Video Profil Paroki Pematangsiantar Jl. Medan (Juara Ke-2 Lomba Video Profil KAM, Kategori Video Panjang)

165

Pendirian Gereja di Jl. Medan perlahan-lahan terwujud melalui kehadiran Ordo Kapusin di sekitar Jl. Medan. Pada tahun 1966 Ordo Kapusin memulai rencana untuk mendirikan Seminari Agung di Pematangsiantar. RP Gonzalvus Snijders OFMCap memilih sebuah lokasi yang dikenal sebagai “Bukit Panjang” di Jalan Medan sebagai tempat Seminari Agung yang baru. Sejak itu RP Gonzalvus rutin datang dari Parapat untuk meninjau pembangunan Seminari Agung sembari juga merayakan ekaristi bersama umat Katolik Jl. Medan. Umat turut berpartisipasi dalam pembangunan biara dengan rutin. Pada tahun 1967, gedung Biara Kapusin Jl. Medan selesai dibangun. Pastor memberi salah satu ruangan biara untuk dipergunakan oleh umat menjadi tempat ibadat sembari menunggu selesainya pembangunan Gereja Biara. Pada tahun 1968, gedung gereja biara selesai dibangun. Tempat peribadatan umat kemudian pindah ke gereja ini meskipun gereja sendiri belum diberkati. Sejalan dengan selesainya pembangunan gereja biara maka diputuskan oleh pimpinan Keuskupan Agung Medan bahwa gereja ini menjadi gereja Paroki yang memiliki 11 stasi. Gereja ini kemudian dikenal sebagai gereja Paroki Pastor Bonus. RP. Gonzalvus Snijders OFMCap bertugas sebagai pastor paroki pertama. Pemberkatan gereja baru terjadi pada 19 Maret 1970 oleh Mgr. A.H. van den Hurk OFMCap. Dalam perayaan itu dilaksanakan juga penerimaan Sakramen Penguatan. Umat Katolik Jl. Medan pun kian berkembang dari waktu ke waktu terutama dengan keterlibatan para penghuni Biara Kapusin Jl. Medan melayani umat. Selain itu kehadiran para suster dari Kongregasi FCJM, KSSY, SCMM, dan KYM di wilayah paroki ini sungguh membantu perkembangan umat Katolik Jl. Medan. Demikian juga kehadiran SD RK7 yang dibangun tahun 1973 turut berperan mendukung pengembangan Paroki St. Fransiskus Assisi ini. Dari waktu ke waktu Paroki Pastor Bonus semakin berkembang. Secara iuridis Paroki ini adalah otonom di bawah otoritas Uskup Agung Keuskupan Agung Medan, tetapi dalam pelayanannya Paroki ini selalu berkaitan dengan Ordo Kapusin dalam diri Badan Kerjasama Kapusin Indonesia (BKS Kapindo) yang mengelola pendidikan Kapusin di Seminari Tinggi atau Biara Kapusin St. Fransiskus Assisi Jl. Medan. Kerjasama yang baik antara Keuskupan dan pihak Kapusin ini pantas disyukuri yang membuat perkembangan paroki ini tetap baik. Meskipun pelayanan di Paroki ini disadari baik dengan peran serta para Pastor dan frater Biara, disadari juga ada kekurangannya oleh umat. Peranan umat untuk mandiri tampaknya tidak optimal karena banyak hal karya pelayanan di gereja dikerjakan oleh para Frater. Selain itu umat juga sangat membutuhkan adanya ruangan di sekitar gereja yang dapat mereka pergunakan dalam karya pelayanan bagi umat. Oleh karena itu, sejak Oktober 1997 BKS Kapindo sudah mulai berpikir untuk meninjau status paroki Pastor Bonus menjadi paroki khusus (paroki tersendiri) atau gereja rektorat. Dengan demikian gedung paroki atau kantor paroki kiranya dibangun di luar kompleks biara. Pembicaraan ini dipicu oleh adanya usulan Paroki untuk membangun ruang Dewan Paroki di dalam kompleks Seminari Tinggi atau Biara Kapusin. Membangun ruang Dewan Paroki atau kantor paroki tersebut tampaknya kurang cocok lagi di lokasi gereja karena keterbatasan lahan. Maka pada Agustus 1998 BKS Kapusin mengusulkan supaya gereja Jl. Medan menjadi paroki tersendiri yang dilayani oleh para staf Rumah Pendidikan Kapusin. Sementara, kantor paroki untuk Paroki Siantar II (nama lebih umum kemudian untuk Pastor Bonus) diusulkan akan dipindahkan ke lokasi Gereja Katolik Stasi Termin, Pematangsiantar. Atas persetujuan dari Uskup Agung, pada tahun 1998 pusat dan kantor paroki dipindahkan dari Jalan Medan ke Gereja St. Petrus dan Paulus Termin, Pematangsiantar. Gereja Pastor Bonus ini menjadi satu stasi dari Paroki yang baru. Meskipun kantor paroki pindah ke Termin, tetapi Pastor paroki masih tetap berdomisili di Biara Kapusin St. Fransiskus Assisi. Ide untuk menjadikan Gereja Jl. Medan sebagai paroki tersendiri tetap hidup meskipun kantor paroki telah pindah ke Termin. Secara prinsipil, pada tahun 1999, Uskup telah menyatakan persetujuannya bahwa gereja Jl. Medan sebagai paroki tersendiri. Bahkan diberi peluang bahwa ide paroki mandiri itu dapat direalisasikan sejak 01 Januari 2000. Namun rencana itu belum terwujud karena Parokus Siantar II waktu itu, RP Yosef Rajagukguk OFMCap, masih perlu mempersiapkan hal-hal penting untuk merealisasikannya melalui rapat-rapat di Paroki. Sehingga, Gereja Pastor Bonus Jl. Medan masih tetap berstatus sebagai salah satu stasi dari Paroki St. Petrus dan Paulus Termin.

#VIDEOPROFILPAROKIKAM2020 #PROFILPAROKISEKAM