Spiritualitas Pelayan Tak Lazim-Bagian 2

Prodiakon adalah orang-orang awam yang ditugaskan oleh uskup untuk membantu menerimakan Tubuh Tuhan (komuni) dalam rangka Perayaan Ekaristi, liturgi sabda dan kepada orang sakit serta untuk memimpin ibadat non-non sakramental dan tanpa (memberikan) berkat.

 

1.    Tetap hidup sebagai awam dan anggota keluarga kristiani

Prodiakon bukan termasuk kaum religius maupun klerus, tetap awam dan diharapkan hidup sebagai awam. Ini bukan berarti prodiakon itu kelas dua

dalam Gereja, seperti umat biasa lainnya. Sebagai orang beriman, awam memiliki martabat yang sama dengan kelompok hierarki dan religius. Karena itu seorang prodiakon tidak perlu mengobah pola hidupnya sebagai awam menjadi seperti klerus atau religius. Ia harus tetap sebagai bapak atau ibu dalam keluarga. Juga ia tetap anggota lingkungan dan loyal terhadap ketua lingkungan.

2.    Bersemangat pelayanan dan Kerja Sama

Tugasnya dilaksanakan dalam konteks ekklesial, yakni dalam kesatuan dengan uskup, imam dan diakon. Karena ia diperbantukan kepada pastor paroki maka prodiakon perlu menyatukan visi dan arah pendampingan pastoral seturut ketentuan keuskupan dan paroki. Ia tidak bisa melaksanakan kebijaksanaan pribadi.

3.    Memiliki kualitas kerohanian yang mendalam dan liturgis
Prodiakon haruslah seorang yang suka berdoa bukan berbicara tentang doa, serta menyerahkan diri kepada Allah. Ia harus rajin membangun hidup dari sakramen-sakramen khususnya Ekaristi dan Tobat. Ia harus rajin membaca Kitab Suci sebagai kekuatan dasar, merenungkannya secara mendalam agar mampu menyampaikannya kepada umat beriman. Selain itu ia perlu juga mengembangkan sikap devosional. Penting diingat bahwa seorang prodiakon harus memiliki suatu sense of liturgy, ini sangat vital dan tidak bisa diabaikan. Ia harus tahu bagaimana liturgi yang baik dan benar. Ia harus paham apa yang dia buat. Misalnya, ia tahu segala simbolisasi yang digunakan dalam liturgi. Tugas dilaksanakan bukan sekedar tugas.

Ciri yang tidak memiliki sense of liturgy:
-    terlambat datang pada saat misa

-    omong-omong atau berkelakar di sakristi sebelum bertugas, merokok dulu menanti masuk ke panti imam....

4. Tanggap terhadap kebutuhan umat sesuai tuntutan zaman, terutama mereka yang lemah, sakit, dan miskin.
Ia melayani umat tanpa pandang bulu.

5.    Bersemangat keterbukaan dan rendah hati
Rela belajar terus menerus, tidak merasa berpuas diri.

Semoga bermanfaat! (ES)

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
  • Kalender Liturgi

  • Saran Nyanyian TPE/TPS

Data Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini79
mod_vvisit_counterKemarin552
mod_vvisit_counterMinggu Ini1561
mod_vvisit_counterMinggu lalu5201
mod_vvisit_counterBulan ini19747
mod_vvisit_counterBulan lalu23001
mod_vvisit_counterTotal423805