| Pelindung | Santo Yosep |
| Buku Paroki | Sejak tahun 1968. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Katedral Medan. |
| Alamat | Jl. Sibiru-biru No. 1, Lk. V, RT 002, RW 003, Delitua - 20355 |
| HP / WA | 0852-6279-7708 |
| [email protected] | |
| Website | parokidelitua.wordpress.com |
| Jumlah Umat | 4.394 KK / 14.534 jiwa (data BIDUK per 31 Des 2025) |
| Jumlah Stasi | 38 |
Sabtu : 19.00 WIB
Minggu : 08.00 WIB & 10.00 WIB



- St Lusia, Ajibaho
- St Paulus - Rambe
- St Vitalis - Mbaruai
- St Bernandus - Rampah
- St Daniel - Batu Mbelin
- St Pius Xaverius - Mardinding
- St Yusuf - Rumah Gerat
- St Rita - Namo Pinang
- St Yosep - Salang Tungir
- St Maria - Namo Rambe
- St Kosmas Et Damianus - Sarilaba
- St Fransiskus, Biru-Biru
- St Rita - Namo Pinang
- Keluarga Kudus - Cinta Adil
- St Maria - Simpang Ranting
- Fransiskus Xaverius - Pasar Tiga Namo Rambe
- St Maria - Penen
- St Petrus - Tangkahen
- St Yosef Kopertino - Periaria
- St Lusia - Tembengen
- St Mikael - Pernangenen
- Salib Suci - Ujung Beringin
- St Yohanes - Lau Rakit
- Sang Penebus - Pertumbuken
Pada sekitar tahun 1964 Mgr. Ferrerius van den Hurk berkeinginan untuk mengembangkan pewartaan iman Katolik di sekitar pinggiran kota Medan, khususnya ke arah Delitua. Untuk mewujudkan harapan tersebut beliau mengutus P. Johanes Maksimus Brans OMCap yang bertugas di Paroki St. Antonius dari Padua Jalan Hayam Wuruk Medan dan P. Elpidius van Duynhoven OFMCap yang saat itu bertugas di Paroki St. Perawan Maria Tak Bernoda Jalan Pemuda Medan untuk mengobservasi daerah Delitua. Pada saat itu di Delitua sekitarnya telah ada agama Kristen dan Islam. Banyak suku Batak Karo sudah menganut agama Kristen Protestan, seperti Gereja Batak Kristen Protestan (GBKP). Agama Islam pada umunya dianut oleh suku Jawa dan Melayu. Selain itu masih banyak anggota masyarakat yang belum menganut agama. Di antara itu semua, belum ada seorangpun yang beragama Katolik.
Pada tahun 1966 Mgr. Ferrerius van den Hurk menugaskan P. Diego van de Biggelaar OFMCap untuk melanjutkan misi yang telah dimulai tahun 1964, dibantu oleh P. Lukas Renders OFMCap. Mereka berdua berusaha memperkenalkan dan menanamkan iman Katolik serta melayani umat yang mulai tumbuh.
Pada tahun 1967, Mgr. Ferrerius van den Hurk sebagai Uskup Agung Medan mengundang Ordo Saudara Dina Konventual (Ordo Fratrum Minorum Conventualium, OFMConv) untuk berkarya di Keuskupan Agung Medan ini. Minister General Saudara Dina Konventual menerima baik undangan ini, maka diutuslah P. Adeodatus Laibahas OFMConv. dan Br. Willy Brodus OFMConv untuk memulai karyanya di Keuskupan Agung Medan. Mereka berdua terlebih dahulu ditempatkan di Pangururan untuk mempelajari bahasa dan budaya. Namun dalam masa persiapan itu P. Adeodatus Laibahas OFMConv meninggal dunia karena tenggelam di Danau Toba. Setelah peristiwa itu Br. Willy Brodus kembali ke paroki St. Perawan Maria Tak Bernoda Jalan Pemuda Medan dan untuk sementara waktu berkarya di sana.
Dalam situasi yang demikian, Uskup Agung Medan kembali meminta kepada Minister General OFMConv untuk melanjutkan karya yang sudah dimulai di Keuskupan Agung Medan. Menjawab permintaan uskup tersebut diutuslah tiga imam Fransiskan Konventual dari Italia, yaitu P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Ferdinando Severi OFMConv, yang berasal dari Provinsi Bologna dan P. Antonio Murru OFMConv., dari Provinsi Sardegna. Mereka bertiga tiba di Medan pada tanggal 6 April 1968 dan ditempatkan di Delitua. Karena pastoran belum tersedia maka untuk sementara waktu mereka tinggal di salah satu ruangan Rumah Sakit Sembiring milik Keluarga Serta Laurentius Sembiring. Dari tempat itulah mereka memulai karya menaburkan dan menanamkan Sabda Allah. Pada tahun yang sama tepatnya pada tanggal 31 Oktober 1968 ketiganya secara resmi memulai karya pelayanan di wilayah Delitua.
Seiring proses pewartaan Sabda Allah, pada tanggal 27 Januari 1969 keluar izin dari pemerintah untuk membangun gereja dan pastoran. Maka dimulailah proses pembangunan gereja dan pastoran yang diarsiteki oleh Br. Meinard van der Made OFMCap dan selesai pada tahun 1970. Pada tanggal 26 April 1970 gedung gereja dan pastoran tersebut diberkati oleh Uskup Agung Medan Mgr. Ferrerius A. H. van den Hurk OFMCap dengan nama pelindung St. Yosep.
Untuk membantu karya kerasulan di paroki yang baru ini, tahun 1971 Kongregasi FSE memulai karya pelayanan mereka di Delitua. Mereka berkarya membantu paroki dan kerasulan kategorial yaitu Asrama dan Panti Asuhan.
Melihat begitu berkembang dan pesatnya pertumbuhan umat di Paroki Delitua, maka pada tahun 2002 atas inisiatif P. Antonio Murru OFMConv., yang kala itu menjadi Pastor Paroki Delitua membangun gereja paroki yang lebih besar dan luas karena gedung gereja yang lama tidak memadai lagi untuk umat beribadat. Bentuk dan ciri khas gereja yang dibangun ini terinspirasi dari bentuk gereja SS. Trinita di Saccargia, P. Sardegna, Italia. Dengan usaha kerja keras para pastor dan umat, serta dibantu oleh rombongan tukang dari Rumah Sakit Sembiring akhirnya gedung gereja ini selesai dibangun pada tahun 2004 dan ditahbiskan oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Pius Datubara OFMCap pada tanggal 18 Maret 2005.
Dalam kurun waktu 43 tahun (1968-2011) Paroki St. Yosep Delitua yang sudah memiliki 62 stasi dan 8 rayon yang tersebar di 8 kecamatan di bagian dataran tinggi Kabupaten Deli Serdang. Pada Agustus 2011 Uskup Agung Medan Mgr. Anicetus B. Sinaga OFMCap memekarkan Paroki St. Yosep Delitua dengan membuka Kuasi Paroki St. Katarina Tigajuhar, Kecamatan STM Hulu yang terdiri dari 15 Stasi. Hingga saat ini Paroki St. Yosep Delitua terdiri dari 1 gereja paroki, 46 stasi dan 109 lingkungan.
Wilayah Pelayanan
Wilayah pelayanan Paroki St. Yosep Delitua berada di 7 Kecamatan bagian dataran tinggi Kabupaten Deli Serdang. Rayon Negara dan Rayon Talun Kenas berada di Kecamatan STM. Hilir dan beberapa stasi Kec. Patumbak. Rayon Tanjung Morawa berada di Kec. Tanjung Morawa dan ada 1 stasi berada di wilayah kota Medan, yakni stasi Bangun Mulia. Rayon Delitua berada di Kelurahan Delitua, Rayon Birubiru berada di Kec. Birubiru, dan Rayon Namorambe berada di Kec. Namorambe. Pusat paroki berada di Delitua. Delitua secara teritorial mungkin tidak berada di titik sentral, tetapi secara historis menjadi sentral karena sudah sejak lama menjadi pusat kegiatan ekonomi untuk bagian dataran tinggi. Hingga sekarang pasar pekan hari Kamis di Delitua masih hidup. Kadang-kadang aktivitas umat dari pedalaman sering dibarengi dengan aktivitas berbelanja ke pekan. Beberapa stasi relatif sulit dijangkau karena kondisi infrastruktur jalan yang belum baik, seperti beberapa stasi di rayon Penen (Mardinding, Pernangenan, dan Rambe) dan rayon Negara (Juma Tombak dan Lau Rempak).
Pemekaran Paroki
Dalam kurun waktu 43 tahun (1968-2011) Paroki St. Yosep Delitua yang sudah memiliki 62 stasi dan 8 rayon yang tersebar di 8 kecamatan yakni Kec. Bangun Purba, Kecamatan STM. Hilir, Kecamatan STM. Hulu Kec. Patumbak, Kec. Tanjung Morawa, Kelurahan Delitua, Kec. Birubiru, Kec. Namorambe. Untuk memaksimalkan pelayanan reksa pastoral maka pada Agustus 2011 Uskup Agung Medan Mgr. Anicetus AB. Sinaga OFMCap memekarkan Paroki St. Yosep Delitua dengan membuka Kuasi Paroki St. Katarina Tigajuhar, Kecamatan STM Hulu yang terdiri dari 15 Stasi. Kemudian salah satu stasi dari Rayon Tanjung Morawa yakni Stasi St. Petrus Batang Kuis bergabung ke Paroki St. Petrus Batang Kuis.
Pergantian Penggembalaan
Sejak tahun 1968 Paroki St. Yosep Delitua telah mengalami banyak pergantian penggembalaan. Berikut adalah periode para pastor paroki dan rekan-rekannya:
- 1968 – 1970: P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv, P. Ferdinando Severi OFMConv
- 1970 – 1973: P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv, P. Ferdinando Severi OFMConv
- 1973 – 1975: P. Carmelo Comina OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv.
- 1975 – 1978: P. Salvatore Sabatho OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv.
- 1978 – 1982: P. Salvatore Sabatho OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Carmelo Comina OFMConv.
- 1982 – 1985: P. Salvatore Sabatho OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv, P. Carmelo Comina OFMConv, P. Corrado Casadei OFMConv.
- 1985 – 1988: P. Salvatore Sabatho OFMConv, P. Corrado Casadei OFMConv, P. Carmelo Comina OFMConv.
- 1988 – 1991: P. Antonio Razzoli OFMConv, P. Corrado Casadei OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv.
- 1991 – 1994: P. Antonio Razzoli OFMConv, P. Tarcisio Centis OFMConv, P. Simson Sitepu OFMConv.
- 1994 – 1997: P. Antonio Murru OFMConv, P. Tarcisio Centis OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv
- 1997-2002: P. John Paul Tarigan OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv
- 2002-2005: P. Fransiskus Mardan Ginting OFMConv, P. Fransiskus Rencana Sinulingga OFMConv, P. Antonio Murru OFMConv, P. Giuseppe Brentazzoli OFMConv
- 2005-2009: P. Andreas Elpian Gurusinga OFMConv, P. Benediktus Mario Lumbangaol OFMConv, P. Cornelius Ady Parditya OFMConv.
- 2009-2012: P. Antonius Siswido Swy OFMConv, P. Eligius Benny Bernardi OFMConv.
- 2012-2017: P. Yohannes Eduardus Padiyana OFMConv, P. Fransiskus Radiaman Purba OFMConv.
- 2017 – 2021: P. Simon Kemit OFMConv, P. Andreas Budiyanto OFMConv, P. Anastasius Thomas Tamal OFMConv, P. Silverius Hutauruk OFMConv.
- 2021 – sekarang: P. Paskalis Surbakti OFMConv, P. Fransiskus Radiaman Purba OFMConv, P. Richardus Natun OFMConv.
Ada 4 komunitas religius di wilayah Paroki Delitua, yakni:
- Komunitas Ordo Saudara Dina Konventual Provinsi Indonesia
Komunitas ini menjadi tempat tinggal para pastor yang melayani Paroki Delitua. Selain komunitas, kuria provinsialat juga juga berada di kompleks yang sama. Di bagian belakang kompleks ada komunitas postulan Konventual. Selain tugas pastoral paroki, beberapa saudara Konventual ditugaskan untuk memimpin ordo provinsi Indonesia, berkarya dalam pendampingan postulan Konventual, beberapa ditugaskan sebagai dosen di Sekolah Tinggi Pastoral St. Bonaventura KAM Delitua. - Komunitas Suster Fransiskan St. Elisabeth (FSE) Delitua
Kompleks FSE ini berdampingangan dengan kompleks Persaudaraan Konventual. Di dalam kompleks FSE ini ada komunitas Suster FSE, novisiat FSE, Panti Asuhan St. Angela. Mereka berkarya untuk mendampingi calon-calon suster, pendampingan para penghuni panti asuhan, terlibat dalam karya pastoral di paroki, mengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) St. Fransiskus Assisi. - Komunitas Suster-Suster Putri Karmel Talun Kenas
Komunitas ini bernama Pertapaan Putri Karmel. Berada di Talun Kenas Kecamatan Senembah Tanjung Muda (STM) Hilir. Hadir di Talun Kenas sejak 5 September 2007. Suster-suster ini bersama Komunitas Carmelitae Sancti Eliae (CSE) berkarya dalam bidang pusat pembinaan spiritual bagi para calon mereka, pelayanan umum kepada umat dalam bentuk retret, rekoleksi, pendalaman iman, kursus Kitab Suci, pelayanan doa dan penyembuhan. Selain itu mereka terlibat sebagai pendamping Kelompok Kategorial Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) di paroki St. Fransiskus Assisi Padang Bulan, Paroki St. Antonius Padua Hayam Wuruk, Paroki St. Maria Tanjung Slamat, Paroki St. Fransiskus Assisi Berastagi, Paroki Santa Perawan Maria Kabanjahe, dan Paroki Santo Petrus dan Paulus Kabanjahe. - Komunitas Carmelitae Sancti Eliae (CSE) Talun Kenas
Komunitas ini berada satu lokasi dengan para Suster Putri Karmel. Karya pelayanan mereka berpadu dengan pelayanan Suster Putri Karmel. Komunitas ini dihuni oleh seorang imam dan seorang frater. - Komunitas Pendidikan di Wilayah Teritorial Paroki
Ada beberapa sekolah Katolik di wilayah paroki St. Yosep Delitua, mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK) hingga perguruan tinggi. PAUD St. Fransiskus Assisi dikelola oleh Suster FSE. Yayasan Betlehem Bandar Baru memiliki 1 sekolah Taman Kanak-Kanak di Namorambe dan 2 tingkat SD di Namorambe dan Batu Mbelin. Sekolah-sekolah lainnya dikelola oleh yayasan keuskupan, seperti SMP-SMA Deli Murni Delitua, SMP-SMA St. Antonius Bangun Mulia, SD-SMP St. Maria Penen, dan SD RK Namopuli. Selain itu di paroki ini ada Sekolah Tinggi Pastoral St. Bonaventura di Delitua yang dikelola oleh Yayasan Budi Murni.
- Konteks Teritorial
Wilayah pelayanan Paroki St. Yosep Delitua berada di 7 Kecamatan bagian dataran tinggi Kabupaten Deli Serdang. Rayon Negara dan Rayon Talun Kenas berada di Kecamatan STM. Hilir dan beberapa stasi Kec. Patumbak. Rayon Tanjung Morawa berada di Kec. Tanjung Morawa dan ada 1 stasi berada di wilayah kota Medan, yakni stasi Bangun Mulia. Rayon Delitua berada di Kelurahan Delitua, Rayon Biru berada di Kec. Birubiru, dan Rayon Namorambe berada di Kec. Namorambe. Pusat paroki berada di Delitua. Delitua secara teritorial mungkin tidak berada di titik sentral, tetapi secara historis menjadi sentral karena sudah sejak lama menjadi pusat kegiatan ekonomi untuk bagian dataran tinggi. Hingga sekarang pasar pekan hari Kamis di Delitua masih hidup. Kadang-kadang aktivitas umat dari pedalaman sering dibarengi dengan aktivitas berbelanja ke pekan.
Beberapa stasi relatif sulit dijangkau karena kondisi infrastruktur jalan yang belum baik, seperti beberapa stasi di rayon Penen (Mardinding, Pernangenan, dan Rambe) dan rayon Negara (Juma Tombak dan Lau Rempak). Sebagai bagian dataran tinggi Deliserdang, wilayah paroki Delitua umumnya berbukit. Ada beberapa sungai besar yang melintasi wilayah paroki Delitua, antara lain Sungai Deli, Sungai Belumai, dan Sungai Seruai di mana sekarang sedang dibangun bendungan Lau Simemei yang berkapasitas tampung 21,07 juta meter kubik. Potensi alam ini bisa berdampak positif bagi umat secara ekonomi. Tetapi bisa juga berdampak negatif dalam bentuk bencana banjir. Dalam sepuluh tuhun terakhir ini beberapa umat Katolik terdampak banjir bandang. Dampaknya ialah kerusakan rumah dan bahkan korban nyawa. Banyaknya proyek galian C di hulu sungai berdampak negatif pada lingkungan dan kehidupan banyak orang.
- Konteks Kategorial
Kalau diurutkan berdasarkan jumlah populasi maka dapat dikategorikan bahwa mayoritas umat di Paroki St. Yosep Delitua berprofesi sebagai petani. Sebagian besar wilayah paroki Delitua adalah daerah (bekas) perkebunan dan pertanian rakyat. Atas dasar itu paroki memberi perhatian pada kaum petani dengan membentuk kelompok tani dan penguatan pada seksi Pengembangan Sosial Ekonomi. Pada urutan kedua ada ASN dan pegawai swasta (guru dan pekerja kantor), disusul oleh buruh. Wilayah paroki yang berbatas dengan kota Medan seperti Tanjung Morawa, Patumbak, Namorambe adalah tempat dimana banyak ditemukan pabrik. Pabrik tersebut adalah tempat di mana banyak umat Katolik paroki Delitua bekerja. Kelompok umat yang kemudian adalah pedagang dan pemilik usaha.
Menurut data BIDUK mayoritas tingkat pendidikan umat di paroki ini adalah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) (42%), diploma dan sarjana (15,68%). Beberapa bahkan ada yang pendidikannya sudah setingkat S2 (0,48%). Selain itu masih ada juga umat yang tingkat pendidikannya hanya tamat SMP (15,52%), bahkan ada yang hanya tamat SD (19,56%). Dengan demikian boleh dikatakan bahwa mayoritas (57,68%) SDM umat di paroki ini berpendidikan SLTA dan Perguruan Tinggi.
- Konteks Sosial Kemasyarakatan
Umat paroki St. Yosep Delitua sangat majemuk. Mayoritas umat Katolik paroki ini adalah Batak Karo. Karena itu, kebanyakan stasi masih menggunakan bahasa Karo dalam peribadatan (68,1%), 15 stasi yang berdekatan dengan kota Medan dan stasi-stasi yang sudah mengalami banyak pembauran etnis menggunakan bahasa Indonesia dalam ibadat (31,91%). Setelah itu populasi yang menonjol adalah suku Batak Toba, Simalungun, Pakpak, Angkola. Di beberapa stasi populasi Jawa, Flores, dan Tionghoa. Satu stasi di Rayon Negara, St. Rita Sinar Kemenangan, masih menggunakan bahasa Batak Toba dalam peribadatan.
Dari komposisi agama, Paroki St. Yosef Delitua berada di antara agama-agama lain atau denominasi Kristen lain. Pada umumnya agama lain itu terdiri dari Islam, dan sedikit Buddha. Terdapat banyak gereja-gereja subdenominasi Kristen lain, seperti HKBP, GKPS, GBKP, GKPA, GKPI, HKI, Pentakosta, GBI, Advent, GKII, dan banyak lagi yang lain. Umat Katolik berbaur dengan masyarakat dari Gereja dan agama lain dengan harmonis. Sejauh ini tidak pernah terjadi konflik umat Katolik dengan umat dari agama maupun gereja lain.
Beberapa umat Katolik membangun relasi yang baik dengan penganut agama lain maupun umat Kristen lain melalui Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB). Ada beberapa orang yang terlibat di FKUB.


