Kitab Suci dalam Liturgi

Kitab Suci merupakan komponen prinsipil dalam perayaan liturgi. Tanpa pembacaan Kitab Suci suatu perayaan tidak mungkin disebut liturgi. Hubungan Kitab Suci dengan liturgi sedemikian erat sehingga keduanya tidak mungkin dipisahkan dari perayaan kristen dan bersama-sama membangun kehidupan Gereja. Kita boleh memberi illustrasi lewat ketergantungan air dan beras bila seseorang ingin memperoleh nasi. Beras tanpa air tidak akan pernah menjadi nasi dan air tanpa beras juga tidak akan mungkin menghasilkan nasi.
Demikianlah juga liturgi mengaktualisasikan teks-teks biblis di tengah-tengah umat yang berkumpul sekitar Yesus untuk mendekatkan diri kepada Allah dan teks-teks biblis merupakan sumber utama bagi liturgi. Serentak juga mau dikatakan bahwa banyak teks biblis lahir dari liturgi dan demi liturgi.

Sehubungan dengan Kitab Suci sebagai norma dan dasar iman dituangkan khususnya dalam tiga ensiklik: Providentissimus Deus dari Leo XIII (18 Nopember 1893), Spiritus Paraclitus dari Benediktus XV (15 September 1920), Divino Afflante Spiritu dari Pius XII (30 September 1943) dan secara lebih nyata dalam SC dan DV. Dokumen Konsili Vatikan II berulangkali berbicara tentang “Wahyu Ilahi”, “Sabda Allah”, “Kitab Suci”, “PL dan PB”, “Bacaan (-bacaan) Sabda Allah atau Kitab Suci”, “perayaan (-perayaan) Sabda Allah” dll.

Dengan ini mau ditekankan bahwa Sabda Allah adalah pusat kehidupan Gereja yang dirayakan dalam liturgi.

Pandangan Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II khususnya dalam Sacrosanctum Concilium dan Dei Verbum berbicara tentang hubungan Kitab Suci dengan Liturgi. DV melihat kesejajaran antara meja Sabda dengan meja Ekaristi. Baik meja Sabda maupun meja Ekaristi keduanya sama-sama membina kehidupan kristiani umat beriman. Konsili menekankan pentingnya Sabda Allah dalam perayaan liturgi.

Dengan ini mau ditandaskan tiga hal: pertama, lewat Kitab Suci yang diwartakan dalam liturgi, hadirlah Kristus; kedua, dalam Sabda yang diwartakan lewat kegiatan liturgis, Kristus berbicara; ketiga, liturgi Sabda bersatu erat dengan liturgi ekaristi sehingga merupakan satu kegiatan ibadat. Ini berarti bahwa Sabda Allah yang dirayakan adalah tindakan kultus yang mencapai tujuan akhir lewat pewartaan, pewahyuan dan perayaan.

Akhirnya bisa disimpulkan hubungan Kitab Suci dan Liturgi demikian: Sabda Allah “mempersiapkan” perayaan sakramen; perayaan mengaktualisasikan Sabda Allah. Dengan ungkapan ini sangat jelas keduanya saling melengkapi demi kehidupan iman umat. Beras akan memberi kehidupan bagi manusia setelah bersatu dengan air, keduanya adalah “materi” yang memang mempunyai nilai dalam dirinya sendiri namun bila bersatu akan memberi nilai baru.(ES)

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Kalender Liturgi

  • Saran Nyanyian TPE/TPS

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini51
mod_vvisit_counterKemarin726
mod_vvisit_counterMinggu Ini2480
mod_vvisit_counterMinggu lalu4088
mod_vvisit_counterBulan ini7298
mod_vvisit_counterBulan lalu16047
mod_vvisit_counterTotal513624