Kursus Marjamita

29

Salah satu pewartaan iman yang paling baik adalah berkotbah. Atas dasar kesadaran itu, pada 17-19 Mei 2013, Paroki St. Yosep Balige mengadakan Kursus Marjamita (kursus khotbah) untuk para pengurus gereja se-paroki. Hadir pada waktu itu kurang lebih 50 orang peserta. Kegiatan ini rupanya sudah rutin diadakan paroki selama 4 tahun belakangan. Karena itu, ada dari peserta yang sudah pernah mengikuti kursus yang sama selama tiga kali, dua kali, satu kali dan belum pernah. Namun, semua mereka baik yang sudah atau yang belum pernah kursus, hadir dengan cukup antusias. Rupanya mereke merasa bahwa kehadiran mereka bukan hanya kehadiran untuk kursus saja, tetapi juga perjumpaan antar sesama pengurus, kebersamaan untuk saling mengenal dan mengikuti tali persaudaraan yang lebih baik.

Kursus kali ini dipimpin oleh Bpk. Malau dan Bpk. Lingga dari Komisi Kateketik KAM. Kursus ini sederhana, ringan, tetapi cukup menarik. Pada awalnya, para peserta diminta untuk saling membagikan pengalamannya ketika mempersiapkan, menampilkan, dan mendengarkan jamita (kotbah). Sesudah mendengar sharing para peserta, pemberi kursus memberi bahan kursus sebagai solusi atas keluhan dan kesulitan dan harapan para peserta.

Bagi para peserta, kesulitan utama mereka saat mempersiapkan diri adalah bagaimana mengerti teks Kitak Suci yang hendak mereka kotbahkan da kemudian mengambil inti sari dari bacaan itu. Juga ketika hendak membawakan khotbahnya, kurangnya keyakinan diri. Seringkali terjadi bahwa apa yang mereka persiapkan, mereka kerjakan, tidak dapat dibawakan sesuai dengan harapan karena kesulitan rasa percaya diri yang minim itu. Sementara harapan para peserta selesai mengikuti kursus, mereka semakin dapat mengerti arti atau pesan bacaan Kitab Suci, menyampaikannya dengan baik, percaya diri dan dapat menumbuhkan iman umat yang mendengarkan mereka.

Dalam suatu kesempatan kursus, seorang pengurus dengan lantang berkata bahwa berkhotbah hendaknya dibedakan dari mengkhotbahi. Katanya, kerap dia mnyaksikan sesama pengurus yang berkotbah, tidak menyampaikan pesan Kitab Suci sesuai dengan bacaan yang dibacakan, tetapi menyampaikan pesan pribadi, kejengkelannya pada orang tertentu yang tidak dia sukai. Hal ini hendaknya dihindarkan oleh siapa pun yang hendak berkhotbah. Selain itu, ada juga kesan yang mengatakan bahwa tugas khotbah adalah tugas paling sulit, bahkan kadang menjengkelkan, karena itu sedapat mungkin dihindari para pengurus. Tugas berkhotbah sering merupakan keterpaksaan untuk mereka.

Namaun, ketika mereka telah mengikuti kursus, mereka akhirnya mendapat pencerahan. Mereka kemudian mengerti bahwa berkhotbah yang telah dipercayakan seharusnya mereka lakukan dengan hati, denga suka cita dalam semangat pelayanan. Mereka juga lebih merasa percaya diri, karena selama kursus mereka disadarkan bahwa tugas berkhotbah itu bukanlah karya mereka sendiri, tetapi terutama merupakan karya Tuhan di tengah-tengah umat-Nya.

Pada penutupan, RP. Leopold Purba, OFMCap mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dan berpartisipasi dalam kursus tersebut. Ia juga merasa bangga, senang, da punya harapan yang lebih baik akan PAroki Balige. Akhirnya para pengurus disebutnya sebagai “Sibahut” (Sipararat Barita Nauli tu huta-huta). (Menjemaat, Fr. Supriyadi Pardosi)