IN MEMORIAM MONSINYUR ANICETUS SINAGA, OFMCAP

56
Uskup Agung Medan Mgr Anicetus Bongsu Antonius Sinaga OFMCap saat ditemui di Gedung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Cut Meutia Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 9/11.

Sampai pada tanggal 20 November 1997 saya belum pernah melihat apalagi  bertemu dengan Almarhum Yang Mulia Mgr. Anicetus Sinaga, OFMCap; meski namanya sudah sering saya dengar dan telah membaca  tulisan-tulisan-nya, khusus-nya mengenai Budaya Batak Toba. Hal ini bisa dimaklumi karena seluruh formatio saya sebagai Imam Karmelit, saya jalani di Malang, Jawa Timur.

Anganku kembali jauh menerawang ke masa silam,  ketika Romo Provisial Ordo Karmel, Heribertus Heru Purwanto, O.Carm, mengatakan:” kalian berdua tidak jadi ditahbiskan oleh Mgr. A.G. Pius Datubara, karena beliau sedang  sakit serius, sedang dibawa berobat ke Singapura. Mungkin kalian akan ditahbiskan oleh Uskup Sibolga, tapi belum pasti, kalau tidak…, belum ada keputusan”. Waktu mendengar ucapan Provinsial tersebut , saya merasa  biasa – biasa saja, tidak kwatir, barangkali juga karena belum benar-benar paham situasi.

Akhirnya, 20 November 1997  pukul 22.00,  kami mengadakan gladi resik bersama Mgr. Anicetus; beliau baru datang dari Sibolga dan langsung latihan. Kesan sekilas yang saya ingat, bahwa Mgr. Anicetus sangat bersahabat,  banyak dikerumuni oleh umat Allah, sehingga lama pulang ke Pematangsiantar untuk menginap. Besoknya, 21 November 1997 pkl. 09. 00, misa tahbisan  kami berdua bersama dengan almarhum Romo Carolus Tribeno, O.Carm di Paroki Kristus Raja, Perdagangan berlangsung dengan baik. Syukur kepada Tuhan, tahbisan   tidak jadi ditunda, dan sangat sulit membayangkan, kalau batal  sehari sebelum hari H, mengingat para undangan dan banyak-nya  persiapan yang sudah dibuat. Syukur kepada Tuhan dan  terima kasih yang tak terhingga kepada Mgr. Anicetus, karena kami sudah terhindar dari kekacauan yang tidak terbayangkan..

Setelah bekerja sebagai Vikaris Parokial di Paroki Perdagangan dan Tanjung Balai selama tiga tahun,  saya pun meninggalkan Keuskupan Agung Medan, dan baru kembali pada tahun 2007 di Sidikalang. Pada tahun 2009 saya mulai terlibat di Keuskupan Agung Medan sebagai anggota Dewan Imam (DIKAM) dan Konsultores sampai beliau emeritus di KAM. Itulah awal perkenalan kembali yang membuahkan kerjasama dalam banyak hal , kedekatan, rasa sayang , peneguhan  dan sekaligus kekaguman dan respek  kepada almarhum. Apa yang saya alami  dari Almarhum  Mgr. Anicetus Sinaga OFMCap? Ada banyak hal yang indah!  Barangkali tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh saudara saudari-saudari yang lain. Tidak mudah memilah-nya  karena pribadinya begitu kaya, tetapi sekaligus tidak sulit menyebutkan karena tampilan dan respon beliau begitu nyata dan berkesan  dirasakan kalau kita bertemu. Meminjam istilah Bapak Adrianus Meliala: Uskup yang terang benderang bagi masyarakat Medan.

Dari segi rohani beliau adalah seorang pendoa, reflektif, dan menyediakan banyak  waktu untuk meditasi. Dari segi kepribadian banyak hal bisa diungkapkan. Beliau pribadi yang hangat, bersahaja, rendah hati, bersahabat, dan aneka atribut positip  lain, sebagai Uskup, sebagai Kapusin yang mencerminkan kekayaan pribadinya. Dalam suatu kesempatan istimewa, saya pernah menyupiri Mgr. Sinaga, Mgr. Martinus Dogma Situmorang (Alm), dan Mgr. Aloysius Sudarso (Uskup Agung Palembang). Luar biasa, perjalanan yang sangat macet dari Catholic Center menuju Restoran Budaya, Tanjung Morowa, penuh dengan tertawa. Mgr. Sinaga selalu menjadi subjek pembicaraan sekaligus bahan gojlokan . Saya sebagai Imam tidak berani memberi komentar, tapi saya menarik kesimpulan betapa para Uskup kami ini sungguh sungguh pengamat luar biasa; tahu apa yang terjadi di tengah umat,  dan yang sedang dihadapi oleh Gereja,  kocak, manusiawi, sekaligus ilahi. Ada pertanyaan yang saya ajukan kepada Mgr. Situmorang. Apa artinya magnanimitas dalam tulisan Mgr. dalam Buku Imamat Parmalim ke Imamat Katolik. Mgr. Situmorang bercerita panjang, diiringi dengan gelak tertawa meriah. Menurut Mgr. Situmorang,  sudah lama beliau memanggil Mgr. Anicetus Sinaga dengan sebutan Ompung (baca Oppung). Titel untuk Ompung, melalui proses yang matang, panjang, dan menyeruak. Magnanimitas, artinya pribadi yang berjiwa besar,luas, dan dalam. Adalah kemurahan hati yang melimpah, tumpah ruah. Saya merasa terberkati mengalami saat itu,  seperti Petrus di Gunung Tabor, sehingga macetnya jalan tidak terasa. Dari segi intelektual, tidak diragukan lagi. Mulai dari bahan rapat yang dipersiapkan dengan sistematis sampai kepada tulisan – tulisan ilmiah.  Tidak berlebihan kalau banyak orang menyebutnya: Pemikir Keagamaan, Kebudayaan, dan Kebangsaan. Pada masa beliau, KAM semakin tertata dan paroki-paroki banyak dimekarkan. Mgr. Situmorang benar! Tidak ada manusia yang sempurna tapi bagi saya  Mgr. Anicetus adalah pribadi yang kaya mempesona, menuju sempurna.

Bagi para Karmelit yang tinggal di Komisariat Sumatera, pernah disindir dengan halus, bahwa kami mulai lupa berdoa, terlalu sibuk di Paroki. Ungkapan ini sempat membuat kami malu, karena diungkapkan di muka umum. Tetapi kami akhirnya menyadari bahwa yang dikatakan oleh Mgr. Sinaga ada benarnya. Dan kami yakin bahwa beliau mengatakan itu bukan untuk  mendiskreditkan, tetapi lebih sebagai cinta seorang gembala utama  mengingatkan imam-imam-nya, khususnya kami para Karmelit yang berkarya di Paroki. Kami lihat sebagai suara kenabian, sehingga kami lebih menata hidup doa.  Saya juga mendengar, ketika saya masih di Timor Leste,  ada persoalan tanah dengan penduduk setempat di Tanjung Pinggir, Pematangsiantar.  Mgr. Sinaga melalui keponakannya,  turut membantu memediasi, sehingga permasalahan dapat selesai dengan baik. Mgr. Anicetus juga  tak henti-hentinya mendorong kami untuk memulai pembangunan Biara dan Pusat Spiritualitas Karmel di Tanjung Pinggir. Mgr. Sinaga juga adalah pribadi yang mengingatkan; sering bercerita bahwa Karmel sejak awal sudah terlibat di KAM, baik itu di paroki tetapi juga di Seminari Tinggi.  Sungguh,  Karmel  Komisariat  Sumatera banyak memperoleh  sentuhan  dari Mgr. Sinaga.

Secara personal , saya sangat bersyukur bahwa pernah mengenal dan bekerjasama dalam waktu yang cukup lama dengan Mgr. Anicetus. Banyak hal yang  saya pelajari; yang pasti memperkaya hidupku dan tentu saja menguatkan panggilanku sebagai Imam dan Karmelit. Meski beliau meninggal dalam tugas sebagai Administrator Keuskupan Sibolga, tetapi melihat perjalanan hidupnya, karya,  dan dedikasinya, kepada Gereja,    beliau sudah menjalani hidup ini dengan tuntas. Terima kasih Ompung, beristirahatlah dalam keabadian bersama para Kudus di surga; doakanlah kami yang masih berjuang di dunia ini. Requiescat in pace Ompung Mgr. Anicetus. (RP. Frans Borta Rumapea, O.Carm)