Altar Sebagai Pusat Tata Ruang Liturgi

Pengantar

Bila kita masuk ke dalam gereja, kita akan melihat sebuah "meja" besar terletak di Santuarium (ruang kudus). Di sekitar meja itu ada lilin bernyala. Meja apakah itu sebenarnya? Meja yang kita lihat dan temukan di sekitar santuarium sering disebut sebagai altar.

Asal kata “altar”

Sebenarnya asal usul kata “altar” kuranglah jelas, entah dari kata Latin “alta res” (hal yang tinggi) atau “alta ara” (altar yang tinggi). Orang-orang Romawi kuno sudah membedakan dua macam altar: [1] “ara” merupakan altar kecil yang dapat dipindah-pindahkan, dipakai untuk kegiatan kultik orang biasa, untuk pengenangan orang mati, dsb; [2] “altare” merupakan altar yang lebih monumental, dibangun menjulang, khususnya untuk kegiatan kultik kaum kalangan atas. Orang Kristen perdana meminjam istilah “altare” itu terutama untuk menunjuk pada meja Kurban Perjanjian Baru, yang diwartakan Melkisedek (Kej 14:17) untuk menunjukkan meja pada perjamuan malam terakhir yang diadakan Yesus dengan para murid-Nya (Mat 26:26). Kadang kala “altar” dipahami juga sebagai “mesbah”.
Makna dan fungsi altar

Di atas altar, Kurban Salib dihadirkan dalam rupa tanda-tanda sakramental (PUMR 296). Altar adalah meja Tuhan, di sekelilingnya umat Allah berhimpun dan saling berbagi. Altar menjadi pusat kegiatan bersyukurnya umat. Altar, sebagai meja perjamuan kudus, seharusnya menjadi tempat yang paling mulia dan paling indah. Hendaknya dirancang dan dibangun bagi keperluan kegiatan liturgis komunitas/umat. Altar adalah tanda Kristus. Selain itu, altar adalah simbol Kristus sendiri.

Umat kristiani juga merupakan altar

Altar adalah simbol Kristus. Altar adalah juga Kristus sendiri. Itu memang makna simbolisasi liturgisnya. Namun, dalam tataran spiritual, ternyata altar juga menyimbolkan umat kristiani. Maksudnya, umat kristiani adalah altar-altar spiritual tempat kurban hidupnya dipersembahkan bagi Allah. St. Ignasius dari Antiokia, St. Polikarpus, dan St. Gregorius Agung pernah menyinggung gagasan ini. Orang kristiani yang memberikan dirinya sendiri, entah lewat doa maupun pengorbanan, menjadi batu-batu penjuru, di mana Yesus membangun altar Gereja-Nya. Dari altar mengalirlah spiritualitas jemaat dari setiap pribadi anggota Gereja.

Sebutan-sebutan lain untuk altar

Dalam buku liturgis tentang pemberkatan Gereja dan altar (Ordo Dedicationis Ecclesiae et Altaris, 1977) terdapat beberapa sebutan lain untuk altar, yakni: “meja sukacita”, “tempat persatuan dan perdamaian”, “sumber kesatuan dan persahabatan”, “pusat pujian dan syukur”. Sebutan-sebutan ini melengkapi makna utama sebuah altar sebagai meja kurban dan perjamuan.

Altar: meja kurban dan meja perjamuan
Altar sebagai meja kurban adalah tempat bagi Kurban Salib yang diabadikan dalam misteri berabad-abad hingga kedatangan Kristus kembali. Altar sebagai meja perjamuan adalah bagi warga Gereja yang berkumpul untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Allah dan menerima Tubuh dan Darah Kristus. Altar adalah meja Tuhan!

Altar yang permanen atau dapat dipindah?

Altar permanen adalah altar yang tetap, melekat pada lantai, tak mudah dipindah-pindah. Yang dapat dipindah-pindahkan kita sebut saja sebagai altar geser. Mau yang mana? Tak jadi masalah besar, yang penting altar itu bisa dikitari oleh para pelayan altar dan kegiatan liturgis dimungkinkan. Namun, jangan membangun altar permanen gaya lama, yakni yang menempel di dinding, sehingga tidak memungkinkan para pelayan mengitarinya (PUMR 298). Yang penting, altar itu cukup kokoh, anggun, dan bukan dari bahan murahan.

Di mana letak altar?

Altar adalah titik pusat perhatian jemaat yang berkumpul (PUMR 299). Namun, itu tidak berarti bahwa altar harus berada di titik pusat (aksis) bangunan gereja. Altar harus bisa dilihat oleh seluruh jemaat. Setiap kegiatan di sekitarnya harus terkomunikasikan dengan baik. Altar terletak di panti atau pelataran imam, yakni suatu area yang dikhususkan untuk pemimpin liturgi, dan membedakannya dengan area jemaat. Wilayah panti imam biasanya lebih tinggi daripada wilayah tempat jemaat berhimpun. Selain meja altar, di panti imam juga terdapat ambo (meja Sabda), kursi Imam (juga kursi Uskup jika di gereja katedral), kredens, mungkin juga tabernakel, dsb.

Apakah relikwi masih diperlukan?

Relikwi adalah peninggalan fisik dari orang-orang kudus atau martir, yang mati demi iman akan Kristus. Bisa berupa bagian dari tubuh, pakaian, dsb. Kebiasaan memasang relikwi pada altar sudah berlangsung berabad-abad. Biasanya yang disimpan adalah relikwi dari tubuh atau bahkan jenazah sang martir atau orang kudus. Kini menyimpan relikwi tidak lagi diharuskan, namun masih dianjurkan (PUMR 302). Relikwi yang disimpan pada altar hendaknya tidak mengandung keraguan akan keasliannya. Maka, jika relikwi itu kurang diyakini keotentikannya, lebih baik tidak disimpan di altar. Jika otentik, maka pemasangannya pun sebaiknya tidak “di atas altar” melainkan “di bawah altar”.

Apa arti menyimpan relikwi itu?

Jangan disalahartikan. Kita tidak membangun altar bagi para martir itu, melainkan bagi Allah yang Esa. Pengorbanan para kudus dan martir kita hormati dan kita kenangkan saat mendirikan altar itu. Maka, relikwi itu diletakkan di bawah altar. Jangan pula sekali-kali meletakkan relikwi, patung, atau gambar orang kudus/martir di atas meja altar.


Tata cara pengudusan altar


Pada waktu pemberkatan gereja, biasanya altar juga dikuduskan. Garis besar tata caranya sebagai berikut: [1] perecikan altar dengan air suci; [2] doa litani para kudus dan penempatan relikwi para martir/santo-santa; [3] doa pemberkatan; [4] pengurapan altar dengan minyak krisma; [5] pendupaan altar; [6] pemakaian “kain putih” atau penutup altar; [7] penyalaan lilin untuk altar. Dari tata cara ini, tampak bahwa seolah altar adalah seorang pribadi yang menjalani ritus inisiasi, pertama kali masuk ke dalam/sebagai anggota Gereja. Setelah menerima “pembaptisan” dan “penguatan”, maka altar mengalami “ekaristi”.

Satu altar dalam satu gereja

Hanya ada satu altar dalam satu gedung gereja supaya jelaslah makna Kristus sebagai satu-satunya Sang Penyelamat dan hanya ada satu Ekaristi dalam Gereja. Satu altar melambangkan satu jemaat yang berkumpul dan bersyukur di sekitar Sang Penyelamat itu (PUMR 303).

Pendupaan altar

Pendupaan altar memang bukan keharusan. Namun, hendaknya dilakukan dalam perayaan meriah dan pada hari Minggu. Imam Selebran mendupai altar dengan mengitarinya, pada saat Ritus Pembuka dan awal Liturgi Ekaristi. Saat itu Imam melakukan penghormatan terhadap altar, simbol Kristus. Pendupaan kepada Imam, petugas lain, dan jemaat mau mengingatkan juga bahwa semuanya adalah altar spiritual yang terkait erat dengan altar utama, Kristus sendiri.

Putih, warna kain penutup altar

Kain atau penutup (taplak) altar dianjurkan berwarna putih (PUMR 304). Ini seperti halnya baptisan baru yang menerima pakaian putih, yang melambangkan kebangkitan, hidup baru. Pemakaian warna lain sebagai ornamen (misalnya sesuai warna liturgi) pada altar tidak dilarang, meskipun demikian taplak penutup permukaan, tempat piala dan sibori diletakkan, hendaknya tetap berwarna putih. Simbol-simbol yang menghiasi taplak altar hendaknya mempunyai makna yang sejalan dengan hakikat altar. Segala macam ornamen hendaknya tidak malah mengganggu konsentrasi jemaat atau mengalahkan keberadaan Tubuh dan Darah Kristus. Ini berkaitan juga dengan peletakan rangkaian bunga, lilin, dll di sekitar altar. Unsur-unsur ini kalau bisa jangan diletakkan di atas meja altar (PUMR 305).

Apa saja yang boleh diletakkan di atas altar?

Altar bukan tempat menaruh sembarang benda. Sebaiknya altar hanya untuk menjadi tempat bagi benda-benda yang dipakai selama Liturgi Ekaristi, terutama yang berkaitan dengan keberadaan roti dan anggur, persembahan utama dalam Perayaan Ekaristi. Benda-benda itu adalah korporal, purifikatorium, piala (anggur), dan sibori (roti). Tentu buku Tata Perayaan Ekaristi dan Sakramentari (Misale Romawi) juga perlu diletakkan di sana (PUMR 306), kecuali kalau Imamnya sudah hafal semua doa untuk Misa itu (apa ada ya?). Benda-benda lain di luar itu tidaklah perlu, apalagi kalau malah menghalangi benda-benda utama itu dari pandangan jemaat. Salib kecil di atas altar yang menghadap Imam pun tidak diperlukan lagi. Apalagi jika sudah ada salib besar di panti imam, entah pada dinding atau sebagai salib pancang dekat altar. (ES, Dari berbagai sumber)

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Kalender Liturgi

  • Saran Nyanyian TPE/TPS

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini414
mod_vvisit_counterKemarin372
mod_vvisit_counterMinggu Ini414
mod_vvisit_counterMinggu lalu2586
mod_vvisit_counterBulan ini8809
mod_vvisit_counterBulan lalu14980
mod_vvisit_counterTotal486500