Hari OMK Kuasi Paroki Tiganderket

26

Merujuk program Keuskupan Agung Medan tentang Megabina Kaum Muda, Kuasiparoki St. Monika Tiganderket coba menanggapinya dengan penanganan yang terus-menerus kepada Kaum Muda di Kuasi Paroki yang baru ini. Setelah resmi jadi Kuasi Paroki pada Mei 2014 yang lewat, ini pertama kali kami mengadakan kegiatan untuk Kaum Muda. Karena sifatnya masih baru pertama kali, maka segala kegiatan yang ditampilkan pun masih mencoba-coba, belum ada standart yang harus diikuti.

Kegiatan OMK ini diladakan secara berkelanjutan, bukan satu atau dua hari penuh, tetapi selama kurang lebih satu bulan. Sejak awal Agustus 2015, sudah diadakan pertandingan-pertandingan olah raga di pusat paroki setiap hari Minggu sore. Dan kegiatan itu berpuncak pada hari Sabtu-Minggu tgl 12-13 September 2015. OMK yang dikerahkan ikut serta dalam kegiatan ini adalah orang muda mulai usia kelas I SMP ke atas.

Perlombaan yang dipertandingkan selama masa kompetisi tersebut adalah:
1.    Catur Putra-putri
2.    Tenis Meja Putra-putri
3.    Badminton Putra-putri
4.    Bola Volley Putra-putri
5.    Tarik tambang Putra-putri
6.    Vocal solo Putra-putri
7.    Kuis Ajaran Gereja per kontingen (bebas berapa kontingen setiap stasi)
8.    Tari Budaya per kontingen (Bebas berapa kontigen setiap stasi)
9.    Lomba Mazmur Tanggapan dan Alleuya per kontigen (bebas tiap stasi membuat kontingen)

Karena pertandingan olah raga system jumpa sudah selesai pada masa-masa kompitisi maka pada hari puncak tinggal menampilkan final saja dan juga kegiatan pembinaan yang berkaitan dengan kaum muda.
Kegiatan Hari OMK ini dihadiri 320 orang kaum muda separoki, walaupun dari 14 stasi yang ada di Kuasi Paroki Tiganderket sebanyak 5 stasi tidak mengutus kontigennya karena ketiadaan organisasi OMK di stasi tersebut.
Peserta hari OMK tersebut menginap di rumah-rumah umat yang dibagi 20 orang per keluarga, karena fasilitas penginapan yang sangat serba terbatas di kuasi Paroki Tiganderket. Dengan hati riang gembira umat di stasi induk Kuasi Paroki Tiganderket menerima peserta menginap di rumahnya kendatipun sarana di rumah terbatas, misalnya air dan kamar mandi. Namun semuanya bisa teratasi.
Untuk mengurangi pengeluaran konsumsi selama 2 hari, dari setiap stasi diharapkan partisipasi berupa bahan-bahan makanan dan sayuran untuk dimasak oleh panitia. Sayur-sayuran dan telor dibawa masing-masing kontingen dari stasi hingga cukup selama perayaan. Beras dan ikan dibeli oleh panitia. Untuk memasak diserahkan tanggung jawab kepada umat stasi induk Tiganderket.

Demikian, acara yang disiapkan panitia bisa berlangsung dengan baik berkat kerjasama semua pihak yang merasa bertanggung jawab terhadap pembinaan kaum muda kita.
Kegiatan pada puncak hari OMK ini begitu bervariasi sehingga tidak membosankan. Secara sengaja panitia merancang system Outbond kepada peserta karena metode itu sangat manjur untuk kaum muda. Di dalamnya ditekankan kerjasama, kekompakan, ketelitian, ketelatenan dan kesabaran. Dalam kegagalan apapun, tidak diperkenankan menyalahkan siapapun. Tetapi setiap kali terjadi kegagalan mestinya kita mampu untuk bangkit kembali dan berjuang. Walau tampak sifatnya hanya sekedar permainan namun pesannya sangat mendalam bagi orang yang mengalaminya.

Misalnya, permainan memasukkan air ke dalam botol dengan sedokan tangan, di mana satu kelompok terdiri dari 20 orang. Jika buru-buru dan tidak telaten, maka setetes air pun tidak akan pernah sampai di ujung botol karen semua air tercecer di tengah jalan. Untuk itu perlu kesabaran, ketelitian, ketelatenan dan mau berkorban (basah kuyup) demi tujuan yang hendak dicapai.
Permainan lain juga membawa piring di atas tali dengan botol berisi air di atas piring dan di ujung botol ada bola pimpong. Ini juga jenis permainan kelompok yang menguji kesabaran dan kerjasama. Jika seorang lalai memegang tali maka semua barang yang di atas tali tadi akan jatuh. Untuk itu, salah seorang harus bertindak sebagai pemimpin dan yang lain mesti mendengar arahan pemimpin itu.
Demikianlah kegiatan OMK ini berjalan dengan lancar tanpa ada perkelahian atau permusuhan. Semua merasa sebagai saudara, karena kegiatan outbond juga telah membuat mereka harus berbaur satu sama lain.

(P. Liber + ES)