluarga, 1090 jiwa.
    4) Stasi Salib Suci Bangun Setia Psr.1
    Stasi Salib Suci Bangun Setia Psr. 1 didirikan pada tahun 1976 oleh P. Giuseppe Brentazzoli, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 44 kepala keluarga, 153 jiwa.
    5) Stasi St. Maria Immakulata Bangun Setia Psr.3
    Stasi St. Maria Immakulata Bangun Setia Psr. 3 didirikan pada tahun 1968 oleh P. Diego v.d Biggelaar, OFMCap. Jumlah umat sebanyak 104 kepala keluarga, 342 jiwa.
    6) Stasi St. Paulus Ujung Serdang
    Stasi St. Paulus Ujung Serdang didirikan pada tahun 1967 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 162 kepala keluarga, 588 jiwa.
    7) Stasi St. Maria Asumpta Undian
    Stasi St. Maria Asumpta Undian didirikan pada tahun 1966 oleh P. Diego v.d Biggelaar, OFMCap. Jumlah umat sebanyak 154 kepala keluarga, 633 jiwa.
    8) Stasi Para Malaikat Bangun Rejo
    Stasi Para Malaikat Bangun Rejo didirikan pada tahun 1975 oleh P. Giuseppe Brentazolli, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 53 kepala keluarga, 212 jiwa.

      1. Rayon Penen

    1) Stasi St. Maria Penen
    Stasi St. Maria Penen didirikan pada tahun 1968 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 166 kepala keluarga, 592 jiwa.
    2) Stasi St. Lusia Tembengen
    Stasi St. Lusia Tembengen didirikan pada tahun 1969 oleh P. Antonio Murru, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 67 kepala keluarga, 223 jiwa.
    3) Stasi St. Paulus Rambe
    Stasi St. Paulus Rambe didirikan pada tahun 1983 oleh P. Carmelo Comina, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 35 kepala keluarga, 133 jiwa.
    4) Stasi St. Yosep Kupertino Periaria
    Stasi St. Yosep Kupertino Periaria didirikan pada tahun 1975 oleh P. Salvatore Sabato, OFMConv. Jumlah umat sebanyak 80 kepala keluarga, 279 jiwa.
    5) Stasi St. Mikael Pernangenen
    Stasi St. Mikael Pernangenen didirikan pada tahun 1977 oleh P. Salvatore Sabato OFMConv. Jumlah umat sebanyak 45 kepala keluarga, 167 jiwa.
    6) Stasi St. Yohanes Lau Rakit
    Stasi St. Yohanes Lau Rakit didirikan pada tahun 1990 oleh P. Antonio Razzoli OFMConv. Jumlah umat sebanyak 77 kepala keluarga, 241 jiwa.
    7) Stasi St. Pius X Mardinding
    Stasi St. Pius X Mardinding didirikan pada tahun 1978 oleh P. Carmelo Comina OFMConv. Jumlah umat sebanyak 27 kepala keluarga, 98 jiwa.


    Ada 4 komunitas religius di wilayah Paroki Delitua, yakni:

      1. Komunitas Ordo Saudara Dina Konventual Provinsi Indonesia
        Komunitas ini menjadi tempat tinggal para pastor yang melayani Paroki Delitua. Selain komunitas, kuria provinsialat juga juga berada di kompleks yang sama. Di bagian belakang kompleks ada komunitas postulan Konventual. Selain tugas pastoral paroki, beberapa saudara Konventual ditugaskan untuk memimpin ordo provinsi Indonesia, berkarya dalam pendampingan postulan Konventual, beberapa ditugaskan sebagai dosen di Sekolah Tinggi Pastoral St. Bonaventura KAM Delitua.

      2. Komunitas Suster Fransiskan St. Elisabeth (FSE) Delitua
        Kompleks FSE ini berdampingangan dengan kompleks Persaudaraan Konventual. Di dalam kompleks FSE ini ada komunitas Suster FSE, novisiat FSE, Panti Asuhan St. Angela. Mereka berkarya untuk mendampingi calon-calon suster, pendampingan para penghuni panti asuhan, terlibat dalam karya pastoral di paroki, mengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) St. Fransiskus Assisi.

     

      1. Komunitas Suster-Suster Putri Karmel Talun Kenas
        Komunitas ini bernama Pertapaan Putri Karmel. Berada di Talun Kenas Kecamatan Senembah Tanjung Muda (STM) Hilir. Hadir di Talun Kenas sejak 5 September 2007. Suster-suster ini bersama Komunitas Carmelitae Sancti Eliae (CSE) berkarya dalam bidang pusat pembinaan spiritual bagi para calon mereka, pelayanan umum kepada umat dalam bentuk retret, rekoleksi, pendalaman iman, kursus Kitab Suci, pelayanan doa dan penyembuhan. Selain itu mereka terlibat sebagai pendamping Kelompok Kategorial Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) di paroki St. Fransiskus Assisi Padang Bulan, Paroki St. Antonius Padua Hayam Wuruk, Paroki St. Maria Tanjung Slamat, Paroki St. Fransiskus Assisi Berastagi, Paroki Santa Perawan Maria Kabanjahe, dan Paroki Santo Petrus dan Paulus Kabanjahe.

     

      1. Komunitas Carmelitae Sancti Eliae (CSE) Talun Kenas
        Komunitas ini berada satu lokasi dengan para Suster Putri Karmel. Karya pelayanan mereka berpadu dengan pelayanan Suster Putri Karmel. Komunitas ini dihuni oleh seorang imam dan seorang frater.

     

    1. Komunitas Pendidikan di Wilayah Teritorial Paroki
      Ada beberapa sekolah Katolik di wilayah paroki St. Yosep Delitua, mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK) hingga perguruan tinggi. PAUD St. Fransiskus Assisi dikelola oleh Suster FSE. Yayasan Betlehem Bandar Baru memiliki 1 sekolah Taman Kanak-Kanak di Namorambe dan 2 tingkat SD di Namorambe dan Batu Mbelin. Sekolah-sekolah lainnya dikelola oleh yayasan keuskupan, seperti SMP-SMA Deli Murni Delitua, SMP-SMA St. Antonius Bangun Mulia, SD-SMP St. Maria Penen, dan SD RK Namopuli. Selain itu di paroki ini ada Sekolah Tinggi Pastoral St. Bonaventura di Delitua yang dikelola oleh Yayasan Budi Murni.

     

     

    • Konteks Teritorial

    Wilayah pelayanan Paroki St. Yosep Delitua berada di 7 Kecamatan bagian dataran tinggi Kabupaten Deli Serdang. Rayon Negara dan Rayon Talun Kenas berada di Kecamatan STM. Hilir dan beberapa stasi Kec. Patumbak. Rayon Tanjung Morawa berada di Kec. Tanjung Morawa dan ada 1 stasi berada di wilayah kota Medan, yakni stasi Bangun Mulia. Rayon Delitua berada di Kelurahan Delitua, Rayon Biru berada di Kec. Birubiru, dan Rayon Namorambe berada di Kec. Namorambe. Pusat paroki berada di Delitua. Delitua secara teritorial mungkin tidak berada di titik sentral, tetapi secara historis menjadi sentral karena sudah sejak lama menjadi pusat kegiatan ekonomi untuk bagian dataran tinggi. Hingga sekarang pasar pekan hari Kamis di Delitua masih hidup. Kadang-kadang aktivitas umat dari pedalaman sering dibarengi dengan aktivitas berbelanja ke pekan.

    Beberapa stasi relatif sulit dijangkau karena kondisi infrastruktur jalan yang belum baik, seperti beberapa stasi di rayon Penen (Mardinding, Pernangenan, dan Rambe) dan rayon Negara (Juma Tombak dan Lau Rempak). Sebagai bagian dataran tinggi Deliserdang, wilayah paroki Delitua umumnya berbukit. Ada beberapa sungai besar yang melintasi wilayah paroki Delitua, antara lain Sungai Deli, Sungai Belumai, dan Sungai Seruai di mana sekarang sedang dibangun bendungan Lau Simemei yang berkapasitas tampung 21,07 juta meter kubik. Potensi alam ini bisa berdampak positif bagi umat secara ekonomi. Tetapi bisa juga berdampak negatif dalam bentuk bencana banjir. Dalam sepuluh tuhun terakhir ini beberapa umat Katolik terdampak banjir bandang. Dampaknya ialah kerusakan rumah dan bahkan korban nyawa. Banyaknya proyek galian C di hulu sungai berdampak negatif pada lingkungan dan kehidupan banyak orang.

     

    • Konteks Kategorial

    Kalau diurutkan berdasarkan jumlah populasi maka dapat dikategorikan bahwa mayoritas umat di Paroki St. Yosep Delitua berprofesi sebagai petani. Sebagian besar wilayah paroki Delitua adalah daerah (bekas) perkebunan dan pertanian rakyat. Atas dasar itu paroki memberi perhatian pada kaum petani dengan membentuk kelompok tani dan penguatan pada seksi Pengembangan Sosial Ekonomi. Pada urutan kedua ada ASN dan pegawai swasta (guru dan pekerja kantor), disusul oleh buruh. Wilayah paroki yang berbatas dengan kota Medan seperti Tanjung Morawa, Patumbak, Namorambe adalah tempat dimana banyak ditemukan pabrik. Pabrik tersebut adalah tempat di mana banyak umat Katolik paroki Delitua bekerja. Kelompok umat yang kemudian adalah pedagang dan pemilik usaha.

    Menurut data BIDUK mayoritas tingkat pendidikan umat di paroki ini adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) (42%), diploma dan sarjana (15,68%). Beberapa bahkan ada yang pendidikannya sudah setingkat S2 (0,48%). Selain itu masih ada juga umat yang tingkat pendidikannya hanya tamat SMP (15,52%), bahkan ada yang hanya tamat SD (19,56%). Dengan demikian boleh dikatakan bahwa mayoritas (57,68%) SDM umat di paroki ini berpendidikan SLTA dan Perguruan Tinggi.

     

    • Konteks Sosial Kemasyarakatan

    Umat paroki St. Yosep Delitua sangat majemuk. Mayoritas umat Katolik paroki ini adalah Batak Karo. Karena itu, kebanyakan stasi masih menggunakan bahasa Karo dalam peribadatan (68,1%), 15 stasi yang berdekatan dengan kota Medan dan stasi-stasi yang sudah mengalami banyak pembauran etnis menggunakan bahasa Indonesia dalam ibadat (31,91%). Setelah itu populasi yang menonjol adalah suku Batak Toba, Simalungun, Pakpak, Angkola. Di beberapa stasi populasi Jawa, Flores, dan Tionghoa. Satu stasi di Rayon Negara, St. Rita Sinar Kemenangan, masih menggunakan bahasa Batak Toba dalam peribadatan.
    Dari komposisi agama, Paroki St. Yosef Delitua berada di antara agama-agama lain atau denominasi Kristen lain. Pada umumnya agama lain itu terdiri dari Islam, dan sedikit Buddha. Terdapat banyak gereja-gereja subdenominasi Kristen lain, seperti HKBP, GKPS, GBKP, GKPA, GKPI, HKI, Pentakosta, GBI, Advent, GKII, dan banyak lagi yang lain. Umat Katolik berbaur dengan masyarakat dari Gereja dan agama lain dengan harmonis. Sejauh ini tidak pernah terjadi konflik umat Katolik dengan umat dari agama maupun gereja lain.
    Beberapa umat Katolik membangun relasi yang baik dengan penganut agama lain maupun umat Kristen lain melalui Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB). Ada beberapa orang yang terlibat di FKUB.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Binjai

    Pelindung

    :

    Maria Bunda Pertolongan Abadi

    Buku Paroki

    :

    Sejak 1 Januari 1980. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan

    Alamat

    :

    Jl. Sukarno Hatta 178, Binjai – 201731

    Telp/WA

    :

    0821-6495-5865

    Email

    :

    [email protected]

    Jumlah Umat

    :

    1.731 KK / 6.104 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)

    Jumlah Stasi

    :

    28

    01. Air Tenang
    02. Bahorok
    03. Batu Katak
    04. Batu Mandi
    05. Belilir
    06. Buah Raja
    07. Bunga Tanjung
    08. Janji Matogu
    09. Kuala Sawit
    10. Kendit
    11. Kuta Parik
    12. Manggusta
    13. Namu Terasi
    14. Namu Ukur
    15. Nauli Selayang
    16. Pekan Sawah
    17. Percihen
    18. Rumah Galuh
    19. Sangga Pura
    20. Sapta Marga
    21. Sawit Hulu
    22. Sawit Seberang
    23. Stabat
    24. Simpang Empat
    25. Tanjung Langkat
    26. Telagah
    27. Tanjung Beringin
    28. Unit Perkebunan Langkat

    RP. Hironimus Radjutuga, OCD

    27-7-1972

    Parochus

    RP. Winfried Watu Nono, OCD

    RP. Kornelius Siprianus Leu, OCD

    05-6-1985

    Vikaris Parokial

    Vikaris Parokial

    Sejarah Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai

    Kota Binjai merupakan salah satu Kota di Provinsi Sumatera Utara yang berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Langkat, serta berada pada jalur transportasi utama yang menghubungkan Provinsi Sumatera Utara dengan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Di daerah yang hanya berjarak kurang lebih 22 Km dari Kota Medan inilah, tepatnya di Jalan Soekarno Hatta Km 21 Kelurahan Tanah Tinggi Binjai, terlihat berdiri dengan megahnya sebuah bangunan gereja bernama Gereja Katolik Maria Bunda Pertolongan Abadi (MBPA). Rumah tempat ibadat bagi umat Gereka Katolik tersebut dibangun di atas tanah berukuran 22 M x 60 M lengkap dengan menara loncengnya, dengan model bangunan permanen berlantai keramik.

    Tonggak awal berdirinya Paroki Binjai masih terdapat kesimpangsiuran. Dasar penentuan kapan berdirinya Paroki Binjai menjadi penting dalam menentukan berdirinya Paroki Binjai. Berikut fakta sejarah yang dapat digunakan sebagai pertimbangan penentuan kapan tonggak awal berdirinya Paroki Binjai.

    Sekitar tahun 1950-an, telah ada umat Katolik pendatang dari Tapanuli Utara yang bermukim di sekitar Kota Binjai dan Kabupaten Langkat. Sekitar tahun 1954-an, telah berkumpul dan melakukan peribadatan Katolik, kurang lebih 8 orang Kepala Keluarga (KK). Mereka berkumpul dan beribadah di rumah salah satu dari mereka. Pada awalnya, perkumpulan tersebut dilakukan tidak secara rutin namun sekali-sekali sesuai dengan acara atau undangan yang mereka buat. Pada masa ini, mereka sempat mengundang seorang Imam (Pastor Dieggo Biggelar OFM Cap) untuk mendampingi mereka dalam perkumpulan dan peribadatan. Namun karena perkumpulan dan peribadatan dilakukan tidak secara rutin dan tidak dianggap sebagai suatu kebutuhan maka pada masa itu, perkumpulan dan peribadatan sempat terhenti.

    Beberapa waktu setelah perkumpulan dan peribadatan terhenti, kerinduan berkumpul dan beribadat sesuai dengan iman mereka kembali muncul. Kerinduan tersebut mengarahkan mereka akan kesepakatan bersama memanggil Pastor Dieggo Biiggelar OFM Cap (lebih akrab dikenal sebagai Op. Bornok Simbolon) dan menjadikan beliau sebagai Pemimpin dan pembimbing mereka. Semenjak saat itu, perkumpulan dan peribadatan yang semula dilakukan hanya sesekali dan di rumah salah satu dari mereka, berubah menjadi rutin dan dilakukan secara bergantian dari satu rumah ke rumah yang lain. Perkumpulan dan peribadatan dengan model demikian, menarik bagi orang-orang di sekitar mereka sehingga tidak beberapa lama, perkumpulan mereka berkempang secara pesat.

    Selama setahun berjalannya waktu dengan model perkumpulan dan peribadatan yang rutin dan bergilir, perkumpulan umat katolik yang awalnya hanya 8 orang Kepala Keluarga (KK) meningkat menjadi 50 orang Kepala Keluarga (KK). Dengan perkembangan tersebut, rumah-rumah yang dikunjungi tidak mampu menampung seluruh dari mereka dalam perkumpulan dan peribadatan. Demi dapat menampung seluruh umat saat itu dalam perkumpulan dan peribadatan, mereka menyepakati untuk mencari areal pertapakan untuk pembangunan gereja.

    Sekitar tahun 1955-an, salah satu dari mereka, merelakan tanah rumahnya untuk dibebaskan dan diganti rugi guna dijadikan pertapaan gereja. Lokasi tanah tersebut sangat strategis, tanah seluas 10 m x 60 m berada di Jalan Lintas Sumatera Utara Medan-Aceh Jl. Soekarno-Hatta Km 21. Pada Tahun 1959, mulai berdiri Gereja Katolik Binjai dengan nama pelindung Maria Immaculata yang diikuti dengan pendirian Gereja Katolik Paskalis Diski di Jalan Medan- Aceh Km 14,5. Pelayanan bagi umat pada masa ini, dilayani oleh para Pastor dari Paroki Katedral Medan.

    Seiring berjalannya waktu, perkembangan umat Katolik semakin bertumbuh. Di tahun-tahun awal setelah berdirinya Gereja Katolik Maria Immaculata Binjai (sekitar 1959 – 1970), beberapa Pastor dari Ordo Kapusin ikut serta dalam penggembalaan umat Katolik Binjai. Selanjutnya, sejak tahun 1970, sejumlah Pastor Missionaris dari Kanada seperti Pastor Magela PME, Pastor Josue Steidner OFMCap dan Pastor Gregori PME mulai menggembalakan dan memberikan pelayanan bagi Umat Binjai. Melalui penggembalaan para missionaris inilah, muncullah beberapa stasi yang berada di sekitar daerah Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai dan Kabupaten Langkat yang secara teritorial menjadi bagian penggembalaan Gereja Paroki Immaculata Binjai. Pada missionaris dari Kanada inilah yang memiliki andil besar dalam terbentukanya Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai.

    Pada masa penggembalaan para misionaris Kanada, pada tahun 1978, di Jl. Soekarno-Hata, dibangunlah sekretariat paroki dan juga pastoran. Dilanjutkan, pada tahun 1979, dilakukan renovasi bangunan gereja dari semi permanen menjadi permanen. Setahun setelah itu, pada tahun 1980, lahan gereja diperluas hingga 22m x 60 m. Di tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 1 Januari 1980 diresmikanlah Binjai – Langkat sebagai Paroki Baru di bawah Keuskupan Agung Medan dengan nama pelindung Maria Bunda Pertolongan Abadi.

    Meskipun dari sejarah awal tonggak berdirinya Paroki Binjai pada sekitar tahun 1950-an, terdapat fakta sejarah bahwa berdasarkan Liber Baptis Katedral Medan, terdapat peristiwa pembaptisan atas warga Binjai yang berlangsung pada tahun 1927. Dari hal tersebut, bila dasar tonggak sejarah Paroki pada Baptisan awal, maka tonggak berdirinya paroki Binjai adalah pada tahun 1927.

    Sejak tahun 1983 penggembalaan paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai diserahkan kepada imam diosesan Keuskupan Agung Semarang. Selama kurang lebih 40 tahun paroki MBPA Binjai digembalakan oleh imam-imam diosesan Keuskupan Agung Semarang, yang bekerja sama dengan imam diosesan Keuskupan Agung Medan hingga sampai perkembangan paroki pada saat ini.

    Pada tanggal 24 juni tahun 2022, penggembalaan paroki MBPA Binjai diserahkan kepada Biarawan Ordo Karmelit Tak berkasut (OCD). Uskup Agung Semarang secara resmi menarik seluruh imam diosesan KAS yang berkarya di KAM. Pada saat itu juga, Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung secara resmi memberikan penggembalaan Paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai kepada OCD. Adapun pastor yang melayani di paroki MBPA Binjai saat ini yaitu RP. Ibrahim Riberu, OCD sebagai pastor paroki dan RP. Theodorus Goli Ruing, OCD sebagai vikaris parokial.

    Perkembangan umat di paroki Maria Bunda Pertolongan Abadi Binjai terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini bisa dilihat dari pemekaran Paroki St. Paulus Pangkal Brandan pada tahun 2003 dan pemekaran kuasi paroki St. Paskalis Diski pada tahun 2018.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Rantauprapat

    Pelindung : Santo Petrus Rasul
    Buku Paroki : Sejak 15 Agustus 2015. Sebelumnya bergabung dengan Aek Nabara
    Alamat : Pastoran Katolik, Jl. Pelita III, Kab. Labuhan Batu, Rantauprapat– 21413
    HP / WA : 0822 7488 9542
    Email : [email protected]
    Jumlah Umat : 555 KK / 2.328 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)
    Pastor Paroki : RP. Nasarius Rumairi Marilalan, SX 01-12-1969
    Vikaris Parokial : RP. Adventus Ignatius Zalukhu, SX 20.12.'74
    Jumlah Stasi : 8
    Gereja Stasi : St. Tarsisius Aek Putat St. Filipus Neri Meili Julu
    St. Dionisius Nahula Julu St. Bonaventura Pondok Papan St. Yosep Pekerja Sigambal
    St. Yohanes Pembaptis Suka Makmur St. Antonius dari Padua Sumber Mulyo Sta. Maria Diangkat ke Surga Tapian Nauli SR
    Jadwal Misa
    Harian Selasa-Jumat 06:00 WIB
    Sabtu (Ada misa bila anak sekolah/ asrama putra dan putri dalam masa bersekolah. Bila libur anak sekolah, misa di hari sabtu ditiadakan) 18.00 WIB
    Hari Minggu 08:00 WIB 11:00 WIB (khusus jika ada Sakramen Baptis)
    Malam Natal / Vigili Natal 18:30 WIB Paroki & Stasi
    Hari Raya Natal 09:00 WIB Paroki
    Malam Tahun Baru 20:00 WIB (Paroki) 19:00 WIB (Stasi)
    Tahun Baru, Hari Minggu Paskah 08:00 WIB (Paroki) 09:00 WIB / 11:00 WIB (Stasi)
    Rabu Abu 06:00 WIB & 17:00 WIB (Paroki) 17:00 WIB (Stasi)
    Kamis Putih & Sabtu Suci 18:00 WIB Paroki & Stasi
    Jumat Agung 15:00 WIB Paroki & Stasi
    *Jadwal misa bisa berubah sewaktu-waktu, silahkan dihubungi kontak sekretariat paroki yang bersangkutan, terima kasih.

    Sejarah Paroki St. Petrus Rasul - Rantauprapat

    Rantauprapat mengalami perkembangan pesat dengan adanya jalur transportasi darat yaitu jalan darat Lintas Timur dan jalur Kereta antara Medan dan Rantauprapat sangat lancar. Jalur Kereta api sudah ada sejak zaman Belanda, karena adanya perkebunan di sekitar Rantauprapat. Sedangkan jalur kereta api Rantauprapat - Dumai sedang dalam pekerjaan. Bahkan pemerintah juga sudah merencanakan pembangunan Bandar Udara di Aek Nabara.

    Karena perkembangan begitu pesat, Labuhan Batu dimekarkan menjadi 3 Kabupaten, dan Rantauprapat tetap menjadi ibukota Kabupaten Labuhanbatu Induk, dengan jumlah penduduk sekitar 494.178, (sensus penduduk tahun 2019). Dan penduduk kecamatan Rantauprapat Utara dan Selatan Sebanyak 167.874 jiwa.

    Adapun teritorial paroki St. Petrus Rasul, Rantauprapat, terletak di tiga Kabupaten berbeda, (2 Stasi terletak di Kabupaten Padang Lawas Utara, 1 stasi di Kabupaten Labuhanbatu Utara), merupakan pemekaran dari Paroki St. Fransiskus Asisi, Aek Nabara. Paroki Rantauprapat bagian Selatan berbatasan dengan Paroki Aek Nabara, bagian Barat berbatasan dengan Paroki Padang Sidempuan, Keuskupan Sibolga, dan bagian Utara berbatasan dengan Paroki Aek Kanopan, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Labura.

    Pada tahun 2013, Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap mengeluarkan surat keputusan untuk menjadikan Stasi Rantauprapat, Paroki Aek Nabara menjadi Paroki baru. Maka, menanggapi SK Uskup Agung Medan itu, Pastor Paroki Aek Nabara, RP. Nasarius Rumairi M. SX, langsung membentuk panitia, untuk mengambil langkah-langkah konkret menuju pendirian Paroki Rantauprapat, di Keuskupan Agung Medan.

    Maka, diputuskan untuk membangun segera, kantor Paroki atau Pastoran, atau disebut dengan istilah Catholic Center, Rantauprapat, dengan persetujuan Uskup Agung Medan. Pada tanggal 2 Desember 2014, peletakan batu pertama yang dihadiri oleh Bupati Labuhan Batu, Bapak Tigor Panusunan Siregar dan Mgr. Emeritus Alfred G. Pius Datubara OFMCap, dan umat dari stasi-stasi terdekat serta dewan Pastoral Paroki Aek Nabara. Pada tanggal 15 Agustus 2015, SK pendirian Paroki Rantauprapat secara resmi dikeluarkan oleh Uskup Agung Medan. Dan, pada tanggal 8 Mei 2016 dilaksanakan pemberkatan Gedung Catholic Center, Rantauprapat oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga OFMCap. Pemakaian istilah Catholic Center hanya untuk alasan teknis, supaya dikenal oleh masyarakat dan pemerintah setempat, dengan perbandingan dan kenyataan bahwa di setiap kabupaten di Sumatera Utara secara khusus dan Indonesia secara umum terdapat Islamic Center.

    Adapun Dewan Pastoral Paroki Rantauprapat dibentuk berdasarkan konsultasi dengan Vikjen KAM, pastor Paroki Aek Nabara, dan Dewan Paroki Aek Nabara. Maka, disepakati bahwa yang menjadi anggota Dewan Pastoral Paroki St. Petrus Rantauprapat adalah semua anggota dewan pastoral Paroki Aek Nabara yang berdomisili di Rantauprapat, dengan persetujuan dari masing-masing anggota DPP dan sekitarnya, ditambah dengan beberapa anggota baru, dari stasi-stasi dan lingkungan. Wilayah Paroki Rantauprapat adalah Rayon Rantauprapat yang masuk dalam Paroki Aek Nabara. Rayon Rantauprapat, yang kemudian menjadi Paroki Rantaurapat terdiri dari 8 stasi dan 11 lingkungan. 4 stasi yang umatnya adalah mayoritas dari etnis Nias, sedangkan stasi-stasi dan lingkungan lainnya berasal dari berbagai etnis.

    Setelah Paroki Rantauprapat diresmikan, maka Pastor Paroki Aek Nabara, P. Nasarius Rumairi menjabat sebagai administrator Paroki Rantauprapat, yang kemudian menjadi parokus pertama, sambil melanjutkan pembangunan Gua Maria dan rencana renovasi bangunan Gereja. Pada peresmian dan pemberkatan Gedung Catholic Center, Uskup Agung Medan, meminta kepada pastor paroki untuk membangun Gua Maria, demi meningkatkan devosi umat, serta memperbesar atau merenovasi gedung Gereja Paroki yang sudah ada tetapi belum bisa menampung semua umat Paroki. Pada bulan April 2018, Paroki Rantauprapat mempunyai pastor Paroki sendiri, dan dibantu oleh para pastor dari Aek Nabara.

    Sebelum paroki Aek Nabara berdiri pada tahun 1978, di Rantauprapat sudah ada kelompok umat yang menjadi cikal bakal Stasi Rantauprapat yang dilayani dari Aek Kanopan dan Tanjung Balai. Kelompok umat dari Etnis Jawa, Tionghoa, dan Batak, terbentuk pada tahun 1954. Pada tahun 1955, umat di Rantauprapat membeli sebidang tanah di Padang Matinggi, dan membangun Gereja pertama di Rantauprapat. Setahun kemudian, Gereja rampung dibangun dan diberkati oleh Vikaris Apostolik Medan (pada masa itu), Mgr. Mathias Leonardus Trudon Brans OFMCap, dengan jumlah umat 16 KK.

    Pada tahun 1965, jumlah umat sudah 20 KK, atau 80 jiwa dan pada tanggal 4 April 1965, diadakan perayaan/penerimaan Sakramen Krisma pertama. Pada tanggal 3 Februari 1980, gereja yang didirikan di Padang Matinggi terbakar. Adapun penyebab kebakaran tersebut tidak jelas diketahui, tetapi umat menduga bahwa kebakaran itu adalah ulah orang yang tidak beranggung jawab. Sejak saat itu, umat melakukan ibadat dari rumah ke rumah. Situasi ini, semakin menguatkan umat dan berkembang dalam jumlah serta kualitas iman. Umat kemudian mencari pertapakan tanah untuk membangun Gereja baru. Pembangunan gereja baru selesai pada tahun 1982, dan diberkati oleh Uskup Agung Medan, Mgr. A.G.Pius Datubara OFMCap pada 15 Mei 1982. Adapun daya tampung gereja itu adalah sekitar 200 orang.

    Sejak saat itu, jumlah umat Katolik makin berkembang. Bangunan Gereja yang baru diberkati tahun 1982, dirasa tidak memadai lagi. Para Suster KYM mulai membangun sekolah di Rantauprapat. Umat stasi Rantauprapat bersama dengan para pastor Misionaris Xaverian dari Paroki Aek Nabara memutuskan membangun gereja baru yang bisa menampung umat lebih banyak. Peletakan batu pertama dilaksanakan 1994, yang dipimpin Mgr. A.G. Pius Datubara OFMCap bersama dengan pastor paroki Aek Nabara. Pembangunan Gereja berjalan dengan lancar. Umat begitu antusias memberi sumbangan. Pembangunan gereja akhirnya rampung dan diberkati oleh Mgr. Pius Datubara OFMCap pada 18 Juni 1995.

    Pada tahun 2006, ketika perayaan 50 tahun berdirinya Stasi Rantauprapat, jumlah umat sudah 210 KK, atau sekitar 1000an jiwa. Dengan kehadiran Sekolah Bintang Timur dan Asrama Putri di Rantauprapat, sangat membantu dalam pewartaan iman. Para guru dan para suster KYM juga sangat aktif dalam perwartaan di lingkungan dan stasi-stasi.

    Pada tahun 2014, secara resmi berdiri lagi dua stasi, yaitu stasi Nahula Julu (Kabupaten Paluta, Padang Lawas Utara) dan Meilil Julu. Umat kedua stasi ini berasal dari Etnis Nias. Kunjungan dan pelayanan dilakukan oleh para pastor dari Aek Nabara. Pertambahan umat di kota Rantauprapat semakin meningkat dengan kehadiran para pegawai pemerintah atau perusahan-perusahaan perkebunan. Selain itu, adanya pemekaran kabupaten, Labuhan Batu menjadi tiga kabupaten, juga ikut mempengaruhi pertambahan jumlah umat di rantauprapat. Mereka (umat) yang tinggal di Medan, ada juga yang mulai menetap di Rantauprapat. Hal tersebut menjadi tanda-tanda positif mengenai perkembangan umat di Rantauprapat.

    Akhirnya, pada tahun 2014, Bapak Uskup, Mgr. Anicetus B. Sinaga, OFMCap, memutuskan dan mempersiapkan pendirian Paroki Rantauprapat. Dan, secara resmi, Paroki Rantaurapat berdiri pada tahun 2015. Paroki Santo Petrus Rasul Rantauprapat dilayani oleh Para pastor dari Serikat Misionaris Xaverian. Tanggal 13 Juli 1988 kongregasi KYM membuka komunitas Antonius van Erp di Rantau Parapat untuk mengelola TK, SD, SMP dan SMA Bintang Timur.

    DAFTAR STASI-STASI PAROKI RANTAUPRAPAT

    1. Stasi Santo Yosef Pekerja, Sigambal, berdiri tahun 1979. Bermula dari 18 keluarga dari HKBP datang dan meminta kepada Pastor untuk bergabung dengan Gereja Katolik. Pastor Marini SX saat itu pergi menemui pendeta dan menyampaikan masalah itu. Pendeta, menanggapi dengan mengatakan bahwa itu adalah kehendak mereka.
    2. Stasi Santa Maria diangkat ke Surga, Tapian Nauli Suka Ramai. Stasi ini merupakan pemekaran dari Stasi Santa Monika, Tanjung Harapan, Paroki Aek Nabara, yang berdiri tahun 1974.
    3. Stasi Santo Antonius Padua, Sumber Mulyo. Umat Katolik sudah hadir di sana pada tahun 1977, dan beribadat dari rumah ke rumah. Dan secara resmi, Gereja berdiri pada tahun 1981. Dan Gereja permanen diresmikan dan diberkati pada tahun 2000 oleh Vikjen KAM, Paulinus Simbolon. Stasi ini terletak di Kabupaten Labura.
    4. Stasi Santo Bonaventura, Pondok Papan, berdiri pada tahun 1995.
    5. Stasi Yohanes Pembaptis, Suka Makmur, berdiri pada tahun 1983.
    6. Stasi Santo FIlipus Neri, Melil Julu, berdiri 2014.
    7. Stasi Santo Tarsisius, Aek Putat Nias, berdiri pada tahun 1991.
    8. Santo Dionisius, Nahula Julu, berdiri tahun 2014.
    Stasi nomor 5-8, mayoritas umatnya dari etnis Nias.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Lintongnihuta

    Pelindung
    :
    Santo Koenrad Parzam
    Buku Paroki
    :
    Sejak 1 Juli 1937. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Balige
    Alamat
    :
    Jl. Sisimangaraja No.19, Onan Baru, Lintongnihuta - 22475
    Telp.
    :
    0823 6243 2219
    Email
    :
    [email protected]
    Jumlah Umat
    :
    371 KK / 1.616 jiwa
    (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi
    :
    1
    01. Nagasaribu
     
     
    RP. Krispianus Kia Anen, SVD
    05.09.’67
    Parochus
    RP. Korinus Budaya, SVD
    05.02.’83
    Vikaris Parokial

    Sejarah Paroki St. Koenrad Parzam Lintongnihuta

    Tahun 1934, Gereja Katolik mengawali misinya di Tanah Batak, di daerah Balige. Tiga tahun kemudian para misonaris membawa warta keselamatan /Injil ke Pulau Samosir, wilayah Silindung dan Lintongnihuta.
    Tanggal 01 Juli 1937, P. Diego Van den Biggelaar, OFM. Cap, P. Radboud Wattereus, OFM. Cap, P. Marianus Van Den Acher, OFM.Cap, dan P. Oscar Nuitjen, OFM. Cap mengawali misi pekabaran injil di Lintongnihuta. Dan tanggal 01 Juli 1937 sebagai hari berdirinya Paroki St. Koenraad Parzham Lintongnihuta. Sekalipun demikian Paroki ini masih dilayani dari paroki Balige samapi tahun 1953.
    Sejak berdirinya, paroki sudah dua kali mengalami pemekaran, yakni Paroki St. Fidelis Dolok Sanggul dan Paroki St. Kristoforus Siborongborong. Sejak tahun 2013 Paroki ini terdiri dari dua stasi, stasi Lintongnihuta/pusat dan stasi St. Petrus Nagaseribu. Keadaan umat per-September 2020 berjumlah 363 kepala keluarga dengan jumlah 1.656 jiwa. (data BIDUK).
    Tahun 1979-2005 para gembala paroki berkomunitas di Paroki St. Fidelis Dolok Sanggul. Sekalipun demikian paroki ini tetap eksis sebagai paroki, memiliki Dewan Pastoral Paroki tersendiri. Tahun 2005 - 2013 gembala paroki menetap di Stasi Siborongborong. Sejak Siborongborong definitip menjadi paroki tahun 2013 Paroki St. Koenraad Parzham dan Paroki St. Kristoforus Siborongborong dilayani gembala/pastor yang sama.
    Tahun 2014, Paroki St. Koenraad Parzham Lintongnihuta, atas restu dari Yang Mulia Uskup Agung Medan membangun kantor paroki sendiri, sehingga pelayanan administrasi paroki menjadi lebih baik dan dilayani seorang sekretaris.

    Tahun

    Nama

    1937 – 1953

    Dilayani oleh Pastor dari Paroki Balige:

    -          P. Diego Van den Biggelaar OFMCap

    -          P. Radboud Wattereus OFMCap

    -          P. Marianus Van Den Acher OFMCap

    -          P. Oscar Nuitjen OFMCap

    -          P. Oemans OFMCap

    1953 – 1955

    -          P. Diego Van den Biggelaar OFMCap

    -          P. Dionisius Schots Makers OFMCap

    1956 – 1964

    -          P. Ausfidus Lifrink OFMCap

    -          P. Isodorus Krol OFMCap

    1964 – 1967

    -          P. Asterius Van Reen OFMCap

    -          P. Isodorus Krol OFMCap

    1967 – 1978

    -          P. Nilus Wiegmans OFMCap

    -          P. Radboud Wattereus OFMCap

    -          P. Willbert De Wit OFMCap

    -          P. Johennes Weldkamp OFMCap

    -          P. Antonius Siregar OFMCap

    1979 – 1988

    -          P. Maurits Van Reen OFMCap

    -          P. Thomas Van Heuvel OFMCap

    1989 – 1993

    -          P. Antonius Siregar OFMCap

    -          P. Richard Sinaga OFMCap

    -          P. Ludovikus Siallagan OFMCap

    1993 – 1995

    -          P. Aloysius Uran OFMCap

    -          P. Petrus Sianipar OFMCap

    -          P. Arnold B. Sinaga OFMCap

    -          P. Oktavianus Situngkir OFMCap

    1995 – 1998

    -          P. Ezra Sussanto, SVD

    -          P. Ludovikus Joko, SVD

    1998 – 2000

    -          P. Josef Djaga Dawan, SVD

    -          P. Krispianus Kia Anen, SVD

    2000 - 2003

    -          P. Joseph Buku Bala, SVD

    -          P. Joseph Waryadi, SVD

    2003 – 2005

    -          P. Gabriel Madja, SVD

    -          P. Flavianus Levi Lidi, SVD

    2005 – 2012

    -          P. Flavianus Levi Lidi, SVD

    2013 – 2017

    -          P. Viktorianus Yanto Laung, SVD

    -          P. Yohanes Antonius Lelaona, SVD

    2017 – 2018

    -          P. Krispianus Kia Anen, SVD

    -          Bruder Nando, SVD

    2017 - sekarang

    -          P. Krispianus Kia Anen, SVD

    -          P. Yohanes W. Seran, SVD

    No.

    Nama Pelindung Stasi dan Tanggal Pesta/Peringatan

    Nama Lingkungan

    Tanggal Pesta/ Peringatan Pelindung

    Tahun Berdiri

    1

    St. Koenread
    Parhzam Lintongnihuta

    (21 April)

    1. St. Arnoldus Yansen, Pasar Baru –Sibatubatu

    2.   St. Filipus, Pasar Baru – Parulohan

    3.  St. Petrus, Pasar Lama

    4. St. Stevanus, Pargaulan

    5. St. Fransiskus Asisi, Pargaulan

    6. St. Lusia, Hutatua - Simpang Tolu

    7.  St. Agustinus, Silaban

    8.St. Yosef, Hutagurgur

    9.St. Maria, Sosor Mual

    10.St. Paulus Siguriguri

    11.St. Yohanes, Sitapean

    12.St. Laurensius, Paranginan

    15 Januari

     

     

    03 Mei

     

    22 Februari

    26 Desember

     

    04 Oktober

     

    13 Desember

     

    28 Agustus

    19 Maret

    01 Desember

    29 Juni

    24 Juni

    10 Agustus

    1937

    2

    St. Petrus Nagaseribu
    (22 Februari)

    1. St. Petrus

    2. St. Maria

    22 Februari

    01 Januari

     

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Tanjung Balai

    Pelindung Santo Mikael
    Buku Paroki Sejak 1 Oktober 1947. Sebelumnya Rusak.
    Alamat Jl. Gereja 12, Tanjung Balai - 21312
    HP / WA 0623-92047 / 0813 1141 9075
    Email [email protected]
    Jumlah Umat 1.168 KK / 4.695 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)
    Pastor Paroki RP. Valentinus Genekoraya Kolin, CMF 14.02.‘82
    Vikaris Parokial
    Jumlah Stasi 22
    Gereja Stasi St. Petrus Desa Pertahanan Hati Kudus Pulau Gapuk
    St. Gabriel Tangkahan Berombang St. Stefanus Tangkahan Limau St. Paulus Sei Lebah Pasar VII
    St. Yosef Pasar X Sta. Maria Simpang Empat Sta. Theresia Silomlom
    Jadwal Misa Gereja St. Mikael Paroki Tanjung Balai
    Harian Kamis (Adorasi) 18:00 WIB
    Sabtu (Malam Minggu) 18:00 WIB
    Hari Minggu 08:30 WIB Gereja Paroki
    Malam Tahun Baru 18:00 WIB
    Tahun Baru 08:30 WIB
    Rabu Abu & Sabtu Suci 18:00 WIB
    Kamis Putih 19:00 WIB
    Jumat Agung 15:00 WIB
    Minggu Paskah & Hari Raya Natal 08:30 WIB
    Malam Natal / Vigili Natal 19:00 WIB
    *Jadwal misa bisa berubah sewaktu-waktu, silahkan menghubungi kontak sekretariat paroki yang bersangkutan, terima kasih.
    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

    Paroki Balige

    Pelindung Santo Yosef
    Buku Paroki Sejak 1 Januari 1935. Sebelumnya bergabung dengan Sibolga
    Alamat Jl. Tandang Buhit No. 1, Kab. Toba 22313
    HP / WA 0632 – 21192 / 0813 9674 4755
    Email [email protected]
    Jumlah Umat 1.912 KK / 7.700 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)
    Pastor Paroki RP. Cypriano Barasa OFMCap 23.02.'76
    Vikaris Parokial RP. Andreas Aritonang OFMCap 22-07-1993
    Jumlah Stasi 28
    Gereja Stasi St. Paulus Rasul, Tarabunga Kristus Raja, Tambunan
    St. Thomas Rasul, Lumban Binanga Sta. Maria Ratu Rosario, Hutahaean St. Lukas Penginjil, Ujung Tanduk
    St. Matius Rasul dan Penginjil, Matio St. Yosef Suami Maria, Silaen St. Theodorus Trichinas, Pintu Batu
    St. Yohanes Rasul dan Penginjil, Sitorus St. Fransiskus Xaverius, Sibalingga St. Leo Agung, Sanipar
    Malaekat Agung Mikael, Hutagurgur St. Theodorus Tiro, Natolutali St. Gregorius Agung, Sigordang
    Sta. Elisabeth dari Hungaria, Sibide St. Andreas Rasul, Amborgang St. Fransiskus Asisi, Hulahuli
    St. Agustinus, Janji Matogu Sta. Maria Dikandung Tanpa Noda, Lumban Manurung St. Antonius dari Padua, Lumban Sitorus
    St. Christoforus Martir, Narumonda St. Padre Pio, Pangasean Sta. Maria Diangkat ke Surga, Pardomuan
    Kristus Raja, Paritohan St. Petrus Rasul, Sibuntuon Malaekat Agung Mikael, Sigaol
    St. Markus Penginjil, Sihubakhubak Sta. Clara Asisi, Siregar
    Jadwal Misa St. Yosef Balige
    Harian Senin - Rabu dan Jumat, Sabtu 06.00 WIB
    Kamis (khusus OMK) 18.00 WIB
    Minggu Sesi 1 08:00 WIB
    Sesi 2 10:00 WIB
    Malam Tahun Baru 19:00 WIB
    Misa Hari Raya Natal, Misa Tahun Baru 09:00 WIB
    Misa Rabu Abu, Kamis Putih & Sabtu Suci 19:00 WIB
    Jumat Agung 15:00 WIB
    Minggu Paskah 10:00 WIB
    Malam Natal / Vigili Natal 19:00 WIB
    *Jadwal misa bisa berubah sewaktu-waktu, silahkan menghubungi kontak sekretariat paroki yang bersangkutan, terima kasih.

    Sejarah Paroki St. Yosef | Balige

    1.1 Titik Awal Misi di Balige

    Deretan Bukit Barisan berdiri di sekeliling lembah hijau yang luas. Sebuah danau terbentang kebiruan terbentang di depannya. Kedua bentang alam ini membentuk Kawasan Danau Toba. Bentang alam yang telah melestarikan kehidupan orang-orang yang tinggal di dalamnya diturunkan dalam tradisi unik selama berabad-abad. Batak Toba adalah salah satu sub-etnis yang mendiami kawasan Danau Toba. Salah satu pusat kebudayaan masyarakat Batak Toba adalah Balige.

    Sejarah berdirinya paroki St. Yosef Balige pada hakikatnya adalah sejarah masuknya agama Katolik ke Tanah Batak itu sendiri. Sejarah ini dimulai pada 12 Agustus 1933, ketika Prefektur Apostolik di Medan (1921 – 1954), Mgr. Mathias Brans, OFM Cap berhasil mendapatkan izin untuk melakukan misi Katolik ke Tanah Batak (Batak Landen) dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Dengan demikian, terbukalah pintu misi Katolik di Tanah Batak yang sebelumnya terhalang oleh kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang melarang praktik zending ganda . Pada tanggal 8 Februari 1934, Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengutus seorang pastor untuk menetap di Balige. Pastor ini adalah Pastor Sybrandus van Rossum, seorang imam Kapusin berusia 30 tahun. Ketika Sybrandus van Rossum tiba di Balige pada tanggal 5 Desember 1934, Tanah Batak resmi menjadi daerah misi Katolik. Hari itu menandai titik awal keberadaan Gereja Katolik di Balige.

    Pastor Sybrandus van Rossum memilih Balige sebagai pos misi karena dua alasan. Alasan pertama adalah karena lokasi geografis yang merupakan pusat dan memiliki penduduk yang lebih padat dibandingkan daerah lain di Tanah Batak. Kedua, Nommensen telah memilih Tarutung sebagai pusat zending, sehingga Balige tetap membuka peluang bagi karya misionaris Katolik. Dengan keluwesan dan keterbukaannya dalam berkomunikasi, Sybrandus van Rossum mudah dan cepat untuk berhubungan dengan banyak orang.

    Memang, sejak awal Mgr. Brans telah berpesan kepada van Rossum untuk menjalin kontak dengan sebanyak mungkin orang, baik siang maupun malam.

    Perjumpaan Sybrandus van Rossum dengan masyarakat sekitar di tepi Danau Toba merupakan perjumpaan yang secara jenaka terekam dalam berbagai naskah, di mana dua orang nelayan yang sedang berlayar di danau itu terkejut melihat sosok orang asing menyapa mereka di tengah danau malam hari itu. Ternyata pertemuan itu sungguh bersejarah, karena dua nelayan itu, satu Protestan dan lainnya Parmalim, menjadi simbol pertemuan antara seorang Katolik dan dua kelompok besar masyarakat Batak saat itu.

    Sejak malam itu ratusan hingga ribuan orang telah datang kepada Sybrandus van Rossum di gubuknya di tepi danau untuk bertanya, berdiskusi, atau meminta bantuannya karena mereka percaya para misionaris datang untuk membawa kemajuan bagi peradaban mereka.Setelah itu, banyak orang mulai tertarik padanya sehingga mereka berbondong-bondong dari desa-desa sekitar Balige untuk menemuinya. Tujuan utama kedatangan mereka adalah untuk meminta agar sekolah segera dibuka. Pastor Sybrandus van Rossum melihat lebih dalam permintaan mereka dengan mengirim orang lain ke desa untuk melihat situasi sebenarnya. Jika ada prospek yang menjanjikan, mereka mulai dibimbing untuk mempelajari katekismus Katolik di rumah. Jika pembelajaran berjalan lancar, akan diupayakan untuk mendirikan tempat berkumpul sederhana, yang nantinya dapat digunakan sebagai gedung sekolah sekaligus gereja.

    Melihat perkembangan misi yang menjanjikan di Tanah Batak, maka untuk memperkuat jumlah personel, kepala misi Kapusin mengirimkan Pastor Diego van den Bigelaar, OFM Cap untuk ditempatkan di Balige. Pada tanggal 8 Januari 1935, Diego van den Bigelaar tiba dari Belanda ke Belawan.

    Pada tanggal 12 Januari 1935, Sybrandus van Rossum membaptis satu orang di Sigompulon Pahae , pada tanggal 10 Februari 1935 satu orang di Hutabarat, Tarutung dan satu orang di Lumbanpea Balige. Sementara itu, pada 27 Februari 1935, sekitar 50 orang datang secara rutin ke gereja. Tempat peribadatan di Tambunan Lumbanpea dilaksanakan di rumah salah satu anggota, yakni Ompu Hobul Tambunan. Sedangkan tempat peribadatan di Balige adalah Rumah Pertukangan Toba yang berada di tepi Danau Toba—yaitu rumah yang disewa oleh Pastor Sybrandus van Rossun.

    Baptisan massal pertama di Balige berlangsung pada tanggal 16 Mei 1935 di Lumbanpea Tambunan Balige, total 26 orang yang dibaptis. Setelah setengah tahun, tercatat ada sekitar 600 orangyang dibaptis di Balige dan ada sekitar 3200 katekumen. Yang dipermandikan kebanyakan anak-anak. Hal ini terjadi karena ada kebijakan misi yang mengharuskan orang dewasa untuk belajar lebih lama, sehingga anak-anak mereka dibaptis terlebih dahulu.

    Keinginan menjadi anggota Gereja Katolik tidak hanya datang dari desa-desa sekitar Balige tetapi juga dari masyarakat yang tinggal di Samosir, Humbang Hasundutan dan Silindung. Mereka memohon kepada pastor untuk datang ke sana juga. Atas permintaan tersebut, pada pertengahan Mei 1935, van Rossum untuk pertama kalinya menyeberang ke Pulau Samosir dan membuka stasi, yang dalam bahasa Batak Toba disebut huria pagaran.

    Menurut catatan Vikaris Apostolik Medan, pada Juli 1935, delapan stasi telah berdiri di sekitaran Balige. Kedelapan stasi tersebut adalah: 1. Stasi Tambunan, 2. Stasi Pintu Batu, 3. Stasi Lumban Manurung, 4. Stasi Lumban Sitorus, 5. Stasi Sibuntuon—lima stasi ini masih aktif sampai sekarang, dan tiga lagi sudah tutup, yaitu 1. Stasi Sitoluama, 2. Stasi Hauanatas, 3. Stasi Pardinggaran. Pada akhir tahun 1935, ada 3 imam yang menetap di Balige, antaralain: Pastor Sybrandus van Rossum OFM Cap, Pastor Diego van de Bigelaar OFM Cap dan Pastor Procopius Handgraaf OFM Cap.

    Pada tanggal 29 Oktober 1935, Misi Katolik membeli sebidang tanah milik Marinus Simanjuntak yang berada di pinggir jalan raya menuju Tarutung (sekarang Jalan Lintas Sumatera) yang di atasnya terdapat gedung bioskop, rumah dan gudang beras yang besar. Kemudian, gedung itu direnovasi menjadi gereja, pastoran dan sekolah . Tanah dan bangunan ini diberkati dan diresmikan oleh Mgr. Mathias Brans, OFM Cap pada tahun 1936 dengan nama pelindung St. Yosef.

    Melihat semakin bertambahnya jumlah anggota gereja Katolik di Tanah Batak, khususnya di daerah Samosir, pada tanggal 27 Januari 1936 Mgr. Brans menugaskan Pastor Diego van de Bigelaar sebagai imam yang khusus melayani di daerah Samosir. Sejak itu, ia mengintensifkan kunjungannya ke orang-orang di Samosir dan mulai tinggal di sana. Pada tanggal 15 April 1936, Bruder Archarius Rentinck, OFM Cap tiba di Belawan dan langsung ditempatkan di Balige sebagai tenaga ahli konstruksi untuk menangani semua gedung misi di Tanah Batak. Kemudian, ia segera mendirikan pusat pertukangan di tepi Danau Toba.

    Pada akhir November 1936, lima imam tiba di Belawan sebagai misionaris baru. Tiga di antaranya ditempatkan di Balige, yaitu: Pastor Dagobertus Sinnema OFM Cap, Pastor Lukas Randers OFM Cap dan Pastor Oscar Nuijten OFM Cap. Dalam laporan akhir tahun 1936, tercatat ada 5 imam dan 1 bruder yang tinggal di Pastoran Balige dan 37 lokasi huria pagaran, yang juga terletak di wilayah Lintongnihuta, Doloksanggul dan Tarutung.

    Dalam perkembangan selanjutnya, pada tanggal 8 Oktober 1937 dibukalah Paroki Sibuntuon Bagasan dan Pastor Sybrandus van Rossum ditugaskan untuk melayani paroki tersebut. Dengan demikian, tugasnya di Balige digantikan oleh Pastor Marinus Spanjers OFM Cap.

    1.2 Pendudukan Jepang Hingga Awal Kemerdekaan

    Misi Katolik tentu dipengaruhi oleh situasi politik. Pada tahun 1942, pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Ketika kekuasaan diambil alih oleh Jepang, orang-orang Belanda yang masih berada di Indonesia ditawan oleh tentara Jepang, termasuk juga para pastor yang bermarkas di Tanah Batak.

    Karena semua orang Belanda akan diasingkan, para misionaris mulai berpikir tentang bagaimana melayani orang-orang ketika mereka diasingkan. Pada suatu kesempatan, mereka mengadakan pertemuan untuk menunjuk sejumlah katekis, pemimpin jemaat selama misionaris berada di kamp-kamp tahanan Jepang. Langkah ini diambil karena umat Katolik pada waktu itu masih tergolong baru, bahkan sebagian besar masih katekumen.

    Untuk memudahkan koordinasi para katekis, atas usul Pastor Marinus van den Acker pada bulan Juli 1942 para katekis dikumpulkan di Balige untuk membentuk Badan Pimpinan Dewan Misi Darurat Katolik Wilayah Tapanuli. Badan ini bertujuan untuk membahas berbagai masalah yang terjadi di pelayanan, terutama masalah antar umat.

    Setelah badan ini terbentuk, Bonifacius Panggabaean diangkat sebagai ketua. Dalam pelayanan, katekis terkadang mengalami permasalahan dalam keorganisasian. Meskipun demikian, patut dibanggakan bahwa sebagian besar umat masih tetap semangat dan bertahan dalam kehidupan imannya, meskipun ada juga yang kurang semangat bahkan meninggalkan iman katoliknya. Beberapa katekis yang telah bertahun-tahun mengabdi dalam pelayanan bagi umat antara lain: Johannes Chrisostomus Calvin Tampubolon, JIA Situmorang, Bonifacius Panggabean, C Siagian, JM Samosir, R Pardede, J Sinaga, W Simangunsong dan S Silaban.

    Para katekis ini banyak mengambil alih tugas pelayanan imam seperti mengajar, membabtis, bahkan memberi pemberkatan perkawinan.

    Pada bulan Agustus 1945, tentara Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu dan harus kembali ke tanah airnya. Tiga hari setelah Jepang menyerah, rakyat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Orang Belanda yang menjadi tawanan Jepang dibebaskan termasuk para misionaris, tetapi tidak diizinkan untuk melayani umat. Sehingga katekis harus berusaha lebih keras dalam melayani umat.

    Karena misionaris sudah tidak diperbolehkan lagi melayani umat, Mgr. Brans mendatangkan seorang imam pribumi dari Keuskupan Agung Semarang yaitu Romo Stanislaus Sutapanitra SJ untuk mengabdi di Tanah Batak pada tahun 1948. Imam itu hanya bertugas selama 3,5 bulan di Tanah Batak karena ia kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat setempat. Kemudian pada bulan Agustus 1948, seorang imam baru didatangkan lagi, yaitu Agustinus Poedjahandaja, seorang imam diosesan dari Keuskupan Agung Semarang dan bertugas di Balige sampai Maret 1949.

    1.3 Babak Baru untuk Misi

    Selama tahun 1950-an situasi secara bertahap mulai membaik. Babak baru dalam sejarah misi sedang terjadi. Para misionaris mulai kembali bekerja secara teratur dan jumlah umat paroki terus bertambah. Peningkatan jumlah umat yang luar biasa itu bukan semata-mata karena pewartaan para imam, tetapi karena pewartaan umat sendiri.

    Melihat pesatnya perkembangan jumlah umat dan jarak antar stasi yang relatif jauh dari paroki, maka diusulkan untuk membuka sejumlah paroki baru. Usulan ini ditanggapi secara positif dan didukung penuh oleh Vikariat Apostolik. Maka pada tahun 1951 didirikan Paroki Doloksanggul yang merupakan anak dari Paroki Lintongnihuta dan Balige. Setahun kemudian, Paroki Parsoburan yang merupakan anak dari Paroki Balige didirikan . Pada tanggal 1 Agustus 1957, didirikanlah Paroki Tarutung yang juga merupakan anak dari Paroki Balige. Pendirian paroki-paroki baru ini berdampak besar pada pertumbuhan jumlah orang Batak yang memeluk agama Katolik karena pelayanannya semakin intensif.

    Dalam perkembangan selanjutnya, Paroki Sibuntuon Bagasan digabung kembali dengan Paroki Balige.

    Pada perkembangan selanjutnya sejumlah stasi yang telah didirikan, namun pada akhirnya harus dihentikan karena jumlah orang yang semakin berkurang. Pasalnya, sebagian besar penduduknya bermigrasi ke tempat lain atau berpindah agama. Sejumlah stasi yang akhirnya harus ditutup adalah Stasi Sitoluama, Stasi Pardinggaran, Stasi Haunatas, Stasi Barimbing, dan Stasi Meat.

    Selain pembukaan paroki baru, kehadiran tarekat hidup bakti—suster dan bruder—di paroki sangat mempengaruhi pelayanan iman umat. Suster-suster Kongregasi FCJM membuka komunitas di Balige pada tanggal 30 Mei 1938. Mulanya mereka mengadakan pelayanan kesehatan keliling dan membuka poliklinik di sekitar Balige. Kemudian pada tahun 1953, mereka mendirikan Sekolah Kejuruan Puteri (SKP).

    Frater CMM membuka komunitas di Balige sejak 31 Agustus 1950. Mereka mendirikan SMP Budi Dharma tahun 1950, Sekolah Keguruan (SGA) tahun 1953 dan SMA Bintang Timur Balige tahun 1956. Selain itu, para suster FCJM juga mengelola asrama putri dan para Frater SMM mengelola asrama putra. Asrama ini untuk menyediakan akomodasi bagi siswa sekolah tersebut yang tinggal jauh dari Balige.

    2.1 Kongregasi FCJM

    Dalam rangka meningkatkan dukungan bagi misi di Balige, pada bulan Februari 1934 Mgr. Brans mengunjungi biara Suster FCJM di Tanjung Balai untuk meminta para Suster FCJM membuka karya misi di Balige. Karena permintaan tersebut sesuai dengan visi kongregasi “Menjadi Saksi Cinta Hati Kudus Yesus dan Hati Kudus Maria”, maka pimpinan Suster FCJM menjawab kebutuhan Mgr. Brans.

    Pada tanggal 2 November 1936, Sr. M. Veronica Hartog dan Sr. M. Cypriana de Vogel tiba di Balige untuk memulai komunitas di Balige. Hal pertama yang mereka lakukan adalah belajar bahasa Batak. Selanjutnya mereka mencari rumah yang cocok untuk para suster. Pada tanggal 11 Desember 1937 Suster Magdala dan Sr. M. Cypriana ditugaskan untuk menjelajahi Balige. Pastor Spanyers membantu kedua Suster itu menemukan sebuah rumah. Tidak jauh dari pusat pasar Balige yaitu di Sangkarnihuta terdapat dua buah rumah batu yang indah yang saling berdekatan dengan taman luas yang bisa disewa. Maka pada awal tahun 1938 Muder M. Renata meminta Pastor Spayer untuk membuat kontrak dengan pemilik rumah sebelum 1 Mei 1938. Hal ini sesuai dengan kesepakatan bahwa para suster akan memulai pelayanannya di Balige pada tanggal 30 Mei 1938.

    Tanggal 30 Mei 1938 adalah hari dimulainya pemekaran komunitas dan karya FCJM di daerah misi di Tanah Batak. Di awal pekerjaannya, para suster membuat jadwal pelayanan kesehatan di sekitar Balige untuk menyembuhkan penyakit yang diderita banyak orang seperti disentri, malaria, cacing tambang, luka, dan kudis karena kebersihan yang kurang. Menggunakan fasilitas perawatan keliling, mereka mengunjungi stasi selama tiga hari dalam seminggu. Rata-rata jumlah pasien adalah 80-100 orang per kunjungan.

    Pada tahun 1942 Jepang menduduki Balige. Awalnya Jepang menginginkan rumah suster menjadi tempat tinggal mereka, tetapi berkat pengaruh keempat suster Jerman, rencana ini digagalkan. Oleh Jepang, rumah suster itu lantas ditunjuk sebagai lokasi rumah tawanan. Pastor van den Acker termasuk di antara mereka yang ditahan di rumah biarawati itu.Kesempatan ini menghibur para suster karena setiap hari mereka bisa menghadiri misa kudus.

    Tiga Imam dan seorang Bruder ditambah sembilan Suster ditahan di rumah Suster bersama dengan 50 orang Belanda lainnya. Pada bulan November 1942 semua suster Belanda harus ditahan di Medan dan meninggalkan Balige. Pada tahun 1943 rumah suster SCMM di Sibolga diduduki tentara Jepang, sehingga tiga suster SCMM bergabung dengan suster FCJM di Balige.

    Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, para suster yang ditawan oleh Jepang dibebaskan. Namun karena suasana berubah karena euforia kaum pribumi yang menikmati kemerdekaannya yang diwujudkan dalam sentimen anti asing, pada tanggal 20 Desember 1945, para suster di Balige menerima surat dari Pastor van den Acker yang menyarankan agar mereka segera meninggalkan Balige dan pergi ke Medan demi keselamatan.

    Pada tanggal 16 Mei 1951, dua suster perintis yang berani, Sr. M. Aleyda Bot dan Sr. M. Paauw datang lagi ke Balige untuk mempersiapkan diri dan memulai kembali pembenahan komunitas. Pada awal tahun ajaran 1951 di Komunitas Balige para suster dihadapkan pada kegiatan baru. Pada tahun 1953, SMP putri dibuka namun tidak dilanjutkan dan diganti dengan Sekolah Kepandaian Putri (SKP).

    Pada tanggal 15 Mei 1954, rumah suster dan pusat kesehatan dipindahkan dari Sangkarnihuta ke Pardede Onan (lokasi sekarang). Bangunan poliklinik lama kemudian digunakan untuk pelatihan postulan dan novis, sehingga jumlah suster bertambah. Pada tahun 1955 pembangunan rumah baru di Pardede Onan dimulai. Meski tidak semuanya selesai, namun pada 3 Juni 1956 diadakan pemindahan besar-besaran. 

    Sejak tahun 1989, karya pendidikan yang dikelola oleh para suster yang bertahan hingga saat ini adalah TK Assisi dan SD San Francesco. Para suster juga bekerja dalam pelayananlain: di poliklinik, di sekolah-sekolah yayasan keuskupan, dan di asrama putri St. Katarina untuk siswa sekolah menengah pertama dan atas. Selain itu, para suster juga aktif dalam bidang pastoral di paroki.

    2.2 Kongregasi CMM

    Pasca kemerdekaan, seiring dengan dimulainya babak baru misi di Balige, Mgr. Brans memandang perlu juga upaya memperkuat kerja misi pendidikan. Untuk itu, Mgr. Brans mengundang Kongregasi CMM untuk bekerja. Undangan ini mendapat respon positif dari Kongregasi CMM. Komunitas Frater CMM di Balige didirikan pada tanggal 31 Agustus 1950. Awalnya, hanya ada dua frater yang bekerja, yaitu: Frater Rudolf Ouddekken dan Frater Cyprianus de Beek, yang kemudian meninggal pada tanggal 23 September 1951.

    Kiprah CMM dimulai dengan mendirikan SMP, kemudian dilanjutkan dengan membuka SGA pada tahun 1952. Hingga tahun 1991, sekolah ini menghasilkan ratusan guru yang kemudian mengajar di sekolah dasar Katolik dan sekolah umum. Awalnya Frater tinggal di dekat gereja Katolik, dan pada tahun 1955 Frater pindah ke Soposurung, di mana gedung SMP dan SGA selesai dibangun.

    Di Soposurung, para frater mendapat rumah dari seorang dokter yang pernah bekerja di Balige sebelum Perang Dunia II, dan rumah ini masih dihuni para frater sampai saat ini. Saat mereka pertama kali pindah ke Soposurung waktu itu, jumlah frater ada enam orang. Dari tahun 1956 sampai 1970-an dibuka novisiat di Balige untuk calon frater dari Sumatera.

    Namun panggilan untuk wilayah Sumatera tidak terlalu berkembang, sehingga pada tahun 1970, novisiat Frater CMM Balige ditutup.

    Saat itu ada 4 frater Indonesia yang tinggal di Balige, yaitu Frater Fransiskus Simbolon, Frater Paulus Edja, Frater Albert Fau, dan Frater Martinus Waoma. Belakangan, Frater Fransiskus Simbolon dan Frater Martinus Waoma meninggalkan kongregasi. Frater Paul Edja dan Frater Albert Fau tetap berada di komunitas sampai meninggal.

    Karena jumlah frater di Sumatera sangat minim, sedangkan pekerjaan pendidikan, asrama, pembinaan kepemudaan, dan sebagainya membutuhkan banyak tenaga kerja, maka pada tahun 1982 tiga frater dari wilayah Maluku - Sulawesi diutus untuk membantu frater di Balige. Mereka adalah Frater Harold de Lange, Frater Pieter Janvan Lierop, dan Frater Herman Mandagi.

    Sampai saat ini Frater CMM masih berkarya di Paroki Santo Yosef Balige. Saudara-saudara bekerja di sekoalh (SMP dan SMA), asrama Budhi Dharma, SMA BTB, minishop dan pastoral. Biara Frater maish tetap di Soposurung dan saat ini ada 8 frater yang berada di komunitas Balige.

    3.1 Situasi Demografis 

    Pusat Paroki St. Yosef, Balige terletak di jantung Kota Balige yang sekarang menjadi ibu kota Kabupaten Toba. Lokasi ini tepatnya di Jalan Tandang Buhit Nomor 1, Desa Pardede Onan, Kecamatan Balige. Bangunan gereja paroki menghadap ke Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dan di belakang terdapat pastoran dan bersebelahan dengan biara Suster FCJM.

    Paroki St. Yosef, Balige terdiri dari satu gereja paroki dan 28 gereja stasi yang tersebar di wilayah Kabupaten Toba. Paroki ini terbagi menjadi 4 Rayon, yaitu: Rayon Balige yang terdiri dari 15 lingkungan, Rayon Laguboti terdiri dari 6 stasi, Rayon Porsea terdiri dari 13 stasi, dan Rayon Silaen terdiri dari 9 stasi.

    Pembagian rayon pada awalnya ditujukan ke wilayah kecamatan yang berkesempatan bertemu bersama di hari pekan (dalam bahasa Batak Toba disebut onan). Pada akhir pekan, pengurus gereja menjadwalkan sermon untuk setiap stasi di wilayah tertentu, misalnya onan Balige untuk kecamatan Balige dan Laguboti pada hari Jumat, onan Porsea untuk kecamatan Porsea dan Silaen pada hari Rabu.

    Seiring dengan pemekaran Kabupaten Toba, Rayon Laguboti saat ini meliputi Kecamatan Laguboti, Balige dan Tampahan. Rayon Porsea meliputi kecamatan Porsea, Bonatua Lunasi dan Parmaksian. Sedangkan Rayon Silaen masih hanya mencakup Kecamatan Silaen.

    Secara geografis, Paroki St. Yosef Balige berbatasan dengan Paroki St. Fidelis Parapat di sebelah Utara. Sebelah Barat dan Selatan berbatasan dengan Paroki St. Christophorus Siborongborong. Sebelah Timur berbatasan dengan Paroki St. Yosef Parsoburan.

    Pada awal berdirinya paroki ini, umat Katolik sebagian besar memiliki mata pencaharian petani tradisional dalam masyarakat agraris. Semakin berkembangnya daerah, semakin banyak pula umat bermata pencaharian lain seperti pedagang, pegawai/guru, dan sebagai buruh pabrik sarung dan ulos (tenun).

    Kawasan Balige telah lama dikenal sebagai kawasan pendidikan yang berpusat di Soposurung. Hingga saat ini, perkembangan Balige sebagai pusat pendidikan masih terus berlangsung. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya berbagai sekolah di daerah tersebut, misalnya SMP, SMA/ SMK dan Perguruan Tinggi. Selain kota pendidikan, Kota Balige juga dikenal sebagai kota industri tenun (ulos/sarung).

    Dengan kondisi ekonomi seperti ini, banyak orang datang ke Balige untuk mengenyam pendidikan atau bekerja sebagai guru, pedagang atau pegawai swasta. Sementara itu, banyak putra dan putri asli Balige pergi ke luar daerah/ luar negeri untuk melanjutkan pendidikan dan mencari penghidupan yang lebih baik. Dengan kondisi tersebut, perkembangan umat Katolik di Balige kini lebih didominasi oleh pendatang, dan hal ini semakin didukung dengan pemekaran pemerintah Kabupaten Toba dengan Balige sebagai ibukotanya, sehingga saat ini masyarakat yang berstatus antara pegawai atau guru mulai berimbang dengan petani dan kemudian karyawan.

    Sesuai dengan konteks demografi, maka salah satu adalah mengakomodasi tradisi dan budaya lokal dalam kegiatan-kegiatan liturgi, contohnya menginkulturasi Pesta Gotilon dalam misa khusus untuk ucapan syukur atas panen. Selain itu bentuk inkulturasi budaya juga diungkapkan lewat pemakaian alat-alat musik dan tarian tradisional Batak dalam perayaan-perayaan ekaristi khusus seperti pada Pesta Kristus Raja dan ulang tahun paroki atau stasi.

    Sebagai bagian dari kegiatan pelayanan pastoral, sejak tahun 1981 Paroki Balige mendirikan Credit Union Harapan Baru (CU-HB) yang dibentuk dengan tujuan meningkatkan ketahanan ekonomi umat paroki. Umat paroki didorong untuk menjadi anggota CU-HB yang merupakan lembaga keuangan mikro yang melayani peminjaman modal usaha bagi anggotanya.

    Akses terhadap modal usaha ini sangat penting bagi umat paroki, khususnya yang bermata pencaharian sebagai petani. Saat ini CU-HB telah berkembang dan memiliki anggota sebanyak 1.831 orang.

    3.1 Situasi Pastoral

    Saat ini, Paroki St. Yosef Balige masuk ke dalam wilayah Vikarat Episkopal Doloksanggul dengan Pastor Ambrosius Nainggolan, OFMCap sebagai Vikaris Episkopal. Reksa pastoral di Paroki St. Yosef Balige sejak berdiri sampai sekarang dilakukan oleh para imam Ordo Saudara Dina Kapusin (OFMCap). Saat ini Pastor Paroki adalah Pastor Monaldus Banjarnahor, OFMCap. Adapun imam-imam yang pernah mengabdi di Paroki St. Yoseph Balige secara Kronologis adalah sebagai berikut (semuanya dari ordo Kapusin kecuali disebutkan lain):

    1934 – 1946

    P. Sybrandus van Rossum
    P. Diego van den Biggelaar
    P. Procopius Handgraaf
    P. Marianus van den Acker
    P. Oscar Nuyten
    P. Lucas Raenders
    P. Anacletus Snyders
    P. Radboud Waterius

    P. Marians Spanipers
    P. Werenfridus Joosen
    P. Panduamus Kromeer
    P. Bernard van den Laar
    P. Jenniskers
    P. Ubaldus Esser
    P. Ausfriden Liefri

    1946 – 1970

    P. Pudjahandoyo (Pr-KAS)
    P. Sutapanitra (SJ)
    P. Beatus Jennikers
    P. Marianus van den Acker
    P. Oktavianus van den Klaar
    P. Nilus Weigmans
    P. Isodorus Woestenberg
    P. Godhard Liebreks

    P. Rocklus Rensens
    P. Isaias Krool
    P. Theodorus van Eyk
    P. Pancratius van Mechelen
    P. Straalen
    P. Remigius Bleijs
    P. Pius Datubara
    P. Wiro van Diemen

    1970 – 1980

    P. Asterius van Reen
    P. Johannes Simamora
    P. Elias Sembiring
    P. Hubertus Tamba

    P. Krool
    P. Leo Sipahutar
    P. Alfonsus Simatupang
    P. Thadeus

    1980 – 1999

    P. Dominikus Situmorang
    P. Justinus Tinambunan
    P. Anselmus Sihaloho
    P. Honorius Sihaloho
    P. Gabriel L. Tobing
    P. Asterius van Reen

    P. Bonifasius Simanullang
    P. Samuel Oton Sidin
    P. Marcelinus Manalu
    P. Carolus Sembiring
    P. Albinus Ginting
    P. Crispinus Silalahi

    2000 – 2002

    P.Thomas Sinabariba
    P. Hyginus Silaen

    P. Hugolinus Malau
    P. Fridolinus Simanjorang

    2000 – 2002

    P.Thomas Sinabariba
    P. Hyginus Silaen

    P. Hugolinus Malau
    P. Fridolinus Simanjorang

    2002 – 2004

    P. Markus Manurung
    P. Yosafat Ivo Sinaga

    P. Damianus Gultom

    2004 – 2006

    P. Louis Uran
    P. Yosafat Ivo Sinaga

    P. Damianus Gultom

    2006 – 2007

    P. Yosafat Ivo Sinaga
    P. Damianus Gultom

    P. Liberius Sihombing

    2007 – 2012

    P. Angelo Purba
    P. Arie van Diemen

    P. Ivan Siallagan
    P. Fransiskus Manullang

    2012 – 2018

    P. Leopold Purba
    P. Romualdus Limbong

    P. Eno Samosir
    P. Petrus Sinaga

    2018

    P. Ambrosius Nainggolan

    P. Petrus Sinaga

    2019 - 2022

    P. Monaldus Banjarnahor
    P. Petrus Sinaga

    P. Hotraja Purba

    3.1 Tata Kelola Administratif

    Sejak berdirinya Gereja Katolik Santo Yosef Balige, pencatatan administrasi secara konsisten dilakukan untuk kelengkapan pendataan. Catatan terdiri dari Pembaptisan, Penguatan, Komuni Pertama, Pernikahan, Pengurapan Orang Sakit, dan Kematian. Hal ini terlihat dari ketersediaan arsip pada saat dibutuhkan oleh pengurus paroki dan stasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

    Di bagian Liber Baptis, pendaftaran dimulai dari tahun 1935 hingga sekarang, pada tahun 2022. Hingga tahun 2022, paroki ini memiliki 12 Liber Baptist dengan rincian sebagai berikut: Liber Baptist I (1935-1940), Liber Baptist II (1940-1946), Liber Baptist Baptis III (1947-1966), Liber Baptist IV (1966-1980), Liber Baptist Va (1981-1986), Liber Baptist Vb (1986-1993), Liber Baptist Vc (1993-1995), Liber Baptist VI (1995- 2002), Liber Baptist VII (2002-2007), Liber Baptist VIII (2007-2014), Liber Baptist IX (2014-2020), Liber Baptist X (2020 hingga sekarang).

    Buku-buku baptisan ada dan konsisten dalam penomoran dan penulisan buku. Namun buku-buku lama masih menggunakan ejaan lama. Sedangkan yang baru telah ditulis sesuai dengan standar ejaan Indonesia (EYD) saat ini. Saat ini, pencatatan komputerisasi sedang berlangsung. Selanjutnya, buku baptisan, komuni pertama, krisma, pernikahan dan buku kematian harus berhubungan satu sama lain. Basis data untuk tiap buku sudah tertata dengan baik, namun perlu konsistensi dalam pencatatan. Catatan bahwa di semua stasi masih belum ada buku pencatatan baptis.

    Buku Sakramen Perkawinan tercatat dalam 6 bagian, antara lain: Buku Sakramen Perkawinan I (1935-1972), Buku Sakramen Perkawinan II (1972-1984), Buku Sakramen Perkawinan III (1984-2002), Buku Sakramen Perkawinan IV (2002-2012). 2011), Buku Sakramen Perkawinan V (2011-2018), Buku Sakramen Perkawinan VI (2018 sampai sekarang). Dari data tersebut, penerimaan Sakramen Perkawinan terbanyak dilaksanakan pada tahun 2007 sebanyak 112 pasangan.

    Berkas penyelidikan Kanonik berasal dari tahun 1948 hingga hari ini. Hal-hal yang berkaitan dengan berkas ini belum sepenuhnya tuntas, terutama pada awal berdirinya paroki ini dan baru selesai dalam 20 tahun terakhir. File ini tersimpan dengan baik dan rapi.

    Pada bagian pencatatan Buku Penguatan, paroki telah mencatat secara rinci dari tahun 1935 sampai sekarang. Hal ini tertuang dalam beberapa bagian Buku Krisma, antara lain: Buku Krisma I dan IA (1935-1983), Buku Krisma II (1993-2018), Buku Krisma III (2018 - sekarang). Di dalam buku itu terlihat jelas jumlah orang yang menerima Sakramen Penguatan dari tahun ke tahun. Antara tahun 1984 dan 1992, tidak ada penerimaan Sakramen Penguatan di paroki.

    Proses pencatatan orang yang menerima Komuni Pertama di paroki baru ada sejak tahun 2000. Sebelumnya, tidak ada data orang yang menerima Komuni Pertama. Dengan demikian, diharapkan lebih banyak perhatian diberikan pada pencatatan di masa depan.

    Secara keseluruhan, buku untuk pencatatan Komuni Pertama dalam kondisi baik dan pada umumnya memperlihatkan konsistensi penulisan dan penomoran. Meski demikian, masih terdapat ketidakkonsistenan dalam pencatatan di sebagian kecilnya.

    3.2 Statistik Umat

    Saat ini pengumpulan data statistik lengkap sedang berlangsung. Pengelolaan data dilakukan dalam sebuah database yang disebut Basis Integrasi Data Umat Keuskupan (BIDUK). Untuk sementara, database ini berisi entri dari 7.489 jiwa umat paroki. Rentang usia umat yang tercatat di database tersebut berkisar antara 0 hingga 104 tahun dengan rata-rata usia umat adalah 30,5 tahun. Mayoritas terbesar (~95%) umat paroki mengenyam pendidikan hingga sekolah menengah atas (SMA/SMK). Profesi yang banyak ditekuni masyarakat umumnya adalah petani tradisional, pengusaha/pedagang, guru, dan pegawai negeri. Sejumlah kecil lainnya bekerja sebagai karyawan di bisnis swasta. Masih banyaknya data yang belum terisi lengkap dalam formulir BIDUK membuat sulitnya memperoleh statistik deskriptif holistik pada profil umat. Namun dewan paroki masih terus melakukan pengisian data untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai data umat paroki.

    Video Profil :

    Lokasi Paroki :

    Paroki Aek Nabara

    Pelindung Santo Fransiskus Asisi
    Buku Paroki Sejak November 1978. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Aek Kanopan/Kisaran
    Alamat Pastoran Katolik, Jl. Ampera No. 1, Labuhan Batu, Aek Nabara – 21462
    HP / WA 0811-6152-178
    Email [email protected]
    Jumlah Umat 1.139 KK / 4.820 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi 27
    Pastor Paroki RP. Yonas Sandra Mallisa, SX 22-01-1983
    Vikaris Parokial RP. Amandus Rejino Santoso SX 31-07-1980
    Gereja Stasi
    Sta. Maria dari Fatima, Kampung Padang St. Yosep, Kampung Kristen St. Gregorius Agung, Sei Parapat
    Sta. Monika, Tanjung Harapan Sta. Anna, Sei Tarolat St. Bonifasius, Sei Keluang
    St. Matius Penginjil, Pangkatan Sta. Theresia dari Kanak2 Yesus, Sei Abal Yohanes Penginjil, Bunut
    St. Vincentius De Paul, Kampung Jawa Pasar St. Mikael, Tangkahan Pasir Seberang St. Yakobus, Sei Pelancang
    Sta. Klara dari Asisi, Kampung Jawa Seberang Sta. Maria Goreti, Kampung Pelita St. Fransiskus de Salles, Sijambu Kanan
    St. Petrus Kanisius, Kampung Beringin St. Agustinus dari Hippo, Simpang 45 Sta. Sesilia, Sipege
    St. Andreas Rasul, Parsaoran Sennah St Guido maria Conforti, Selat Cina Hati Kudus Yesus, Tanjung Marulak
    Kristus Raja, Negeri Lama St. Markus Penginjil, Darussalam
    St. Yohanes Don Bosco. Sei Tampang St. Fransiskus Xaverian, Sei Bunga
    Jadwal Misa
    Harian Selasa - Sabtu 18:00 WIB
    Jumat Pertama 18:00 WIB
    Minggu Sesi 1 07:00 WIB
    Sesi 2 11:00 WIB

    Sejarah Paroki St. Fransiskus Asisi, Aek Nabara

    Sekitar tahun 1932, umat Katolik sudah ada di wilayah Wingfoot. Hal itu nyata dengan keberadaan Bapak Petrus Nainggolan bersama beberapa keluarga yang sudah mengadakan Ibadat di rumah-rumah keluarga. Kemudian, Pastor Misionaris dari Tanjung Balai datang untuk mencari umat dan mewartakan Injil kepada mereka. Namun, karena jarak yang sangat jauh dan kondisi jalan yang sangat parah membuat pelayanan dari misionaris menjadi kurang maksimal. Ketika itu pelayanan sakramen-sakramen sangat jarang. Untuk menjamin kebaktian di Wingfoot, maka Pastor menetapkan beberapa umat untuk memimpin Ibadat. Situasi bangsa Indonesia pun masih berada dalam tekanan penjajah. Baru kemudian sekitar tahun 1950-an umat Katolik dapat merayakan ibadat Sabda Hari Minggu dan perayaan Ekaristi di Wisma Perkebunan Good Year PTP III (Perusahaan Terbatas Perseorangan) Wingfoot. Pada waktu itu umat Katolik belum juga memiliki gedung gereja. Jumlah keluarga-keluarga yang berhimpun diperkirakan ±32 keluarga. Di antara umat yang sudah ada pada waktu itu, termasuk Dr. Robinson dan Dr. Seto, keduanya berkebangsaan Amerika yang menjadi anggota Gereja Katolik PTP III.

    Selain dari Tanjung Balai, imam yang melayani sakramen-sakramen pada waktu itu datang dari Parapat; di antaranya ialah Pastor Pius Datubara, OFMCap yang kemudian menjadi Mgr. Pius Datubara, OfmCap. Pastor Pius bersama para Frater Kapusin datang untuk melayani umat di PTP III Wingfoot. Pada saat jadwal kunjungannya, mereka menginap di rumah umat. Dari situ mereka pergi ke stasi-stasi untuk merayakan Ekaristi dan pembinaan umat. Para pastor dari Tanjung Balai yang pernah melakukan pelayanan sakramen dan kunjungan pastoral ialah Pastor Arie Van Diemen, OFMCap, Pastor Meinrad Manser, OFMCap, P. Scheven, OfmCap; dan P. Beatus Jenniskens, OFMCap yang lama berkarya di Aek Kanopan.

    Upaya untuk memandirikan umat sangat tampak melalui pencarian tanah untuk pendirian gedung gereja. Sekitar tahun 1960-an diperoleh sebidang tanah di Jl. Rantau. Di lokasi ini didirikanlah gereja yang sangat sederhana/darurat. Vorhangernya ialah bapak Emanuel Pangaribuan yang akhirnya pindah ke gereja Protestan dengan alasan tertentu. Ketika gereja berada di tempat ini, umat digembalakan oleh pastor dari Paroki St. Mikael Tanjung Balai-Asahan, Kisaran, dan kemudian Aek Kanopan. Di antaranya pastor yang pernah berkarya adalah P. Remigius Pennoch, OFMCap, P. Schepens, OfmCap, P. Luigi Magnasco, SX, P. Francesco Marini, SX dan P. Arie Van Diemen, OFMCap. Setelah gereja berdomisili di Jl. Rantau tidak dapat diketahui dengan pasti berapa jumlah umat atau keluarga Katolik yang bertambah; yang pasti umat bukanlah bertambah tetapi semakin berkurang dan berjumlah hanya ±12 keluarga.

    Ketidakamanan negara pada waktu itu sangat mempengaruhi keberadaan gereja. Penyebab utama berkurangnya jumlah umat adalah Gerakan 30S-PKI dan Zending Protestan yang sudah datang lebih dahulu sebelum Katolik. Para Pendeta dari Parapat sedang gencar ke kampung-kampung termasuk ke Wingfoot untuk mengajak orang masuk ke agama Protestan. Sedangkan pada waktu itu, kunjungan para pastor sangat jarang sekali. Sehingga dalam situasi seperti ini, antara tuntutan masyarakat, hidup beragama dan kunjungan pastor yang jarang, membuat beberapa umat Katolik akhirnya pindah ke gereja Protestan sebab anaknya harus dibaptis atau karena pernikahan.

    Sekitar tahun 1970-an, umat memohon kepada pihak Perkebunan agar membantu Gereja Katolik untuk memiliki sebidang tanah agar dapat mendirikan bangunan gereja yang permanen. Namun permohonan mereka pada waktu itu tidak dikabulkan. Baru dua tahun kemudian, setelah Pak Sudrajat yang adalah Inspektorat di Aek Kanopan pindah ke Aek Nabara menjadi ADM perkebunan, memberikan izin pendirian Gereja Katolik di tanah Jl. Ampera-Aek Nabara. Di sini dibangunlah gereja permanen. Ketika gereja berada di Jl. Ampera sekitar tahun 1973, reksa pastoral gereja ini ditanggungjawabi oleh Pastor dari Paroki St. Pius X Aek Kanopan.

    Pada tanggal 1 Mei 1975, Paroki Aek Kanopan dibuka secara resmi dengan dengan bangunan Pastoran yang sangat sederhana di kota itu, dan pelayanan pastoral meliputi daerah Aek Kanopan dan Aek Nabara dengan semua stasi-stasinya yang sudah dibuka. Penting diperhatikan bahwa, sejak waktu itu sudah ditentukan, batas-batas wilayah pelayanan Paroki Aek Nabara, dan meskipun pelayanan pastoral masih berasal dari Paroki Aek Kanopan, namun sudah mulai diisi 2 Buku Permandian dan 2 Buku Perkawinan, satu untuk Paroki Aek Kanopan dan satu lagi untuk Paroki Aek Nabara. Hal ini dibuat karena sudah ada rencana yang jelas dari Uskup untuk membuka Paroki Aek Nabara sesegera mungkin, dan tinggal menunggu Pastor-Pastor dari Serikat Xaverian (SX) yang sudah berjanji akan datang berkarya di Keuskupan Agung Medan.

    Pastor yang pertama yang ditugaskan di Keuskupan Agung Medan adalah P. Luigi Magnasco, SX yang mulai belajar Bahasa Batak Toba di Palipi pada tahun 1976. Dan pada tahun itu, P. Germano Framarin, SX juga telah dipindahkan dari Keuskupan Padang ke Keuskupan Agung Medan dan akan berkarya disitu sesudah kembali dari cuti di Italia. Maka sebelum berangkat cuti ke Italia, P. Germano bersama dengan seorang Pastor SX lain berkunjung ke Palipi pada bulan Agustus 1976. Mereka berjumpa dengan P. Luigi Magnasco yang sedang belajar bahasa Batak; kemudian mereka pergi bersama melihat Daerah Labuhan Batu yang kemudian akan menjadi tempat karya mereka di tahun berikut. Pada waktu itu yang bertugas di Aek Kanopan hanya P. Beatus Jenniskens, OFMCap dan P. Arie Van Diemen, OFMCap. Karya pastoral pada waktu itu sangat berat karena harus menjalani seluruh Labuhan Batu dengan Stasi yang sangat jauh, sampai 160 km dari Aek Kanopan. Setelah belajar bahasa Batak Toba di Palipi (1977) selama sekitar 6 bulan di Palipi, P. Germano mulai bertugas sejak Maret 1978 bersama Pastor-Pastor Kapusin di Paroki Aek Kanopan. Sementara itu, Pastor Francesco Marini SX yang juga telah ditugaskan dan telah belajar Bahasa Toba di Onan Runggu akan mendampingi P. Luigi Magnasco dalam pelayanan pastoral di Paroki Aek Nabara. Dan pada waktu itu, telah dibangun gedung pastoran disamping gereja untuk menyambut kedatangan kedua misionaris yang akan bertugas di Paroki Aek Nabara.

    Ketika itu, Keuskupan sedang memikirkan bahwa di daerah Labuhan Batu mesti ada satu Paroki administratif untuk melayani beberapa stasi yang ada di sekitarnya. Ada tiga stasi yang dipertimbangkan bisa menjadi Paroki, yakni: stasi Bomban Bidang (sekarang menjadi Kampung Beringin), Ranto Prapat dan Aek Nabara. Dari ketiga stasi itu, akhirnya Aek Nabara ditentukan dan diresmikan menjadi Paroki pada tanggal 4 Oktober 1978 oleh Mgr. AG. Pius Datubara, dengan nama Pelindung St. Fransiskus Assisi karena letak Aek Nabara lebih strategis bila ditinjau dari berbagai bidang. Pada saat itu yang menjadi Vorhanger adalah Bapak Situmorang. Gedung gereja tersebut dibangun bertahap hingga selesai. Sejak awal, pelayanan pastoral bisa dikatakan “unik” juga karena dilayani oleh 2 pastor SX dan 3 suster Kongregasi Suster Kasih Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik (KYM) yang membentuk satu komunitas demi memaksimalkan pelayanan pastoral yang efektif. Kehadiran para suster KYM di Paroki ini terjadi atas permintaan P. Germano yang pada tanggal 3 Mei 1978 datang ke rumah induk KYM di Jalan Sibolga Siantar untuk meminta kepada Kongregasi KYM agar mengutus suster untuk berkarya di bidang pastoral. Dan pada waktu itu, atas persetujuan Kongregasi akhirnya diutus 3 suster pertama yakni Sr. Regina Nainggolan, KYM, Sr. Flora Situmorang, KYM (alm) , dan Sr. Angela Sinaga, KYM (alm).

    Pada awalnya para Pastor tinggal di pastoran dan para Suster tinggal di sebuah rumah yang disewakan dekat pastoran sambil menunggu didirikan Susteran di tanah Gereja. Seiring perjalanan waktu, Paroki muda ini mulai berkembang dalam pertambahan jumlah umat. Karena itu para Pastor dan Suster mulai merencanakan kegiatan-kegiatan untuk anak-anak, muda-mudi Katolik dan ibu-ibu serta menjalankan bersama pelayanan pastoral dengan kunjungan ke Stasi-Stasi, pembinaan Pengurus melalui kursus-kursus dan Sermon, serta mengusahakan perkembangan sosial ekonomi umat melalui CU Paroki Aek Nabara. Selain itu melihat situasi umat yang merindukan system pendidikan Katolik untuk anak-anaknya, maka pada tahun 1978 bertempat di Mombang Bidang (Kampung Beringin) dibangun juga sekolah menengah tingkat pertama yang dikenal dengan SMP Bintang Kejora. Dan hingga saat ini sekolah tersebut tetap berdiri. Paroki ini juga dilayani oleh para frater Xaverian dan juga Diosesan yang menjalani masa orientasi pastoral, masa persiapan tahbisan Diakon dan Imamat atau masa live-in seperti Frater Martinus Situmorang, OFMCap. yang kelak menjadi Uskup Padang pernah menjalani live-in di stasi Alur Naga.

    Komunitas seperti ini masih berlanjut sampai sekarang dan umat pun tetap senang dilayani oleh komunitas pastoral seperti ini. Dan lewat pelayanan dan kesaksian hidup para pastor dan suster maka munculah benih-benih panggilan baik sebagai Pastor maupun Suster, sehingga pada tahun 2016 Pastor Xaverian pertama putra Paroki Aek Nabara, yaitu P. Hotman Sitanggang, SX menerima tahbisan Imamatnya pada tanggal 30 Agustus 2016 di Aek Nabara. Sebelumnya telah ada lebih dahulu yang ditahbiskan menjadi imam, seperti P. Monang Sijabat, O.Carm, dari stasi Tanjung Harapan dan P. Oscar Sinaga, OFMCap. yang berasal dari stasi Kampung Jawa Pasar.

    Pada saat pendiriannya, Paroki St. Fransiskus Assisi-Aek Nabara mempunyai 35 stasi. Sejak resmi menjadi Paroki sampai sekarang, reksa pastoral Paroki Aek Nabara dipercayakan kepada para Imam Misionaris Xaverian dan dibantu oleh suster-suster dari Kongregasi KYM. Pastor yang pernah menggembalakan umat di Paroki St. Fransiskus Assisi-Aek Nabara adalah: Tahun 1978-1984: P. Luigi Magnasco, SX (Pastor Paroki), P. Giovanni Ferrari, SX, P. Francesco Marini, SX; dan Br. Mario Passuello, SX; tahun 1984-1996: P. Germano Framarin, SX (Pastor Paroki), P. Giuseppe Pierantoni, SX, P. Giuliano Varalta, SX, P. Sandro Peccati, SX; tahun 1996-2004: P. Salvador Perusquia Feregrino, SX (Pastor Paroki); tahun 2004-2007: P. Yulius Tangke Bandaso, SX; tahun 2007-2013: P. Enrique Sanchez Vazquez, SX (Pastor Paroki), P. Andreas Sutiyo, SX, P. Robledo Sanchez, SX; tahun 2013-2018: P. Nasarius Rumairi Marilalan, SX (Pastor Paroki), P. La Nike Joanes, SX, P. Yohanes Leonardus Suharno, SX, P. Valentin Shukuru Bihaira, SX (Pastor Paroki: 2018-Maret 2020); dan P. Hebry Vicidius Walian, SX (2016-...).

    Sejak tanggal 29 Maret 2020 sampai dengan penulisan sejarah ini, Paroki Aek Nabara dilayani oleh P. Hebry Vicidius Walian, SX sebagai Pastor Paroki. Selain itu, sejak tahun 2014, ada juga Imam Diosesan KAM yang turut membantu Paroki ini dalam pelayanan sakramen-sakramen yakni RD. Merdin Sitanggang, sekaligus penanggungjawab Kebun Kelapa Sawit milik Keuskupan Agung Medan di Riau. Kemudian, dalam Surat Keputusan Uskup KAM 01 Juli 2021 telah ditugaskan P. Yonas Sandra Malissa, SX sebagai tenaga pastoral untuk Paroki Aek Nabara.

    Sejak menjadi paroki, jumlah stasi beberapa kali mengalami pertambahan. Dari 35, 42 dan 50 Stasi. Demi peningkatan pelayanan, tanggal 15 Agustus 2015 Keuskupan Agung Medan memekarkan Paroki Aek Nabara dan mendirikan Paroki Santo Petrus Rasul Rantau Prapat yang mengambil 9 Stasi dari Aek Nabara. Sejak saat itu, Paroki Aek Nabara memiliki 41 Stasi dan 8 Lingkungan, yakni 1.524 keluarga atau ± 6.811 jiwa. Hingga sekarang di tahun 2021, jumlah Kepala Keluarga (KK) adalah 1541 dengan jumlah jiwa 6747 orang. Tanggal 09 Oktober 2022 Paroki St. Fransisikus Assisi Aek nabara kembali memekarkan wilayah kabupaten Labuhan Batu selatan sebagai kuasi paroki St. Yosef Kota Pinang sebanyak 491 KK.

    Di Paroki Aek Nabara ada Kapel biara Betania dan Goa Maria sebagai tempat umat untuk berdevosi.

    Pada tahun 2018, ada permohonan dari orang-orang Katolik pekerja kebun di perkebunan Torganda kepada DPPH agar mereka juga mendapatkan pelayanan secara Gereja Katolik. Maka, Pastor paroki bersama dengan DPPH membahas dan menanggapi permohonan mereka dengan mengadakan kunjungan beberapa kali ke Torganda di mana umat tersebut melakukan ibadat pada salah satu kelas di kompleks sekolah milik perkebunan. Kemudian pada tahun 2019, mereka dijadikan salah satu lingkungan dari Stasi Cikampak yang jarak di antara keduanya cukup jauh lebih kurang 28 km melalui jalan perkebunan. Mereka tetap memperoleh bimbingan hingga pada bulan Juni 2021 mereka mulai dipersiapkan untuk menjadi calon Stasi.

    Di Paroki St. Fransiskus Assisi-Aek Nabara, kegiatan dan pelayanan pastoral cukup beraneka ragam. Kegiatan di bidang rohani antara lain: Paskah Rayon, Festival (Punguan Inang Katolik (PIK) se-Paroki, Festival (Punguan Amang Katolik (PAK) se-Paroki, Natal Anak Sekolah Minggu Katolik (ASMIKA) se-Paroki, Natal Orang Muda Katolik (OMK) se-Rayon, Pesta Pelindung Paroki, Kursus/Seminar dan Rekoleksi/Retret Pembinaan umat dan Pengurus Gereja, Sermon Rayon, Rapat Presidium, Rapat Dewan Pastoral Paroki (DPP); dan Sermon Bolon. Di bidang sosial ekonomi antara lain: Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) dan Credit Union (CU) Paroki. Di bidang pendidikan yaitu Sekolah SMP Bintang Kejora. Bidang-bidang kegiatan tersebut diupayakan dan dimaksudkan untuk membina, menghidupkan, mengungkapkan; dan mengekspresikan iman dan kesaksian umat di dalam keluarga, gereja serta dalam masyarakat.

    Kunjungan Uskup ke paroki Aek Nabara pertama kali pada tanggal 4 Oktober 1978 oleh Mgr. A.G. Pius Datubara untuk Peresmian Gereja Paroki. Tangal 21 Agustus 2016 adalah kunjungan terakhir untuk meresmikan gedung gereja stasi Aek Batu sekaligus Penerimaan Sakramen Penguatan oleh Bapa Uskup Mgr. A.G. Pius Datubara, OFMCap. Tanggal 29 Agustus Mgr. A.G. Pius Datubara dan Mgr. Anicetus B. Sinaga hadir untuk tahbisan 3 imam Serikat Xaverian.

    Lokasi Paroki :

    Paroki Aek Kanopan

    Pelindung Santo Pius X
    Buku Paroki Sejak 1 Mei 1975. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Kisaran/ Tanjung Balai
    Alamat Jl. Serma Maulana S. No. 48, Aekkanopan Labura – 21457
    HP / WA 0812-6346-1708
    Email [email protected]
    Jumlah Umat 1.759 KK/ 6.996 jiwa (data Biduk per 05/02/2024)
    Jumlah Stasi 54
    Pastor Paroki RP. Giovanno Sinaga OFMCap 05-10-1979
    Vikaris Parokial RP. Meinrad Rumapea OFMCap 24-01-1987
    Gereja Stasi
    St. Bonaventura - Cinta Rame St. Alexander - Makmur Bersama Gereja Katolik Salib Suci – Sei Naetek
    St. Yosep - Cinta Dame St. Fidelis Dari Sigmaringen – Tangkahan Bosi St. Lauarentius – Situngir
    St. Yakobus - Adian Torop St. Maria Bunda Pertolongan Abadi – Sei Apung St. Tarsisius – Pamingke Stasiun
    St. Benediktus - Pamaratan St. Mikael - Sei Juragan St. Petrus – Padang Mahondang 1
    St. Paulus - Adian Modang St. Dominikus Aek Nabara St. Hubertus – Padang Mahondang 2
    St. Yosep - Sinar Toba Gereja Katolik Martinus Rambong Merah St. Fransiskus Xaverius – Bulu Cina
    Gereja Katolik Hati Kudus Yesus - Tunggul Morbo St. Yustinus Kuala Tani St. Robertus – Aek Nauli
    St. Yohanes Pembaptis – Parsaoran St. Norbertus Kilang Saudara Gereja Katolik Kristus Raja – Sei Piring
    St. Yustinus - Huta Baru St. Agustinus Lalang Bundar St. Antonius Padua - Pardamaran
    St. Ignatius - Jambur Damuli Gereja Katolik Andreas - Kampung Baru St. Fransiskus Assisi – Pinggol Toba
    St. Carolus Borromeus – Pulo Gombut St. Bernardus Abbas – Pardomuan Nauli St. Benediktus - Haunapitu
    St. Matias Rasul - Simpang 4 St. Stefanus – Martir - Trans Santa Maria Ratu Damai – Pulau Maria
    St. Filipus Rasul - Tapian Nauli St. Yosef – Teluk Binjai St. Paulus - Marjanji Aceh
    St. Paulus - Harian Timur Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga – Pancasila St. Theresia dari kanak-kanak Yesus – Suka Maju
    St. Maria Bunda Gereja – Tangkahan Habeahan St. Thomas Aquinas – Pulo Harapan St. Albertus Magnus – Pulo Raja
    St. Simon Petrus - Sei Karet Santa Maria Ratu Rosario – Teluk Ampean St. Markus – Adian Baja
    St. Oktavianus - Sei Peranginan St. Kornelius – Pulo Angin St. Mateus Penginjil – Panigoran
    St. Yohanes Pembaptis – Tangkahan Manggis St. Romanus – Sei Piandang St. Lukas Penginjil – Labuhan Haji
    Jadwal Misa
    Harian: Selasa - Kamis 06.00 WIB
    Jumat 19.30 WIB
    Minggu 08.00 WIB

    Sejarah Paroki St. Pius X, Aek Kanopan

    Sejak awal tahun 1940-an sudah ada arus perantau (panombang) dari daerah Tapanuli ke belahan bagian Timur Sumatera Utara, bahkan sampai ke daerah Riau. Para perantau ini dalam kondisi “demam terjajah oleh Belanda (terutama penjajahan Jepang) tetapi sebagian besar sudah beragama Kristen Muda (Protestan) dan sebagian lagi masih “Parmalim” atau bahkan masih animis. Jika diperhitungkan dari sudut historisnya, tentu sebagian kecil dari mereka dapat dipastikan sudah ada yang sudah beragama Katolik.

    Dalam “Sejarah Kabupaten Labuhanbatu Utara” disebut bahwa pada tahun 1942 tentara Dai Nippon (Jepang) menduduki seluruh wilayah Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 3 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Perupuk (Tanjung Tiram). Dari Perupuk sebahagian tentara Jepang melanjutkan gerakan merebut kota Tebing Tinggi dan seterusnya Medan. Setelah itu sebagian lagi bergerak menuju Tanjung Balai yang pada saat itu sebagai pusat pemerintahan Afdeling Asahan. Dari Asahan (Tanjung Balai) melanjut ke wilayah Labuhanbatu untuk merebut kota Rantauprapat.

    Menurut sumber yang tidak tertulis, ternyata bahwa dengan alasan untuk mempertahankan hidup dan masa depannya, para perantau dari Samosir dan Tapanuli yang sudah beragama Kristen Muda dan Parmalim serta aninimis atau mungkin juga yang sudah Katolik, terpaksa menganut agama Islam yang mengikuti masyarakat Melayu (penduduk setempat). Sebagian dari mereka lama kelamaan mereka masuk agama Islam dan bergabung dengan suku Dalle (Orang Batak yang pada umumnya beragama Islam). Mereka beredar di sekitar kabupaten Batubara, Asahan, Labura, Labuhanbatu Induk dan Labuhanbatu Selatan sekarang.

     

    Sebenarnya, para pastor misionaris periode paling awal, mula-mula ditempat-tugaskan di Tanjung Balai untuk lebih berfokus kepada orang Tionghoa dan sedikit banyaknya pada 'tuan kebun'. Secara berkala mereka mengunjungi orang Tionghoa yang tersebar di wilayah itu, termasuk Aekkanopan. Mungkin sekali sudah sejak Pastor Odilo Wap, OFMCap hal itu terjadi. Akan tetapi, mengenai Beliau, tidak ada data persis yang diketahui.

    Pastor Restitutus Joosten, OFMCap dan terutama pastor Arthur Jansen, OFMCap tercatat sebagai pelopor yang datang dan berkarya di daerah ini dengan dua periode yakni periode 1948-1949, kemudian periode 1953-1962. Lambat laun mereka juga semakin memperhatikan dan mengunjungi/ mengumpulkan orang Batak Perantau. Pastor Ezecchiel Vergeest, OFMCap. dan pastor Paternus van Litsenburg, OFMCap. serta pastor Meinrad Manzer, OFMCap ikut juga memperkuat kelompok misionaris awal ini, sampai ke daerah Aek Kanopan.

    Sejak awal, umat perdana dilayani para pastor misionaris Kapusin dan Saverian dari paroki Tanjung Balai dan Kisaran. Sebagai paroki, Tanjung Balai berdiri secara resmi pada tahun 1947 dengan nama pelindung St. Mikael. Kemudian pada tahun 1968 paroki ini dimekarkan menjadi dua paroki yakni paroki St. Mikael Tanjung Balai dan Paroki Sakramen Maha Kudus Kisaran. Keduanya terletak di Kabupaten Asahan dan Batubara sekarang.

    Pada pertengahan tahun 50-an atas semangat kerasulan yang gigih dari para pastor misionaris kapusin (RP. Lucas Reinders OFMCap., RP. Remigius Pennock OFMCap, RP. De Wit OFMCap. dan RP. Schepens OFMCap), datang dari Tanjung Balai dan Kisaran ke arah Labuhanbatu bahkan sampai ke daerah Kota Pinang.

    Arus kedatangan “panombang” dari Tapanuli makin lama makin kencang sampai pada tahun 1970-an. Sebelumnya (di Tapanuli: Samosir dan Humbang Hasundutan masih bagian dari Tapanuli pada waktu itu) mereka sudah memeluk agama Kristen atau Katolik, tetapi di perantauan seputar daerah Labuhanbatu sekarang mereka tidak menemukan satu pun gereja di daerah Labuhanbatu. Dari Kisaran juga RP. Clarus Sihotang, OFMCap juga cukup memberi perhatian sejak awal tahun 1972.

    Kelompok orang Katolik pertama terbentuk di Stasi Tapian Nauli tahun 1956 sedang Stasi Aekkanopan resmi berdiri sebagai stasi baru pada tahun 1960. Akan tetapi karena Aekkanopan jauh lebih strategis dan menjanjikan perkembangannya, dari pada stasi-stasi yang sudah lebih dahulu terbentuk, maka dalam perjalanan waktu Aek Kanopan ditetapkan menjadi Stasi Induk dan kemudian menjadi pusat paroki. Tahun 1970-an usaha kerasulan para misionaris perdana ini, disuburkan lagi oleh semangat penggembalaan yang tak kenal lelah dari para pastor kapusin dan suster-suster KYM (RP. Antonius Siregar, OFMCap; RP. Beatus Jenniskens, OFMCap; RP. Arie Van Diemen, OFMCap; dan Sr. Imelda Harianja, KYM; Sr. Helena Rumapea, KYM; Sr. Maristella, KYM dan Sr. Anastasia Sitohang, KYM) dan ditopang oleh tokoh umat perdana (B. Rajagukguk, Johanes Tan Kok Eng dan R.S. Siburian, dll.) mereka mempersiapkan Aekkanopan menjadi satu paroki yang baru.

    Menurut kesaksian RP. Arie van Diemen, OFMCap, dituliskan sebagai berikut via email: “Pada awal tahun-tahun tujuhpuluhan paroki Kisaran semakin tambah luasnya dengan semakin berpindahnya umat ke Asahan dan Labuhanbatu, sampai daerah perbatasan Riau. Terutama mereka yang menggarap tanah, dari Tapanuli dan Samosir. Dari ujung ke ujung panjangnya paroki itu sudah lebih dari 200 km. Maka, Bapak Uskup v.d. Hurk menugaskan kami, khususnya pastor Schepens dan saya, untuk mencari tahu tempat yang strategis yang cocok untuk pemekaran paroki itu. Kami berdua segera sepakat: Aek Kanopanlah.

    Sebagai langkah pertama, sebaiknya, agar dalam jangka waktu agak singkat disusul dengan Aek Nabara. Atas prakarsa beberapa pemuka jemaat, seperti R. Joewono, Johannes Tan Kok Eng, Binsar - A. Bukit - Rajagukguk dan Pak Siburian, ditemukan lokasi yang rasanya cocok. Sesudah ditinjau bersama oleh pastor Schepens, Jenniskens dan saya pada tgl 2/1/1975, maka tanah itu resmi dibeli di kantor camat pada tgl 17/3/1975. Agar bisa secepatnya pindah kesana, maka selama dua bulan berikutnya didirikan sebuah 'gubuk-gubuk' yang sederhana. Tepat pada waktu yang sama 'tersiar' berita bahwa Tahta Suci telah mengangkat Pastor Pius Datubara sebagai Uskup Pembantu, dengan tujuan untuk sebentar lagi mengambil alih tugas Uskup Agung Medan. Sungguh, suatu peristiwa bersejarah bagi sejarah Keuskupan kita. Pengumuman resminya sampai pada tgl 24/05/1975, 2 hari sesudah pastor Jennis dan saya pindah ke Aekkanopan.”

    Pada tanggal 16 Mei 1975, Aekkanopan resmi sebagai paroki yang baru dengan nama Paroki St. Pius X Aekkanopan. Akan tetapi pastor paroki pertama, RP. Arie van Diemen, OFMCap bersama pastor rekan RP. Beatus Jenniskens, OFMCap baru kemudian pindah dari Kisaran ke Aekkanopan pada tanggal 26 Mei 1975.

    Tentu sebagai paroki yang sudah resmi, maka sarana-sarana yang mendukung keresmiaanya dibutuhkan, seperti stempel paroki. Untuk membuat stempel dibutuhkan nama pelindung resmi paroki ini juga. Santo Pius X secara spontan muncul dalam pikiran pastor Arie van Diemen, OFMCap.

    Mengapa Santo Pius X? Pastor Arie menulis: “Mengapa justru Pius X? Karena masih agak kontemporer. Baru 60 tahun sebelumnya meninggal dunia, pada saat beliau terkejut mendengar Perang Dunia I telah pecah. Tetapi, terutama, karena ia sebagai Uskup Agung Venetia sangat dicintai dan akrab dengan umat yang sederhana. Sebagai Paus beliau mengusahakan agar perayaan liturgi lebih hidup-hidup oleh partisipasi umat beriman. Keputusannya yang amat terkenal yaitu bahwa umur anak-anak untuk boleh menyambut komuni kudus, dipercepatnya sampai tujuh tahun. Saat itu belum saya bisa menduga bahwa nama beliau kemudian 'dibacak' oleh kelompok-kelompok ultra konservatif dalam gereja yang ingin menghalangi segala perkembangan. Sangat pantas disesalkan.” Demikianlah tahap paling awal sebagai paroki baru dimulai sambil lebih serius memeta kondisi lapangan pastoral misioner di Aek Kanopan.

    Bagi Pastor Arie Van Diemen, OFMCap, sejak awal paroki ini sangat menantang dan mengasyikkan. Selengkapnya Beliau menuliskan sebagai berikut: “Kesan saya tentang karya di paroki: amat menarik, menantang karena semua masih baru, fisik berat tetapi mengasyikkan, semangat para pemuka jemaat bergairah, umat masih gembira menerima kehadiran pastor bersama dengan para suster karena bagi mereka masih sungguh kabar gembira ditongatonga tombak na gok rongit.”

    Ungkapan ini sungguh memberi kesan bahwa pastor Arie dan pastor rekan lainnya serta para tokoh awam perdana benar-benar berjuang untuk permulaan awal paroki St Pius X ini. Medan pastoral begitu sangat berat dan masih banyak hutan asli. Lahan luas membentang subur dan sangat alamiah. Perikehidupan ekonomi sangat-sangat memprihatinkan. Akan tetapi umat masih membutuhkan para petugas pastoral dan disambut dengan sangat antusias.

    Makin lama berpastoral dan semakin masuk ke kondisi riil umat atau masyarakat sekitar, para petugas pastoral ini semakin melihat kebutuhan-kebutuhan hidup harian dan kebutuhan masa depan. Berbagai upaya dilakukan untuk melayani umat baik dari segi kehadiran pendampingan maupun dari segi materi (dana batuan) bagi umat yang sangat-sangat sederhana. Dan untuk menjawabi kebutuhan-kebutuhan ini semua, di sana sini lahan digarap dan dibeli. Sekolah, asrama dan CU didirikan. Kursus-kursus kaderisasi pengurus awam mulai ditangani.

    Video Profil :
    Lokasi Paroki :

     

    BIDUK KAM, Gerakan Pastoral Berbasis Data

    0
    KAM - Keuskupan Agung Medan (KAM), Sabtu (5 Oktober 2019), menghelat soft launching Basis Integrasi Data Umat Keuskupan (BIDUK) KAM di Catholic Center – Medan. Puluhan perwakilan sekretariat paroki se-KAM turut hadir dalam seremoni dan dwi-hari training input data umat keuskupan secara online ini. Victor Erico, perwakilan tim BIDUK Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), mengutarakan, program ini adalah gerakan untuk pelayanan pastoral berbasis data. “Ketika kita hendak memulai BIDUK, kita memperkirakan jumlah umat KAJ adalah sebanyak 510.000. Namun, setelah pendataan dengan BIDUK rampung, ternyata jumlah umat KAJ yang benar adalah 430.000,” katanya. Dia melanjutkan, banyak pihak di KAJ yang marah atas hasil perhitungan tersebut. “Banyak yang marah, bahwa kita kehilangan umat sebanyak 80.000 jiwa. Padahal itu adalah jumlah yang sebenarnya. Kenapa? Karena ada umat yang telah meninggal masih dimasukkan dalam data. Selain itu, ada juga umat yang sering berpindah domisili, sehingga terdata di dua atau tiga paroki.” “Jadi, kuncinya adalah gerakan. Dari yang sebelumnya, kita belum mengenal umat. Sekarang paroki bisa mengandalkan data tersebut untuk melayani umat sesuai statistik nyata.Gerakan ini diterapkan di seluruh paroki untuk melayani lebih baik,” ujar Victor. Uskup KAM, Mgr. Kornelius Sipayung, dalam kata sambutan, turut mendukung pelaksanaan gerakan BIDUK KAM. “Kita hendak buat pelayanan pastoral di keuskupan ini agar berbasis digital. Kita ingin pastoral berbasis data. Oleh sebab itu, Jangan kita sia-siakan waktu dan bantuan tim BIDUK KAJ. Banyak yang bisa dirangkul dalam gerakan ini. (Peserta) yang hadir di sini bisa merangkul pastor paroki, ketua lingkungan, dan lainnya agar BIDUK KAM bisa rampung,” ucapnya seraya memotivasi para peserta training, yang berlangsung hingga Minggu (6 Oktober 2019). Dia menyampaikan, “Jangan menganggap bahwa setelah pendataan rampung, program BIDUK KAM akan selesai. Ini tidak akan pernah selesai, karena dinamika data yang akan dikerjakan. Setiap menit data ini akan terus berubah. Semisal ada umat yang meninggal, atau kelahiran, atau juga pindah domisili. Untuk itulah kita membutuhkan data akurat demi pelayanan.” Mgr. Kornelius berharap, BIDUK KAM bisa menjadi rahmat bagi KAM untuk mendorong pelayanan pastoral berdasarkan data. Untuk mewujudkan impian tersebut dibutuhkan komitmen, kesabaran dan ketekunan dalam menjalankan gerakan ini. “Saya mendapat kabar, bahwa BIDUK di Keuskupan Agung Pontianak (KAP), kalau tidak salah bisa selesai 4-5 bulan ya. Besar harapan saya, BIDUK KAM kalau bisa selesai dalam dua bulan ini. Agar menjadi kado natal kita, dan kita akan makan di rumah masing-masing,” ujarnya, disusul gelak tawa hadirin. (Ananta Bangun)  

    Komisi Pendidikan

    0
    Gedung Catholic Center Christosophia, Lantai 3, Jl. Mataram No.21, Kel. Petisah Hulu, Kec. Medan Baru, Kota Medan 20153, Sumatera Utara – Indonesia
    0852-6076-3462
    RP. Michael Manurung OFMCap (PJ)
    Komisi Pendidikan KAM
    Komdik KAM

    Pengurus Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Medan masa bakti 2025-2030 dengan susunan jabatan dan nama sebagai berikut:

    1. Ketua : RP. Michael Manurung OFMCap
    2. Wakil Ketua : Fr. Paskalis Wangga CMM
    3. Sekretaris : Dr. Dionisius Sihombing, S.Pd., M.Si
    4. Bendahara : Elisa Br. Ginting, S.Pd., M.Pd
    5. Anggota :
    1) Mangaratua M. Simanjorang, M.Pd., Ph.D
    2) Oskar Rafael Tampubolon, S.S., M.Ag