| Pelindung | Santa Maria |
| Buku Paroki | Sejak 1 Agustus 1958. Sebelumnya bergabung dengan Paroki Balige. |
| Alamat | Jl. D.I. Panjaitan No. 39, Tarutung - 22416 |
| No HP/WA & Email | 0813-7031-1509 [email protected] |
| Statistik | 1.286 KK/ 5.648 jiwa (data BIDUK per Maret 2026) |
| Gereja Stasi | 19 |
- St. Maria Ratu Damai Parsorminan
- St. Petrus dan Paulus Lumbansormin
- St. Ignatius Sibingke
- St. Barnabas Parsibarungan
- St. Paulus Rahutbosi
- St. Petrus Sigotom
- St. Laurentius Sitarindak
- St. Theresia Avilla Sipahutar
- St. Monika Silimabahal
- St. Maria Ratu Para Malaikat Silitonga
- St. Fidelis Panjaitan
- St. Albertus Agung Lobutolong
- St. Paulus Lumban Julu
- St. Felix Sidagal
- St. Pascalis Gonting Pege
- St. Maria Garoga
- St. Elisabet Dano Horbo
- St. Maria Ratu Rosario Parinsoran
- St. Yustinus Martir Sibalanga
| Harian | 18.00 WIB (Senin) : Misa Komunitas di Susteran |
| 06.00 WIB (Selasa, Rabu, Jumat) | |
| 18.00 WIB (Kamis) | |
| Jumat Pertama | 18.00 WIB (Misa & Adorasi) |
| Sabtu | 06.00 WIB |
| Hari Minggu | 08.00 WIB |
Sejarah Paroki Santa Perawan Maria, Tarutung
Paroki Santa Maria - Tarutung yang ada saat ini bukanlah produk sekali jadi tetapi sebuah proses panjang yang diwarnai perjuangan, kerja keras, keringat bahkan darah. Di bawah ini disajikan sejarah singkat berdirinya paroki Santa Maria – Tarutung. Sumber utama ringkasan ini adalah buku Pelangi Di Bukit Barisan, karya RP. Rudolf Kurris, SJ yang pernah berkarya di paroki Tarutung tahun 2002-2005.
Cikal Bakal Paroki Tarutung
Vikariat apostolik Medan yang dibentuk pada tahun 1941, mengalami pemekaran dan membentuk vikariat apostolik Padang (1952). Dengan demikian pelayanan Gereja katolik lebih berkonsentrasi di wilayah Tapanuli. Oleh karena terbentuknya vikariat apostolik Sibolga (1959) yang meliputi wilayah Tapanuli Tengah, pelayanan Gereja Katolik lebih berfokus pada wilayah Tapanuli pinggiran Danau Toba. Salah satu paroki yang dibentuk adalah Paroki Tarutung.
Adapun bibit kekatolikan di wilayah Tarutung sudah masuk sekitar tahun 1920-an. Hal itu terbukti dengan ditemukannya sepucuk surat kepada Mgr. Matias Brans OFM Cap. Surat itu ditulis tanggal 27 Mei 1922 oleh Hadrianus Siahaan yang mewakili 50 keluarga di Tarutung. Mereka memohon agar mengirimkan seseorang yang bisa membawa pengetahuan iman Katolik Roma dan agar mereka dibaptis menjadi umat Katolik. Permohonan itu baru dapat disanggupi 35 tahun kemudian. Salah satu kendala yang dialami adalah masalah tenaga, dan juga situasi. Walaupun pintu pewartaan ke Tanah Batak telah dibuka kala itu tetapi para misionaris enggan datang ke Tarutung untuk menghindari konfrontasi dengan agama Protestan yang lebih dahulu dibangun oleh DR I.L Nommensen, yaitu sejak 1863.
Cikal bakal paroki Tarutung dimulai pada tahun 1957, ketika Mgr. Ferrerius van de Hurk mengutus Pastor Lambertus Woestenberg, OFM Cap. untuk melayani umat di Tarutung. Pastor Woestenberg sendiri adalah imam muda berusia 36 tahun dan telah berkarya di Tebing Tinggi dan Balige. Pastor Woestenberg mengawalinya dengan mengontrak rumah di dekat bangunan gereja Katolik di Desa Perbaju/Hutabarat pada 1 Juli 1957. Sebulan kemudian, tepatnya 1 Agustus 1957, Mgr. van de Hurk meresmikan Paroki Tarutung dengan nama pelindungnya yakni Santa Maria. Ia mengangkat Pastor Woestenberg OFM Cap. menjadi pastor paroki yang pertama.
Rumah pastoran tampaknya cukup primitif: berlantaikan tanah, dinding dan atapnya terbuat dari ilalang, lokasi tanah sangat sempit dan sulit untuk diperluas karena berada di lereng bukit. Situasi itu memaksa pastor dan umat untuk mencari lokasi yang luas dan cocok untuk persiapan jangka panjang. Selain harga tanah yang mahal, pencarian lahan dipersulit oleh situasi di mana penduduk Rura Silindung pada umumnya adalah umat Protestan yang kurang menyutujui kehadiran Gereja Katolik. Namun, Pada akhir tahun 1961 umat berhasil membeli sebidang tanah rawa dari marga Hutabarat. Tanah itu terlatak di pinggir Jalan Pahae. Lokasi itu cukup luas dan sentral sehingga cocok untuk mendirikan gereja dan pastoran.
Pelayanan Pastoral
Ketika Tarutung diresmikan menjadi paroki, pastornya harus melayani 32 stasi yang telah terbentuk sebelumnya. Sebagian dari stasi itu adalah perkampungan yang hanya boleh dicapai dengan berjalan kaki dengan melewati sungai, jurang dan bebukitan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pastor paroki yang baru dan muda itu. Pastor Woestenberg sering sekali menginap di stasi. Biasanya ia tiba pada sore hari, kemudian mengadakan pembelajaran agama, penerangan tentang berbagai masalah, menyanyi dan berdoa Rosario. Keesokan harinya diadakan perayaan ekaristi, kemudian ia melanjutkan perjalanan ke stasi lainnya. Ia berkeliling selama 4-5 hari. Bila pastor pulang dari stasi, beberapa umat mambantu pastor dengan memasak makanan dan membersihkan pastoran.
Pergolakan politik di Indonesia yang terjadi sekitar tahun 1960, dimana terjadi pemberontakan Ahmad Husein di Padang dan Kolonel Simbolon di Medan, mempersulit pekerjaan pastor terutama ketika perang terbuka meluas sampai ke wilayah Tapanuli Utara. Sintua dari Stasi Siantarnaipospos ditembak mati oleh tentara pusat, padahal ia bukan seorang dari pemberontak. Kecurigaan yang semakin meluas menyebabkan kekacauan bahkan terjadinya perang antar-desa. Banyak penduduk terpaksa pergi ke daerah lain di Indonesia. Kesulitan pelayanan pastor juga diperparah dengan kecurigaan terhadap para misionaris oleh tentara-tentara pusat yang pada umumnya non-Kristen.
Situasi Umat
Pada umumnya, umat katolik di wilayah paroki Tarutung adalah mantan jemaat HKBP yang berpindah, terutama karena terjadi perselisihan internal di tubuh HKBP. Beberapa persoalan di antaranya merupakan hal sepele antara pendeta dengan jemaat. Walaupun alasan perpindahan umat ini tidak mendasar pada keyakinan iman yang kokoh, tetapi permohonan mereka tidak baik jika ditolak. Oleh karena itu, umat yang Katolik yang baru itu harus diberi perhatian khusus. Akan tetapi tidak semua umat setia dengan gereja Katolik; sebagian kembali lagi ke gereja sebelumnya, dan sebagian lagi pindah ke gereja-gereja protestan lainnya.
Dari tahun ke tahun penambahan jumlah umat semakin meningkat cepat karena perselisihan internal HKBP yang berlarut-larut. Puncak perselisihan itu terjadi pada tahun 1992, di mana S.A.E Nababan, ephorus HKBP terpilih dalam sinode Godang di Pearaja, berusaha digulingkan oleh Sountilon Simanjuntak, calon ephorus yang didukung oleh Presiden Soeharto (Pemerintah). Akibatnya perselisihan kedua kubu semakin menuncak pada konflik berdarah; ada beberapa pendeta yang meninggal. Tidak sedikit jemaat HKBP yang ingin pindah ke Katolik, tetapi para pastor tidak mau mengail di air yang keruh. Sikap itu sangat dihargai jemaat HKBP, sehingga relasi Gereja Katolik dan HKBP menjadi cukup akrab.
Walau relasi Katolik dan HKBP cukup hangat, tetap saja ada keluarga-keluarga kecil yang kemudian hari diterima menjadi umat Katolik. Tahun 1996 penambahan umat dan stasi hampir tidak terjadi lagi. Oleh karena itu, pastor yang berkarya di paroki Tarutung menjalankan rutinitas kebanyakan pastor paroki lainnya, yakni memelihara iman umat dengan memaklumkan sabda Allah, menerimakan sakramen-sakramen, menimba penyegaran intelektual dan spiritual.
Pembangunan Gereja Paroki dan Sekolah
Awal tahun 1962, dimulailah pembangunan gereja paroki yang baru. Sejumlah orang muda dan umat mengangkati pasir dari Sungai Aek Ristop untuk menimbun tanah gereja yang rendah agar tidak kebanjiran pada musim hujan. Pada bulan Juli 1962, gedung gereja telah selesai dibangun denga daya tampung 300 orang. Sementara rumah tempat tinggal pastor dibangun di belakang gereja. Mgr. Ferrerius van den Hurk diundang dari Medan ke Tarutung untuk memberkati gereja yang baru. Pesta pemberkatan sangat meriah, hikmat dan agung. Uskup bersama rombongan para pastor dan suster dari Balige dan Lintongnihuta dijemput dari perbatasan kota oleh 46 keluarga katolik dari Hutabarat dan wilayah kota. Mereka diarak dalam prosesi menuju gereja. Banyak umat dari stasi-stasi di pegunungan menghadiri pesta besar itu dengan antusias.
Tahun 1974, suasana sekitar gereja semakin ramai dengan kehadiran anak-anak Taman Kanak-kanak (TK) yang baru dibuka para suster SCMM. Tahun 1976, Sekolah Dasar (SD) Santa Maria diresmikan oleh bupati. Perkembangan gereja semakin tampak dengan didirikannya SMP Santa Maria. Gedungnya baru diresmikan oleh bupati G. Sinaga pada tanggal 1 September 1985. Pada tahun yang sama rumah pastoran yang layak dan enak dihuni juga telah selesai dibangun.
Tahun 1996, Mgr. Pius Datubara mengunjungi Tarutung guna menerimakan sakramen krisma dan melantik Dewan paroki. Kedua peristiwa penting ini saling berkaitan untuk menjadi titik mulai menata hari depan yang lebih baik. Pertambahan umat katolik di Tarutung dan juga kunjungan uskup membuat gedung gereja paroki terasa terlalu kecil. Maka dibentuklah panitia pembangunan gereja. Dimulailah usaha mencari dana. Tanah di belakang pastoran juga diperluas.
Keluarga dermawan asal Sumatera Utara, yakni keluarga Tommy Suryadi, berhasil menggerakkan sekelompok aktivis di Jakarta. Mereka mengadakan yang disebut dengan Malam Cinta Kasih. Acara itu dilaksanakan di Puri Agung Sahid Jaya Hotel, Jakarta. Acara itu dihadiri oleh Mgr. Pius Datubara, Mgr. Pietro Sambi (duta besar Vatikan), Cosman Datubara (Menteri Kehutanan) dan banyak orang lainnya. Para dermawan itu menyumbangkan ratusan juta untuk membiayai pembangunan gereja inkulturatif Batak Toba di Kota Tarutung. Maka tanggal 5 Juli 1998 bangunan yang dinanti-nantikan telah selesai dibangun. Gereja itu diberkati oleh Mgr. Pius Datubara dan diresmikan oleh Bupati T.M.H Sinaga.
Hari raya Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda yang jatuh pada 8 Desember 2002, menjadi hari bersejarah yakni penyerahan pelayanan paroki Santa Maria dari Ordo Kapusin kepada Ordo Serikat Jesuit (SJ). Pada hari itu juga diadakan peresmian gedung-gedung baru SMA dan SMP Santa Maria, oleh Bupati R.E Nainggolan.
Pelayan Pastoral
a. Pelayanan Ordo Kapusin (OFM Cap), tahun 1957-2002
Ordo Kapusin sangat berjasa dalam pewartaan iman di Tapanuli Utara, khususnya di Rura Silindung. Sejak pendirian paroki Santa Maria – Tarutung pada 1 Juli 1957, mereka tetap berjuang dengan gigih membangun stasi-stasi dan memelihara iman Katolik selama berpuluh-puluh tahun. Berikut ini adalah pelayanan para pastor Kapusin di paroki Tarutung.
Pastor Lambertus Woestenberg (1957-1965) dipindahkan dari Tarutung menuju Pematangsiantar. Ia digantikan oleh Pastor Rochus Raessens (lebih dikenal dengan sebutan Pastor Ramses), yang juga pernah melayani di beberapa paroki. Ia pernah mendapat pelatihan kesehatan di Belanda selama dua tahun. Maka selama berkarya di Tarutung ia lebih banyak memberi perhatian pada karya kesehatan jasmani. Ia mendirikan klinik di dekat paroki.
Wilayah paroki Tarutung terlalu luas untuk dilayani satu orang pastor, apalagi kalau pastor tersebut lebih menyibukkan diri pada bidang medis. Oleh karena itu, setelah 3 tahun berkarya, Pastor Ramses dipindahkan dari Tarutung. Pastor Woestenberg diutus kembali ke Tarutung untuk memulihkan keadaan paroki dan semua stasinya. Pada bulan November 1968, datanglah empat orang suster SCMM dari Sibolga, dan membuka biara di Tarutung. Mereka melanjutkan pengobatan di poliklinik yang ditinggalkan oleh pastor Ramses.
Awal 1969, Pastor Woestenberg pindah kembali ke Pematangsiantar. Ia digantikan oleh Pastor Veldkamp, yang masih berusia 31 tahun, dan baru tiga tahun berada di Sumatera Utara. Sebagai pastor muda yang cukup lincah, ia mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan bahasa, budaya, adat, iklim dan cara bergaul. Walau demkian, dengan gigih ia mengunjungi stasi-stasi yang jauh dengan medan yang sangat berat.
Ketika Pastor Veldkamp beristirahat ke Belanda antara tahun 1970-1971. Untuk sementara, ia digantikan oleh Pastor Mauritius van Maurik (30 tahun) bersama Pastor Yohanes Simamora (29 tahun ). Pastor Yohanes Simamora adalah pastor pertama dari suku Batak yang melayani di paroki Tarutung. Semangat umat katolik, khususnya stasi Aek Raja, semakin membara setelah menyaksikan dua putra derah ditahbiskan menjadi imam, yakni Pastor Marcelinus Manalu (1969) dan Pastor Philippus Manalu (1973).
Pada tahun 1974, pastor Veldkamp digantikan oleh Pastor Hubertus Tamba, OFM Cap., Kala itu ia masih berusia 31 tahun. Usia imamatnya masih 5 tahun. Ia berasal dari paroki Parlilitan. Setahun kemudian tenaga pastoral ditambah dengan kehadiran Pastor Yosue Steiner yang berasal dari Swiss. Ia seorang imam yang sangat giat bekerja tanpa mengenal lelah, hidupnya juga sederhana.
Pastor Hubertus Tamba meninggalkan Tarutung pada tahun 1976. Maka tinggallah pastor Yosue seorang diri. Setahun kemudian Pastor Rajagukguk memulai karyanya di paroki Tarutung selama 3 tahun ke depan. Tahun 1980 Pastor Yosue kembali melayani seorang diri di paroki Tarutung.
Pastor Ambrosious Sihombing ditugaskan ke Paroki tarutung pada tahun 1981. Bersama Pastor Yosue, ia berjuang membangun gereja dan menata kembali gereja dengan kepengurusan yang sederhana. Mereka mengadakan pertemuan yang disebut dengan sermon rayon dan sermon bolon, untuk membekali para pengurus gereja dengan pengetahuan agama katolik dan keterampilan pastoral yang diperlukan.
Pastor Yosua dipindahkan tahun 1982. Tahun 1985 Pastor Asterius van Reen diutus ke Tarutung, sementara Pastor Ambrosius Sihombing dipindahkan pada tahun 1986. Setelah beberapa tahun melayani paroki seorang diri, Pastor Asterius ditemani oleh Pastor Filippus Manalu (putera Aek Raja) pada tahun 1989. Pastor Asterius meninggalkan paroki Tarutung pada tahun 1991. Pastor Oktavianus Situngkir OFM Cap, yang baru ditahbiskan memulainya karyanya di Tarutung pada tahun 1992. Pastor Filippus meninggalkan Tarutung dan digantikan oleh Pastor Monaldus Banjarnahor sebagai pastor paroki tahun 1993-1998. Pastor Oktavianus Situngkir dipindahkan pada tahun 1995. Pastor Michael Hutabarat menjadi pastor paroki sampai penyerahan pelayanan paroki Santa Maria kepada Ordo Serikat Jesuit (SJ) pada 8 Desember 2002.
b. Pelayanan Ordo Serikat Jesuit (SJ), tahun 2002-2015
Pastor Rudolf Kurris, SJ adalah jesuit pertama yang tiba di Tarutung pada 22 Agustus 2002. Oleh Mgr. Pius Datubara, ia diangkat menjadi pastor paroki pada 8 Desember 2002. Serah terima pastor paroki ini tidak banyak dihadiri umat. Ada kesan bahwa umat kurang menyutujui keputusan uskup itu. Ada hasutan umat yang sampai di telinga para Jesuit bahwa SJ itu adalah nama lain dari Siboan Jea (yang membawa malapetaka). Namun, pelayanan para Jesuit yang tidak jauh berbeda dengan para pastor terdahulu menciptakan relasi yang baik dengan umat.
Ketika serah terima jabatan pastor paroki, data statistik umat katolik tercatat 10.850 jiwa yang tersebar di Kota Tarutung dan 49 stasi, sementara luas wilayah paroki sekitar 4.000 kilometer persegi. Pelayanan para Jesuit terinspirasi dari ucapan seorang cardinal kepada para imamnya: “Sekarang tugas kalian bukan lagi membaptis orang yang mau bertobat, melainkan menobatkan orang yang sudah dibaptis”. Perkataan itu ditanggapi dengan meningkatkan mutu spiritual umat di Paroki Tarutung. Beberapa hal yang digalakkan para pastor adalah devosional seperti rosario dan juga hidup sakramental. Meraka menghidupkan kembali sakramen tobat yang nyaris lenyap. Maka dibangunlah dua kamar pengakuan dosa di gereja agar umat bisa membersihkan diri dari dosa menjelang hari raya natal.
Beberapa pastor Jesuit yang pernah berkarya di paroki Tarutung adalah Pastor Yosef Situmorang (pindah pada Agustus 2005), Pastor Laurentinus Sutarno (2005-2015), Pastor Bonaventura Hartaja Toto, seorang ahli fisika, yang juga meluangkan waktunya untuk mengajar fisika di SMA St. Maria – Tarutung.
c. Pelayanan Imam Diosesan Keuskupan Agung Medan
Serah terima pelayanan kepada imam diosesan KAM dilaksanakan pada 23 Agustus 2015. RD. Marianus Kedang diangkat menjadi pastor paroki, sementara pastor rekannya adalah RD Parulian Sihombing yang telah 2 tahun tinggal di Tarutung. Pelayanan para imam diosesan di paroki Tarutung melanjutkan pelayanan sudah tertata cukup baik oleh pendahulunya. Di samping itu, pelayanan juga harus disesuaikan dengan standar pelayanan parokial di Keuskupan Agung Medan.
Sampai saat ini, para imam diosesan berusaha mengembangkan paroki dan memelihara iman umat. Beberapa hal yang dilakukan seperti pembentukan tim pastoral, tim Kursus Persiapan Perkawinan (KPP), WKRI dan badan-badan lain; kelompok koor semakin digalakkan, pembukuan tata cara perayaan-perayaan; beberapa gereja dibangun dan direhap.
Sejak Agustus 2019 sampai saat ini, Paroki Tarutung digembalakan oleh RD Merdin M Sitanggang. Ia ditemani oleh RD Octavius Tarigan, RD Rafael Hendra Sirait dan Frater Juli Lingga. Beberapa imam diosesan yang pernah berkarya di paroki Tarutung adalah RD Henri Jhonson (2017-2020), RD Anggiat Sihotang (2018-2020).



Tinggalkan Balasan