Tata Ruang Liturgis Gereja

Tentang “Gereja” dan “gereja”
Bahasa Yunani “ekklesia” diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi “gereja”. Istilah “gereja” sendiri diturunkan dari bahasa Portugis “igreja”. Kita memahami “gereja” pada umumnya dalam dua makna, yakni sebagai [1] umat atau komunitas kristiani (dengan huruf “G” besar) dan [2] gedung atau rumah ibadat orang kristiani (dengan huruf “g” kecil). Secara liturgis, umat kristiani yang sedang berhimpun itu kita sebut sebagai jemaat. Sedangkan gedung atau rumah ibadatnya dapat kita sebut dengan “ruang atau tempat liturgis”, yang tentunya karena sudah memenuhi syarat-syarat untuk perayaan liturgi. Dalam pengertian liturgis inilah kita akan menilik segala sesuatu mengenai “gereja”.

Perlukah membangun gedung gereja?
Yesus sendiri tidak pernah secara khusus meminta kita untuk mendirikan gedung gereja. Yang dikehendaki Yesus terutama adalah agar kita berkumpul dan bersekutu untuk melaksanakan kehendak-Nya. Yesus memang mendirikan Gereja, namun dalam pengertian umat kristiani tadi. Di antara umat-Nya itulah Allah akan tinggal: “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku akan hadir di tengah mereka” (Mat 18:20). Umat kristiani perlu berhimpun agar bisa beribadat sebagai jemaat, agar bisa memuliakan Allah “dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:21). Maka, diperlukanlah suatu tempat atau ruang khusus untuk menampung dan memungkinkan digelarnya perayaan iman mereka. Gedung gereja atau tempat ibadat memang hendaknya dibangun demi keperluan merayakan liturgi dan memungkinkan peran serta jemaat dalam perayaan itu. Namun, sekali lagi, perayaan liturgis tidak hanya bisa dilakukan dalam gedung gereja; bisa di mana pun, tak harus “di gunung atau di Yerusalem” (Yoh 4:21).


Betulkah gedung gereja melambangkan umatnya?
Simbol jemaat atau umat beriman yang berhimpun merupakan simbol terpenting di antara simbol-simbol liturgis lainnya. Maka, tidak heranlah jika norma untuk merancang pembangunan tempat liturgis adalah jemaat dan liturginya. Ibaratnya, tempat liturgis itu merupakan “kulit” bagi kegiatan liturgis. Orang kristiani perdana sering menyebut tempat untuk beribadat itu dengan domus ecclesiae (rumah Gereja atau rumah umat kristiani).

Lambang Gereja peziarah
Dinding atau bentuk fisik gereja secara khusus juga melambangkan Gereja atau umat Allah yang sedang berziarah di bumi ini, sekaligus juga memantulkan Gereja yang berada di surga. Umat Allah yang terpilih itu kini sedang berjalan mengarungi kehidupan, dengan bimbingan Sabda Allah, dinaungi ketenteraman dan kedamaian dalam Gereja, hingga akhirnya mereka sampai dengan selamat di rumah abadi mereka.

Lambang kota surgawi
Gereja adalah citra kota surgawi di bumi ini. Allah Bapa telah mendirikan Gereja sebagai kota suci, dengan Yesus Kristus sebagai arsitek sekaligus batu penjurunya (Mat 21:42; 1 Ptr 2:8) dan berdasarkan iman para rasul sebagai pilar-pilarnya (Ef 2:6). Dalam Gereja itu, Kristus akan hadir di bumi ini sepanjang masa. Ia akan selalu menjadi terang bagi Gereja. Kota Yerusalem, lengkap dengan unsur benteng dan menaranya, pernah menjadi model bagi bentuk gereja-gereja di Eropa. Memang, kota Yerusalem (lama) merupakan acuan bagi kota surgawi, Yerusalem baru! Karena Gereja dilambangkan sebagai kota suci, maka kemegahan fisik kota Yerusalem dipinjam untuk mencitrakan Gereja sebagai kota suci itu (Origenes dan Tertulianus).

Gereja sebagai Tubuh Kristus
Gereja yang dibangun Allah Bapa dengan batu-batu (= umat) pilihan, dihidupi oleh Roh Kudus dan disatu-eratkan oleh cinta, merupakan inkarnasi (penjelmaan) Kristus sendiri. Gereja menjadi Tubuh Kristus yang hadir dan terlihat di bumi ini. Sebagai Tubuh Mistik Kristus, umat adalah anggota-anggota tubuh-Nya dan Yesus Kristus adalah Sang Kepala. Maka, banyak arsitek dari zaman ke zaman menjadikan Tubuh Kristus sebagai pola dasar pembangunan gedung gereja, khususnya dalam bentuk Sang Tersalib.

Dari mana dasar teologis untuk bangunan gereja?
Penjelasan dari citra-citra gereja di atas sudah memberi gambaran tentang gagasan-gagasan teologis sekitar Gereja dan gedung gereja. Teologi tentang bangunan gereja memang mulai dari umat Allah yang membentuk Gereja. Maka, sebelum membangun gedung gereja, hendaknya dirumuskan dahulu siapa dan bagaimana (jati diri) umatnya. Gedung gereja di suatu tempat (dengan cita rasa budayanya) hendaknya mencerminkan jati diri umat setempat.

Beberapa macam (istilah) gedung gereja
Di lingkungan Gereja Katolik, khususnya di Indonesia, terdapat beberapa istilah yang menggunakan kata “gereja” dalam kaitan dengan gedung atau tempat ibadat. Kita sebutkan saja sebagai macam-macam (istilah) gedung gereja: [1] gereja paroki: milik suatu paroki, menjadi pusat kegiatan umat paroki yang bersangkutan; [2] gereja stasi: bagian dari paroki, tempat umat stasi beribadat selain di gereja paroki pusat; [3] gereja katedral: gereja utama di suatu keuskupan, terdapat takhta (= Latin: cathedra) uskup setempat, biasanya juga merupakan gereja paroki; [4] kapel: gereja stasi sering juga disebut dengan istilah ini, biasanya merupakan suatu gedung gereja yang bangunannya relatif lebih kecil (= Latin: capella), atau merupakan ruang ibadat di biara, sekolah, asrama, rumah sakit, tempat ziarah, atau tempat umum lainnya (terminal, stasiun, bandar udara, pasar).

Bagian-bagian gedung gereja
Secara sederhana sebuah gereja dibagi menjadi dua bagian: [1] Bagian untuk imam, para klerus, biasa disebut panti imam atau ruang altar (sanctuarium). Karena bagian itu dianggap bagian yang tersuci, maka penampilannya dibedakan dari bagian lain dalam gereja, baik dengan cara membuatnya lebih tinggi atau lebih indah interior dan ornamentasinya. Di sanalah tempat perabot liturgis utama ditata dan para pelayan liturgis beraksi. Tidak sembarang orang boleh berada di panti imam. [2] Bagian untuk umat (nave) terbentang dari pintu masuk hingga batas panti imam. Dari situlah jemaat mengikuti perayaan liturgis, dan biasanya tersedia kursi atau bangku untuk mereka.

Unsur-unsur pelengkap gedung gereja
Untuk perayaan-perayaan liturgis yang beraneka, maka di dalam gereja dilengkapi beberapa perabot atau perlengkapan liturgis. Misalnya, [1] untuk perayaan Sakramen Ekaristi diperlukan altar, ambo, kursi imam, salib, tempat lilin, dsb. Unsur-unsur ini ditata di panti imam. Sedangkan kursi umat dengan tempat berlututnya (kalau ada) ditata di ruang umat. [2] Untuk Sakramen Baptis diperlukan tempat/ruang baptis (baptisterium), atau sekedar bejana baptis. Entah dibangun di dekat pintu masuk atau di dekat panti imam. [3] Berkaitan dengan Sakramen Baptis ini, biasanya di dekat pintu-pintu masuk gereja terdapat pula beberapa tempat air suci. Umat yang memasuki gereja mencelupkan dulu jemarinya ke air itu dan membuat tanda Salib, sebagai peringatan akan pembaptisannya. [4] Untuk Sakramen Tobat biasanya disediakan pula tempat atau ruang khusus, suatu tempat pengakuan pribadi untuk peniten (orang yang mengaku dosa) dan imam. [5] Untuk Sakramen Perkawinan dibutuhkan kursi untuk para pengantin. [6] Biasanya keberadaan sebuah lonceng juga menambah identitas kekristenan. Entah lonceng kecil yang dipasang di dalam gedung gereja atau lonceng besar yang bergantung di menara gereja. Lonceng besar pada menara yang konon baru mulai sejak awal abad ke-12 itu dibunyikan untuk mengundang orang berdoa, khususnya para biarawan-biarawati yang mendoakan Ibadat Harian. Juga, untuk mengingatkan umat akan hari-hari pesta yang perlu disambut dengan sukacita, atau bahkan untuk mengundang umat agar berdoa bagi arwah-jenazah yang sedang dibaringkan dan hendak diberkati di gereja itu atau akan diadakan Liturgi Pemakaman.

Patung, gambar, jalan salib
Ada pula pelengkap yang tidak berkaitan dengan kegiatan liturgis. Misalnya, [1] gambar dan patung orang-orang kudus (Maria, Yusuf, dsb). [2] Biasanya sebuah gereja dilengkapi juga dengan gambar/relief Jalan Salib Yesus. Unsur-unsur ini tidak langsung berkaitan dengan liturgi, namun amat lazim demi kehidupan devosional umat setempat. Tata letak unsur-unsur ini sebaiknya tidak mengganggu bila digelar kegiatan liturgis di dalam gereja itu (PUMR 318). Namun, secara liturgis pun dapat dipahami bahwa keberadaan patung dan gambar itu selayaknya dapat membantu umat dalam menghayati misteri-misteri iman yang dirayakan di dalam gedung gereja itu. Keberadaan benda-benda itu ibaratnya kehadiran para kudus yang sedang bersekutu dengan umat, bersama-sama mencicipi perjamuan surgawi di dunia ini. (ES)

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Kalender Liturgi

  • Saran Nyanyian TPE/TPS

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini92
mod_vvisit_counterKemarin609
mod_vvisit_counterMinggu Ini1257
mod_vvisit_counterMinggu lalu4172
mod_vvisit_counterBulan ini12692
mod_vvisit_counterBulan lalu17615
mod_vvisit_counterTotal457032