Bersama mantan Uskup Agung Palestina, Hilarion Capucci kita berjuang melindungi setiap Hak Asasi Manusia walau di tengah Pandemi COVID-19

74
https://www.bbc.com/news/world-middle-east-38489550

Hilarion ibn Bashir Capucci adalah nama lengkap dari salah satu uskup di Palestina yang telah wafat. Beliau lahir di Aleepo, Suriah pada tanggal 02 Maret 1922. Dan, ia ditahbiskan pada tanggal 20 Juli 1947.Beliau adalah Uskup sekaligus aktivis yang memperjuangkan kemerdekaan palestina. Tuhan adalah kebenaran dan penderitaan Palestina adalah kebenaran,” katanya pada saya pada tahun 1995 saat makan siang di Kafetaria School of Oriental & African Studies di Universitas London. Selain aktivis untuk memerjuangkan kemerdekaan palestina, Hilarion Capucci juga sangat mendukung solidaritas antara Kristen dan Muslim, dengan alasan bahwa keduanya adalah agama monoteistik dan pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama. Dia mengutip keberadaan orang-orang Arab Kristen seperti Ghassanid dan pentingnya Perawan Maria dalam Alquran sebagai penghubung yang mengikat orang-orang ahli alkitab. Beliau wafat pada tanggal 01 Januari 2017 pada usia 94 tahun.

Karya-karya dan teladan dari seorang Uskup Hilarion Capucci adalah beliau bukan hanya menjadi seorang uskup yang hanya berbicara tentang kebaikan di gereja saja, tetapi juga, beliau merupakan aktivis pembela kemerdekaan Palestina. Memperjuangkan hak-hak kemerdekaan Palestina dan hak asasi manusia rakyat-rakyat Palestina. Beliau adalah seorang imam yang mengikuti hati nuraninya, bahkan jika itu berarti terlibat dalam perjuangan bersenjata. Dan pertemuan hierarki Kristen di Damaskus pada September 1974 dikatakan telah menyatakan bahwa penangkapan Capucci adalah tindakan yang dimaksudkan oleh negara Israel untuk membungkam kritik, menenangkan kelompok agama di Israel, dan memaksa Vatikan untuk mengubah kebijakannya di Palestina. Beliau menggambarkan Yesus sebagai the first fedayee atau pejuang kemerdekaan Palestina.

Menurut dasar pemikiran Capucci, rasa kemanusiaaannya lebih penting ketimbang harus memandang agama atau keyakinan. Beliau pernah menyampaikan sebuah pesan : “Saya adalah Uskup Agung Yerusalem; Saya hanyalah seorang gembala, kata Capucci. Jika penggembala melihat serigala mendekati kawanannya, dia membela kawanannya. Menurut Hilarion Capucci “Orang-orang Palestina itu merupakan teman dan sahabat-sahabat saya,” “Soalnya, cincin di jari saya ini menunjukkan pertunangan saya dengan Palestina. Semua anak Palestina adalah anak dan keluarga besarku … “Uskup Agung juga seorang ayah, lanjut Capucci, dan tanda keayahan adalah belas kasih. Seorang ayah tidak bisa melihat anak-anaknya menderita dan duduk diam dengan tangan terikat. Dia harus berdiri untuk membela anak-anaknya. “Orang-orang Palestina adalah anak-anak saya,” kata uskup agung itu. “Mereka telah ditindas, mereka telah menderita ketidakadilan yang besar, hak-hak mereka telah ditolak, martabat mereka diinjak-injak, teman sehari-hari mereka tidak lain adalah penderitaan.” “Kami orang Palestina adalah pencari perdamaian,” lanjutnya. “Perdamaian adalah perjuangan bagi kami, Muslim, Yahudi dan Kristen. Kami adalah anak-anak Abraham dan harus bekerja sama. ” lanjut Capucci.

Menurut saya, dasar pemikiran dan teladan iman tokoh yang bisa diimplementasikan terhadap permasalahan dalam masa pandemi Covid-19 ini adalah, kita harus mengedepankan perjuangan hak asasi manusia. Maksud saya, di tengah wabah COVID-19 ini para dokter, perawat, serta seluruh anggota medis yang menjadi garda terdepan dalam mengurus masalah pandemi ini, berjibaku untuk memberantas wabah ini dengan segera. Mereka harus kerja berjam-jam menggunakan pakaian khusus untuk melindungi tubuh mereka agar tidak terpapar virus tersebut. Semestinya, kitapun harus melakukan seperti apa yang telah dilakukan uskup agung Palestina, Hilarion Capucci. Ya Berjuang, menurut saya berjuang adalah Pemikiran mantan Uskup Palestina alm. Hilarion Capucci. Dengan begitu, jangan hanya tenaga medis yang berjuang bahu-membahu melawan pandemi ini, tetapi seluruh warga negara Indonesia. Apa contoh yang bisa kita terapkan untuk melawan COVID-19 ini?

  • Kita bisa diam di rumah, melakukan kegiatan apapun yang menyenangkan. Contohnya: berolahraga, belajar online, dan sebagainya.
  • Jika memang ada keperluan mendesak kita jangan lupa memkai masker dan menjaga jarak agar tidak terciprat droplets dari orang sakit
  • Sesudah itu kita harus mencuci tangan kita setiap habis pulang dari tempat manapun.

Karena jika korban bertambah banyak terus setiap harinya, yang pasti terjadi adalah mereka pun akan kerja lebih lama lagi dengan pakaian khusus itu lebih lama lagi. Dan, tidak menutup kemungkinan bahwasannya mereka pun akan tertular penyakit COVID-19 ini. Menurut Ikatan Dokter Indonesia, sudah ada 181 tenaga medis yang meninggal akibat terpapar virus COVID-19.  Selain itu, jika memang ada di sekitar kalian orang yang sudah terpapar penyakit COVID-19 ini, jangan kiranya kalian merasa jijik dan acuh terhadap orang tersebut, karena mereka pasti merasa bahwa mereka itu “menjijikan” atau hal semacam itu. Jadi, yang harus kita lakukan Ketika ada orang terpapar COVID-19 di sekitar kita adalah kita tetap harus menjaga jarak, tetapi kita harus menanyakan kabarnya lewat pesan di sosial media, ataupun, kita juga bisa mengganttung makanan sehat sebagai bukti bahwaa kita peduli terhadap orang tersebut. Jadi mari kita semua mengikuti teladan mantan uskup agung Hilarion Capucci yaitu berjuang, ya berjuang untuk bisa memutuskan rantai penyebaran COVID-19 dan berjuang untuk tetap membela keadilan dan kesetaraan HAM.

 

Penulis artikel bernama Kornelia Tiovanni yang merupakan Mahasiswa semester 1 Fakultas Hukum Universitas Airlangga”