Menghayati Pesan Kitab Suci dengan Memperhatikan Sastranya

104

Pada tanggal 16-18 Mei 2013, Paroki St. Yohanes Pembaptis, Pakkat menyelenggarakan Kursus Lanjutan Kelompok Kitab Suci (KLKKS). Peserta yang mengikuti kursus ini ada sebanyak 30 orang. Kursus ini merupakan lanjutan dari Kursus Dasar yang sudah pernah dibuat sebelumnya. Kursus ini didampingi oleh tim dari Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM: MP. Tampubolon dan Fernando HS Tamba.

 

Kursus dimulai pada hari Kamis, tanggal 16 Mei 2013, pukul 16.00 WIB dan berakhir pada hari Sabtu, tanggal 18 Mei 2013, pukul 14.00 WIB. Peserta cukup serius mengikuti kursus ini. Kepada peserta diberikan tehnik mengambil pesan Kitab Suci dengan memperhatikan jenis sastra yang dipakai untuk menuliskan Kitab Suci. Banyak sastra yang dipakai untuk menuliskan Kitab Suci. Pada kesempatan ini, kepada peserta diberikan topik tentang sastra perumpamaan, sastra kisah panggilan, dan sastra mukjizat. Selain mempelajari jenis dan bentuk sastra, kepada peserta juga diberikan beberapa metode untuk mendalami Kitab Suci.

Dalam pemaparan, tim menegaskan bahwa mempelajari sastra dimaksudkan agar semakin memudahkan peserta untuk menemukan pesan Kitab Suci. Pesan Kitab Suci merupakan hal yang paling penting ketika kita membaca Kitab Suci. Kitab Suci itu dibungkus dengan sastra dengan tujuan untuk memudahkan pembaca memahami Kitab Suci.

Kursus ini ditutup dengan penegasan agar setiap peserta yang telah mengikuti kursus ini mengaktualkan apa yang telah mereka pelajari dalam kursus. Besar harapan bahwa bahan yang telah di dapat akan membantu peserta untuk semakin memahami Kitab Suci, terlebih jika peserta akan menyampaikan pesan itu kepada orang lain (dikotbahkan). Namun, meskipun demikian, setiap peserta harus menyadari bahwa pesan Kitab Suci terutama mau disampaikan kepada diri sendiri, bukan kepada orang lain (bdk. 2Sam 1-7a). Jasilah pelaku firman, bukan menjadi pendengar saja. (Menjemaat, Fernando Hadi Sumarta Tamba)