Perlunya Pendidikan Liturgi

Pengantar

Konsili Vatikan II, merumuskan bahwa “Liturgi adalah pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; di situ pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya” (SC 7).
Pelaksana utama (subyek) liturgi adalah Kristus sendiri bersama dengan seluruh umat beriman dalam ikatan dengan Roh Kudus. Allah dalam diri Kristus hendak membebaskan, menguduskan dan menyelamatkan manusia. Seluruh umat beriman menyukurinya dan memuliakan Allah. Karya keselamatan Allah itu memuncak pada perayaan misteri paska, yakni sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus (bdk SC 5).  Hakekat dari sebuah perayaan adalah pesta, peristiwa hidup dan keterlibatan bersama. Dalam liturgi, pengundang adalah Allah, dan undangan adalah manusia. Setiap perjumpaan berisi suatu tema (misteri yang dirayakan).
Liturgi adalah perayaan  iman

Liturgi merupakan kultus publik Gereja: seraya memuliakan Allah, liturgi memuliakan Allah, liturgi menguduskan umat beriman. Di sini pelaku liturgi adalah Kristus sendiri, liturgi adalah perbuatan imami Kristus. Liturgi adalah perayaan institusional di mana Kristus sendirilah yang memimpin.
Merayakan liturgi berarti mengungkapkan dan menghayati iman. Liturgi adalah anugerah Tuhan di mana manusia bertemu dengan yang ilahi, yang lemah dengan Mahakuat, yang terbatas dan butuh dengan yang tak terbatas sumber hidup dan keselamatan. Melalui liturgi kita dapat bertemu dengan misteri Kristus dalam semua dimensinya karena dihadirkan pada kita secara sakramental. Dalam liturgi dilaksanakan ibadat umum seluruh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni oleh Kepala beserta para anggota-Nya. Liturgi memiliki semangat komunal atau berciri jemaat.

Liturgi adalah perayaan seluruh umat. Liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan seluruh umat kudus yang berhimpun. Maka liturgi menyangkut dan menampakkan seluruh Gereja dan membawa dampak bagi seluruh Gereja. Kita percaya akan Yesus yang sengsara, wafat, dan bangkit (misteri Paska). Liturgi sebagai perayaan iman semestinya dirayakan seturut citarasa budaya umat dan dalam kesatuan dengan Gereja universal. Untuk mengembangkan kehidupan liturgi yang demikian dibutuhkan pendidikan liturgi yang memadai bagi para imam, kaum religius, dan umat berbagai kalangan. Dalam pendidikan liturgi dikenal metode atau bentuk-bentuk pendidikan liturgi secara formal dan pendidikan liturgi non-formal. Proses pendidikan liturgi secara formal terjadi dalam sekolah, pelatihan atau kursus, dan katekese. Sementara proses pendidikan liturgi non-formal terjadi di ruang ibadat selama berliturgi. Dalam liturgi terjadi perjumpaan antara Allah dengan manusia. Perjumpaan ini bermula dari Allah yang mengundang manusia, agar turut ambil bagian dalam kehidupan/keselamatan Allah.
Umat Allah itu merayakan imannya secara bersama. Karena kebersamaan itu pula maka ada aturan-aturan yang bermaksud memelihara persaudaraan itu. Karena itu ada kalanya kita mesti tunduk pada aturan-aturan yang walaupun mungkin tidak persis sesuai dengan kehendak kita. Dalam kebersamaan perlu ada toleransi. Wujud kebersamaan itu kita tampakkan misalnya melalui doa untuk orang sakit. Seluruh kehidupan kita rayakan dalam liturgi resmi itu. Dengan itu kita dipanggil untuk merayakan iman yang hidup.

Pendidikan Liturgi
Salah satu Butir Sinode KAM 1-5 Desember 2008 ialah perlunya pendidikan Liturgi yang memadai bagi para imam, kaum religius dan umat berbagai kalangan (Butir-buir Sinode V Keuskupan Agung Medann nomor 16). Sebenarnya apa yang dihasilkan oleh Sinode itu bukanlah hal yang baru, sebab pentingnya pendidikan Liturgi untuk umat sudah dituliskan dalam Konstitusi Liturgi nomor 14-19. Pendidikan liturgi bertujuan untuk membantu umat agar semakin menghayati perayaan iman dan menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan itu tidak hanya bertujuan pendewasaan pribadi manusia seperti telah diuraikan, melainkan terutama hendak mencapai, supaya mereka yang telah dibaptis langkah demi langkah makin mendalami misteri keselamatan, dan dari hari ke hari makin menyadari kurnia iman yang telah mereka terima; supaya mereka belajar bersujud kepada Allah Bapa dalam Roh dan kebenaran (lih. Yoh 4:23), terutama dalam perayaan Liturgi; supaya mereka dibina untuk menghayati hidup mereka sebagai manusia baru dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati (Ef 4:22-24); supaya dengan demikian mereka mencapai kedewasaan penuh, serta tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (lih. Ef 4:13), dan ikut serta mengusahakan pertumbuhan Tubuh Mistik. Kecuali itu hendaklah umat beriman menyadari panggilan mereka, dan melatih diri untuk memberi kesaksian tentang harapan yang ada dalam diri mereka (lih. 1Ptr 3:15) serta mendukung perubahan dunia menurut tata-nilai kristen. Demikianlah nilai-nilai kodrati akan ditampung dalam perspektif menyeluruh manusia yang telah ditebus oleh Kristus, dan merupakan sumbangan bagi kesejahteraan segenap masyarakat.

Oleh karena itu Konsili ini mengingatkan kepada para Gembala jiwa-jiwa akan kewajiban mereka yang amat berat untuk mengusahakan segala sesuatu, supaya seluruh umat beriman menerima pendidikan kristen, terutama angkatan muda yang merupakan harapan Gereja. Pendidikan Liturgi bukan klaim milik klerus, biarawan/ti, tetapi seluruh umat beriman. 
Hendaknya pendidikan liturgi menjadi pendidikan spritualitas kristen baik secara non–formal maupun formal. Pendidikan liturgi formal bukanlah sekedar mempelajari aturan-aturan atau sebatas menghafal rubrik-rubrik, melainkan mempelajari latarbelakang setiap ritus, menguak nilai-nilai rohani dari semua itu. Sementara pendidikan non-formal berpusat pada pelaksanaan perayaan liturgis. Perayaan yang baik akan memupuk iman sementara perayaan jelek akan merusak iman. Maka, pendidikan liturgi menyangkut paham, pengalaman dan penghayatan mutlak tak terpisahkan dalam proses pendidikan kristiani, baik bagi kaum religius maupun awam dan terutama imam.  Pendidikan liturgi antara lain menyangkut ketujuh Sakramen, Sakramentali, Tahun Liturgi, Ibadat Harian, Seni dan Budaya.

Menurut jaring opini Sinode V KAM (2008) semua ini belumlah sungguh dipahami oleh kebanyakan umat. Bagi kebanyakan umat, liturgi terbatas pada acara dan peraturan-peraturan, yang mana boleh dan yang mana tidak boleh. Liturgi sebagai perayaan iman yang memiliki hubungan dengan kehidupan sehari-hari belum sungguh dihayati. Paham umat akan makna simbol-simbol liturgis masih sangat minim. Hal ini sebagai akibat dari minimnya katekese.
Pendidikan Liturgi untuk Kaum Awam (SC 19): (Pembinaan kaum Liturgis beriman). Hendaklah para gembala jiwa dengan tekun dan sabar mengusahakan pembinaan Liturgi kaum beriman serta secara aktif, baik lahir maupun batin, sesuai dengan umur, situasi, corak hidup dan taraf perkembangan religius mereka. Dengan demikian mereka menunaikan salah satu tugas utama pembagi misteri-misteri Allah yang setia. Dalam hal ini hendaklah mereka membimbing kawanan mereka bukan saja dengan kata-kata, melainkan juga dengan teladan.

Penutup

Merayakan liturgi berarti mengungkapkan dan menghayati iman. Liturgi adalah anugerah Tuhan di mana manusia bertemu dengan yang ilahi, yang lemah dengan Mahakuat, yang terbatas dan butuh dengan yang tak terbatas sumber hidup dan keselamatan. Melalui liturgi kita dapat bertemu dengan misteri Kristus dalam semua dimensinya karena dihadirkan pada kita secara sakramental. Dalam liturgi dilaksanakan ibadat umum seluruh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni oleh Kepala beserta para anggota-Nya. Liturgi memiliki semangat komunal atau berciri jemaat. Liturgi adalah perayaan seluruh umat. Liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan seluruh umat kudus yang berhimpun. Maka liturgi menyangkut seluruh Gereja, menampakkan seluruh Gereja dan membawa dampak bagi seluruh Gereja.
Agar liturgi semakin dihayati sebagai perayaan iman dan menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari, hendaknya pembinaan dan/atau pelatihan liturgi semakin ditingkatkan dan dilakukan terus-menerus secara intensif dan berkelanjutan kepada seluruh kalangan umat, para anggota tarekat religius, dan khususnya pendidikan liturgi itu tetap dimasukkan dalam program bina lanjut para imam.

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Kalender Liturgi

  • Saran Nyanyian TPE/TPS

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini52
mod_vvisit_counterKemarin693
mod_vvisit_counterMinggu Ini52
mod_vvisit_counterMinggu lalu4031
mod_vvisit_counterBulan ini12444
mod_vvisit_counterBulan lalu12588
mod_vvisit_counterTotal502723