Perlunya Persiapan Komuni Pertama

“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah” (Markus 10:14). Sabda Tuhan ini mendorong Gereja dari masa ke masa untuk membawa anak-anak kepada Tuhan sejak usia dini. Penulis pernah mendengar bahwa anak yang baru lahir segera dibaptis supaya dengan segera dia menjadi anak Allah dan jika kepada anak terjadi bahaya maut ia sudah tergolong orang yang diselamatkan.

Sejarah Gereja juga mencatat bahwa anak-anak yang masih bayi (setelah dibaptis) diberi komuni dalam rupa anggur/Darah Kristus (bukan roti) untuk menghindarkan kalau-kalau anak kecil itu memuntahkannya. Tentang hal ini, dapat dilihat buku upacara Liturgi pada abad XIV.Dalam perjalanan waktu, khususnya di Gereja Latin (Katolik Roma), anak-anak diijinkan mulai menyambut pada “usia akal budi” yakni saat anak-anak dapat membedakan yang baik dan benar (tentu untuk hal-hal sesuai dengan usianya).

Mengenai pemberian komuni pertama kepada anak-anak, Paus Pius X (1835-1914) mengeluarkan dokumen yang diberi judul “Quam Singulari” (Betapa Istimewanya) pada tanggal 8 Agustus 1910. Dokumen ini dikeluarkan dengan maksud supaya anak-anak yang telah dibaptis memperoleh kesempatan sedini mungkin untuk mengalami anugerah Sakramen Pengampunan dan Komuni Pertama pada usia akal budi, yaitu ketika berumur sekitar tujuh tahun. Paus Pius X juga menganjurkan agar anak-anak kecil turut menerima komuni setiap hari. Dengan demikian kita disadarkan bahwa daya kekuatan Allah juga berkarya dalam hidup seorang anak (juga dalam diri kita), walaupun ia kurang menyadarinya.

Mengapa dikatakan usia akal budi berada sekitar umur tujuh tahun? Beberapa orang yang mendalami psiko-spiritual mengatakan bahwa: anak-anak berumur sekitar 7 tahun berada pada masa yang peka terhadap misteri yang agung. Oleh sebab itu pantaslah jika mereka memiliki hak untuk menerima anugerah sorgawi dengan menyambut makanan sorgawi yang amat bermanfaat bagi kehidupannya kini di bumi dan kelak di alam baka. Pada masa ini anak-anak masih amat polos, murni dan jujur meskipun sudah bisa membedakan mana yang baik dan jahat. Pengalaman rohani yang mendalam karena persatuan dengan Yesus dalam komuni akan sangat membekas dalam hidup selanjutnya dan sangat memengaruhi perkembangan hidup berimannya. Karena sudah mampu membedakan yang baik dan yang buruk maka anak-anak dalam usia ini pantas diberi kesempatan untuk memperoleh Sakramen Pengampunan Dosa (sebelum menerima komuni pertama).

Dalam dokumen “Betapa Istimewanya” dikatakan bahwa usia akal budi berada pada usia anak sekitar 7 tahun. Oleh sebab itu, usia penerima komuni pertama dapat berbeda di negara yang satu dengan negara yang lain. Di Indonesia, usia untuk menerima komuni pertama dirasa lebih tepat pada usia 10 tahun, mengingat bahwa setiap anak tidak sama tingkat pertumbuhannya. Anak-anak yang akan sambut pertama perlu dipersiapkan dengan baik. Dalam persiapan itu yang mendapat tanggungjawab utama adalah  orang tua  atau wali anak tersebut. Mereka yang lebih mengenal si anak sehingga merekalah yang sebenarnya yang lebih tahu apakah anak bersangkutan sudah layak menerima komuni pertama atau tidak. Pastor paroki dan atau pembina di wilayah bersangkutan juga ambil bagian untuk mempersiapkan si anak.

Beberapa hal yang sangat perlu diperhatikan untuk dapat menerima komuni pertama adalah: anak sudah dibaptis dan telah mempersiapkan diri dengan menerima Sakramen Pengampunan Dosa, telah mencapai usia akal budi (sekitar tujuh tahun/10 tahun), dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, dapat membedakan mana roti dan anggur biasa dan mana roti dan anggur kudus yang telah menjadi Tubuh dan Darah Yesus, memiliki rasa hormat yang pantas kepada Sakramen maha kudus, diarahkan untuk menerima sakramen pengampunan dosa dan komunipertama dengan penuh percaya dan memiliki niat baik, memiliki pengetahuan atau pemahaman secukupnya tentang Sakramen meskipun belum lengkap, dapat melakukan puasa sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, serta mendapat bimbingan yang cukup dari orang tua, guru-guru, petugas pastoral, dan imam/pastor.

Seperti yang telah kami sebut di atas, hak dan tanggung jawab pendidikan anak, termasuk pendidikan iman menjadi orang Katolik sejati, pertama-tama terletak di tangan orang tua. Maka orang tua yang bertanggung jawab atas tugasnya, niscaya tidak akan menunda-nunda ataupun mengabaikan kesempatan anak-anak mereka menerima sakramen inisiasi (salah satunya sakramen Ekaristi). Sangat disayangkan bila orang tua tidak mau peduli kapan anaknya mesti komuni pertama dan menerima sakramen Krisma. Kekurangseriusan orang tua dalam menghayati iman Katolik, seperti seringnya absen dari kewajiban merayakan Misa hari Minggu, juga akan berdampak pada sikap masa bodoh dalam pendidikan iman anak-anaknya.Kendati tanggung jawab pendidikan anak-anak terletak di tangan orang tua, lantaran oleh pelbagai keterbatasan dalam pelaksanaannya orang tua dibantu oleh sekolah dan Gereja.

Bantuan sekolah dan Gereja ini bersifat melengkapi, bukan menggantikan ataupun mengambil alih. Karena Gereja - dalam hal ini seksi pendampingan iman anak dan para pembinanya - membantu orang tua mempersiapkan putra-putrinya menyambut komuni, maka adanya kerjasama Gereja dan orang tua sangatlah diharapkan.
Bagaimana secara konkret kerjasama itu bisa diwujudkan? Pertama, orang tua perlu memotivasi dan mengingatkan anaknya agar dengan tekun mengikuti aneka kegiatan persiapan komuni pertama. Kemudian, orang tua ikut memantau kemajuan anaknya dalam persiapan komuni pertama, termasuk dalam menghafalkan doa-doa harian. Merupakan tugas orang tua membantu anak-anak ini sampai bisa menghafal doa-doa harian. Seandainya kesempatan komuni pertama ini tidak digunakan untuk menghafal doa-doa harian dan dasar-dasar iman (Sepuluh perintah Allah, lima perintah Gereja, dll), lalu kapan lagi anak-anak kita akan menghafal? Selain itu, orang tua perlu memantau tugas-tugas yang diberikan apakah sudah dikerjakan anak dengan benar dan baik.Ketiga, orang tua hendaknya juga mengamati sikap batin anak apakah mereka sudah “pantas” menyambut komuni. Dalam persiapan komuni pertama mereka dibimbing merumuskan niat-niat konkretnya untuk mengatasi kecenderungan berbuat dosa, rajin berdoa pribadi, sikap hormat di Gereja dan kemauan menyalurkan berkat Tuhan kepada sesama. Tentu saja dalam hal ini keteladanan orang tua juga sangat menentukan.

Berhadapan dengan pertanyaan “Apakah harus “menyambut pertama” baru boleh menyambut komuni?” Beberapa  orang tua  Katolik lalai melaksanakan tanggunjawabnya maka anak sampai usia dewasa tidak menyambut. Kalau disuruh untuk ikut kelas persiapan mereka tidak mau karena alasan malu bergabung dengan anak-anak kecil. Sangat baik sebenarnya jika paroki mengadakan kelas persiapan khusus untuk anak yang lebih besar (anak SMP [Sekolah Menengah Pertama] atau SMA [Sekolah Menengah Atas]) atau dewasa. Bagi mereka dapat diberi materi yang berbeda dari anak-anak SD (Sekolah Dasar). Yang perlu kita sadari untuk menjawab pertanyaan tadi adalah pengajaran Rasul Paulus tentang penerimaan Ekaristi, yaitu harus dengan iman dan kesadaran bahwa yang disambutnya adalah benar Kristus sendiri (lih. 1 Kor 10: 16); dan bahwa seseorang harus menyambut Ekaristi dalam keadaan rahmat (tidak dalam dosa berat), sebab tanpa persyaratan ini maka seseorang menerima Ekaristi dengan tidak layak, dan dengan demikian mendatangkan hukuman kepada dirinya sendiri (1 Kor 11: 27-29). Jika anak tidak dipersiapkan dengan baik, apakah ia dapat memenuhi nasehat Rasul Paulus ini? (Sr n ES)

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Kalender Liturgi

  • Saran Nyanyian TPE/TPS

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini493
mod_vvisit_counterKemarin372
mod_vvisit_counterMinggu Ini493
mod_vvisit_counterMinggu lalu2586
mod_vvisit_counterBulan ini8888
mod_vvisit_counterBulan lalu14980
mod_vvisit_counterTotal486579